Kamis, 19 Agustus 2010

Masjid Saka Tunggal, Salah Satu Masjid Tertua di Indonesia

Beberapa bagian dari masjid Saka Tunggal Baitussalam ini telah mengalami perombakan dan sentuhan kekinian, namun demikian sebagian besar bentuk bangunannya masih asli.

Nama resmi masjid ini adalah masjid Saka Tunggal Baitussalam,  tapi lebih populer dengan nama masjid saka tunggal karena memang Masjid ini hanya mempunyai saka tunggal (tiang penyangga tunggal). 

Saka tunggal yang berada di tengah bangunan utama masjid, saka dengan empat sayap ditengahnya yang akan nampak seperti sebuah totem, bagian bawah dari saka itu dilindungi dengan kaca guna melindungi bagian yang terdapat tulisan angka 1288 dalam aksara arab yang kemungkinan adalah tahun pendirian masjid tersebut. Masjid saka tunggal berukuran 12 x 18 meter ini menjadi salah satu masjid tertua di pulau Jawa dan di Indonesia.

Lokasi Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masjid Masjid Saka Tunggal Baitussalam
Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas
Kabupaten Banyumas, Propinsi Jawa Tengah
            Koordinat Geografi : 7°28'26.05"S 109° 3'20.32"E


Masjid Masjid Saka Tunggal Baitussalam berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon Banyumas. , Banyumas, Jawa Tengah, Ditengah suasana pedesaan Jawa yang begitu kental. Di kawasan masjid yang dipenuhi dengan kera-kera yang berkeliaran bebas. Di masjid ini terdapat beberapa ruang. Halaman masjid cukup luas untuk menampung beberapa kendaraan. Di depan halaman masjid, sudah disediakan tempat berwudhu dan kamar mandi. Dari jalan raya menuju pintu gerbang  masjid ini cukup jauh letaknya berada diantara rumah  rumah penduduk.  Kawasan ini memang sudah menjadi cagar budaya, dibelakang masjid ini terdapat komplek pemakaman tua dengan gerbangnya yang masih bertuliskan aksara Jawa. Makam yang secara rutin di ziarahi oleh warga muslim setempat.

Sejarah Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masjid ini dibangun pada tahun 1288 Hijriah sebagaimana angka yang terpahat di satu satunya tiang di dalam masjid ini, bertepatan dengan tahun 1871 Masehi, menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia. Berbagai sumber mengaitkan sejarah Masjid Saka Tunggal ini dengan Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama Mbah Mustolih yang disebutkan hidup dimasa Mataram Kuno. 

Dalam syiar Islam yang dilakukannya, Mbah Mustolih menjadikan Cikakak sebagai "markas" dengan ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal.

Masjid Saka Tunggal Baitussalam saat ini masih dengan bentuk aslinya meski berkali kali diperbaiki. pagar beton disekelilingnya sengaja dibangun untuk menjaga bangunan ini.

Hal tersebut cukup membingungkan mengingat bahwa kerajaan Mataram Kuno yang kental dengan agama Hindu, sudah runtuh oleh serbuan Kerajaan Sriwijaya ditahun 1016 atau sekitar delapan setengah abad sebelum Masjid Saka Tunggal ini dibangun. 

Kecuali bila yang dimaksud adalah: bahwa Mbah Mustolih adalah keturunan dari anggota keluarga kerajaan Mataram Kuno atau keturunan dari warga Mataram Kuno generasi kesekian yang sudah beragama Islam, dan kemudian menjadi penyebar atau tokoh Islam di Cikakak.

Saka atau Soko Tunggal di tengah Masjid Saka Tunggal Baitussalam ::: Nama Saka Tunggal merujuk kepada saka atau soko guru yangberdiri sendirian ditengah masjid menopang struktur atap masjid ini. Di tiang tunggal inilah terukir tahun pembuatan masjid dan mengabarkan kepada kita semua hari ini bahwa inilah masjid tertua yang ada di Indonesia saat ini.

Tarekat Aboge

Masyarakat desa Cikakak tempat masjid Saka Tunggal Baitussalam ini berdiri seringkali menjadi pusat perhatian media masa nasional terutama di setiap penghujung bulan Ramadhan karena penetapan 1 Syawal sebagai hari pertama Idul Fitri yang tidak mengikuti penetapan pemerintah, akibatnya seringkali Muslim disana merayakan lebaran tidak berbarengan dengan muslim Indonesia lainnya.

