Halaman

Sabtu, 08 Oktober 2011

Masjid Lama Negeri Sarawak, Malaysia

Masjid Lama Negeri Sarawak (Old Sarawak State Mosque) kini dikenal sebagai Masjid Bandaraya Kuching (Kuching City Mosque).

Sarawak memiliki dua Masjid Negeri. Ini terjadi karena pemerintahan Negeri Sarawak membangun kawasan pusat pemerintahan baru di Petra Jaya, termasuk membangun Masjid Negeri yang baru. Fungsi sebagai masjid Negeri Sarawak telah dipindahkan ke Masjid Negeri Sarawak (Sarawak State Mosque) yang baru di kawasan Petra Jaya tersebut.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak kini dikenal dengan nama Masjid Bandaraya Kuching (Kuching City Mosque) menjalankan tugasnya sebagai Masjid Negeri Sarawak (Sarawak State Mosque) sejak diremikan ditahun 1968 hingga tahun 1990.
 
Meski sudah tidak lagi berstatus sebagai Masjid Negeri, Masjid lama ini masih menjadi tanggung jawab dari Lembaga masjid negeri dan tentu saja masih menjalankan fungsinya sebagai masjid. Istilah dan fungsi “Masjid Negeri” di Malaysia mirip dengan istilah dan fungsi “Masjid Agung Provinsi” di Indonesia.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)
332, Jalan Datuk Ajibah Abol, Kampung No3, 93400 Kuching, Sarawak, Malaysia
 

 
Sarawak atau Negeri Sarawak adalah salah satu dari dua Negara bagian Malaysia yang terletak di bagian barat pulau Kalimantan berbatasan langsung dengan Propinsi Kalimantan barat disebelah selatan, Kalimantan Timur disebelah timur, sedangkan kawasan lautnya disebelah barat berbatasan langsung dengan Propinsi Kepulauan Riau. Negeri Sarawak beribukota di Bandaraya Kuching.
 
Sungai Sarawak yang membelah Bandaraya Kuching sudah menjadi salah satu ikon bagi kota ini. Nama Kuching sendiri menurut berbagai sumber memang diambil nama hewan kucing. Konon pada masa lampau ketika kawasan itu masih berupa belantara ada banyak kucing hutan yang berkeliaran di kawasan disekitar sungai tersebut.
 
Sejarah Masjid Lama Negeri Sawarak
 
Di abad ke 19 Sarawak merupakan bagian dari kesultanan Brunai namun kemudian dihadiahkan kepada seorang pengembara Inggris James Brooke atas jasanya menumpas pemberontakan di kawasan tersebut. James Brooke diangkat menjadi gubernur Sarawak pada 24 September 1841 dan diberi gelar Rajah oleh Sultan Brunei pada 18 Agustus 1842.

Kilasan sejarah Masjid Lama Negeri  Sarawak, kini menjadi Masjid Bandaraya Kuching.

Brooke hanya menguasai wilayah Sarawak yang paling barat, di sekitar Kuching. Kenyataan berikutnya Brooke menjadikan Sarawak sebagai kerajaan Pribadi dengan Kuching Sebagai ibukota pemerintahannya. Ia berkuasa hingga kematiannya pada 1868. Dan diteruskan oleh anggota keluarganya yang berkuasa hingga tahun 1946.
 
Pengganti James antara lain sepupunya, Charles Anthony Johnson Brooke, dan anak Anthoni, Charles Vyner Brooke. Wilayah yang dikuasai oleh keluarga Brooke semakin luas, dengan menguasai wilayah yang tadinya milik Brunei hingga Brunei hanya menguasai sungai strategis dan benteng di kawasan pesisir, Brookes sebenarnya telah merampas tanah para pejuang Muslim dan suku lokal. Dinasti Brooke memerintah Sarawak selama satu abad dan dijuluki "Rajah Putih",
 
Jepang menyerbu Sarawak pada 1941 dan menguasainya selama Perang Dunia II berlangsung hingga pasukan Australia menguasainya pada 1945. Rajah secara resmi menyerahkan Sarawak kepada Britania Raya pada 1946, di bawah tekanan istrinya dan kalangan lain-nya. Namun Anthony tidak mengakui kedaulatan Sarawak di bawah Britania Raya. Kaum Melayu sangat menolak upaya kekuasaan Britania terutama dengan membunuh gubernur Britania Raya pertama di Sarawak.
 
Hamparan pekuburan tua kaum muslimin tampak di pekarangan masjid.

Sudah menjadi catatan sejarah bahwa Sarawak dan Sabah pernah menjadi pusat perseteruan antara Malaysia dan Indonesia semasa kepemimpinan Bung Karno, ketika Bung Karno menggelorakan semangat Ganyang Malaysia untuk memasukkan Sabah dan Sarawak ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesa. Sarawak menjadi lokasi utama saat Konfrontasi berlangsung pada 1962 hingga 1966. Sarawak menjadi sebuah negara bagian berstatus otonomi di bawah federasi Malaysia pada 16 September 1963 walaupun sebelumnya sebagian penduduknya menolak rencana ini.
 
Bangunan masjid pertama dibangun tahun 1847
 
Masjid Bandaraya Kuching merupakan masjid pertama yang dibangun di Sarawak. Pertama kali dibangun tahun 1847 atau 6 tahun setelah pengangkatan James Brooke sebagai Gubernur Sarawak oleh Sultan Brunai. Masjid pertama ini dibangun oleh tokoh masyarakat melayu Sarawak Datuk Patinggi Ali dalam bentuk yang sangat sederhana, berbahan kayu, berdinding papan dan beratap limas dari kayu bulian.
 
Imam pertama di Masjid Negeri Sarawak ini sejak tahun 1847 hingga tahun 1890 adalah Datuk Patinggi Haji Abdul Gafur yang merupakan menantu dari Datuk Patinggi Ali. Tugas sebagai imam diteruskan oleh imam kedua, Datuk Bandar Haji Bolhassan, putra dari Datuk Patinggi Ali. Imam ketiga masjid ini adalah Datuk Imam Abdul Karim dan dilanjutkan oleh imam ke –empat, Abang Haji Mataim yang juga putra Datuk Patinggi Ali.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching) dari arah Sungai Sarawak. Tampak beberapa kendaran konstruksi sedang beroperasi disana merapikan tepian sungai.

Renovasi Tahun 1880
 
Seiring dengan pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut masjid yang ada sudah tak lagi mampu menampung jemaah yang terus bertambah. Tahun 1880 masjid tersebut mengalami renovasi dan mulai dibangun dengan tiang cor dan lantai semen. Bentuk masjid yang sudah di beton ini masih dengan atap limas bersusun dari bahan kayu bulian. Atap limas seperti layaknya masjid masjid di Indonesia itu bertahan hingga tahun 1920-an.
 
Renovasi tahun 1929 – 1930
 
Tahun 1929 para tokoh Islam, para datuk dan masyarakat Muslim dengan bantuan dari Gubernur Brooke, melakukan renovasi dan perbaikan terhadap masjid ini. Renovasi tahun 1929 ini menambahkan kubah di atap masjid dengan sentuhan eropa menggantikan satu tingkat dari 3 atap limasnya. Renovasi tersebut juga mengganti pintu pintu masjid dengan pintu pintu dan jendela jendela besar khas bangunan Eropa. Keseluruhan renovasi itu selesai tahun 1930. Bangunan hasil renovasi tahun 1929-1930 ini bertahan hingga tahun 1967
 
Pembangunan Masjid Tahun 1967-1968
 
Tahun 1958 Badan Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching yang kala itu jabatan presidennya dipegang oleh Mufti Sarawak Tuan Haji Yusof Shibli, membentuk Jawatan Kuasa Tabung Derma Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching dengan setiausaha-nya dipercayakan kepada Ustazd Haji Abdul Kadir Hassan untuk mengumpulkan dana bagi perbaikan masjid. Lembaga amal ini berhasil mengumpulkan dana sebesar RM 30,000 Ringgit dari kaum muslimin Sarawak.
 
Ruang sholat utama Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)

Jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk membangun sebuah bangunan masjid baru yang lebih besar. Tahun 1964 Yang Berbahagia.Datuk Abang Haji Sapuani, P.N.B.S dipilih menjadi Yang dipertuan Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching, beliau beserta para staf nya bertekad melanjutkan usaha untuk membangun masjid ini. Beliau tidak saja mengumpulkanan dana dari kaum muslimin tapi dari seluruh warga. Ketika itu dibentuklah Jawatan Kuasa Kerja Tabung Derma Masjid yang diketuai oleh Yang Berbahagia Datuk Abang Haji Maszuki Nor. P.N.B.S.
 
Bulan Februari 1966 Yang Teramat Mulia Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, Perdana Meteri pertama Malaysia di undang untuk melakukan peletakan batu pertama proses renovasi Masjid Besar Kuching. Ketika tiba di lokasi Tunku Abdul Rahman menganggap bahwa bangunan masjid yang ada sudah tidak layak untuk jadi Masjid Negeri Sarawak dan beliau mengusulkan untuk mengganti bangunan masjid tersebut dengan bangunan masjid baru yang lebih reresentatif.
 
Rencana tersebut diterima dengan baik oleh para tokoh muslim Sarawak meski untuk proses pembangunan tersebut diperkitakan membutuhkan dana sekitar 1 juta ringgit Malaysia, dana yang cukup besar kala itu. Setahun kemudian di tahun 1967 bangunan masjid yang lama dirobohkan menggunakan bom. Dan proses pembangunan masjid baru pun dimulai.
 
Interior lantai kedua Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)

Diresmikan Sebagai Masjid Negeri Sarawak
 
Tahun 1968 sebuah bangunan masjid baru dengan arsitektur yang sama sekali berbeda dengan masjid sebelumnya sudah berdiri megah di atas teratak bangunan lama. Bangunan masjid baru ini diresmikan oleh Yang di-Pertuan Agung Malaysia pada tanggal 20 Oktober 1968 sebagai Masjid Negeri Serawak. Bangunan hasil pembangunan tahun 1967-1968 inilah yang kini masih berdiri kokoh hingga hari ini.
 
Masjid Besar Negeri Sarawak yang baru ini mampu menampung jemaah hingga 4000 orang sekaligus. Kawasan masjid ini seluas 4 hektar, bangunan nya berada satu kawasan dengan Prasasti peringatan perang, Kantor Penerangan Malaysia, Rumah sakit dan kantor kantor pemerintahan lain nya. Kala itu tak jauh dari masjid ini juga berdiri Hotel Arif milik seorang pengusaha bumiputra, serta taman bermain. Masjid ini dilengkapi dengan lapangan parkir yang cukup luas. Disekiling masjid ini merupakan pemakaman muslim sejak pertama masjid ini berdiri di tahun 1847. Sedangkan di sisi belakang masjid mengalir tenang sungai Sarawak.
 
Sumber pendanaan pembangunan masjid ini sebagian besar berasal dari pemerintah pusat Malaysia di Kuala Lumpur. Dana awal sebesar RM. 250,000. Sumbangan dari Perdana Menteri pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman sebesari RM. 100,000. Sumbangan dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak sebesar RM. 150,000. Jumlah keseluruhan dana dari pemerintah pusat Malaysia sebesar RM. 500,000. Ditambah dengan dana dari masyarakat dan pemerintah negeri Sarawak.
 
Dari balik pohon pohon kelapa.

Arsitektur Masjid Lama Negeri Sarawak
 
Aroma arsitektur India sangat terasa di masjid ini. menara menara kecil lansing, menyatu dengan bangunan utama masjid, kubah bentuk bawang di puncak bangunan utama masjid, menghadirkan suasana bangunan bangunan dinasti mughal Indida di tanah melayu Malaysia Timur. Disamping kubah utama terdapat empat lagi kubah bawang dengan ukuran lebih kecil di atap masjid ini mengitarai kubah utam. Empat menara ramping di kempat penjuru bangunan utama masjid. Ditambah lagi empat menara di masing masing mengapit dua pintu utama sisi kiri dan kanan masjid.
 
Sentuhan Eropa pada bangunan masjid sebelumnya yang selesai dibangun tahun 1880 sama sekali menghilang dari bangunan baru ini. Kesemua kubah yang ada di cat dengan warna ke emasan. Warna ke emasan dalam tradisi melayu merupakan perlambang kemakmuran, kebesaran dan kemegahan. Itu sebabnya kebanyakan kesultanan Melayu menggunakan warna emas atau warna kuning sebagai warna kebesaran. Meski fungsi sebagai masjid negeri sudah beralih ke Masjid Negeri di Petra Jaya namun masjid ini masih menjalankan fungsinya sebagai tempat ibadah utama bagi muslim di kawasan tersebut.
 
Nisan nisan kuburan tua di pekarangan masjid.

Pengelolaan Lama Negeri Sarawak
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching) dikelola oleh Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak (LAKMNS), lembaga ini didirikan tahun 1958 dengan nama Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching. Lembaga ini dikukuhkan sebagai badan hukum dengan nama The Masjid Besar (Kuching) Charitable Trust tahun 1960.
 
7 Januari 1981 lembaga tersebut berubah menjadi Masjid Negeri Sarawak Charitable Trust atau Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak. 19 Mei 1994 permohonan untuk pengesahan dari parlemen diajukan ke Parlemen Sarawak (Dewan Undangan Negeri) dan pada 3 Juni 1994 Dewan Undangan Negeri mengesahkan peraturan baru tentang lembaga lembaga sosial di Sarawak.
 
Peraturan baru itu memberikan peluang bagi lembaga lembaga sosial termasuk LAKMNS untuk membentuk badan usaha dan turut serta berkecipung dalam bidang ekonomi. Tentu saja hal ini memberikan implikasi positif bagi perkembangan lembaga lembaga Islam yang sudah berbadan hukum di seluruh Negeri Sarawak.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA