Tampilkan postingan dengan label Masjid di Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Jerman. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Mei 2016

Islamic Center Al-Nour Hamburg

Setelah selama 20 tahun sholat berjamaah di garasi, muslim di Horn, Hamburg, ahirnya memiliki sebuah masjid yang layak dari sebuah bangunan gereja yang sudah tidak digunakan lagi karena sepi Jema'ah.

Gereja Menjadi Masjid

Masjid Islamic center Al-Nour Hamburg Jerman, pada awalnya adalah Gereja Lutheran Capernaum (Kapernaumkirche) yang berada di distrik Horn pusat kota Hamburg, Jerman. Bangunan yang merupakan salah satu situs budaya kota Hamburg sudah terbengkalai sejak tahun 2002 dikarenakan masalah finansial karena merosotnya jumlah jema’ah. Piano serta lonceng Gereja sudah diserahkan ke komunitas lain. Di tahun 2004 bangunan gereja tersebut kemudian dibeli oleh komunitas muslim Harmburg yang tergabung dalam Al-Nour Islamic Center dan di konversi menjadi masjid.

Perubahan fungsi bangunan dari bangunan Gereja menjadi Masjid memang bukan hal yang mudah terlebih lagi bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya, Konsultasi dengan otoritas cagar budaya senantiasa dilakukan sebelum dan selama proses rekonstruksi bangunan. Perubahan mendasar mau tidak mau dilakukan di bagian dalam bangunan, altar serta ornamen lainnya dibongkar diganti dengan kaligrafi Islam, orientasi bagian dalam pun berubah menghadap ke arah kiblat setelah sebelumnya ber-orientasi ke arah utara. Pembangunan area mihrab dan mimbar, perubahan sistem pemanas ruangan, tata cahaya dan tata suara, pembuatan tempat wudhu, pemasangan karpet dan sebagainya. Ditambahkan juga area mezanin sebagai tempat khusus untuk jemaah akhwat untuk memisahkannya dari jemaah Ikhwan.

Sekeliling dinding bangunan ini dilengkapi dengan jendela jendela kecil dengan hiasan mozaik kaca patri,

Beberapa pernik bangunan ini tetap dipertahankan seperti mozaik abstrak kaca patri karya seniman Claus Wallner (1926 - 1979 suami dari Ursula Querner) tetap dipertahankan di bagian celah lobang angin bebentuk sarang lebah di hampir sekeliling tembok bangunan, yang juga berfungsi sebagai jendela jendela kecil. Namun demikian simbol Salib di puncak menara setinggi 44 meter di izinkan untuk diganti dengan simbol Allah. Keseluruhan proses rekonstruksi bangunan tersebut menghabiskan dana hingga 1,5 juta Euro yang di berasal dari sumbangan para jema’ah.

Meski telah dilakukan pengalihan kepemilikan sejak tahun 2004, baru pada pertengahan Agustus 2014 proses rekonstruksi besar besaran terhadap bangunan ini dilakukan. Setelah persetujuan dari pihak berwenang keluar pada bulan Januari 2014. Beberapa kendala terjadi termasuk penolakan dari sekelompok masayarakat setempat.

Lokasi dan Alamat Islamic Center Al-Nour

Kantor Islamic Center Al-Nour eV
Small Pulverteich 17
20099 Hamburg

Masjid Al-Nour
Sievekingsallee 191 22111 Hamburg-Horn



Islamic Centre Al-Nour Sebagai sebuah Organisasi berbadan hukum, juga dikenal luas sebagai Masjid Al-Nour didirikan pada tahun 1993 di St. George kota Hamburg, Jerman. Sebagaimana pusat ke-Islaman lainnya  masjid Al-Nour ini pun terbuka untuk jemaah dari kalangan manapun, hingga kini jemaah masjid ini berasal dari tak kurang 30 kebangsaan yang berbeda yang tinggal di kota Hamburg. Diantara para jemaah-nya merupakan orang Arab dari Timur Tengah dan Afrika utara, muslim kulit hitam Afrika, muslim dari Asia termasuk dari Afganistan dan Indonesia serta tentu saja warga Jerman.

