Jumat, 13 Juli 2012

Masjid Agung Al-Fateh, Manama – Bahrain (Bagian II)

Masjid Agung Al-Fateh, Manama, Bahrain

Arsitektural Masjid Agung Al-Fateh

Sedangkan interior masjid dihias dengan lukisan kaligrafi dengan fola Kufi yang merupakan salah satu fola penulisan kaligrafi tertua di dunia. Masjid Agung Al-Fateh dibangun oleh mendiang Sheikh Isa ibn Salman Al Khalifa ditahun 1987 dan dinamai sesuai dengan nama dari Ahmed Al Fateh, sang penakluk Bahrain. Sejak tahun 2006, Masjid Agung Al-Fateh juga menjadi tempat bagi Perpustakaan Nasional Bahrain (National Library of Bahrain).

Seni Arsitektural Islami di Masjid Al-Fateh

Watak dari seni Islami berfokus kepada penggambaran pola pola tertentu dan kaligrafi arab, dan menghindari bentuk bentuk figure tertentu karena penggambaran figure manusia dalam seni ditakutkan akan menggiring kepada pengkultusan dan menggiring kepada kesyrikan. Demikian pula dengan seni islami yang di aplikasikan pada masjid Agung Al-Fateh di kota Manama ini, yang di dominasi oleh bentuk bentuk geometris dan pengulangan bentuk bentuk yang sudah ada serta seni Kaligrafi.

Area Sahn Masjid Agung Al-Fateh, Manama

Bentuk Bentuk Geometris

Pola geometris mendominasi wajah masjid Agung Al-Fateh, mulai dari lantai pualamnya, karpet, dinding, hingga pintu dan jendela, meskipun sebenarnya karya seni pola geometris ini awalnya bukanlah bagian dari seni Islam, namun fakta bahwa seni merupakan bentuk ekspresi tidak dapat dipungkiri, interprestasi yang paling lumrah dari pola pola tersebut adalah bahwa “Tuhan yang maha kuasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, disimbolkan dalam pola geometri dengan pengulangan  pola geometris awal disusul yang berikutnya begitu seterusnya”.

Kaligrafi

Kaligrafi bagi seorang muslim merupakan bentuk ekspresi visual dalam konsep spiritual dengan mengambil ayat ayat suci Al-Qur’an sebagai materi utama, memainkan peran penting dalam melestarikan bahasa Arab Al-Qur’an ke dalam arsitektural Islam. Seni penulisan kaligrafi bergaya Kufi merupakan salah satu karya seni kaligrafi paling tua yang masih eksis dan menjadi rujukan utama bagi para kaligrafer dunia termasuk yang dikembangkan dan di gunakan di Masjid Agung Al-Fateh ini.

Ornamen indah di dalam kubah masjid Agung Al-Fateh, Manama, kaligrafi Kufi di ukir melingkar  pada cincin dalam kubah. 

Istilah Kufi diambil dari nama kota Kufa di Iraq, meskipun seni penulisan hurup arab jenis tersebut telah dikenal sejak zaman Mesopotamia setidaknya 100 tahun sebelum berdirinya kota Kufa. Seni Kufi terdiri dari garis garis lurus dan sudut, seringkali dengan persilangan horizontal dan vertical, jenis seni ini yang digunakan dalam penulisan Al-Qur’an untuk pertama kali ketika dibukukan sebagai sebuah mushaf. Hurup hurup itu masih digunakan di berbagai dunia islam melalui perjalanan panjang dan pada ahirnya melahirkan perbedaan diberbagai daerah.

Mihrab

Mimbar pada prinsipnya adalah sebuah ruang kecil di sisi kiblat sebuah masjid tempat khusus bagi imam saat memimpin sholat berjamaah. Mimbar di masjid Agung Al-Fateh dibuat seperti kebanyakan mimbar mimbar masjid Timur Tengah dengan  bentuk setengah lingkaran dengan tujuan agar suara imam memantul ke seantero ruangan. Mihrab di masjid ini hanya dipakai dalam sholat fardhu Jum’at dan dua hari raya. Di hari biasa disediakan tempat lebih ke tengah ruangan berupa bentuk mihrab movable dari kayu berukir.

Interior ruang utama masjid Agung Al-Fateh dengan lampu gantung utamanya, hamparan karpet yang dipesan khusus dari Eropa untuk memadukan warnanya dengan keseluruhan warna interior, mimbar dan Mihrab utama di sisi kiblat, dan mimbar dan sajadah imam di tengah ruang sholat untuk sholat harian.

Mimbar

Mimbar di zaman Rosullulloh S.A.W berupa landasan dengan tiga anak tangga tempat  beliau menyampaikan khutbah. Dalam perkembangan selanjutnya mimbar berkembang sedemikian rupa dalam berbagai bentuk meski memiliki fungsi yang sama sebagai tempat khatib menyampaikan khutbah. Fungsi utama dari sebuah mimbar adalah memberikan tempat yang lebih tinggi bagi khatib saat menyampaikan khutbah agar terlihat dengan mudah oleh jemaah yang hadir dari segala penjuru.

Mimbar di Masjid Agung Al-Fateh dibuat dari kayu berukir dengan ukuran cukup tinggi. Tangga mimbar tidak diletakkan di sisi depan seperti kebanyakan mimbar di masjid masjid Mesir tapi di sisi samping mihrab, sedangkan sisi depan mihrab yang menhadap ke jemaah justru dipasang pagar berukir setinggi pinggang. Tempat diletakkannya perangkat microphone.

Mimbar Masjid Agung Al-Fateh

Menara Masjid Agung Al-Fateh

Selain kubah besar, fitur utama lain nya di masjid Al-fateh adalah bangunan menara kembarnya yang dibangun setinggi meter (230 kaki) dari permukaan terendah tempatnya berdiri. Menara pada prinsipnya memiliki dua fungsi utama yakni sebagai tempat muazin mengumandangkan azan di balkoni menara, dan, tentu saja sebagai salah satu penanda atau landmark. Seiring dengan ditemukannya teknologi pengeras suara, tak ada lagi muazin yang memanjat ke puncak menara untuk menyampaikan azan. Azan dikumandangkan dari dalam masjid dan diteruskan ke perangkat pengeras suara di menara dan seantero masjid.

Sahn / Courtyard / Halaman Tengah

Sahn dalam istilah arsitektural Islam adalah sebuah courtyard atau halaman tengah. Aslinya Sahn digunakan pada bangunan hunian, kebanyakan digunakan pada bangunan istana dan hunian sebagai semuan taman pribadi sang pemilik. Dalam perkembangannya Sahn digunakan diberbagai bangunan. Penggunaan Sahn dalam dunia arsitektur lebih kepada fungsionalnya sebagai ruang terbuka bagi sebuah komplek bangunan untuk memberikan ruang bagi fungsi ventilasi bangunan.

salah satu sudut Sahn di Masjid Agung Al-Fateh

Sahn secar berkelanjutan digunakan dalam dunia arsitektural hingga pertengahan abad ke 20, ketika arsitektural modern mula menggunakannya pada hampir semua bangunan publik selain bangunan hunian. Di berbagai masjid sahn dipadu dengan dengan arkade disekelilingnya, memberikan keindahan tersendiri bagi induk bangunan, seperti yang terdapat pada Masjid Agung Al-Fateh.

Kubah Masjid Agung Al-Fateh

Kubah telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi wujud sebuah masjid secara universal, setidaknya sejak abad ke 12 yang lalu. Kubah menjadi salah satu fitur dominan dari sebuah masjid dan biasa dirancang dalam  bentuk yang besar, tinggi dan dominan. Kubah masjid Agung Al-Fateh dibangun setinggi 40 meter (132 kaki) dari permukaan lantai dan berdiameter 25 meter. Sejak masa lalu kubah dibangun dengan bukaan yang tinggi dan jendela besar guna memberikan keleluasaan bagi ventilasi udara dan cahaya ke dalam masjid, kubah dengan kaidah seperti itu pertama kali digunakan dalam arsitektural Islam di tahun 691 pada bangunan masjid Kubah Batu / Kubah Mas / Dome of the Rock / Qubatus Shakrah di Al-Quds (Jerusalem) – Palestina.

Ornament dalam kubah Masjid Agung Al-Fateh ) 

Kubah besar di puncak atap masjid Agung Al-fateh keseluruhannya dibuat dari bahan fiberglass seberat 60 ton dan menjadikannya sebagai kubah terbesar di dunia yang terbuat dari bahan fiberglass. Kubah masjid Al-fateh juga dilengkapi dengan 12 jendela kaca anti noda. Sisi bagian dalam kubah di lukis dengan pola geometris membentuk pola seperti bunga merekah pada sisi tengahnya dalam balutan warna warna cerah. Keindahan sisi dalam kubah besar ini dipercantik dengan serangkaian kaligrafi Kufi melingkar dibagian dalam cincin kubah.

Lampu Gantung Masjid Agung Al-Fateh

Lampu gantung di ruang utama Masjid Agung Al-Fateh menyerupai beberapa masjid utama di Istanbul – Turki berupa satu lampu gantung utama berukuran besar dikelilingi sebuah struktur metal berukuran besar dengan melingkar diatas ruang utama dengan lampu gantung utama ditengahnya. Pada struktur melingkar itu digantung sederetan lampu lampu kaca tiup berukuran kecil memberikan pemandangan klasik di dalam ruang utama.

Sebelum dan Sesudah ::: Masjid Agung Al-Fateh saat sedang dibangun dan saat setelah selesai. foto dari situs resmi Masjid Al-Fateh

Selain di ruang utama, ruang ruang yang lain di masjid ini juga dihias dengan lampu lampu gantung kaca tiup Austria yang dirangkai pada sebuah rangka metal digantung di berbagai sudut ruang termasuk di lantai dua masjid. Benar benar unik dan klasik, mengingat sudah sangat jarang masjid masjid baru yang menggunakan lampu gantung jenis ini.

Perpustakaan Ahmed Al-Fateh

Perpustakaan Ahmed Al-Fateh memiliki koleksi sekitar 7000 judul buku, beberapa diantaranya sudah berusia lebih dari 100 tahun. Termasuk di dalamnya adalah salinan dari buku buku hadist kuno, Ensiklopedia bahasa Arab, Ensiklopedia hukum Islam, pustaka pustaka terbitan Al-Azhar terbitan lebih dari seratus tahun lalu termasuk juga majalah majalah dan sejumlah terbitan berkala lain nya.

Lampu gantung di lantai dua Masjid Agung Al-Fateh

Tujuan Wisata Rohani

Selain sebagai tempat ibadah Masjid Agung Al-Fateh telah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Bahrain, terutama sebagai objek wisata rohani. Masjid ini melayani kunjungan wisata dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Pengunjung dalam rombongan ditemani oleh pemandu yang menjelaskan detil masjid ini dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Inggris, Prancis, Fhilipina dan Rusia. Dan tentu saja masjid ditutup untuk semua kunjungan wisata pada waktu waktu sholat, Hari Jum’at dan hari hari libur nasional.

