Sabtu, 23 Oktober 2010

Masjid Raya Seoul

Masjid Raya Seoul (Seoul Central Masjid)

Rambu lalu lintas penunjuk arah ke masjid ini ditulis dalam bahasa Inggris dengan nama Seoul Central Masjid, sementara Nama resmi yang ditulis di atas pintu masuk utama masjid ini ditulis dalam aksara arab dengan nama Masjid Si'ul Al-Markaz. Untuk mempermudah maka kita alih bahasakan ke bahasa Indonesia saja menjadi Masjid Raya Seoul.

Masjid Raya Seoul merupakan Masjid pertama dan satu satunya di kota Seoul, Ibukota Korea Selatan itu. Dan menjadi masjid terbesar di Korea Selatan. Karena letaknya di daerah Itaewon masjid ini sering juga disebut dengan Masjid Itaewon Seoul. Masjid Raya Seoul juga menjadi kebanggaan bagi lebih dari 45 ribu orang Korea asli yang sudah beragama Islam.

Rambu Lalu Lintas Masjid Raya Seoul
Pemerintah Korea Selatan senantiasa memberikan perhatian besar kepada masjid Raya Seoul, setiap kali ada issue terkait dengan ummat Islam, pemerintah setempat langsung menempatkan aparat keamanan di areal masjid untuk memproteksi masjid dan ummat islam yang beribadah disana. Masjid ini memang beberapa kali mendapatkan teror. Salah satunya adalah ketika beberapa pria dengan pedang terhunus menyerbu ke dalam masjid, memaksa polisi bertidak dan memproteksi masjid dan jemaahnya selama berbulan bulan.

Lokasi Masjid Raya Seoul

Alamat : 732-21, Hannam 2-dong, Yongsan-gu, Seoul, South Korea (berada di sebelah barat kedutaan besar Malaysia)
Telepon : 82 (2) 794-7307
Fax : 82-02-798-9782

 

Rumah Silaturrahmi Muslim Antar bangsa

Masjid Raya Seoul menjadi magnet utama kaum muslimin kota Seoul dari berbagai bangsa untuk beribadah ke masjid ini. Bagi muslim Indonesia sendiri masjid ini menjadi rumah untuk bersilaturrahmi dengan sesama muslim Indonesia karena begitu banyaknya warga Indonesia yang beribadah di masjid ini. Selain warga dari timur tengah dan warga asli Korea sendiri. Bertemu dengan saudara sebangsa di negeri rantau memang menghadirkan nuansa tersendiri, setidaknya sebagai pengobat kerinduan akan kampung halaman.

Jemaah Sholat di Masjid Raya Seoul
Selain begitu banyaknya jemaah masjid yang berbahasa Indonesia, berkunjung ke masjid ini juga dapat mengobati kerinduan akan makanan Indonesia. Disekitar masjid yang berlokasi Hnnam-dong Yongsan-gu ini juga di jajakan aneka makanan halal di kedai dan toko toko disekitar masjid. Salah satu makanan kering yang dijual di toko toko yang berjejer disana adalah Indomie, mie instan asli Indonesia itu memang kadang menjadi bekal pavorit muslim Indonesia yang hendak berperdian ke negara dengan muslim minoritas.

Tak hanya jemaahnya yang begitu banyak dari Indonesia, orang Indonesia pun pernah menjadi pengurus masjid ini sebagai Muazin, adalah Hasan Sogimin yang menjadi muazin di masjid Raya Seoul ini sejak 25 Juli 2005 beliau bertugas disana setelah mendapatkan referensi dari Ikatan Keluarga Muslim Indonesia di Soul yang mempertemukan belaiu dengan ustadz Abdul Rasyid, ustazd melayu Thailand yang merupakan Dai, Khatib dan imam shalat di masjid tersebut.

Sementara diantara para tokoh Indonesia yang pernah sholat di Masjid ini adalah Dr. Hidayat Nurwahid, Mantan ketua MPR yang datang sendiri ke masjid ini tanpa pengawal pada tanggal 29 Oktober 2006. dan Prof. M Amien Rais, ketika masih menjabat sebagai ketua MPR.

