Senin, 16 April 2012

Masjid Al-Ikhlash Jatipadang, Masjid Pertama Bersertifikat ISO

Masjid Al-Ikhlas Jati Padang

Melihat bentuknya. Masjid Al Ihlas di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini boleh dibilang biasa biasa saja. Masjid beton ber-arsitektur kontemporer dengan menara tunggal menjulang tinggi. Tapi istimewanya masjid ini adalah masjid sekaligus lembaga keagamaan pertama yang meraih sertifikat ISO 9001:2008 tidak saja di Indonesia tapi juga Asia Tenggara dan bahkan juga mungkin di dunia. Bila perusahaan menerapkan system ISO itu sudah biasa tapi ini masjid lho. Benar benar tak biasa. Tak hanya itu Masjid Al Ikhlas Jatipadang ini juga pernah meraih trofi sebagai Masjid Masyarakat Terbaik se-DKI untuk tahun 2009 yang diumumkan pada tahun 2010 lalu.

Sertifikat ISO 9001:2008 dari badan sertifikasi International Standard Certification (ISC) yang berpusat di Sydney, Australia. Diserahkan langsung oleh Mr. Rickman J Mather, Representative of International Standard Certification (ISC) pada tanggal 2 Juli 2011 lalu. Rickman mengakui, bahwa di di Australia sekalipun, dimana kepedulian masyarakat terhadap manajemen yang baik sudah cukup tinggi, ternyata belum ada satupun lembaga-lembaga keagamaan yang tergerak untuk menerapkan konsep ISO dalam manajemen lembaga mereka.

Loksi dan Alamat Masjid Al Ikhlas Jatipadang

 Masjid Al Ikhlas Jatipadang
Jl. Ragunan Raya, Jatipadang
Pasar Minggu,  Jakarta Selatan
DKI Jakarta  - Indonesia





Impelementasi system ISO di masjid ini bukan saja terasa aneh tapi benar benar menarik perhatian. Rickman J Mather sendiri sebagai konsultan auditor eksternal untuk ISO yang telah malang-melintang di berbagai penjuru dunia, awalnya megaku kaget dan terheran-heran, mengapa sebuah lembaga masjid mau menerapkan sistem ISO. Namun setelah ia mengunjungi secara langsung—dalam rangka mengaudit implementasi ISO 9001:2008 di Masjid al-Ikhlash Jatipadang—barulah ia memaklumi gagasan penerapan ISO tersebut.

Dalam acara Penyerahan Sertifikat ISO 9001:2008 tersebut, secara simbolik sertifikat diserahkan oleh pihak ISC dan diterima oleh Bp Supli Ali, SH mewakili Gubenur Provinsi DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Selanjutnya, pada acara yang sama diserahkannya kepada Manajemen Masjid al-Ikhlash Jatipadang, yang diterima oleh Ketua Umumnya, Bapak Ir. Budi Suhirman MSc. MBA. Acara ini juga dihadiri oleh para petinggi Dewan Masjid Indonesia (DMI), antara Bp.H. Muh. Natsir Zubaidi (Sekjen PP DMI), KH Muh. Siddik Fauzie dari DMI Jakarta Selatan, serta dari kalangan Pemda DKI.

Dalam sambutan tertulisnya—dibacakan oleh Supli Ali, SH—Fauzi Bowo menyambut baik upaya Masjid al-Ikhlash Jatipadang untuk meraih Sertifikat ISO 9001:2008. Menurut beliau, peran masjid sangat relevan dengan konsep pembangunan kota Jakarta yang seimbang. Pihak DMI Pusat (Bp.H. Muh. Natsir Zubaidi ) juga menyampaikan ceramah singkat mengenai peran masjid di Indonesia, dan betapa pentingnya dan urgennya penerapan sistem manajemen yang baik dalam mengelola lembaga masjid.

Exterior Masjid Al-Ikhlas Jatipadang

Sejarah Masjid Al Ikhlas Jatipadang

Berawal Dari Sebuah Mushola Proyek Perumahan

Sejarah Masjid Al-Ikhlash Jatipadang dimulai dari proyek pembangunan komplek perumahan dinas kementrian pertanian di kawasan Jakarta Selatan oleh PT. Taruna Bangun selaku kontraktor di tahun 1965. Pihak kontraktor kemudian membangun sebuah mushola untuk keperluan karyawan muslim menunaikan ibadah. Namun mushola tersebut ternyata tidak hanya dipergunakan oleh karyawan tapi juga turut diramaikan oleh jemaah muslim warga sekitar proyek pembangunan. Ketika keseluruhan proyek pembangunan berahir di tahun 1967, mushola tersebut kemudian diserahkan kepada warga muslim Jatipadang.

Di tahun 1968, sebuah gedung yang biasa dipakai sebagai garasi kemudian direnovasidi jadikan gedung madrasah intidaiyah dan mushola tersebut juga di rombak ke ukuran yang lebih besar menjadi sebuah masjid yang kala itu diberi nama Masjid Panca Sakti. Pengelolaan madrasah ditangai oleh Bpk. H. Muhammad Ishak sedangkan pengelolaan masjid dikepalai oleh Bpk. Soejarwo di dukung oleh Bpk. Soelaiman sebagai perwakilan PT. Taruna Bangun.

Interior Masjid Al-Ikhlas Jatipadang

Diserahkan ke warga muslim jatipadang

Di tahun 1969 pengelolaan masjid dan madrasah sepenuhnya diserahkan kepada warga muslim Jatipadang. Masjid yang sebelumnya bernama Masjid Panca Sakti kemudian diganti nama menjadi Masjid Al Ikhlash dengan harapan bahwa semua amal bakti yang dilakukan untuk masjid tersebut dilandaskan kepada ke-ikhlasan dan semata mata mengharapkan ridho Alloh Subhanahuwata’ala.

Beberapa tokoh masyarakat yang aktif dalam pengembangan masjid tersebut diantaranya adalah Bpk. Soelaiman (PT Taruna Bangun – selaku pendiri masjid), Bpk. Soejarwo, SH (perwakilan dari kementrian pertanian), Ustadz Abdul Rahman, Bpk.  Lili Sadeli, Drh. Syamsu, Drh. ZB. Tafal, Drs. Salim Harun, Drs. Iwan Djuhata, Bpk. Djuri Kundori, Ustadz Mahruf Djaani, Ustadz Ridwan, Ustadz Syakubat, Bpk. Sinwani, Bpk. Sadi, dan Bpk. Nana.

