Senin, 17 Oktober 2011

Masjid Jami’ Cheraman, Masjid Pertama di India

Masjid Cheraman Kerala, masjid pertama dan tertua di India.

Saksi Peristiwa Bulan Terbelah Menjadi Dua

Bila anda ketikkan kata kunci “moon split” atau “bulan terbelah” di kolom pencarian internet, anda akan disuguhi begitu banyak artikel berikut foto tentang bulan yang pernah terbelah. Foto paling populer yang akan muncul adalah foto hitam putih permukaan bulan hasil jepretan lembaga antariksa nasional Amerika yang menunjukkan guratan bulan atau lunar rille. Foto yang oleh begitu banyak penulis di internet kemudian dikaitkan dengan salah satu Mukjizat Rosullullah S.A.W. yang mampu membelah bulan menjadi dua sebagaimana dijelaskan dalam hadist. 

Namun artikel ini tidak untuk membahas tentang lunar rille, tapi tentang sebuah masjid tua di India yang namanya diambil dari salah satu Raja India pertama yang (menurut hikayat) masuk Islam setelah menjadi saksi dari salah satu mukjizat Rosulullah tersebut. Atau setidaknya cerita tentang mukjizat Rosulullah tersebutlah yang menjadi sebab musabab beliau masuk Islam. Mukjizat itu juga yang menjadi permulaan masuk dan berkembangnya Islam di India hingga hari ini.

Masjid Cheraman tahun 1958 
Raja India itu bernama Raja Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas atau Rama Varma Kulashekhara dan setelah memeluk Islam berganti nama menjadi Tajudin. Nama beliau kemudian di abadikan oleh para sahabat nya menjadi nama masjid yang pertama kali dibangun di anak benua India, masjid yang masih berdiri dan digunakan hingga kini oleh muslim India. Masyarakat setempat menyebut masjid itu dengan nama Cheraman Juma Masjid, masjid tua yang dibangun oleh Malik Bin Dinar di tahun 629M, memenuhi permintaan terahir sang raja sebelum beliau wafat, di perjalanan pulang dari Mekah Almukarromah ke India.

Lokasi dan Alamat Masjid Cheraman

Masjid Jami’ Cheraman berada di desa Methala, kota Kodungallur, provinsi Kerala, India. Lokasi masjid ini berada sekitar 2 kilometer dari pusat kota Kodungallur. Lebih kurang 20 kilometer stasiun kereta Irinjalakuda. 



Sejarah Masjid Cheraman

Sejak zaman kuno hubungan dagang antara Arab dan Anak Benua India sudah terjalin dengan baik. Bahkan sebelum Islam menyentuh India. Pedadang pedangan Arab mengunjungi wilayah Malabar, yang merupakan titik hubung utama antara asia selatan dan asia tenggara.

Plakat pembangunan masjid 
Islam masuk ke India dibawa oleh para pedagang dari tanah Arab, yang tiba di India untuk berdagang sekaligus mensyiarkan Islam. Beberapa orang India yang tinggal di wilayah pantai Kerala kemudian menerima Islam sebagi agama mereka. Adalah Raja Rama Varma Kulashekhara atau Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas disebut sebut  sebagai orang India pertama yang memeluk Islam.

Diceritakan bahwa Rama Varma Kulashekhara yang kemudian menjadi penguasa di Chera, pada suatu malam sedang menikmati indahnya bulan purnama bersama permaisuri di lantai atas istananya tiba tiba terheran heran dengan kejadian terbelah dua-nya bulan purnama yang sedang dilihatnya. Kejadian luar biasa tersebut begitu menggodanya hingga berusaha mencari tahu apa gerangan yang sedang terjadi. Sampai kemudian beliau mendapat informasi dari pedagang pedagang Muslim Arab bahwa kejadian tersebut adalah salah satu dari Mukjizat Nabi Muhammad S.A.W. Rosul utusan Allah yang membawa Islam sebagai agama terahir. Segera setelah tahu akan hal itu beliau berangkat ke Mekah.

Rama Varma Kulashekhara melafalkan dua kalimat syahadah dibimbing oleh Rosullullah, disaksikan oleh sahabat Rosul, Abu Bakar Sidik. Rama Varma Kulashekhara atau Chakrawati Farmas kemudian berganti nama menjadi Tajudin. Kisah masuk Islamnya Cheraman perumal ini terekam dalam manuskrip tua di perpustakaan India dengan nomor referensi dalam hurup arab 2607, 152-173 yang kemudian di kutip oleh penulis M. Hamidullah dalam bukunya Muhammad Rasullah.

Mimbar dan Mihrab Masjid Cheraman
Dalam perjalanannya kembali ke India beliau wafat di Salalah di wilayah kesultanan Oman. Menjelang wafatnya beliau memberikan mandat kepada beberapa sahabat arab-nya untuk meneruskan perjalanan ke kerajaan nya di India dan mensyiarkan Islam disana. Almarhum Rama Varma Kulashekhara atau Cheraman perumal atau Chakrawati Farmas atau Tajudin kemudian dimakamkan di Salalah, Oman, Makam beliau ramai diziarahi hingga kini dan dikenal sebagai “makamnya Raja India”.

Segera setelah itu kelompok muslim Arab dibawah pimpinan Malik Bin Deenar dan Malik bin Habib tiba di Kerala utara, dan membangun Masjid Jami Cheraman di Kodungalloor, tahun pembangunan masjid ini diperkirakan sekitar tahun 629M. Menjadikannya sebagai masjid pertama di India, dan menjadi masjid kedua yang digunakan untuk ibadah sholat Jum’at setelah Masjid Nabi di Madinah Al-Munawaroh.

Menurut sumber di outlookindia, meski tak ada sepotongpun prasasti yang menerangkan tahun pembangunan masjid ini, namun hasil uji karbon terhadap kusen asli masjid ini membuktikan bahwa usia masjid ini memang sudah lebih dari seribu tahun.

