Senin, 10 September 2012

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan – Surakarta (bagian 1)

Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis, dulunya merupakan sebuah pura miliki ke ageng Beluk , kemudian berubah fungsi menjadi masjid pertama di kawasan ini setelah Ki Ageng Beluk masuk Islam di masa ke emasan kesultanan Pajang dibawah pimpinan Sultan Hadiwijaya.

Berdiri di atas Bekas Pura

Akulturasi budaya budaya Islam dan Hindu merupakan fakta sejarah di Pulau Jawa, bukti multikulturalisme itu bisa dilihat pada Masjid Ki Ageng Henis atau lebih dikenal sebagai Masjid Laweyan. Di kota Solo, Jawa Tengah. Masjid Laweyan berada di Kampung Batik Laweyan Solo ini menjadi bukti sejarah akulturasi Budaya Islam-Hindu, masjid itu sebelumnya merupakan bangunan pura. Namun, saat ini bekas bangunan pura sulit ditemukan, karena Masjid Laweyan sudah mengalami pemugaran berulang kali. Masjid Laweyan merupakan masjid tertua di Solo. Pendiri masjid ini merupakan sosok cikal bakal penerus takhta di tiga kerajaan di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Nama masjid ini diambil dari nama pendirinya, Ki Ageng Henis yang merupakan penasihat spiritual kesultanan Pajang. Pada masa nya Masjid Ki Ageng Henis merupakan pusat pembelajaran agama Islam bagi Kesultanan Pajang. Meski masjid ini merupakan masjid bersejarah milik Keraton Kasunanan Surakarta, namun saat ini kepengurusan hingga pemanfaatan masjid ini lebih di dominasi oleh jemaah masjid. Ritual ritual keratonpun jarang diselenggarakan di masjid ini. mengingat sejarahnya sebagai Masjid pertama di wilayah Surakarta, tak salah bila disebut bahwa masjid ini merupakan pintu masuknya Islam ke Surakarta.

Lokasi dan Alamat Masjid Laweyan

Masjid Ki Ageng Henis
Jl. Liris No1. Pajang Laweyan, Kampung Batik Laweyan
Dusun Belukan RT 4 RW 4, Kelurahan Pajang
Kecamatan Laweyan, Surakarta
Jawa Tengah – Indonesia





Nama Kampung belukan itu sendiri berasal dari kata beluk yang berarti asap. Konon dengan banyaknya rakyat yang memeluk agama Islam berdirilah sebuah pesantren yang pengikutnya banyak, karena banyaknya santri yang menjadi pengikut, maka pesantren ini tidak pernah berhenti menanak nasi dan selalu keluarlah asap dari dapur pesantren.

Kampung Batik Laweyang hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat kota Surakarta atau dari Jalan Slamet Riyadi. Lokasi yang mudah dijangkau dari arah manapun, menjadikan Kampung Laweyan mendapat tempat tersendiri dari para pengunjung. Sebutan Laweyan berasal dari kata "lawe", yang artinya benang dari pilinan kapas. Saat itu lawe banyak dihasilkan petani di daerah Pedan, Juwiring, dan Gawok. Daerah-daerah itu terletak di selatan Kerajaan Pajang.

Sebagai kawasan cagar budaya, dilokasi tersebut banyak ditemukan situs-situs bersejarah antara lain Masjid Laweyan, makan Laweyan, Langgar Merdeka, Langgar Makmoer, dan rumah H. Samanhudi (pendiri Serikat Dagang Islam). Kampung Laweyan didesain sedemikian rupa sebagai upaya untuk mempercantik kawasan dan nyaman bagi para pengunjung yang datang ke Kampung Laweyan.

Sejarah Masjid Laweyan

Awal mula berdirinya masjid itu tidak lepas dari pengaruh  Ki Ageng Henis (kakek dari Pakubuwono II) yang bersahabat baik dengan Ki Beluk, seorang Pemangku atau Pandhita Umat Hindu. Dari persahabatan itu, lambat laun Pemangku tersebut mulai tertarik mempelajari agama Islam yang ajarannya berasal dari Al Quran dan hadits. Ki Ageng Henis sendiri yang merupakan sahabat dari Sunan Kalijaga

foto ekterior dan interior masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis, yang merupakan masjid pertama dan tertua di Surakarta sekaligus sebagai pintu masuknya Islam ke kota tersebut. 

Setelah itu, Sang Pemangku itu langsung tertarik belajar agama Islam dan mengikrarkan diri memeluk agama Islam mengikuti jejak Ki Ageng Henis. Bangunan pura yang sebelumnya menjadi tempat ibadah agama Hindu langsung diserahkan ke Ki Ageng Henis untuk diubah menjadi bangunan langgar (mushola). Dalam perkembangannya, langgar itu kemudian berubah menjadi masjid.

Masjid Laweyan berdiri sejak tahun 1546, di masa Kerajaan Pajang jauh sebelum berdirinya Surakarta (1745M). Kerajaan tersebut merupakan cikal bakal kesultanan Mataram yang kemudian pecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Ngayogyakarta. (sejarah singkat kesultanan Mataram dapat dibaca di posting Masjid Agung Mataram Kotagede).

Masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis ::: Bangunan masjidnya bukanlah bangunan masjid mewah dan modern bukan pula masjid dengan ukuran besar. Masjid Laweyan memiliki sejarah yang tak ternilai harganya, peninggalan dari masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya atau biasa dikenal luas dengan nama Jaka Tingkir 

Ki Ageng Henis adalah Imam di keraton Kesultanan Pajang dimasa pemerintahan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Beliau merupakan keturunan Raja Majapahit dari silsilah Raja Brawijaya-Pangeran Lembu Peteng-Ki Ageng Getas Pandawa lalu Ki Ageng Selo. Sedangkan keturunan Ki Ageng Henis saat ini menjadi raja-raja di kraton Kasunanan dan Mataram.

Kawasan Laweyan memang terkenal sebagai sentra batik sejak masa kesultanan Pajang. Ketika Sultan Hadiwijaya berkuasa beliau mengangkat Danang Sutawijaya sebagai Syahbandar. Sutawijaya sendiri adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya. Sungai Sungai Kabanaran yang hanya beberapa meter dari masjid ini, kala itu menjadi urat nadi perdagangan kesultanan Pajang. Dan Masjid Ki Ageng Henis ini merupakan masjid resmi kesultanan Pajang.

