Tampilkan postingan dengan label Masjid di Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Maret 2025

Masjid Jami Indrapura Pertama dan Tertua di Kabupaten Batubara

Masjid Jami' Indrapura.
 
Masjid Jami’ Indrapura adalah masjid tua bersejarah di kabupaten Batubara provinsi Sumatera Utara. lokasinya berada di Dusun satu Desa Tanah Merah kecamatan Air Putih kabupaten Batubara provinsi Sumatera Utara.
 
Masjid ini disebut sebut sebagai masjid tertua di kabupaten Batubara dibangun pada masa kesultanan Indrapura dan kini berstatus sebagai benda cagar budaya. Di komplek masjid ini terdapat komplek pemakaman raja Indrapura diantaranya Makam Datuk Abdul Wahab dan pemakaman umum, selain itu juga terdapat Kantor Kedatukan Tanah Datar.
 
Masjid Jami Indrapura
Desa Tanah Merah, Kecamatan Air Putih
Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara 21256


Sejarah Pembangunan
 
Situs bapedabatubara menyebutkan Masjid Indrapura dibangun dimasa penjajahan Belanda sekitar tahun 1920 sedangkan situs Simas Kemenag menyebutkan masjid ini dibangun tahun 1935, sedangkan sumber dari pengurus masjid menyebutkan dibangun tahun 1936 oleh Raja Kerajaan Tanjung.
 
Masih menurut pengurus masjid, status kepemilikan tanah tapak masjid ini masih merupakan milik dari keluarga Tanjung. Di pekarangan masjid ini terdapat makam para keluarga raja dan ada juga seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia, Syarifuddin yang setiap tanggal 17 Agustus diadakan acara ziarah ke makam pahlawan tersebut.
 
Masjid Jami' Indrapura.

Namun demikian, Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 5 No. 2 Des 2024 menyebutkan bahwa Masjid Jami’ Indrapura didirikan pada tahun 1937 Masehi (1355 Hijriah) dan
merupakan masjid pertama sekaligus tertua di Kabupaten Batu Bara.
 
Masjid ini adalah peninggalan Kesultanan Indrapura pada masa pemerintahan Panglima Besar Tengku Busu Said Ahmad, yang merupakan putra kedua dari Said Osman Syahabuddin, seorang bangsawan Arab, dan Tengku Embung Badariah, putri Kesultanan Siak Sri Indrapura keempat.
 
Masjid Jami' Indrapura.

Arsitektur Masjid Jami’ Indrapura
 
Bangunan masjid ini memiliki luas 27x16 meter persegi, sedangkan luas lahannya mencapai 42x40 meter persegi. Terdiri dari bangunan utama masjid dan satu bangunan menara. Bangunan utama masjid dibangun dengan struktur dan berdinding kayu beratap seng. Atap tunggalnya dilengkapi dengan sebuah kubah bawang berbahan alumunium bediri diatas penopang berdenah sedi delapan.
 
Bangunan menaranya dibangun dari beton berdenah segi delapan dengan landasan berdenah segi empat, puncak menara dilengkapi dengan kubah bewarna hijau tanpa balkon namun ada celah untuk menempatkan pengeras suara.
 
Interior Masjid Jami' Indrapura.

Aktivitas Masjid
 
Kegiatan rutin masjid meliputi Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, penyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu
 
Badan Kemakmuran Masjid Jami Indrapura juga mengelola Raudhatul athfal (RA) Al-Kautsar, Akreditasi C dan Madrasah Diniyah Takmiliyah awaliiyah Al-kautsar.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 5 No. 2 Des 2024


Minggu, 13 Agustus 2023

Masjid Agung Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara

Masjid Agung Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara  dengan Gedung Islamic Center disebelahnya. (foto: IG @saiful_safeer)
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi diresmikan pada 30 Januari 2019 oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Ramayadi didampingi Wali Kota Tebingtinggi Ir Umar Zunaidi Hasibuan bersama undangan. Upacara peresmian masjid agung tersebut bersamaan dengan peresmian tiga bangunan lainnya milik Pemerintah Kota Tebingtinggi lainnya.
 
Tiga bangunan lainnya yakni gedung Islamic Centre, Balai Pertemuan Kartini serta Balai Kota Tebingtinggi. Upacara peresmian ditandai dengan penandatangan batu prasasti dan pengguntingan pita oleh Ketua TP PKK Provsu Hj Nawal Lubis Edy Rahmayadi, di halaman Kantor Balai Kota, Jalan Sutomo Kota Tebingtinggi.
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi
Lalang, Rambutan, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara 20998
https://goo.gl/maps/qJ2W5vkMyUnNrRut8
 

 
Keempat bangunan baru tersebut merupakan bagian dari proyek dengan anggaran biaya bertahap multy years dari dana APBD Kota Tebingtinggi. Untuk bangunan Masjid Agung dan gedung Islamic Centre yang menelan dana sekitar Rp 64 miliar.
 
Masjid tersebut berada di Jalan Medan-Tebingtinggi, Kelurahan Lalang, Kecamatan Rambutan, Kota Tebingtinggi.  Lokasinya yang hanya beberapa meter dari Simpang Beo yang merupakan titik pertemuan jalur lintas Tebingtinggi-Siantar dan Tebingtinggi-Kisaran, sehingga tak jarang masjid satu ini menjadi perhentian para pengendara.
 
MEGAH. Masjid Agung Kota Tebingtinggi dengan gaya arsitekturnya yang megah memadukan gaya masjid kuno kesultanan di Sumatera dengan sentuhan gaya bangunan masjid Asia tengah dan Kaukasus. (foto: muhammad fernanda)

Masjid ini buka 24 jam. Jadi pengunjung dapat memanfaatkan sepenuhnya sebagai tempat ibadah. Disekitar masjid ini juga disediakan lapak lapak bagi para pedagang kuliner.  Sebelumnya kota Tebingtinggi telah memiliki Masjid Raya Kota Tebing Tinggi yang posisinya persis berada di tengah Kota Tebingtinggi.
 
Arsitektur
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi dibangun dengan memadukan gaya bangunan masjid modern dengan gaya bangunan masjid masjid tua di Sumatera. Rancangan kubah utama masjid ini serupa dengan rancangan kubah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh dan masjid masjid tua kesultanan di Sumatera tempo dulu.
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi (foto: Ronaldi Tumanggor)

Gaya bangunan masjid masjid asia tengah tampak pada badan bangunan yang massif dan tinggi besar serta lantai masjid yang ditinggikan dari permukaan tanah menambah kesan kokoh dan gagah. Jendela jendela berukuran besar dengan kanopi kecil diatasnya menjadi salah satu ciri bangunan tropis.
 
Dua menara masjid ini dibangun terpisah di sisi kiri dan kanan bangunan utama. Bentuk menaranya agak berbeda dengan menara menara masjid yang ada di Indonesia. Menara masjid ini terdiri dari tiga bagian yakni bangunan penopang yang sama bentuknya dengan bangunan utama, lalu bagian tengah berdenah segi delapan dan sisi atas dengan batang menara yang lebih ramping.

Interior Masjid Agung Kota Tebingtinggi (foto: ucu jek)

Kubah utama masjid berdenah segi delapan ini diapit oleh empat kubah yang serupa namun berukuran lebih kecil di empat penjuru atap masjid. Ornamen bulan bintang bewarna ke-emasan menghias puncak kubah utama masjid. 
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi dibangun dengan daya tampung hingga 3.000 jamaah, sedangkan gedung Islamic Centre yang lokasinya berdampingan mampu menampung sekitar 1.000 pengunjung, sehingga bisa digunakan untuk even-even kegiatan keagamaan tingkat provinsi bahkan nasional termasuk penyelenggaraan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) Sumut 2019 dan MTQ Nasional tahun 2020 tingkat Provinsi Sumatera Utara
 
Compact & Minimalis. Gaya masjid agung kota Bukittinggi ini tampak megah dan anggun dengan pilihan warna warna kalem. (foto: Arif Faizin)

Bagian dalam masjid ini terang benderang dengan sinar matahari yang masuk dari kaca jendela masjid. Ruang mihrab dibangun menjorok keluar bangunan. Sisi depan mihrab dihias dengan bentuk gerbang besar dari kayu berukir. Satu mimbar kayu berukir ditempatkan didalam mihrab.
 
Masjid Agung Kota Tebingtinggi ini juga dilengkapi dengan beranda yang ditopang oleh pilar pilar beton bundar  dihias dengan ornamen simetris. Lengkunan besar diatas menara mengingatkan kita pada beranda Masjid Islamic Center Mataram di Lombok. Dengan memadukan warna putih susu dan hijau lumut memberikan kesan sejuk namun megah pada bangunan nya yang tinggi besar.***
 
Rujukan
 
https://sumutpos.co/masjid-agung-tebingtinggi-diresmikan-mampu-tampung-3-000-jamaah/
https://medan.tribunnews.com/2022/02/14/masjid-agung-tebingtinggi-ikon-baru-kota-lemang-yang-curi-perhatian.
https://parboaboa.com/menelusuri-pesona-masjid-agung-kota-tebing-tinggi
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara
Mesjid Raya Sultan Akhmadsyah Tanjung Balai Warisan Kesultanan Asahan
Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran, Asahan
Masjid Azizi - Masjid Kesultanan Langkat
Masjid Raya Sulaimaniyah - Masjid Kesultanan Serdang
Masjid Raya Al Mashun - Medan
Mesjid Lama Gang Bengkok, Kota Medan
Masjid Al Osmani Tertua di Kota Medan

Sabtu, 20 Agustus 2016

Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara

Masjid Jami' Kampung Hopong 

Masjid Jami’ Hopong dibangun sekitar tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, memiliki benang merah dengan sejarah masuk–nya Islam ke Tapanuli dan Sumatera Utara. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang. Beberapa tahun kemudian diperluas oleh Tuanku Rao. Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tersebut dibangun kembali dengan bentuk rumah panggung dari kayu. Kemudian sekitar tahun 1950, diganti atapnya menjadi seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris  Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah  bermukim tokoh tasawuf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Lokasi Masjid Jami’ Hopong

Masjid Jamik Hopong
Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul
Kecamatan Simangumban
Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Koordinat Geografi : 1°44'13.12"N 99°13'41.18"E

 

Dusun Hopong adalah satu dari lima dusun dalam wilayah Desa Dolok Sanggul bersama dengan dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga. Masuk dalam wilayah kecamatan Simangumban. Kecamatan seluas 150 km persegi dan merupakan satu dari 15 kecamatan di dalam wilayah kabupaten Tapanuli Utara, provinsi Sumatera Utara. Dusun ini dikenal sebagai dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di wilayah propinsi Sumatera Utara. Lokasinya jauh dari keramaian kota, 40 kepala keluarga warga dusun ini yang semuanya beragama Islam, tak terjangkau kendaraan bermotor, belum ada penerangan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon maupun sinyal telepon genggam.

Dusun Hopong hanya dapat dicapai dengan bejalan kaki tidak kurang 24 KM dari jalan beraspal. Dapat ditempuh melalu jalur pekan Simangumban. Atau dari desa Padang Mandailing, kecamatan Saipar Dolok Hole melalui hutan belantara. Satu satunya kendaraan yang dapat sampai disana adalah kendaraan Jip gardan ganda itupun hanya pada musim kemarau dengan resiko kecelakaan yang sangat tinggi karena medan yang terlalu sulit untuk di lalui kendaran.

Jalan yang dibuka  Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, warga setempat melilih jalan kaki menuju dusun tersebut melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal dengan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

Rehabilitasi Masjid Jami’ Hopong

Idul fitri 1413 H Masjid Jami’ Hopong sudah tampak Marhilong (mengkilap) begitu muslim setempat menyebutnya. Masjid tua ini sudah di rehabilitasi, lantainya sudah dikeramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius  5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” saat  orang masuk Masjid karena strukturnya yang sudah reot.

Sajadah kumal yang terbuat dari tikar pandan sudah berganti dengan karpet, Mimbar yang kumuh dimakan rayap  sudah terbuat dari papan yang sudah dihaluskan. Atap yang sering bocor jika turun hujan sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi  seperti rumah panggung yang menunggu rubuh. Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak, sudah dapat dilaksanakan malam hari berkat penerangan lampu listrik tenaga surya.

Bahkan air wudhu yang daholoe sering “mellep” (tak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, kini juga sudah menjadi tempat mandi yang mengasikkan dengan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat menggunakan pancuran itu sebagai tempat MCK utama. Malam takbiran disana pun, sudah semarak.

Citra satelit Dusun Hopong 2023.

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu.  Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan  pembangunan masjid itu, betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil.

Adalah Mayjen Simanungkalit yang merupakan salah satu pribumi setempat yang hidup diperantauan di tahun tahun 2009 bincang-bincang dengan Sigit Praono Asri SE, (kala itu) Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi bantuan dari Biro Sosial dan kemasyarakatan Pemprovsu sebesar Rp 50 juta tahun anggaran 2010.

Sajadah dari karpet di masjid ini merupakan bantuan pribadi Arifin Nainggolan SH,MSi, yang saat itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan kini Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yang membeli dua gulungan karpet dan mengirimkan sendiri sampai ke Hopong. Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang kini sudah lancar hingga mampu melayani dusun Hopong dan tiga dusun di sekitarnya, berkat advokasi Daudsyah MM yang saat itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu melalui program PNPM Mandiri yang merupakan program pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam disana sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia merdeka. Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak wudhu, dan bagian teras belum di kramik. Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. (disadur dari Catatan Mudik Mayjen Simanungkalit di batakislam.blogspot.com).***


Minggu, 14 Agustus 2016

Mesjid Raya Sultan Akhmadsyah Tanjung Balai, Warisan Kesultanan Asahan

Diantara Ruko dan sarang walet. Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dibangun tahun 1886, jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai. Kini bangunan tua bersejarah ini berhimpitan dengan jejeran pertokoan dan bangunan bangunan beton sarang walet yang menjulang menandingi tingginya menara masjid.