Lampu antik di Masjid Cheraman 
Masjid kuno ini memiliki sebuah lampu minyak yang sudah sangat tua dan dipercaya sudah berumur lebih dari seribu tahun namun masih berfungsi dengan baik dan tetap menyala hingga kini. Pengunjung dari berbagai kalangan termasuk pengunjung non Islam pun diperkenankan berkunjung dan menambahkan minyak di lampu ini sebagai sebuah pemberian. Masjid ini menjadi salah satu dari sedikit masjid yang memperkenankan pemeluk lintas agama untuk berkunjung. Beberapa tahun terahir masjid ini bahkan juga dipakai untuk upacara vidyarambham sebuah ritual hindu untuk menandai permulaan belajar bagi kanak kanak.

Arsitektur

Masjid Jami’ Cheraman dibangun dengan gaya tradisional Hindu, menggunakan lampu minyak berbahan kuningan. Mimbar berukir masjid ini dibuat dari kayu mawar, tempat khatib menyampaikan khutbah di hari Jum’at. Sementara sebatang balok marmer di dalam masjid ini dipercaya dibawa langsung dari Mekah.

Bangunan yang kini berdiri merupakan hasil renovasi terahir tahun 1984, bentuk bangunan lama bertahan hingga tahun 1958 seperti dalam photo dalam bentuk bangunan sederhana dengan denah yang serupa dengan bangunan saat ini. interior bangunan asli masih dipertahankan keasliannya hingga kini termasuk lampu antik, mimbar dan mihrab masjid hingga kusen jendela dan pintu serta beberapa pernik pernik lainnya.


Kunjungan Presiden India, Abdul Kalam ke masjid Cheraman
Pengurus Masjid

Kepengurusan masjid dipilih dalam periode dua tahun sekali. Jemaah masjid ini tercatat sekitar 1500 kepala keluarga atau sekitar 10ribu jiwa. Pemilihan kepengurusan masjid ini diselenggarakan oleh jemah dewasa untuk memilih diantara para jemaah yang terpercaya untuk menjadi pengurus masjid.

Kunjungan dari berbagai pihak

Masjid Cheraman ini telah lama menarik perhatian tokoh tokoh masyarakat India termasuk Presiden India yang pernah berkunjung ke masjid ini. Presiden India ke 12 Abdul Kalam pernah menyempatkan diri berkunjung ke masjid ini pada tanggal 29 Juli 2005. Demikian juga dengan beberapa pejabat pejabat pemerintah India.***

Minggu, 16 Oktober 2011

Masjid & Islamic Centre Malta

Masjid & Islamic Centre Malta di Kota. 

MALTA, negara yang mungkin bagi banyak orang Indonesia terdengar asing ditelinga. Republik Malta adalah sebuah negara pulau di laut mediterania. Laut mediterania sendiri merupakan laut yang berada diantara benua Eropa dan benua Afrika, Malta menjadi salah satu Negara terkecil di dunia dengan luas daratan keseluruhan tiga pulaunya itu hanya 246km2. Bandingkan dengan luas Kota Ternate (250km2) Ibukota Maluku Utara. Dan Kota Tarakan (250km2) di Kalimantan Timur.

Malta merupakan salah satu Negara paling Katholik di dunia. Namun begitu, di Negara pulau ini telah berdiri satu bangunan Masjid & Islamic Centre yang cukup megah di kota Paola. Itu sebabnya masjid ini disebut Masjid Paola meskipun nama resminya adalah Masjid Mariam Al Batool. Selain bangunan masjid, di areal tersebut juga diberdiri sekolah Islam dan pemakaman umum Muslim pertama di Malta. 

Lokasi Pulau Malta di Laut Mediterania.

Paola merupakan kota perdagangan di Malta, hanya terpisah 5 kilometer dari kota Valletta, ibukota Malta. Masjid Paola yang dalam bahasa setempat disebut Moskee Paola, merupakan satu satunya masjid di Republik Malta. Masjid ini juga menjadi satu satunya simbol eksistensi Islam di negeri pulau kecil di tengah tengah laut mediterania itu. Mayoritas penduduk Malta memang pemeluk agama Katolik meskipun Islam pernah menorehkan sejarah kegemilangan di pulau ini dimasa kekuasan kekhalifahan Turki Usmani.

Lokasi dan Alamat Masjid & Islamic Centre Malta
Corradino Rd, Paola PLA 9037, Malta


Berdiri dipuncak bukit Corradino, menara masjid ini terlihat jauh hingga ke town square. Disekitar masjid ini juga sudah disiapkan lahan pemakaman muslim. Pemakaman ini juga menjadi komplek pemakaman muslim pertama di Malta. Setelah sekian lama tanpa ada tempat pemakaman muslim di  negeri itu. Mengingat letaknya yang berada di ketinggian butuh tenaga dan kemauan lebih untuk berjalan kaki mencapai masjid ini.

Lokasi masjid ini tak jauh dari Hypogeum,dipusat kota Paola, penjalanan menuju masjid ini melewati bentuk bentuk unik rumah, dan bangunan lainnya di sepanjang jalan. Bagian atas sebagian bangunan di daerah ini menjorok ke depan dan memiliki warna-warna lebih cerah dibanding warna dasar gedung itu sendiri. Bahannya biasanya terbuat dari kayu.  Dari Hypogeum, sebagian menara mesjid sudah terlihat dengan indah.

Di dalam kawasan masjid ini juga berdiri sekolah Islam Mariam Al-Batool serta serta gedung seketariat. Masjid ini berdiri sejak tahun 1978 atas bantuan dar
i World Islamic Call Society sebuah yayasan syiar Islam milik pemerintah Libya di masa pemerintahan presiden Muammar Khadafi.

Meski hanya satu lantai namun ruang sholat untuk pria dan wanita dipisahkan di masjid ini.  Masing masing ruang sholat ini disediakan tempat wudhu dan toilet. Khusus di ruang sholat wanita juga disediakan mukena dan Jilbab layaknya di Indonesia, hal seperti ini jarang terjadi di masjid masjid negara Eropa.