Bahasa pengantar yang digunakan di masjid menggunakan bahasa Jerman atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman termasuk Khutbah Jum’at, pengajian, proses belajar mengajar hingga festival yang diselenggarakan oleh masjid. Selain jemaah yang berasal dari suku bangsa yang berbeda beda, latar belakang propesi jemaah masjid ini pun beragam mulai dari mahasiswa, buruh, dokter, pengacara, insinyur hingga para pengusaha.

Masjid Al-Nour juga membuka diri bagi aktivitas non peribadatan termasuk menerima kunjungan dari para murid sekolah, mahasiswa, kelompok masyarakat yang berminat, hingga kunjungan dari instansi pemerintah. Sekali setahun masjid ini menyelenggarakan Open Mosque Day, semacam acara open house di setiap tanggal 3 Oktober dengan menyelenggarakan beragam acara acara menarik termasuk kunjungan masjid dan kuliah umum.

Sebagai sebuah organisasi, Islamic Centre Al-Nour merupakan anggota dari SCHURA – Dewan Komunitas Islam di Hamburg, dan salah satu Chief Executive Officer (CEO) SCHURA adalah Daniel Abdin yang merupakan CEO dari Islamic Center Al-Nour. Beliau mendapatkan kehormatan atas nama SCHURA untuk menandatangai fakta antara the Free and Hanseatic City of Hamburg dan the Islamic religious communities SCHURA, DİTİB dan VIKZ.  

Pada bulan November 2012, setelah tujuh tahun perjuangan dengan begitu banyak penolakan untuk pembelian bangunan untuk masjid. Januari 2014 pemerintah setempat ahirnya mengeluarkan persetujuan untuk alih fungsi bekas bangunan Gereja Capernaum Church menjadi masjid.

Imam Masjid

Imam Masjid Al-Nour adalah Samir El-Rajab. Beliau sudah menikah dan sudah dikaruniai 3 anak. Sosok yang memiliki kepribadian terbuka dan bersahabat. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di tahun 1992 di Universitas Al-Azhar di Beirut, Lebanon. Di Universitas yang sama beliau juga memperoleh gelar master di bidang syariah.

Aktivitas Masjid AL-Nour

Sejak masih melakukan semua aktivitas di St. George, Islamic Center A-Nour sangat aktif dengan berbagai aktivitas termasuk di dalamnya adalah:

  • Pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu termasuk sholat Jum’at
  • Islamic festival untuk anak anak dan keluarga
  • Konseling pernikahan dan keluarga termasuk penyelesaian perselisihan rumah tangga
  • Pelaksanaan prosesi pernikahan dan perceraian
  • Pengurusan kematian dan pemakaman
  • Membuka dialog dengan pihak otoritas dan institusi terkait
  • Panduan masjid untuk sekolah
  • Open Mosque Day
  • Acara traveling untuk anak muda
  • Pelajaran bahasa Arab untuk anak anak
  • Pelajaran Islam untuk anak anak, pemuda dan dewasa
  • Pelaran Al-Qur’an
  • Ceramah umum oleh tokoh tokoh Islam 

Interior Islamic Center Al-Nour, sebelum di rombak menjadi ruangan masjid

The Open Mosque Day

The Open Mosque Day menjadi kegiatan pertama yang dilakukan di Masjid ini diselenggarakan untuk memperkenalkan masjid baru kepada masayarakat luas lintas agama. Acara yang cukup menarik perhatian masyarakat sekitar termasuk dari kalangan non muslim yang turut hadir memberikan apresiasi. Panitia penyelenggara dengan telaten memberikan penjelasan terhadap pertanyaan pertanyaan dari para tamu termasuk pertanyaan mendasar seperti ; kenapa lambang salibnya kok diganti dengan lambang bulan sabit, mengapa masuk ke masjid harus membuka alas kaki dan lain lain.

20 Tahun Sholat di Garasi

Dengan resminya penggunaan Masjid Al-Nour di bekas Gereja ini, tentu saja memberikan nuansa baru bagi muslim dan perkembangan islam di Hamburg. Sebelumnya, selama 20 tahunan muslim disana beraktivitas termasuk melakukan sholat berjamaah Jum’at di bekas bangunan garasi dengan atap yang rendah bersebelahan dengan pintu masuk tempat pembuangan sampah. Lebih dari 600 muslim dari 30 negara secara reguler berkumpul disana untuk sholat Jum’at berjamaah. Tempat yang tidak terlalu buruk untuk melaksanakan sholat berjamaah, hanya saja masyarakat sekitar meminta kaum muslim disana untuk terbuka namun memang agak sulit untuk terbuka sementara untuk sholat berjamaah saja terpaksa dilakukan di garasi.

