Tampilkan postingan dengan label Masjid di Atap Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Atap Dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2019

Apakah Ada Masjid di Bhutan? (Bagian 2)

Meskipun google map mengkatagorikan masjid Jharna Jamma masjid ini sebagai masjid Bhutan, namun bila diperiksa secara seksama, lokasi masjid ini justru berada di sisi jalan yang masuk wilayah kota Jaigaon, India bukan di sisi jalan yang berada di wilayah kota Phuensholing yang merupakan wilayah Bhutan. Batas antara kedua negara ini berupa ruas jalan yang disebut boarder road.

Bila memasukkan kata kunci “Masjid di Bhutan” ke kolom pencarian google akan muncul tiga nama masjid yang langsung ditampilkan di google-map. Masjid ke-dua dari tiga masjid tersebut adalah masjid Jharna Jamma Masjid, menyusul dibawahnya ada Guabari Puran Mashjid. Kedua masjid tersebut akan kita ulas berikut ini.

JHARNA JAMMA MASJID 

Sama seperti Dantak Mosque yang dibahas pada postingan sebelumnya, kami juga nyaris tak menemukan hasil apapun terkait dengan Jharna Jamma Masjid ini. Bilae merujuk kepada data di google maps masjid ini berada di kota Jaigaon, provinsi Bengala Barat, India. Bukan berdiri di wilayah Bhutan. Akan tetapi mengapa pencarian google justru mengkatagorikan masjid ini sebagai masjidnya muslim Bhutan?.

Republika memberikan sedikit informasi tentang masjid ini. Dalam salah satu artikelnya, republika menyebutkan tentang Masjid Jaigaon yang menjadi tempat ibadah bagi muslim Bhutan. Meski Republika tidak merinci dengan tepat lokasi masjid ini dan menyebutnya berada di wilayah Bhutan meski menyandang nama Masjid Jaigaon, google map menunjukkan bahwa masjid ini berada di wilayah kota Jaigaon, India, bukan di wilayah kota Phuentsholing, Bhutan.

Sedikit informasi tambahan tentang masjid ini muncul di Youtube yang menampilkan suasana sholat Idul Fitri 1440H/2019 yang baru lalu. Ruangan masjid ini tampak cukup luas meski sangat sederhana. Ruang mihrabnya ditandai dengan tirai kain, sedangkan mimbarnya hanya berupa undakan kecil untuk membuat khatibnya berada di posisi lebih tinggi. Khutbahnya disampaikan dalam bahasa arab. setelah sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan semacam ceramah dalam bahasa setempat, pengumpulan infak sodaqoh dan Sholawatan.

Apakah Jharna Jamma Masjid ada di Bhutan

Kota Jaigaon di provinsi West Bengal (Benggala Barat), India, memang berbatasan langsung dengan kota Phuentsholing di wilayah Bhutan. Kedua kota ini merupakan kota perbatasan antara kedua Negara, diantara keduanya terdapat satu ruas jalan yang disebut Indo-Bhutan Road. Di sisi timur ruas jalan ini merupakan wilayah kerajaan Bhutan sedangkan di sisi barat ruas jalan merupakan wilayah Repuplik India. Dan masjid Jharna Jamma Masjid ini berada di sisi barat ruas jalan tersebut dan tentunya masuk ke dalam wilayah Republik India.

Hanya saja memang, untuk menuju ke masjid Jharna Jamma Masjid ini dari wilayah Bhutan sudah berbelok ke selatan sebelum tiba di gerbang perbatasan antara kedua Negara. Lokasi masjid ini berada sekitar 850 meter di sebelah selatan gerbang perbatasan antara Bhutan dan India.

Jharna Jamma Masjid
Jaigaon, Bengala Bar. 736182, India


Satu satunya informasi tentang bentuk masjid ini di dapat dari unggahan Rezak Ali google map pada bulan Oktober 2014. Menunjukkan bangunan masjid sederhana namun permanen, dua lantai lengkap dengan dua menara ramping di atap masjid. Tampak dalam foto tersebut sepertinya suasana sholat hari raya. Ada tulisan Eid Mubarak di atas pintu masjid dan hiasan bendera bendera kecil yang dipasang di untaian tali sepanjang jalan dan ke bangunan masjid. Belum ada informasi sama sekali terkait tentang berapa Jemaah masjid ini, kapang dibangunnya dan bagaimana pengelolaannya.

GUABARI PURAN MASJHJID 

Masjid berikutnya atau yang ketiga yang dikatagorikan google sebagai masjid Bhutan adalah Masjid Guabari Puran Mashjid. Lokasi masjid Guabari Puran masdjid ini benar benar berada di dalam wilayah kota Jaigoan, terpuat sekitar 1,8 km sebelah barat dari gerbang perbatasan antara India dan Bhutan. Meskipun demikian, gerbang perbatasan antara India dan Bhutan ini dijaga oleh masing masing petugas ke dua Negara dan memberikan kemudahan bagi warga kedua Negara untuk melintas perbatasan.

Guabari Puran Mashjid
Guabari Main Road ,Jaigaon G.P II Jaigaon, Alipurduar Pin-736182 W.B,
Jaigaon, West Bengal 736182, India


Tidak ada foto tentang masjid ini baik di google map maupun sumber lainnya. Street view pun belum tersedia di dua masjid Jaigoan ini. Guabari pada nama masjid ini merujuk kepada nama tempatnya berada semacam nama kelurahan, dan nama yang sama juga digunakan untuk menyebut nama jalan yang melintas di depan masjid ini.