Agama Katholik Agama Negara Malta

Berdasarkan data dari Vatikan tahun 2006, menyebutkan bahwa 93.89% penduduk Malta beragama Katholik Roma. Menjadikan negara itu sebagai salah satu negara paling Katholik di dunia. Konsitusi Malta juga menjadikan Katholik Roma sebagai agama negara. Simbol simbol Katholik hadir dalam berbagai bentuk kebudayaan setempat. Namun konstitusi juga menjamin hak kebebasan beragama dan secara umum dapat dilihat dari terus berkembangya faham sekuleritas serta hadirnya agama agama minoritas termasuk Islam di negeri tersebut.

Dalam konsitutsi Malta Bab 2 ayat 1 disebukan bahwa imam agama Katholik Roma memiliki hak dan kewajiban untuk mengajarkan prinsip prinsip yang salah dan benar, Ayat 2: dan bahwa ajaran katholik Roma harus di ajarkan disetiap sekolah sekolah negeri sebagai salah satu mata pelajaran wajib”. Sedangkan dalam kitab undang undang ukum pidana Malta ada tiga pasal yang secara khusus mengatur tentang “kejahatan terhadap sentimen keagamaan”.

Pasal 163 menyatakan bahwa penistaan publik atau penyerangan terhadap kekhatolikan dan penistaan terhadap penganutnya, pejabat menterinya atau objek objek peribadatan-nya melalui kata kata, sikap, tulisan (di cetak atau tidak), gambar atau tampilan diancam dengan hukuman satu hingga enam bulan penjara. Pasal 164 menyambung pasal sebelumnya terkait dengan penistaan terhadap cara peribadatan yang dapat ditoleransi oleh hukum dapat dikenakan hukuman penjara paling lama selama 3 bulan.


Pasal 165 menyatakan bahwa tindakan mengganggu fungsi, acara seremonial peribadatan atau pelayanan Katholik atau agama lain yang ditoransi oleh hukum dapat di kenakan hukuman penjara paling lama selama satu tahun dan dapat dilanjutkan dengan masa hukuman penjara berikutnya bilamana ada tindakan kekerasan. Malta juga akan menjadi negara Eropa terahir yang membolehkan perceraian sejak bulan oktober 2011 setelah melalui pemungutan suara di referandum mengenai hal tersebut selama tiga tahun terahir. 

Islam di Malta

Islam pertama kali masuk ke Malta ketika pasukan muslim berhasil merebut Sisilia dari tangan emperium Romawi Timur (Bizantium) di tahun 870M. Malta lepas dari kekuasaan Islam setelah penyerbuan Norman tahun 1091 dan Malta kembali ke dalam kekuasaan Kristen Eropa, namun kala itu kaum muslimin yang tinggal disana diberikan kebebasan untuk menjalankan ibadah hingga abad ke 13. Sisa sisa kejayaan Islam di Malta masih tersisa hingga kini terkenal dengan sebutan Benteng Arab, dan menjadi salah satu objek wisata di Malta.

Saat ini muslim merupakan minoritas di
Malta dengan populasi sekitar 6000 jiwa. Sedangkan sumber yang lain menyebutkan angka hanya ada 3,000 Muslims di Malta terdiri dari 2250 muslim adalah warga asing, 600 muslim naturalisasi, dan hanya 150 muslim saja yang merupakan warga asli kelahiran Malta. Namun demikian dengan hanya memiliki satu masjid jelas sangat tidak memadai untuk mengakomodir kebutuhan muslim setempat.

Muslim di kota Salim di timur laut Negara itu bahkan sempat melaksanakan sholat berjamaah di jalan raya setelah Polisi menutup ruang apartemen yang mereka jadikan sebagai Mushola sementara. Penutupan tersebut karena ketiadaan izin resmi dari pejabat perencaan dan penataan lingkungan. Kasus yang sama juga terjadi di beberapa kota lain nya di Malta. 

Sebagaimana dilansir surat kabar “Times of Malta” sekitar lima puluh umat Islam di kota “Salim”, berkumpul di kota pada hari Jumat untuk menuntut dibukanya kembali salah satu rumah mereka yang selama ini digunakan untuk tempat shalat, setelah pemerintah melalui Pejabat Perencanaan dan Penataan Lingkungan di Malta menutupnya dengan alasan tidak memiliki izin.

Polisi Malta menjaga ketat jemaah yang melaksanakan sholat di jalan raya tersebut termasuk memastikan tidak ada orang yang lalu lalang membawa anjing peliharaan melintasi area tempat mereka melaksanakan sholat guna menjaga kesucian area tersebut. Sesuai dengan surat pemberitahuan dari jemaah muslim kepada polisi setempat sebelum aktifitas tersebut dilaksanakan.

MOMEN ketika Uskup Paul Cremona bersama Imam Muhammad Elsandi berdoa bersama menghadap kiblat di Masjid Paola.

Aktivitas Masjid Paola – Malta

Masjid Paola terbuka untuk umum, termasuk kunjungan dari pihak manapun. Beberapa waktu lalu masjid ini mendapatkan kunjungan dari duta besar Amerika Serikat di Malta Douglas Kmiec beserta istrinya Mrs. Carolyn Keenan Kmiec yang sengaja berkunjung ke masjid ini dan mendapatkan sambutan dari para pengurus masjid dan murid murid sekolah Mariam Al-Batool. Pada kesempatan tersebut Dubes di temui oleh Imam masjid Paola, Imam Mohamed El Sadi dan Direktur the World Islamic Call Society Malta, Mr. Omar Ahmed Farhat, selama kunjungan kehormatan tersebut.