Alih fungsi gereja tersebut menjadi masjid memang harus berkompromi dengan dengan beberapa hal penting, termasuk bahwa bangunan tersebut sudah masuk dalam cagar budaya sehingga keseluruhan bentuk bangunan tampak luar tetap dipertahankan sebagaimana aslinya, perubahan yang terjadi dari bentuk bangunan hanya mengganti simbol salib di ujung menara lonceng dengan simbol Asma Allah. Sedangkan bagian dalam bangunan memang mau tidak mau harus di rombak total sesuai dengan fungsi sebagai masjid seperti yang sudah di uraikan sebelumnya. Seperti yang jelaskan oleh Imam masjid bahwa pembelian bangunan Gereja untuk dijadikan masjid bukanlah sesuatu yang direncanakan namun memang terjadi begitu saja, Hadir pada saat benar benar dibutuhkan. Alhamdulillah.***

Kamis, 27 Januari 2011

Masjid Al Falah, Masjid Indonesia di Berlin, Jerman

Masjid Al-Falah Berlin menempati lantai paling bawah gedung ini.

Masjid Al Falah di kota Berlin adalah satu-satunya masjid yang dibangun, dikembangkan dan dikelola oleh masyarakat Indonesia di ibukota negara Jerman ini. Ia mungkin juga merupakan satu-satunya masjid yang murni dikelola oleh kaum muslimin Indonesia di negara Jerman, lengkap dengan berbagai kegiatannya. 

Masjid Al Falah IWKZ e.V. selama ini masih mengontrak bangunan di jalan Feldzeugmeisterstrasse. Sebuah pub dan tempat pijat yang kemudian direnovasi para jamaah menjadi masjid yang cukup lapang. kemajuan Islam di Berlin dan Jerman secara keseluruhan dirasakan pula oleh umat muslim Indonesia. Dakwah semakin berkembang dan jamaah semakin bertambah. Dan kini muslim Indonesia di Berlin berencana untuk membangun masjid Indonesia di Berlin yang permanen.

Alamat dan Lokasi Masjid Al-Falah
Masjid Al-Falah IWKZe masih menempati lantai dasar gedung di sudut jalan Feldzeugmeisterstrasse.


Sejarah Masjid Al-Falah Berlin.

Sekitar tahun 1988, sekelompok muslimin Indonesia di Berlin (kala itu masih bernama Berlin Barat, bagian dari Jerman Barat) yang tergabung dalam PPME, memutuskan untuk menyewa sebuah rumah tinggal untuk dijadikan masjid sekaligus pusat kegiatan organisasi mereka.  Sebuah rencana yang sudah dirintis sejak tahun 1984. Masjid tersebut kemudian diberi nama Masjid Al-Falah. Masjid Indonesia ini menjadi salah satu dari sekitar 80 masjid yang ada di Berlin.

Masjid Al-Falah adalah satu-satunya masjid di Jerman yang dikelola oleh masyarakat muslim Indonesia dengan jamaah yang berasal dari berbagai negara seperti Jerman, Turki, Brunei, Malaysia, India, Cina, Pakistan, Indonesia, negara-negara Arab dan Afrika. Masjid Al Falah memegang peranan penting sebagai pusat dakwah, pelayanan, silaturahim, pendidikan, ibadah, serta berperan sebagai pusat informasi keislaman untuk masyarakat muslimin Indonesia yang saat ini tercatat berjumlah sekitar lebih dari 1200 orang di Berlin.

Masjid Al Falah awalnya menggunakan sebuah apartemen seluas 90 meter persegi di jalan Melangtongstrasse. Masjid Al Falah terus berkembangdan pada ahir tahun 2006 menjadi sebuah yayasan yang terdaftar resmi di Departemen Kehakiman Republik Federal Jerman.