Bila benar bahwa dua masjid ini merupakan masjid tempat muslim Bhutan beribadah, sepertinya memang muslim disana kesulitan untuk mendirikan masjid di Negara mereka sendiri. Konstitusi Bhutan memang hanya mengakui dua Agama yakni Budha sebagai agama resmi dan agama Hindu meskipun Hindu dan melarang agama lainnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 29 Juni 2019

Apakah Ada Masjid Di Bhutan? (Bagian 1)

Merujuk kepada peta google map, ada satu masjid di wilayah Bhutan, lokasinya berada di kota Simtokha. Masih dari google map tampak satu bangunan masjid kecil yang sangat sederhana di halaman komplek bangunan.

Dengan mengetikkan kata kunci “Bhutan Mosque” kolom pencarian google, muncul tiga nama masjid di google map, paling atas pencarian muncul “Dantak Mosque" disambung dengan tulisan masjid dalam aksara arab. Disusul oleh dua nama masjid berikut nya yakni Jharna Jamma Masjid dan Guabari Puran Mashjid. Dua masjid yang disebut belakangan menurut google map lokasinya berada di wilayah Jaigaon, West Bengal, India. Maka kita mulai telusuri dari yang pertama yakni “Dantak Mosque” atau Masjid Dantak.

Dantak Mosque, Semtoka

Google-map telah mencantumkan nama “Dantak Mosque” lengkap dengan lokasi akuratnya. Bumthang - Ura Highway, Semtokha, Bhutan. Menilik kolom komentar, lokasi masjid ini sudah ada dua review tertua yang berasal dari setahun yang lalu sejak dari tanggal saat kami mengakses (19 Juni 2019), artinya lokasi masjid ini sudah ditandai di peta setidaknya sejak setahun yang lalu.

Tidak ada informasi apapun yang muncul di pencarian selanjutnya tentang masjid ini selain di situs savetravel.com yang juga memuat foto yang di unggah oleh Muhiuddin Ikram lengkap dengan peta lokasinya berdasarkan google-map. Sehingga mau tidak mau harus mengolah data yang sangat minim itu untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang Masjid Dantak (Dantak Mosque) yang dimaksud.

Dantak Mosque
Bumthang - Ura Hwy, Semtokha, Bhutan



Penanda di peta di google-map juga sudah dilengkapi dengan foto yang dimuat oleh akun google badar Uddin pada bulan mei 2019 itu artinya baru sebulan yang lalu. Akun ini sudah teregister di google sebagai local guide level 5. Foto yang di unggahnya menunjukkan Jemaah yang sedang berkumpul di dalam ruangan.

Masjid Dantak di google map
Foto berikutnya adalah dua lembar foto yang di unggah oleh Muhiuddin Ikram pada bulan september 2017 yang menunjukkan suasana sholat berjamaah di pekarangan. Muhiuddin Ikram adalah local guide level 4. Dua foto yang di unggah beliau tampaknya lebih otentik dibandingkan foto pertama.

Menjejak unggahan unggahan foto beliau di google sepertinya beliau memang tinggal di Buthan, salah satu dari dua fotonya di masjid Dantak menunjukkan beliau bersama anak laki laki mungkin putra beliau dan salah satu unggahannya tentang perusahaan Southtech Bhutan Private Limited yang berjarak hanya 1,6 km dari Masjid Dantak atau sekitar 4-5 menit berkendara.

Merujuk kepada situs https://www.southtechgroup.com/ Southtech Bhutan Private Limited merupakan perusahaan Bangladesh yang beroperasi di Bhutan. Dan melihat dari nama-nya Muhiuddin Akram yang sangat Islami, memang lebih cocok sebagai nama orang Bangladesh dibandingkan dengan nama orang Bhutan yang mayoritas mutlak merupakan non muslim.

Foto pertama unggahan Muhiuddin Ikram menunjukkan dengan jelas sebuah bangunan persegi berukuran kecil dengan tulisan Masjid di atas pintunya ditambah dengan lukisan sederhana ornamen bulansabit dan bintang yang merupakan lambang internasional Islam. Dilihat dari ukuran dan bentuk bangunan serta pagarnya, bangunan masjid tersebut terlalu kecil bila dibandingkan foto dalam ruangan yang di unggah oleh badar Uddin pada mei 2019.

Google juga sudah melengkapi tempat tersebut dengan google street view yang di unggah pada bulan Mei 2013. Di lokasi yang dimaskud terdapat sebuah komplek bangunan dalam pagar yang menyerupai bangunan mushola di kampung kampung di Indonesia, berupa bangunan sederhana segi empat dengan atap limas bertingkat, hanya saja dari lambang lambang yang ada dibangunan nya tidak menunjukkan bangunan tersebut adalah masjid.

Komplek tempat dimana Masjid Dantak berada di halaman nya.
Di sisi jalan raya di depan bangunan ini juga terdapat papan nama yang sengaja dikaburkan oleh pihak google itu masih dapat terbaca sebagian besar dan juga tidak mengindikasikan bahwa itu adalah bangunan masjid. Papan pengenal lainnya hanya berupa gambar puncak gunung.

Komparasi Foto

Bila diteliti lebih jauh memang ada kemiripan antara foto pertama dari muhiuddin akram dengan foto yang muncul di street view. Logo yang terdapat pada dinding bangunan yang ada di foto muhiuddin akram sama persis dengan logo yang ada di dinding bangunan di steet view, begitupun dengan bentuk bangunan dan pagar halamannya.

Merujuk kepada dua gambar tersebut sepertinya bangunan masjid kecil yang ada di foto muhiuddin akram yang di unggah pada September 2017 belum dibangun setelah tahun 2013 karena pada image yang ada di google street view bulan Mei 2013 di lokasi masjid itu berdiri masih berupa bangunan terbuka sepertinya merupakan tempat parkir kendaraan.

Analisa foto milik Muhiuddin Ikram. Masjid yang ada di foto atas tampaknya berada di halaman komplek tersebut, di lokasi yang pada citra street view masih berupa bangunan terbuka tempat parkir kendaran.

