Senin, 08 Oktober 2012

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 2)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam

Dalam catatan sejarah Brunei, bangunan masjid memang sudah sejak lama menjadi pemandangan utama di negeri itu. berdasarkan catatan seorang pengelana Spayol bernama Alonso Beltran menyebutkan bahwa, di tahun 1578 ketika dia singgah ke Brunei semasa kekuasaan Sultan Syaiful Rizal dia melihat sebuah bangunan masjid utama yang disebutnya bersusun lima. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan merupakan masjid modern pertama yang dibangun Brunei.  

Di Abad ke 13 Brunei sempat memiliki wilayah yang membentang diseluruh pulau Kalimantan, saampai ke jajaran kepulauan Sulu dan pulau pulau lainnya di Filippina Selatan. Negara ini sempat mengalami beberapa kali kejatuhan termasuk menjadi wilayah seberang lautan Majapahit di abad ke 14 dan harus menyerahkan upeti tahunan berupa 40 kati kapur barus ke Majapahit. Catatan terahir pengelana China tahun 1371 menyebutkan bahwa Brunei seluruhnya menjadi wilayah Majapahit.

wilayah Brunei saat ini.
Islam mengakar di Brunei di abad ke 16. Dan untuk kedua kalinya Brunei menguasai kembali wilayahnya di seluruh pulau Kalimantan hingga ke Filippina selatan. Namun lagi lagi intervensi asing termasuk serbuan Spanyol dan Inggris ahirnya menciutkan wilayah Brunei hingga tersisa dia wilayah Brunei saat ini yang terpisah oleh daratan Sarawak (Malaysia).

Merunut Masjid Pertama di Brunei Darussalam

Masuknya kekuatan spanyol ke Brunei  tak lepas dari pertikaian internal di kalangan Istana. Perebutan tahta kesultanan membuat salah satu anggota kerajaan mengungang Spanyol menyerbu ke negara itu. Spanyol berhasil menaklukkan sultan Syaiful Rijal atas permintaan saudaranya sendiri Pengiran Seri Lela dan Pengiran Seri Ratna. Dalam masa itulah pengelana Spanyol, Alonso Beltran, di tahun 1578 mendiskripsikan bahwa dia melihat masjid besar bersusun lima di pusat kota Brunei. Spanyol Ahirnya terusir dari Brunei namun meninggalkan kerusakan parah bagi negeri itu, masjid besar milik kesultanan habis dibakar oleh pasukan Spanyol.

Masjid Marbut Pak Tunggal atau Masjid Pekan Brunei, merupakan masjid utama yang berdiri di pusat Pekan Brunei (nama lama kota Bandar Seri Begawan). Masjid ini hancur semasa perang dunia kedua.

Sebelum pecahnya perang dunia kedua, sudah dibangun beberapa masjid di daerah daerah pedalam Brunei, dan hanya ada satu masjid yang berdiri di ibukota (kala itu masih disebut sebagai Pekan Brunei – Kini Bandar Seri Begawan). Masjid tersebut bernama Masjid Marbut Pak Tunggal (juga dikenal sebagai Masjid Pekan Brunei) yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Mohammad Jamalul Alam II, Sultan Brunei ke 26.

Lokasi Masjid Marbut Pak Tunggal berdiri memang di sisi sungai Brunei, kira kira berada di lokasi masjid Sultan Omar Ali Saifuddin saat ini. kala itu masjid tersebut dibuat dari bahan kayu dengan atap asbes dilengkapi dengan menara kecil di atapnya. Bangunan utamanya dibangun dalam bentuk rumah panggung beberapa senti lebih tinggi dari permukaan tanah menggunakan tiang beton.

Foto udara sekitar areal masjid Marbut Pak Tunggal (dalam lingkaran kuning) diabadikan oleh tentara pendudukan Dai Nipon (Jepang) di Brunei semasa perang dunia kedua. selama pendudukan Jepang di Brunei Masjid ini hancur tak bersisa.

Keberadaan Masjid Marbut Pak Tunggal itu tidak saja didasarkan dari kisah tutur dari para tetua tapi memang sempat terekam dalam foto udara di kawasan tersebut yang diambil semasa perang dunia kedua. Sayangnya bangunan masjid kayu tersebut hancur tak bersisa semasa pendudukan tentara Jepang di Brunei.

Segera setelah berahirnya perang dunia ke dua, sebuah masjid sementara, dibangun dengan kapasitas sekitar 500 jemaah di lokasi sekitar tempat berdirinya TAIB Building dimasa kini. Bangunanya sama sekali tak berbentuk masjid, baik masjid universal dengan kubah dan menara dan juga tak berbentuk masjid Nusantara (Masjid Tradisonal Jawa) dengan atap limas bersusun seperti masjid yang dilihat oleh Alonso Beltran di tahun 1578.

Masjid Kajang di Pekan Brunei ::: Masjid Kajang, berupa bangunan sederhana beratap dan berdinding anyaman daun nipah atau daun kajang.  Dibangun sebagai masjid darurat segera setelah berahirnya perang dunia kedua. disebut masjid Kajang merujuk pada atap daun kajang yang dipakai untuk menutup atap masjid ini.

Tapi hanya sekedar bangunan sementara dengan ruangan luas untuk tempat sholat berjamaah. Dindingnya menggunakan papan sebagian lagi menggunakan anyaman bamboo dan daun nipah, atapnya juga menggunakan daun nipah atau daun Kajang. Mungkin lebih tepat bila disebut sebagai gubuk berukuran besar. Sejak dibangun masjid darurat itu tak pernah diberi nama, hanya karena atapnya yang menggunakan daun kajang / Nipah maka dikenal masyarakat dengan sebutan sebagai Masjid Kajang,

Ukuran masjid Kajang memang terlalu kecil bagi jemaah muslim Pekan Brunei, pada pelaksanaan sholat sebagian besar jemaah mengambil tempat di “padang” atau area terbuka luar bangunan, termasuk baginda Sultan Haji Omar Ali Saifuddien bersama para petinggi kerajaan Brunei. Padang di sekitar masjid Kajang tersebut kini menjadi Taman Haji Omar Haji Omar Ali Saifuddien di komplek Masjid Sultan Omar Haji Omar Ali Saifuddien.

