Tampilkan postingan dengan label putrajaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label putrajaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Mei 2011

Masjid Putra, Putrajaya, Malaysia

Masjid Putra di Putrajaya, Malaysia.

Satu lagi masjid megah yang berada di pusat pemerintahan federal Malaysia di Putrajaya. Yakni Majid Putra. Majid Putra hanya terpisah lebih kurang 2,2 kilometer dari Masjid Besi / Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin. Sama seperti masjid Besi, Masjid Putra ini juga dibangun bagi pegawai pemerintah, pegawai kantor perwakilan negara sahabat di Putrajyaya, duta besar dan korp diplomatik serta masyarakat muslim yang tinggal tak jauh dari lokasi tersebut.

Masjid megah ini merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh pemerintah federal Malaysia bagi kota pusat pemerintahan baru Malaysia di Putrajya, dan tentu saja menjadi salah satu ikon dari sederetan gedung gedung indah di Putrajaya. Nama Masjid Putra diambil dari nama Mantan Perdana Menteri Malaysia pertama, Almarhum Tunku Abdul Rahman Putra Al Haj, merupakan salah satu bentuk penghormatan rakyat dan pemerintah Malaysia kepada beliau.

Lokasi Masjid Putra


Sama seperti Masjid Besi / Tuanku Mizan Zainal Abidin, Masjid Putra juga berada di tepian danau buatan yang dibangun mengelilingi Putrajaya. Membuatnya tampak seperti masjid terapung bila dilihat dari kejauhan seberang danau.

Sejarah Pembangunan Masjid Putra, Putrajaya

Kebijakan pemerintah Malaysia yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negara, menjadikan ciri ciri dan simbol simbol Islam begitu kental di negeri tetangga yang satu ini. Wajar bila ketika pemerintah Malaysia memutuskan memindahkan ibukota pemerintahan federal, dua masjid megah pun dibangun di kawasan pemerintahan baru tersebut.

Masjid Putra dari seberang danau.

Masjid putra mulai dibangun pada bulan Juni 1997, ketika selesai dikerjakan, dua tahun kemudian diserahterimakan kepada JAKIM pada tanggal 1 September 1999, untuk mengangani pengelolaan Masjid tersebut. Masjid Putra dirancang oleh Y. Bhg. Dato’ Dr. Nik Mohamad Bin Mahmood dari Kumpulan Senireka Sdn. Bhd. Pembangunan masjid ini menghabiskan biaya sebesar RM 250 juta (dua ratus lima puluh juta Ringgit Malaysia) sedangkan biaya perawatannya menghabiskan dana RM 100 ribu Ringgit Malaysia.

Arsitektur dan Fasilitas Masjid Putra, Putrajaya

Ruang sholat utama

Ruang sholat utama masjid putra
Masjid putra dibangun dengan memadukan arsitektur timur tengah dan arsitektur tradisional Melayu dibangun di dengan luas mencapai seluas 1.37 hektar, dihitung dari sejak pintu masuk utama masjid hingga bangunan masjid nya sendiri. Bangunan masjid ini begitu indah. Dipandang dari kejauhan tampak jelas masjid dengan arsitektural masjid universal lengkap dengan kubah dan menara yang terpisah dari bangunan utama masjid. oranmen bernuansa melayu menghias exterior maupun interior masjid ini.

Ruang sholat utama Masjid Putra berciri minimalis dan menarik, luas dan tanpa sekat sama sekali. Bangunan masjid ditopang 12 tiang utama. Ruang sholat utama ini berada di lantai G dan mampu menampung 8000 jemaah laki laki sedangkan jemaah wanita ditempatkan di ruang sholat lantai 1 dengan kapasitas 2000 jemaah.

Ruang Legar masjdi Putra 
Selain untuk sholat wajib lima waktu, ruang sholat utama ini juga dipakai untuk aktivitas aktivitas yang diselenggarakan oleh Masjid Putra ataupun pihak lain untuk penyelenggaraan sholat sunat hajat, pembacaan Yasinm tahlil dan doa selamat, taskirah (kuliah agama), upacara akad nikah dan acara acara lain yang layak diselenggarakan di dalam masjid.

Masjid Putra juga dilengkapi dengan sebuah ruang yang mereka sebut sebagai Ruang Legar (Ruang Serbaguna) yang berkapasitas 400 orang. Ruang ini biasa digunakan untuk urusan pendaftaran program program yang diadakan di Masjid Putra, terutama bila program tersebut menggunakan Auditorium. Mengingat letaknya yang berada di antara ruang jamuan dan auditorium, ruang ini biasa digunakan sebagai tempat jamuan makan bilamana ruang jamuan yang tersedia tidak dapat menampung jumlah tamu yang hadir.

Ruang perpustakaan masjdi Putra 
Perpustakaan

Masjid Putra dilengkanpi dengan sebuah perpustakaan yang memiliki koleksi hingga 10,193 naskhah buku yang sesuai untuk tiap tingkatan usia mulai dari kanak kanak pra-sekolah, pelajar & mahasiswa, pegawai dan karyawan hingga masyarakat umum. Sejauh ini koleksi perpustakaan Masjid Putra hanya boleh dibaca di perpustakaan belum untuk dipinjamkan dan dibawa keluar area perpustakaan, kecuali bagi pegawai Masjid Putra dengan melalui prosedur tertentu.

Buku buku yang tersedia pun cukup beragam mulai dari kitab-kitab Fikih, Hadis, Tafsir Al-Quran, Sirah, Undang-undang, Akidah, Tasauf Khutbah, kamus, ensiklopedia, buku motivasi, majalah bercorak kekeluargaan, novel, buku cerita kanak-kanak, majalah PC dan sebagainya.

Ruang Kuliah masjdi Putra 
Ruang kuliah

Masjid Putra juga dilengkapi dengan dua ruang kuliah berkapasitas masing masing 70 - 80 orang. Biasa digunakan untuk program-program pengajian Masjid Putra sepanjang tahun yang berjalan pada waktu siang ataupun malam setiap hari termasuk ahir pekan. Selain itu, ruang ini juga digunakan untuk aktivitas diskusi dan rapat formal ataupun informal terutama yang menggunakan LCD kanrea ruang kuliah tersebut dilengkapi dengan fasilitas LCD.

Ruang pengurusan Jenazah masjdi Putra 
Ruang penyelenggaraan jenazah

Laytanan pengurusan jenazah Masjid Putra dibuka 24 jam sehari dan siap untuk beroperasi setiap saat. Dilengkapi dengan peralatan pengurusan jenazah seperti tempat untuk memandikan jenazah yang lega dan peralatan mengkapani jenazah. Juga disediakan ruang tunggu bagi anggota keluarga jenazah yang menunggu proses pengurusan jenazah selesai. Layanan ini termasuk penyelenggaraan sholat jenazah hingga kereta jenazah, pemakaman hingga talqin kubur.

Ruang  Auditorium masjdi Putra
Fungsi dan Aktifitas Masjid Putra

Pembangunan masjid putra memang bervisi untuk menjadikannya sebagai institusi ibadah, perkembangan Ilmu pengetahuan dan pembangunan persatuan ummat Islam menjelang tahun 2014. Pengelola masjid Putra juga berkomitmen untuk menjadikan masjid Putra sebagai instusi yang unggul dalam berbagai bidang melalai beberapa aktivitas termasuk di dalamnya adalah : memastikan sholat berjamaah diselenggarakan pada awal waktu, menyelenggarakan program pendidikan bagi kanak kanak, remaja hingga dewasa, senantiasa menjadikan masjid Putra sebagai masjid yang nyaman untuk beribadah termasuk menjaga kebersihan, keamanan dan ketenangan jamaah, serta menyelenggarakan kegiatan kegiatan hari besar Islam dan hari besar nasional.

Masjid putra juga memiliki tujuan untuk menjadi standar permodelan dalam aspek pengurusan dan penyelenggaraan Masjid, bagi masjid masjid lain di seluruh Malaysia. Masjid putra juga memiliki tanggung jawab dalam merancang dan mengurus aktivitas sosial kemasyarakatan, pengurusan jenaah hingga aktivitas aktivitas sosial lainnya termasuk kursus kursus dan penyelenggaraan pelatihan pelatihan.

Kubah Masjid Putra, Putrajaya.

Beberapa aktivitas masjid Putra adalah : kursus penyelenggaraan Jenazah, pendidikan pra nikah, pengajian khusus bagi mualaf, seminar seminat sosial, penyelenggaraan dakwan, konseling agama Islam dan masalah rumah tangga, pengelolaan zakat, serta penyelenggaaan jenazah.
 
Selain itu masjid Putra juga menyelenggarakan aktivitas peribadatan rutin yang juga ditangani oleh seorang ustadz yang secara khusus bertanggung jawab atas kegiatan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah kegiatan kegiatan Yasinan dan Doa Mingguan, Kuliah Subuh, Program Qiamullail, Program Iktikaf Ramadhan, Solat Sunat Hari Raya Aidilfitri & Aidil Adha, Bengkel Khutbah, Kursus Tahsin Qiraah Imam dan Bilal Masjid-masjid Utama, Kursus Asas Imam dan Bilal Masjid/Surau Putrajaya. 

Imam Besar Masjid Putra

1. Tan Sri Dato’ Abdul Kader Bin Talip (16 Juli 1999~ 15 Juli 2001)
2. Tan Sri Syaikh Haji Ismail Bin Muhammad ( 1 Desember 2001 ~ 14 Januari 2007)
3. Tuan Haji Abd. Manaf Bin Haji Mat (3 September 2007 ~ Sekarang)

Foto foto Masjid Putra, Putrajaya

Masjid Putra dengan latar belakang gedung kantor pemerintahan Malaysia.

Langit senja.

Dibawah kubah Masjid Putra.

Dengan kibaran bendera kebangsaan Malaysia.

Cahaya malam Masjid Putra.

Sabtu, 23 April 2011

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya, Malaysia

Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin Putra Jaya.

Putrajaya adalah kota mandiri baru yang dibangun oleh pemerintah Malaysia sebagai kawasan pusat pemerintahan federal Malaysia yang baru, menggantikan pusat pemerintahan yang selama ini berada di pusat kota Kuala Lumpur. Kebijakan itu menjadikan Malaysia sebagai salah satu dari sedikit negara yang mencatakan diri dalam sejarahnya sebagai negara yang memindahkan pusat pemerintahannya.

Sebelum Malaysia sudah ada beberapa negara yang memindahkan Ibukota pemerintahan negaranya karena berbagai alasan, mulai dari Amerika Serikat yang memindahkan Ibukota pemerintahannya dari New York ke Washington DC, Rio Jeneiro ke Brazilia di Brazil, Kyoto ke Tokyo di Jepang, Bonn ke Berlin di Jerman, Kandahar ke Kabul di Afganistan. Dan beberapa negara lain nya.

Masjid Tuanku Mizan dimalam hari.

Ketika memindahkan ibukota pemerintahan dari Pusat kota Kuala Lumpur ke Kota baru Putrajaya, selain membangun gedung gedung pemerintahan, pemerintah Malaysia juga membangun dua masjid megah di kawasan kota baru tersebut. Dua masjid yang hanya terpisah lebih kurang dua kilometer dalam kawasan yang sama. Yakni Masjid Putera dan Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin atau yang biasa dikenal sebagai Masjid Besi.

Terbiasa disebut Masjid Besi, karena sebagian besar material yang dipakai untuk pembangunan Masjid Tuanku Mizan ini menggunakan besi dari berbagai jenis dan aplikasi, mulai dari material untuk konstruksi hingga material yang dipakai untuk ornamen guna memperindah interior dan eskterior bangunan masjid ini menggunakan besi sebagai material utama.

Lokasi Masjid Besi, Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin.

Masjid Besi atau Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin berada di Presint 3, Putrajaya, Malaysia. Letaknya yang berada ditepian danau buatan yang sengaja dibangun mengitari kawasan Putrajaya, menghadirkan keindahan tersendiri bila dilihat dari seberang atau dari kawasan danau. Refleksi bangunan masjid pada siang hari ataupun refleksi lampu lampu masjid pada malam hari yang terpantul di permukaan danau menghadirkan keindahan tersendiri. Dan dari kejauhan masjid ini seolah olah terapung di atas air danau.


Sejarah Pembangunan Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin

Masjid besi muali dibangun sejak bulan April 2004 dan selesai keseluruhannya pada bulan Agustus 2009. Pembukaan Masjid besi dilakukan pada hari Jumaat, malam Awal Ramadan 1430H. Masjid dibangun untuk mampu menampung sekitar 24,000 jemaah sekaligus yang terdiri dari warga dan pegawai pemerintah disputar kawasan Presint 2, 3, 4 dan 18. Luas Masjid besi ini lebih kurang dua kali lipat bila dibandingkan dengan Masjid Putra, yang terletak kira-kira 2.2 km ke utara, dan masjid besi atau Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin sudah menjadi salah satu penanda baru bagi kota baru Putrajaya.

Arsitektural Masjid Masjid Besi, Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putrajaya

 

Keseluruhan pembangunan masjid ini memakan waktu selama 5 tahun 4 bulan dan dibangun seluas 73795 meter persegi, menghabiskan biaya RM 208 Juta Ringgit Malaysia atau setara dengan kira kira US$ 55 juta dolar Amerika. Rancang bangun nya dibuat oleh Kumpulan Senireka Sdn. Bhd, kontraktor Ahmad Zaki Resources Bhd. Kontraktor pelaksana pembangunan nya ditangani oleh Perbadanan Putrajaya. Perusahaan negara milik pemerintah Malaysia.

Masjid besi ini dirancang berdasarkan 3 konsep yaitu : angin, sederhana dan berkerawang. Kira-kira 6,000 ton besi baja dihabiskan untuk pembangunan masjid ini, itu setara dengan 75% dari total keseluruhan material yang dipakai untuk membangun masjid ini, sisanya baru menggunakan beton. Wajar bila kemudian masyarakat setempat terlanjur menyebutnya dengan Masjid Besi.

Interior Masjid Tuanku Mizan semua terlihat bewarna perak dengan cahaya alami disiang hari.

 

Dengan tiga konsep itu menghasilkan bangunan masjid yang cukup istimewa. Dinding yang berkerawang (Telus, dalam bahasa melayu) menghasilkan ruang masjid yang sejuk tanpa perlu menggunakan penyejuk udara ataupun kipas angin. Tapi menggunakan teknologi GDC (Gas District cooling). Masjid ini juga menggunakan wire mesh (anyaman serat baja) khusus untuk arsitektural-nya. Wire mesh tersebut semuanya di inport dari Jerman dan Cina. 

Jenis wire mesh yang sama yang dipakai untuk stadion Stadium Bernabéu di Madrid dan perpustakaan Bibliothèque nationale de France di kota Paris, Perancis. Pintu gerbang masuk juga menggunakan GRC untuk memberikan satu kesatuan struktur dengan kaca buram yang dipakai untuk menghasilkan kesan warna putih saat masjid dipandang dai kejauhan.

Rencana induk pembangunan masjid ini memasukkan pembangunan koridor yang akan menghubungkan Putrajaya langsung menuju masjid koridor yang disebut Kiblat Walk seluas 13,639 m². Koridor ini dihiasi dengan kolam air seolah-olah berada di kawasan kota istana purba Alhambra. Hiasan dalamannya dilatari ukiran Asma Ul Husna menggunakan tulisan kaligrafi dari jenis kaligrafi yang disebut Khat Thuluth. Pintu utama menuju ke ruang solat utama terukir ayat suci al-Quran dari Surah Al-Israa’ ayat ke-80.

Seolah terapung diatas danau, cahaya lampu yang membuatnya seolah bewarna emas.

Dinding mihrab masjid ini dibuat dari panel kaca setinggi 13 meter yang juga di import dai Jerman yang terukit 2 barus ayat Surah Al-Baqarah pada bahagian kanan dan Surah Ibrahim di sebelah kiri. Uniknya, dinding mihrab ini tidak memantulkan bayangan dari pancaran cahaya atau lampu menjadikan ukiran kaligrafi ayat suci yang berwarna keemasan itu kelihatan jelas dan seolah-olah terapung di udara. Bagian tepi atap menjulur keluar masjid sepanjang 40 kaki mampu melindungi jemaah yang sholat di luar ruang solat utama dari tempias hujan.

Fasilitas Masjid Besi, Tuanku Mizan Zainal Abidin

Masjid besi, Tuanku Mizan Zainal Abidin terdiri dari lima lantai utama yang menyediakan berbagai fasilitas bagi jamaah masjid dan pengunjung. Lantai 1 (C2) terdiri dari 10 unit ruang dan jalan utama untuk memasuki masjid, 2 dari ruang tersebut akan dijadikan perpustakaan untuk anak anak, terdapat juga ruang serbaguna berkapasitas 250 orang. Di bagian depan lantai satu ini tersedia lahan parkir yang mampu menampung 281 kendaraan roda empat dan 79 sepeda motor. Sementara ruang pengurusan jenazah dan ruang pengurus masjid berada di samping area parkir ini.

Lantai bawah masjid (C1) merupakan area parkir untuk 180 kendaraan roda empat, kamar mandi, tempat wudhu pria dan wanita. Tak tanggung tanggung, demi kenyamanan jamaah lantai ini dilengkapi dengan eskalator yang menghubungkan semua lantai dari C1 hingga ke L2.

Rancangan kotabaru Putrajaya memang memikat, memadukan gedung gedung modern dengan bangunan masjid dalam satu kawasan terpadu.

Lantai berikutnya (L1) tempat dimana ruang sholat utama berada dengan kapasitas mencapai 12 ribu jamaah sekaligus. Di bagian kiri dan kanan ruang ini juga terdapat ruang terbuka untuk menampung jemaah yang tidak tertampung di dalam ruang sholat utama dan mampu menampung hingga 6000 jamaah. Kiblat walk yang tadi disebutkan di awal tulisan terhubung langsung ke lantai ini.

Di lantai L2 merupakan ruang sholat teras yang dibagi dua bagian. Sebagian untuk jemaah pria dan sebagian lagi untuk jemaah wanita di sebelah kiri. Teras ini berkapasitas 5000 jemaah sekaligus. Sedangkan di lantai L3 merupakan lantai khusus untuk kru media masa baik televisi maupun radio untuk memudahkan segala kegiatan liputan oleh media di masjid ini.

Selain fasiltas fasilitas tersebut, Masjid Besi Tuanku Mizan Zainal Abidin juga dilengkapi dengan lift, foyer, koridor, tangga, eskalator, penghitung pengunjung, dapur, ruang utility, ruang audio visual, ruang marbot, ruang VIP dan VVIP, pengurus masjid (DKM) dan area parkir beratap. Yang kesemuanya itu ditujukan bagi kenyamanan jamaah dan pengunjung salah satu dari dua masjid di pusat pemerintahan Federal Malaysia ini.

Besi yang dipakai sebagai bahan utama masjid ini berpendar memantulkan cahaya dimalam hari.

Pengelolaan Masjid Besi, Tuanku Mizan Zainal Abidin

Masjid Besi, Tuanku Mizan Zainal Arifin ini dikelolal oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Sebagaimana masjid yang dibangun di kawasan pusat pemerintahan, jemaah masjid ini pun pada umumnya adalah para pegawai pemerintah baik pemerintah Malaysia maupun pegawai kantor kantor perwakilan negara sahabat yang ada di Putrajaya yang terdiri dari para duta besar beserta staffnya, dan dengan sendirinya menjadikan Masjid Besi ini menjadi salah satu masjid dengan jemaah antar bangsa di Malaysia.

Dalam daftar kegiatan masjid besi ini yang dilansir di situs Jakim, terdapat nama KH. Abdullah Gymnastiar atau biasa kita kenal dengan nama Aa’ Gym dari pesantren Daarut Tauhid Bandung, sebagai salah satu dai yang di undang untuk memberikan tauziah di Masjid antar bangsa ini pada 25 Maret 2011 lalu.***