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah terletak di jalan Masjid, Kelurahan Indra Sakti, Kecamatan Tanjung Balai Selatan, Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara. Masjid dibangun di atas tanah wakaf Kesultanan Asahan dengan luas 10.000 meter persegi dan luas bangunan 1000 meter persegi. Masjid Raya ini merupakan bangunan masjid bersejarah yang sudah berumur lebih dari satu abad, warisan dari kesultanan Asahan yang pernah berjaya di Sumatera Timur. Selesai dibangun tahun 1886 digagas oleh Sultan Akhmadsyah yang namanya di-abadikan sebagai nama masjid raya ini. Beliau merupakan Sultan Asahan ke sembilan.

Alamat Masjid Raya Sultan Akhmadsyah
Jalan Mesjid, kelurahan Indra Sakti
Kecamatan Tanjungbalai Selatan, Kota Tanjung Balai
Provinsi Sumatera Utara, indonesia


Saksi Sejarah Tragedi Pembantaian di Sumatera Timur 1946

Penampilan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah di kota Tanjung Balai ini jelas menyiratkan sebuah perjalanan panjang dari sebuah bangunan masjid yang menjadi saksi bisu sebagian perjalanan sejarah kesultanan Asahan dan kota Tanjung Balai khususnya. Masjid ini juga menjadi saksi bisu kerusuhan sosial di bulan Maret tahun 1946, yang meluluhlantakkan kesultanan kesultanan di wilayah Sumatera Timur termasuk Kesultanan Asahan. Di halaman masjid ini terdapat satu makam yang merupakan pemakaman massal 73 korban tewas dalam kerusuhan sosial tersebut.

Kuburan tersebut ditandai dengan batu prasasti berpahatkan 73 nama nama korban penyerbuan dan pembantaian yang terjadi di Asahan, bulan Maret 1946. Jasad-jasad yang ada di kuburan ini pada mulanya ditemukan dalam bentuk tulang belulang yang terserak di Sungai Lendir tahun 2003, sebuah kampung di Asahan, yang untuk mencapainya harus menggunakan perahu atau motor boat. Mereka adalah para petinggi Kesultanan Melayu Asahan beserta cerdik pandai dan masyarakat umum, termasuk dua orang orang Mandailing bermarga Siregar dan Nasution.

Masjid Raya Sultan Akhmadsyah dengan gerbangnya. Gerbang ini merupakan bangunan baru begitupun dengan satu bangunan menara nya yang lebih tinggi.

Selain Kuburan tersebut, di halaman masjid ini juga terdapat makam para Sultan Asahan dan kerabatnya serta kuburan kuburan keluarga imam dan nazir masjid. Kuburan kuburan tersebut rata rata dilengkapi dengan batu nisan dari batu pualam yang kebanyakan didatangkan dari Penang, Malaysia, berpahatkan nama nama para mendiang dengan hurup Arab Melayu (Arab Gundul) dengan khat yang cukup indah.

Salah satu sultan Asahan yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Tengku Muhammad Husain Syah yang lahir 3 Dzulhijjah 1278 dan wafat 25 Sya'ban sanah 1333, beberapa nisan bahkan bertuliskan tahun yang lebih tua ratusan tahun dari itu. Saat ini di pendopo masjid juga terdapat tiga buah meriam peninggalan Kesultanan Asahan. Sultan Asahan lainnya yang dimakamkan di halaman masjid ini adalah Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, Sultan terakhir Asahan yang wafat tahun 1980.

Kesultanan Asahan Selayang Pandang

Sejarah Kesultanan Asahan dimulai dengan penobatan Sultan Abdul Jalil sebagai Sultan pertama yang berlangsung meriah disekitar kampung Tanjung pada tanggal 27 Desember 1620. Kesultanan Asahan pernah diperintah oleh delapan orang Sutan yang sejak Sultan Abdul Jalil pada tahun 1620 sampai dengan Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah yang naik tahta sebagai sultan Asahan di tahun 1933. Kejayaan Kesultanan Asahan berahir kelam di bulan Maret tahun 1946. Tujuh bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan di Jakarta.