Sultan Omar Ali Saifuddin bersama para petinggi kesultanan juga melaksanakan sholat di 'padang' lapangan di sekitar Masjid Kajang.  Beliau lah yang kemudian membangun masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan sebagai Masjid Nasional bagi Negara Brunei Darussalam.
Masjid Nasional Brunei Darussalam ::: memang tak setara dan tak sebanding untuk membandingkan masjid nasional Brunei yang kini berdiri megah di pusat kota Bandar Seri Begawan dengan dua masjid sebelumnya yang menjadi cikal bakal masjid nasional Brunei, masing masing adalah : masjid Marbut Pak Tunggal (foto paling kiri) dan Masjid Kajang (foto tengah).
Kehidupan beragama di Brunei memang begitu kental. seperti dalam rekaman foto lama ini ketika Masjid Kajang menjadi satu satunya masjid yang berdiri di Pekan Brunei (nama lama kota Bandar Seri Begawan), masyarakat bersama Sultan rela Sholat di lapangan terbuka. sedangkan foto kiri adalah suasana pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur'an tingkat Nasional yangjuga diselenggarakan di dalam masjid Kajang.

Bersambung ke Bagian 3

Minggu, 07 Oktober 2012

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien – Brunei Darussalam (Bagian 1)

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien di Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. dibangun tahun 1958 dan menjadi masjid Nasional Bagi Negara Brunei Darussalam.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien adalah masjid Nasional bagi Kesultanan Brunei Darussalam di kota Bandar Seri Begawan, Ibukota negara Brunei Darussalam. Masjid mewah dengan kubah berlapis emas murni ini dibangun sebagai simbol bahwa Islam adalah agama negara dan menjadi pegangan hidup rakyat Brunei Darussalam. Sejak dibangun hingga hari ini, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien menjadi salah satu masjid yang paling terkenal di dunia karena keindahan dan kemegahannya.
 
Sebagai masjid kerajaan masjid Sultan Omar Ali Saifuddien memang dibangun di Ibukota Negara Brunei Darussalam. Tepatnya di Kampong Ayer (Kampung Air) bersebelahan dengan komplek Yayasan Sultan Haji Hassanal Bolkiah di Bandar Seri Begawan. Sekali dalam setahun, bangunan replika Bahtera (kapal) Sultan Bolkiah yang berdiri di tengah laguna di depan masjid ini dijadikan mimbar Tilawah dalam Lomba Seni Baca Al-Qur’an / Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Nasional Brunei Darussalam.

Lokasi dan Alamat Masjid Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien
Kg. Ayer (Water Village), Brunei town centre.,
Bandar Seri Begawan, KA1321, BRUNEI DARUSSALAM


Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien dinamai sesuai dengan nama Sultan Brunei Darussalam ke 28, Omar Ali Saifuddien III. Sebuah bangunan masjid yang dibangun sebagai symbol bahwa Islam adalah agama resmi dan menjadi nafas kehidupan negara tersebut. Kemegahan masjid yang mendominasi pemandangan kota Bandar Seri Begawan ini selesai dibangun tahun 1958.
 
Arsitektural Masjid Omar Saifuddien
 
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien merupakan salah satu contoh impresif dari arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Islam dari era kejayaan dinasti Mughal (kini Pakistan, India, Bangladesh, Afganistan & Iran) dan gaya arsitektural Italia. Proses perencanaannya dilaksanakan oleh firma arsitek Booty and Edwards Chartered Architects merujuk kepada hasil rancangan arsitek Italia Cavaliere Rudolfo Nolli, seorang arsitek yang cukup berpengalaman selama beberapa dekade di kawasan negara negara Teluk Siam.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien di malam Indah, tampak begitu menawan dengan refleksi bangunannya di permukaan laguna.

Masjid Omar Ali Saifuddien dibangun di atas sebuah laguna buatan di tepian Sungai Brunei di tengah Kampong Ayer (Kampung Air), kota Bandar Seri Begawan. Sengaja dibangun diatas laguna, karena pembangunan masjid nya sendiri dibarengi dengan pembangunan sebuah bangunan kapal yang merupakan replika dari Bahtera Sultan Bolkiah dari abad ke 16. Lokasi replika bahtera ini tepat di tengah laguna di depan masjid dan dihubungkan dengan jembatan dari batu pualam. 

Replika Bahtera Sultan Bolkiah tersebut dibangun dalam rangka memperingati 1400 tahun (14 Abad) Nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali), keseluruhan pembangunannya selesai dilaksanakan tahun 1967 dan digunakan sebagai mimbar tilawah (mimbar atau podium yang digunakan oleh Qori & Qori’ah) pada perhelatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat nasional di Brunei Darussalam.

Selain dibangun di atas sebuah laguna buatan, Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien ini juga dilengkapi dengan taman yang indah, sebuah taman luas di atas bekas 'padang' yang tadinya merupakan tanah lapang di sekitar "Masjid Kajang" masjid darurat di Pekan Brunei paska perang dunia ke dua. 

Komplek masjid ini juga dilengkapi dengan menara pualam serta kubah besar berlapis emas murni di atap masjid. Kawasan ini juga dilengkapi dengan taman yang ditata begitu apik. Ada dua jembatan pualam penghubung ke masjid ini melintasi laguna, satu jembatan ke Kampong ayer dan satu lagi jembatan menuju ke Mahligai Bahtera di tengah laguna.

Dari kejauhan pun masjid ini sudah dapat dikenali dengan jelas dari kubah nya yang berlapir emas murni dan menara tingginya itu. bila dipandang dari arah kampung Ayer terlihat sangat kontras antara kemewahan bangunan masjidnya dengan rumah rumah kayu diatas air warga kampung Ayer.

dan ini adalah pemandangan menarik masjid Sultan Omar Ali Saifuddien dengan latar depan rumah rumah penduduk di sepanjang sungai Brunei.

