Tampilkan postingan dengan label Masjid di Sumatera Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Sumatera Selatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 3)

Pelataran depan Masjid Lawang Kidul dengan prasasti wakaf di bagian depan mihrab nya

Wakaf Kyai Marogan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, l
ahan seluas 2104 meter persegi tempat masjid Lawang Kidul ini bediri beserta bangunan masjid dan seisinya merupakan wakaf dari Kiai Merogan yang aslinya di Ikrarkan di depan Paduka Pangiran Penghulu Fatih Agama Muhammad ‘Aqil disaksikan empat penghulu lainnya, pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310H. Kemudian dijelaskan lagi didalam akta pengganti ikrar wakaf nomor W.3/001/BA.03.2/05/1990 tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M.

Pengesahan Nadzir Nomor W.5/001/BA032/05/1990 Tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M. Sertifikat Nomor 953/1993 tanggal 10 Maret 1993. Tanggal 6 Syawal 1310H atau bertepatan dengan tahun 1890M yang merupakan tanggal dari pernyataan wakaf dari Kyai Merogan yang kini dijadikan rujukan sebagai tahun pembangunan masjid ini.

Prasasti Salinan Akta wakaf Kiai Marogan

Salinan Akta Wakaf

Berikut ini adalah salinan akta wakaf yang sudah kami alih aksara. Ada beberapa bagian kata dan kalimat bewarna merah adalah bagian yang kami belum fahami atau bahkan bisa jadi kami salah dalam membacanya, termasuk beberapa perlengkapan atau perabot di dalam masjid yang disebutkan dalam akta yang bertanggal 6 Syawal 1310H/1890 M.

Cap Penghulu
Tandatangan
Penghulu Muhammad ‘Aqil

Surat Tanda Munjaz Wakaf Lillahita’ala Nomor Empat Belas

Kepada hari Ahad tanggal enam Syawal Seribu Tiga Ratus Sepuluh, betul berhadap di muka Roada Agama Paduka Pangiran Penghulu Fatih agama Muhammad ‘Aqil serta empat khotib Penghulu yang berteken di bawah ini yaitu Kiagus Haji Ma’ruf Haji Akhmad Haji Abdul Rokhman Kiagus Haji Abdul Karim – Alih seseorang laki laki nama Masagus Haji Abbdul Hamid Bin Masagus Mahmud Alias Kanang, umur delapan puluh tahun lebih kurang.

Orang ‘alim mengajar di Palimbang, Jiwa di Kampung empat ulu – karena dia orang akan membuwat surat keterangan nazar Munjiz wakaf lillahita’ala – maka Roada agama periksa (menerima) kepadanya yang diya orang di dalam Sihat badan nya dan simpurnah Aqalnya lagi ja’zal tashrif min ghoir ‘akroha wal ajbar – kemudian maka terikrarlah uleh Masagus Haji Abdul Hamid Al-Mazkur

“dari aku ada punya milik yaitu duwa masjid di negeri Palimbang, Satu masjid di Kampung karang Baru marogan, dan lagi satu masjid di kampung lima ilir Lawang Kidul sarat pekakas pekakas yang ada di dalam itu masjid yang tersebut seperti Setulub setulub dan lampu lampu dan kandil kandil dan satrun satrun dan Gerubuk gerubuk semuanya pada yang ada di dalam itu duwa masjid yang tersebut pada masa sekarang”.

“Juga aku nazarkan dengan nazar manjiz aku ‘abdikan waqaf lillahita’ala selama lamanya. Di tempat orang orang berbuat ibadah dan sembahyang. Tidak harus lagi ahli waris yang kubuwat juwal atau gadaikan atau bahagi waris aku tidak rhido duniya akhirat. Sehadangan catang sarot Aku Masagus Haji Abdul Hamid Al-Muzakir berteken dibawah ini dihadapan roada agama yang tersebut demikianlah adanya”.

Khotib Penghulu, tanga tangan, Ki Agus Haji Ma’ruf
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Akhmad
(Haji Masagus Abdul Hamid)
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Andul Rohman
Khotib Penghulu, tanda tangan, Ki Agus Abdul Karim

Kiri depan adalah adalah prasasti salinan akta wakaf dari Kiai Marogan

Sejarah Pembangunan Masjid Lawang Kidul (MLK)

Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H (1890 M), angka tahun pembangunan ini merujuk kepada tanggal di akta wakaf dari Kyai Merogan di depan Penghulu Muhammad ‘Aqil pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 1890 Miladiah (masehi).