Mimbar dengan bendera hijau Kesultanan

Pada Bulan Maret tahun 1946 pecahlah apa yang dinamakan Revolusi Sosial di Sumatera Timur yang dimotori oleh PKI dalam sebuah aksi yang disebutnya perlawanan terhadap feodalisme. Kelompok masyarakat bersenjata membantai keluarga Kesultanan Melayu di Asahan, Kualuh, Langkat, Bilah, dan Kotapinang. Pembantaian serupa juga terjadi di Karo serta Simalungun. Konon pada saat itu berita proklamasi kemerdekaan Indonesia yang baru berumur tujuh bulan, bahkan belum sampai ke wilayah Sumatera Timur, termasuk wilayah Kesultanan Asahan.

Massa yang dimotori PKI melakukan penyerbuan terhadap pihak kesultanan yang berujung kepada aksi penjarahan, penghancuran aset aset kesultanan, penculikan dan pembunuhan massal terhadap keluarga Kesultanan dan para tokoh tokoh nya. Meskipun selamat dari tragedi tahun 1946 tersebut, Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah, praktis sudah kehilangan sebagian besar anggota keluarga dan para petinggi kesultanan yang menjadi korban genosida serta kehilangan aset kesultanan yang menjadi korban perampasan dan penghancuran. Beliau wafat di kota Medan pada tanggal 17 April 1980 dan dimakamkan di kompleks Mesjid Raya Tanjungbalai.

Pembangunan Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah Tanjung Balai mulai dibangun tahun 1884 dan selesai dibangun pada tahun 1886. Penggagas pembangunannya adalah Sultan Ahmadsyah yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti memerintah Kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888, Sultan Ahmadsyah naik tahta menggantikan ayahanda-nya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854). Dari tahun pembangunannya, Masjid Raya Sultan Akhmadsyah ini jauh lebih tua dibandingkan dengan Masjid Raya Al-Mahsun di Kota Medan (1909) maupun Masjid Raya Sulaimaniyah (1894) di kabupaten Serdang Bedagai.

Sentuhan Eropa di masjid ini ditandai dengan jejeran pilar pilar besar di teras masjid.

Fungsi didirikannya Masjid Raya Sultan Ahmadsyah bukan hanya sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat, Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam. Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat. Selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah.

Arsitektur

Ciri utama dari masjid ini adalah bangunan Melayu. Hal ini terlihat dari bentuk bangunannya yang berbentuk persegi panjang seperti kebanyakan bangunan Melayu. Pada pinggir atapnya juga terdapat ciri khas bangunan Melayu yaitu ukiran pucuk rebung. Keunikan masjid ini adalah tidak terdapat pilar di bagian dalam masjid yang bermakna Allah tidak memerlukan penyangga untuk berdiri. Padahal bangunan dasar dari masjid ini hampir tidak memakai semen melainkan pasir dan tanah liat serta batu bata. Keunikan lainnya yaitu kubah masjid tidak terletak di tengah bangunan melainkan di bagian depan masjid sehingga jika dilihat dari depan, masjid ini terkesan biasa namun menyembunyikan keunikannya.

Ruang sholat utama yang lega tanpa tiang tiang penopang di tengah ruang sholat

Di dalam masjid terdapat mimbar yang berornamen Cina. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan dari Cina. Panji hijau kembar terpancang kokoh di bagian belakang mimbar, seperti kebanyakan di masjid masjid kesultanan lainnya. Di bagian depan mimbar, terpahat kaligrafi dengan gaya khat tsuluts yang amat indah. Kaligrafi ini bertuliskan dua bait syair yang berisi ajaran tentang rukun khutbah Jum'at dalam mazhab imam Syafi'i. Dua bait syair itu kira-kira  bermakna:

Rukun khutbah Jum'at menurut imam-imam kita
Seluruh ada 5, ketahulah wahai sidang Jumat yang mulia
Yaitu membacan pujian, kemudian sholawat dan berwasiat takwa
Lalu membaca ayat, dan doa sebagai penutup khutbah kita

Selain itu juga ada tangga putar untuk naik ke menara masjid yang terletak tepat di belakang mimbar. Bangunan utama Masjid Raya Sultan Ahmadsyah belum pernah direnovasi. Namun bangunan pendukungnya banyak yang diganti maupun ditambah. Seperti tempat wudhu’ yang berbentuk qullah dan dapur masjid diganti dengan pendopo. Sedangkan gerbang dan menara utamanya dibangun kemudian sehingga masjid ini memiliki dua menara.