Bersambung ke bagian 2

Minggu, 09 September 2012

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (bagian 3)

Beranda Masjid Agung Mataram Kotagede.

Arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede

Bangunan inti Masjid Kotagede merupakan bangunan Jawa dengan atap limasan. Sedangkan ruangan masjid ini terbadi dua yaitu inti dan serambi. Sebelum memasuki area Masjid, disebelah barat Masjid berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Diatas gapura ini terdapat sebuah hiasan Kala seperti halnya ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan candi kuno bergaya Hindu.

Di kiri kanan jalan menuju gapura Gapura Padureksa, berjajar sejumlah rumah tradisional Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong keturunan dari Nyai Peringgit, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman masjid. Selain Gapura Padureksa di sisi timur, masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan. Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten.

Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudhu di sebelah utara masjid. Memasuki halaman di depan serambi akan di temui beberapa pohon sawo kecik serta prasasti pembangunan Masjid berlambang Kasunanan Surakarta.

Bangunan Utama dan Bangunan Tambahan. Bangunan utama masjid berbentuk limasan yang terbuat dari batu bata, semen, pasir dan kayu. Bagian serambinya ditopang oleh 26 buah tiang kayu jati. Lantai serambi dari tegel abu-abu. Sedangkan, atap serambi yang berbentuk tumpang terbuat dari sirap. Di serambi ini tersimpan kentongan dan Beduk hadiah dari Nyai Peringgit.

Parit yang mengelilingi masjid Agung Mataram Kotagede.

Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong (wilayah di Kabupaten Kulon Progo). Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat. Beduk tersebut berukuran panjang 184 sentimeter dengan diameter 85 sentimeter sedangkan kentongannya berukuran panjang 114 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter.

Atap bangunan mesjid bertingkat dua. Atap tersebut terbuat dari kayu dan ditutup dengan genteng. Atap tingkat atas berbentuk segi tiga dengan sudutnya yang runcing. Sedangkan, atap tingkat bawah seperti segi tiga yang terpotong bagian atasnya. Puncak atap diberi mahkota yang disebut pataka. Sementara, bangunan tambahan yang terdapat dalam kompleks mesjid ini ada di sebelah utara bangunan induk. Bangunan tambahan ini dipergunakan sebagai tempat wudlu yang berukuran 3,47x2,20x1,94 meter dan dilengkapi dengan dua buah kamar mandi. Bangunan ini merupakan hasil perbaikan karena bangunan yang asli telah rusak.

Pintu Masjid. Pintu masuk masjid terdapat di sisi timur, utara dan selatan. Ada tiga pintu di sisi timur masjid semuanya terbuat dari kayu jati. Masing-masing pintu dilengkapi dua daun pintu. Pintu utama berada di tengah-tengah. Pada ambang atas pintu utama terdapat tulisan huruf Jawa yang sudah agak aus, namun masih dapat terbaca yang berbunyi : “kamulyaaken tahun Ehe ngademken cipto sawaraning jalmi”.  Masih ada lagi pintu masuk di sisi utara dan selatan masing-masing dua pintu yang juga terbuat dari kayu jati. Sedangkan dua pintu di sisi selatan menghubungkan ruang utama dengan tempat wudlu.

Interior Masjid Agung Mataram Kotagede dengan mihrab dan mimbarnya yang khas.

Ruang utama. Ruang Utama Masjid ini berukuran panjang 15,22x14,19 meter, ditopang oleh empat soko guru utama terbuat dari kayu jati. Lantai ruang utama ditutup ubin teraso berukuran 30x 30 sentimeter. Dindingnya terbuat dari tembok dengan delapan jendela, masing masing enam jendela dilengkapi dengan jeruji besi dan dua jendela dengan jeruji kayu. Di dalam ruang utama ini terdapat mihrab berukuran panjang 1,60x2,18x2,92 meter. Mihrab itu diperindah dengan tiang semu yang pada bagian atasnya mempunyai sekumpulan bingkai. Di atas bingkai ini terdapat papan dari kayu jati yang penuh dengan ukir-ukiran dengan motif sulur daun.

Mimbar Dari Palembang. Mimbar tua dari kayu berukir di diletakkan dibelah mihrab dalam masjid ini berasal dari Palembang, konon disebutkan bahwa pada saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati disana. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Mimbar tersebut berukuran 2,19x1,40x2,65 meter, berdiri di atas lapik yang tersusun bertingkat. Lapik paling bawah berukuran 2,50x1,30 meter. Di atasnya ada lapik yang lebih masuk ke dalam yang berukuran 2,30x1,15 meter, sedangkan yang paling atas berukuran 2,10x1,05 meter. Bagian bawah mimbar merupakan perpaduan pelipit. Pelipit yang pertama adalah pelipit rata dan di atasnya adalah pelipit padma.

Bagian tembok kuno Masjid Agung Mataram Kotagede.

Bangunan Pawetren. Di sisi selatan bangunan utama, terdapat ruang shalat khusus untuk jemaah perempuan (pawestren), berukuran 12,50 x 6,50 m. Lantai ruang pawestren dilapis dengan ubin teraso. Antara pawestren dan ruang utama dihubungkan sebuah pintu.

Makam di Komplek Masjid Kotagede. Di halaman masjid ini ada beberapa bangunan makam yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian depan yang disebut Prabayaksa, bagian tengah (Witana), dan bagian belakang (Tajug). Bangunan Prabayaksa dikelola oleh keraton Surakarta, sedangkan bangunan Witana dan Tajug dikelola oleh keraton Yokyakarta.

Di dalam bangunan Prabayaksa terdapat 64 makam yang salah satunya adalah makam Sultan Sedo Ing Krapyak. Di dalam bangunan Witana terdapat 15 makam yang di antaranya adalah makam Kyai dan Nyai Ageng Senopati, dan makam Ki Juru Mertani. Sedangkan, di dalam bangunan Tajug hanya terdapat tiga buah makam, yaitu: makam Nyai Ageng Enis, makam Pangeran Joyoprono, dan makam Datuk Palembang.

