Tampilkan postingan dengan label Masjid di Jakarta Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Jakarta Barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 April 2023

Masjid Jami’ Al-Mubarak Krukut, Warisan Muslim Tionghoa Batavia

Masjid Jami' Al-Mubarak Krukut ditahun 1915 (foto dari KITLV Leiden diwarnai oleh IG @rajakelir)

Masjid Krukut adalah salah satu masjid tua di Jakarta, dibangun sesudah tahun 1785 di atas sebidang tanah luasnya 1.000 m2 yang disebut Cobong Baru. Dibangun oleh kaum peranakan Tionghoa di Batavia, setelah memperoleh izin dari Gubemur Jenderal Willem Arnold Alting Gubernur-Jenderal Hindia Belanda ke-32 yang memerintah antara tahun 1780 – 1796. 

Izin tersebut diberikan kepada kapitan Cina peranakan (Muslim) yang bernama Tamien Dosol Seeng. Mimbar kayu di masjid ini pantas dianggap karya besar seni ukir Tionghoa, sayang sekali, bentuk ukiran mimbar itu tak tajam lagi akibat dilapisi cat perak tebal pada tahun 1975 dan kini bahkan raib tak jelas keberada’annya. 

Masjid Jami Almubarak 
Jl. Kebahagiaan 7-A RT.6/RW.1, Krukut, Taman Sari Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11140 (021) 63853447

   

Perombakan dan pembangunan total masjid ini dilakukan tahun 1994. Bangunan masjid diperluas oleh Syech Abdul Khaliq A Bakhsh dan dilaksanakan oleh Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam. 

Di kawasan Krukut kini sudah hampir tak ada lagi muslim Tionghoa yang bermukim disana dan justru lebih banyak di dominasi muslim keturunan arab. Selain Masjid Kebon Jeruk (1768) di Hayam Wuruk, di Gajah Mada yang terletak di seberangnya ada Masjid Krukut (1785) yang juga diangun orang Tionghoa Muslim, begitupun Masjid Tambora (1761) di Tanah Sareal. 

Namun, berbeda dengan Masjid Kebon Jeruk yang masih memperlihatkan ciri Tionghoa dengan sistem bracket (dougong) khas Tionghoanya, Masjid Krukut telah berubah sama sekali. Bahkan, menurut keterangan Pater Heuken juga, mimbar indah berukiran Tionghoa yang tadinya ada di masjid ini pun kini telah hilang entah ke mana. 

Plakat pembangunan masjid Al Mubarak Krukut.

Menginjak teras Masjid yang sejuk beralaskan batu marmer, kita akan "disodori" sebuah ukiran plakat terbuat dari batu marmer yang tertanam di dalam tembok. Di sisi kiri, plakat tersebut berukiran tulisan huruf arab dan ukiran bertulisan huruf latin berbahasa Indonesia di sisi kanannya. Teks berbahasa Indonesia yang ada di sebelah kanan, selengkapnya berbunyi: 

"Insya Allah peresmian Mesjid Al Mubaroq pada Hari Jum'at tgl 14 Januari 1994/ 3 Sya'ban 1414H. Mesjid Al Mubaroq ini dibangun dengan sumbangan Syech Abdul Khaliq A. Bakhsh dan dilaksanakan oleh H. Abdul Malik Muhammad Aliun sebagai wakaf untuk umat Islam di Indonesia. Jakarta, 14 Januari 1994. Tertanda Duta Besar Saudi Arabia di Jakarta, Syech Abdullah Abdurrahman 'Alim dan Penyumbang, Syech Abdul Khaliq A. Bakhsh". 

Masjid jami' Al Mubarak masa kini.

Masjid Jami Al-Mubarak Masa Kini Meskipun perjalanan sejarahnya kental dengan peran dari muslim Tionghoa Batavia, diamsa kini tak lagi terasa aroma Tionghoa di masjid ini. Masjid berlantai dua itu sudah sama seperti kebanyakan masjid modern saat ini. Warga setempat generasi kini lebih mengenal kawasan krukut sebagai Kawasan hunian etnis arab dan tekenal sebagai arab krukut. 

Pengurus masjid Jami Al-Mubarak Krukut memastikan bahwa tidak ada lagi artefak yang tersisa dari bangunan asli saat dibangun di masjid ini, mengingat bahwa perombakan yang dilakukan tahun 1994 merobohkan bangunan lama secara total untuk kemudian dibangun lebih besar dengan arsitektur yang sama sekali berbeda. 

Seperti masjid masjid lainnya, masjid Jami Al-Mubarak Krukut ini senantiasa Makmur dengan berbagai aktivitas. Selain senantiasa Makmur dengan Jemaah juga Makmur dengan aktivitas kajian rutin, pembagian sembako untuk fakir miskin dan beragam aktivitas lainnya termasuk semarak romadhon dengan tadarus, bukber hingga I’tikaf. (dirangkup dari berbagai sumber, diolah).*** 

Interior Masjid Jami Al Mubarak Krukut

papan nama Masjid Al Mubarak Krukut.

Masjid Jami Al Mubarak Krukut Tempo Dulu

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Masjid “Si Pitung” Al Alam, Marunda, Jakarta Utara (1527)
Masjid Al-Alam Cilincing (1527)
Masjid Jami’ As-Salafiyah, Masjid Pangeran Jayakarta (1620)
Masjid Jami’ Al Atiq, Kampung Melayu, Jakarta Selatan (1632)
Masjid Al Anshor Pekojan, Jakarta Barat (1648)
Masjid Al-Arif Pasar Senen (1695)


Sabtu, 28 Januari 2017

Masjid Al-Anshor Pekojan, Jakarta Barat

Masjid Al Anshor Pekojan antara tahun 1910-1921 pada saat lingkungan disekitarnya belum sepadat saat ini. (foto hitam putih dari Tropenmuseum, diwarnai oleh IG @rajakelir)

Kawasan Pekojan di Jakarta memang sejak awal merupakan salah satu pemukiman muslim pertama di Batavia, tak mengherankan bila kini di kawasan ini dapat ditemui masjid masjid peninggalan dari masa lalu yang meski sudah melewati rentang waktu berabad abad masjid masjid tersebut tetap terpelihara dan tetap dengan fungsinya sebagai tempat ibadah bagi kaum muslimin sekaligus menjadi saksi bisu masuk dan berkembangnya Islam di Batavia.

Salah satu penginggalan dari era tersebut adalah Masjid Al-Anshar yang berlokasi di jalan pengukiran IV. Masjid Al-Anshor dibangun pada tahun 1684M, kurang dari 30 tahun setelah Belanda Membungihanguskan Jayakarta dan mendirikan Batavia, menjadikannya sebagai masjid tertua di kawasan Pekojan, lebih tua dari Masjid Jami’ Annawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Masjid Azzawiyah (1812) dan Masjid Raudah (1905) yang semuanya merupakan masjid masjid tua Jakarta di Kawasan Pekojan.

Makin Tua Makin Terjepit

Setelah melewati rentang waktu lebih dari 3 abad, masjid Al-Anshor kini sulit untuk dapat dikenali fisik bangunannya karena sudah terhimpit diantara bangunan bangunan hunian yang semakin rapat disekitarnya. Jalan akses menuju ke masjid ini hanya berupa gang kecil untuk pejalan kaki. Kondisi yang cukup memprihatinkan untuk salah satu situs tapak sejarah di ibukota negara.

Atas dasar perlindungan sejarah, masjid ini masih dipertahankan hingga kini. Hanya saja, perawatan dan renovasi mengakibatkan pudarnya jejak sejarah dari Kampung Arab, ditambah lagi dengan lokasi pemukiman yang kian padat, membuat masjid tak terlihat dari luar. Meski jejak arsitektur sejarahnya sudah tak terlihat namun masjid ini tetap dicatat sebagai masjid tertua di Jakarta.

Masjid Al Anshor
Jalan Pengukiran IV RT 06 RW 04
Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Indonesia


Sejarah Masjid Al-Anshor Pekojan

Anshor diambil dari bahasa Arab, kata “al anshor” berarti “pendatang”, penamaan yang pas sekali mengingat masjid ini memang didirkan oleh kaum pendatang muslim dari India sekitar tahun 1684. Lahan tempat berdirinya merupakan wakaf dari seorang muslim keturunan India. menurut Adolf HeukeN SJ, sejarawan yang meneliti tentang masjid-masjid tua di Jakarta, menyebutkan bahwa Masjid Al Anshor adalah masjid tertua dibandingkan masjid-masjid lainnya.

