Sabtu, 08 Juni 2019

Masjid Eyup Sultan Bamako, Mali


Masjid Eyup Sultan Bamako, masjid pertama dan satu satunya dibangun dengan sentuhan arsitektur Usmani di Republik Mali dan Afrika Barat.

Mali adalah sebuah Negara republic di benua Afrika bagian barat, wilayahnya terkurung di daratan tak memiliki akses ke laut. Ibukotanya berada di Bamako dan memiliki berbagai macam bahasa dari beberapa suku bangsa besar di Negara itu, mereka tidak menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa nasional meskipun pernah dijajah Prancis hingga tahun 1960.

Mali merupakan Negara dengan wilayah terluas kedua di Afrika Barat, berbatasan dengan Aljazair di sebelah utara, Niger di timur, Burkina Faso dan Pantai Gading di selatan, Guinea di barat daya, serta Mauritania di barat. Perbatasannya di sebelah utara memanjang ke tengah gurun Sahara. Mayoritas penduduknya tinggal di wilayah selatan, di mana terdapat Sungai Niger dan Senegal. Negara yang dahulunya bernama Sudan Prancis ini mengambil namanya dari Kekaisaran Mali yang pernah Berjaya di wilayah itu hingga ke wilayah Negara Negara tetangganya saat ini.


Mali juga begitu terkenal dalam sejarah dunia dan sejarah Islam. Suku Tuareg dan suku suku besar lainnya di Mali terkenal dalam sejarah sebagai para penguasa gurun yang tangguh, mereka juga dikenal sebagai para penyebar Islam di wilayah Afrika Barat. Kekaisaran Islam Mali dicatat dalam sejarah sebagai kerajaan dengan raja yang terkenal “Mansa Musa” dicatat dalam sejarah sebagai raja terkaya di dunia.

Timbuktu yang merupakan wilayah provinsi terluas di sebelah utara Mali sangat terkenal dalam sejarah dunia sebagai wilayah yang memiliki “masjid dan madrasah Sanakore” yang terkenal sebagai “bangunan madrasah tertua di dunia” dan masih berdiri dan berfungsi hingga saat ini. Negara ini juga terkenal dengan keindahan bangunan bangunan masjidnya yang dibangun dari lumpur, salah satunya adalah “Masjid Agung Djene” salah satu masjid agung yang dibangun dari lumpur terbesar di dunia.

Jemaah yang membludak hingga ke pekarangan masjid pada saat upacara peresmian masjid Eyup Sultan di Bamako.
Namun, seiring perjalanan sejarah, Mali tak semegah masa lalunya sebagai sebuah kekaisaran besar. Pemerintah Republik Mali sempat kewalahan menghadapi pemberontakan di wilayah utara di Propinsi Timbuktu. Pada 20 Desember 2012, untuk membantu Mali merebut kembali wilayah utara negeri itu yang kini dikuasai kelompok pemberontak Islam, Dewan Keamanan PBB, menyetujui pengiriman pasukan militer Afrika.

Turki adalah salah satu Negara Eropa yang turut mengirimkan kontingen pasukan perdamaiannya ke Mali untuk menjaga perdamaian di wilayah utara Negara itu. Tak hanya mengirimkan pasukan perdamaian, Turki juga menjalin kerjasama yang intensif dengan pemerintah Mali termasuk diantaranya adalah pembangunan Masjid di ibukota Negara Mali, Bamako sebagai bentuk kepedulian pemerintah dan rakyat Turki kepada saudara sesama muslim di Mali.

Masjid Eyup Sultan dari arah depan.
Pembangunan Masjid Eyup Sultan Bamako.

Masjid Eyup Sultan yang satu ini adalah Masjid yang berada di distrik Hamdalaye Aci, kota Bamako, ibukota Republik Mali, di Benua Afrika Bagian Barat. Di google map ditandai dengan nama Centre Islamique de Hamdallaye. Masjid ini dibangun oleh pemerintah Turki dan dinamai dengan nama Masjid Eyup Sultan sama dengan nama salah satu masjid megah di Instanbul. Pembangunannya dilaksanakan melalui direktorat urusan agama Turki (Diyanet) yang menangani secara langsung pembangunan masjid di ibukota Mali tersebut.

Upacara peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan pada tanggal 8 Desember 2012, dihadiri oleh Direktorat Urusan Agama Turki, kepala proyek sister city project Bamako-Istanbul, mufti Istanbul, Imam masjid Eyup Sultan Istanbul dan perwakilan dari pemerintahan kedua Negara. Pembangunan masjid ini seleasi dalam waktu 10 bulan sebagaimana direncanakan, dan diresmikan setahun setelah peletakan batu pertama.

Majid Eyup Sultan saat dalam proses pembagunan.

Masjid megah ini diresmikan oleh Mehmet Gormez, Kepala Direktorat Urusan Agama Turki bersama dengan Oumar Tatam Ly, Perdana Menteri Mali, pada hari Jum’at tanggal 6 Desember 2013. Peresmian tersebut turut dihadiri oleh Mamoud Dicko selku pimpinan Majelis Tinggi Islam Mali, Rahmi Yaran selaku Mufti Distrik Eyup provinsi Istambul, Kemal Kaygisiz, Duta besar Turki di Mali dan Ahmet Kavas, Duta Besar Turki di Chad. Kedatangan para pejabat Turki ini disambut dengan karangan bunga dan sajian buah kakao sebagai bentuk keramahan rakyat Mali.

Dalam upacara peresmian masjid ini, mufti distrik Eyup, provinsi Istanbul sempat menuliskan kalimat “Sangat berarti untuk membangun masjid di Negara yang lebih dari 70% penduduknya hanya punya mimpi mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di rumah rumah orang kaya. . . mereka, melalui masjid ini, akan bebas dari keterbaian dan perbudakan dan akan mendapatkan semangat religi mereka yang sudah hancur . . . mereka datang ke kehidupan, berdiri diatas kaki mereka sendiri dan Mali akan menjadi Negara yang benar benar merdeka . . . “

Peresmian masjid yang bertepatan di hari Jum’at itu juga ditandai dengan pelaksanaan sholat jum’at berjamaah yang diikuti oleh seluruh pejabat dari kedua Negara yang hadir dan Jemaah muslim yang memadati masjid tersebut mengikuti upacara peresmian yang bersejarah tersebut. 

Pembangunan masjid bergaya Turki di ibukota Mali dan sepenuhnya di danai oleh pemerintah Turki sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kerjasama antara kedua negara di berbagai bidang termasuk di bidang politik, budaya dan pendidikan. Dimulai dari kerjasama dari lembaga Islam kedua negara. Upaya mempererat hubungan antara kedua Negara juga ditandai dengan kerjasama Istanbul dan kota Bamako sebagai sisters city (kota kembar).

Masjid Berarsitektur Usmani Pertama di Afrika Barat

Masjid Eyup Sultan Bamako menjadi masjid Turki pertama di Mali sekaligus juga masjid pertama di Afrika Barat dengan rancangan khas Turki Usmani. Masjid ini dibangun dengan gaya turki usmani yang sangat kental lengkap dengan kubah besar berlapis tembaga di atap masjid dan menara lancip yang menjulang setinggi 33 meter, juga dilengkapi dengan kubah tembaga.

Interior masjid Eyup Sultan Bamako, Mali.
Pembangunan masjid ini diperkirakan menghabiskan dana sebesar 1,9 juta Euro, seluruhnya ditanggung oleh pemerintah Turki melalui Diyanet. Dibangun diatas lahan seluas setengah hektar masjid ini mampu menampung 750 orang. Pembangunannya melibatkan sekitar 50 orang pekerja professional dari Turki dan Mali.

Bangunan masjid dibalut dengan batu pualam, carpet tebal menghampar di dalam masjid lengkap dengan dekorasi keramik Iznik dan pancuran khas Turki, material material tersebut langsung didatangkan dari Turki. Sejak selesai dibangun, masjid Eyup Sultan Bamako ini disebut sebut sebagai masjid paling indah di Mali.

Sepanjang sejarahnya, Mali tidak pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Ke-Khalifahan Usmaniyah Turki (Turki Usmani / Ottoman). Di masa ke-emasannya sekalipun wilayah ke-khalifahan hanya sampai di wilayah utara benua Afrika. Wajar bila tidak ditemukan bekas peninggalannya di wilayah Mali. Dan wajar pula bila pembangunan masjid ini oleh pemerintah Turki selaku penerus kekuasaan Turki Usmani, termat bermakna bagi kedua Negara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
­čîÄ gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dilarang berkomentar berbau SARA