Minggu, 06 November 2011

Masjid Badshahi – Lahore, Pakistan

Masjid Badshahi Lahore, Pakistan, dikenal juga sebagai Masjid Raja atau King Mosque, terjemahan dari kata Badshahi.

Badshahi berasal dari kata Badshah yang berarti Raja. Masjid Badshahi atau Masjid Raja berada di Kota Lahore – Pakistan. Dibangun oleh raja ke enam dinasti Mughal, Raja Aurangzeb tahun 1671 dan selesai dibangun pada tahun 1673. Masjid ini merupakan masjid terbesar ke dua di di Pakistan dan Asia Selatan serta masjid terbesar ke lima di dunia. Tipikal keindahan kebesaran dan kejayaan era dinasti Mungal menjadikan masjid ini sebagai landmark dan tujuan wisata utama kota Lahore.

Soekarno, Badshahi, Pakistan dan Indonesia

Di bulan Januari 1950, presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Pakistan dalam rangkaian perjalanan misi diplomatik pertama beliau ke India, Pakistan dan Burma (Myanmar). Kedatangan beliau disambut langsung oleh Presiden pertama Pakistan Iskandar Ali Mirza. Dalam kunjungan tersebut, presiden Soekarno menyempatkan diri untuk berkunjung dan sholat di Masjid Badshahi – Lahore. Dan juga bertemu serta menyampaikan penghargaan kepada tentara Pakistan yang telah berjasa turut berjuang memihak Indonesia dalam peristiwa 10 November di Surabaya.


Pakistan begitu menghormati Bung Karno. Ada dua tempat di Pakistan yang dinamai dengan nama beliau yakni Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar, dan Soekarno Bazar, di Lahore. Penamaan Soekarno ini tidak lepas dari sepak terjang kedua negara. Pakistan sangat segan kepada sosok Bung Karno. Bahkan hingga kini kalangan militer Pakistan masih ingat jasa Bung Karno yang mengirim TNI AL berpatroli di laut selatan Pakistan saat konflik memanas antara Pakistan dan India di tahun 1965. Sebaliknya, pendiri Pakistan Quaid Azzam Ali Jinnah pernah meminta menahan seluruh pesawat Belanda yang singgah di Pakistan pada 1947, ketika Belanda ingin menyerang Indonesia. 

Pemerintah Indonesia juga menghargai jasa prajurit Pakistan, yang ketika itu ikut rombongan sekutu. Rombongan ratusan prajurit Pakistan itu tadinya diperintahkan menyerang Indonesia ketika sekutu sampai di Surabaya November 1945. Namun mereka berontak dan memilih berperang di sisi Indonesia. Dari total 600 tentara Pakistan, sebanyak 500 orang gugur di Surabaya. Pada Agustus 1995, Indonesia memberikan medali Indenpendece War Awards kepada tentara Pakistan ini. 

Lokasi dan Alamat Masjid Badshahi

Kota Lahore, Distrik Lahore
Propinsi Punjab, Republik Islam Pakistan
Koordinat geografi  : 31°35′17.07″N 74°18′36.45″E





Berkapasitas 100 Ribu jemaah Sekaligus

Masjid Badshahi berkapasitas 5000 jemaah di ruang sholat utamanya dan 95.000 jemaah di halaman tengah serta portiko, menjadikannya sebagai masjid tebesar di dunia dari tahun 1673 hingga 1986 (atau selama 313 tahun). Daya tampung masjid ini dikalahkan oleh Masjid Faisal di Islamabad (Ibukota Pakistan) yang dibangun belakangan. Saat ini masjid dengan daya tampung terbesar adalah Masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawaroh di Saudi Arabia, Masjid Hassan II di Casablanca – Maroko, Masjid Faisal di Islamabad – Pakistan.

Masjid berukuran begitu besar ini, memiliki empat menara di empat penjuru luar masjid masing masing setinggi 53.75m ditambah lagi empat menara di empat penjuru bangunan utama masjid dan halaman tengah seluas 253.899,9m2. Sekedar untuk perbandingan, tinggi menara masjid ini lebih tinggi 4.2 meter dibandingkan dengan menara Taj Majal, dan halaman tengah masjid ini sama luasnya dengan keseluruhan luas Taj Mahal.

Tahun 1993 yang lalu pemerintah Pakistan merekomendasikan Masjid Badshahi untuk dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO, dan sudah dimasukkan ke dalam daftar sementara dari kemungkinan nominasi masuk ke dalam daftar warisan dunia UNESCO.