Tak kalah menariknya adalah kunjungan dari Uskup Paul Cremona yang berkunjung ke masjid ini pada 26 Februari 2008 yang lalu. Dalam kunjungan tersebut Mgr Cremonia mendapat sambutan meriah dari murid murid dan para guru sekolah Islam Mariam Al-Batool. Ditemani oleh imam masjid Paola, Imam Muhammad Elsadi, Uskup Cremona menyempatkan diri berdoa di dalam masjid menghadap ke kiblat bersama dengan Imam Muhammad Elsadi. Sebuah harmoni yang indah disebuah negeri yang pernah menjadi negeri Islam selama beberapa abad dan kini berubah menjadi sebuah negeri Katholik. 

Foto foto Masjid Paola - Malta

Interior Masjid Paola di Kompleks Islamic Centre Malta.

Masjid Paola Islamic Centre Malta.
Masjid Paola Islamic Centre Malta.


Sabtu, 08 Oktober 2011

Masjid Lama Negeri Sarawak, Malaysia

Masjid Lama Negeri Sarawak (Old Sarawak State Mosque) kini dikenal sebagai Masjid Bandaraya Kuching (Kuching City Mosque).

Sarawak memiliki dua Masjid Negeri. Ini terjadi karena pemerintahan Negeri Sarawak membangun kawasan pusat pemerintahan baru di Petra Jaya, termasuk membangun Masjid Negeri yang baru. Fungsi sebagai masjid Negeri Sarawak telah dipindahkan ke Masjid Negeri Sarawak (Sarawak State Mosque) yang baru di kawasan Petra Jaya tersebut.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak kini dikenal dengan nama Masjid Bandaraya Kuching (Kuching City Mosque) menjalankan tugasnya sebagai Masjid Negeri Sarawak (Sarawak State Mosque) sejak diremikan ditahun 1968 hingga tahun 1990.
 
Meski sudah tidak lagi berstatus sebagai Masjid Negeri, Masjid lama ini masih menjadi tanggung jawab dari Lembaga masjid negeri dan tentu saja masih menjalankan fungsinya sebagai masjid. Istilah dan fungsi “Masjid Negeri” di Malaysia mirip dengan istilah dan fungsi “Masjid Agung Provinsi” di Indonesia.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)
332, Jalan Datuk Ajibah Abol, Kampung No3, 93400 Kuching, Sarawak, Malaysia
 

 
Sarawak atau Negeri Sarawak adalah salah satu dari dua Negara bagian Malaysia yang terletak di bagian barat pulau Kalimantan berbatasan langsung dengan Propinsi Kalimantan barat disebelah selatan, Kalimantan Timur disebelah timur, sedangkan kawasan lautnya disebelah barat berbatasan langsung dengan Propinsi Kepulauan Riau. Negeri Sarawak beribukota di Bandaraya Kuching.
 
Sungai Sarawak yang membelah Bandaraya Kuching sudah menjadi salah satu ikon bagi kota ini. Nama Kuching sendiri menurut berbagai sumber memang diambil nama hewan kucing. Konon pada masa lampau ketika kawasan itu masih berupa belantara ada banyak kucing hutan yang berkeliaran di kawasan disekitar sungai tersebut.
 
Sejarah Masjid Lama Negeri Sawarak
 
Di abad ke 19 Sarawak merupakan bagian dari kesultanan Brunai namun kemudian dihadiahkan kepada seorang pengembara Inggris James Brooke atas jasanya menumpas pemberontakan di kawasan tersebut. James Brooke diangkat menjadi gubernur Sarawak pada 24 September 1841 dan diberi gelar Rajah oleh Sultan Brunei pada 18 Agustus 1842.

Kilasan sejarah Masjid Lama Negeri  Sarawak, kini menjadi Masjid Bandaraya Kuching.

Brooke hanya menguasai wilayah Sarawak yang paling barat, di sekitar Kuching. Kenyataan berikutnya Brooke menjadikan Sarawak sebagai kerajaan Pribadi dengan Kuching Sebagai ibukota pemerintahannya. Ia berkuasa hingga kematiannya pada 1868. Dan diteruskan oleh anggota keluarganya yang berkuasa hingga tahun 1946.
 
Pengganti James antara lain sepupunya, Charles Anthony Johnson Brooke, dan anak Anthoni, Charles Vyner Brooke. Wilayah yang dikuasai oleh keluarga Brooke semakin luas, dengan menguasai wilayah yang tadinya milik Brunei hingga Brunei hanya menguasai sungai strategis dan benteng di kawasan pesisir, Brookes sebenarnya telah merampas tanah para pejuang Muslim dan suku lokal. Dinasti Brooke memerintah Sarawak selama satu abad dan dijuluki "Rajah Putih",
 
Jepang menyerbu Sarawak pada 1941 dan menguasainya selama Perang Dunia II berlangsung hingga pasukan Australia menguasainya pada 1945. Rajah secara resmi menyerahkan Sarawak kepada Britania Raya pada 1946, di bawah tekanan istrinya dan kalangan lain-nya. Namun Anthony tidak mengakui kedaulatan Sarawak di bawah Britania Raya. Kaum Melayu sangat menolak upaya kekuasaan Britania terutama dengan membunuh gubernur Britania Raya pertama di Sarawak.
 
Hamparan pekuburan tua kaum muslimin tampak di pekarangan masjid.

Sudah menjadi catatan sejarah bahwa Sarawak dan Sabah pernah menjadi pusat perseteruan antara Malaysia dan Indonesia semasa kepemimpinan Bung Karno, ketika Bung Karno menggelorakan semangat Ganyang Malaysia untuk memasukkan Sabah dan Sarawak ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesa. Sarawak menjadi lokasi utama saat Konfrontasi berlangsung pada 1962 hingga 1966. Sarawak menjadi sebuah negara bagian berstatus otonomi di bawah federasi Malaysia pada 16 September 1963 walaupun sebelumnya sebagian penduduknya menolak rencana ini.
 
Bangunan masjid pertama dibangun tahun 1847
 
Masjid Bandaraya Kuching merupakan masjid pertama yang dibangun di Sarawak. Pertama kali dibangun tahun 1847 atau 6 tahun setelah pengangkatan James Brooke sebagai Gubernur Sarawak oleh Sultan Brunai. Masjid pertama ini dibangun oleh tokoh masyarakat melayu Sarawak Datuk Patinggi Ali dalam bentuk yang sangat sederhana, berbahan kayu, berdinding papan dan beratap limas dari kayu bulian.
 