Namun begitu, penduduk Brunei termasuk di kampung ayer ini memang jauh di atas garis kemiskinan mengingat bahwa Brunei sendiri merupakan salah satu negeri islam yang makmur dan kaya raya. Dan penduduk negerinya tidak hanya jadi penonton dari kekayaan negaranya tapi juga menjadi penikmat dari semua itu dengan cukup  berkeadilan. Bangunan masjid ini memang begitu menyolok dengan ketinggian 52 meter, dapat dipandang dari sisi manapun di kota Bandar Seri Begawan. Menara tunggal masjid ini dilengkapi dengan elevator sehingga pengunjung dapat naik ke puncak menara untuk memandang keindahan kota dari ketinggian.
 
Ruang dalam masjid ini hanya difungsikan untuk ruang sholat. Jendela jendela masjid ini dibuat dari stained glass atau kaca patri warna warni, lengkungan dan semi kubah serta pilar pilar dari batu pualam. Sebagian besar bahan bangunan yang digunakan di datangkan dari luar Brunei Darussalam, batu pualam didatangkan dari Italia, Batu granit di import dari Shanghai (China), lampu gantung nya di beli dari Inggris sedangkan karpetnya di datangkan dari Belgia dan Saudi Arabia.

Bersambung ke Bagian 2 dan Bagian 3

ada tiga akses menuju masjid ini dua diantaranya melalui jembatan. satu jembatan menuju kampung Ayer dan satu jembatan lainnya menuju ke Bangunan Mahligai Bahtera Sultan Bolkiah.
Foto kenangan ::: Dua helikopter milik Angkatan Bersenjata Inggris sedang terbang melintas di atas komplek Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. semasa Inggris masih berkuasa di Brunei Darussalam.
Taman Sultan Omar Ali Saifuddien ::: di sebelah daratan masjid Sultan Omar ini dibangun taman dengan nama yang sama. areal taman ini tadinya adalah 'padang' atau lapangan disekitar masjid kajang, cikal bakal Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien.
Satu lagi foto lama Masjid Sultan Omar dalam selembar kartu pos.


Sabtu, 06 Oktober 2012

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN (bagian 2)

Lima Masjid Negara Asean ::: (6). Myanmar : Masjid Sunni Bengali, Yangon. (7). Philippines : Masjid Al-Dahab, Manila. (8). Singapore : Masjid Sultan Singapura. (9). Thailand : Islamic Center of Thailand. (10). Viet Nam : Masjid Al-Noor, Hanoi – Vietnam .

Islam kini sedang menjadi issue hangat di kawasan negara negara anggota The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) atau Persatuan Negara Negara Asia Tenggara, setidaknya di tiga Negara anggotanya masing masing issue pembantaian muslim Rohingya di Myanmar, Muslim Patani di Thailand selatan dan pertikaian pemerintah Manila dengan Muslim di Filipina selatan. Sebuah issue panas yang panas yang tak kunjung usai.

Namun demikian peradaban Islam terus berkembang, di Filipina selatan sendiri tepatnya di Cotabato baru selesai dibangun sebuah masjid mewah dan menjadi masjid terbesar di Filipina, Masjid Agung Cotabato atau lebih dikenal sebagai Masjid Sultan Hasanal Bolkiah karena memang dibangun oleh Raja Brunai tersebut sebagai hadiah bagi muslim Filipina. Di Thailand selatan sejak tahun 1963 lalu sudah memiliki Pattani Central Mosque di Pattani, masjid megah dan terbesar di Thailand. Namun di posting kali ini kita tidak akan membahas masjid masjid tersebut tapi masjid masjid di ibukota negara Asean, lima masjid di lima ibukota negara sudah kita ulas di posting sebelumnya dan berikut adalah lima masjid di ibukota negara Asean berikutnya.

Myanmar ::: Masjid Sunni Bengali, Yangon :::

(6). Myanmar : Masjid Sunni Bengali, Yangon. 

Myanmar atau Burma, Negara anggota Asean yang selalu saja mengundang kecaman Internasional karena masalah pelanggaran HAM dan demokrasi. Isu pembantaian Muslim Rohingya oleh militer Myanmar telah ditampik dengan keras oleh presiden Myanmar dalam dialognya dengan Jusuf Kalla beberapa waktu lalu. Meski fakta di lapangan sama sekali tak bisa dipungkiri. Muslim pertama kali tiba di Myanmar  di daerah Arakan semasa berdirinya emperium Burma pertama (the first Burmese empire)  disekitar tahun 1055 AD saat raja Anawrahta berkuasa. Sedangkan masjid pertama di Negara ini berdiri tahun 1826 dipenghujung era peperangan Anglo-Burmese pertama. Namun masjid tersebut hancur dalam serbuan pasukan Inggris ke Myanmar tahun 1852.

Meski minoritas, namun cukup banyak masjid di kota Yangon (Ibukota Myanmar hingga 7 November 2005 sebelum dipindah ke Naypyidaw atau Pyinama). Walaupun memang tak ada masjid Nasional atau masjid Negara di Yangon. Diantara masjid masjid tersebut yang paling terkenal adalah Masjid Sunni Bengali. Masjid ini menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan yang berkunjung ke Yangon karena letaknya yang berada di pusat keramaian kota. Berada di jalan Sule Pagoda Road dan berseberangan dengan pagoda tersebut. Letaknya hanya 5 menit berjalan kaki dari kawasan perhotelan atau sekitar 10-15 menit dari Pasar Bogyoke Market (Scott Market). Utusan PBB, Ibrahim Gambari pernah sholat di masjid ini di tahun 2008 saat beliau ditugaskan untuk merundingkan pembebasan Daw Aung San Su Kyi dengan pemerintahan militer Myanmar.

Philippines ::: Masjid Al-Dahab, Manila :::

Philippines : Masjid Al-Dahab, Manila

Masjid Al-Dahab atau lebih dikenal dengan nama The Golden Mosque atau oleh orang melayu disebut Masjid Emas atau dalam bahasa Spanyol disebut Mezquita del Globo de Oro dan dalam bahasa Tagalog Filipina disebut Moskeng Ginto, merupakan masjid terbesar di Manila, Ibukota Negara Philippina. Disebut dengan golden mosque atau masjid emas karena kubahnya yang memang di cat dengan cat warna ke emasan yang berkilauan. Al-Dahab sendiri bila di Indonesiakan juga bermakna “Emas”. sedangkan nama resmi yang terpampang di atas gerbang masjid adalah "Manila Golden Mosque and Cultural Center".