Keberadaan masjid ini diketahui dari laporan seorang pendeta di pertengahan abad ke 17, yang menyatakan adanya sebuah masjid dan sekolah agama untuk belajar mengaji di Kampung Pekojan. Adanya sebuah “masigit” tersebut dilaporkan kepada Dewan Gereja pada tahun 1648. Inilah Masjid Al-Anshor, yang kini masih berdiri di Kampung Pekojan, daerah yang paling banyak masjid-nya semasa kekuasan Kompeni di Batavia.

foto atas : Papan pengumuman tanah wakaf masjid Al-Anshor terpasang di depan masjid. Foto kiri bawah : Dua Makam tua di samping Masjid Al-Anshor. Foto kanan bawah : salah satu pintu akses Masjid Al-Anshor diantara tembok rumah warga.

Masjid ini disebut lagi pada tahun 1686-an oleh Abdul Rachman. Masjid sederhana serta polos, tiangnya balok kayu lurus tanpa hiasan. Inilah tanda umumya dan didirikan kurang dari tiga puluh tahun sesudah Masjid Jayakarta terbakar (atau lebih tepatnya dibakar) dalam serbuan J.P. Coen yang menyerbu Sunda Kelapa. Setelah VOC, atau kompeni menaklukkan Jayakarta pada tahun 1619, JP Coen, memporak-porandakan masjid kesultanan Jayakarta yang terletak di Kawasan Kali Besar Timur. Pangeran Jayakarta beserta pengikutnya kemudian hijrah ke Kawasan Jatinegara dan membangun Masjid Jami’ Assalafiyah.

Seiring dengan semakin berkembangnya Jemaah masjid ini dan juga mulai diramaikan oleh kaum muslim dari berbagai etnis sedangkan ukuran masjidnya terlalu kecil untuk menampung lonjakan jamaah, maka pada tahun 1748 orang orang Moor ini mendirikan masjid kedua mereka yakni Masjid Jami Kampung Baru di Jalan Bandengan Selatan, masih di kawasan Pekojan. Sejarah masjid Al-Anshor ini juga merupakah asal muasal dari sejarah kedatangan orang India muslim ke daerah Pekojan, sekaligus asal muasal dari terbentuknya Kampung Arab dahulu. Meski orang keturunan India muslim sudah tidak ada lagi di lingkungan tersebut.

Interior Masjid Al-Anshor.  Foto atas : Ruang dalam bagian paling tua dari Masjid Al-Anshor, Kiri bawah : mimbar dan mihrab Masjid Al-Anshor, foto kanan bawah : jeruji kayu di Masjid Al-Anshor.

Jejak Arsitektur Masjid Al-Anshor

Agak sulit menemukan masjid ini, karena terletak di gang kecil, Jl. Pengukiran IV, tak jauh dari Jl. Pejagalan Raya. Dahulu di sekitar masjid ini terdapat pemakaman. Tidak ada lagi yang tersisa dari pekarangan di sekitar masjid, sehingga kini hampir menyatu dengan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Ukuran bagian tertua masjid ini tidak lebih dari 10 x 10 m2 berdiri di atas lahan seluas 1.705 meter persegi.

Di bagian depan masjid, masih terdapat pemakaman kuno yang berkaitan dengan etnis India di Indonesia. Menurut Van Den Berg, sejarawan Islamologi asal Belanda, dahulunya makam ini ada tiga nisan namun kini hanya ada dua nisan yang terlihat. Namun jika ditanyakan kepada warga sekitar maka mereka hanya akan menjawab bahwa disana memang hanya ada dua makam.

Sukar menentukan bagian mana dari bangunan masjid yang sekarang ini, yang masih asli dari tahun 1648. Setelah diperbaharui pada tahun 1973 dan 1985 tidak meninggalkan bekas arsitektur dari masa pembangunannya. Dari tampak luar, bangunan masjid tidak terlihat sebagai masjid. Tidak ada gerbang, hanya dua buah pintu layaknya pintu di rumah biasa saja. Sebelah kanan terdapat kamar mandi dan tempat berwudhu.

Bagian pertama masjid Al-Anshor berada di sisi paling depan dari bangunan masjid saat ini.

