Selasa, 04 Oktober 2011

Pusat Kebudayaan Islam Irlandia

Islamic Cultural Center of Ireland.

Pusat Kebudayaan Islam Irlandia atau The Islamic Cultural Centre of Ireland disingkat menjadi ICCI atau juga biasa disebut sebagai masjid Clonskeagh atau The mosque in Clonskeagh, masyarakat sekitar mengenalnya dengan nama Muslim National School (Sekolah Islam Nasional) karena memang berada di kawasan Clonskeagh, Dublin, Irlandia. Pembangunan Masjid dan Pusat kebudayaan Islam ini didanai oleh yayasan Al-Maktoum (Al-Maktoum Foundation) dari Dubai, Uni Emirat Arab. 

ICCI ini juga menjadi tempat berkantornya Dewan Eropa untuk Riset dan Fatwa - The European Council for Fatwa and Research (ECFR). Sebuah NGO yang berpusat di Dublin, didirikan pada tanggal 29-30 Maret 1997. Kepengurusan Dewan Eropa ini dipilih secara demokratis diantara para anggotanya yang terdiri dari para ulama dan cendekiawan muslim. Presiden ECRP saat ini dipegang oleh ulama dunia Yusuf Al-Qardawi. 

Lokasi dan Alamat ICCI 

19 Roebuck Road, Clonskeagh 
Dublin, County Dublin, Ireland, D14 

 

Islam di Irlandia 

Sejarah Islam tertulis di Irlandia dimulai pada tahun 1950-an. Jumlah muslim di Republik Irlandia terus berkembang sejak tahun 19901n meskipun sebagian besar dari muslim tersebut bukan warga Irlandia asli. 

Sejarah Islam di Irlandia 

Sejarah organisasi Islam di Irlandia memang sedikit rumit setidaknya karena muslim disana berasal dari berbagai latar belakang etnis. Komunitas Muslim pertama di Irlandia pertama kali dibentuk tahun 1959. Didirikan oleh sejumlah mahasiswa muslim yang belajar disana, organisasi tersebut bernama Dublin Islamic Society yang kemudian berubah nama menjadi Islamic Foundation of Ireland. 

Menara dan Kubah Masjid ICCO
Pada tahun itu belum ada satu bangunan masjidpun di Dublin. Para mahasiswa menggunakan tempat tinggal mereka dan kemudian menyewa sebuah hall untuk pelaksanaan ibadah sholat Jum’at. Masjid dan Islamic Center pertama di Irlandia dibika tahun 1976, menempati gedung berlantai empat di 7 Harrington street, Dublin. Diantara mereka yang begitu berjasa berkontribusi atas berdirinya masjid dan Islamic center pertama tersebut adalah (almarhum) Raja Faisal dari Arab Saudi. Dan kemudian di tahun 1981 kementrian social dan urusan Islam Kuwait mensponsori seorang imam tetap bagi masjid tersebut. 

Tahun 1983 dilaksanakan pembelian, pembangunan dan renovasi terhadap Masjid dan Islamic Center yang kini berdiri. Markas dan pusat kegiatan komunitas Islam lalu dipindahkan dari Harrington ke lokasi sekarang di 163 South Circular Road, Dublin. 

Sementara itu di kota Cork, masyarakat muslim disana menggunakan sebuah rumah di sebuah komplek perumahan sebagai tempat ibadah sambil menggumpulkan dana bagi pembangunan sebuah masjid permanen. Di tahun 1992 Moosajee Bhamjee menjadi muslim pertama dan satu satunya hingga saat ini yang menjadi anggota Teachta Dála (anggota parlemen Irlandia) 

Demografi dan latar belakang Etnis 

Merujuk kepada sensus penduduk Irlandia tahun 2006 lalu, jumlah muslim di Irlandia mencapai angka 32,536 jiwa. Angka tersebut meningkat sebanyak 69% dibandingkan dengan hasil sensus penduduk tahun 2002 yang hanya sebesar 19,147 jiwa. Sedangkan di tahun 1991 jumlah muslim disana baru mencapai angka di bawah 4000 jiwa. Ini sebuah perkembangan yang sangat menarik. 

Islam merupakan agama minoritas di Irlandia, Katolik Roma dan members of the Church of Ireland termasuk Protestan. Catatan sensus penduduk tahun 2006 menunjukkan bahwa pemeluk Katolik sebanyak 3,644,965, 118,948 Church of Ireland termasuk Protestan. Dilihat dari jumlah, pemeluk Islam di Irlandia sama sekali tidak signifikan, meskipun begitu muslim disana mengkalim bahwa Islam akan menjadi agama terbesar ketiga di Irlandia, meskipun saat ini jumlah muslim disana masih kalah jumlah dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mengaku tidak beragama yang mencapai 175,252 jiwa. Dan ditambah lagi dengan jumlah penduduk yang tidak mencantumkan agama dalam sensus tersebut mencapai 66,750 jiwa. 

Interior Masjid ICCI
Masih menurut sensus tahun 2001, di Irlandia utara terdapat komunitas muslim sebesar 1943 jiwa (terdiri dari 1164 jiwa pria dan 779 wanita). Komunitas muslim di Irlandia tidak saja kecil jumlahnya saat ini tapi juga tersebar dan jumlah tersebut sama sekalii tidak masuk dalam sejarah Negara tidak seperti yang terjadi di Inggris dan Prancis, dimana muslim disana sebagian besar merupakan imigran atau keturuan imigran dari bekas negeri jajahan atau seperti di Jerman dan Austria dimana pemeluk muslim disana merupakan mayoritas keturuan dari migrant Turki yang bekerja disana berikut keturunannya. 

Lebih dari 55% muslim di Irlandia berkebangsaan Negara Negara asia atau Afrika dengan 30.7% berkewarganegaraan Irlandia. Sensus tersebut juga menyebut bahwa 31,770 jiwa muslim yang tinggal di Irlandia, 9761 jiwa berkewarganegaraan Irlandia, 10,649 berkewarganegaraan Negara Negara Asia dan 6,909 berkewarganegaraan Negara Negara Afrika. 

Imigran muslim masuk ke Irlandia di era 90-an terkait dengan ledakan ekonomi Irlandia dan juga ditambah dengan para pencari suaka dari Negara Negara Muslim. wNamun kemudian seiring dengan menurunnya situasi ekonomi Negara tersebut sebagian imigran tersebut kembali ke Negara asalnya dan terjadi penuruan jumlah pemeluk Islam di Irlandia. 

Presiden Marry Robinson
Masjid Masjid dan Islamic Center di Irlandia 

  • The Islamic Cultural Centre of Ireland Clonskeagh, Dublin akan kita ulas dalam artikel ini.
  • The Dublin Mosque (dioperasikan oleh the Islamic Foundation of Ireland) berada di South Circular Road. Imam: Yayha Al Hussein;
  • Al-Mustafa Islamic Cultural Centre, Dublin 15 :Imam: Dr. Umar Al-Qadri
  • Muslim Association Forum, Ireland, berada di the Islamic Foundation of Ireland) di Dublin didirikan tahun 1999, dan mendapatkan satus sebagai badan social tahun 2001, organisasi yang menyatukan muslim berlatarbelakang Afrika untuk mengajarkan dan berbagi tentang Ilmu ke-Islaman.
  • Muslim Association of Ireland, Executive Director: Dr. Khaled Suliman
  • Belfast Islamic Centre, berdiri tahun 1977.
  • Ahlul Bayt Islamic Centre (Muslim Shi'ah), di Milltown, Dublin
  • Turkish Irish Educational dan Cultural Society Fethullah Gulen di Dublin, berdiri tahun 2004.
  • Masjid yang akan dibangun di Galway oleh muslim Ahmadiyah. Menjadi masjid pertama di Galway.
Tahun 2003, the Islamic Cultural Centre dan Foras na Gaeilge bergabung bersama sama menterjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Irlandia untuk pertama kali nya. 

Sheikh_Hamdan_bin_Rashid_Al_Maktoum
Tahun 2006 organisasi yang memayungi Muslim di Irlandia berdiri, bernama Dewan Imam didirikan pada bulan September 2006 lalu. Organisasi ini berisikan 14 Imam di Irlandia baik dari Suni maupun Shiah. Organisasi ini diketuai oleh Imam Hussein Halawa dari ICCI. Sedangkan wakil ketuanya dipegang oleh Imam Yahya Al-Hussein (Islamic Foundation of Ireland). Imam Dr. Umar Al-Qadri (Al-Mustafa Islamic Cultural Centre Dublin 15), Imam Salem (Cork Mosque), Imam Khaled (Galway Mosque) and Imam Ismael Khotwal (Blackpits Mosque) berada di jajaran anggota pendiri organisasi tersebut. 

Organisasi Mahasiswa Muslim di Universitas 

Ada beberapa organisasi Mahasiswa Muslim di seluruh Irlandia khususnya di beberapa universitas utama negeri itu diantaranya di UCD, TCD, UCC, NUIG, ISSNI Queen's Belfast, RCSI, DCU, DIT, IT Tralee, IT Tallaght, IT Blanchardstown, DBS. 

Interior Masjid Islamic Culural Centre of Ireland.

Acara acara tahunan termasuk diantaranya yang diselenggarakan secara regular (termasuk halaqoh dan kelas bahasa), kegiatan social (Food festivals), Idul fitri dan Idul Adha, Charity week, Olahraga, acara Akademis termasuk kuliah umum, kursus, konfrensi dan seminar, debat intelektual dan kampanye Islam untuk membangkitakan kesadaran tentang hokum Islam. 

Organisasi Mahasiswa di Irlandia dipayungi oleh sebuah organisasi paying bernama The Federation of Students Islamic societies (FOSIS) Ireland. Di didirkkan pada pergantian melenium lalu (tahun 2000). Organisasi ini menjadi penyatu dan mewakili kepentingan seluruh organisasi mahasiswa seluruh Irlandia untuk berkonstribusi secara positif dan aktif bagi Irlandia secara keseluruhan. Berikut beberapa organisasi mahasiswa Islam di Universitas Universitas ternama di Irlandia dan tahun pendiriannya.
  • UCD ISOC berdiri tahun 1991 
  • TCD MSA berdiri tahun 1998 
  • RCSI ISOC berdiri tahun 1999 
  • DIT ISOC berdiri tahun 2004 
  • IT Tralee berdiri tahun 2008, dan 
  • IT Blanchardstown didirikan tahun 2009 
Interior Masjid Islamic Culural Centre of Ireland.

Sejarah ICCI 

Tahun 1992 Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum, wakil Gubernur Dubai yang juga menjabat sebagai menteri keuangan dan industri Uni Emirat Arab, setuju untuk membiayai pembelian sebidang lahan termasuk membangun bangunan di atasnya untuk gedung sekolah dan kemudian juga setuju untuk mendanai pembangunan Islamic Center di area yang sama. Saat itu penduduk muslim di seluruh Irlandia ada sekitar 4000 jiwa. 

Pembangunan ICCI dimulai pada tahun 1994 dan secara resmi dibuka pada tanggal 16 November 1996 oleh presiden Irlandia, Marry Robinson dan Sheikh Hamdan bin Rashid Al Maktoum. Berada di sebelah University College Dublin. Masjid dan pusat kebudayaan ini terdiri dari Ruang sholat utama, Rumah Makan, perpustakaan, ruang rapat, ruang laundry, Sepuluh apartemen, kantor administrasi dan ruang toko. Di komplek ini juga dibangun sekolah dasar Islam. 

Papan nama ICCI dipasang di sisi gerbang utamanya.

ICCI dirancang oleh kantor arsitek Irlandia, Michael Collins & Associates. Denah lokasinya didasarkan pada bentuk petakan yang kemudian dibagi ke dalam 9 petakan yang lebih kecil dan bangunan masjid diletakkan di bagian tengah. Konstruksi bangunan nya menggunakan rangka baja dan bata sedangkan detil bangunan menggunakan baja stenlis (stainless steell). 

Arsitektural ICCI 

Bangunan Pusat Kebudayaan Islam Irlandia (ICCI) terdiri dari 5 bagian yang saling terhubung satu dengan yang lain nya dengan koridor. Bangunan masjid nya berdiri menjulang di bagian tengah dari komplek ICCI mengokojkan jatidirinya sebagai jantung dari komunitas muslim. Lengkungan yang dibuat khusus dari batu pualam hitam menjadi penanda tiga pintu masuk utama ke masjid ICCI. Dua diantaranya langsung mengarah ke tangga masuk ke masjid. 

Aerial view ICCI.

Kawasan hijau mendominasi kawasan ICCI. Masjid ICCI ini memang dibangun dengan arsitektural masjid universal lengkap dengan kubah dan menara. Menara dan kubah masjid ini benar benar menjadi pusat padangan mata komplek ini. di ujung puncak tertinggi menara dan di puncak kubah masjid diletakkan lambang bulan sabit yang menjadi lambang dunia Islam. 

Interior masjid ICCI cukup sederhana namun elegan. Di ruang tengah masjid ini tergantung lampu hias yang cukup indah menggantung di sisi dalam kubah masjid. Ruangan masjid di lapisi dengan karpet bewarna hijau dan krem. Dinding bagian dalam dihias dengan ukiran kaligrafi alqur’an. Demikian juga dengan pintu kayu, lapik pilar yang terbuat dari pualam dan layar dari metal yang menutup jendela. 

Suasana sholat Idul Fitri di ICCI.

Di atas mihrab masjid ini dihias dengan kaligrafi dari kalimat dua sahadat. Mimbar untuk khatib ditempatkan dibagian kanan di dalam ruang mihrab. Dan tak ketinggalan juga ditempatkan satu set jam penunjuk lima waktu sholat. Lantai dua atau balkoni masjid ini dikhususkan bagi jemaah wanita. Bagian balgoni ini dihias dengan kaca hias yang umum dipakai di kebanyakan masjid. Tempat wudhu di masjid ini pun dipisahkan antara tempat wudhu pria dan wanita. 

Aktivitas dan Organisasi 

Direktur Executive ICC dijabat oleh Nooh Al Kaddo, yang berasal dari Iraq, beliau pindah dari Liverpool ke Dublin tahun 1997 untuk menjalankan Islamic Center ini. Sedangkan Imam dari ICCI ini dijabat oleh Hussein Halawa, beliau datang ke Irlandia dari mesir tahun 1996 dan juga merangkap jabatan sebagai Ketua Dewan Imam Irlandia. 

ICCI ini menyelenggarakan Sekolah Islam Nasional (the Muslim National School). Sebuah sekolah dasar Islam negeri dengan berbasis pendidikan Islam dengan sekitar 260 orang murid. Sedangkan departemen Agama disana dengan disponsori oleh Yayasan Al-Maktoum menyelenggarakan konsfrensi Harun Yahya di ICCI ini pada bulan Februari 2008 yang lalu.***

Senin, 05 September 2011

Masjid Agung Karawang (bagian II)

Pelataran depan masjid Agung Karawang.

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya Masjid Agung Karawang (bagian I) klik untuk kembali ke bagian I

Renovasi, Perbaikan dan pembanguan Masjid Agung Karawang

Adipati Singaperbangsa Bupati Karawang (memerintah 1633-1677M), semula berkantor di daerah Udug-udug. Kemudian karena berbagai pertimbangan, ia memindahkannya ke pelabuhan Karawang. Di tempat ini telah ada pasar, masjid Agung, dan sarana penunjang lain, termasuk pelabuhan itu sendiri yang memperlancar kegiatan lalu lintas perdagangan, pemerintah, dan sebagainya. di dekat masjid Agung dibangun alun-alun yang ditanami 2 pohon beringin di bagian kanan kirinya, kantor dan pendopo kebupaten, kantor keamanan dan tempat tahanan. Adipati Singaperbangsa memperindah bangunan masjid dan direnovasi diselaraskan dengan kantor kabupaten yang baru dibangun.

dari balik terali pagar alun alun.
Bupati Karawang pada waktu itu merupakan bawahan dari Sultan Agung yang bertekad untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa dan sekitarnya dan Karawang dipersiapkan menjadi pusat penyerangan tentara Mataram terhadap kedudukan tentara VOC /Kompeni di Batavia, dan Karawang juga menjadi lumbung padi sebagai pusat logistik dari peperangan tersebut. Hampir selama 44 tahun Adipati Singaperbangsa melaksanakan tugas pemerintahannya dengan memfungsikan masjid Agung Agung Karawang sebagai tempat ibadah dan memotivasi masyarakat agar berperan serta dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraannya.

Adipati Singaperbangsa wafat pada tahun 1677 M dan dimakamkan di Manggung Ciparage , tiga Bupati penerusnya masing masing Panatayuda I,II dan III tidak berkantor di Babakan Kartayasa, dan tidak melanjutkan perbaikan terhadap Masjid Agung Karawang. Raden Anom Wirasuta atau Panatayuda I (menjabat 1677 - 1721 M) berkantor di Waru dekat Loji, Pangkalan. Raden Martanegara atau Panatayuda III (menjabat 1732 - 1752 M) juga berkantor di Waru Pangkalan

Pada masa Bupati Karawang V yaitu Raden Muhamad Soleh atau Panatayuda IV (memerintah 1752 - 1786M), Kantor bupati dipindahkan kembali ke Babakan Kertayasa. Bupati V  ini, dikenal sebagai dalem nalon. Bupati ini mendapat kehormatan "naik nalon". Dari pemerintahan Kolonial Belanda, dan pada waktu itu hal tersebut  jarang terjadi. Ia termasuk pembina Masjid Agung, dan waktu meninggal Dunia ia dimakam kan dekat Masjid ini, tahun 1993 atas persetujuan para sesepuh, kerangka jenazahnya dipindahkan dan dimakamkan kembali di komplek makam Bupati Karawang di Desa Manggung Jaya Cilamaya. 

puncak atap limas Masjid Agung Karawang
Masa Penjajahan Kolonial Belanda

Sejak masa Bupati Karawang VI  sampai Bupati Karawang IX yakni antara tahun 1786 - 1827, tidak ada petunjuk dilakukannya perbaikan yang berarti apalagi perluasan bangunan dan sebagainya. Sebab sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai bupati XXI atas kebijakan pemerintahan Kolonial Belanda tidak lagi berkantor di kota Karawang melainkan ke Wanayasa dan Purwakarta, Sehingga dapat dipahami apabila para Bupati yang berkedudukan di Wanayasa dan Purwakarta perhatiannya kurang terhadap pembinaan Masjid Agung secara langsung, kemunginan dipercayakan kepada wedana atau camat yang bertugas di kota Karawang
.
Masa kemerdekaan

Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950 tentang pembentukan daerah daerah Kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat maka kabupaten Karawang terpisah dari kabupaten Purwakarta dan Ibukotanya kembali di Karawang. Sedangkan Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah tahun 1950 - 1959, pada tahun 1950 atas persetujuan para Ulama dan Umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada arah bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 m ditambah menara ukuran kecil dan satu Kubah ukuran  3 x 3 m dengan tinggi 12 m, atap dari seng adapun luas tanah mesjd termasuk makam adalah 2.230 m.

Bangunan Masjid agung karawang yang kini kita lihat berdiri megah di pusat kota Karawang adalah bangunan hasil pembangunan yang diresmikan pada tanggal 28 Januari 1994 oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. Tercatat dalam prasasti pembangunan ucapan terima kasih kepada 4 perusahaan yang berkonribusi pada pembangunan masjid ini masing masing (1) PT. Bintang Puspita Dwi Karya, (2) PT. Argo Pantes, (3) PT. Astakona Megahtama dan (4) PT. Bestland Pertiwi. Prasasti tersebut ditandatangani oleh Bupati Karawang H. Sumarno Suradi dan Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Jamil Sfiuddin. Sedangkan bangunan menara yang menjulang tinggi di depan masjid diresmikan oleh Bupati Karawang H. Dadang S Muchtara pada tanggal 11 Agusutus 2006.

Kaligrafi ukuran besar di Masjid Agung Karawang.

Arsitektur Masjid Agung Karawang

Sejatinya masjid Agung Karawang dibangun dalam arsitektur khas Indonesia dalam skala yang lebih besar, dengan atap limas bersusun tiga dengan empat sokoguru utama menopang atap masjid. Plafon masjid dibiarkan terbuka untuk member ruang bagi masuk nya cahaya matahari ke dalam ruang masjid dan bagi kepentingan sirkulasi udara. Bagian dalam masjid dibangun dua lantai berbentuk mezanin member ruang terbuka cukup luas dibagian depan masjid bagi jemaah di lantai dua untuk dapat melihat ke lantai utama masjid.

Di tiga masjid berdiri kokoh masing masing 6 pilar bundar cerminan enam rukun Islam. Dan ketiga sisi masjid agung ini dibangun dengan dinding berkerawang / berongga memungkinkan sirkulasi udara secara alami dan keindahan tersendiri bagi bangunan masjid ini. di sisi selatan masjid berdiri gedung remaja masjid dan tempat bersuci. Sedangkan disisi mihrab lantai dua juga difungsikan sebagai kantor pengelola masjid.

Sisi Mihrab, masjid agung Karawang.
Pada sisi mihrab dibagian kiri dan kanannya terikir indah kaligrafi Allah dan Muhammad dalam ukuran besar. Kaligrafi Al-qur’an juga terlukis indah di sisi kiri dan kanan dinding masjid bagian dalam. Kaligrafi dan lukisan geometris turut memperindah sisi migrab masjid ini.

Layaknya masjid khas Indonesia. Disisi selatan masjid ini juga berdiri bangunan kecil terpisah dari masjid sebuah bangunan tempat menyimpan dua buah beduk dalam ukuran besar lengkap dengan kentongan yang juga dalam ukuran besar. Masjid agung yang begitu megah dan besar ditambah dengan pelataran depan yang sudah dilapis dengan keramik ini begitu meriah selama bulan Ramadhan. Terutama di dua hari raya Islam, jemaah masjid ini membludak hingga ke alun alun dan jalan raya disekitar nya. Subhallah sebuah pemandangan yang begitu indah.

Mihrab dan mimbar Masjid Agung Karawang.
Jendela dan dinding sisi selatan
Interior masjid agung Karawang.
Suasana Lantai Dua Masjid Agung Karawang.
Pelataran Masjid

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Minggu, 04 September 2011

Masjid Agung Karawang (bagian I)

Masjid Agung Karawang berdiri di kawasan alun alun kabupaten Karawang, disekitar alun alun di depan masjid ini banyak terdapat warung berbagai jenis kunliner.


Berdiri megah di kawasan alun alun kota Karawang, masjid Agung Karawang menyimpan sebuah sejarah panjang penyebaran Islam di wilayah propinsi Jawa Barat. Sejarah masjid agung ini tidak dapat dilepaskan dari peran Sheikh Quro, yang bernama asli Sheikh Hasanuddin, seorang ulama besar yang begitu berjasa bagi masuk dan berkembangnya syiar Islam di wilayah Karawang khususnya dan propinsi Jawa Barat umumnya. Bangunan masjid yang kini berdiri megah itu memang bukan lagi bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh Sheikh Quro. Renovasi, perbaikan hingga pembangunan kembali oleh para Bupati Karawang tempo dulu hingga para bupati di era Kemerdekaan turut andil dalam mempermegah dan memperindah masjid bersejarah ini.

 

Lokasi Masjid Agung Karawang

 

Jalan Brigadir Jenderal Polisi Nasuha
Telukjambe, Karawang, Indonesia





Karawang, Tarumanagara, Padjajaran dan Sheikh Quro


Nama Karawang berasal dari Bahasa Sunda Karawa-an, adalah Nama suatu kesatuan wilayah dan juga nama salah satu pelabuhan yang terletak ditepi kali Citarum pada masa pemerintahan Kerajaan Pajajaran.  Sebagai suatu Wilayah, Karawang sudah memegang peranan penting pada masa Pemerintahan kerajaan Tarumanegara yang berkuasa pada abad IV - VI M.  Tim Arkelogi Nasional  yang melakukan penelitian sejak tahun 1952 sampai sekarang, banyak menemukan peninggalan kerajaanTarumanegara seperti bekas bangunan candi dan lain-lainnya di sekitar Desa Seragan, Batu Jaya dan Desa Cibuaya. Demikian juga adanya nama Pataruman sebuah kampung di dekat Rengasdengklok, diduga bakas salah satu pelabuhan Tarumanegara.

Kala itu pelabuhan Karawang menjadi pelabuhan penting di kerajaan Tarumanegara hingga era kerajaan Padjajaran. Posisi Karawang yang berada di sepanjang kali Citarum yang merupakan jalur utama perdagangan di kawasan tersebut menjadikan nya teramat penting pada era Padjajaran sama pentingnya dengan pelabuhan Banten, Bekasi, dan Sunda Kelapa. Pentingnya peranan pelabuhan Karawang, bukan saja pada masa pemerintahan Pajajaran dari abad VIII sampai abad XVI  M, yakni hampir 800 tahun, akan tetapi sampai juga masa pemerintahan Sultan Agung Mataram yang telah mengangkat  Bupati Karawang pertama Adipati Singaperbangsa dan Aria Wirasaba. Bahkan sampai berakhirnya masa pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

Sisi depan Masjid Agung Karawang, menghadap ke Alun Alun.

Pelabuhan Karawang dengan kesibukan seperti dijelaskan itulah, rombongan Syeh Quro dengan 2 perahunya singgah kesana. Syekh Quro atau yang bernama asli Syekh Hasanudin yang datang dari Champa (Kamboja) dan mendirikan pesantren pada tahun 1418 M pada saat kunjungan yang ke dua di pulau Jawa dan memulai menyebarkan Islam di kawasan tersebut Mushola yang dibangun oleh Syekh Quro inilah yang kini kita kenal sebagai masjid Agung Karawang.

Sheikh Quro, Masjid Agung Karawang dan Keruntuhan Padjajaran

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syeh Quro menyampaikan Da'wahnya di Musholla yang dibangunnya penuh keramahan. Uraiannya tentang Agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan,  Karena Ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al Qur'an  memberikan daya tarik tersendiri, karena Ulama Besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatkan masuk Islam.

Menara Masjid diresmikan tahun 2008.
Dakwah Syeikh Quro di Karawang ini terdengar Prabu Angga Larang yang pernah melarang Syeikh Quro melakukan kegiatan yang sama  ta'kala mengunjungi pelabuhan  Muara Jati Cirebon, ia mengirim utusan yang dipimpin oleh putera mahkotanya yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syeh Quro. Namun ta'kala Raden Pamanah Rasa ini tiba di tempat tujuan, hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al Qur'an yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Karancang.

Raden Pamanah Rasa mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Karancang. Lamaran tersebut diterima dengan syarat mas kawinnya harus "Bintang Saketi" yaitu simbol dari "tasbeh" yang berada di Negeri Mekah. (Sumber lain menyatakan bahwa, hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu harus masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam). Selain itu, Nyi santri juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan-nya kelak harus ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, dan beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, di mushola Pesantren Syeikh Quro dan Syeh Quro sendiri yang bertindak sebagai penghulunya. Raden Pamanah Rasa setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran kemudian bergelar Prabu Siliwangi.

Perkawinan di musholla yang senantiasa mengagungkan asma Allah SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar. Dari pernikahan tersebut lahirlah putera bernama Raden Walangsungsang, lalu seorang puteri bernama Raden Nyi Rara Santang dan putra bungsu bernama Raden Kian Santang.

Setelah melewati usia remaja, bersama adiknya Raden Nyi Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran untuk mendapat bimbingan dari Ulama Besar yang bernama Syeh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Sedangkan Raden Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Mubaligh dan menyebarkan Agama Islam di daerah Garut.

Setelah kakak beradik Raden Walangsungsang dan Nyi Rara Santang menunaikan ibadah Haji, Raden Walangsungsang  memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang (Cirebon) bergelar Pangeran Cakrabuana . Sedangkan Raden Nyi Mas Rara Santang waktu di Mekah diperistri oleh Sultan Mesir, Syarif Abdillah. Raden Nyi Rara Santang kemudian diganti namanya menjadi Syarifah Muda’im.

