Tampilkan postingan dengan label islamic center lhokseumawe. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islamic center lhokseumawe. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Agustus 2012

Islamic Center Lhokseumawe (Bagian II)

Masjid Agung Islamic Centre Lhokseumawe – Nangroe Aceh Darussalam

Kemunduran Kerajaan-kerajaan Islam dan Jauhnya pengaruh Masjid tehadap Ummat Islam

Setelah Eropa Nasrani (Spanyol, Portugis & Belanda) berdatangan dan dengan rakusnya ingin menguasai daerah Aceh, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus.Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh dan Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis.

Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Aceh dan Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka dan membatasi fungsi Masjid hanya sebagai tempat beribadah. Sehingga terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari negara lain yang telah terjalin ratusan tahun dan terbatasnya masjid sabagai tempat syiar Islam.

Stempel Kerajaan Samudra Pasai yang digunakan pada awal abad IX Hijriah. Stempel berusia 683 tahun ditemukan warga di areal pertambakan di Desa Kuta Krueng. Stempel yang diduga milik Kerajaan Samudera Pasai ditemukan di pematang tambak di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Cap kerajaan itu diyakini milik Sultan Muhammad al Malik az Zhahir, yang wafat di tahun 726 Hijriyah (1326 Masehi).

Hal ini yang membuat Ummat Islam semakin Jauh dari ajaran-ajaran yang telah ditanamkan oleh para Ulama, apalagi dengan strategi politik Snouck Hurgronye, penasehat urusan Pribumi dan Arab, pemerintahan Belanda menjadi lebih berani membuat kebijaksanaan mengenai masalah Islam, karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di negeri Arab (Mekkah), Jawa, dan Aceh. Ia mengemukakan gagasannya yang dikenal dengan politik islamnya yang menyesatkan dengan memisahkan Agama dari Negara atau yang dikenal dengan Teori Sekulerime.

Orang islam dilarang membahas hukum islam, baik Al-Qur’an maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan dan ketatanegaraan. Terdapat asumsi yang senantiasa melekat dalam setiap penelitian sejarah bahwa masa kini sebagian dibentuk oleh masa lalu dan sebagian masa depan dibentuk hari ini. Demikian pula halnya dengan kenyataan umat Islam Aceh dan Indonesia saat ini, tentu sangat dipengaruhi oleh masa lalunya. Islam yang telah diakui sebagai kekuatan Kultural, tetapi dicegah untuk merumuskan sebuah bangsa menurut versi Islam. Sebagai kekuatan moral dan budaya, Islam diakui keberadaannya, tetapi tidak pada kekuatan politik secara riil (nyata) di negeri ini.

Komplek Makam Malikussaleh di Geudong Aceh Utara, 20 km arah Timur Lhokseumawe. 

Perkembangan selanjutnya pada masa Orde Lama, islam telah diberi tempat tertentu dalam konfigurasi (bentuk/wujud) yang paradoks, terutama dalam dunia politik. Sedangkan pada masa Orde Baru, tampaknya islam diakui hanya sebatas sebagai landasan moral bagi pembangunan bangsa dan negara.

Mengembalikan Fungsi Totalitas Sebuah Masjid

Jika kita kembali pada masa keemasan Islam, ketika Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, bangunan yang pertama kali dibangun adalah Masjid. Sebuah negeri dapat dikategorikan sebagai negeri kaum muslimin jika memenuhi tiga syarat; (1). mayoritas penduduknya muslim; (2). pemimpin atau presidennya seorang muslim; serta (3). bebasnya syiar Islam di negeri tersebut dan masjid adalah pusat Syiar Islam.

Batu nisan dan prasasti peninggalan zaman Kerajaan Samudera Pasai di kompleks pemakaman Tengku Batee Balee, Desa Meucat, Kecamatan Samudera, Aceh Utara.

Setidaknya ada sepuluh fungsi atau peranan yang dimainkan oleh Masjid Nabawi di zaman kenabian; (1). tempat ibadah (salat, zikir), (2) tempat untuk berkonsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi, sosial, dan budaya), tempat pendidikan, tempat pemberdayaan ekonomi dan santunan sosial (baitul maal), tempat pelatihan militer dan penyimpanan alat-alat perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat pengadilan dan pendamaian sengketa, tempat menerima tamu, tempat menahan tawanan, dan tempat penerangan dan informasi serta pembelaan agama.