Imam pertama di Masjid Negeri Sarawak ini sejak tahun 1847 hingga tahun 1890 adalah Datuk Patinggi Haji Abdul Gafur yang merupakan menantu dari Datuk Patinggi Ali. Tugas sebagai imam diteruskan oleh imam kedua, Datuk Bandar Haji Bolhassan, putra dari Datuk Patinggi Ali. Imam ketiga masjid ini adalah Datuk Imam Abdul Karim dan dilanjutkan oleh imam ke –empat, Abang Haji Mataim yang juga putra Datuk Patinggi Ali.
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching) dari arah Sungai Sarawak. Tampak beberapa kendaran konstruksi sedang beroperasi disana merapikan tepian sungai.

Renovasi Tahun 1880
 
Seiring dengan pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut masjid yang ada sudah tak lagi mampu menampung jemaah yang terus bertambah. Tahun 1880 masjid tersebut mengalami renovasi dan mulai dibangun dengan tiang cor dan lantai semen. Bentuk masjid yang sudah di beton ini masih dengan atap limas bersusun dari bahan kayu bulian. Atap limas seperti layaknya masjid masjid di Indonesia itu bertahan hingga tahun 1920-an.
 
Renovasi tahun 1929 – 1930
 
Tahun 1929 para tokoh Islam, para datuk dan masyarakat Muslim dengan bantuan dari Gubernur Brooke, melakukan renovasi dan perbaikan terhadap masjid ini. Renovasi tahun 1929 ini menambahkan kubah di atap masjid dengan sentuhan eropa menggantikan satu tingkat dari 3 atap limasnya. Renovasi tersebut juga mengganti pintu pintu masjid dengan pintu pintu dan jendela jendela besar khas bangunan Eropa. Keseluruhan renovasi itu selesai tahun 1930. Bangunan hasil renovasi tahun 1929-1930 ini bertahan hingga tahun 1967
 
Pembangunan Masjid Tahun 1967-1968
 
Tahun 1958 Badan Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching yang kala itu jabatan presidennya dipegang oleh Mufti Sarawak Tuan Haji Yusof Shibli, membentuk Jawatan Kuasa Tabung Derma Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching dengan setiausaha-nya dipercayakan kepada Ustazd Haji Abdul Kadir Hassan untuk mengumpulkan dana bagi perbaikan masjid. Lembaga amal ini berhasil mengumpulkan dana sebesar RM 30,000 Ringgit dari kaum muslimin Sarawak.
 
Ruang sholat utama Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)

Jumlah tersebut masih jauh dari cukup untuk membangun sebuah bangunan masjid baru yang lebih besar. Tahun 1964 Yang Berbahagia.Datuk Abang Haji Sapuani, P.N.B.S dipilih menjadi Yang dipertuan Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching, beliau beserta para staf nya bertekad melanjutkan usaha untuk membangun masjid ini. Beliau tidak saja mengumpulkanan dana dari kaum muslimin tapi dari seluruh warga. Ketika itu dibentuklah Jawatan Kuasa Kerja Tabung Derma Masjid yang diketuai oleh Yang Berbahagia Datuk Abang Haji Maszuki Nor. P.N.B.S.
 
Bulan Februari 1966 Yang Teramat Mulia Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, Perdana Meteri pertama Malaysia di undang untuk melakukan peletakan batu pertama proses renovasi Masjid Besar Kuching. Ketika tiba di lokasi Tunku Abdul Rahman menganggap bahwa bangunan masjid yang ada sudah tidak layak untuk jadi Masjid Negeri Sarawak dan beliau mengusulkan untuk mengganti bangunan masjid tersebut dengan bangunan masjid baru yang lebih reresentatif.
 
Rencana tersebut diterima dengan baik oleh para tokoh muslim Sarawak meski untuk proses pembangunan tersebut diperkitakan membutuhkan dana sekitar 1 juta ringgit Malaysia, dana yang cukup besar kala itu. Setahun kemudian di tahun 1967 bangunan masjid yang lama dirobohkan menggunakan bom. Dan proses pembangunan masjid baru pun dimulai.
 
Interior lantai kedua Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching)

Diresmikan Sebagai Masjid Negeri Sarawak
 
Tahun 1968 sebuah bangunan masjid baru dengan arsitektur yang sama sekali berbeda dengan masjid sebelumnya sudah berdiri megah di atas teratak bangunan lama. Bangunan masjid baru ini diresmikan oleh Yang di-Pertuan Agung Malaysia pada tanggal 20 Oktober 1968 sebagai Masjid Negeri Serawak. Bangunan hasil pembangunan tahun 1967-1968 inilah yang kini masih berdiri kokoh hingga hari ini.
 
Masjid Besar Negeri Sarawak yang baru ini mampu menampung jemaah hingga 4000 orang sekaligus. Kawasan masjid ini seluas 4 hektar, bangunan nya berada satu kawasan dengan Prasasti peringatan perang, Kantor Penerangan Malaysia, Rumah sakit dan kantor kantor pemerintahan lain nya. Kala itu tak jauh dari masjid ini juga berdiri Hotel Arif milik seorang pengusaha bumiputra, serta taman bermain. Masjid ini dilengkapi dengan lapangan parkir yang cukup luas. Disekiling masjid ini merupakan pemakaman muslim sejak pertama masjid ini berdiri di tahun 1847. Sedangkan di sisi belakang masjid mengalir tenang sungai Sarawak.
 
Sumber pendanaan pembangunan masjid ini sebagian besar berasal dari pemerintah pusat Malaysia di Kuala Lumpur. Dana awal sebesar RM. 250,000. Sumbangan dari Perdana Menteri pertama Malaysia Tunku Abdul Rahman sebesari RM. 100,000. Sumbangan dari Wakil Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak sebesar RM. 150,000. Jumlah keseluruhan dana dari pemerintah pusat Malaysia sebesar RM. 500,000. Ditambah dengan dana dari masyarakat dan pemerintah negeri Sarawak.
 
