Selasa, 25 Desember 2012

La Grande de Mosque de Porto Novo – Benin

Le Grande de Mosque de Porto Novo atau Great Mosque of Porto Novo atau Masjid Agung Porto Novo, Republik Benin. Sepintas lalu bangunan tua satu ini sama sekali tak mirip dengan bangunan masjid, jauh lebih mirip dengan sebuah katedral atau gereja, karena memang dulunya dibangun meniru bangunan gereja Salvador de Bahia – Brazil.

Grande Mosquee de Porto Novo atau The Great Mosque of Porto-Novo atau Masjid Agung Porto Novo adalah masjid agung tua di kota Porto Novo, Ibukota Republik Benin. Masjid Agung yang lebih mirip sebuah bangunan katedral ini kadang kadang juga disebut sebagai Brazilian Mosque karena bentuknya yang memang sangat mirip dengan sebuah katedral bergaya Brazil.

Nama Porto Novo ataupun Republik Benin memang tidak populer di Indonesia, letak negara Afrika Barat satu ini memang terbentang ribuan kilometer dari Indonesia. Lokasinya berada di pantai barat benua Afrika. Bertetangga dengan Togo di sebelah barat, Nigeria di sebelah timur dan Burkina Faso serta Niger di sebelah utara. meskipun berada di pantai barat Afrika namun karena letaknya yang berada di teluk Guyana, wilayah negara Benin benar benar utuh menjulur dari utara ke selatan menghadap ke Teluk Guyana di Samudera Atlantik.

Lokasi Benin di benua Afrika

Benin  tergolong sebagai negara dengan perkembangan yang cukup lambat di dunia, di abad ke 17 hingga abad ke 19 Benin berada di bawah kekuasaan Kerajaan Dahomey, yang justru melegalkan perdagangan budak, akibatnya negara ini menjadi salah satu sentra perdagangan budak di masa perdagangan busak trans-atlantik di abad ke 17, ribuan warga negeri ini dikirim ke ‘Dunia Baru’ di benua Amerika oleh bangsa Eropa sebagai budak, saking terkenal nya kawasan ini sebagai sentra perbudakan sampai sampai pantai Benin kala itu dikenal sebagai ‘The Slave Coast” atau Pantai Budak.

Setelah praktek perbudakan dihapus, Prancis mengambil alih wilayah ini sebagai koloni baru nya dan mengubah namanya menjadi French Dahomey atau Dahomey Prancis di tahun 1872 sampai kemudian negara ini meraih kemerdekaannya 1 Agustus 1960 dan menjadi Republik Demokrasi hingga saat ini. Republik Benin Ber-Ibukota di Porto Novo meskipun pemerintahannya justru menetap di kota Cotonou yang merupakan kota terbesar di Benin.

begini bentuk utuh Masjid Masjid Agung Porto Novo - Benin dari ketinggian. Tampak Fasad depannya memang sangat mirip sebuah bangunan gereja dengan denah bangunan memanjang.)

\Keseluruhan wilayah Benin sekitar 110 ribu kilometer persegi denga jumlah penduduk sekitar 9 juta jiwa. Meski telah merdeka sejak tahun 1960 negara ini cukup lamban pergerakan pembangunannya, kondisi pertikaian politik sempat mendera negara ini dan turut memperburuk perekonomiannya. Pusat kota Porto Novo sendiri yang merupakan ibukota negara, tak jauh berbeda dengan sebuah kota kecamatan di pulau Jawa dengan pasar tradisional sebagai salah satu sentra ekonomi.

Bahasa Prancis adalah bahasa resmi negara termasuk bahasa asli setempat seperti Bahasa Fond an Yoruba, sejak merdeka Benin secara resmi telah menjadi anggota PBB, Uni Afrika, Organisasi Kerjasama Islam, Zona Kerjasama dan Perdamaian Atlantik Selatan, La Francophonie, the Community of Sahel-Saharan States, the African Petroleum Producers Association dan the Niger Basin Authority.

Islam di Benin

Islam merupakan Agama terbesar kedua di Benin setelah Katolik Roma. Cukup menariknya lagi bahwa Benin mengakui kepercayaan Vodoo (dibaca Vudu) sebagai sebuah agama, dan penganut Vodoo ini menempati urutan ketiga dalam jumlah, disusul kemudian oleh penganut Kristen Protestan. Kebijakan pemerintah setempat yang mengakui Vodoo sebagai agama ini tak lepas dari kenyataan sejarah bahwa Benin sendiri dikenal dunia sebagai ‘tempat lahir’ nya Vodoo, dan lebih menyeramkannya lagi negara ini dimasa lalu memiliki sejarah yang panjang terkait dengan kepercayaan mengorbankan manusia.

Fasad bangunan Masjid Agung Porto Novo yang warni warni memberikan kesan semarak pada bangunan ini. ornamen yang ada pun tidak lazim, anda dapat melihat bintang segi enam turut menjadi ornamen di fasad bangunan masjid ini. 

Merujuk kepada situs CIA world fact book, rasio pemeluk agama di Benin adalah ; pemeluk agama Katholik 27.1%, Islam 24.4%, Vodoo 17.3%, Protestan 10.4% (Celestial 5%, Methodist 3.2%, lain lain 2.2%), Ajaran Kristen Lain-nya 5.3%, Lain lain 15.5% (hasil sensus tahun 2002). Islam masuk ke Benin dari arah utara negara tersebut dibawa oleh suku bangsa Hausa serta melalui perdagangan suku Songhai dan Dendi. 

Hampir semua muslim di Benin merupakan Muslim Suni meski ada sebagian kecil penganut faham shi’ah. Ahmadiyah juga mendapatkan tempat di Benin, mereka mendirikan masjid di bebeberapa tempat, salah satunya adalah Masjid Ahmadi yang cukup besar dan baru diresmikan di Porto Novo tahun 2006 lalu.

Salah satu sisi dalam masjid Agung Porto Novo.