Beliau lebih dikenal sebagai Kiai Merogan, merujuk kepada tempat tinggal dan pusat aktifitas da’wah beliau yang berada di muara sungai Ogan di Kawasan Seberang Ulu, tak jauh dari stasiun Kereta Api Kertapati. Sungai Ogan merupakan salah satu dari sekian banyak anak Sungai Musi.

Plakat Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul

Sejak dibangun tahun 1890 masjid Lawang Kidul telah dilakukan pemugaran tahun 1983-1987. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti, terutama bagian atapnya yang semula genteng belah bamboo, kemudian diganti dengan genteng kodok. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Material bangunan asli bangunan masjid ini terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu Ulin atau dalam bahasa Palembang disebut Kayu Onglen.

Sebagaimana disebutkan di plakat yang dipasang di beberapa bagian masjid ini, Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul dilasanakan mulai tanggal 7 Januari 2008 dan selesai pada tanggal 20 Juni 2012 dengan dana sebesar lebih kurang Rp. 1 (satu) Milyar Rupiah dari sodaqoh jariyah muslim dan muslimat.

Ornamen atap mihrab dan dan puncak atap masjid Lawang Kidul dengan bentuk yang unik

Siapakah Kiai Merogan

Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan dilahirkan tahun 1811 dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1901. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang sukses. Beliau cukup lama menetap di Mekkah, kemudian pulang ke kampung halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berda’wah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan.

Selama tinggal di Mekah beliau sempat membangun Tiga pemondokan jemaah haji bagi para jemaah dari Nusantara dan sekitarnya. Di tanah air beliau, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (Ogan Ilir). Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan. Makam beliau berada di areal Masjid Kiai Merogan, di kawasan Seberang Ulu, Kota Palembang dan hingga kini makam beliau terawat baik dan senantiasa ramai peziarah. 

Kiai Marogan diketahui juga mempunyai seorang Adik Laki Laki bernama KH. Masagus Abdul Aziz lebih dikenal dengan sebutan Kiai Mudo karena usianya yang lebih muda dari Kiai Marogan. Bila Masagus Abdul Hamid lebih dikenal sebagai Kiai Marogan karena pusat aktivitasnya yang berada di Muara Sungai Ogan, adik beliau, KH Masagus Abdul Aziz lebih dikenal luas di daerah Belida yang membentang di sepanjang aliran Sungai Belida seperti Gelumbang, Gumai, Kartamulia, Betung, Sukarame, Lembak dan sekitarnya. Baik Sungai Belida maupun Sungai Ogan merupakan anak sungai Musi yang sama sama bermuara ke sungai Musi. (selesai)

---------------------------

Artikel Terkait



Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 2)

Mimbar dan mihrab Masjid Lawang Kidul

Interior Masjid Lawang Kidul

Di hari biasa, masjid ini dapat di akses dari pintu sebelah utara atau bila dari arah gerbang ke sebelah kiri bangunan. Area tempat wudhu dan kamar mandi juga berada di sisi ini. Di sebelah utara ini juga sudah ditambah dengan bangunan tambahan menyatu dengan bangunan utama masjid. Sisi selatannya yang merupakan area bangunan tambahan ditutup di hari biasa, karena disana juga merupakan tempat kantor pengurus masjid dan madrasah. Secara keseluruhan bagian dalam masjid ini di dominasi warna putih di bagian atap, soko guru hingga lantai marmernya, sedangkan dindingnya seluruhnya ditutup dengan keramik dinding bewana hijau lumut.

Ada enam pintu berukuran besar di masing masing sisi masjid ini. masing masing pintu berukuran besar dengan dua daun pintu dari kayu di cat putih polos tanpa ornamen. Engsel besi di masing masing pintu itu benar benar tampak tua dan kuno dan pastinya agak sulit untuk menemukannya di pasaran saat ini.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Ada empat jendela besar di sisi mihrab. Masing masing jendela terdiri dari dua bagian atas dan bawah. Jendela bagian atas berupa jendela terbuka tanpa jaun jendela hanya ditutup teralis besi lurus, fungsinya sebagai ventilasi udara, namun kini di tutup permanen dengan kaca. Jendela bagian bawah juga di beri teralis namun dilengkapi dengan sepasang daun jendela yang juga polos tanpa ornamen.