Aktivitas Masjid Raya Sultan Akhmadsyah

Fungsi Masjid Raya Ahmadsyah saat ini adalah sebagai tempat ibadah masyarakat muslim Tanjung Balai. Selain itu, di Masjid Raya Ahmadsyah juga dilakukan pengajian-pengajian mingguan, pengajian bulan ramadhan, pengajian remaja masjid dan pengajian anak-anak. Masjid Raya Ahmadsyah juga berfungsi sebagai tempat latihan manasiq haji serta tempat sosial kemasyarakatan seperti pemotongan hewan kurban dan khitanan massal serta penyolatan jenazah.

Sejarah Singkat Kota Tanjung Balai

Sebelum kemerdekaan, Kota Tanjung Balai merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Asahan (1620 – 1946). Statusnya sebagai kotapraja di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia disyahkan melalui UU No. 1 Tahun 1957. Namun demikian peringatan hari jadi Kota Tanjung Balai diperingati setiap tanggal 27 Desember, didasarkan kepada sejarah penobatan Sultan Pertama Kesultanan Asahan pada tanggal 27 Desember 1620. Penetapan hari jadi tersebut disyahkan melalui keputusan DPRD Kota Tanjungbalai Nomor 4/DPRD/TB/1986 Tanggal 25 November 1986.

Kuburan masal korban Tragedi di Bulan Maret 1946. 

Di masa penjajahan Belanda, Kota Tanjungbalai berstatus sebagai Gementee berdasarkan Besluit G.G. tanggal 27 Juni 1917 dengan Stbl.1917 No. 284. Sebagai kota pelabuhan dan berstatus sebagai Gementee, Kota Tanjung Balai menjadi tempat kedudukan bagi Assisten Resident dan Ketua Dewan (Voorzitter van den Gemeen-teraad). Tanjung Balai juga menjadi tempat kedudukan Sultan Kerajaan Asahan. Kota ini menjadi kota bandar yang sangat penting bagi Belanda terlebih dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di derah Sumatera Timur termasuk daerah Asahan seperti H.A.P.M., SIPEF dan lain-lain, menjadikan Tanjungbalai sebagai kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan.

Dengan telah berfungsinya jembatan Kisaran dan dibangunnya jalan kereta api Medan – Tanjungbalai, maka hasil-hasil dari perkebunan dapat lebih lancar disalurkan atau diekspor melalui kota pelabuhan Tanjungbalai. Untuk memperlancar kegiatan perkebunan, maskapai-maskapai Belanda membuka kantor dagangnya di kota Tanjungbalai antara lain: kantor K.P.M., Borsumeij dan lain-lain, maka pada abad XX mulailah penduduk bangsa Eropa tinggal menetap di kotaTanjungbalai.

Setelah proklamasi kemerdekaan, berahir pula kekuasaan politik Asahan sebagai sebuah kesultanan ditambah lagi dengan kerusuhan sosial di tahun 1946. Di tahun 1956 Pemerintah Republik Indonesia mengerluarkan Undang-Undang Darurat No. 9 Tahun 1956 kemudian di-umumkan dalam Lembaran Negara nomor 60 tahun 1956 nama Hamintee Tanjungbalai diganti menjadi Kota Kecil Tanjungbalai. Kemudian jabatan Walikota Tanjung Balai dipisahkan dari Bupati Asahan berdasarkan Surat Mentri Dalam Negeri No. UP 15/2/3 tanggal 18 September 1956. Selanjutnya dengan UU No. 1 Tahun 1957 nama Kota Kecil Tanjungbalai diganti menjadi Kotapraja Tanjungbalai.

Walikota Termuda 2016

Walikota Tanjung Balai memegang rekor sebagai Walikota termuda di Indonesia. Adalah Muhammad Syahrial, Walikota Tanjungbalai yang dilantik di Lapangan Merdeka Medan pada hari Rabu 17 Februari 2016, ternyata masih berumur 26 tahun. Dengan usia tersebut, Syahrial didaulat menjadi Wali Kota termuda di Indonesia. Muhammad Syahrial dilantik sebagai Walikota Tanjung Balai bersama dengan 14 Kepala Daerah Se-Sumut lainnya oleh Plt Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, sebagai hasil dari Pilkada serentak di provinsi Sumatera Utara tahun 2016.***

Related post


Sabtu, 13 Agustus 2016

Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran

Megah, Masjid Agung H. AHmad Bakrie Kisaran dengan empat menara menjulang

Masjid Agung H. Ahmad Bakri merupakan masjid agung kabupaten Asahan. Masjid ini berdiri di lahan seluas empat hektar, bekas lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT. Bakri Sumatera Plantation (BSP) di kota Kisaran. Adapun nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan kepada mendiang H. Ahmad Bakri, ayahanda dari ARB. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana sekitar Rp. 68 Milyar di danai dari APBD Asahan secara bertahap sejak tahun 2011 hingga tahun 2015.

