Sabtu, 19 November 2011

Masjid di Atap dunia, Masjid Chaqchan – Pakistan

Masjid Chaqchan, masjid kuno di wilayah khaplu, Baltistan.

Dimanakah letak masjid Chaqchan

Pernah dengar nama Himalaya ?, pernah dong, itu loh pegunungan tertinggi di muka bumi itu. Pegunungan Himalaya membentang dibeberapa Negara termasuk Pakistan. Masjid Chaqchan yang akan kita bahas dalam tulisan ini berada di daerah Khaplu, Distrik Ghangche, kawasan Gilgit Baltistan di Propinsi Paling utara Republik Islam Pakistan. Kawasan Gilgit Baltistan satu dari kawasan paling spektakuler di utara Pakistan. Kawasan yang berada di pertemuan tiga puncak tertinggi di dunia masing masing Pegunungan Karakorum, Hindukush dan Himalaya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu kawasan yang berada di atap dunia.

Keseluruhan kawasan Gilgit-Baltistan merupakan sorga bagi para pendaki gunung, pemanjat tebing, trekker dan hiker. Kawasan ini juga merupakan kawasan bersejarah yang kaya dengan warisan budaya dan beragam flora dan fauna langka. Kawasan bersejarah Gilgit-Baltistan, sekian lama menjadi pusat perebutan kekuasan politik maupun militer antara emporium Russia, Inggris Raya dan China. Sampai kemudian berahirnya kekuasaan Inggris di Anak Benua India tahun 1947, warga di kawasan ini memilih untuk bergabung dengan Pakistan melalui sebuah pemberontakan lokal yang begitu terkenal melawan Maharaja Kashmir.



Sekedar informasi, wilayah Kashmir kini tercabik cabik ke dalam territorial tiga Negara, sebagian besar masuk ke dalam wilayah India sebagai Negara bagian Jammu & Kasmir (termasuk wilayah Ladakh) sebagian besar lagi masuk ke dalam wilayah Pakistan menjadi propinsi Northern Area termasuk Baltistan, serta sebagian kecil lagi masuk ke dalam teritori China menjadi propinsi Aksai Chin, bertetangga dengan wilayah otonomi Tibet. Namun hingga kini, Salah satu negeri atap dunia ini terus saja menjadi titik ketegangan antara Pakistan, India dan China.

Diantara bangunan warisan sejarah masa lalu di Gilgit – Baltistan adalah bangunan masjid masjid kuno dengan arsitektural Tibet yang sangat antik, salah satunya adalah masjid Chaqchan di daerah Khaplu. Masjid ini dipercaya sebagai tempat ibadah yang pertama hadir sejak muncul nya peradaban manusia di kawasan tersebut. Arsitektural masjid ini sangat unik menggambarkan sebuah seni Islam yang sangat kuno.

Masjid Chaqchan.

Tentang Khaplu (Ghangche)

Khaplu merupakan gerbang menuju beberapa puncak tertinggi di bumi termasuk Himalaya, diantaranya ; puncak Masherbrum 1 & 2 (7821 mdpl), Puncak K7 (6921 mdpl), K6 (7281 mdpl), puncak Gondogoro (5650 mdpl) ,Puncak K2 (8611 mdpl) dan kawasan lainnya yang menyajikan pemandangan yang begitu indah dengan lintasan hiking, rafting, rock climbing, dan kegiatan alam liar lainnya. Menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tempat paforit bagi para peminat kegiatan petualangan di alam terbuka. K2 merupakan puncak tertinggi di bumi setelah puncak Himalaya.

Khaplu memiliki banyak nama seperti “Lembah Shyok”, “Ghangche” dan “Little Tibet”. Khaplu juga menjadi ibukotanya Distrik Ghangche. Khaplu menjadi rumah bagi begitu banyak tempat dan bangunan bersejarah termasuk masjid tua Chaqchan yang sudah berumur 700 tahun lebih, Istana Raja (Raja Palace) sebuah bangunan istana dengan arsitektur Tibet terahir dan terbaik di Pakistan, merupakan penghormatan kepada Muhammad Shah yang dibangun tahun 1712M / 1124H. serta begitu banyak bangunan berasrsitektur penuh sejarah lainnya di Khaplu.

Masjid Chaqchan dari sisi depan.

Islam di Baltistan

Islam masuk ke kawasan Baltistan, Kargil dan beberapa desa di Ladakh (kini masuk ke dalam wilayah Negara India) hasil dari dakwah Islam yang disampaikan oleh Syed Ali Hamdani  (714 AH/1314M -786H/1384M) seorang ulama sufi. Dakwah beliau kemudian dilanjutkan oleh Syed Muhammad Nurbakhsh (795H/1393M – 859H/) yang merupakan murid dari Khawaja Ishaq Khatlani yang juga beraliran sufi. Penduduk setempat yang tadinya beragama Budha kemudian masuk Islam dan membentuk komunitas muslim pertama di bagian utara anak benua India. Syed Mohammad Nurbakhsh mengajarkan Qur’an dan Sunnah termasuk juga menulis buku fiqh, furu, usuluddin. Aliran sufi disana kemudian dikenal dengan nama Sufi Nurbakshia.

