Minggu, 08 Januari 2012

Masjid Islamic Center Samarinda – Kalimantan Timur

Islamic Center Samarinda dari arah Sungai Mahakam.

Masjid Islamic Center Samarinda Propinsi Kalimantan Timur terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Sisi depannya berada di Jl. Slamet Riyadi No 1 Samarinda, sedang kanan kirinya diapit oleh Jl. Anggi dan Jl. Meranti sedangkan bagian belakang berada di Jl. Ulin, juga menghadap ke sungai Mahakam. Sangat mudah untuk menemukan Islamic Center Samarinda, lokasinya hanya +/- 2 km dari jembatan Mahakam.


Sejarah Masjid Islamic Center Samarinda - Kaltim

Pembangunan Islamic Center diharapkan dapat membangkitkan semangat kebersamaan dalam upaya menghadapi era global, selain merupakan tuntutan masyarakat untuk Samarinda memiliki sebuah sarana tempat ibadah yang memadai. Lokasi tempat berdirinya ini sebelumnya merupakan areal penggergajian kayu milik PT. Inhutani I yang kemudian dihibahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Proyek Islamic Center Samarinda didanai dengan dana APBD Pemerintah propinsi Kalimantan Timur dibawah Gubernur Kaltim (saat itu) Suwarna Abdul Fatah.

Proses perencanannya melibatkan konsultan perencana arsitektur PT. Anggara Architeam, perencana struktur PT. Perkasa carista estetika, Perencana M&E oleh PT. Meco Systech Internusa dan perencana estetika Biro Arsitektur Achmad Noe’man. Konsultan pengawas yang mengawasi jalannya pembangunan ICS Kaltim dipercayakan kepada PT. Adiya Widyajasa sedangkan pelaksanaan pembangunannya dipercayakan kepada Kontraktor PT. Total Bangun Persada Tbk.

Upacara pemancangan tiang pertama proyek Islamic Center Samarinda oleh Presiden Megawati Sukarno Putri 5 Juli 2001.

Proses pembangunan Islamic Center Samarinda dimulai pada tanggal 5 Juli 2001 ditandai dengan penekanan tombol pemancangan tiang pancang pertama proyek pembangunan islamic Center Samarinda oleh Presiden Megawati Soekarno Putri pada tanggal 5 Juli 2001. Dan tujuh tahun kemudian komplek Islamic Center Samarinda diresmikan oleh Presiden RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudoyono pada tanggal 16 Juni 2008.

Arsitektural Masjid Islamic Center Samarinda

Rancangan menara MICS di-ilhami dari menara masjid Nabawi di Madinah Almukarromah, dan kubah utamanya di-ilhami masjid Haghia Sophia di Istambul – Turki. Menempati area seluas +/- 8 hektar, menyediakan lahan terbuka bagi masyarakat kota Samarinda, termasuk area parkir dan taman yang luas lengkap dengan pohon kurma yang ditanam di halaman depan kawasan masjid menghadirkan kesan Timur Tengah di kota Samarinda. Luas bangunan utama Islamic Center Samarinda seluas 43.500 m2, luas bangunan 7.115 m2, luas lantai basement 10.235 m2, sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 m2, dan lantai utama seluas 8.185 m2, sedangkan luas lantai mezanin 5.290 m2.

Enam menara Masjid Islamic Center Samarinda menyimbolkan enam rukun iman. Kubah besar di atap utama nya di inspirasi dari kubah masjid hagha shofia di Istambul.

Angka Simbolis di Masjid Islamic Center Samarinda

MICS dilengkapi dengan 7 menara terdiri dari satu menara utama setinggi 99 meter terpisah dari bangunan utama masjid. Ketinggian 99 meter menara utama tersebut bermakna 99 isim asmaul husna atau 99 nama-nama Allah. Menara utama tersebut terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Empat menara penjuru setinggi 70 meter dibangun di empat penjuru masjid ditambah dua menara gerbang yang berada di sisi kiri dan kanan gerbang utama masing masing setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai enam rukun iman. Selain angka 99 dan angka 6 masih ada angka 33 di masjid ini mewakili 33 biji tasbih yang diwakili oleh jumlah anak tangga menuju lantai utama dari lantai dasar MICS.