Makam yang terbagi dua. Selain makam-makam tersebut ada satu makam lagi, yaitu makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang letaknya sebagian di dalam dan sebagian lagi diluar bangunan Prabayaksa. Hal ini memberi makna bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang musuh, tetapi dalam hubungan keluarga ia diterima sebagai menantu Panembahan Senopati. Konon, sewaktu Ki Ageng Mangir akan dimakamkan, rombongan yang mengangkut jenazahnya tidak diperkenankan melalui gapura serta tidak boleh seluruh jasadnya dimakamkan di dalam kompleks masjid ini. Oleh karena itu, sebagian tembok yang berada di sisi utara kompleks masjid terpaksa dirobohkan untuk mengubur jasad Ki Ageng Mangir.

Benda Cagar Budaya .

Tembok yang mengelilingi bangunan masjid memiliki dua karakter yang berbeda karena memang dibangun oleh dua tokoh yang berbeda. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa, dibangun pada masa Sultan Agung tanpa bahan semen melainkan menggunakan perekat dari air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. merupakan hasil renovasi Paku Buwono X.

Aktivitas Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur'an, dan lain-lain.

Selain itu, masjid ini juga selalu dikunci rapat dan hanya akan dibuka ketika tiba menjelang waktu shalat. Dan setelah selesai waktu shalat pintunya akan kembali dikunci. Tujuannya, tidak lain adalah demi menjaga keamanan barang inventaris masjid. Karena, berdasar pengalaman, telah sering terjadi kasus kehilangan di dalam masjid. Mulai dari kitab Alqur’an hingga perangkat sound system atau peralatan pengeras suara.

Kembali ke Bagian 2
Kembali ke Bagian 1



Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (Bagian 2)

masjid Agung Mataram Kotagede

Catatan sejarah kekuasaan Sultan Agung, Raja terbesar Kesultanan Mataram terukir indah sebagai salah satu raja Jawa yang melakukan peperangan sengit melawan penjajahan Belanda. Beliau melakukan dua kali ekspedisi militer menyerang pusat kekuatan Belanda di Batavia. Meski dua serangan tersebut mengalami kegagalan namun jejak yang ditinggalkan masih dapat ditelusuri hingga kini terutama disekitar kota Batavia atau kini kita kenal sebagai kota Jakarta.
 
Beberapa kawasan dan masjid masjid tua di kota Jakarta tak dapat dilepaskan dari pasukan Kesultanan Mataram yang tergabung dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Sultan Agung ke Batavia. Diantaranya adalah Masjid Jami’ Matraman, Masjid Jami al-Mansyur di Sawah lio – Jembatan lima, Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang, dan bila membaca sejarah Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur kita akan menemukan fakta bahwa Raden Saleh yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut beristrikan seorang putrid dari keraton Mataram.

Tak hanya masjid masjid di Jakarta yang memiliki sentuhan sejarah dengan kebesaran Kesultanan Mataram. Masjid Agung Karawang di pusat kota Karawang pun pernah menjadi tempat persinggahan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia mengingat kala itu Karawang merupakan wilayah bawahan Kesultanan Mataram dan turut membantu penyediaan logistik bagi pasukan tersebut.
 
Pembagian wilayah Mataram di tahun 1830. Awalnya terdiri dari dua wilayah, Yogya dan Surakarta lalu pecah lagi menjadi empat dengan eksisnya Mangkunegaran dan Pakualaman. Wilayah Yogya sendiri memiliki beberapa exclave dari negeri tetangganya.

Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat-I. Sejak naik tahtanya Amangkurat I Kesultanan Mataram mengalami konflik internal akibat berbagai ketidakpuasan. Sunan Amangkurat I wafat di Tegalarum tahun 1677. Perselisihan dan pertikaian internal kerajaan tak kunjung usai sampai ahirnya Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua kerajaan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti tersebut membagi dua Kesultanan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sultan Hamengkubuwana-I dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwana III sebagai raja pertama. Dan Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.
 
Sejarah Masjid Agung Mataram Kotagede
 
Masjid Besar Mataram, atau Masjid Agung Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Ageng Pemanahan. Artinya Masjid ini sudah eksis sejak masa Kesultanan Pajang, dan wilayah kotagede (Mataram/Alas Mentaok) masih merupakan wilayah swatantra di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, sebelum Kesultanan Mataram Bediri ditandainya dengan dilantiknya Sutawijaya menjadi Panebahan Senapati (berkuasa 1588-1601), sebagai pertama raja Kesultanan Mataram, di tahun 1588M.

Sutawijaya atau Panebahan Senapati mengembangkannya langgar yang dibangun ayahnya itu menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab. Disebutkan pula bahwa Sultan Agung (memerintah tahun 1613-1645) turut membangun bangunan inti masjid ini.

Monumen peringatan pembangunan Masjid oleh Kasunanan Surakarta berdiri megah di halaman masjid ini, menandai bahwa Pakubuwono X penguasa Kasunanan Surakarta penah membangun masjid ini saat Kotagede menjadi exclave Surakarta. Dibagian belakang terlihat gerbang yang sangat bercorak Hindu.

Paska Perjanjian Giyanti hingga tahun 1952 sebagian wilayah Kotagede dan Imogiri menjadi ekslave Kasunanan Surakarta di dalam wilayah Kesultanan Ngayokyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Agung Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.
 
Di fasad depan masjid terukir angka tahun 1856 dan 1926, merupakan tahun dilakukannya penambahan emperan dan tempat wudhu, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono X.
 
Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian pada 2002 dilakukan renovasi besar dengan memasang marmer Italia di liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) dengan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, serta perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.

Lanjutkan membaca ke bagian 3
Kembali ke Bagian 1

Sabtu, 08 September 2012

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta

Masjid Agung Mataram Kotagede.

Kotagede di Yogyakarta menyimpan sejarah masa lalu yang tak ternilai, khususnya bagi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan bagi sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa dan Indonesia pada umumnya. Di Kota tua ini pernah berdiri Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam), menggantikan kerajaan Mataram Hindu yang sebelumnya juga berdiri dan berpusat di lokasi yang sama.
 
Era kejayaan Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam) memang sudah berlalu ber-abad yang lalu. Kerajaan Islam terbesar Nusantara tersebut kemudian terpecah menjadi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, namun peninggalan masa ke emasan nya masih dapat kita temui saat ini, Termasuk Masjid Agung Mataram Kotagede, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu sebuah kerajaan yang pernah berjaya dan menguasai hampir seluruh tanah Jawa, dan jejak kemashurannya bertebaran hingga ke ibukota Negara, Jakarta.