Kembali ke BAGIAN I

Ruang Utama masjid Agung Al-Fateh
Area Sahn Masjid Agung Al-Fateh
Pengunjung di masjid Agung AL-Fateh dari berbagai negara
Lampu Gantung utama di ruang utama Masjid Agung Al-Fateh


Kamis, 12 Juli 2012

Masjid Agung Al-Fateh, Manama – Bahrain (Bagian I)

Masjid Agung Al-Fateh, Manama, Bahrain

Masjid Agung Al-Fateh berada di kota Manama, ibukota Bahrain yang di klaim sebagai salah satu masjid dengan ukuran terbesar di dunia, dengan ukuran 6500 meter persegi dan dapat menampung 7000 jemaah sekaligus. Meskipun disebut sebut sebagai salah satu masjid terbesar di dunia, masjid Agung Al-Fateh kalah jauh bila dibandingkan dengan daya tampung Islamic Center Samarinda (Kalimantan Timur) yang memiliki kapasitas hinga 40 ribu jemaah sekaligus.

Sebagaimana disebut di situs resminya Masjid Agung Al-Fateh bernama resmi sebagai Ahmed Al-Fateh Islamic Center atau dalam bahasa Arabnya disebut sebagai Markaz Ahmad Alfatih Al-Islamiya. Namun lebih popular disebut sebagai Masjid Agung Al-Fateh atau Masjid Al-Fateh saja. Kehadiran masjid ini menambah serangkaian bangunan bangunan megah dan mendunia di Bahrain. Selain dikenal dengan Masjid Agung Al-Fateh, Bahrain dikenal dunia internasional dengan Sirkuit Formula Satu dan Jalan tol empat lajur lintas laut “The King Fahd Causeway” yang menghubungkan pulau Bahrain dengan Saudi Arabia di daratan utama semenanjung Arab.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Al-Fateh

Masjid ini berada di sebelah jalan raya King Faisal di daerah Juffair dalam kota Manama


Mengenal Bahrain

Bahrain merupakan kerajaan Islam yang berada di tengah tengah teluk Arab sebelah timur pantai barat Saudi Arabia atau di lepas pantai barat teluk Persia. Kerajaan Bahrain terdiri dari 36 pulau dengan luas keseluruhannya hanya seluas 711.9 km2, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan luas propinsi DKI Jakarta (740,29 km2). Pulau terbesarnya adalah Pulau Bahrain (berukuran 18 km X 55 km), beberapa pulau pulau di Bahrain bahkan berukuran sangat kecil. Dengan luasnya itu Bahrain menjadi Negara dengan wilayah paling kecil di kawasan Arabia.
 
Bahrain Beribukota di Manama, Negara ini pada awal berdirinya berbentuk Ke-Emiran dan dipimpin oleh seorang Emir, namun sejak tahun 2002 memproklamirkan dirinya menjadi sebuah Kerajaan diperintah oleh keluarga kerajaan dari dinasti Al-Khalifa. Saat ini Bahrain dipimpin oleh King Hamad bin Issa Al-Khalifa.

Bahrain terhubung langsung ke Saudi Arabia di daratan utama semenanjung Arabia dengan jalan tol lintas laut bernama King Fahd Causeway diresmikan tahun 1986 dan merupakan causeway terpanjang di dunia. Tak sampai disitu, Bahrain juga berencana membangun causeway menghubungkan Negara itu dengan Qatar di selatan melalui jalur Causeway yang jauh lebih panjang.
 
Kata ‘Bahrain’ dalam bahasa Arab bermakna “dua laut” merujuk kepada sumber air panas tawar yang menyembur dari bawah permukaan laut yang asin, kawasan sekitar lokasi itu sangat popular bagi para penyelam mutiara dan menjadi salah satu tujuan wisata. Peradaban di Bahrain sudah dimulai sejak 5000 tahun lalu di zaman Sumeria Kuno, pendiri peradaban besar di kawasan Timur Tengah yang disebut sebagai Dilmun, Tanah Sakral bagi Kehidupan. Disebut sebut dalam legenda sebagai pulau surga, tak ada penyakit yang berjangkit dan penduduknya tak tersentuh kematian. Pada masa lalu letak dan berlimpahnya sumber air tawar menjadikan Bahrain sebagai pos perdagangan terpenting antara lembah Indus, Mesopotamia dan semenanjung Arabia.
 
Sama seperti Negara Negara tetangganya di Arabia, Bahrain saat ini menjelma menjadi sebuah negara super modern dengan gedung pencakar langit dan bangunan bangunan mengagumkan bertaburan di seantero negeri pulau itu. Termasuk bangunan bangunan masjid yang menawan dan mengundang decak kagum, salah satunya adalah masjid Agung Al-Fateh ini yang merupakan masjid Nasional Bahrain. Dalam dunia olahraga otomotif, Bahrain menjadi salah satu tuan rumah bagi penyelenggaraan seri Gran Prix Formula-1 di Bahrain Interational Circuit.

Sejarah Islam di Bahrain

Sheikh Isa bin Salman Al Khalifa
Bahrain merupakan kawasan pertama di luar semenanjung Arabia yang menerima Islam. Sebelum masuknya islam ke kepulauan ini, rakyat Bahrain merupakan para penyembah berhala. Nama Bahrain sendiri kala itu dikenal dengan nama Pulau Awal, nama yang diambil dari nama berhala suku Wael. Islam masuk ke Bahrain semasa hidup baginda Rosullullah S.A.W. Adalah  Al-Ala’a Al-Hadhrami yang membawa surat ajakan ber-Islam dari Rosulullah S.A.W tiba di Bahrain pada tahun ke delapan hijirah. Al-Hadhrami menyampaikan surat baginda Rosul kepada Raja Bahrain, Al-Mundhir ibnu Sawa. Setelah berkonsultasi dengan para kepala suku yang ada Raja memutuskan menerima ajakan Rosulullah untuk ber-Islam.
 