Lantai ruang shalat sudah ditutup dengan ubin keramik yang masih tampak baru. Ruangan berikutnya sedikit menjorok ke bawah menuruni tangga, merupakan ruangan sisa dari Masjid Al Anshor tempo dulu. Tidak banyak yang tersisa, selain jendela masjid berkayu dan empat tiang kokoh penyanggah yang berada di tengah-tengah ruangan serta atap masjid yang masih diasrikan.

Masjid Bersejarah yang dilindungi

Status hokum masjid ini dibuktikan dengan sertifikat bangunan bernomor M. 166 tanggal 18-03-92 AIW/PPAIW : W3/011/c/4/1991 tanggal 8-5-1991. Keudian diperkuat lagi dengan pemasangan papan peringatan Undang Undang Monumen oleh Dinas Musium dan Sejarah Pemerintah DKI Jakarta yang berbunyi: Perhatian: SK Gubernur No.Cb.11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 (Lembaran Daerah no.60/1972). Gedung ini dilindungi oleh Undang Undang (UU) Monumen ST BL 1931 No: 238. Segala tindakan berupa pembongkaran, perubahan, pemindahan diatas bangunan ini hanya dapat dilakukan seizin Gubernur Kepala Daerah. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai Undang Undang.***

------------------ooOOOoo-----------------

Baca Juga

Masjid “Si Pitung” Al Alam – Marunda          




Minggu, 15 Januari 2017

Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Masjid Jami' Kebun Jeruk, salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun oleh Muslim Thionghoa Batavia.

Kiprah muslim Thionghoa Indonesia terekam dengan indah di Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta Barat, salah satu masjid tua Jakarta dari Era kejayaan Batavia di masa lalu. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini pertama kali dibangun oleh Chau Tsien Hwu atau Tschoa pada tahun 1786M. Di halaman sebelah timur masjid tua terdapat makam Fatimah Hwu yang merupakan istri Chau Tsien Hwu. Nisan dari makam yang bertarikh 1792M ini cukup unik dengan bentuk naga bertulisan huruf cina berbunyi “Hsienpi Men Tsu Mow yang artinya “inilah makam China dari keluarga Chai, dan menggunakan pertanggalan Arab.

Surau kecil itu yang kemudian berkembang menjadi sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami’ Kebon Jeruk dan bertahan melintasi jaman melayani ummat Islam, menjadi saksi bisu manis getirnya sejarah etnis Thionghoa di Jakarta. Masjid Jami’ Kebon Jeruk menjadi masjid pertama yang dibangun oleh muslim Thionghoa di Indonesia dan menjadi masjid pertama di kawasan pusat bisnis Glodok. Kini, setelah 220 tahun berlalu, Masjid Jami’ Kebon Jeruk selalu di padati oleh jamaah dari berbagai daerah, bahkan muslim dari berbagai negara pun mudah kita jumpai di sini termasuk jemaah dari Pakistan, India, Arab Saudi dan Malaysia.

Alamat dan Lokasi Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Masjid Jami’ Kebon Jeruk
Jalan Hayam Wuruk No. 85,
Kelurahan Maphar, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.



Akses:
Bianglala P 69 Kota – Ciputat
Bianglala AC 45 Kota – Ciputat
Steady Safe 949         Kota – Kaliders
Steady Safe AC110 Tanjung Priok – Tanah Abang

Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum dan Sejarah melalui SK Gubernur No Cb11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 menetapkan Masjid Jami , Kebon Jeruk di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat, ditetapkan sebagai monumen sejarah.

Sejarah Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat. Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.

Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.

Detil ekterior Masjid Jami' Kebun Jeruk. atas papan peringatan cagar budaya, kiri bawah : makam tua di Masjid Jami' Kebun Jeruk dan kanan bawah ; detil ornamen pada ujung atap masjid Jami Kebun Jeruk.

Oleh karena itu mereka tidak berniat lagi untuk kembali ke negri leluhurnya, mereka bermukim di sini. Lalu Mendirikan mesjid di lokasi bekas mesjid mungil tersebut tadi. Itulah Mesjid Kebun Jeruk yang sekarang ini. Menaranya sudah lama runtuh karena memang telah sangat tua. Mimbarnya yang antik terbuat dari kayu kembang, kini masih tersimpan di Museum Fatahillah.

Fatima hwu wafat tahun 1792, dimakamkan di halaman belakang mesjid. Pada nisan bergaya Cina, terdapat pahatan enam aksara cina yang berbunyi :”Hsienpi Chai Men Tsu Mow”, yang berarti “Inilah makam wanita dari keluarga Chai”. Sedangkan Chan Tsin Hwu, menurut sejarah wafat di Cirebon dan dimakamkan di gunung Sembung.

Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.

Aktivitas Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Hal yang menarik, selama bulan Ramadhan, banyak jamaah dari berbagai daerah dan negara melakukan I’tikaf di Masjid Kebon Jeruk ini. Jemaah yang datang dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara itu melakukan semua aktivitas kesehariannya di Masjid ini selama bulan suci Ramadhan. Banyaknya jemaah dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara di masjid ini karena memang Masjid Kebon Jeruk merupakan markas dari Jemaah Tabligh Indonesia.

Detil Interior Masjid Jami' Kebun Jeruk

kegiatan yang paling unik adalah saat berbuka puasa. Pada waktu berbuka puasa, ada sekitar puluhan kelompok secara bersama-sama menyantap hidangannya dalam satu tampah. ritual tersebut dijalankan karena disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah sering menyantap hidangan berbuka puasa bersama-sama dengan para sahabatnya dalam satu wadah. Dengan cara ini, kita juga merasakan kebersamaan dan Ukhuwah Islamiyah.

Selain ritual tersebut, ada dua amalan yang harus dikerjakan oleh para jamaahnya, yakni amalan Infiradhi dan Ijtima’i. Pada amalan infiradhi, setiap orang menjalankan ibadahnya secara sendiri-sendiri, seperti Shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Isra’, membaca Al-Qur’an setiap harinya minimal satu Juz, dan melakukan dzikir sepanjang hari. Sedangkan amalan Ijtima’i, adalah amalan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti menjalankan shalat fardhu, Shalat Tarawih, berbuka puasa dan menghadiri berbagai majelis-majelis. ada dua majelis yang wajib dihadiri setiap jamaah, yakni Majelis Khurghazi dan Majelis Bayan.

Majelis Khurgazi adalah suatu majelis yang berupa kesaksian seseorang yang baru pulang dari perjalanannya di jalan Allah dan mengajak para jamaah untuk ikut melakukan perjalanan ini. Biasanya majelis ini diadakan setelah Shalat Ashar sampai jam setengah lima sore, Setelah Shalat Shubuh dan Tarawih, Majelis Bayan digelar. Dan setiap jamaahnya wajib mendengarkan ceramah-ceramah para ustad. Isi ceramahnya mengenai pentingnya amal shaleh bagi kita.

Bangunan baru di Masjid Jami Kebun Jeruk Jakarta yang kini menjadi Markas Jama'ah Tabligh Indonesia

Diluar bulan suci Ramadhan, Masjid Kebon Jeruk ini tetap ramai dengan aktivitasnya. Masjid Kebon Jeruk saat ini merupakan markaz (pusat kegiatan) usaha Tabligh di Indonesia. Semua hal yang berkaitan dengan permasalahan, kendala, rencana kegiatan, pengiriman jamaah dan lain-lainya yang berkaitan dengan usaha Tabligh di Indonesia digodog dalam musyawarah yang setiap hari dilakukan di masjid ini.

Masjid ini setiap harinya selalu dipenuhi dengan jamaah-jamaah transit, yang datang dari berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tempat-tempat yang telah diputuskan dalam musyawarah. Apa yang dilakukan di masjid ini adalah ingin mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya di Masjid Nabawi dulu. Bukan pada kemegahan bangunannya, atau keindahan arsitekturnya, tetapi pada amalan-amalan agama yaitu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, ta’lim dan taallum, dzikir dan ibadah serta hidmat (pelayanan).

Seakan tak mau kalah dengan kesibukan kesibukan di kawasan jalan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada, aktivitas di masjid ini juga berlangsung selama 24 jam setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan dan 365 hari dalam setahun. Tidak ada kata libur atau waktu luang di dalam aktifitas keagamaan di masjid ini, hari-hari di dalamnya full dengan berbagai kegiatan ; ta’lim, muzakarah, bayan, dzikir, shalat, baca Alquran, musyawarah, khidmat dan lain sebagainya.***

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya