Tampilkan postingan dengan label serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2016

Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

# Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Pertama kali Rosulullah S.A.W membangun masjid, hanya menggunakan material bangunan dari pohon kurma, pelepah dan daunnya, bangunan masjid yang teramat sederhana sebagai tempat berkumpul untuk melaksanakan sholat berjamaah dan pusat ke-Islaman. Masjid yang kini berubah menjadi Mega Masjid dikebal dengan Masjid Nabawi. Di kemudian hari bangunan bangunan masjid bertebaran di muka bumi dibangun dengan beragam bentuk sesuai dengan adat dan tradisi muslim setempat. Masjid dengan Gaya Tiongkok yang mirip Kelenteng seperti Masjid di Purbalingga ini  menambah khazanah perbendaharaan rancangan masjid masjid di Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Kabupaten Purbalingga provinsi Jawa Tengah. Salah satu kabupaten yang di anugerahi keindahan panorama alam gunung Slamet. Di kota ini sudah bermukim beberapa generasi etnis Thionghoa yang sudah menjadi bagian dari masyarakat disana, dalam keseharianpun mereka fasih berbahasa Jawa. Sejak tahun 2011 yang lalu Purbalinga memiliki satu masjid unik yang dibangun oleh Muslim Thionghoa disana. Masjid dengan bentuk mirip Klenteng yang sangat khas. Menambah khasanah bangunan masjid serupa yang telah ada di tanah air, dan tentu saja menambah khasanah kekayaan arsitektur Masjid di Nusantara tercinta.

Di beberapa kota di Indonesia yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Laksamana Cheng Hoo sudah berdiri masjid serupa dengan nama yang sama, yakni di kota Palembang ibukota provinsi Sumatera Selatan, di Kota Jambi provinsi  Jambi, Pasururuan dan Kota Surabaya provinsi Jawa Timur dan di Kabupaten Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Selain dari masjid masjid tersebut, di Indonesia juga sudah berdiri masjid masjid dengan arsitektur mirip kelenteng namun tidak dengan nama Cheng Hoo, diantaranya adalah Masjid Latze Pasar Baru Jakarta, masjid Lautze-2 di kota Bandung provinsi Jawa Barat, Masjid Tan Kok Liong di dalam komplek pesantren Ustadz Anton Medan di Cibinong provinsi Jawa Barat, dan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Kesemua masjid yang bergaya bangunan tradisional Tiongkok tersebut tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya, sama halnya dengan Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini.

Alamat dan Lokasi Masjid Jami PITI Muhammad Cheng Hoo Purbalingga

Desa Selaganggeng Kecamatan Mrebet
Kabupaten Purbalingga, provinsi Jawa Tengah
Indonesia


Masjid Cheng Hoo Purbalingga ini mulai dibangun tahun 2005 sempat terhenti di tahun 2006 karena berbagai kendala, dan diresmikan enam tahun kemudian tepatnya tanggal 5 Juli 2011 bertepatan dengan 3 Sya’ban 1432H oleh H.A Zaky Arslan Djunaid selaku Ketua Umum Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) JASA. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai wadah kegiatan ke-Islaman dan dakwah bagi masyarakat muslimTionghoa terutama para mualaf di daerah Purbalingga. Muslim Thionghoa di Purbalingga ada sekitar 130-an orang mereka tersebar di 18 kecamatan, berdirinya masjid ini diharapkan bisa lebih memajukan Purbalingga khususnya dibidang dakwah Islam.

Sekilas tentang Laksamana Cheng Hoo

Haji Muhammad Cheng Hoo (1371-1435) memiliki berbagai varian nama diantaranya Ma He, Ma San Bao, Sam Po Bo atau Haji Mahmud Shams adalah seorang Laksamana Muslim dari kekaisaran ketiga Dinasti Ming. Beliau berasal dari suku Hui yang secara fisik mirip dengan suku Han, sempat ditangkap saat pasukan Dinasti Ming menaklukkan Yunan sampai kemudian menjadi Laksamana armada angkatan laut dinasti Ming yang melegenda dengan perjalanan keliling dunia yang dilakukannya ke berbagai pelabuhan laut di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan hingga ke Afrika Timur dari tahun 1405 hingga tahun 1433. Dunia Internasional kini bahkan telah mengakui beliau sebagai pengeliling dunia pertama jauh sebelum para penjelajah Eropa manapun.

Perjalanannya ke berbagai kepulauan Nusantara meninggalkan jejak yang masih bisa ditemui hingga kini. Sebagai salah satu contoh, rekam jejaknya di wilayah barat pulau Jawa menjadi pembuka jalan bagi dakwah Islam di wilayah kerajaan Pajajaran. Disetiap perjalanannya Laksamana Cheng Hoo selalu membawa mubaligh bagi para anggota ekspedisinya yang beragama Islam. Salah seorang mubaligh yang menyertai ekspedisinya bernama Syekh Hasanudin, dalam pelayaran pertama-nya ke Nusantara, Syech hasanuddin sempat singgah di wilayah Cirebon.

Arsitektur itu seperti kemasan, Seperti sampul buku. seringkali orang tertipu oleh sampul buku hanya karena tak tertarik dengan sampulnya. meskipun ternyata isinya adalah sesuatu yang dicari carinya. Seperti Arsitektur Masjid, bagaimanapun bentuknya tetaplah masjid. 

Dalam pelayaran keduanya ke Nusantara, Syech Hasanudin dan rombongan mendarat di wilayah (yang kini dikenal sebagai) kabupaten Karawang di provinsi Jawa Barat yang pada saat itu masih menjadi wilayah Kerajaan Pajajaran. Syech Hasanudin bersama dengan Syech Bentong kemudian mendirikan pesantren yang dikenal dengan nama Pondok Quro dan Syech Hasanuddin dikenal dengan nama Syech Quro karena ke-mahiran-nya melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Dari pondok Quro itulah Islam kemudian menyebar ke wilayah Pajajaran dengan menikahnya Pangeran Jaya Dewata putra Mahkota Kerajaan Pajajaran dengan Subang Larang, salah satu santriwati dari Syech Quro.

Bermula dari sana di kemudian hari berdirilah Kesultanan Cirebon melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, tak lama setelah berdirinya Kesultanan Demak dengan dukungan dari para Wali. Pendiri dan Sultan Pertama di Kesultanan Cirobon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang tak lain adalah cucu kandung dari Pangeran Jaya Dewata yang saat itu sudah menjadi Mahajara di Kerajaan Pajajaran dengan gelar Sri Baduga Maharaja yang dikenal juga dengan nama Pangeran Pamanah Rasa atau lebih dikenal oleh rakyatnya dengan sebutan Prabu Siliwangi.

Meski di wilayah Jawa Barat masyarakat nya lebih mengenal Syech Quro daripada Laksamana Cheng Hoo sebagai tokoh pembawa Islam di wilayah tersebut namun tidak dapat dipungkiri besarnya peranan Sang Laksamana dalam mengantarkan Islam ke wilayah Jawa Barat khususnya dan Nusantara pada umumnya. Maka wajar bila kemudian di berbagai tempat di Indonesia masyarakat muslim menghormati beliau dengan cara mengabadikan namanya sebagai nama bangunan masjid masjid yang juga dibangun dengan bentuk bangunan tradisional yang biasa ditemui di daerah asal beliau yang kini menjadi bagian dari wilayah Negara Republik Rakyat China.

Serba Merah. Interior Masjid Cheng Hoo Purbalingga.

---------------ooo000ooo---------------

Artikel Terkait



Rabu, 06 Oktober 2010

Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lutze 2 Bandung

Kurangnya pusat informasi bagi etnis Tionghoa yang ingin memeluk agama Islam, dan bagi mualaf Tionghoa di Bandung dan sekitarnya, menjadi salah satu alasan didirikan Masjid Lautze 2 di Bandung yang kepengurusannya ditangani oleh Yayasan Haji Kariem Oie (YHKO).

Masjid Lautze 2 Bandung ini boleh jadi menjadi masjid Indonesia pertama yang memanfaatkan situs jejaring sosial dalam kegiatannya termasuk dalam kegiatan penggalangan dana ummat untuk kemakmuran masjid. Dan masih menjadi satu satunya masjid yang menempati gedung kontrakan di kota Bandung. Meski masih ngontrak di ruko di kawasan bisnis kota Bandung, kehadiran masjid lautze 2 telah memberikan manfaat yang tak ternilai bagi ummat Islam Bandung dan khususnya bagi Muslim Tionghoa di Bandung dan sekitarnya.

Lokasi Masjid Lautze 2 Bandung

Sejak pertama berdiri hingga kini masjid Latze 2 Bandung masih menempati ruko kontrakan di Jalan Tamblong No. 27 Bandung (dekat Patung Ajat Sudrajat mantan pemain Persib). Salah satu pusat bisnis di kota Bandung

 

Arsitektur Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung memiliki ukuran yang tak terlalu besar hanya 7 x 6 meter. arsitektur masjid bercirikan Tionghoa tanpa kehilangan kekhasan budaya lokal dan timur tengah.  Exterior dan interior masjid yang di dominasi oleh warna merah cerah mengingatkan kita pada warna warna vihara dan kelenteng. Namun ornamen kubah dari potongan kayu yang juga berwarna merah serta papan nama “masjid Lautze 2” yang menunjuk ke arah pintu masuk, menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah sebuah Masjid.

Bentuk depan masjid Lautze 2 Bandung
Lengkap dengan Papan nama-nya.
Dinding depan masjid di hias dengan ornamen terawang berwarna kuning dengan garis garis merah. Dengan lengkungan besar sebagai gerbang menuju pintu masuk masjid juga berwarna merah. Sementara kubah warna merah sengaja dipasang dibagian atas untuk membedakan bangunan masjid ini dengan bangunan ruko di sekiarnya.

Selain Arsitektur luarnya, dekorasi di dalam Masjid pun di dominasi oleh nuansa Tionghoa. warna cat mesjid yang memakai warna-warna untuk kelenteng seperti merah menyala serta lampu-lampu berbentuk lampion. Selain itu masjid lauze dua dilengkapi dengan penyejuk udara, sehingga suasana di dalam masjid terasa lebih nyaman.

Penggunaan ornamen ornamen Tionghoa seperti dijelaskan di atas memang disengaja oleh para penggagas dan pengurus masjid. Seperti halnya yang dilakukan para wali songo dalam menarik masyarakat sehingga tertarik dengan agama Islam, yaitu agar para Muslim Tionghoa yang baru saja belajar Islam merasa dekat, seperti berada di rumahnya sendiri.

Sejarah Masjid Lautze 2 Bandung

Masjid Lautze 2 Bandung tak terlepas dari peran Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) yang didirikan tahun 1991 dan berpusat di Jakarta, YHKO sekaligus berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa, di setiap pecinan (pusat pemukiman etnis Tionghoa) di Indonesia. Pada tahun 2004 YHKO membentuk divisi Muallaf Networking. Divisi ini memiliki 7 fungsi yang salah satunya sebagai penyedia tempat penampungan sementara bagi para muallaf yang terisolir dari keluarga atau lingkunganya.

Bagian dalam Masjid Lautze 2 Bandung
Nama yayasan itu di ambil dari nama (Alm) Haji Karim Oei Tjeng Hien / Haji Abdul Karim  (1905-1988). Seorang tokoh Muhammadiyah, mantan anggota Parlemen RI, pendiri Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), anggota Pimpinan harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, anggota Dewan Panyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia Pusat. Haji Karim Oei dikenal sebagai Muslim Tionghoa Indonesia yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. Haji Karim Oei masuk Islam tahun 1930-an dan akrab sekali dengan Presiden Soekarno dan Buya Hamka. 

Pendirian masjid Lautze 2 Bandung bermula ketika di bulan Ramadhan Desember 1996, saat digelar pertemuan bulanan YHKO di Jakarta. Perwakilan YHKO  dari luar Jakarta datang, termasuk dari Bandung, Haji Mudirullah dan bapak Hendro. Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa di Bandung belum ada sekretariat Cabang YHKO. Maka,  dibentuklah YHKO cabang Bandung di bulan Januari  1997, Untuk kebutuhan pembinaan umat Islam, khususnya etnis Tionghoa, sekaligus sekretariat cabang YHKO.

Di awal pendirian YHKO Bandung diputuskan untuk mengontrak sebuah bangunan bekas toko buku di kawasan Tamblong – Bandung, dengan dana awal untuk sewa tempat menggunakan dana yayasan. Karena ketika itu masih banyak ruang kosong di kantor baru tersebut, pengurus yayasan memutuskan untuk menggunakan ruang tersebut sebagai masjid. Sejak saat itu sekretariat YHKO Bandung juga di fungsikan sebagai Masjid dengan nama masjid Lautze 2, untuk membedakannya dengan Masjid Lautze di Jakarta.

Kegiatan kesekretariatan YHKO pun dilaksanakan di masjid ini. Namun, ruangan yang tanpa sekat antara kantor dan masjid ternyata cukup menyulitkan dalam kegiatan ibadah. Sehingga di tahun 2004 dibuatlah sekat ruangan bergaya arsitektur Cina dengan arsitek ITB, Umar Widagdo.

3 tahun kemudian, 2007, direnovasi kembali untuk membuat kantor terpisah dari ruangan masjid. Dibuatlah sebuah tangga kayu yang dicat merah yang menuju ke kantor di atas masjid. Bangunan yang sudah mengarah ke kiblat ini tidak banyak merubah struktur bangunan dalam merenovasi. Karena masjid ini awalnya hanya sebagai pertokoan dan berdiri di lahan milik pemerintah Kota Bandung, maka keberadaan masjid ini pun masih ngontrak hingga sekarang.

Di pertengahan tahun 2010, masjid lautze 2 Bandung sempat mengalami krisis air bersih. Sumur pompa sedalam 12 meter yang dimiliki tak lagi mengeluarkan air. akibatnya aktifitas masjid sempat terganggu. Jam buka masjid di sesuaikan dengan ketersediaan air. Sehingga tak mampu melayani jamaah untuk melakukan sholat 5 waktu. Meski pasokan air dibantu oleh Hotel Istana yang tepat berada di belakang masjid. Namun, itu pun tidak memadai.

Bagian dalam Masjid Lautze 2 Bandung
Dilatarbelakangi kondisi tersebut, Masjid Lautze 2 Bandung mencanangkan program Gerakan Air untuk Masjid Lautze 2 Bandung. Gerakan ini bertujuan menggalang dana masyarakat untuk membiayai pembuatan sumur di Masjid Lautze 2 Bandung. DKM masjid cukup inovatif dengan memanfaatkan situs jejaring sosial facebook untuk menyampaikan program ini kepada khalayak ramai.

Dan Alhamdulillah berkat donasi dari para jemaah dan dermawan lain nya dana yang terkumpul sampai bulan Juli 2010  sumur pompa masjid lautze 2 Bandung kembali berfungsi dan masjidpun kembali dapat dipergunakan oleh jemaah lima waktu sholat sholat fardhu. Selain memperbaiki sumur bor DKM juga memperbaiki fasilitas yang lain termasuk  perbaikan lantai toko Lautze, tempat sumur dan pompa air berada, perbaikan keran wudhu dan pemasangan tempat penampungan serta filter air, pintu masjid, ruangan masjid, kubah masjid, atap masjid, dan rangka kanopi masjid sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan 1431 H yang lalu.

Kegiatan Masjid Lauze 2 Bandung

Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Masjid Lautze 2 Bandung diketuai oleh Syarief Abdurrahman (Ku Khie Fung) dan sektetaris DKM dipercayakan kepada Jesslyn Reyner, memiliki segudang kegiatan yang tidak semata mata ditujukan kepada muslim Tionghoa. Masjid ini menjalan fungsinya sebagaimana fungsi sebuah masjid yang senantiaa terbuka bagi semua kalangan tanpa memandang suku, bangsa, ras, warna kulit dan sebagainya.

salah satu poster kegiatan Masjid Lautze 2 Bandung

Karena ukuran masjid yang tak terlalu besar dan hanya mampu menampung 50-an jemaah saja. Ditambah lagi Masjid Lautze ini merupakan satu-satunya masjid yang berdiri di Jl Tamblong, akibatnya setiap shalat Jumat, jamaahnya pasti meluber hingga ke trotoar. Tak hanya warga muslim Tionghoa yang shalat Jumat disana melainkan semua warga sekitar masjid dan masyarakat lain yang kebetulan lewat jalan tersebut pun turut memenuhi masjid berwarna merah tersebut.

Program kerja yang banyak dilakukan oleh Masjid Lautze 2 Bandung adalah pendampingan muallaf dengan mendampingi mualaf untuk menyempurnakan keIslamannya. Tak hanya itu saja tapi juga melayani orang-orang Tionghoa yang berniat masuk Islam. Sangat wajar, karena belajar sesuatu, lebih nyaman ketika didampingi oleh orang yang memiliki akar budaya yang sama. Program lainnya adalah Lautze Education. Dalam program ini, ada kursus Bahasa Mandarin, kursus Bahasa Arab, dan kursus Shufa (seni kaligrafi Tionghoa)

Program lainnya yang cukup menarik adalah Khalifah Singer dan Lautze Publishing. Khalifah Singer sendiri merupakan kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa. Sedangkan Lautze Publishing merupakan penerbitan yang memfokuskan diri mencetak buku-buku Islam dan Tionghoa

Komunitas Lautze di Facebook
Aspek budaya Tionghoa yang sudah melekat, tetap dilestarikan oleh pengurus masjid ini. Seperti pangilan kepada masing-masing anggota dengan ‘cicih’ dan ‘koko’, meski orang tersebut bukan berasal dari etnis Tionghoa.

Selain digunakan sebagai tempat shalat lima waktu, sejumlah kegiatan keagamaan secara rutin diadakan di masjid ini seperti shalat tarawih saat bulan Ramadhan dan pengajian rutin mingguan. Kegiatan pengajian setiap hari Minggu diadakan dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Pesertanya tidak hanya mualaf warga Tionghoa, tapi semua mualaf dari keturunan manapun yang ingin mendalami tentang Islam.
---------------------ooOOOoo------------------------


Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya


Selasa, 05 Oktober 2010

Masjid Lautze Jakarta

TAK MIRIP MASJID? iya karena masjid ini memang menempati sebuah bangunan ruko di jalan Lautze pasar baru Jakarta. 

Masjid Lautze Jakarta yang terletak di salah satu rumah toko (Ruko) di kawasan Pasar Baru, Jakarta. Merupakan masjid Muslim Tionghoa Indonesia pertama di Jakarta. Sebagai pusat perdagangan, Pasar Baru menyimpan pusat syiar Islam di kalangan masyarakat Tionghoa. 

Ruko-ruko yang bergelimang keuntungan yang menjanjikan, menjadikan Pasar Baru sebagai pusat bisnis perbelanjaan yang ada di Jakarta. Mengingat letaknya di sebuah Ruko, bangunan Masjid Lautze tidak seperti kebanyakan masjid yang biasa kita kenal.
 
Lokasi Masjid Lautze Jakarta
 
Sesuai dengan namanya, masjid ini terletak di Jalan Lautze nomor 87 – 89, kawasan perbelanjaan Pasar Baru Jakarta Pusat.
 
Masjid Lautze - Yayasan Haji Karim OEI
Jl. Lautze No.87, RT.10/RW.3, Karang Anyar, Sawah Besar, Central Jakarta City, Jakarta 10740
  
 

Sejarah Masjid Lautze Jakarta
 
Saat awal berdiri di tahun 1991, Masjid Lautze Jakarta menempati ruko kontrakan. Baru kemudian di tahun 1994, ruko itu dimiliki sendiri setelah dihibahkan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, Prof. Dr. BJ Habibie yang membelinya melalui PT Abdi Bangsa.
 
Pengelolaan Masjid Lautze Jakarta dilakukan oleh Yayasan Abdul Karim OEI. Nama ini mengambil nama tokoh Muslim Tionghoa yang juga pedagang sukses dan aktif dalam pergerakan nasional. Tahun 1995 Yayasan Abdul Karim OEI membeli ruko di sebelahnya dan disatukan dengan masjid yang sudah ada. 
 
Pendirian masjid ini tak lepas dari keinginan untuk menegakkan syiar Islam di kalangan warga Tionghoa Indonesia. Hingga kini masjid Lautze telah menjalankan fungsinya dengan baik sebagai pusat syiar Islam. Sudah tak terbilang warga Tionghoa yang datang ke masjid ini untuk mencari tahu tentang Islam, belajar tentang Islam sampai ahirnya memeluk Islam.
 
Mihrab dan mimbar Masjid Lautze Jakarta.

Arsitektur Masjid Lautze Jakarta
 
Masjid lautze Jakarta menempati dua blok ruko yang disatukan, sama sekali tak berbentuk seperti bangunan masjid yang kita kenal. Tanpa bedug dan tanpa menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid. Sepintas lalu sama saja dengan bangunan ruko di sekitarnya Yang membedakan hanyalah bentuk pintunya saja yang menyerupai mesjid pada umumnya yaitu berbentuk oval pada bagian puncaknya.
 
Sebagai tempat peribadatan muslim, Masjid Lautze Jakarta memiliki ciri tersendiri. Ornamen-ornamen khas Cina yang menjadi kebudayaan asal pemeluknya tampak dominan dalam interiornya. Konsep pintunya serupa dengan pintu yang ada di klenteng atau vihara. Bagian depan bangunan mesjid terkesan sangat oriental. Sementara di belakang mimbar, tergantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing. untuk penyanggah masjid, tiang masjid berdiri dengan kokoh berwarna hijau serta 6 buah kipas angin untuk menyejukkan masjid.
 
Corak ornamen yang tak jauh beda dengan klenteng memang disengaja. Masjid ini memiliki ornamen warna merah sesuai dengan etnis Tionghoa, maka masyarakat Cina tidak canggung untuk datang ke masjid ini. Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Lautze Jakarta memang dipergunakan sebagai Pusat Informasi Islam khusus etnis Tionghoa
 
Diantara jejeran ruko.

Masjid Lautze Jakarta terdiri dari empat lantai. Lantai 1 & 2 dipergunakan untuk tempat sholat khususnya sholat Jumat. Di lantai 3 terdapat beberapa ruangan sebagai tempat sekretariat yayasan, konsultasi agama dan bimbingan masuk Islam. Di ruangan ini terdapat beberapa foto pendiri yayasan.
Sedangkan lantai 4 dipergunakan sebagai ruang serba guna. Ruang serba guna ini difungsikan pada saat bulan puasa seperti halnya buka puasa bersama, serta sebagai ruang tata cara pernikahan serta resepsi pernikahan.
 
Jadwal Khusus
 
Karena letaknya dipusat bisnis serta jemaahnya adalah para pelaku bisnis. Masjid lautze Jakarta tidak buka untuk melayani jemaah di setiap waktu sholat. Masjid ini hanya buka di siang hari,  dan dengan sendirinya hanya dua sholat fardu yang dilaksanakan di masjid ini yakni sholat zuhur dan asyar. Serta tentu saja sholat fardu Jum’at di setiap hari jum’at. Khusus untuk bulan Ramadhan masjid Lautze memiliki jadwal tersendiri dengan menggelar sholat tarawih. Serta buka puasa bersama, sekali dalam sepekan.

-----------------------------ooOOOoo--------------------------------

Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono RS. UMM

Masjid K.H. Bedjo Darmoleksono di komplek RS. UMM.