Sejarah Masjid Badshahi

Pembangunan Masjid Badshahi (1671–1673)

Jemaah Sholat Jum'at di Masjid Badshahi Lahore.

Masjid Badshahi dibangun pada masa pemerintahan raja dinasti Islam Mughal ke VI, Raja Aurangzeb yang bergelar Alamgir (sang penakluk dunia) pada bulan Mei 1671. Proses pembangunan masjid ini memakan waktu selama dua tahun dan selesai pada bulan April 1673. Raja Aurangzeb adalah putra dari Raja Mughal yang termashur dengan Taj Mahal nya, Shah Jehan.

Masjid Badshahi dibangun dalam visi kerajaan dan menjadikannya sebagai masjid kerajaan emperium Islam Mughal karenanya sengaja dibangun berseberangan dan tak jauh dari Lahore Fort, Landasan masjid ini dibangun lebih tinggi dari permukaan lahan disekitarnya untuk mencegah banjir dari aliran sungai Ravi saat pasang naik. Fondasi dan struktur bangunan masjid ini dibangun menggunakan bahan batu bata dan tanah lempung yang dipadatkan. Struktur bangunannya kemudian dibalur dengan lampengan batu pasir merah yang ditambang dari daerah Jaipur di Rajasthan (kini masuk dalam wilayah India). Sedangkan kubahnya di lapis dengan pualam putih.

Aerial View Masjid Badshahi Lahore.

Proses pembangunan masjid ini diawasi langsung oleh saudara angkat Raja Aurangzeb's yang bernama Muzaffar Hussain (juga dikenal sebagai Fidai Khan Koka) yang pada bulan Mei 1671 ditunjuk sebagai gubernur Lahore oleh Raja Aurangzeb. Fidai Khan Koka juga merupakan ahli persenjataan kerajaan Islam Mughal.

Bersama dengan pembangunan Masjid Badshahi, sebuah gerbang baru dibangun di Lahore Fort mengarah ke Hazuri Bagh (Taman Hazuri Bagh, dulunya merupakan lapangan terbuka tempat berparadenya pasukan kerajaan Mughal) dan menuju langsung ke pintu masuk utama Masjid Badshahi, gerbang ini diberi nama “Gerbang Alamgir” nama yang diambil dari gelar sang raja. Di pintu masuk masjid Badshahi terdapat prasasti pembangunan masjid ini yang ditulis dalam bahasa Persia berbunyi :

“Masjid Abdul Muzaffar Muhy-ud-Din Muhammad Aurangzeb Alamgir, Sang Raja penakluk. Dibangun dibawah pengawasan dari pengurus rumah tangga kerajaan yang rendah hati, Fidai Khan Koka pada tahun 1084H”

Foto bersejarah Masjid Badshahi dimasa penjajahan Inggris.

Masjid Badshahi di Masa Kerajaan Mughal (1673-1752)

Ketika selesai dibangun tahun 1673 masjid Badshasi tidak saja menjadi masjid terbesar di emperium Islam Mughal tapi juga merupakan masjid terbesar di dunia. Catatan rekor tersebut bertahan selama 313 tahun sampai tahun 1986. masjid ini menjadi salah satu bangunan terbesar semasa kejayaan Mughal dan dunia. Di cuaca cerah masjid ini dapat dilihat dari jarak hingga 15 Km.  Masjid badshahi mengangkat pentingnya posisi kota Lahore secara politik, ekonomi dan budaya di masa kejayaan Mughal.

Masjid Badshahi di Masa Kekuasaan Sikh (1799-1849)

Pada tanggal 7 Juli 1799 milisi Sikh dari Sukerchakia, pimpinan Ranjit Shing mengambil alih kota Lahore. Setelah mengusai seluruh kota, Masjid Badshahi mengalami kerusakan parah ketika Ranjit Shing menggunakan Halaman tengahnya yang begitu luas itu sebagai kandang kuda pasukannya. Sedangkan 80 hujras (ruangan kelas) yang mengitari halaman tengah masjid dijadikannya sebagai barak militer dan gudang senjata. Ranjit Sing juga menjadikan Hazuri Bagh yang berdekatan dengan taman disebelah masjid sebagai ruang pengadilan kerajaan. Tahun 1820 seorang warga Inggris bernama William Moorcroft dalam catatannya menyebutkan bahwa saat itu masjid Badshahi dijadikan areal latihan bagi pasukan infantry Sipahi.

