Selasa, 27 Maret 2012

Masjid An-Nawier di Pekojan

Masjid An-Nawier salah satu masjid tertua di Jakarta yang berada di kawasan Pekojan.

Pekojan, tempat Masjid ini berada, bersama tetangganya Glodok merupakan kampung tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 18. Sampai tahun 1950-an keturunan Arab merupakan mayoritas penduduk Pekojan. Sebelum dihuni etnis Arab yang datang dari Hadramaut (propinsi di Republik Yaman), Pekojan lebih dulu bermukim orang Benggali dari India. Kata Pekojan sendiri berasal dari kata “Koja” sebutan untuk muslim India yang datang dari Bengali. 

Meskipun keturunan arab kini minoritas di Pekojan tapi sejumlah mushola dan masjid yang mereka dirikan ratusan tahun lalu masih terlihat di kampung ini. Salah satunya adalah Masjid Jami' Annawier yang dididirkan tahun 1760, atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibagian belakang masjid ini terdapat makam Syarifah Fatimah yang menyumbangkan lahan untuk membangun masjid tersebut dan makam tokoh tokoh Islam lainnya. Masjid ini pada abad ke 18 diperluas oleh Sayid Abdullah Bin Hussein Alaydrus seorang muslim tuan tanah kaya raya yang namanya di abadikan menjadi jalan Alaydrus di tempat ia tinggal di Batavia. 

Di masjid inilah tempat Habibb Usman Bin Yahya, mufti Islam di Batavia mengajar. Habib kelahiran Pekojan 1238H dikenal produktif menulis buku buku agama. Diantara 50 buku karangannya masih digunakan di pengajian pengajian. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Habib Ali Alhabsyi atau lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang, yang kurang lebih seabad lalu mendirikan majelis taklim Kwitang.

Lokasi Masjid An-Nawier

Masjid Annawier
Jalan Pekojan Raya No. 71 Gg. II
Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora
Jakarta Barat 11240 - INDONESIA





Sejarah Masjid An-Nawier

Nama An-Nawier yang menjadi nama Masjid ini memiliki makna “cahaya”, Bisa jadi para pendirinya dulu berharap agar masjid yang berada ditengah perkampungan Pekojan ini  diharapkan bisa memberi cahaya bagi umat Islam di tanah air. Masjid tua dan bersejarah ini kini masuk dalam daftar bangunan bersejarah yang dilindungi dengan pengesahan berupa SK. Mendikbud R.I. No. 0128/M/1988

Berdasarkan catatan sejarah yang ada di Masjid Jami’ Annawier, disebutkan bahwa Masjid Jami’ Annawier pertama kali berdiri tahun 1760M bertepatan dengan tahun 1180H berupa sebuah surau kecil yang diketuai oleh Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825M. Kemudian diteruskan oleh Komandan Dahlan tahun 1825-1860M. Daeng Ustman, adalah salah seorang pedagang yang menggunakan sungai Pekojan sebagai jalur transportasi dagangnya. Kemudian beliau berinisiatif mendirikan masjid, sehingga dibangunlah masjid ini.

Menara masjid Jami’ Annawier yang khas
mirip sebuah mercusuar.)
Salah satu sumber menyebutkan bahwa Komandan Dahlan adalah seorang utusan Kesultanan Banten yang membantu Fatahillah menyerang Belanda di daerah Sunda Kelapa. Dari kebiasaannya menggunakan ikat kepala dari kain tenun Banten yang disebut Koja lahir nama PeKOJAn. Hal tersebut sepertinya memang masih perlu digali lebih lanjut, mengingat Kesultanan Banten justru baru berdiri setelah Fatahillah memimpin pasukan gabungan dari Cirebon dan Demak berhasil menghancurkan Belanda di Sunda Kelapa atas perintah dari Raden Fatah (Sultan Demak) & Sunan Gunung Jati (Sultan Cirebon).

Makam Komandan Dahlan kini bisa dilihat di sebelah utara masjid yang dikelilingi batu pahatan besar. Di sekitar masjid pun ada beberapa makam-makam tua para ulama besar Kampung Pekojan. Konon Masjid Jami Pekojan ini dahulunya menjadi induk dari masjid-masjid sekitar Batavia.

Tahun 1897M Syarifah Kecil atau Syarifah Fatimah binti Husein Al Idrus mewakafkan tanah miliknya untuk keperluan pembangunan Masjid. Dan pada tahun 1926 masjid ini diperluas dan diperindah oleh Sayid Abdullah bin Husein Alaydrus, beliau merupakan seorang muslim kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda.

Mimbar tua di masjid Jami’ Annawier, 
hadiah dari Sultan Pontianak
Pengurusan Masjid ini berlanjut oleh beliau hingga tahun 1943 bersama Syech Abdurrahman bin Muhammad Baktsir, Sayid Alwi Bin Abdullah Alaydrus, H. Abdul Mu’thi bin H. Musyaffa’, Sayid Hasym bin Abdullah Alaydrus, H. Muhammad Tosim, Sayid Muhammad bin Achmad Alaydrus.

Pada periode tahun 1945-1967 kepengurusan masjid dipegang oleh H. Saleh Bajere, A. Somad Bachtiar, Muhana Bin Idan, H. Usman (Banjar), H. Abdul Karim dan Sa’iyan. Periode tahun 1967-1974 dipegang oleh H. Roji’un, Abdurrahman AlJufrie dan Mahmud Samandi. Periode tahun 1974-2000 dipegang oleh Sayid Abdurrahman Bin Idrus Al-Jufrie dan H. Mahmud Samandi. Sedangkan kepengurusan sejak tahun 2001 hingga saat ini dipegang oleh H. Torik Saleh, Ahmad Hasan, Abdul Azi Ahmad dan H. Solihin.

