Rabu, 17 Agustus 2011

Islamic Center Kota Bekasi

Masjid Jami' Nurul Iman sumbangan dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila di komplek Islamic Centre Kota Bekasi.

Islamic center kota Bekasi berada di pusat kawasan bisnis kota Bekasi. Sejarah pembangunan Islamic center ini tak lepas dari nama KH Nur Ali, Pahlawan Nasional yang merupakan putra daerah Bekasi. Dibangun dimasa kota Bekasi masih merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Bekasi. Kini ketika Kota Bekasi sudah menjadi salah satu kota mandiri salah satu kota penyanggah Ibukota negara, Islamic Center kota Bekasi seakan menjadi oase ditengah belantara kota bekasi yang pelan tapi pasti bergerak menjadi bagian dari perkembangan megapolitan Jakarta.

Alamat dan Lokasi Islamic Center Bekasi

Jln. Ahmad Yani No. 22 Kota Bekasi
Propinsi Jawa Barat


Ide Pendirian

Gagasan mendirikan Islamic Centre Bekasi datang dari KH. Noe Alie (Pahlawan Nasional) ketika dalam suatu kesempatan beliau mengatakan kepada Bupati Bekasi H. Suko Martono sebagai berikut : “Saudara Bupati kita belum mempunyai sesuatu yang seperti Islamic Centre. Mumpung saudara jadi Bupati, coba dipikirkan bagaimana cara mewujudkannya”. Pada kesempatan ini sebelum mengutarakan keinginannya kepada Bupati Bekasi, KH. Noer Alie menyampaikan pula pesan yang sama kepada Ketua DPRD II Kabupaten Bekasi yang pada waktu itu dijabat oleh H.M. Roesmin.

Persisnya pesan
KH. Noer Alie berbunyi sebagai berikut : “Mumpung ente punya wewenang untuk kenang-kenangan ummat islam Bekasi, tolong wujudkan Islamic Centre, mudah-mudahan apabila saya meninggalkan Bekasi ini, mata saya merem”. Dan gagasan tersebut mendapat sambuatan baik dari berbagai pihak baik dari para tokoh Ulama dan Umaro termasuk dari kalangan tokoh masyarakat, para anggota DPRD, Alim Ulama, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bekasi dan Persaudaraan Haji Bekasi dan masyarakat lainnya.

Foto panorama Masjid & Islamic Centre Kota Bekasi.

Sejarah Pembangunan Islamic Centre Kota Bekasi

Panitia Pembangunan

Panitia pembangunan Islamic Center Bekasi dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Bekasi Nomor: 451.i/SK.394A/Kesra tertanggal 10 Juli 1990 tentang Pembentukan Panitia Pembangunan Gedung Islamic Centre Kabupaten daerah Tingkat II Bekasi. Surat Keputusan Bupati itu berisi dua hal pokok, yaitu: Pertama, mengenai susunan panitia Pelaksana Pembangunan secara terpadu. Kedua, mengenai pedoman Pelaksana Pembangunan Islamic Centre Bekasi.

Kepanitiaan terdiri dari Pelindung, Penasehat, Pengurus Harian dan Pengurus Pleno. Pelindung terdiri dari para pejabat teras pemerintahan Kabupaten Bekasi. Sedangkan penasehat diisi oleh selain para pejabat, juga melibatkan ulama dan para pemuka masyarakat. Komposisi Pengurus harian dan Pengurus Pleno juga merupakan perpaduan unsur aparat pemerintah, ulama dan pemuka masyarakat. Duduk sebagai Ketua Umum Harian,
H. Roesmin (Ketua DPRD), Ketua I dijabat oleh Drs. H. Dede Satibi (Sekwilda), Ketua II dipercayakan kepada H.. Saady Muchsin (tokoh masyarakat), Ketua III dipegang oleh dr. H. SubkiAbdul Kadir (Cendekiawan/Ulama) dan Ketua IV H. Abdul Manan (Ketua DPD Golkar). 

Menara Ir. Widiyanto
Biaya Pembangunan Islamic Center Kota Bekasi

Di dalam salah satu diktum SK Bupati Tanggal 10 Juli 1990 itu disebut bahwa, “Segala biaya yang diakibatkan oleh penetapan surat keputusan ini dibebankan kepada usaha swadaya panitia dan bantuan dari APBD Tingkat II Bekasi.”

Dalam Pedoman Pelaksanaan Pembangunan, digariskan pula petunjuk pentahapan pelaksanaan dan pengawasannya yang meliputi: pertama, Tahapan Pembangunan yang terdiri dari bangunan Auditorium, Kantor Pengelola, Perpustakaan, Mesjid, Bangunan Asrama, Bangunan selasar dan Plaza serta lapangan parkir. Kedua, Pelaksanaan Pembangunan selain diawasi Direktur Teknis juga dilakukan pengawasan berkala oleh Konsultan Perencana PT. Arsy Wastuady.

Pemilihan Lokasi

Berdasarkan peninjauan dan pembahasan panitia yang dipimpin oleh Drs. H. Dede Satibi (waktu itu Sekwilda Bekasi, sekarang Bupati Garut), H. Roesmin dan H. Saady Muchin, lokasi dimana Islamic Centre berdiri sekarang ini adalah lokasi paling tepat.

lahan seluas 3,6 hektar tempat Islamic Centre Bekasi yang kini berdiri dahulunya merupakan rawa rawa yang memiliki kedalaman hingga empat meter. Lahan tersebut merupakan tanah Hak Pengelola/sebagian dari sertifikat HPL No.I/Marga jaya atas nama PERUM PERUMNAS dengan surat izin penggunaan tanah No. 593.3/1898/Perkot.

Masjid Jami' Nurul Islam
Atas dasar perizinan penggunaan tanah yang ditertibkan Pemerintah Daerah, maka dibuatlah Site Plan Islamic Centre Bekasi dengan penandatanganan Ketua Panitia dan para pejabat Kepala Dinas PUK Kab. Bekasi yang waktu itu dijabat Bambang Supardi, Kabag Pemerintah Umum DT II Bekasi Drs. S. Sihotang, kabag Kesra DT II Bekasi (H.M. Syaiin Sahid), Kepala Kantor Pertanahan Kab. Bekasi (Ir. Widiana Ces), diketahui Ketua Bappeda TK II Bekasi yang kala itu dijabat oleh Drs H. Nonon Sonthanie (saat ini Wali Kota Bekasi) dan disetujui Bupati Daerah Tingkat II Bekasi (
H. Suko Martono). 

Bertindak sebagai Konsultan Perencanaan PT. ARSYWASTUADY pimpinan Ir. Winarto yang selaku Pengawas Berkala. Pelaksanaan pembangunannya diawasi Direktur Teknis. Pelaksana pembangunan fisik gedung digarap oleh PT. Sadari Putra pimpinan Ir. Winarto dengan pelaksana hariannya Tjetjep Kadaruddin. Khusus mengenai pembangunan mesjid Nurul Islam, Pelaksanaannya ditangani oleh Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila.

Sumber Sumber dana

Kupon sumbangan Rp. 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah). Partisipasi anggota DPRD Bekasi sebesar Rp 2.500.000,- Dana bantuan suka rela dari para calon jemaah haji tahun 1990 dan 1991 sebesar Rp 450.000.000,-(empat ratus lima puluh juta rupiah). Dana-dana tersebut itulah merupakan yang merupakan modal awal pendirian gedung Islamic Centre Bekasi. Para aghniya (orang-orang kaya) yang dermawan. dari berbagi sumber yang halal dan tidak mengikat panitia Pembangunan Gedung Islamic Centre Bekasi secara berangsur-angsur berhasil menghimpun dana sejumlah sekitar Rp. 8.3 milyar.

Tahapan pembangunan

Pembangunan tahap I yang dilaksanakan pada akhir tahun 1990 meliputi pembangunan Gedung Perpustakaan, gedung Serba Guna dan ruang-ruang kantor, Ruang rapat dll.

Sedangkan Pembangunan Tahap II dilaksanakan tahun 1991 yang meliputi pembangunan Gedung Asrama dan Ruang Makan. Bangunan Islamic Centre Bekasi didominasi Gedung Asrama, Ruang makan dan gedung serba guna serta areal parkir yang luas serta miniatur Ka’bah yang berada di plaza Mesjid. 

Miniatur Ka’bah sengaja dibuat karena erat kaitannya dengan tujuan didirikannya Islamic Center Bekasi sebagai aktifitas ummat islam. Lagi pula Islamic Centre ingin pula berkhidmah kepada jama’ah haji Bekasi terutama untuk transit pemberangkatan dan pemulangan mereka menuju dan dari Tanah Air Suci. Jumlah jamaah haji di bekasi di era 1990an menempati peringkat teratas dari seluruh Daerah Tk. II (Kabupaten dan Kotamdya) di Propinsi Jawa Barat.

Islamic Center Bekasi juga dilengkapi dengan bangunan Masjid, Mesjid Nurul Islam sumbangan Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila baru dimulai pembangunannya pada pertengahannya tahun 1992. Dan pembangunannya dirampungkan pada bulan Juli 1993. Prasasti peresmiannya ditandatangani oleh Presiden Soeharto.

Pembangunan tahap III dilaksanakan awal tahun 1993. fokus pembangunan menggarap taman, pelataran parkir, jalan, gapura dan selasar. 
Antara tahap II dan tahap III dibangun pula menara yang dirancang bangun oleh Ir. Widianto. Nama Arsitek dari PT. ARSYWASTUADY yang telah kembali kerahmatullah pada bulan Agustus 1993 ini diabadikan sebagai nama menara Masjid Nurul Islam atas persetujuan keluarga dan ahli warisnya. Kebijaksanaan ini diambil untuk mengenang jasa almarhum.

Pembangunan tahap terakhir selesai pada awal Agustus 1993 atau beberapa hari menjelang acara peresmian Gedung Islamic Centre Bekasi oleh Gubernur Propinsi Jawa Barat H.R. Nuriana tanggal 15 Agustus 1993.

Aktivitas Islamic Center Kota Bekasi

Islamic Center Bekasi saat ini menyelenggarakan berbagai kegiatan diataranya, pertama kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Nurul Islam yang merupakan pengelola Islamic Center, kedua kegiatan rutin yang langsung ditangani oleh badan pengelolah, ketiga kegiatan bersama yang melibatkan institusi lain seperti ICMI, MUI, BKMT dll, dan keempat Islamic Center menjadi fasilitator kegiatan yang diadakan oleh organisaasi lain sperti Depag, KAHMI, MUI, pengajian Almanar dll.

Disamping menyelenggarakan kegiatan bersifat keagamaan dan sosial, Islamic Center Bekasi juga memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk disewakan kepada pihak lain.
Hasil sewa fasilitas inilah yang digunakan oleh Islamic Center untuk membiayai operasionalnya, elain ruang masjid dan perkantoran, di Islamic Center Bekasi juga tersedia perpustakaan yang bisa diakses oleh masyarakat umum.

Dalam Bidang penelitian, pengkajian dan pengembangan, Islamic Center mengadakan kegiatan berupa Mudzakaroh Ulama, remaja dan wanita, studi Islamika, Konsultasi keluarga Muslim, kepustakaan dan penerbitan buku "Data Dakwah" Bekasi. Bidang lainnya seperti pendidikan, penerangan dan Dakwah menyelenggarakan kegiatan berupa pengajian rutin, kursus dan pelatihan serta menyelenggarakan kegiatan dalam rangka hari besar islam.

Tak kalah menariknya di Lokasi Islamic Center juga terdapat Islamic Preschool Centre yang merupakan program taman kanak-kanak dan play grup. Islamic Preeschool Centre ini melakukan kegiatannya dengan pendekatan student centered development dengan berupaya mengoptimalkan perkembangan pada dimensi kognitif, afektif dan psikomotorik anak dalam bingkai spritual. (bekasinews.com).*

Fasilitas & Kegiatan Islamic Centre Bekasi          

Di dalam komplek Islamic Center Bekasi tersedia p
rasarana terdiri dari :

1.    Mesjid Nurul Islam seluas 860 m2. Tempat ibadah ini mampu menampung kurang lebih 900 jamaah. Pada Shalat Jum’at, Idul Fitri, dan Idul Adha mesjid ini dikunjungi oleh ribuan ummat. Bahkan Plaza, gedung serbaguna dan halaman parkir serta tamanpun dipadati jemaah
2.    Gedung Serbagun Aula KH. Noer Alie 2 (dua) lantai seluas kurang lebih 1330 m2. Gedung ini menampung sekitar 1.100 orang.
3.    Gedung Asrama A (Arafah) dua lantai seluas 1.971 m2. Gedung Arafah ini terdiri dari 32 kamar dan 8 di antaranya berpredikat kamar utama.
4.    Gedung Asrama B (Mina) dua lantai seluas 954 m2. Bangunan ini terdiri dari 14 kamar biasa dan 8 kamar utama serta sebut saja ”kamar khusus” yang berjumlah keseluruhannya 38 kamar biasa dan 8 kamar utama. Keseluruhan kamar tersebut di lengkapi tempat tidur dengan kapasitas 500 orang. Penyediaan gedung dengan banyak tempat tidur ini dimaksudkan untuk menampung keberangkatan dan pemulangan jemaah haji Bekasi.
5.    Ruangan Makan --dua lantai seluas 1.675 m2. Gedung ini dilengkapi dengan kursi dan meja makan berkapasitas kurang lebih 500 orang, ruangan dapur kering, meja pelayanan dan meja kecil. Sejak bulan Juli tahun 2000 –untuk sementara waktu- lantai atas gedung ini digunakan untuk Kantoe Departemen Agama Kota Bekasi.
6.    Gedung Perpustakaan Darul Ulum --2 lantai seluas 620 m2. Gedung ini dilengkapi dengan lemari buku, ruang pelayanan, ruang baca dan ruang perempuan dengan kapasitas kurang lebih 100 orang.
7.    Gedung Muka --yang 2 lantai seluas 1.548 m2 ini lantai atasnya digunakan untuksekretariat yayasan, badan pengelola, Ruang pertemuan Multazam, MUI, BANAS. Sedang ruang–ruang pada lantai bawah digunakan untuk, Kantor ICMI, Sekretariat Ikatan Persaudaraan Haji (IPHI), Kantin, dan beberapa lembaga lain yang menjalin kerja sama dengan Islamic Centre.
8.    Selasar atau Koridor penghubung antar banguna seluas 697 m2, Plaza dan lahan parkir 7.731 m2. Taman dan lahan kosong yang akan direncanakan akan dibangun Gedung Poliklinik. Menara Mesjid yang diberi nama Menara Ir. Widianto. Bangunan Taman kanak-kanak (Islamic Preschool) dan taman bermainnya.

Penggunaan Fasilitas

Secara tetap fasilitas Islamic Centre Bekasi digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam, seperti shalat wajib lima waktu, shalat Jum’at, shalat Tarawih, Shalat Idul Fitri, dan Idul Adha.
Termasuk kegiatan lainnya seperti : Resepsi Pernikahan, Rapat, pertemuan, dan diklat instansi pemerintah, Seminar, diskusi , ceramah umum, Rapat kerja parpol, Kegiatan lembaga semi pemerintah seperti PKK tingkat regional maupun nasional. Rapat kerja organisasi kemasyarakatan. Penyelenggaraan testing calon karyawan perusahaan. Penampungan atlet olah raga tingkat daerah bahkan persiapan ke tingkat nasional. Tempat transit dan penginapan para siswa dan mahasiswa yang berwisata. Tempat transit menginap para tenaga kerja Indonesia yang baru pulang dari luar negeri, misalnya dari Jepang. Acara Nikah dan Walimatul arusy (resepsi Perkawinan). Dan lain lain.

Pengurus dan Pengelola Islamic Center Bekasi

Berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Nomor : C -740.HT.01.02.Th2007 pengurus dan Pengelola Islamic Center Bekasi terdiri dari

Dewan Pendiri
1. H. Suko Martono
2. H. Roesmin
3. KH. Amien Noer, Lc.
4. Drs. H. Dede Satibi
5. Ir. H. Muhammad Imron Zubaidi
6. H. Saady Muchsin
7. Hj. Yayah Zakiyah.

Dewan Penasihat
1. Walikota Bekasi
2. Ketua DPRD Kota Bekasi
3. Kepala Kantor Departemen Agama Kota Bekasi
4. Ketua MUI Kota Bekasi

PEMBINA
1. H. Roesmin (Ketua)
2. KH. Amin Noer, Lc
3. Drs. H. Dede Satibi
4. Drs. H. Nur Kamal, MZ, SH
5. H. Saady Muksin
6. Hj. Yayah Zakiyah

PENGAWAS

1. Ir. H. Masri Asyik (Ketua)
2. Ir. HM. Imron Zubaidy (Anggota)
3. KH. Nurul Anwar, Lc (Anggota)

Badan Pengurus
Ketua : H. Suko Martono
Wakil Ketua : Drs. H. Muchtadi Muchtar
Sekretaris : Drs. H. Paray Said, MM, MBA
Wakil Sekretaris : Hj. Ida Solihat
Bendahara : Drs. HR. Herry Koesaeri Sulaiman, MM, MBA
Kabid. Pendidikan Dakwah dan Humas : Dr. KH. Zamakhsyari Abdul Majid, MA
Kabid. Kesejahteraan Sosial : Hj. Atifah Hasan, Lc
Kabid. Usaha : H. Heri Budi Susetyo, SE, MBA
Kabid. Pemberdayaan Potensi Umat : Ir. H. Siswadi, MM, MBA

Badan Pengelola
Kepala : H.A. Zaini Arief
Sekretaris : Drs. Muhammad Khozin
Bidang Sarana dan Prasarana : H. Atjun Suandani
Bidang Perpustakaan : H.E. Priyasuganda
Bidang Kebersihan dan Pertamanan : H. Abdul Rouf Bahrum Hamidi
Kaur Personalia : Iing Nafiuddin
Kaur Umum : Acih Suhaenah
Kaur Keuangan : Henny Widyastuty, S. Ag
Kaur Perlengkapan : Dewi Herdwiyana
Bendahara : Aini Nursyafaah, S. Ag

Foto foto Islamic Center Kota Bekasi

Area manasik di Islamic Center kota Bekasi dilengkapi dengan miniatur Ka'bah.

Gedung Islamic Center

Atap bersusun Masjid Nurul Islam, salah satu ciri khas masjid masjid yang dibangun oleh YAMP.

Masjid Jami' Nurul Islam.
Didalam Masjid Jami' Nurul Islam.

Tanda peresmian Masjid Nurul Islam oleh Presiden Suharto selaku ketua YAMP.
















Minggu, 14 Agustus 2011

Masjid Hidayatullah – Setiabudi, Jakarta Selatan

Bertahan dihimpitan zaman dan belantara beton metropolitan Jakarta, Masjid Hidayatullah ini menjadi saksi bisu perkembangan kawasan tersebut sejak kali Krukut yang melintas di depan nya masih jernih, bersih dan bening sampai kalinya berubah hitam legam pekat dengan cemaran seperti saat ini. 

Bila anda sedang melintas di kawasan Karet, Setiabudi, Jakarta. Anda akan melintasi masjid tua berarsitektur unik ini terselip diantara belantara gedung gedung jangkung metropolitan Jakarta.  Masjid tua bersejarah yang pernah terancam akan digusur demi kepentingan kapitalis ini masih bertahan ditempatnya sejak pertama kali berdiri tahun 1921. Sebuah masjid yang mencerminkan perpaduan berbagai budaya dalam seni bangunannya, menambah khazanah seni arsitektural masjid masjid di tanah air.

Pada era kejayaannya, masjid ini menjadi kebanggaan warga Betawi di kawasan Karet. Namun kini masjid tua bersejarah ini benar benar terhimpit dan terhalang oleh gedung gedung pusat bisnis paling elit di Jakarta. Setiap jengkal lahan di kawasan ini sangat berharga sehingga tak mengerankan bila lahan masjid ini pernah menjadi incaran beberapa kalangan untuk diubah menjadi kawasan bisnis. Sebelum kemudian Masjid ini dimasukkan dalam daftar bangunan Cagar Budaya yang harus dilindungi. Kini setelah ratusan tahun berlalu masjid ini menjelma laksana oase yang menyejukkan jiwa ditengah kerasnya kehidupan Metropolitan Jakarta.

Alamat Masjid dan Lokasi Masjid

Jl. Masjid Hidayatullah (Karet Depan), RT 07/04, Karet Semanggi,
Setiabudi, Jakarta Selatan, 12930.





Sejarah Masjid Hidayatullah

Masjid Hidayatullah – Jakarta ini merupakan salah satu masjid dengan sentuhan budaya Thionghoa di Indonesia. Pertama kali dibangun pada tahun 1747 di atas lahan wakaf dari pengusaha Batik bernama Mohamad Yusuf yang tinggal didaerah Karet, lahan seluas tiga ribu meter persegi untuk masjid tersebut beliau dapat dari seorang Belanda bernama Safir Hands.

Ada dua versi tentang Muhammad Yusuf ini. sumber pertama menyebutkan bahwa beliau adalah seorang pengusaha Muslim Thionghoa, itu sebabnya arsitektur masjid ini kental dengan sentuhan budaya Thionghoa. Sementara sumber yang lain menyebutkan bahwa beliau adalah seorang pengusaha asli Betawi dan sentuhan Thionghoa pada bangunan masjid ini dikarenakan pada proses pembangunannya yang dilaksanakan secara bergotong royong oleh para jemaah termasuk jemaah muslim Thionghoa yang tinggal di kawasan tersebut kala itu.

Tak ada informasi tentang keberadaan makam Muhammad Yusuf, yang mewakafkan lahan untuk pembangunan masjid ini. Tidak jelas juga apakah memang tidak diketahui dengan jelas keberadaannya atau juga bisa jadi para pengurus masjid dan warga setempat memang menyimpan rapat rapat tentang keberadaan makam beliau guna menghindari dikultuskannya makam hamba Alloh yang sholeh tersebut dari tindakan kemusryikan para peziarah yang masih belum memahami esensi ziarah sesuai syariat.

Masjid Hidayatullah kini benar benar terhimpit diantara belantara beton kota Jakarta. Dua Penkakar langit kini mengapit masjid bersejarah ini, Gedung Sampoerna Strategic Square dan Menara Standard Chartered. 

Di sekitar masjid Hidayatullah memang terdapat begitu banyak makam kaum muslimin yang dirawat begitu apik, diantara rimbunan pepohonan rindang yang meneduhi kawasan ini. rerumputan hijau yang juga terawat dengan baik menghilangkan nuansa seram dan angker yang biasa hadir di sekitar komplek pemakaman apalagi pemakaman tua seperti makam makam disekitar masjid Hidayatullah ini.

Masjid Hidayatullah sudah tiga kali direnovasi, yaitu tahun 1921, 1948, dan 1996. Namun renovasi sama sekali tidak mengubah wajah asli masjid. Pada tahun 1991 pengusaha swasta dan pejabat pemerintah pernah akan menggusur peninggalan sejarah ini, sehingga menimbulkan bentrokan antara warga setempat dengan aparat.  Pengurus masjid dibantu Museum Nasional DKI Jakarta berhasil mempertahankannya.

Saksi sejarah perjuangan

Masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan saat melawan penjajah. Saat penjajahan dulu sering dipakai sebagai tempat mengatur strategi. Dua menara menjulang tinggi di kanan dan kiri pintu masuk masjid dulunya juga dipakai untuk mengintai musuh. Melalui masjid inilah pengiriman senjata ke daerah Karawang dan Cikampek dilakukan.

Tampak seperti miniatur. Masjid Hidayatullah dilihat dari ketinggian gedung jangkung disekitarnya tampak begitu mungil seperti miniatur.

Bukti lain keterlibatan Masjid Hidayatullah dalam perebutan kemerdekaan adalah ditangkapnya salah seorang pengurus masjid, yaitu H. Saidi yang sempat dibuang ke Digul, sebelum akhirnya dikembalikan ke lingkungan tersebut. Pahlawan Betawi ini meninggal tahun 1950-an dan di makamkan di sekitar masjid.

Tanggal 15 November 1991, masjid itu kembali menjadi saksi bisu perjuangan para warga. Masyarakat berjuang untuk mempertahankan masjid yang semula akan digusur untuk dijadikan perkantoran.
Sempat terjadi kekisruhan kala itu. Namun atas izin Alloh dan perjuangan warga, rencana tersebut batal. Masjid Hidayatullah pun masih berdiri tegak hingga hari ini.

Tradisi dan Aktivitas di Masjid Hidayatullah

Jika ingin berbuka puasa dalam suasana khusyuk masjid tempo dulu, datang saja ke Masjid Hidayatullah di kawasan Karet, Setiabudi, Jakarta Pusat. Sejak 17 tahun lalu setiap Ramadhan pengurus masjid menyediakan tajil (makanan ringan untuk berbuka) serta nasi beserta lauk bagi para jemaah.

Aktivitas keagamaan masih dan Isnya Allah akan terus berlangsung di Masjid Hidayatullah dan semakin ramai selama Ramadhan. Selama bulan suci Ramadhan setiap hari pengurus masjid menyediakan 200 tajil untuk jamaah masjid. Dan dimalam takbiran masjid menyediakan menu ketupat.  Selain penduduk setempat, jamaah yang datang untuk berbuka di antaranya karyawan perkantoran di sekitar masjid atau pengguna jalan yang terjebak macet di Jalan Sudirman.

Bangunan lama Masjid Hidayatullah, Masjid terkonservasi dengan baik.

Tak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tempat berjual beli. Semula para pedagang berjualan di depan masjid, namun atas usulan dari Sampoerna pedagang-pedagang tersebut pindah ke sebuah tempat yang jaraknya tak jauh dari masjid. "Kantin Masjid Hidayatullah namanya. Selain makan dan alat-alat sholat, ada pula pedagang yang menjajakan barang-barang lain. Seperti ikat pinggang, CD, bahkan pisau serba guna. Omset yang didapat pun terbilang bagus.

Arsitektur Masjid Hidayatullah Perpaduan Berbagai Budaya

Tampak dari luar Masjid yang sempat akan digusur ini terlihat seperti bangunan khas Thionghoa, dengan atap bersusun tiga melengkung. Sementara kehadiran dua menara yang simetris adalah ciri budaya Hindu yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah. Namun saat memasuki lingkungan masjid, jamaah dapat merasakan budaya lain. Pintu-pintu dan jendela yang ada menunjukan gaya Betawi.

Jendela kayu pada masjid tersebut yang berkisi terbuka dengan tirai setinggi separo jendela. Jendela dengan model itu sering kita jumpai pada rumah tradisional Betawi. Selain itu, pintu yang serba lebar sampai ukiran mawar yang menyatukan delapan tiang penyangganya di dalam masjid, semuanya berciri Betawi. Bangunan utama masjid diapit oleh dua buah menara dibagian depan. Pengaruh budaya Thionghoa tidak saja pada bentuk atap masjid tapi juga terlihat pada gaya ukir mimbar berupa hiasan flora dan fauna.

Jejeran makam di pekarangan masjid Hidayatullah.  

Luas lahan masjid sudah berkurang setengah dari aslinya. Hal tersebut disebabkan sebagian lahan yang ada dipergunakan untuk jalan. Namun, karena jumlah Jamaah semakin banyak, pihak masjid memutuskan untuk menambah beberapa ruangan dan tetap mempertahankan bangunan asli. 

Di kiri-kanan masjid terdapat puluhan makam yang masih terawat dengan baik. Selain itu terdapat pula pepohonan yang berusia puluhan tahun yang membuat suasana masjid menjadi semakin teduh.
Beberapa pohon yang tergolong langka di Indonesia juga tumbuh dan hidup di tempat ini, seperti pohon kurma tapi tidak berbuah, pohon malaka yang memiliki buah pahit dan bisa dimanfaatkan untuk obat serta pohon nangka yang sudah berusia ratusan tahun.

Menurut A. Heuken SJ dalam buku Masjid Masjid Tua Jakarta, kemungkinan masjid ini berawal dari sebuah bangunan mushola atau masjid kecil . dua menara kembar yang terdapat di bagian muka masjid bisa jadi merupakan gaya arsitektur yang sedang digandrungi di Jakarta ketika itu. Hal ini dapat dilihat dari adanya menara ganda pada bekas kantor imigrasi di Menteng (dibangun tahun 1913) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (dibangun tahun 1926). Aristektur menara kembar seperti ini menurut Heuken berasal dari Persia.

Sementara Iif Rahmat Faizi menyebutnya sebagai pengaruh budaya Hindu Jawa. Dalam buku panduan kecil Building, disebutkan bahwa pengaruh Mesopotamia (Irak) tepatnya gaya Babilonia, terasa lebih kuat. Desain menara kembar di atas podium terutama gerbang masuk tampaknya bermula dari pembangunan Ishtar gate pada masa Babilonia. Gaya ini kemudian berkembang memasuki era arsitektur yang lebih modern di awal abad 20.

Interior Masjid Hidayatullah

Tampaknya menara ini merupakan perpaduan antara dua menara yang khas arsitektur Babilonia dengan bentuk atap khas dari China. Gerbang masuk utama seperti ini terlihat disini memang mengingatkan pada gerbang masuk keraton keraton di Jawa yang merupakan pengaruh Hindu Jawa.

Salah satu kebiasaan elektik masyarakat Indonesia memang terasa sekali pada bangunan Masjid Hidayatullah ini. masih  menurut Iif Rahmat Fauzi, maka akan terbaca simbolisasi yang dimunculkan dalam masjid ini. Masyarakat Indonesia memang sangat senang dengan simbolisasi dalam rancang bangun arsitekturalnya. Dua menara kembar melambangkan dua kalimat syahadat. Delapan tiang penyanggah utama di dalam masjid menggambarkan 5 rukun Islam di tambah dengan 3 kepribadian Muslim yakni Iman, Islam dan Ikhsan.

Renovasi dan Perbaikan Masjid

Pada awal berdirinya, luas tanah masjid sekitar 3.000 m. Namun setelah mengalami penggusuran untuk proyek perluasan kali Krukut yang mengalir tepat di depan masjid, yaitu pada tahun 1972 dan pembuatan air limbah pada tahun 1980-an, saat ini luas tanahnya hanya tinggal 1.600 m. Sementara sampai saat ini, Masjid Hidayatullah sudah mengalami empat kali perbaikan.

Perbaikan pertama pada tahun 1921 dengan tidak merubah bentuk aslinya, namun hanya ditambah dengan bangunan samping. Perbaikan kedua pada 1948 dengan menambahkan porselen. Perbaikan ketiga pada 1972 dengan menambah internit dan perbaikan keempat tahun 1983 dengan memperluas bangunan luar.***

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Sabtu, 13 Agustus 2011

Masjid Agung Konstantia – Romania

Marea Moschee din Constanța atau Masjid Agung Constanta di Rumania adalah merupakan bangunan pertama di Rumania yang dibangun dengan beton bertulan

Bila anda penggemar Film atau novel Drakula atau pernah menyaksikan film bertema drakula, pastinya pernah mendengar nama salah satu negara Eropa ini. Rumania atau Romania dengan kota Transylvania nya sudah begitu identik dengan legenda Drakula. Legenda ini sudah menjadi salah satu objek wisata andalan bagi kawasan Transylvania di Rumania. Legenda Drakula memang lahir dari kawasan ini, tak mengherankan bila saban tahun ribuan wisatawan mendatangai kawasan ini untuk berwisata menikmati sebuah legenda tentang drakula.

Namun dibalik semua legenda itu, Romania memiliki sejarah Islam yang begitu panjang. Negeri ini pernah menjadi bagian dari Kekhalifahan Turki Usmani (lidah orang Eropa menyebutnya Otoman) selama lima abad lamanya. Tak mengherankan bila Islam di negeri ini bukan lagi hal yang asing dan sudah memiliki akar tradisi yang begitu kuat meskipun secara keseluruhan Islam merupakan agama minoritas di negeri tersebut.

Marea Moschee din Constanța
Strada Crângului 1, Constanța, Romania
muftiyat.ro
+40 241 611 390



Romania, Drakula dan Islam

Rumania (Romania atau Roumania; bahasa Rumania: România) adalah negara yang terletak di Eropa Tengah dan Tenggara, di bagian utara semenanjung Balkan dan berbatasan dengan Laut Hitam. Hampir seluruh delta sungai Donau terletak di wilayah Romania. Negara ini berbatasan dengan Hongaria dan Serbia di barat, Ukraina dan Republik Moldova di timur laut, dan Bulgaria di selatan.

Sejarah mencatat bahwa bangsa Dacia, Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Bulgaria, Kerajaan Hongaria, dan Turki Utsmani pernah menguasai wilayah ini. Sebagai sebuah negara, Romania terbentuk pada tahun 1859 dari penyatuan wilayah Moldavia dan Wallachia, memperoleh pengakuan internasional pada tahun 1878. Pada tahun 1918, Transilvania, Bukovina dan Bessarabia menyatakan bergabung dengan Romania. Pada akhir Perang Dunia II, Uni Soviet menduduki sebagian wilayahnya (kira-kira meliputi seluruh wilayah Moldova modern) dan Romania menjadi anggota Pakta Warsawa.

Dengan runtuhnya negara Tirai Besi Uni Soviet pada tahun 1989, Romania memulai reformasi politik dan ekonomi. Dalam menghadapi masalah ekonomi paska-revolusi, negara ini menerapkan pajak rendah pada tahun 2005 dan bergabung dengan Uni Eropa pada 1 Januari 2007. Meskipun tingkat pendapatan Rumania termasuk salah satu yang terendah di Uni Eropa, reformasi telah meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Romania kini termasuk negara yang memiliki pendapatan menengah ke atas.

Mihrab dan mimbar di Masjid Agung Constanta

Romania merupakan negara dengan wilayah terluas ke-9 dan penduduk terbesar ke-7 di Uni Eropa. Ibukota dan kota terbesarnya adalah kota Bukares (bahasa Romania: BucureÅŸti), yang juga merupakan kota terbesar ke-6 di Uni Eropa. Sibiu, sebuah kota di Transilvania, pada tahun 2007 terpilih sebagai Ibukota Kebudayaan Eropa. Romania juga bergabung dengan NATO pada tanggal 29 Maret 2004, dan juga merupakan anggota dari Uni Latin, Francophonie, OSCE, dan CPLP. Negara ini merupakan negara kesatuan semi-presidensial.

Di Eropa, Romania terkenal karena Transylvania - rumah Count Dracula. Karakter ini telah diasumsikan merupakan representasi dari vampir dalam budaya Barat populer; suatu karakter yang didasarkan atas Pangeran Wallachia, Vlad III, yang kemudian dikenal sebagai Impaler tersebut. Secara historis, Vlad Dracula terkenal karena perlawanannya terhadap Khilafah Usmani dan hukuman keji yang dia timpakan pada musuh-musuhnya.

Vlad Dracula dikirim pada tahun 1475 dengan sepasukan tentara Hungaria dan Serbia untuk menguasai kembali Bosnia dari Khilafah Usmani. Sementara Khilafah Usmani mengalami kekalahan pada pertempuran awal ini, kemudian tentara Khilafah Usmani memasuki Wallachia pada tahun 1476 di bawah komando Mehmed II untuk merebut kembali negeri yang hilang itu. Pada pertempuran itu, Vlad terbunuh dan, menurut beberapa sumber, kepalanya dikirim ke Konstantinopel untuk mencegah terjadinya pemberontakan lainnya.

Dipandang dari arah laut hitam

Menurut sumber-sumber yang banyak beredar di Romania, Islam pertama kali muncul ketika Pemimpin Sufi Sari Saltik datang ke wilayah ini selama Zaman Bizantium. Kehadiran Islam di Utara Dobruja kemudian diperluas oleh Khilafah Usmani yang melihat terjadinya imigrasi berturut-turut. Di Wallachia dan Moldavia, dua kerajaan Danubian, zaman Usmani itu tidak terjadi pertumbuhan jumlah kaum Muslim, yang kehadirannya di sana tetap kecil. Juga pertempuran antara Khilafah Usmani dengan Kekaisaran Habsburg menyebabkan banyak kaum Muslim pindah ke jantung negeri Islam

Romania kemudian muncul pada tahun 1859 sebagai sebuah kesatuan kerajaan-kerajaan Moldavia dan Wallachia. Dobruja Utara menjadi bagian dari Romania setelah Perang Rusia-Turki tahun 1877-1878. Namun selama rezim komunis, kaum muslim Rumania mendapatkan tindakan-tindakan keras, khususnya dilakukan pengawasan oleh negara. Muslim di Romania berhasil mempertahankan agama mereka dan setelah Revolusi Romania tahun 1989 mampu memulai dakwah Islam secara terbuka.

Islam di Romania

Agama Islam di Romania dipeluk oleh hanya 0,3% penduduknya, setara dengan sekitar 60.000 jiwa, tetapi memiliki lebih dari 800 tahun tradisi di Dobruja Utara, sebuah daerah di pantai Laut Hitam yang merupakan bagian dari Khilafah Usmani selama hampir lima abad (sekitar tahun 1420-1878).  Di Rumania saat ini, sebagian besar pemeluk Islam berasal dari etnis Tatar dan masyarakat Turki.

Kemegahan Masjid Agung Constanta masjid terjaga keasliannya hingga kini

Sebagian besar Muslim Romania adalah Sunni yang mengikuti mazhab Hanafi. 97% Muslim Rumania Muslim adalah penduduk dua wilayah yang membentuk Dobruja Utara: 85 % nya tinggal di Konstantia, dan 12 % di Tulcea. Sisanya terutama mendiami pusat-pusat perkotaan seperti Bucharest, Braila, Calarasi, Galaţi, Giurgiu, dan Drobeta-Turnu Severin.

Setelah Revolusi Romania 1989, Romania meninggalkan blok Timur yang Komunis, rakyat Romania memiliki kesempatan untuk menemukan Islam dan merasakan hasilnya. Saat in ada sebanyak 3.000 orang masuk Islam dan jumlah ini meningkat dari hari ke hari. Dengan menjadi mualaf mereka menghadapi masalah tertentu dalam masyarakat yang tidak siap untuk menerima mereka. Sebagian besar kelompok di Romania memiliki sedikit keinginan untuk mendukung kaum muslim pada umumnya. Karena alasan ini umat Islam di Romania mendirikan Aliansi Islam Romania untuk melindungi dan membela umat dan Islam di Romania.

Sejarah Masjid Agung Constanta

Kota Konstantia atau Constanta, adalah kota terbesar kedua di Romania. Metropolitan yang terletak di tepian Laut Hitam. Kota pelabuhan terbesar di Romania dan salah satu pelabuhan terbesar di Eropa. Kawasan kota tua Konstantia menjadi salah satu daya tarik wisatawan sepanjang tahun. Konstantia menjadi rumah bagi Masjid Agung Konstantia dan merupakan tempat berkantornya Mufti Konstantia serta pusat Islam Romania.

Interior Masjid Agung Constanta

Masjid Agung Konstantia bukanlah masjid tertua di Romania. Masjid tertua di Negara ini bernama Masjid Mangalia, dibangun pada tahun 1575 oleh Esmahan (putri Sultan Salim II). Sedangkan Masjid Agung Konstantia merupakan salah satu peningalan kejayaan Islam di Romania yang lainnya.

Masjid Agung Konstantia atau The Great mosque of ConstanÅ£a, atau Carol I Mosque (Masjid Raja Carol I) atau Great Mahmudiye Mosque, atau dalam bahasa Turki disebut "Kral camisi" atau "Geamia Regelui" (Masjid Raja). Merupakan masjid agung kuno di kota ConstanÅ£a – Romania. Masjid Carol I dibangun ulang tahun 1910 - 1912 dimasa pemerintahan Raja Carol I. Dibangun dalam gaya Moor (Maroko). Masjid tersebut menggantikan masjid sebelumnya yang dibangun tahun 1822.

Masjid ini dibangun dengan menjiplak rancangan masjid Konieh (Konieh Mosque) di Anatolia, Turki. Kaya dengan lukisan dinding penghias interior-nya dan dilengkapi dengan menara setinggi 50 meter. Dari atas menara ini dapat dilihat pamandangan indah pelabuhan kota Constanţa.

Kubah masjid Agung Constanta dengan latar belatang laut hitam

Secara keseluruhan, Romania memiliki 80 masjid, atau, menurut catatan Kementrian Kebudayaan dan Agama Romania, ada 77 mesjid. Kota Konstantia (Constanţa), dengan Mesjid Carol I merupakan tempat Muftiyat, yang adalah pusat Islam Romania; Mangalia, dekat Constanţa, adalah tempat bagi sebuah masjid monumental yang dibangun pada tahun 1525. Kedua masjid itu diakui Negara sebagai monumen bersejarah, seperti juga yang ada di Hârşova, Amzacea, Babadag dan Tulcea. Ada juga 108 kuburan Islam di Romania.

Arsitektural Masjid Agung Konstantia

Masjid Agung Konstantia merupakan bangunan pertama di Romania yang dibangun dengan beton bertulang oleh insinyur Gogu Constantinescu dan di arsitek Victor Åžtefănescu. Dibangun dalam perpaduan gaya Bizantium – Mesir dengan beberapa sentuhan arsitektural Romawi, menjadikan masjid ini sebagai masjid yang cukup menarik perhatian di kawasan tersebut.

Menara setinggi 50 meter dengan gaya Maroko melengkapi keindahan masjid ini. Seperti disebutkan di awal tulisan ini bahwa dari puncak menara masjid ini dapat dilihat dengan jelas keindahan kawasan pusat kota tua Konstantia serta kawasan pelabuhan hingga lepas pantainya. Dari menara ini dikumandangkan azan lima kali sehari oleh muazin untuk panggilan sholat. Untuk mencapai puncak kita harus melewati 140 anak tangga.

Masjid Agung Konstantia merupakan tempat berkantornya Mufti Konstantia, pemimpin bagi 55 ribu komunitas Muslim keturunan Turki dan Tatar yang tinggal di kawasan pantai kawasan Dobrudja tersebut. Ruang tengah masjid ini dihiasi dengan indahnya karpet buatan Persia yang sangat terkenal itu dan sudah berumur lebih dari 200 tahun dan merupakan hadiah dari Sultan Abdul Hamid. Karpet tersebut merupakan karya rajutan tangan dari The Hereche Handicraft Center di Turki, merupakan salah satu karpet dengan ukuran terbesar di kawasan Eropa dengan ukuran 9 x 16 meter persegi, berbobot mencapai hingga 500kg (1/2 ton). Dan hingga kini Masjid Agung Konstantia atau Carol I Mosque menjadi pusat Islam di Romania.***

--------------------------oooOOOooo-------------------------


Sabtu, 06 Agustus 2011

Masjid Hohola Port Moresby

Masjid Hohol yang dikelola oleh Masjid Islamic Society of Papua New Guinea di Port Moresby. Masjid pertama di Negara Papua Nugini dibangun dengan dana dari  ummat Islam Indonesia melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP).

Papua Nugini negara yang berada di belahan timur pulau Papua memiliki sejarah perkembangan Islam yang boleh disebut masih belia dibandingkan dengan Indonesia.  Di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Kristen ini, berdiri sebuah masjid pertama yang dibangun dengan dana dari Muslim Indonesia. Masjid dengan atap limas tapi dilengkapi kubah besar diatasnya. Masjid yang awalnya bernama Port Moresby Central Muslim dan kini menjadi markas dari Islamic Society of Papua New Guinea (ISPNG) dan biasa disebut sebagai Masjid Hohola. 

Masjid Hohola (Islamic Society of Papua New Guinea) merupakan salah satu masjid yang dibangun dengan dana bantuan dari Yayasan AmalBhakti Muslim Pancasila (YAMP). Dan Masjid Hohola ini merupakan salah satu dari dua masjid yang dibangun oleh YAMP diluar negeri. jadi wajar bila arsitektur masjid inipun sangat Indonesia. Masjid yang lain yang didanai pembangunannya oleh YAMP di luar negeri adalah Masjid Al-Hikmah di New York City yang juga sudah pernah di posting di blog ini. Masjid milik ISPNG yang berlokasi di kawasan Hohola Port Moresby tersebut, menjadi masjid pertama yang dibangun di negara Papua Nugini dan menjadi pusat pengembangan Islam di salah satu negara di kawasan oceania dan Pasifik tersebut.

Alamat dan lokasi masjid Hohola

Masjid Hohola
Port Moresby Mosque, Wards Rd, Port Moresby, Papua Nugini


Islam di Papua Nugini

Berdasarkan catatan Islamic Society of Papua New Guinea Inc. (ISPNG), orang pertama yang masuk Islam di tanah Papua Nugini adalah Sadiiq Sandbach warga Skotlandia yang kemudian menjadi warga negara Papua Nugini, yang berislam di bulan Oktober 1982. sedangkan warga asli Papua Nugini yang pertama kali masuk Islam adalah Alexander (Bilal) Dawia yang bersahadat pada tanggal 18 Februari 1986. di ikuti kemudian oleh sejumlah warga asli yang masuk Islam dan Islam kini terus tumbuh di PNG. ISPNG sendiri kini sudah membuka empat kantor cabang di seantero Papua Nugini.

Penduduk pulau papua yang kini menjadi Negara Papua Nugini (Papua New Guinea) dan Propinsi Papua bagian dari Republik Indonesia, sudah melakukan hubungan pedagangan dengan Emperium China dan Melayu dan kemudian juga berinteraksi dengan Islam di awal abad ke 16.

Masjid Hohola Port Moresby dari sisi jalan raya.

ISPNG merupakan Islamic Center pertama kali berdiri di PNG pada bulan April 1982 dan mendapatkan pengakuan dari pemerintah PNG tahun 1983. Dengan bantuan dari Indonesia, Malaysia dan Kerajaan Saudi Arabia. Dan Alhamdulillah di tahun 1996 sudah ada 3 lagi Islamic center yang berdiri di Papua Nugini atas bantuan dari Muslim World League. Kini sudah ada tujuh Islamic center di seantero Papua Nugini.

Islam memiliki kesamaan dengan akar budaya PNG

Saat ini ada sekitar 4000 muslim di seluruh Papua Nugini dan sebagian dari mereka merupakan para mualaf yang berIslam di beberapa tahun belakangan ini. Gerakan dakwah Islam di terus mensyiarkan Islam di negeri yang terletak di sisi timur pulau papua tersebut. Islam terlihat sangat berkembang di ibukota negara tersebut justru di kawasan yang dikenal merupakan kantung kaum berada-nya kota Port Moresby di kawasan Baimuru, Daru, Marshall Lagoon, the Musa Valley and in the islands of New Britain dan New Ireland.

Khalid, Imam asli Papua Nugini yang mendapatkan pelatihan di Malaysia memaknai Islam dengan sederhana. “Menjalankan Islam itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan agama agama lain. Dalam islam anda menjadi pendeta bagi diri anda sendiri. anda belajar bagaimana melaksanakan ibadah sholat. Tuhan tidak hanya di dalam masjid, Tuhan ada dimana mana. Jadi kalaupun tidak dapat datang ke masjid untuk sholat, anda dapat sholat dimanapun ; dibawah pohon, di rumah, dimanapun”.

Aktivitas muslim PNG di Masjid Hohola Port Moresby.

Papua Nugini baru mengenal Islam di awal tahun 1980-an dan kini sudah ada sekitar 4000 jiwa muslim disana. Salah satu laporan menyebutkan bahwa ada satu desa yang seluruh penduduknya masuk Islam disaat yang bersamaan.

20-30 tahun lagi seluruh Papua Nugini akan ber-Islam

Sekjen Islamic Society Papua Nugini Isa Teine, menjelaskan bahwa kebanyakan islam diterima dengan mudah oleh rakyat Papua Nugini karena kemiripan ajarannya dengan kepercayaan yang dianut oleh penduduk Melanesia. “bila bertemu dengan orang lain kami akan memeluk mereka. Inilah Islam kami tidak bersalaman lalu pergi meninggalkan mereka, dan kebanyakan budaya kami merupakan budaya Islam”

“tentang poligami, islam mengatur poligami dan membatasinya dengan empat istri. Dan sebelum Islam masuk ke PNG, masyarakat disini sudah memiliki dua, tiga bahkan empat istri. Sehingga tidak sulit bagi mereka untuk menerima Islam”. Dengan optimistik beliau mengatakan bahwa “saya memprediksi, ketika islam mulai tersebar di PNG hanya butuh waktu 20-30 tahun keseluruhan penduduk PNG akan masuk Islam”.

Landscape Masjid Hohola Port Moresby.

Islam dimata tokoh Gereja

Pastor Joseph Walters, salah satu pemimpin gereja di PNG menjelaskan bahwa. Pihak gereja tidak menganggap perkembangan Islam yang begitu pesat di PNG sebagai suatu ancaman. “Negara ini merupakan negara Kristen yang begitu kuat, saya sudah menjelajah ke seantero negeri ini mendakwahkan kitab suci dari kerajaan tuhan di seluruh negeri dan secara umum masyarakat disini sangat kuat, sangat berdedikasi dan sangat berkomitment dengan ajaran Kristen” ujarnya.

“dan mungkin ini seperti ancaman bagi ajaran Kristen di negara ini, tapi para pemimpin gereja di negara ini memandangnya dengan berbeda, saya sudah menempuh perjalanan jauh dan berbicara banyak dengan para penduduk dan Kekristenan disini bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Tidak semua orang menerima ajaran ini (Islam) dengan insiden insiden diskriminasi dan Islam Phobia yang begitu kental.”

“Masjid di pusat kota Port Moresby sudah pernah menjadi sasaran Bom, bekas lubang peluru masih berbekas di jendela masjid. Salah satu menteri dari pemerintahan PNG bahkan pernah mengatakan bahwa Islam itui berbahaya dan merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan persatuan PNG”.

Masjid Hohola Port Moresby.

Menanggapi hal tersebut Khalid mengatakan bahwa “ada kekurang fahaman tentang Islam” “masyarakat negeri ini tidak memiliki pemahaman yang cukup, terlalu banyak gambaran negatif yang ditorehkan pada islam, banyak orang yang bertendensi untuk mempercayai apa yang dikatakan orang lain tentang Islam dibandingkan dengan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh orang islam sendiri” “Khalid percaya bahwa kondisi tersebut akan segera berubah seiring dengan berkembang pesatnya masyarakat PNG yang ber-Islam”. Insya Alloh.

Sejarah Masjid ISPNG Port Moresby – Papua Nugini

Pada tahun 1987
Muslim World League (Rabita al-Alam al-Islami) yang berkedudukan di Saudi Arabia bekerjasama dengan umat Islam yang berada di PNG telah mengontrak sebuah rumah dan mengubahnya menjadi tempat beribadat umat Islam yang berlokasi di Lot 4 Sect 63 Queensclife, Korobosea, National Capital District dengan daya tampung sebanyak 50 orang.

Dengan semakin banyaknya warga negara asing yang beragama Islam bekerja di PNG, khususnya di Port Moresby maka jumlah umat Islam semakin bertambah sehingga daya muat tempat beribadat tersebut tidak memadai lagi. Apalagi yang melakukan sembahyang Idul Fitri atau Idul Qurban, tempat beribadah dialihkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Port Moresby yang mempunyai halaman cukup luas untuk menampung umat Islam melakukan sembahyang Idul Fitri dan Idul Qurban. 

Masjid Hohola Port Moresby.

Atas permohonan dari umat Islam di PNG,pada tahun 1992 pemerintah PNG telah menghibahkan sebidang tanah dengan luas 3,500 meter persegi yang berlokasi di Lot 1R 2 Sect. 138, Malas Street, Hohola, NationaI Capital District (diluar kantor komplek KBRI) yang direncanakan akan dipergunakan untuk membangun masjid pertama di PNG. Namun keinginan untuk membangun masjid tersebut tidak dapat dilaksanakan secepatnya dikarenakan dana yang sangat tidak mencukupi.
 

Pada tahun 1996 Duta Besar RI untuk
Papua Nugini di Port Moresby mengajukan permohonan bantuan ke Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila untuk membangunkan masjid diatas tanah yang telah disediakan tersebut. Pada tahun yang sama Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila mengabulkan permohonan tersebut dengan mentranfer dana senilai US$, 100.000,00 (Seratus ribu US Dolar - nilai tukar dolar sebesar Rp. 2.394,-) ke KBRI Port Moresby yang selanjutnya diserahkan kepada Pengurus Port Moresby Islamic Centre. 

Pada tahun 1999 Duta Besar RI di Port Moresby melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid, dan baru pada tahun 2001 pembangunan masjid dapat selesai dikerjakan dan diresmikan oleh Duta Besar RI di Port Moresby yang mewakili Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila, High Commissioner Malaysia di Port Moresby yang mewakili Maybank Malaysia dan Imam Mikail Abdul Aziz yang mewakili Muslim World Legaue Saudi Arabia. 

Masjid Hohola Port Moresby.

Masjid yang diberi nama "Port Moresby Central Muslim" tersebut mempunyai luas bangunan 1.000 meter persegi dengan kapasitas 1.000 orang jama'ah. Masjid tersebut juga dilengkapi pula dengan peralatan sound system, karpet tebal dan kipas angin yang dipasang secara permanen serta tempat mengambi1 air wudhu. 

Selain untuk sholat, masjid Port Moresby Central juga digunakan pula untuk kegiatan ibadah lainnya seperti kegiatan mengaji dan pengajian serta pesantren kilat yang diadakan 2 kali dalam satu tahun. Sejak berdirinya masjid Port Moresby Central Muslim tersebut, telah terjaring sebanyak 200 orang warga negara PNG yang masuk agama Islam. 

Kepengurusan masjid Hohola Port Moresby tersebut terdiri dari: 

Imam : Mikail Abdul Aziz (WN Nigeria) 
Presiden : Jacob Amaki (WN PNG) 
Wakil Presiden : Mikail Kalu (WN PNG) . 
Sekjen : Mikail Karo (WN PNG) 
Wakil Sekjen : Umar Nabae (WN Pakistan) 
Bendahara : Mohamad Abdul Mannan (WN Srilanka).***

-------------------oooOOOooo-------------------