Kompilasi foto ekterior Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Masyarakat muslim disini memang merupakan pengikut tarekat Aboge yang memiliki perhitungan sendiri tentang penetapan 1 Syawal. Di Desa Cikakak, sedikitnya ada 500 orang pengikut Aboge terdiri dari orang dewasa dan generasi muda dan tentu saja semua peribadatan komunal mereka diselenggarakan di Masjid Masjid Saka Tunggal ini. di dua sholat hari raya masjid ini tidak mampu menampung seluruh jemaah sekaligus, sehingga jamaah harus tumpah ruah ke halaman disekitar masjid.

Yang unik saat pelaksanaan sholat Idul Fitri adalah khutbahnya disampaikan dalam bahasa Arab dan tanpa pengeras suara, usai pelaksanaan ibadah Idul Fitri, jamaah melaksanakan pembacaan takbir, ratib, tahlil dan sholawat bersama-sama. Suara beduk dan terbang mengiringi prosesi itu. Setelah berdoa bersama-sama, prosesi silaturahmipun dilaksanakan. Jamaah yang semula berada di dalam masjid kemudian mencair dan melebur dengan warga yang berdatangan ke area kompleks Masjid Saka Tunggal. Membentuk barisan yang panjang mengelilingi area kompleks masjid, merekapun akhirnya saling berjabat tangan untuk saling memaafkan.

Usai prosesi silaturahmi, sebagian pengikut Aboge mengadakan acara kenduri slametan di dalam masjid. Usai didoakan, merekapun bersama menyantap makanan yang dibawa menggunakan 'tenong' dan rantang. Menurut tradisi Aboge, Pedoman untuk menentukan 1 Syawal, adalah Waljiro- 'Syawal Siji Loro' atau Syawal jatuh pada hari 'siji' (pertama) dari hari Sabtu dan pasaran 'loro' (kedua) dari pasaran Legi maka 1 Syawal Tahun Dal akan jatuh pada hari Sabtu Pahing.

Interior Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Diketahui bahwa dalam Perhitungan Aboge dikenal siklus delapan tahunan (satu windu) yang masing-masing tahun terkenal dengan tahun Kuruf (Asal dari Bahasa Arab: Huruf). Tahun Kuruf terdiri dari Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakir. Dari sejumlah tetua pengikut Aboge menyebutkan kesamaan rumus yang dipakai dalam menentukan tanggal, bulan dan tahun Jawa Hijriyah. Selain itu, walaupun ada yang menyebut bahwa perhitungan Aboge ini ditetapkan secara formal oleh Sultan Agung sejak abad 17 Masehi namun sejumlah pengikut Aboge menyatakan bahwa perhitungan Aboge ini telah ada sejak abad 14-15 Masehi yang disebarkan oleh sejumlah wali dan pengikutnya di daerah Banyumas.

Tradisi Unik Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Zikir seperti melantunkan kidung jawa
Keunikan masjid saka tunggal Banyumas, benar benar terasa di hari Jum’at. Selama menunggu waktu sholat jum’at dan setelah sholat jum’at, Jamaah masjid Saka Tunggal berzikir dan bershalawat dengan nada seperti melantunkan kidung jawa. Dengan bahasa campuran Arab dan Jawa, tradisi ini disebut tradisi ura ura.

Pakaian Imam dan muazin
Imam masjid tidak menggunakan penutup kepala yang lazimnya digunakan di Indonesia yang biasanya menggunakan peci, kopiyah, tapi menggunakan udeng/pengikat kepala. khutbah jumat disampaikan seperti melantunkan sebuah kidung,

Empat muazin sekaligus
Empat orang muazim berpakaian sama dengan imam, menggunakan baju lengan panjang warna putih, menggunakan udeng bermotif batik, dan ke empat muazin tersebut mengumandangkan adzan secara bersamaan.

Kemeriahan ritual Penjarohan
Semuanya dilakukan berjama’ah
Uniknya lagi, seluruh rangkaian sholat jumat dilakukan secara berjamaah, mulai dari shalat tahiyatul masjid, kobliah juma’at, shalat Jumat, ba’diah jum’at, shalat zuhur, hingga ba’diah zuhur. Semuanya dilakukan secara berjamaah.

Tanpa Pengeras Suara
Masjid Saka Tunggal Baitussalam hingga saat ini masih mempertahankan tradisi untuk tidak menggunakan pengeras suara. Meski demikian suara azan yang dilantunkan oleh empat muazin sekaligus, tetap terdengar begitu lantang dan merdu dari masjid ini.

Ritual Penjarohan
Ritual Penjarohan digelar setiap tanggal 26 Rajab di halaman Masjid Saka Tunggal, Ritual ini sebagai bentuk rasa syukur dan sekaligus haul Mbah Mustalih pendiri Masjid Saka Tunggal dan seligus perayaan ulang tahun masjid Saka Tunggal. Penjarohan berasal dari kata "jaroh", yang artinya ziarah. Intinya adalah penghormatan kepada leluhur yang telah mendirikan desa dan masjid Saka Tunggal yang sampai sekarang menjadi pusat kegiatan peribadatan dan sosial mereka. Dalam ritual itu, mereka juga memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang melimpah.

Sholat Idul Fitri di Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Ritual Ganti Jaro, Masjid Saka Tunggal

Adalah ritual mengganti pagar bambu keliling masjid saka tunggal. Ritual ini diikuti oleh seluruh warga desa Cikakak. Dalam ritual yang mereka sebut ganti Jaro Rajapine. Saat membuat pagar ada beberapa pantangan yang harus ditaati. Mereka dilarang berbicara dengan suara keras serta tidak boleh menggunakan alas kaki. Sehingga yang terdengar hanya pagar bambu yang dipukul. Karena melibatkan ratusan warga, hanya dalam waktu 2 jam pagar sepanjang 300 meter ini selesai.

Selain bermakna kebersamaan dan gotong royong, tradisi ganti Jaro Rajab ini bagi warga di sini dipercaya bisa menghilangkan sifat jahat dari diri manusia. Pagar bambu ini selain mengelilingi Masjid Saka Tunggal juga makam Nyai Toleh. Seorang penyebar agama di Banyumas. Sejumlah utusan dari kraton Surakarta dan Ngayogjogkarta Hadiningrat ikut ambil bagian dalam acara ini dengan memanjatkan doa di makam, sebagai rasa syukur.

Ritual ganti Jaro Rajab ini kemudian diakhiri dengan prosesi arak arakan 5 gulungan yang berisi nasi tumpeng ini kemudian diperebutkan warga karena dipercaya bisa memberikan berkah.

Arsitektur Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Salah satu keunikan Saka Tunggal adalah empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan ”papat kiblat lima pancer”, atau empat mata angin dan satu pusat. Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang melambangkan api, angin, air, dan bumi.  Saka tunggal itu perlambang bahwa orang hidup ini seperti alif, harus lurus. Jangan bengkok, jangan nakal, jangan berbohong. Kalau bengkok, maka bukan lagi manusia.

Gerbang menuju ke komplek Masjid Saka Tunggal

Empat mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh. ”Hidup itu harus seimbang,”

Papat kiblat lima pancer ini sama dengan empat nafsu yang ada dalam manusia. Empat nafsu yang dalam terminologi Islam-Jawa sering dirinci dengan istilah aluamah, mutmainah, sopiah, dan amarah. Empat nafsu yang selalu bertarung dan memengaruhi watak manusia.

Keaslian yang masih terpelihara adalah ornamen di ruang utama, khususnya di mimbar khotbah dan imaman. Ada dua ukiran di kayu yang bergambar nyala sinar matahari yang mirip lempeng mandala. Gambar seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan kuno era Singasari dan Majapahit.

Kekhasan yang lain adalah atap dari ijuk kelapa berwarna hitam. Atap seperti ini mengingatkan atap bangunan pura zaman Majapahit atau tempat ibadah umat Hindu di Bali. Tempat wudu pun juga masih bernuansa zaman awal didirikan meskipun dindingnya sudah diganti dengan tembok.

Masjid Soko Tunggal saat ini 

Renovasi dan Benda Benda Peninggalan

Sejak tahun 1965 masjid ini sudah dua kali dipugar. Selain dinding tembok, juga diberi dinding anyaman bambu serta lapisan atap seng, Meski sebagian dinding telah direhab dengan tembok, tetapi arsitektur masjid tetap tidak diubah. Sehingga tidak ada perbedaan bentuk yang berarti dari awal berdiri hingga sekarang. Sedangkan tiang dari kayu jati yang menopang bangunan utama masjid dengan ukuran masih terlihat begitu kokoh. Selama ratusan tahun berdiri, warga dan jamaah di Cikakak sama sekali tidak mengganti bangunan utama yang ada di tempat itu, kecuali hanya membangun tembok sekeliling masjid sebagai penopang. Barang lainnya yang sampai sekarang masih tetap rapi dan dipelihara di antaranya adalah bedug, kentongan, mimbar masjid, tongkat khatib dan tempat wudlu.

Status Masjid Saka Tunggal Baitussalam

Sebagaimana tertulis dalam papan peringatan di sekitar  masjid, tertulis bahwa, Masjid Saka Tunggal Baitussalam, Desa Cikakak, Kabupaten Banyumas merupakan Benda Cagar Budaya/Situs dengan nomor 11-02/Bas/51/TB/04 dan dilindungi undang undang RI No. 5 tahun 1992 dan PP nomor 10 tahun 1993.

Updated : 21 April 2023

------------------------------------------

Artikel Terkait


Masjid Mantingan, Jepara


Masjid Tua Mantingan, Jepara, Jawa Tengah

Masjid Mantingan adalah salah satu dari 10 masjid tertua di Indonesia. Terletak di di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara. Dibangun dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, undak-undakannya didatangkan dari Makao. Sedangkan bangunan atap hingga bubungan-nya bergaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru, sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua.

Sayangnya beberapa kali renovasi terhadap masjid tersebut tanpa mempertimbangkan kaidah pemugaraan bangunan cagar budaya, sehingga banyak mengubah keaslian masjid tua ini. Mantingan ini banyak disebutkan dalam naskah sejarah kerajaan Mataram Islam, tentang keberadaan tempat ini.

Gerbang Ke Makam Sultan Hadiri
Di dalam komplek masjid Mantingan, di sebelah timur masjid terdapat makam Sultan Hadiri (Adipati Jepara), Ratu Kalinyamat (Istri dari Sultan Hadiri yang juga merupakan adik Sultan Trenggono, Sultan Demak terahir). Patih Sungging Badar Duwung, pembantu Sultan Hadiri, Saudaranya Sultan Hadiri keturunan China Cie Gwi Gwan, Selain itu terdapat pula makam waliullah Mbah Abdul Jalil, yang disebut-sebut sebagai nama lain Syekh Siti Jenar. Sultan Hadiri adalah orang Adipati Jepara tahin 1536-1549 yang memimpin penyebar luasan agama Islam di pesisir utara Jawa. Di komplek pemakaman tua ini masih dapat ditemui batu batu nisan dengan lambang kerajaan Majapahit yang disebut sinar majapahit (Bentuknya seperti lambang organisasi Islam Muhammadiyah saat ini)

Sejarah Masjid Mantingan

Masjid Mantingan didirikan pada tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M, sesuai dengan pernyataan yang terdapat didalam masjid RUPA BRAHMANA WANASARI yang ditulis oleh Raden Toyib yang kemudian dikenal sebagai Sultan Hadiri, Adipati Jepara, yang juga adik Ipar dari Sultan Trenggono (Sultan Demak).

Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan
Mantingan, Kec. Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59421

 

Raden Toyib berasal dari Aceh,  beiau merpakan utusan Sultan Aceh, setelah mempelajari agama Islam di Mekah lalu bersyiar di Cina, kemudian berlabuh di tanah Jawa, bermukim di Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), saudara perempuan dari Sultan Trenggono Penguasa Kesultanan Demak Terahir. Dinobatkan sebagai Adipati Jepara dengan gelar Sultan Hadiri berkuasa pada periode 1536-1549 sampai beliau meninggal dan dimakamkan disebelah Masjid yang dia dirikan yaitu Masjid Mantingan. Kekuasaan pemerintahan kemudian dilanjutkan oleh Sultan Hadiri, Ratu Kaliyamat tahun 1549-1579.

Mitos di Komplek Masjid Mantingan

Makam Mantingan sampai sekarang masih dianggap sakral dan mempunyai tuah bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya. Pohon pace yangtumbuh disekitar makam, konon bagi Ibu-ibu yang sudah sekian tahun menikah belum di karunia putra diharapkan sering berziarah ke Makam Mantingan dan mengambil buah pace yang jatuh untuk dibuat rujak kemudian dimakan bersama suami istri, maka permohonannya insya Allah akan terkabulkan.

Tuah lain yang ada dalam cungkup makam mantingan adalah “AIR MANTINGAN atau AIR KERAMAT” yang menurut kisahnya ampuh untuk menguji kejujuran seseorang dan membuktikan hal mana yang benar dan yang salah, biasanya bagi masyarakat Jepara dan sekitarnya air keramat ini digunakan bila sedang menghadapi suatu sengketa, dengan cara air keramat ini diberi mantra dan doa lalu di minum. Tapi ini hanyalah sebuah kepercayaan, Anda boleh percaya atau tida

Keunikan Masjid Mantingan

Ukiran Kuno di Masjid Hadiri
Sesuai dengan literatur, arsitektur masjid ini sangat unik. Dari relief-relief yang ada di bangunan masjid menggambarkan pada masa pembangunannya, budaya hindu masih kental mewarnai perkembangan budaya masyarakat saat itu. Ini terlihat dari motif-motif ornamen yang ada pada hiasan masjid.

Ornamen relief beraneka bentuk menunjukkan sebuah hasil seni berkualitas sangat tinggi pada masanya. Motif binatang seperti kijang, gajah dan kera dengan stilasi sulur-sulur tercetak sangat halus pada batuan sejenis kapur yang keras. Dari beberapa relief juga tergambar epos tentang cerita Ramayana, dengan tokohnya Hanoman, Rama dan Shinta. Keunikan lain arsitektur Masjid Mantingan yang sampai saat ini bisa dilihat adalah adanya bangunan gapura candi bentar. Lagi-lagi ini menunjukkan masih adanya pengaruh budaya Hindu pada masa itu.

Konon hiasan-hiasan tersebut dibuat sendiri oleh Patih Sungging Badar Duwung, pembantu Sultan Haldirin, yang pada saat itu terkenal dengan kemampuan memahatnya. Sungging Badar Duwung, juga selalu dikait kaitkan dengan kemasyhuran para pematung dan pengukir di Jepara.

Pemugaran dan Benda Peninggalan Sejarah

Gerbang Tua
Bangunan yang sekarang tidak semuanya asli, karena telah beberapa kali mengalami pemugaran. Aslinya Masjid Mantingan terbuat dari bata merah, atapnya bersusun tiga, dan memiliki tiga pintu yang masing-masing berdaun pintu ganda; ketiga pintu ini menyebabkan dinding di bagian depan terbagi menjadi empat bidang. Pada dinding ini terdapat relief rendah, dalam panel-panel. Pada setiap bidang tembok terdapat tujuh panel berelief yang tersusun dari atas ke bawah, sehingga dalam empat bidang seluruhnya ada 28 panel. Di kiri kanan masing-masing deretan panel berelief terdapat hiasan berbentuk kelelawar, demikian juga di tiap-tiap pintu, sehingga jumlah seluruhnya 64 buah. Hiasan medalion bulat yang juga terdapat di dinding yang terletak di kiri kanan tangga naik menuju masjid, pada masing-masing sisi terdapat empat panel.

Tahun 1927 Kompleks Mantingan dipugar, menggunakan semen dan kapur sehingga merusak kekunaan dan keasliannya. Bangunan baru ini telah ditempelkan pada panel relief yang berasal dari masjid lama yang dibangun pada 1559 Masehi. Papan-papan batu berelief ini sebagian besar diletakkan di kanan-kiri atas tiga pintu yang terdapat pada dinding serambi masjid, kemudian ada yang dipasang di dinding bawah, dinding luar dan sudut-sudut bangunan.

Sekitar tahun 1978-1981, Masjid Mantingan kembali dipugar. Dalam kegiatan pemugaran berhasil ditemukan enam panel yang berelief di kedua belah sisinya, sejumlah besar balok-balok batu putih dan juga suatu fondasi bangunan kuno. Pemugaran yang terakhir ini telah mengakibatkan perubahan bentuk masjid yang atapnya dahulu bersusun tiga, kini beratap satu, tiang serambi depan dibongkar dan reliefnya dipindah. Di sisi kanan dan kiri terdapat tambahan ruangan sehingga bidang dindingnya menjadi enam bidang dan masing-masing bidang terdapat panel berelief.

Ornamen yang jumlahnya begitu banyak ditemukan selama pemugarab itu, beberapa di antaranya dipasang di tembok serambi masjid. Sedangkan yang lainya disimpan di gudang milik masjid, di Museum Kartini Jepara dan sebagian lagi tersimpan di Museum Ronggowarsito Semarang, Jawa Tengah.

Tradisi di Masjid Tua Mantingan, Jepara

Pemakaman ini ramai dikunjungi pada saat Khaul, hari dimana masyarakat memperingati hari meninggalnya Sultan Hadiri. Ritual ini diadakan setahun sekali pada tanggal 17 Rabiul Awal (Kalender Muslim) di hari itu ada tradisi "Ganti Luwur" atau (Ganti Kelambu).  Peringatan Hari Jadi Kabupaten Jepara oleh Pemkab Jepara Setiap tahun yang jatuh pada 10 April, puncak peringatan ritualnya selalu berpusat di masjid ini.***

Rabu, 18 Agustus 2010

Masjid Tua Al-Hilal Katangka, Masjid Agung Syeh Yusuf

Masjid Al-Hilal Katangka di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Mesjid Tua Al-Hilal Katangka disebut juga Masjid Agung Syeh Yusuf merupakan mesjid pertama dan tertua di Pulau Sulawesi dan di wilayah waktu Indonesia bagian tengah, sekaligus masjid tertua ke sembilan di Indonesia. Penamaan mesjid ini dari nama Syufi Kharismatik yang dipuja masyarakat Sulawesi Selatan. Syufi tersebut adalah Syeh Yusuf Al Makkasari yang merupakan kerabat raja Gowa.

Syekh Yusuf lahir 3 Juli 1626 di Kabupaten Gowa, gigih melawan penjajah Belanda, diasingkan ke Capetown, Afrika Selatan dan meninggal dunia dalam usia 73 tahun pada tanggal 23 Mei 1699, dimakamkan di daerah pertanian Zanvliet di Distrik Stellenbosch, Afrika Selatan. Atas permintaan Raja Gowa, Abdul Djalil, 5 April 1795, makam Syekh Yusuf dipindahkan ke Lakiung, tak jauh dari Masjid Katangka.

Pemerintah Indonesia menetapkan Syekh Jusuf sebagai pahlawan nasional dan di Afrika Selatan, ia mendapat tempat yang sangat istimewa di hati rakyat sebagai pahlawan pembebasan kaum tertindas dan juga dianugerahi gelar pahlawan nasional di negara itu.

Sejarah Masjid Al-Hilal Katangka

Pada foto zaman Belanda (atas)
terlihat bangunan ini  memiliki
menara yang kini sudah tak ada-
lagi.
Masjid Tua Al-Hilal dibangun pada masa pemerintahan raja Gowa XIV bernama Aku Manga'ragi Daeng - Manrabbiakaraeng Lakiung (Sultan Alauddin I) tahun 1603, Sultan Alauddin adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Sultan Alauddin adalah kakek dari I Mallombassi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Tumenanga ri Balla Pangkana atau yang dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke enam belas.

Arsitektur masjid Tua Al-Hilal Katangka ini telah menginspirasi gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo pada tahun 2009 untuk mendirikan masjid masjid dengan bentuk yang sama di 24 kabupaten/kota di Sulsel. Dimulai dengan pembangunan masjid di kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep (Pangkajene kepulauan) Sulawesi Selatan

Lokasi

Masjid ini Terletak di Jl. Syeh Yusuf, Desa Katangka, Kecamatan Sumba Ompu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Masjid ini berada di perbatasan antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa. Jarak lokasi sekitar 10 kilometer sebelah selatan pusat Kota Makassar (Lapangan Karebosi).  Terletak di koordinat S5 11 27.0 E119 27 05.5.  dan hanya 1,5 kilometer (km) dari Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa atau sekitar 9 km dari Kota Makassar, tak jauh dari makam Pahlawan Nasional Syekh Jusuf atau tokoh yang dijuluki Tuanta Sa-lamaka, pemimpin yang membawa keselamatan ummat.

Masjid Tua Al-Hilal Katangka

Jl. Syech Yusuf No.57, Katangka, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92114


 

Status

Masjid Tua Al-Hilal terdaftar sebagai benda cagar budaya pemerintah propinsi Sulawesi Selatan dengan nomor urut inventaris 98. dan sudah ditetapkan sebagai  benda cagar budaya nasional melalui surat keputusan Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Juwono Sudarsono

Arsitektur

Luas bangunan 212,7 m2 dan dikelilingi pagar besi, dengan tiang pagar dari tembok. Arsitektur bangunan merupakan campuran seni bangunan Makassar dan Islam. Dalam bangunan terdapat tiang soko guru, mimbar dan mihrab. Pintu masuk menuju ke beranda mesjid hanya sebuah terletak di muka. Pada dinding depan sebelah kiri-kanan pintu terdapat hiasan terawang yang berfungsi sebagai lubang angin.
Di beranda ini terdapat tembok dan di bagian atasnya berterawang dari keramik yang semula dipergunakan pembatas tempat wudhu. Tiga buah pintu masuk ke ruang tengah tempat sholat memiliki hiasan tulisan Arab dan berbahasa Makassar. Tulisan ini terdapat di ambang pintu bagian atas. Atap mesjid bertingkat tiga dari bahan genteng. Antara atap mesjid tingkat dua dan tiga terdapat pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di keempat sisinya. Di puncak mesjid terdapat mustaka.

Bila dilihat dari foto tua Dari sumber KITLV Leiden, disebut dengan tulisan: Grote moskee van Gowa, vermoedelijk te Makassar 1910. dengan keadaan sekarang. Ternyata bahwa masjid tua Al-Hilal dulunya memiliki Menara dan sekarang menara di masjid itu telah hilang.

Luasnya 174,24 meter persegi. Pada zamannya, masjid ini termasuk besar, mewah, dan dianggap penting karena konstruksinya terbuat dari batu bata. Hanya bangunan penting yang dibuat dari batu bata saat itu, seperti istana dan benteng. Fungsi utamanya tentu sebagai tempat ibadah. Setiap datang waktu salat, masjid ini ramai dipenuhi jamaah. Tetapi, ada beberapa makam di halaman masjid. Itu adalah makam para pemuka agama dan kerabat pendiri masjid. Khusus makam para pendiri masjid memiliki atap di atasnya berbentuk kubah.

Masjid Al-Hilal dari sudut yang sedikit berbeda

Salah satu yang mencirikan masjid ini merupakan bangunan kuno adalah dindingnya. Dinding yang terbuat dari batu bata itu cukup tebal, mencapai 120 centimeter. Struktur atapnya mirip bangunan joglo. Memiliki empat tiang penyangga yang dalam arsitektur Jawa disebut soko guru. Hanya saja terbuat dari susunan batu, bukan kayu. Terdapat dua lapis atap. Atap bagian atas berbentuk segi tiga piramida dengan bahan dari genting. Masjid ini juga memiliki serambi sebagaimana umumnya masjid di Jawa.

Pengaruh kebudayaan Cina terlihat pada atap mimbar yang mirip bentuk atap klenteng. Di sekitar mimbar juga masih terpasang keramik dari Cina yang konon dibawa oleh salah satu arsiteknya yang berasal dari sana.


Renovasi

Sejak didirikan tahun 1603M, oleh Raja Gowa ke-24, Sultan Alauddin (I Manga’ragi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung). Kemudian ditahun 1605M dijadikan sebagai masjid kerajaan dengan nama Masjid Katangka, Masjid tua Katangka sudah beberapa kali mengalami perombakan dan renovasi. Berikut catatan renovasi yang pernah terjadi terhadap masjid tua Katangka.

  1. Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir
  2. Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf
  3. Tahun 1893 oleh Raja gowa XXXIV , Sultan Muhhamad Idris
  4. Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gowa H. Manysur Daeng Limpo
  5. Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Andi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa
  6. Tahun 1979 oleh Depdikbud RI, selanjutnya masjid ini lebih dikenal oleh masyarakat sebagai masjid  Al Hilal Katangka. Dan
  7. Terahir direhabilitasi pada tahun 2007 oleh pengurus masjid sendiri dengan dana yang bersumber dari swadaya masyarakat dan sebagian dari bantuan pemerintah. Kondisi terkini bagian dalam masjid bersejarah tersebut telah jauh lebih modern. 

Dindingnya meski tidak dilapisi keramik atau porselin tampak sangat terjaga. Tiang penyangga berbentuk pilar, berwarna putih. Lantai dasar telah dihiasi keramik berwarna krem. Lalu ada beberapa kipas angin gantung, sebagai pemberi hawa sejuk saat beribadah. *** [updated 4 Mei 2025].

Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------