Seiring dengan wafatnya Rosulullah S.A.W, dan 30 tahun masa kekuasaan khulafaur Rasyidin (Khalifah Abu Bakar R.A., Khalifah Umar R.A. Khalifah Usman R.A.,.dan Khalifah Ali R.A. Bahrain menjadi bagian dari wilayah dinasti Umayah dan Abasiah. Dari abad ke 7 hingga abad ke 13 Bahrain menjadi perhentian utama rute perdagangan antara Iraq dan anak benua India. Sebagai penghasil mutiara, Bahrain terkenal hingga ke pelosok emperium Islam sebagai permatanya ekonomi.
 
Melewati perjalanan berabad abad Bahrain kemudian dikuasai oleh berbagai Dinasti Arabia dan Persia silih berganti. Bahkan Portugis juga pernah menguasai kepulauan Bahrain selama 80 tahun di abad ke lima belas. Para penakluk, pedagang, petualang, para budak, kelompok agama yang ekstrim hingga para tentara bayaran pernah menjelajah di negeri pulau ini dalam upaya menemukan harta karun Bahrain.

Panorama Masjid Agung Al-Fateh.

Kekuasaan Dinasti Al Khalifa

Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Khalifa yang biasa disebut sebagai Sheikh Ahmed Al-Fateh (Sang penakluk) dilahirkan di Kuwait pada sekitar paruh pertama abad ke 18 dan wafat pada sekitar tahun 1795. Kakeknya Khalifa adalah pendiri dari dinasti Khalifa yang memerintah di Bahrain. Sheikh Ahmed merupakan Penguasa Bahrain pertama dari dinasti Al-Khalifa dan merupakan moyang garis ke delapan dari King Hamad, Raja Bahrain saat ini.

Sheikh Ahmed mengikuti ayahandanya Muhammad ibnu Khalifa, dari Kuwait pindah ke Qatar dan mendirikan Zubara tahun 1762 CE yang kemudian menjadi perusahaan perdagangan serta pusat kebudayaan utama di kawasan Teluk Arabia. Manakala Muhammad ibn Khalifa wafat disekitar tahun 1775, kekuasaan beliau diteruskan oleh putranya yang lain, Sheikh khalifa, saudara dari Ahmed Al-Fateh. Kala itu Zubara benar benar telah berkembang pesat.

Masjid Agung Al-Fateh.

Dan ketika Sheikh Khalifa meninggalkan Zubara untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekah, Nasir Ibnu Madhkur, Gubernur Bahrain yang kala itu dibawah kekuasaan Kerajaan Persia (Parsi, Kini menjadi Republik Islam Iran) menyerbu Zubara tahun 1782. Serbuan tersebut gagal total berkat perlawanan dari rakyat Zubara dibawah pimpinan Ahmad Al-Fateh yang tak lain adalah adik dari Sheik Khalifa. Setahun kemudian (tahun 1783) Sheikh Khalida wafat di Mekah dan kekuasaannya diteruskan oleh Adiknya Ahmad Al-Fateh yang telah berhasil menyelamatkan Zubara dari serbuan pasukan Persia.

Berhasil mengusir pasukan Persia yang mengurung Zubara dari Bahrain, Sheikh Ahmad Al-Fateh balik menyerbu Bahrain ditahun 1783, tahun yang sama dengan tahun kematian saudaranya di tanah suci Mekah. Bahrain takluk dibawah kekuasaan Ahmad Al-Fateh, dan beliau menjadi penguasa pertama disana dari dinasti Khalifa, dan keturunan beliau yang meneruskan kekuasaannya atas Bahrain hingga hari ini.

Masjid Agung Al-Fateh, Manama, Bahrain.

Ketika Gaung Demokrasi Mengguncang Bahrain

Ketika demonstrasi besar besaran mengguncang Tunisia kemudian merembet ke Mesir dan Libya, rakyat Bahrain seperti tak mau kehilangan momen, turut mengelorakan perjuangan demokrasi di Negara tersebut. Demonstrasi panjang tersebut kemudian berujung kepada masuknya tentara Saudi Arabia ke Bahrain atas permintaan dari Raja Bahrain untuk memulihkan ketertiban dan keamanan di negeri pulau tersebut.
 
Sejarah Masjid Agung Al-Fateh
 
Masjid Agung Al-Fateh merupakan bagian dari Islamic Center Ahmad Al-Fateh. Pusat ke-Islaman ini termasuk di dalamnya adalah Masjid Agung Al-Fateh, pusat studi Al-Qur’an dan Perpustakaan Islam. Dibangun atas perintah dari Amir Bahrain, Sheikh Isa ibn Salman Al Khalifa. Proyek pembangunan kawasan ini dimulai dengan upacara peletakan batu pertama pada bulan Desember 1983. Proses pembangunannya dimulai tahun 1984 dan diresmikan langsung oleh beliau tahun 1988. Nama Al-Fateh yang melekat pada nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang Ahmed Al Fateh, sang penakluk Bahrain.

foto sejarah : Foto atas adalah upacara peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Al-Fateh pada bulan Desember 1983, foto bawah adalah Upacara Peresmian Masjid Agung Al-Fateh pada tahun 1988.

