Tampilkan postingan dengan label masjid para wali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masjid para wali. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 September 2017

Masjid Sunan Bonang Rembang

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang adalah masjid yang dipercaya dibangun oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim lahir pada tahun 1465 Masehi, salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang berada di desa Bonang yang terletak dalam wilayah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, masjid ini menjadi salah satu bukti dan peninggalan dari perjalanan dakwah Sunan Bonang di Rembang dan sekitarnya. Lokasi masjid ini saat ini sekitar 50 meter disebelah selatan makam Sunan Bonang.

Sebelum menjadi desa daerah ini merupakan sebuah hutan yang terkenal dengan sebutan Alas Kemuning. Di awal awal dibangunnya masjid ini, masyarakat setempat tidak menyebutnya masjid namun menyebut bangunan ini sebagai Omah Gede atau Rumah Besar karena bentuknya yang berupa sebuah bangunan berukuran besar. Masyatakat setempat kala itu merasa heran karena bangunan masjid ini disebut sebut berdiri secara tiba tiba ditengah hutan.

Masjid Sunan Bonang
Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271. Indonesia


Bisa jadi karena memang sunan Bonang kala itu tinggal menyendiri di tengah hutan dan jauh dari masyarakat sekitar, sehingga tidak ada masyarakat yang mengetahui proses pembangunan masjid ini sampai kemudian mereka menemukan atau melihat bangunan tersebut pada saat sudah jadi, rampung atau sudah selesai sehingga terkesan terjadi dengan tiba tiba.

Dengan berdiriya sebuah masjid yang mereka sebut sebagai Omah Gede secara tiba tiba itu mereka menganggap terjadi karena karena kekramatan seorang wali kekasih Allah, menjadikan masyarakat sekitar menjadi heran, sebab dipandang sebagai kejadian yang aneh, sehingga masyarakat Bonang sangat ingin datang untuk melihat adanya masjid tersebut.

Namun demikian cerita tutur yang berkembang menyebutkan bahwa Sunan Bonang membangun masjid ini dalam waktu satu malam dan kekramatan beliau sehingga begitu banyak yang datang belajar dan berguru kepada beliau baik dari bangsa manusia maupun bangsa Jin.

Kala itu Sunan Bonang termasuk orang yang dituakan, sehingga rakyat disitu sangat tunduk dan menghormati akan kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Kesempatan yang baik itu beliau gunakan untuk bertabligh dan mengajarkan tentang maksud agama Islam. Mulai saat itulah para santri-santri berdatangan, baik mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan menimba ilmu dari Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem

Keterbatasan sumber sumber tertulis terkait sejarah masjid ini, sehingga sampai saat ini belum diketahui dengan pasti tentang tarikh pendirian masjid ini. Sebagian besar sumber sejarah masjid ini beserta sejarah Sunan Bonang di Lasem berupa kisah tutur yang disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.

Makam Mbah Jejeruk

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang ini dipercaya sebagai masjid pertama yang dibuat oleh Sunan Bonang setelah beliau mendapatkan kewaliannya. Dari sekian banyak murid murid beliau yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, salah satunya adalah Sultan Machmud, Raja Minangkabau (di provinsi Sumatera Barat) belajar agama di masjid ini, sampai beliau wafat. Oleh masyarakat Bonang, Sultan Machmud dimakamkan di daerahnya. Sekarang, makam itu lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Jejeruk.

Masjid Keramat

Masjid Sunan Bonang di kecamatan Lasem ini sudah beberapa kali dipugar, namun demikian sisa-sisa kekeramatannya masih terlihat. Sumur yang ada di samping masjid, dikabarkan masih asli. Di dekat masjid itupun ada makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Sarido, imam masjid tersebut beserta keluarganya.

Menurut cerita, keangkeran masjid ini dapat dirasakan oleh sejumlah penduduk, sehingga tidak ada yang berani berbuat seenaknya sendiri. Kabarnya, seorang jemaah masjid pernah tidur di dalam masjid ini. Namun, ketika ia bangun, ia sudah berada di dekat salah satu makam yang ada di samping masjid. Berdasarkan penuturan masyarakat, jemaah masjid ini bukan hanya kalangan manusia. Konon, banyak pula bangsa jin yang menjalankan ibadahnya di masjid Sunan Bonang. Agaknya, mereka pun ingin mendapatkan karomah dari masjid ini.

Masjid Sunan Bonang

Menurut keterangan juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini memiliki dua bagian. Serambi depan direhab dengan arsitektur modern, untuk menampung jumlah jama'ah. Sedangkan bagian utama tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Namun tetap dirawat secara teratur.

Mimbar di Teras Masjid

Di teras masjid Sunan Bonang di Lasem, terdapat sebuah mimbar berukuran cukup besar dari kayu jati dan berukir indah. Menurut cerita, mimbar ini merupakan sumbangan dari seorang donator dari kabupaten Jepara untuk menggantikan mimbar lama di masjid Sunan Bonang.

Namun (masih menurut cerita) meskipun telah di ukur sedemikan rupa pada saat pembuatannya, dan di ukur berulang kali pada saat akan ditempatkan di tempatnya, mimbar baru ini ternyata tidak bisa masuk ke lokasinya di samping mihrab di dalam Masjid Sunan Bonang, itu sebabnya hingga kini mimbar baru tersebut diletakkan di teras masjid.

Mengenal Sunan Bonang

Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim beliau adalah putra dari Raden Rochmat (Sunan Ampel) dengan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri dari Raden Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Raden Makdum Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465 M.

Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah dikirim ayahnya untuk belajar ke Mesir sampai beliau berusia dewasa dan kembali ke tanah air. Beliau kemudian mengabdikan ilmunya di pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Sampai kemudian beliau memulai memulai kehidupan baru dengan membuka hutan belantara Alas Kemuning yang kini dikenal dengan nama Desa Bonang.

Masjid Sunan Bonang

Di Alas Kemuning beliau membina pengajaran Islam kepada masyarakat setempat sampai kemudian nama beliau dikenal hingga ke berbagai daerah, santri berdatangan untuk berguru kepada beliau. Disebutkan juga bahwa beliau juga pernah belajara agama di kerajaan Samudera pasai di masa kejayaan Majapahit, itu sebabnya beliau juga dikenal sebagai tokoh yang mulai memasukkan pengaruh Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh dan Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai dari Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok sebagai tempat penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat, tetapi dalam riwayat lain menyebutkan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari R. Jaka Kandar serta mempunyai keturunan satu yang bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja’far Shodiq. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka. Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat tahun 1525M, dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan di rumah kediaman beliau (Ndalem) di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura.***

Baca Juga


Minggu, 02 Juli 2017

Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, Gresik

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri dulunya berada di atas bukit Kedaton lalu dipindahkan ke Bukit Giri

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri atau biasa disebut Masjid Sunan Giri, terletak di komplek makam Sunan Giri di Bukit Giri, Kelurahan Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur. posisinya hanya beberapa langkah disebelah makam Sunan Giri melewati jalan kecil disamping sejejeran makam makam tua. Untuk sampai ke masjid ini pengunjung akan melewati sebuah lorong yang dikiri kanannya dipenuhi kios kios pedagang menjajakan perlengkapan ibadah, cindera mata, dan barang-barang lainnya.

Kios-kios yang dikelola oleh Paguyuban Pedagang Lorong Masjid Sunan Giri. Semakin siang, semakin ramai peziarah yang berkunjung ke makam dan Masjid Sunan Giri ini, dan lorong ini pun bisa disesaki oleh para peziarah yang berlalu lalang. Makam Sunan Giri telah menjadi salah satu objek wisata rohani yang menarik para wisatawan dari berbagai pelosok tanah air.

Masjid Sunan Giri
Bukit Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur 61124
GPS: -7.1691319, 112.6316857.



Butuh sedikit perjuangan untuk mencapai masjid ini. Dari area parkir kendaraan harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter. Cukup melelahkan, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek. Memasuki lokasi ada sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid.

Sedangkan, makam utama tempat Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak digunakan pula untuk membuat candi atau arca di zaman kejayaan Hindu dan Budha.

Sejarah Masjid Sunan Giri

Kehadiran masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Paku Ainul Yaqin, salah seorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Masjid Sunan Giri didirikan pada 1544 atas prakarsa Nyi Ageng Kabunan (cucu Sunan Giri), lantaran setelah Sunan Giri meninggal pada 1506 banyak para peziarah berdatangan ke Makam Sunan Giri, dan para pengikutnya pun berpindah tempat dan tinggal di sekitar Bukit Giri, agar lebih dekat ke makam Sang Sunan.

Masjid Sunan giri jelang waktu magrib

Masjid tersebut sebenarnya adalah bangunan masjid dari komplek pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton yang dibangun tahun 1399 saka, pada saat itu pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton mengalami perkembangan pesat, sehingga kemudian dibangunlah sebuah musolla untuk shalat jamaah serta untuk kegiatan-kegiatan peantren. Tahun 1407 Saka/1481 Miladiyah dipugar dengan memperluas bangunan dan masjid itu dinamakan masjid Jamik.

Pada saat itu Sunan Giri diangkat sebagai penasihat oleh Raden Patah selaku Sultan Demak pertama, sekaligus sebagai ketua dari para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya relatif kecil namun cukup indah dan artistik penuh ukiran dan kaligrafi huruf arab serta ayat suci Al-Qur’an. Atap masjid terbuat dari sirip kayu, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir sampai sekarang tetap dalam keadaan utuh di atas bukit Kedaton.

Setelah 10 tahun sunan Giri wafat, perhatian masyarakat beralih pada makam Sunan Giri, di Bukit Giri, maka terjadilah perpindahan penduduk, mereka banyak bertempat tinggal di Bukit Giri. Melihat hal itu maka tergeraklah hati Nyi Ageng Kabunan (cucu ketiga Sunan Giri yang menjanda) untuk memindahkan masjid dari Bukit Kedaton Kebukit Giri dekat makam Sunan Giri.

Mihrab Masjid Sunan Giri

Pemindahan dilakukan pada tahun 1544 Masehi.  Dalam waktu yang relatif singkat masjid berdiri dengan ukuran 150 m2. Masjid tersebut kemudian berganti nama menjadi Masjid Sunan Giri Ainul Yakin. Berdirinya masjid ini direkam dalam ukiran ber-aksara arab ditempatkan di atas pintu utama masjid. Tulisan tersebut berbunyi “Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M”. Tulisan tersebut dibuat oleh Haji Ya’kub Rekso Astono tahun 1856 M,

Masjid ini sendiri sampai sekarang telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilaksanakan pada tahun 1857 ketika masjid ini berusia sekitar 313 tahun dan kondisi bangunan masjid dari kayu itu yang semakin lapuk. di tahun yang sama juga didirikan masjid wedok (masjid khusus kaum wanita) dan konon juga bekas masjid dari Sunan Prapen cucu dari Sunan Giri.

Tahun 1789 M diadakan perluasan oleh H. Ya’kub Rekso Astono, terkait hal tersebut, sda pendapat yang mengatakan bahwa bangunan masjid inti yang terlihat saat ini justru hasil karya H. Ya’kub ini, sedang masjid asli yang dipindahkan oleh Nyi Ageng Kabunan dari dari Giri Kedaton ke tempat ini adalah bangunan yang kini menjadi masjid wedok.

Atap limas bersusun tiga di masjid Sunan Giri 

Perbaikan selanjutnya terjadi di era Indonesia merdeka. Di tahun 1950 Masjid Sunan Giri mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Proses perbaikan dipimpin oleh H. Zaenal Abidin selaku juru kunci makam bersama masyarakat Giri memperbaiki masjid ini dalam dalam waktu tiga bulan.

Perluasan halaman masjid dilakukan tahun 1957 oleh Panitia Kesejahteraan Makam dan Masjid Sunan Giri. Perluasan halaman tersebut dilakukan dengan memindahkan pendopo masjid dari depan masjid ke kesebelah utara, serta penggantian atap masjid dari atap sirap menggunakan atap genteng dan memperluas bak penampungan air hujan guna keperluan air bersih.

Perbaikan perbaikan kecil terus dilakukan hingga era 1970-an. Renovasi terahir dilakukan pada tahun 1982, peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982. Kini luas bangunannya mencapai 1.750 m² sudah berkali kali lipat luasnya dari ukuran semula, di atas lahas seluas 3.000 m².

Unik bukan ? pintu gapura masjid berbentuk gapura candi

Monumen Sejarah

Masjid Ainul Yakin Sunan Giri ini sudah menjadi monument sejarah yang dilindungi oleh negara sejak dari masa penjajahan Belanda. Di zaman Hindia Belanda, masjid ini terdaftar sebagai peninggalan sejarah, didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada tahun 1931. Kini berada di bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Arsitektur Masjid Ainul Yakin Sunan Giri

Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun memiliki bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan. Akulturasi dengan budaya sebelum Islam sangat kental terlihat di masjid ini, yang paling menyolok adalah adanya beberapa pintu gerbang berupa gapura paduraksa termasuk pintu masuk utama ke masjid ini.

Dibagian dalam masjid akan kita temukan sokoguru dari kayu yang berjejer menopang struktur atap masjid ini. Masing masing masing sokoguru ini berdiri diatas umpak dari batu. Umpak batu di hias dengan warna emas, bagian bawah tiang dihias dengan ukiran yang meruncing juga dengan warna emas.

Interior Masjid  Sunan Giri

Batang sokoguru terbuat dari sebatang kayu berukuran besar, di profil sekelilingnya, di cat dengan warna hijau muda. Di setiap pertemuan sokoguru dengan soko alangnya juga dihias dengan ukiran yang meruncing bewarna emas. Hampir seluruh materi kayu di dalam masjid ini di cat dengan warna hijau muda. Di bawah atap utama menggantung lampu antik menjuntai di atas ruang utama.

Mihrab masjid terdiri dari tiga bagian ceruk. Sebalah kiri di tempatkan sebuah jam berdiri berukuran besar. Ceruk tengah merupakan tempat imam dengan dan paling kanan merupakan ceruk dimana mimbar tempat khatib ditempatkan. Mimbar berukir dari kayu ini juga dicat dengan paduan hijau muda dan warna emas.

Sebagai rumah ibadah, masjid ini begitu ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima waktu) maupun shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, dan Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan***.

Senin, 26 September 2016

Mesjid Sendang Dhuwur, Lamongan, Jawa Timur

Masjid Sendang Duwur dengan latar depan komplek makam Sendang Duwur

Mesjid Sendang Dhuwur, merupakan mesjid tertua di Lamongan. Mesjid tersebut merupakan bukti kebesaran perjuangan Sunan Sendang Dhuwur di Lamongan dan Tuban. Meski berusia 477 tahun, bangunannya masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam yang tak lekang dimakan waktu. Bangunan masid Sendang Dhuwur sempat mengalami perbaikan pada tahun 1920. Namun, arsitektur aslinya masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya. Beberapa peninggalan sejarah masih tersisa seperti mimbar, beduk kulit, dan gentong tempat air minum.

 

Sejarah berdirinya masjid ini syarat dengan cerita yang luar biasa. Masyarakat setempat yakin bahwa masjid ini dibangun dalam waktu satu malam. Disebutkan bahwa Sunan Sendang Dhuwur memindahkan masjid ini dari Mantingan di Jepara – Jawa Tengah ke Lokasi yang sekarang, dalam waktu satu malam. Itu sebabnya masjid ini juga disebut sebagai masjid Tiban. Kini, Mesjid Sendang Dhuwur menjadi satu di antara tiga mesjid peninggalan wali yang masih terawat dengan baik. Dua di antaranya yakni Mesjid Sunan Ampel dan Sunan Giri.

 

Lokasi Masjid Sunan Sendang Dhuwur

 

Desa Sendang Duwur, Kecamatan Paciran

Kabupaten Lamongan, Jawa Timur



Sunan Sendang Duwur

Sunan Sendang Duwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra dari Abdul Kohar Bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad (lrak). Raden Nur Rahmad lahir pada tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Beliau adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu.

Ada yang mengatakan Sunan Sendang Duwur sebagai putra Abdul Qohar dari Sedayu (Gresik), salah satu murid Sunan Drajad. Ada pula yang menyebut Sunan Sendang Duwur adalah putra Abdul Qohar tapi tidak berguru pada Sunan Drajad. Namun dari perbedaan itu, disepakati bahwa Raden Noer Rochmat akhirnya diwisuda Sunan Drajad sebagai Sunan Sendang Duwur.

Sejarah Masjid Sunan Sendang Dhuwur


Setelah mendapat gelar sunan, Raden Noer berharap bisa mendirikan masjid di Desa Sendang Duwur. Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.


Interior Masjid Sendang Duwur

Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada 1531 Masehi. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu? Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku (saat itu sudah meninggal, Red) berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur. Masjid Sendang Duwur pun berdiri di sana, ditandai surya sengkala yang berbunyi: "gunaning seliro tirti hayu" yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau Tahun
1561 Masehi.

Tapi cerita lain menuturkan, masjid tersebut dibawa rombongan (yang diperintah Sunan Drajad dan Sunan Sendang Duwur) melalui laut dari Mantingan menuju timur (Lamongan) dalam satu malam. Rombongan itu diminta mendarat di pantai penuh bebatuan mirip kodok (Tanjung Kodok) yang terletak di sebelah utara bukit Amitunon di Sendang Duwur.


Akulturasi budaya di komplek masjid dan makam Sendang Duwur

Tradisi Kupatan di Tanjung Kodok Lamongan

Rombongan dari Mantingan itu disambut Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur beserta pengikutnya. Sebelum meneruskan perjalanan membawa masjid ke bukit Amitunon, rombongan itu diminta istirahat karena lelah sehabis menunaikan tugas berat. Saat istirahat, sunan menjamu rombongan dari Mantingan itu dengan kupat atau ketupat dan lepet serta legen, minuman khas daerah setempat. Berawal dari sini, sehingga setiap tahun di Tanjung Kodok (sekarang Wisata Bahari Lamongan) digelar upacara kupatan.

 

Masjid itu kini sudah berusia 477 tahun (didirikan R. Thoyib di Mantingan pada 1531). Karena usianya yang tua, beberapa konstruksi kayunya terpaksa diganti dan yang asli tetap disimpan di lokasi makam, di sekitar masjid. Maski masjid kuno itu sempat dipugar, arsitektur masjid peninggalan wali ini masih tampak dan menggambarkan kebesaran pada zamannya.

Ajaran Sunan Sendang Dhuwur

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah.

Meski berada di ketinggian, masjid dan komplek makam ini dapat di capai dengan kendaraan bermotor.

Hubungan Sunan Drajad dengan Sunan Sendang Duwur sangat erat dalam siar agama Islam, dan hubungan itu terus mengalir sampai kini. Terlihat, tidak jarang para peziarah ke makam Sunan Drajad di Desa Drajad, Kec. Paciran untuk singgah ke Sunan Sendang Duwur.

Bangunan yang menunjukkan Hinduistis masih tampak di masjid dan makam. Meski halaman dan makam menyatu, masjid ini mempunyai halaman sendiri-sendiri. Dari arah jalan, yang tampak lebih dulu adalah kompleks pecandian. Sedangkan gapura halaman berbentuk mirip Candi Bentar di Bali. Bentuk candi seperti ini telah dikenal sejak zaman Majapahit, seperti Gapura Jati Pasar dan Waringin Lawang.

Bangunan Makam Sunan Sendang Duwur yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut berarsitektur tinggi yang menggambarkan perpaduan antara kebudayaan Islam dan Hindu. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.

Makam Sunan Sendang Duwur yang letaknya di atas bukit itu, tetapi bisa dijangkau oleh kendaraan umum ataupun pribadi. Sarana jalan yang sudah baik dan memadai memudahkan para pengunjung yang ingin kesana untuk berwisata ziarah.***


Senin, 20 Mei 2013

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 4)

Sisi depan Masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon

Terhindar dari ledakan Bom

Jum’at, 26 Februari 2010 Masjid Agung Sang Ciptarasa dihebohkan dengan ditemukannya bungkusan yang di duga Bom. Merujuk kepada penjelasan pihak kepolisian bom tersebut berdaya ledak rendah dan dilengkapi dengan pengatur waktu. Bom tersebut ditemukan selang sehari setelah perayaan besar peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W di masjid tersebut. 

Peringatan Maulid Nabi atau Mauludan diperingati setiap tahun secara meriah di masjid ini dan dihadiri ribuan jemaah dari penjuru Nusantara memadati masjid hingga ke luar halaman. Merujuk kepada Ustadz Rahmad salah satu pengurus masjid yang menemukan bungkusan tersebut, Bila melihat kondisi fisiknya, kemungkinan bom tersebut semestinya sudah meledak namun Alhamdulillah Allah melindungi masjid ini beserta jemaahnya dari bencana.

Anggota GEGANA POLRI di Masjid Agung
Sang Ciptarasa - Cirebon.
Menurut penjelasan Putra mahkota Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, kepada media, kemungkinan besar bom tersebut sengaja dipasan dengan menjadikan sultan sepuh Maulana Pakuningrat sebagai target utama mengingat lokasi penemuannya berada di dekat denga Krapyak (maksurah) Sultan Sepuh di shaf paling depan disamping mihrab dan mimbar masjid. Kemungkinan besar bom tersebut akan diledakkan saat sholat Jum’at atau proseso Pajang jimat yang kan digelar dihari yang sama. Seyogyanya hari Jum’at tersebut Sultan akan melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid tersebut namun batal karena sesuatu dan lain hal. 

Ancaman bom di tahun 2010 tersebut bukanlah pertama kali terjadi di masjid ini. Merujuk penjelasan para tetua disana, semasa perang kemerdekaan masjid ini beberapa kali menjadi target serangan bom oleh pasukan Belanda maupun Jepang, namun tak satupun bom bom tersebut yang berhasil menyasar masjid tua ini, tapi justru menghantam sasaran lain.

Tradisi Tradisi di Masjid Agung Sang Ciptarasa

Seperti halnya masjid masjid tua serta merupakan masjid keraton kesultanan. Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon ini juga memiliki beberapa tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun temurun tanpa terputus sejak awal pembangunannya hingga kini. Diantara tradisi tradisi tersebut merupakan tradisi unik dan hanya ada di masjid ini. Terutama adalah tradisi Azan Pitu atau azan tujuh yang sudah di ulas tuntas dalam bagian-3.

Azan Pitu

Azan pitu atau azan tujuh adalah azan yang dikumandangkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Tradisi ini bermula sejak awal berdirinya masjid Agung Sang Ciptarasa dan sejak awal berkembangnya Islam di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Azan pitu pada awalnya dilakanakan atas perintah langsung dari Sunan Gunung Jati untuk mengatasi serangan ghaib dari Menjangan wulung yang menyebar terror di masjid ini sehingga menyebabkan tewasnya beberapa muazin serta menyebabkan kebakaran di masjid ini. 

Kemungkinan besar peristiwa tersebut terjadi di tahun 1549 masehi. Tahun tersebut merupakan tahun wafatnya Dewi Pakungwati, permaisuri Sunan Gunung Jati yang wafat di masjid ini. Beberapa sumber menyebutkan beliau wafat dalam usia yang sanga tua di dalam masjid ini setelah turut serta dalam upaya memadamkan kebakaran yang terjadi di masjid ini.

Khutbah Berbahasa Arab

Mimbar di masjid Agung Sang Ciptarasa - Cirebon, tanpak sedikit disebelah kanan foto adalah Maksurah atau Krapyak tempat sholat khusus Sultan dan Keluarga. disebelah Maksurah itu ada satu lagi mimbar lama yang disimpan disana.

Tradisi yang tak kalah uniknya dari masjid ini adalah sampai saat ini khotbah Jum'at selalu dibawakan dengan menggunakan bahasa Arab. Dan meski hampir semua jama'ah tak memahami artinya jamaah tetap menyimaknya dengan khusu tanpa mengobrol dengan rekan disebelahnya. Tujuan dari tetap dilestarikannya khotbah berbahasa Arab ini sendiri konon untuk memotivasi jamaahnya agar mau belajar bahasa Arab.

Ada jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at

Pada setiap sholat Jum'at yang kebetulan jatuh pada hari pasaran kliwon, banyak jemaah perempuan yang ikut sholat Jum'at di Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon ini dengan satu keyakinan bahwa bila mereka ikut sholat Jum'at yang jatuh tepat pada hari Jum'at Kliwon maka yang bersangkutan akan memperoleh berkah. Atas dasar keyakinan itulah, pada Jum'at Kliwon banyak jemaah perempuan yang datang tidak hanya dari daerah Cirebon tapi juga banyak yang datang dari luar kota untuk ikut bersholat Jum'at di Masjid ini.