Masjid besar ini dibangun demi menghormati Muammar Khaddafi yang ketika itu berencana akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Philippina untuk menjadi mediator antara pemerintah Philippina dengan Para Pejuang dari Front Pembebesan Moro (MLF) yang bertikai di Philipina Selatan, tahun 1978. Masjid telah selesai dibangun tapi khaddafi batal datang ke Philippina, namun muslim Manila menangguk berkah dari Kharisma Khadaffi yang luar biasa itu hingga kini.

Singapore ::: Masjid Sultan Singapura :::

Singapore : Masjid Sultan Singapura

Masjid Sultan di Kampung GlamSingapura merupakan masjid kedua yang dibangun di Republik Singapura. Dibangun 4 tahun setelah berdirinya masjid Omar di kampung Malaka. Hingga kini, masjid bersejarah itu masih menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan asing yang datang ke Singapura. Sejarah masjid ini memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Indonesia. Pertama kali berdiri masjid Sultan Singapura ber-arsitektur Indonesia dengan atap limas bersusun dua. Karena memang dibangun oleh masyarakat muslim Jawa.

Tahun 1920-an masjid berarsitektur Indonesia itu kemudian dibongkar dan dibangun kembali menjadi seperti sekarang. Setelah direnovasi dan ditetapkan sebagai objek pariwisata Singapura. Nama asli jalan-jalan berdekatan masjid seperti Kandahar street, Baghdad street, Arab street dan Bussorah Street masih diabadikan sebagai bagian sejaran Singapura.

Thailand ::: Islamic Center of Thailand :::

Thailand ::: Islamic Center of Thailand

Meskipun Thailand merupakan negeri Budha, namun kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya. Tanggungjawab urusan mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree). Mufti ini berada di bawah kementerian dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja. Mufti berkantor di Islamic Center Thailand yang juga menjadi pusat ke-Islaman di negeri gajah putih tersebut.

Islamic Center Thailand yang terletak di daerah Ramkhamhaeng ini sekaligus merupakan masjid terbesar di Bangkok. Sebagai kantor Mufti Thailand, masjid ini membawahi dewan propinsi yang beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar 3494 masjid yang ada di Thailand. Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club. Dan biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan untuk melaksanakan shalat.

Viet Nam ::: Masjid Al-Noor, Hanoi – Vietnam :::

Viet Nam : Masjid Al-Noor, Hanoi 

Di kota Hanoi, Ibukota Vietnam bersatu paska perang antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan di era 1970-an, berdiri kokoh sebuah bangunan masjid tua bernama Masjid Al-Noor atau lebih dikenal dengan nama Masjid Hanoi (Hanoi Masjid atau Hanoi Mosque), beralamat di 12 Hang Luoc Street, Hoan Kiem, Hanoi, Hanoi , VIET NAM.  Masjid yang berdiri di kawasan old French Quarter of Hanoi city, tak jauh dari Galaxy Hotel dan Dong Xuan market ini bila merujuk kepada Islamicfinder merupakan satu satunya masjid di kota Hanoi.  Sebagai masjid satu satunya, masjid Al-Noor menjadi sentral syiar Islam di kota Hanoi. Jemaah masjid ini campur baur dari berbagai kalangan termasuk muslim expatriates, pegawai kantor kedutaan dan perwakilan Negara sahabat.  

Masjid Al-Noor Hanoi di bangun oleh para pedagang dari anak benua India yang berasal dari Bombai, Karachi (Pakistan), dan Kalkuta di sekitar abad ke 19. Mereka tinggal di Vietnam Utara dan Vietnam selatan.  Disekitar tahun 1930-an jumlah mereka sudah mencapai ribuan di kawasan Indochina termasuk Vietnam. Mereka merupakan para pedagang kain dan jasa penukaran uang. Kelompok pedagang ini yang kemudian membangun pasar dan melakukan bisnis di kota Hanoi. Komunitas mereka sudah cukup besar dan berkecukupan untuk membangun masjid di sekitar tahun 1900-an. Kini masjid tua ini tetap ramai jemaah terutama jemaah dari kantor kantor kedutaan Malaysia, Libya, Egypt, Lebanon, Indonesia India, Algeria, Yemen, Iraq, Vietnam, Pakistan, Afghanistan and Bangladesh yang mencapai sekitar 200 jemaah berbaur dengan 60-an muslim asli setempat. 

:::: Kembali ke Bagian 1:::

Mengenal Masjid Nasional Negara Anggota ASEAN

Lima Masjid Negara Asean (1). Brunei Darussalam :  Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin.  (2). Cambodia : Masjid Internasional Nur Ihsan Phnom Penh. (3). Indonesia : Masjid Istiqlal, Jakarta. (4). Laos : Masjid Al-Azhar Vientiane.  (5). Malaysia : Masjid Negara di Kuala Lumpur. 

The Association of Southeast Asian Nations, or ASEAN atau Persatuan Negara Negara Asia Tenggara didirikan di Bangkok (Thailand) pada tanggal 8 Agustus 1967 dengan ditandatanganinya Asean Declaration atau Bangkok Declaration oleh pendiri Negara Asean terdiri dari Indonesia, Malaysia, Philippina, Singapura dan tentu saja Thailand. Menyusul kemudian bergabung Brunei Darussalam pada 7 January 1984, Viet Nam di 28 July 1995, Lao PDR dan Myanmar pada 23 July 1997, serta Cambodia pada 30 April 1999, menjadikan keseluruhan anggota ASEAN menjadi 10 negara seperti saat ini.