Yang Khas di Masjid Raya Seoul, Korea Selatan

Oleh Oleh Jum'atan
Masjid Raya Seoul ini berdiri di atas tanah seluas 4.870 meter persegi. Luas masjidnya sendiri cuma 427 meter persegi. Di atas lahan itu juga berdiri Islamic Center seluas 1.917 meter persegi. Dan ada hal menarik dari masjid ini, khotbah dibawakan dua kali dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Korea, dan setelah sholat Jum’at semua jamaah di beri oleh oleh gratis berupa 1 buah roti besar dan 1 kotak susu segar. Itu sebabnya setelah selesai sholat Jum’at, banyak jamaah yang tidak langsung meninggalkan lingkungan masjid, mereka istirahat sejenak di masjid sambil menikmati bingkisan dari masjid dan berbincang bincang dengan sesama jemaah. Momen inilah yang dimanfaatkan para jemaah untuk saling bersilaturrahmi dengan saudara saudara muslim lain nya.

Sejarah Masjid Raya Seoul

Detil ornamen masjid Raya Seoul
Sejarah Masjid Raya Seoul tak terlepas dari sejarah masuknya Islam ke Korea. Islam masuk ke semenanjung Korea paska ditandatanganinya gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan di tahun 1955, setelah dua Korea tersebut di dera perang saudara sejak 25 Juni 1950. Pasukan perdamaian internasional dibawah koordinasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mendarat di Korea Selatan guna menjaga proses genjatan senjata. Turki menjadi negara dengan kontingen pasukan perdamaian terbanyak kedua setelah Amerika Serikat yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian PBB di Korea Selatan.

Dua dari anggota kontingen pasukan perdamaian Turki bernama Zubercoch dan Abdul Rahman yang ditempatkan di Korea Selatan, menggunakan salah satu tenda di kamp pengungsian sebagai masjid yang dijadikan tempat anggota pasukan melaksanakan sholat berjamaah dan kegiatan syiar Islam disana, termasuk syiar kepada masyarakat Korea. Islam disambut dengan baik oleh warga Korea yang sedang dilanda ketakpastian selama dan paska perang dan menemukan Islam sebagai panduan menghadapi masa depan mereka.

Diawal perkembangan Islam di Korea terbentuklah organisasi Korea Muslim Society dengan ketua pertama nya adalah Almarhum Muhammad Umar Kim Jin Kyu. Komunitas inilah yan gkemudian di undang untuk berkunjung ke berbagai negara Islam dan beberapa muslim Korea dikirim ke berbagai Kampus Islam di Malaysia untuk dipersiapkan menjadi pemimpin Islam di masa mendatang.

Mimbar Masjid Raya Seoul
Delegasi Malaysia dibawah pimpinan wakil perdana menteri Tunku Abdul Razak beserta istrinya mengunjungi tempat yang di alokasikan bagi pendirian masjid pertama di Korea. Kemudian pejabat pemerintah Malaysia Haji Mohammad Nuh, turut melihat bahwa tempat ibadah permanen tersebut harus segera didirikan bagi kepentingan dakwah.

Pamerintah Malaysia kemudian menyumbangkan dana 33 ribu dolar kepada Korean Muslim Community untuk membantu pendirian masjid di tahun 1963. namun sayang nya masjid tersebut tak kunjung selesai karena berbagai masalah termasuk masalah inflasi ketika itu. 

Komunitas muslim Korea ahirnya menerima pengakuan dari pemerintah Korea dengan disyahkan nya Komunitas muslim Korea menjadi Korean Islamic Foundation dengan pengesahan dari kementrian budaya dan informasi dengan nomor registrasi 114, tanggal 13 Maret tahun 1967. akta pendirian itu menjadi titik awal baru bagi muslim Korea untuk lebih aktif berdakwah.

Impian panjang muslim Korea untuk memiliki masjid ahirnya terwujud di tahun 1976. peresmian masjid tersebut dihadiri 55 perwakilan dari 20 negara. Peresmian Masjid Raya serta Islamic Center tersebut menjadi begitu penting sepanjang perjalanan sejarah perkembangan Islam di Korea. Dari momen tersebut juga membuahkan hasil yang cukup manis dengan membengkaknya orang Korea asli yang memeluk Islam.

Foto Foto Masjid Raya Seoul

Di bawah Kubah Masjid
Diantara atap atap gedung
Fasad Masjid 
diatas gerbang masjid
Papan petunjuk Lokasi
Temaram
Nama Masjid 
Menuju Masjid

--------------------------ooOOO----------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya

Kamis, 21 Oktober 2010

Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia

Masjid Kampung Hulu Malaka, Malaysia

Sejarah Malaka tak terpisahkan dari sejarah Republik Indonesia. Meskipun Malaka bukanlah bagian dari wilayah Republik tercinta ini. Dimulai dari sejarah berdirinya Malaka, masuknya bangsa asing ke Nusantara hingga perjuangan melepaskan diri dari penjajahan, kedekatan dua bangsa serumpun ini sudah terajut sejak lama. Beberapa saksi bisu sejarah panjang hubungan dua bangsa ini terekam dalam warisan masa lalu di Malaka. Di beberapa masjid tua peninggalan masa lalu. Salah satu diantaranya adalah Masjid Kampung Hulu, Malaka.

