Halaman

Rabu, 06 Oktober 2010

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lutze 2 Bandung

Kurangnya pusat informasi bagi etnis Tionghoa yang ingin memeluk agama Islam, dan bagi mualaf Tionghoa di Bandung dan sekitarnya, menjadi salah satu alasan didirikan Masjid Lautze 2 di Bandung yang kepengurusannya ditangani oleh Yayasan Haji Kariem Oie (YHKO).

Masjid Lautze 2 Bandung ini boleh jadi menjadi masjid Indonesia pertama yang memanfaatkan situs jejaring sosial dalam kegiatannya termasuk dalam kegiatan penggalangan dana ummat untuk kemakmuran masjid. Dan masih menjadi satu satunya masjid yang menempati gedung kontrakan di kota Bandung. Meski masih ngontrak di ruko di kawasan bisnis kota Bandung, kehadiran masjid lautze 2 telah memberikan manfaat yang tak ternilai bagi ummat Islam Bandung dan khususnya bagi Muslim Tionghoa di Bandung dan sekitarnya.

Lokasi Masjid Lautze 2 Bandung

Sejak pertama berdiri hingga kini masjid Latze 2 Bandung masih menempati ruko kontrakan di Jalan Tamblong No. 27 Bandung (dekat Patung Ajat Sudrajat mantan pemain Persib). Salah satu pusat bisnis di kota Bandung

 

Arsitektur Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung memiliki ukuran yang tak terlalu besar hanya 7 x 6 meter. arsitektur masjid bercirikan Tionghoa tanpa kehilangan kekhasan budaya lokal dan timur tengah.  Exterior dan interior masjid yang di dominasi oleh warna merah cerah mengingatkan kita pada warna warna vihara dan kelenteng. Namun ornamen kubah dari potongan kayu yang juga berwarna merah serta papan nama “masjid Lautze 2” yang menunjuk ke arah pintu masuk, menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah sebuah Masjid.

Bentuk depan masjid Lautze 2 Bandung
Lengkap dengan Papan nama-nya.
Dinding depan masjid di hias dengan ornamen terawang berwarna kuning dengan garis garis merah. Dengan lengkungan besar sebagai gerbang menuju pintu masuk masjid juga berwarna merah. Sementara kubah warna merah sengaja dipasang dibagian atas untuk membedakan bangunan masjid ini dengan bangunan ruko di sekiarnya.

Selain Arsitektur luarnya, dekorasi di dalam Masjid pun di dominasi oleh nuansa Tionghoa. warna cat mesjid yang memakai warna-warna untuk kelenteng seperti merah menyala serta lampu-lampu berbentuk lampion. Selain itu masjid lauze dua dilengkapi dengan penyejuk udara, sehingga suasana di dalam masjid terasa lebih nyaman.

Penggunaan ornamen ornamen Tionghoa seperti dijelaskan di atas memang disengaja oleh para penggagas dan pengurus masjid. Seperti halnya yang dilakukan para wali songo dalam menarik masyarakat sehingga tertarik dengan agama Islam, yaitu agar para Muslim Tionghoa yang baru saja belajar Islam merasa dekat, seperti berada di rumahnya sendiri.

Sejarah Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung tak terlepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) yang didirikan tahun 1991 dan berpusat di Jakarta, YHKO sekaligus berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa, di setiap pecinan (pusat pemukiman etnis Tionghoa) di Indonesia. Pada tahun 2004 YHKO membentuk divisi Muallaf Networking. Divisi ini memiliki 7 fungsi yang salah satunya sebagai penyedia tempat penampungan sementara bagi para muallaf yang terisolir dari keluarga atau lingkunganya.

Bagian dalam Masjid Lautze 2 Bandung
Nama yayasan itu di ambil dari nama (Alm) Haji Karim Oei Tjeng Hien / Haji Abdul Karim  (1905-1988). Seorang tokoh Muhammadiyah, mantan anggota Parlemen RI, pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), anggota Pimpinan harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat. Haji Karim Oei dikenal sebagai Muslim Tionghoa Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Haji Karim Oei masuk Islam tahun 1930-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka

Pendirian masjid Lautze 2 Bandung bermula ketika di bulan Ramadhan Desember 1996, saat digelar pertemuan bulanan YHKO di Jakarta. Perwakilan YHKO  dari luar Jakarta datang, termasuk dari Bandung, Haji Mudirullah dan bapak Hendro. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa di Bandung belum ada sekretariat Cabang YHKO. Maka,  dibentuklah YHKO cabang Bandung di bulan Januari  1997, Untuk kebutuhan pembinaan umat Islam, khususnya etnis Tionghoa, sekaligus sekretariat cabang YHKO.

Di awal pendirian YHKO Bandung diputuskan untuk mengontrak sebuah bangunan bekas toko buku di kawasan Tamblong – Bandung, dengan dana awal untuk sewa tempat menggunakan dana yayasan. Karena ketika itu masih banyak ruang kosong di kantor baru tersebut, pengurus yayasan memutuskan untuk menggunakan ruang tersebut sebagai masjid. Sejak saat itu sekretariat YHKO Bandung juga di fungsikan sebagai Masjid dengan nama masjid Lautze 2, untuk membedakannya dengan Masjid Lautze di Jakarta.

Kegiatan kesekretariatan YHKO pun dilaksanakan di masjid ini. Namun, ruangan yang tanpa sekat antara kantor dan masjid ternyata cukup menyulitkan dalam kegiatan ibadah. Sehingga di tahun 2004 dibuatlah sekat ruangan bergaya arsitektur Cina dengan arsitek ITB, Umar Widagdo.