Sumur Keramat

Di beranda samping kanan (utara) masjid, terdapat sumur zam-zam atau Banyu Cis Sang Cipta Rasa yang ramai dikunjungi orang, terutama pada bulan Ramadhan. Selain diyakini berkhasiat untuk mengobati berbagai penyakit, sumur yang terdiri dari dua kolam ini juga dapat digunakan untuk menguji kejujuran seseorang.

Sumur Banyu Cis yang dikenal sebagai zam zamnya Masjid Agung Sang Ciptarasa Cirebon

Beberapa jamaah masjid ini datang jauh jauh dari berbagai daerah selain untuk sholat di masjid ini juga untuk mengambil air dari sumur tersebut. Dua kolam dari batu bundar ini dulunya berada di luar bangunan utama namun kini sudah berada di dalam pandopo utara. Disekitar kolamnya juga sudah di kelilingi dengan pagar besi. Menariknya air dari sumur ini dipercaya juga dapat digunakan sebagai media untuk menguji kejujuran seseorang.

Pesan Sunan Gunung Djati

Sunan Gunungjati, sultan pertama Kesultanan Cirebon dan pendiri Masjid Agung Sang Ciptarasa ini, wafat pada tahun 1568, dalam usia 120 tahun. Bersama ibunya, dan pangeran Carkrabuasa beliau dimakamkan di gunung Sembung. Dua tahun kemudian wafat pula Kyai Bagus Pasai, Fatahillah dimakamkan ditempat yang sama, makam kedua tokoh itu berdampingan, tanpa diperantarai apapun juga. Selama hidupnya Sunan Gunung Jati pernah berpesan, diantara yang paling terkenal dari pesan pesan beliau adalah : "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)". Selain itu ada banyak pesan pesan beliau yang lain diantaranya sebagai berikut. 

Ilustrasi wajah Sunan Gunung Jati
Singkirna sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik), Duwehna sifat kang wanti (miliki sifat yang baik), Amapesa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup), Angadahna ing perpadu (jauhi pertengkaran), Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya), Aja ilok gawe bobat (jangan suka berbohong), Den bisa megeng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu), Angasana diri (harus mawas diri), Tepo saliro den adol (tampilkan perilaku yang baik). 

Ngoletena rejeki sing halal (carilah rejeki yang halal), Aja akeh kang den pamrih (jangan banyak mengharap pamrih), Gegunem sifat kang pinuji (miliki sifat terpuji), Aja ilok gawe lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang), Ake lara ati, namung saking duriat (jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya), Aja ngagungaken ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri), Aja ujub ria suma takabur (jangan sombong dan takabur), Aja duwe ati ngunek (jangan dendam), Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua), Den hormat ing leluhur (harus hormat pada leluhur), Hormaten, emanen, mulyaken ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka), Den welas asih ing sapapada (hendaklah menyanyangi sesama manusia). 

Pesan beliau yang berbunyi "Ingsun titipna tajug lan fakir miskin (Saya titip tajug dan fakir miskin)" juga dipampang di depan makam beliau. Dan menariknya pesan yang sama dipampang di depan Makam Sheh Quro di Karawang. Hanya saja, entah karena kesalahan penafsiran terhadap pesan beliau, hingga kini bila anda berkunjung ke masjid Agung Sang Ciptarasa bertepatan dengan sholat Jum’at atau pada peringatan hari besar Islam di halaman masjid ini berjejer para peminta peminta. 

Peminta minta di Makam dan Masjid Sunan Gunung Jati.

Tidak hanya di masjid, kondisi lebih ramai akan kita jumpai di sekitar makam beliau di komplek pemakaman kesultanan di Gunung Sembung yang berseberangan dengan komplek pemakaman Gunung Jati tempat bermakamnya Sheh Nur Jati. Di komplek pemakaman  tersebut, para pengemis dan peminta minta tidak sekedar berjejer tapi sudah sampai para tahap mengerubuti para peziarah. Bagi mereka yang tak terbiasa akan terkaget kaget dengan kondisi itu. Terlebih bila anda hanya memberikan sedekah hanya kepada salah satu dari mereka maka yang lainnya sontak akan beramai ramai menghampiri. 

Kondisi yang hampir sama juga akan kita temui saat berziarah ke makam Sheh Nur Jati di gunung Jati. Peminta minta disana bahkan dari golongan pria dewasa yang berbadan sehat segar bugar dengan sedikit memaksa. Saya pribadi lebih menghargai mereka mereka yang mencari berkah disekitar makam para wali tersebut dengan menawarkan jasa sebagai pemandu, tukang parkir, atau mereka yang rela begadang menjaga kendaraan peziarah, atau berjualan keperluan bagi para peziarah hingga membuka warung makan disana. 

Memang butuh kearifan dan pemahaman yang baik dari semua pihak untuk menjalankan amanah dari Sunan Gunung Jati tersebut, beliau menitipkan tajuk dan fakir miskin tentunya untuk dimakmurkan. Semakin banyaknya atau semakin maraknya praktek para peminta minta di sekitar makam beliau sepertinya bukanlah refleksi yang baik dari pelaksanaan pesan tersebut.  (SELESAI).***


Senin, 13 Mei 2013

Masjid Agung Sang Cipta Rasa – Cirebon (Bagian 3)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dengan Gerbang sisi baratnya.