Sumber lain menyebutkan bahwa pada saat terjadi perang Dipenogoro pada tahun 1825-1830, seorang ulama bernama Habib Ustman Bin Yahya, bersama KH Nawawi, memperbaiki dan memerluas masjid, dari 400 meter persegi, sampai 800 meter persegi. Selain membangun dan memperluas masjid, Usman dan Nawawi kemudian memperbaiki arah kiblat masjid ini yang terjadi sedikit menjadi menyerong bukanlah lurus seperti bentuk bangunan gedung masjid atau sejajar dengan pilar yang terdapat di dalam gedung.

Mesjid An Nawier ini merupakan salah satu masjid tempat mengajar Habib Usman Bin Yahya, pengarang sekitar 50 buku (kitab kuning) berbahasa Melayu Arab gundul. Ia pernah diangkat sebagai mufti Betawi pada 1862 (1279 H). Salah seorang muridnya adalah Habib Ali Alhabsji (meninggal 1968) yang mendirikan Majelis Taklim Kwitang serta Masjid Arriyadh di Kwitang.

Elaborasi Sejarah Masjid An-Nawier & PeKOJAn

Penyerangan Sunda Kelapa oleh Fatahillah berahir gemilang pada tanggal 22 Juni tahun 1527, sementara Komandan Dahlan meneruskan pembangunan masjid An-Nawier pada tahun 1825-1860, terpaut waktu setidaknya 298 tahun diantara kedua peristiwa tersebut. Pembangunan masjid An-Nawier sendiri baru dimulai tahun 1760 atau terpaut sekitar 233 tahun setelah kemenangan Fatahillah atas Sunda Kelapa. Sepertinya pendapat yang mengatakan bahwa Komandan Dahlan adalah seorang utusan Kesultanan banten yang membantu Fatahillah menyerang Belanda di Sunda Kelapa adalah sangat lemah.

Interior Masjid An-Nawier

Ditambah lagi fakta sejarah bahwa Fatahillah berhadapan dengan Portugis di Sunda Kelapa, bukan berhadapan dengan Belanda. Fatahillah wafat pada usia 99 tahun di sekitar tahun 1570, atau kira kira 43 tahun setelah kemenangannya di Sunda Kelapa dan mendirikan Jayakarta, beliau dimakamkan di Astana Gunung Jati bersebelahan dengan sahabat sekaligus mertuanya, Sunan Gunung Jati. Maknanya bahwa Fatahillah telah wafat sekitar 190 tahun sebelum Masjid An-Nawier mulai dibangun Daeng Usman Bin Rohaeli sampai tahun 1825M, baru kemudian pembangunannya diteruskan oleh Komandan Dahlan.

Dari rangkaian sejarah tersebut menunjukkan bahwa Komandan Dahlan bukanlah utusan Fatahillah. Bisa jadi beliau memang berasal dari Kesultanan Banten yang memang tidak pernah mengakui kekuasaan Belanda atas Jayakarta (Batavia). Sejarah juga mencatat bagaimana orang orang Islam Banten memberikan perlindungan kepada orang Tionghoa yang melarikan diri dari pembunuhan Massal oleh pasukan VOC Belanda tahun 1740 atas perintah Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741) sampai kemudian bersama sama mendirikan Masjid Jami Al-Anwar Angke di tahun 1761.

Hal menarik lainnya tentang sejarah Pekojan, Fatahillah dan Benten. Disebutkan bahwa nama Pekojan berasal dari kata KHOJA yang merupakan nama kain ikat kepada orang orang Banten. Sejarah tutur tersebut sangat jelas menunjukkan bahwa kawasan tersebut di masa penjajahan Belanda memang banyak orang orang muslim Banten yang beraktivitas disana. Dan lebih menarik lagi bahwa Fatahillah dikenal dengan banyak nama salah satunya adalah Laksamana KHOJA Hasan.

Tahun pembangunan masjid ini tertulis dengan jelas di atas pintu masuk Masjid (foto atas), kubahnya berbentuk bundar (lihat foto segoro, serta bgaian terasju.

Nama beliau lainnya adalah Tubagus Pasai, Wong Agung Pasai, Fadhilah Khan, bahkan ada juga yang menyebut beliau sebagai Sunan Gunung Jati II karena memang pernah menggantikan sementara waktu kedudukan Sunan Gunung Jati Sebagai Sultan Cirebon, serta karena faktor kedekatan beliau secara pribadi dengan Sunan Gunung Jati. Saking dekatnya bahkan kadangkala terjadi salah kaprah dengan menyebut beliau sebagai tokoh yang sama dengan Sunan Gunung Jati, padahal diantara keduanya adalah dua tokoh yang berbeda. Tentunya menjadi menarik untuk merunut lebih jauh lagi.

Arsitektural Masjid An-Nawier

Masjid An-Nawier mempunyai arsitektur indah dan khas. Kekhasan terlihat dari perpaduan gaya Timur Tengah, Cina, Eropa, dan Jawa. Tidak terdapatnya kubah merupakan bentuk pengaruh masjid di Timur Tengah, tepatnya Hadramaut (Yaman Selatan). Kita dapat menyaksikan ornamen khas Cina menempel di pintu-pintu masjid dan bentuk konstruksi daun jendela beraksen Jawa. Sangat menarik karena pembangunan masjid ini melibatkan kontraktor China dan Moor di Batavia.