ASEAN berkantor pusat di Indonesia, tepatnya di di Jalan Sisingamangaraja No.70A, Jakarta Selatan, Indonesia. Sedangkan ketuanya dipilih secara bergilir dari masing masing anggota. Tidak semua Negara Asean ini berpenduduk mayoritas muslim, bahkan muslim Filipina Selatan dan Thailand selatan masih bergolak melawan pemerintah, sedangkan muslim di Myanmar mengalami penindasan dari Penguasa Negara tersebut. Namun demikian bangunan masjid dapat ditemuai di semua Negara Asean. Berikut saya rangkum masjid masjid nasional ataupun masjid terbesar di Negara Negara anggota Asean. Berikut masjid masjid Asean tersebut di-urutkan berdasarkan abjad.

Brunei Darussalam ::: Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin :::

(1). Brunei Darussalam :  Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin berdiri megah di kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam masjid dengan gaya arsitektur Mughal dan Italia ini dinamai sesuai dengan nama Sultan Omar Ali Saifuddin III, Sultan Brunei ke-28. Masjid yang mendominasi pemandangan kota Bandar Seri Begawan ini melambangkan kemegahan dan kejayaan Islam yang menjadi agama mayoritas dan agama resmi di Brunei Darussalam. Selesai dibangun pada tahun 1958 menjadi contoh Arsitektur Islam modern. Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin disebut sebut sebagai salah satu masjid paling mengagumkan di Asia Pasifik.

Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin dengan perahu mahligai kencana kerajaan di sebelah kiri. Menghadap ke laguna buatan ditepian sungai Brunai di Kampung Ayer. Bangunan perahu tersebut merupakan replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini dibangun untuk memperingati 1.400 tahun Nuzul Al-Quran, diselesaikan pada tahun 1967 dan digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran di Brunei. Daya tarik utama dari masjid ini adalah kubahnya yang dilapisi dengan emas murni.

Cambodia ::: Masjid Internasional Nur Ihsan Phnom Penh :::

(2). Cambodia : Masjid Internasional Nur Ihsan Phnom Penh.

Islam merupakan agama minoritas di Cambodia atau orang Indonesia terbiasa menyebutnya sebagai Kamboja, meski menurut sejarah, Islam masuk ke Indochina dapat dirunut silsilahnya hingga ke ayah mertua dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Jahsy bin Ri’ab, ayah dari Zainab binti Jahsy R.A. beliau datang ke negeri Champa. Tak mengherankan bila kini muslim di Cambodia kebanyakan dari etnis Champ. Di Camboia terdapat beberapa tempat yang populasi Muslimnya relatif banyak seperti Kompong Cham, juga di sekitar 7 – 9 km dari kota Phnom Penh, dan di sebagian kecil daerah Battambang dan Kampot.

Masjid Nur Ihsan atau sering disebut sebagai masjid Internasional merupakan masjid terbesar di Phnom Penh. Selain masjid ini masih ada masjid Masjid Al Azhar yang ukurannya lebih kecil. Masjid Nur Ihsan, atau sering disebut dengan Masjid Internasional, atau International Dubai Phnom Penh Mosque, berlokasi di pinggir danau Boeng Kak, Phnom Penh. Sayangnya keberadaan masjid ini jauh dari perhatian pemerintah, kondisinya kurang mendapatkan perawatan yang semestinya, cat dinding tampak kusam dan terkelupas di sana sini, maklum karena memang statusnya yang bukan sebagai Masjid Negara, mengingat muslim di Cambodia merupakan pemeluk agama Minoritas.

Indonesia ::: Masjid Istiqlal, Jakarta :::

(3). Indonesia : Masjid Istiqlal, Jakarta.

Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Menjadi salah satu Negara terluas di bumi dan Negara terluas di ASEAN, maka wajar bila Masjid Istiqlal yang berdiri di jantung kota Jakarta juga merupakan masjid terbesar di kawasan Asia Tenggara dan menjadi salah satu masjid terbesar di dunia. Pemancangan batu pertama pembangunannya dilakukan oleh Presiden RI Pertama, Ir. Soekarno, pada tanggal 24 Agustus 1951. Dan diresmikan oleh Presiden RI kedua, Soeharto, pada tanggal 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam.

Istiqlal diambil dari bahasa arab yang berarti “Merdeka” sebagai pertandan bahwa pembangunan masjid Negara Republik Indonesia sebagai ungkapan rasa syukur bangsa dan rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, atas berkat dan rahmat Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat kemerdekaan dari cengkraman penjajah selama kurang lebih 350 tahun. Biaya pembangunan diperoleh terutama dari APBN sebesar Rp. 7.000.000.000,- (Tujuh Milyar Rupiah) dan US$. 12.000.000 (dua juta Dollar AS).

Laos ::: Masjid Al-Azhar Vientiane :::

(4). Laos : Masjid Al-Azhar Vientiane.

Lao People Democratic Republik (Lao PDR) atau orang Indonesia bisa menyebutnya dengan nama Laos merupakan negara anggota Asean dengan penduduk muslim paling sedikit. Laos juga merupakan satu satunya Negara Asean yang beraliran komunis, maka harap maklum bila kemudian agama tidaklah menjadi hal penting bagi Negara. Namun demikian Islam diterima dengan baik di negara ini. Meski tak ada Masjid Negara di kota Vientiane, ibukota Negara Laos, namun ada dua masjid di kota ini, yakni Masjid Al-Azhar yang berdiri di di daerah Prabang Road, dan Masjid Al-Jami’a.

Dari dua masjid tersebut, Masjid Al-Azhar merupakan yang terbesar. Masjid ini dibangun oleh kaum pendatang dari India. Masjid ini tak pernah sepi dari jamaah. Apalagi pada perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini selalu dipenuhi oleh jamaah. Jamaah Muslim di masjid ini kebanyakan berasal dari India, Pakistan, dan Bangladesh dan muslim dari berbagai etnis dan Negara lainnya.

Malaysia ::: Masjid Negara di Kuala Lumpur :::

(5). Malaysia : Masjid Negara di Kuala Lumpur. 

Malaysia, negara federasi yang dibentuk oleh para Sultan yang berkuasa di semenanjung Malaya, kepala negaranya bergelar Yang Dipertuan Agong, dipilih secara bergilir diantara para Sultan yang menjadi pembentuk Negara Malaysia. Islam merupakan agama resmi Negara di Malaysia, segala urusan ke-islaman di tangani dan didanai oleh Negara, dan hukum Islam mendapatkan tempat yang istimewa.