Kebakaran dan Renovasi Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Baik catatan sejarah maupun sejarah tutur yang berkembang di masyarakat Cirebon, masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini sempat mengalami kebarakaran hebat pada masa Awal bedirinya bangunan masjid ini. Disebutkan bahwa masjid ini pernah mengalami kebakaran hebat yang pada bagian atapnya yang masih menggunakan daun rumbia sebagai akibat terror dari pendekar Menjangan Wulung yang memiliki kesaktian ilmu hitam. Kisah ini terkait dengan sejarah awal dikumandangkannya Azan Pitu (azan tujuh) di Masjid ini.

Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1549, Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang merupakan istri pertama Sunan Gunung Jati, wafat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon dalam usia yang sangat tua setelah turut serta berjibaku memadamkan kebakaran yang melanda Masjid Agung ini. Apakah kedua rentetan peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terjadi dalam waktu yang sama ? wallohua’lam. Paska kebararan yang mengakibatkan kerusakan pastinya dilakukan perbaikan atas bagian bagian yang rusak, meski tak ada catatan pasti tentang proses perbaikan tersebut.

:: Pemugaran Oleh Pemerintah R.I. ::

Prasati Pemugaran Masjid Agung Cirebon oleh Pemerintah R.I.

Beberapa meter dari pintu gerbang utara masjid, menghadap ke arah pintu gerbang tersebut, kini berdiri sebuah prasasti peringatan tentang renovasi yang dilakukan oleh pemerintah Republik Indonesia terhadap masjid ini dan diresmikan pada tanggal 23 Februari tahun 1978. berikut kutipan isi dari Prasasti tersebut :

“DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PADA HARI KAMIS TANGGAL 23 FEBRUARI 1978 MENTERI PdanK TELAH MERESMIKAN HASIL PEMUGARAN MESJID AGUNG CIREBON…..MENTERI PENDIDIKAN dan KEBUDAYAAN R.I…… SJARIF THAJEB”

Penyanggah penyanggah besi baja di dalam masjid Agung Sang Cipta Rasa dipasang pada 12 sokoguru masjid ini untuk menopangnya, mengingat bangunan masjid ini yang sudah tidak muda lagi.

Kemungkinan besar pemugaran yang dimaksud dalam prasasti ini adalah penambahan tiang besi baja pada 12 sokoguru di dalam ruang utama masjid serta beberapa sokoguru dibagian luar. Dan penambahan empat pendopo di sekeliling bangunan utama. Mengingat lokasi penempatan dari prasasti ini sendiri berada pada sisi luar pendopo.

Hikayat Azan Pitu, Memolo Dan Masjid Berpasangan

Azan Pitu atau azan tujuh adalah tradisi azan di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus. Biasanya azan ini dilantunkan saat jelang sholat subuh dan sholat Jum’at. Selain azan pitu, di Cirebon juga mengenal azan awal sebelum sholat subuh sebagai pengingat bagi kaum muslimin bahwa waktu subuh akan segera tiba supaya bersiap diri.

Interior Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Dari titik tengah ini azan pitu dikumandangkan dari masjid ini.

Azan pitu pada mulanya dilaksanakan atas perintah dari Sunan Gunung Jati untuk memusnahkan pengaruh sihir yang ditebarkan oleh Menjangan Wulung terhadap jemaah yang akan masuk ke masjid Sang Cipta Rasa Cirebon untuk melaksanakan sholat subuh. Disebutkan bahwa pada suatu masa ketika Islam baru menunjukkan perkembangan yang baik di wilayah Cirebon, beberapa orang yang keberatan dengan hal tersebut berupaya menebar terror.

Sosok Menjangan Wulung sendiri menurut beberapa sumber merupakan sosok ghaib yang di utus oleh seseorang ke Masjid Agung Cirebon untuk menebar terror. Korban pertamanya adalah muazin yang akan mengumandangkan azan subuh di masjid ini yang mendadak tewas secara misterius. Mengakibatkan ketakutan yang luar biasa bagi jemaah lainnya yang akan masuk ke masjid ini. Amukan Menjangan wulung ini juga mengakibatkan atap masjid yang masih terbuat dari rumbia mengalami kebakaran hebat.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa disekitar tahun 1920-1933 saat bangunan utama masjid ini belum dilengkapi dengan berbagai bangunan pendopo yang kini mengelilinginya. Perhatikan puncak atap masjidnya yang tidak dilengkapi dengan memolo.

Berbagai upaya dilakukan untuk memadamkan api, namun selalu gagal. Sampai akhirnya istri Sunan Gunungjati Nyi Mas Pakungwati menyarankan agar dikumandangkan azan. Namun api belum juga padam. Azan kembali dikumandangkan oleh dua orang sampai berturut-turut tiga orang sampai enam orang, namun api belum juga padam. Konon api baru padam setelah azan dikumandangkan oleh tujuh orang muazin, atas perintah dari Sunan Gunung Jati berdasarkan petunjuk Ilahi.

