Tampilkan postingan dengan label Masjid di Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Inggris. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Desember 2017

Masjid Dublin (Dublin Mosque) Bekas Gereja Presbyterian Irlandia

Dublin Mosque, Ireland

Sebelumnya Adalah Gereja Presbyterian Irlandia

Bila anda melihat bentuk Masjid Dublin ini mirip sebuah Gereja, anda tidak salah, karena memang masjid ini sebelumnya memang sebuah Gereja dari abad ke 19 yang kemudian dibeli oleh komunitas muslim Irlandia dan di ubah menjadi masjid hingga saat ini.

Masjid Dublin atau Dublin Mosque berada di South circular road dublin di Irlandia. bangunan masjid ini pada awalnya merupakan sebuah gereja Presbyterian di Irlandia. yang kemudian di ubah menjadi masjid dan kini menjadi markas dari Islamic Foundation of Ireland.

Dublin Mosque & Islamic Centre (ISLAMIC FOUNDATION OF IRELAND)
163 South Circular Road, Dublin, co, IRELAND
Geographic coordinates: 53°19′53″N 6°16′57″W



Pada awal tahun 1970an saat itu belum ada satupun masjid di Dublin, mahasiswa muslim mulai menghubungi para saudara mereka, organisasi Islam di Inggris serta beberapa negara Islam dengan maksud untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan sebuah masjid di dublin.

Tahun 1974 disewalah sebuah gedung berlantai empat, dan tahun 1976 masjid pertama dan Islamic center pun dibuka. beberapa tahun setelah terbentuk, masjid tersebut sudah tak lagi mampu menampung jamaah yang terus bertambah.

Gereja Presbyterian selesai dibangun tahun 1860-an dengan gaya gereja Inggris abad ke 13. tahun 1983 bangunan yang berada di South circular road tersebut dibeli oleh komunitas muslim disana dan di ubah menjadi masjid hingga saat ini. Masjid Dublin dikelola oleh lembaga Islamic Foundation of Ireland yang merupakan satu satunya lembaga resmi yang mewakili muslim Irlandia, di negara tersebut.

Exterior Dublin Mosque

Islamic Foundation of Ireland

The Islamic Foundation of Ireland (I.F.I.) sebelumnya dikenal dengan nama the Dublin Islamic Society, sejak tahun 1980 lembaga ini menjadi otoritas sertifikasi kehalalan produk daging eksport dari Irlandia ke berbagai negara muslim dunia. Dan di tahun 1985 dibentuk departemen khusus di dalam lembaga ini untuk menangani urusan tersebut yang disebut the Halal Meat Section.

Departemen ini dibentuk untuk bertanggung jawab mengawasi dan memberikan sertifikasi halal terhadap daging di Irlandia. The Islamic Foundation of Ireland (I.F.I.) telah ditunjuk sebagai agen tunggal sertifikasi halal di Irlandia oleh Kuwait Municipality (Notice No. 46/83.) dan oleh the General Secretariat of Municipalities in the United Arab Emirates.

Interior Dublin Mosque

Sertifikat halal yang diterbitkan oleh lembaha ini menjadi jaminan bahwa produk produk terkait telah diteliti dan memenuhi persyaratan halal sesuai dengan syariat Islam dan layak untuk dikonsumsi oleh ummat Islam.

Sebagai bagian proses penelitian termasuk dagingnya sendiri, bumbu dan bahan aditif yang digunakan, warna, alat bantu proses hingga katalis yang digunakan semuanya diteliti dengan cermat untuk memastikan bahwa semua hal tersebut tidak mengandung ataupun terkontaminasi oleh hal hal yang tidak halal. Penelitian juga meliputi semua proses produksi, tempat produksi untuk diverifikasi pemenuhan terhadap aturan syariat Islam.

Sertifikat halal yang diterbitkan lembaga ini valid selama masa satu tahun dan harus diperbaharui setiap tahun serta berlaku secara universal, diterima di semua negara Isla di Inggris Raya dan Irlandia.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Sabtu, 08 Juli 2017

Masjid Sentral Glasgow, Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow, Skotlandia

Masjid Sentral Glasgow atau Glasgow Central Mosque adalah Bangunan Masjid pertama dan terbesar di Skotlandia, Inggris Raya. Berdiri megah di tepian selatan sungai Clyde di distrik Gorbals di dalam wilayah central Glasgow. Masjid ini dibangun tahun 1983 dan dibuka secara resmi untuk umum pada tanggal 8 Mei  1984 oleh Abdullah Abdullah Omar Nasseef, selaku sekretaris Jenderal organisasi Liga Muslim Dunia.

Mayoritas muslim di Glasgow pada era awal merupakan muslim yang berasal dari India dan Pakistan yang kemudian tinggal di Distrik Gorbals yang sebelumnya masuk sebagai para migran ke Skotlandia untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menyusul kemudian kedatangan migran dari Irlandia, komuitas yahudi dan italia yang juga masuk ke Glasgow pada periode yang sama.

Glasgow Central Mosque 
1 Mosque Avenue, Gorbals, Glasgow G5 9TA
United Kingdom+44 141 429 3132 ‎



Masjid pertama di Glasgow pada mulanya dibangun di Oxford Street di tahun 1944, namun masjid tersebut sudah tidak lagi memadai seiring dengan perkembangan komunitas muslim yang terus bertamah, sampai kemudian dibangun masjid yang refresentatif seperti saat ini atas rancangan dari Coleman Ballantyne Partnership.

Saat ini Masjid Sentral Glasgow dikelola oleh Jamiat Ittihad-ul-Muslimin, Glasgow Central Mosque and The Islamic Centre yang terdaftar sebagai badan amal di skotlandia dengan nomor SC013142.

Masjid Sentral Glasgow berdiri di atas lahan seluas 16000 meter persegi dan diperluas dan dikembangkan dengan penambahan fasilitas Islamic Center yang terhubung langsung dengan bangunan utama masjid. Islamic center ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti fasilitas olahraga dan pendukungnya, ruang pertemuan, perpustakaan, kafetaria serta menyediakan fasilitas pendidikan dan layanan lainnya bagi komunitas muslim disana.

Masjid Sentral Glasgow dengan jembatan tua di sungai clyade di sebelahnya 

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sebesar tiga juta poundseterling. Pelataran masjid dirancang dengan gaya arabia. satu sisi bangunannya dilengkapi dengan dengan taman sedangkan sisi lainnya dilengkapi dengan jejeran fasad dengan jejeran jendela berlengkung.

Pelataran masjid ini menjadi salah satu yang menarik perhatian di masjid ini selain dari menaranya yang menjulang tinggi, dan tentu saja kubah besar di atap utamanya yang dirancang sedemikan rupa sehingga memungkinkan cahaya matahari secara alami menerangi ruang dalam masjid ini di siang hari.

Bangunan masjid ini juga menggunakan kombiasi arsitektur Islam dengan tetap menggunakan karakteristik material batu merah tua sebagaimana banyak digunakan pada bangunan bangunan tua di di Glasgow.

Bulan Sabit di atas masjid Sentral Glasgow

Pintu masuk utama dilengkapi dengan satu lengkungan yang dihias dengan pintu kaca berhiaskan motif flora. Dengan ukurannya yang cukup besar, Masjid Sentral Glasgow mampu menampung Jemaah sebanyak 2500 jemaah sekaligus. termasuk area khusus untuk Jemaah wanita yang mampu menampung hingga 500 jemaah.

Ada tiga imam yang bertugas di masjid ini yakni Imam Abdul-Ghafoor, Imam Habib-ur-Rahman dan Imam Omair Malik. Selain sebagai tempat penyelenggaraan sholat berjamaah, Masjid Sentral Glasgow juga  menyediakan layanan konsultasi Islam dengan tiga imam masjid ini termasuk konsultasi tentang pernikahan, hukum Islam, rumah tangga dan sebagainya.

Interior Masjid Sentral Glasgow

Masjid Sentral Glasgow juga menyelenggarakan pendidikan untuk berbagai kalangan dari berbagai usia, layanan pernikahan secara Islam yang sudah diakui oleh undang undang negara, layanan kunjungan dari anak anak sekolah ke masjid hingga layanan penyelenggaraan jenazah hingga pemakaman.

