Sabtu, 17 Juni 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 2)

Lima Masjid Masjid Tua di Jakarta Bagian 2 ; (6). Masjid Al-Arif Pasar Senen (1695), (7). Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (1704 ) Jakarta Pusat, (8). Masjid Jami’ Al-Mansyur Sawah Lio, Jakarta (1717), (9). Masjid Luar Batang, Penjaringan, Jakarta (1736), (10). Masjid Kampung Baru Pekojan (1748) Jakarta Barat.

Melanjutkan posting bagian pertama, berikut ini adalah lima masjid masjid tua di Jakarta berikutnya dimulai dari urutan ke enam hingga ke sepuluh. Dari enam masjid tua berikut ini, Masjid Al-Arif di Pasar Senen merupakan masjid tertua dari empat lainnya, dibangun pada abad ke 17 masehi, disusul kemudian oleh empat masjid lainnya yang dibangun di abad k3 18 masehi. 

6. Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta yang berada di kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Pekarangan masjid ini menjadi salah satu tempat parkir paforit bagi para pengguna kendaraan roda dua. Masjid ini diperkirakan dibangun pada abad ke 17 oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Upu Daeng Arifuddin, dan nama beliau kemudian di abadikan sebagai nama masjid ini.

Pada mulanya masjid ini disebut Masjid Jami Jagal Senen, Karena memang dibangun ditengah tengah perkampungan para tukang jagal hewan ternak di pasar Senen, baru kemudian di tahun 1969 namanya diganti dengan nama Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen.  Masjid ini didirikan oleh seorang pedagang dari Bugis, Upu Daeng H Arifuddin bersama dengan masyarakat setempat sekitar tahun 1695. Selain untuk syiar Islam, juga sebagai tempat beribadah para pedagang, masyarakat dan perantau. Dengan dana seadanya ditambah sumbangan para jamaah, masjid itu akhirnya berdiri dengan nama Masjid Jami' Kampung Jagal.

Masjid Al-Arif Pasar Senen

Upu Daeng Arifuddin, dikenal sebagai keturunan Raja Goa dan juga pejuang yang disegani saat melawan kolonial Belanda. Arifuddin wafat pada tahun 1745. Makamnya terletak di bagian barat masjid. Ada pula makam empat sahabat Arifuddin. Masjid ini pernah direnovasi atas sumbangan pengusaha garmen asal Pondokkopi, Jakarta Timur, sebesar Rp 400 juta. Masjid Al-Arif sempat terancam dibongkar pada tahun 1969 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang berniat melebarkan area Pasar Senen.

7. Masjid Al-Ma'mur Tanah Abang (1704 ) Jakarta Pusat

Maulana Hasanuddin bukanlah satu satunya yang pernah melakukan penyerbuan ke Batavia. Sultan Agung dari Mataram pun pernah dua kali melakukan penyerbuan ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Sisa sisa pasukan Mataram ini tidak semuanya kembali ke wilayah Mataram, sebagian menetap diluar tembok kota Batavia.

Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang pertama kali dibangun pada tahun 1704 oleh bangsawan Kerajaan Islam Mataram pimpinan KH Muhammad Asyuro. Masjid Jami’ Al-Makmur Tanah Abang bukanlah satu satunya masjid di kota Jakarta yang dibangun oleh pasukan Mataram, selain masjid ini ada Masjid Jami Al-Mansyur di Jembatan Lima dan Masjid Jami’ Matraman yang juga dibangun oleh pasukan Mataram.

Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang

Kini masjid yang seumur dengan sejarah keberadaan Tanah Abang ini terkepung oleh hingar bingar pusat perdagangan Tanah Abang, Di kiri kanan masjid jami ini sudah tidak ditemukan lagi perumahan penduduk karena hampir seluruh daerah sekitarnya menjadi pusat kegiatan bisnis. Halaman depan masjid ini bahkan sudah tergerus dalam arti sebenarnya oleh perkembangan pusat bisnis Tanah Abang, pekarangan depannya habis dipakai untuk pelebaran jalan dan disesaki oleh para pedagang dan parkir kendaraan. 

8. Masjid Jami Al-Mansyur Kampung Sawah Lio (1717), Jakarta Barat

Maulana Hasanuddin bukanlah satu satunya yang pernah melakukan penyerbuan ke Batavia. Sultan Agung dari Mataram pun pernah dua kali melakukan penyerbuan ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Sisa sisa pasukan Mataram ini tidak semuanya kembali ke wilayah Mataram, sebagian menetap diluar tembok kota Batavia. Salah satu diantaranya adalah Pangeran Cakrajaya, salah satu putra beliau bernama Abdul Malik kemudian mendirikan Masjid Jami’ Al-Mansyur di kampung Sawah Lio Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat pada tahun 1130 Hijriah atau tahun 1717 Miladiyah, 69 tahun setelah berdirinya Masjid Al-Anshor oleh Muslim India di Pekojan.

Masjid Jami Al-Mansyur Sawah Lio

Tiga abad setelah berdiri, Masjid Al-Mansyur ini menjadi saksi dari kiprah pahlawan nasional KH. Mohammad Mansyur yang namanya kemudian di abadikan sebagai nama masjid Jami bersejarah ini. Di masa awal setelah proklamasi kemerdekaan, masjid ini digunakan oleh KH. Muhammad Mansur sebagai tempat mobilisasi pejuang sekitar Tambora untuk melawan Belanda, Sebuah pertempuran frontal pernah terjadi di muka masjid antara pejuang RI yang berlindung di masjid dengan tentara NICA yang kala itu masuk dari Pelabuhan Sunda Kelapa bergeser ke selatan menuju daerah Kota lalu menyebar ke sekitar Tambora.

Baku tembak itu dipicu oleh tindakan berani KH. Mohammad Mansur mengibarkan bendera Merah Putih di atas kubah menara masjid ini. Sesudah peristiwa tersebut KH. Muhammad Mansur lalu dipanggil ke Hofd Bureau (Polsek) untuk diadili dan ditahan atas tindakannya itu. KH. Muhammad Mansur wafat pada tanggal 12 Mei 1967. Pada tahun 1980 berdasarkan SK Mendikbud serta SK Gubernur DKI, Masjid Jami’ Al-Mansyur di daftarkan sebagai cagar budaya.

Masjid Kramat Luar Batang

9. Mesjid Luar Batang (1736)

Masjid Keramat Luar Batang atau Masjid Luar Batang diperkirakan berdiri pada tahun 1736, Sembilan belas tahun setelah Abdul Malik mendirikan Masjid Jami’ Al-Mansyur di Jembatan Lima. Lokasi Masjid Luar Batang ini berada di luar tembok kota Batavia, meski tidak telalu jauh dari benteng VOC. Tidak ada angka yang benar benar pasti mengenai tahun berdirinya masjid ini, angka tahun 1736 tersebut merupakan rangkuman dari berbagai laporan dan berita mengenai masjid ini, baik dari catatan pelaut Cina maupun dari berita berita kotan Batavia.

Masjid Luar Batang tidak bisa dilepaskan dari Alhabib Husein bin Abubakar bin Abdillah Al 'Aydrus, ulama besar tanah Betawi yang berasal dari Hadramaut (Yaman). Nama masjid ini diberikan sesuai dengan julukan Habib Husein, yaitu Habib Luar Batang. Semasa hidupnya beliau sangat disegani oleh pemerintah Kolonial Belanda. Beliau wafat dimasa penjajahan Belanda pada tanggal tanggal 24 Juni 1756 dan sejak masa itu kawasan Masjid dan makam Habib Husein di Luar Batang ini dikenal dengan sebutan Keramat. Sebutan yang sama pun digunakan oleh Belanda untuk menyebut makam tokoh tokoh Pergerakan Islam Indonesia di berbagai Negara Jajahannya termasuk di Afrika Selatan.

Masjid Kampung Baru Pekojan

10. Masjid Kampung Baru Pekojan (1748) Jakarta Barat

Se-abad setelah pembangunan Masjid Al-Anshor di jalan Pengukiran, kelurahan Pekojan dan 12 tahun setelah Habib Husein membangun Masjid Luar Batang, Muslim India di Batavia membangun masjid kedua mereka di jalan jalan Bandengan, masih di wilayah kelurahan Pekojan. Masjid kedua tersebut dikenal dengan nama Masjid Jami Kampung Baru. Dibangun oleh Syeik Abubakar yang merupakan salah satu saudagar muslim India yang tinggal di kawasan tersebut pada tahun 1748. Pembangunan Masjid ini dikarenakan tidak memadai nya lagi masjid Al-Anshor di Jalan Pengukiran untuk menampung Jemaah yang semakin meningkat.  

Komunitas Muslim India di Batavia mendapatkan peluang bisnis yang lebih leluasa paska peristiwa berdarah pembunuhan massal orang orang Tionghoa di Batavia pada tahun 1740. Peningkatan bisnis tersebut diiringi dengan bertambahnya jumlah komunitas muslim pedagang yang datang dari India ke Batavia. Dalam sebuah karangan Belanda pada tahun 1829 masjid kampung Baru ini disebut sebagai Moorsche Tempel (Kuilnya orang orang Moor). Tentang penyebutan ini telah dibahas sebelumnya pada Sub judul Masjid Al-Anshor.*** bersambung ke bagian 3.
  
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Artikel terkait
 










Minggu, 11 Juni 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 1)


Tulisan ini sengaja kami posting di bulan Juni sebagai bagian dari upaya menolak lupa pada sejarah. Di bulan Juni setiap tahun, Provinsi DKI Jakarta merayakan hari jadinya yang di hitung sejak penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah dari Portugis dan menandai berdirinya Jayakarta sebagai sebuah Kesultanan dan kini dijadikan sebagai hari jadi nya DKI Jakarta.

J
akarta, selaku ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, memiliki sederet masjid masjid tua dan bersejarah, sebagian besar masih berdiri dan difungsikan hingga hari ini. Keberadaan masjid di wilayah Jakarta sudah menjadi bagian integral dari sejarah perjalanan kota Jakarta. Artikel ini akan menyajikan ulasan tentang masjid masjid tua di Jakarta sejak masa awal (Kesultanan) Jayakarta hingga masa awal Kemerdekaan Republik Indonesia.

Seiring dengan ditetapkannya tanggal 22 Juni 1527 sebagai titik awal berdirinya kota Jakarta, maka dapat disebut bahwa sejarah kota Jakarta dimulai pada tanggal 22 Juni 1527 tersebut. Di awali dengan kemenangan Fatahillah atau Falatehan atau Fadhilah khan memimpin pasukan gabungan Demak dan Cirebon dibantu oleh pasukan Banten mengalahkan dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Pajajaran dari Sunda Kelapa.

Fatahillah merupakan panglima pasukan Demak di masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sultan Trenggono memerintahkan beliau untuk menggabungkan pasukannya dengan pasukan dari Kesultanan Cirebon dibawah pemerintahan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Penyerbuan tersebut juga dibantu oleh Pasukan dari Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin (Putra Sunan Gunung Jati).

Masjid “Si Pitung” Al Alam, Marunda, Jakarta Utara

1. Masjid Al-Alam Marunda (1527)

Saat penyerbuan ke Sunda Kelapa tahun 1527 tersebut, Fatahillah bersama pasukannya sempat mendirikan sebuah masjid kecil di kawasan Marunda, Jakarta Utara, sebagai tempat mereka beribadah. Masjid tua berukuran kecil itu bernama Masjid Al Alam. Meski ukurannya tidak terlalu besar, masjid berarsitektur tradisional ini cukup kokoh dengan tiang tiang beton antik berukuran besar dan tembok yang cukup tebal. Di tahun 1975 pemerintah provinsi DKI Jakarta menetapkan Masjid Al Alam sebagai Cagar Budaya. Bila melihat tahun pembangunannya, Masjid Al Alam ini merupakan masjid tertua di Jakarta.

Kisah tutur menyebutkan bahwa pembangunan masjid ini juga dibantu oleh para wali yang memiliki karomah yang memiliki karomah yang tinggi. Kisah ini memang cukup masuk akal karena Sunan Gunung Jati sendiri merupakan salah satu tokoh Wali Songo, dan sejarah Nasional kita pun mencatat bahwa berdirinya kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon tidak lepas dari peran Wali Songo.

Masjid Al-Alam Cilincing

2. Masjid Al-Alam Cilincing (1527)

Masjid ini mungkin tidak setenar "kembaranya" Masjid Al Alam Marunda yang lebih dikenal dengan nama masjid si pitung, namun masjid yang juga didirikan oleh fatahillah saat akan merebut sunda kelapa dari Portugis ini sangat besar nilainya bagi sejarah jakarta dan indonesia. Kini masjid ini sehari hari dikelola oleh “Yayasan Masjid Al-Alam Cilincing Jakarta Utara”. Untuk menyelamatkan tempat bersejarah ini, pada 1972 dilakukan pemugaran masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, saat masih dipimpin Gubernur Ali Sadikin, dan bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Berdasarkan versi sejarah Dinas purbakala DKI Jakarta, masjid ini dibangun pada 22 Juni 1527, persis sama dengan HUT kota Jakarta.  Menjadikannya sebagai masjid tertua yang ada di jakarta bersama dengan masjid Al-Alam Marunda yang dibangun ditahun dan oleh orang yang sama. Letaknya berada di jalan rekreasi cilincing Jakarta utara, tepatnya di sebelah pasar ikan cilincing atau 18 Km dari pusat Kota Jakarta.

Fatahillah dan pasukannya berhasil menaklukkan Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1257. Beliau kemudian mengganti nama Bandar tersebut dari Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang bermakna Kota Kejayaan. beliau memegang langsung tampuk pemerintahan di Jayakarta, namun kemudian beliau memutuskan kembali ke Cirebon untuk berdakwah serta memenuhi permintaan Sunan Gunung Jati untuk memperluas wilayah kesultanan Cirebon ke wilayah sekitarnya.

Jabatan pemerintahan di Jayakarta diserahkan Oleh Fatahillah kepada Ki Bagus Angke atau Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke yang juga menantunya. Dan disaat yang hampir bersamaan Maulana Hasanuddin dinobatkan sebagai Sultan Pertama di Kesultanan Banten. Kekuasaan atas Jayakarta kemudian diteruskan oleh Pangeran Jayakarta Wijayakrama, pada tahun 1596 menggantikan Tubagus Angke yang sudah berusia lanjut.

Masjid Agung Kesultanan Jayakarta, Tak Berbekas

Di masa kekuasaan Pangeran Jayakarta ini, Belanda sudah mulai menancapkan kukunya di Jayakarta hingga menimbulkan ketegangan diantara keduanya, sampai kemudian memuncak menjadi pertempuran terbuka tahun 1610. Pasukan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Jan Pieter Coen tidak mampu menghadapi pasukan Jayakarta yang dibantu oleh pasukan Banten dan Inggris hingga ahirnya melarikan diri ke markas besar V.O.C di Ambon.

Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum dari arah Makam Pangeran Jayakarta

Dalam serangan kedua kalinya di tahun 1619, J.P. Coen berhasil mengalahkah pasukan Jayakarta dan membumihanguskan kota itu hingga tak bersisa, dan mengganti nama Jayakarta dengan Batavia pada 12 Maret 1619. Sisa sisa kejayaan Jayakarta sebagai sebuah entitas kekuasaan yang pernah berkuasa di wilayah Jakarta selama sekitar 92 tahun (22 Juni 1527 hingga 12 Maret 1619), nyaris tak berbekas.

Bangunan keraton dan Masjid Agung-nya pun hanya tinggal cerita, salah satunya muncul di catatan penulis Belanda, Adolf Heuken S.J, menyebutkan bahwa beberapa puluh meter di sebelah selatan hotel Omni Batavia sekarang ini yang terletak di jalan Kali Besar dan Jalan Roa Malaka Utara, Jakarta utara, pernah berdiri bangunan masjid tertua di Jakarta, namun bangunan masjid tersebut sudah tak bersisa. Diperkirakan masjid yang dimaksud merupakan masjid Agung Kesultanan Jayakarta yang dibumihanguskan oleh Belanda bersama dengan Keraton Jayakarta.

Penghancuran total Bandar Jayakarta oleh Pasukan J.P.Coen tidak lepas dari upaya nya untuk mengikis habis pamor Kesultanan Jayakarta dari wilayah tersebut, termasuk menghapus segala sesuatu yang berbau kesultanan dan Islam, terbukti dengan kebijakannya setelah berkuasa beliau mengeluarkan larangan pembangunan masjid di dalam wilayah kota Batavia.

3. Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum (1620)

Paska keruntuhan Bandar Jayakarta, Pangeran Jayakarta bersama keluarga dan pengikut setianya menyingkir ke wilayah Jatinegara Kaum (Klender, Jakarta Timur). Disana beliau mendirikan kawasan baru, menyusun strategi dan terus menerus melakukan perlawan terhadap penjajahan Belanda. Di Jatinegara Kaum beliau membangun masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ As-Salafiyah pada tahun tahun 1620.

Sepanjang hidupnya setelah kehilangan kekuasaan, Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya tak pernah berhenti melakukan perlawanan terdahap penjajahan Belanda, sampai beliau wafat di-usia tua dan dimakamkan di dekat masjid yang beliau bangun bersama pengikutnya. Masjid Jami’ As-Salafiyah hingga kini ramai dikunjungi oleh para Jemaah begitu-pun dengan makam beliau.

Jejak Sejarah Putra Pangeran Jayakarta di Kabupaten Bekasi. Kiri ; Masjid Al-Mujahidin Cibarusah pertama kali dibangun oleh Pangeran Senapati. Kanan: Rumah kediaman Raden Rangga di Cikarang Barat, kini dikenal dengan Saung Ranggon atau Rumah Tinggi.

Antara Jayakarta dan Cibarusah

Masih di tahun 1619 Pangeran Jayakarta memerintahkan putra mahkota beliau, Pangeran Senapati, menyingkir dari Jayakarta untuk melanjutkan perjuangan dan syi’ar Islam. Pangeran Senapati meninggalkan Jayakarta melalui jalur laut dan berlabuh di pantai utara Bekasi kemudian melanjutkan perjalanan darat hingga ahirnya tiba di wilayah yang kini dikenal dengan nama Cibarusah di kabupaten Bekasi berbatasan dengan Kabupaten Bogor, sama seperti ayahandanya, Pangeran Senapati pun membangun Masjid Masjid di tempat baru tersebut yang kini dikenal dengan nama Masjid Al-Mujahidin Cibarusah.

Sementara Putra Pangeran Jayakarta yang lain bernama Raden Rangga menyingkir melalui jalur darat hingga ke wilayah Cikarang Barat, kabupaten Bekasi. Rumah kediaman beliau selama tinggal disana kini dikenal dengan nama Saung Ranggon atau Rumah Tinggi dan ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya oleh Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan nilai Tradisional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, provinsi Jawa Barat. Rumah panggung sederhana berbahan kayu tersebut masih terawat hingga kini dan disebut sebut sebagai bangunan tertua di Kabupaten Bekasi.

Perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda di Batavia tak pernah usai di berbagai sektor, salah satu tokoh perlawanan masyarakat Betawi yang sangat melegenda adalah Si Pitung. Tokoh legenda ini kerap kali menghabiskan waktunya berdiam diri berlama lama di Masjid Al Alam yang merupakan peninggalan Fatahillah, pendiri Jayakarta yang sudah berubah nama menjadi Batavia itu.

Di masjid ini juga Si Pitung kerap kali bersembunyi dari kejaran pasukan Kompeni Belanda, legenda masyarakat menyebutkan bahwa Si Pitung seakan tak terlihat oleh Pasukan Belanda saat bersembunyi di masjid ini, itu sebabnya dikemudian hari Masjid Al-Alam yang dibangun oleh Fatahillah itu juga disebut sebagai Masjid Si Pitung.

Masjid Jami’ Al Atiq, Kampung Melayu, Jakarta Selatan 

4. Masjid Jami’ Al Atiq Kampung Melayu (1632), Jakarta Selatan

Perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Batavia juga dilakukan oleh Maulana Hasanuddin, Sultan pertama di Kesultanan Banten yang juga merupakan putra pertama Sunan Gunung Jati (Cirebon). Di masa kekuasaannya (1552-1570) Maulana Hasanuddin sempat mengirimkan pasukannya  menyerbu Batavia. Induk pasukannya yang bermarkas di daerah Kampung Melayu.

Di kampung Melayu Pasukan Maulana Hasanuddin mendirikan sebuah Mushola untuk keperluan mereka beribadah. Mushola yang kemudian disebut sebagai Masjid Kandang Kuda karena berada di perkampungan tukang Sado, kemudian berubah menjadi Masjid Jami’ Kampung Melayu. Sejauh ini tidak ditemukan bukti otentik terkait tahun awal pembangunan masjid ini selain dari kisah tutur masyarakat setempat. Nama masjid ini kemudian di ubah menjadi Masjid Al-Atiq pada tahun 1970-an oleh Pak Ali Sadikin, Guburnur DKI Jakarta saat itu,

5. Masjid Al-Anshor Pekojan (1648) Jakarta Barat

Pelarangan pembangunan masjid di wilayah kota Batavia tidak di indahkan oleh muslim pendatang yang berasal dari Hadramaut (Yaman) dan Gujarat (india) yang oleh Penjajah Belanda di generalisir sebagai orang Moor. Penyebutan Moor bagi Muslim pendatang di Batavia oleh Belanda ini menyiratkan trauma masa lalu bangsa Eropa terhadap Islam. Moor adalah Suku bangsa Muslim di Benua Afrika bagian utara (kini Maroko dan Sekitarnya).

Masjid Al Anshor Pekojan, Jakarta Barat 

Bangsa Moor ini di bawah pimpinan Tarikh Bin Ziyad pada abad ke 7 menyerbu dan menaklukkan Eropa barat (Spanyol dan sebagian Prancis) dan kemudian mendirikan Emperium Islam Andalusia yang berpusat di Istana Alhambra di Cordoba (Spanyol). Berawal dari sejarah tersebut, Bangsa bangsa di Eropa Barat men-jeneralisir Muslim sebagai orang Moor termasuk menyebut Muslim di Kesultanan Sulu (kini di Philiphina Selatan) sebagai orang orang Moor yang dikemudian hari dan hingga kini dikenal dengan sebutan Bangsa Moro.

Muslim India dan Hadramaut ini sebelumnya tinggal di Banten lalu menjalankan bisnis mereka di kota Batavia yang oleh Belanda dijadikan Ibukota di tanah Jajahannya yang disebut Hindia Belanda.Di tahun 1648, atau sekitar 29 tahun setelah bedirinya Batavia Muslim India yang tinggal di kawasan Pekojan (kecamatan Tambora, Jakarta Barat) mendirikan Masjid Al-Anshor di Jalan Pengukiran.

Kawasan Pekojan kala itu merupakan kawasan hunian muslim dari India. Kata ‘Koja’ pada kata “Pekojan” sendiri berasal dari kata "Khoja", daerah di India asal para pedagang tersebut. Kata “Koja” di duga juga diduga berasal dari kain tenun yang biasa dipakai untuk ikat kepala oleh orang-orang Banten. Dan bagaimanapun, seperti disebutkan tadi, muslim India di Pekojan ini sebelumnya adalah mukimin di Wilayah Banten sebelum kemudian pindah ke Batavia. (bersambung ke bagian 2)

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Artikel terkait
 




26 Masjid Masjid Tua Jakarta

photocolage 26 Masjid Masjid Tua Jakarta

Mengingat Sejarah Jakarta dari Masjid

Bermula dari tanggal 22 Juni 1527 tatkala pasukan gabungan dari Kesultanan Demak dan dari Kesultanan Cirebon dibawah komando Fatahillah dengan sokongan dari pasukan Banten berhasil meluluhlantakkan kekuatan Portugis di Sunda Kelapa, Fatahillah memproklamirkan berdirinya Jayakarta alias kota kemenangan yang dikemudian hari berubah menjadi Jakarta dan tanggal 22 Juni setiap tahun diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta.