Atap  bangunan utama masjid tidak
berbentuk kubah tapi berupa limasan ber-
susun tiga. Persis seperti bangunan masjid
masjid lama di Jawa dan Sumatera.
sedangkan Mastaka di puncak masjid
di impor langsung dari Cina bersama 
dengan mastaka untuk menara dan untuk
gerbang masjid. 
Masjid Kampung Hulu, Malaka, ini merupakan salah satu masjid tertua di Malaysia dan dijadikan salah satu bangunan warisan sejarah oleh pemerintah Kerajaan Malaysia. Dan kini menjadi salah satu ikon pariwisata Malaka. Masjid Kampung Hulu Malaka ini menjadi masjid tertua di Malaysia yang masih menjalankan fungsinya dengan baik. Di dalam perkarangan masjid terdapat makam Sayyid Abdullah Al-Haddad, seorang guru agama yang terkenal yang dianggap sebagai Wali. Non muslim dilarang masuk ke dalam masjid ini namun diperkenankan untuk sekedar melihat dari luar.

Lokasi Masjid Kampung Hulu, Malaka.

Masjid Kampung Hulu di Malaka masih berdiri di tempat aslinya sejak pertama kali didirikan. Masjid ini berada di pojok jalan Masjid Kampung Hulu dan jalan Masjid.Berada dikawasan pusat komersial tua kota Malaka yang kini di dominasi oleh ruko ruko milik warga keturunan Cina. Dapat dicapai dengan taksi, becak atau bis nomor 17 dari terminal bis di pusat kota Malaka.  Karena jaraknya yang hanya terpisah satu rusa jalan dari Jonker street (disebut juga Jonker walk atau Jalan Hang Jebat) kawasan wisata pecinan yang sangat terkenal di Malaka, Maka anda yang sedang berada di kawasan itu dapat menuju masjid ini dengan berjalan kaki.

Arsitertur Masjid Kampung Hulu

Masjid Kampung Hulu Malaka. Dengan atap bersusun tiga, lengkap dengan Sebuah
menara, sedangkan disebelah kiri adalah atap kolam tempat wudhu, gerbang utama
-nya sekaligus berfungsi sebagai tempat meletakkan bedug. dan tempat
mengumandangkan azan.

Masjid Kampung Hulu dibangun dengan nuansa arsitektur Sumatera dan Jawa, dilengkapi dengan satu bangunan menara. Bangunan utama masjid beratap piramida bertumpang tiga, celah diantara tumpang atap menjadi tempat masuk nya udara dan cahaya ke dalam masjid. Struktur atap di topang oleh empat sokoguru dibagian tengah masjid. Sementara sokoguru yang lebih kecil menyangga bagian lain dari atap masjid.

Gerbang utama masjid 
dengan beduk tersimpan
disana.
Mengingat Masjid Kampung Hulu dibangun hampir bersamaan dengan pembangunan masjid Kampung Keling dan Masjid Tengkera. Maka kemudian menjadi tidak aneh bila arsitektur ketiga masjid itu nyaris serupa. Sepintas lalu masjid masjid tersebut sangat mirip dengan bangunan masjid tua di Sumatera dan Jawa.  Orang Indonesia yang berkunjung ke masjid ini akan merasa sangat familiar dengan arsitekturnya.

Budaya Cina turut berpengaruh dalam arsitektur masjid Kampung Hulu. Ornamen dari puncak atap masjid konon di impor langsung dari Cina, sama hal nya dengan keramik lantai, didatangkan langsung dari Cina daratan pada masa Dinasti Qing berkuasa di China, ditambah dengan bentuk menaranya yang mirip dengan bangunan pagoda Cina.

Masjid Kampung Hulu Malaka, memiliki kekhasan tersendiri yang masih dipertahankan. Yaitu kolam wudhu disamping masjid. Kolam ini masih digunakan untuk berwudhu jemaah masjid hingga kini. Sementara di Indonesia kebanyakan masjid tua sudah tidak lagi memfungsikan kolam wudhu dan menggantinya dengan keran air. Sementara di gerbang utama masjid bediri bangunan berlantai dua tempat menyimpan beduk. Sebagaimana di Indonesia, beduk di masjid ini difungsikan sebagai sarana memanggil ummat untuk melakukan sholat berjamaah, bagian yang ini mirip sekali dengan gerbang di masjid sultan ternate, Maluku Utara.