Susana malam di Masjid Badshahi.

Tahun 1841 terjadi perang sipil Sikh, Putra Ranjit Singh, Sher Shing menggunakan menara masjid Badshahi yang ujung nya sudah runtuh akibat genba, untuk meletakkan zamburah atau Senjata Ringan untuk membombardir pendukung Sikh Maharani Chand Kaur yang menguasai Lahore fort, bombardier dari menara masjid itu mengakibatkan kerusakan pada Fort Lahorei. Salah satu korban diborbardir itu adalah hancurnya Fort Diwan-e-Aam (Hall untuk pertemuan publik, Hall tersebut kemudian dibangun ulang dimasa pendudukan Inggris, namun tak mampu membangun seindah aslinya. Selama perang sipil ini tercatat bahwa Hendri De La rouche, komandan Kavaleri Prancis yang ditugaskan di ketentaraan Sher Singh menggunakan terowongan yang menghubungkan masjid Badshahi ke Lahore Fort sebagai gudang sementara penyimpanan mesiu.

Masjid Badshahi di Masa Penjajahan Inggris (1858-1947)

Saat Inggris menjajah India, inggris meneruskan apa yang dilakukan pemerintahan Sikh dengan tetap menggunakan masjid dan area yang menghubungkannya dengan Fort sebagai barak militer. 80 hujrah yang berada disekitar lapangan tengah dan semasa kekuasaan Sikh dijadikan sebagai kandang kuda, di hancurkan oleh Inggris untuk mencegah digunakannya ruang kelas tersebut bagi segala bentuk aktivitas anti Inggris. Inggris kemudian membangun ulang area hujras dengan bentuk arkade terbuka atau “dalan” seperti yang kita lihat saat ini.

Temaram.

Masjid Badshahi Kembali ke Kaum Muslimin dan Restorasi

Menanggapi ketersinggungan kaum muslimin atas terus digunakannya masjid Badshahi sebagai barak militer sejak pemerintahan Sikh hingga di era awal pemerintahan pendudukan Inggris, Inggris ahirnya membentuk Otoritas Masjid Badshahi pada tahun 1852 untuk melakukan restorasi dan mengembalikan Masjid tersebut kepada kaum muslimin. Sejak tahun 1852 tersebut serangkaian restorasi terhadap bangunan masjid dilaksanakan dibawah pengawasan Otoritas Masjid Badshahi. Perbaikan besar  besaran dilaksanakan sejak tahun 1939. Cetak biru perbaikan masjid disiapkan oleh arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur.

Masjid Badshahi di bawah pemerintahan Republik islam Pakistan

Pekerjaan restorasi terhadap masjid ini terus berlanjut ketika Lahore manjadi bagian dari Republik Islam Pakistan yang baru berdiri pada tanggal 14 Agustus 1947 lepas dari India. Di tahun 1960 Masjid Badshahi direstorasi total dan dikembalikan ke bentuknya aslinya. Proses restorasi ini menghabiskan dana 4.8 juta Rupee. Pemerintah Pakistan membangun sebuah musium kecil di dalam gerbang masuk ke masjid Badshahi,  untuk menyimpan beberapa benda bersejarah yang terkait dengan Nabi Muhammad S.A.W, sepupunya Ali Bin Abi Thalib, dan putri beliau Fatimah Azzahra. Benda benda tersebut dibawa ke wilayah anak benua tersebut oleh Amir Taimur. pemotretan terhadap benda benda tersebut sama sekali tidak diperkenankan oleh pihak berwenang disana, demi menghormati baginda rosul dan keluarganya.

Makam Muhammad Iqbal tak jauh dari komplek Masjid Badshahi.

Di luar masjid, di dekat tangga masuknya terdapat makam pujangga Pakistan yang begitu terkenal Dr. Sir Allama Muhammad Iqbal. Beliau adalah salah satu tokoh besar yang berjasa bagi berdirinya Republik Islam Pakistan terpisah dari India. Makam beliau dibangun dalam bentuk mausoleum berarsitektur campuran arsitektural Maroko dan Afgani. Keseluruhan bangunan maosoleom nya menggunakan batu pasir merah yang diambil dari sumber yang sama dengan batu pasir yang dipakai untuk masjid Badshahi.