Kesimpulan tentang Masjid Dantak Mosque

Masjid Dantak Mosque di kota Semtokha ini kemungkinan adalah bangunan masjid yang menumpang tempat di lahan tempat nya berdiri saat ini, dan dibangun setelah tahun 2013. Tujuannya kemungkinan besar untuk menyediakan tempat ibadah bagai para pekerja migran muslim termasuk yang berasal dari Bangladesh yang berkerja di perusahaan Bangladesh yang beroperasi di Bhutan.

Dimanakah kota Semtokha itu ?

Kota Semtokha hanya berjarak sekitar 7,7 km dari kota Thimpu, ibukota Kerajaan Bhutan. Dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang dari setengah jam. Mengingat kondisi topografi kerajaan Bhutan yang berada di pegunungan Himalaya, jalanan dari Thimpu ke Semtokha atau sebaliknya harus melalui jalanan terjal di pegunungan yang berkelok kelok dan cukup berbahaya namun berpanorama yang memukau.

Analisa foto berikutnya yang diunggah oleh Muhiuddin Ikram yang tampak sedang sholat berjamaah di halaman masjid Dantak di bulan September 2017, sepertinya dalam suasana Sholat Idul Adha 1438 H yang jatuh di bulan September 2017.
Semtokha atau kadang kadang juga dilafalkan Simtokha, terkenal sebagai salah satu kota wisata dunia, di kota ini terdapat kuil Ummat Budha yang disebut Kuil Semtokha atau Semtoka Dzong. Kuil tersebut dibangun dibibir tebing terjal pada tahun 1629 oleh Zhabdrung Ngawang Namgyal, sang pemersatu Bhutan dan merupakan yang pertama di bangun di Bhutan dengan bentuk dan lokasi yang demikian itu.

Republika pernah melaporkan tentang masjid muslim Bhutan di kota Phuentsholing yang berbatasan dengan India, sekaligus menjadi gerbang Bhutan ke dunia luar satu satunya yang berada di perbatasannya dengan India. Apakah benar ada masjid muslim Bhutan di kota itu?. Simak di posting selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan (Bagian 2).***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Minggu, 23 Juni 2019

Menjejak Islam di Bhutan

Kerajaan Bhutan dikenal sebagai kerajaan Budha di sisi timur pegunungan Himalaya berbatasan dengan China di Utara dan India di Selatan. Kerajaan ini memiliki alam yang masih perawan dan mempesona dan kehidupan tradisional yang kuat hingga kerap kali digelari sebagai Kerajaan Shangri-La terahir di bumi.

Bhutan; The Last Shangri-La Kingdom

Bhutan merupakan salah satu dari sedikit Negara asia yang masih berbentuk kerajaan, bahkan bisa jadi menjadi satu satunya kerajaan yang masih eksis di bumi dengan tatanan tradisionalnya yang masih sangat kental. Modernisasi nyaris tak menyentuh kerajaan ini, namun penduduknya terkenal sebagai rakyat yang paling bahagia di Asia dan dunia. Indeks pembangunan negaranya didasarakan kepada indeks Gross National Happiness yang takkan ditemukan di GBHN Negara lain.

Wilayah kerajaannya terhimpit diantara India dan Tibet (yang kini dikuasai China). India menjadi satu satunya pintu masuk dan keluar dari Bhutan melalui kota Phuentsholing yang berbatasan langsung dengan kota Jaigaon di provinsi Benggala Barat, India. Perbatasan mereka di utara dengan Tibet sudah lama ditutup rapat sejak Tibet di kuasai China dan berujung sengketa perbatasan antara Bhutan dengan China.

Karena posisi strategisnya kota Phuentsholing menjadi ibukota perdagangan bagi Bhutan, bank Negara bahkan berkantor di kota itu. Gerbang perbatasan Bhhutan dan kantor imigrasi kedua Negara berdiri disana, meski penduduk kedua Negara memiliki hak istimewa dalam melintasi perbatasan, berbeda dengan pengunjung dari Negara lain yang harus mengurus izin yang cukup rumit untuk bisa masuk ke wilayah Bhutan.

Kehidupan masyarakat begitu kental dengan dogma agama Budha sebagai agama resmi Negara dan mereka sangat menghormati raja dan keluarganya. Alam mereka masih perawan, dengan landscape pegunungan Himalaya timur yang memukau, kehidupan sederhana pedesaan dapat ditemukan dibagian manapun Negara ini yang terkenal dengan ribuan kuil kuil kuno bertebaran dari puncak gunung hingga dinding dinding batu terjal pegunungan.

wilayah Kerajaan Bhutan berada diperbatasan antara China dan India.
Keindahan panorama kerajaan ini dipadu dengan kehidupan tradisional penduduknya tak pelak memuatnya mendapatkan julukan dengan berbagai nama negeri dongeng. Bhutan sendiri secara harpiah bermakna “Negeri Naga Petir’ sedangkan penduduknya menyebut Negara mereka “Rakyatnya menyebut kerajaan mereka sebagai “Druk Yul” yang berarti “Negeri Naga”, kamu akan dengan mudah menemukan gambar naga di bendera dan lambang kerajaannya. Dan diantara para pengelana dan pengembara tak segan segan menyebut Kerajaan Bhutan sebagai “The Last Shangri-La Kingdom” atau “Kerajaan Shangri-La terahir”

Angin perubahan di negeri Naga Petir

Raja Jigme Singye Wangchuk menjadi raja Bhutan terahir yang berkuasa dengan kekuasaan mutlak sebagai raja pemegang tampuk kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun secara mengejutkan beliau mengumumkan akan melepaskan jabatannya di tahun 2008, tak hanya itu, beliau juga berencana memangkas kekuasaan absolut raja, membuka jalan bagi pemilihan umum untuk memilih perdana menteri dan DPR sebagai penggerak roda pemerintahan.