3 tahun kemudian, 2007, direnovasi kembali untuk membuat kantor terpisah dari ruangan masjid. Dibuatlah sebuah tangga kayu yang dicat merah yang menuju ke kantor di atas masjid. Bangunan yang sudah mengarah ke kiblat ini tidak banyak merubah struktur bangunan dalam merenovasi. Karena masjid ini awalnya hanya sebagai pertokoan dan berdiri di lahan milik pemerintah Kota Bandung, maka keberadaan masjid ini pun masih ngontrak hingga sekarang.

Di pertengahan tahun 2010, masjid lautze 2 Bandung sempat mengalami krisis air bersih. Sumur pompa sedalam 12 meter yang dimiliki tak lagi mengeluarkan air. akibatnya aktifitas masjid sempat terganggu. Jam buka masjid di sesuaikan dengan ketersediaan air. Sehingga tak mampu melayani jamaah untuk melakukan sholat 5 waktu. Meski pasokan air dibantu oleh Hotel Istana yang tepat berada di belakang masjid. Namun, itu pun tidak memadai.

Bagian dalam Masjid Lautze 2 Bandung
Dilatarbelakangi kondisi tersebut, Masjid Lautze 2 Bandung mencanangkan program Gerakan Air untuk Masjid Lautze 2 Bandung. Gerakan ini bertujuan menggalang dana masyarakat untuk membiayai pembuatan sumur di Masjid Lautze 2 Bandung. DKM masjid cukup inovatif dengan memanfaatkan situs jejaring sosial facebook untuk menyampaikan program ini kepada khalayak ramai.

Dan Alhamdulillah berkat donasi dari para jemaah dan dermawan lain nya dana yang terkumpul sampai bulan Juli 2010  sumur pompa masjid lautze 2 Bandung kembali berfungsi dan masjidpun kembali dapat dipergunakan oleh jemaah lima waktu sholat sholat fardhu. Selain memperbaiki sumur bor DKM juga memperbaiki fasilitas yang lain termasuk  perbaikan lantai toko Lautze, tempat sumur dan pompa air berada, perbaikan keran wudhu dan pemasangan tempat penampungan serta filter air, pintu masjid, ruangan masjid, kubah masjid, atap masjid, dan rangka kanopi masjid sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan 1431 H yang lalu.

Kegiatan Masjid Lauze 2 Bandung

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Masjid Lautze 2 Bandung diketuai oleh Syarief Abdurrahman (Ku Khie Fung) dan sektetaris DKM dipercayakan kepada Jesslyn Reyner, memiliki segudang kegiatan yang tidak semata mata ditujukan kepada muslim Tionghoa. Masjid ini menjalan fungsinya sebagaimana fungsi sebuah masjid yang senantiaa terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang suku, bangsa, ras, warna kulit dan sebagainya.

salah satu poster kegiatan Masjid Lautze 2 Bandung

Karena ukuran masjid yang tak terlalu besar dan hanya mampu menampung 50-an jemaah saja. Ditambah lagi Masjid Lautze ini merupakan satu-satunya masjid yang berdiri di Jl Tamblong, akibatnya setiap shalat Jumat, jamaahnya pasti meluber hingga ke trotoar. Tak hanya warga muslim Tionghoa yang shalat Jumat disana melainkan semua warga sekitar masjid dan masyarakat lain yang kebetulan lewat jalan tersebut pun turut memenuhi masjid berwarna merah tersebut.

Program kerja yang banyak dilakukan oleh Masjid Lautze 2 Bandung adalah pendampingan muallaf dengan mendampingi mualaf untuk menyempurnakan keIslamannya. Tak hanya itu saja tapi juga melayani orang-orang Tionghoa yang berniat masuk Islam. Sangat wajar, karena belajar sesuatu, lebih nyaman ketika didampingi oleh orang yang memiliki akar budaya yang sama. Program lainnya adalah Lautze Education. Dalam program ini, ada kursus Bahasa Mandarin, kursus Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa)

Program lainnya yang cukup menarik adalah Khalifah Singer dan Lautze Publishing. Khalifah Singer sendiri merupakan kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yang memfokuskan diri mencetak buku-buku Islam dan Tionghoa

Komunitas Lautze di Facebook
Aspek budaya Tionghoa yang sudah melekat, tetap dilestarikan oleh pengurus masjid ini. Seperti pangilan kepada masing-masing anggota dengan ‘cicih’ dan ‘koko’, meski orang tersebut bukan berasal dari etnis Tionghoa.

Selain digunakan sebagai tempat shalat lima waktu, sejumlah kegiatan keagamaan secara rutin diadakan di masjid ini seperti shalat tarawih saat bulan Ramadhan dan pengajian rutin mingguan. Kegiatan pengajian setiap hari Minggu diadakan dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Pesertanya tidak hanya mualaf warga Tionghoa, tapi semua mualaf dari keturunan manapun yang ingin mendalami tentang Islam.
---------------------ooOOOoo------------------------


Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya


4 komentar:

  1. Assalamu'alaikum Wr.Wb.
    Jazakalloh, Kang sudah membantu kami meng-informasikan keberadaan masjid Lautze Bandung, semoga menjadi amal shaleh buat Akang.
    Salam da'wah dan ukhuwwah...
    Jesslyn dan keluarga besar Lautze...

    BalasHapus
  2. Wa alaikum salam Wr. Wb
    Afwan sudah mampir. Semoga Lautze-2 Bandung semakin makmur....Amin.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah, sy baru mengetahui ttg keberadaan masjid Lautze dan InsyaAllah suatu waktu ingin mampir dan mengikuti pengajian rutinnya... Succses dan barokah utk pendiri dan pengurus msjd Lautze...Amien

    BalasHapus

Dilarang berkomentar berbau SARA