Masjid yang merupakan salah satu komponen asli Kotagede ini berdiri di selatan kawasan Pasar Kotagede sekarang, tepatnya di kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan masjidnya sendiri tidaklah semegah masjid masjid modern, bahkan bila dibandingkan dengan Masjid Agung  Yogyakarta pun masih kalah megah. Namun masjid ini jauh labih tua dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta dan masjid masjid tua lainnya di Yogyakarta.

Lokasi Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Agung Mataram Kotagede
Kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Indonesia


Keunikan yang sangat menyolok dari arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede ini terletak pada perpaduan dua unsur budaya dari dua latar belakang agama yang berbeda, kemudian diramu dengan apik ke dalam satu kesatuan bangunan masjid. Pengaruh budaya Hindu masih sangat kental pada bangunan masjid ini. nuansa itu dapat langsung ditemui saat berkunjung kesana dari tampilan gerbang yang mengadopsi gerbang gerbang bangunan pura hingga bentuk bangunan utama nya yang menggunakan atap berundak.

Hal lain yang sangat menarik dari masjid masjid tua tanah jawa adalah mastaka di puncak atap masjid yang tidak di hias dengan bulan sabit ataupun lafaz Allah melainkan sebuah gada berukuran besar dihias dengan ornamen seperti daun simbar. Gada besar itu melambangkan hurup alif ataupun angka 1 yang menyimbolkan ke-Esa-an Allah Subhanahuwata’ala.

Megunjungi masjid bersejarah seperti Masjid Agung Kotagede ini, tak lengkap rasanya bila kita tidak menilik sejenak jauh kebelakang tidak saja tentang sejarah masjid nya sendiri tapi juga sejarah kerajaan dan masyarakat tempat nya berdiri, karena seperti kita semua ketahui bahwa bangunan masjid tak lepas dari peran ummat dan Ulama dan Umaro di tempatnya berdiri. Berikut sejarah singkat sejarah Kesultanan Mataram di rangkum dari berbagai sumber.

Mengenal Sejarah Kesultanan Mataram

Hingga tahun 1952 Kotagede dan Imogiri merupakan exclave kasunanan Surakarta di dalam wilayah Yogyakarta, sampai kemudian dilebur ke dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama dengan wilayah Pakualaman dan exclave Ngawen milik Mangkunegaran.

Kotagede tempat berdirinya Masjid Agung Kotagede, memang sudah tak lagi menjadi ibukota sebuah kerajaan, tapi saksi bisu serangkaian sejarah besar. Pada abad ke-8, Kotagede menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Hindu dibawah kekuasan dinasti wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra hingga Wangsa Isyana yang menguasai seluruh Pulau Jawa, kerajaan ini memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa, jejak kebesarannya masih dapat kita nikmati hingga detik ini diantaranya adalah candi Prambanan dan candi Borobudur.
 
Berabad lamanya waktu berlalu kerajaan di tanah Jawa pun patah tumbuh silih berganti. Di penghujung kejayaan Majapahit, Kesultanan Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Ketika kekuasaan Kesultanan Demak berahir, tahta Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Jaka Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang paska keruntuhan Kesultanan Demak akibat pemberontakan Arya Penangsang tahun 1546.

Penebahan Senopati
Penumpasan Arya Penangsang dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan dibantu oleh putranya, Danang Sutawijaya atas perintah Jaka Tingkir. Atas jasanya tersebut beliau mendapatkan hadiah sebidang tanah hutan yang luas di Mentaok di tahun 1556, sebuah kawasan hutan yang tak lain adalah bekas pusat pemerintahan kerajaan Mataram Hindu. Di Kawasan hutan tersebut Ki Ageng Pemanahan bersama keluarga dan pengikutnya mendirikan sebuah desa kecil dengan status sebagai tanah perdikan swatantra dibawah kekuasaan Kesultanan Pajang.
 
Desa kecil yang dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan ditahun 1556 mulai makmur. Tahun 1577 beliau memindahkan pusat pemerintahannya ke Pasargede dan membangun istana disana hingga beliau wafat tahun 1584M, beliau digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Di bawah kepemimpinan Sutawijaya desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut sebagai Kotagede (kota besar).
 
Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, terjadi perebutan takhta di Kesultanan Pajang. Putra mahkota, Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Sutawijaya karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Sutawijaya.

Lukisan wajah Sultan Agung 
di Perangko terbitan tahun 2006
Pangeran Benawa lalu menawarkan tahta Pajang kepada Sutawijaya namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat dan sempat berwasiat agar Pajang dipimpin oleh Sutawijaya. Tahun 1588M Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Kotagede mendirikan Kesultanan Mataram dan dilantik menjadi raja pertama di Kesultanan Mataram melanjutkan tahta Kesultanan Pajang.
 
Setelah dilantik menjadi raja, Sutawijaya bergelar Panebahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Beliau sengaja tidak memakai gelar Sultan untuk menghormati mendiang Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Panebahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan Mataram hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Beliau wafat tahun 1601 dan kekuasannya diteruskan oleh putra nya, Mas Jolang  bergelar Prabu Hanyokrowati yang pemerintahannya tak berlangsung lama.
 
Tahta kesultanan diteruskan oleh Mas Wuryah bergelar Adipati Martoputro. Beliau adalah putra keempat Prabu Hanyokrowati, namun merupakan putra tunggal dari istri pertamanya. Adipati Martoputro hanya berkuasa sebentar saja, bahkan ada yang menyebutnya hanya berkuasa satu hari. Namun sumber lain menyebutkan beliau menderita sakit jiwa hingga tahta kesultanan berpindah ke Raden Mas Rangsang yang merupakan putra sulung Prabu Hanyokrowati dari istri kedua.
 
Raden Mas Rangsang alias Raden Mas Jatmika bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kesultanan Mataram mengalami masa keemasan. menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia).

Bersambung ke Bagian 2

Sabtu, 25 Agustus 2012

Masjid Syuhada Kotabaru Jogjakarta

Masjid Syuhada Kotabaru - Yogyakarta dibangun untuk mengenang para syuhada kemerdekaan yang telah gugur dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, juga sebagai kenang kenangan bagi kota Yogyakarta yang pernah menjadi Ibukota Negara sekaligus sebagai ibukota perjuangan Republik Indonesia.

Masjid Syuhada berada di kota Baru, Yogyakarta. Didirikannya Masjid Syuhada ini bertujuan khusus untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam untuk beribadah kepada Allah. Dan sebagai monumen untuk memperingati para syuhada (pahlawan yang gugur syahid di medan perang) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran dan keadilan sebagai tanda mata peninggalan, kenang-kenangan untuk Yogyakarta yang pernah dijadikan sebagai ibukota negara, ibukota perjuangan.

Masjid Syuhada dibangun di atas tanah wakaf dari Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat, peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Presiden Soekarno bahkan memberikan sambutan khusus atas pemabangunan masjid ini, tokoh penting Nasional Muhammad Natsir pernah menjadi khatib di masjid ini sementara Muhammad Hatta (Bung Hatta) pernah menyempatkan memberikan kuliah nya disini sepulang dari tanah suci. Tak hanya itu, pembangunan masjid ini turut menarik perhatian muslim dan pemerintah Pakistan yang turut menyumbangkan permadani bagi masjid ini sebagai bentuk persahabatan dan persaudaraan dua bangsa.

dibangun dalam perpaduan arsitektural dengan kubah bawang dan menar menara kecil di atap nya menjadi fitur utama masjid ini. dan di dalam ruang utama masjid terhampar permadani hadiah dari Muslim dan Pemerintah Pakistan.

Lokasi dan Alamat Masjid Syuhada

Masjid Syuhada
Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 (Kotabaru)
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta – Indonesia
            
Masjid Syuhada berada di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 Kotabaru, Yogyakarta. Saat ini Masjid Syuhada juga mengelola Sekolah Islam dari Taman Kanak Kanak Islam hingga Sekolah Menengah Islam Terpadu yang semuanya bernama Syuhada. 


Sejarah Pembangunan Masjid Syuhada Kotabaru

Pada masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni oleh orang-orang kulit putih dan orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru adalah merupakan bagian kota yang modern, bersih, sehat namun sama sekali tidak ada masjid di kawasan tersebut. Di masa penjajahan Jepang awal tahun 1942 semua warga kulit putih dan Belanda dipindahkan dari Kotabaru. Rumah-rumah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang dan sebagian orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu tempat ibadah untuk Umat Islam. Dan komposisi penduduk kotabaru kembali berubah di masa kemerdekaan RI, warga Kotabaru menjadi terdiri dari anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar muslim dan kebutuhan akan tempat ibadah Umat Islam semakin terasa.

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI dari Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian timbul keinginan adanya suatu peninggalan, tanda mata dan peringatan untuk Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan dan peringatan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian perjuangan bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang mati, melainkan sebuah Masjid Jami’ yang setiap saat tersirat nuansa kehidupan Umat Islam.

Foto sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta :: peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Masjid Syuhada ini dilakukan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 23 September 1950 bertepatan dengan hari raya Qurban kedua.

Proses pembangunan masjid Syuhada dimulai pada tanggal 14 Oktober 1949 dengan dibentuknya Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada. Menyusul kemudian tanggal 17 Agustus 1950 dilaksanakan penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi. Dan sebulan kemudian upacara peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Raja Yogya, Sultan Hamengkubuwono IX selaku menteri pertahanan RI sekaligus sebagai Kepala Daerah Propinsi DIY pada tanggal 23 September 1950/11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua.

Pada tanggal 25 Mei 1952 dibentuk secara resmi Yayasan Asrama  dan Masjid Syuhada (YASMA Syuhada). Dan dua tahun setelah peletakan batu pertama yakni pada tanggal 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372. Selang beberapa hari setelah peresmian diselenggarakan sholat Jum’at pertama di Masjid ini pada hari Jum’at 26 September 1952.

Dulu dan Sekarang :: foto atas adalah lokasi dimana Masjid Syuhada berdiri seperti terlihat pada foto bawah masjid Syuhada berdiri megah disana.

Ibadah Sholat Jum’at pertama tersebut di imami oleh tokoh Nasional Muhammad Natsir, yang sekaligus bertindak sebagai khatib. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru kembali dari menunaikan Ibadah Haji di Mekkah memberikan ceramahnya di ruang aula/kuliah masjid syuhada ini. pembangunan masjid ini rupanya turut menarik perhatian pemerintah dan rakyat Pakistan yang pada tanggal 13 September 1953 menyumbangkan 24 helai permadani buatan Karachi - Pakistan untuk masjid Syuhada.

Pengelolaan Masjid Syuhada

Dengan selesainya pembangunan Masjid Syuhada maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya dilaksanakan oleh Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA) sebagai kelanjutan dari Panitia Pembangunan Masjid Syuhada.  Jabatan Ketua Umum DKM Masjid Syuhada selalu diiberikan kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai waqif tanah dimana Masjid Syuhada didirikan. Saat ini (2008 – 2013) jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada H. Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat (H. Tirun Marwito, SH).

Eksterior Masjid Syuhada dari berbagai sudut.

Dengan tujuan dakwah dan berkontribusi pada dunia pendidikan, maka YASMA SYUHADA membentuk susunan kepengurusan masjid Syuhada yang komposisinya mungkin akan membuat anda tercengang karena berisikan sederet tokoh tokoh Nasional yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Susunan pengurus Masjid Syuhada periode 2008 – 2013 adalah sebagai berikut :

Penasihat : Sri Sultan Hamengku Buwono X êSri Paduka Paku ALam IX êProf. Dr. H. M. Amien Rais, MA êGBPH H. Joyo Kusumo êProf. Dr. H. Moh. Mahfudz MD êKa. Kanwil. DEPAG D. I. Yogyakarta  êdan Wali Kota Yogyakarta.

Pembina : Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag êDr. Ir. H. Harsoyo, M.Sc êProf. H. M. Suyanto, M.Pd., Ph.D  êdan Dr. H. Jawahir Thontowi, SH.