Dari balik pohon pohon kelapa.

Arsitektur Masjid Lama Negeri Sarawak
 
Aroma arsitektur India sangat terasa di masjid ini. menara menara kecil lansing, menyatu dengan bangunan utama masjid, kubah bentuk bawang di puncak bangunan utama masjid, menghadirkan suasana bangunan bangunan dinasti mughal Indida di tanah melayu Malaysia Timur. Disamping kubah utama terdapat empat lagi kubah bawang dengan ukuran lebih kecil di atap masjid ini mengitarai kubah utam. Empat menara ramping di kempat penjuru bangunan utama masjid. Ditambah lagi empat menara di masing masing mengapit dua pintu utama sisi kiri dan kanan masjid.
 
Sentuhan Eropa pada bangunan masjid sebelumnya yang selesai dibangun tahun 1880 sama sekali menghilang dari bangunan baru ini. Kesemua kubah yang ada di cat dengan warna ke emasan. Warna ke emasan dalam tradisi melayu merupakan perlambang kemakmuran, kebesaran dan kemegahan. Itu sebabnya kebanyakan kesultanan Melayu menggunakan warna emas atau warna kuning sebagai warna kebesaran. Meski fungsi sebagai masjid negeri sudah beralih ke Masjid Negeri di Petra Jaya namun masjid ini masih menjalankan fungsinya sebagai tempat ibadah utama bagi muslim di kawasan tersebut.
 
Nisan nisan kuburan tua di pekarangan masjid.

Pengelolaan Lama Negeri Sarawak
 
Masjid Lama Negeri Sarawak (Masjid Bandaraya Kuching) dikelola oleh Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak (LAKMNS), lembaga ini didirikan tahun 1958 dengan nama Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Besar Kuching. Lembaga ini dikukuhkan sebagai badan hukum dengan nama The Masjid Besar (Kuching) Charitable Trust tahun 1960.
 
7 Januari 1981 lembaga tersebut berubah menjadi Masjid Negeri Sarawak Charitable Trust atau Lembaga Amanah Kebajikan Masjid Negeri Sarawak. 19 Mei 1994 permohonan untuk pengesahan dari parlemen diajukan ke Parlemen Sarawak (Dewan Undangan Negeri) dan pada 3 Juni 1994 Dewan Undangan Negeri mengesahkan peraturan baru tentang lembaga lembaga sosial di Sarawak.
 
Peraturan baru itu memberikan peluang bagi lembaga lembaga sosial termasuk LAKMNS untuk membentuk badan usaha dan turut serta berkecipung dalam bidang ekonomi. Tentu saja hal ini memberikan implikasi positif bagi perkembangan lembaga lembaga Islam yang sudah berbadan hukum di seluruh Negeri Sarawak.***


Selasa, 04 Oktober 2011

Pusat Kebudayaan Islam Irlandia

Islamic Cultural Center of Ireland.

Pusat Kebudayaan Islam Irlandia atau The Islamic Cultural Centre of Ireland disingkat menjadi ICCI atau juga biasa disebut sebagai masjid Clonskeagh atau The mosque in Clonskeagh, masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Muslim National School (Sekolah Islam Nasional) karena memang berada di kawasan Clonskeagh, Dublin, Irlandia. Pembangunan Masjid dan Pusat kebudayaan Islam ini didanai oleh yayasan Al-Maktoum (Al-Maktoum Foundation) dari Dubai, Uni Emirat Arab. 

ICCI ini juga menjadi tempat berkantornya Dewan Eropa untuk Riset dan Fatwa - The European Council for Fatwa and Research (ECFR). Sebuah NGO yang berpusat di Dublin, didirikan pada tanggal 29-30 Maret 1997. Kepengurusan Dewan Eropa ini dipilih secara demokratis diantara para anggotanya yang terdiri dari para ulama dan cendekiawan muslim. Presiden ECRP saat ini dipegang oleh ulama dunia Yusuf Al-Qardawi. 

Lokasi dan Alamat ICCI 

19 Roebuck Road, Clonskeagh 
Dublin, County Dublin, Ireland, D14 

 

Islam di Irlandia 

Sejarah Islam tertulis di Irlandia dimulai pada tahun 1950-an. Jumlah muslim di Republik Irlandia terus berkembang sejak tahun 19901n meskipun sebagian besar dari muslim tersebut bukan warga Irlandia asli. 

Sejarah Islam di Irlandia 

Sejarah organisasi Islam di Irlandia memang sedikit rumit setidaknya karena muslim disana berasal dari berbagai latar belakang etnis. Komunitas Muslim pertama di Irlandia pertama kali dibentuk tahun 1959. Didirikan oleh sejumlah mahasiswa muslim yang belajar disana, organisasi tersebut bernama Dublin Islamic Society yang kemudian berubah nama menjadi Islamic Foundation of Ireland. 

Menara dan Kubah Masjid ICCO
Pada tahun itu belum ada satu bangunan masjidpun di Dublin. Para mahasiswa menggunakan tempat tinggal mereka dan kemudian menyewa sebuah hall untuk pelaksanaan ibadah sholat Jum’at. Masjid dan Islamic Center pertama di Irlandia dibika tahun 1976, menempati gedung berlantai empat di 7 Harrington street, Dublin. Diantara mereka yang begitu berjasa berkontribusi atas berdirinya masjid dan Islamic center pertama tersebut adalah (almarhum) Raja Faisal dari Arab Saudi. Dan kemudian di tahun 1981 kementrian social dan urusan Islam Kuwait mensponsori seorang imam tetap bagi masjid tersebut. 

Tahun 1983 dilaksanakan pembelian, pembangunan dan renovasi terhadap Masjid dan Islamic Center yang kini berdiri. Markas dan pusat kegiatan komunitas Islam lalu dipindahkan dari Harrington ke lokasi sekarang di 163 South Circular Road, Dublin. 

