Tampilkan postingan dengan label Masjid Masjid di Arab Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid Masjid di Arab Saudi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Mei 2023

Masjid Al-Basha, Jeddah

Masjid Al-Basha Jeddah dari samping kiri, bagian depan dan pintu utamanya menghadap ke pekarangan yang tampak rimbun dengan pepohonan disebelah kanan foto.

Masjid Al-Basha adalah salah satu masjid tua dan bersejarah di kota Jeddah, Saudi Arabia. Berdiri di kawasan kota tua Al-Balad masjid ini tampil anggun di antara gedung gedung jangkung nan modern yang mulai mencakar langit disekitarnya. Halaman depannya tampak asri dengan rimbun pepohonan yang tumbuh menghijau, salah satunya pohon kurma yang berbuah lebat disamping tangga menuju ke ruang sholat.
 
Kawasan Al-Balad, tempat masjid Al-Basha ini berdiri adalah kawasan bersejarah di kota Jeddah, dari sini sejarah kota Jeddah dimulai. Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia sudah mendaftarkan Al-Balad ke Unesco dan sudah diakui sebagai warisan dunia. Di Al-Balad, Masjid Al-Basha berseberangan dengan gedung tua Bait Al-Balad dan Balaikota Jeddah.
 
Basha Mosque
7220 King Abdul Aziz, حي البلد، 2792، Jeddah 22233, Arab Saudi
 
 
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, masjid ini pertama kali dibangun oleh Gubernur Jeddah Bakr Basha pada 1735. Disebutkan juga bahwa masjid ini awalnya berlokasi di Harat al-Sham, dan menaranya menjadi ikon arkeologi dan arsitektur bagi Jeddah. Tampilan masjid ini tak berubah hingga 1978 ketika ia dibongkar dan dipindahkan.
 
Bangunan yang kini berdiri memang tak Nampak sebagai sebuah bangunan masjid tua, lebih terlihat sebagai sebuah bangunan masjid modern dengan bangunan beton berlantai dua dilengkapi dengan satu menara. Masjid ini dapat diakses dari bagian depan dan bagian samping.
 
Interior Masjid Al-Basha di lantai dua.

Ruang sholatnya ada di lantai dua, hingga baik pintu depan maupun pintu samping dilengkapi dengan tangga beton untuk menuju ke ruang sholat. Kami datang ke masjid ini diluar waktu sholat berjamaah, seluruh pintu masjid sudah terkunci. Seorang pegurusnya yang kemudian membukakan samping pintu dari dalam.
 
Area toilet dan tempat wudhunya ada dilantai dasar, area tempat wudhunya juga dilengkapi dengan bangku bangku batu untuk Jemaah agar wudhu sambil duduk. Pengurus masjid ini sepertinya juga tinggal di masjid ini.
 
Beberapa foto eksterior Masjid Al-Basha.

Ruang sholat masjid ini cukup besar, terbagi menjadi dua area.
Area sholat bagian belakang lebih rendah dari area bagian depan disekat dengan partisi kayu setinggi pinggang orang dewasa. Seluruh lantai ruangan sholat ditutup dengan karpet sajadah warna hijau lumut. Sisi mihrabnya menggunakan kayu.
 
Area mihrabnya berupa ceruk kecil setengah lingkaran dari kayu diapit dua rak buku dikiri dan kanannya. Mimbar khatib dibangun lebih tinggi dari lantai berbentuk podium terbuka tanpa ornamen terletak di sisi kanan area mihrab. Ada pembatas dari semen setinggi sekitar 30 sentimeter dari shaf pertama dengan shaf berikutnya, saya kurang faham fungsi dari pembatas tersebut.
 
Masjid Al-Basha dari arah meriam meriam kuno peninggalan benteng Jeddah di depan museum Bait Al-Balad.

Secara keseluruhan interior masjid ini tidak terlalu ramai dengan berbagai ragam hias. Dibagian tengah atapnya ada bagian atap segi empat yang dibangun lebih tinggi dari atap sekitarnya untuk menempatkan jendela jendela kaca di celahnya sebagai penerangan dalam ruang dari cahaya alami matahari disiang hari.
 
Karena secara geografis, kota Jeddah berada disebelah barat kota Mekah, maka arah kiblat di masjid AL-Basha ini menghadap ke arah timur. Pintu depannya ada sebelah barat, pintu samping ada di sebelah utara demikian juga dengan sebatang menaranya yang menjulang sendirian.
 
Bangunan menaranya berdenah segi empat dengan satu balkoni dan di ujung menara ditempatkan ornamen bulan sabit khas Saudi, berupa bulan sabit yang simetris menghadap ke atas namun masih berupa lingkaran utuh, bukan seperti bulan sabit gaya Usmani yang juga menghadap ke atas namun terbuka dibagian atasnya.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Sabtu, 25 Januari 2020

Masjid Miqot Bir Ali, Madinah

Gerbang utama Masjid Miqot Bir Ali di Dhul Hulaifah, Madinah.