Di dalam masjid ini terasa lega dengan atap limasnya yang begitu tinggi di topang oleh empat sokoguru utama setinggi 8 (delapan) meter menopang kayu alang (penyanggah) sepanjang 20 (dua puluh) meter. Disekeliling sokoguru utama ini di tambah dengan 12 (dua belas) pilar tambahan yang berukur lebih kecil masing masing setinggi lebih kurang 6 (enam) meter. Semua pilar tersebut dibuat dari kayu dan dibentuk bersegi delapan. Seluruh struktur atap masjid ini dibuat dari kayu Ulin termasuk 16 (enam belas) sokogurunya.

Cahaya matahari senja menerobos masuk lewat jendela MLK Palembang

Ruangan utama dari bangunan asli masjid ini berukuran 20 x 20 meter, ditambah dengan bangunan tambahan sehingga luas seluruhnya menjadi 40 x 41 meter. Seluruh dinding bagian dalamnya di lapis dengan keramik dinding bermotif natural bewarna hijau lumut. Berbeda dengan masjid masjid tradisional Indonesia di tanah Jawa yang rata rata memiliki sumber cahaya dari jendela jendela kecil yang diletakkan diantara susunan atap bertingkatnya. Di masjid ini bagian atap-nya tertutup seluruhnya. Sumber cahaya matahari hanya dari jendela masjid. Seluruh plafon masjid juga dibiarkan polos bercat putih tanpa banyak ornamen selain kayu kayu kaso-nya yang dihaluskan dan di profil seragam.

Ada satu lampu gantung berukuran besar di tengah masjid, dan beberapa lampu lampu gantung berukuran kecil di bagian lainnya. Hanya ada satu ornamen lukisan di kayu Alang Panjang (kayu penopang atap yang di sokong oleh 12 soko guru yang lebih kecil) berupa lukisan bermotif flora bewarna kuning tua, hijau, merah dan merah muda. Ornamen yang sama juga ditempatkan di pertemuan atap dan sisi teratas dinding bagian dalam. Lukisan floral ini sama persis dengan ormanen di Masjid Agung (Sultan) Palembang.

Interior Masjid Lawang Kidul Palembang yang sangat khas

Mimbar Masjid Lawang Kidul (MLK)

Bagian yang paling menarik perhatian di dalam masjid ini adalah mimbar dan mihrabnya. Sejatinya ruang mihrab ini merupakan tempat imam memimpin sholat, namun di masjidi ni sama seperti di Masjid Agung Palembang, posisi Imam tidak di dalam mihrab tapi sedikit di depan mihrab agak disamping mimbar, ditandai dengan sebuah pembatas berukir. Ruang mihrabnya digunakan untuk menempatkan beberapa perangkat pengeras suara dan peralatan lainnya. Ruang mihrabnya dilengkapi dengan dua pintu akses keluar masuk di sisi kiri dan kanannya, dan dihubungkan ke masjid dengan dua akses berbentuk gapura disisi kiri dan kanan mimbar.

Mimbar masjid ini dibangun dari susunan batu bata dan semen berupa susunan undakan anak tangga, khatib akan berdiri di anak tangga tertinggi saat menyampaikan khutbah. Sisi atas mimbar berbentuk kubah bagian puncaknya diberi oranmen seperti lampu aladin dari bahan metal bewarna emas. Sedangkan di sisi depan kubahnya ditempatkan dua ornamen berbentuk kuncup kembang. Sekelilingnya diberi profil dari semen, dengan sedikit strip bewarna emas. Ada dua bendera segitiga bewarna hijau bertuliskan kalimat tauhid “Laa Ila ha Illallah” dan beberapa kalimat lainnya dipasang di bagian atas mimbar.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Di sisi depan tangga mimbar diberi gapura dari kayu berukir khas Palembang berbalut warna emas dengan dua tiang bulat sebagai penopangnya. Ukirannya di dominasi ukiran bermotif flora. Ukiran floral warna emas juga menghias bagian tempat duduk khatib. Ornamen di ujung dua tiang mihrab ini memang tak biasa, mirip sepasang buli buli dengan bagian ujungnya berbentuk batangan bewarna kuning yang sengaja dibengkokkan. Reiling tangga mimbar ini juga dihias dengan ukiran floral bewarna emas. Sedangkan bagian lain dari mimbar di tutup dengan keramik dinding bewarna hijau lumut sama seperti dinding bagian dalam masjid.