Namanya Organisasi pun berubah menjadi Indonesisches Weisheits und Kulturzentrume.V.
(Pusat Kearifan dan Budaya Indonesia) atau disingkat dengan nama IWKZe.V.). Sejak 2007, Mesjid Al Falah pun menempati gedung baru di Feldzeugmeisterstrasse seluas 215 m2, di lokasinya yang sekarang ini. Bangunannya dulu klub malam yang bersebelahan dengan tempat pijat. 2 Bangunan ini disatukan dan direnovasi selama 3 bulan untuk menjadi masjid yang cukup luas.

Di fasilitas street view google earth dapat dilihat dengan jelas pintu masuk ke Masjid Al-Falah ini dengan tulisan IWKZ, plus bendera Indonesia dan Jerman di kiri dan kanan nya

Dan sejak awal tahun 2007 itu pula, Masjid Al Falah tidak lagi dikelola oleh PPME melainkan dibawah IWKZe. V. Dengan dukungan dari segenap pengurus masjid, KBRI dan masyarakat Indonesia. Al-Falah senantiasa berusaha berintegrasi dengan kultur Jerman dan tetap menjaga akar Indonesia.

Aktivitas Masjid Al-Falah

Masjid Al Falah memiliki banyak kegiatan untuk jamaahnya, antara lain: pusat peribadahan, pusat kegiatan keagamaan masyarakat muslim di Berlin, pusat pendidikan Al Qur'an bagi anak-anak dan remaja melalui program Taman Pendidikan Al Qur'an, pusat pendidikan agama Islam melalui pengajian-pengajian rutin mingguan dan bulanan, kegiatan selama Ramadan, pusat perpustakaan dan literatur keislaman, kajian-kajian ilmiah, sarana silaturahim untuk saling kenal-mengenal sesama warga, sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada komunitas internasional baik melalui jalinan kerjasama maupun melalui ragam kegiatan sosial seperti bazar makanan tradisional Indonesia, fasilitas kegiatan olahraga, dan turut membantu saudara-saudara di Indonesia yang tertimpa bencana dengan menggalang dana bantuan.

Kegiatan masjid kami memfokuskan kepada pengenalan budaya dan kearifan masyarakat Islam Indonesia, yang merupakan salah satu bukti bahwa bangsa Indonesia mampu berkontribusi dalam bidang kebudayaan dan keagamaan di Jerman.

Dengan semangat membuka diri, Masjid Al Falah ingin memberikan kontribusi untuk masyarakat Berlin yang lebih luas. Masjid Al Falah aktif dalam paguyuban masjid di Berlin melalui Initiative Berliner Muslime (IBMUS) juga paguyuban lintas budaya dan agama di Buergerplatform Wedding-Moabit. Bahkan menjadi wakil umat Islam dalam Komisi Integrasi Depdagri Jerman. Seiring dengan perkembangan dakwah, jumlah jamaah pun kian ramai. Alhamdulillah, sampai menjelang akhir Ramadhan, Masjid Al Falah tetap penuh saat acara Ifthar bersama dan dilanjutkan dengan Tarawih.

Pintu utama Masjid Al-Falah Berlin.

Al Falah juga berhubungan baik dengan warga Jerman di sekitar masjid. Ada Open Day setiap tahun, dimana warga Berlin ramai-ramai mengunjungi masjid. Umat Muslim di Berlin, walaupun ada berbagai bangsa tapi selalu kompak mulai dari mendukung Palestina dan mengecam teror bom di Indonesia. Bahkan mereka bisa menyepakati Ramadan dan Idul Fitri bersama, suatu hal yang kadang sulit dilakukan di tanah air.

Menjadi muslim Indonesia di Jerman memiliki berkah tersendiri. Kita dilihat sebagai wajah muslim yang penuh toleransi. Pemerintah Jerman ingin belajar mengenai kerukunan beragama dan Indonesia sering dijadikan rujukan. Fakta yang cukup membanggakan. Al Falah bersama IBMUS kini sedang memperjuangkan ke Dewan Kota Berlin untuk menjadikan Idul Fitri dan Idul Adha menjadi hari libur lokal di Berlin.