Masjid Miqot Bir Ali atau Masjid Miqot Dhul Hulaifah adalah salah satu masjid tempat miqot  atau memulai ihram bagi Jemaah haji dan umroh yang berasal dari Madinah atau yang melalui Madinah. Secara harfiah, Bir Ali berarti “sumur sumur Ali”, nama tersebut berkaitan dengan peristiwa saat Ali bin Abu Thalib menggali sumur dengan jumlah yang sangat banyak di masjid ini.

Oleh karenanya tempat ini diberi nama Bir Ali, bir yang artinya adalah sumur dengan bentuk jamak, sedangkan Ali adalah tokoh yang telah menggali sumur tersebut paling banyak. namun saat ini sumur-sumur itu tertutup oleh bangunan-bangunan disekitar masjid dan bangunan masjid itu sendiri. Masjid ini juga biasa disebut sebagai Masjid Miqot Dhul Hulaifah merujuk kepada nama daerah tempatnya berada.

Dhul Hulaifah Miqat Mosque
Dhul Hulaifah, Medina 42393, Arab Saudi


Masjid Bir Ali merupakan masjid miqot terjauh dari kota suci Mekah, sedangkan jarak tempuh dari kota Madinah ke Bir Ali sekitar 11 kilometer. Menggunakan mobil hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Sejarah Masjid Miqot Bir Ali

Di lokasi masjid ini berdiri pada masa Rosulullah terdapat sebuah pohon jenis akasia yang menjadi tempat Rosulullah berteduh saat miqot ditempat ini untuk menunaikan ibadah umroh. Ditempat tersebut kemudian dibangun masjid. Masjid ini dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz memerintah Madinah (87-93 H).

Masjid yang sama kemudian direnovasi pada masa dinasti Abbasiyah dan direnovasi lagi pada dinasti Utsmaniyah dimasa pemerintahan Sultan Mehmed IV (1058-1099 H). Pada waktu itu masjid masih berbentuk sangat kecil dan terbuat dari batu, dan belum ada jemaah haji dan umrah yang singgah di masjid ini.

Diantara pohon pohon kurma.
Perluasan dan peningkatan fasilitas masjid dilakukan dimasa kekuasaan Raja Fahd bin Abdul Aziz yang memerintahkan renovasi dan perluasan masjid ini. Selanjutnya karena semakin banyaknya jumlah jemaah haji dan umrah, masjid ini telah diperluas beberapa kali lipat, dan diberikannya fasilitas yang diperlukan, hingga luas masjid ini mencapai 6.000 meter persegi dan dapat menampung 5000 jemaah sekaligus.

Tentang Masjid Miqot Bir Ali

Masjid Miqot Bir Ali dibangun begitu besar dengan denah segi empat menyerupai sebuah benteng pertahanan. Bangunan utama masjid berada di tengah tengah dikelilingi koridor koridor panjang dengan arcade yang dibagian sisi dalamnya di dominasi warna kemerah merahan, sedangkan tembok luar bangunannya sendiri mayoritas bewarna krem. Dari area parkir Jemaah akan melalui gerbang tinggi besar dengan dua menara diatasnya.

Menara spiral masjid miqot Bir Ali.
Bangunan utama masjid berada di dalam “tembok benteng” tersebut, dilengkapi dengan area terbuka dan taman taman hijau yang teduh. Bangunan masjidnya juga berdenah segi empat, dibagian tengahnya terdapat “inner courtyard” atau pelataran tengah dilengkapi dengan satu pancuran air di bawah bangunan kecil berkubah dikelilingi taman yang menghijau.

‘Bangunan seperti benteng’ yang mengitari sekeliling masjid ini sejatinya adalah bangunan bangunan fasilitas pendukung masjid, termasuk ratusan unit toilet, kamar mandi, tempat wudhu, kios kios pedagang, klinik kesehatan, loker penitipan barang, kantor pengelola, kantor petugas keamanan, dan fasilitas lainnya.

Mihrab dan mimbar masjid miqot Bir Ali.
Menara masjidnya cukup unik dibangun dengan bentuk tangga spiral setinggi 62 meter, lokasinya berada di bagian dalam tembok benteng. Masuk ke dalam masjid ini, kita akan menemukan jejeran tiang tiang beton berukuran besar yang masing masing terhubung dengan lengkungan sebagai penyangga struktur atap diatasnya.

Dominasi warna merah pada bagian atas lengkungan dan hamparan karpetnya memberikan kesan mewah di dalam masjid ini. Tiang tiang penyangga masjid ini yang cukup besar, dibagian bawahnya dibuat relung relung yang difungsikan sebagai rak tempat menyimpan kitab suci Al-Qur’an.

Didalam masjid miqot Bir Ali.
Untuk kenyamanan Jemaah masjid Bir Ali dilengkapi dengan lebih dari 500 toilet dan kamar mandi dibagi menjadi tiga peruntukan masing masing toilet dan kamar mandi untuk Jemaah pria, wanita dan Jemaah difabel.  Banyaknya kamar mandi dan toilet tersebut sangat membantu Jemaah yang akan membersihkan diri dan bersuci sebelum memulai ihram dari masjid ini. Di masjid ini Jemaah juga akan melaksanakan sholat sunah umrah dilanjutkan dengan berniat dan melanjutkan perjalanan ke kota suci Mekah.

Landscape disekeliling masjid ini berupa pegunungan batu dan pasir serta perkebunan kurma yang cukup luas. Untuk menampung kendaraan Jemaah, masjid Bir Ali juga dilengkapi dengan halaman parkir yang cukup luas dan parkirnya tidak berbayar alias gratis.***

Koridor panjang di Masjid Miqot Bir Ali.
Inner courtyard di masjid miqot Bir Ali.
Jejeran pintu masjid miqot Bir Ali.
Taman di Masjid Miqot Bir Ali.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 27 Juli 2019

Masjid Ali Bin Abi Thalib – Madinah

Masjid serba putih, Masjid Ali Bin Abi Thalib di kota Madinah, dibangun atas lahan bekas rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dan istrinya tercinta Fatimah Az-Zahra yang juga merupakan Putri Rosulullah S.A.W.

Masjid Ali bin Abi Thalib merupakan satu dari tiga masjid bersejarah yang berada di sebelah barat Masjid Nabawi bersama sama dengan Masjid Al-Ghamamah dan MasjidAbu Bakar Siddiq R.A. Lokasi Masjid ini hanya terpaut sejauh sekitar 100 meter sebelah barat dari gerbang nomor 7 pelataran masjid Nabawi setelah perluasan dan sekitar 122 meter ke utara dari Masjid Al-Ghamamah. Lokasi Masjid Ali bin Abi Thalib berada di sisi selatan ruas jalan As-Salam, ruas jalan yang berahir ke gerbang Nomor 7 pelataran Masjid Nabawi.


Masjid Ali Bin Abu Thalib tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah, karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Nabawi, semua aktivitas sholat lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi. Pintu masjid ini selalu terkunci, namun tetap menarik perhatian Jemaah dari berbagai Negara untuk sekedar berkunjung. Sayangnya ada saja Jemaah yang melakukan perbuatan kurang terpuji dengan mencoret coret tembok masjid ini terutama di sisi sekitar pintu gerbang sisi timur masjid.




Sejarah Masjid Ali Bin Abu Thalib

Menurut riwayat, Nabi pernah sholat Ied di tempat ini. sementara riwayat yang lain menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di teratak rumah Khalifah Ali Bin Abi Thalib bersama istrinya Fatimah Az-Zahra yang merupakan putri kesayangan Rosulullah S.A.W. itu sebabnya masjid ini dinamai dengan nama Masjid Ali Bin Abu Thalib.

Bersamaan dengan dimulainya proyek perluasan Masjid Nabawi, masjid Ali Bin Abi Thalib dan dua masjid lainnya di lokasi yang berdekatan sempat dikabarkan akan di gusur, namun ternyata berita itu tak terbukti, masjid Ali Bin Abu Thalib masih berdiri ditempatnya meski tidak dibuka untuk umum. Semua aktivitas sholat berjamaah lima waktu dialihkan ke Masjid Nabawi karena memang lokasinya yang tidak berjauhan. Dan memang tidak ada anjuran ataupun keistimewaan untuk melakukan sholat di masjid ini.

Masjid Ali Bin Abu Thalib di tepi jalan Assalam dilihat dari arah pintu gerbang nomor 7 pelataran Masjid Nabawi. di sebelah kanan foto tepat disamping gerbang sebelah kanan terdapat gedung Museum Assalam.

Sejarah Pembangunan Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abi Thalib pertama kali dibangun ole Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang memerintah di Madinah sebagai pengingat sejarah tempatnya berdiri. Bangunan tersebut kkemudian direnovasi oleh Gubernur Dhaigham Al-Manshuri, Gubemur Madinah tahun 881 H. Setelah itu juga direhab oleh Sultan Abdul Majid I pada saat Arab Saudi menjadi bagian dari wilayah Khalifah Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Renovasi terhadap masjid ini kembali dilakukan tahun 1269 H.

Dimasa kekuasaan kekuasaan Kerajaan Arab Saudi, Masjid Ali Bin Abu Thalib kembali  direnovasi oleh Raja Fahd pada tahun 1411 H, sebagaimana dijelaskan pada prasasti yang dipasang ditembok pagar disamping gerbang timur masjid. Raja Fahd memperluas masjid ini hingga mencapai 682 m2 dengan menara setinggi 26 meter.

Sisi depan Masjid Ali Bin Abu Thalib menghadap ke jalan As-Salam, tampak dua gerbang pagarnya yang selalu tertutup dan terkunci rapat. Kini ada mesin ATM di depan masjid di area pedesterian, disebelah kanan gerbang utama-nya.

Arsitektur Masjid Ali Bin Abu Thalib

Masjid Ali Bin Abu Thalib terdiri dari bangunan utama, satu menara, gerbang dan pagar keliling serta kamar mandi. Bangunan utama masjid ini dilengkapi dengan serambi dengan lima lengkungan berceruk dalam bentuk senada. Pintu utama berada di lengkungan tengah, empat lengkungan lain terdapat jendela berbentuk segi empat. Pintu masjid ini sejajar dengan gerbang utama masjid yang menghadap ke jalan raya As-Salam di sebelah utara masjid.

Bangunan utama masjid ini memanjang timur barat sepanjang 35 meter dengan lebar 9 meter. Dengan tembok massif warna putih tanpa kanopi. Bagian atapnya dilengkapi dengan tujuh kubah. Satu kubah utama sedikit ditinggikan dibagian tengah dengan denah segi delapan,sementara enam kubah lainnya mengapit di sisi kiri dan kanan masing masing berdenah segi empat.

Masa kini Masjid Ali Bin Abu Thalib, berdiri diantara jejeran gedung gedung hotel yang berjejer di sekitar Kompleks Masjid Nabawi.
Sisi kiblat masjid Ali Bin Abi Thalib berada di sisi selatan karena memang kota Madinah berada di sebelah utara kota Mekah. Mihrab masjid ini berada dibagian tengah sisi kiblat berupa sebuah cerukan sedalam 1.25 meter di tembok sisi selatan yang sedikit dibangun menonjol kesisi luar, setinggi sekitar tiga meter. Dinding sisi selatan masjid ini dilengkapi dengan beberapa penopang tembok di sisi luar.

Secara keseluruhan masjid Ali Bin Abu Thalib ini memiliki langgam bangunan yang mirip dengan Masjid Al-Ghamamah, namun menaranya dibangun serupa dengan menara MasjidAbu Bakar Assidiq, berupa menara berdenah segi delapan dengan satu balkoni dan bagian puncaknya berbentuk kerucut lancip layaknya bangunan menara gaya Usmani. Satu menaranya ini dibangun di sudut tenggara masjid menempel ke tembok masjid.

Bangunan kamar mandi dan tempat wudhu dibangun di sebelah barat bangunan utama. Sekeliling masjid ini kini dilengkapi dengan pagar tembok dan dua gapura. Gapura utama di sisi utara dan gapura kedua di sisi timur. Pintu pagar di dua gerbang ini kini selalu dalam keadaan terkunci. Di bagian depan masjid di tengah jalur pedestrian kini berdiri 4 unit bangunan ATM berdenah segi delapan.***

Masjid Ali Bin Abu Thalib dengan latar depan arkade Hotel Aramas yang berada diseberang jalan masjid Ali bin Abu Thalib.
Aerial view Masjid Ali Bin Abu Thalib dari sisi selatan (sisi kiblat) tampak area mihrabnya yang sedikit menonjol keluar dari tembok masjid dibagian tengah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 21 Juli 2019

Masjid Abu Bakar Siddiq .R.A – Madinah

Meskipun berhubungan dengan sejarah perkembangan Islam di masa Rosulullah, namun keberadaan bangunan masjid Abu Bakar Siddiq ini baru berdiri di masa pemerintahan Khalifah Ummar Bin Abdul Aziz. Jauh setelah Rosulullah wafat.

Masjid Abu Bakar Siddiq R.A.merupakan salah satu dari tiga masjid tua bersejarah yang “tempatnya berdiri” berhubungan erat dengan sejarah awal perkembangan risalah Islam di kota Madinah. Lokasi masjid Abu Bakar Assidik berada di sisi barat daya Masjid Nabawi. Pelataran Masjid Nabawi setelah perluasan hanya berjarak beberapa meter dari masjid ini.

Lokasi Masjid Abu Bakar Assidiq ini sangat berdekatan dengan Masjid Ghamama dan Masjid Ali. Hanya terpaut sekitar 40 meter dari Masjid Ghamama dan pada saat pemerintah Arab Saudi meluncurkan proyek perluasan Masjid Nabawi, tiga masjid ini sempat menjadi buah bibir karena disebut sebut akan dibongkar untuk keperluan proyek perluasan Masjid Nabawi. Namun saat proyek perluasan berlangsung, pemerintah Arab Saudi justru merenovasi masjid masjid bersejarah ini.

Masjid Abu Bakr Siddeeq RA
Al Haram, Madinah 42311, Arab Saudi



Renovasi yang dilakukan pemerintah Saudi lebih kepada perbaikan masjid dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya serta melakukan penataan kawasan disekitar masjid ini sehingga tampak lebih apik serta disinkronkan dengan kawasan Masjid Nabawi. Keseluruhan kawasan disekitar tiga masjid ini dirapikan dengan dilapis dengan lantai batu dari berbagai jenis ditambah dengan bangku bangku dari batu dan penanaman pepohonan pelindung.

Pada saat proses renovasi masjid masjid ini ditutup termasuk masjid Abu Bakar Assidiq, dan kemudian dibuka lagi untuk umum setelah renovasi dan proyek penataan selesai dilaksanakan. Namun demikian tidak seperti Masjid Al-Ghamamah yang pintunya selalu dibuka sehingga Jemaah bisa masuk ke dalam masjid, Masjid Abu Bakar ini pintunya tidak pernah dibuka untuk umum.

Masjid Abu Bakar Siddiq di latar depan, di belakang sebelah kanan adalah masjid Al-Ghamamah, jauh di belakangnya sebelah kiri atas foto adalah sisi paling selatan pelataran Masjid Nabawi. 
Beberapa Jemaah yang datang kesana dan sepertinya memang berniat untuk sholat di masjid ini tampak melakukan ibadah shoat sunnat di depan pintu masjid. Tiga masjid bersejarah ini memang tidak lagi menyelenggarakan sholat lima waktu, karena sudah dialihkan ke Masjid Nabawi yang kini sudah begitu dekat terutama setelah proyek perluasan.