Meskipun pusat pemerintahan federal telah dipindahkan ke Putrajaya di pinggiran kota Kuala Lumpur dan lengkap dengan dua masjid super mewahnya yakni Masjid Putra dan Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Namun Masjid Negara di Kuala Lumpur ini masih memegang fungsinya sebagai masjid Nasional Malaysia.  Dibangun tahun 1965 dengan begitu banyak kemiripan dengan Masjid Istiqlal di Jakarta. Sama dengan masjid Istiqlal, Masjid Negara di Kuala Lumpur juga dibangun sebagai rasa syukur rakyat Malaysia yang baru saja memperoleh kemerdekaan dari Inggris.

::: Bersambung :::


Islam dan Masjid di Vanuatu

Dimanakah Vanuatu ? ::: Vanuatu berada di jajaran negara negara pulau di samudera Pasifik Bagian Selatan, bertetangga dengan Fiji, Kaledonia Baru dan lainnya.

Pernah mendengar nama Vanuatu ? Atau malah belum pernah sama sekali !. tak mengherankan, karena Vanuatu memang sebuah negara yang terdiri dari gugusan pulau kecil di tengah Samudera Pasifik bagian selatan, Ibukota negaranya di Port Villa, tergolong sebagai salah satu negara miskin namun memiliki keindahan alam yang memukau. Bila dibandingkan dengan Indonesia, maka Indonesia akan menjadi negara super kaya dan super luas dibandingkan Vanuatu

Keseluruhan luas Vanuatu (perairan dan daratannya) sekitar 12,190 km2 hampir setara dengan luas propinsi Gorontalo (11.257.07 km2) di Pulau Sulawesi. Vanuatu terdiri dari 82 pulau dengan ukuran relatif kecil, 14 pulau yang memiliki ukuran >100 km2 (10 ribu hektar atau 10km x 10km), 19 pulau tak berpenghuni, sementara dua pulau kecilnya di lokasi paling selatan, di klaim oleh Prancis sebagai bagian dari negara Kaledonia Baru. Luas keseluruhan pulaunya itu bila digabung jadi satu hanya seluas sekitar 4.700 km2 lebih kecil sedikit dibandingkan dengan luas propinsi Bali (5.780.06 km2)

Gaya Baru ::: Muslim Mualaf Vanuatu dengan gaya baru dan jalan hidup yang baru. Gamis putih menggantikan kostum serta seluruh kebiasaan lamanya.

Karena ukuran pulau nya yang mungil mungil Negara ini sangat rentan dengan dampak pemanasan global, dan bila pemerintah dan rakyatnya gagal menjaga kelestarian hutan, kekurangan air bersih segera menjadi bencana. Namun menariknya, di tahun 2010 lalu Vanuatu bertengger di puncak daftar Negara yang penduduknya paling gembira di dunia versi lonelyplanet, mengalahkan Indonesia yang super kaya dan super besar yang bahkan tak masuk dalam daftar nomonasi.

Dan menariknya lagi meski letaknya yang terpencil di tengah deburan ombak Samudera Pasifik dan berjarak sekitar 15 ribu kilometer dari Mekah, Islam telah hadir di Negara pulau ini sejak tahun 1978 lalu, bukan diantar masuk kesana tapi di jemput sendiri oleh penduduk asli nya yang kemudian menjadi muslim pertama di Negara itu. Benar benar “sesuatu” yang tentunya cukup  menarik untuk di ulas.

Vanuatu muncul dalam sejarah Nasional Indonesia ketika diselenggarakan Konfrensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, kala itu Vanuatu masih berstatus koloni Prancis dan Inggris. Namun Semangat untuk merdeka mengantarkan mereka ke kancah dunia di kota Bandung tersebut.

Muslim dan Masjid Pertama di Vanuatu

Dua kali sensus penduduk yang telah diselenggarakan di Vanuatu, sama sekali tidak menyebut tentang adanya komunitas muslim disana, baik pada sensus penduduk tahun 199 maupun sensus penduduk sepuluh tahun kemudian atau di tahun 2009. Meskipun demikian beberapa laporan menyebutkan adanya sekitar 200 mualaf di negara pulau ini, sumber lain bahkan menyebutkan jumlahnya mencapai 1000 jiwa.

Masjid kecil di tengah kampung Mele ::: Kecil dan sederhana dan tak tampak seperti bangunan masjid. Inilah masjid pertama di Republik Vanuatu. Masjid Wakaf dari muslim setempat. Acungan dua jempol rasanya tak cukup untuk memuji muslim di negara pulau ini. (foto kiriman dari Kris Triyantio, WNI di Melle).

Penduduk Vanuatu mayoritas beragama Kristen. Namun Islam telah hadir di negara ini. dan tak sulit menemukan komunitas muslim disini. Sebagai negeri yang sedang gencar gencarnya mempromosikan pariwisata di negeri mereka, para pengelola perhotelan pun turut menyerap semua informasi tentang negara-nya termasuk komunitas Islam di negara mereka, dan dengan mudah mereka menjelaskan hal tersebut.
  
Sejarah Islam di Vanuatu

Mustapha Kaloas, Sekretaris Jenderal Vanuatu Islam Society menuturkan bahwa sejarah Islam di Vanuatu dimulai sejak tahun 1978 lalu. Masih belum lama bahkan belum sampai setengah abad dibandingkan dengan sejarah Islam di Indonesia. Adalah Henry Nabanga seorang warga asli Vanuatu yang melanjutkan studinya ke India untuk mempelajari proses penterjemahan naskah.

Aktivitas pengajian di Masjid Melle - vanuatu (foto kiriman dari Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal di Vanuatu).

Henry Nabanga berasal dari Desa Mele di Port Villa, Vanuatu. Di tahun 1973 beliau memutuskan untuk berangkat ke India guna mempelajari penterjemahan naskah disana. Sentuhan nya dengan Islam berawal di sana. Aktivitas belajarnya kemudian membuatnya mempelajari segala sesuatu yang bahkan jauh lebih luas sampai kemudian mengenalkannya pada Islam. 