Impian memiliki bangunan masjid sendiri

Dengan luas sekitar 200 m2, mampu menampung sekitar 180 jamaah sholat. Namun seiring meningkatnya jumlah kaum muslim Indonesia di Berlin, masjid ini diperkirakan tidak akan mampu lagi menampung jumlah jamaah yang semakin banyak dalam beberapa tahun ke depan. Status bangunannya sebagai gedung sewa juga cukup beresiko, karena pemutusan kontrak sewa akan mengharuskan dipindahnya masjid, sebuah proses yang tidak sederhana dan berakibat pada terganggunya ibadah dan kegiatan keislaman kaum muslim Indonesia di Berlin. Hal ini pernah terjadi pada tahun 2005, kontrak sewa masjid diputus sehingga masjid tidak memiliki tempat ibadah selama lebih dari satu tahun.

contoh poster kegiatan masjid Al-Falah
Menginat akan hal hal tersbut dia tas para jamaah muslim Indonesia di Jerman memimpikan untuk memiliki gedung masjid sendiri dan bukan menyewa. Tidak lain untuk kepastian dan ketenangan beribadah selain tentunya menyesuaikan kapasitas masjid dan jumlah jamaah. Maka, pada Sabtu 12 September 2009 usai Tarawih, Ketua Masjid Al Falah IWKZ e.V. Bapak Makky Sandra Jaya secara simbolis bersama para jamaah membacakan piagam kebulatan tekad untuk membangun Masjid Indonesia yang dimiliki sendiri.

Insya Allah masjid yang akan tersebut akan menjadi masjid Indonesia pertama yang secara penuh dimiliki dan dibangun oleh anak bangsa di Jerman. Masjid Al-Falah dan segenap jamaah mengundang seluruh umat muslim Indonesia di luar negeri dan di tanah air untuk ikut bahu membahu berpartisipasi dalam ikhtiar bersama membangun Rumah Allah tersebut.

Umat Islam yang berniat membantu bisa berkontribusi melalui rekening yang dicantumkan dalam situs
www.iwkz.de. Selain itu, informasi juga disebarluaskan lewat berbagai milis dan situs jejaring sosial. Masjid Al Falah juga menggandeng sejumlah yayasan di tanah air untuk menerima dan menghimpun dana dari Indonesia. Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar tersebut.***

----------oooOOOooo----------

Minggu, 16 Januari 2011

Masjid di Istana Schwetzingen, Jerman

Masjid di Istana Schwetzingen, Jerman

Bila anda berfikir bangunan megah ini adalah sebuah istana, anda salah !. Ini adalah sebuah masjid yang letak nya memang berada didalam komplek istana Schwetzingen, Istana Jerman di masa lalu. Sayangnya masjid tua, megah, indah dan mewah ini kini tidak lagi difungsikan sebagai masjid. Pemerintah setempat mengubahnya menjadi tak lebih dari sebuah musium masjid dari masa lalu, sebagai bangunan bersejarah dan objek wisata, seperti halnya bangunan lainnya yang berada di dalam kompleks Istana Schwetzingen. Kecuali hari Senin, bangunan Masjid Schwetzingen terbuka bagi kunjungan masyarakat umum..

Di peta kamu akan dengan mudah menemukannya di dalam komplek Istana Schwetzingen, dengan nama Moschee im Schwezingen Schlossgarten atau Mosque in The Palace Garden. 

Lokasi Masjid Schwetzingen



Masjid Schwetzingen antara sejarah dan legenda

Keberadaan bangunan masjid di di Kota Schwetzingen, Jerman sudah ada sejak akhir abad ke-18. Merupakan masjid pertama yang dibangun di Jerman. Pada 1740, Raja Frederick II, pemegang kekaisaran Roma dan Raja Yerusalem dan Sicilia berkata, ''Semua agama adalah sama dan baik, jika orang-orang yang memeluknya jujur, dan bila Turki datang kemari dan ingin tinggal di negara ini, maka kita akan dirikan bagi mereka masjid-masjid.''

Masjid pertama di Jerman ini cukup unik, mengingat lokasi pembangunannya yang berada didalam kompleks Istana Schwetzingen. Konon masjid Schwetzingen dibangun untuk menghormati toleransi. Tetapi tidak sedikit isu sejarah yang beredar di kalangan masyarakat Schwetzingen menyebutkan bahwa masjid ini sengaja dibangun sebagai hadiah bagi salah satu istri raja yang berasal dari Turki dan beragama Islam. Desas-desus lain yang juga berkembang luas di tengah masyarakat adalah bahwa salah satu bangsawan yang hidup di sini pada masa itu ada yang Muslim.