Di kesempatan 2nd Islamic Summit yang diselenggarakan di Lahore pada tanggal 22 Feebruari 1974, tiga puluh sembilan kepala negara dari negara negara Islam menyempatkan diri sholat Jum’at di masjid ini, hadir diantara mereka adalah Zulfikar Ali Butto (Pakistan), Raja Faisal (Saudi Arabia), Muammar Gaddafi (libya), Yasser Arafat (Palestina) dan Sabah III Al-Salim Al-Sabah (Kuwait). Sholat Jum’at hari itu di imami oleh Imam besar Masjid Badshahi, Maulana abdul Qodir Azad, sekaligus bertindak sebagai khatib.

Kemegahannya terlihat anggun di bawah cahaya 
lampu malam hari
Tahun 1993 yang lalu pemerintah Pakistan sudah merekomendasikan Masjid Badshahi untuk dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO, dan sudah dimasukkan ke dalam daftar sementara nominasi masuk daftar warisan dunia UNESCO.

Tahun 2000 dilakukan perbaikan terhadap lapisan pualam yang menutup ruang sholat utama masjid. Tahun 2008 dilaksanakan pekerjaan penggantian terhadap batu pasir merah yang melapisi pelataran tengah masjid. Penggantian batuan tersebut menggunakan batuan yang bersumber dari sumber aslinya seperti saat pertama kali dibangun, hanya saja karena wilayah Jaipur, Rajastan, sudah menjadi wilayah India, pengadaan batu tersebut dilaksanakan harus melalui prosedur perdagangan internasional.

Arsitektural dan Rancang Bangun Masjid Badshahi

Arsitektural masjid Badshahi sangat mirip dengan Masjid Jama di Delhi tua, India. Masjid Jam Delhi Tua dibangun tahun 1648. Kemiripan tersebut dapat dimengerti mengingat masjid Jama di Delhi dibangun oleh Ayahanda dari Aurangzeb, Raja Shah Jahan. Rancangan masjid tersebut di-inspirasi oleh seni Islami, Persia, Asia tengah dan sentuhan India. Sebagaimana layaknya sang pembangun-nya, masjid ini pun begitu megah, besar, mengagumkan dan memberikan kesan yang luar biasa.

Masjid Badshahi di mata uang Pakistan 500 rupee.

Tangga menuju ruang sholat utama masjid ini serta keseluruhan lantainya menggunakan pualam warna warni. Ruang sholat utama masjid Badshahi dibagi ke dalam tujuh bagian dalam artian memiliki beberapa lajur yang terbentuk oleh deretan tiang berlengkung dalam ukuran besar, tiga ruang berada di bawah kubah ganda yang di kerjakan dengan apik menggunakan pualam putih. Empat ruang lain nya berkubah rata (manbatkari), lengkap dengan lukisan dinding, dan berlapiskan batu pualam.

Eksterior masjid ini di dekorasi dengan batu berukir juga dengan lapisan pualam dan batu pasir warna merah khususnya untuk beberapa motif dan relif relif tebalnya. Ditambah dengan sedikit sentuhan indo-greek, Asia Tengah dan pengaruh dari arsitektur India dalam teknik maupun motif motifnya.

Pelataran tengah Masjid Badshahi.

Skyline masjid ini dihias dengan seni bangunan yang begitu  indah menggunakan  lapisan pualam, memberikan garis garis megah seantero masjid. dalam berbagai fitur arsitekturalnya seperti halaman tengah, lorong lorong, menara di empat penjuru, garis proyeksi yang mengarah ke ruang sholat utama dan pintu masuk utama, ditambah dengan perjalanan panjang sejarah perkembangan arsitektur Islam sebelum pembangunan masjid ini di tahun 1673.

Dinding sebelah utara masjid ini membentang sangat dekat dengan tepian sungai Ravi, jadi gerbang besar masjid ini tidak diletakkan disisi tersebut, simetris dengan sisi utara sisi selatan pun dirancan tanpa gerbang besar. dan empat bangunan Aiwan seperti yang ada di masjid Jama Delhi tidak di duplikasi di masjid ini. tembok masjid Badshahi dibangun menggunakan batu bata bakar, semen putih tapi kemudian di lapisi dengan batu pasir merah. sementara jalan menuju ruang sholat di lapis dengan pualam warna warni.