Bangunan tambahan di masjid ini menambah luas masjid di disi utara dan selatan serta bagian belakang masjid. Tangga menuju ke lantai dua masjid ini diberada di area tambahan dibelakang masjid. Pintu ke lantai dua ini di kunci di hari biasa. Terlihat jelas upaya untuk membuat bangunan tambahan ini semirip mungkin dengan bangunan aslinya, meski tidak sepenuhnya identik.

Detail Mimbar Masjid Lawang Kidul Palembang

Pengurus Masjid Lawang Kidul

Pengurus Masjid Lawang Kidul berbadan hukum dengan nama Yayasan Masjid Lawang Kidul. Dibentuk berdasarkan Akta Notaris Haji Gunata Ibrahim, SH. Nomor 066 tertanggal 13 Juli 2012. Struktur kepengurusan Yayasan Masjid Lawang Kidul Palembang Masa Khidmat 2012- 2017 adalah sebagai berikut :

Pembina :       

Kemas Komarudin, A. Halim, S.Pd (Ketua) 0821 8212 5853
Kiagus H.M. Kamil Abu Mansur 0811 7860 69
Masagus H. Memet Ahmad, SE.  0711 7061 250
Yahya Zagladi
Kiagus M, Janaluddin A. Syukur 0852 7344 7070

Area Tamabahan (baru) di Masjid Lawang Kidul Palembang. Dua pilar kayu pada foto kiri atas adalah tiang asli menara masjid ini. 

Pengurus:       

Mansur Husen, S.Pd (Ketua Umum) 0711 7929 306
Kiagus H.M. Thoyyib A. Roni (wakil ketua) 0711 7371 828
Hendrik Junior Ibrahim (sekretaris) 0813 6749 2589
Asep Kokasih Mahdi (Wakil Sekretaris) 0821 8418 2210
Kiagus Lukmanul Hakim (Bendahara) 0711 777 9849
Bunyamin Bahruddin (wakil Bendahara) 0813 7324 0014

Pengawas:     

M. Syukur H. Alwi (Ketua
Muhammad Yusuf Atma 0711 5313 863
Ardianto Abus
A. Sofiyan Sarmanik 0853 6670 3037
Kiagus Abdullah Amin 0812 7307 2174

Detil Interior Masjid Lawang Kidul Palembang

Khsusus untuk pelaksanaan sholat Jum’at, masjid Lawang Kidul sudah mengatur Jadwal Imam, Khatib serta Imam, Khatib cadangan selama satu tahun penuh. dalam jawal yang sudah disusun tersebut dimuat juga himbauan yang menghimbau kepada para imam dan khatib serta cadangannya untuk hadir lebih awal paling telat 15 menit sebelum waktu zuhur, kemudian di atur juga bahwa penyampaian khutbah jum’at antara 10-15 menit saja mengingat kepentingan Jemaah yang sangat beragam

Para imam dan khatib yang berhalangan hadir untuk memberitahukan kepada pengurus dan tidak perlu memberikan mandat kepada orang lain sebagai pengganti. ditambahkan pula bahwa bagi Imam dan Khatib yang bertugas pada Jum’at awal bulan diharapkan untuk mengisi acara “cawisan” (ceramah agama) pada pukul 11.30 WIB sampai dengan beduk dibunyikan sebagai tanda waktu sholat Zuhur/Jum’at telah tiba, selama ± 30 Menit. ****

-----------------------------

Bersambung ke bagian 3

Artikel Terkait



Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 1)

KAWASAN MENUTUP AURAT. Masuk ke pekarangan masjid ini terpampang tulisan besar "kawasan menutup aurat".  Bagian yagn dipagar besi itu adalah prasasti yang bertuliskan akta wakaf masjid ini dari Kyai Marogan.

Berkunjung ke masjid ini terasa terlempar kembali ke masa perkembangan Islam di Palembang. Terlebih saat masuk ke dalam masjid dengan langgam masa lalu yang teramat kental. Masjid Lawang Kidul adalah satu dari tiga masjid tua di Kota Palembang dengan arsitektur yang serupa dan masih terawat apik ke asliannya hingga kini. Masjid Agung Palembang atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II yang kini berstatus sebagai masjid nasional, Masjid Ki Marogan dan Masjid Lawang Kidul, adalah tiga masjid tua saksi bisu perkembangan Islam di Palembang dan sekitarnya serta perjalanan peradaban-nya.

Masjid Lawang Kidul sangat identik dengan Masjid Kiai Merogan karena memang sama sama dibangun oleh Kiai Merogan di era yang nyaris bersamaan. Masjid Lawang Kidul berada di tepian Sungai Musi, di kawasan Kelurahan Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Lokasinya persis bersebelahan dengan Kawasan Pelabuhan Boom Baru, pelabuhan tua di tepian Sungai Musi di kota Palembang yang masih berfungsi hingga kini. Dan juga tidak terlalu jauh dari Pasar Kuto.

Lokasi Masjid Lawang Kidul (MLK)
Jalan Selamet Riyadi, Lorong Masjid Lawang Kidul
Kecamatan Ilir Timur II, kota Palembang
Sumatera Selatan, Indonesia


Lokasi masjid ini berada di tengah tengah pemukiman warga di tepian Sungai Musi, Untuk menuju ke Masjid ini dari Jalan Slamet Riyadi dari arah pasar Kuto, beberapa meter sebelum gerbang Pelabuhan Boom Baru ada Lorong Masjid Lawang Kidul yakni sebuah Gang Sempit di sisi kanan jalan raya lengkap dengan gerbangnya dengan tulisan “MASJID LAWANG KIDUL” berukuran cukup besar. Ruas gang tersebut hanya cukup untuk dilalui satu kendaraan roda empat. 

Bila dengan angkutan umum, dari pusat Kota Palembang (Pasar 16 Ilir) naik angkot tujuan Sayangan – Lemabang. Jangan lupa bilang ke sang sopir angkot, minta turun di Masjid Lawang Kidul. Bila menginginkan perjalanan yang berbeda anda dapat menggunakan moda angkutan air menyusuri Sungai Musi dengan menyewa perahu dari kawasan BKB (Benteng Kuto Besak) menuju ke dermaga Masjid Lawang Kidul di belakang masjid ini, dengan moda angkutan air ini anda juga dapat berwisata menikmati pemandangan kota Palembang dari sungai Musi termasuk melihat Jembatan Ampera yang melegenda itu dari sungai musi.

Papan nama di muara gang masjid Lawang Kidul di Jalan Slamet Riyadi, lengkap dengan keterangan tentang status masjid tersebut.

Untuk Tarif angkutan umum sebaiknya ditanyakan langsung di lokasi sebelum menggunakan salah satu jasa angkutan umum tersebut. Dari ruas Jalan Slamet Riyadi, masjid ini dapat dicapat dengan berjalan kaki melalui lorong (gang) Masjid Lawang Kidul sambil menikmati suasana kampung disana yang beberapa rumah penduduknya masih berupa bangunan asli khas Palembang. Sebelum masuk kawasan masjid, ada baiknya terutama bagi pengunjung perempuan agar menutup aurat (mengenakan jilbab). Himbauan ini berdasarkan plang bertuliskan “Kawasan Menutup Aurat” di area halaman masjid.

Ruas jalan sempit ini tidak terlalu panjang, di ujung jalan kita akan langsung bertemu dengan gerbang masjid ini dengan pekarangan yang cukup luas untuk parkir kendaraan. Warga disana pun cukup ramah, saat berkunjung kesana, warga setempat yang kebetulan sedang berada di lokasi dengan ramah menunjukkan arah ke masjid ini, termasuk mengarahkan kendaraan masuk dan keluar gang sempit tersebut kembali ke jalan raya.