Lahan tempat masjid dan madrasah ini berdiri merupakan lahan milik Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Masjid dan Madrasah tersebut yang sebelumnya sudah diserahkan kepada warga muslim Jatipadang, pernah diminta untuk dikembalikan ke kementrian pertanian oleh beberapa pejabat di kementrian tersebut. Namun demikian sejak tahun 1976 masjid dan madrasah tersebut berada di bawah Yayasan Mujahidin – sebuah organisasi nirlaba yang dibentuk sendiri oleh kementrian pertanian.

Penyerahan sertifikat ISO9001 versi 2008 kepada Pengurus Masjid Al-Ikhlas Jatipadang

Renovasi dan Perluasan

Masjid Al-Ikhlas Jatipadang telah mengalami serangkaian renovasi. Renovasi pertama dilaksanakan tahun 1981, dengan dana sepenuhnya dari pemerintah DKI Jakarta. Sedangkan renovasi terahir dilaksanakan pada tahun 1998 yang melibatkan perencanaan terintegrasi antara masjid dan madrasah. Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh pelaksana tugas menteri pertanian DR. Muhammad Prakosa di tahun 2000 (10 Dzulhijjah 1421 H).  pendanaan proses renovasi tersebut berasal dari dana swadaya masyarakat serta bantuan dari beberapa institusi pemerintah dan swasta.

Di tahun 2006 Nama masjid ini kembali diubah mengingat begitu banyaknya masjid masjid yang bernama sama “Masjid Al Ikhlas” maka ditambahkan kata “Jatipadang” dibelakang nama masjid menjadi “Masjid Al Ikhlas Jatipadang”. Proses renovasi selesai dilaksanakan tahun 2007 dan secara resmi mulai digunakan pada 20 Desember 2007 bersamaan dengan sholat Idul Adha 1428H oleh menteri Pertanian H. Anton Apriantono, MS.

Altivitas Masjid Al Ikhlas Jatipadang

Masjid Al-ikhlash Jatipadang nyaris tak pernah sepi dari aktivitas rutin yang cukup semarak yang diselenggarakan di masjid ini. Acara rutin nya bahkan sudah menyentuh kajian harian. Secara rutin melakukan pengajian ba'da Shalat Subuh berjamaah. Pengajian ini dilakukan setiap hari Senin s/d Minggu setiap minggunya. Pokok pembahasan dalam pengajian ini meliputi Fiqih Ibadah, Aqidah Islam, Ilmu-Ilmu Al Quran, Ilmu Hadits, Ilmu Fiqih dan Hikmahnya, Sirah Nabawiyah, dan Ahlaq Rasulullah SAW. Pengajian  dipandu oleh Ustadz-Ustadz Senior dari Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.

Khusus untuk para Jamaah Muslimah (Wanita), Madjid Al-ikhlash Jatipadang  juga secara rutin melakukan pengajian ba'da Shalat Ashar. Pengajian ini dilakukan setiap hari Sabtu setiap minggunya. Pokok pembahasan dalam pengajian ini adalah Tahsin Al Quran. Pengajian  dipandu oleh Ustadz H. Sunardin dari Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.
Interior Masjid Al-Ikhlas Jatipadang

Setiap hari sehabis Shalat Maghrib berjamaah, Madjid Al-ikhlash Jatipadang  juga secara rutin melakukan pengajian ba'da Shalat Maghrib. Pokok pembahasan dalam pengajian ini adalah Tahsin Al Quran beserta terjemahannya dan juga beserta Bahasa Arab. Pengajian  dipandu secara bergantian oleh oleh Ustadz M. Lalu Idham Kholid, Ustadz H Eddy Nurtadi, MTh, Ustadz H. Sunardin dan Ustadz Muslim Gunawan dari Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.

Khusus di hari Ahad (Minggu) Madjid Al-ikhlash Jatipadang secara rutin melakukan pengajian ba'da Shalat Isya berjamaah. Pengajian ini dilakukan secara rutin dilakukan sepanjang tahun dengan Pokok pembahasan dadalah Tafsir Al Quran. Pengajian  dipandu oleh Ustadz H Ali Akhmadi MA dari Masjid Al-Ikhlash Jatipadang.

Secara rutin sehabis Shalat Shubuh berjamaah di hari Ahad (Minggu) di Minggu ke 1 setiap bulannya, Masjid Al-ikhlash Jatipadang  juga secara rutin mengadakan ceramah umum atau Tabliq Akbar. Ceramah umum atau Tabliq Akbar ini dibawakan secara bergantian oleh oleh Ustadz-Ustadz yang sudah terkenal di dalam Masyarakat Islam Jakarta dan sekitarnya.**

Minggu, 15 April 2012

Masjid Baitul Mughni, Jakarta

Masjid Baitul Mughni

Berdiri megah di tepian jalan Gatot Subroto, Jakarta, gambar masjid ini seakan akan tercetak pada diding kaca gedung Menara Global yang terletak di sebelahnya. Posisinya yang tak terlalu jauh dengan perempatan Kuningan membuatnya sering disebut Masjid Kuningan. Masjid Baitul Mughni, Jakarta, menempati areal 6.000-an meter persegi di lokasi amat strategis di Kavling 26 Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. Selain terdapat masjid tiga tingkat di komplek masjid ini juga berdiri megah dua gedung Sekolah Islam Al-Mughni, masing-masing lima lantai, Pusat Kajian Hadis, dan Al-Mughni Islamic Center.

Masjid Baitul Mughni merupakan wakaf dari Guru Mughni, ulama kondang Betawi tahun 1940-an, masjid tiga lantai ini kii dikepung pusat perkantoran dan sentra bisnis segitiga emas Jakarta: Gatot Subroto, Sudirman-Thamrin, dan Rasuna Said. Menara Jamsostek, Gedung Telkom, Hotel Kartika Chandra, Wisma Argo Manunggal, serta pusat bisnis Mega Kuningan mengelilingi kompleks Al-Mughni.

Lokasi dan Alamat Masjid Baitul Mughni

Masjid Baitul Mughni
Jl. Gatot Subroto Kav 26
Kelurahan Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi
Jakarta Selatan, propinsi DKI Jakarta 12930 - Indonesia





Sejarah Masjid Baitul Mughni

Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng. Bentuk masjid itu adalah empat persegi dengan mihrab di depan sebagai tempat imam memimpin shalat. Meski demikian, jika dibandingkan dengan bangunan yang ada di wilayah lain saat itu, bangunan masjid ini tergolong bangunan mewah.

Dengan bertambahnya jumlah jamaah, ukuran masjid ini pun diperluas, bagian belakangnya ditambah dengan bahan bangunan dari anyaman bambu. Bagian belakang ini dimanfaatkan sebagai tempat mengaji dan bermalam bagi murid-murid Guru Mughni yang datang dari tempat tempat yang jauh. Belum ada menara masjid pada waktu itu. Baru menjelang Guru Mughni wafat dibuat menara. Setelah itu menyusul renovasi demi renovasi berikutnya. satu-satunya peninggalan masjid lamanya ya pilar masjid bekas tiang penyangga masjid di sebelah dalam.