Dari pernikahan Raden Nyi Mas Rara Santang dengan Syarif Abdillah, mereka dikaruniai dua orang putera masing-masing bernama Syarif Hidayatullah, dan Syarif Nurullah. Setelah ayahnya meninggal dunia jabatan sultan diserahkan kepada Syarif Nurullah, sebab Syarif Hidayatullah setelah menimba ilmu Agama yang luas dari para Ulama Mekah dan Bagdad, ia bertekad untuk menjadi Mubaligh di Cirebon.

Tahun 1475, Syarif Hidayatullah bersama ibundanya berlayar ke Cirebon, setibanya disana disambut dengan suka cita oleh Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat atau pangeran Walangsungsang yang tak lain adalah kakak tertua dari ibundanya. Syarif Hidayatullah kemudian dipercaya untuk menggantikan Pangeran Cakraningrat untuk memimpin negeri Caruban, dengan gelar Susuhunan atau Sunan. Syarif Hidayatullah ini yang kemudian kita kenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Reka gambar wajah Sunan Gunung Jati.
Pengangkatan Syarif Hidayatullah tersebut mendapat dukungan terutama dari Raden Fatah, Pemimpin Pesantren dan Sunan Bintoro, putera Raja Majapahit Brawijaya V, yang diangkat menjadi Sultan Kerajaan Islam Demak I. Dalam rangka pembangunan Mesjid Agung Demak, Sunan Cirebon diundang untuk menetapkan kebijaksanaan tentang penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Sidang para Sunan yang dikenal Wali Songo itu juga menetapkan bahwa Syarif Hidayatullah diangkat menjadi ketua atau pimpinan dari Wali Songo, dengan gelar Sunan Gunung Jati.

Sejarah Nasional kita mencatat bahawa pasukan gabungan kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak dibawah pimpinan Fatahillah berhasil mematahkan kekuasaan Portugis di Sunda Kelapa, kemudian berubah nama menjadi Jayakarta, Batavia dan kemudian menjadi Jakarta yang kini kita kenal. Keturunan Sunan Gunung Jati juga yang kemudian mendirikan kesultanan Banten dan secara tuntas menghapus sisa sisa kekuasaan Pajajaran, ketika tahun 1579 Syeh Yusuf, Putera Sultan Hasanuddin atau cucu Sunan Gunung Jati melumpuhkan secara total sisa sisa kekuatan Pajajaran. Peristiwa heroik penaklukan Sunda Kelapa oleh gabungan pasukan Demak dan Cirebon terhadap pasukan Portugis itu kini setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Kota Jakarta.

Sejarah besar itu bermula dari mushola kecil sheikh Quro yang kini menjadi Masjid Agung Karawang. Apa yang dikatakan Sheikh Quro bahwa keturunan pajajaran kelak akan ada yang menjadi Waliullah dan permohonan Nyi Subang Karancang (Subang Larang) agar keturunannya dari perkawinan dengan Prabu Siliwangi ada yang menjadi raja, pun ahirnya terwujud.

Bersambung ke bagian II


Menara Masjid Agung Karawang diresmikan tahun 2008.
Sisi depan masjid dilengkapi dengna jejeran anak tangga dari dan ke pelataran.
Dari arah alun alun.
Enam Pilar Masjid Agung Karawang.
Interior Masjid Agung Karawang.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.

Senin, 29 Agustus 2011

Masjid Ibnu Tulun, Kairo, Mesir

Aerial View Masjid Ibnu Tulun, Kairo, Mesir.

Masjid Ibnu Tulun atau Masjid al-Mayden, Masjid Maydan, atau Masjid Ahmad Ibn Tulun, dibangun pada tahun 876-879 dimasa pemerintahan Ahmad Ibn Tulun, penguasa Mesir pertama dari dinasti Ibnu Tulun yang berkuasa di Mesir selama 135 tahun. Masjid yang sudah berumur ratusan tahun namun cukup terawat baik ini menjadi salah satu peninggalan masa kejayaah Islam di Mesir. Masjid ini juga menjadi masjid tertua kedua di Mesir setelah masjid Amr Bin Ash. Dan kini menjadi salah satu daya tarik utama para wisatawan lokal dan manca Negara di Kairo. Dari sisi arsitektur masjid ini hampir sama dengan masjid agung Samarra di Irak, karena memang Ahmad Ibn Tulun berasal dari Kota Samarra. Meski kini masjid Agung Samarra tinggal reruntuhan, kehadiran masjid Ibnu Tulun di Kairo ini dapat memberikan gambaran detil tentang masjid tersebut.

Alamat dan Lokasi Masjid Ibnu Tulun

Masjid Ibnu Tulun berada di tengah tengah kawasan Al-Qatai yang merupakan bekas kota keluarga kerajaan dinasti Ibnu Tulun, Al-Qatai berada sekitar dua kilometer dari wilayah kota tua Al-Fustat. Di Al-Basatin, al-Saliba Street, Kairo, Mesir


Sejarah Masjid Ibnu Tulun

Masjid ini dibangun oleh Ahmad Ibn Tulun (berkuasa tahun 868–884 ) pada tahun 876M dan selesai tahun 879M. Ahmad Ibn Tulun yang dikenal sebagai pendiri Dinasti Tulun di Mesir, merupakan putra dari seorang budak semasa pemerintahan Khalifah Alma’mun dari dinasti Abbasiah,. Beliau lahir di Baghdad (Irak) pada bulan Ramadhan 200H (September 835M). Beliau dikirim ke Mesir tahun 868 sebagai gubernur Al-Fustat, Dalam dua tahun beliau menjadi Gubernur bagi seluruh negeri Mesir menggantikan ayah angkatnya yang wafat di tahun 870M.

Beliau kemudian menolak mengirimkan upeti tahunan ke pemerintahan Abasiah dan bahkan membentuk propinsi merdeka dibawah pemerintahannya sendiri lepas dari pemerintahan Khalifah Abbasiah, Dinasti Tulun kemudian memerintah di Mesir selama 135 tahun hingga tahun 905M. Semasa berkuasa Ahmad Ibn Tulun mendirikan kota kerajaan di atas bukit batu yang disebut Jabal Yashkur (bukit Syukur) dekat dengan kawasan Muqattam di Timur laut Al-Fustat, proses pembangunan kawasan baru tersebut turut menggusur pemakaman Kristen dan Yahudi yang berada di perbukitan tersebut.

Salah satu vocal point dari masjid Ibnu  
Tulun, adalah menara spiralnya ini
Kawasan perbukitan tersebut memiliki begitu banyak legenda masa lalu yang melekat padanya diantaranya adalah : di kawasan ini dipercaya bahwa bahtera Nabi Nuh mendarat setelah banjir besar, dan di bukit itu pula dipercaya sebagai tempat ketika Tuhan berbicara langsung kepada Nabi Musa dan berhadap hadapan dengan para penyihir Fir’aun. Tak jauh dari tempat tersebut juga terdapat tempat bernama Qal'at al-Kabsh, dipercaya sebagai tempat Nabi Ibrahim siap untuk mengorbankan putra tercintanya Nabi Ismail. Kota baru yang dibangun oleh Ahmad Ibn Tulun tersebut diberi nama al-Qata'i', yang merupakan lokasi tempat tinggal nya para pengikut setia Ahmad Ibn Tulun.

Di tengah tengah kawasan kota kerajaan yang dibangunnya itu dibangun masjid Ibnu Tulun. Masjid tersebut dibangun menggantikan Masjid Amr yang terlalu sempit untuk menampung pasukan dan para pengikut Ibnu Tulun yang begitu besar. Tahun 905 ketika dinasti Abbasiah mengambil alih kembali kendali atas wilayah Mesir, kerajaan tersebut dihancur leburkan hingga rata dengan tanah. Dari kehancuran tersebut tersisa bangunan masjid yang berada di tengah tengah lokasi bekas kota kebanggaan Ahmad Ibnu Tulun tersebut.

Istana Ibnu Tulun yang diberi nama Dar Al-Imara terhubung langsung dengan masjid pada sisi kiblat, disediakan pintu khusus disamping mimbar sebagai akses khusus bagi Ibnu Tulun ke dalam masjid. Masjid ini digunakan oleh dinasti Fatimiyah untuk acara acara selama bulan suci Ramadhan. Juga sempat mengalami kerusakan semasa digunakan sebagai persinggahan bagi para jemaah dari Afrika Utara ke Hijaz (kini Saudi Arabia) di abad ke 12. Namun kemudian di restorasi dan dibangun kembali dengan fungsi sebagai madrasah oleh 'Alam al-Din Sanjar al-Dawadar atas perintah dari penguasa Dinasti Mamluk, Sultan Lajin, pada tahun 1926M. (Sultan Lajin adalah orang yang turut bersekongkol dalam pembunuhan Sultan al-Ashraf Khalil ibn Qalawun, saat dia bersembunyi di dalam masjid dia berjanji dalam hati akan merestorasi masjid tersebut bila dia selamat).

Halaman tengah Masjid Ibnu Tulun.

Arsitekural Masjid Ibnu Tulun

Masjid Ibnu Tulun keseluruhannya seluas 2,6 hektar. (Ukuran yang jauh lebih luas dari satu lapangan sepak bola) Dengan dimensi 162m x 162 m. sedangkan bangunan masjid nya sendiri berukutan 140m x 116m, Ukuran tersebut sudah termasuk pelataran masjid di bagian tengah seukuran 90m x 90m. dengan ukuran sebesar itu masjid Ibnu Tulun ini setara dalam luasnya dengan Masjid Agung Damaskus yang dibangun dimasa Khekhalifahan Bani Umayyah di Syria.

Secara kasat mata masjid Ibnu Tulun mencerminkan arsitektural Samarra, kampung halaman Ahmad Ibnu Tulun di Irak. Reka bentuk hingga bentangan masjid ini sangat mirip dengan masjid agung Samarra yang kini tinggal puing dan tidak difungsikan lagi. Bahkan bangunan menara pertama masjid Ibnu Tulun inipun dibangun dalam bentuk spiral seperti bangunan menara pada Masjid Agung Kota Samarra, Irak. Sebelum kemudian mengalami perubahan bentuk setelah beberapa kali renovasi oleh para penguasa setelah beliau.

Masjid Ibnu Tulun.

Keseluruhan bangunan masjid dibangun menggunakan bata merah yang kemudian diperindah dengan ukiran lapisan plester semen, ukiran dalam bentuk yang berliku liku dengan atap ditopang oleh arcade diatas pilar pilar besar. Menara batu berbentuk spiral di bagian tengah masjid dengan Mabkhara finial (bentuk kubah bertulang di atas struktur octagonal) dibangun oleh ulang oleh Sultan Lajin tahun 1296.

Tempat wudhu yang dibangun di lokasi bangunan fawara (pancuran air) dibangun oleh Ibnu Tulun dan kemudian hancur dalam kebakaran thaun 986. Bangunan tersebut penuh dengan dekorasi merupakan gedung terpisah berupa pavilion yang terdiri dari kubah yang ditopang oleh kolom kolom batu pualam bersepuh emas. Fasilitas bersuci ini aslinya dibangun bersama dengan klinik berada di dalam ziyada untuk kepentingan higinitas.

Mihrab masjid Ibnu Tulun.
Apa yang kini tersisa dari atap ruangan di belakang mihrab yang ditopang dengan tiang tiang kayu, merupakan elemen setempat yang banyak dijumpai di berbagai bangunan di Afrika Utara dan wilayah Andalusia (kini Spanyol). Pengaruh Andalusia juga terdapat pada penggunakan lengkungan ganda, tapal kuda pada jendela dan poros bangunan menara. Pengaruh arsitektutal Andalusia ini dikarenakan danya pemukim muslim Andalusia di wilayah Mesir kala itu, mereka merupakan para pengungsi yang terusir dari Andalusia oleh penaklukan Kristen tahun 1212-1260. Keseluruhan dinding mihrab masjid ini dihiasi dengan ukiran berbahan plester semen dan kayu serta mozaik kaca pada bagian atas dan panel manner pada bagian bawah mihrab. Pada bagian atas mihrab terpahat tulisan dua kalimat syahadat menggunakan gaya tulisan kaligrafi Kufi.

Di dalam ruang sholat utama di bagian dalam masjid yang menghadap langsung ke arah mihrab, terdapat lima baris pilar yang membentuk kendali ruangan. Makan terdapat lima baris ruangan yang terbentuk di antara pilar pilar tersebut secara parallel terhadap mihrab mulai dari garis batas shaf terdepan. Barisan pilar parallel tersebut mengakomodir sebanyak 80 tiang yang melintang satu sama lain nya menopang lengkungan lengkungan identik satu sama lain di atasnya.
Halaman tengah Masjid Ibnu Tulun.

Seperti masjid-masjid lain yang dibangun pada masa Dinasti Abbasiyah, di tengah-tengah Masjid Ibnu Tulun terdapat sebuah halaman (courtyard) yang sangat luas. Luasnya melebihi ruangan masjid itu sendiri. Keberadaan halaman yang luas ini membuat suasana di dalam masjid terasa sangat sejuk, karena sirkulasi udara yang baik. Bagian courtyard ini dikelilingi oleh serangkaian serambi dengan atap yang melengkung. Di bagian tengah halaman terdapat sebuah bangunan dengan kubah besar. Bangunan berkubah tersebut adalah sebuah sumur, yang biasa dipergunakan sebagai tempat untuk mengambil air wudhu. 

Bangunan Masjid Ibnu Tulun terdiri atas koridor-koridor panjang yang disangga oleh pilar-pilar artistik dengan ornamen pahatan ayat-ayat Alquran. Pilar-pilar tersebut terbuat dari batu bata yang diplester dengan semen. Koridor-koridor yang terdapat pada masjid ini sebenarnya mengadopsi bentuk bangunan gereja di Kairo pada masa itu. Lampu gantung yang khas juga bisa ditemui di sepanjang langit-langit koridor. 

Menara spiral

Ciri khas dari Masjid Ibnu Tulun ini adalah menara spiral yang ada di bagian belakang masjid. Arsitektur menara berbentuk spiral ini juga dapat ditemui pada bangunan Masjid Agung Samarra di Irak. Berbeda dengan menara Masjid Agung Samarra yang terpisah dengan bangunan utama, menara spiral yang terdapat pada masjid Ibnu Tulun ini justru menyatu dengan bangunan masjid. Bahkan, untuk menaiki menaranya, setiap orang bisa melakuannya setelah naik ke lantai dua. 

Tembok Masjid Ibnu Tulun yang khas.

Caranya, saat keluar dari pintu utama masjid, berjalanlah ke arah belakang untuk naik ke menara spiral yang ada di luar masjid. Dari sini ada tangga menuju lantai atas masjid sekaligus ke menara spiral. Lantai atas masjid merupakan ruang terbuka yang sangat luas, tanpa pembatas atau pagar yang mengitarinya. Karena itu, harus berhati-hati jika berjalan menuju ke tengah untuk melihat courtyard dari atas jika tidak ingin jatuh ke lantai dasar. 

Menaiki tangga menara spiral membutuhkan tenaga ekstra. Dan seperti lantai atas masjid, tangga spiral inipun hanya diberi pagar yang cukup pendek. Mungkin aspek keamanan belum menjadi salah satu pertimbangan arsitek-arsitek zaman dulu. Sampai di atas, kita bisa melihat pemandangan di sekitar Masjid Ibnu Tulun. Bagian courtyard Masjid Ibnu Tulun juga terlihat lebih cantik dari atas. 

Beberapa fitur khas Masjid Ibnu Tulun.

Sebelum pintu keluar, ada sebuah museum bernama Gayer Anderson Museum. Bangunan museum ini dulunya menapakan rumah tinggal seorang Jenderal berkebangsaan Inggris bernama RG John Gayer-Anderson. Jenderal Anderson beserta seluruh anggota keluarganya tinggal di sana hingga 1942. Bangunan Masjid Ibnu Tulun dan Museum Gayer Anderson ini pernah dijadikan sebagai lokasi syuting film James Bond yang berjudul The Spy Loved Me 

Sejak dilakukan renovasi tahun 1999 tersisa sedikit saja dekorasi asli dari semen plesteran di sana dan halaman tengah kini sudah di perkeras sedangkan pancuran tempat bersuci kini di ubah tampilannya dengan lapisan batu pualam bewarna hitam.

Renovasi dan Perbaikan

Perbaikan pertama atas masjid Ibnu Tulun dilakukan pertama kali tahun 1177M oleh Badr Al-Jamali. Beliau adalah Gubernur yang ditunjuk oleh Penguasa Daulah Fatimiyah. Al-Jamali. Perbaikan beirkutnya dilakukan pada masa Sultan Malik Al-Mansur dari dinasti Mamluk yang berkuasa di Mesir tahun 1296M. Sultan Malik Al-Mansur melakukan beberapa perbaikan dan penambahan bangunan baru. Dan restorasi terahir terhadap masjid ini dilakukan oleh Dewan Purbakala Mesir tahun 1999 - 2004 yang lalu.***