Memasuki ruang utama, terlihat jelas pada tiang penyangga berbentuk silinder bercat putih khas Eropa. Dalam ruang utama berbentuk huruf L tersebut berdiri kokoh 33 pilar besar. Jumlah pilar sesuai jumlah dzikir yang biasa dibaca umat Islam setelah selesai shalat. Sebelum diperluas, masjid di pinggir kali Angke itu hanya memiliki 11 tiang. Jika dilihat dari dalam, masjid tua di perkampungan padat penduduk tersebut berbentuk huruf L. Yang diperluas itu bagian belakang dan samping untuk disesuaikan dengan bentuk tanah.

Pilar pilar besar di dalam masjid An-Nawier

Bagian depan ruang utama terdapat dua mimbar tempat berkotbah. Salah satunya hadiah dari Sultan Pontianak pada abad 18 Masehi. Di dinding dekat mimbar terdapat tulisan Arab dengan arti: “Inilah mimbar tempat menyampaikan penerangan-penerangan agama dan nasihat yang benar”.

Luas bangunannya sekitar 1.983 meter persegi berdiri di atas areal tanah seluas 2.520 m2, dan dapat menampung sekitar 2.000 jamaah. Hingga saat ini, Masjid An-Nawier merupakan masjid terbesar di Jakarta Barat. Karena terkenal paling besar dan tua di daerah Pekojan, maka masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Pekojan. Masjid mempunyai menara mirip mercusuar dengan tinggi 17 meter, berdiri kokoh di bagian luar. Konon, pada masa perjuangan kemerdekaan, menara ini sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang dari kejaran tentara penjajah.

Secara umum, hampir semua bangunan masjid mempunyai jumlah sesuai perhitungan dalam ibadah umat Islam. Misalnya, tiang di ruang serambi masjid berjumlah 17, melambangkan jumlah rakaat dalam shalat. Lima pintu dari arah barat ke timur melambangkan rukun Islam, sedangkan enam jendela pada bagian selatan melambangkan rukun Iman. Secara keseluruhan, masjid ini ditopang oleh 99 pilar, melambangkan jumlah asmaul husna (nama-nama baik) kepunyaan Allah SWT.***

Senin, 26 Maret 2012

Masjid Cut Meutia – Jakarta

Masjid Cut Meutia berlatar belakang gedung gedung pencakar langit kota Jakarta.

Masjid Cut Meutia di Kawasan Menteng Jakarta Pusat ini memang tidak tampak seperti bangunan masjid pada umumnya. Karena memang awalnya bukanlah dibangun untuk keperluan sebuah masjid. Menengok jauh ke belakang tentang sejarah perjalanan masjid Cut Meutia, akan sedikit membuat kita terperangah betapa gedung ini awalnya adalah kantor arsitek dan Jenderal Belanda yang sedang membangun kawasan Elit Nieuw Gondangdia bagi orang orang kaya Belanda di Batavia.

Bangunan Masjid Cut Meutia merupakan bangunan alih fungsi dari gedung Bouwploeg warisan kolonial Belanda di kawasan Gondangdia yang kemudian di-alih-fungsikan menjadi sebuah masjid tanpa mengubah bentuk aslinya melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta. Proses Peralihan tersebut bukanlah perkara mudah dan memakan waktu cukup lama sampai ahirnya resmi menjadi Masjid Cut Meutia hingga hari ini.

Lokasi dan Akses ke Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia
Jl. Cut Meutia No.1, Jakarta Pusat
DKI Jakarta – Indonesia




Untuk mencapai masjid ini cukup mudah. Dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum. Dengan angkutan umum dapat menaiki bus kopaja P20 lalu turun di stasiun kereta Gondangdia dan masjid ini berada di depannya. Jika dari Kampung Melayu dapat naik kopaja yang jurusan Tanah Abang (P502) lalu turun di perempatan cikini (depan kantor pos lama) lalu jalan kaki menyusuri jalan Cut Meutia.

Sejarah Masjid Cut Meutia

Gedung De Bouwploeg

Pada awalnya Masjid Cut Meutia adalah gedung kantor biro arsitek (sekaligus pengembang) N.V. (Naamloze Vennootschap, atau Perseroan terbatas) De Bouwploeg, perusahaan yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1879 untuk membangun perumahan (pemukiman) bagi masyarakat Belanda di Batavia kelas menengah atas di kawasan Menteng. Lahan untuk membangun perumahan dibeli oleh Kotapraja dan kemudian dijual kepada orang-orang Belanda. De Bouwploeg artinya "Kelompok Membangun", Kegiatannya adalah memberikan jasa kepada orang-orang Belanda dari kalangan atas yang bermaksud memiliki rumah mewah, khusus di Menteng dan Gondangdia dengan nama Nieuw Gondangdia (kini terkenal dengan kawasan Menteng).

Perusahaan Belanda itu mempelopori pembangunan pemukiman yang tertata dengan mengadaptasi konsep kota taman karya Ebenezer Howard. Perusahaan tersebut dikepalai oleh seorang arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen (1879 - 1955). Dari gedung inilah dirancang kawasan pemukiman Menteng yang terbentang dari Jl. Gondangdia sampai JI. Diponegoro (Oranjelaan) dan JI. Imam Bonjol (Nassaulaan). Perusahaan yang dipimpin oleh P.A.J. Moojen ini, pailit pada tahun 1925 dan membuat gedung ini tidak dipergunakan kembali sebagai kantor biro arsitek.

Masjid Cut Meutia memang bukan bangunan yang dibangun sebagai masjid. Pada awalnya gedung tersebut dikenal sebagai gedung Bouwploeg tempat berkantornya para arsitek yang bekerja untuk perusahaan NV Bouwploeg.

Alih Fungsi Gedung De Boeploeg

Sebelum di-aluh-fungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942 - 1945). Di Era Kemerdekaan, pada tahun 1959 sampai 1960, bangunan tersebut pernah dijadikan kantor Wali kota Jakarta Pusat, lalu beralih fungsi menjadi kantor PAM, kantor Dinas Urusan Perumahan Jakarta, hingga menjadi Kantor Urusan Agama (1964 - 1970).

Pernah juga menjadi kantor MPRS di zaman A.H. Nasution. Ketika MPRS pindah ke daerah Senayan (sekarang Gedung MPR-DPR) gedung tersebut diwakafkan kepada anggkatan 66 untuk digunakan sebagai tempat beribadah. Eksponen angkatan 66 seperti Akbar Tanjung dan Fahmi Idris yang kemudian mendirikan Yayasan Masjid Al-Jihad dan mempungsikan bangunan ini sebagai Masjid meski belum bernama Masjid Cut Meutia.

Senja di Masjid Cut Meutia.

Perubahan fungsi gedung ini menjadi masjid tak lepas dari peran A.H. Nasution. Berawal dari pemikiran warga yang ingin memiliki masjid di kawasan itu. Mereka mendatangi Jenderal A.H. Nasution sebagai Ketua MPRS dan meminta Gedung Bouwploeg bisa dialih fungsikan jadi sebuah masjid. Permintaan itu disetujui oleh Wakil Gubernur Dr. Soewondo, dan jadilah masjid dengan nama Masjid Cut Meutia, karena terletak di Jl. Cut Meutia dan hingga kini dikelola oleh Yayasan Masjid Cut Meutia. Tekanan dari berbagai pihak termasuk dari Gubernur Ali Sadikin ahirnya keluar surat keputusan nomor Gubernur DKI Jakarta Nomor 5184 tanggal 18 Agustus 1987 menetapkan-nya sebagai masjid tingkat provinsi dan mengganti namanya menjadi Masjid Cut Meutia, di masa Gubernur DKI di jabat oleh Wiyogo Atmodarminto.

Jendral Abdul Haris Nasution
(biasa dipanggil Pak Nas)
Lika liku Politik di Masjid Cut Meutia

Di masa Presiden Suharto berkuasa masjid Cut Meutia sempat menjadi masjid sorotan oleh aparat pemerintah rezim berkuasa. Di masjid inilah ditandatanganinya Petisi 50, sebuah protes beberapa kalangan yang tidak setuju dengan kebijakan Presiden Soeharto waktu itu. Pada kurun tahun 1980-an, Pemerintahan Orde Baru dibawah kepemimpinan Pak Harto memaksakan ideologi negara harus Pancasila sebagai asas tunggal. Ini yang kemudian mendapat kritik dari para anggota Petisi 50, salah satunya termasuk A.H. Nasution. Karenanya, sempat terjadi perselisihan antara A.H. Nasution dan Soeharto dan berimbas pada Masjid Cut Meutia.

Masjid Cut Meutia sempat mengalami tekanan bagi para pengurus Masjid sehingga pergerakan apa pun bahkan khotbah-khotbah para imam pun diawasi secara militer oleh Kopkmbtib, yang saat itu dikepalai oleh Jendral Sudomo. Dikirimkan intel-intel untuk mengawasi para khotib yang berprinsip ingin menggerakkan Islam secara kaffah. Setelah selesai ceramah dibawa ke kantor Kodim, kemudian diinterograsi dan ditekan secara psikologis.

14 Juni 1991 Masjid Cut Meutia menjadi perhentian pertama kali dari rombongan haji presiden Soeharto dan istrinya, Tien Soeharto beserta keluarga yang mendarat di Bandara Halim Perdana Kusumah. Sekitar pukul 11 siang, mereka tiba ke Masjid Cut Meutia, untuk melakukan sujud syukur. Mengingat Masjid Cut Meutia adalah masjid terdekat dengan kawasan Cendana – Menteng, tempat kediaman Keluarga Pak Harto.

Di masjid ini juga Jenderal (Purnawirawan) A.H. Nasution pernah mengumpulkan para imam masjid dan jemaah untuk mendoakan kesehatan Soeharto ketika beliau mulai terpuruk dari panggung kekuasaan dan mulai jatuh sakit. Semasa hidupnya masjid ini menjadi tempat pavorit-nya Pak Nas untuk beri’tikaf hingga ahir hayatnya. Perselisihan dua Jenderal Besar itu berawal dari masjid ini dan di masjid ini juga semuanya kemudian pudar dan berahir.

Interior Masjid Cut Meutia. Karena memang awalny tidak dibangun sebagai masjid sehingga wajar bila orientasi bangunannya tidak terhadap kiblat, sehingga sajadah yang dipasang didalam masjid ini miring terhadap arah gedung.

Renovasi dan Perbaikan Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia dibawah dinas museum dan sejarah karena sejak tahun 1961 resmi menjadi gedung yang dilindungi menjadi gedung sebagai cagar budaya. Peruntukannya dapat berubah, namun bentuknya bangunan tidak boleh diubah hanya boleh direnovasi.

Pada tahun 1984 , dilakukan renovasi besar-besaran. Untuk memberikan kesan luas, sebagian anak tangga dipotong dan dipindahkan keluar. Selain itu arah kiblat dimiringkan 15 derajat ke arah kanan. Perombakan juga terjadi pada mihrab (tempat imam) dan mimbar. Keduanya dibuat 15 meter menjorok ke depan. Mihrab terpisah dari tempat mimbar. Genteng yang semula sirap diganti menjadi genting beglazur. Lantai pun dipasangi marmer.

Semula Masjid Cut Meutia tidak mempunyai halaman ataupun tempat parkir. Namun atas usaha Edi Marzuki Nala Praya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, kala itu, taman yang berada di depan Masjid Cut Meutia yang semula milik dinas pertaman, dibagi menjadi sehingga Masjid Cut Meutia pun mempunyai halaman.

Lokasinya yang berada dikawasan elite menteng, tak heran masjid ini seringkali disebut oleh masyarakat sebagai masjidnya para pejabat.

Masjid para pejabat

Letaknya yang berada di kawasan elit, membuat banyak pejabat yang menjadi jamaah pada masjid tersebut. Herry mengatakan, pejabat-pejabat biasanya akan berkumpul saat shalat Jumat. Pak Boediono (wakil presiden) rutin melakukan shalat jumat di sini. Selain Boediono, para Duta Besar dari negara tetangga dan panglima-panglima TNI juga kerap beribadah di Masjid tersebut.

Keunikan Masjid Cut Meutia

Perubahan fungsi gedung de Bouwploeg  menjadi sebuah masjid menyebabkan penyesuaian terhadap ruangan dan bagian bangunan, diantaranya ruangan untuk kepengurusan masjid serta bagian bangunan seperti pintu, jendela, lantai, dan atap bangunan. Selain itu, terdapat penambahan bangunan seperti tempat wudhu, koperasi, aula dan pos keamanan.

Karenanya Masjid ini memiliki keunikan tersendiri dan kemungkinan tidak terdapat di masjid-masjid lainnya. Salah satu keunikannya, mihrab dari masjid ini diletakkan di samping kiri dari saf salat (tidak di tengah seperti lazimnya). Selain itu posisi safnya juga terletak miring terhadap bangunan masjidnya sendiri karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.

Gedung Masjid Cut Meutia ini dibangun (sebagai gedung de Boeploeg) tahun 1879 dengan gaya arsitektur Art Nouveau ini berlantai dua dengan bagian atas menara berbentuk persegi empat. Pada tiap sisinya mempunyai tiga buah jendela kaca yang menjadi ciri khasnya.

Masjid Cut Meutia.

Di masjid ini dulunya terdapat sebuah sirene yang berada di atas gedung yang berfungsi bila ada bahaya. Berat sirene kurang lebih 3 ton dan suaranya akan terdengar sampai ke daerah Gunung Sahari. Pada saat pemugaran tahun 1986/1987, sirene itu dihilangkan karena dikhawatirkan membahayakan masjid ini.

Untuk membuat bangunan ini tampak benar-benar seperti masjid maka masjid cut mutia ini dibuat kaligrafi disekeliling dinding di bangunan dalamnya, kaligrafi-kaligrafi ini dibuat dengan oleh M. Yusuf pada tahun 1985 yang diterbangkan langsung dari brunei darussalam, M. Yusuf juga seorang pelukis kaligrafi di istana Nurul Iman Milik Sultan Brunai, Sultan Hanasal Bolkiah di kota Bandar Sri Begawam, Brunai Darussalam.

Didalam masjid ini juga terdapat tempat itikaf Jendral Abdul Haris Nasution (biasa dipanggil Pak Nas), sejak pada masa Pak Nas memperjuangkan masjid Cut meutia hingga menjelang akhir hayatnya, sampai sekarang tempat itikaf ini sering digunakan oleh masyarakat luas ataupun pengikut beliau. Tempat I’tikaf ini terbuat dari kayu jati yang dipesan langsung ke Jepara oleh sahabat Pak Nas yaitu Bapak Newton Rassat pada tahun 1990. Disekeliling kayu ini dihias dengan ukiran ayat-ayat al-quran.

Aktivitas Masjid Cut Meutia

Masjid Cut Meutia juga sering mengadakan kegiatan sosial keagamaan, apalagi selama bulan Ramadhan. Tiap tahun menyelenggarakan kegiatan bhakti sosial dan santunan kepada anak yatim piatu dan anak anak panti asuhan. Semua acara yang didaulat di mesjid ini biasanya diselenggarakan sendiri oleh Pengurus Masjid atau Remaja Mesjid yang lebih dikenal dengan sebutan RICMA.***

Minggu, 25 Maret 2012

Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso, Dibangun Dari Lumpur

Masjid Agung Dioulasso - Burkina Fasso
TAK TAMPAK SEPERTI MASJID. TAPI INI BENAR BENAR MASJID, MASJID AGUNG BOBO DIOULASSO DI BURKINA FASO. AFRIKA BARAT. MASJID YANG DIBANGUN DARI LUMPUR.
Republik Burkina Faso salah satu Negara Afrika yang benar benar tidak familiar bagi telinga kebanyakan orang Indonesia. Negeri ini memang berada begitu jauh dari Indonesia, di Afrika Barat. Nama ibukota Negara ini pun benar benar terasa aneh di telinga orang Indonesia ::: Kota Ouagadogou::: di kota Bobo Dioulasso, kota terbesar kedua di Burkina Faso setelah kota Ouagadogou terdapat sebuah Masjid Tua yang dibangun dari lumpur khas Afrika, menjadikan Burkina Faso sebagai salah satu Negara Afrika yang memilki masjid tua sejenis ini. Kota Bobo Dioulasso. Kota ini berjarak sekitar 360 KM dari kota Ouagadogou.

Tentang Burkina Faso

Burkina Faso adalah sebuah negara di Afrika Barat yang terkurung daratan (landlocked). Negara ini berbatasan dengan Mali di sebelah utara; Togo dan Ghana di selatan; Niger di timur, Benin di tenggara; dan Pantai Gading di barat daya. Dahulu bernama Upper Volta atau Hulu, Presiden Thomas Sankara mengganti nama negara ini menjadi 'Burkina Faso' (dalam bahasa Dioula dan More: "Negara Orang Jujur") pada 4 Agustus 1984. Ibu kota Burkina Faso adalah Ouagadougou (lafaz: Wagadugu), disebut "Waga" oleh penduduk setempat.