Sementara itu di kota Cork, masyarakat muslim disana menggunakan sebuah rumah di sebuah komplek perumahan sebagai tempat ibadah sambil menggumpulkan dana bagi pembangunan sebuah masjid permanen. Di tahun 1992 Moosajee Bhamjee menjadi muslim pertama dan satu satunya hingga saat ini yang menjadi anggota Teachta Dála (anggota parlemen Irlandia) 

Demografi dan latar belakang Etnis 

Merujuk kepada sensus penduduk Irlandia tahun 2006 lalu, jumlah muslim di Irlandia mencapai angka 32,536 jiwa. Angka tersebut meningkat sebanyak 69% dibandingkan dengan hasil sensus penduduk tahun 2002 yang hanya sebesar 19,147 jiwa. Sedangkan di tahun 1991 jumlah muslim disana baru mencapai angka di bawah 4000 jiwa. Ini sebuah perkembangan yang sangat menarik. 

Islam merupakan agama minoritas di Irlandia, Katolik Roma dan members of the Church of Ireland termasuk Protestan. Catatan sensus penduduk tahun 2006 menunjukkan bahwa pemeluk Katolik sebanyak 3,644,965, 118,948 Church of Ireland termasuk Protestan. Dilihat dari jumlah, pemeluk Islam di Irlandia sama sekali tidak signifikan, meskipun begitu muslim disana mengkalim bahwa Islam akan menjadi agama terbesar ketiga di Irlandia, meskipun saat ini jumlah muslim disana masih kalah jumlah dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mengaku tidak beragama yang mencapai 175,252 jiwa. Dan ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang tidak mencantumkan agama dalam sensus tersebut mencapai 66,750 jiwa. 

Interior Masjid ICCI
Masih menurut sensus tahun 2001, di Irlandia utara terdapat komunitas muslim sebesar 1943 jiwa (terdiri dari 1164 jiwa pria dan 779 wanita). Komunitas muslim di Irlandia tidak saja kecil jumlahnya saat ini tapi juga tersebar dan jumlah tersebut sama sekalii tidak masuk dalam sejarah Negara tidak seperti yang terjadi di Inggris dan Prancis, dimana muslim disana sebagian besar merupakan imigran atau keturuan imigran dari bekas negeri jajahan atau seperti di Jerman dan Austria dimana pemeluk muslim disana merupakan mayoritas keturuan dari migrant Turki yang bekerja disana berikut keturunannya. 

Lebih dari 55% muslim di Irlandia berkebangsaan Negara Negara asia atau Afrika dengan 30.7% berkewarganegaraan Irlandia. Sensus tersebut juga menyebut bahwa 31,770 jiwa muslim yang tinggal di Irlandia, 9761 jiwa berkewarganegaraan Irlandia, 10,649 berkewarganegaraan Negara Negara Asia dan 6,909 berkewarganegaraan Negara Negara Afrika. 

Imigran muslim masuk ke Irlandia di era 90-an terkait dengan ledakan ekonomi Irlandia dan juga ditambah dengan para pencari suaka dari Negara Negara Muslim. wNamun kemudian seiring dengan menurunnya situasi ekonomi Negara tersebut sebagian imigran tersebut kembali ke Negara asalnya dan terjadi penuruan jumlah pemeluk Islam di Irlandia. 

Presiden Marry Robinson
Masjid Masjid dan Islamic Center di Irlandia 

  • The Islamic Cultural Centre of Ireland Clonskeagh, Dublin akan kita ulas dalam artikel ini.
  • The Dublin Mosque (dioperasikan oleh the Islamic Foundation of Ireland) berada di South Circular Road. Imam: Yayha Al Hussein;
  • Al-Mustafa Islamic Cultural Centre, Dublin 15 :Imam: Dr. Umar Al-Qadri
  • Muslim Association Forum, Ireland, berada di the Islamic Foundation of Ireland) di Dublin didirikan tahun 1999, dan mendapatkan satus sebagai badan social tahun 2001, organisasi yang menyatukan muslim berlatarbelakang Afrika untuk mengajarkan dan berbagi tentang Ilmu ke-Islaman.
  • Muslim Association of Ireland, Executive Director: Dr. Khaled Suliman
  • Belfast Islamic Centre, berdiri tahun 1977.
  • Ahlul Bayt Islamic Centre (Muslim Shi'ah), di Milltown, Dublin
  • Turkish Irish Educational dan Cultural Society Fethullah Gulen di Dublin, berdiri tahun 2004.
  • Masjid yang akan dibangun di Galway oleh muslim Ahmadiyah. Menjadi masjid pertama di Galway.
Tahun 2003, the Islamic Cultural Centre dan Foras na Gaeilge bergabung bersama sama menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Irlandia untuk pertama kali nya. 

Sheikh_Hamdan_bin_Rashid_Al_Maktoum
Tahun 2006 organisasi yang memayungi Muslim di Irlandia berdiri, bernama Dewan Imam didirikan pada bulan September 2006 lalu. Organisasi ini berisikan 14 Imam di Irlandia baik dari Suni maupun Shiah. Organisasi ini diketuai oleh Imam Hussein Halawa dari ICCI. Sedangkan wakil ketuanya dipegang oleh Imam Yahya Al-Hussein (Islamic Foundation of Ireland). Imam Dr. Umar Al-Qadri (Al-Mustafa Islamic Cultural Centre Dublin 15), Imam Salem (Cork Mosque), Imam Khaled (Galway Mosque) and Imam Ismael Khotwal (Blackpits Mosque) berada di jajaran anggota pendiri organisasi tersebut. 

Organisasi Mahasiswa Muslim di Universitas 

Ada beberapa organisasi Mahasiswa Muslim di seluruh Irlandia khususnya di beberapa universitas utama negeri itu diantaranya di UCD, TCD, UCC, NUIG, ISSNI Queen's Belfast, RCSI, DCU, DIT, IT Tralee, IT Tallaght, IT Blanchardstown, DBS. 