Sejarah Berdirinya Masjid Kampung Hulu

Interior Masjid Kampung Hulu Malaka. Tampak jelas dua dari 4 sokoguru utama penopang 
struktur atap masjid. Mimbar berukir. mihrab dan lampu gantung antik 

Masjid Kampung Hulu didirikan tahun 1728 oleh Dato’ Samsudin Bin Arom. Wakil dari masyarakat Melayu, dimasa penjajahan Belanda di Malaka, kebebasan beragama cukup dihargai dan berkembang dengan baik. Masyarakat pribumi kala itu dipimpin oleh seorang Kapitan membangun tempat ibadah mereka masing masing sesuai dengan kebutuhan. Kebijakan tersebut semata mata sebagai politik pemerintah kolonial Belanda untuk menarik simpati pribumi setelah sebelumnya pemerintah kolonial Portugis membumihanguskan seluruh bangunan masjid menyisakan bangunan gereja Katolik.

Teras masjid Kampung Hulu Malaka
Agama Katolik sendiri adalah agama orang Portugis. Dan penjajahan Portogis atas Malaka yang dimulai tahun 1511 menjadi titik awal masuknya agama Katolik ke Malaka. Salah satu masjid yang turut dihancurkan oleh Portugis adalah masjid pertama di Malaka yang berlokasi di seberang bangunan yang kini disebut Stadthuys kawasan kota tua Malaka.

Keadaan kemudian berbalik ketika Portugis dikalahkan oleh Belanda sebagai ahir dari pengepungan selama lima  bulan tahun di 1640-1641 mengakibatkan kekalahan Portugis terhadap Belanda. Kekuasaan atas Malaka pun beralih kepada pemerintahan Kolonial Belanda. Di masa penjajahan Belanda, giliran Katolik-lah yang kemudian dilarang oleh Belanda yang beragama Protestan.

Belanda kemuidian menunjuk Dato Samsuddin bin Arom sebagai pimpinan masyarakat Melayu Malaka dengan gelar Kapitan. Dato Samsudin Arom yang memimpin warga Muslim Malaka membangun Masjid Kampung Hulu. Kemudian di renovasi dimasa Wazir Al Sheikh Omar bin Hussain Al-Attas.

Masjid Kampung Hulu Malaka, Tahun 1980
Masjid Kampung Hulu Malaka dengan Gerbang nya
Masjid Kampung Hulu, dilihat dari jalan Kampung Hulu
Dilihat dari arah Jalan Masjid

Masjid Gifu, Jepang

Masjid Gifu (Bab Ak-Islam Gifu Masjid & The Muslim Culture Center) Jepang

Bab al-Islam Gifu Masjid & The Muslim Culture Center.

dilengkapi Ruang kelas
Kota Gifu merupakan salah satu kantong Muslim terbesar di Prefectur Aichi, yang terkenal sebagai kawasan industri otomotif Jepang. Masjid Gifu menjadi masjid pertama yang berdiri di kawasan Jepang tengah. Sementara International Islamic School dan Pusat Budaya Muslim yang dibangun di dalam komplek masjid ini menjadi sekolah Islam resmi pertama di Jepang. Masjid yang dibangun tak jauh dari Universitas Gifu ini diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan tempat ibadah warga muslim Gifu, serta mewadahi warga muslim pendatang di kota Gifu termasuk para mahasiswa Muslim Universitas Gifu yang datang dari berbagai Negara termasuk Indonesia.

Masjid ini juga mencatat sejarah tersendiri bagi Indonesia. Untuk kali pertama warga negara Indonesia terlibat secara langsung dalam pembangunan masjid di Jepang. Mereka merupakan alumni dan mahasiswa dari beberpa universitas di Gifu, Nagoya, Osaka, Kyoto, dan Tokyo juga hadir sebagai panitia inti.

Interior Masjid Gifu
Menurut catatan Masjid Jami’ Tokyo (tahun 1998), warga asli Jepang yang beragama Islam sudah melampau angka 10 ribu orang, meskipun tak ada data yang akurat. Sementara keseluruhan warga muslim di Jepang sudah melampau angka 100 ribu jiwa.  Pendirian masjid Gifu, diharapkan dapat menjadi pusat perluasan syiar Islam di Kawasan Jepang tengah khususnya dan di Jepang umumnya.