Khusus untuk menyuarakan azan, pengurus masjid ini menyiarkannya secara langsung melalui sinyal radio UHF sehingga bagi para Jemaah muslim di Glasgow dapat mengetahui waktu sholat melalui gelombang 454.40625 MHz. Selain itu masjid ini juga memiliki ruang serbaguna yang dapat digunakan untuk acara pernikahan dan keperluan lainnya.***


Jumat, 07 Juli 2017

Masjid Madni Bradford Inggris dengan Menara Terindah di Eropa

Masjid Madni di Kota Bradfor, Inggris, terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa pada tahun 2010 yang lalu.

Masjid Madni atau Madni Jamia Masjid atau Madni Mosque adalah salah satu masjid di kota Bradford, Inggris. Lokasi masjid ini berada di jantung komunitas muslim Bradford. Masjid Inggris satu ini dikenal dengan pendekatannya yang unik. Suasana masjid yang penuh kehangatan kepada para pengunjung, dan selalu ada salah satu jemaah atau pengurus yang siap membantu pengunjung ataupun tamu yang datang kesana.

Masjid Madni di kota Bradford ini memang memiliki catatan tersendiri dengan prestasi yang dicapainya di Inggris. Di tahun 2007, masjid Madni terpilih sebagai Model masjid terbaik untuk sistem kerja komunitas masjidnya, menyisihkan lebih dari 1000 masjid yang ada di Inggris Raya. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Islam Channel.

Madni Mosque (Islamic Cultural & Educational Association)
101 Thornbury Rd, Bradford BD3 8SA, Inggris Raya



Menara Terindah di Eropa tahun 2010

Selain prestasi sebagai model terbaik untuk kerja komunitas muslimnya, Masjid Madni Bradford ini, di tahun 2010 terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa, mengalahkan 50 masjid pesaing untuk memenangkan gelar "menara Eropa yang paling indah" yang digelar oleh parlemen Eropa.

Empat menara yang terdapat di beberapa masjid telah memenangkan hadiah, termasuk menara masjid di Stockholm, Roma, Oslo dan Granada di Spanyol, kata penyelenggara acara yang diorganisir oleh COJEP internasional, lembaga amal pemuda yang dibentuk oleh para imigran Turki di Perancis, yang juga merupakan mitra OSCE dan Dewan Eropa.

Para juri kompetisi tersebut terdiri dari sebuah "multi konfesional, multi etnis, bahkan jurinya termasuk seorang rabbi Yahudi, seorang teolog Protestan Swiss dan seorang pendeta Anglikan, mereka mengamati ke 53 menara masjid di 13 negara sebelum melakukan pilihan menara masjid mana yang terbaik.

Salah satu dari empat menara Masjid Madni Bradford

Hanya masjid yang berusia di bawah usia 50 tahun yang memenuhi syarat untuk mengikuti kontes tersebut, dan bukan masjid bersejarah, itu sebabnya panitia tidak mengikutsertakan masjid masjid bersejarah di Andalusía, Bosnia atau Paris karena kompetisi tersebut memang berkaitan dengan imigrasi umat Islam ke Eropa dalam kurun kurang dari 50 tahun terahir.

Juri membuat keputusan mereka tidak semata mata atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga bagaimana cara menara masjid itu berfungsi yang dibangun di dalam lingkungan perkotaan. dan yang paling menarik adalah bahwa Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara masjid tidak boleh menjadi alasan untuk dicurigai dan ditakuti, sebagaimana disampaikan oleh panitia perhelatan tersebut..

Tentang Masjid Madni

Masjid Madni dibangun tahun 2008 oleh dan untuk komunitas muslim disana yang cukup besar. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, pintu utamanya ditempatkan di lantai dasar dan dilengkapi dengan área resepsionis. Ruang sholat utama berada di lantai dasar masjid yang menjadi tempat penyelenggaraan sholat berjamaah setiap hari.

Kubah dan menara Masjid Madni Bradford.

Selain ruang sholat, masjid Madni juga dilengkapi dengan ruan kelas yang digunakan untuk ruang belajar mengajar (madrasah) termasuk kelas untuk dewasa, terdapat juga perpustakaan di lantai dasar ini yang juga diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Lantai bawah masjid digunakan untuk aktivitas bagi remaja dan anak anak serta aktivitas lainnya yang membutuhkan ruangan yang cukup besar. ruangan ini juga digunakan untuk aktivitas belajar memanah. di lantai dua ini juga terdapat ruang sholat, ruang kelas dan ruangan khusus untuk penyelenggaraan jenazah.

