Halaman

Minggu, 01 Januari 2017

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka Warisan Muslim Indonesia

Bermula dari sebuah masjid sederhana di abad ke 18 kini Masjid Melayu Kurunegala sudah bertranformasi menjadi sebuah bangunan masjid modern di pusat kota Kurunegala, Sri Lanka.

Serpihan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan

Sesuai dengan namanya Masjid Melayu Kurunegala atau Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala adalah masjid–nya muslim melayu yang berada di di kota kurunegala, Sri Lanka. Masjid Melayu ini merupakan masjid tertua di Kununegala dibangun pada masa kolonial Inggris di Sri Lanka, sebagai fasilitas bagi muslim melayu yang pertama datang dan menetap disana. Masjid Melayu Merupakan Masjid tertua di Kurunegala dan menjadi salah satu dari begitu banyak masjid di Srilanka yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan Budha.

Indonesia, Malayasia dan Sri Lanka sama sama pernah di Jajah oleh Belanda. Sri Lanka dijadikan salah satu tempat pengasingan atau lebih tepatnya sebagai tempat pembuangan bagi para tokoh tokoh pergerakan tanah air, beberapa diantara mereka bahkan tidak pernah kembali lagi ke tanah air karena kekuasaan Belanad di Sri Lanka pada ahirnya jatuh ke tangan Inggris. Beberapa lagi dari mereka merupakan bagian dari Pasukan Resimen Melayu dari era Belanda dan Pasukan Resimen Melayu bentukan Inggris yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka.

Malay Jumma Mosque
155 Maha Veediya, Kurunegala 60000
North Western Province, Sri Lanka



Masjid Diaspora Indonesia di Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala ini bukanlah satu satunya masjid yang dibangun dan berhubungan dengan muslim Melayu dari Indonesia dan juga Malaysia. Di Sri Lanka ada beberapa masjid tua bersejarah lainnya yang juga berhubungan erat dengan muslim Indonesia. Sebut saja Masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo dirancang dan dibangun oleh Muhammad Balang Kaya, beliau merupakan putra dari Hulu Balang Kaya, Hulu Balang dari kesultanan Goa, Sulawesi Selatan, yang di asingkan ke Sri Lanka oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1796.

Kemudian masjid Jum’ah Wekande atau The Wekande Jumma Mosque merupakan wakaf dari Muslim Indonesia, Pandaan Balie di tahun 1796. Sementara Masjidul Jami’a yang berada di Java Lane dibangun dari dana pensiun dari anggota Resimen Melayu di Sri Lanka. Resimen Melayu (Malay Regiment) adalah tentara bentukan Belanda kemudian dilanjutkan oleh penjajah Inggris yang terdiri dari orang orang melayu yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka, namun kemudian mereka tidak pernah kembali ke tanah air. Beberapa masjid lain juga dibangun pada periode ini termasuk di Kandy, Trincomalee, Hambantota dan Kinniya.

Masjid Melayu Kurunegala di abad ke 18

Masjid Pertama di Kurunegala

Pemerintah Inggis kala itu dalam upaya konsolidasi kekuasaan mereka di pulau Sri Lanka mulai menyebarkan pengaruhnya di seluruh negeri dengan menempatkan pasukan tentara di berbagai kota utama Sri Lanka, di mulai dari Kandy, Pada tahun 1848 satu Resimen Melayu yang terdiri dari 30 tentara dan dua orang staf di tempatkan di Kurunegala, resimen ini kemudian ditempatkan secara permanen di Kurunegala. Staf militer yang ditempatkan disana membawa serta seluruh keluarganya dari Kandy ke Kurunegala, karena memang pemerintah Inggris memberi mereka lahan tanah.

Resimen Melayu semuanya anggotanya beragama Islam dan sangat relijius, itu sebabnya pada tahun 1850 pemerintah kolonial membangun sebuah masjid untuk keperluan mereka beribadah, sebuah masjid di tepian danau Kurunegala. Dari kenyataan ini sangat mungkin anggota resimen ini menyelenggarakan sholat Jum’at hanya dengan 32 Jemaah.