Tahun 2012 ini ada sekitar 4000 orang jemaah haji dari Benin, mereka rela mengeluarkan dana sebesar 1,9 juta Franc CFA untuk biaya perjalanan dari Benin ke Saudi pulang pergi serta biaya akomodasi selama di Saudi Arabia. Jemaah haji dari Benin ini menggunakan jasa penerbangan Ethiopian Airlines.

Sejarah Masjid Grande Mosquee de Porto Novo – Benin

Dapat dimengerti mengapa arsitektural masjid Agung kota Porto Novo ini sangat mirip dengan sebuah Katedral bergaya Brazil setelah kita membaca sejarahnya. Merujuk kepada berbagai sumber menyebutkan bahwa masjid Agung Porto Novo dibangun oleh para mantan budak Afrika yang dulunya dikirim ke Brazil di benua Amerika lalu kembali ke tanah air mereka. Tidak saja masjidnya yang unik, nama Porto Novo sendiri merupakan nama yang diberikan oleh orang Portugis, meski negara ini kemudian menjadi jajahan Prancis.

Masjid Agung Porto Novo - Benin dari samping.

Ketika mereka mulai membangun masjid ini, mereka turut mengabadikan arsitektural katedral di Brazil yang kemudian dipadu dengan seni arsitektural setempat ke dalam bangunan masjid yang mereka bangun mulai tahun 1912. Meski sumber lain menyebut bahwa masjid ini selesai dibangun pada kurun waktu 1923-1925. Hasilnya adalah sebuah bangunan masjid yang sangat impresif yang masih dapat dinikmati hingga hari ini, sebagai sebuah bangunan masjid dengan arsitektur Afro-Brazilian. Banyak pihak menyebut bahwa pembangunan masjid ini terinspirasi dari bangunan Gereja di Salvador de Bahia, Brazil yang bergaya Eropa abad pertengahan.

Sebuah bangunan masjid yang tidak saja unik tapi benar benar tak biasa. Bisa jadi orang yang tak mengenal sejarahnya akan berfikiran bahwa bangunan masjid ini adalah sebuah gereja yang kemudian dikonversi menjadi sebuah masjid, seperti ditulis oleh beberapa penulis. Namun nyatanya memang sebuah bangunan masjid yang dibangun sejak awal menyerupai sebuah bangunan gereja.


Situs architectureweek.com melaporkan bahwa pemerintah kota setempat berupaya untuk melestarikan bangunan ini sebagai warisan sejarah dan budaya kota mereka namun kerusakan yang terjadi sangat sulit untuk diperbaiki karena ketiadaan tenaga ahli dalam hal seni ukir yang memahami teknik dan pola yang sama dengan yang ada di Masjid tersebut. Ditambah lagi dengan usia bangunannya yang sudah relatif tua begitu banyak detil ukiran kayu, plester serta dekorasinya yang sudah rusak dan hilang.

Lokasi masjid ini berdiri memang berada di pusat keramaian kota Porto Novo, tak jauh dari pasar yang merupakan urat nadi perekonomian di kawasan tersebut. Tampilannya yang begitu menarik dengan perpaduan aneka warna dan ornamen yang tak lazim bagi sebuah bangunan masjid. Kaligrafi Arab pada fasad depan bangunan masjid menegaskan bangunan masjid ini.

Sisi samping Masjid Agung Porto Novo - Benin

Imam masjid di Benin termasuk imam masjid di Masjid Agung Porto Novo inipun turut menjadi pemimpin umat selain sebagai imam sholat di masjid. Beliau memiliki otoritas dalam masalah agama Islam dan memberikan panduan bagi umat. Dia juga yang dimintai bantuan oleh muslim setempat untuk menyelesaikan perselisihan dalam keluarga hingga mengurus pernikahan warganya. 

Imam juga secara otomatis mengemban tanggung jawab sebagai dewan pemilihan untuk pemilihan kepala suku tradisional mereka. Bilamana imam berhalangan, tugas beliau dijalankan sementara oleh tangan kanan imam yang bergelas Naimi.***

Sabtu, 22 Desember 2012

Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-2)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara

Sejarah Masjid Sultan Kasimuddin

Sejarah kesultanan Bulungan tidak secara spesifik menjelaskan sejarah pembangunan masjid ini. hanya disinggung sedikit bahwa dimasa pemerintahan Sultan ke-6 Bulungan, Datuk Alam bergelar Khalifatul Alam Muhammad Adil yang berkuasa tahun 1873 – 1875, beliau pernah merenovasi Masjid Jami’ Tanjung Palas. Namun tidak menyebutkan kapan persisnya masjid tersebut dibangun. Namun dengan sendirinya kita dapat menyimpulkan bahwa Masjid Jami Kesultanan Bulungan sudah berdiri sebelum masa pemerintahan beliau yang hanya dua tahun itu.

Dan ditambah lagi dengan kenyataan bahwa masjid yang di renovasi oleh Datuk Alam adalah masjid Jami’ yang berbeda dengan Masjid Sultan Kasimuddin, karena lokasinya berbeda tempat. Situs kemenag (kementrian agama RI) menyebutkan bahwa “Masjid Kasimuddin didirikan pada waktu pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin (1901-1925). Setelah meninggal, beliau dimakamkan di halaman masjid sebelah barat,sedangkan makam di sekitarnya merupakan makam keluarga raja.

Semasa hidupnya Sultan Kasimuddin terkenal sebagai sultan bulungan yang gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan, satu ucapan beliau yang sangat terkenal saat ia menghentikan aturan protokoler Belanda yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke isana raja, “kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“ 

Ruang utama Masjid Sultan Kasimuddin dengan rangkaian tiang tiang kayu ulin yang langsing namun begitu kokoh meski sudah berusia begitu tua.

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begitu jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan.  Lokasi masjid yang kini berdiri terpaut sekitar 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama. Pemindahan lokasi masjid ini kemungkinan besar karena lokasi masjid lama sangat dekat dengan sungai, sehingga dikhawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah.

Kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.

Pada awalnya lantai masjid ini hanya dilapisi tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan marmer sampai sekarang. marmer dimesjid Kasimuddin ini kemduian diperindah dimasa Sultan Djalaluddin. Sisi dalam masjid ini juga diperindah dengan seni kaligrafi Islam. sebagai bangunan bersejarah Masjid Sultan Kasimuddin sudah beberapa kali mengalami pemugaran yang dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian/Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur dari tahun anggaran 1992/1993-1993/1994.

Sebagai masjid Kesultanan, mesjid Kasimuddin memiliki kaitan yang kuat dengan istana Bulungan. pada awalnya para imam mesjid dijabat secara turun temurun. Jabatan imam merupakan jabatan penting. Di tahun 1933 Sultan Kasimuddin melantik tiga belas pejabat keagamaan di Istana Bulungan. Dan kemungkinan besar Qadi yang dilantik pada saat itu adalah Hadji Baha'Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo' Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu. Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, jabatan Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat. 

Sisi Mihrab, ruang mihrab dan mimbar di dalam Masjid Sultan Kasimuddin. sekilas saja tampak bahwa arah kiblat di dalam masjid ini sedikit miring. karenanya kemudian deretan sajadah di dalam nya di tata sedikit miring untuk menyesuaikan dengan arah kiblat. 

Legenda Beduk di masjid Sultan Kasimuddin

Seperti masjid masjid tua di Indonesia pada umumnya, masjid Sultan Kasimuddin ini juga dilengkapi dengan Beduk yang sudah sama tuanya dengan bangunan masjidnya sendiri namun masih berpungsi dan kondisi kayunya pun masih sangat baik. Berdasarkan kisah tutur yang berkembang di masyarakat disebutkan bahwa Konon kayu yang dijadikan beduk ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi pembangunan mesjid kasimuddin, potongan kayu tersebut sudah berbentuk beduk (mungkin maksudnya sudah berupa potongan kayu besar dengan rongga ditengahnya).

Potongan kayu yang disebut oleh ketua-ketua kampung sebagai "nenek kayu" tersebut kemudian dijadikan beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. Beduk berukuran panjang 274 cm, dan ber garis tengah 47 cm dengan ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm ini sampai kini masih terawatt dan berfungsi dengan baik di masjid Kasimuddin. 

Mimbar di Masjid Sultan Kasimuddin. Mimbar yang sudah berumur sama tuanya denganbangunan utama masjid ini di ukir dengan sangat indah dengan ukiran khas Bulungan. 

Tradisi Masjid Sultan Kasimuddin

Dimasa kesultanan, pada bulan-bulan hijriyah yang penting, ada tradisi berkumpulnya para pemuka agama dan masyarakat serta kerabat kesultanan di istana Bulungan, biasanya diawali dengan tembakan salvo "Meriam Sebenua", khususnya pada awal dan akhir Ramadhan serta malam 1 Syawal. Sehari menjelang Ramadhan, semua pengawai mesjid, berkumpul di istana untuk tahlilan menyambut ramadhan. Selesai acara Sultan biasanya memberikan uang kepada pegawai mesjid atau jawatan keagamaan masing masing kepada Qadi dan juga Mufti 35 gulden, para Imam 25 gulden, khatib 15 gulden dan Santri 10 gulden.

Selama Ramadhan seluruh pegawai mesjid dan staf istana tidak ada yang meninggalkan tempat khusus melaksanakan tugas mereka. sepanjang malam mesjid dan istana raja ramai dengan acara Tadarus Al-Qur'an, Istana juga menyediakan makan bagi mereka yang tadarusan, termasuk sajian buka puasa di masjid dan istana. Khatamul Al-Qur’an dilaksanakan di masjid ini dilanjutkan dengan pembagian zakat fitrah oleh pegawai Masjid. Di masjid ini juga pada masa jayanya Sultan mengeluarkan zakat mall (harta) setiap tanggal 27 Ramadhan. 

Arsitektural Masjid Sultan Kasimuddin

Luas lahan Masjid Kasimuddin 3.560,25 m2, dan luas bangunan 585,64 m2. Bangunan masjid terbuat dari kayu dan beton, berbentuk bangunan semi permanen. Dinding bangunan terbuat dari papan kayu ulin. Menurut keterangan masyarakat setempat pondasi dan lantainya terbuat dart campuran semen dan batu yang berlapiskan tegel/ubin bermotif arsitektur Eropa yang diimpor dart Belanda. Ruang utama berbentuk bujur sangkar, berukuran 19 × 19 m, tinggi bangunan sampai puncaknya 15,50 m.

Bangunan ruang utama mempunyai beberapa tiang penyangga yang terdiri dari empat tiang utama/saka guru dengan penampang segi empat, tinggi 11,15 m. Duabelas tiang pembantu dengan penampang segiempat tinggi 8 m mengelilingi tiang utama. Lima puluh buah tiang pembantu deretan ke tiga mengelilingi 12 tiang pembantu, merupakan deretan tiang paling bawah yang sekaligus menjadi pegangan konstruksi papan dinding dan pintu-pintu masjid, dan empat puluh tujuh tiang. 

Beduk di Masjid Sultan Kasimuddin. 

Masjid Kasimuddin tidak mempunyai jendela, namun memiliki 11 pintu yang terletak disekeliling bangunan. terdiri dari 3 pintu depan, 3 pintu kiri, 3 pintu disebelah kanan, dan 2 dua pintu lagi di bagian belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Bangunan mihrab masjid ini mempunyai kekhususan pada ruangan dan atapnya. Ruang mihrabnya berukuran 3,60 × 2,80 m dengan bentuk segi lima. Dinding semi permanen terdiri atas bagian bawah setinggi satu meter terbuat dari pasangan ubin/tegel bermotif dengan warna hijau papan kuning, dinding atas terbuat dari bahan papan kayu ulin.

Di bagian dinding sisi mihrab dipasang kaca berwarna putih bening dan bagian atasnya dipasang kaca berwarna hijau yang mengelilingi ruangan tersebut. Kaca kaca ini berfungsi sebagai penerangan alami ruangan masjid di siang hari. Di ruang mihrab ini terdapat enam tiang berfungsi sebagai penopang atap. Atapnya tidak bersusun tiga, berbentuk segi delapan dan meruncing ke atas dan lebih pendek dari pada atap bangunan induk. Dibagian ujung atapnya diletakkan sebuah mahkota terbuat dari kayu ukir.