Lokasi Negara Burkina Faso di Benua Afrika.

Pada 1896, kerajaan Mossi dari Ouagadougou menjadi protektorat Prancis. Pada 1898, bagian utama dari kawasan yang kini menjadi Burkina ditaklukkan. Pada 1904, daerah-daerah itu bergabung dengan Afrika Timur Prancis dalam koloni Senegal-Niger Hulu. Penduduknya ikut serta dalam PD I dalam batalion Infantri Senegal. Pada1 Maret 1919, Edouard Hesling menjadi gubernur pertama di koloni Volta Hulu yang baru itu. Koloni itu dibongkar pada 5 September 1932, dan daerahnya dibagi antara Pantai Gading, Mali, dan Niger. Pada 4 September 1947 Volta Hulu diciptakan kembali dari perbatasannya pada 1932. Pada 11 Desember 1958 menjadi republik dan bergabung dengan Masyarakat Prancis-Afrika dan mendapatkan kemerdekaan pada 5 Agustus 1960.

Burkina Faso Dalam Angka

Burkina Faso memiliki luas daratan 274,200km2 sedikit lebih besar dari luas propinsi Kalimantan Timur (204,534.34Km2) namun lebih kecil dari propinsi Papua (319,036.05Km2), berikut beberapa fakta tentang Burkina Faso dalam angka.

Keterbatasan sumber daya bahan bangunan, tak menghalangi muslim di Burkina Faso untuk membangun sebuah masjid agung, dan hasilnya sebuah masjid besar dari bahan utama lumpur dan batangan batangan kayu sebagai penguatnya.

Luas wilayah : 274 200 km²
Kepadatan : 44 jiwa/km²
Perbatasan darat : 3.192 km (Mali 1.000 km ; Niger 628 km ; Pantai Gading 584 km ; Ghana 548 km ; Benin 306 km ; Togo 126 km)
Daerah laut : 0 km
Ketinggian : + 200 m > + 749 m
Kemerdekaan : 5 Agustus 1960 (bekas koloni Prancis)
Penduduk : 13.200.000 jiwa (2005). 0-14 tahun : 47,5%; 15-64 tahun : 49,59%; + 65 tahun : 2,91%
Harapan hidup pria : 46 ans (en 2001)
Harapan hidup wanita : 47 ans (en 2001)
Tingkat pertumbuhan penduduk : 2,68% (2001)
Jalan : 12.506 km (sekitar 2.001 km beraspal) (1996)
Jalur KA : 622 km
Jumlah bandara : 33 (hanya 2 yang beraspal) (2000)

Islam di Burkina Faso

Merujuk kepada Wikipedia penduduk Burkina Faso mayoritas beragama Islam. Sebagaimana dilansir oleh pemerintah Burkina Faso sebagai hasil sensus penduduk tahun 2006 ditemukan bahwa 60.5% penduduk Burkina Faso beragama Islam. Sebagian besar dari muslim Burkina Faso adalah muslim suni dan hanya sangat sedikit yang berfaham suni. Pemeluk agama lain di Burkina Faso adalah Kristen 23.2% (Katholik Rhoma 19%, Berbagai aliaran Protestan 4,2%). 15.3% penduduk masih menganut ajaran kepercayaan tradisional, 0.6% menganut agama lain dan masih ada 0.4% yang tidak beragama sama sekali. Angka angka tersebut juga diamini oleh situs CIA the world factbook.

Begini suasana didalam masjid lumpur Bobo Dioulasso yang tampak seperti lorong lorong diantara tiang tiang besarnya yang semuanya terbuat dari lumpur.

Perkembangan Islam di Burkina Faso

Islam datang ke kawasan Afrika Barat termasuk di dalamnya Republik Burkina Faso dalam tiga gelombang. Pertama, abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua, abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat hingga abad ke-18. Terakhir, abad ke-19 ketika seorang pahlawan Muslim asal Mali, Samore Toure, menyebarkan Islam ke arah selatan Afrika.

Islam masuk ke Burkina Faso pada gelombang kedua melalui berbagai upaya yang dilakukan oleh warga suku bangsa Fulani, baik dengan cara damai maupun cara kekerasan - penulis Barat menyebutnya ‘kombinasi perang dan perdagangan’ - karena pada kenyataannya Mossi sebagai suku terbesar di Burkina Faso memang sangat gigih mempertahankan kepercayaan animisme hingga abad ke-19. Para pemimpin ini sangat menentang penyebaran Islam; namun pada akhirnya sebagian besar mereka memeluk Islam.

Banyak tokoh yang berperan penting dalam pemerintahan dan kemajuan Islam di Burkina Faso. Yousouf Ouedraogo Menteri Luar Negeri Burkina Faso, termasuk tokoh yang disegani. Islam makin berjaya di Burkina Faso ketika terjadi kekisruhan di Pantai Gading pada tahun 2002, karena salah satu tokoh kunci pihak oposisi adalah Allasane Dramane Ouattara ditengarai masih keturunan bangsa Burkina Faso, dan beragama Islam serta sangat cerdas. Akibat kisruhan tersebut, sekitar 350. Burkinabe yang mayoritas muslim lari ke Burkina Faso.

Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Sekurang-kurangnya ada hal dua yang diperjuangkan oleh umat Islam di Burkina Faso. Pertama, mengembalikan kejayaan Islam di tingkat pemerintahan pusat. Kedua, membendung kegiatan misionaris Kristen yang sangat agresif memurtadkan warga Muslim, antara lain dengan cara mendirikan stasiun radio di seantero Burkino Faso. Sasaran utama mereka adalah suku Fulani, yang dikenal sangat taat memegang teguh ajaran Islam.