Seolah berkaca di cermin

Sejak pertama pendiriannya, Masjid Baitul Mughni berfungsi tak hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai tempat pendidikan dan penyebaran ilmu-ilmu agama, bahkan saat itu masjid ini juga sebagai pusat informasi Ru’yatul Hilal (penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal) bagi masyarakat Jakarta Selatan. Ketika itu, masjid ini melahirkan seorang tokoh ahli ilmu falak yakni K.H. Abdullah Suhaimi, yang juga menantu Guru Mughni sendiri. Ketika itu bisa dibilang masjid ini merupakan masjid rujukan bagi masjid-masjid kecil di sekitarnya. Seperti untuk menentukan kapan waktunya azan, biasanya masjid-masjid lainnya berpatokan pada masjid ini. Mereka tidak akan azan sebelum mendengar suara azan dari masjid ini.

Mengenal Guru Mughni

Guru Mughni memiliki nama lengkap Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qais. Lahir sekitar tahun 1860 di Kampung Kuningan, Jakarta dan wafat pada hari Kamis, 5 Jumadil Awwal 1354H, dalam usia 70 tahun. Beliau merupakan putra bungsu pasangan H. Sanusi dan Hj. Da`iyah binti Jeran. Saudara kandungnya yang lain adalah Romli, Mahalli dan Ghozali. Keluarganya merupakan keluarga yang sangat taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Guru pertamanya adalah Ayah-nya sendiri, H. Sanusi. Selain mengaji kepada ayahnya, beliau dan kakak-kakaknya juga mengaji kepada H. Jabir.

Kecerdasannya membuat Ayah-nya bertekad mengirim Guru Mughni belajar ke Makkah pada usia 18 tahun, tahun 1885, beliau sempat kembali ke tanah air. Namun, karena merasa belum cukup berilmu, beliau kembali lagi Makkah unuk mengaji selama lima tahun. Keilmuannya yang mendalam, membuat beliau pernah diminta untuk mengajar di Masjidil Haram bersama ulama Makkah lainnya.

Menara Masjid tampak dari kejauhan

Di antara guru-gurunya selama di Makkah antara lain: Syekh Sa`id Al-Babsor (Mufti Makkah), Syekh Abdul Karim Al-Daghostani, Syekh Muhammad Sa`id Al-Yamani, Syekh Umar bin Abi Bakar Al-Bajnid, Syekh Muhammad Ali Al-Maliki, Syekh Achmad Al-Dimyathi, Syekh Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Abdul Hamid Al-Qudsi, Syekh Muhammad Mahfuz Al-Teramasi, Syekh Muhammad Muktar Athorid A-Bogori, Syekh Sa`id Utsman Mufti Betawi, Syekh Muhammad Umar Syatho, Syekh Sholeh Bafadhal, Syekh Achmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Setelah 14 Tahun di Makkah, beliau kembali ke Tanah Air. Dengan kapasitas ilmunya, orang datang berduyun-duyun untuk belajar dan menimba ilmu darinya. Sejak itulah beliau dikenal dengan panggilan “Guru Mughni”. Dari beberapa pernikahannya, beliau dikaruniai banyak anak. Namun walaupaun punya banyak anak, Guru Mughni sangat perhatian terhadap pembentukan kepribadian dan masa depan semua anak-anaknya. Guru Mughni memiliki visi agar anak dan keturunannya mengikuti jejaknya untuk menjadi ulama. Karenanya beliau tidak segan-segan mengirim putra-putrinya untuk bermukim dan menuntut ilmu agama di kota Makkah walau usia mereka masih muda belia.

Beliau ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri namun berakhlak mulia dan memiliki ilmu yang mumpuni. Terbukti sekembalinya ke tanah air, anak-anaknya banyak yang berhasil menjadi ulama terkemuka, ulama yang mandiri, antara lain, yaitu: KH. Syahrowardi, KH. Achmad Mawardi, KH. Rochmatullah, KH. Achmad Hajar Malisi, KH. Ali Syibromalisi, KH. Achmad Zarkasyi, dan KH. Hasan Basri. 

Exterior Masjid Baitul Mughni

Selain anak-anaknya, cucu-cucunya ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, antara lain, yaitu KH. Abdul Rozak Ma`mun, Dr. KH. Nahrawi Abdus Salam, KH. Abdul Azim AS, KH. Abdul Mu`thi Mahfuz, dan KH. Faruq Sanusi. Selain anak dan cucunya, cicitnya pun, baik yang putri maupun putra, ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, salah satunya adalah Dr. KH. Lutfi Fathullah Mughni,MA yang pada masa kecilnya pernah berguru kepada salah seorang kakeknya, KH. Ali Syibromalisi.

Di halaqah atau majelis taklimnya, Guru Mughni mengajar ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadits, akhlak, dan bahasa Arab. Untuk pelajaran fiqh, beliau gunakan kitab Safinah An- Najah untuk tingkat murid dan kitab Fath Al- Mu`in untuk tingkat guru. Untuk pelajaran tauhid, beliau gunakan kitab Kifayah Al-Awam. Untuk pelajaran tafsir, beliau gunakan Tafsir Jalalain. Untuk pelajaran hadits, beliau gunakan kitab Shahih Bukhori dan Shahih Muslim. Untuk pelajaran akhlak, beliau gunakan kitab Minhaj Al-Abidin. Untuk tata bahasa Arab, beliau gunakan kitab Alfiyah. Beliau tidak hanya mengajar, beliau juga menerjemahkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Syama`il dan disusunnya dalam satu kitab yang beliau beri judul Taudhih Al-Dala`il fi Tarjamat Hadits al-Syama`il.

Murid-muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka di antaranya adalah Guru Abdul Rachman Pondok Pinang, KH. Mughni Lenteng Agung, Guru Naim Cipete, KH. Hamim Cipete, KH. Raisin Cipete, Guru Ilyas Karet, Guru Ismail atau Guru Mael Pendurenan, KH.Abdurrachim dan KH. Abdullah Suhaimi yang menjadi salah seorang guru dari Syekh. Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi.(JIS)

pada saat renovasi tahun 2012

Aktivitas masjid Baitul Mughni

Selain sebagai tempat Ibadah Masjid Baitul Mughni juga menyediakan fasilitas pendidikan dari tingkatan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah atas dengan nama sekolah Al-Mughni. Selain itu salah satu dari keturunan Guru Mughni, DR. Ahmad Lutfi Fathullah, MA, mendirikan sebuah lembaga kajian hadist yang diberi nama Pusat Kajian Hadist Al-Mughni lembaga ini menyediakan sebuah perpustakaan konvensional hingga perpustakaan digital khusus hadist. Berbagai kegiatan di selenggarakan oleh lembaga ini. klik untuk berkunjung ke Pusat Kajian Hadist Al-Mughni. Selain itu beliau juga mengelola sebuah situs bertajuk tanyalah al-qur’an.

Sekali dalam setahun di masjid ini diadakan acara haul Guru Mughni yang begitu ramai dihadiri oleh para jemaah dari berbagai daerah. Jemaah yang datang memadati masjid ini bahkan sudah hadir sejak sholat subuh dengan rata rata menggunakan pakaian putih. Mereka tidak lain adalah jama'ah Masjid Baitul Mughni dan para tamu undangan. Disetiap acara dihadiri tal kurang dari 1500 orang berbondong-bondong untuk ikut hadir dalam peringatan tahunan jasa-jasa ulama' betawi ini.

Setelah itu diadakan pengajian rutin bulanan yaitu Pengajian Bakhtsi wa Tahqiq, yang dihadiri oleh Alim Ulama se-DKI Jakarta. Acara ini diadakan setiap tahunnya pada bulan Rabi'ul Awwal, di panitiai oleh Pengurus Masjid Baitul Mughni dan para keturunan Keluarga besar Guru Mughni. Acara ini diadakan hanyalah sebuah tradisi mengenang jasa-jasa para Alim-Ulama di masa-masa dakwah zamannya, khususnya Guru Mughni sang Ulama Betawi yang menyebarkan Islam di Indonesia khususnya di DKI Jakarta. Acara tersebut turut dihadiri oleh para pejabat pemerintahan termasuk Gubernur DKI Jakarta Bapak Fauzi Bowo, dan da’I da’I kondanga tanah air seperti Ustadz Yusuf Mansur, beliau langsung hadir pada subuh hari, dan memberikan mau'idhahnya kepada jama'ah yang hadir.

Terlihat dari ruas jalan tol dalam kota

Pengelolaan Masjid Baitul Mughni

Kepengurusan Masjid Baitul Mughni sampai saat ini masih dilanjutkan oleh keturunan guru Mughni. Sumber dana Masjid Mughni selama ini masih menempuh cara konvensional. "Yang utama sumbangan dari jamaah, Jamaah salat dan pengajian rutin di masjid menyumbang lewat kotak amal. Saat salat Jumat, bisa terkumpul donasi minimal Rp 1 juta. Ada pula sumbangan lebih besar dari para donatur insidental dan sejauh ini, kebutuhan operasional masjid bisa tertangani.

Dengan model konvensional saja, masjid ini mampu menyediakan rumah sederhana bagi imam salat dan petugas azan, serta menggajinya secara layak. Kas masjid bahkan sering meminjami bagian pendidikan yayasan yang mengelola TK, SD, dan SMP Islam terpadu. Lebih-lebih bila dikelola secara profesional. Pengembangan unit usaha mulai disiapkan oleh pengurus masjid Baitul Mughni. di antaranya usaha simpan-pinjam, biro perjalanan, dan klinik. Kebetulan ada cicit Guru Mughni yang jadi dokter dan menjadi Kepala Puskesmas Mampang, sekalian ngabdi di yayasan.***

Masjid Said Naum, Jakarta

Masjid Said Naum Kebon Kacang,  Jakarta Pusat.

Masjid Said Naum dibangun di atas bekas lahan pekuburan, wakaf dari Almarhum Said Naum. Pembangunan masjid ini atas gagasan dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Masjid dengan rancangan eksentrik ini dirancang oleh Atelier Enam Architects and Planners / Adhi Moersid. Masjid Said Naum dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta dan Yayasan Saïd Naum selesai dibangun tahun 1977 diatas lahan seluas 15'000 m².

Said Naum atau Syekh Said Naum adalah seorang Kapitan Arab pertama untuk wilayah Pekojan dimasa kolonial Belanda berkuasa di Batavia di awal abad ke 19. Beliau juga saudagar muslim kaya raya dari Palembang yang memiliki armada kapal dagang sendiri. Di tahun 1883 Syekh Said Naum mendanai perbaikan dan perluasan Masjid Langgar Tinggi Pekojan yang masih berdiri kokoh hingga kini, dan mewakafkan salah satu lahan tanah miliknya untuk digunakan sebagai lahan pemakaman umum yang kini berubah menjadi rumah rumah susun dan Masjid Said Naum.

Lokasi Masjid Said Naum

Masjid Said Naum
Kebon Kacang 9 No. 25, Kelurahan Kebon Kacang
Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10240 - Indonesia


Sejarah Masjid Said Naum

Pembangunan Masjid Said Naum ini disayembarakan oleh pemda DKI pada tahun 1975 untuk mendapatkan rancangan yang iinginkan. Sayembara itu kemudian dimemenangkan oleh Atelier Enam Architects and Planners / Adhi Moersid.yang berhasil membuat rancangan yang memapu memenuhi kriteria utama nya yang harus merepresentasikan karakter arsitektur tradisional dan cocok dengan lingkungan sekitar dan menggunakan material local. Atas alasan itu pulalah bangunan masjid yang selesai pembangunannya tahun 1977 ini mendapatkan penghargaan honourable Mentiion dari Aga Khan Award for Architecture pada tahun 1986.

Lahan yang kini menjadi lahan Masjid Said Naum pada awalnya adalah lahan pemakaman umum wakaf dari Syekh Said Naum di awal abad ke 19. Gubernur DKI (kala itu) Ali Sadikin berencana memindahkan pemakaman umum tersebut untuk kemudian membangun komplek rumah susun di sana, mengingat lokasinya yang sudah tidak sesuai lagi bagi peruntukan pemakaman umum. Rencana tersebut tak pelak lagi mendapat tentangan dan protes dari masyarakat  luas.

interior Masjid Said Naum
Sebagian ulama mengharamkan proses ‘penggusuran makam’ sebagian lagi membolehkan dengan beberapa persyaratan, termasuk di dalamnya untuk tetap memanfaatkan lahan tersebut bagi kepentingan kemaslahatan ummat Islam agar amal jariah bagi yang mewakafkan tanah tersebut tetap mengalir. Ahli waris yang anggota keluarganya dimakamkan di areal ini sempat melayangkan gugatan ke dua pengadilan negeri Jakarta sekaligus di tahun 1975 namun semua gugatan tersebut kandas dan proses pembongkaran makam tetap dijalankan dibawah kawalan pasukan polisi dan tentara.

Setelah musyawarah panjang antara pemerintah DKI Jakarta dengan para tokoh masyarakat dan alim ulama disepakati bahwa di lahan bekas pekaman umum tersebut juga akan dibangun sarana ibadah berupa Masjid dan madrasah yang pembangunan serta pengelolaannya berada di bawah kendali para tokoh masyarakat dan ulama bersama pemerintah DKI Jakarta. Selain itu untuk menjamin bahwa masjid dan madrasah tersebut berkekuatan hukum tetap dan tidak akan diambil alih pemerintah di kemudian hari maka dibentuk Yayasan Wakaf Said Naum yang akan mengelola masjid dan seluruh fasilitasnya. Kontroversi dan protes masyarakat-pun berahir.

Masjid Said Naum diresmikan penggunaannya oleh Menteri Dalam Negeri, Amir Machmud pada tahun 1975. Proses pembangunan masjid Said Naum dibiayai oleh Pemprov DKI Jakarta dan sebagai konsekwensinya Pemprov berhak membangun rumah susun di sebagian tanah wakaf tersebut. Masjid Said Naum juga dilengkapi dengan bangunan sekolah mulai dari Taman Kanak Kanak, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).Selain itu Meskipun begitu pemprov DKI tidak memberikan dana operasional bagi penyelenggaraan Masjid Said Naum. Sejak diresmikan penggunaannya hingga saat ini biaya pengelolaan masjid di dapatkan dari jemaah masjid dan dari pengelolaan parkir dari lahannya yang cukup luas.

arsitektural indonesia asli dengan atap limas bersusun di olah sedemikian rupa oleh perancang masjid dengan memutar atap puncak masjid menghadirkan bentuk baru tanpa menghilangkan bentuk tradisionalnya.


Arsitektural Masjid Said Naum

Rancangan Masjid Said Naum ini dapat disebut sebagai suatu rancangan yang sangat berhasil dalam upaya menghadirkan kosa bentuk masjid tradisional Jawa ke dalam ungkapan ungkapan modern Masjid yang dirancang arsitek Adhi Moersid dan tim ini jelas memperlihatkan usaha serius mengakomodasi dua kepentingan berbeda yaitu merepresentasikan karakter arsitektur lokal/tradisional dengan pendekatan modern.

Menurut catatan tertulis dari sang arsitek, pada waktu menggarap rancangan ini sebenarnya tidak ada pretensi mengupas kemudian merumuskan bagaimana tradisi dan unsur arsitektur tradisional dapat dimasukkan kedalam rancanngan dengan mengikuti aturan atau teori tertentu. Namun yang dicoba dilakukan adalah mencarikan landasan untuk memberikan makna pada ungkapan arsitekturnya baik yang terasa maupun yang tidak terasa.

Bentuk baru dari atap masjid tradisional Indonesia pada masjid Said Naum, bentuk baru dari stok lama.


Salah satu landasan perancangan adalah keyakinan bahwa islam merupakan ajaran atau ideology yang kemanapun ia datang tidak secara langsung membawa atau memberikan bentuk budaya berupa fisik. Dimana pun islam datang ia siap memakai berbagai bentuk local/tradisional untuk dijadikan identitas fisiknya. Dari sini kita menemukan banyak bangunan bangunan tradisional yyang dengan mudah dapat berubah fungsinya menjadi masjid diberbagai masyarakat yang telah memeluk agama Islam.

Arsitektur islam dapat juga dinyatakan sebagai manifestasi fisik dari adaptasi yang harmonis antara ajaran Islam dengan bentuk bentuk local. Oleh karena itu arsitektur islam bisa amat kaya akan ragam dan jenisnya sebagaimana yang diungkapkan arsitek muslim turki Dogan Kuban bahwa tidak ada homogenitas dan kesatuan dalam bentuk dari apa yang disebut arsitektur Islam. Konsep inilah yang dipakai sanga arsitek sebagai focus sentral dalam mendisain masjid bernuansa modern diatas tanah wakaf warga keturunan mesir bernama Said Naum.

sinar matahari menerobos masuk
dari celah antara atap puncak 
dengan atap di bawahnya.
Dari segi bentuk, gubahan pertama yang menarik perhatian adalah design atap masjid. Karena arsitektur atap merupakan salah satu cirri menonjol dalam arsitektur tradisional di Indonesia/Jawa, dapatlah dimengerti jika design ini mencoba mengambil kembali karakteristik atap masjid tradisional namun direvitalisasi.

Penampilan masjid di dominasi atap yang mencoba menggubah kembali atap tumpang atau meru tradisional yang sering ditampilkan dalam bangunan sacral di Jawa atau Bali ke dalam perwujudan baru (sumber : masjid 2000org/N Luthfi). Berbeda pada bangunan tradisional, bagian atas diputas 90 derajad dari bentuk massa bangunan masjidnya hal ini jelas memperlihatkan uusaha menarik dalam menampilkan gagasan baru untuk merevitalisasi bentuk atap local/tradisional tersebut. Bentuk seperti itu tampaknya berkembang lebih lanjut kemudian hari pada bangunan masjid masjid modern ainnya di Indonesia seperti Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makasar dan masjid Pusdai (Islamic Center) di Bandung.

bentuk atap tersebut sebenarnya juga memperlihatkan kesamaan profil dengan tipe atap tumpang dengan saka guru ditengah ruang sholat untuk menyangga atap kedua maupun ketiganya. Namun empat saka guru tersebut di dalam rancangan ini dihilangkan agar di dapat pandangan secara jelas kea rah mihrab dan tersedia ruang tempat shalat dengan bebas.

ketiadaan 4 sokoguru di tengah
masjid sebagai penyanggah atap
menghadirkan ruang yang lebih
lega di dalam masjid.
Konsekwensi penghilangan kolom kolom saka guru di tengah tengan ruangan tersebut adalah diperlukannya struktur bentang cukup lebar. Tampaknya pilihan struktur rangka baja telah dipakai untuk menggantikan struktur kayu yang biasa pada masjid tradisional. Namun yang sangat menarik disini adalah dikembangkannya kembali konsep system atap lama pada struktur atap yang rigid sebagai self bearing structure untuk menutup ruang dengan bentang lebar. Design ini dengan jelas memeragakan pemanfaatan teknologi yang di adaptasikan dengan tradisi lokal.

Pencahayaan alami yang masuk ke ruang sholat memberi suasana nyama bagi setiap pengguna. Sementara pada bagian atas terlihat balok struktur rangka atap yang menjadi self bearing structure dari system atap tradisional yang si ekspose.

Yang juga terlihat sangat menonjol dalam rancangan masjid yang berdenah segi empat simetris ini adalah kenyamanan ruang ruangnya, yang terjadi sebab adanya bukaan di semua sisi dindingnya sehingga tercapai penghawaan silang dengan baik. Disetiap sisi dinding masjid terdapat lima jendela kayu lengkung yang lebar dengan beberapa diantaranya dipakai sebagai pintu. Uniknya bukaan bukaan ini tidak menggunaan daun jendela/pintu tetapi deretan kayu berukir/berulir berjarak tertentu dengan arah vertical yang mengisi luas jendela tersebut. model jendela seperti ini mengingatkan kepada rumah rumah tradisional betawi maupun masjid masjid lama di ajakarta yang dibangun sejak abad ke 18.

Bukaan tanpa daun jendela pada 
setiap sisi bangunan seperti ini 
menjadikan angin bebas bertiup 
ke dalam masjid (kompas4/11/01)
Bukaan tanpa daun jendela pada setiap sisi bangunan seperti ini menjadikan angin bebas bertiup ke dalam bangunan sehingga tercapai penghawaan silang. Nampaknya ini merupakan salah satu kunci kenyamanaan karena mengadaptasi kondisi iklim lokal (sumber masjid2000/N.luthfi).

Penggunaan sirkulasi yang mudah dan jelas juga memberi kenyamaan tersendiri dari bangunan berkarakter public ini. selain itu penggunaan bentuk atap juga sangat cocok untuk bangunan yang memiliki curah hujan tinggi bajkan adanya selasar yang lebar pada semua sisi yang dapat melindungi ruang dalam / interior dari hujan dan silai akibat panas matahari luar semakin menambah kenyamanan ruang ruang masjid.

Pencahayaan alami yang dramatis dan sayup sayup lembut yang memasuki ruangan sholat baik dari samping maupun dari lubang cahaya dari pertemuan bidang miring atap yang diputar dengan atap dibawahnya sangatlah mendukund suasana kekhusu’an  sementara lampu di tengah langit langit atap sangat serasi dengan geometri yang memberikan cahaya iluminasi bagaimanapun efek pencahayaan ini memberikan kenyamanan sangat bagi setiap pengguna ketika berada di dalam masjid.

Area luar bangunanan dirancang dengan berbagai leveldengan tanaman berbeda pada masing masing tempat. Pepohonan disekeliling batas dan sebagai pengisi antar baris paving lantai menyediakan baangan dan atmosfir yang relative sejuk yang mengalir secara silang kedalam bangunan.tata letak bangunan dan penataan lanskap tersebut jelas hendak menjadikan area yang tenang, sejuk dan damai bagai oase ditengah hiruk pikuk area urban kota Jakarta. Ini menunjukkan desain bangunan yang sangat adaptif dengan iklim local.

Masjid Said Naum dan rindangnya pepohonan di area parkirnya.

Dengan demikian baik penampilan masjid dalam ruang dan bentuk tata letak dan penataan lanskap tampaknya sangat mendekati ideal. Kehadirannya begitu nyaman bagi kegiatan ritual ibadah seperti sholat, I’tikaf (berdiam diri dalam masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah) perenungan hingga muhasabah (mengevaluasi diri).

Ini semua tidak lepas dari kuatnya ungkapan ungkpan karakter local atau lokalitas dalam rancangan masjid baik secara keseluruhan maupun detail detailnya. Ungkapan lokalitas memang banyak di olah dan menjadi cirri penting dalam rancangan masjid modern ini. bahkan materialnya menunjukkan material lokal kecuali bahan bahan baja untuk struktur atap. ini yang tampaknya patut menjadi contoh dan perlu dikembangkan perancang/arsitek untuk bangunan masjid khususnya dan bangunan lain pada umumnya di negeri kita tercinta, Indonesia.***

Jumat, 13 April 2012

Masjid Jami’ Assalafiyah, Masjid Pangeran Jayakarta

Bangunan Awal Masjid Jami' As-Salafiyah, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur merupakan bangunan paling depan tempat mihrab dan mimbar berada.

Masjid Jami’ Assalafiyah atau juga dikenal sebagai Masjid Pangeran Jayakarta di kawasan Jatinegara Kaum, Klender, Jakarta Timur ini, tak bisa dipisahkan dari sejarah perjuangan Pangeran Jayakarta, penguasa terahir Jayakarta sebelum kekalahannya menghadapi serbuan pasukan VOC (Belanda) dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen pada tanggal 30 Mei 1619. Kekalahan pasukan Pangeran Jayakarta dalam perang melawan VOC itu berakibat pada dibumihanguskannya Jayakarta oleh pasukan VOC termasuk keraton dan Masjid Kesultanan Jayakarta yang berdiri megah di sekitar kawasan yang kini dikenal sebagai Hotel Omni Batavia.

Belanda menganggap Pangeran Jayakarta tewas di dalam sebuah sumur di kawasan Mangga Dua, Jakarta, namun nyatanya yang diberondong peluru oleh pasukan Belanda di dalam sumur tersebut tak lebih dari selembar jubah dan sorban Pangeran Jayakarta yang sengaja dilemparnya ke dalam sumur tersebut untuk mengelabui pasukan Belanda, sedangkan beliau bersama para pengikutnya berhasil melarikan diri ke wilayah yang kini dikenal sebagai Jatinegara Kaum, membuka daerah baru serta mendirikan masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Jami’ Assalafiyah. Bahkan putra beliau yang bernama Pangeran Senapati diperintahkan untuk pergi sejauh mungkin dari Jayakarta untuk menghindari kejaran Belanda sekaligus menyebarkan ajaran Islam ke luar Jayakarta, pada ahirnya menetap di wilayah Cibarusah kabupaten Bekasi dan mendirikan Sebuah masjid yang dikemudian hari menjadi pusat perjuangan pasukan Hisbullah melawan penjajahan Belanda di wilayah Bekasi, masjid tersebut kini bernama Masjid Al-Mujahidin Cibarusah.

Lokasi Masjid Jami’ Assalafiyah

Masjid Jami’ Assalafiyah
Jl Jatinegara Kaum Raya No 208
Klender, Jakarta Timur

                    

Akses angkutan umum menuju ke Masjid As-Salafiyah. Terminal Pulogadung atau Pasar Klender adalah terminal yang terdekat dengan masjid. Dari Senen ada Metro Mini T-47, dari Kampung Rambutan ada Patas 98, dari Rawamangun ada Angkot T-26, dan dari Kampung Melayu ada Kopaja T-501.
  