Masjid di Istana Schwetzingen, Jerman

Masjid Scwetzingen dirancang dan dibangun pada tahun 1796 oleh arsitek berkebangsaan Perancis Nicolas de Pigage (1723-1796). Proses pembangunan kompleks Masjid Schwetzingen sendiri memakan waktu lima belas tahun lamanya (1779-1796). Dan kini menjadi satu satunya masjid taman dari abad ke 18 di eropa yang masih eksis.

Islam di Jerman dulu dan kini

Sejarah mencatat,  pada zaman Turki Utsmani (1300-1922), penyebaran Islam sudah masuk ke kawasan benua Eropa saat ini. Namun, Islam baru masuk Jerman pada tahun 1700-1800, diperkenalkan oleh para imigran asal Turki. Sehingga tidak mengherankan jika komunitas Muslim di Jerman kebanyakan adalah orang-orang keturunan Turki.

Perkembangan Islam di Jerman cukup pesat. Pada 1989, sensus yang dilakukan suatu organisasi Islam mencatat sekitar 10 ribu orang Jerman asli memeluk Islam. Pada 2006, jumlah penduduk Muslim di Jerman mencapai 3,3 juta jiwa atau sekitar empat persen dari populasi penduduk Jerman.

Dengan perkembang yang cukup pesat ini, sampai sekarang terdapat sekitar 2.500 masjid di Jerman, dan hanya 160 yang dikenal luas. Kendati demikian, tren pembangunan masjid baru di negeri ini sedang meningkat. Sedikitnya ada 200 masjid yang tengah dikonstruksi saat ini.

Masjid di Istana Schwetzingen, Jerman

Arsitektur Masjid Schwetzingen

Masjid Schwetzingen merupakan bangunan terbesar pertama yang mengedepankan gaya arsitektur oriental di sebuah negeri berbahasa Jerman. Pigage (sang arsitek) menggabungkan elemen-elemen dari arsitektur Islam Moor dengan eksotisme dari kisah-kisah dongeng Seribu Satu Malam.

Tak hanya sebatas itu. Oleh sang arsitek, Masjid Schwetzingen juga dirancang dan dibangun dengan menggunakan konsep taman. Karenanya masjid ini menjadi masjid taman pertama yang dibangun pada abad ke-18, dan hingga kini masih berdiri megah di kawasan Eropa. Taman yang berada di sekeliling bangunan masjid mengadopsi konsep taman-taman di Turki.

Pesona arsitektur Timur secara jelas sudah bisa ditangkap manakala pengunjung melihat bagian luar dari bangunan Masjid Schwetzingen. Pengaruh arsitektur Timur ini semakin tampak jelas, saat memasuki bagian tengah masjid, yang berbentuk kubah bundar, yang diapit oleh ruangan-ruangan berbentuk persegi. Gaya oriental juga tampak kental pada interior masjid, dengan penggunaan mosaik marmer pada lantai di ruang bagian tengah.  

Masjid di Istana Schwetzingen, Jerman

Bagian langit-langit masjid dihiasi dengan ornamen dari bahan plesteran. Di bagian tengah bangunan masjid ini terdapat ruangan khusus bagi para imam masjid. Keberadaan ruang khusus ini semakin memperkuat kesan bahwa bangunan ini pada masa lalu pernah difungsikan sebagai tempat ibadah.

Sedangkan permukaan dinding masjid bagian dalam dihiasi dengan lukisan dan sepuhan emas. Kutipan ayat-ayat Alquran bisa kita jumpai pada permukaan dinding masjid bagian luar dan di langit-langit kubah. Untuk mencapai bagian teras depan masjid, kita harus melewati sejumlah tiang pilar yang dari kejauhan tampak terlihat seperti memainkan siluet bayangan dan cahaya secara bergantian.

Seperti bangunan masjid lainnya yang dibangun pada masa pemerintahan Turki Utsmani, Masjid Schwetzingen juga dilengkapi dengan bangunan menara yang menghiasi kedua sisi bangunan masjid. Sudah menjadi ciri khas menara masjid masjid bergaya turki Usmani bahwa sebuah menara dibuat selansing dan setinggi mungkin, sayangnya menara Masjid Schwetzingen ini tertutup bagi kunjungan wisatawan. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk menaiki anak tangga yang menuju ke puncak menara.***

------------------oooOOOooo------------------