Sejarah Jayakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah Fatahillah, Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, para wali dan Islam dan masjid masjid tua yang bertebaran diseantero kota itu. Dalam masa penyerbuan ke Sunda Kelapa pasukan Fatahillah membangun dua masjid bersejarah yang seumur dengan sejarah kota Jakarta. Dua masjid tersebut kini dikenal dengan nama Masjid Al-Alam Marunda dan Masjid Al-Alam Cilincing, kedua masjid ini merupakan warisan dari Fatahillah dan pasukannya.

Pemerintahan Islam di Jayakarta memang tak berlangsung lama, entitas ini runtuh dalam serangan kedua dari VOC Belanda di tahun 1619. Pangeran Jayakarta atau Jaketra selaku penguasa terahir Jayakarta harus menyingkir ke daerah yang kini dikenal dengan nama Jatinegara Kaum, melakukan perlawanan tanpa kenal menyerah hingga ahir hayat. Jejak beliau masih bisa ditemukan di Masjid Jami’ As-Salafiyah Jatinegara Kaum.

Belanda kemudian mengganti nama kota Jayakarta menjadi Batavia, melarang pembangunan masjid di dalam tembok kota sebagai bagian dari kampanye melenyapkan semua sisa pengaruh Kesultanan Jayakarta. Namun sejarah berkata lain, masjid masjid dan komunitas muslim bermunculan sepanjang sejarah Batavia, sampai ahirnya kota itu kembali ke pangkuan bumi pertiwi. Masing masing masjid itu bercerita dan bersaksi tentang sebuah kegigihan perlawan ummat terhadap penjajahan, penistaan dan ketidakadilan.

Berikut kami rangkumkan 26 masjid masjid tua di kota Jakarta sejak kota itu berdiri hingga menjelang kemerdekaan Republik Indonesia disusun berdasarkan urutan waktu. Masing masing akan kami uraikan secara singkat dalam lima tulisan terpisah.

Masjid masjid dari abad ke 16 Masehi


Masjid masjid dari abad ke 17 Maseh

(5). Masjid Al Anshor Pekojan, Jakarta Barat (1648)

Masjid masjid dari abad ke 18 Maseh

(7). Masjid Al-Ma’mur Tanah Abang (1704 ) Jakarta Pusat
(10). Masjid Kampung Baru Pekojan (1748) Jakarta Barat
(11). Masjid Jami’ Annawier, Pekojan (1760) Jakarta Barat
(12). Masjid Jami’ Al-Anwar, Angke (1761) Jakarta Barat
(14). Masjid Krukut (1785) Jakarta Barat
(15). Masjid Jami’ Kebon Jeruk (1786) Jakarta Barat

Masjid masjid dari abad ke 19 Maseh

(16). Masjid Az-Zawiyah Pekojan (1812) Jakarta Barat
(18). Masjid Jami Attaibin Senen (1815)
(19). Masjid Agung Matraman (1837) Jakarta Pusat
(20). Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur (1860), Jakarta Pusat

Masjid masjid dari abad ke 20 Maseh

(21). Masjid Baitul Mughni (1901) Jakarta Selatan
(22). Masjid Ar Raudah, Pekojan - Jakarta (1905) Jakarta Barat
(23). Masjid Al-MukarromahKampung Bandan (1917) Jakarta Utara
(24). Masjid Hidayatullah Setiabudi (1921) Jakarta Selatan
(25). Masjid Maulana Hasanudin Cikoko, Pancoran (1928-1933) Jakarta Selatan
(26). Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang (1938) Jakarta Pusat

Anda dapat mengklik masing masing nama masjid tersebut untuk membaca detil sejarah masing masing tersebut ataupun melanjutkan membaca lima sequel tulisan yang mengulas secara singkat masing masing masjid tersebut. Selamat Hari Jadi Kota Jakarta, Jaya Selalu.***