Tampilkan postingan dengan label Masjid di Yokyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Yokyakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

Masjid Panepen Kraton Yogyakarta

Masjid Panepen di Keraton Yogyakarta :: ukurannya kecil, setara dengan namanya yang berarti tempat menepi. masjid memang berukuran kecil hanya mampu menampung sekitar 60 jemaah saja karena memang fungsinya sebagai masjid istana.

Masjid Kagungan Dalem Panepen atau Masjid Panepen, Masjid kecil di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta ini nyaris tak pernah mencuat keberadaannya dan tak pernah muncul di media cetak ataupun elektronik. Keberandaanya sendiri bahkan tidak muncul dalam peta wisata Yogyakarta. Statusnya memang sebagai masjid keluarga keraton sehingga wajar bila masyarakat umum kurang bahkan tidak mengenal masjid ini.

Masjid Panepen dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono Ke-7 di tahun 1327 Hijriyah. Keberadaan masjid ini muncul dan menjadi pusat perhatian publik ketika keluarga keraton menjadikan masjid ini sebagai tempat diselenggarakannya upacara akad nikah putri Sultan Hamengkubuwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) pada hari selasa pagi 18 Oktober 2011 yang lalu. Sultan sendiri yang menikahkan kedua mempelai disaksikan kerabat dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Lokasi Masjid Panepen

Masjid Panepen terletak di sisi Barat kompleks Kraton Yogyakarta, searah dengan kompleks Kraton Kilen, kediaman Sri Sultan Hamengkubuwono X berserta keluarga dan menilik dari namanya berarti menepi atau menyendiri atau kalau diterjemahkan secara bebas adalah tempat untuk refleksi diri.

Koordinates :  7°48'23.85"S 110°21'47.52"E


View Masjid Panepen in a larger map


Arsitektural Masjid Panepen

Masjid Panepen yang luasnya 7 kali 12 meter berkapasitas maksimum hanya 60 orang, terdiri dari dua ruangan, serambi dalam dengan enam jendela bercat hijau tua dibagian tengah terdapat empat soko guru yang menopang atap bangunan berbentuk joglo dengan jarak setiap tiang bulat tanpa ukiran sekitar dua meter, bercat hijau tua, dipadu dengan dinding putih membuat suasana terasa adem, tenang dan nyaman untuk digunakan sebagai tempat ibadah, bertafakur kehadirat Sang Khalik.

Di bagian serambi luar dengan empat jendela bercat hijau tua dua di dinding sebelah Utara dan dua di dinding sebelah Selatan dan diantara masing-masing jendela tersebut terpasang prasasti terbuat dari kuningan berhuruf arab gundul, salah satu prasasti tersebut menyebutkan tanggal pembangunan masjid Panepen tersebut.

Sehari-harinya masjid ini di jaga dan dirawat oleh tiga orang, seorang dari Konco Kaji yang mudah dikenali dengan busana putih berikut surban putihnya, serta dua orang dari Konco Suranata yang  senantiasa mengenakan busana peranakan, baju lurik warna biru tua, memakai kain batik dan tanpa alas kaki.

Aktivitas Masjid Panepen

Sejak dibangun Sultan Hamengku Buwono VII pada 1327 Hijriyah silam, masjid ini dijadikan lokasi ijab qobul putra putri ngarsa dalem termasuk putri Sultan HB X. Pada hari biasa tempat tersebut dijadikan tempat kegiatan abdi dalem punokawan kaji yang jumlahnya 12 orang dibantu abdi dalem suranata. Pada Ramadan seperti sekarang ditambah kegiatan tarawih dan tadarus Al Quran, namun tidak ada kegiatan yang berlebihan lainnya.

Suasana di dalam Masjid Penepen
Pengirit (pemimpin) Abdi Dalem Punokawan Kaji, Raden Riyo H Abdul Ridwan (sebelumnya bernama Ridwan Johan) menjelaskan masjid panepen ini adalah masjid pribadi Sultan. Dilihat dari ukuran dan fungsi, sebenarnya mirip dengan langgar atau mushola karena tidak untuk salat Jumat. Namun selanjutnya lebih tepat disebut dengan masjid kagungan dalem panepen.

Dilihat dari namanya Panepen artinya tempat untuk menepi atau menyendiri. Tempat dimana sultan berkholwat, menyendiri untuk mendekatkan diri dengan yang maha kuasa pada saat-saat tertentu. Jadi tidak setiap saat Sultan menggunakan masjid tersebut untuk beribadah. Beliau tidak setiap saat menepi, hanya momen tertentu.

Ngarsa dalem (Sultan) menepi jika ada situasi yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk menambah kekuatan atau sudah dalam situasi rawan. Ketika menepi dilakukan sendiri berada di pojok tenggara masjid. Di sana disediakan tempat khusus, lebih tinggi sekitar 10 sentimeter dari lantai cukup untuk menggelar satu sajadah. Namun jika menghendaki, ngarsa dalem mengajak para abdi dalem sesuai permintaan yang dipastikan jumlahnya ganjil.

Akad nikah putri Sultan Hamengkubuwono X, GRAj Nurastuti Wijareni (GKR Bendara) dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudanegara) pada hari selasa pagi 18 Oktober 2011 yang lalu. Sultan sendiri yang menikahkan kedua mempelai disaksikan kerabat dan petugas KUA Kecamatan Kraton.

Ridwan bertugas mengkoordinir abdi dalem mulai dari Punokawan Kaji yang jumlahnya 12 orang sampai abdi dalem lainnya. Pernah satu waktu ia diminta menyiapkan 59 abdi dalem untuk ritual dzikir ataupun wasulan untuk sesuatu yang sangat penting. Misalnya menjelang erupsi Merapi 2010, menjelang jatuhnya pesawat Garuda Indonesia di Bandara Adisutjipta. Bahkan sebelum Gempa 2006 ngarsa dalem lebih dulu sudah menepi.  Dalam hal ini, ritual bertujuan meminimalkan korban. Namun tidak diketahui sebelumnya.

Ritual yang dilakukan selain wasulan yang pernah dijalani Ridwan bersama abdi dalem adalah khataman al quran sampai dengan duduk tidak boleh bersandar selama tiga jam. Dalam ritual ini ia bertugas memimpin menyambungkan dengan para pendahulu. Pasalnya Kraton tidak terlepas dengan perjalanan pendahulu. Kerajaan punya misi yang harus dilanjutkan penerusnya.  Misinya sama, tetapi jamannya beda dan menyikapinya pun juga berbeda yakni untuk kesejahteraan rakyat.

Dalam kegiatan di dalam kraton ini, Ridwan meminta agar Kraton tidak dianggap sebagai tempat mistik. Apapun kegiatan yang dilakukan ini berdasarkan ajaran islam sehingga tidak dianggap sesuatu yang berlebihan jika ada pandangan berbeda.

Referensi

wikimapia – masjid panepen

----------------------------

Baca Juga Masjid Masjid di Yogyakarta Lainnya


Minggu, 09 September 2012

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (bagian 3)

Beranda Masjid Agung Mataram Kotagede.

Arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede

Bangunan inti Masjid Kotagede merupakan bangunan Jawa dengan atap limasan. Sedangkan ruangan masjid ini terbadi dua yaitu inti dan serambi. Sebelum memasuki area Masjid, disebelah barat Masjid berdiri gapura besar yang disebut Gapura Padureksa. Diatas gapura ini terdapat sebuah hiasan Kala seperti halnya ornamen dekoratif yang banyak dijumpai pada bangunan candi kuno bergaya Hindu.

Di kiri kanan jalan menuju gapura Gapura Padureksa, berjajar sejumlah rumah tradisional Dondhongan. Ini adalah tempat tinggal keluarga Dondhong keturunan dari Nyai Peringgit, para abdi dalem yang bertugas membersihkan halaman masjid. Selain Gapura Padureksa di sisi timur, masih terdapat 2 buah gapura sejenis yang terdapat di sisi utara dan selatan. Gapura yang berada di sisi selatan, menghubungkan halaman Masjid dengan kompleks Makam Senopaten.

Sebuah parit yang mengelilingi masjid akan dijumpai sebelum memasuki bangunan inti masjid. Parit itu di masa lalu digunakan sebagai saluran drainase setelah air digunakan wudhu di sebelah utara masjid. Memasuki halaman di depan serambi akan di temui beberapa pohon sawo kecik serta prasasti pembangunan Masjid berlambang Kasunanan Surakarta.

Bangunan Utama dan Bangunan Tambahan. Bangunan utama masjid berbentuk limasan yang terbuat dari batu bata, semen, pasir dan kayu. Bagian serambinya ditopang oleh 26 buah tiang kayu jati. Lantai serambi dari tegel abu-abu. Sedangkan, atap serambi yang berbentuk tumpang terbuat dari sirap. Di serambi ini tersimpan kentongan dan Beduk hadiah dari Nyai Peringgit.

Parit yang mengelilingi masjid Agung Mataram Kotagede.

Bedug yang usianya tak kalah tua dengan masjidnya itu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit yang berasal dari desa Dondong (wilayah di Kabupaten Kulon Progo). Atas jasanya memberikan bedug itu, keturunan Nyai Pringgit diberi hak untuk menempati wilayah sekitar masjid yang kemudian dinamai Dondongan. Sementara bedug pemberiannya, hingga kini masih dibunyikan sebagai penanda waktu sholat. Beduk tersebut berukuran panjang 184 sentimeter dengan diameter 85 sentimeter sedangkan kentongannya berukuran panjang 114 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter.

Atap bangunan mesjid bertingkat dua. Atap tersebut terbuat dari kayu dan ditutup dengan genteng. Atap tingkat atas berbentuk segi tiga dengan sudutnya yang runcing. Sedangkan, atap tingkat bawah seperti segi tiga yang terpotong bagian atasnya. Puncak atap diberi mahkota yang disebut pataka. Sementara, bangunan tambahan yang terdapat dalam kompleks mesjid ini ada di sebelah utara bangunan induk. Bangunan tambahan ini dipergunakan sebagai tempat wudlu yang berukuran 3,47x2,20x1,94 meter dan dilengkapi dengan dua buah kamar mandi. Bangunan ini merupakan hasil perbaikan karena bangunan yang asli telah rusak.

Pintu Masjid. Pintu masuk masjid terdapat di sisi timur, utara dan selatan. Ada tiga pintu di sisi timur masjid semuanya terbuat dari kayu jati. Masing-masing pintu dilengkapi dua daun pintu. Pintu utama berada di tengah-tengah. Pada ambang atas pintu utama terdapat tulisan huruf Jawa yang sudah agak aus, namun masih dapat terbaca yang berbunyi : “kamulyaaken tahun Ehe ngademken cipto sawaraning jalmi”.  Masih ada lagi pintu masuk di sisi utara dan selatan masing-masing dua pintu yang juga terbuat dari kayu jati. Sedangkan dua pintu di sisi selatan menghubungkan ruang utama dengan tempat wudlu.

Interior Masjid Agung Mataram Kotagede dengan mihrab dan mimbarnya yang khas.

Ruang utama. Ruang Utama Masjid ini berukuran panjang 15,22x14,19 meter, ditopang oleh empat soko guru utama terbuat dari kayu jati. Lantai ruang utama ditutup ubin teraso berukuran 30x 30 sentimeter. Dindingnya terbuat dari tembok dengan delapan jendela, masing masing enam jendela dilengkapi dengan jeruji besi dan dua jendela dengan jeruji kayu. Di dalam ruang utama ini terdapat mihrab berukuran panjang 1,60x2,18x2,92 meter. Mihrab itu diperindah dengan tiang semu yang pada bagian atasnya mempunyai sekumpulan bingkai. Di atas bingkai ini terdapat papan dari kayu jati yang penuh dengan ukir-ukiran dengan motif sulur daun.

Mimbar Dari Palembang. Mimbar tua dari kayu berukir di diletakkan dibelah mihrab dalam masjid ini berasal dari Palembang, konon disebutkan bahwa pada saat Sultan Agung menunaikan ibadah haji, ia mampir ke Palembang untuk menjenguk salah satu adipati disana. Sebagai penghargaannya, adipati Palembang memberikan mimbar tersebut. Mimbar itu kini jarang digunakan karena sengaja dijaga agar tidak rusak. Sebagai pengganti mimbar itu, warga setempat menggunakan mimbar kecil untuk kepentingan ibadah sehari-hari.

Mimbar tersebut berukuran 2,19x1,40x2,65 meter, berdiri di atas lapik yang tersusun bertingkat. Lapik paling bawah berukuran 2,50x1,30 meter. Di atasnya ada lapik yang lebih masuk ke dalam yang berukuran 2,30x1,15 meter, sedangkan yang paling atas berukuran 2,10x1,05 meter. Bagian bawah mimbar merupakan perpaduan pelipit. Pelipit yang pertama adalah pelipit rata dan di atasnya adalah pelipit padma.

Bagian tembok kuno Masjid Agung Mataram Kotagede.

Bangunan Pawetren. Di sisi selatan bangunan utama, terdapat ruang shalat khusus untuk jemaah perempuan (pawestren), berukuran 12,50 x 6,50 m. Lantai ruang pawestren dilapis dengan ubin teraso. Antara pawestren dan ruang utama dihubungkan sebuah pintu.

Makam di Komplek Masjid Kotagede. Di halaman masjid ini ada beberapa bangunan makam yang terdiri dari tiga bagian, yaitu: bagian depan yang disebut Prabayaksa, bagian tengah (Witana), dan bagian belakang (Tajug). Bangunan Prabayaksa dikelola oleh keraton Surakarta, sedangkan bangunan Witana dan Tajug dikelola oleh keraton Yokyakarta.

Di dalam bangunan Prabayaksa terdapat 64 makam yang salah satunya adalah makam Sultan Sedo Ing Krapyak. Di dalam bangunan Witana terdapat 15 makam yang di antaranya adalah makam Kyai dan Nyai Ageng Senopati, dan makam Ki Juru Mertani. Sedangkan, di dalam bangunan Tajug hanya terdapat tiga buah makam, yaitu: makam Nyai Ageng Enis, makam Pangeran Joyoprono, dan makam Datuk Palembang.