Sejarah Masjid Jami’ Assalafiyah dan Sejarah Jakarta

Jayakarta 22 Juni 1527 - 12 Maret 1619

Sejarah kota Jakarta dimulai pada tanggal 22 Juni 1527, di awali dengan kemenangan Fatahillah yang memimpin pasukan gabungan Demak dan Cirebon dibantu oleh pasukan Banten mengalahkan dan mengusir Portugis yang bersekutu dengan Padjajaran dari Sunda Kelapa. Fatahillah merupakan panglima pasukan Demak di masa pemerintahan Sultan Trenggono. Sultan Trenggono memerintahkan beliau untuk menggabungkan pasukkannya dengan pasukan dari Kesultanan Cirebon dibawah pemerintahan Syarif Hidayatullah [Sunan Gunung Jati]. Kemenangan Fatahillah atas Portugis di Sunda Kelapa yang kemudian setiap tahun diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta itu mengukuhkan kekuasaan Sunan Gunung Jati dan Islam atas Prabu Siliwangi dan Padjajaran, terlebih dengan juga lepasnya wilayah Banten dari kekuasaan Padjadjaran.

Tampak depan Masjid Jami' As-Salafiyah yang menghadap ke jalan Jatinegara Kaum.

Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, beliau memegang langsung tampuk pemerintahan di Jayakarta selama beberapa bulan sebelum beliau memutuskan kembali ke Cirebon untuk memenuhi permintaan Sunan Gunung Jati guna memperluas wilayah kesultanan Cirebon ke wilayah sekitarnya seperti wilayah Talaga dan Rajagaluh. Setelah upaya penaklukan berhasil Fatahillah menikah dengan putri Sunan Gunung Jati, Ratu Wulung Ayu,  beliau memutuskan untuk menetap di Cirebon dan Jabatan Bupati Jayakarta diserahkan kepada Ki Bagus Angke atau Ratu Bagus Angke atau Pangeran Tubagus Angke. 

Disaat yang hampir bersamaan Pangeran Sabakingking, putra Sunan Gunung Jati dari istri keduanya Nyi Ratu Kawungaten yang juga putri mendiang adipati Banten, dinobatkan sebagai Sultan Pertama bagi Kesultanan Banten dengan gelar Sultan Maulana Hasanudin. Penobatan Sultan Maulana Hasanudin ini menandai berahirnya hegemoni Padjadjaran atas wilayah Banten sekaligus meneruskan kekuasaan kakeknya sebagai penguasa Banten.

MAKAM PANGERAN JAYAKARTA. & PRASASTI KODAM JAYAKARTA. Di  dalam bangunan pendopo ini selain makam pangeran Jakarta juga terdapat makam putra beliau, pangeran Lahut, Pengeran Sagiri & istrinya - Ratu Rapi'ah. serta Pengeran Soeria putra dari Pangeran Padmanegara yang dipindahkan dari Kramat Tangkil Tahun 1978.

Lalu siapakah gerangan Tubagus Angke yang meneruskan pemerintahan Fatahillah atas Jayakarta dan bagaimanakah silsilahnya ?, hingga kini tak ada data pasti mengenai hal tersebut. Penaklukan Sunda kelapa tahun 1522 tersebut terjadi 43 tahun setelah Sunan Gunung Jati Menikah dengan istri keduanya Nyi Ratu Kawungaten [putri adipati Banten]. Cukup masuk akal bila di tahun tersebut putra pertama Sunan Gunung Jati, Pangeran Sabakingking dinobatkan menjadi Sultan Banten yang pertama. Namun bila disebutkan bahwa Tubagus Angke adalah Putra dari Pangeran Sabakingking, bila ini benar, maka artinya Pangeran Sabakingking menikah pada usia muda dan Tubagus Angke pun pastinya menjabat sebagai penguasa Jayakarta dalam usia muda.

Namun hal tersebut bertentangan dengan Hikayat Hasanuddin dan Sajarah Banten Rante-rante yang disusun pada abad ke-17 menyebutkan bahwa Tubagus Angke merupakan menantu Pangeran Sabakingking [Sultan Maulana Hasanudin] bukan putranya, Tubagus Angke menikah dengan Ratu Pembayun, puteri Sultan Maulana Hasanuddin. Meski hikayat tersebut kemudian diragukan oleh Adolf Heukeun SJ dalam buku Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta Jilid II, menurut Adolf Heukeun SJ, silsilah ini tidak sesuai dengan sumber-sumber sekunder lain karena sumber-sumber yang digunakan oleh hikayat mengandung banyak cerita dongeng.

Nisan Makam Pangeran Jayakarta dengan nama Achmad Djaketra

Kekuasaan atas Jayakarta kemudian diteruskan oleh Pangeran Jakarta Wijayakrama pada tahun 1596 menggantikan Tubagus Angke yang sudah berusia lanjut. Masih menurut Hikayat Hasanuddin dan Sajarah Banten Rante-rante, Pangeran Jayakarta adalah putra dari Tubagus Angke. Namun situs pemerintah Jakarta Timur menyebutkan bahwa Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Akhmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten. Namun yang pasti dibawah pemerintahan Panegran Jayakarta ini, wilayah Jayakarta berkembang pesat, terutama di bidang perdagangan hasil bumi. membuat Belanda, melalui perusahaan dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), ingin berusaha di sana. VOC sebelumnya sudah malang-melintang dan menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku.

Pada November 1610, Belanda mendapat hak atas tanah seluas 94 meter persegi di sisi timur muara Kali Ciliwung. Sebagai imbalan, kepada Pangeran Jayakarta Belanda membayar sebesar 2.700 florin atau 1.200 real. Namun, di pelabuhan yang ketika itu juga disebut Jakerta, Belanda mempraktikkan sistem dagang monopoli yang licik, yang merugikan Pangeran Jayakarta. Perselisihan pun pecah dan merebak antara tahun 1610-1619. Dalam konflik itu, Pangeran Jayakarta dibantu pasukan kiriman Sultan Banten yang juga merasa dicurangi serta pasukan Inggris, yang waktu itu juga sudah punya markas di sisi barat muara Ciliwung. Tak tahan dikeroyok, Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen kabur ke Ambon, meminta tambahan pasukan.

Di dalam Masjid Jami' As-Salafiyah. Bagian ini merupakan bagian paling tua dari masjid ini.