Staf militer dari Resimen British Melayu beserta seluruh anggota pasukannya tinggal di sepanjang Parade Street (kini menjadi jalan Dr. H. K. T. de Zylva Mawatha) dan daerah diseberang masjid diantara Dambulla Road dan the Maligawa grounds. Nama Jalan Parade Steet sendiri disebut demikian karena memang anggota pasukan Resimen British Melayu ini secara berkala melakukan parade milter di sepanjang ruas jalan ini.

Pada awalnya bangunan masjid ini berupa bangunan masjid sederhana dengan fasad depan bercorak bangunan India dan dikenal dengan nama Malay Military Mosque, atau masjid militer melayu. Seiring dengan perjalanan waktu masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama Malay Mosque atau masjid Melayu atau "Java Palli" sampai kemudian menjadi "Ja Palliya".

Orang Jakarta akan sangat familiar dengan moda tranformasi bewarna merah yang parkir disamping masjid tertua dan pertama di Kurunegala dalam foto diatas. Kendaraan yang berasal dari India tersebut ternyata juga populer di Sri Lanka.

Masjid ini merupakan masjid pertama di Kurunegala sekaligus merupakan bangunan tempat ibadah pertama yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah bagi seluruh muslim yang tinggal di Kurunegala dan sekitarnya, menyusul kemudian berdirinya Masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang dibangun dan dikelola oleh muslim India.

Pada mula-nya komunitas muslim India datang ke Korunegala sebagai pedagang dan mereka turut menjadi bagian dari Jemaah masjid melayu Kurunegala, namun demikian seiring dengan perbedaan budaya diantara muslim melayu dan muslim India, komunitas muslim India kemudian mulai mendirikan masjid bagi komunitas mereka sendiri dengan membeli bekas kediaman Opsir Inggris yang sudah terbengkalai di pusat kota Korunegala menandai berdirinya Al-Jami Ul Azhar Jumma Mosque, atau "Sonaha Palli" atau "Marakkala Palliya" sedangkan khatibnya mereka hadirkan langsung dari India.

Pemakaman Muslim Pertama di Kurunegala

Hampir bersamaan dengan berdirinya Masjid Melayu Kurunegala ini, sebidang lahan dengan luas sekitar 3 acre yang berlokasi di ruas jalan Dambulla Road kawasan Pollathapitiya, berjarak sekitar setengah kilometer dari Masjid Melayu Kurunegala dijadikan sebagai lahan pemakaman muslim. Seperti halnya dengan masjid Melayu Kurunegala, pemakaman ini pun menjadi komplek pemakaman muslim pertama di Kurunegala dan seperti halnya di Indonesia komplek pemakaman ini pun hingga kini disebut dengan istilah “Makam” oleh penduduk setempat.

Nama nama melayu mendominasi jejeran pengurus masjid ini sejak awal hingga era tahun 1960-an dan tersimpan rapi di masjid ini. Seiring perjalanan waktu, kurunegala telah bertransformasi sebagai sebuah kota yang berkembang pesat, masjid Melayu Kurunegala yang dulu berupa masjid sederhana di tengah kampoig, kini telah berubah menjadi sebuah masjid modern di tepian jalan utama ditengah hiruk pikuk kota Kurunegala.

Pengembangan dan pembangunan masjid ini tidak saja menjadi hajatan kaum muslimin melayu disana namun juga mendapatkan sokongan penuh dari pemerintah setempat guna mengakomodir kebutuhan Jemaah yang semakin meningkat dari hari ke hari. Para pengurus dan Jemaah masjid ini, mayoritas merupakan keturunan dari komunitas muslim melayu yang pertama menetap disana dan kini telah menjadi bagian dari sekitar 50.000 muslim melayu Sri Lanka. Secara keseluruhan Muslim di Sri Lanka hampir mencapai dua juta jiwa atau setara dengan sekitar 9% dari keseluruhan penduduk Sri Lanka.***

Artikel terkait


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA