Tampilkan postingan dengan label Serial 5 Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial 5 Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Wonokromo.

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo merupakan salah satu dari Lima Masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Tulisan ini merupakan bagian ahir dari 6 tulisan serial 5 masjid pathok negara kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Lokasi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah kesultanan (Sultan Ground) seluas 5000 meter persegi. Luas bangunan masjid saat didirikan adalah 420 meter persegi dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750 meter persegi. Bagian serambi luasnya 250 meter persegi, dan ruang perpustakaan seluas 90 meter persegi, dan halaman seluas 4000 meter persegi.

Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo 
Timur, Wonokromo I, Wonokromo, Kec. Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Is-timewa Yogyakarta 55791

 

Sejarah Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Masjid Pathok Negara Taqwa, Wonokromo didirkan pertama kali oleh Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam Bertempat tinggal di desa Ketonggo. Dan terkenal juga dengan panggilan "Kyai Welit". Karena kesenangannya menganyam daun alang alang menjadi atap atau disebut welit. Welit yang dibuatnya tidaklah untuk dijual tapi hanya dibagi bagikan ke mereka yang membutuhkan.

Kyai Muhammad Fakih merupakan guru sekaligus kakak ipar dari Sultan Hamengkubuwono I (Raja Yokyakarta) Karena Sultan Sultan Hamengkubuwono menikah dengan putri kedua Ki Derpoyudo sedangkan Kyai Muhammad Fakih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo yang merupakan seorang tokoh masyarakat Laweyan Surakarta.

Ketika menjadi murid dari Kyai Muhammad Fakih Sultan pernah meminta nasihat kepada Kyai Muhammad Faqih bagaimana agar negara senantiasa aman. Kyai Muhammad Faqih memberikan nasihat agar sultan agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut "Pathok". Dan memilih "Kenthol" (kepala pedesaan/desa). Sultan setuju dengan nasihat Kyai Muhammad Faqih dan mengangkat Pathok yang ditempatkan di desa Mlangi, Plosokuning, Babadan Gedong Kuning,Ringinsari Genthan, Demak Ijo, Klegum, Godean dan Jumeneng.

Masjid Pathok Negara Wonokromo.

Tahun 1774 M Kyai Moh. Fakih dilantik menjadi kepala Pathok, dan dianugerahi tanah perdikan di sebelah selatan Ketonggo, yang masih berupa hutan yang banyak ditumbuhi pohon awar-awar, karenanya disebut alas awar-awar. Tanah anugrah Sultan yang masih berupa hutan awar-awar itu dibuka dan kemudian didirikan sebuah masjid kecil. Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih menghadap Sultan menyampaikan laporan bahwa di atas tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid.  Atas amanat Sultan Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan masjid itu diberi nama "WA ANA KAROMA" yang maksudnya "Supaya benar-benar Mulya" atau "Agar Mulya Sungguh-sungguh"

Kyai Muhammad Fakih ini juga disebut juga Kyai Sedo Laut (meninggal di laut) karena sepulang dari tanah suci pada tahun 1757, kapal yang ditumpanginya karam di selat Malaka. Kyai Muhammad Fakih karam di laut, sedang putranyaKH Abdullah terdampar di selat Malaka.

Arsitektural Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Arsitektur asli bangunan induk masjid Taqwa berbentuk kerucut (lancip) dengan mustaka dari kuwali yang terbuat dari tanah liat. Sedang bangunan serambi berbentuk limasan dengan satu pintu di depan. Semua bahan bangunannya dari bambu, atapnya terbuat dari welit, dan dindingnya dari gedhek. Sebelum kemudian mengalamai beberapa kali renovasi dan perluasan hingga ke bentuknya saat ini.

Renovasi Dan Perluasan Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Tahun 1867M Bentuk asli Masjid Pathok Negara Taqwa direnovasi oleh Kyai Muhammad Fakih II bentuk bangunan masjid dibongkar diganti dengan bentuk atap tumpang. Serambi tetap berbentuk limasan. mustoko yang dulu hanya dari kuwali yang dibuat dari tanah liat kemudian diganti dengan bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka.

Masjid Pathok Negara Wonokromo.

Kerangka yang semula bambu sebagian besar diganti dengan kayu nangka dan sebagian dengan gelugu. Tembok anyaman bambu diganti dengan batu bata yang direkatkan dengan tanah liat diplester dengan adukan aci gamping dengan tumbukan bata dan pasir. lantainya dibuat dari bata yang ditata lalu diplester dengan adonan yang sama seperti membuat tembok.

Ruangan di dalam masjid ditambah. Di sisi kiri dan kanan bangunan masjid dibuat ruangan untuk jamaah sholat bagi muslimah yang disebut pawestren. Tempat wudhu yang semula dari padasan, dibuatkan kolam di depan serambi masjid. Air dialirkan dari sungai Belik.

Tahun 1958, masjid kembali di renovasi atas biaya dari H. Prawiro Suwarno.Atap tumpang tetap dipertahankan, malah ditambah dengan gulu melet sebagai penyela antara atap tumpang sebelah atas dan atap tumpang sebelah bawah.  Serambi masjid diperluas. Kolam di tempat wudhu ditimbun tanah dijadikan halaman masjid. Tempat wudhu dibuat kulah yang berada di sisi utara dan selatan serambi masjid. Pawestren tempat jamaah sholat untuk muslimah dipertahankan. Bangunan masjid diganti tembok yang disemen. Empat tiang utama di dalam masjid menjadi terlihat jelas. Tempat khotib dibuatkan rumah-rumahan semacam gazebo ukuran 2 x2 m. Di bagian serambi ada beberapa tiang dari cor beton dan di dalam serambi tiang dibuat dari balok kayu jati. Di depan serambi masjid dibuat kanopi. Lantai ruangan masjid maupun serambi diganti dengan tegel. Ruangan dalam masjid, tegel dibuat warna warni dengan corak ornamen kembang-kembang.

Tahun 1973 M, warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan seperangkat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk mengumandangkan adzan. Tahun inilah pertama kali adzan dikumandangkan dengan pengeras suara di masjid Taqwa.

Tahun 1976 M, mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari kayu nangka, diganti dengan mustoko dalam bentuk bawangan yang dibuat dari aluminium dengan ukuran yang lebih besar.

Pada tahun 1986 M, masjid mendapat bantuan dari Presiden RI sejumlah Rp. 25.000.000,- Karena kondisi masjid sudah banyak yang rusak, terutama kayu penyangga yang lapuk karena terkena tetesan air hujan, atas izin tertulis dari Keraton, bangunan masjid dibongkar dan diperluas.

Secara total, masjid dibangun dengan konstruksi beton bertulang, dengan tidak meninggalkan arsitektur masjid Jawa Yogyakarta. Termasuk dalam pemilihan warna catnya antara komposisi hijau, kuning dan merah serta kuning emas karena warna-warna ini mengandung nilai filosofis yang dalam. Keinginan masyarakat membuat menara dari konstruksi beton tidak mendapatkan ijin dari keraton karena corak masjid Yogyakarta tidak ada menaranya.

Tahun 2003 M, masjid ini mendapat bantuan pengembangan dari Dinas Pariwisata Yogyakarta. Dengan membangun gedung pertemuan di utara serambi masjid. Kulah dibikin simetris antara kulah di sebelah utara serambi masjid dan di sebelah selatan serambi masjid. Ada penambahan bangunan kanopi dan dihidupkannya kolam di depan di sisi kiri dan kanan serambi masjid. Juga penyempurnaan dapur untuk memasak air pada saat dilaksanakan hari-hari besar Islam di masjid taqwa.

Nama Masjid Taqwa

Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun,masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.

Masjid Pathok Negara Wonokromo.

Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.

Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi di serambi masjid.

Tradisi Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Hukuman untuk yang salah membunyikan beduk
Zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kentongan dan beduk, dengan diceburkan di dalam kolam.

Bunyi Beduk dan kentongan yang khas
Untuk tanda waktu masuk sholat, selain azan, dibuat kentongan dan beduk. Suara dan irama beduk di hari-hari biasa berbeda dengan saat tanda masuk sholat ashar di hari Kamis. Suara irama beduk disebut dengan sarwo lemah, asar dowo malem jemuah. Bila tiba waktu ashar di hari Kamis, beduk itu dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang. Artinya apabila terdengar suara beduk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum'at.

Di hari Jum'at, setengah jam sebelum tiba waktu sholat jum’at, beduk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk sisipi pemukulan kenthongan. Ini menandakan bahwa pelaksanaan ibadah Jum'ah sudah akan dimulai.

Azan Limo
pada saat sholat Jum'at, pelaksanaan adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama dilakukan sebagai tanda saat masuknya waktu sholat dhuhur (masuk waktu sholat Jum'at). Pada saat adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, 'asar, maghrib, isya' berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan bersama-sama. Hal ini dimaksudkan supaya ada keadilan, bersatu dan bertemunya para muadzin dari masing-masing waktu, maka di sini dikenal dengan istilah adzan limo

Bodho Kupatan
Adalah tradisi saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal bulan syawal

Peran Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini untuk jama'ah sembahyang Jum'at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua di wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya.

Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping untuk sholat jama'ah para gerilyawan RI juga sebagai tempat koordinasi untuk menggempur Belanda yang berkedudukan di Pleret. Daerah ini merupakan basis kekuatan militer dan pejuang serta kekuatan masyarakat dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yang bermarkas di Pleret maupun di Bantul

Masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer kompi III Batalion I Brigade 10yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.

Pengurus Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo

Otoritas Kyai
Pada awal berdirinya, belum dikenal istilah takmir masjid untuk mereka yang mengurusi masjid. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik untuk urusan fisik masjid maupun urusan peribadatannya.

Khodimul Ummah
Tahun 1913 M orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah. Perangkat pengurus masjid memiliki nama dan peran masing masing misalnya : khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin. Masing masing muadzin memiliki tugas masing-masing di masing masing 5 waktu sholat. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.

Imamah
Tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun.

Takmir
Paska wafatnya Kyai Makmun tanggal 2 Mei 1990 M. pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.

Berikut daftar kepengurusan masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo sejak awal hingga tahun 2007.

Kyai Muhammad Fakih
(1755 1763 M)
Kyai Abdullah
(1763 1808 M)
Kyai Ibrahim   
(1708 1863 M)
Kyai Muhammad Fakih II
(1863 1913 M)
Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat
(1913 1953 M)
Kyai Dimyati   
(1953 1969 M)
Kyai Makmun
(1969 1990 M)
Kyai Moh Syifak
(1990 1994 M)
R. Zaenuri Isma'il       
(1994 1997 M)
Drs. Muhammad Wakhid
(1997 2000 M)
Kyai Isma'il     
(2000 2003 M)
Kyai Ismail      
(2003 2006 M) 
Kyai Ismail      
(2006 sekarang).
             
-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya 


Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan


Masjid Nurul Huda Dongkelan,  batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masjid Pathok Negoro Dongkelan Kauman atau sering juga disebur Nurul Huda merupakan salah satu masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menangkal serangan musuh. Dalam sejarahnya sempat ludes dibakar oleh Belanda dalam perang melawan Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830, kemudian dibangun kembali dan fungsinya sebagai basis pertahanan negara pun terhapus dengan sendirinya ketika Republik Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan asing. Di sebelah barat masjid terdapat komplek makam tua. Di sini dimakamkan Kiai Syihabudin yang menjadi cikal bakal desa Dongkelan sebagai tanah perdikan.

LOKASI

Masjid Nurul Huda Dongkelan yang terletak di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Seperti halnya Masjid Pathok Negoro lain di Yogyakarta, Masjid Nurul Huda Dongkelan, memang sederhana dan berfungsi sebagai tempat beribadah meskipun keberadaannya hingga kini telah berumur lebih kurang 230 tahun, masjid ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sekitar.

 

 SEJARAH

Masjid Pathoknegara Nurul Huda didirikan pertama kali tahun 1775. Sejarah masjid ini berawal saat Pangeran Mangkubumi mengadakan sayembara untuk mencari pengawal yang memiliki kesaktian tinggi. Dari sejumlah kontestan yang ikut, sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kiai Syihabudin. Setelah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama di Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756, Kiai Syihabudin diangkat sebagai penghulu, mengelola masjid di atas tanah perdikan (Tanah Bebas Pajak) Desa Dongkelan.

Di masa perang Jawa yang dipimping Oleh Pangeran Diponegoro (putra dari Sultan Hamengkubuwono III) melawan tentara penjajah Belanda dalam kurun tahun 1825-1830M masjid ini pernah di bakar habis oleh Belanda. Mereka menganggap Masjid Nurul Huda Dongkelan sebagai tempat berkumpulnya pemberontak. Seusai perang itu, pihak keraton bersama-sama masyarakat Kauman Dongkelan membangun kembali Masjid Nurul Huda Dongkelan

ARSITEKTUR MASJID

Suasana tenang penuh kesederhanaan, masih tercermin hingga sekarang. Arsitektur masjid yang dibangun Keraton Yogyakarta sebagian masih menyisakan kekhasan masjid keraton pada masa itu. Pilar-pilar penyangga masjid tampak minimalis, hanya ada sedikit goresan motif ukiran. Lantai masjid yang dulunya berwarna hitam, kini hanya digantikan keramik putih polos.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan.

Beduk warna coklat kusam berusia 106 tahun di sayap utama serambi masjid juga masih terdapat di masjid ini. Bangunan masjid ini terhitung kecil dibandingkan Masjid Pathok Negoro lainnya, yaitu seluas lebih kurang 200 meter persegi.

RENOVASI DAN PERLUASAN

awalnya bangunan masjid tidak begitu luas dan hanya beratapkan ijuk. Namun, kesederhanaan tersebut tidak menyurutkan niat masyarakat Dongkelan untuk beribadah dan memperdalam ilmu keagamaan dan “kanuragan”. Awalnya (1830-an), bagian inti masjid dibangun lagi dari puing puing kehancuran akibat dibakar oleh Belanda di masa Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Kemudian, mengacu pada tulisan di saka guru serambi masjid berbahan kayu jati yang menunjukkan angka 1948, dimulailah renovasi Masjid Nurul Huda Dongkelan tahap berikutnya.

Namun, luas bangunan masjid praktis tak banyak berubah setelah renovasi itu. Pada tahun 1950-an, Masjid Nurul Huda Dongkelan akhirnya tak lagi digunakan untuk basis pertahanan Keraton Yogyakarta. Masjid ini kemudian lebih banyak digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah, mengaji, memperdalam ilmu keagamaan, dan tempat peringatan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan.

TRADISI MASJID PATHOK NEGARA NURULHUDA DONGKELAN

Pada bulan Ramadhan tahun ini, warga Kampung Kauman Dongkelan tetap melakukan tradisi dengan menjalankan berbagai kegiatan agama, mulai dari kegiatan takjilan bagi remaja dan anak-anak menjelang buka puasa, shalat tarawih, kuliah subuh, hingga pengkajian ilmu agama dan Al Quran.

Pusat Informasi Ramadhan (PIR) masjid Nurul Huda Dongkelan didirikan tahun 2004 telah sehingga membantu pelaksanaan kegiatan keagamaan di masjid. PIR juga mendirikan radio komunitas Pathok Negoro FM yang berfungsi menyiarkan dakwah dan siaran langsung segala kegiatan yang diadakan di masjid ini, termasuk dari tarawih, subuhan hingga takjilan. uniknya takjilan disini untuk bapal-bapak warga desa ini, selebihnya untuk anak-anak kecil hanya dilakukan seminggu tiga kali yaitu, Senin, Kamis dan Sabtu. (updated : 28/08/2012).

-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya



Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Ad-Darojat Babadan.

Masjid Pathok Negara Ad-Darojah Babadan, merupakan salah satu dari lima Masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Masjid ini memiliki sejarah yang unik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan karena pernah dipaksa di pindahkan oleh pasukan penjajahan Jepang berikut seluruh penduduk yang ada di sekitar lokasi masjid. Karena lokasi tersebut akan dijadikan pangkalan militer oleh pasukan Jepang.

Lokasi Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, berada di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, INDONESIA. Rute untuk menuju ke masjid dari JEC (Jogja Expo Center), dari Jalan raya Janti di depan JEC ada sebuah pohon beringin yang menghadap ke sebuah pertigaan. Salah satu jalan di pertigaan itu bernama Jl. Pathok Negara. Ikut Jalan Pathok Negara hingga sampai di lokasi masjid.

Masjid Pathok Negara Babadan
Kauman Babadan Jl. Babadan, Jomblangan, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55198

 

Sejarah Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Ad-Darojat Babadan adalah salah satu masjid patok negara yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1774 di atas tanah mutihan atau Sultan ground seluas 120 meter persegi.

Pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan dipindah ke Desa Badabadan baru di Jl. Kaliurang KM-7, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan sebagai gudang senjata. Akibat perpindahan tersebut denyut kampung Babadan sebagai kampung santri sempat mengalami tidur panjang. Akibat perpindahan yang dilakukan oleh Jepang tersebut, masjid Patok Negara tersebut menjadi tak terurus.

Masjid Sultan Agung Babadan baru.

Saat terjadi pengusiran oleh Jepang, memang tidak semua penduduk ikut boyong ke Kentungan. Sebagian warga Babadan tetap tinggal di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan warga, masjid ini hanya tersisa fondasi dan temboknya saja. Hal ini dikarenakan seluruh konstruksi kayu masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di Babadan Kentungan.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 yang akhirnya seluruh personil dan tentaranya meninggalkan Indonesia, secara otomatis pembangunan perluasan pangkalan udara pun urung dilaksanakan. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak masyarakat yang datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap di sana.

Pada tahun 1960-an salah seorang warga Babadan bernama Muthohar mempunyai niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tersebut. Pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan semasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Atas dukungan Sultan maka nama Sultan Hamengku Buwana IX "Ndoro Jatun" diabadikan menjadi nama masjid Patok Negara tersebut dengan nama Masjid Ad-Darojat.

Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun bentuk khas sebagai masjid kraton masih tetap dipertahankan. Seperti pada masjid Pathok Negoro lainnya, di sisi barat masjid adalah pemakaman tempat bersemayam para tokoh agama maupun masyarakat setempat. Masjid “pindahan” di Desa Babadan Baru masih bertahan hingga kini dan diberi nama Masjid Sultan Agung. 
   
Karena latar belakang sejarah demikian ini, antara warga Babadan dengan Babadan Baru Kentungan meskipun terpisah secara geografis namun tetap terjalin hubungan yang harmonis. Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga Babadan Baru yang datang ke Babadan untuk menggelar acara tradisi nyadran. Silaturahmi setiap kegiatan nyadran tersebut berlanjut saat Lebaran Idul Fitri tiba, karena banyak juga diantara mereka yang masih merupakan saudara sedarah.

Arsitektural, Renovasi dan Perluasan

Pertama kali masjid ini dibangun pada tahun 1774, arsitektur Masjid Ad-Darojat sama persis dengan ketiga masjid Patok Negara lainnya. Kesamaan bentuk masjid tersebut terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru dan terdapat pawestren disampingnya. Serambi masjid menggunakan konstruksi bentuk limasan serta terdapat kolam di sebelah timur masjid sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid, di depan masjid juga terdapat pohon kepel.

Kompilasi foto Masjid Pathok Ad-Darojah.

Dikarenakan pengusiran oleh Jepang pada tahun 1940-an, bersamaan dengan boyongnya penduduk Babadan ke Kentungan, seluruh bangunan masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di daerah Kentungan. Tempat tersebut kemudian diberi nama Kampung Babadan Baru. Baru pada tahun 1960-an bekas lokasi masjid di Babadan kembali dibangun.

Pada pembangunan awal di tahun 1964, bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.

Pada tahun 1993 pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membangun joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, serta tempat wudhu dan wc dilakukan pada tahun 2001. Atas kesepakatan para tokoh agama setempat pada tahun 2003, mustoko yang asli yang terbuat dari tanah liat tidak jadi dipasang dan diganti dengan mustoko dari kuningan. Meskipun demikian mustoko yang asli sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Masjid Ad-Darojat.

Tradisi di Msjid Ad-Darojah 

Shalat tarawih di Masjid Ad-Darojat adalah 11 rakaat (2 x 4 ditambah 3 witir) dengan ceramah. Sedangkan di Masjid Sultan Agung adalah 23 rakaat (2 x 10 ditambah 2 + 1 witir) dengan ceramah.

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya


Masjid Pathok Negara Mlangi

Masjid Pathok Negara Mlangi.

Masjid Pathok Negara Mlangi sempat berganti nama menjadi Masjid Jami' Mlangi, merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan menjadi batas negara di bagian barat. merupakan bangunan paling legendaris di dusun Mlangi, dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Warga setempak menyebut masjid ini sebagai Masjid Gedhe.
 
Ditahun 1985 bangunan masjid ini sempat direnovasi menjadi bangunan masjid dua lantai berukuran cukup besar dan nama nya pun berubah menjadi Masjid Jami’ Mlangi. Namun ditahun 2012 bangunan masjid tersebut dibongkar dan dikembalikan ke bentuk aslinya.
 
Di dalam masjid masih tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan Kyai Nur Iman mengajar Islam. Disekeliling Masjid terdapat pemakaman kuno dan satu dari makam yang paling banyak dikunjungi oleh para peziarah adalah makam dari Kyai Nur Iman yang memiliki nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo merupakan kerabat dari Sultan Hamengku Buwono I.
 
LOKASI
 
Masjid Jami’ Pathok Negara Mlangi terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


 
SEJARAH MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro  adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun 1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin
 
Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)
 
Kyai Nur Iman sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.
 
Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman, di samping Kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari
 
Gapura Masjid Pathok Negara Mlangi.

Keempat masjid tersebut adalah : di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, di sebelah Timur terletak di desa Babadan, di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.
 
Pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :
 
Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo, Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri. Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.
 
WISATA ZIARAH DI MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Makam Kyai Nur Iman senantiasa ramai di ziarahi oleh para peziarah terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadhan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.
 
Begini perubahan bentuk Masjid Pathok Negara Mlangi. 

Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu.
 
ARSITEKTUR MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi. Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
 
Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.
 
Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.
 
Interior Masjid Pathok Negara Mlangi.

RENOVASI DAN PEMUGARAN
 
Bentuk dan nama masjid ini sempat mengalami perubahan setelah renovasi ditahun 1985. Masjid dibangun menjadi bangunan beton dua lantai, meski beberapa fitur asli masjid tetap dipertahankan namun beberapa lainnya hilang termasuk diantaranya adalah Blumbang yang mengelilingi masjid.
 
Air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.
 
Sebelum proses renovasi dilakukan, pada saat itu panitia pembangun sudah sowan ke kraton untuk meminta izin pelaksanaan renovasi. Pihak Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya.
 
Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.
 
Mimbar Masjid Pathok Negara Mlangi.

Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.
 
Mimbar yang ada di masjid ini juga masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga mempertahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.
 
Seiring dengan ditetapkannya UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya membawa Sultan Hamengku Buwono X untuk kembali menginstruksikan para pengurus masjid untuk mengembalikan bangunan masjid ke bentuk asalnya. Instruksi Sultan tersebut sempat menuai pro dan kontra masyarakat Mlangi, sehingga renovasi baru bisa dilaksanakan pada tahun 2012.
 
Pemugaran ditahun 2012 ini dengan terpaksa merobohkan bangunan masjid Jami Mlangi untuk mengembalikan bentuk-nya ke bentuk semula, dan Namanya pun dikembalikan ken ama asal sebagai Masjid Pathok Negara Mlangi.
 
Beranda Masjid Pathok Negara Mlangi.

PENGELOLA MASJID
 
Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah Kesultanan Ngayogyokarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itu masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami' Mlangi.
 
Namun, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.
 
Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
 
MASYARAKAT MLANGI YANG ISLAMI
 
Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai begitu banyak Pondok Pesantren. Diantaranya Pondok Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki.
 
Cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.
 
Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an.
 
Kolam berair jernih di Masjid Pathok Negara Mlangi.

Beberapa Ponpes di wilayah Mlangi dipimpin oleh para kyai keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama'ah dan jum'atan. Pondok pondok Pesantren tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi'in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.
 
TRADISI MASJID MLANGI
 
Bimbingan Agama Islam ba’da magrib dan ba’da subuh
Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba'da subuh dan ba'dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran.
 
Kegiatan di bulan Ramadhan
Selama Bulan Ramadhan dilaksanakan Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah.
 
Budaya Mercon
Daerah Mlangi juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Ramadhan. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.
 
Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Sultan Hamengkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. tradisi jenang manggul, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.
 
-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------
 
Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya
 
Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo
Masjid Pathok Negara Nurul Huda
Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan
Masjid Pathok Negara Sulthoni
Masjid Kotagede Masjid Tertua di Yogyakarta

Senin, 20 September 2010

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Didirikan di atas tanah kasultanan seluas 2.500 m2. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Diantara kelima masjid Pathok Negara milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negara di Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya.

Lokasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara ”Plosokuning” berlokasi di Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Letak masjid ini sekitar 9 km arah utara dari Kraton Yogyakarta.

 

Arsitektur Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Dalam perkembangan saat ini, arsitektur trradisional telah banyak mengalami perubahan dan salah satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern di Indonesia. Hal di atas juga berpengaruh terhadap Masjid Pathok Negoro yang ada. Dari kelima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning saja yang sampai saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya.

Sejarah Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro Plosokuning didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III yang 1812-1814. Beliau adalah ayahanda Pangeran Diponegoro, ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Plosokuning.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah tidak ada. Satu hal yang menarik dari desa ini. Hingga sekarang daerah di sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. 

Daerah di sekitar masjid dikenal dengan sebutan daerah Mutihan yang mempunyai arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yang disebut daerah Mutihan juga disebut sebagai daerah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yang mempunyai ikatan darah dengan pendiri masjid. Sedangkan daerah yang agak jauh dari masjid disebut Ploso Kuning Jobo.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Sebagai salah satu masjid pathok Negoro, di masjid Plosokluning juga ditempatkan abdi dalem kemasjidan. Abdi dalem yang menjalankan tugas di masjid Plosokuning dengan fungsi masing masing sebagai Khotib, Muadzin, Jajar Jama'ah, Jajar Ulu-ulu (penghulu) dan Jajar Merbot. Kesemua fungsi tersebut di emban oleh andi dalem bergelar Raden.

Renovasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Keaslian Masjid pathok Negoro Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap dimana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid. Dulu, penutup atap masjid menggunakan sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng pada tahun 1946.

Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa dengan menggunakan semen merah, kemudian pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu juga dengan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal 2 batu, namun karena terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya ada satu dan sangat rendah yang menyebabkan ruang masjid menjadi gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan agar setiap orang yang masuk masjid hendaknya menunduk dan menunjukkan rasa tatakrama serta sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian menyebabkan ruangan di dalam masjid menjadi gelap, sehingga pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian serta ditambah jendela di ruang dalam masjid.

Semua penambahan dan perbaikan bangunan pada masjid, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Sinuhun Kanjeng yang berada di kraton, baik mengenai bentuk dan modelnya. Beberapa tahun terakhir, takmir masjid mengadakan perbaikan dan penambahan ruang yang ada di samping kanan dan kiri masjid. Hal ini bertujuan agar kegiatan pengajian dan tadarus dapat berlangsung nyaman sekaligus untuk menambah shaf putri. Pada ruang dalam masjid terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penahan konstruksi atap. Semua tiang penyangga ini sebagian besar masih asli dan terbuat dari kayu jati.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, masjid ini kembali mengalami renovasi pada bagian serambi dan tempat wudhu. Renovasi ini dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Pada tahun tersebut masyarakat secara swadaya juga mengganti lantai tegel masjid dengan keramik, memasang konblok di halaman serta mendirikan menara pengeras suara.

Tradisi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Di depan masjid terdapat dua kolam dengan kedalaman 3 meter. Setiap orang yang akan memasuki masjid harus bersuci terlebih dahulu di kolam itu. Makna lain dari 2 kolam ini adalah apabila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya. Saat ini kolam tersebut juga digunakan untuk memelihara ikan serta untuk mencuci kaki sebelum masuk ke mesjid.

Di dalam masjid, terdapat mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini juga dilengkapi dengan sebuah tongkat yang dipakai oleh khatib pada saat memberikan khotbah yang sampai sekarang masih digunakan. Masjid ini juga masih menganut adat lama dimana adzan pada saat sholat Jum'at dilakukan 2 kali. Dahulu sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka.

Begitu juga dengan khotbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 adat tersebut berubah, muadzin yang semula berjumlah 5 orang menjadi 2 orang, tetapi adzan tetap dilakukan 2 kali. Khotbah juga diganti dengan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini memiliki pintu gerbang yang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam dan ikhsan. Pada 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada 5 sedangkan pada 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu ada 6.

Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.***

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------


Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya