Selasa, 05 Oktober 2010

Masjid Jami’ Tan Kok Liong - Cibinong

Masjid Tan Kok Liong.

Masjid Tan Kok Liong adalah salah satu dari sedikit masjid di Indonesia yang ber-arsitektur Tiongkok. Sepintas lalu memang tak tampak seperti bangunan masjid kebanyakan karena memang bentuk masjid ini mengadopsi gaya arsitektur era dinasti Ching di China.

Masjid Jami’ Tan Kok Liong, merupakan bagian dari komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Terpadu At-Ta’ibin yang didirikan oleh Mohammad Ramdan Effendi atau lebih dikenal dengan nama Anton Medan mantan napi yang kemudian sukses menjadi da’i dan pengusaha. Tan Kok liong adalah nama beliau semasa masih kanak kanak. 

Masjid Tan Kok Liong
Komplek Pesantren At-Ta’ibin
Jl. Raya Kampung Sawah No. 100 RT02/RW08 
Kp. Bulak Rata, Kel Pondok Rajeg, Kec. Cibinong
Kab. Bogor 16914, Jawa Barat.
Telepon : (021) 70238033


Dengan angkutan umum, dapat ditempuh dari terminal Depok dengan rute : naik angkot D10 dari terminal depok lalu turun di terminal kampung sawah, lalu naik sekali lagi angkot 72 (warna biru) dan turun di gapura pesantren, dari gapura bisa berjalan kaki ataupun menggunakan ojek ke pesantren.

Sejarah Pendirian Masjid Tan Kok Liong

Masjid Jami' Tan Kok Liong mulai dibangun pada 2005 dengan dana 2 Milyar Rupiah. Ide awalnya muncul dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Cina tahun 2004. Dalam kunjungan tersebut, Presiden Yudhoyono berusaha meyakinkan pengusaha Cina supaya bersedia menanamkan modalnya di Indonesia. Anton Medan, yang hanya melihat acara tersebut di televisi, tergerak untuk menunjukkan kepada pengusaha Cina bahwa komunitas Tionghoa di Indonesia diakui dan dilindungi pemerintah.

Ornamen Masjid Tan Kok Liong.

Bermodal keuntungan usaha percetakan dan sablon bagi peserta Pemilu 2004, Anton mulai mendesain bentuk masjid bergaya klenteng. Dia mendesain sendiri tanpa jasa arsitek atau desainer interior. Untuk mewujudkannya, Anton berburu VCD bentuk-bentuk istana di Cina ke Pluit. Dari berbagai bentuk itu akhirnya terpilih tiga istana: Istana Dinasti Ching, Ming, dan Han. Pilihan jatuh pada istana Dinasti Ching, yang mendekati kemiripan dengan desain masjid di Indonesiaز 

Arsitektur Masjid Jami’ Tan Kok Liong

Rancang bangun masjid Jami’ Tan Kok Liong ini di buat sendiri oleh pembangun dan pemiliknya, Anton Medan. Bangunan berlantai tiga berukuran 16 x 20m ini memang lebih menyerupai kelenteng dibandingkan sebuah masjid. Bangunan yang menjulang tinggi itu didominasi warna merah menyala. Ornamen naga menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Lantai dasarnya digunakan untuk kantor pesantren, lantai satu dan dua untuk shalat. Kubah masjidnya berukuran kecil  berada di atap depan lantai dasar. Berbeda dengan masjid pada umumnya yang berkubah besar dan berada di puncak atap utama.

ornamen di ujung atap Masjid Tan Kok Liong.

Cat dindingnya berwarna merah muda, sedangkan pilarnya didominasi merah marun, ada juga dua pilar yang berwarna emas. Sementara atapnya berwarna hijau. Ornamen naga khas arsitektur Tiongkok, menghiasi semua sudut atapnya yang berjenjang tiga. Papan nama yang bertuliskan “Masjid Jami Tan Kok Liong” bergaya tulisan Tiongkok sedangkan lafaz Allah ada di pucuk atapnya.  
Tiga penanda yang menunjukkan bahwa bangunan itu merupakan sebuah masjid adalah terdapatnya lafal Allah pada pucuk atapnya. Lalu papan namanya bertulisan "Masjid Jami' Tan Kok Liong". Terakhir, kubah di bagian atap kanopi.

Atap bangunan terdiri atas tiga undakan. Setiap jengkal atapnya berornamen Cina, seperti lampion merah. Ujung-ujung wuwungan dihiasi kepala naga yang merupakan simbol kesuksesan, seolah menyembul dari awan. Ujung gentingnya bulat berdiameter 7,5 sentimeter bertulisan dalam aksara Cina berlafal "huang" atau raja dan berlafal "Allah". "Ornamen bertulisan 'raja'  di taruh di bawah tulisan 'Allah'

Tan Kok Liong alias Anton Medan alias Mohammad Ramdan Effendi

Di pucuk atap, terdapat lafal Allah dalam tulisan arab. Atapnya berbentuk topi
Putri Xianchiang komplet dengan antingnya. Putri Xianchiang, adalah muslimah Cina pertama. Tak ada kubah., kubah bukan arsitektur Arab, melainkan Spanyol.  Empat patung burung rajawali berdiri di bawah topi Putri Xianchiang. Dengan harapan umat Islam bisa memandang setiap persoalan setajam tatapan rajawali. Bukan seperti burung perkutut, yang tiruannya diletakkan di ujung wuwungan di belakang kepala naga. Perkutut selalu bergerombol, tapi tidak berbuat apa-apa. 

Masjid ini semiterbuka. Hampir semua dindingnya adalah pintu yang dibuka ketika ada perhelatan. Uniknya, desain pintu masing-masing berbeda sebagaimana pintu-pintu kerajaan di Cina. Pintu-pintu biasanya merupakan sumbangan penduduk berbagai daerah. Setiap daerah menyumbang pintu dengan desainnya sendiri. Hanya, ukurannya sama, karena telah ditetapkan.

--------------------ooOOOoo-------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Bergaya Tiongkok Lain nya



Sabtu, 02 Oktober 2010

Masjid Cheng Hoo Pasuruan

Masjid Cheng Hoo Pasuruan.

Masjid Cheng Hoo Pandaan, Pasuruan merupakan salah satu dari tiga Masjid Cheng Hoo di Indonesia. Dua yang lain nya adalah Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Palembang. Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Palembang yang didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) serta tokoh masyarakat Tionghoa, maka masjid Cheng Hoo Pandaan ini dibangun dengan biaya dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

Masjid ini telah mejadi salah satu ikon baru pariwisata kabupaten Pasuruan. Keindahan masjid ini di abadikan oleh PT Pos Cabang Kabupaten Pasuruan dalam kartu lebaran 1431H (2010M) yang dibagi bagikan gratis kepada masyarakat, sebagai bagian dari promosi pariwisata kabupaten Pasuruan.

Lokasi Masjid Cheng Hoo – Pandaan

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Jl. Raya Kasri No.18, Petung Sari, Petungasri, Kec. Pandaan
Pasuruan, Jawa Timur 67156




Masjid Cheng Hoo Panda’an terletak di pinggir jalan raya Malang-Surabaya-Trawas-Tretes, Propinsi Jawa Timur. Lokasinya yang terletak di daerah yang memiliki pemandangan alam memukau menjadikan Masjid ini tempat istirahat sejenak yang menyenangkan bagi mereka yang melalui ruas jalan tersebut.

Di sekitar Masjid Cheng Hoo Pandaan banyak penjaja makanan seperti jamu gendong, jagung rebus, dan lain sebagainya. Jamaah yang datang dari luar kota tak jarang duduk sambil menikmati suasana di Masjid Cheng Hoo Pandaan.

Sejarah Pendirian Masjid Cheng Hoo Pandaan

Papan nama masjid
Berbeda dengan Masjid Cheng Hoo Surabaya, yang dikelola para pengusaha-pengusaha anggota Pembina Iman Tauhid Islam (PITI), Masjid Cheng Hoo Pandaan langsung ditangani Pemkab Pasuruan. Pembangunan Masjid ini di gagas oleh Jusbakir Aldjufri, bupati Pasuruan. Untuk dijadikan Landmark (penanda) yang religius bagi pengguna jalan yang melintas di wilayah .

Mulai dibangun tahun 2003 Sudah mulai digunakan pertama kali dengan sholat tarawih berjamaah pada tanggal 23 September 2006 (Ramadan 1427 Hijriah), dan diresmikan tahun 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan, Jusbakir Aldjufri. dibangun di atas lahan milik dinas pertanian kabupaten Pasuruan yang kemudian dikosongkan untuk keperluan pembangunan masjid.

Interior Masjid
Maksud dan tujuan dipilihnya bentuk masjid dengan bentuk pagoda atau kelenteng yang identik dengan tempat ibadah bagi ummat Tridharma itu hendak menunjukkan kepada masyarakat tentang universalitas Islam. Islam itu rahmat bagi semesta (rahmatin lil alamin), tak mengenal sekat-sekat bangsa, etnis, negara, dan seterusnya. Jadi, walaupun bentuknya bergaya Tiongkok, masjid ini dipakai oleh umat Islam dari mana saja.

Arsitektur Masjid Cheng Hoo Pandaan

Ornamen di atap masjid
Masjid Cheng Hoo Pandaan gaya arsitekturnya mengadopsi Masjid Cheng Hoo Surabaya yang telah lebih dulu menjadi ikon pariwisata. Lantai dasar Masjid Cheng Hoo Pandaan digunakan untuk ruang pertemuan yang disewakan, namun bagi jamaah yang ingin tidur sejenak dipersilahkan di ruang tersebut. Lantai dua khusus sholat dan tidak boleh digunakan untuk tiduran. Ukuran keseluruhan masjid dua lantai ini adalah 50 x 50m.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
--------------------ooOOOoo-------------------------

Masjid Cheng Hoo Palembang

Masjid Cheng Hoo Jakabaring Palembang.

Masjid Al Islam Muhammad Cheng Hoo Sriwijaya Palembang atau biasa disebut sebagai Masjid Cheng Hoo Palembang  berlokasi di Perumahan Amen Mulia, Jakabaring, Palembang. Masjid ini didirikan atas prakarsa para sesepuh, penasehat, pengurus Pembina Iman Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sumatera Selatan yang diketuai oleh H. A. Afandi serta tokoh masyarakat Tionghoa di sekitar Palembang.
 
Masjid Cheng Hoo Palembang merupakan Masjid Cheng Hoo ketiga yang berdiri di Indonesia, setelah Masjid Cheng Hoo Surabaya dan Pasuruan. Dibandingkan dua Masjid Cheng Hoo Lain nya Masjid Cheng Hoo Palembang merupakan Masjid Cheng Hoo terbesar.
 
Fungsi masjid Cheng Hoo lebih dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini menghelat kegiatan-kegiatan agama dan kemasyarakatan, dan telah menjadi sebuah tujuan wisata yang menarik para pengunjung dari Malaysia, Singapura, Taiwan dan bahkan Rusia. 

 

Arsitektur Masjid Cheng Hoo Palembang
 
Bangunan masjid dibangun dengan perpaduan unsur Cina, Melayu, Nusantara dan arab ini dilengkapi dengan rumah imam, Tempat Pendidikan Al-Quran untuk anak-anak secara gratis, Kantor DKM, perpustakaan masjid, serta ruang serbaguna. Bangunan masjid berukuran 25 x 25 meter berdiri di atas tanah 5000 meter persegi. Pembangunan masjid menelan biaya sekitar Rp 4 miliar.
 
Masjid Cheng Hoo Palembang, mampu menampung sekitar 600 jemaah dan berlantai 2. Lantai pertama digunakan untuk jemaah laki laki, sedangkan lantai dua digunakan khusus untuk jemaah wanita. Menara di kedua sisi masjid meniru klenteng-klenteng di Cina, dicat warna merah dan hijau giok.
 
Sejarah Masjid Cheng Hoo Palembang
 
Pembangunan masjid ini diawali dengan peletakkan batu pertama bulan September 2005. Modal awal pembangunan sekitar Rp 150 juta diperoleh dari hasil urunan anggota PITI Sumatera Selatan. Sedangkan tanah tempat masjid berdiri merupakan hibah dari pemerintah daerah.
 
Mimbar Masjid Cheng Hoo Palembang.

Bangunan masjidnya mulai digunakan sejak hari Jum’at 22 Agustus 2008 dengan digelarnya sholat jum’at berjamaah dan di hadiri tak kurang dari 1500 jemaah dari berbagai etnis dan daerah di Palembang. Acara tersebut juga dihadiri oleh walikota Palembang yang turut sholat jum’at berjamaah. Sedikit acara selamatan di selenggarakan oleh pengurus PITI Sumatera Selatan sebelum sholat jum’at dilaksanakan.
 
Keterkaitan Laksamana Cheng Hoo dengan Palembang
 
Sejarah kota Palembang memang tak terpisahkan dengan Laksamana Cheng Hoo. Sejak melakukan pelayaran mengelilingi dunia, Cheng Hoo sempat 4 kali datang ke Palembang. Cheng Hoo adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao ( 三保), berasal dari provinsi Yunnan.
 
Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Hoo ditangkap lalu diwajibkan untuk menjalani pendidikan militer sampai kemudian menjadi Laksamana. Cheng Hoo berasal dari suku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.
 
Interior Masjid Cheng Hoo Palembang.

Penyebaran Islam di Indonesia, selain dilakukan para pedagang dari Arab dan sekitarnya, ternyata para pedagang asal Tionghoa ikut berperan menyebarkan Islam di daerah pesisir Palembang. Di sini pula peran Laksamana Cheng Hoo dalam menyebarkan Islam di Palembang. Armada Cheng Hoo sebanyak 62 buah kapal dan tentara yang berjumlah 27.800 yang dipimpinnya itu pernah empat kali berlabuh di pelabuhan tua di Palembang.
 
Pada tahun 1407 Kota Palembang yang berada di bawah kekuasaan Sriwijaya pernah meminta bantuan armada Tiongkok yang ada di Asia Tenggara untuk menumpas perampok-perampok Tionghoa Hokkian yang mengganggu ketenteraman. Kepala perampok tersebut yang bernama Chen Tsu Ji berhasil diringkus dan dibawa ke Peking (kini Beijing). Semenjak itu, Laksamana Cheng Hoo membentuk masyarakat Islam Tionghoa di Kota Palembang yang memang sudah ada sejak zaman Sriwijaya.
 
Gerombolan perompak yang dipimpin Chen Tsu Ji, sebenarnya bekas seorang perwira angkatan laut China asal Kanton. Dia melarikan diri ketika Dinasti Ming berkuasa. Pelariannya berlabuh di Palembang. Kedatangannya ke Palembang telah membuat resah para pedagang yang singgah. Sebab, Chen Tsu Ji membawa ribuan pengikutnya dan membangun basis kekuasaan di Palembang, atau po-lin-fong dalam bahasa China, yang berarti ”pelabuhan tua.” Selama berkuasa di Palembang, Chen Tsu Ji menguasai daerah sekitar muara Sungai Musi, perairan Sungsang, dan Selat Bangka.
 
Sisi depan Masjid Cheng Hoo Palembang.

Anak buah Chen Tsu Ji merompak semua kapal yang melintasi perairan itu. Kebetulan atau tidak, daerah-daerah itu sampai kini jadi kantung-kantung bandit Palembang. Selama perjalanan Cheng Hoo antara 1405–1433 M, dia pernah empat kali ke Palembang. Tahun 1407 masehi, armada Cheng Hoo mampir ke Palembang dalam rangka menumpas perompak yang dipimpin Chen Tsui Ji tersebut.
 
Kemudian, pada tahun 1413–1415M, 1421–1422M, dan tahun 1431–1433 M, armada Cheng Hoo berlabuh ke Palembang. Setelah memberantas para perampok, Laksamana Cheng Hoo berlabuh hingga tiga kali ke Palembang. Namun, tidak ada yang tahu maksud dan tujuannya.
 
Hingga kini etnis thionghoa menjadi salah satu etnis yang mendiami wilayah Palembang dan Sumsel, dan menurut catatan saat ini Tionghoa muslim di Sumsel berjumlah sekitar 4.000 orang. Sekitar 2.000 orang lebih muslim Tionghoa telah lama menetap di Palembang.***

-----------------------ooOOOoo------------------------

Masjid Muhammad Cheng Hoo - Surabaya

Masjid Muhammad Cheng Ho Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia atau lebih dikenal dengan nama Masjid Cheng Hoo Surabaya adalah masjid pertama di Indonesia yang dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok, mirip sekali dengan kelenteng dan bangunan bangunan penting lain nya di Tiongkok. Sekaligus juga masjid pertama di Indonesia dengan nama Cheng Hoo.

Masjid Cheng Hoo Surabaya ini digagas dan didirikan atas prakarsa  HMY Bambang Sujianto ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan para sesepuh, penasehat, pengurus PITI (Pembina Iman Tauhid Islam atau sebelumnya dikenal dengan Persatuan Islam Thionghoa Indonesia) Jawa Timur serta tokoh masyarakat Tionghoa di Surabaya. Masjid Cheng Hoo Surabaya ini mendapatkan Rekor MURI sebagai “Pemrakarsa dan Pembuat Masjid Berasitektur Tiongkok Pertama di Indonesia”

Lokasi Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia

Lokasi masjid berada di bagian belakang gedung serbaguna PITI Jawa Timur di Jalan Gading Nomor 2,
Ketabang, Genteng, Surabaya. Atau berada
di belakang Komplek Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa, Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya 
Jl. Gading No.02, Ketabang, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60272 

 

Sejarah Pendirian Masjid Cheng Hoo Surabaya

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya dilaksanakan pada tanggal 15 Oktober 2001 bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Proses pembangunannya dimulai pada tanggal 10 Maret 2002 dan rampung  keseluruhan dan sudah dapat dipakai sejak tanggal 13 Oktober 2002. 

Sebagaimana tertulis di prasasti pembangunan di depan masjid, Masjid Cheng Hoo Surabaya diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Said Agil Husain Al-Munawar, MA. pada tanggal 28 Mei 2003. Proses pembangunannya menghabiskan dana Rp 700 juta Rupiah.

Prasati pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

Sejarah Penamaan Masjid

Nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Hoo, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Hoo bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam. Pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa

Kemudian Laksamana Cheng Hoo atau Admiral Zhang Hee atau Sam Poo Kong atau Pompu Awang pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai SimonganSemarang. Selain itu dia juga sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Arsitektur Masjid Cheng Hoo Surabaya

Sepintas lalu Masjid Cheng Hoo Surabaya memang mirip kelenteng, rumah ibadah umat Tri Dharma. Dengan dominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda. Ditambah relief naga dan patung singa dari lilin. 

Papan Nama Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

Bila dilihat lebih dekat, ada lafaz ''Allah'' dalam huruf Arab di puncak pagoda menunjukkan bangunan ini adalah masjid, lengkap dengan beduk di sisi kiri bangunan. Masjid ini
dibangun di atas tanah 3.070 meter persegi dan ukuran keseluruhan masjid tidak terlalu besar hanya sekitar 200 meter persegi.

Perpaduan gaya Tiongkok dan Arab memang menjadi ciri khas masjid Muhammad Cheng Ho Indonesia. Arsitektur Masjid Cheng Hoo diilhami Masjid Niu Jie (Ox Street) di Beijing yang dibangun pada 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal Jawa. Arsiteknya Ir. Aziz Johan (anggota PITI asal Bojonegoro) serta didukung tim teknis, HS willy Pangestu, Donny Asalim SH, Ir Tony Bagyo, dan Ir Rahmat Kurnia.

Mahkota pada ujung atap lebih condong pada gaya arsitektur Hindu-Jawa. Tatanan atap Masjid Cheng Ho berbentuk segi delapan (pat kwa) yang memiliki Makna "keberuntungan" atau "kejayaan" menurut numorologi Tiongkok kuno. Hitungan atau angka pada bangunan masjid semuanya punya makna. Bangunan utama seluas 11 x 9 meter. Angka 11 sebagai ukuran Ka'bah pada awal pembangunannya dan angka 9 merupakan simbol Wali Songo penyebar agama Islam di tanah Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

Masjid Cheng Hoo memiliki kolom sederhana dan dinding dilapisi keramik bermotif batu bata. Di beberapa bagian dihadirkan ornamen horizontal berwarna hijau tua dan biru muda. Pewarnaan itu diulang juga pada bentukan kuda-kuda yang dibiarkan telanjang pada bagian interior.

Ada juga bukaan lengkung pada dinding, ciri khas arsitektur India dan Arab. Pada bagian dalam masjid, terdapat podium. Di Tiongkok, podium ini dimaksudkan guna menghindari kelembapan. Podium Masjid Cheng Hoo dibagi dua, tinggi dan rendah. Podium yang lebih tinggi terletak pada bangunan utama. Sedangkan yang rendah berada di sayap kanan dan kiri bagian utama masjid. Papan nama masjid ini cukup istimewa, karena hadiah langsung dari Duta Besar China untuk Indonesia, Lu Shu Ming.

Pada sisi utara masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam. Orang Tionghoa menjalankan ajaran Islam bukanlah merupakan hal yang aneh atau luar biasa. Hal itu adalah wajar, karena 600 tahun yang lalu pun sudah ada laksamana Tionghoa yang taat menjalankan ajaran Islam bernama Muhammad Cheng Hoo. Beliau juga turut mensyi'arkan agama Islam di Indonesia.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya.

Kegiatan Masjid Muhammad Cheng Hoo 

Fasilitas yang ada di dalam kompleks Masjid Muhammad Cheng Hoo antara lain: kantor, sekolah TK, lapangan olah raga, kelas kursus bahasa mandarin dan kantin. Fasilitas tersebut disediakan demi kenyamanan beribadah dan untuk mempererat tali silaturahmi sesama umat. Selain itu banyak juga kegiatan sosial yang diselenggarakan PITI mengambil tempat di kompleks masjid ini, beberapa diantaranya: distribusi sembako murah, donor darah, serta pengobatan akupunktur.

Masjid ini dikelola PITI Korwil Jawa Timur dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan di masjid ini, seperti pengajian, tablig akbar, atau majelis taklim. Kegiatan perayaan hari-hari keagamaan Islam seperti Idul Fitri atau Idul Qurban pun dipusatkan di masjid ini. Kadang halaman digunakan untuk acara resepsi pernikahan dengan latar belakang bangunan masjid.

Hampir setiap pekan di masjid ini, biasanya setelah salat Jumat, dua-tiga warga keturunan Tionghoa mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat) sebagai tanda masuk agama Islam.


--------------------ooOOOoo-------------------------

Jumat, 01 Oktober 2010

Masjid Masjid bergaya Tiongkok di Indonesia

Indonesia memang sangat kaya dengan ke aneka ragaman budaya, sampai kepada arsitektur masjid pun begitu beragam. Seiring dengan reformasi yang bergulir sejak 1998 lalu, kungkungan terhadap etnis tertentu di negeri inipun tergerus habis. Seiring perjalanan waktu. Saudara saudara muslim Tionghoa Indonesia yang semasa pemerintahan sebelum reformasi tak bebas mengekspresikan budaya mereka kini tak lagi harus merasa takut menunjukkan jati diri sebagai bagian dari anak bangsa Republik tercinta ini. 


Badarudin II - Palembang
Fakta sejarah membuktikan bahwa pengaruh budaya Tiongkok memang sudah sejak lama mempengaruhi arsitektur masjid masjid tua di Indonesia. Sebut saja diantanya adalah Masjid Nasional Sultan Mahmud Badarudin II di Kota Palembang dan Masjid Hidayatullah di kawasan Karet, Setiabudi, Jakarta yang begitu kental dengan nuansa Tiongkok nya.

Beberapa Masjid baru dengan arsitektur sangat Tiongkok telah berdiri di beberapa kota di Indonesia. 3 masjid telah di bangun di 3 kota yang ketiga nya sama sama mengabadikan nama Laksamana Cheng Ho sebagai nama Masjid. Sebagaimana kita ketahui Laksamana Cheng Ho memiliki andil begitu besar bagi penyebaran Islam di kawasan Nusantara di era awal masuknya Islam ke Indonesia.

Masjid Hidayatullah, Setiabudi
Jakarta
3 masjid yang sudah berdiri tersebut adalah ; Masjid Cheng Ho Surabaya, Masjid Cheng Ho Palembang dan Masjid Cheng Ho Pasuruan. Sementara dua kota berikutnya juga berencana akan membangun masjid Cheng Ho sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasa  beliau. Dua kota yang sudah berencana membangun Masjid Cheng Ho Beikutnya adalah Gowa di Sulawesi Selatan dan Jember di Jawa Timur.

Selain masjid masjid Cheng Ho tersebut, masih ada lagi masjid masjid bergaya Tiongkok di Indonesia tapi tidak menggunakan nama Laksamana Cheng Ho. Masjid masjid tersebut adalah : Masjid  Tan Kok Liong – Cibinong, Jawa Barat, Masjid di komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang, Masjid Lautse Jakarta dan Masjid Lautze2 di Bandung.

Masjid Cheng Ho - Surabaya
Masjid Cheng Ho - Palembang
Masjid Cheng Ho - Pasuruan
Masjid Tan Kok Liong - Cibinong
Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang
Masjid Lautze, Pasar Baru - Jakarta
Masjid Lautze 2 - Bandung

Kesemua masjid yang bergaya Tiongkok tersebut  tidak lantas berarti hanya boleh dipakai dan digunakan oleh Muslim Tionghoa saja. Tapi sebagaimana fungsi masjid, keseluruhan masjid tersebut dibangun untuk digunakan oleh seluruh kaum muslimin tanpa memandang  suku, bangsa, ras, wana kulit, golongan dan lain sebagainya.

Uniknya dari 7 masjid tersebut di atas, tidak semuanya di dirikan oleh komunitas Muslim Tionghoa Indonesia, masjid Cheng Ho Pasuruan didirikan oleh Pemkab Pasuruan, sedangkan Masjid di Komplek Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang didirikan oleh Muhammadiyah. Ke tujuh masjid tersebut akan di ulas lebih detil dalam 7 posting berikut di blog ini dengan tag ‘serial masjid begaya Tiongkok di Indonesia’.