Masjid Agung Al-Fateh berukuran 6500 meter persegi mampu menampung 7000 jemaah sekaligus. Keseluruhan lantai masjid ditutup menggunakan batu pualam dari Italia termasuk beberapa bagian besar dindingnya, sedangkan lampu gantungnya dibuat khusus di Austria. Pintu pintu masjid ini dibuat dari bahan kayu teak wood dari India, kubah besar masjid dibuat dari bahan fiberglas, dan merupakan kubah fiberglass terbesar di dunia.

Masjid AGung Al-Fateh mengadopsi kebijakan memoderenisasi negaranya namun tetap memelihara dengan baik nilai nilai Islam dalam Karakter-nya sebagai Negara Arab. Islamic Center Ahmad Al-Fateh ini dibangun dengan misi merefleksikan dan mempromosikan kebijakan tersebut. Misi utama nya adalah memfasilitasi dan mempromosikan pemahaman yang benar dan akurat tentang Islam sambil berupaya menampilkan kerajaan Bahrain sebagai Negara Islam yang modern dan toleran dimana perbedaan dan komunitas yang multi budaya dapat hidup berdampingan dalam damai.

Bersambung ke Bagian II


Masjid Agung Al-Fateh, Manama, Bahrain (foto dari Panoramio)
Rembulan malam diatas Masjid Agung Al-Fateh.
Masjid Agung Al-Fateh.
Malam hari di Masjid Agung Al-Fateh 
Kembang kertas atau bougenvile, bunga tropis yang banyak tumbuh di Indonesia,  ikut narsis di latar depan Masjid Agung Al-Fateh.
Sapuan cahaya lampu memberikan keindahan tersendiri pada Masjid Agung Al-Fateh.


Jumat, 06 Juli 2012

Masjid Agung Sheikh Zayed, Uni Emirat Arab (Bagian II)

Begitu besar dan megahnya masjid ini, dengan letaknya yang berada di tengah gurun pasir, membuatnya seperti bangunan megah seakan muncul dari tandusnya gurun pasir

Fasilitas Masjid Agung Sheikh Zayed

Masjid Agung Sheikh Zayed dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan yang terletak di sisi utara menara masjid. Perpustakaan ini dilengkapi dengan buku buku klasik dan buku buku cetakan terkait dengan Islam termasuk tentang ilmu pengetahuan dalam Islam, peradaban, kaligrafi, seni budaya, koin koin Islam hingga buku buku kuno terbitan 200 tahun yang lalu. Sebagi perwujudan dari keanekaragaman Islam perpustakaan ini menyediakan buku buku dan bahan terbitan dari berbagai bahasa termask bahasa Arab, Inggris, Prancis, Italia, Jerman dan Korea.

Arsitektural Masjid Agung Sheikh Zayed

Masjid Sheikh Zayed di inspirasi oleh pengaruh arsitektural Mughal (India, Pakistan, Bangladesh) dan Mooris (Maroko). Dibangun dengan 82 kubah bergaya Maroko dan semuanya dihias dengan batu pualam putih. Lengkap dengan pelataran tengahnya sebagaimana di masjid Badshahi di kota Lahore Pakistan yang bergaya Mughal. Kubah utama masjid ini berdiameter 32.8 meter dan setinggi 55 meter dari dalam atau sekitar 85 meter dari luar. 

Merujuk kepada Turkey Research Centre for Islamic History and Culture kubah ini merupakan kubah terbesar yang pernah dibuat dalam jenis yang sama. Secara keseluruhan arsitektural masjid Agung Sheikh Zayed dapat disebut sebagai fusi dari arsitektural Mughal, Moorish dan Arab.

rangkaian kubah kubah super besar Masjid Agung Sheikh Zayed

Ukuran masjid seluas 22.412 meter persegi itu setara dengan lima lapangan sepakbola dan dapat menampung 40.960 jemaah sekaligus terdiri dari 7126 di ruang utama, 1960 di ruang sholat terbuka, 980 di ruang sholat wanita, 22.729 di area Sahan (Courtyard / pelataran tengah), 682 di selasar ruang utama dan 784 di selasar pintu masuk utama.

Masjid Agung Sheikh Zayed memiliki lebih dari 1000 pilar di area luar yang dilapis dengan lebih dari 20 ribu lembaran pualam dan batu alam polesan, termasuk lapis Lazuli, red agate, amethyst, abalone shell dan mother of pearl.  Di ruang utama terdapat 96 pilar bundar berukuran besar yang kesemuanya di lapisi dengan mother of pearl.  Serta fitur utama ekterior masjid ini selain 82 kubahnya adalah empat bangunan menara setinggi hamper 107 meter di empat penjuru masjid.

Disekililing masjid dibangun rangkaian kolam seluas 7.874 meter persegi yang dibangun menggunakan bahan keramik lantai warna gelap, kolam kolam ini memantulkan bentuk arkade masjid, memberikan pemandangan spektakuler dibawah siraman cahaya lampu lampu di malam hari. Tata cahaya yang unik ini dirancang oleh Arsitek tata cahaya, Jonathon Speirs dan Major untuk memantulkan fase fase bulan. Pemandangan awan abu abu kebiruan di proyeksikan ke pada dinding luar masjid dan menghasilkan pemandangan yang berebeda setiap hari.

Interior Masjid Agung Sheikh Zayed didominasi fitur utamanya yang masih memegang rekor dunia.  pertama adalah lampu gantungnya yang merupakan Lampu Gantung terbesar di dunia dan kedua hamparan karpet nya yang juga masih memegang rekor sebagai karpet terbesar di dunia.