Sebagaimana masjid masjid lainnya, di Masjid Sultan Kasimuddin ini juga terdapat sebuah mimbar. Mimbar tua didalam Mesjid Sultan Kasimuddin ini dihias dengan ragam seni ukir khas Bulungan yang begitu indah dengan pola ukir dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada bagian tangga, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti dan dilapis cat berwarna keemasan. Menurut penuturan masyarakat setempat, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan. Selesai.

Kembali ke Bagian-1
-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya



Masjid Sultan Kasimuddin, Bulungan – Kaltara (Bagian-1)

Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara 

Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) secara resmi disyahkan dalam sidang paripurna DRPRI pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 2012 yang lalu. Provinsi ke 34 yang baru terbentuk ini terdiri dari  lima kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Tanjung Selor yang merupakan ibukota kabupaten Bulungan ditetapkan sebagai ibukota Propinsi. Pengesahan tersebut bersamaan dengan pengesahan pembentukan empat kabupaten baru masing masing adalah  Kabupaten Pangandaran, di Jawa Barat, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak di Papua Barat dan Kabupaten Pesisir Barat di Provinsi Lampung.

Pemekaran Propinsi Kaltara dari propinsi induk, Kalimantan Timur ini diharapkan dapat segera memacu pembangunan di kawasan perbatasan negara dengan Malaysia mengingat Kaltara berbatasan darat dan laut langsung dengan Negara jiran tersebut. Kabupaten Bulungan (dulunya disebut Bulongan) yang menjadi Ibukota Propinsi baru ini, merupakan kelanjutan dari Kesultanan Bulungan yang pernah memiliki sejarah gemilang hingga ke masa awal kemerdekaan Republik Indonesia. Di Kabupaten Bulungan masih dapat ditemui satu satunya peninggalan sejarah yang masih utuh hingga kini yakni Masjid Sultan Kasimuddin yang berada di Tanjung Palas, tak seberapa jauh dari Tanjung Selor.

Lokasi Masjid Sultan Kasimuddin

Masjid Sultan Kasimuddin
Desa Tanjung Palas Tengah, Kecamatan Tanjung Palas
Kabupaten Bulungan, Propinsi Kalimantan Utara
Indonesia



Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan

Berdasarkan legenda yang dituturkan masyarakat setempat secara turun temurun, Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Legenda menyebutkan bahwa dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan.

Meski tak ada catatan tertulis, namun dapat diketahui bahwa masyarakat Bulungan ketika itu sudah memiliki struktur kepimpinan adat yang bernafaskan Islam. Di tahun 1555 – 1595 seorang kepala adat bernama Datu mencang memimpin masyarakat Bulungan dengan gelar Ksatria Wira. Kemudian beliau digantikan oleh menantunya yang berasal dari Filipina Selatan bernama Singa Laut dan berkuasa di kurun waktu 1595 – 1631. Setelah itu kepemimpinan dilanjutkan oleh Wira Kelana lalu Wira Digedung hingga tahun 1731. Tahun 1731 terbentuklah Kesultanan Bulungan dengan Wira Amir sebagai Sultan Bulungan pertama Bergelar Sultan Amiril Mukminin berkuasa hingga tahun 1777. Kepemimpinan kesultanan berlanjut secara turun temurun.  

Kota Tanjung Selor, Ibukota Kabupaten Bulungan sekaligus Ibukota bagi Provinsi Kalimantan Utara yang baru terbentuk. Tanjung Palas tempat Masjid Sultan Kasimudin berada diseberang sungai Kayan. dari Tanjung Selor harus menyeberang menggunakan jasa angkutan sungai menuju Tanjung Palas.

Berikut ini adalah para Sultan, Wali Sultan dan Pemangku Kesultanan yang pernah berkuasa di Kesultanan Bulungan, Kalimantan Utara, mulai dari Sultan Pertama yakni Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) hingga ke Sultan terahir, Sultan Djalaluddin (1931-1959).

Sultan ke-1 : Wira Digedung, Sultan Amiril Mukminin 1731 – 1777
Sultan ke-2 : Aji Ali, Sultan Alimuddin 1777-1817
Sultan ke-3 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1817-1861
Sultan ke-4 : Si Kiding, Sultan Muhammad Djalaluddin 1861-1866
Sultan ke-5 : Aji Muhammad, Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin 1866-1873
Sultan ke-6 : Datuk Alam, Khalifatul Alam Muhammad Adil 1873 – 1875
Sultan ke-7 : Ali Kahar, Sultan Kaharuddin II 1875 – 1889
Sultan ke-8 : Sultan Azimuddin  1889 – 1899
Wali Sultan : Puteri Sibut  (permaisuri Sultan Azimudin) 1899 - 1901
Sultan ke-9 : Datu Belembung, Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau Sultan Kasimuddin (1901 – 1925)
Pemangku Kesultanan : Datuk Mansyur (1925 – 1930)
Sultan ke-10 : Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931)
Sultan ke-11 : Datuk Tiras, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (1931 – 1959)

Aji Muhammad atau Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin, dua kali menjabat sebagai Sultan Bulungan. Periode pertama dijabatnya tahun 1817 hingga 1861. Tahun 1861 beliau mundur dan mengangkat Putranya Si Kiding sebagai sultan bergelar Sultan Muhammad Djalaluddin namun justru wafat mendahului beliau di tahun 1866. Itu sebabnya kemudian beliau kembali naik tahta untuk kedua kalinya sebagai Sultan Bulungan ke-5 hingga tahun 1873.

Sultan Kasimuddin
Ketika Sultan Bulungan ke-8, Sultan Azimudin wafat ditahun 1899, putra putra beliau masih belia dan belum layak untuk menjadi Sultan. Maka Permaisuri beliau yang juga puteri dari Sultan Kaharudin II, Puteri Sibut atau Pengian Kesuma yang kemudian bertindak sebagai wali Sultan sampai tahun 1901 dibantu oleh perdana menteri Datu Mansyur. Baru kemudian di tahun 1901 putra Sultan Azimudin yang bernama Datu Belembung di angkat menjadi Sultan Bulungan ke 9 bergelar Sultan Maulana Muhammad Kasim Al-Din Atau lebih dikenal dengan nama Sultan Kasimuddin.

Sultan Kasimuddin (1901-1925) meninggal karena tertembak di tahun 1925. Sementara Putranya Ahmad Sulaiman yang semestinya menjadi pewaris tahta waktu itu sedang mengikuti pendidikan Holands Inlandsche School (HIS) di Samarinda dan Medan. Maka untuk sementara waktu kekuasaan pemerintahan dikendalikan oleh Datu Mansyur hingga tahun 1930 sebagai pejabat pemangku kesultanan. Sultan Ahmad Sulaiman baru naik tahta saat kembali ke Bulungan setelah menyelesaikan pendidikannya. Namun masa jabatannya sangat singkat, hanya Sembilan bulan karena beliau wafat secara mendadak.

Ketika Sultan Bulungan ke-10, Sultan Muhammad Sulaiman (1930 – 1931) mangkat di tahun 1931 beliau digantikan oleh adiknya yang bernama Datuk Tiras bergelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin yang berkuasa sebagai Sultan Hingga tahun 1950. Di masa pemerintahan beliau, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan Kesultanan menetapkan meleburkan diri ke dalam NKRI. Di masa pemerintahan beliau juga untuk pertama kali dikibarkan bendera merah putih di halaman Istana Kesultanan Bulungan dalam upacara 17 Agustus 1949.

foto lama yang mengabadikan Para Imam, Qadi dan tokoh tokoh Islam sedang bersama Sultan di Istana Sultan Bulungan. Bangunan istana Sultan Bulungan sendiri ludes terbakar dalam kerusuhan massa di awal awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Tahun 1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 dan disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953 . Setahun kemudian, Melalui Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Nomor : 186/Orb/92/14/1950 Kedudukan Kesultanan Bulungan Ditetapkan Sebagai Wilayah Swapraja . Keputusan gubernur ini disahkan dengan Undang-Undang Darurat RI Nomor 3 Tahun 1953.

Tahun 1955 wilayah Kesultanan Bulungan ditetapkan menjadi Daerah Istimewa sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1955, Sultan Maulana Djalaluddin diangkat menjadi Kepala Daerah Bulungan Pertama sampai beliau mangkat 21 Desember 1958. Setahun setelah wafatnya Sultan Terahir Bulungan ini, di tahun 1959 melalui Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 Status Daerah Istimewa Diubah Lagi Menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan, dan Bupati pertamanya adalah Andi Tjatjo Datuk Wiharja (1960 – 1963) yang tak lain adalah adik ipar dari Sultan Maulana Djalaluddin . Sejak itu pula pusat pemerintahan dipindahkan dari Tanjung Palas ke Tanjung Selor hingga sekarang ini.

Bersambung ke bagian-2

-----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Kalimantan Lainnya


Minggu, 02 Desember 2012

Masjid Sultan Hassanal Bolkiah Cotabato - Filipina

::: Masjid terbesar di Filipina :: Masjid Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato – Filipina

Islam telah masih ke Filipina sejak abad ke 14, tepatnya di tahun 1390 di awali dengan kedatangan Karim ul' Makhdum seorang pedagang Arabia yang datang ke pulau Jolo di gugus kepulauan Sulu Archipelago, Masjid peninggalan beliau yang diberi nama sesuai namanya Masjid Sheik Karimal Makdum masih berdiri megah hingga kini di pulau Simunul. Penyebaran Islam di Filipina selanjutnya juga dilakukan oleh seorang pangeran dari Minangkabau (sumatera Barat) bernama Rajah Baguinda ditahun 1390.
 
Sejak saat itu wilayah bagian selatan Filipina menjadi wilayah Islam dari berbagai kesultanan yang pernah berkuasa dikawasan tersebut termasuk kesultanan Sultanate Maguindanao, Sulu, dan Lanao. Hingga kini wilayah selatan Filipina merupakan wilayah dengan penduduk mayoritas beragama Islam meskipun secara keseluruhan muslim di Filipina hanya sekitar 5 hingga 9% dari total Populasi negara tersebut.
 
Namun, pemerintahan negaranya yang berpandangan sekuler dan Manila sebagai ibukota Negara berada di wilayah utara yang di dominasi oleh non muslim, membuat pertikaian akibat sentimen agama tak pernah berkesudahan di wilayah selatan Negara ini. Perang, tindak kekerasan, penculikan hingga pembantaian sepertinya memang lekat dengan kawasan ini. peristiwa memilukan terahir terjadi di tahun 2009 lalu yang terkenal dengan Maguindanao Massacre, menambah deretan panjang daftar kekerasan di Filipina Selatan. Pertentangan politik dan ideologi memang bukanlah hal dapat diselesaikan semudah membalik sebelah tangan.

Masjid Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato dari udara, lokasinya berdiri memang tak jauh dari sungai sungai Tamontaka

Cotabato City (bahasa Indonesia : Kotabatu), adalah salah satu kota di pulau Mindanao, Filipina Selatan. Cotabato City berada ditengah wilayah propinsi Maguindanao menghadap ke pantai Illana di teluk Moro. Meski Cotabato City berada ditengah tengah wilayah propinsi Maguindanao tapi bukan bagian dari provinsi Maguindanao. Cotabato City merupakan exclave dari wilayah Soccsksargen yang membawahi empat provinsi dan dua kota yakni ; provinsi South Cotabato, Provinsi Cotabato, Provinsi Sultan Kudarat, Provinsi Sarangani dan kota General Santos City dan Cotabato City. Hingga kini Cotabato merupakan ibukota bagi Wilayah Otonomi Muslim di Mindanao (Autonomous Region in Muslim Mindanao -ARMM). Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 Cotabato City berpenduduk 271,786 dan mayoritas dari penduduknya beragama Islam.