Pengaruh Arsitektural 

Arsitektural Masjid Badshahi turut mempengaruhi rancang bangun beberapa masjid yang dibangun setelahnya seperti Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), Masjid Sir Syed Masjid, di Aligarh dan Taj-ul-Masajid, di Bhopal, (India).***

Minggu, 30 Oktober 2011

Masjid Hassan II –Casablanca, Maroko

Masjid Hasan II dilihat dari arah Samudera Atlantik.

Tentang Maroko

Maroko, Kerajaan Islam di ujung utara benua Afrika, beribukota di kota Rabat,  beseberangan dengan kerajaan Spanyol di benua Eropa bagian selatan terpisah oleh selat Gibraltar. Maroko memiliki pertalian sejarah yang sangat erat dengan Kerajaan Spanyol, Gibraltar dan keseluruhan semenanjung Iberia. Dan sejarah itu tak lepas dari nama Panglima Tariq Ibnu Ziyad, panglima perang Islam dari Maroko yang begitu melegenda, mengukir sejarah keemasan Islam menaklukkan wilayah Andalusia (meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) di tahun 711 Masehi bertepatan tahun 97 Hijriah, atas perintah dari Musa Bin Nushair, gubernur Maroko ketika itu.

Nama panglima Tariq Ibnu Ziyad diabadaikan menjadi nama gunung batu tempatnya berlabuh ketika pertama kali mendarat di benua Eropa, Jabal Tariq (Gunung Tariq), lidah orang eropa yang tak pandai menyebut Jabal Tarik, kemudian menjadikan semenanjung itu bernama Gibraltar hingga kini.

Jalan Sukarno di pusat kota Rabat
Kerajaan Maroko juga memiliki kedekatan tersendiri dengan Indonesia, Indonesia menjadi salah satu negara yang secara aktif melalui jalur diplomasi memperjuangkan kemerdekaan Maroko dari Jajahan Prancis. Salah satu ruas jalan di Maroko diberi nama Rue Sukarno (Jalan Sukarno), sebagai bentuk penghormatan bagi Bung Karno. Nama jalan tersebut diresmikan sendiri oleh Bung Karno bersama Raja Muhammad V saat kunjungan beliau ke Maroko pada 2 Mei 1960. Sebagai bentuk persahabatan dua bangsa, di Jakarta pun kita temui ruas jalan dengan nama Jalan Casablanca.

Dalam kunjungan Bung Karno ke Maroko tersebut, Raja Muhammad V juga memberi hadiah istimewa bagi Bung Karno dan Rakyat Indonesia berupa fasilitas bebas visa bagi warga negara Indonesia yang hendak berkunjung ke Maroko. Sayangnya jarak antara Indonesia dengan Maroko yang terpisah begitu jauh membuat negeri Seribu benteng di Magribi ini tidak begitu populer bagi para pelancong Indonesia. Begitu jauhnya Maroko dari Indonesia sampai sampai keluar istilah baru untuk menyebut begitu luasnya dunia Islam dengan sebutan “dari Maroko sampai ke Merauke”. Selain dari itu di kota Kenitra - Maroko ada Masjid (Bernama) Indonesia, sebagai bentuk penghargaan Kerajaan Maroko kepada pemerintah dan rakyat Indonesia.

Presiden Sukarno bersama Raja  MUhammad V di kota Rabat 2 Mei 1951.

Maroko beribukota di Rabat meskipun kebanyakan orang lebih mengenal Maroko dengan kota Casablanca – nya yang merupakan kota perdagangan terbesar di Maroko. Di Casablanca berdiri sebuah bangunan masjid yang begitu istimewa karena dibangun di laut dan menjadi salah satu masjid terbesar di dunia dan masih memegang rekor sebagai masjid bermenara tertinggi di dunia, masjid tersebut adalah Masjid Hassan II.

Lokasi dan Alamat Masjid Hassan II

Boulevard Sidi Mohamed ben Abdallah, Casablanca, Maroko
Telepon : +212 22206265 ‎
Koordinat giografi : 33°36′26.4″N 7°37′57.2″W
Rute kendaraan umum : Bus No 15 dari Pl Oued al-Makhazine DH3.50


Masjid Terapung Terbesar di dunia

Masjid Hassan II berada di kota Casablanca, Maroko. Diklaim sebagai masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Dan Masjid Hassan II ini merupakan salah satu dari 48 ribu bangunan masjid di Maroko dari total penduduknya yang hanya 35 juta jiwa. Masjid Hassan II dibangun pada tahun 1986-1993 untuk memperingati ulang tahun mendiang Raja Maroko Hassan II.