Pengawas : Drs. H. Subowo, M.M êIr. H. Harsoyo M., Dipl.HS êDrs. DIdi Wahyu Sudirman, M.M ê

Eksterior Masjid Syuhada (foto diambil dari berbagai sumber di internet)

Ketua I : Ir. H. Muhammad Hanif, MT
Ketua II : H. E. Zainal Abidin, SH., MS., MPA
Bidang Pendidikan : Ketua, Dr. Ir. H. Hary Sulistyo
Bidang Sarana dan Prasarana : Ketua, Ir. H. Eddy Sofyan H, MT
Bidang Pengembangan Usaha : Ketua, Amir Fansuri, SE
Bidang Ibadah, Keta’miran, Asrama dan Alumni : Ketua, H. Dachwan, M.Si
Bidang Kajian dan Pembinaan Kader : Ketua, Drs. Kusworo, M.Hum
Bidang Kewanitaan : Ketua, Dra. Hj. Yayah Kusiah, M.Pd

Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Kotabaru Yogya ini juga memiliki sederet lembaga lembaga yang dikelola oleh Masjid, terdiri dari lembaga lembaga pendidikan formal dan non formal yang kesemuanya bernaung dibawah Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA). Lembaga Lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

Interior Masjid Syuhada

Lembaga Pendidikan Formal : Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa, Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa, Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiri dari dua prodi yaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Lembaga Non Formal terdiri dari : Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS) sejak 1952, Pendidikan Anak Masjid Syuhada (PAMS) didirikan 20 Oktober 1953, Pendidikan kader Masjid Syuhada (PKMS) didirikan 20 Nopember 1954, Training Center dan Event Organizer, Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS), Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah dan Bantuan Hukum (LPKSBH) Masjid Syuhada, Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Masjid Syuhada (LAZIS MS), Baitul Maal Wat Tamwiil Syuhada (BMT Syuhada), Pengajian Putri Masjid Syuhada (PPMS), Kelompok Pengajian Al-Quran (KPA)  Al-Hijrah Masjid Syuhada dan Forum Shoilihat.

salah satu sisi Masjid Syuhada.


Asrama Putra dan Putri : Masjid Syuhada juga mengelola asrama Putera dan Puteri YASMA SYUHADA. Asrama Putra terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru-Yogyakarta 55224 Tlp. 0274-547227 atau tepatnya di sebelah timur Masjid Syuhada.  Asrama putra ini berkapasitas 20 mahasiswa. Asrama putri beralamat di Jl. Pringgokusuman No. 12 berdampingan dengan kampus STAIMS Telp. 0274-514520. Setiap warga yang mondok di Asrama tidak dipungut biaya tetapi sebagai konsekuensinya bertanggungjawab  sepenuhnya atas kegiatan-kegiatan lembaga non-formal.

Program Reguler : Masjid Syuhada juga menyelenggarakan Program Reguler Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada termasuk di dalamnya : Studi Islam Efektif, Kajian Keluarga Sakinah, Pelatihan Kader Da’I, Pendidikan Jurnalistik, Pelatihan Bahasa Asing, Training Ustadz/ah TPA, Pelatihan Nasyid dan Pengembangan Masyarakat

Arsitektural Masjid Syuhada Kotabaru

Masjid yang menggabungkan berbagai arsiktektur selain sejumlah perlambang melekat dalam setiap bangunan, di kubahnya mengambil bentuk-bentuk bangunan yang berkembang di Persia, India dan menjadi bagian dari masjid-masjid yang dibangun ketika itu. Kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah kecil di empat sudutnya.

Fasad depan Masjid Syuhada. sekilas memiliki kemiripan dengan masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta.

Masjid Syuhada Yogyakarta menjadi satu dari saksi sejarah masyarakat muslim dalam memperjuangkan kemerdekaan. Masjid Syuhada menyimpan candrasengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga hal itu digambarkan dalam bagian-bagian penting bangunan masjid ini, seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapura-nya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas.

Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, ruang bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Di lantai dua untuk ruang shalat bagi jema’ah perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim akan lima rukun Islam.

Program untuk anak anak taman kanak kanak di masjid Syuhada.

Serangan Bom di Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta

Kamis, 23 Desember 2010 pukul 14.00 WIB sebuah bom rakitan meledak di pekarangan Masjid Syuhada ini, Dari hasil olah TKP, Polda DIY menyimpulkan, bom rakitan tersebut merupakan model bom yang dilontarkan. Saat dilontarkan, bom mengenai pohon, kemudian jatuh di dekat pagar masjid. Cara kerja bom ini mirip dengan mercon dan berjenis low explosive. Saat meledak, bom ini membuat pengurus masjid dan warga sekitar kaget. Mereka lalu berbondong-bondong menuju lokasi ledakan.

Tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini. Polisi juga mengamankan barang bukti sisa ledakan berupa pipa aluminium dan pipa paralon dengan diameter 1 inchi dengan panjang sekitar 30 cm. Tidak jelas apa motif dari pelaku pelemparan Bom tersebut. Yang pasti pihak kepolisian meminta warga masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh ulah pihak yang tak bertanggung jawab tersebut.888


Kamis, 23 Agustus 2012

Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta

Masjid Al-Wustho, Pura Mangkunegaran, Surakarta

Masjid Al-Wustho merupakan salah satu dari tiga masjid tua dan bersejarah di kota Surakarta, bersama dengan Masjid Darusallam, dan Masjid Agung Surakarta. Pembangunan Masjid Al-Wustho diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara-I (1725-1795) di Praja Mangkunagaran sebagai masjid kerajaan bagi Pura Mangkunagaran dalam menjalankan fungsinya sebagai panotogomo. Lokasi masjid ini sebelumnya berada di wilayah Kauman, Pasar Legi, namun pada masa Adipati Mangkunagara-II dipindah ke wilayah Banjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Pura Mangkunagaran.
 
Sebagai masjid kerajaan pada awalnya masjid ini hanya diperuntukkan khusus bagi keluarga kerajaan Pura Mangkunagaran dalam menjalankan ibadahnya. Namun kemudian dalam perkembangannya masjid ini terbuka untuk umum. Nama Al-Wustho pada masjid ini baru eksis sejak tahun 1949, Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi yang memberikan nama tersebut. Meski dibangun dalam bentuk arsitektural khas Jawa dengan reka bentuk masjid Agung Demak, Dalam sejarahnya pembangunan masjid ini sempat melibatkan seorang arsitek dari Prancis.

Lokasi dan Alamat Masjid Al-Wustho

Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo
Jl RA Kartini 3 RT 003/09, Ketelan, Banjarsari
Solo 57132 Jawa Tengah


Posisi masjid al-Wustho berada di sebelah barat  kompleks istana/Pura Mangkunegaran Surakarta yang dipisahkan dengan jalan R.A. Kartini,  di sisi utaranya bersebelah dengan Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Surakarta, sedangkan di sebelah barat masjid merupakan pemukiman penduduk yang cukup padat. Cukup berjalan kaki sekitar 100 meter menuju lokasi masjid ini dari Pura Mangkunegaran.

Arsitektural Masjid Al-Wustho

Dari bentuk arsitektur bangunan, hampir sama dengan bentuk bangunan masjid-masjid Jawa lainnya seperti masjid agung Demak, masjid Agung Keraton Yogyakarta, yang mengambil bentuk gaya arsitektur rumah Jawa dengan atap bangunan teras berbentuk limasan dan atap tumpang untuk bagian atap ruang utama, yang bersusun tiga. Bangunan tersebut mengandung makna filosofis Iman, Islam dan Ikhsan. Yang membedakannya dengan masjid lain adalah adanya markis atau kuncung yaitu semacam pintu utama menuju teras dengan tiga akses pintu masuk, yaitu di sisi kanan atau utara, sisi depan atau timur dan kiri atau selatan, yang pada masing-masing atasnya dihiasi dengan kaligrafi.

Kompleks masjid Al Wustho Mangkunegaran terdiri dari bangunan utama serta bangunan bangunan pendukungnya. Di sebelah selatan terdapat bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak Aisyiah Bustanul Athfal yang berhubungan langsung dengan bangunan rumah tinggal keluarga ta’mir atau pengurus masjid. Di sebelah utara terdapat fasilitas Unit Kesehatan Masjid dan tempat tinggal Ta’mir masjid.

Senja di masjid Al-Wustho

Ornamen menarik di masjid Al-Wustho ini berupa nukilan ayat ayat suci Al-Qur'an maupun hadist yang menghiasi beberapa bagian masjid. selain di gapura pertama dan kedua, kaligrafi arab tersebut juga dapat disaksisakan pada pintu pintu masjid, jendela, 4 sokoguru masjid dan 12 soko rowo masjid, markis/kuncungan, soko dan Maligin. Tiap tiap tiang di dalam masjid tersebut dihias dengan kaligrafi. Salah satu nukilan hadist nya berbunyi "siapa yang membangun masjid ini untuk Allah, maka Allah kan mendirikan sebuah rumah untuknya di surga kelak".

Aan Jaelani, dan kawan kawan, peneliti dari Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang melakukan penelitian terhadap inskripsi di Masjid Al-Wustho menemukan bahwa Inskripsi pada masjid Al Wustho berjumlah sekitar 41 buah yang terdiri atas 2 isnkripsi pada gapura (luar dan dalam), 3 inskripsi pada markis/kuncungan (depan, sisi kanan dan sisi kiri), 10 inskripsi pada jendela teras, 9 inskripsi pada pintu, 16 inskripsi pada soko guru di dalam ruang sholat, ditambah 1 inskripsi pada mihrab yang merupakan replica inskripsi pada gapura luar.

Bagian Bagian Masjid Al-Wustho

Luas kompleks masjid Al-Wustho sekitar 4.200 meter persegi dengan batas pagar tembok keliling sebagian besar di muka berbentuk lengkung. Bagian belakang setinggi 3 m, bagian depan dengan bentuk lengkung setinggi 3 m. Gapura depan dihiasi dengan relief tulisan Arab. Bangunan utama masjid terdiri dari ; Serambi, Ruang Shalat Utama, Pawastren dan Maligin. Sedangkan di halaman masjid juga berdiri Tembok Keliling Halaman,  Pintu Gerbang utama, Pintu Gerbang Timur,  Pintu Gerbang Utara,  Markis, Kantor Pengurus Masjid dan Menara.

Detil Masjid Al-Wustho Mangkunegaran

Serambi Masjid
Serambi merupakan ruangan depan masjid dengan saka sebanyak 18 yang melambangkan umur Raden Mas Said (Mangkunagara I) ketika keluar dari Keraton Kasunan Surakarta untuk dinobatkan sebagai Adipati Mangkunagaran. Di bagian timur laut serambi terdapat bedug yang bernama Kanjeng Kyai Danaswara dan kentongan. Ruangan Serambi berukuran 22 m, X 11 m.

Ruang Shalat Utama
Ruang Salat Utama: merupakan ruang dalam dengan 4 soko guru dan 12 soko rowo (penyangga pembantu) yang berhias huruf kaligrafi Alquran. Ruang utama untuk shalat berukuran 24 m X 22 m,  Mimbar ukiran untuk berkhotbah diletakkan di dekat mihrab mimbar dengan ukiran khas mataraman. Di bagian depan kaki mimbar yang menghadap ke timur dulunya ada figur dua ekor singa yang bagian kepalanya sudah hilang karena dipotong secara sengaja dengan gergaji. Hal ini dilakukan karena alasan agama yang melarang adanya patung di dalam masjid dan karena adanya keberatan dari beberapa orang jamaah. Sedangkan di pojok ruangan sebelah tenggara dibuat sebuah ruangan untuk menyimpan alat-alat pengeras suara yang dipakai setiap akan mulai shalat rawatib, dan shalat Jum’at.

Pawastren
Pawastren merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan untuk tempat salat khusus wanita. Dahulu sebelum dibangun pawastren tambahan, ada sekat sebagai pemisah tempat shalat untuk wanita. Pawastren ini berukuran 10 m X 7 m. Di dalam ruangan pawastren, ada sebuah ruang gudang serta fasilitas kolah untuk berwudlu wanita dibangun di sebelah timur pawastren.

Interior Masjid Al-Wustho

Maligin
Bangunan Maligin dibangun atas prakarsa Adipati Mangkunagara V (berkuasa 1881-1896), digunakan untuk melaksanakan khitanan bagi putra kerabat Mangkunagaran. Sejak pemerintahan Mangkunagara VII (1885-1944), Maligin diperkenankan untuk digunakan oleh Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum. Terpisah sedikit dengan pawastren, ada bangunan kecil bundar. Anak yang akan dikhitan di syahadad dulu di serambi masjid.

Tembok Keliling Halaman
Sebagai pembatas antara masjid dengan daerah sekitarnya dibuat tembok yang mengelilingi masjid. Adapun ukuran tembok keliling adalah 260 m, dengan perincian sisi timur 60 m, sisi barat 69 m, sisi utara 70 m, sisi selatan 70 m. Pagar tembok di sebelah barat/belakang, dibuat rata sedangkan di bagian depan/sisi timur dan sisi selatan serta sisi utara, sebagian dibangun dengan hiasan lengkung. Gapura depan bagian luar dan dalamnya dihiasi dengan relief Arab.