Sejak tahun 2011 lalu, Cotabato City memiliki landmark baru berupa sebuah bangunan masjid terbesar di seluruh Filipina. Masjid Agung Cotabato atau Cotabato Grand Mosque atau lebih dikenal sebagai Masjid Sultan Hasanal Bolkiah, karena memang dibangun dengan dana wakaf dari Sultan Brunei Darussalam di atas lahan yang juga merupakan tanah wakaf dari muslim setempat Mrs. Datu Didagen Piang Dilangalen dari keluarga Dilangalen. Pembangunan masjid ini sekaligus memperingati 25 tahun hubungan diplomatik kedua negara.

Lokasi Masjid Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato

Barangay Kalangalan Dos
Cotabato - Philippines

 

Lokasinya berdiri berada sekitar 7 kilometer dari jalan bebas hambatan Sinsuat Avenue di Barangay Kalangalan. lahan tempatnya berdiri merupakan tanah hibah dari keluarga Dilangalen. Berdiri kokoh disisi sungai Tamontaka dan teluk Moro, terlihat sangat jelas dari udara bagi penumpang yang akan mendarat ataupun take off dari Bandara Awang Cotabato City, juga dari arah laut di teluk Moro, karena letaknya yang berada diantara Bandara dan pantai.

Angkutan favorit menuju ke masjid ini adalah menggunakan Habal Habal (Ojek) dengan tarif sekitar P70 (tujuh puluh pesso). Mengingat tempatnya berada tidak dijalur angkutan umum, pengunjung yang datang menggunakan jasa ojek sebaiknya meminta Manong (tukang ojeknya) untuk menunggu untuk mengantar anda kembali.

Masjid Agung Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato pada saat masih dalam proses pembangunan

Mengenal Cotabato City

Nama Cotabato berasal dari kata Nama ‘Kuta Batu’, “Kuta” bermakna benteng dan “Wato” yang bermakna “batu”, wilayah kuno tersebut kini masih ada disekitar bukit P.C. Hill, Cotabato City. Para pemukim memulai menempati wilayah ini disekitar tahun 1475 dan di abad ke 17, dikembangkan oleh Sultan Dipatwan Qudarat (atau terkenal dengan nama Sultan Kudarat) yang berkuasa kala itu menjadi ibukota kuno wilayah Pulau Mindanao.

Sultan Makakua yang berkuasa di abad ke 19 melanjutkan pembangunan Kutabatu dengan membangun jaringan jalan raya dan pelabuhan laut, dan kemudian hari menjadikan kota ini sebagai Cotabato yang kini kita kenal. Perkembangan tersebut menarik para pendatang dari Zamboaga dan Visaya untuk bermukim di Cotabato City, sedangkan etnis china yang sudah lama menetap disana kemudian berasimilasi dengan melakukan pernikahan dengan orang Manguindanao asli. Sampai tahun 1959 Cotabato City menjadi ibukota propinsi Cotabato sampai kemudian keluar Republic Act No. 2364 tahun 1959 yang menetapkan Cotabato sebagai kota mandiri.

Dari sungai Tamontaka, Masjid Sultan Hasanal Bolkiah di Cotabato terlihat begitu menawan

Masjid Hasanal Bolkiah Cotabato

Bangunan masjid ini memang dibangun oleh Sultan Brunei Darussalam, Sultan Hasanal Bolkiah dan nama masjid ini memang diambil dari nama beliau. Sebuah bangunan masjid dengan gaya Arabia yang sangat kental meski tetap memasukkan sentuhan asia. Sebagai masjid yang berdiri di tengah penduduk mayoritas muslim masjid ini dengan leluasa mengumandangkan azan dari menaranya dan terdengar di seantero kawasan tempatnya berdiri.

Masjid dengan kubah ke emasan ini dibangun oleh Sultan Brunei Darussalam sebagai bagian dari perjanjian bilateral antara pemerintah Filipina dan Bruei Darussalam. Rancangan-nya ditangani oleh Palafox and Associates, sebagai bangunan masjid dengan ukuran terbesar di seluruh Filipina. Sedangkan proses pembangunannya ditangai oleh New Kanlaon Construction, Inc, yang berkantor di Manila. Kapasitas masjid ini dapat menampung hingga 1200 jemaah sekaligus dengan rincian 800 jemaah pria dan 400 jemaah wanita.

Dengan empat menara tingginya masjid Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato terlihat begitu megah.

Bangunan dilengkapi dengan empat menara setinggi 43 meter atau setara dengan gedung berlantai 15, menjulang tinggi dan dapat terlihat dari jarak yang cukup jauh. Keseluruhan dana pembangunannya menghabiskan dana sebesar US48 juta (48 juta Dolar Amerika) atau setara dengan P2,1 Milyar (dua koma satu milyar Pesso) lengkap dengan fasilitas olahraga, pendidikan dan Madrasah di atas lahan seluas 5 (lima) hektar. Beberapa sumber menyebutkan bahwa dana pembangunannya ditanggung bersama oleh Sultan Hasanal Bolkiah sebesar 53% dan sisanya ditanggung pemerintah Filipina.

Proses pembangunannya di umumkan dan langsung dimulai sejak kunjungan Sultan Bolkiah ke Manila di tahun 2009 dan selesai tahun 2011 lalu. Dalam kunjungan kenegaraan bersejarah tahun 2009 tersebut, Sultan Bolkiah disambut langsung oleh Presiden Filipina Macapagal Aroyo. Pembangunan masjid ini sendiri sebagai wakaf dari Sultan Brunei sekaligus memperingati 25 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara.

Bagian dalam masjid Sultan Hasanal Bolkiah Cotabato.

Bangunan masjid dengan ukuran besar ini benar benar mendominasi lanskap di kawasan tempatnya berdiri dengan latar belakang bukit Tamontaka di belakangnya dan sungai dengan nama yang sama dibagian depan. Betangan alam hijau disekitarnya menjadi taman luas pelengkap keindahannya.

Sejak dibuka secara resmi pada bulan Desember tahun 2011 lalu setelah menjalani peroses pembangunan selama hampir tiga tahun, masjid ini telah menjadi salah satu objek wisata menarik di Cotabato City. Menyadari kehadirannya menarik perhatian banyak orang, pengurus dan penjaga masjid ini dengan ramah menyambut para pengunjung kesana tanpa pengecualian bagi muslim ataupun non muslim dan bebas untuk menjelajah seantero masjid serta memotret tanpa larangan.

orang yang terbiasa mengenal Filipina sebagai negara Katholik pastinya tak akan menduga bahwa masjid ini benar benar berada di Filipina.

Bangunan masjidnya sendiri seluas 5000 meter persegi diatas lahan 5 hektar wakaf dari mantan anggota DPR Manguindanao, Didagen P. Dilangalen dari keluarga Dilangalen. Idul Fitri yang jatuh pada bulan Agustus tahun 2011 yang lalu menjadi Idul Fitri pertama yang dirayakan di Masjid ini. Di Filipina, Idul Fitri secara resmi dijadikah hari libur nasional sesuai dengan Undang undang negara (Republic Act) No. 9177, dan disahkan pada tanggal 13 November 2002.

Seperti kita tahu dalam sirah nabawiyah disebutkan bahwa Sholat Idul Fitri pertama kali diselenggarakan di masa Rosullullah pada tahun 624M ketika pasukan Islam baru saja memenangkan perang Badar, perang yang terjadi selama bulan suci Ramadhan dan berahir dengan sebuah kemenangan ganda bagi kaum muslimin. Menang menjalankan puasa Ramadhan dan menang dalam perang Badar.***

Minggu, 18 November 2012

Masjid The Foundation of Islamic Center of Thailand (FICT)

Bangunan Islamic Center Thailand di kota Bangkok ini memang tak lazim. bentuk bangunannya yang mirip dengan tanaman jamur ini memberikan kesan yang sangat unik bagi sebuah pusat ke-Islaman di negeri Gajah Putih tersebut.

Bangkok, Ibukota Thailand, kota yang di Indonesia senantiasa dikaitkan dengan buah buahan unggul, mulai dari Jambu Bangkok sampai ke Durian Bangkok. Negara berjuluk Negeri Gajah Putih ini memang sangat gencar membangun pertaniannya. Industri pendukung pertanian dan peternakan mereka bahkan mengembangkan sayap hingga ke Indonesia. Selain pertanian, Thailand juga begitu gencar mempromosikan objek pariwisata di negeri mereka.
 
Meski bukan Negara Islam, dan sebagian besar penduduknya menganut agama Budha, ada cukup banyak masjid di ibukota Negara Thailand ini. Beberapa masjid kota Bangkok bahkan berada di pusat pusat kota. Menariknya lagi ada beberapa masjid di Bangkok yang memiliki akar sejarah yang sangat erat dengan Indonesia, sebut saja ‘Masjid Indonesia’ dan Masjid Jawa, yang memang dibangun oleh muslim keturunan pulau Jawa. Beberapa masjid bahkan menempati salah satu lantai gedung hotel kota Bangkok. Merujuk kepada Wikipedia di kota Bangkok terdapat setidaknya 170 masjid dari total 3.494 masjid di seluruh Thailand.


Bangunan dengan dinding kaca pada foto diatas adalah Masjid yang ada dalam komplek Islamic Centre Thailand ini. bangunan masjid yang dirancang sebagai bangunan tropis dengan hampir seluruh dindingnya menggunakan kaca

Lynn, seorang bloger muslimah Bangkok merangkum masjid masjid kota Bangkok dalam blog miliknya, dan juga dengan ramah menjawab pertanyaan seputar masjid dan gerai makanan halal di kotanya tersebut. Sementara situs my.bangkoklibrary.com merangkum peta semua masjid di kota Bangkok berikut tempat ibadah lainnya dalam satu halaman peta interaktif di situsnya. Salah satu masjid di Bangkok yang pembangunan dan operasionalnya turut di danai oleh Kerajaan Thailand adalah Masjid Yayasan Islamic Center Thailand atau Foundation of Islamic Center of Thailand, untuk memudahkan kita singkat saja menjadi ‘Masjid FICT Bangkok’, yang akan kita bahas di posting kali ini.

Alamat dan Lokasi Masjid FICT - Bangkok

Foundation for Islamic Center of Thailand
No. 87/2 Ramkhamhaeng Rd. Soi 2, Suanluang
Bangkok, 10250, THAILAND

 

 Sejarah Masjid di Bangkok

Ada dua masjid tua bersejarah di kota Bangkok, Masjid pertama adalah Masjid Tonson atau Tonson Mosque. Masjid ini diperkirakan dibangun sebelum kekuasaan Raja Song Tham (1610-1628) di periode Ayutthaya (ketika pusat kerajaan Thailand berpusat di Ayutthaya). Masjid Tonson berada di Jalan Wang Doem Road, merupakan masjid tertua di kota Bangkok. Masjid ini direnovasi total tahun 1954 untuk memulihkan khazanah warisan arsitektur nya. Saat ini masjid tertua kota Bangkok ini tidak saja berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam tapi juga menjadi warisan kuno muslim Thailand. Di halaman masjid ini terdapat makam ulama terkemuka tokoh Muslim Thailand.
 
Masjid tertua kedua di kota Bangkok adalah Masjid Bang Luang. Masjid ini dibangun untuk Muslim Thailand yang memilih tinggal di sepanjang kanal Bangluang, semasa Raja Taksin berperang membebaskan Thailand dari Burma (kini Myanmar) tahun 1767. Kawasan tempat masjid ini berdiri kini dikenal sebagai Kudi Khao Community. Masjid Bang Luang dibangun oleh para pedagang muslim yang disebut To Yi. Masjid ini menjadi satu satunya masjid tua Thailand yang dibangun berbahan bata dalam dan bergaya tradisional Thailand.

Tentang Yayasan Islamic Center Thailand

Yayasan “The Foundation of the Central Mosque of Thailand” didirikan di Bangkok, Ibukota Thailand pada tanggal 1 Oktober 1954. Pembentukan lembaga ini merupakan bentuk kekuatan kerjasama dari kelompok Muslim di Thailand dengan determinasi yang kuat bagi hak konstitusional warganegara dan hak bagi kebebasan berkeyakinan. Nama yayasan tersebut berubah nama menjadi “The Foundation of Islamic Centre of Thailand” disingkat menjadi FICT pada tanggal 24 September 1976.

Pembangunan Masjid FICT - Bangkok

Pembangunan masjid dengan arsitektur yang sangat khas ini selesai dilaksanakan pada tahun 1984 menghabiskan dana sekitar 54 juta Baht Thailand, setara dengan sekitar US$ 1.2 juta Dolar Amerika, atau lebih kurang sama dengan hampir Rp. 12 milyar (dua belas Milyar Rupiah).

Di dalam Masjid Islamic Center Thailand. Interior masjid ini terang benderang di siang hari meski tanpa pecahayaan listrik sekalipun. bukaan dinding yang merata disekeliling bangungan masjid memberikan ruang besar bagi cahaya alami ke dalam masjid ini.

Sebagian besar dana pembangunan merupakan donasi dari muslim setempat dan muslim dari luar Negara. Sebagian dana lainnya di sokong dari dana kerajaan Thailand tahun fiskal 1981 hingga 1983. Sejak itu terus terjadi perubahan dan perbaikan secara berkelanjutan, termasuk juga pengembangan dengan dukungan kuat dari publik, individu maupun dari berbagai organisasi.

Pengelola FICT

Pengelola FICT Bangkok ini disebut The Executive Management Committee, dipilih setiap enam tahun bertugas mengawasi keseluruhan operasional FICT. Pada saat ini terdiri dari 31 orang Executive Management Committee, terdiri dari President, Vice President, Secretary General, Bendahara, Akuntan, Hubungan Masyarakat (Public Relation), Hubungan Luar Negeri,  dan Anggota Committee.

bila dipandang dari udara, atap atap bangunan Islamic Center Thailand ini terlihat seperti struktur sarang lebah. bangunan masjid yang benar benar unik dan tidak lazim.

Visi dan Misi FICT

FICT di Bangkok ini merupakan organisasi induk bagi semua organisasi Islam di Thailand. Pembentukannya memang bervisi untuk menjadi pemersatu bagi muslim diseluruh Thailand, memberikan kontribusi memberikan kontribusi untuk kemajuan komunitas Muslim dan masyarakat pada umumnya. Untuk mewujudkan impian tersebut FICT menjalankan langkah langkah termasuk membangun dan menjalankan Masjid di Kompleks FICT

Misi selanjutnya adalah menyediakan layanan keagamaan dan bimbingan agama kepada komunitas Muslim bagi perkembangan moral mereka sesuai dengan tuntunan syariah Islam. FICT juga bertujuan memberikan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat sebagai seorang Muslim di dalam kehidupan yang multi kultul dan sebagai warga negara yang ideal serta membantu Muslim berintegrasi dalam masyarakat Thailand yang lebih luas.

Suasana Sholat Idul Fitri 1433H/2012 yang lalu di Masjid Islamic Center Thailand di kota Bangkok ini penuh sesak oleh jemaah, setelah selama satu bulan penuh masjid ini menyelenggarakan berbagai acara khusus Ramadhan yang begitu semarak 

Mengembangkan dan menyediakan layanan sosial dan budaya dalam rangka melestarikan identitas Keislaman dan menciptakan kesadaran sosial dan budaya antara Muslim dan masyarakat yang lebih luas. Memberikan layanan bimbingan dan sumber daya, terutama untuk lembaga pendidikan, rumah sakit hingga ke lembaga pemasyarakatan (penjara).

Memberikan layanan konsultasi untuk memecahkan masalah pendidikan, budaya dan sosial masyarakat. Memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi berbagai kelompok masyarakat, Layanan pemakaman dan bantuan kemanusiaan dan dukungan di semua tingkat masyarakat.

Di dalam Masjid Islamic Center Thailand

Program Kerja FICT

Layaknya sebagai sebuah Islamic Center, FICT menyelenggarakan segudang aktivitas dalam kerangka kerja da’wah, jama’ah, tarbiyah, serta pendidikan Islam sebagai jalan hidup (Iqamat-ud-Deen). Aktivitas menarik yang diselenggarakan di FICT meliputi : Study circles (semacam halaqoh), Training camps, Seminar dan Konfrensi, pedidikan Islam bagi Mualaf dan non muslim yang berminat, eksebisi, pelatihan, Islam Awareness Week dan sederet aktivitas lainnya yang memang ditujukan bagi khalayak umum secara luas.

Sama halnya dengan masjid masjid di Indonesia, Masjid FICT Bangkok ini juga begitu semarak selama bulan suci Ramadhan. Pengurus FICT menyelenggarakan baragam kegiatan khusus selama bulan suci termasuk penyelenggaraan buka puasa bersama, bazaar Ramadhan hingga ke penyelenggaraan I’tiqab selama bulan suci.

mimbar dan mihrab di masjid inipun dirancang cukup unik 

Fasilitas Masjid FICT – Bangkok

Yayasan Islamic Center Thailand memiliki sebidang lahan seluas 16.976 meter persegi yang kini sudah dibangun Masjid. Lahan tersebut merupakan lahan milik sendiri, sebagian diperoleh dengan pembelian dan sebagian lagi merupakan sumbangan dari kaum muslimin. Pendapatan terbesar yayasan memang berasal dari Zakat dan donasi kaum muslimin, sumber lainnya dari proses penggalangan dana (fund raising), services fee serta dana layanan publik dari Pemerintah Kerajaan Thailand.

Bangunan masjid di kompleks FICT berkapasitas 3000 jemaah sekaligus. bangunan utamanya terdiri dari dua ruang sholat utama ; ruang sholat akhwat berada di lantai atas dan ikhwan berada di lantai bawah, dua area berwudhu, auditorium besar, ruang resepsi VIP, beberapa ruang kantor, toko buku, perpustakaan dan gerai makanan halal. Di kompleks ini juga tersedia ruang rapat, kantor Islamic Center of Thailand, kantor Thai Muslim Student Association dan dapur. Terdapat juga perpustakaan dengan biaya peminjaman buku hanya sebesar 20 bath per tahun, kantin makanan halal dengan menu nasi kuning plus ayam tersedia disini.***