Lembaga keagamaan di Burkina Faso The Ahlul Barr Society, mempunyai peran penting untuk membendung kegiatan kristenisasi tersebut. Beberapa di antaranya adalah EI-Hajj Oumarou Kanazae seorang pengusaha terkenal, Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu dan Al-Haji Sakande, tercatat sebagai tokoh Muslim Burkinabe yang aktif mengibarkan kejayaan Islam di Burkina Faso.

Tentang Kota Bobo Dioulasso

Kota Dioulasso merupakan ibukota kuno Burkina Faso dengan penduduknya saat ini ada sekitar 300,000 jiwa. Meskipun merupakan kota terbesar kedua di Burkina Faso kota ini kini menghadapi penurunan ekonomi, namun belakangan ini mengalami kemajuan pesar dibidang animasi, music dan aneka kerajinan yang hadir disana. Nama Bobo Dioulasso sendiri bermakna “rumah bagi Jula yang berbicara dalam bahasa Bobo” sebuah nama yang kemungkinan lahir dari ketidakmampuan bangsa prancis yang menjajah Burkina Faso dalam menentukan identitas dari lokasi tersebut yand begitu komplek.

Masjid Agung Bobo Dioulasso, Burkina Faso

Masjid Masjid Agung Bobo Dioulasso

Masjid Tua Bobo Dioulasso atau dalam bahasa Prancisnya disebut grande mosquée de Dioulassoba atau Masjid Agung Dioulasso, adalah Masjid kuno ini bercirikan arsitektural Banco Sudaness. Merupakan warisan dari abad ke 19. Balok balok kayu masih menjadi andalan untuk membangun masjid di kawasan utara Burkina Faso hingga wilayah selatan Mali dan Nigeria hingga ke Bani, Bankas atau Djene di Republik mali. Seperti telah disebutkan dalam artikel sebelumnya tentang Masjid Agung Djene di Mali, masjid agung Djene merupakan masjid dengan ukuran terbesar yang pernah dibangun dari bahan lumpur dan batangan batangan kayu.

Masjid ini dibangun ditengah konflik antara Sya dan Kanedougou. Raja Sya tidak mampu melakukan serangan terkini sehingga melakukan perundingan dengan kaum muslimin, dan sebagai imbalannya dia membangun masjid ini. beberapa sumber menyebutkan bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1880 namun sumber yang lain menyebutkan dibangun pada tahun 1893. Disebutkan juga bahwa masjid ini dibangun tidak saja oleh ummat islam tapi dibantu oleh berbagai ummat yang ada di kota tersebut bahu membahu membangun masjid ini.

Lokasi Masjid Agung Bobo Dioulasso

Masjid Tua Bobo Dioulasso berada di rue Sadiki Sanou, Bobo-Dioulasso, hauts-Bassins Region, Houet Province, Republik Burkina Faso
Koordinat geografi : 11° 10' 40.26" N  4° 17' 45.88" W


Masjid Agung Bobo Doulasso ini memang unik, dibangun ditengah gurun dengan bahan lumpur bertulang kayu kayu dari alam sekitarnya menghadirkan kesederhanaan bangunan gurun Afrika Barat dalam arsitekrutalnya yang unik. Keunikan dan nilai sejarahnya yang tinggi itu tak urung menjadikan masjid ini sebagai salah satu objek wisata yang begitu menarik bagi turis asing yang tak segan segan menempuh perjalanan jauh ratusan kilo dari kota Ougadogou.

Dibangun dalam gaya Sahel lengkap dengan dua menaranya masing masing di sisi mihrab dan pintu masuk utama. Seperti bangunan masjid lumpur Afrika Barat lainnya masjid agung Bobo Doulasso juga dilengkapi dengan batangan batangan kayu yang menyembul keluar dari dinding lumpurnya yang selain berfungsi sebagai penguat bangunan tapi juga berfungsi sebagai tangga naik dan turun bagi para pekerja yang memperbaiki masjid ini dari kerusakan akibat gerusan hujan sepanjang tahun.

Masjid Agung Bobo Dioulasso di-abadikan dalam
prangko pantai gading semasa jajahan Prancis.
Pemandangan masjid ini memang begitu mengagumkan bagi para turis asing terutama pada saat matahari tenggelam. Sorotan cahaya matahari senja yang menerpa permukaan dinding lumpurnya menghadirkan perpaduan warna yang begitu menarik dengan warnanya yang ke emasan dibawah terpaan sinar matahari senja yang memerah, menarik perhatian kaum muslimin yang melintas untuk sekedar singgah sebentar menunaikan sholat berjemaah bersama muslim setempat. Begitu pula bagi turis asing non muslim yang rela menghabiskan waktu untuk sekedar menikmati sejenak keindahan tersebut.***

Sabtu, 24 Maret 2012

Masjid King Fahd di Banjul, Gambia

Masjid King Fahd / King Fahad Mosque / The Central Mosque of Banjul 

Masjid Raja Fahd di Banjul atau The Central Mosque of Banjul adalah Masjid Nasional Republik Gambia yang berada di pusat kota Banjul, Ibukota Republik Gambia. Gambia merupakan Negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Kota Banjul bukanlah kota terbesar di Gambia, namun merupakan Ibukota pemerintahan Negara, mengingat letaknya yang tepat berada di muara sungai Gambia yang mengalir ke Samudera Atlantik.

Republik Gambia berada di pantai barat benua Afrika, berada ditengah tengah Negara Senegal, wilayah Negara Gambia berada disisi kiri dan kanan Sungai Gambia dari hulu hinga ke hilir dengan lebar tak lebih dari 48km, menjadikannya sebagai Negara dengan wilayah terkecil di benua Afrika. Keseluruhan penduduk hanya 1.5 juta jiwa dan luas wilayah hanya seluas 11,295 km2 setara dengan luas propinsi Gorontalo (11,257 km2) di Pulau Sulawesi - Indonesia.

Republik Gambia, Memanjang disepanjang sisi kiri dan kanan sungai -
Gambia dengan lebar luas negara tak lebih dari 48Km.

Ada beberapa suku bangsa di Negara ini terdiri dari Mandika, wolof, Fula dan Jola yang secara turun temurun merupakan penganut Islam. 95% dari keseluruhan penduduk Gambia merupakan penganut Islam meskipun begitu kebebasan beragama dijamin di Gambia.

Tentang Gambia

Gambia memperoleh kemerdekaan dari Inggris tahun 1965 setelah sebentar membentuk Negara federasi Senegambia bersama Senegal antara tahun 1982 dan 1989. Di tahun 1991 kedua Negara tersebut menandatangani kesepakatan persahabatan dan kerjasama (a friendship and cooperation treaty) sebuah kudeta militer mewarnai Gambia di tahun 1996 menggulingkan presden dan melarang kegiatan politik.

Menara kembar masjid King Fahd Menjulang diantara bangunan di pusat
kota Banjul - Gambua.

Pada tahun 1996 diselenggarakan pemeilihan presiden dan konsitusi dilanjutkan dengan putaran pemungutan suara di parlemen tahun 1997 mengembalikan Negara tersebut kepada hokum hokum sipil. Di tahun 2001 dan 2002 Gambia menuelengarakan lagi putaran pemilihan presiden dan anggota legislatif dan kedua nya dimenangkan oleh pelaku kudeta Yahya A. J.J Jammeh sebagai presiden.

Ekonomi Gambia

Gambia memiliki sumber sumber daya alam berupa cadangan mineral dan sedikit sumber daya pertanian (ingat luas Negara ini memang tidak terlalu luas). Sekitar 75% dari penduduk Negara ini memang sangat tergantung pada cadangan bahan pertanian bagi kebutuhan hidup mereka. Industry manufaktur sekala kecil juga beroperasi dinegara ini terdiri dari pemrosesan kacang dan ikan. Angka pengangguran cukup tinggi di Negara ini, meskipun pemerintah berjanji untuk meningkatkan layanan umum dalam periode dua tahun mendatang meskipun dibayang bayangi depisit anggaran Negara.

Menara kembar Masjid King Fahd Banjul.

Gambia dalam Angka

Populasi : 1,797,860 (perkitaan Juli 2011 est.) Rangking dunia #148
Tingkat harapan hidup saat kelahiran : 63.51 years. World Rank #175
Kelompok Etnis : Afrika 99% (Mandinka 42%, Fula 18%, Wolof 16%, Jola 10%, Serahuli 9%, Etnis lainnya 4% dan non-Afrika 1%
Agama : Muslim 95%, Kristen, kepercayaan tradisional lainnya 5%
Bahasa: Bahasa Inggris (Resmi), Mandinka, Wolof, Fula, dan bahasa suku suku lainnya
Kemampuan baca tulis : 40.1% pria : 47.8% - wanita: 32.8%
Pendidikan dasar : 9 tahun

Lokasi Masjid King Fahad Banjul

Masjid King Fahd berada di Kota Banjul, Ibukota Republik Gambia. Di ruas Jalan Box Bar Road, berseberangan dengan tugu peringatan para pejuang tak di kenal di pusat kota Banjul.



Masjid King Fahd (The King Fahad Masjid) merupakan merupakan salah satu masjid terbesar dan dikenal luas di Gambia. Bangunan masjid yang dilengkapi dengan menara kembar mirip dengan menara masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah. Dua menara kembarnya yang begitu megah ini memberikan warna sendiri bagi langit kota Banjul. Arsitektural masjid ini memang mewakili arsitektural arab di Gambia mekipun juga menyerap beragam seni arsitetural Banjul.

Arsitektural modern pada masjid ini memberikan arti baru kepada gaya tradisional sebuah masjid. Pintu masuk utama masjid dilengkapi dengan bukaan lengkungan besar sedangkan bangunan menaranya merupakan bangunan menara dengan denah segi delapan. Sedangkan warna cerah yang dipakai pada masjid ini memberikan kesan mewah.

Masjid King Fahd Banjul

Masjid King Fahd di Banjul dibangun tahun 1988 menggantikan bangunan masjid yang dibangun tahun 1930. Masjid King Fahd di Banjul merupakan masjid utama di Ibukota Gambia itu dan mampu menampung lebih dari 6000 Jemaah sekaligus.

Pengurus Masjid King Fahd, Banjul – Gambia

Hasil pemilihan pengurus pada tanggal 10 Januari 2010 yang lalu susunan pengurus masjid King Fahd di Banjul ini adalah sebagai berikut :

Presiden Gambia sholat bersama masyarakat di Masjid King Fahd Banjul

Chairman : Alhagi Mustapha Ngum
Vice chairman : Alhagi Mustapha Njie of Taf Holding
Treasure : Lawyer Edi Sissoho as Treasurer,
Assistant Treasure : Alhagi Masamba Jobe
Secretary : Alhagie Sulayman Samba
Assistant Secretary : Alhagie Abdoulie Jallow,

Foto Foto Masjid King Fahd, Banjul - Gambia






Masjid King Fahd, Banjul - Gambia

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------