Fungsi masjid seperti inilah yang diteruskan dan dilestarikan oleh para salafusshalih, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’in, dan tabi’uttabi’in rahimahmuullah sehingga kejayaan Islam berhasil mereka raih dengan gemilang dan mampu mencapai puncak peradaban. 

meski belum selesai seluruhnya Masjid Islamic Centre Lhokseumawe ini sudah menunjukkan keindahannya di malam hari 

Sejarah Awal Pembangunan Islamic Center Lhokseumawe

Atas dasar goresan sejarah, untuk mengembalikan kejayaan Islam Samudra Pasai dan mengembalikan fungsi totalitas sebuah Masjid serta menyatukan Perpecahan Ummat Islam didalam sebuah wadah utama yaitu masjid yang di kenal dengan Al-Markazul Islami Kota Lhokseumawe di rancang, bangunan mega ini digagas oleh Tokoh-tokoh Ulama dan Cendikiawan yang berada diwilayah Aceh Utara dibawah Pimpinan mantan Bupati Aceh Utara, Ir. H. Tarmizi A Karim, M.Sc.

Pada masa konflik Aceh dulu. Dalam Program jangka pendek Islamic Center dimulai dengan pembangunan Masjid Agung (induk) seluas 16.475,80 Meter persegi dan diperkirakan akan dapat menampung 20.000 Jama’ah. Untuk mengembalikan fungsi totalitas sebuah masjid ikut dirancang pembangunan gedung serba guna (Multy Purpose Building), perpustakaan umum, Dirasah khassah (Islamic Studies), Museum / Art Gallery dan Play Grup, wisma tamu (Guest House), Gerai-gerai (kios-kios), Rumah Imam Besar, Menara dan Tugu yang semuanya membutuhkan biaya sebesar Rp. 150 Miliar.

Jamaah shalat Idul Fitri menuju Mesjid Islamic Centre Lhokseumawe Aceh. Minggu (20/9/2009). Meski pengerjaan baru mencapai 70% dengan realisasi anggaran Rp.110 miliyar, Ribuan ummat muslim di Aceh Lhokseumawe melaksanakan shalat Idul Fitri perdana di Mesjid Islamic Centre Lhokseumawe.

Pembentukan Kota Lhokseumawe

Dalam rentang waktu beberapa tahun pembangunan berjalan, sharing dana anggaran pembangunan dan belanja kabupaten (APBK) Aceh Utara, sudah mencapai sekitar Rp. 100 miliar. Asupan dana terhenti seiring pemekaran daerah kota lhokseumawe dari kabupaten Aceh Utara pada Tahun 2001 sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2001 tentang pembentukan Kota Lhokseumawe yang dilaksanakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2002 tentang pemberlakuan secara efektif Undang-Undang Nomor 2 tahun 2001.

Setelah terhenti sekian lama, penyerahan Islamic Center seutuhnya kepada Pemkot Lhokseumawe dilaksanakan pada Tanggal 6 Mei 2009 diserahkan langsung oleh bupati Aceh Utara Ilyas Pase dan diterima Oleh Walikota Lhokseumawe Munir Usman. Pembangunan gedung yang sempat terhenti itu mulai dilanjutkan kembali. Dana yang tersedia baru Rp. 4 Miliar yang bersumber dari APBK Kota Lhokseumawe dan APBA 2008 serta bantuan dari PT. Arun sebesar 500 juta. Sementara kebutuhan dana untuk merampungkan bangunan ini adalah sekitar Rp. 70 Miliar lagi. Dengan dana yang telah tersedia tersebut Pemko Lhokseumawe melanjutkan Pembangunan yang mencakup tempat wudhu, jaringan listrik, pembersihan lantai serta sound system yang kini proses pengerjaannya telah mencapai 80%.

Begini bentuk utuh masjid Islamic Centre Lhokseumawe ketika selesai nanti

Pemko Lhokseumawe membentuk Badan Panitia pembangunan yang diketuai Oleh Drs. Arifin Abdullah dan Badan Panitia Pengelolaan dan ta’mir Masjid pada hari Selasa tanggal 20 Juni 2010 yang diketuai Oleh Tgk. H. Ramli Amin, S.Ag. dengan adanya panitia khusus ini diharapkan kelanjutan proses pembangunan gedung Islamic Center akan lebih fokus. Dan dengan struktural dan manajemen yang berkompeten diharapkan fungsi totalitas sebuah Islamic center baik bidang peribadatan maupun bidang pendidikan serta pelatihan bisa dinikmati seceptanya oleh warga Kota Lhokseumawe, Aceh Utara dan sekitarnya.

Hasil silaturrahim pengurus Islamic center kepada para ulama di wilayah pase dan sekitarnya mendapatkan respon positif, untuk berbagai program  ataupun kegiatan yang telah dicanangkan oleh pengurus Islamic center. Dan hasil dari kunjungan tersebut memberikan ide-ide serta motivasi yang kreatif untuk membantu pengurus Islamic Center Kota Lhokseumawe.

detil kubah yang indah di Masjid Islamic Centre Lhokseumawe

Meskipun Bangunan yang belum rampung 100% serta falisiltas yang sangat memadai pengurus Islamic Center telah menjalankan program program di Islamic center ini dengan baik. Kehadiran Islamic center ditengah-tengah Ummat Muslim Kota lhokseumawe dan Aceh secara Umum, tidak hanya sekedar untuk menggali kembali peradaban Islam yang pernah bergemilang ditanah Rencong tetapi sebagai wilayah konsentrasi baru kebangkitan Islam di dunia sehingga keberadaannya ditengah-tengah kota Lhokseumawe dapat menunjukkan peran strategisnya sebagai pusat pembaharuan menuju tata nilai kehidupan yang lebih Islami.

Tradisi Kanji Rumbi Selama Ramadhan

Kanji Rumbi jadi penganan khas berbuka di hari pertama bagi warga Lhokseumawe. Bubur yang mempunyai rasa ciri khas rasa itu ramai diserbu masyarakat,terlebih lagi tanpa perlu membeli, kerena disediakan gratis oleh pengurus Islamic center Lhokseumawe. Seperti yang terjadi pada hari pertama Ramadhan 1433H, yang jatuh pada tanggal 21 Juli 2012 yang lalu.

Exterior Masjid Islamic Centre Lhokseumawe

Badan Kenaziran Mesjid (BKM) Islamic Center Kota Lhokseumawe, bekerjasama dengan pemerintah setempat membagikan Kanji Rumbi secara gratis kepada dua ratusan masyarakat Islam kota kota Lhokseumawe, pembagian panganan khas Aceh ini dilakukan di halaman Mesjid Islamic Center. pembagian kanji rumbi secara gratis merupakan salah satu agenda rutin BKM dan pemerintah kota di bulan suci Ramadhan.

Selain pembagian kanji rumbi juga dilaksanakan kegiatan lainnya seperti buka puasa bersama dan pesantren Ramadhan 1433 Hijriah. Walikota Lhokseumawe, Suaidi Yahya ikut turun langsung membagikan kanji rumbi gratis kepada masyarakat menyebutkan, kanji rumbi tersebut merupakan hasil sumbangan bersama oleh masyarakat.

dibawah kibaran merah putih

Seperti di masjid masjid seluruh dunia, acara buka puasa di bulan Ramadhan dilanjutkan dengan sholat Tarawih berjamaah. Di Islamic Center Lhokseumawe, ribuan warga dari empat kecamatan dalam kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Jumat 20 Juli 2012 malam memadati Mesjid Islamic Center untuk melaksanakan Sholat Tarawih perdana masuknya bulan Suci Ramadhan 1433 Hijriah. Tarawih perdana itu juga turut diramaikan oleh pejabat teras Pemerintah Kota Lhoskeumawe dan Pemkab Aceh Utara. Tradisi Tarawih di Masjid Islamic Center Lhokseumawe dimulai dengan ceramah agama dan dilaksanakan sebanyak 20 rekaat ditambah dengan witir 3 rekaat.

Selain Sholat Tarawih berjamaah diserta ceramah agama, juga digelar i’tiqaf bersama pada 10 hari terakhir Ramadhan yang diisi dengan shalat malam dan zikir sampai menjelang sahur. Selain itu juga ada tadarus dengan menghadirkan qori-qori pilihan di Lhokseumawe, serta program pesantren kilat bagi pelajar.

Menyambut Ramadhan, pengurus Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe juga mengadakan Ramadhan Fair di halaman masjid setempat selama puasa berlangsung. Kegiatannya dibuka menjelang shalat Ashar dan tutup sementara menjelang Magrib. Kemudian dibuka kembali usai shalat Tarawih. Di Ramadhan 1433 / 2012 disediakan 20 stand yang menjual makanan dan minuman berbuka, serta berbagai pakaian muslim dan barang-barang lainnya

Kembali ke bagian I

Rabu, 01 Agustus 2012

Islamic Center Lhokseumawe (Bagian I)

Megah : meski belum rampung seluruhnya, gedung masjid agung Islamic Centre Lhokseumawe  terlihat begitu megah, menghadirkan nuansa Timur Tengah di Nangroe Aceh Darussalam.

Berdiri megah di pusat kota Lhokseumawe, Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, Islamic Center / Almarkazul Islami Lhokseumawe menghadirkan nuansa Timur Tengah di tanah Aceh yang subur. Berdirinya Islamic Center ini membangkitkan kembali ingatan kita pada sejarah kejayaan Kerajaan Islam Samudera Pasai (Samudera Pase) yang tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia.

Tahap pertama proyek pembangunan Islamic Center ini dimulai dengan membangun masjid agung yang strukturnya begitu besar dengan susunan kubah kubah besarnya yang mengagumkan. Kehadiran Islamic Center ini meski belum selesai seluruhnya menghadirkan semangat baru bagi rakyat Aceh umumnya dan rakyat Lhokseumawe khususnya paska bencana kemanusiaan gempa dan Tsunami yang meluluhlantakkan wilayah itu beberapa tahun lalu.

Lokasi Masjid Islamic Center Lhokseumawe

Islamic Centre Kota Lhokseumawe
T. Hamzah Bendahara-Simpang Empat, Kecamatan Banda sakti
Lhokseumawe - NAD 24313 | Telp: (0645) 44887



Bangunan Islamic center ini memang belum sepenuhnya rampung. Nantinya Islamic center ini akan dilengkapi dengan fasilitas fasilitas penunjang selain Masjid Agungnya sendiri terdiri dari : Gedung Serba Guna, Gedung Pustaka, Diniyah / Sekolah, Museum & Rumoh Aceh, Mess / Wisma Tamu, gerai-gerai / Kios Makanan dan Soevenir, Taman kanak-kanak dan Taman Pengajian Al-Qur'an (TPA) serta Rumah Imam Besar. Proyek ini memang begitu besar dan membutuhkan dana yang tidak sedikit wajar bila pembangunannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebagaimana dijelaskan di dalam situs resmi Islamic Center Lhokseumawe, berikut adalah tujuan dan fungsi Islamic Center Lhokseumawe yang hendak di capai serta latar belakang pembangunan Islamic Center tersebut dengan beberapa pengeditan seperlunya.

Tujuan Islamic Centre Kota Lhokseumawe

  • Mewujudkan Masjid yang makmur dan monumental sebagai sentrum pembinaan umat dan budaya Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan sumberdaya Muslim melalui dakwah, pendidikan dan pelatihan.
  • Kegiatan pengkajian bagi pengembangan pemikiran dan wawasan Islami.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan seni budaya Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan masyarakat dan layanan sosial.
  • Menyelenggarakan kegiatan pengembangan data dan Informasi Islam.
  • Menyelenggarakan kegiatan usaha dan pengembangan bisnis Islami.
  • Mewujudkan tataruang lingkungan Islamic Center kota Lhokseumawe yang bernuansa Islami, indah, nyaman dan monumental.
Fungsi Islamic Centre Kota Lhokseumawe
  • Fungsi Takmir Mesjid ( Kemakmuran Mesjid )
  • Fungsi Pendidikan dan Latihan
  • Fungsi Sosial Budaya
  • Fungsi Informasi dan Komunikasi
  • Fungsi Pengembangan Bisnis yang Islami
  • Fungsi Pendukung Lainnya 
Fasilitas Komplek Islamic Centre Lhokseumawe / Al Markaz Al Islamy :: (1) Masjid Agung, (2) . Gedung Perpustakaan, (4). Madrasah Diniyah, (5). Gerai Pedagang. (6). Musium Islam. (7). Gedung Serbaguna. (8). Kediaman Imam Besar. 

Fasilitas Islamic Centre Lhokseumawe

(1). Masjid Agung : Bangunan masjid Agung di komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini terdiri dari bangunan tiga lantai, dua lantai sebagai area sholat dengan daya tampung ± 6000 jemaah di lantai satu dan ± 3000 jemaah di lantai dua. Ditambah dengan lantai basement. (2). Gedung Perpustakaan, berupa bangunan seluas 3662m2 mampu menampung 250 orang sekaligus, sebagai referensi bagi para peneliti / intelektual dan mahasiswa. (3). Mess / Wisma Tamu : berupa bangunan lantai dua, dengan sepuluh kamar tidur dengan kapasitas 2 orang per kamar untuk menampung tamu tamu dalamkegiatan dakwah. (4). Madrasah Diniyah : dengan dua belas ruang belajar, ditambah dua ruang laboratiorium dan satu ruang pustaka, mampu menampung 368 siswa.

(5). Gerai gerai (kios kios), terdiri dari 20 kios makanan / kantin serta tujuh took souvenir, toko buku, ATK & fotokopi, Boutique, wartel, warnet dan lain lain. (6). Museum : museum ini dibangun sebagai wadah tempat penyimpanan benda benda budaya yang bernilai sejarah dan seni, terdiri dari ruang pamer tetap ruang pamer temporer dengan total luas keseluruhan mencapai 1.112 m2. (7). Gedung Serbaguna, yang dapat dipergunakan sebagai ruang pertunjukan, kesenian dan olahraga dengan daya tampung mencapai 2.200 orang. dan (8). Rumah Imam besar, untuk kepentingan kesejahteraan imam besar agar tugas tugas dapat berjalan lancar.

Latar Belakang dan Tujuan Pembangunan  Islamic Center Kota Lhokseumawe

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam atau yang lebih di kenal dengan sebutan Islamic Center (al-Markazul Islami) yang berdiri tepat di pusat Kota Lhokseumawe, merupakan sebuah Ikon baru wilayah  Samudra Pase sebagai pusat Konsentrasi Baru Untuk mewujudkan kembali kejayaan dan Peradaban Islam Yang terbenam di wilayah Negara Islam Pertama di Asia Tenggara.

Masjid Islamic Centre Lhokseumawe, dari gambar rancangan masjid pada foto atas dan foto bangunan masjid saat ini hanya menaranya saja yang belum dibangun.

Sejarah kebesaran Kesultanan Samudera Pasai sampai ke kesultanan Aceh Darussalam hingga niat untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban Islam menjadi latar belakang utama dibangunnya Islamic Center Lhokseumawe ini. menilik sejarah Rosulullah S.A.W ketika beliau hijrah ke Madinah pun, hal pertama yang beliau bangunan adalah Masjid. Semua itu memberikan pelajaran kepada kita betapa pentingnya peran masjid bagi kehidupan muslim.

Sejarah Singkat Kerajaan Islam Samudra Pasai

Wilayah Pase’ merupakan sebuah daerah bekas kerajaan Islam samudra Pasai atau Kesultanan Samudera Pasai, juga dikenal dengan Samudera Pasai, atau Samudera Darussalam, kerajaan Islam di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe, sekarang ini. Didirikan oleh Meurah Silu, bergelar Malik al-Saleh, sekitar tahun 1267 dan Sultan Malik as-Saleh menjadi Raja pertamanya, Sultan Malik as-Saleh wafat pada tahun 696H/1297M dan kekuasaannya diteruskan oleh Sultan Malik at-Thahir putra tertua beliau yang sangat kental dengan nilai-nilai peradaban  Islam.

Meski belum selesai seluruhnya Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe sudah dipakai untuk aktivitas sholat termasuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri 1430H/2009 lalu. Ribuan Jemaah memadati masjid ini di dalam dan diluar masjid. Berdirinya Masjid ini menjadi berkahbaru bagi warga Lhokseumawe setelah tahun tahun sebelumnya warga menyelenggarakan sholat Ied di lapangan Hiraq disamping Masjid ini.

Eksistensi peradaban Islam di kesultanan Samudera Pasai dicatat dalm jurnal perjalanan Marco Polo yang telah singgah di pulau Sumatra Tahun 1292, lalu dilanjutkan dengan catatan dari Abu Abdullah ibnu Batuthah (1304–1368), seorang musafir Maroko yang singgah di Samudera tahun 1345 di dalam kitabnya Rihlah ilal-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) juga menyebutkan bahwa Sultan Malik az-Zahir di negeri Samatrah yang menyambutnya dengan penuh keramahan dan penduduk Muslim Samatrah (Samudera) yang menganut Mazhab as-Syafi’I serta Pemimpinnya yang sangat Alim dan Shaleh.

Samudra Pasai juga memiliki relasi cukup luas dengan kerajaan luar. Pada masa jayanya, Pesisir samudera Pasai merupakan pusat perniagaan penting di kawasan itu, dikunjungi oleh para saudagar dari berbagai negeri, seperti Cina, India, Siam (Thailand), Arab dan Persia. Komoditas utama adalah lada. Sebagai bandar perdagangan yang besar, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang emas yang disebut dirham. Uang ini digunakan secara resmi di kerajaan tersebut. Di samping sebagai pusat perdagangan, Samudera Pasai juga merupakan pusat perkembangan agama Islam serta berbagai disiplin ilmu yang tidak sedikit pada masanya dimana masjid sebagai sentrumnya.

Satu Masjid Dua Jemaah ::: Masyarakat kota Lhokseumawe dan sekitarnya merayakan Idul Adha atau hari raya Kurban pada hari Rabu 17/11/2010 sesuai dengan penetapan pemerintah di Masjid Agung Islamic Centre, Lhokseumawe. Sehari sebelumnya (16/11/1010) Sekitar seribu umat muslim Muhamadiyah telah lebih dulu menyelenggarakan sholat Idul Adha di masjid ini juga. 

Tidak hanya kegemilangan itu, kerajaan juga telah melahirkan kehidupan budaya yang menghasilkan karya tulis yang baik. Sekelompok minoritas kreatif berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam, disebut dengan bahasa Jawi, dan hurufnya disebut Arab Jawi. Huruf ini yang digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya. juga berkembang ilmu tasawuf. Menunjukkan peran yang telah dimainkan oleh Samudera Pasai dalam posisinya sebagai pusat tamadun Islam di Asia Tenggara dan Dunia Islam.

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik al-Dhahir banyak para pedakwah Islam yang dikirim oleh kerajaan untuk menyebarkan Islam keseluruh Melayu dan Nusantara. Sultan Ahmad Syah di Malaka (Tanah Melayu) telah memeluk Islam dan menikahi putri Raja Samudra Pase, dan beliau dikenal dengan sebutan Sultan Iskandar Syah (1324-1444 M), Kerajaan Islam Samudra Pasai Juga mengirimkan Da’i ke Barus di Pantai Barat Pulau Sumatera dan bagian Timur Pulau, Sampai ke penduduk Aru, sehingga Kerajaan Batak di Sumatra Utara Memeluk agama Islam.

Pada tahun 1524, Kerajaan Islam Samudera Pasai berada di bawah pengaruh Kesultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Saat itu, Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Setelah sekian lama, pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya bersatu menjadi satu pada Kesultanan Aceh Darus Salam, seperti Tamiang dan Lamuri.


Kompilasi foto Islamic Centre Lhokseumawe
serial view islamic Centre Lhokseumawe
Lebih dekat 
Belum selesai seluruhnya dan masih banyak membutuhkan dana  
Meski belum seluruhnya selesai, Masjid Agung di Komplek Islamic Centre Lhokseumawe ini telah menunjukkan kemegahannya di malam hari