Makam yang terbagi dua. Selain makam-makam tersebut ada satu makam lagi, yaitu makam Ki Ageng Mangir Wonoboyo yang letaknya sebagian di dalam dan sebagian lagi diluar bangunan Prabayaksa. Hal ini memberi makna bahwa Ki Ageng Mangir adalah seorang musuh, tetapi dalam hubungan keluarga ia diterima sebagai menantu Panembahan Senopati. Konon, sewaktu Ki Ageng Mangir akan dimakamkan, rombongan yang mengangkut jenazahnya tidak diperkenankan melalui gapura serta tidak boleh seluruh jasadnya dimakamkan di dalam kompleks masjid ini. Oleh karena itu, sebagian tembok yang berada di sisi utara kompleks masjid terpaksa dirobohkan untuk mengubur jasad Ki Ageng Mangir.

Benda Cagar Budaya .

Tembok yang mengelilingi bangunan masjid memiliki dua karakter yang berbeda karena memang dibangun oleh dua tokoh yang berbeda. Tembok bagian kiri terdiri dari batu bata yang ukurannya lebih besar, warna yang lebih merah, serta terdapat batu seperti marmer yang di permukaannya ditulis aksara Jawa, dibangun pada masa Sultan Agung tanpa bahan semen melainkan menggunakan perekat dari air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat. Sementara tembok yang lain memiliki batu bata berwarna agak muda, ukuran lebih kecil, dan polos. merupakan hasil renovasi Paku Buwono X.

Aktivitas Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid yang usianya telah ratusan tahun itu hingga kini masih terlihat hidup. Warga setempat masih menggunakannya sebagai tempat melaksanakan kegiatan keagamaan. Bila datang saat waktu sholat, akan dilihat puluhan warga menunaikan ibadah. Di luar waktu sholat, banyak warga yang menggunakan masjid untuk tempat berkomunikasi, belajar Al Qur'an, dan lain-lain.

Selain itu, masjid ini juga selalu dikunci rapat dan hanya akan dibuka ketika tiba menjelang waktu shalat. Dan setelah selesai waktu shalat pintunya akan kembali dikunci. Tujuannya, tidak lain adalah demi menjaga keamanan barang inventaris masjid. Karena, berdasar pengalaman, telah sering terjadi kasus kehilangan di dalam masjid. Mulai dari kitab Alqur’an hingga perangkat sound system atau peralatan pengeras suara.

Kembali ke Bagian 2
Kembali ke Bagian 1



Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta (Bagian 2)

masjid Agung Mataram Kotagede

Catatan sejarah kekuasaan Sultan Agung, Raja terbesar Kesultanan Mataram terukir indah sebagai salah satu raja Jawa yang melakukan peperangan sengit melawan penjajahan Belanda. Beliau melakukan dua kali ekspedisi militer menyerang pusat kekuatan Belanda di Batavia. Meski dua serangan tersebut mengalami kegagalan namun jejak yang ditinggalkan masih dapat ditelusuri hingga kini terutama disekitar kota Batavia atau kini kita kenal sebagai kota Jakarta.
 
Beberapa kawasan dan masjid masjid tua di kota Jakarta tak dapat dilepaskan dari pasukan Kesultanan Mataram yang tergabung dalam ekspedisi militer yang dilakukan oleh Sultan Agung ke Batavia. Diantaranya adalah Masjid Jami’ Matraman, Masjid Jami al-Mansyur di Sawah lio – Jembatan lima, Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang, dan bila membaca sejarah Masjid Jami Cikini Al-Ma’mur kita akan menemukan fakta bahwa Raden Saleh yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut beristrikan seorang putrid dari keraton Mataram.

Tak hanya masjid masjid di Jakarta yang memiliki sentuhan sejarah dengan kebesaran Kesultanan Mataram. Masjid Agung Karawang di pusat kota Karawang pun pernah menjadi tempat persinggahan pasukan Mataram dalam penyerbuan ke Batavia mengingat kala itu Karawang merupakan wilayah bawahan Kesultanan Mataram dan turut membantu penyediaan logistik bagi pasukan tersebut.
 
Pembagian wilayah Mataram di tahun 1830. Awalnya terdiri dari dua wilayah, Yogya dan Surakarta lalu pecah lagi menjadi empat dengan eksisnya Mangkunegaran dan Pakualaman. Wilayah Yogya sendiri memiliki beberapa exclave dari negeri tetangganya.

Sultan Agung wafat tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sunan Amangkurat-I. Sejak naik tahtanya Amangkurat I Kesultanan Mataram mengalami konflik internal akibat berbagai ketidakpuasan. Sunan Amangkurat I wafat di Tegalarum tahun 1677. Perselisihan dan pertikaian internal kerajaan tak kunjung usai sampai ahirnya Kesultanan Mataram terpecah menjadi dua kerajaan dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755.

Perjanjian Giyanti tersebut membagi dua Kesultanan Mataram menjadi Kesultanan Ngayogyakarta dengan Pangeran Mangkubumi sebagai raja pertama bergelar Sultan Hamengkubuwana-I dan Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwana III sebagai raja pertama. Dan Berakhirlah era Kesultanan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.
 
Sejarah Masjid Agung Mataram Kotagede
 
Masjid Besar Mataram, atau Masjid Agung Mataram, semula merupakan sebuah langgar yang di bangun Ki Ageng Pemanahan. Artinya Masjid ini sudah eksis sejak masa Kesultanan Pajang, dan wilayah kotagede (Mataram/Alas Mentaok) masih merupakan wilayah swatantra di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang, sebelum Kesultanan Mataram Bediri ditandainya dengan dilantiknya Sutawijaya menjadi Panebahan Senapati (berkuasa 1588-1601), sebagai pertama raja Kesultanan Mataram, di tahun 1588M.

Sutawijaya atau Panebahan Senapati mengembangkannya langgar yang dibangun ayahnya itu menjadi sebuah masjid dengan kerangka bangunan seluruhnya dari kayu jati, ditopang empat buah saka guru berukuran 0,3 x 0,3 x 5 m, serta membuat liwan (ruang utama masjid) dan mihrab. Disebutkan pula bahwa Sultan Agung (memerintah tahun 1613-1645) turut membangun bangunan inti masjid ini.

Monumen peringatan pembangunan Masjid oleh Kasunanan Surakarta berdiri megah di halaman masjid ini, menandai bahwa Pakubuwono X penguasa Kasunanan Surakarta penah membangun masjid ini saat Kotagede menjadi exclave Surakarta. Dibagian belakang terlihat gerbang yang sangat bercorak Hindu.

Paska Perjanjian Giyanti hingga tahun 1952 sebagian wilayah Kotagede dan Imogiri menjadi ekslave Kasunanan Surakarta di dalam wilayah Kesultanan Ngayokyakarta. Pada 1796, Kasunanan Surakarta melakukan perluasan serambi Masjid Agung Mataram, dan pada 1867 dilakukan perbaikan lagi setelah terjadi gempa hebat.
 
Di fasad depan masjid terukir angka tahun 1856 dan 1926, merupakan tahun dilakukannya penambahan emperan dan tempat wudhu, serta pengantian atap sirap dengan genteng. Sedangkan angka 1926 merupakan tahun dibangunnya pagar masjid, serta tugu ketika Kasunanan Surakarta diperintah oleh Paku Buwono X.
 
Pada 1997, dilakukan pemasangan teraso pada liwan. Kemudian pada 2002 dilakukan renovasi besar dengan memasang marmer Italia di liwan dan pawestren, pelapisan dinding jagang (kolam air yang mengelilingi serambi) dengan terakota, penggantian dinding dan alas bak wudhu, serta perbaikan gapura dan dinding pagar masjid. Sedangkan menara pengeras suara Masjid Besar Mataram dibangun pada 2003.

Lanjutkan membaca ke bagian 3
Kembali ke Bagian 1

Sabtu, 08 September 2012

Masjid Agung Mataram Kotagede, Yogyakarta

Masjid Agung Mataram Kotagede.

Kotagede di Yogyakarta menyimpan sejarah masa lalu yang tak ternilai, khususnya bagi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan bagi sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa dan Indonesia pada umumnya. Di Kota tua ini pernah berdiri Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam), menggantikan kerajaan Mataram Hindu yang sebelumnya juga berdiri dan berpusat di lokasi yang sama.
 
Era kejayaan Kesultanan Mataram (Kerajaan Mataram Islam) memang sudah berlalu ber-abad yang lalu. Kerajaan Islam terbesar Nusantara tersebut kemudian terpecah menjadi Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, namun peninggalan masa ke emasan nya masih dapat kita temui saat ini, Termasuk Masjid Agung Mataram Kotagede, menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu sebuah kerajaan yang pernah berjaya dan menguasai hampir seluruh tanah Jawa, dan jejak kemashurannya bertebaran hingga ke ibukota Negara, Jakarta.

Masjid yang merupakan salah satu komponen asli Kotagede ini berdiri di selatan kawasan Pasar Kotagede sekarang, tepatnya di kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan masjidnya sendiri tidaklah semegah masjid masjid modern, bahkan bila dibandingkan dengan Masjid Agung  Yogyakarta pun masih kalah megah. Namun masjid ini jauh labih tua dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta dan masjid masjid tua lainnya di Yogyakarta.

Lokasi Masjid Agung Mataram Kotagede

Masjid Agung Mataram Kotagede
Kelurahan Jagalan, kecamatan Banguntapan
Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Indonesia


Keunikan yang sangat menyolok dari arsitektural Masjid Agung Mataram Kotagede ini terletak pada perpaduan dua unsur budaya dari dua latar belakang agama yang berbeda, kemudian diramu dengan apik ke dalam satu kesatuan bangunan masjid. Pengaruh budaya Hindu masih sangat kental pada bangunan masjid ini. nuansa itu dapat langsung ditemui saat berkunjung kesana dari tampilan gerbang yang mengadopsi gerbang gerbang bangunan pura hingga bentuk bangunan utama nya yang menggunakan atap berundak.

Hal lain yang sangat menarik dari masjid masjid tua tanah jawa adalah mastaka di puncak atap masjid yang tidak di hias dengan bulan sabit ataupun lafaz Allah melainkan sebuah gada berukuran besar dihias dengan ornamen seperti daun simbar. Gada besar itu melambangkan hurup alif ataupun angka 1 yang menyimbolkan ke-Esa-an Allah Subhanahuwata’ala.

Megunjungi masjid bersejarah seperti Masjid Agung Kotagede ini, tak lengkap rasanya bila kita tidak menilik sejenak jauh kebelakang tidak saja tentang sejarah masjid nya sendiri tapi juga sejarah kerajaan dan masyarakat tempat nya berdiri, karena seperti kita semua ketahui bahwa bangunan masjid tak lepas dari peran ummat dan Ulama dan Umaro di tempatnya berdiri. Berikut sejarah singkat sejarah Kesultanan Mataram di rangkum dari berbagai sumber.

Mengenal Sejarah Kesultanan Mataram

Hingga tahun 1952 Kotagede dan Imogiri merupakan exclave kasunanan Surakarta di dalam wilayah Yogyakarta, sampai kemudian dilebur ke dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta bersama dengan wilayah Pakualaman dan exclave Ngawen milik Mangkunegaran.

Kotagede tempat berdirinya Masjid Agung Kotagede, memang sudah tak lagi menjadi ibukota sebuah kerajaan, tapi saksi bisu serangkaian sejarah besar. Pada abad ke-8, Kotagede menjadi Ibukota Kerajaan Mataram Hindu dibawah kekuasan dinasti wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra hingga Wangsa Isyana yang menguasai seluruh Pulau Jawa, kerajaan ini memiliki kemakmuran dan peradaban yang luar biasa, jejak kebesarannya masih dapat kita nikmati hingga detik ini diantaranya adalah candi Prambanan dan candi Borobudur.
 
Berabad lamanya waktu berlalu kerajaan di tanah Jawa pun patah tumbuh silih berganti. Di penghujung kejayaan Majapahit, Kesultanan Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Ketika kekuasaan Kesultanan Demak berahir, tahta Kesultanan Demak kemudian dilanjutkan oleh Jaka Tingkir alias Mas Karebet alias Sultan Hadiwijaya yang mendirikan Kesultanan Pajang paska keruntuhan Kesultanan Demak akibat pemberontakan Arya Penangsang tahun 1546.

Penebahan Senopati
Penumpasan Arya Penangsang dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan dibantu oleh putranya, Danang Sutawijaya atas perintah Jaka Tingkir. Atas jasanya tersebut beliau mendapatkan hadiah sebidang tanah hutan yang luas di Mentaok di tahun 1556, sebuah kawasan hutan yang tak lain adalah bekas pusat pemerintahan kerajaan Mataram Hindu. Di Kawasan hutan tersebut Ki Ageng Pemanahan bersama keluarga dan pengikutnya mendirikan sebuah desa kecil dengan status sebagai tanah perdikan swatantra dibawah kekuasaan Kesultanan Pajang.
 
Desa kecil yang dibuka oleh Ki Ageng Pemanahan ditahun 1556 mulai makmur. Tahun 1577 beliau memindahkan pusat pemerintahannya ke Pasargede dan membangun istana disana hingga beliau wafat tahun 1584M, beliau digantikan oleh putranya, Danang Sutawijaya. Di bawah kepemimpinan Sutawijaya desa itu tumbuh menjadi kota yang semakin ramai dan makmur, hingga disebut sebagai Kotagede (kota besar).
 
Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, terjadi perebutan takhta di Kesultanan Pajang. Putra mahkota, Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pangeran Benawa lalu meminta bantuan Sutawijaya karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tidak adil dan merugikan rakyat Pajang. Perang pun terjadi. Arya Pangiri berhasil ditaklukkan namun nyawanya diampuni oleh Sutawijaya.

Lukisan wajah Sultan Agung 
di Perangko terbitan tahun 2006
Pangeran Benawa lalu menawarkan tahta Pajang kepada Sutawijaya namun ditolak dengan halus. Setahun kemudian Pangeran Benawa wafat dan sempat berwasiat agar Pajang dipimpin oleh Sutawijaya. Tahun 1588M Sutawijaya memindahkan pusat pemerintahan ke Kotagede mendirikan Kesultanan Mataram dan dilantik menjadi raja pertama di Kesultanan Mataram melanjutkan tahta Kesultanan Pajang.
 
Setelah dilantik menjadi raja, Sutawijaya bergelar Panebahan Senapati ing Alaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa. Beliau sengaja tidak memakai gelar Sultan untuk menghormati mendiang Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Panebahan Senapati memperluas wilayah kekuasaan Mataram hingga ke ujung timur Pulau Jawa. Beliau wafat tahun 1601 dan kekuasannya diteruskan oleh putra nya, Mas Jolang  bergelar Prabu Hanyokrowati yang pemerintahannya tak berlangsung lama.
 
Tahta kesultanan diteruskan oleh Mas Wuryah bergelar Adipati Martoputro. Beliau adalah putra keempat Prabu Hanyokrowati, namun merupakan putra tunggal dari istri pertamanya. Adipati Martoputro hanya berkuasa sebentar saja, bahkan ada yang menyebutnya hanya berkuasa satu hari. Namun sumber lain menyebutkan beliau menderita sakit jiwa hingga tahta kesultanan berpindah ke Raden Mas Rangsang yang merupakan putra sulung Prabu Hanyokrowati dari istri kedua.
 
Raden Mas Rangsang alias Raden Mas Jatmika bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo atau lebih dikenal dengan nama Sultan Agung, raja terbesar dalam sejarah Kesultanan Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kesultanan Mataram mengalami masa keemasan. menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia).

Bersambung ke Bagian 2

Sabtu, 25 Agustus 2012

Masjid Syuhada Kotabaru Jogjakarta

Masjid Syuhada Kotabaru - Yogyakarta dibangun untuk mengenang para syuhada kemerdekaan yang telah gugur dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, juga sebagai kenang kenangan bagi kota Yogyakarta yang pernah menjadi Ibukota Negara sekaligus sebagai ibukota perjuangan Republik Indonesia.

Masjid Syuhada berada di kota Baru, Yogyakarta. Didirikannya Masjid Syuhada ini bertujuan khusus untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam untuk beribadah kepada Allah. Dan sebagai monumen untuk memperingati para syuhada (pahlawan yang gugur syahid di medan perang) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran dan keadilan sebagai tanda mata peninggalan, kenang-kenangan untuk Yogyakarta yang pernah dijadikan sebagai ibukota negara, ibukota perjuangan.

Masjid Syuhada dibangun di atas tanah wakaf dari Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat, peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Presiden Soekarno bahkan memberikan sambutan khusus atas pemabangunan masjid ini, tokoh penting Nasional Muhammad Natsir pernah menjadi khatib di masjid ini sementara Muhammad Hatta (Bung Hatta) pernah menyempatkan memberikan kuliah nya disini sepulang dari tanah suci. Tak hanya itu, pembangunan masjid ini turut menarik perhatian muslim dan pemerintah Pakistan yang turut menyumbangkan permadani bagi masjid ini sebagai bentuk persahabatan dan persaudaraan dua bangsa.

dibangun dalam perpaduan arsitektural dengan kubah bawang dan menar menara kecil di atap nya menjadi fitur utama masjid ini. dan di dalam ruang utama masjid terhampar permadani hadiah dari Muslim dan Pemerintah Pakistan.

Lokasi dan Alamat Masjid Syuhada

Masjid Syuhada
Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 (Kotabaru)
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta – Indonesia
            
Masjid Syuhada berada di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 13 Kotabaru, Yogyakarta. Saat ini Masjid Syuhada juga mengelola Sekolah Islam dari Taman Kanak Kanak Islam hingga Sekolah Menengah Islam Terpadu yang semuanya bernama Syuhada. 


Sejarah Pembangunan Masjid Syuhada Kotabaru

Pada masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni oleh orang-orang kulit putih dan orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru adalah merupakan bagian kota yang modern, bersih, sehat namun sama sekali tidak ada masjid di kawasan tersebut. Di masa penjajahan Jepang awal tahun 1942 semua warga kulit putih dan Belanda dipindahkan dari Kotabaru. Rumah-rumah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang dan sebagian orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu tempat ibadah untuk Umat Islam. Dan komposisi penduduk kotabaru kembali berubah di masa kemerdekaan RI, warga Kotabaru menjadi terdiri dari anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar muslim dan kebutuhan akan tempat ibadah Umat Islam semakin terasa.

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI dari Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian timbul keinginan adanya suatu peninggalan, tanda mata dan peringatan untuk Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan dan peringatan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian perjuangan bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang mati, melainkan sebuah Masjid Jami’ yang setiap saat tersirat nuansa kehidupan Umat Islam.

Foto sejarah Masjid Syuhada Yogyakarta :: peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Masjid Syuhada ini dilakukan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada tanggal 23 September 1950 bertepatan dengan hari raya Qurban kedua.

Proses pembangunan masjid Syuhada dimulai pada tanggal 14 Oktober 1949 dengan dibentuknya Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada. Menyusul kemudian tanggal 17 Agustus 1950 dilaksanakan penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi. Dan sebulan kemudian upacara peletakan batu pertama dilakukan langsung oleh Raja Yogya, Sultan Hamengkubuwono IX selaku menteri pertahanan RI sekaligus sebagai Kepala Daerah Propinsi DIY pada tanggal 23 September 1950/11 Dzulhijjah 1369 bertepatan dengan Hari Raya Qurban kedua.

Pada tanggal 25 Mei 1952 dibentuk secara resmi Yayasan Asrama  dan Masjid Syuhada (YASMA Syuhada). Dan dua tahun setelah peletakan batu pertama yakni pada tanggal 20 September 1952 seluruh bangunan selesai dan dilakukan pembukaan secara resmi yang bertepatan dengan Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1372. Selang beberapa hari setelah peresmian diselenggarakan sholat Jum’at pertama di Masjid ini pada hari Jum’at 26 September 1952.

Dulu dan Sekarang :: foto atas adalah lokasi dimana Masjid Syuhada berdiri seperti terlihat pada foto bawah masjid Syuhada berdiri megah disana.

Ibadah Sholat Jum’at pertama tersebut di imami oleh tokoh Nasional Muhammad Natsir, yang sekaligus bertindak sebagai khatib. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru kembali dari menunaikan Ibadah Haji di Mekkah memberikan ceramahnya di ruang aula/kuliah masjid syuhada ini. pembangunan masjid ini rupanya turut menarik perhatian pemerintah dan rakyat Pakistan yang pada tanggal 13 September 1953 menyumbangkan 24 helai permadani buatan Karachi - Pakistan untuk masjid Syuhada.

Pengelolaan Masjid Syuhada

Dengan selesainya pembangunan Masjid Syuhada maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya dilaksanakan oleh Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA) sebagai kelanjutan dari Panitia Pembangunan Masjid Syuhada.  Jabatan Ketua Umum DKM Masjid Syuhada selalu diiberikan kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai waqif tanah dimana Masjid Syuhada didirikan. Saat ini (2008 – 2013) jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada H. Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat (H. Tirun Marwito, SH).

Eksterior Masjid Syuhada dari berbagai sudut.

Dengan tujuan dakwah dan berkontribusi pada dunia pendidikan, maka YASMA SYUHADA membentuk susunan kepengurusan masjid Syuhada yang komposisinya mungkin akan membuat anda tercengang karena berisikan sederet tokoh tokoh Nasional yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Susunan pengurus Masjid Syuhada periode 2008 – 2013 adalah sebagai berikut :

Penasihat : Sri Sultan Hamengku Buwono X êSri Paduka Paku ALam IX êProf. Dr. H. M. Amien Rais, MA êGBPH H. Joyo Kusumo êProf. Dr. H. Moh. Mahfudz MD êKa. Kanwil. DEPAG D. I. Yogyakarta  êdan Wali Kota Yogyakarta.

Pembina : Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag êDr. Ir. H. Harsoyo, M.Sc êProf. H. M. Suyanto, M.Pd., Ph.D  êdan Dr. H. Jawahir Thontowi, SH.

Pengawas : Drs. H. Subowo, M.M êIr. H. Harsoyo M., Dipl.HS êDrs. DIdi Wahyu Sudirman, M.M ê

Eksterior Masjid Syuhada (foto diambil dari berbagai sumber di internet)

Ketua I : Ir. H. Muhammad Hanif, MT
Ketua II : H. E. Zainal Abidin, SH., MS., MPA
Bidang Pendidikan : Ketua, Dr. Ir. H. Hary Sulistyo
Bidang Sarana dan Prasarana : Ketua, Ir. H. Eddy Sofyan H, MT
Bidang Pengembangan Usaha : Ketua, Amir Fansuri, SE
Bidang Ibadah, Keta’miran, Asrama dan Alumni : Ketua, H. Dachwan, M.Si
Bidang Kajian dan Pembinaan Kader : Ketua, Drs. Kusworo, M.Hum
Bidang Kewanitaan : Ketua, Dra. Hj. Yayah Kusiah, M.Pd

Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Kotabaru Yogya ini juga memiliki sederet lembaga lembaga yang dikelola oleh Masjid, terdiri dari lembaga lembaga pendidikan formal dan non formal yang kesemuanya bernaung dibawah Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA). Lembaga Lembaga tersebut adalah sebagai berikut :

Interior Masjid Syuhada

Lembaga Pendidikan Formal : Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa, Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa, Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa, Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiri dari dua prodi yaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

Lembaga Non Formal terdiri dari : Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS) sejak 1952, Pendidikan Anak Masjid Syuhada (PAMS) didirikan 20 Oktober 1953, Pendidikan kader Masjid Syuhada (PKMS) didirikan 20 Nopember 1954, Training Center dan Event Organizer, Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS), Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah dan Bantuan Hukum (LPKSBH) Masjid Syuhada, Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Masjid Syuhada (LAZIS MS), Baitul Maal Wat Tamwiil Syuhada (BMT Syuhada), Pengajian Putri Masjid Syuhada (PPMS), Kelompok Pengajian Al-Quran (KPA)  Al-Hijrah Masjid Syuhada dan Forum Shoilihat.

salah satu sisi Masjid Syuhada.


Asrama Putra dan Putri : Masjid Syuhada juga mengelola asrama Putera dan Puteri YASMA SYUHADA. Asrama Putra terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru-Yogyakarta 55224 Tlp. 0274-547227 atau tepatnya di sebelah timur Masjid Syuhada.  Asrama putra ini berkapasitas 20 mahasiswa. Asrama putri beralamat di Jl. Pringgokusuman No. 12 berdampingan dengan kampus STAIMS Telp. 0274-514520. Setiap warga yang mondok di Asrama tidak dipungut biaya tetapi sebagai konsekuensinya bertanggungjawab  sepenuhnya atas kegiatan-kegiatan lembaga non-formal.

Program Reguler : Masjid Syuhada juga menyelenggarakan Program Reguler Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada termasuk di dalamnya : Studi Islam Efektif, Kajian Keluarga Sakinah, Pelatihan Kader Da’I, Pendidikan Jurnalistik, Pelatihan Bahasa Asing, Training Ustadz/ah TPA, Pelatihan Nasyid dan Pengembangan Masyarakat

Arsitektural Masjid Syuhada Kotabaru

Masjid yang menggabungkan berbagai arsiktektur selain sejumlah perlambang melekat dalam setiap bangunan, di kubahnya mengambil bentuk-bentuk bangunan yang berkembang di Persia, India dan menjadi bagian dari masjid-masjid yang dibangun ketika itu. Kubah bundar di bagian tengah sebagai kubah utama, dikelilingi kubah kecil di empat sudutnya.

Fasad depan Masjid Syuhada. sekilas memiliki kemiripan dengan masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru Jakarta.

Masjid Syuhada Yogyakarta menjadi satu dari saksi sejarah masyarakat muslim dalam memperjuangkan kemerdekaan. Masjid Syuhada menyimpan candrasengkala sekaligus sebagai peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga hal itu digambarkan dalam bagian-bagian penting bangunan masjid ini, seperti 17 anak tangga di bagian depan, delapan segi tiang gapura-nya dan empat kupel bawah serta lima kupel atas.

Keseluruhan bangunan terdiri tiga lantai, ruang bawah untuk ruangan kuliah, dilengkapi 20 jendela yang diharapkan menjadi peringatan atas 20 sifat Allah SWT. Di lantai dua untuk ruang shalat bagi jema’ah perempuan, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan yang menggambarkan dua buah iktikad manusia. Sedang di lantai tiga sebagai ruang shalat utama, termasuk shalat Jumat di mihrabnya terdapat lima lubang angin yang memberi gambaran sekaligus mengingatkan kepada masyarakat muslim akan lima rukun Islam.

Program untuk anak anak taman kanak kanak di masjid Syuhada.

Serangan Bom di Masjid Syuhada Kotabaru Yogyakarta

Kamis, 23 Desember 2010 pukul 14.00 WIB sebuah bom rakitan meledak di pekarangan Masjid Syuhada ini, Dari hasil olah TKP, Polda DIY menyimpulkan, bom rakitan tersebut merupakan model bom yang dilontarkan. Saat dilontarkan, bom mengenai pohon, kemudian jatuh di dekat pagar masjid. Cara kerja bom ini mirip dengan mercon dan berjenis low explosive. Saat meledak, bom ini membuat pengurus masjid dan warga sekitar kaget. Mereka lalu berbondong-bondong menuju lokasi ledakan.

Tidak ada korban jiwa dalam ledakan ini. Polisi juga mengamankan barang bukti sisa ledakan berupa pipa aluminium dan pipa paralon dengan diameter 1 inchi dengan panjang sekitar 30 cm. Tidak jelas apa motif dari pelaku pelemparan Bom tersebut. Yang pasti pihak kepolisian meminta warga masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh ulah pihak yang tak bertanggung jawab tersebut.888


Rabu, 22 Agustus 2012

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Masjid Gedhe Kauman atau juga disebut Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta atau Masjid Kagungan Dalem Karaton Ngayokyakarta Hadiningrat, dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I sebagai masjid sentral yang dibangun di pusat kekuasaan Kesultanan Nyayokyakarta Hadiningrat. Masjid Agung Yogya sekaligus menjadi poros sentral bagi lima Masjid Pahtok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat yang dibangun di empat penjuru mata angin, sebagai penanda batas terluar wilayah kesultanan.

Berdiri megah di alun alun utara Yogyakarta, merupakan salah satu bangunan cagar budaya Nasional berdasarkan Monumenten Ordonante 238/1931 dibangun pada hari Ahad 29 Mei 1773 menjadikannya sebagai salah satu masjid tua di pulau Jawa dan Indonesia. Masjid yang sarat dengan sejarah kesultanan Jogja juga sejarah nasional Indonesia. Gerakan Muhammadiyah yang merupakan salah satu organisasi Islam terbesar dan tertua di tanah air lahir di Masjid ini.

Lokasi dan Alamat

Mesjid Gedhe Keraton Yogyakarta
Jalan Alun-alun Utara, Gondomanan
Yogyakarta 55133, Indonesia


Sudah menjadi ciri khas kota pusat kekuasaan kerajaan kerajaan Islam tanah Jawa dengan menjadikan alun alun sebagai titik sentral pusat kekuasaan. Keraton sebagai pusat pemerintahan tempat bertahtanya sang Raja/Sultan berada di sisi selatan alun alun menghadap ke utara, lalu pasar sebagai urat nadi perekonomian, simbol kekuatan ekonomi berada di sisi utara dan Masjid Agung sebagai pusat spiritual berada disisi barat alun alun. Komposisi tata letak semacam ini tidak hanya berada di Jogjakarta. Hampir semua kerajaan jawa memiliki komposisi tata letak semacam ini.

Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Gede Kauman ini terletak di sebelah barat Alun- Alun Utara yang secara simbolis merupakan transendensi untuk menunjukkan keberadaan Sultan di samping pimpinan perang atau penguasa pemerintahan (senopati ing ngalaga), juga sebagai sayidina panatagama khalifatulah (khalifah Allah) di dunia di dalam memimpin agama (panatagama) di kasultanan.

Sejarah Masjid Gedhe Kauman

Sebagaimana disebutkan dengan jelas pada prasasti pembangunan masjiid yang diletakkan pada tembok pagar menghadap ke Alun alun, Masjid Gedhe Kauman atau Masjid Raya Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan Masjid Kagungan Dalem Keraton Yogya.

Pembangunan Masjid Gedhe Kauman dilaksanakan delapan belas tahun setelah berdirinya kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat melalui perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Proses pembangunan-nya dilaksanakan atas perintah dari Sri Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792) dan selesai dibangun pada hari Minggu 29 Mei 1773 sebagai persembahan khusus dari Sultan kepada kaum duafa.

Di bagian sisi selatan masjid bergaya tradisional Jawa ini, terdapat fasilitas mandi dan mencuci untuk kaum dhuafa yang tidak memiliki tempat tinggal. Sultan ingin melihat rakyatnya hidup layak. Bahkan, ketika mereka tinggal di sana, kebutuhan makanan pun akan dipenuhi oleh masjid.

Ekterior Masjid Gedhe Yogyakarta

Selain membangun fasilitas bagi kaum dhuafa, di seputaran masjid juga dibangun fasilitas bagi pengurus masjid. Para ulama, khotib, serta abdi dalem diberi fasilitas perumahan di sekitar masjid yang diberi nama Kauman, yang berarti "tempat para kaum". Sedangkan untuk penghulu keraton dan keluarga, Sultan menyediakan perumahan di sisi utara yang dinamakan Pengulon.

Beliau menunjuk arsitek K. Wiryokusumo untuk merancang masjid ini. dan Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat sebagai penghulu pertama. Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat atau Kyai Muhammad Faqih merupakan saudara ipar dari Sultan Hamengkubuwono I, Kyai Muhammad Faqih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodo sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah dengan putri ke dua Ki Derpuyudo. Kyai Faqih yang kemudian menyarankan kepada sultan agar diangkatnya para Pathok Kesultanan.

Ekterior Masjid Ghede Kauman Yogyakarta

Pathok yang dimaksud oleh Kyai Muhammad Faqih ketika itu adalah Para ulama yang bertugas memberikan pendidikan moral kepada masyarakat yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti. Kyai Muhammad Faqih sendiri pada ahirnya juga diangkat sebagai Pathok oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dan salah satu masjid Pathok Negara Jogya, yaitu Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo didirikan pertama kali oleh Kyai Muhammad Faqih di atas tanah perdikan pemberian Sultan Jogya.

Dan keseluruhan ada lima Masjid Pahtok yang dibangun di empat penjuru mata angin yakni, Lima masjid pathok tersebut adalah : Masjid Pathok Taqwa Wonokromo dan Masjid Pathok Nurul Huda Dongkelan di selatan, Masjid Pathok Ad-Darojat Babadan di timur, Masjid Jami' An-Nur Mlangi di barat, dan Masjid Pathok Sulthoni Plosokuning di utara. Kelima masjid tersebut di pimpin oleh seorang imam yang juga menjadi perangkat peradilan Keraton Yogya di lokasinya berada dan menginduk kepada Masjid Agung Kauman di Alun Alun Yogya.

yang khas dari Masjid Gedhe Kauman Yogya ::: Ukiran khas Jawa yang begitu indah menghias interior Masjid Ghede Kauman Yogya ini sangat menawan sebagaimana terlihat pada balok balok kayu penyangga atap di foto kiri atas dan pada mimbar masjid foto kanan bawah,  dan layaknya sebuah masjid keraton, masjid Ghede Kauman Yogya ini juga dilengkapi dengan maksura yang merupakan area khsusus untuk Sultan bila sedang sholat di masjid ini seperti pada foto kanan atas. 

Masjid Agung Kauman bersama masjid masjid Pathok Negara menjadi bagian dari masjid Kerajaan sehingga menjalankan fungsi ketakmiran bersama-sama. Kedudukan para imam/pengulu/kyai pengulu masjid juga menjadi anggota al-Mahkamah al-Kabirah (Badan Peradilan Kesultanan Yogyakarta) dalam tingkat Peradilan Agama Islam. Imam Besar Masjid Agung kauman menjadi ketua Mahkamah yang bergelar Kanjeng Kyai Penghulu. Dalam sistem hukum dan peradilan Kerajaan, Sultan tetap memegang kekuasaan kehakiman tertingi.

Masjid Agung Yogya merupakan masjid utama kerajaan yang berfungsi sebagai tempat beribadah, upacara kesagamaan, pusat syiar Islam, dan tempat penegakan tata hukum Islam. Sejak awal mula hingga sekarang Masjid Agung Keraton Yogyakarta merupakan masjid yang sangat penting tidak saja untuk tempat peribadatan umat Islam secara umum, namun juga untuk penyelenggaraan upacara-upacara adat Keraton Yogyakarta.

Rangkaian tradisi di Masjid Ghede Yogyakarta setiap tahun selalu menarik perhatian warga Yogya dan sekitarnya untuk berebut tumpengan yang di arak hingga ke depan Masjid ini. sementara di bulan suci Ramadhan, pengurus masjid menyediakan sajian buka puasa bagi para jemaah seperti pada foto kanan bawah.

Kawasan di sekitar masjid merupakan kawasan pemukiman para santri ataupun ulama. Pemukiman tersebut lebih dikenal dengan nama Kauman dan Suronatan. Dalam perjalanan sejarah Yogyakarta, kehidupan religius di kampung tersebut menjadi inspirasi dan tempat yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya gerakan Muhammadyah pada tahun 1912 M yang dipimpin oleh K.H.Ahmad Dahlan.

Arsitektural Masjid Agung Keraton Yogyakarta

Masjid Agung Keraton Yogya dibangun tak jauh berbeda dengan masjid masjid di tanah jawa yang lebih dulu dibangun sebelumnya, seperti Masjid Agung Demak di kesultanan Demak yang masih eksis hingga kini bersama alun alun dan pasarnya meskipun keraton kesultanan Demak sudah tak bersisa karena dibumi hanguskan oleh penjajah Belanda. Bangunan Masjid Agung Keraton Yogyakarta berada di areal seluas kurang lebih 16.000 meter persegi.

Interior Masjid Ghede Kauman Yogyakarta

Seluruh kompleks Masjid ini dikelilingi oleh pagar tembok tinggi, pada bagian utara dibangun Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal Penghulu Keraton dan keluarga Sultan serta kantor pengelola masjid. Abdi dalem pengulon inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin. Disekitar masjid juga dibangun fasilitas bagi para pengurus masjid, ulama dan khatib serta para abdi dalem yang diberi nama Kauman yang berarti "tempat para kaum". Sedangkan di sebelah barat masjid terdapat beberapa makam yang diantaranya adalah makam Nyai Ahmad Dahlan.,

Seperti halnya masjid-masjid lain di Jawa, masjid ini beratap limas bersusun tiga, dalam tradisi Jawa disebut sebagai Tajuk Lambang Teplok, lengkap dengan mastaka/mustoko yang mirip dengan daun kluwih/daun simbar dan gadha di ujung atap tertinggi. Makna daun Kluwih adalah linuwih, atau punya kelebihan yang sempurna, sementara gadha yang berarti tunggal, hanya mengakui ke-esaan Allah SWT. Sistem atap tumpang tiga ini memiliki makna kesempurnaan hidup melalui tiga tahapan kehidupan manusia yaitu, Syariat, Makrifat dan Hakekat.  Keseluruhan struktur atap utama ditopang oleh empat sokoguru utama dari kayu jati Jawa utuh berumur lebih dari 200 tahun berdiri kokoh di ruang sholat utama.

Masjid ini mempunyai dua bagian utama, ruang sholat utama dan serambi Al Makalah Al Kabiroh. Ada juga Pagongan di sebelah utara dan selatan halaman luar masjid yang merupakan tempat gamelan. Setiap bulan Maulid tiba, gamelan ini akan dimainkan mengiringi dakwah para ulama. Jamaah yang datang ke masjid ini diharapkan dapat berbuat baik kepada sesama. Harapan ini sudah muncul ketika pengunjung menginjakkan kaki di depan pintu gerbang masjid, Gerbang yang dikenal dengan nama Gapuro ini berbentuk Semar Tinandu yang melambangkan seorang punakawan yang tugasnya mengasuh, menjaga, dan memberi teladan yang baik. Masjid Agung Jogja dilengkapi lima gerbang untuk memasuki halaman masjid. Dua gerbang di sisi utara dan selatan. Sedangkan gerbang utama yakni Gapuro Semar tinandu berad di sisi timur.

Gerakan Muhammadiyah ::: Organisasi Islam ini tak bisa lepas Sejarahnya dari Masjid Ghede Kauman Yogyakarta. bagi anda para pecinta Film Nasional, anda dapat menikmati kilasan sejarah organisasi ini dan keterkaitannya dengan Masjid Ghede Kauman dari film "Sang Pencerah".

Bangunan serambi masjid berbentuk denah empat persegi panjang. Serambi didirikan di atas batur setinggi satu meter. Pada serambi ini terdapat 24 tiang berumpak batu yang berbentuk padma. Umpak batu tersebut berpola hias motif pinggir awan yang dipahatkan. Atap serambi masjid juga berbentuk limasan.

Pada tahun 1867 terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan asli serambi Masjid Gedhe Kauman, lalu diganti dengan menggunakan material yang khusus diperuntukkan bagi bangunan keraton. Tidak ketinggalan pula lantai dasar masjid yang terbuat dari batu kali kini telah diganti dengan marmer dari Italia. Pesona dari Masjid Gedhe Kauman terletak pada beberapa keunikan salah satunya pemasangan batu kali putih pada dinding masjid tidak menggunakan semen dan unsur perekat lain.

Samping kiri belakang mihrab terdapat maksura yang terbuat dari kayu jati bujur sangkar dengan lantai marmer yang lebih tinggi serta dilengkapi dengan tombak. Maksura difungsikan sebagai tempat pengamanan raja apabila Sri Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe Kauman. Tidak jauh dari mihrab terdapat Mimbar yang berbentuk singgasana berundak sebagai tempat bagi khotib dalam menyampaikan khotbah Jumat. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah dengan ornamen floral berwarna emas.

Sebagai Masjid Keraton, Lambang kebesaran Keraton Yogya terpampang Jelas di gerbang utama Masjid Ghede Kauman Yogyakarta ini.

Selain ruang inti masjid induk juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang memiliki fungsi berbeda, seperti pawestren (tempat khusus bagi jamaah putri), yakihun (ruang khusus peristirahatan para ulama, khotib, dan merbot, blumbang (kolam), dan tentu saja serambi masjid. Bagian lain dari kompleks Masjid Gedhe pada masa sekarang adalah KUA, kantor Takmir, Pagongan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gamelan Sekaten, Pajagan yang dulunya digunakan sebagai tempat prajurit kraton berjaga dan terletak memanjang di kanan kiri gapura, serta regol atau gapura yang berbentuk Semar Tinandu dan merupakan pintu gerbang utama kompleks masjid.

Tak jauh berbeda dengan masjid atau mushalla pada umumnya, menyambut bulan Ramadhan Masjid Gedhe juga menyiapkan rangkaian acara dan takjilan buka bersama yang tiap harinya dikunjungi hingga 600 orang jamaah. Panitia Ramadhan Masjid Gedhe, bahkan terdapat hari khusus dengan menu spesial. "Setiap hari Kamis panitia khusus menyembelih kambing dan menyediakan Gulai Kambing sebagai menu buka puasa". Jika anda bukan penderita tekanan darah tinggi akut, penulis rasa, menu special tersebut patut untuk dicoba dan jangan lupa untuk membawa kamera jika Anda tidak ingin melewatkan wisata religi dari nilai sejarah serta kemegahan yang unik dari arsitektur masjid tertua di Jogja tersebut.***