Syed Ali Hamdani semasa hidupnya menulis 170 buku, dan materi cetakan lainnya yang 70 diantaranya dapat ditelusuri baik yang sudah di publikasikan atau tidak. Begitu juga dengan Syed Muhammad Nurbakhsh menulis setengah satu setengah lusin buku dalam bahasa Parsi dan Arab. Pengaruh dua guru besar ini menyebar hingga ke kawasan Kashmir (yang masuk wilayah China maupun India) hingga ke Tajikistan, Siangkang dan propinsi Yarqand di China hingga ke Kurdistan dan Iran. Materi materi ajaran beliau berdua masih dapat ditemui di perpustakaan “Barat” di Khaplu dan perpustakaan Islam Suffa, di Madrasah Shah-e-Hamdani..

Masjid Chaqchan saat sebelum di restorasi.

Masjid Chaqchan

Masjid chaqchan merupakan salah satu masjid tertua di kawasan Khaplu yang dibangun oleh Syed Ali Hamdani (714 AH/1314M -786H/1384M) sebagai bagian dari dakwah beliau di daerah tersebut. Beliau begitu dihormati muslim setempat sebagai seorang waliullah. Dan senantiasa ditambahkan gelar R.A (RodiAllohu Anhu) di belakang namanya. Masjid ini menjadi salah satu tempat suci di kawasan Khaplu, muslim dari berbagai negeri datang ke masjid ini untuk menikmati keindahan dan penyegaran keimananan mereka. Masjid ini dipercaya sebagai salah satu masjid yang sudah eksis sejak awal peradaban Islam di kawasan Khaplu.

Masjid Chaqchan ini sempat mengalami kerusakan karena termakan usia. Maklum, sebagian besar bahan bangunan yang dipakai untuk masjid ini berbahan kayu. Kayu kayu pilihan yang kemudian diukir sedemikian rupa dengan ukiran khas Tibet, sangat indah. Untuk mencegah ambruknya bangunan tersebut dan hilangnya salah satu warisan budaya dunia, lembaha Aga Khan melakukan restorasi total terhadap masjid ini dan berhasil mengembalikan bentuknya kepada bentuk aslinya dan tetap berdiri kokoh di lokasi awalnya dan terus menjadi pusat peribadatan muslim setempat, dan para pengembara dunia yang singgah ke Khaplu.

Interior Masjid Chaqchan.

Arsitektural Masjid Chaqchan

Sekilas pandang, siapapun (selain penduduk setempat) tak kan mengira bangunan tua nan antic ini adalah sebuah masjid. Butuh pengamatan lebih untuk menemukan bukti bahwa bangunan ini adalah bangunan masjid. Bangunan kayu yang pondasi nya berupa susunan batu alam dan semen ini memang kental dengan sentuhan seni tradisional Tibet. Bentuk bangunan hingga ornament di atap bangunan benar benar identik dengan bangunan bangunan peribadatan Budha di Tibet.

Hal tersebut dapat difahami karena memang wilayah Khaplu 700 tahun lalu sebelum kedatangan Islam merupakan wilayah yang penduduknya beragama Budha, sama seperti di kawasan Tibet (kini menjadi wilayah otonomi China) yang memiliki kedekatan geografis. Lain halnya dengan Tibet yang kini penduduknyamasih mayoritas beragama Budha, di wilayah wilayah Kashmir baik yang masuk ke dalam wilayah China, India dan Pakistan, mayoritas penduduknya beragama Islam.

Detil Ukiran di Masjid Chaqchan.

Warisan budaya Tibet di kawasan tersebut masih eksis hingga kini dalam seni bangunannya. Tidak hanya masjid berusia tua di pedalaman seperti masjid Chaqchan ini tapi juga masjid masjid agung di pusat kota seperti Jama Masjid Srinagar, India, seni bangunan nya pun turut dipengaruhi oleh budaya Tibet. Sangat menyolok terlihat pada ornamen atap utama bangunan masjid.

Masjid Chaqchan di Khaplu ini penuh dengan ukiran kayu khas Tibet yang menghias hampir keseluruhan fasad bangunan. Ekterior maupun interior bangunan. Ukiran dengan pola geometris dan floral warna warni dapat ditemui di dinding bagian luar dan dalam masjid. Ventilasi bangunan menggunakan jalinan kayu juga berpola geometris. Masjid Chaqchan ini terdiri dari dua lantai yang dipakai di musim yang berbeda. Lantai dasar masjid digunakan semasa musim dingin sedangkan lantai atas di gunakan semasa musim panas.

Masjid Chaqchan dari sisi yang berbeda. 

Empat tiang kayu berukir menopang struktur atap bangunan ini. ukiran geometris warna warni juga memenuhi keseluruhan plafon masjid ini. namun tak ditemui ukiran di jendela dan pintu masjid ini. mihrab masjid ini begitu kecil hanya berupa sebuah ceruk yang dipenuhi dengan hiasan ornamen geometris.  Tampilan sederhana sebuah mimbar disebelah mihrab, mimbar yang juga dari kayu, Satu anak tangga ditinggikan dari permukaan lantai, satu tingkatan lagi untuk tempat duduk khatib. Sebuah mimbar yang sederhana.

Penutup

Dilihat dari lokasinya, Masjid ini memang menjadi tempat yang begitu nyaman untuk beribadah, terutama bagi para pengembara yang sengaja datang ke daerah ini. tempat yang begitu terpencil, di kawasan ketinggian, salah satu atap dunia, sunyi dan jauh dari hiruk pikuk dunia. Ditambah lagi dengan penduduknya yang ramah dan suasana Islami di kawasan tersebut. Dan jangan lupakan bahwa Khaplu dipeluk oleh berjejer puncak puncak gunung tertinggi dibumi. Tempat yang ideal untuk merenungi kecilnya diri dihadapan kekuasaan Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan Yang Maha Esa pemilik alam semesta beserta isinya.

Foto Foto Masjid Chaqchan

Masjid Chaqchan.

Masjid Chaqchan.

Masjid Chaqchan.

Minggu, 13 November 2011

Masjid Wazir Khan Lahore, Pakistan

Masjid Wazir Khan, Lahore, Pakistan

Wasjid Wazir Khan berada di kota Lahore, propinsi Punjab, Republik Islam Pakistan, kota yang sama dengan Masjid Badshahi (1671-1673) yang telah di ulas dalam artikel sebelumnya di blog ini. Jarak antara kedua masjid bersejarah ini hanya terpisah lebih kurang satu kilometer saja, namun Masjid Wazir Khan dibangun 36 tahun lebih dulu dibandingkan Masjid Badshahi.

Masjid tua dan bersejarah Pakistan satu ini terkenal dengan karya seni keramik bangunannya yang menakjubkan. Masjid ini menjadi salah satu bangunan yang mempermanis kota Lahore sejak masa kekuasaan dinasti Mughal, sampai sampai dianalogikan sebagai tahi lalat yang mempermanis pipinya kota Lahore. Butuh waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan pembangunan masjid ini, yang dibangun tahun 1634-1635 semasa kekuasaan Raja Shah Jehan yang begitu termasyur dengan peninggalannya berupa bangunan Taj Mahal yang begitu melegenda.

Lokasi Masjid Wazir Khan

Masjid ini berada di dalam jantung kota Lahore tua, bersebelahan dengan pasar kerajinan Craft Bazaar dan lebih mudah dicapai dari Gerbang Delhi (The Delhi Gate).




Sejarah Pembangunan Masjid Wazir Khan

Masjid Wazir Khan, masjid peninggalan dinasti Mughal, dibangun oleh Shaikh Ilm-ud-din Ansari pada tahun 1634-1635,  Shaikh Ilm-ud-din Ansari berasal dari Chiniot, sebuah kota kecil di wilayah Punjab, kala itu beliau menjabat sebagai gubernur Lahore sampai tahun 1639 di bawah kekuasaan Raja Shah Jehan. Shaikh Ilm-ud-din Ansari lebih dikenal oleh rakyat Lahore sebagai Nawab Wazir Khan. Kata Wazir dalam bahasa urdu bermakna Menteri. Itu sebabnya masjid ini dikenal dengan nama Masjid Wazir Khan, mengabadikan namanya yang membangun masjid ini. Keseluruhan proses pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1641.

Arsitektural Masjid Wazir Khan

Fitur utama masjid Masjid Wazir Khan terdiri dari 5 kubah lancip khas India dan empat menara tinggi di ke empat penjuru-nya, dan dilengkapi dengan Lapangan Tengah yang cukup luas. Keseluruhan bangunan di dominasi warna merah bata. Sekeliling lapangan tengah masjid ini terdapat beberapa ruangan kecil (khanas). Dan bagian dalam masjid terdiri dari beberapa ruangan.***

Sabtu, 12 November 2011

Masjid Raja Faisal – Islamabad, Pakistan

Masjid Raja Faisal Islamabad, Masjid Nasional Pakistan.

Masjid Raja Faisal berada di ibukota Pakistan, Islamabad. Secara resmi merupakan masjid nasional Pakistan. Masjid Faisal merupakan masjid terbesar di Pakistan, terbesar di kawasan Asia Selatan dan sekaligus menjadi salah satu masjid terbesar di dunia. Dibangun dengan dana bantuan dari Raja Faisal dari Saudi Arabia. Masjid berukuran raksasa ini mendominasi langit Pakistan dengan latar belakang bukit Margalla menjadikannya sebagai landmark baru kota tersebut sejak masjid ini selesai dibangun tahun 1986.

Tentang Islamabad

Islamabad Capital territory merupakan Ibukota Negara Pakistan yang dibangun di era tahun 1960-an. Kota baru yang dibangun untuk dijadikan Ibukota Negara menggantikan Karachi. Islamabad berada di dataran tinggi Pothahar yang secara historis merupakan jalur persimpangan antara Punjab dan Khyber Pakhtunkwa dengan celah Margalla, celah yang menjadi gerbang antara kedua kawasan tersebut.

King Faisal Mosque, dinamai sesuai dengan nama Raja Arab Saudi yang membiayai pembangunannya.

Berdasarkan catatan sejarah, dataran tinggi Pothohar merupakan salah satu tempat di asia yang pertama kali di huni manusia di kawasan Asia. Beberapa artefak yang ditemukan di kawasan tersebut berumur 100 ribu hingga 500 ribu tahun yang lalu. Ketika Pakistan memperoleh kemerdekaan di tahun 1947, Karachi yang menjadi Ibukota Negara. Tahun 1960 Islamabad mulai dibangun untuk dipersiapkan sebagai Ibukota Negara. Pemilihan Islamabad sebagai Ibukota Negara didasarkan berbagai pertimbangan diantaranya adalah secara tradisional perkembangan pembangunan di Pakistan terpuat di pusat pemerintahan colonial di Karachi, Presiden Pakistan saat ini menginginkan pemerataan pembangunan ke seluruh pelosok Negara.

Lebih dari itu dari sisi pertahanan dan keamanan, Karachi yang terletak di pantai laut Aran akan sangat mudah diserang dari laut Arab, dan Ibukota Negara harus mudah di capai dari segala penjuru negeri. Pemilihan Islamabad sebagai Ibukota baru juga karena letaknya yang berdekatan dengan Markas angkatan bersenjata di Rawalpindi dan tak jauh dari kawasan Kashmir yang masih menjadi sengketa dengan India.

Masjid Raja Faisal.

Kini, Islamabad berkembang menjadi kota paling modern di Pakistan dan menjadi daya tarik utama bagi penduduk dari seluruh pelosok negeri. Islamabad juga menjadi rumah bagi Masjid terbesar Pakistan, Masjid Raja Faisal yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Lokasi Masjid Raja Faisal

Masjid Raja Faisal berada di ibukota Negara Pakistan, Kota Islamabad. Berada di ujung utara Faisal Avenue, menjadikannya sebagai objek paling utara kota Islamabad di kaki bukit Margalla, Bukit Margalla yang merupakan kaki paling selatan pegunungan Himalaya di koordinat geografi : 33° 43' 47.28" N  73° 2' 14.52" E


Sejarah Masjid Raja Faisal

Rencana untuk membangun masjid ini mengemuka di tahun 1966 ketika almarhum Raja Faizal Bin Abdul Aziz Al-Saud mendukung inisiatif pemerintah Pakistan untuk membangun sebuah masjid nasional pada kunjungan kenegaraan beliau ke Pakistan. Tiga tahun setelah itu di tahun 1969 diselenggarakan sayembara internasional yang diikuti oleh arsitek internasional dari 17 negara, menghasilkan 43 proposal rancangan. Setelah empat hari penjurian terpilih karya arsitek Turki Vedar Dalokays sebagai pemenang sayembara.

Pembangunan Raja Faisal masjid dimulai pada tahun 1976 oleh National Construction of Pakistan dipimpin oleh Azim Khan, menghabiskan dana lebih dari 130 juta Riyal Saudi Arabia (kira kira setara dengan 120 juta Dolar Amerika). Keseluruhan dana pembangunan masjid tersebut ditanggung oleh pemerintah Saudi Arabia. Peran Raja Faisal dalam pembangunan masjid ini memang sangat penting, karenanya untuk mengenang jasa beliau, Masjid serta jalan raya yang menuju ke masjid ini dinamai dengan namanya. Penamaan jalan tersebut diresmikan setelah kematian beliau akibat pembunuhan di tahun 1975.

Masjid Raja Faisal.

Keseluruhan proses pembangunan masjid ini selesai dilaksanakan pada tahun 1986 dan menjadi markas bagi International Islamic University. Begitu banyak kritikan terhadap masjid ini dari kalangan muslim yang berpandangan konservatif, terutama karena bentuknya yang tidak lazim dengan ketiadaan kubah besar layaknya sebuah masjid yang dikenal secara universal. Namun semua kritikan tersebut kemudian lenyap ketika masjid ini selesai dibangun dan menghasilkan sebuah bangunan masjid yang begitu besar, megah dan ditambah lagi dengan pemilihan lokasi yang begitu menarik dengan menjadikan bukit Margalla di latar belakangnya.

Rancang Bangun Masjid Raja Faisal

Masjid Raja Faisal merupakan hasil karya arsitek ternama Turki, Vedat Dalokay. Beliau berhasil memenangkan anugerah The Aga Khan Architectural Award untuk proyek masjid Raja Faisal ini. Rancangan masjid ini memang tidak lazim dipadu padankan dengan garis garis kontemporer lebih mirip seperti tenda suku Badui Arab, dengan ruang sholat triangular yang begitu besar dan empat menara. namun tanpa kehadiran kubah satupun.

Foto udara masjid Faisal yang mendiminasi pemandangan langit kota Islamabad. Di latar depan tampak helicopter Chinook milik AD Amerika Serikat yang sedang dalam misi pendistribusian bantuan bagi korban gempa di wilayah Kashmir – Pakistan di tahun 2005.


Menara masjid ini meminjam rancangan tradisional Turki dengan ciri khas nya yang tinggi namun ramping mirip sebuah pensil. Interior ruang sholat utama masjid ini di dekorasi degan mozaik dan kaligrafi oleh seniman kaligrafi ternama Pakistan, Sadequain. Pola mozaik juga menghias dinding sisi barat masjid, dengan kalimat sahadat dengan seni kaligrafi kuffi di ulang dalam pola mirror. Sisi kiblat masjid ini dihias dengan lempengan kaca kaca indah yang didatangkan dari Turki (negeri asal sang arsitek) sedangkan lambang bulan sabit berukuran besar di puncak atap masjid dilapisi dengan emas membuatnya berkilau di bawah sinar matahari.

Masjid Raja Faisal dilengkapi dengan beragam fasilitas termasuk perpustakaan, musium, ruang kuliah, kafetaria dan Universitas Islam Internasional yang mampu menampung 700 mahasiswa. Di bawah tanah tembok masjid ini dilengkapi dengan kolam kolam refleksi yang berfungsi sebagai pengatur suhu udara di dalam masjid dengan mengatur ketinggian permukaan air di masing masing kolam. Sedangkan di ruang utama masjid di hias dengan lampu gantung ukuran besar seberat 7,5 ton dan dihias dengan 1000 bola lampu listrik.

Masjid Raja Faisal berlatar belakang bukit batu Margala. Rancangannya yang unik terinspirasi dari bentuk tenda tradisional suku Badui.

Satu hal yang lain dari masjid ini adalah disediakannya ruang shlat khusu untuk wanita, sesuatu yang sangat jarang terjadi di Pakistan dimana wanita lebih di anjurkan untuk melakukan sholat di rumah. Ruang sholat wanita ini di hias dengan pualam putih dan hitam yang sengaja didatangkan dari Yunani. Sedangkan halaman tengah masjid di tutup dengan granit Italia.

Di area masjid ini juga terdapat makam dari Almarhum Jendral Zia Ul-Haq, mantan presiden Pakistan yang menjabat dari tahun 1978 hingga 1988), makamnya kini dibangun dalam bentuk Maosoleom dan hampir setiap hari dikunjungi oleh jemaah yang berziarah untuk sekedar membacakan surah Alfatihah bagi Almarhum.

Interior Masjid Raja Faisal.

Secara keseluruhan, arsitektural Masjid Raja Faisal ini hadir dari sebuah perjalanan panjang perkembangan arsitektural Islam Asia Selatan, menjadikan masjid ini sebagai salah satu contoh terbaik arsitektur Islam modern terkini.

Dimensi Masjid Raja Faisal

Masjid Raja Faisal ini disebut sebut sebagai masjid terbesar di dunia dari tahun 1986 hingga tahun 1993. Gelar masjid terbesar di ambil alih oleh masjid Hassan II di Maroko dan dengan selesainya perluasan Masjidil Harram di Mekah Al-Mukarromah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawaroh (Saudi Arabia), menggeser Masjid Raja Faisal ke urutan ke empat.

Masjid Raja Faisal & C130 Hercules angkatan udara Pakistan.

Masjid Raja Faisal ini mencakup areal seluas 5000 meter persegi. Mampu menampung 10 ribu jemaah di ruang sholat utama, 24 ribu jemaah di di area portico, 40 ribu jemaah di halaman tengah dan 200 ribu di area penghubung. 

Meskipun daya tampung ruang utama masjid ini lebih kecil dibandingkan dengan masjid Hassan II di Casablanca (Maroko), namun masjid Raja Faisal ini memiliki daya tampung terbesar di area penghubung nya setelah Masjidil Harram dan Masjid Nabawi. Ke-empat menara masjid Raja Faisal ini setinggi 80 meter, menjadikannya sebagai menara tertinggi di Asia Selatan.***

Minggu, 06 November 2011

Masjid Badshahi – Lahore, Pakistan

Masjid Badshahi Lahore, Pakistan, dikenal juga sebagai Masjid Raja atau King Mosque, terjemahan dari kata Badshahi.

Badshahi berasal dari kata Badshah yang berarti Raja. Masjid Badshahi atau Masjid Raja berada di Kota Lahore – Pakistan. Dibangun oleh raja ke enam dinasti Mughal, Raja Aurangzeb tahun 1671 dan selesai dibangun pada tahun 1673. Masjid ini merupakan masjid terbesar ke dua di di Pakistan dan Asia Selatan serta masjid terbesar ke lima di dunia. Tipikal keindahan kebesaran dan kejayaan era dinasti Mungal menjadikan masjid ini sebagai landmark dan tujuan wisata utama kota Lahore.

Soekarno, Badshahi, Pakistan dan Indonesia

Di bulan Januari 1950, presiden Soekarno melakukan kunjungan kenegaraan ke Pakistan dalam rangkaian perjalanan misi diplomatik pertama beliau ke India, Pakistan dan Burma (Myanmar). Kedatangan beliau disambut langsung oleh Presiden pertama Pakistan Iskandar Ali Mirza. Dalam kunjungan tersebut, presiden Soekarno menyempatkan diri untuk berkunjung dan sholat di Masjid Badshahi – Lahore. Dan juga bertemu serta menyampaikan penghargaan kepada tentara Pakistan yang telah berjasa turut berjuang memihak Indonesia dalam peristiwa 10 November di Surabaya.


Pakistan begitu menghormati Bung Karno. Ada dua tempat di Pakistan yang dinamai dengan nama beliau yakni Soekarno Square Khyber Bazar di Peshawar, dan Soekarno Bazar, di Lahore. Penamaan Soekarno ini tidak lepas dari sepak terjang kedua negara. Pakistan sangat segan kepada sosok Bung Karno. Bahkan hingga kini kalangan militer Pakistan masih ingat jasa Bung Karno yang mengirim TNI AL berpatroli di laut selatan Pakistan saat konflik memanas antara Pakistan dan India di tahun 1965. Sebaliknya, pendiri Pakistan Quaid Azzam Ali Jinnah pernah meminta menahan seluruh pesawat Belanda yang singgah di Pakistan pada 1947, ketika Belanda ingin menyerang Indonesia. 

Pemerintah Indonesia juga menghargai jasa prajurit Pakistan, yang ketika itu ikut rombongan sekutu. Rombongan ratusan prajurit Pakistan itu tadinya diperintahkan menyerang Indonesia ketika sekutu sampai di Surabaya November 1945. Namun mereka berontak dan memilih berperang di sisi Indonesia. Dari total 600 tentara Pakistan, sebanyak 500 orang gugur di Surabaya. Pada Agustus 1995, Indonesia memberikan medali Indenpendece War Awards kepada tentara Pakistan ini. 

Lokasi dan Alamat Masjid Badshahi

Kota Lahore, Distrik Lahore
Propinsi Punjab, Republik Islam Pakistan
Koordinat geografi  : 31°35′17.07″N 74°18′36.45″E





Berkapasitas 100 Ribu jemaah Sekaligus

Masjid Badshahi berkapasitas 5000 jemaah di ruang sholat utamanya dan 95.000 jemaah di halaman tengah serta portiko, menjadikannya sebagai masjid tebesar di dunia dari tahun 1673 hingga 1986 (atau selama 313 tahun). Daya tampung masjid ini dikalahkan oleh Masjid Faisal di Islamabad (Ibukota Pakistan) yang dibangun belakangan. Saat ini masjid dengan daya tampung terbesar adalah Masjidil Haram di Mekah Al-Mukarromah dan Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawaroh di Saudi Arabia, Masjid Hassan II di Casablanca – Maroko, Masjid Faisal di Islamabad – Pakistan.

Masjid berukuran begitu besar ini, memiliki empat menara di empat penjuru luar masjid masing masing setinggi 53.75m ditambah lagi empat menara di empat penjuru bangunan utama masjid dan halaman tengah seluas 253.899,9m2. Sekedar untuk perbandingan, tinggi menara masjid ini lebih tinggi 4.2 meter dibandingkan dengan menara Taj Majal, dan halaman tengah masjid ini sama luasnya dengan keseluruhan luas Taj Mahal.

Tahun 1993 yang lalu pemerintah Pakistan merekomendasikan Masjid Badshahi untuk dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO, dan sudah dimasukkan ke dalam daftar sementara dari kemungkinan nominasi masuk ke dalam daftar warisan dunia UNESCO.

Sejarah Masjid Badshahi

Pembangunan Masjid Badshahi (1671–1673)

Jemaah Sholat Jum'at di Masjid Badshahi Lahore.

Masjid Badshahi dibangun pada masa pemerintahan raja dinasti Islam Mughal ke VI, Raja Aurangzeb yang bergelar Alamgir (sang penakluk dunia) pada bulan Mei 1671. Proses pembangunan masjid ini memakan waktu selama dua tahun dan selesai pada bulan April 1673. Raja Aurangzeb adalah putra dari Raja Mughal yang termashur dengan Taj Mahal nya, Shah Jehan.

Masjid Badshahi dibangun dalam visi kerajaan dan menjadikannya sebagai masjid kerajaan emperium Islam Mughal karenanya sengaja dibangun berseberangan dan tak jauh dari Lahore Fort, Landasan masjid ini dibangun lebih tinggi dari permukaan lahan disekitarnya untuk mencegah banjir dari aliran sungai Ravi saat pasang naik. Fondasi dan struktur bangunan masjid ini dibangun menggunakan bahan batu bata dan tanah lempung yang dipadatkan. Struktur bangunannya kemudian dibalur dengan lampengan batu pasir merah yang ditambang dari daerah Jaipur di Rajasthan (kini masuk dalam wilayah India). Sedangkan kubahnya di lapis dengan pualam putih.

Aerial View Masjid Badshahi Lahore.

Proses pembangunan masjid ini diawasi langsung oleh saudara angkat Raja Aurangzeb's yang bernama Muzaffar Hussain (juga dikenal sebagai Fidai Khan Koka) yang pada bulan Mei 1671 ditunjuk sebagai gubernur Lahore oleh Raja Aurangzeb. Fidai Khan Koka juga merupakan ahli persenjataan kerajaan Islam Mughal.

Bersama dengan pembangunan Masjid Badshahi, sebuah gerbang baru dibangun di Lahore Fort mengarah ke Hazuri Bagh (Taman Hazuri Bagh, dulunya merupakan lapangan terbuka tempat berparadenya pasukan kerajaan Mughal) dan menuju langsung ke pintu masuk utama Masjid Badshahi, gerbang ini diberi nama “Gerbang Alamgir” nama yang diambil dari gelar sang raja. Di pintu masuk masjid Badshahi terdapat prasasti pembangunan masjid ini yang ditulis dalam bahasa Persia berbunyi :

“Masjid Abdul Muzaffar Muhy-ud-Din Muhammad Aurangzeb Alamgir, Sang Raja penakluk. Dibangun dibawah pengawasan dari pengurus rumah tangga kerajaan yang rendah hati, Fidai Khan Koka pada tahun 1084H”

Foto bersejarah Masjid Badshahi dimasa penjajahan Inggris.

Masjid Badshahi di Masa Kerajaan Mughal (1673-1752)

Ketika selesai dibangun tahun 1673 masjid Badshasi tidak saja menjadi masjid terbesar di emperium Islam Mughal tapi juga merupakan masjid terbesar di dunia. Catatan rekor tersebut bertahan selama 313 tahun sampai tahun 1986. masjid ini menjadi salah satu bangunan terbesar semasa kejayaan Mughal dan dunia. Di cuaca cerah masjid ini dapat dilihat dari jarak hingga 15 Km.  Masjid badshahi mengangkat pentingnya posisi kota Lahore secara politik, ekonomi dan budaya di masa kejayaan Mughal.

Masjid Badshahi di Masa Kekuasaan Sikh (1799-1849)

Pada tanggal 7 Juli 1799 milisi Sikh dari Sukerchakia, pimpinan Ranjit Shing mengambil alih kota Lahore. Setelah mengusai seluruh kota, Masjid Badshahi mengalami kerusakan parah ketika Ranjit Shing menggunakan Halaman tengahnya yang begitu luas itu sebagai kandang kuda pasukannya. Sedangkan 80 hujras (ruangan kelas) yang mengitari halaman tengah masjid dijadikannya sebagai barak militer dan gudang senjata. Ranjit Sing juga menjadikan Hazuri Bagh yang berdekatan dengan taman disebelah masjid sebagai ruang pengadilan kerajaan. Tahun 1820 seorang warga Inggris bernama William Moorcroft dalam catatannya menyebutkan bahwa saat itu masjid Badshahi dijadikan areal latihan bagi pasukan infantry Sipahi.

Susana malam di Masjid Badshahi.

Tahun 1841 terjadi perang sipil Sikh, Putra Ranjit Singh, Sher Shing menggunakan menara masjid Badshahi yang ujung nya sudah runtuh akibat genba, untuk meletakkan zamburah atau Senjata Ringan untuk membombardir pendukung Sikh Maharani Chand Kaur yang menguasai Lahore fort, bombardier dari menara masjid itu mengakibatkan kerusakan pada Fort Lahorei. Salah satu korban diborbardir itu adalah hancurnya Fort Diwan-e-Aam (Hall untuk pertemuan publik, Hall tersebut kemudian dibangun ulang dimasa pendudukan Inggris, namun tak mampu membangun seindah aslinya. Selama perang sipil ini tercatat bahwa Hendri De La rouche, komandan Kavaleri Prancis yang ditugaskan di ketentaraan Sher Singh menggunakan terowongan yang menghubungkan masjid Badshahi ke Lahore Fort sebagai gudang sementara penyimpanan mesiu.

Masjid Badshahi di Masa Penjajahan Inggris (1858-1947)

Saat Inggris menjajah India, inggris meneruskan apa yang dilakukan pemerintahan Sikh dengan tetap menggunakan masjid dan area yang menghubungkannya dengan Fort sebagai barak militer. 80 hujrah yang berada disekitar lapangan tengah dan semasa kekuasaan Sikh dijadikan sebagai kandang kuda, di hancurkan oleh Inggris untuk mencegah digunakannya ruang kelas tersebut bagi segala bentuk aktivitas anti Inggris. Inggris kemudian membangun ulang area hujras dengan bentuk arkade terbuka atau dalanseperti yang kita lihat saat ini.

Temaram.

Masjid Badshahi Kembali ke Kaum Muslimin dan Restorasi

Menanggapi ketersinggungan kaum muslimin atas terus digunakannya masjid Badshahi sebagai barak militer sejak pemerintahan Sikh hingga di era awal pemerintahan pendudukan Inggris, Inggris ahirnya membentuk Otoritas Masjid Badshahi pada tahun 1852 untuk melakukan restorasi dan mengembalikan Masjid tersebut kepada kaum muslimin. Sejak tahun 1852 tersebut serangkaian restorasi terhadap bangunan masjid dilaksanakan dibawah pengawasan Otoritas Masjid Badshahi. Perbaikan besar  besaran dilaksanakan sejak tahun 1939. Cetak biru perbaikan masjid disiapkan oleh arsitek Nawab Zen Yar Jang Bahadur.

Masjid Badshahi di bawah pemerintahan Republik islam Pakistan

Pekerjaan restorasi terhadap masjid ini terus berlanjut ketika Lahore manjadi bagian dari Republik Islam Pakistan yang baru berdiri pada tanggal 14 Agustus 1947 lepas dari India. Di tahun 1960 Masjid Badshahi direstorasi total dan dikembalikan ke bentuknya aslinya. Proses restorasi ini menghabiskan dana 4.8 juta Rupee. Pemerintah Pakistan membangun sebuah musium kecil di dalam gerbang masuk ke masjid Badshahi,  untuk menyimpan beberapa benda bersejarah yang terkait dengan Nabi Muhammad S.A.W, sepupunya Ali Bin Abi Thalib, dan putri beliau Fatimah Azzahra. Benda benda tersebut dibawa ke wilayah anak benua tersebut oleh Amir Taimur. pemotretan terhadap benda benda tersebut sama sekali tidak diperkenankan oleh pihak berwenang disana, demi menghormati baginda rosul dan keluarganya.