Masjid bernuansa Tiongkok yang satu ini benar benar istimewa, karena dibangun bukan oleh komunitas Muslim Tionghoa Indonesia tapi justru dibangun oleh Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika Universitas Muhammadiyah Malang berencana membangun sebuah Rumah Sakit lengkap dengan fasilitas Masjid, Rektorat UMM memutuskan untuk memprioritaskan pembangunan masjid agar segera dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, dan setelah beberapa kali berganti design ahirnya diputuskan untuk membangun sebuah masjid dengan arsitektur Tiongkok.
 
Rektor UMM Dr. Muhadjir Effendy, MAP memberi nama masjid itu dengan nama Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono, Nama seorang tokoh pelopor Muhammadiyah di Malang. Pada saat artikel ini dibuat masjid ini belum genap berumur sebulan dan Lantai satu masjid ini sementara waktu masih digunakan sebagai kantor Pengelola Rumah Sakit.
 
Lokasi Masjid
 
Masjid KH M. Bedjo Darmoleksono terletak di dalam Komplek Rumah Sakit Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang di di Jl. Tlogomas, sekitar 500 meter dari kampus III Universitas Muhammadiyah Malang.
 
 

Sejarah Pembangunan
 
Rektor UMM, Dr. Muhadjir Effendy, MAP berharap agar keberadaan masjid ini akan menjadi fasilitas untuk mendekatkan rumah sakit dengan masyarakat. Masjid yang sudah lebih dulu selesai dibangun dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Menurut beliau membangun moral jauh lebih penting sebelum membangun fisik. Itulah hal yang menjadi landasan utama kenapa pihak rektorat UMM lebih memprioritaskan pembangunan masjid daripada pembangunan fisik Rumah Sakit.
 
Dan tentu saja pembangunan fisik Rumah sakit yang ukuran nya jauh lebih besar dengan kompleksitas yang tinggi akan memakan waktu lebih lama sebelum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Seluruh pembiayaan pembangunan Masjid dan Rumah sakit UMM ini ditanggung sendiri oleh UMM meski tak menutup kemungkinan bila ada investor yang berminat untuk menanamkan modal.
 
Masjid K.H. Bedjo Darmoleksono di komplek RS. UMM.

Pembangunan Masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama proyek pembangunan komplek Rumah Sakit Universitar Muhammadiyah Malang pada tanggal 22 Juli 2009 oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo.
 
Penggunaan pertama kali Masjid ini dimulai dengan solat Jumat pada tanggal 24 September 2010 yang lalu. Sholat jum’at tersebut dihadiri ratusan jamaah yang terdiri dari masyarakat sekitar, para pekerja bangunan RS dan sebagian pegawai UMM memenuhi masjid berukuran sekitar 300 meter persegi berlantai tiga itu. Sekretaris BPH UMM, Wakidi, menjadi khotib pertama di masjid itu.
 
Masjid di komplek rumah sakit ini merupakan masjid ketiga yang dibangun oleh UMM. Dua masjid lainnya terletak di kampus II UMM bernama Masjid Ad-Dakwah dan Masjid AR Fahruddin di kampus III UMM. Masjid AR Fahruddin yang memiliki bangunan lima lantai merupakan masjid kampus terbesar di Asia Tenggara.
 
Nama KH M. Bedjo Darmoleksono pelopor Muhammadiyah di Malang ini diambil untuk memberi spirit dakwah agar masjid tersebut memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, sebagaimana ketokohan Kyai Bedjo pada masanya.

Terkait dengan perizinan pihak rumah sakit UMM tidak mau mengambil risiko ditolak warga sekitar. Itulah sebabnya, sejak membebaskan lahan sekitar sembilan hektar, jauh hari UMM sudah melakukan pendekatan dengan masyarakat. Respon warga pun sangat positif mendukung.  Semua perijinan dan analisis lingkungan juga sudah dilakukan sebelum pembangunan dimulai.
 
Masjid K.H. Bedjo Darmoleksono saat dalam tahap finishing di tahun 2010.

Komplek rumah sakit tempat dimana Masjid tersebut berada nantinya akan dijadikan pusat pelayanan kesehatan yang menjangkau semua lapisan masyarakat. Dengan sistem subsidi silang, masyarakat kurang mampu akan disubsidi untuk mendapatkan pelayanan yang layak. Selain itu, RS UMM juga diharapkan menjadi pusat riset medis untuk mengembangkan keilmuan kedokteran, keperawatan dan farmasi, pusat rehabilitasi sosial, bahkan tidak menutup kemungkinan ada pusat rehabilitasi ketergantungan narkoba.

Arsitektur Masjid
 
Dipilihnya arsitektur Tiongkok dengan tiga lapis atap masjid, menandakan bahwa UMM bersifat terbuka, plural dan bisa belajar dari mana saja, termasuk ke negeri China. Tiga lapis atap yang mirip masjid Muhammad Cheng Ho Pasuruan itu, menandakan kekuatan Iman, Islam dan Ihsan. 

Masjid Kyai Bedjo memiliki struktur bangunan yang khas. Gaya arsitekturnya meniru gaya Tionghoa, yang mengingatkan kita pada bentuk bangunan masjid Muhammad Cheng Ho di Pasuruan. Filosofi yang hendak dibangun dari bentuk bangunan itu, diambil dari anjuran Islam untuk mencari ilmu hingga ke negeri Cina. Dengan demikian, siapapun yang melihat dan berkunjung di masjid itu diharapkan bisa terinspirasi hadis nabi ‘tuntutan ilmu sampai ke Cina.***
--------------------ooOOOoo-----------------------


Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya



Masjid Jami’ Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Tan Kok Liong.

Masjid Tan Kok Liong adalah salah satu dari sedikit masjid di Indonesia yang ber-arsitektur Tiongkok. Sepintas lalu memang tak tampak seperti bangunan masjid kebanyakan karena memang bentuk masjid ini mengadopsi gaya arsitektur era dinasti Ching di China.

Masjid Jami’ Tan Kok Liong, merupakan bagian dari komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Terpadu At-Ta’ibin yang didirikan oleh Mohammad Ramdan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan mantan napi yang kemudian sukses menjadi da’i dan pengusaha. Tan Kok liong adalah nama beliau semasa masih kanak kanak. 

Masjid Tan Kok Liong
Komplek Pesantren At-Ta’ibin
Jl. Raya Kampung Sawah No. 100 RT02/RW08 
Kp. Bulak Rata, Kel Pondok Rajeg, Kec. Cibinong
Kab. Bogor 16914, Jawa Barat.
Telepon : (021) 70238033


Dengan angkutan umum, dapat ditempuh dari terminal Depok dengan rute : naik angkot D10 dari terminal depok lalu turun di terminal kampung sawah, lalu naik sekali lagi angkot 72 (warna biru) dan turun di gapura pesantren, dari gapura bisa berjalan kaki ataupun menggunakan ojek ke pesantren.

Sejarah Pendirian Masjid Tan Kok Liong

Masjid Jami' Tan Kok Liong mulai dibangun pada 2005 dengan dana 2 Milyar Rupiah. Ide awalnya muncul dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cina tahun 2004. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Yudhoyono berusaha meyakinkan pengusaha Cina supaya bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Anton Medan, yang hanya melihat acara tersebut di televisi, tergerak untuk menunjukkan kepada pengusaha Cina bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia diakui dan dilindungi pemerintah.

Ornamen Masjid Tan Kok Liong.

Bermodal keuntungan usaha percetakan dan sablon bagi peserta Pemilu 2004, Anton mulai mendesain bentuk masjid bergaya klenteng. Dia mendesain sendiri tanpa jasa arsitek atau desainer interior. Untuk mewujudkannya, Anton berburu VCD bentuk-bentuk istana di Cina ke Pluit. Dari berbagai bentuk itu akhirnya terpilih tiga istana: Istana Dinasti Ching, Ming, dan Han. Pilihan jatuh pada istana Dinasti Ching, yang mendekati kemiripan dengan desain masjid di Indonesiaز 

Arsitektur Masjid Jami’ Tan Kok Liong

Rancang bangun masjid Jami’ Tan Kok Liong ini di buat sendiri oleh pembangun dan pemiliknya, Anton Medan. Bangunan berlantai tiga berukuran 16 x 20m ini memang lebih menyerupai kelenteng dibandingkan sebuah masjid. Bangunan yang menjulang tinggi itu didominasi warna merah menyala. Ornamen naga menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Lantai dasarnya digunakan untuk kantor pesantren, lantai satu dan dua untuk shalat. Kubah masjidnya berukuran kecil  berada di atap depan lantai dasar. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berkubah besar dan berada di puncak atap utama.

ornamen di ujung atap Masjid Tan Kok Liong.

Cat dindingnya berwarna merah muda, sedangkan pilarnya didominasi merah marun, ada juga dua pilar yang berwarna emas. Sementara atapnya berwarna hijau. Ornamen naga khas arsitektur Tiongkok, menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Papan nama yang bertuliskan “Masjid Jami Tan Kok Liong” bergaya tulisan Tiongkok sedangkan lafaz Allah ada di pucuk atapnya.  
Tiga penanda yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid adalah terdapatnya lafal Allah pada pucuk atapnya. Lalu papan namanya bertulisan "Masjid Jami' Tan Kok Liong". Terakhir, kubah di bagian atap kanopi.

Atap bangunan terdiri atas tiga undakan. Setiap jengkal atapnya berornamen Cina, seperti lampion merah. Ujung-ujung wuwungan dihiasi kepala naga yang merupakan simbol kesuksesan, seolah menyembul dari awan. Ujung gentingnya bulat berdiameter 7,5 sentimeter bertulisan dalam aksara Cina berlafal "huang" atau raja dan berlafal "Allah". "Ornamen bertulisan 'raja'  di taruh di bawah tulisan 'Allah'

Tan Kok Liong alias Anton Medan alias Mohammad Ramdan Effendi

Di pucuk atap, terdapat lafal Allah dalam tulisan arab. Atapnya berbentuk topi
Putri Xianchiang komplet dengan antingnya. Putri Xianchiang, adalah muslimah Cina pertama. Tak ada kubah., kubah bukan arsitektur Arab, melainkan Spanyol.  Empat patung burung rajawali berdiri di bawah topi Putri Xianchiang. Dengan harapan umat Islam bisa memandang setiap persoalan setajam tatapan rajawali. Bukan seperti burung perkutut, yang tiruannya diletakkan di ujung wuwungan di belakang kepala naga. Perkutut selalu bergerombol, tapi tidak berbuat apa-apa. 

Masjid ini semiterbuka. Hampir semua dindingnya adalah pintu yang dibuka ketika ada perhelatan. Uniknya, desain pintu masing-masing berbeda sebagaimana pintu-pintu kerajaan di Cina. Pintu-pintu biasanya merupakan sumbangan penduduk berbagai daerah. Setiap daerah menyumbang pintu dengan desainnya sendiri. Hanya, ukurannya sama, karena telah ditetapkan.

--------------------ooOOOoo-------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya



Sabtu, 02 Oktober 2010

Masjid Cheng Hoo Pasuruan

Masjid Cheng Hoo Pasuruan.

Masjid Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan merupakan salah satu dari tiga Masjid Cheng Hoo di Indonesia. Dua yang lain nya adalah Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Palembang. Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Palembang yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) serta tokoh masyarakat Tionghoa, maka masjid Cheng Hoo Pandaan ini dibangun dengan biaya dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Masjid ini telah mejadi salah satu ikon baru pariwisata kabupaten Pasuruan. Keindahan masjid ini di abadikan oleh PT Pos Cabang Kabupaten Pasuruan dalam kartu lebaran 1431H (2010M) yang dibagi bagikan gratis kepada masyarakat, sebagai bagian dari promosi pariwisata kabupaten Pasuruan.

Lokasi Masjid Cheng Hoo – Pandaan

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Jl. Raya Kasri No.18, Petung Sari, Petungasri, Kec. Pandaan
Pasuruan, Jawa Timur 67156




Masjid Cheng Hoo Panda’an terletak di pinggir jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes, Propinsi Jawa Timur. Lokasinya yang terletak di daerah yang memiliki pemandangan alam memukau menjadikan Masjid ini tempat istirahat sejenak yang menyenangkan bagi mereka yang melalui ruas jalan tersebut.

Di sekitar Masjid Cheng Hoo Pandaan banyak penjaja makanan seperti jamu gendong, jagung rebus, dan lain sebagainya. Jamaah yang datang dari luar kota tak jarang duduk sambil menikmati suasana di Masjid Cheng Hoo Pandaan.

Sejarah Pendirian Masjid Cheng Hoo Pandaan

Papan nama masjid
Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya, yang dikelola para pengusaha-pengusaha anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Masjid Cheng Hoo Pandaan langsung ditangani Pemkab Pasuruan. Pembangunan Masjid ini di gagas oleh Jusbakir Aldjufri, bupati Pasuruan. Untuk dijadikan Landmark (penanda) yang religius bagi pengguna jalan yang melintas di wilayah .

Mulai dibangun tahun 2003 Sudah mulai digunakan pertama kali dengan sholat tarawih berjamaah pada tanggal 23 September 2006 (Ramadan 1427 Hijriah), dan diresmikan tahun 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan, Jusbakir Aldjufri. dibangun di atas lahan milik dinas pertanian kabupaten Pasuruan yang kemudian dikosongkan untuk keperluan pembangunan masjid.

Interior Masjid
Maksud dan tujuan dipilihnya bentuk masjid dengan bentuk pagoda atau kelenteng yang identik dengan tempat ibadah bagi ummat Tridharma itu hendak menunjukkan kepada masyarakat tentang universalitas Islam. Islam itu rahmat bagi semesta (rahmatin lil alamin), tak mengenal sekat-sekat bangsa, etnis, negara, dan seterusnya. Jadi, walaupun bentuknya bergaya Tiongkok, masjid ini dipakai oleh umat Islam dari mana saja.

Arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan

Ornamen di atap masjid
Masjid Cheng Hoo Pandaan gaya arsitekturnya mengadopsi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi ikon pariwisata. Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran. Ukuran keseluruhan masjid dua lantai ini adalah 50 x 50m.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
--------------------ooOOOoo-------------------------