Sebagai pembanding, Italia yang merupakan negara Katholik berpenduduk 60 juta jiwa hanya memiliki 26 ribu tempat ibadah. Perbandingannya adalah disediakan 1 masjid bagi setiap 730 orang di Maroko. sedangkan di Italia satu tempat ibadah diperuntukkan bagi 2400 orang.

Masjid Hasan II dengan pelatarannya yang kinclong.

Masjid Hassan II dibangun menjorok ke samudra Atlantaik membuatnya terlihat seakan akan berada di tengah laut layaknya sebuah masjid yang benar benar terapung. Tak salah bila kemudian masjid ini mendapat julukan sebagai masjid terapung terbesar di dunia. Masjid megah ini kini menjadi penanda kota Casablanca. Dari arah Samudera Atlantik bangunan masjid ini mendominasi pemandangan kota Casablanca.

Masjid dengan menara tertinggi di dunia

Dirancang oleh seorang arsitek Prancis Michel Pinseau dan dibangun oleh Bouygues. Masjid ini berdiri megah dan terlihat begitu anggun dari Samudera Atlantaik. Dengan lantai kaca yang dapat menampung hingga 25 ribu jemaah. Ditambah lagi dengan pelataran yang mampu menampung 80 ribu jemaah. Tak hanya itu masjid ini juga dilengkapi dengan menara khas tradisional Maroko setinggi 210 meter (689 ft), menjadikan menara masjid sebagai menara masjid tertinggi di dunia. Menaranya yang begitu tinggi ini terlihat hampir dari segala sudut kota Casablanca baik siang ataupun malam hari dengan sistem pencahayaannya yang menggunakan tata lampu sinar laser.

Interior Masjid Sultan Hasan II.

Penggunaan Teknologi Tinggi

Teknologi tinggi di aplikasikan di masjid megah ini dengan memanfaatkan teknologi cahaya laser untuk pencahayaan dan memberikan keindahan tersendiri dimalam hari, penggunaan pemanas lantai untuk mengontrol temperatur ruangan masjid melalui lantainya ketika suhu dingin, penggunaan pintu elektrik, rancangan atap yang bisa di buka tutup dengan teknologi mutakhir dan beberapa bagian lantai masjid menggunakan kaca tebal sehingga memungkinkan jemaah melihat samudera Atlantik yang menyapu bebatuan di bawah masjid.

Selain itu masjid ini juga secara keseluruhan berukuran sangat besar dengan dekorasi interior ruang sholat yang mengagumkan, dengan ukiran tangan para pengukir yang memang profesional di bidangnya ditambah dengan dekorasi hasil cetakan semen. Sebuah tim besar para maestro pengukir di pekerjakan khusus menangani proyek pembangunan masjid ini. Bahan bahan terpilih berupa kayu kayu cedar dari kawasan Atlas, batu pualam dari pegunungan Agadir dan batuan granit dari Tafroute.

Masjid Hasan II ditepian Samudera Atlantik di kota Casablanca.

Lebih dari 6000 seniman maroko dipekerjakan pada proyek pembangunan masjid ini sejak dari awal pembangunannya. Dengan biaya proyek mencapai setengah milyar dolar dan sebagian besar dari dana pembangunan tersebut merupakan sumbangan dari rakyat Maroko sendiri. Masjid ini kini menjadi sebuah bangunan yang sangat membanggakan bagi warga Maroko terutama warga kota Casablanca.

Terbuka bagi pengunjung non muslim

Masjid Hassan II menjadi masjid modern paling baru yang membuka diri bagi kunjungan dari kalangan non muslim dengan beberapa persyaratan yang harus dipatuhi termasuk untuk menggunakan pakaian sopan, harus ditemani oleh pemandu untuk dapat masuk ke dalam area masjid dan tentu saja harus melepas alas kaki.

Masjid Hasan II merupakan masjid "terapung" terbesar didunia dan juga masjid dengan menara tertinggi di dunia.

Pemandu wisata di masjid ini menggunakan beberapa bahasa pengantar selain bahasa Arab juga menggunakan basa Prancis, Inggris, Jerman dan Spanyol. Pengunjung non muslim juga diperkenankan untuk berkunjung hingga ke ruang sholat utama, ruang wudhu dan hammam (kolam pemandian di lantai dasar masjid). 