Makam Muhammad Iqbal tak jauh dari komplek Masjid Badshahi.

Di luar masjid, di dekat tangga masuknya terdapat makam pujangga Pakistan yang begitu terkenal Dr. Sir Allama Muhammad Iqbal. Beliau adalah salah satu tokoh besar yang berjasa bagi berdirinya Republik Islam Pakistan terpisah dari India. Makam beliau dibangun dalam bentuk mausoleum berarsitektur campuran arsitektural Maroko dan Afgani. Keseluruhan bangunan maosoleom nya menggunakan batu pasir merah yang diambil dari sumber yang sama dengan batu pasir yang dipakai untuk masjid Badshahi.

Di kesempatan 2nd Islamic Summit yang diselenggarakan di Lahore pada tanggal 22 Feebruari 1974, tiga puluh sembilan kepala negara dari negara negara Islam menyempatkan diri sholat Jum’at di masjid ini, hadir diantara mereka adalah Zulfikar Ali Butto (Pakistan), Raja Faisal (Saudi Arabia), Muammar Gaddafi (libya), Yasser Arafat (Palestina) dan Sabah III Al-Salim Al-Sabah (Kuwait). Sholat Jum’at hari itu di imami oleh Imam besar Masjid Badshahi, Maulana abdul Qodir Azad, sekaligus bertindak sebagai khatib.

Kemegahannya terlihat anggun di bawah cahaya 
lampu malam hari
Tahun 1993 yang lalu pemerintah Pakistan sudah merekomendasikan Masjid Badshahi untuk dimasukkan ke dalam daftar warisan dunia UNESCO, dan sudah dimasukkan ke dalam daftar sementara nominasi masuk daftar warisan dunia UNESCO.

Tahun 2000 dilakukan perbaikan terhadap lapisan pualam yang menutup ruang sholat utama masjid. Tahun 2008 dilaksanakan pekerjaan penggantian terhadap batu pasir merah yang melapisi pelataran tengah masjid. Penggantian batuan tersebut menggunakan batuan yang bersumber dari sumber aslinya seperti saat pertama kali dibangun, hanya saja karena wilayah Jaipur, Rajastan, sudah menjadi wilayah India, pengadaan batu tersebut dilaksanakan harus melalui prosedur perdagangan internasional.

Arsitektural dan Rancang Bangun Masjid Badshahi

Arsitektural masjid Badshahi sangat mirip dengan Masjid Jama di Delhi tua, India. Masjid Jam Delhi Tua dibangun tahun 1648. Kemiripan tersebut dapat dimengerti mengingat masjid Jama di Delhi dibangun oleh Ayahanda dari Aurangzeb, Raja Shah Jahan. Rancangan masjid tersebut di-inspirasi oleh seni Islami, Persia, Asia tengah dan sentuhan India. Sebagaimana layaknya sang pembangun-nya, masjid ini pun begitu megah, besar, mengagumkan dan memberikan kesan yang luar biasa.

Masjid Badshahi di mata uang Pakistan 500 rupee.

Tangga menuju ruang sholat utama masjid ini serta keseluruhan lantainya menggunakan pualam warna warni. Ruang sholat utama masjid Badshahi dibagi ke dalam tujuh bagian dalam artian memiliki beberapa lajur yang terbentuk oleh deretan tiang berlengkung dalam ukuran besar, tiga ruang berada di bawah kubah ganda yang di kerjakan dengan apik menggunakan pualam putih. Empat ruang lain nya berkubah rata (manbatkari), lengkap dengan lukisan dinding, dan berlapiskan batu pualam.

Eksterior masjid ini di dekorasi dengan batu berukir juga dengan lapisan pualam dan batu pasir warna merah khususnya untuk beberapa motif dan relif relif tebalnya. Ditambah dengan sedikit sentuhan indo-greek, Asia Tengah dan pengaruh dari arsitektur India dalam teknik maupun motif motifnya.

Pelataran tengah Masjid Badshahi.

Skyline masjid ini dihias dengan seni bangunan yang begitu  indah menggunakan  lapisan pualam, memberikan garis garis megah seantero masjid. dalam berbagai fitur arsitekturalnya seperti halaman tengah, lorong lorong, menara di empat penjuru, garis proyeksi yang mengarah ke ruang sholat utama dan pintu masuk utama, ditambah dengan perjalanan panjang sejarah perkembangan arsitektur Islam sebelum pembangunan masjid ini di tahun 1673.

Dinding sebelah utara masjid ini membentang sangat dekat dengan tepian sungai Ravi, jadi gerbang besar masjid ini tidak diletakkan disisi tersebut, simetris dengan sisi utara sisi selatan pun dirancan tanpa gerbang besar. dan empat bangunan Aiwan seperti yang ada di masjid Jama Delhi tidak di duplikasi di masjid ini. tembok masjid Badshahi dibangun menggunakan batu bata bakar, semen putih tapi kemudian di lapisi dengan batu pasir merah. sementara jalan menuju ruang sholat di lapis dengan pualam warna warni.

Pengaruh Arsitektural 

Arsitektural Masjid Badshahi turut mempengaruhi rancang bangun beberapa masjid yang dibangun setelahnya seperti Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), Masjid Sir Syed Masjid, di Aligarh dan Taj-ul-Masajid, di Bhopal, (India).***