Sejarah Masjid Abu Bakar Siddiq

Ada dua versi tentang latar belakang sejarah Masjid Abu Bakar, versi pertama menyebutkan bahwa di lokasi masjid ini, Khalifah Abu Bakar Siddiq semasa hidupnya pernah menyelenggarakan sholat Hari Raya bersama Rosululah dan muslim terdahulu. Versi kedua menyebutkan bahwa dilokasi tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan rumah kediaman Abu Bakar Siddiq. R.A. Bisa jadi kedua peristiwa tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya.

Karena tidak lagi difungsikan sebagai tempat ibadah, pintunya pun selelu terkunci, masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai tugu peringatan sejarah dari tempatnya berdiri.
Karena latar belakang sejarah tersebutlah, masjid ini dibangun di lokasi ini. Kemudian dibangun sebuah masjid untuk megenang sejarah tersebut oleh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sekitar tahun ke 50H. Masjid tersebut kemudian dibangun ulang dalam bentuknya sekarang oleh Sultan Mahmud Khan al-Utsmani (Sultan Mahmud II, wafat tahun 1255 H/ 1839M).

Bangunan masjid dari masa Sultan Mahmud Khan Al-Usmani tersebut kemudian direnovasi oleh Raja Fahd tahun 1411H tanpa mengubah bentuk aslinya. Luas Masjid Abu Bakar Siddiq ini berukuran 19.5 x 15 m, lebih kecil dibandingkan dengan Masjid Al-Ghamamah.

Karena tidak difungsikan sebagai tempat ibadah dan pintunya pun selalu terkunci, Masjid Abu Bakar Siddiq ini kini lebih sebagai sebuah bangunan prasasti pengingat sejarah masa lampau. Meski bangunannya terawatt dengan baik, beberapa bagian masjid terutama pada bagian pintu terdapat banyak sekali coretan coretan baik dengan hurup arab maupun dengan hurup latin. Entahlah apa tujuan dari orang orang pelaku pencoretan tersebut.

Gaya Byzantium (Romawi Timur) sangat kental pada bentuk kubah tunggalnya.

Arsitektur Masjid Abu Bakar Siddiq

Masjid Abu Bakar Siddiq dibangun dalam gaya klasik era awal Usmaniyah. Terdiri dari dua bangunan yakni bangunan masjid dengan kubah besar haya Byzantium di atapnya, ditambah dengan satu menara degan satu balkoni berukiran qurnis dan ujung menara nya dibuat lancip seperti lazimnya masjid masjid Usmani. Menara ini dibangun disi utara menempel dengan bangunan masjid. Fasad depannya dilapis dengan batu batu alam hitam.

Ada dua pintu akses di masjid ini yang sedikit masuk ke dalam tembok bangunan membentuk sebuah ceruk berlengkung yang tak terlalu dalam. Dua pintu ini dibuat senada, terbuat dari bahan kayu tanpa ornamen. Pintu utama berada ditengah dengan bukaan yang berukuran lebih besar, dibagian atasnya terdapat tulisan nama masjid ini dalam aksara arab.***

Detail bagian atas pintu utama Masjid Abu Bakar Siddiq.
Batu batu basal pada fasad depan Masjid Abu Bakar Assidiq yang tampak sudah begitu tua termakan waktu.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 20 Juli 2019

Masjid Al-Ghamamah Madinah

Masjid Al-Ghamamah merupakan salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, di lokasi tempat masjid ini berdiri pernah menjadi tempat Rosulullah melaksanakan sholat Istisqo' (sholat meminta hujan) dan setelah itu awang mendung (Al-Ghomammah) pun menggelayut diatas tempat itu.

Masjid Al-Ghamamah adalah salah satu masjid bersejarah di kota Madinah, Arab Saudi. Lokasi masjid ini berada sekitar 300 meter sebelah barat daya Masjid Nabawi, tak bejauhan dengan Masjid Abu Bakar Siddiq R.A dan Masjid Ali Bin Abi Thalib R.A. Bangunan masjid ini dibangun untuk mengenang beberapa peristiwa penting dimasa kehidupan Rosulullah S.A.W. dan peristiwa peristiwa penting tersebut juga yang hingga kini melekat sebagai nama masjid ini.

Masjid ini bersama masjid masjid bersejarah yang berada disekitar Masjid Nabawi lainnya sempat di kabarkan berbagai media, akan di gusur oleh pemerintah Arab Saudi dalam rangka proyek perluasan Masjid Nabawi. Hal tersebut lebih kepada ke khawatiran akan lenyapnya situ situs sejarah Islam disana seperti yang sudah dilansir berbagai media bagaimana mega proyek perluasan Masjidil Haram di kota Mekah telah menyebabkan lenyapnya situs situs sejarah disana.



Namun, hingga tulisan ini kami muat, masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk aslinya dan pemerintah Arab Saudi juga telah melakukan langkah langkah konservasi terhadap bangunan bangunan tersebut termasuk renovasi dan penataan kawasan disekitarnya bersamaan dengan proyek perluasan Masjid Nabawi.

Lokasi Masjid Al-Ghamamah saat ini hanya terpaut beberapa meter dari sudut barat daya areal pelataran Masjid Nabawi paska perluasan. Sehingga komplek Masjid Nabawi pun terlihat jelas dari masjid ini begitupun sebaliknya. Lokasi masjid Al-Ghamamah juga berdekatan dengan dua masjid bersejarah lainnya yakni Masjid AbuBakar Sidik dan Masjid Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Nama dan Sejarah Masjid Al-Ghamamah

Disebut sebagai masjid Al-Ghamamah yang berarti awan mendung, di lahan masjid ini berdiri merupakan tempat Rosulullah S.A.W melaksanakan Sholat Istisqo’ untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan. Dan segera setelah pelaksanaan sholat awan mendung pun datang menggelayut disusul dengan turun-nya hujan. Itu sebabnya sampai kini masjid ini disebut Masjid Al-Ghamamah, mengabadikan peristiwa di masa Rosulullah tersebut.

Masjid Al-Ghomamah paska renovasi bersamaan dengan proyek perluasan Masjid Nabawi. 
Masjid ini juga disebut sebagai masjid Id atau masjid Hari Raya, karena dalam sejarahnya, lokasi tempat masjid ini berdiri merupakan tempat Nabi Muhammad S.A.W melaksanakan sholat hari raya di empat tahun terahir kehidupan Beliau. Perlu di ketahui bahwa pada masa Rosulullah di tempat ini hanyalah tanah lapang yang beliau gunakan untuk melaksanakan sholat, belum berbentuk sebuah bangunan masjid.

Di lokasi ini atau di lokasi yang berdekatan dengan lokasi masjid ini, Rosulullah S.A.W pernah melaksanakan sholat jenazah bagi Najashi. Beliau adalah Kaisar Aksum di Abbysinia (kini Ethiopia). Dalam riwayat disebutkan bahwa Najashi adalah seorang raja di kerajaan Aksum di Ethiopia yang beragama Kristen, namun menyambut baik kedatangan kaum muslimin yang mengungsi ke negerinya menghindar dari kekejaman kafir Quraisy Mekah. Dikemudian hari Najashi pun berikrar masuk Islam.

Ketika Najashi wafat, tak ada siapapun yang bersedia memimpin sholat jenazah baginya dan kemudian Rosulullah yang men-sholatkan beliau secara ghaib. Peristiwa ini merupakan satu satunya peristiwa Rosulullah melakukan sholat ghaib atau sholat jenazah tanpa kehadiran dari jenazah yang di sholatkan.

Di latar belakang terlihat jelas masjid Nabawi dan pelatarannya setelah proyek perluasan, tampak gemerlap dengan lampu lampu yang menyinarinya di malam hari.
Peristiwa tersebut terekam dalam salah satu hadist Rosulullah;

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengumumkan kematian Al-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian, beliau keluar menuju tempat shalat. Lalu, beliau membariskan shaf, kemudian bertakbir empat kali. (HR Bukhari dan Muslim).

Pembangunan Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Madinah antara tahun 89 hingga tahun 93 Hijriah (jangan sampai keliru dengan Khalifah Umar Bin Khattab). Bangunan tersebut kemudian direnovasi oleh Sultan dinasti Mamluk, Sultan Hasan bin Muhammad bin Qalawan Ash-Shalihi sebelum tahun 761 Hijriah. Kemudian perbaikan perbaikan oleh Syarif Saifuddin Inal Al-Ala'i pada tahun 861 Hijriah.

Setelah itu, Sultan Abdul Majid I semasa kekuasaan Khalifah Islamiyah di Istabul – Turki pada tahun 1275 Hijriah / 1859 melakukan renovasi ke bentuk masjidnya seperti saat ini, selain perbaikan-perbaikan yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid dan di renovasi kembali oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud, selaku Raja Saudi Arabia.

Payung payung sedang mengembang di pelataran Masjid Nabawi, tampak di latar belakang masjid Al-Ghamamah.
Masjid Al-Ghamamah kembali direnovasi secara menyeluruh oleh pemerintah Arab Saudi bersamaan dengan perluasan Masjid Nabawi dengan membangun dan menata kawasan disekitar masjid ini yang disinkronkan dengan Masjid Nabawi, yang pelataran sisi selatan-nya kini sudah sangat dekat dengan masjid Al-Ghamamah, karenanya Masjid Al-Ghamamah ini tidak lagi digunakan untuk penyelenggaraan sholat lima waktu yang sudah dialihkan ke Masjid Nabawi.

Arsitektur Masjid Al-Ghamamah

Masjid Al-Ghamamah ini dibangun dalam arsitektur bangunan masjid bergaya klasik, tidak seutuhnya bergaya usmani meski sempat berada di bawah kekuasaan dinasti Turki Usmani. Denah bangunannya berbentuk persegi panjang, terdiri dari dua bagian; bagian beranda dan ruang shalat utama. Berandanya berbentuk persegi panjang dengan panjang 26 meter dan lebar empat meter, di bagian atapnya dilengkapi dengan lima kubah, dilengkapi dengan lengkungan lengkungan.

Ruang sholat berukuran panjang 30 meter dan lebar 15 meter, ruangannya seolah terbadi dua oleh jejeran pilar pilar berlengkung penyanggah struktur atap. Bagian atapnya terdapat enam kubah, atap masjid dibangun lebih tinggi dibandingkan atap bagian berandanya. Enam kubah diatap masjid ini dibangun dua jejer dengan kubah paling besar berada di bagian atas area mihrab yang menghadap ke selatan. Karena posisi Kota Madinah berada disebelah utara dari Ka’bah di kota Mekah, arah kiblat masjid ini menghadap ke selatan.

Gaya bangunan masjid masjid tua Turki sangat kental pada gaya bangunan Masjid Al-Ghamamah karena memang dibangun pada masa kekuasaan Turki Usmani.
Bentuk jendela nya sangat khas, perpaduan dua jendela dengan bagian atas berbentuk oval dibagian atasnya ditempatkan satu jendela bundar. Padanan jendela jendela ini ditempatkan di semua sisi masjid. Pintunya dibuat dari kayu yang dihias ukiran khat Utsmani. Masjid Al-Ghamamah dilengkapi dengan satu menara yang dibangun menyatu dengan bagian masjid di pojok barat laut bangunan utama.

Secara keseluruhan sisi luar Masjid Al-Ghamamah dihiasi dengan lapisan batu basal hitam. Sementara itu, bagian atas kubahnya dipoles dengan warna putih. Di bagian dalam, dinding dan cekungan kubah dipoles dengan warna putih. Tiang-tiang penyangga masjid dipoles dengan warna hitam sehingga memberikan pemandangan indah pada masjid dengan dua warna yang serasi***.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Jumat, 07 Juni 2013

Ada Apa Dengan Kubah Hijau Masjid Nabawi (Bagian-2)

Berdiri Megah di Kota Madinah. Kubah Hijau Masjid Nabawi.

Kebohongan Tentang Mayat di Atas Kubah Hijau Masjid Nabawi

Beberapa waktu lalu sempat beredar luas di dunia maya berita hoax tentang adanya mayat yang menempel di kubah hijau masjid Nabawi dengan bebeberapa versi. Intinya ada mayat yang menempel di kubah tersebut dan sama sekali tidak bisa dilepaskan sampai ahirnya mayat tersebut dibuatkan penutup dan dibiarkan ditempatnya menempel. di atas kubah hijau masjid Nabawi memang ada benda menonjol yang diikat dengan tali bila sekilas pandang memang akan terlihat layaknya sesuatu yang ditutupi.

Tapi sebenarnya benda tersebut adalah sebuah jendela yang ditambahkan kemudian untuk menutup ventilasi atau celah atau jendela permanen yang dipasang di kubah tersebut. Seluruh ruang dibawah kubah hijau ini dikemudian hari ditutup permanen tanpa pintu dan jendela karenanya ventilasi di kubah inipun tidak diperlukan lagi dan kemudian ditutup.

Titik kecil yang di ikat dengan tali di atas kubah hijau ini sempat menjadi isue sebagai kuburan seseorang yang di sambar petir dan mayatnya menempel disana tidak bisa dilepaskan dan ahirnya ditutup dan di ikat dengan tali. aslinya benda ini adalah penutup permanen bagi jendela yang dulunya sengaja dibuat sebagai ventilasi di kubah ini.

Ukuran jendela tersebut juga terlalu kecil untuk ukuran tubuh orang dewasa yang sedang berbaring. Dan tentu saja tidak akan cukup untuk menampung “mayat’ yang katanya mati tersambar petir karena berniat menghancurkan kubah hijau tersebut. Ada beberapa orang yang sudah mengunggah berita tersebut di youtube dan ada beberapa orang juga yang kemudian mengunggah bantahannya.

Saudi Arabia dan Peran Ulama Indonesia

Seiring dengan runtuhnya kekhlaifahan Islam Usmaniyah yang berpusat di Istambull Turki di tahun 1923, semenanjung Arabia terpecah menjadi dua wilayah kekuasaan besar. Hejaz dan Najd. Tahun 1921 Ibnu Saud memproklamirkan dirinya sebagai Sultan Najd. Tahun 1924-25 beliau menaklukkan Hejaz dan pada tanggal 10 Januari 1926 memproklamirkan diri sebagai Raja Hejaz menyusul setahun kemudian menambahkan gelar-nya sebagai Raja Najd. Dengan sendirinya keseluruhan wilayah Najd dan Hejaz Berada di bawah kekuasaan beliau yang dikemudian pada tanggal 23 September 1932 memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia dengan Abdul Aziz bin Abdurrahman Al-Sa'ud sebagai raja pertamanya.

Denah penampang melintang kubah hijau Masjid Nabawi ini akan memberikan gambaran letak jendela di atas kubahnya. Bangunan yang menutup makam Rosulullah termasuk bangunan kubahnya memang berlapis lapis seiring dengan beberapa kali pembangunan dari beberapa pemerintahan yang pernah berkuasa di Madinah, dengan menambahkan tembok dan kubah baru disisi luar bangunan sebelumnya.

Ibnu Saud naik ke puncak kekuasaan dengan dukungan penuh oleh Muhammad bin Abdul Wahab dan kelompoknya yang mengusung gerakan pemurnian Islam dan dikemudian hari kelompok Muhammad bin Abdul Wahab ini disebut oleh dunia internasional sebagai kelompok Wahabi. Saat itu dilakukan penghancuran seluruh bangunan kubah makam dan situs sejarah yang di Mekah dan Madinah untuk menghindari khurafat. Turut dihancurkan semua makam para syuhada yang ada di pemakaman Jannatul Baqi termasuk kubah makam khalifah Usman Bin Affan.

Pemerintah Saudi Arabia mempertahankan kubah hijau Masjid Nabawi yang melindungi makam Rosulullah dan Sahabat Abu Bakar As Siddik serta Sahabat Ummar Bin Khattab. Ketiga kubur tersebut sejatinya berada di dalam rumah Aisyah istri Rasulullah yang berada di bawah kubah tersebut. Dalam perjalanan sejarah, Ulama Indonesia turut berperan dalam hal itu.

KH. Wahab Hasbullah
Seiring dengan perkembangan yang terjadi di Saudi Arabia saat itu, muncul keprihatinan dari ulama ditanah air yang ketika itu masih dibawah penjajahan Belanda yang kemudian membentuk komite Hejaz atas gagasan KH. Abdul Wahab Hasbullah. 

Komite Hejaz awalnya dibentuk untuk mewakili muslim dan ulama Hindia-Belanda (kini Indonesia) dalam pertemuan ummat Islam sedunia yang di gagas oleh Ibnu Saud di kota Mekah tahun 1926.

Komite Hejaz ini yang kemudian bermetamarfosis menjadi Jamiatul Nahdhatul Oelama (Nahdlatul Ulama) pada tanggal 31 Januari 1926. KH Wahab Hasbullah bersama Syekh Ghonaim al-Misri diutus oleh NU untuk menghadiri konfrensi umat Islam sedunia di Mekah sekaligus untuk menemui Raja Abdul Aziz Ibnu Saud guna menyampaikan pesan dari ummat Islam Hindia Belanda, salah satunya adalah meminta Raja Abdul Aziz untuk memberikan kebebasan bermazhab termasuk juga “penyelamatan makam Rosulullah dari penghancuran”.

Usaha ini direspon baik oleh raja Abdul Aziz. Beberapa hal penting hasil dari Komite Hejaz ini di antaranya adalah, makam Nabi Muhammad dan situs-itus sejarah Islam tidak akan dibongkar serta dibolehkannya praktik madzhab yang beragam, walaupun belum boleh mengajar dan memimpin di Haramain. Dua utusan ini pulang dengan membawa surat resmi dari raja Abdul Aziz ke Indonesia tertanggal 28 Dzul Hijjah 1347 H./ 13 Juni 1928 M..

Dimasa Kekuasaan Saudi Arabia, Masjid Nabawi setidaknya sudah tiga kali mengalami renovasi besar besaran dan tetap memelihara kubah Hijau Masjid Nabawi beserta semua yang ada di dalamnya, termasuk juga memperindah dan merawat unit bangunan tersebut. Perluasan Masjid Nabawi dimasa kekuasaan Saudi Arabia dilaksanakan oleh Raja Abdul Aziz di tahun 1951. Menyusul kemudian oleh Raja Faisal tahun 1973 dan terahir oleh Raja Fahd. Saat tulisan ini dimuat-pun masjid Nabawi sedang dalam proyek perluasan besar besaran untuk kesekian kalinya.

Kabar tak sedap sempat kembali beredar di tahun 2007 lalu ketika Kementerian Urusan Islam Kerajaan Saudi Arabia disebut sebut telah menerbitkan pamphlet yang turut di paraf oleh Mufti Agung Saudi Arabia, yang menyatakan bahwa kubah hijau masjid Nabawi akan dihancurkan dan tiga makam dibawahnya akan diratakan. 

Dan lagi lagi kabar tersebut mendapat kecaman dari ummat Islam dari berbagai penjuru dunia. Jangankan untuk menghancurkan kubah dan makam Rosulullah, rencana pemerintah Saudi untuk menghancurkan masjid masjid bersejarah disekitar Masjid Nabawi dalam upaya menyediakan lahan bagi perluasan Masjid Nabi tersebut-pun mendapatkan kecaman keras dari seantero dunia Islam termasuk dari para sejawan dari berbagai negara.

Namun demikian, bila mencermati maket masterplan mega proyek perluasan Masjid Nabawi yang disiapkan oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, sangat jelas terlihat, bagian Masjid Nabawi dengan kubah hijaunya masih dipertahankan di sayap timur bangunan super besar yang akan dibangun dalam mega proyek perluasan tersebut. Begitupun dengan tiga masjid bersejarah yang berdekatan dengan Masjid Nabawi tetap dipertahankan keberadaannya.***