Menjangan Wulung berhasil ditaklukkan, konon dia melarikan diri ke arah Banten dan tak pernah kembali. Masih dalam kaitan dengan hikayat ini disebutkan juga bahwa menjangan wulung juga menghantam memolo yang ada di puncak masjid hingga terpental jauh. Ada juga yang menyebut bahwa memolo (mastaka / ornament hiasan berbentuk simbar dipuncak masjid) tersebut hancur akibat ledakan yang terjadi saat aksi Menjangan Wulung tersebut.

Memolo di puncak atap masjid Agung Banten. Memolo yang memang bertumpuk dua. Apakah salah satunya merupakan memolo Masjid Agung Cirebon yang terpelanting hingga ke Banten akibat ledakan semasa huru hara Menjangan Wulung, tiga tahun sebelum Masjid Agung Banten ini dibangun ?.

Namun satu hikayat yang senantiasa dituturkan oleh pemandu wisata di Masjid ini bahwa memolo tersebut terpental hingga ke Masjid Agung Banten. Dan itu sebabnya Masjid Agung Banten memiliki dua memolo sedangkan Masjid Agung Cirebon tanpa memolo sama sekali. Cerita terahir tersebut memiliki penafsiran yang bermacam macam.

Pertama bahwa masjid Agung Banten dibangun jauh setelah berdirinya Masjid Agung Cirebon. Bila kita merujuk kepada tahun wafatnya Ratu Dewi Pakungwati yakni tahun 1549 sebagai tahun terjadinya huru hara Menjangan Wulung, artinya : meski memolo tersebut memang terpental jauh hingga ke Banten, tidak serta merta langsung bertengger di Masjid Agung Banten tapi butuh setidaknya tiga tahun bagi siapapun disana untuk memungut memolo tersebut dan memasangnya ke Masjid Agung Banten yang baru dibangun tiga tahun kemudian (1552-1570).

::Masjid Sepasang:: Kanan adalah Masjid Agung Demak dan Kiri adalah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. Bisa anda temukan persamaan dan perbedaannya ?.

Sedangkan dari sudut pandang arsitektural, Masjid Agung Cipta Rasa disebutkan sebagai pasangan dari Masjid Agung Demak. Bila Masjid Agung Demak dibangun dalam watak Maskulin lengkap dengan memolo dan berdiri gagah, lain halnya dengan masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon yang dibangun dalam watak Fenimim dengan denah persegi panjang, boleh jadi sejak awal masjid ini memang dibangun tanpa memolo sebagai perwujudan dari kefemeninimannya.

Namun demikian, tradisi azan pitu ini tetap dilestarikan di Masjid Agung Cirebon ini. sebagai sebuah tradisi yang merupakan satu satunya masjid dengan tradisi yang amat unik dan langka ini. Azan pitu dilantunkan oleh tujuh orang muazin sekaligus dengan pakaian putih putih kadang dilengkapi dengan jubah. Mereka bertujuh berjejer di tengah tengah bangunan asli tepat dibawah wuwungan atap masjid.

Masih mengenai memolo, versi lain menyebutkan bahwa memolo tersebut hancur karena secara tidak sengaja terkena lemparan tongkat Panebahan Satu pada saat Cirebon dilanda wabah penyakit yang konon datang secara ghaib. Panebahan Ratu adalah Raja ke empat Kesultanan Cirebon, beliau adalah cicit dari Sunan Gunung Jati.

Pengeras suara di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini diletkaan dibawah empat penjuru atap puncaknya. Sama hal nya dengan masjid masjid tua tanah Jawa Lainnya.

Menara dan Penghormatan Kepada Raja

Bila diperhatikan masjid masjid tua di tanah Jawa termasuk Masjid Agung Demak, Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Saka Tunggal di Banyumas, Sunan Ampel di Surabaya dan lainnya, selalu saja dibangun tanpa menara. Meski dari sisi tradisi arsitektural tanah air, ketiadaan menara ini sudah menjadi pakem bagi masjid tradisional Indonesia namun dibalik semua itu ada makna filosofis yang mendalam.

Ketiadaan menara pada bangunan masjid masjid tua tersebut kait mengait dengan tradisi tanah jawa yang menjungjung tinggi ewuh pakewuh. Keberadaan menara yang memang pada masa awalnya merupakan tempat muazin mengumandangkan azan akan memposisikan muazin yang berada di menara lebih tinggi dari seluruh jemaah yang ada di dalam masjid termasuk Raja dan para petinggi kerajaan lainnya. Hal tersebut dianggap tidak sopan.

Karenanya masjid masjid tua tanah Jawa hampir seluruhnya tidak dilengkapi dengan menara. Menara di Masjid Agung Demak pun dibangun belakangan bukan merupakan komponen asli yang dibangun sejak awal pembangunan masjid. Seiring dengan telah dikembangkannya perangkat pengeras suara, muazin tak perlu lagi menaiki menara pada saat akan mengumandangkan azan cukup pengeras suaranya yang disimpan di menara sedangkan azannya dilantunkan muazin dari dalam masjid.

Bersambung ke bagian-4