Sementara lantai atas masjid ini digunakan untuk menampung jemaah sholat jum’at yang tak tertampung di ruang sholat utama di lantai dasar masjid, termasuk untuk penyelenggaraan berbagai acara acara peringatan hari hari besar Islam.***

Minggu, 12 Maret 2017

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim, Gibraltar

Megah sendirian di ujung semenanjung Iberia, Masjid Ibrahim Al-Ibrahim berdiri megah di Europa Point Gibraltar, menandai titik pendaratan Panglima Islam Tariq Bin Ziyad dalam penaklukkannya atas Eropa di tahun 711.

Dimanakah Gibraltar

Gibraltar (dibaca Jibraltar), tak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya Islam ke Eropa, sejarah Negara Negara di Semenanjung Iberia yang pernah menjadi wilayah kekhalifahan Islam di Andalusia (meliputi Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) serta sejarah Kerajaan Maroko.  Gibraltar, kini menjadi Wilayah Seberang Lautan Inggris Raya di ujung Semenanjung Iberia menjorok ke laut Mediterania, berbatasan langsung dengan daratan Spanyol dan berseberangan dengan Kerajaan Maroko di benua Afrika.

Keseluruhan wilayah gunung batu Gibraltar luasnya tak lebih dari 6,5 km persegi. Nama Gibraltar berasal dari kata Jabal Tarik yang di ambil dari nama Tariq Bin Ziyad, panglima Pasukan Islam dari Maroko penakluk Eropa di tahun 711 Miladiyah dan diangkat menjadi Gubernur pertama Andalusia dibawah kekuasaan Khalifah Walid I dari dinasti Umayyah di Damaskus. Lidah orang Eropa yang tak fasih menyebut nama “Jabal Tarik” mengubah nama wilayah gunung batu itu menjadi Gibraltar.

Sekilas Sejarah Gibraltar

Sejak tahun 597 Miladiyah, Spanyol dikuasai bangsa Gotic (Jerman) dibawah kekuasaan Raja Roderick. Ia membagi masyarakat Spanyol ke dalam lima kasta sosial. Kelas pertama adalah keluarga raja, bangsawan, orang-orang kaya, tuan tanah, dan para penguasa wilayah. Kelas kedua diduduki para pendeta. Kelas ketiga diisi para pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana, dan pegawai kantor pemerintahan. Mereka hidup pas-pasan dan diperalat penguasa sebagai alat memeras rakyat.



Kelas keempat adalah para petani, pedagang, dan kelompok masyarakat yang hidup cukup lainnya. Mereka dibebani pajak dan pungutan yang tinggi. Dan kelas kelima adalah para buruh tani, serdadu rendahan, pelayan, dan budak. Kelompok terahir ini yang hidupnya paling menderita.

Akibat klasifikasi sosial itu, rakyat Spanyol tidak kerasan. Sebagian besar mereka hijrah ke Afrika Utara yang berada di bawah Pemerintahan Islam dipimpin oleh Gubernur Musa bin Nusair, mereka merasakan keadilan, kesamaan hak, keamanan, dan menikmati kemakmuran. Para imigran Spanyol itu kebanyakan beragama Yahudi dan Kristen. Bahkan, Gubernur Ceuta, bernama Julian, dan putrinya Florinda ikut mengungsi ke wilayah Islam Afrika Utara, setelah putri Florinda dinodai oleh Roderick. Ceuta adalah satu wilayah kecil di pantai utara Afrika yang merupakan bagian dari wilayah Spanyol.

Penaklukkan Eropa Pertama

Melihat kezaliman itu, Gubernur Musa bin Nusair berencana ingin membebaskan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri itu. Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik memberi izin. Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Kokoh berdampingan dengan gunung batu Jabal Tarik.

Kamis, 4 Ramadhan 91 Hijriah atau 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal dimana 4 buah adalah pemberian Gubernur Julian. Tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, di malam hari pasukan ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Di petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan yang berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak. Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah pulang. Keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah ini membangkitkan semangat Gubernur Musa bin Nusair untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.

Penaklukkan Eropa Kedua

Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Birbir, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dan mercusuar tua dikejauhan.....

Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukan menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang menjorok ke laut Mediterania. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Anggota pasukannya kaget dengan perintah aneh tersebut. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain. Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata;

“Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!” “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan

Taktik dan pidato luar biasa itu berhasil mengobarkan semangat jihad anggota pasukannya. Mendengar pasukan Thariq telah mendarat, Raja Roderick mempersiapkan 100.000 tentara dengan persenjataan lengkap. Ia memimpin langsung pasukannya itu. Gubernur Musa Bin Nusair mengirim bantuan kepada Thariq dengan 5.000 orang. Sehingga total pasukan Thariq hanya 12.000 orang.

Jauh di sudut kiri foto adalah mercusuar tua di Europa Point Gibraltar.

Tak ada pilihan bagi seluruh anggota pasukan, tak ada celah untuk melarikan diri kecuali menang perang. Perang tak seimbang itu terukir indah dalam sejarah dengan kemenangan gemilang pasukan Panglima Tariq bin Ziyad sekaligus menjadi permulaan takluknya Eropa ke dalam kekuasaan pemerintahan Islam selama setidaknya lebih dari 7 Abad.

Bukit batu yang menjorok ke laut Mediterania tempat Tariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat itu dikemudian hari disebut dengan nama Jabal Tariq (Bukit Tariq) sebagai penghormatan kepada Panglima Tariq bin Ziyad, namun dilidah orang Eropa nama bukit itu menjadi Gibraltar.

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim - Gibraltar

Titik pendaratan pasukan Tariq bin Ziyad di Gibraltar dikenal dengan nama Europa Point, dan di titik itu kini berdiri masjid megah bernama Masjid Ibrahim Al-Ibrahim, atau biasa juga disebut dengan nama masjid King Fahd bin Abdulaziz al-Saud dan juga disebut Masjid Penjaga Dua Masjid Suci yang merupakan gelar resmi bagi Raja Saudi Arabia. menjadi salah satu masjid di lokasi yang tak biasa di muka bumi. Bukit Batu Gibraltar ini terlihat begitu kekar dari arah laut Mediterania dan selama berabad abad menjadi salah satu mercuar alami bagi para pelaut yang berlayar di laut Mediterania.

Berlatar gunung batu

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dibangun oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia untuk mengenang sejarah penaklukan Eropa oleh Thariq Bin Ziyad. Lokasi masjid ini berdiri merupakan bagian berpermukaan rata di Europa Point dan ditempat ini juga terdapat Telaga Nun yang  merupakan salah satu sisa warisan kekuasaan Islam di Gibraltar. Telaga Nun adalah bagian dari jaringan penampungan air hujan dibawah tanah yang dibangun oleh dinasti Abas selama berkuasa di Eropa, Instalasi air tersebut merupakan solusi untuk memenuhi kebutuhan air warga disana karena kondisi wilayahnya yang merupakan bukit batu tanpa sumber air tanah, dan masih berfungsi dengan baik hingga kini.

Sejarah Pembangunan Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim merupakan hadiah dari Raja Fahd Bin Abdul Aziz Al-Saud Raja Saudi Arabia, dibangun selama dua tahun dan menghabiskan dana sekitar £5 (lima) juta Pondsterling. Pembangunan Masjid Ibrahim Al-Ibrahim dimulai tahun 1995, diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1997. Media media Eropa menyebutkan bahwa pada saat peresmian masjid ini dilaksanakan, pengamanan ketat luar biasa diberlakukan disekitar lokasi dan ada lebih dari enampuluh kendaraan mewah berjenis sedan Limosin berjejer disana.

Sebuah prosedur standar, karena upacara peresmian tersebut dihadiri oleh saudara dari mendiang Raja Fahd yang juga merupakan sponsor pembangunan masjid ini, Pangeran Salman Bin Abdul Aziz Al Saud (kini menjadi Raja Saudi Arabia) dan putra bungsu Raja Saudi Arabia (saat itu), Pangeran Abdul Aziz Bin Fahd Bin Abdul Aziz, bersama sama dengan begitu banyak anggota keluarga Kerajaan Saudi Arabia dan para tamu undangan.

Bunga bersemi di Gibraltar

Masjid Ibrahim al-Ibrahim ini merupakan satu satunya bangunan masjid bagi sekitar 2000 muslim Gibraltar. Muslim di Gibraltar kini memang menjadi umat minoritas atau sekitar 7% dari total populasi Gibraltar. Sebelum masjid ini berdiri muslim Gibraltar sebenaranya sudah memiliki sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai masjid dengan nama Masjid Tariq Bin Ziyad yang berada di areal pelabuhan laut Gibraltar, namun bangunannya hanya berupa sebuah bangunan sederhana yang sama sekali tidak mirip dengan sebuah bangunan masjid, sampai kini masjid tersebut masih berfungsi.

Masjid Pemegang Tiga Rekor

Masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini memegang tiga rekor sekaligus; yakni dari biaya pembangunan-nya,  lokasi dan keberadaannya yang istimewa. Pembangunan masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini menghabiskan dana sekitar £5 (lima) juta Pundsterling, dan disebut sebut sebagai bangunan masjid dengan biaya termahal per-meter perseginya yang pernah di bangun di daratan Eropa.

Ditinjau dari lokasinya berdiri, Masjid Ibrahim Al-Ibrahim ini juga merupakan Masjid yang berada di lokasi paling selatan di daratan Eropa karena Gibraltar memang merupakan sebuah tanjung kecil ujung dari Semananjung Iberia yang menjorok ke Laut Mediterania.

Interior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Masjid ini juga merupakan masjid terbesar yang pernah dibangun di negara non muslim dengan penduduk muslimnya minoritas. Selain daripada itu, Masjid ini juga menjadi salah satu dari 1500 lebih masjid berukuran besar yang telah dibangun oleh pemerintah kerajaan Saudi Arabia.

Arsitektur Masjid Ibrahim Al-Ibrahim Gibraltar

Masjid Ibrahim-al-Ibrahim dirancang dengan menggabungkan berbagai seni bina bangunan masjid yang tampak pada kaligrafi dan rancangannya yang cukup rumit, beragam gaya rancangan termasuk gaya Usmani (Turki) dan arsitektur moderen di aplikasikan di masjid ini. Masjid Ibrahim Al-Ibrahim menjadi simbol keanekaragaman sejarah dan masyarakat Gibtaltar.

Konsep rancangan masjid ini dibuat oleh Zakarias Alhkury. Pembangunannya dilaksanakan diatas lahan seluas 985 meter2 yang terdiri dari bangunan utama masjid, rumah kediaman imam masjid, perumahan bagi para pengurus masjid, enam ruang kelas, ruang pertemuan, bangunan untuk pengurusan jenazah, perpustakaan umum, kantor pengurus masjid, dapur dan fasilitas tempat wudhu dan toilet yang terpisah untuk jemaah laki laki dan jemaah wanita.

Gibraltar kini menjadi Wilayah seberang lautan Inggris Raya. 

Lantai dasar merupakan ruang sholat utama di masjid ini dihias dengan dekorasi yang sangat indah dan halus. Luas area sholat utama ini sekitar 480m2 dan mampu menampung hingga 400 jemaah sekaligus. Sembilan lampu gantung ditempatkan diatas area ini berbahan kuningan dan dipesan langsung langsung dari pengrajin profesional di Mesir. Delapan lampu gantung tersebut dipasang mengelilingi satu lampu gantung utama seberat sekitar 2 (dua) ton menggantung dibawah kubah utama masjid.

Keramik dari marmer di masjid ini didatangkan langsung dari Carrara di Italia, digunakan untuk menutup tembok luar bangunan termasuk tiang tiang kekar yang menopang struktur atap di dalam ruang utama masjid dan dan sisi mihrab. Ruang mihrab di masjid ini juga di hias dengan hiasan dari plester semen.

Keseluruhan lantai area sholat ditutup dengan karpet yang merupakan satu lembar karpet utuh tanpa sambungan yang dipesan khusus, begitu juga dengan lantai di area sholat jemaah wanita juga ditutup dengan karpet jenis yang sama yang ditempah khusus dari pengrajin karpet di Saudi Arabia. Motif hiasan pada karpet di dua area sholat ini senada dengan motif hias pada lampu gantungnya.

Sama dengan ruang sholat utama, ruang sholat khusus jemaah wanitanya juga dihias dengan lampu gantung yang serupa dan sama sama dipesan dari Mesir. Sebuah lift disediakan untuk menghubungkan area berwudhu menuju ke ruang khusus jemaah wanita di area mezanin yang juga dilengkapi dengan ruang khusus untuk ibu ibu menyusui. Jemaah wanita dari area mezanin dapat melihat langsung ke ruang sholat utama meski di tutup dengan pembatas kayu yang disebut dengan Masharabia screen.

Interior Masjid Ibrahim Al-Ibrahim

Seluruh daun pintu di masjid ini berbahan kayu sejenis kayu jati. Dihias dengan berbagai ornamen indah dari kuningan dan dibuat di Mesir. Panel pintu di lantai dasar dibuat dari kayu solid setebal 5 sentimerter. Sementara kaca kaca jendelanya dilengkapi dengan kaca hias yang dipesan khusus dari Madrid (Spanyol).

Bagian lain dari masjid ini yang dibuat di Mesir adalah ornamen bulan sabit di puncak kubah bangunan masjid dan di puncak menaranya. Ornamen bulan sabit ini terbuat dari kerangka baja dan kemudian di lapis dengan kuningan. Sebuah menara yang dibangun terpisah dari bangunan utama di masjid ini dibangun setinggi 71 meter menjulang tinggi melampaui tinggi mercusuar tua yang berdiri tak jauh dari masjid ini.

Ornamen Bulan sabit di puncak menara ini begitu besar dengan ukuran tingginya mencapai enam meter. Keseluruhan ruang dalam masjid ini dilengkapi dengan sistem tata udara moderen yang memungkinkannya terasa sejuk di musim panas dan terasa hangat di musim dingin yang membeku.***

Rabu, 31 Juli 2013

Sepuluh Masjid di Inggris Yang Dulunya Gereja (Bagian-2)

Masjid di Inggris yang dulunya Gereja (bagian 2)

Maraknya penutupan gereja di Inggris yang dikenal sebagai tanahnya Saint George sebagai akibat sepi jemaah membuka peluang bagi muslim disana untuk mengubahnya menjadi masjid. Fakta yang terbalik antara jemaah gereja yang semakin sepi dengan jemaah masjid yang semakin membludak berakibat pada meingkatnya kebutuhan akan ruang sholat yang memadai bagi muslim disana.

Pemerintah Inggris beberapa waktu lalu sempat mengeluarkan larangan perubahan gereja tak terpakai menjadi masjid, mereka lebih mengarahkan bangunan bangunan tersebut untuk di ubah menjadi gedung gedung pusat bisnis dan lain sebagainya. namun sebelum aturan tersebut dikeluarkan sudah begitu banyak gereja tak terpakai tersebut yang berubah menjadi masjid. Lima Masjid sudah di ulas di posting sebelumnya dan berikut ini lima masjid berikutnya yang sebelumnya adalah bangunan gereja.

6. Wembley Central Masjid dulunya gereja St Andrew's Presbyterian

Masjid Sentral Wembley.

Wembley Central Masjid di jantung kota Wembley, dekat dengan Wembley Park Station. Dulunya merupakan sebuah gereja St Andrew's Presbyterian. Pencarian tempat ibadah yang cocok untuk muslim yang tingal di kawasan barat laut kota London sudah dimulai sejak tahun 1985 seiring dengan semakin membludaknya jemaah muslim disana. Tadinya peribadatan dilaksanakan di sebuah bangunan tuko tiga lantai di Harrowdene namun tak lagi memadai.

Pencarian berujung kepada Gereja St Andrew's Presbyterian yang sudah terbengkalai lebih dari 15 tahun. Bangunan tersebut yang kemudian dibeli oleh muslim setempat dengan dana dari hasil penjualan RUKO yang selama ini difungsikan sebagai tempat sholat berjamaah sementara. Butuh waktu tiga tahun untuk merombak secara keseluruhan bangunan gereja tersebut menjadi sebuah masjid lengkap dengan kubah dan menaranya meski bentuk asli bangunan gereja-nya masih terlihat jelas. 

7. Masjid Jami’ Essex dulunya Gereja United Reformed Church Southend

Masjid Jami' Essex.

Essex Jamme Masjid Trust, sebelum dijadikan masjid sampai tahun 2006 merupakan sebuah gereja milik United Reformed Church Southend. Sejak tahun 2006 gereja tersebut tidak digunakan lagi karena sepi jemaah. Pengurusnya sempat berencana untuk mengubah bangunan tersebut menjadi sebuah apartemen namun gagasan tersebut ditolak oleh dewan kota.

Di bulan November 2008, muslim disana membeli komplek gereja tersebut seharga £850,215 pund sterling. Di dalam komplek tersebut tidak hanya bangungan gerejanya saja tapi berikut empat bangunan yang ada di dalam komplek tersebut. Dan bangunan gereja yang kala itu sudah berumur sekitar 107 tahun tersebut secara resmi berubah menjadi masjid setelah melalui serangkaian renovasi termasuk menambahkan tempat wudhu dan menara,

8. Masjid NWK Muslim Assembly dulunya merupakan Gereja Methodis

Masjid NWK.

Muslim yang tinggal di Dartford and Bexley , London dan bernaung dibawah organisasi North West Kent Muslim Association (NWK) sejak tahun 2008 lalu secara resmi menempati bekas bangunan gereja Methodis sebagai masjid mereka. Masjid NWK ini menjadi masjid pertama di kawasan Bexley’s kota London. Berdirinya masjid tersebut mengahiri masa pencaharian tempat ibadah yang refresentatif bagi muslim yang tinggal di dua kawasan tersebut yang sudah dilaksanakan lebih dari 20 tahun.

Managemen masjid ini mayoritas merupakan muslim keturunan Bangladesh, melayani lebih dari 10 ribu muslim yang tinggal disana. Masjid baru tersebut selain digunakan sebagai tempat sholat lima waktu juga menyelenggarakan sholat Jum’at berjama’ah serta sebagai community centre bagi muslim dua kawasan itu.

9. Al-Madina Jamia Masjid Oldham dulunya Gereja Trinity Wesleyan Methodist

Masjid Jami' Al-Madina

Masjid Al-Madina di Oldham dulunya merupakan Gereja Trinity Wesleyan Methodist yang sepi jamaah. Gereja tersebut sempat berubah menjadi pabrik pakaian sampai kemudian di tahun1994 gedung tersebut dibeli oleh komunitas muslim setempat seharga £65,000 pund sterling dan di ubah menjadi Masjid.

Pada awalnya tempat ini hanya difungsikan sebagai sekolah Islam dan tidak diizinkan untuk digunakan sebagai masjid karena mendapat pertentangan dari warga masyarakat setempat, penggunaannya pun dibatasi dengan Jam kerja. Izin penggunaan sebagai masjid baru keluar di tahun 1998 dan renovasi total pertama selesai dilaksanakan tahun 2002. 

10.  Masjid Clitheroe dulunya adalah Gereja Mt. Zion Methodist  

Masjid Clitheroe.

Gereja Methodist Clitheroe sudah cukup lama tidak digunakan lagi dan setelah melalui perjuangan panjang, di tahun 2006 yang lalu muslim setempat mendapatkan izin penuh untuk menggunakan gedung tersebut sebagai masjid bagi muslim setempat, dengan catatan harus menyediakan tempat yang dapat digunakan untuk aktivitas lintas agama di dalam komplek masjid tersebut.

Bangunan Gereja Methodist tersebut awalnya dibangun tahun 1884 namun ditahun 1972 gereja tersebut menutup layanan jemaatnya dan digabungkan dengan the English Presbyterian church menjadi the United Reformed Church. Terbengkalai sejak tahun 1972. Ketika muslim setempat berencana mengubah gedung tersebut menjadi masjid, gelombang penolakan hingga pelecehan bermunculan. Namun dukungan deras justru mengalir dari berbagai kalangan non muslim termasuk kelompok Methodist dan pemeluk agama lainnya di kawasan tersebut yang ahirnya membuahkan hasil dengan keluarnya izin dari otorita setempat. Kembali ke bagian-1

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------