Gapura / Pintu Gerbang
Gerbang atau Gapura, gapura berasal dari kata Ghafara yang artinya ampunan Gapura halaman masjid ini dibuat tahun 1917-1918, dengan dinding berhiaskan relief kaligrafi huruf Arab. Ada dua buah pintu gerbang utama, sebelah depan dan sebelah utara dibuat dari jeruji besi.  Pintu Gerbang Timur dengan bentuk lengkungan tinggi dengan hiasan tulisan Arab yang berbunyi: “Al-Islamu ya’lu wala yu’la ‘alaih” serta “Asyhadu alla ilaaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah”. Sedang di bagian belakang juga diberi relief Arab. Dan Pintu Gerbang Utara, disediakan untuk masuk masjid bagi orang kampung sekitar masjid sebagai jalan pintas, dengan ukuran lebar 2 m dan tinggi 3 m.

Renovasi Masjid Al-Wustho

Menara
Menara masjid Al-Wustho dibangun tahun 1926 pada masa Mangkunagara VII (1885-1944), Digunakan untuk menyuarakan adzan, pada saat itu dibutuhkan 3-4 orang muadzin untuk adzan bersama-sama dalam menara ke 4 arah yang berbeda. Bangunan menara ini berdiri di depan Kantor Pengurus Masjid  dengan tinggi 25 m dan bergaris tengah 2 m.

Markis
Markis adalah berada di sebelah depan bangunan serambi, merupakan bangunan tambahan dengan ukuran 5 m X 5m.  Markis/Kuncungan berbentuk bujur sangkar dengan lengkungan tembok menyerupai kubah atau gunungan, tempat ini adalah akses utama menuju masjid, dan merupakan batas akhir  bagi kalangan non muslim yang tidak diperkenankan masuk lebih dalam  ke masjid. Bagian depan dan kiri kanan dihias dengan relief Arab yang banyak mengandung makna.

Kantor Pengurus Masjid
Kantor penguru masjid Al-Wustho berada di sebelah utara masjid dengan ukuran 9m X 6m. Di kantor ini  ditempatkan perpustakaan masjid Al-Wustho.

Suasana sholat Idul Fitri di Masjid Al-Wustho

Sejarah Masjid Al-Wustho

pembangunan masjid alwustho merupakan perwujudan dari fungsi pura mangkunegaran sebagai panotogomo yaitu pemerintahan yang tidak hanya berfungsi secara politik melainkan juga berfungsi melaksanakan syiar agama. sebelumnya, masjid Mangkunegaran terletak di wilayah kauman, Pasar legi. karena dirasa jauh dari istana, maka masjid tersebut dipindah oleh KGPAA Mangkunegara-II ke dekat istana pura Mangkunegaran. sebagai masjid resmi pura mengkunegaran, maka pengelolaan masjid ini dilakukan oleh para abdi dalem pura. pada awalnya masjid ini merupakan tempat ibadah khusus bagi keluarga pura namun pada perkembangan selanjutnya masyarakat umum juga diperkenankan untuk beribadah atau sekedar menikmati keunikan arsitekturnya.

Pendirian Masjid Mangkunagaran diprakarsai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara-I (1725-1795) di Praja Mangkunagaran sebagai masjid kerajaan dalam menjalan fungsinya sebagai panotogomo atau piñata agama di dalam lingkup wilayah praja Mangkunegaran. Ketika pertama kali dibangun lokasi masjid ini berada di wilayah Kauman, Pasar-Legi, namun pada masa Adipati Mangkunagara-II (berkuasa 1796-1835) dipindah ke lokasinya sekarang ini di wilayah Banjarsari dengan pertimbangan letak masjid yang strategis dan dekat kepada Pura Mangkunagaran.

Pemugaran besar-besaran atas Masjid Mangkunagaran terjadi pada tahun 1878 dan selesai tahun 1918 saat pemerintahan Adipati Mangkunagara VII (1885-1944), pada saat itu beliau meminta seorang arsitek Ir. Herman Thomas untuk mendesain bentuk masjid ini. itu sebabnya meski secar keseluruhan masjid ini dirancang dalam arsitektural Jawa namun sentuhan gaya Eropa sangat terasa. Pada tahun 1949 Bopo Penghulu Pura Mangkunagaran Raden Tumenggung K.H. Imam Rosidi ditahun memberikan nama Masjid Al-Wustho pada masjid Pura Mangkunegaran ini.

suasana ramainya jemaah di masjid ini bakda sholat Idul Fitri

Pengelolaan Masjid al-Wustho

Pengelolaan masjid sejak pertama berdiri dipercayakan kepada para pengurus yang diangkat menjadi Abdi dalem Istana Mangkunegaran, sejak zaman penjajahan Belanda beralih ke penjajahan Jepang berjalan sebagaimana mestinya sebagai Masjid Keraton. Dengan diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, membawa perubahan-perubahan pula terhadap status masjid. Pengelolaannya diserahkan kepada kementerian Agama dengan suratnya nomor: Pem.50/2/7 tertanggal 12 April 1952, dan putusan Menteri Dalam Negeri nomor: E/23/6/7 tertanggal 14 September 1948.

Dalam keputusan Menteri Agama tahun 1962 disebutkan, bahwa Masjid Al Wustho Mangkunegaran adalah masjid yang diurus dan dipelihara Departemen Agama dengan mengikutsertakan eksponen-eksponen masyarakat. Sebagai pelaksanaan Keputusan Menteri Agama tersebut maka biaya-biaya pengeluaran dibebankan pada anggaran Departemen Agama. Akan tetapi dengan surat Dit. Ura. Islam tanggal 20 Desember 1974 nomor: 117/BKMP/1974, bantuan rutin dari Departemen Agama khusus untuk empat masjid di Kotamadya Surakarta dihentikan sejak tahun 1972/1973.

Hal itu tidak saja berlaku bagi masjid Al-Wustho tetapi juga pada empat masjid yang ada di (Kotamadya) Surakarta. Sejak saat itu pengurus harus mencari sendiri dana untuk biaya operasional masjid Al-Wustho tanpa bantuan dari Departemen Agama, Untuk mencukupi kebutuhan masjid, pengurus harus mencari dana sendiri dengan sekuat tenaga, sementara itu dana diperoleh dari: Kotak amal jama’ah yang dibuka di masjid tiap-tiap sehabis shalat Jum’at, dan dana infaq, shadaqah, dan bantuan-bantuan dari masyarakat secara insidentil. Meskipun pengangkatan pengurusnya disahkan melalui surat keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah tersebut. ***