Gerbang Masjid Lawang Kidul diantara rumah rumah penduduk 

Warisan Masa Lalu Yang Masih Terawat

Patut di acungi jempol kepada otoritas dan muslim kota Palembang yang mampu mempertahankan salah satu warisan sejarah Islam di kota ini. Meski telah beberapa kali mengalami pemugaran, keaslian masjid ini masih dapat kita nikmati hingga kini. Bangunan Masjid Lawang kidul dibangun sangat mirip dengan bangunan asli Masjid Sultan Palembang (Masjid Agung Palembang) yang merupakan masjid resmi Kesultanan pada masanya.

Bangunan utamanya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya dengan masjid Agung Demak. Kemiripan arsitektur masjid masjid di wilayah kesultanan Palembang dengan Bentuk Masjid Demak dapat dimaklumi karena memang dibangun setelah Majid Demak dan Kenyataan sejarah pun menunjukkan keterikatan yang kuat antara muslim Palembang dengan Kesultanan Demak, mengingat bahwa Raden Fatah, selaku Sultan pertama di Kesultanan Demak adalah putra Prabu Brawijaya dari Majapahit yang lahir dan besar di Palembang.

Masih Asli

Meski demikian. Masjid masjid tua di Palembang memiliki ciri khasnya sendiri terutama pada bagian atapnya yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memiliki penampilan mirip dengan atap bangunan kelenteng. Ornamen seperti tanduk atau seperti taji atau duri menjadi ciri khas bangunan atapnya dengan jumlah rata rata 12 buah di masin masing sisi. Ornamen khas Palembang juga ditemukan dibagian lisplang atau sisi bawah bagian ujung atap, dan bagian bawah atap tertinggi yang ditutup seluruhnya dengan kayu membuat susunan atap teratas masjid ini sebagai sebuah kubah utuh.

Ornamen di puncak tertinggi atap masjid ini juga sangat khas. Sebuah bentuk kubah berukuran kecil yang juga dilengkapi dengan ornamen tanduk tanduk kecil berjumlah masing masing 3 buah di tiap sisi, ada beberapa bentuk sulur sulur berbentuk bunga di masing masing sisi. Di puncaknya dilengkapi dengan ornamen bulan bintang yang juga sangat khas. Ornamen Bulan sabitnya simetris ke atas seperti ornamen bulan sabit di masjid masjid Turki namun dengan bentuk yang lebih lebar tidak ramping seperti bulan sabit di masjid masjid Turki, sedangkan ornamen bintangnya digunakan bintang bersegi delapan yang sepertinya menyimbolkan delapan penjuru mata angin.

Ornamen di Puncak atap Masjid Lawang Kidul

Mihrabnya dibangun menjorok keluar bangunan utama sebagai sebuah bangunan yang menempel ke bangunan utama namun dilengkapi dengan sebuah pintu akses sendiri. Atap bangunan mihrab ini juga dibangun dengan bentuk yang khas, dengan beberapa ornamen unik di bagian puncak atapnya. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan sebuah menara yang tidak terlalu tinggi, bertingkat empat dengan ukuran makin megecil makin mengecil. Tiga tingkatan menara dilengkapi dengan balkon kecuali tingkat teratas.

Dahulunya menara ini difungsikan sebagai tempat muazin mengumandangkan azan dari balkoninya di tingkat paling atas. Kini menara ini masih berfungsi sebagaimana semula hanya saja muazin tidak lagi memanjat ke atas menara diganti dengan beberapa unit pengeras suara yang di tempatkan dibagian paling atas menara.

Menara Masjid Lawang Kidul

Sebelum dibangun bangunan tambahan di sisi selatan bangunan utama, menara masjid ini masih dapat dilihat dengan jelas dari sisi selatan masjid. Namun kini menara ini sudah masuk ke dalam bangunan tambahan meski masih tetap dijaga seperti aslinya. Lantai dasar menara kini sejajar dengan lantai cor di bangunan tambahan. Dari dalam bangunan hanya dapat dilihat dua buah pilar kayu berukuran besar yang merupakan tiang asli dari menara ini. sedangkan tangga dan bagian lainnya dari menara ini dibagian bawah sudah dibongkar.

Di depan bangunan mihrab, di halaman depan masjid di terdapat prasasati yang berisikan salinan surat akta wakaf dari Kiai Merogan yang seluruhnya ditulis menggunakan aksara Arab Gundul atau aksara Arab Melayu yang ditulis tanpa tanda baca. Di sekeliling masjid ini juga dipasang beberapa penanda batas batas tanah wakaf dimaksud.

Mihrab Masjid Lawang Kidul dari sebelah luar, tampak prasasti wakaf disebelah kiri foto

Sebagai masjid yang dibangun di tepian sungai, masjid Lawang Kidul ini aslinya dilengkapi dengan dermaga kecil di tepian sungai musi yang dikenal dengan nama tangga raja, karena dulunya memang digunakan oleh Sultan dan keluarganya bila ke Masjid ini dari jalur sungai. Tangga itu juga menjadi tempat berlabuhnya Kiai merogan, namun tangga itu kini sudah tidak difungsikan lagi, sebagai gantinya dibangun satu dermaga kecil di belakang masjid ini. disamping masjid ini memang ada ruas jalan kecil untuk pejalan kaki sebagai jalan akses ke dermaga dan jalan akses bagi warga yang tinggal disana. Ruas jalan kecil itu juga masih merupakan lahan masjid Lawang Kidul walaupun berada diluar pagar masjid. 

Dari bagian belakang Masjid Lawang Kidul ini kita bisa melihat jejeran kapal laut yang sedang bersandar di Pelabuhan Boom baru atau kapal dan perahu masyarakat setempat yang sedang wara wiri di sungai Musi. Sungai Musi merupakan salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia. Lebar sungai ini rata rata mencapai satu kilometer atau lebih, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di tanah Jawa.  Dari dermaga di belakang masjid ini kita juga bisa melihat jembatan Ampera yang menjadi Ikon kota Palembang di kejauhan dibalik SPBU terapung milik pertamina beberapa meter ke arah hulu dari masjid ini.

Memandang masjid ini dari arah dermaga menyajikan pemandangan unik tersendiri, tampak menara masjid ini menjulang diantara menara pengawas di Pelabuhan Boom Baru yang kini sudah dibangun lebih moderen, dan menara telekomunikasi dengan berbagai peralatannya yang bergelantungan. Menyiratkan perkembangan peradaban di tempat itu bergandengan dengan warisan masa lalu yang masih terawat baik. Dihalaman masjid ini juga dipasang papan peringatan larangan bagi anak anak untuk bermain bola di halaman masjid ini demi menjaga ketertiban.

Bersambung

Dermaga Masjid Lawang Kidul di lihat dari jendela masjid
MLK dari arah Sungai Musi
Pelabuhan Boom Baru dilihat dari pelataran belakang Masjid Lawang Kidul 

Sabtu, 02 Oktober 2010

Masjid Cheng Hoo Palembang

Masjid Cheng Hoo Jakabaring Palembang.

Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang atau biasa disebut sebagai Masjid Cheng Hoo Palembang  berlokasi di Perumahan Amen Mulia, Jakabaring, Palembang. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan yang diketuai oleh H. A. Afandi serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang.
 
Masjid Cheng Hoo Palembang merupakan Masjid Cheng Hoo ketiga yang berdiri di Indonesia, setelah Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Pasuruan. Dibandingkan dua Masjid Cheng Hoo Lain nya Masjid Cheng Hoo Palembang merupakan Masjid Cheng Hoo terbesar.
 
Fungsi masjid Cheng Hoo lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi sebuah tujuan wisata yang menarik para pengunjung dari Malaysia, Singapura, Taiwan dan bahkan Rusia. 

 

Arsitektur Masjid Cheng Hoo Palembang
 
Bangunan masjid dibangun dengan perpaduan unsur Cina, Melayu, Nusantara dan arab ini dilengkapi dengan rumah imam, Tempat Pendidikan Al-Quran untuk anak-anak secara gratis, Kantor DKM, perpustakaan masjid, serta ruang serbaguna. Bangunan masjid berukuran 25 x 25 meter berdiri di atas tanah 5000 meter persegi. Pembangunan masjid menelan biaya sekitar Rp 4 miliar.
 