Saat Coen masih di Maluku dan pasukan kompeni (VOC) sudah terpojok, muncul konflik baru antara Banten dan Inggris, yang berakhir dengan terusirnya Inggris dari Jayakarta. Akan tetapi, pada saat sama, Coen tiba-tiba muncul lagi dengan membawa pasukan yang masih segar dari Ambon. Mengusung semboyan “despereet niet” (jangan putus asa) Coen langsung memorakporandakan pasukan koalisi Banten-Jayakarta yang sudah loyo gara-gara pertempuran dengan Inggris. Kota Jayakarta dibumihanguskan oleh Belanda termasuk keraton dan Masjid Kesultanan Jayakarta yang berdiri megah di kawasan yang kini dikenal sebagai hotel Omni Batavia. Bala tentara Banten melarikan diri ke arah barat dan selatan, sementara Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya mundur ke arah tenggara. Setelah menguasai Jakerta pada 12 Maret 1619, Coen mengganti nama kota pelabuhan itu menjadi Batavia.

Berdirinya Masjid Jami’ Assalafiyah

Meski terusir dari Jakarta, Pangeran Jayakarta belum menyerah. Ajakan Belanda untuk berdamai selalu ia tolak. Pangeran Jayakarta bahkan terus melancarkan perlawanan. Dalam sebuah pertempuran yang terjadi di daerah Mangga Dua, ia kehilangan Syekh Badar Alwi Alidrus, panglima perangnya yang tertangkap dan dikuliti anak buah JP Coen.

Prasasti di gerbang depan masjid

Dalam pertempuran pada sekitar Mei 1619 itu, pasukan Pangeran Jayakarta dikabarkan terdesak. Mereka dikepung pasukan Belanda dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Tanjung Priok. Menurut cerita Raden Jayanegara, juga keturunan Pangeran Jayakarta, menyebut, saat jadi buronan Belanda, kakek moyangnya itu berhasil mengelabui tentara kompeni dengan melepas jubah dan sorbannya, yang lantas dibuang ke dalam sebuah sumur di Mangga Dua. Belanda menyangka Pangeran Jayakarta tewas setelah menembaki jubah dan sorban di sumur itu, yang kini berada di Jalan Pangeran Jayakarta dan dikenal sebagai keramat Pangeran Jayakarta.

Dalam pelariannya dari kejaran Belanda, Pangeran Jayakarta tiba di hutan disebelah tenggara Batavia dan membangun basis pertahanan baru di kawasan hutan jati sepanjang kali sunter. Diperkirakan pada triwulan ke tiga tahun 1619 M basis baru tersebut diresmikan dan diberi nama Jatinegara,  yang mempunyai arti : Jati = Sejati dan Negara = Pemerintahan. Jadi berarti Pemerintahan yang sejati. Setahun kemudian tepatnya tahun 1620 M beliau mendirikan masjid dengan tiang empat yang merupakan soko guru dan diberi nama Masjid Jami’ Assalafiyah yang bermakna tertua.  

Sumur bekas Pangeran Jayakarta membuang jubah & sorbannya di kawasan mangga dua kini masih ramai dikunjungi peziarah.

Konon selama dalam pelarian tersebut Pangeran Jayakarta  memerintahkan putranya, Pangeran Senapati, menyelamatkan diri dari kepungan Belanda di bulan April-Mei 1619M sekaligus membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman serta menyebarkan syiar Islam. Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati. 

Kemudian Pangeran Senopati berhenti bersama pasukan dan keluarga yang masih menyertainya. Babat alas dimulai untuk membangun pemukiman baru yang dikemudian hari dikenal dengan nama Cibarusah, lalu mendirikan sebuah masjid disana, Masjid Al-Mujahidin Cibarusah yang pada awalnya dibangun oleh Pangeran Senapati, putra dari Pangeran Jayakarta masih berdiri kokoh di Cibarusah, kabupaten Bekasi, hingga kini.

Status tanah masjid Jami’ Assalafiyah sudah disyahkan sebagai tanah wakaf dari pangeran Jayakarta.

Pangeran Jayakarta meninggal dunia pada tahun 1640M dan dimakamkan dekat Masjid Jami’ Assalafiyah bersama putranya, Pangeran Lahut, Pangeran Sageri dan istri-nya - Ratu Rafiah (anak dari Pangeran Sangiyang) serta Pangeran Suria anak dari Pangeran Padmanegara yang makamnya dipindahkan ke tempat ini dari Keramat . Makam dan Masjid Pangeran Jayakarta dipugar pertama kali pada tahun 1700 oleh Pangeran Sageri, pemugaran kedua tahun 1842 oleh Aria Tubagus Kosim. Pemugaran ketiga tahun 1969 oleh Gubernur DKI H. Ali Sadikin, dibangun dua lantai dengan membuat menara baru. Pemugaran keempat pada tahun 1992 oleh Gubernur DKI H. Suryadi Soedirdja, melalu Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.

Tahun 1700 Pangeran Sugeri, putera Sultan Fatah dari Banten, memugar masjid ini. Sebelumnya bersama-sama dengan Pangeran Jayakarta, Sugeri dan Fatah yang terbuang dari Kesultanan Banten ini –karena Sultan Haji saudara Sultan Fatah melakukan kup dibantu Belanda–, berjuang melawan Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri kemudian dimakamkan di komplek masjid bertiang penyangga jati ini.

Bangunan lama masjid dilihat dari bangunan baru yang dibangun di bekas area parkir. 

Tercatat beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang tak ketahuan rimbanya. Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid. Seperti nasib masjid tua lainnya, As-Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang. Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi hampir seluruh temboknya. Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya, tampaknya ukuran asli As-Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya –separuh bagian barat bangunan–. Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di sisi selatan, barat, dan utara.

Komplek pemakaman ini baru dibuka untuk umum pada tanggal 23 Juni 1956, setelah sekian lama dirahasiakan. Selama waktu tersebut masyarakat umum menganggap bekas sumur tua yang di urug Belanda di kawasan mangga dua sebagai makam Pangeran Jayakarta. Kini bekas sumur tua itu masih dikeramatkan oleh warga. Di atas makam di sebelah kanan, dulu ada pohon "Deroak" besar. Pada bulan Agustus 1964, pohon tersebut ditebang untuk mendirikan bangunan bagi peziarah. Pembangunannya dibiayai oleh Departemen Agama RI bulan Juli 1964. Makamnya sendiri kemudian dipugar menjadi Taman Pangeran Jayakarta yang dibiayai oleh Gubernur Ali Sadikin.***

Foto Foto Masjid Jami As-Salafiyah

Menara Masjid As-Salafiyah dilihat dari jalan Jatinegara Kaum
Pintu masuk utama ke Masjid Jami' As-Salafiyah, dulunya area ini merupakan area parkir berkanopi.
Prasasti Kodam Jayakarta di depan Pendopo Makam
Tanda dari Gubernur - Ali Sadikin
tanda persembahan beberapa keluarga di pendopo makam