Keputusan yang diumumkannya di hadapan 8.000 penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa pedesaan pada 18 Desember 2005 dan disebarkan melalui harian Kuensel itu justru menuai keberatan dari rakyatnya yang mengkhawatirkan akan terjadinya praktek KKN oleh para pejabat dikemudian hari. Nyatanya, Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck, benar benar menyerahkan kekuasaan kepada putra tertuanya yang masih bujangan ditahun 2006.

Raja Jigme Singye Wangchuk sudah menjadi raja sejak usia 17 tahun menggantikan ayahandanya yang wafat di tahun 1972 sangat dicintai rakyatnya dan senantiasa hidup sederhana bersama ke empat istrinya, lebih suka tinggal di rumah kayu khas Bhutan ketimbang tinggal di Istana kerajaan di dalam benteng, tak pernah menjelaskan alasannya mundur dari kekuasannya sebagai raja yang harusnya berkuasa seumur hidup.

Thimpu, ibukota dan kota terbesar di Bhutan. Gedung tertinggi di foto itu adalah pusat pemerintahan Bhutan.
Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck kini memerintah kerajaan Bhutan yang sudah mulai menerapkan sistim demokrasi yang di inisiasi oleh ayahnya. Raja baru ini baru menemukan permasurinya di tahun 2011, pernikahan mereka menjadi Royal Weding yang menginspirasi kebahagiaan seisi negeri, foto pernikahan mereka bahkan diabadikan dalam uang kertas 100 ngultrum Bhutan.

Seperti Apakah Kerajaan Bhutan

Kerajaan Bhutan adalah salah satu dari sedikit Negara di dunia yang benar benar tidak pernah mengalami penjajahan oleh bangsa asing sepanjang sejarahnya. Wilayah mereka bahkan tak sempat tersentuh oleh silih bergantinya emperium besar yang pernah berkuasa di India maupun di China. Dinasti Islam Mughal yang merupakan dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah anak benua India itu pun, wilayahnya tak sampai menyentuh wilayah Bhutan.

Secara geografis, Bhutan hanya bertetangga dengan Tibet (China) di Utara dan India disebelah selatan. Muka buminya di dominasi pegunungan, mulai dari rata rata ketinggian 200 meter dari permukaan laut di sebagian selatan negaranya hingga ke ketinggian 7000 meter dari permukaan laut di bagian utara-nya yang merupakan sisi timur Himalaya. Tak salah bila menyebut kerajaan ini sebagai kerajaan gunung atau bahkan ada yang menjulukinya sebagai salah satu negeri diatas awan.

Luas keseluruhan wilayahnya hanya 38.394 km2 atau setara dengan luas daratan provinsi Sulawesi Tenggara (38.067 km2). Sedangkan jumlah penduduknya sebanyak 727.145 (tahun 2017) jiwa atau sekitar 20% lebih sedikit dibandingkan seluruh penduduk di provinsi Papua Barat (915.400 jiwa)

Gangkar Puensum (7,570mdpl) di Dochula pass merupakan puncak tertinggi di Bhutan. Gunung ini terkenal sebagai gunung yang belum pernah ditaklukkan manusia pendaki manapun.
Penduduknya diwajibkan menggunakan busana tradisional dalam kehidupan mereka sehari hari. Orang asing tidak dapat berkunjung ke Bhutan melalui agen wisata yang ditunjuk oleh pemerintah dengan prosedur yang cukup rumit dan tidak dapat bebas berkelana sesuka hati kecuali ketempat tempat yang sudah diatur. Budha Vajrayana yang dianut oleh 74.8% penduduk merupakan agama resmi satu satunya yang diakui oleh Negara, disusul kemudian oleh Hindu (22,6%) yang menjadi minoritas utama di Negara itu. Ajaran Budha memang sudah dikenal oleh masyarakat Bhutan sejak abad ke 7 Miladiyah.

Adakah Muslim di Bhutan?

Sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai keberadaan muslim di Bhutan. Kebijakan negaranya yang semi tertutup turut andil kepada kurangnya informasi menyangkut hal itu.   Menurut Adherents,com, muslim di Bhutan mencapai 5%. Sedangkan CIA factbook mengklaim bahwa ummat islam di Bhutan hanyalah kurang dari 1% dari total penduduknya di tahun 2009. Sedangkan lembaga riser Pew Reseach Centre memperkirakan bahwa muslim di Bhutan ada sekitar 1% atau sekitar 7000 jiwa dari keseluruhan penduduk negara terebut.

Perkembangan Islam di Bhutan cukup menarik bila mencermati data dari Pew Reseach Forum  yang menyebutkan bahwa pada 1990 terdapat sekitar 6.000 Muslimin di Bhutan. Kemudian, pada 2010 meningkat menjadi 7.000 jiwa dan pada 2030, diprediksi akan meningkat menjadi 9.000 jiwa.

Merujuk kepada republika, perkembangan Islam di Bhutan cukup sulit mengingat kebijakan Negara yang melarang dakwah Islam di wilayah Negara itu. Ditambah lagi dengan buruknya citra yang dimunculkan oleh media (barat) berdampak buruk terhadap pandangan masyarakat setempat terhadap Islam.

Haa Valey atau lembah Haa, salah satu landscape Bhutan yang menawan.
Menurut US Library of Congress, komunitas Muslim Bhutan baru mulai terlihat eksis pada 1989. Angkanya sangat kecil dan tak banyak mendapatkan hak kebebasan beragama. Sebagai negara yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, Bhutan tak banyak menerapkan kebebasan beragama bagi rakyatnya. Namun seiring dengan mulai diterapkannya sistim demokrasi, Bhutan mulai mengakui keberadaan agama Hindu disana sedangkan pemeluk agama lainnya termasuk Muslim Bhutan masih harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi dari Kerajaan.

Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pada umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja. Tradisi vegetarian masyarakat Bhutan justru memudahkan muslim disana mendapatkan makanan halal.

Baiknya tatanan masyarakat yang sudah berabad abad hidup taat pada raja di kehidupan tradisional, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintahnya yang telah sejak lama secara resmi melarang peredaran tembakau dan kebijakan lain yang sejalan dengan ajaran Islam justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi kehidupan muslim di Bhutan. Sehingga secara umum Muslim di Bhutan dapat menjalani kehidupan mereka dengan nyaman.

Namun demikian, dengan tidak diakuinya Islam oleh kerajaan berdampak langsung kepada tidak adanya organisasi induk yang mengayomi muslim disana, tidak ada lembaga verifikasi halal ataupun lembaga lembaga Islam lainnya yang menopang kehidupan muslim disana apalagi untuk mendirikan lembaga dakwah yang memang secara jelas dakwah Islam dilarang dinegara itu, dan sepertinya kebijakan itu juga berlaku bagi semua agama lain nya.***

Selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan?”

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 03 Juli 2016

Masjid Shah Hamadan Tertua di Kashmir

# Masjid di Atap Dunia

Masjid Shah Hamdan

Kashmir merupakan sebuah lembah di India dan Pakistan yang dikenal sebagai dunianya orang shaleh dan kaum sufi. Lembah di ketingggian Himalaya, hingga seringkali di sebut sebagai negeri atap dunia. Berbagai masjid yang berhubungan dengan tokoh sufi masih berdiri hingga kini di wilayah ini dan menjadi salah satu daya Tarik wisata tersendiri bagi para pelancong. salah satunya adalah Masjid Shah Hamdan di Srinagar yang dibangun di “petilasannya” Mir Sayyid Ali Hamadani.

Masjid Shah Hamadan atau lebih dikenal dengan nama Khanqah-e-Moula adalah sebuah masjid tua di Distrik Srinagar, Negara Bagian Jammu & Kashmir, India. Masjid ini merupakan masjid tertua di kawasan Kashmir India. Dibangun tahun 1395 oleh Sultan Sikander. Masjid ini beri nama Masjid Shah Hamadan sebagai bentuk penghormatan kepada Mir Sayyid Ali Hamadani atau Shah Hamdan yang merupakan tokoh sufi sekaligus penyebar Islam di Kashmir.

Shamswari,Srinagar,
Jammu and Kashmir 190001 India


Riwayat Pembangunan                                  

Masjid Shah Hamadan merupakan masjid pertama yang dibangun di Srinagar. Dulunya tempat tersebut merupakan kediaman Shah Hamdan di tepian sungai Jhelum, disana beliau melakukan aktivitas sehari hari termasuk sholat lima waktu, dan pusat penyebaran dan pengajaran Islam di daerah itu. Konon, batu pondasi tempat masjid ini berdiri dulunya dari bekas kuil yang pendetanya telah ber-Islam dan menjadi murid pertama Syah Hamdan di Kashmir.

Sejak pertama kali dibangun, masjid ini telah beberapa kali mengalami kerusakan lalu dibangunan kembali. Pada tahun 1480 masjid tersebut hancur akibat kebakaran, kemudian di restorasi oleh Sultan Hassan Shah. Kemudian tahun 1493 bangunan tersebut lagi lagi  hangus terbakar, bangunan nya kemudian dibangun ulang menjadi bangunan dua lantai. Namun lagi lagi hancur oleh kebakaran tahun 1791 yang kemudian dibangun ulang secara total dalam bentuknya saat ini oleh Abul Barkat Khan. Beberapa perbaikan setelah itu dilaksanakan sebagai akibat kebakaran di tahun 2012 menyusul kemudian kerusakan akibat gempa bumi dan banjir di tahun 2015.

Ditepian sungai Jhelum

Siapakah Shah Hamdan

Mir Syed Ali Hamadani (1314- 1384) atau Shah Hamdan atau Ameer-e-Kabir, adalah seorang ulama yang berasal dari daerah Hamadan, Persia (Iran) dan datang ke Kashmir di sekitar tahun 1372 untuk menyebarkan ajaran Islam. Cukup lama tinggal di Kashmir sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke asia tengah melalui Ladakh di tahun 1381 dan membangun masjid pertama di Ladakh.

Selain Khanqah e Mu’alla di Srinagar beliau juga membangun masjid di Tral, Doru dan Shey (Ladakh) serta beberapa mushola di Sopore dan Pampore. Shah Hamdan kemungkinan wafat di Hazara (Pakistan) atau di Kafiristan. Namun demikian, diketahui bahwa makam tempat jenazah beliau dimakamkan berada di Khatlan (Tajikistan). Salah satu masjid peninggalan Shah Hamdan di wilayah Kashmir yang kini masuk ke dalam wilayah negara Pakistan adalah Masjid Chaqchan yang merupakan salah satu masjid tua yang berdiri di “negeri negeri atap dunia”.

Struktur kayu yang rumit
Shah Hamdan mengunjungi dan menetap di Kashmir dalam tiga periode, periode pertama adalah di masa kekuasaan Sultan Shihab-ud-Din tahun 774H/1372M. Setelah menetap sebentar beliau kemudian pergi berhaji ke Mekah. Kunjungan keduanya ke Kashmir tahun 781H/1379M dimasa kekuasaan Sultan Qutbu’d-Din. Kala itu beliau menetap sekitar dua setengah tahun lalu melanjutkan perjalanan ke Turkistan melalui Ladakh tahun 783H.