Meskipun masjid ini dapat dicapai dengan berjalan kaki selama ± 20 menit dari stasiun kereta Casa Port, namun beberapa laporan lebih menyarankan warga asing untuk menggunakan taksi dari pusat kota atau bis umum No 15 dari kawasan Pl Oued al-Makhazine.***

Masjid Agung Sumenep, Pulau Madura – Jawa Timur

Masjid Agung Sumenep dengan  gapuranya yang melegenda.

Masjid Agung Sumenep, dulunya disebut masjid Jami’ Sumenep, berada di tengah tengah kota Sumenep, menghadap ke taman Kota, dengan gerbang besar yang unik, pintu kayu kuno, berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid yang sudah berusia ratusan tahun masih berdiri kokoh, menjalankan fungsingya dengan baik dan menjadi salah satu penanda kota Sumenep.

Tentang Sumenep - Madura

Sumenep merupakan salah satu kabupaten di provinsi Jawa Timur, Lokasinya berada di ujung timur pulau Madura. Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dan populasi ±1 juta jiwa. Beribukota kota di Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan di pulau Madura juga terdiri dari berbagai pulau di Laut Jawa, keseluruhan pulaunya berjumlah 126 pulau.

Peta wisata kabupaten SUmenep klik untuk memperbesar
Sejarah Sumenep dimulai sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai Adipati pertama Kadipaten Sumenep dibawah kekuasaan Kertanagara dari kerajaan Singosari pada tanggal 31 Oktober 1269. Arya Wiraraja merupakan sosok dibalik jatuh bangunnya beberapa kerajaan di tanah jawa termasuk Singosari, Gelang Gelang, Kediri dan Sumenep sebelum kemudian mendirikan kerajaan Majapahit bersama dengan Raden Wijaya.

Sejak dilantiknya Arya Wiraraja sebagai adipati pertama Sumenep, ada 35 Adipati yang telah memimpin kerajaan Sumenep. Dan di era NKRI  ini telah dipimpin oleh 14 Bupati yang pernah memerintah Kabupaten Sumenep. Tanggal 31 Oktober kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari jadi kabupaten Sumenep.  

Islam di Sumenep

Merujuk kepada mediamadura.wordpress.com, penyebar  agama Islam di Sumenep adalah Syayyid Ahmadul Baidhawi atau yang dikenal dengan Pangeran Katandur sekitar pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan atau sekitar tahun 1550-an. Jauh sebelumnya atau sekitar tahun 1400-an ada juga ulama penyebar agama Islam yang bernama Raden Bindara Dwiryopodho dikenal dengan nama Sunan Paddusan, namun menurut cerita para pengamat sejarah masih ada penyiar agama Islam yang lebih awal di Sumenep, yakni sekitar pemerintahan Panembahan Joharsari  (Adipati Sumenep kelima, memerintah 1319-1331). Masih menurut sumber yang sama, Panebahan Joharsari merupakan Raja Sumenep pertama yang memeluk Islam. (lihat bagan hubungan antara Pangeran Katandur dengan Adipati Sumenep).

Masjid Agung Sumenep dipotret antara tahun 1890-1917.

Namun bila merunut perjalanan Islam di Sumenep, ada jeda waktu cukup lama antara masa pemerintahan Panebahan Joharsari (Adipati Sumenep ke lima, 1319-1331) hingga berdirinya masjid Laju di masa pemerintahan Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep ke 21, 1626-1644 M). apakah di kurun waktu tersebut belum ada masjid ? atau pelaksanaan ibadah sholat berjamaah dilaksanakan di kraton ?. Wallohua’lam bisshawab.

Masjid Agung Sumenep - Madura

Berdiri menghadap alun alun kota Sumenep Masjid Agung Sumenep yang dulunya disebut masjid Jami, menjadi salah satu penanda kota Sumenep. Usianya yang sudah ratusan tahun namun masih berdiri megah menjadikannya sebagai salah satu warisan sejarah masa lalu sekaligus memberikan kebanggaan tersendiri bagi warga Sumenep.

Secara administrative Masjid Agung Sumenep masuk dalam desa Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur. Masjid ini seluas 100m x 100m dilengkapi dengan bangunan sekretariat, bangunan pesanggrahan kiri dan kanan, bangunan toilet dan tempat wudhu serta tempat parkir.


Sejarah Masjid Agung Sumenep - Madura

Masjid Agung Sumenep dibangun setelah selesainya pembangunan Kraton Sumenep, pembangunan masjid ini digagas oleh Adipati Sumenep ke 31, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (berkuasa tahun 1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar, untuk menampung jemaah yang semakin bertambah. Bangunan masjid yang ada saat itu dikenal dengan nama Masjid Laju, dibangun oleh adipati Sumenep ke 21 Pangeran Anggadipa (berkuasa tahun 1626-1644 M) sudah tak lagi memadai kapasitasnya untuk menampung jemaah.

Pembangunan masjid Agung Sumenep di arsiteki oleh Lauw Piango, arsitek yang sama yang menangani pembangunan kraton Sumenep. Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M). proses pembangunan masjid dimulai tahun 1198 H (1779M) dan keseluruhan proses pembangunannya selesai pada tahun 1206H (1787M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Masjid Agung Sumenep.

Arsitektural Masjid Agung Sumenep - Madura

Arsitektural masjid Agung Sumenep sepertinya memang sengaja dirancang oleh Arsiteknya waktu itu dengan menggabungkan berbagai unsur budaya. Arsiteknya yang ber-etnis Tionghoa turut menorehkan unsur budaya China pada seni bina bangunan masjid ini. Seni Arab, Persia, Jawa, India dan China menjadi satu kesatuan utuh pada bangunan masjid Agung Sumenep ini.

Bangunan utama masjid di tutup dengan atap limas bersusun. Atap limas bersusun atau berundak, susunan atap seperti ini selain merupakan ciri khas bangunan di tanah jawa yang menggunakan atap joglo tapi juga merupakan bentuk atap yang banyak dipakai pada bangunan klenteng yang biasa menggunakan atap bersusun. Di ujung tertinggi atap bangunan dipasang mastaka berbentuk tiga bulatan.

Interior Masjid Agung Sumenep.

Gerbang utama yang dibangun di masjid ini banyak di pakai di bangunan bangunan penting negeri China dan India, di dua negeri itu bangunan gerbang tidak semata mata sebagai pintu masuk utama tapi juga merupakan pos penjagaan. Bangunan ini cukup besar dan megah, dengan ruangan di atasnya, bisa jadi pada jamannya ruang ini merupakan tempat menyimpan beduk dan kentongan serta tempat muazin mengumandangkan azan. Sehingga wajar bila kemudian ruang di atas gerbang ini yang difungsikan layaknya menara. Gerbang masjid Agung Sumenep ini benar benar menyita perhatian karena bentuknya yang begitu besar dan megah. Jangan lupa bahwa masjid masjid awal di tanah air memang tidak dilengkapi dengan menara.

Ukiran jawa dalam pengaruh berbagai budaya menghiasai 10 jendela dan 9 pintu besarnya. Bila diperhatikan dengan seksama, ukiran ukiran yang ada di pintu utama masjid ini sangat kental pengarus budaya China, dengan penggunaan warna warna cerah. Ukiran dengan nada yang serupa akan banyak di jumpai di daerah Palembang yang seni arsitekturalnya juga dipengaruhi cukup kuat oleh budaya China. Disamping pintu depan mesjid sumenep terdapat jam duduk ukuran besar bermerk Jonghans, diatas pintu tersebut terdapat prasasti beraksara arab dan jawa.

Mimbar dan Mihrab Masjid Agung Sumenep.

Sentuhan budaya China terasa lebih kental pada mihrab masjid. Uniknya masjid ini memiliki dua mimbar disisi kiri dan kanan mihrabnya. Hiasan keramik porselen warna biru cerah dengan corak floral mendominasi dua mimbar dan mihrab di masjid ini. Dilihat dari coraknya kemungkinan besar keramik porselen tersebut di import dari daratan China. Bangunan bersusun dengan puncak bagian atas menjulang tinggi mengingatkan bentuk-bentuk candi yang menjadi warisan masyarakat Jawa. Kubah berbentuk tajuk juga merupakan kekayaan alami pada desain masyarakat Jawa.

Sekitar tahun 90-an masjid ini mengalami pengembangan, dengan renovasi pada pelataran depan, kanan dan kirinya, dengan sama sekali tidak mengubah bangunan aslinya.  Didalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun solat. Bagian luar terdapat 20 pilar. Dan 2 tempat khotbah yang begitu indah dan diatas tempat Khotbah tersebut terdapat sebuah pedang yang berasal dari Irak. Awalnya pedang tersebut terdapat 2 buah namun salah satunya hilang dan tidak pernah kembali.***