Rancangan impresif menghias sisi dalam masjid dengan menggunakan material pualam Italia dipadu dengan rancangan ukiran floral di ruang sholat utama serta dinding sisi luar yang dihias dengan mozaik kaca emas, sebagaimana tampak pada dinding sebelah barat. Pintu utama masjid ini dibuat dengan bahan kaca setinggi 12.2 meter dan lebar 7 meter memiliki berat mencapai 2.2 ton.

Karpet dan Lampu gantung Terbesar di Dunia

Pemandangan ruang utama masjid ini di dominasi oleh lampu lampu gantung dengan ukuran terbesar di dunia di gantung di bawah kubah utama. Lampu gantung ini berdiameter 10 meter dan tinggi 15 meter dengan berat lebih dari 9 ton. Total keseluruhan ada 7 lampu gantung di dalam masjid ini kesemuanya dalam warna emas di buat di khusus di Jerman dengan hiasan Kristal Swarovski dari Austria dan hiasan kaca dari italia. Lampu gantung ini tercatat sebagai lampu gantung terbesar di dunia.

Ruang utama masjid ini mampu menampung 7126 jemaah sekaligus dan keseluruhan lantainya ditutup dengan karpet rajutan yang merupakan karpet rajutan dengan ukuran terbesar di dunia. Karpet ini dirancang oleh seniman Iran, Ali Khaliqi. Karpet ini terdiri dari 2.268.000 simpul rajutan, dibuat dengan tangan oleh sekitar 1300 pengrajin professional di sebuah desa kecil dekat Mashhadin di Iran, yang memang terkenal sebagai kawasan dengan para pengrajin karpet berpengalaman.

Sisi mihrab Masjid Agung Sheikh Zayed Abu Dhabi - Uni Emirat Arab. dirancang dalam warna yang tidak mencolok.

Sisi kiblat masjid ini selebar setinggi 23 meter dan lebar 50 meter di hias dengan hiasan yang tidak mencolok agar tidak mengganggu kekhusuan jemaah. Sedangkan mozaik kaca emas hanya digunakan pada bagian mihrab. Dinding kiblat dihias dengan ukiran kaligrafi 99 asma ul husna dalam sentuhan seni tradisional kufi dirancan oleh kaligrafer ternama Uni Emirat Arab, Mohammed Mandi. Sisi kiblat ini juga dihias dengan pencahayaan serat optic yang di integrasikan dengan rancangan organic. Secar keseluruhan ukiran kaligrafi di masjid ini dibuat oleh tiga kaligrafer sekaligus dalam tiga gaya kaligrafi yakni kaligrafi gaya Naskhi, Thuloth dan Kufi. Keiga kaligrafer tersebut adalah Mohammed Mandi (UAE), Farouk Haddad (Syria) dan Mohammed Allam (Jordan).

Selain itu masjid ini juga dihias dengan 80 panel Iznik. Panel atau lembaran keramik hias yang popular di abad ke 16 dan banyak digunakan dalam bangunan bangunan kesultanan dan tempat ibadah di Istambul – Turki. Ditambah lagi dengan kaligrafi yang dibuat secara tradisional dalam gaya kaligrafi ‘thuloth’ oleh Sheikh Hasan Celebi, seorang kaligrafier dari Turki.

Diperkirakan ada 30 lebih jenis batu pualam yang digunakan di seantero masjid Agung Sheikh Zayed ini termasuk di dalamnya SIVEC dari Yunani dan Makedonia, dogunakan sebagai penutup dinding luar seluas 115.119 meter persegi termasuk digunakan juga untuk melapisisi permukaan empat menara nya. Jenis keramik yang lain diantaranya adalah Lasa dari Italy, digunakan pada pembeda elevasi internal, Makrana dari India digunakan untuk ruang kantor garis pemisah, Aquabiana dan Biano dari Italia dan East White dan Ming Green dari China.

Iini dia Lampu gantung di Masjid Sheikh Zayed yang terkenal itu

Falsafah Pembangunan Masjid Agung Sheikh Zayed

Konsep pembangunan masjid Agung Sheikh Zayed ini di inspirasi oleh Al-Qur’an surah Al-Hujarat ayat 26 yang bahasa Indonesia-nya “Hai manusia, sesungguhnya kuciptakan kalian dari jenis laki laki dan perempuan, bersuku suku dan berbangsa bangsa, agar kalian saling mengenal satu dengan yang lainnya”

Terinspirasi oleh ayat tersebut masjid ini dibangun untuk mempromosikan konsep konsep toleransi, kasih saying dan saling pengertian antara budaya yang berbeda. Masjid Agung Sheikh Zayed berupaya menemukan interkasi positif dengan budaya budaya lain, memperkenalkan sebuah visi toleransi yang berakar dari tradisi era ke emasan Islam. Sebuah tradisi yang berlandaskan saling menghargai dan pertukaran ide guna memperkaya kehidupan dan sejarah manusia. Sebagai tambahan masjid ini juga berupaya memberikan landasan bagi penguatan budaya dan ilmu pengetahuan di Abu Dhabi dan sekitarnya melalui penyelenggaraan beragam aktivitas promosi budaya toleransi, kasih saying, rasionalitas dan dialog.

Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, The Founding Father

Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, adalah presiden Uni Emirat Arab pertama sekaligus sebagai penguasa Abu Dhabi. Lahir tahun 1918, beliau diberi nama sesuai dengan nama kakeknya Sheikh Zayed bin Khalifa Al Nahyan yang merupakan penguasa Abu Dhabi dari tahun 1855 hingga 1909. Di masa mudanya beliau tertarik pada sejarah semenanjung Arabia, Puisi Arabia. Semasa hidupnya beliau juga dikenal sebagai “Hakim Al Arab” aau “Sage of the Arabs.

Karirnya dimulai sebagai Gubernur di Alain tahun 1946, mendirikan Sekolah Al Nahyan tahun 1959.  Membangun pasar dan amsjid pertama di Al Ain. Juga membangun jaringan jalan dan sebuah keputusan sulit diambilnya ketika harus mengalihkan sebagian sumber air minum warga Alain untuk keperluan irigasi. Tanggal 6 Agustus 1966 Sheikh Zayed melanjutkan kekuasaan kakak laki lakinya Sheikh Shakhbut bin Sultan Al Nahyan, sebagai Penguasa Abu Dhabi dengan persetujuan dari seluruh anggota keluarga bangsawan Al-Nahyan.

Di tahun 1971 Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan bersama Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum menandatangani persetujuan untuk membentuk sebuah Feberasi antara Abu Dhabi dan Dubai. Segera setelah itu terbentuklah Uni Emirat Arab yang merupakan federasi dari tujuh wilayah ke-Emir-an, dan Sheikh Zayed Sebagai Presiden pertama-nya. Tak sampai disitu saja, bersama dengan Sheikh Jaber Al Ahmad Al Sabbah, Emir Kuwait, Sheikh Zayed meletakkan landasan bagi terbentuknya Dewan Kerjasama Negara Teluk (Gulf Countries Cooperation Council – GCC Council) pada tanggal 25 Mei 1981.

Sheikh Zayed wafat pada tanggal 2 November 2004 kekuasaannya diteruskan oleh putranya Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan baik sebagai Presiden UEA maupun sebagai Penguasa Abu Dhabi. Tanggal 3 November 2004 Jenazah Sheikh Zayed dimakamkan di pelataran tengah Masjid Agung Sheikh Zayed.*** :::Kembali ke Bagian I:::

Bangunan utama masjid Agung Sheikh Zayed di malam hari
exterior Masjid Agung Sheikh Zayed
Keindahan Interior Masjid Sheikh Zayed di ruang utama
Arcade Masjid Agung Sheikh Zayed dengan refleksi di permukaan kolam sekeliling masjid Agung Sheikh Zayed
Masjid Agung Sheikh Zayed Saat dalam proses penyelesaian ahir, tampak depan adalah proses  pengerjaan lanscaping di seputra masjid Agung Sheikh Zayed
butuh ketelitian dan ketekunan luar biasa untuk merangkai batu batu alam olahan aneka warna menjadi rangkaian motif floral dinding dalam masjid Agung Sheikh Zayed



Rabu, 04 Juli 2012

Masjid Agung Sheikh Zayed, Uni Emirat Arab (Bagian I)

masjid Agung Sheikh Zayed

Masjid Agung Sheikh Zayed berada di kota Abu Dhabi, ibukota Kerajaan Uni Emirat Arab. Masjid yang begitu luar biasa ini dinamai sesuai dengan tokoh besar dibalik ide pembangunannya, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, tokoh nasional Uni Emirat Arab sekaligus pendiri Negara di Timur Tengah Tersebut. Beliau yang mencetuskan gagasan untuk membangun masjid ini dan melaksanakan proses awal pembangunannya. namun beliau wafat sebelum masjid impiannya ini terwujud.

Sheikh Zayed wafat di tahun 2004 dan proses pembangunan masjid ini diteruskan oleh putranya. Ketika diresmikan, Masjid Agung Sheikh Zayed menggondol berderet rekor dunia tidak saja sebagai masjid tapi juga sebagai sebuah karya arsitektural modern yang keindahannya memang tak terbantahkan. Diantara rekor rekor tersebut adalah : memiliki lampu gantung (chandelier) terbesar di dunia dan memiliki lembaran karpet dengan bentangan terluas di dunia. Masjid megah dan mengagumkan ini tidak saja menjadi kebanggaan warga Abu Dhabi tapi juga telah menjadi bagian dari kekayaan arsitektural dunia Islam secara keseluruhan.

Lokasi Masjid Agung Sheikh Zayed

Shaikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan Mosque
Al Maqtaa - Abu Dhabi - Uni Emirat Arab

           
Sejarah Masjid Agung Sheikh Zayed

Pembangunan masjid Agung Sheikh Zayed merupakan gagasan dari pendiri Negara UEA, Sheikh Zayed Al Nahyan sebagai bagian dari mimpi beliau memimpin rakyat UEA dari sebuah Negara berkembang, tradisional menjadi sebuah Negara maju modern dan canggih.masjid ini berhasil menyatukan antara masa lalu dan  masa kini UEA tanpa mengabaikan warisan budaya serta melibatkan semua etnis, budaya dan kebangsaan dalam proses pembangunnnya.

Kemampuan Sheikh Zayed memoderenisasi UEA memang tak ada tandingannya, tercermin dari perkembangan luar biasa Negara teluk satu ini, sebuah negeri modern yang seakan mendadak muncul di padang pasir yang tandus. Dari perspektif ini Masjid Agung Sheikh Zayed menjadi sebuah ekspresi komprehensif sebuah visi dari pembangunnya, visi seorang pelopor dan pemimpin besar dengan sebuah pencapaian dari sesuatu yang nyaris tidak mungkin.

Setelah sheikh Zayed wafat di tahun 2004, proses pembangunan masjid dilanjutkan oleh putranya. Penyelesaian proyek pembangunan masjid ini dibawah perintah langsung dari Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, presiden Uni Emirat Arab, dibawah pengawasan saudaranya Jendral Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, yang merupakan putra mahkota Abu Dhabi sekaligus sebagai wakil Panglima Angkatan bersenjata UEA. Dan dibawah supervise dari Sheikh Mansoor bin Zayed Al Nahyan, Wakil perdana menteri dan menteri urusan kepresidenan.

Besar, indah dan mengagumkan, mungkin itu kata paling cocok untuk menggambarkan bangunan masjid Agung Sheikh Zayed ini.

Prinsip Pembangunan

Rancangan pembangunan masjid ini berlandaskan prinsip “unite the world” dengan mengundang para seniman dan menggunakan material dari berbagai Negara termasuk Italia, Jerman, Maroko, India, Turki, Iran, China, Inggris Raya, Selandia Baru, Yunani dan tentu saja dari Uni Emirat Arab sendiri. Lebih dari 3000 pekerja terlibat dalam proses pembangunannya, termasuk 38 perusahaan konstaktor. Material alami dipilih secara cermat karena memang material alami memiliki keunggulan kualitasnya yang tahan lama termasuk batu batu pualam, batu alam, emas, Kristal, keramik serta batu permata dari alam lainnya.

Pertimbangan untuk membangun masjid ini telah dimulai sejak tahun 1980-an, dengan penentuan lokasi masjid yang dipilih sendiri oleh Sheikh Zayed termasuk proses perancangannya hingga proses pembangunan dimulai pada tanggal 5 November 1996. Kapasitas daya tampung masjid sheikh Zayed mencapai 41.000 jemaah dengan luas keseluruhan bangunannya mencapai 22.412 meter persegi. Meskipun proses pengerjaan masjid masih belangsung namun ruang sholat di dalamnya sudah mulai difungsikan dengan ditandai pelaksanaan sholat Idul Adha tahun 2007.

Sebagi salah satu bangunan yang paling banyak menyedot pengunjung di UEA, maka dibentuklah Sheikh Zayed Grand Mosque Center pada tahun 2008 untuk menangani segala keperluan masjid ini, tidak saja sebagai tempat ibadah namun juga sebagai tempat pembelajaran melalui program program kunjungan ke masjid ini.

Tamu Tamu Negara di Masjid Agung Sheikh Zayed

Tamu Negara Masjid Agung Sheikh Zayed :  (1) Ratu Elizabeth II dari Inggris. (2) Ratu Beatrix dari Belanda. (3) Duta Besar Amerika Serikat Untuk Uni Emirat Arab, Michael H. Corbin. (4). Presiden Turki, Abdullah Gull dan (5). Dewan Agung Malangkara Gereja Ortodox India.

Keindahan Masjid Agung Sheikh Zayed memiliki magnet tersendiri bagi para tokoh tokoh dunia dari berbagai Negara diantara tamu tamu kehormatan yang pernah berkunjung ke masjid ini diantaranya adalah, Ratu Elizabeth II dari Inggris bersama suaminya Pangeran Philip berkunjung ke masjid ini tanggal 24 November 2010. 

Kedatangannya ditemani oleh putra mahkota Abu Dhabi Pangeran Sheikh Mohammed bin Zayed, Ratu Beatrix dari Belanda bersama suaminya, Pangeran Willem Alexander dan Putri Maxima mengunjungi Masjid Agung Sheikh Zayed pada tanggal 8 Januari 2011 lalu. Kunjungan beliau ke masjid ini mengundang kontroversi di Belanda terkait dengan penggunaan kerudung oleh Ratu Beatrix selama dalam kunjungan ke masjid tersebut.

Masjid Agung Sheikh Zayed dari arah pelataran tengah (inner courtyard) siang, sore dan malam hari dibawah siraman tata cahaya yang mengagumkan

Duta besar Amerika Serikat untuk Uni Emirat Arab, Michael H. Corbin, berkunjung ke masjid ini di malam Romadhan tanggal 30 Juli 2011 lalu ditemani oleh Talal Al-Mazrouei selaku direktur Even dan Aktivitas Masjid Agung Sheikh Zayed. Tak hanya para petinggi Negara dan tokoh tokoh penting tapi anak anak sekolah pun turut mengunjungi masjid ini salah satunya adalah murid murid sekolah The Anglo-Chinese School in Singapore yang berkunjung ke masjid ini pada 20 Nov 2011 lalu. 

Presiden Turki, Abdullah Gul bersama istri, berkunjung ke Masjid Sheikh Zayed pada tanggal 30 Januari 2012 yang lalu ditemani oleh Menlu Turki Ahmet DavutoÄŸlu, Menkeu Turki Mehmet ÅžimÅŸek dan istri menkeu Esra ÅžimÅŸek serta menkeu UEA Sultan bin Saeed Mansouri. St. Moran Mar Baselios Marthoma, Ketua Dewan Agung Malankara Gereja Ortodox India berkunjung ke Masjid Agung Sheikh Zayed pada tanggal 26 April 2012 lalu ditemani oleh Yusuf Al Obaidli, Direktur Masjid Sheikh Zayed. Kunjungan tersebut dalam upaya lebih mengenal keindahan masjid Agung Sheikh Zayed yang sudah menjadi salah satu bangunan terindah di kawasan tersebut. 

:::Bersambung ke bagian 2:::

002 Masjid Agung Sheikh Zayed ketika dalam proses penyelesaian
Salah satu scene tata lampu Masjid Agung Sheikh Zayed
Sulit mencari tandingan keindahan pelatarang tengah masjid Sheikh Zayed ini yang dirancang sedemikian rupa menghasilkan lukisan flora yang begitu indah layaknya lembaran karpet.
Lagi, refleksi yang indah di fasad masjid Agung Sheikh Zayed dipandang dari pelatarang tengah pada malam hari.
Rangkaian pilar masjid Agung Sheikh Zayed