Dan menarik minatnya untuk mempelajari agama Islam lebih dalam. Hasilnya, ketika beliau kembali ke desa Mele di Vanuatu beliau sudah menjadi seorang muslim dan mengganti namanya menjadi Husein Nabanga. Sejak tahun 1978 Islam bermula tumbuh di desa Mele dan sekitarnya dan kemudian menyebar hingga ke berbagai pulau di Vanuatu.

Kepribadian Husein yang menarik ditambah dengan pembawaannya yang humoris serta penyampaiannya tentang Islam dengan cara yang sederhana memudahkan keluarga dan penduduk desanya untuk memahami agama yang baru dia bawa pulang dari India. Dan segera Islam diterima dengan baik dan berkembang di desanya. 

Ketika Husein Nabanga wafat pengikut dan keluarganya melanjutkan syiar Islam. Sebagian dari mereka pindah dari Port Villa ke ke pulau Tanna dan menyebarkan Islam disana. bermula dari 50 Kepala keluarga di Desa Mele Islam berkembang pesat hingga menyentuh angka 1000 jiwa.

Di dalam Masjid Mele ::: Dalam segala kesederhanaannya Muslim Vanuatu semuanya merupakan mualaf yang hijrah ke dalam Islam dari agama dan kepercayaan lama mereka. Mereka sangat butuh bantuan dari muslim di bagian dunia lain termasuk bantuan pengajaran cara ber Islam dengan benar.

Empat belas tahun sejak kepulangan Husein dari India atau di tahun 1992, masjid pertama di Vanuatu pun berdiri di desa Mele, di pinggiran kota Port Villa. Lahan dan bangunan masjid ini merupakan wakaf dari Mohammed Seddiq, salah satu Mualaf Vanuatu. Beliau sebelumnya merupakan pemeluk agama Kristen Pantekosta. Masjid kecil ini selain berfungi sebagai tempat ibadah tapi juga berfungsi sebagai madrasah bagi anak anak dan dewasa. Dan sekaligus menjadi rumah bagi Vanuatu Islamic Association.

Sebuah masjid yang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid yang biasa kita kenal. Bangunan masjid Mele yang merupakan masjid pertama di Vanuatu ini berupa sebuah bangunan rumah biasa tanpa kubah apalagi menara. Sebuah papan nama sederhana bertuliskan muslim Mosque dipasang atau lebih tepatnya di geletakkan di depan bangunan ini. sementara gerbang pagarnya diberi bentuk seperti kubah diatasnya, sangat sederhana. Namun inilah masjid pertama yang mengukir sejarah eksistensi Islam di Vanuatu.

Lantunan azan tanpa pengeras suara dalam dialeg setempat yang terdengar cadel melapalkan lafaz azan terdengar syahdu di tengah kampung sederhana, Mele, dipinggiran kota Port Villa, Ibukota Republik Vanuatu.

Tak ada perangkat pengeras suara di masjid ini, karena ukurannya yang kecil hanya mampu menampung belasan jemaah di dalamnya, bila di Indonesia, hanya seukuran sebuah surau di tengah kampung. sebagian dari jemaahnya terpaksa sholat di luar masjid. di dalam masjid, kita juga tidak akan menemukan mihrab yang biasa menghias sisi kiblat di dalam masjid. Mimbarnya dibuat sederhana berupa tiga undakan tangga, cukup untuk memberikan tempat lebih tinggi bagi khatib sholat Jum'at. Sebidang tempat kecil di partisi dengan kain putih sebagai tempat untuk jemaah wanita di dalam masjid.

Usia peradaban Islam di Vanuatu memang masih teramat muda ditambah dengan lokasinya yang begitu terpencil berakibat pada minimnya para da'i yang memberikan pengajaran Islam dan akibatnya minim pula pemahaman mereka terhadap agama Islam yang begitu mereka cintai. Sebagaimana di akui oleh tokoh muslim setempat bahwa mereka sangat haus akan bimbingan untuk berislam secara kaffah. Beberapa muslim setempat bahkan dengan bangga menggunakan gamis dan sorban sebagai penanda bahwa mereka adalah muslim. Semua itu menjadi tanggung jawab muslim di bagian dunia lainnya termasuk di Indonesia.

Pintu utama masjid Melle (foto kiriman dari Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal di Vanuatu)..

"Muslim Vanuatu mengajarkan kita sebuah pelajaran yang teramat berharga. Bahwa kemiskinan, keterpencilan, keterasingan dan segala keterbatasan dan kekurangan tak menghalangi mereka untuk menjadi warga dunia yang paling bahagia dan tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menemukan Islam"

Muslim Indonesia di Vanuatu

Alhamdulillah, Puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata’ala, Kris Triyantio, Adalah salah satu muslim Indonesia yang baru saja mendapatkan tugas dan kini tinggal di Vanuatu, beliau bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang IT. Melalui emailnya menyebutkan bahwa ada beberapa muslim Indonesia yang tinggal di Vanuatu sekitar 5-6 orang termasuk dirinya.

Jemaah antar bangsa di Masjid Melle (foto kiriman dari Kris Triyantio, Muslim Indonesia tinggal di Vanuatu).

Selain warga Indonesia juga ada muslim Pakistan, Fiji dan negara lainnya yang turut membantu memakmurkan Masjid Melle ini. menurut beliau saat ini pengurus Masjid Melle sedang fokus merapikan struktur organisasi dan dokumentasi keuangan. Dan beliau sendiri meski merupakan warga baru disana dipercaya untuk menjadi penasihat bidang Teknologi di Masjid Melle.

Dipenutup emailnya beliau menyampaikan bahwa “saudara saudara muslim kita di Vanuatu masih perlu banyak bimbingan baik agama dan lain sebagainya dan Marilah kita membantu muslim Vanuatu dalam hal apa saja dari yang sederhana yaitu doa yang tulus :)”. (updated : Rabu, 27 Februari 2013)



Senin, 01 Oktober 2012

Masjid Ali Pasha Sarajevo

Masjid Ali Pasha Sarajevo ::: tentunya tak mungkin kita dapat menemukan pemandangan masjid dalam bekunya salju musim dingin seperti ini di Indonesia.

Masjid Ali Pasha merupakan salah satu masjid tua di kota Sarajevo ibukota Bosnia and Herzegovina. Masjid tua begaya klasik Emperium Usmaniah ini dibangun pada tahun 1561-1562 sebagai wakaf abadi dari Hadim Ali Pasha, gubernur Emperium Usmaniah untuk wilayah Administrasi Distrik Budapest (budimski begler - kini Hongaria) dan Bosnia Pashaluk. Ali Pasha, merupakan putra asli Sarajevo.
 
Di tahun 2005 masjid Ali Pasha di sahkan sebagai bagian dari monumen Nasional Bosnia and Herzegovina. Keindahan masjid ini juga dapat dinikmati di malam hari sejak dipasangnya perangkat iluminasi di tahun 2008 yang lalu.

Alamat Masjid Ali Pasha Sarajevo

Alipašina džamija
Bistrik 8, Sarajevo
Bosnia and Herzegovina, 71,000

 

Arsitektural Masjid Ali Pasha

Sebagaimana masjid yang dibangun pada era Usmaniah, masjid Ali Pasha juga dibangun dalam gaya arsitektur klasik Usmaniah dengan kubah tunggal diatas atap masjid menutup ruang utama ditambah dengan tiga kubah kecil lainnya. Kubah masjid ini dibangun dalam skala yang lebih besar dibandingkan dengan masjid masjid Usmaniah lainnya yang pernah dibangun sebelumnya di Bosnia and Herzegovina.

Di komplek masjid ini juga dibangun makam dengan dua sarcophagus untuk Avdo Sumbul (Abdullah Sumbul) putra dari Salih Sumbul (wafat tahun 1915) dan Behdžet Mutevelić putra dari Mehemed-bey Mutevelieae (wafat tahun 1915), dua pejuang yang tewas dalam perang Arad (kini masuk dalam wilayah Hongaria & Rumania) jasad kedua pejuang tersebut dibawa ke Bosnia dari medan perang Arad dan dimakamkan ditempatnya saat ini. Bangunan makam ini juga dilengkapi dengan kubah di atasnya.

Negara dengan empat musim seperti di Bosnia memang menghadirkan berbagai pemandangan berbeda pada landskap masjid ini. mulai dari dinginnya salju hingga saat bunga bunga bermekaran di musim semi menjadi pemandangan menarik tersendiri dari masjid tua satu ini.

Pada awalnya komplek masjid Ali Pasha ini jauh lebih luas dibandingkan dengan ukurannya saat ini. Dulunya komplek masjid ini dilengkapi dengan Ali Pasha Mahala atau kawasan pemukiman Ali Pasha serta area pemakaman (harem) yang menempatai lahan yang cukup luas. Baik Ali Pasha Mahala maupun Ali Pasha Harem kemudian diratakan dengan tanah bagi pembangunan jalan raya (Marshal Tito street), jalur trem dan areal parkir.

Area pemakaman yang ada saat ini merupakan areal pemakaman yang tersisa dari lahan yang telah digusur semasa Bosnia menjadi bagian dari Federasi Yugoslavia yang sudah bubar dan hilang dari peta dunia. Pendiri masjid ini pun juga dimakamkan di komplek masjid ini.

Siang dan Malam Hari di Masjid Ali Pasha Sarajevo.

Sama seperti Masjid Gazi Husrev Beg dan The Emperor’s Mosque yang sudah di ulas dalam dua artikel sebelumnya, Masjid Ali Pasha juga mengalami kerusakan parah selama penyerbuan membabi buta oleh etnis Serbia dalam konflik berdarah di Bosnia and Herzegovina tahun 1992-1995 lalu, terutama pada bagian kubah utamanya.

Renovasi terahir dilakukan terhadap Masjid Ali Pasha dilaksanakan pada tahun 2004 dan bulan Januari 2005, Komisi Penyelamatan Monumen Nasional Bosnia kemudian mengeluarkan dekrit yang memasukkan masjid Ali Pasha sebagai bagian dari Bangunan Monumen Nasional Bosnia and Herzegovina di tahun 2005.

Kepengurusan Masjid Ali Pasha Sarajevo

Interior Masjid Ali Pasha Sarajevo ::: Nuansa Usmaniah sangat terasa pada detil mimbar dan mihrab di Masjid Ali Pasha ini.

Masjid Ali Pasha Sarajevo ini berada dibawah kepengurusan Komunitas Islam Sarajevo dengan kepengurusan nya terdiri dari Rapat umum Majelos atau The Executive Committee. Majelis ini terdiri dari 452 anggota yang dipilih diantara para jemaah. Dewan Executive terdiri dari 15 anggota, 14 diantaranya terpilih dalam pemilihan tahun 2010 yang lalu untuk masa bhakti selama 4 tahun termasuk lima orang imam kepala.

Pengurus pelaksanaan operation layanan professional terdiri dari Departemen Administrasi dan Legal, Finansial, relijius dan pendidikan. Departemen Administrasi dan Legal mempekerjakan 9 karyawan terdiri dari individu individu professional dalam bidangnya masing masing mulai dari pengacara, geodesi, konstruksi, asuransi, bisnis dan sebagainya.

Departemen Finansial memiliki tujuh orang karyawan, mulai dari kepala akuntan hingga pegawai pengurus keanggotaan jemaah dan penarikan iuran. Sedangkan departemen Reliji dan Pendidikan terdiri dari tiga pengurus masing masing adalah Imam Kepala dijabat oleh DAUTOVIĆ FERID, Imam kedua MALIK dan Pembantu Imam Kepala Cerimovic SULJO.

Sarajevo Red line ::: sebuah gelaran memperingati 20 tahun penyerbuan Sarajevo oleh etnis Serbia di selenggarakan dengan menyusun 11541 kursi warna merah di sepanjang ruas jalan kota Sarajevo, salah satu deretan kursi merah itu melintas di depan masjid Ali Pasha Sarajevo ini. 1151 kursi kosong itu melambangkan mereka yang tewas dalam aksi brutal tersebut.