Lokasi Masjid Gifu

Bab al-Islam Gifu Masjid & The Muslim Cultur Center, Furuichiba Higashimachida 8, Gifu City, Gifu Prefecture. Terletak di disebelah tenggara Kampus Universitas Gifu. Dapat di capai lima menit dengan bersepeda dari kampus Uiversitas Gifu




Arsitektur Masjid

Masjid Gifu dengan Universitar Gifu di latar belakang
Proyek pembangunan masjid Gifu menelan biaya sebesar 129 juta yen atau setara 1,1 juta dolar AS. Luas bangunan Masjid Gifu sebesar 351 meter persegi, ditambah dengan sekolah internasional dan pusat kebudayaan Islam. Pembangunan sekolah dan Pusat bidaya itu menghabiskan dana sekitar 135 juta yen. Gedung utama masjid Gifu terdiri dari beberapa ruangan penting selain ruang sholat, seperti perpustakaan dan ruang konsultasi.

Masjid Gifu dibangun dengan cukup megah, lengkap dengan kubah dan menara yang tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan bangunan masjid dua lantai itu. Bagian luar di dominasi oleh warna krem sementara kubah masjid dicat dengan warna putih. Ketika selesai dibangun, bangunan masjid Gifu benar benar terlihat mencolok di tengah tengah hijaunya hamparan sawah disekitarnya, masjid ini memang dibangun di lahan di tengah tengah sawah.

Sejarah Pembangunan Masjid Gifu

Di hari peresmian, di tengah hamparan sawah yang menghijau
Masjid Gifu di dirikan dan dikelola oleh Masjid Nagoya, dengan dana dari berbagai sumber. Surat elektronik terkait pembangunan masjid dan pusat budaya Islam ini tersebar hingga ke tanah air. Peletakan batu pertama pembangunan masjid Gifu dilaksanakan dibawah siraman hujan gerimis tanggal 27 Oktober 2007, selesai dibangun tanggal 30 Juni 2008, dan diresmikan sebulan kemudian di tanggal 27 Juli 2008. Upacara peresmian masjid, dihadiri oleh para tamu undangan dari beberapa perwakilan negara sahabat. Perwakilan negara yang hadir dalam upacara peresmian masjid tersebut adalah : Duta besar Afganistan, Iran dan Irak. Wakil duta besar negara yang hadir adalah : Mesir, Maroko, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia dan Amerika Serikat. Hadir di antara para tamu kehormatan adalah Imam Masjidil Haram, Saudi Arabia Sheikh Mahir Al-Muaiqetly.

Acara tersebut juga dihadiri oleh pemerintahan Jepang, lokal dan pemerintah pusat termasuk para anggota dewan perwakilan, Gubernur prefecture dan Walikota Gifu, Rektor Universitas Gifu yang letaknya tak jauh dari Masjid, anggota dewan perwakilan Gifu, ketua dan anggota dewan kota Gifu, pimpinan wilayah badan pemerintahan sendiri Kyowamachi, serta para pengusaha setempat.

Sheik Mahir Al-Muaiqetly
Imam Masjidil Haram
Sementara di jejeran para tamu lain nya turut hadir Fauzy Ammary Ketua Working Group for Technology Transfer (WGTT), sebuah LSM Indonesia di Jepang yang ikut hadir dalam acara tersebut. Acara peresmian hari itu ditandai dengan pengguntingan pita oleh Imam Masjidil Aqso dilanjutkan dengan Sholat Zuhur berjamaah, open house, ramah tamah dan makan siang di hotel Gifu. Para tamu undangan dari beberapa negara serta dari pemerintahan Jepang, tidak hadir dalam acara peresmian masjid, tapi datang belakangan pada acara peresmian gedung sekolah di samping masjid. Karena pemerintahan Jepang menganut faham sekuler, membatasi pejabatnya untuk tidak hadir secara resmi dalam ceremony terkait kegiatan agama.

Ketika Selesai dibangun
dari arah depan
Di tengah hijau nya pesawahan
Sudut simetris Masjid Gifu
Peresmian Masjid bersama Imam Masjidil Haram-Mekah.
Sholat berjamaah pertama di Masjid Gifu
--------------------------ooOOO----------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Lainnya


Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate


Masjid Sigi Lamo, Masjid Kesultanan Ternate.

Masjid Sultan Ternate, atau oleh masyarakat setempat biasa disebut sebagai Sigi Lamo, dalam bahasa Ternate, Sigi berarti masjid dan Lamo bermakna besar, Masjid Sultan Ternate memang masjid pertama di Ternate dan terbesar di jaman nya. Masjid ini menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur Nusantara ini. Kesultanan Ternate mulai menganut Islam sejak raja ke-18, yaitu Kolano Marhum yang bertahta sekitar 1465-1486M. 

Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500), yang makin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam dengan mengganti gelar Kolano menjadi Sultan, menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, memberlakukan syariat Islam, serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.

Lokasi Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate atau Sigi Lamo berada di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Di bagian belakang masjid, terdapat benteng Oranye yang dibangun Belanda antara 1606-1607M.

 

Sejarah Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate antara tahun 1920-1930
Belum ada angka valid tentang kapan Masjid Sultan Ternate ini pertama kali dibangun. Sejauh ini ada dua pendapat tentang tarikh pendirian masjid ini. Diperkirakan pendirian masjid ini telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin, raja Ternate kedua yang sudah beragama Islam dan mengukuhkan Islam sebagai agama resmi kerajaan serta mengganti gelar kolano (raja) menjadi Sultan. Namun direktori masjid bersejarah Departemen Agama RI menyatakan bahwa pendirian Masjid Sultan Ternate baru dilakukan awal abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1606 saat berkuasanya Sultan Saidi Barakati. Pembangunan masjid dilanjutkan oleh Sultan Mudafar dan diselesaikan oleh Sultan Hamzah pada tahun 1648 Masehi

Pada tahun 1679 Masehi, dilakukan renovasi oleh Sultan Sibori Amsterdam, Putra Sultan Mandarsyah, dengan bentuk atap tumpang tiga dan berbahan kayu. Tahun 1705 masehi masjid ini mengalami kebakaran, dan dibangun kembali oleh Sultan Said Fathullah atau Kaicil Toluki atau Pangeran Rotterdam. Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1818 Masehi oleh Sultan Muhammad Zain. Pemugaran terahir dilakukan pada tahun 1983 dengan melakukan perombakan total tanpa merubah bentuk asli.

Akan tetapi, melihat kenyataan sejarah, sekitar setengah abad sebelum Sultan Saidi Barakati naik tahta, Kesultanan Ternate telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di bidang keagamaan, ekonomi, maupun angkatan perang. Perjuangan Sultan Khairun (1534-1570) dilanjutkan oleh penerusnya, Sultan Baabullah (1570-1583) untuk mengusir pasukan Portugis, menjadi salah satu fase kegemilangan Kesultanan Ternate.

Masjid Sigi Lamo tampak depan. Bentuk Gerbang multifungsi seperti masjid Sigi Lamo ini sudah sangat jarang dan sudah tak lagi di aplikasikan pada bangunan bangunan masjid baru di Indonesia

Bila kita berpegang kepada pendapat kedua bahwa Sigi Lamo baru didirikan di masa pemerintahan Sultan Saidi Barakati, maka akan timbul pertanyaan besar, mengapa begitu lama kesultanan Ternate belum mendirikan masjid sejak Islam masuk ke Ternate. Bila di hitung dari Kolano Marhum (1465-1486 M) yang merupakan raja Ternate pertama yang memeluk Islam hingga ke era kekuasaan Sultan Saidi Barakati (1606) terpaut waktu hampir satu setengah abad lamanya kesultanan Ternate belum memiliki Masjid, lalu dalam kurun waktu itu dimanakah para Sultan dan keluarga serta kaum muslimin Ternate melaksanakan sholat berjamaah ?. sebuah pertanyaan yang tentunya tak mudah untuk dijawab.

Arsitektur Masjid Sultan Ternate

Sebagaimana Kesultanan Islam lainnya di Nusantara, Masjid Sultan Ternate dibangun tak jauh dari istana Sultan Ternate, tetapi bukan menjadi bagian kompleks istana. Jarak antara keduanya sekitar 100 meter sebelah tenggara istana sultan yang dibangun tahun 1234M. Posisi masjid ini tentu saja berkaitan dengan peran penting masjid dalam kehidupan beragama di Kesultanan Ternate. Tradisi atau ritual-ritual keagamaan yang diselenggarakan kesultanan selalu berpusat di masjid ini. Masjid Sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu dengan bahan perekat dari campuran kulit kayu pohon kalumpang.

Foto lama Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate dibangun diatas lahan berukuran 76,70 x 62,45 Meter dan bangunan berukuran 22 x 22,5 meter. Hampir menyerupai masjid tua di Jawa, lantai Masjid Agung Sultan Ternate juga ditinggikan. Bahan atap masjid pada awalnya menggunakan daun rumbia kemudian diganti dengan seng di tahun 1995. Atap masjid bertumpuk empat, dengan kemiringan yang tidak tajam, kecuali pada atap puncaknya. Di antara atap puncak dan atap bawahnya, terdapat celah kecil, untuk masuknya udara dan cahaya ke dalam ruagan. Pada setiap sisi atap puncak, terdapat jendela atap. Arsitektur ini nampaknya merupakan gaya arsitektur khas masjid-masjid awal di Nusantara, dimana masjid tidak memiliki kubah melainkan atap yang berbentuk limasan.

Ruang Utama Masjid Sultan Ternate
Saat ini, selain bangunan masjid yang masih utuh, peninggalan lain yang masih bisa ditemui di dalam masjid adalah empat buah koleksi kitab al-Quran, hasil tulisan ulama Ternate sendiri. Tulisannya masih jelas dan kertasnya masih baik, belum lapuk dimakan zaman, walaupun usianya sudah berabad-abad. Selama bulan Ramadan, al-Quran ini masih digunakan oleh masyarakat untuk /tadarusan/. Pada sisi selatan-timur masjid, terdapat sebuah sumur tua yang menyatu dengan masjid, digunakan untuk tempat berwudu.

Di halaman depan masjid, tepat pada sumbu garis mihrab, terdapat bangunan kecil bertingkat yang menjadi gerbang utama masjid. Di bagian atasnya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan beduk dan mengumandangkan azan. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar, atapnya sama seperti atap bangunan utama masjid, namun hanya memiliki dua susun atap.

Tradisi Masjid Sultan Ternate

Larangan larangan

Berbeda dengan masjid pada umumnya, Masjid Sultan Ternate Sigi Lamo. Masjid ini terkenal unik karena memiliki aturan-aturan adat yang tegas, seperti larangan memakai sarung atau wajib mengenakan celana panjang bagi para jamaahnya, kewajiban memakai penutup kepala (kopiah), serta larangan bagi perempuan untuk beribadah di masjid ini. Berbagai aturan ini konon berasal dari petuah para leluhur (yang disebut Doro Bololo, Dalil Tifa, serta Dalil Moro) yang hingga kini masih ditaati oleh masyarakat Ternate, terutama di lingkungan istana kesultanan.

Dibawah Kubah limas Masjid Sultan Ternate
Menurut keterangan Imam Masjid Sultan Ternate yang bergelar Jou Kalem atau Kadhi, larangan-larangan tersebut memiliki dasar aturan yang kuat. Sejak dahulu, masjid memang menjadi salah satu tempat yang dianggap suci dan harus dihormati oleh masyarakat Ternate. Larangan kaum hawa untuk beribadah di masjid ini didasarkan pada alasan untuk menjaga kesucian masjid, yaitu supaya tempat ibadah ini terhindar dari ketidaksengajaan perempuan yang tiba-tiba saja datang bulan (haid). Di samping itu, kehadiran perempuan ditengarai juga dapat memecah kekhusyukan dalam menjalankan ibadah di masjid ini.

Sementara larangan bagi jamaah yang memakai sarung atau pakaian sejenisnya didasarkan pada alasan yang bersifat tasawuf. Menurut kepercayaan mereka, posisi kaki pria ketika salat dengan mengenakan celana panjang menunjukkan huruf Lam Alif terbalik yang bermakna dua kalimat syahadat. Hal ini sebagai perlambang bahwa orang tersebut telah mengakui ke-Esa-an Allah dan Muhammad sebagai utusannya, sehingga jiwa dan raganya telah siap untuk melaksanakan ibadah salat. Oleh sebab itu, setiap pria yang akan melaksanakan ibadah wajib mengenakan celana panjang.

Untuk menegakkan tradisi tersebut, setiap datang waktu salat,  Balakusu (penjaga masjid) akan mengawasi setiap jemaah yang hendak memasuki masjid. Jika ada jamaah yang memakai sarung, maka akan ditegur dan disuruh mengganti dengan celana panjang. Jika tidak, maka jamaah tersebut disarankan untuk salat di tempat lain. Tak hanya wajib mengenakan celana, para jamaah juga diharuskan memakai penutup kepala atau kopiah. Hal ini agar para jamaah tidak terganggu oleh helai-helai rambut ketika sedang melakukan salat. Berbagai macam aturan ini berlaku tidak pandang bulu, sehingga harus ditaati oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk sultan dan para kerabatnya.  

Tradisi Malam Qunut dan Kolano Uci Sabea

Prosesi Kolano Uci Sabea
Salah satu tradisi yang setiap tahun diadakan di Masjid Sultan Ternate adalah Malam Qunut yang jatuh setiap malam ke-16 bulan Ramadhan. Dalam tradisi ini, sultan dan para kerabatnya dibantu oleh Bobato Akhirat (dewan keagamaan kesultanan) mengadakan ritual khusus yaitu Kolano Uci Sabea, yang berarti turunnya sultan ke masjid untuk salat dan berdoa.

Kolano Uci Sibea dimulai dari istana menuju masjid untuk melaksanakan salat Tarawih. Sekitar pukul setengah delapan waktu setempat, sultan akan ditandu oleh pasukan kesultanan menuju masjid dan diiringi alunan alat musik Totobuang (semacan gamelan) yang ditabuh oleh sekitar dua belas anak kecil yang mengenakan pakaian adat lengkap di depan tandu sultan. Konon, alat musik ini merupakan pemberian Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) kepada salah satu Sultan Ternate yang berguru kepadanya.

Sebelum salat Tarawih dilakukan, para muadzin yang terdiri dari empat orang, mengumandangkan adzan secara bersama-sama. Menurut sebagian orang, ini untuk mengingatkan masyarakat Ternate tentang empat Soa (kelurahan pertama) di daerah Ternate. Empat Soa ini yaitu Soa Heku (Kelurahan Dufa-Dufa), Soa Cim (Kelurahan Makassar), Soa Langgar (Kelurahan Koloncucu), dan Soa Mesjid sultan sendiri. Namun, ada juga yang percaya bahwa pengumandangan adzan oleh empat muadzin tersebut melambangkan empat kerajaan terkuat yang masih saling bersaudara di kawasan Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Keempat kerajaan ini dalam kepercayaan masyarakat setempat biasa disebut Moloku Kie Raha (pemangku empat gunung atau kerajaan).

Usai melaksanakan Tarawih, sultan akan pulang ke istana dengan ditandu kembali seperti ketika keberangkatannya ke masjid. Di istana sultan bersama permaisuri (Boki) akan memanjatkan doa di ruangan khusus, tepatnya di makam keramat leluhur. Usai berdoa, sultan dan permaisuri akan menerima rakyatnya untuk bertemu, bersalaman, bahkan menciumi kaki sultan dan permaisuri sebagai tanda kesetiaan. Tentu saja, pertemuan langsung antara sultan dan rakyatnya ini menarik minat masyarakat di seluruh Ternate dan pulau-pulau di sekitarnya.

Dalam satu tahun, ritual Kolano Uci Sabea dilaksanakan empat kali, antara lain pada Malam Qunut, Malam Lailatul Qadar (keduanya pada bulan Ramadhan), serta pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pelaksanaan Kolano Uci Sabea dilakukan secara turun temurun oleh setiap Sultan Ternate hingga kini. Menurut kepercayaan, dalam kondisi apapun Kolano (Sultan) memang harus melakukan Sabea (salat) di Sigi Lamo (Mesjid Sultan).  

Dihapusnya Tradisi larangan bagi perempuan

Ornamen Mimbar Masjid Sultan Ternate
Hari Rabu tanggal 16 September 2009 bertepatan dengan tanggal 26 Ramadhan 1430 Hijriyah, Kolano (Raja) Ternate, Sultan Mudaffar Sjah, menghapuskan satu tradisi lama Masjid Sigi Lamo, yaitu tradisi yang melarang muslimah untuk sholat di Masjid Sultan Ternate atau Sigi lamo. Dalam ritual Kolano Uci Sabea tahun 2009M / 1430H menyambut datangnya malam Ela-ela atau Lailatul Qadar di masjid Kesultanan Ternate, Sultan Mudaffar Sjah mengajak serta Boki (permaisuri) Nita Budhi Susanti untuk salat di Masjid Sigi Lamo.

Bukan hanya itu saja, jika sebelum-sebelumnya hanya kolano (sultan) yang ditandu dari Istana menuju masjid, malam itu Boki Nita Budhi Susasti pun ikut ditandu menuju masjid Sigi Lamo. Bersama ratusan ibu-ibu dan remaja putri yang mengusungnya, Nita menjadi jamaah wanita pertama di masjid tersebut.

Meskipun tindakan Sultan tersebut sempat menjadi kontroversi di tengah masyarakat Ternate, namun Sultan kukuh dengan pendiriannya untuk menghapus tradisi tersebut, dalam pernyataannya kepada wartawan dan masyarakat, sultan mengatakan bahwa sebagai muslim beliau berusaha sekuat tenaga untuk patuh kepada tuntunan Rasulullah Muhammad SAW. Menurut sunnah Rasulullah bahwa sesungguhnya kewajiban salat bukan hanya bagi pria saja tapi juga untuk wanita.***