Interior Masjid Islamic Culural Centre of Ireland.

Acara acara tahunan termasuk diantaranya yang diselenggarakan secara regular (termasuk halaqoh dan kelas bahasa), kegiatan social (Food festivals), Idul fitri dan Idul Adha, Charity week, Olahraga, acara Akademis termasuk kuliah umum, kursus, konfrensi dan seminar, debat intelektual dan kampanye Islam untuk membangkitakan kesadaran tentang hokum Islam. 

Organisasi Mahasiswa di Irlandia dipayungi oleh sebuah organisasi paying bernama The Federation of Students Islamic societies (FOSIS) Ireland. Di didirkkan pada pergantian melenium lalu (tahun 2000). Organisasi ini menjadi penyatu dan mewakili kepentingan seluruh organisasi mahasiswa seluruh Irlandia untuk berkonstribusi secara positif dan aktif bagi Irlandia secara keseluruhan. Berikut beberapa organisasi mahasiswa Islam di Universitas Universitas ternama di Irlandia dan tahun pendiriannya.
  • UCD ISOC berdiri tahun 1991 
  • TCD MSA berdiri tahun 1998 
  • RCSI ISOC berdiri tahun 1999 
  • DIT ISOC berdiri tahun 2004 
  • IT Tralee berdiri tahun 2008, dan 
  • IT Blanchardstown didirikan tahun 2009 
Interior Masjid Islamic Culural Centre of Ireland.

Sejarah ICCI 

Tahun 1992 Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum, wakil Gubernur Dubai yang juga menjabat sebagai menteri keuangan dan industri Uni Emirat Arab, setuju untuk membiayai pembelian sebidang lahan termasuk membangun bangunan di atasnya untuk gedung sekolah dan kemudian juga setuju untuk mendanai pembangunan Islamic Center di area yang sama. Saat itu penduduk muslim di seluruh Irlandia ada sekitar 4000 jiwa. 

Pembangunan ICCI dimulai pada tahun 1994 dan secara resmi dibuka pada tanggal 16 November 1996 oleh presiden Irlandia, Marry Robinson dan Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum. Berada di sebelah University College Dublin. Masjid dan pusat kebudayaan ini terdiri dari Ruang sholat utama, Rumah Makan, perpustakaan, ruang rapat, ruang laundry, Sepuluh apartemen, kantor administrasi dan ruang toko. Di komplek ini juga dibangun sekolah dasar Islam. 

Papan nama ICCI dipasang di sisi gerbang utamanya.

ICCI dirancang oleh kantor arsitek Irlandia, Michael Collins & Associates. Denah lokasinya didasarkan pada bentuk petakan yang kemudian dibagi ke dalam 9 petakan yang lebih kecil dan bangunan masjid diletakkan di bagian tengah. Konstruksi bangunan nya menggunakan rangka baja dan bata sedangkan detil bangunan menggunakan baja stenlis (stainless steell). 

Arsitektural ICCI 

Bangunan Pusat Kebudayaan Islam Irlandia (ICCI) terdiri dari 5 bagian yang saling terhubung satu dengan yang lain nya dengan koridor. Bangunan masjid nya berdiri menjulang di bagian tengah dari komplek ICCI mengokojkan jatidirinya sebagai jantung dari komunitas muslim. Lengkungan yang dibuat khusus dari batu pualam hitam menjadi penanda tiga pintu masuk utama ke masjid ICCI. Dua diantaranya langsung mengarah ke tangga masuk ke masjid. 

Aerial view ICCI.

Kawasan hijau mendominasi kawasan ICCI. Masjid ICCI ini memang dibangun dengan arsitektural masjid universal lengkap dengan kubah dan menara. Menara dan kubah masjid ini benar benar menjadi pusat padangan mata komplek ini. di ujung puncak tertinggi menara dan di puncak kubah masjid diletakkan lambang bulan sabit yang menjadi lambang dunia Islam. 

Interior masjid ICCI cukup sederhana namun elegan. Di ruang tengah masjid ini tergantung lampu hias yang cukup indah menggantung di sisi dalam kubah masjid. Ruangan masjid di lapisi dengan karpet bewarna hijau dan krem. Dinding bagian dalam dihias dengan ukiran kaligrafi alqur’an. Demikian juga dengan pintu kayu, lapik pilar yang terbuat dari pualam dan layar dari metal yang menutup jendela. 

Suasana sholat Idul Fitri di ICCI.

Di atas mihrab masjid ini dihias dengan kaligrafi dari kalimat dua sahadat. Mimbar untuk khatib ditempatkan dibagian kanan di dalam ruang mihrab. Dan tak ketinggalan juga ditempatkan satu set jam penunjuk lima waktu sholat. Lantai dua atau balkoni masjid ini dikhususkan bagi jemaah wanita. Bagian balgoni ini dihias dengan kaca hias yang umum dipakai di kebanyakan masjid. Tempat wudhu di masjid ini pun dipisahkan antara tempat wudhu pria dan wanita. 

Aktivitas dan Organisasi 

Direktur Executive ICC dijabat oleh Nooh Al Kaddo, yang berasal dari Iraq, beliau pindah dari Liverpool ke Dublin tahun 1997 untuk menjalankan Islamic Center ini. Sedangkan Imam dari ICCI ini dijabat oleh Hussein Halawa, beliau datang ke Irlandia dari mesir tahun 1996 dan juga merangkap jabatan sebagai Ketua Dewan Imam Irlandia. 

ICCI ini menyelenggarakan Sekolah Islam Nasional (the Muslim National School). Sebuah sekolah dasar Islam negeri dengan berbasis pendidikan Islam dengan sekitar 260 orang murid. Sedangkan departemen Agama disana dengan disponsori oleh Yayasan Al-Maktoum menyelenggarakan konsfrensi Harun Yahya di ICCI ini pada bulan Februari 2008 yang lalu.***