Kunjungan beliau ketiga kalinya ke Kashmir tahun 785H/1383M menetap di Kashmir sebentar lalu pindah dari sana karena masalah kesehatan dan menetap di Pakhli selama sepuluh hari atas permintaan dari penguasa setempat yang bernama Sultan Muhammad. Shah Hamdan Wafat tahun 786H di usia 73 tahun di kota Kanar, di dalam wilayah Pakhli. Namun jenazah beliau dibawa ke Khattalan (kini di Tajikistan) di makamkan disana pada tanggal 25 Jamadil Awwal, 787H (14 July 1385). Dakwah beliau di Kashmir kemudian dilanjutkan oleh putranya Mir Mohammad Hamadani.

Berjamaah

Tradisi Masjid Shah Hamdan

Di masjid ini ada satu tradisi tahunan untuk mengenang hari kematian almarhum Shah Hamdan. Ribuan Jemaah memadati masjid ini disetiap hari ke enam bulan Bulan terahir kalender Hijriah untuk menghormati Syed Ali Hamdani, Seperti acara “haul” di Indonesia. Sama seperti tempat tempat ibadah bernuansa sejarah di Indonesia, di masjid ini pun para Jemaah luar kota, ataupun pelancong akan bertemu dengan para peminta minta yang ramai disekitar masjid ini.

Warisan Rosulullah

Menurut kabar yang beredar di masjid ini tersimpan beberapa relik yang berhubungan dengan Nabi Muhammad s.a.w, diantaranya adalah bahwa di masjid ini tersimpan Bendera Rosulullah yang dipakai dalam beberapa pertempuran semasa hidup Rosulallah, serta sebatang tiang tenda Rosulullah. Di masjid ini juga masih disimpan tongkat Shah Hamdan.

Interior Masjid Shah Hamdan

Aristektural Masjid Shah Hamdan

Masjid Shah Hamdan tidak sekedar sebagai masjid tapi juga merupakan salah satu tujuan ziarah bag kaum sufi. Secara umum bangunan masjid ini dibangun berupa bangunan kubus dengan atap piramida lancip yang ditopang dengan beberapa pilar. hich represents the minaret. Dibangun dengan tipologi bangunan setempat dengan ukuran sekitar 23 meter di setiap sisinya dan berdiri di tempat yang tak biasa, berupa material batuan dari sebuah bangunan kuil yang sudah tak terpakai.

Dibangun berlantai dua dengan atap limas lancip bertumpang satu sama lain dengan ukuran yang berbeda di setiap tumpukannya. Bagian kayu penopang atap masjid ini kemudian di perindah dengan begitu padatnya ukiran ukiran indah. Bangunan lantai dasarnya memiliki beranda ber-arkade ganda kecuali pada bagian pintu utamanya. Bagian lantai dua dibangun dengan balkoni ber-arkade yang menjorok keluar di ke-empat sisi struktur utama bangunan.

Arkade beranda dan balkoninya dengan beberapa pilar kecil dari kayu berukir dan kolom kolom bundar tidak saja menjadi penopang struktur atapnya tapi juga cukup impresif dengan ukurannya yang mencapai 16 meter membuat masjid ini terlihat menjulang. Atap piramida di lantai duanya di buat terbuka sebagai tempat bagi muazin mengumandangkan azan di berikan atap berbentuk piramida.

Terpana

Sejarawan menyebut masjid ini meskipun kecil namun sangat menarik, selain sebagai masjid pertama di Srinagar, mengingat atap masjid ini memiliki kemiripan dengan bagian atap kuil yang bertebaran di Kashmir hingga ke Nepal. Angka tahun 1384M/786H terukir di atas bagian pintu masuk sebagai peringatan tahun  wafatnya Shah Hamdan.

Dinding ruang sholat masjid ini dibuat dari panel panel kayu dengan sedikit sentuhan batuan. Beberapa ornamen bertuliskan lafadz Allah di ukir di lempengan ke-emasan menghias bagian dalam masjid. Di tengah ruang sholat berdiri empat batang pilar besar dari kayu setinggi 7 meter dalam konfigurasi segi empat yang menopang lubang angin di atasnya. Di hias dengan lukisan dari kayu yang di tata membentuk seperti tulang ikan pada batangan pilar sedangkan dasar pilar diukir berbentuk bunga teratai.

Diantara ribuan merpati

Pengaruh Shah Hamdan Bagi Kashmir

Shah Hamdan memiliki peran begitu besar dalam tradisi dan budaya Kashmir. Beliau yang berasal dari Iran, telah membawa agama dan tradisi Islam Persia ke wilayah Kashmir dan sekitarnya. Termasuk juga seni bina bangunan, ukiran, pahatan, lukisan dan sebagainya yang kemudian berbaur dengan tradisi dan budaya Kashmir yang kala itu masih menganut Hindu dan Budha, sehingga menghasilkan tradisi dan budaya Islam Kashmir yang unik. terlihat dari bangunan masjid Shah Hamdan atau Khanqah-e-Moula ini.

Bangunan masjid dari kayu dengan beragam fitur artistik bernilai tinggi yang menjadi keindahan dari pahatan ukiran serta lainnya di masjid ini. Interiornya kaya dengan ukiran dan lukisan tangan dengan corak aneka warna dalam dominasi warna hijau dan kuning serta ditambah dengan lampu gantung antik dan tua memberikan nuansa kejayaan masa lalu yang teramat kental dengan pengaruh budaya Persia. Wajar bila kemudian seniman Muhammad Iqbal Menyebut Kashmir sebagai ‘The Little Persia”. Sedangkan Unesco menyebut Shah Hamdan sebagai tokoh pembentuk tradisi dan budaya Kashmir.***

----------------------

Baca Juga Artikel Masjid di Atap Dunia Lainnya


Senin, 28 November 2011

Masjid di Atap Dunia, Masjid Jami Nepal

Masjid Jami' Nepal di Kathmandu satu daru dua masjid besar di kota metropolitan Kathmandu, ibukota Republik Demokratik Federal Nepal.

Bila dalam artikel sebelumnya sudah di ulas tentang Masjid Kashmiri Taqiya di Kathmandu – Nepal, kali ini kita akan mengulas tentang masjid bersejarah dan terbesar ke dua di Nepal, Masjid Jami Nepal atau Kathmandu Jama Masjid, masjid Hindustan, masjid India atau Masjid Nepali dan kadang kadang media juga menyebut masjid ini sebagai Masjid Nasional Nepal, meski dengan jelas papan nama masjid ini tertulis “Nepali Jame Masjid”. Sejarah pembangunan awal masjid ini memang dilaksanakan oleh muslim dari India yang berimigrasi ke Nepal beberapa abad yang lalu.
 
Lokasi Masjid Jami Nepal
 
Alamat : Bag Bazaar, Kathmandu, Nepal
Tak jauh dari kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal.
 
Masjid Jami Nepal berada di sebelah selatan Masjid Kashmiri Taqiya hanya terpisah beberapa blok bangunan. Diantara kedua masjid ini berdiri Kampus Tri Chandra, perguruan tinggi ternama di Nepal. Lokasi dua masjid ini memang berada di kawasan boulevard utama kota metropolitan Kathmandu, tak jauh dari (bekas) Istana Raja Nepal di era Nepal masih berbentuk kerajaan Hindu. Masjid ini terbuka untuk umum. Secara tradisi masjid ini merupakan masjid Islam Sunni, menyelenggarakan sholat berjamaah lima waktu, sholat Jum’at juga dua sholat hari raya. Bahasa pengantar yang dipakai menggunakan bahasa Arab. Imam masjid saat ini dijabat oleh Hammad Fareed.


Sebagaimana fungsi masjid bagi ummat Islam, masjid Jami Nepal memiliki peran sentral bagi ummat Islam di Nepal. Hampir keseluruhan masjid di Nepal dijadikan semacam pusat komunitas ummat Islam, masjid Jami’ Nepal memilki bangunan sekolah Islam (madrasah) dan kawasan niaga. Meski selama ber-abad abad ummat Islam di Nepal dilarang menyebarkan Islam kepada pemeluk agama Hindu, hal tersebut masuk dalam katageri pelanggaran hukum berat dan dapat dikenai sangsi hukuman penjara selama tiga tahun. Perubahan signifikan pada masjid ini terjadi sejak tahun 1990-an, merubahnya menjadi sebuah simbol kehadiran muslim di Kathmandu khususnya di Nepal umumnya.

Pengurus dan jemaah masjid ini tidak terkait dengan kepentingan politik manapun di negeri tersebut. Namun masjid memang menjadi tempat titik berkumpul utama bagi muslim manapun termasuk muslim Kathmandu, secara khusus perubahan karakter simbolis masjid ini menarik perhatian dari golongan sayap kanan Hindu Nepal yang kerap kali memandang masjid ini sebagai pusat muslim termasuk pusat bagi “hal hal yang lain”. Boleh jadi itu sebabnya masjid ini sempat menjadi sasaran serangan dalam beberapa tahun terahir.

Sebuah menara tinggi melengkapi Masjid Jami' Nepal ini. Masjid tiga lantai tak cukup lega untuk menampung jemaah sholat jum'at apalagi dua hari raya.

Sejarah Masjid Jami’ Nepal

Muslim Hindustani (India) merupakan kelompok muslim kedua yang menetap di Nepal, gelombang pertama muslim yang mukim di Nepal adalah Muslim Khasmiri yang kemudian mendirikan Masjid Kashmiri Taqiya dan sudah di ulas dalam artikel sebelumnya. Kelompok pertama muslim Hindustani masuk ke Nepal semasa kekuasaan Raja Pratap Malla (1641-1674) dari dinasti Malla. Raja mengizinkan mereka menetap dan mendirikan masjid di selatan Masjid Kashmiri Taqiya yang sudah lebih dahulu berdiri.

Masjid yang dibangun oleh kelompok pertama Muslim Hindustani ini kemudian terkenal sebagai masjid Hindustani, Masjid India, Masjid Nepali atau Masjid Jami Kathmandu (Kathmandu Jama’ Mosque). Konon masjid ini pertama kali dibangun dengan beraliran syiah (boleh jadi itu sebabnya muslim Hindustani meminta izin kepada raja untuk membangun masjid sendiri terpisah dari Masjid Kashmiri Taqiya yang beraliran Suni). Bangunan masjid Hindustani ini saat itu dilengkapi dengan sebuah imambara, sekarang bangunan tersebut sudah tidak ada lagi.

Masjid Jami' Nepal dari arah jalan raya.

Tahun  1857 tatkala Nepal dibawah kekuasaan Jang Bahadur dari dinasti Rana, sejumlah besar muslim Hindustani berimigrasi ke wilayah Terai – Nepal, sebagai akibat tekanan dari tentara Inggris yang menjajah India kala itu. Jang Bahadur memang bersedia menerima migrasi muslim India tersebut sebagai bagian dari persekongkolannya dengan Inggris untuk mengurangi konsentrasi muslim di kawasan yang bergelok di India utara. Konsentrasi muslim dalam jumlah besar di satu kawasan bergolak dianggap sebagai ancaman bagi eksistensi Inggris di India. Para pengungsi ini sebagian tinggal di tinggal di Terai ini berdagang bahan bahan dari kulit atau bekerja sebagai buruh tani.

Pemberontakan muslim India utara tahun 1857 terhadap penindasan tentara Inggris, terkenal dengan sebutan Pemberontakan Sepoy. Pemberontakan tersebut berahir dengan kekalahan muslim dari tentara Inggris. Kalangan istana Lucknow yang memberontak terpaksa mengungsi ke Nepal termasuk diantara mereka adalah Maulana Sargaraz AH Shah (Mufti terahir dari dinasti Mughal semasa Sultan Bahadur Shah Zafar) yang mengungsi ke Kathmandu mengiringi kepergian Putri Begum Hazrat Mahal istri dari Nawab Wajid Ali penguasa Begum dari Lucknow berserta putra Mahkota Birjis Qadr).

Jemaah sholat Jum'at di Masjid Jami' Nepal

Maulana Sargaraz AH Shah yang kemudian mengubah Masjid Jami’ Kathmandu menjadi Masjid beraliran suni dan merenovasi keseluruhan bangunan masjid, dan membangun kediaman bagi keluarga kerajaan yang menetap disana, keseluruhan dana renovasi dan pembangunan tersebut berasal dari dana pribadi Putri Begum Hazrat Mahal.

Maulana Sargaraz dan Putri Begum Hazrat Mahal ketika wafat di Kathmandu keduanya dimakamkan di areal masjid Jami’ Kathmandu sesuai keinginan mereka semasa hidup. Putri Begum Hazrat Mahal wafat di Kathmandu pada tanggal 7 April 1879. Makam mereka masih dapat di jumpai disana meski selama berpuluh puluh tahun makam dan masjid tersebut sama sekali luput dari perhatian pemerintah Nepal. Sampai sampai Pandit Jawaharlal Nehru tokoh kemerdekaan India sempat kecewa ketika mengetahui kondisi makam pejuang India tersebut sama sekali tak terawat. Belakangan pemerintah Nepal mulai memperhatikan masjid dan makam ini.

\Masjid Jami' Nepal.

Saksi Bisu pembunuhan Tokoh Islam Nepal

26 September 2011 Masjid Jami Nepal menjadi saksi bisu pembunuhan keji terhadap salah satu tokoh muslim Nepal, Faizan Ahmad Ansari (36 tahun), Sekretaris Jenderal Persatuan Islam Nepal. Beliau dibunuh oleh dua orang pria bersenjata api yang memberondongnya dengan peluru di jalan di depan Masjid ini sesaat setelah beliau menunaikan sholat Asyar.  Tubuh beliau terkapar bersimbah darah di bawah guyuran hujan deras. Imran saudara beliau bersama jemaah masjid yang kemudian melarikan nya ke rumah sakit Bir di pusat kota Kathmandu namun nyawanya tak tertolong.

Pembunuhan keji tersebut memicu kemarahan para pendukung dan keluarganya yang menggelar demonstrasi menuntut pengusutan tuntas kasus pembunuhan tersebut. Kasus ini juga bukan kasus pembunuhan pertama terhadap tokoh muslim Nepal. Lebih ironis lagi karena lokasi masjid ini dan lokasi kejadian justru tak jauh dari markas kepolisian kota metropolitan Kathmandu. Persatuan Islam adalah ormas Islam Nepal yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan utama memajukan pendidikan bagi muslim Nepal.

Bangunan menara kecil disebelah kiri adalah tempat muazin mengumandangkan azan.

Meski kemudian pemerintahan maois Nepal mencopot kepala kepolisan metro Kathmandu, namun massa yang sudah terlanjur kecewa menuntut pengunduran diri wakil perdana menteri dan Mendagri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kegagalan mereka melindungi warga negaranya dari rangkaian aksi pembunuhan.

Masjid ini juga nyaris menjadi sasaran amuk massa pada 1 September 2004 silam yang melampiaskan kemarahan mereka atas terbunuhnya 12 pekerja Nepal di Iraq. Massa yang marah merusak dan menghancurkan kantor pengerah tenaga kerja di pusat Kathmandu yang dituduh bertanggung jawab atas pengiriman 12 pekerja tersebut ke Iraq, kantor kantor maskapai penerbangan asing tak luput dari amuk massa termasuk Masjid Kashmiri Taqiya yang tak terpisah jauh dari Masjid ini. Aparat keamanan kemudian memblokir kawasan ini dengan pengerahan pasukan dan kendaraan berat militer untuk menghentikan amuk masa, meski sebagian kalangan mengecam pihak keamanan yang dianggap terlambat mengantisipasi tindakan anarkis tersebut.

Nama resmi Masjid ini tertulis dengan hurup besar di gedung kantor pengelola masjid. sedangkan menara kecil ini adalah tempat muazin mengumandangkan azan di masjid Jami Nepal. 

Arsitektural Masjid Jami Nepal

Masjid Jami’ Nepal yang kini berdiri merupakan bangunan baru bukan bangunan asli yang dulu pertama kali dibangun oleh muslim india di tahun 1641-1674 dan kemudian di renovasi total oleh Putri Begum Hazrat Mahal pada tahun 1857. Bangunan masjid ini kini berdiri tiga lantai dalam arsitektur yang lebih modern. Dilengkapi dengan sebuah bangunan menara tinggi sedikit terpisah dari bangunan masjid. Uniknya ada satu bangunan menara lain yang tidak seberapa tinggi di halaman masjid ini yang dijadikan tempat muazin mengumandangkan azan.

Kawasan masjid Jami Nepal di Kathmandu ini kini menjadi pusat aktivitas muslim di kota metropolitan Kathmandu. Berderet toko menyajikan berbagai kebutuhan ummat Islam termasuk rumah makan muslim yang menyediakan makanan halal dan toko toko yang menyediakan berbagai kebutuhan lainnya. Di kawasan masjid ini juga berdiri sekolah islam yang dikelola oleh pengurus masjid. Selama bulan suci Ramadhan secara khusus pengurus masjid menyediakan makanan untuk berbuka puasa bagi jemaah masjid. Penyediaan makanan untuk berbuka ini menjadi suatu perhelatan rutin yang cukup besar di masjid ini.***