Masjid Cheng Hoo Palembang, mampu menampung sekitar 600 jemaah dan berlantai 2. Lantai pertama digunakan untuk jemaah laki laki, sedangkan lantai dua digunakan khusus untuk jemaah wanita. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina, dicat warna merah dan hijau giok.
 
Sejarah Masjid Cheng Hoo Palembang
 
Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama bulan September 2005. Modal awal pembangunan sekitar Rp 150 juta diperoleh dari hasil urunan anggota PITI Sumatera Selatan. Sedangkan tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari pemerintah daerah.
 
Mimbar Masjid Cheng Hoo Palembang.

Bangunan masjidnya mulai digunakan sejak hari Jum’at 22 Agustus 2008 dengan digelarnya sholat jum’at berjamaah dan di hadiri tak kurang dari 1500 jemaah dari berbagai etnis dan daerah di Palembang. Acara tersebut juga dihadiri oleh walikota Palembang yang turut sholat jum’at berjamaah. Sedikit acara selamatan di selenggarakan oleh pengurus PITI Sumatera Selatan sebelum sholat jum’at dilaksanakan.
 
Keterkaitan Laksamana Cheng Hoo dengan Palembang
 
Sejarah kota Palembang memang tak terpisahkan dengan Laksamana Cheng Hoo. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Cheng Hoo sempat 4 kali datang ke Palembang. Cheng Hoo adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao (馬 三保), berasal dari provinsi Yunnan.
 
Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Hoo ditangkap lalu diwajibkan untuk menjalani pendidikan militer sampai kemudian menjadi Laksamana. Cheng Hoo berasal dari suku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.
 
Interior Masjid Cheng Hoo Palembang.

Penyebaran Islam di Indonesia, selain dilakukan para pedagang dari Arab dan sekitarnya, ternyata para pedagang asal Tionghoa ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Hoo dalam menyebarkan Islam di Palembang. Armada Cheng Hoo sebanyak 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 yang dipimpinnya itu pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang.
 
Pada tahun 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yang mengganggu ketenteraman. Kepala perampok tersebut yang bernama Chen Tsu Ji berhasil diringkus dan dibawa ke Peking (kini Beijing). Semenjak itu, Laksamana Cheng Hoo membentuk masyarakat Islam Tionghoa di Kota Palembang yang memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya.
 
Gerombolan perompak yang dipimpin Chen Tsu Ji, sebenarnya bekas seorang perwira angkatan laut China asal Kanton. Dia melarikan diri ketika Dinasti Ming berkuasa. Pelariannya berlabuh di Palembang. Kedatangannya ke Palembang telah membuat resah para pedagang yang singgah. Sebab, Chen Tsu Ji membawa ribuan pengikutnya dan membangun basis kekuasaan di Palembang, atau po-lin-fong dalam bahasa China, yang berarti ”pelabuhan tua.” Selama berkuasa di Palembang, Chen Tsu Ji menguasai daerah sekitar muara Sungai Musi, perairan Sungsang, dan Selat Bangka.
 
Sisi depan Masjid Cheng Hoo Palembang.

Anak buah Chen Tsu Ji merompak semua kapal yang melintasi perairan itu. Kebetulan atau tidak, daerah-daerah itu sampai kini jadi kantung-kantung bandit Palembang. Selama perjalanan Cheng Hoo antara 1405–1433 M, dia pernah empat kali ke Palembang. Tahun 1407 masehi, armada Cheng Hoo mampir ke Palembang dalam rangka menumpas perompak yang dipimpin Chen Tsui Ji tersebut.
 
Kemudian, pada tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M, armada Cheng Hoo berlabuh ke Palembang. Setelah memberantas para perampok, Laksamana Cheng Hoo berlabuh hingga tiga kali ke Palembang. Namun, tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya.
 
Hingga kini etnis thionghoa menjadi salah satu etnis yang mendiami wilayah Palembang dan Sumsel, dan menurut catatan saat ini Tionghoa muslim di Sumsel berjumlah sekitar 4.000 orang. Sekitar 2.000 orang lebih muslim Tionghoa telah lama menetap di Palembang.***

-----------------------ooOOOoo------------------------