Lokasi Mesjid Agung H. Ahmad Bakrie

Jalan Lintas Sumatera, Desa Sidomukti
Kec. Kisaran Barat, Kabupaten Asahan
Provinsi Sumatera Utara – Indonesia

Masjid Agung H. Ahmad Bakrie berada di ruas jalan lintas sumatera di desa Sidomukti, kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan. Lokasinya berseberangan dengan komplek kantor Bupati Kabupaten Asahan dan bersebelahan dengan Alun Alun Kota Kisaran dengan bangunan pendoponya yang unik.



Pembangunan masjid ini bersamaan dengan pembangunan kawasan disekitarnya termasuk pembangunan taman kota dan Alun Alun Kota Kisaran, nantinya di komplek masjid ini juga akan dilengkapi dengan Islamic Center, Perpustakaan serta tempat persinggahan bagi para musafir. Pembangunan komplek ini sejaran dengan visi dan misi Pemkab Asahan yakni “Terwujudnya Asahan Yang Religius, Sehat, Cerdas dan Mandiri”.

Masih dari Jaya Prana, Masjid Agung Ahmad Bakrie yang juga mempunyai Islamic Center dalam kurun waktu 2017 direncanakan akan dibangun tempat perpustakaan dan juga tempat persinggahan para musafir yang dari luar Asahan saat menunaikan salat lima waktu dengan berbagai tempat pembangunan makanan dan minuman.


Pemkab Asahan sangat menyadari pembagunan masyarakat seutuhnya harus dimulai dari masjid, masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pengkajian dan kegiatan agama Islam, pusat pendidikan dan pusat pelayanan kesehatan, pusat kegiatan sosial ekonomi dan juga dapat berfungsi sebagai tempat rekreasi.

Sejarah Pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Rencana pembangunan masjid Agung bagi kabupaten Asahan sudah digaungkan sejak masa kepemimpinan mendiang Bupati Risuddin sekitar tahun 2006, namun ide itu hampir tidak terlaksana karena membutuhkan dana yang begitu besar dan beberapa persoalan lainnya. Di masa kepemimpinan Bupati Drs H Taufan Gama Simatupang MAP, rencana pembangunan masjid Agung kembali digulirkan. Sebuah rencana yang sempat menimbulkan pro dan kontra.

Masjid dan Alun alun. di sebelah kiri foto adalah bangunan pendopo alun alun kisaran

Dalam sebuah kunjungannya ke Jakarta, Bupati yang akrab dipanggil Buya Taufan ini, menyempatkan diri bertemu dengan Ibu Roosniah Nasution, Ibunda dari tokoh nasional Ir. H. Aburizal Bakrie, yang juga pemilik grup usaha Bakri. Dalam pertemuan tersebut beliau (Buya Taufan) menyampaikan niat untuk membangun Masjid Agung Bagi Kabupaten Asahan yang rencananya akan di bangun di atas lahan bekas HGU PT. BSP. Dalam kesempatan tersebut Ibu Roosniah menyambut baik rencana tersebut dan menyatakan bahwa lahan untuk pembangunan yang dimaksud tidak perlu dibayar.

Dengan demikian Pemkab Asahan tidak perlu lagi memikirkan dana untuk pembelian lahan bagi pembangunan masjid yang akan dibangun. Proses pembangunan dimulai dengan Peletakan batu pertama yang dilaksanakan pada hari Kamis 19 Mei 2011 oleh Ir. H. Abu Rizal Bakrie (ARB) selaku pemilik dan pimpinan dari Grup Bisnis Bakrie.

Upacara peletakan batu pertama tersebut turut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Asahan, Drs H Taufan Gama Simatupang, para petinggi PT BSP, muspida Asahan serta para tokoh masyarakat. Dalam kesempatan itu Bupati Asahan mengucapkan terima kasih Ir H Aburizal Bakrie atas bantuan yang diberikan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan. Sebelumnya, Bupati Asahan juga menghadiri pelantikan DPD Golkar Kabupaten Asahan dan peresmian gedung Golkar yang baru bersama Ketua Umum Partai Golkar, Ir H Aburizal Bakrie.

ARB. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung H. Ahmad Bakrie Kisaran dilakukan oleh Ir. H. Aburizal Bakrie (ARB)

Sumber Dana

Biaya pembagunan masjid Agung dan Islamic center kabupaten Asahan pada awalnya diperkirakan sekitar Rp 48 milyar yang bersumber dari dana APBD Asahan, dana sumbangan ummat dan sumber dana lainya, sedangkan biaya untuk pembagunan alun-alun dan hutan kota diperkirakan sekitar Rp 30 milyar yang direncanakan akan selesai dalam empat tahun,

Seiring pembangunan yang terus berjalan, terjadi fluktuasi harga terhadap bahan-bahan perlengkapan pembangunan Masjid Agung. Sehingga dana yang tadinya Rp45 miliar tidak cukup. Kemudian diajukan kembali dana tambahan menjadi Rp68 miliar dan kebijakan itu mendapat persetujuan DPRD Asahan.

Peresmian Masjid Agung Kisaran dan MTQ Sumut 2015

Masjid ini resmi digunakan sebagai tempat ibadah pertama kalinya pada hari Rabu 5 Agustus 2015, bertepatan dengan pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Sumatera Utara ke 35. Acara peresmian ditandai dengan salat zuhur berjamaah bersama Bupati Asahan Drs H Taufan Gama Simatupang MAP serta silaturahmi Pemkab Asahan bersama SKPD, FKUB, Forkopinda, Tokoh Masyarakat dan Agama, Camat, Lurah dan kepala desa bersama ratusan masyarakat.

Interior Masjid Agung H. Ahmad Bakrie

Puncaknya saat Salat Idul Fitri 1437 Hijiriah pada 6 Juli lalu, Masjid Agung Ahmad Bakrie disesaki warga hampir lima ribuan jamaah. Ini sebagai bukti bahwa Masjid Agung ini merupakan salah satu Masjid yang mendapat tempat di hati masyarakat dan digunakan untuk menyiarkan agama Islam di Kabupaten Asahan. Saat ini, Masjid Agung Ahmad Bakrie diharapkan akan menjadi penyiaran umat Islam dimana setiap salat Jumat, ribuan umat Islam selalu mendatangi Masjid Agung untuk melakukan salat, baik salat Jumat maupun salat lima waktu.

Arsitektur Masjid Agung Kisaran

Bangunan masjid Agung H. Ahmad Bakri Kisaran dibangun berdenah segi empat simetris. Bangun atapnya bertingkat dua, pada atap tingkat dua diletakkan satu kubah besar dengan cincin bewarna strip kuning emas. Empat menara menjulang di ke empat sudut masjid dengan warna kuning senada dengan warna kubah. Kubah berukuran lebih kecil diletakkan diatas masing masing beranda masjid ini. warna putih dan kuning mendominasi bagian eksterior dengan aksen warna hijau lumut pada bagian kerawang yang menutup bukaan beranda.

Meski dibangun dengan mengadopsi gaya masjid masjid modern, bangunan masjid ini memiliki aksen melayu yang sangat kental pada pernik ornamen nya dibagian atas dinding luar masjid dengan warna kuning, ditambah lagi dengan cincin penopang kubah utama dan cincin yang melingkar batangan menara juga dengan warna kuning. Sementara sisi kerawangnya mayoritas menggunakan pola geometris dengan warna hijau lumut.

Sentuhan melayu sangat terasa di bagian interior masjid ini

Melewati tangga masuk ke masjid ini langgam melayu semakin kental, tangga lebar yang cukup tinggi mengesankan rumah rumah panggung tradisional melayu, ditambah lagi dengan penggunaan jendela jendela berukuran besar serta lengkungan dan ornamen di atas jendela yang juga menggunakan warna kuning menghadirkan nuansa melayu yang teramat kental.

Interior masjid dirancang lega dan minimalis tanpa banyak ornamen. Bagian yang sarat dengan ragam hiasan hanya pada bagian bingkai mihrabnya, satu lampu gantung berukuran besar menjuntai dibagian bawah kubah ke tengah tengah ruang masjid ini. dengan dominasi warna putih ditambah dengan banyaknya bukaan dari jendela jendela kecil di atap masjid dan jendela jendela lebar disekeliling masjid ini menghadirkan suasana terang benderang di dalam masjid ini disiang hari. Atapnya yang tinggi menghadirkan suasana yang teduh.

Masjid Agung ini terdiri dari 3 Lantai. Lantai pertama merupakan tempat wudhu serta kantor  pengurus Masjid. Kamar mandi untuk wudhu juga begitu luas. Ruang sholatnya ditempatkan di lantai 2 dan 3. Untuk jemaah wanita ditempatkan di bagian shaf belakang dengan partisi dari kain bewarna hijau. Untuk kepengurusan masjid, Bertindak sebagai Ketua BKM Jaya Prana Sembiring dan Imam Besar HM Syafii. (dirangkum dari berbagai sumber)***