Lantai Basement MICS digunakan untuk area parkir kendaraan dengan kapasitas 200 mobil dan 138 buah sepeda motor, toilet pria dan wanita untuk para jamaah. Dan Ground water Tank (GWT) sebagai penampungan air bersih untuk toilet dan tempat wudhu. MICS juga dilengkapi dengan Plaza Dalam (inner court yard) dan Plaza Luar mampu menampung jamaah sebanyak 10.000 orang. Di samping kiri dan kanannya difungsikan sebagai area parkir berkapasitas 391 mobil dan 430 sepeda motor. Di Plaza ini disediakan keran keran air di sisi kiri dan kanan yang berfungsi sebagai tempat wudhu.

Islamic Center Samarinda. Menara tertinggi disebelah kiri setinggi 99 meter.

Lantai dasar Islamic Center Samarinda dipergunakan sebagai ruang pertemuan. Biasanya dipakai untuk acara seminar dan resepsi pernikahan dengna daya tampung ruangan mencapai 5000 undangan. Permukaan lantai masjid ini ditutup dengan granit pilihan dengan aneka ragam corak menampilkan nuansa hangat namun tetap sejuk dengan pemakaian AC di dalam ruangan.

Di area lobi lantai dasar masjid ini juga menjadi tempat sebuah bedug berukuran besar yang dibuat dari sebatang kayu dari hutan Kalimantan utuh berdiameter 180 senti meter, diameter yang bahkan lebih tinggi dari rata rata tinggi orang Indonesia. Batang kayu untuk beduk yang tidak bulat sempurna membuat tampilan beduk ini sedikit berbeda dan cukup unik. Beduk besar ini merupakan sumbangan dari Bapak H. Suwarna (mantan) Gubernur Kalimantan Timur.

Selasar yang mengelilingi halaman tengah Islamic Center Samarinda.

Dibelakang beduk ini ditempatkan maket model Masjid Islamic Center Samarinda ini dalam sebuah meja dari kaca, maket yang menjadi salah satu perhatian utama para pengunjung masjid ini. sedangkan di ketinggian plafon masjid dipercantik dengan lampu gantung dari bahan kuningan. Bahan kuningan yang dipakai pada lampu gantung ini memberi sentuhan klasik dalam balutan teknologi modern.

Fasilitas Masjid Islamic Center Samarinda

TK Internasional, semula bangunan ini terdiri dari TK, Kantin dan Koperasi. Kemudian disesuaikan fungsinya menjadi TK Internasional.

Bangunan Utilitas, Bangunan ini terdiri dari Ruang Genset, Ruang Pompa, GWT, Ruang Travo serta ruang penyimpanan BBM untuk Genset.

Poliklinik Plus, Gedung poliklinik 1 lantai ini menerima pasien untuk rawat inap, operasi dan bersalin.

Asrama, gedung asrama terdiri dari asrama putra dan asrama putri. masing-masing gedung terdiri dari 2 lantai. masing-masing lantai ada 13 kamar tidur.

Gedung Serba Guna, Gedung ini berfungsi sebagai ruang pertemuan.

Islamic Center Samarinda dengan gemerlap cahaya lampunya.

Rumah Imam, Rumah imam ini nantinya sebagai rumah tinggal bagi Imam masjid Islamic Center. Bangunan rumah imam terdiri dari kopel 2 rumah berdampingan.

Rumah Penjaga Masjid, Rumah penjaga masjid nantinya difungsikan bagi rumah tinggal pengelola masjid islamic center. Terdiri dari bangunan kopel 2 rumah berdampingan.

Tata Lampu Masjid Islamic Center Samarinda (MICS)

Menyangkut penerangan masjid di malam hari di Masjid Islamic Center Samarinda ini cukup mendapat perhatian dari Imam Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub saat bersama gubernur Kaltim Awang Faroek mengisi seminar sehari tentang ibadah qurban di Ruang Ruhui Rahayu, pada hari Selasa 9 November 2010. Beliau memberi saran agar bangunan megah tersebut tetap diberikan penerang yang cukup pada malam hari.

Interior Islamic Center Samarinda.

Hal tersebut sangat penting selain agar tetap memberikan keindahan di malam hari, juga akan menghindari kemungkinan terjadinya pemanfaatan yang keliru oleh masyarakat, Jika ini bisa dilakukan, justru daerah ini akan mendapat keuntungan yang lebih besar. Selain memberi kesan positif, keindahan Islamic Center, siang atau malam hari akan membantu kepentingan promosi daerah.

Saat ini Masjid Islamic Center Samarinda dilengkapi dengan sistim tata lampu yang sangat baik, menghadirkan Masjid Islamic Center Samarinda sebagai salah satu pemandangan indah di gelap malamnya kota Samarinda. Kemegahan Masjid Islamic Center Samarinda ini tampak begitu anggun dalam kemilau lampu yang meneranginya, Tak salah bila warga kota Samarinda berbangga hati dengan salah satu masjid termegah dan terindah di Asia Tenggara ini.***

Selasar Islamic Center Samarinda.

Ikon baru kota Samarinda terlihat menawan dari arah Sungai Mahakam.
Suasana malam di Islamic Center Samarinda.



Kamis, 05 Januari 2012

Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Raya Bandung Jawa Barat.

“Urang Bandung” masih mengingat masjid ini sebagai Masjid Agung Bandung, masjid megah berarsitektural khas Indoensia dengan atap limas di alun alun kota Bandung. Namun Masjid Agung Bandung dengan Alun alun nya dulu itu, kini sudah tak ada lagi, berganti dengan sebuah masjid Megah dengan menara kembar yang begitu mendominasi ruang langit kota Bandung. Masjid Agung Bandung itupun kini berganti nama sebagai Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat. Nama Jawa Barat menempel pada nama masjid ini karena memang masjid ini kini menjadi Masjid Propinsi bagi Propinsi Jawa Barat.

Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat yang dulu dikenal dengan Masjid Agung Bandung, selesai dibangun kembali secara keseluruhan pada 13 Januari 2006. Pembangunan itu termasuk dengan penataan ulang Alun-alun Bandung, pembangunan dua lantai basement dan taman. Secara resmi pembangunan fisik masjid, membutuhkan waktu : 829 hari atau 2 tahun 99 hari, sejak peletakan batu pertama 25 Februari 2001 sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat (saat itu) H.R. Nuriana.

Lokasi Masjid Raya Bandung

Jl. Asia Afrika (Alun-alun Bandung)
Bandung – 40251
Jawa Barat, Indonesia

Masjid Raya Bandung berada di ruas Jalan Asia Afrika, pusat kota Bandung. Lokasinya yang berada di pusat kota membuatnya begitu mudah untuk ditemukan. Tak jauh dari masjid ini diruas jalan yang sama berdiri megah Gedung Asia Afrika dan hotel Preanger, dua bangunan yang begitu lekat dengan sejarah Konfrensi Asia Afrika tahun 1955. Ruas jalan antara Hotel Homman dan Gedung Asia Afrika ini menjadi saksi bisu perjalanan para pemimpin negara negara Asia Afrika yang berjalan kaki dari  Hotel Homman tempat mereka menginap ke lokasi konfrensi di Gedung Asia Afrika termasuk untuk sholat di Masjid Agung Bandung dan sebaliknya.


Sejarah Masjid Raya Bandung Jawa Barat

Masjid Agung Bandung dibangun pertama kali pada tahun 1812 bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Bangunan awal tersebut telah mengalami tujuh kali perombakan hingga ahirnya menjelma pada bentuknya yang terahir bertahan hingga tahun 2001.

Pada awalnya Masjid Agung Bandung hanya berbentuk bangunan panggung tradisional yang berbalutkan dinding-dinding yang terbuat dari anyaman bambu beratap rumbia dan atapnya belum berbentuk limasan. Begitu pula dengan aksesoris masjid masih menggunakan bahan-bahan tradisional. Juga ada kolam cukup luas yang digunakan untuk berwudhu. Tahun 1825 terjadi kebakaran besar di sekitar Alun-alun, air kolam tersebut berperan besar dalam menyelamatkan bangunan Masjid Agung Bandung.

Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakkan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata.

Masjid Raya Bandung.

Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung. Kemudian bangunan masjid kembali mengalami perubahan pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Disebut Bale Nyungcung karena  bentuk atapnya yang lancip (nyungcung) seperti gunungan (Bale berarti tempat pertemuan masyarakat dan nyungcung berarti lancip). Disebutkan juga bahwa Masjid Agung Bandung yang bertempat di Alun-Alun Bandung ini berhadapan dengan Bale Bandong yang berfungsi sebagai tempat pertemuan tamu kehormatan Kabupaten Bandung.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lainnya termasuk digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).

Masjid Raya Bandung dari masa ke masa.

Tahun 1930, perombakan kembali dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pendek pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung. Sejak tahun itu pula, bangunan sekeliling Alun-alun didirikan semacam benteng atau tembok berlubang dengan ornamen khas gaya Priangan. Motif pada tembok itu adalah sisik ikan hasil rancangan Maclaine Pont, arsitek yang merancang Aula Barat ITB

Tahun 1955, sehubungan dengan penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Masjid Agung Bandung lagi-lagi mengalami perombakan besar. Tampilan masjid bagian depan dirubah. Kedua menara pendek dibongkar dan serambi diperluas sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk sholat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.

Sebuah menara tunggal didirikan di halaman depan masjid sebelah selatan. Perubahan drastis terjadi pada bentuk atap bangunan utama. Atapnya berganti beratapkan kubah bawang dengan gaya timur tengah rancangan Ir. Soekarno. Kubah bawang ini bertahan selama 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang, pernah diperbaiki pada tahun 1967, dan kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk limasan lagi pada tahun 1970.

Sepasang menara Masjid Raya Bandung menjulang dilangit Bandung.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudhlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar
, area serambi terhubung ke Alun alun dengan tangga besar dan jembatan yang melintas diatas ruas jalan di depan masjid. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo. Ini adalah bentuk terahir Masjid Agung Bandung sebelum dirombak besar besaran dan berganti nama menjadi Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat.

Perombakan Terahir Tahun 2001

Perombakan masjid Agung Bandung tahun 2001 merupakan bagian dari rencana penataan ulang Alun-alun Bandung. rancangan awal pembangunan kembali Masjid Agung Bandung di release ke media nasional pada edisi Minggu tanggal 4 Maret 2001 di harian Kompas. Salah seorang perencananya Ir. H. Keulman mamaparkan bahwa pembangunan Masjid Agung dan penataan alun alun sekaligus diharapkan menjadi ‘oase’ ditengah hiruk pikuk kegiatan pusat kota dan sekaligus menjadi landmark-nya kora Bandung. dalam perencanaan tersebut penataan Masjid Agung dan alun alun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan tanpa mengurangi arti alun alun sebagai ruang terbuka umum.

Penataan tersebut tak lepas dari fakta bahwa sekian lama pamor dan karisma Masjid Agung sebagai masjid paling tua di kota Bandung ‘seolah’ tenggelam dibalik gemerlapnya pusat hiburan dan himpitan gedung gedung pusat perbelanjaan. Kawasan alun alun Bandung memang sudah menjelma menjadi kawasan inti pusat kota Bandung yang pada kenyataannya bergerak cepat sebagai pusat kegiatan ekonomi paling besar melampaui kemampuan daya dukungnya. Efek negatif dari perkembangan tersebut kawasan alun alun pada malam hari telah lama dijadikan kegiatan esek esek. Perombakan total kawasan tersebut salah satunya bertujuan mengembalikan pamor Masjid Agung Bandung.

Interior Masjid Raya Bandung.

Masjid Raya Bandung yang kini kita lihat merupakan hasil rancangan 4 orang perancang kondang dari Bandung masing masing adalah
Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Rancangan awalnya akan tetap mempertahankan sebagian bangunan lama Masjid Agung Bandung termasuk jembatan hubung masjid dengan alun alun yang melintas di atas jalan alun alun barat dan dinding berbentuk sisik ikan di sisi depan masjid. Satu satunya perubahan pada bangunan lama adalah perubahan bentuk atap masjid dari bentuk atap limas diganti dengan kubah besar setengah bola berdiameter 30 meter sekaligus menjadi kubah utama.

Untuk mengurangi beban, kubah tersebut dibangun dengan konstruksi space frame yang kemudian ditutup dengan material metal yang dipanaskan dalam suhu sangat tinggi. Selain satu kubah utama Masjid Raya Bandung dilengkapi lagi dengan dua kubah yang ukurannya lebih kecil masing masing berdiameter 25 meter diletakkan diatas bangunan tambahan. Sama seperti kubah utama dua kubah tambahan ini menggunakan konstruksi space frame namun ditutup dengan material transfaran untuk memberi efek cahaya ke dalam masjid.

Bangunan tambahan didirikan di atas lahan yang sebelumnya merupakan ruas jalan alun alun barat di depan masjid. Bangunan tambahan ini dilengkapi dengan sepasang menara (rencananya setinggi 99 meter) namun kemudian dikurangi menjadi 81 meter saja, terkait dengan keselamatan penerbangan sebagaimana masukan dari pengelola Bandara Husein Sastranegara – Bandung. Interior bangunan tambahan ini dirancang dengan ornamen ukiran Islami dengan mengutamakan seni budaya Islami tatar sunda. Selain itu Masjid Raya Bandung dilengkapi dengan dua lantai basemen yang dibagian atasnya tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka untuk publik.

Bentuk terahir Masjid Agung sebelum sebelum dirombak ulang dan dibangun  kembali tahun 2001 (harian kompas 4 Mar 2001)

Proses pembangunan Masjid Raya Bandung dimulai dengan peletakan batu pertama prose pembangunan kembali pada tanggal 25 Februari 2001. Keseluruhan proses pembangunannya memakan waktu selama 829 hari (2 tahun 99 hari) sejak peletakan batu pertama hingga diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Secar keseluruhan proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun alun dan masjid Agung Bandung dinyatakan selesai pada tanggal tanggal 13 Januari 2006. Bersamaan dengan pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid propinsi, n
amun masyarakat Bandung kebanyakan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung.

Arsitektur Masjid Raya Bandung, Jawa Barat.

Seperti yang kita lihat sekarang terdapat dua menara kembar di sisi kiri dan kanan masjid setinggi 81 meter yang selalu dibuka untuk umum setiap hari Sabtu dan Minggu. Atap masjid diganti dari atap joglo menjadi satu kubah besar pada atap tengah dan kubah lebih kecil pada atap kiri-kanan masjid, dinding masjid terbuat dari batu alam kualitas tinggi. Kini luas tanah keseluruhan masjid adalah 23.448 m² dengan luas bangunan 8.575 m² dan dapat menampung sekitar 12.000 jamaah.

Sementara itu halaman depan masjid yang dirombak. Parkir kendaraan ditempatkan di basement sementara bagian atasnya adalah taman, sebuah area publik tempat masyarakat berkumpul. Ini adalah salah satu upaya pemkot mengembalikan nilai Alun-alun seperti dahulu kala. Ruang bawah tanah untuk tempat parkir itu juga semula direncanakan untuk menampung para pedagang jalanan (PKL).

Dua menara masjid Raya Bandung dan gedung menara BRI.

Saat ini, dua menara kembar yang mengapit bangunan utama masjid dapat dinaiki pengunjung. Di lantai paling atas, lantai 19, pengunjung dapat menikmati pemandangan 360 derajat kota Bandung. Dari puncak menara kita dapat melihat wajah kota Bandung
dari atasnya. Dua menara yang cukup tinggi ini selain dapat melihat kota Bandung dari puncaknya, menara ini juga terlihat dengan jelas dari berbagai sisi kota Bandung.

 Aktivitas Masjid Raya Bandung

Sejak dulu ketika masih bernama dan berstatus sebagai Masjid Agung Bandung, Masjid ini memang meriah dengan berbagai aktivitas rutin termasuk kegiatan remaja Islam  yang tergabung dalam Remaja Islam Masjid Agung (RISMA) Bandung. Di bulan Ramadan. hampir tidak pernah ada waktu kosong dari mulai shubuh hingga lepas tarawih. Sejak shubuh sudah kegiatan kuliah subuh untuk remaja dan dewasa. Disambung dengan majelis ta'lim hingga menjelang dzuhur. Lalu dilanjutkan tadarus hingga lepas Ashar dan berbuka bersama. Usai berbuka, para jamaah biasa shalat maghrib bersama dilanjutkan isya dan tarawihan.

Suasana malam di Masjid Raya Bandung.

Selama bulan suci
Ramadan, Masjid Raya Bandung kerap menggelar pesantren kilat bekerjasama dengan sejumlah sekolah di Bandung. Biasanya sebelum masuk bulan Ramadhan pihak sekolah sudah menghubungi masjid untuk menyelenggarakan pesantren kilat (SANLAT) bagi anak anak didiknya. Pengajar-pengajarnya diambil dari mudaris Masjid Raya Bandung dan sejumlah Remaja Masjid.

Durasi pesantren kilat berkisar tiga hari hingga satu minggu. Kegiatan dimulai dari siang hingga menjelang maghrib.
Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Raya Bandung juga menyediakan ta'jil gratis setiap hari selama sebulan penuh untuk para jemaah. Setiap harinya, tak kurang dari 15 ribu jemaah memadati masjid terbesar Jawa Barat ini. So. Bila sedang ke Bandung jangan hanya ingat untuk shoping semata ya, ingat juga untuk singgah ke Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat.***


Senin, 02 Januari 2012

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang.

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di
Semarang menambah lagi khasanah arsitektural masjid masjid Indonesia dengan arsitekturalnya yang cukup unik dengan memadukan arsitektural jawa dengan arsitektural Eropa serta arsitektural masjid universal ke dalam satu bangunan masjid dengan bentuk yang begitu elok dilengkapi fitur masjid modern abad ke 21. Bentuk atap seperti atap MAJT ini mirip dengan atap Masjid Raya Al-Bantani, Banten dan atap Masjid Akbar di kawasan bekas bandara Kemayoran Jakarta Pusat, perpaduan bentuk atap yang unik tapi tak serupa juga dapat ditemui di Masjid Muammar Qaddafy, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan masjid provinsi bagi provinsi Jawa Tengah. Keberadaan bangunan masjid ini tak lepas dari Masjid Besar Kauman Semarang. Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya tanah banda (harta) wakaf milik Masjid Besar Kauman Semarang yang telah sekian lama tak tentu rimbanya. Hasil perjuangan banyak pihak untuk mengembalikan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang itu ahirnya berbuah manis setelah melalui perjuangan panjang. MAJT sendiri dibangun di atas salah satu petak tanah banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang yang telah kembali tersebut.

Lokasi Masjid Agung Jawa Tengah

Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo
Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang
Jawa Tengah - Indonesia


Sejarah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Pembangunan MAJT berawal dari kembalinya lahan tanah yang merupakan banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang kepada masyarakat muslim Semarang setelah melalui perjuangan panjang sejak tahun 1980. Kembalinya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang inilah yang menjadi latar belakang sejarah pendirian Masjid Agung Jawa Tengah.

Raibnya banda wakaf Masjid Besar Kauman Semarang berawal dari proses tukar guling tanah wakaf Masjid Kauman seluas 119,127 ha yang dikelola oleh BKM (Badan Kesejahteraan Masjid) bentukan Bidang Urusan Agama Depag Jawa Tengah. Dengan alasan tanah itu tidak produktif, oleh BKM tanah itu di tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak lewat PT. Sambirejo. Kemudian berpindah tangan ke PT. Tensindo milik Tjipto Siswoyo.

Proses tukar guling tersebut tidak mulus karena tanah di Demak itu sudah tak tentu rimbanya karena sudah ada yang menjadi laut, sungai, kuburan dan lainnya. Berbagai upaya hukum yang ditempuh untuk mengembalikan tanah itu menemui jalan buntu. Dari tingkat Pengadilan Negeri hingga kasasi di Mahkama Agung, BKM Masjid Kauman selalu kalah. Hari Senin 27 Juli 1998, KHMA Sahal Mahfudh, waktu itu Ketua Umum MUI Jawa Tengah, bersama Drs. H. Ali Mufiz Ketua MUI dan dosen Fisip Undip, Dr. H. Noor Achmad, MA (Ketua Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid) dan Drs. HM Chabib Toha MA sekretaris MUI Jawa Tengah mengadakan rapat tentang bandha Masjid Kauman Semarang yang hilang.

Akhirnya disepakati membentuk tim terpadu pengembaliah banda wakaf Masjid Agung Kauman Semarang yang dimotori oleh Mayjend TNI Mardiyanto selaku Pangdam IV Diponegoro dan kepala Badan Koordinasi Stabilitas Nasional Daerah (Bakortanasda) Jawa Tengah. sedangkan ketua tim terpadu dijabat oleh Kol.Bambang Sugiyarto kemudian dilanjutkan oleh Kol. Art. Slamet Prayitno yang menjabat Badan Kesbang dan Linmas Jawa Tengah.

MAJT dengan payung payungnya yang terbuka.

Bersama para tokoh masyarakat Kauman seperti KH. Turmudzi TA, KH. Hanief Ismail Lc, H. Hasan Toha Putra MBA, Ir. H. Khammad Maksum, H. Muhaimin MS, Ssos dengan dukungan wakil rakyat DPRD Jawa Tengah, akhirnya dukungan untuk mengembalikan tanah bandha masjid Kauman semakin kuat.

Akhirnya tanggal 8 Juli 2000, Tjipto Siswoyo menyerahkan sertifikat tanah seluas 69,2 ha yang
dikuasainya kepada Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Bibit Waluyo selaku Ketua Bakortanasda Jawa Tengah, yang selanjutnya diserahkan kepada Gubernur Mardiyanto.

Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah

Pada tanggal 6 juni 2001 Gubernur Jawa Tengah membentuk Tim Koordinasi Pembangunan Masjid Agung Jawa Tengah yang terdiri atas unsur Pemerintahan Propinsi, Majelis Ulama Indonesia, Masjid Besar Kauman Semarang, Departemen Agama, Departemen Pekerjaan Umum, Organisasi Kemasyarakatan Islam, Pemerintah Kota, dan Cendekiawan.

Tim ini yang kemudian lebih dikenal sebagai Panitia Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), bekerja keras menanggulangi masalah-masalah baik yang mendasar maupun teknis. Berkat niat yang luhur dan silaturahmi yang erat, dalam waktu kerja yang amat singkat keputusan-keputusan pokok sudah dapat ditentukan : status tanah, persetujuan pembiayaan dari APBD oleh DPRD Jawa Tengah, serta pemiilhan lahan tapak dan program ruang.

MAJT.

Adalah pemilihan lahan tapak yang banyak disoroti masyarakat, karena membutuhkan luas lahan 10 hektar. Padahal tanah wakaf yang dikembalikan ke Masjid Besar Kauman Semarang terdiri atas 6 blok terpisah-pisah, dan hanya satu yang ukurannya cukup besar, mancapai 10 hektar. Lahan di Jl. Gajah yang cukup besar ini terletak sekitar 800 m dari Jl. Arteri Soekarno Hatta yang merupakan jala
n besar.

Pada bulan September 2001, Panitia berhasil menerbitkan sebuah dokumen teknis yang menjadi kerangaka acuan kerja bagi para peserta sayembara. Masjid ini diharapkan menjadi pusat pelayanan ibadah dan kemasyarakatan, sekaligus pusat pelayanan ibadah dan kemasyarakatan, sekaligus pusat pendiidkan dakwah islam ,silaturahmi dan komunikasi dunia islam selain itu masjid tersebut juga diharapkan dapat menjadi pusat inovasi pemikiran islam dan pusat pemberdayaan ekonomi umat. Lingkup pelayanan yang dikehendaki adalah Jawa Tengah, bertempat di Semarang. Karena skala ukurannya tersebut, Masjid Agung Jawa Tengah harus pula menjadi tuntunan atau landmark kota. Untuk itu bentuk masjid haruslah mengikuti perkembangan jaman sekaligus menyiratkan jiwa napas Jawa Tengah.

Proses Pembangunan MAJT

Pembangunan masjid tersebut dimulai pada hari Jumat, 6 September 2002 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang perdana yang dilakukan Menteri Agama Ri, Prof. Dr. H. Said Agil Husen al-Munawar, KH. MA Sahal Mahfudz dan Gubernur Jawa Tengah, H. Mardiyanto. Pemasangan tiang pancang pertama tersebut juga dihadiri oleh tujuh duta besar dari Negara-negara sahabat, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Mesir, Palestina, dan Abu Dabi. Dengan demikian mata dan perhatian dunia internasional pun mendukung dibangunnya Masjid Agung Jawa Tengah tersebut. Sebelum dilakukan pemasangan tiang pancang tersebut, dilaksanakanlah pengajian dan mujahadah oleh kiai-kiai karismatik seperti KH. Munif Zuhri dari Girikusumo, KH. Baqoh Arifin dari Kajoran, KH. Habib Luthfi dari Pekalongan dan lain-lain.

Masjid Agung Jawa Tengah.

Peresmian Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Akhirnya umat islam di Jawa tengah patut berbangga bahwa pada akhirnya mereka dapat memiliki masjid agung yang megah dan indah, diresmikan pada tanggal 14 November 2006 oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono. Masjid dengan luas areal tanah 10 Hektar dan luas bangunan induk untuk shalat 7.669 meter persegi secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.

Meskipun baru diresmikan pada tanggal 14 Nopember 2006, namun masjid ini telah difungsikan untuk ibadah jauh sebelum tanggal tersebut. Masjid megah ini telah digunakan ibadah shalat jum’at untuk pertama kalinya pada tanggal 19 Maret 2004 dengan Khatib Drs. H. M. Chabib Thoha, MA, (Kakanwil Depag Jawa Tengah)

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak para ulama, kyai, cendekiawan, dan umat Islam untuk menjadikan Masjid Agung Jawa Tengah sebagai pusat keunggulan dakwah dan siar Islam. Hal itu disampaikan Presiden dalam sambutannya ketika meresmikan Masjid Agung Jawa Tengah. Hadir pula Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri M. Ma'ruf, dan Gubernur Jateng Mardiyanto.

Presiden meresmikan Masjid Agung Jateng ini dengan menekan tombol sirine dan penandatanganan replika prasasti. Sedangkan prasati yang asli sudah dipasang secara permanen di halaman depan masuk Masjid setinggi 3,2 meter dengan berat 7,8 ton. Bahannya dari batu alam yang diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jateng. Prasasti ini dipahat Nyoman M. Alim yang juga dipercaya membuat miniatur candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna, Austria, pada tahun 2001.

Masjid Agung Jawa Tengah.

Usai peresmian, Presiden beserta Ibu Negara dan rombongan terbatas mengadakan peninjauan ke dalam masjid dan melihat maket serta fasilitas yang dimiliki, dipandu Ahmad Fatani selaku desainer dari Masjid ini.

MAJT Dalam Angka

Biaya pembangunan MAJT : Rp 198.692.340.000.
Biaya pembangunan jalan tembus ke jalan Soekarno-Hatta : Rp 6,8 miliar
Lua area Masjid Agung Jawa Tengah : kurang lebih 10 hektar
Luas bangunan induk seluas 7.669 m2
Kapasitas bangunan induk : 6.000 jamaah.
Luas Pelatarannya 7.500 m2, dilengkapi 6 payung raksasa
Kapasitas pelataran masjid : 10.000 jamaah.
Kapasitas bangunan sayap kanan : 2000 jemaah
Kapasitas wisma penginapan : 23 Kamar
Tinggi menara : 99 meter

Arsitektural MAJT

Masjid Agung Jawa Tengah dirancang dalam gaya arsitekrural campuran Jawa, Islam dan Romawi. Diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Bandung yang memenangkan sayembara desain MAJT tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.  

Interior MAJT.

Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar dipelataran masjid. Pilar pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“. 

Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas.

Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.

Jalan Akses MAJT

MAJT dilengkapi dengan beberapa jalan akses. Satu jalan akses utama ke ruas Jalan Gajah Raya yang merupakan jalan akses pertama MAJT, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan jalan akses ke Jalan Soekarno Hatta sepanjang 750 meter yang dibangun sebagai persiapan peresmian MAJT oleh presiden SBY 14 November 2006 silam. Berikutnya, akan dibuat juga akses baru melalui Jl Jolotundo dan akses belakang menuju Jembatan Kartini dan jalan Citarum.

Masjid Agung Jawa Tengah.

Pendanaan Pengelolaan MAJT

MAJT merupakan salah satu mega proyek di propinsi Jawa Tengah dan membutuhkan dana tidak sedikit untuk pemeliharaannya. Pendanaan tersebut akan ditanggung dalam APBD provinsi Jateng hingga dua tahun setelah serah terima ke pengelola dan selanjutnya diharapkan MAJT sudah mampu membiayai operasionalnya sendiri dari sumber dana mandiri dari hasil pengelolaan fasilitas yang dimilikinya seperti pemanfaatan convention hall, wisma penginapan, menara pandang, serta fasilitas lain yang dimiliki MAJT, dapat digali sumber-sumber pendapatan itu. mulai 2008, MAJT tidak akan mengganggu lagi APBD. Bahkan, mulai 2008 mampu menyantuni masjid-masjid lain.

Susunan Pengurus MASA BAKTI 2009 - 2012
                       
Pembina : H. Mardiyanto, H. Bibit Waluyo dan H. Masyhudi           
9 orang dewan penasihat diketuai oleh H. M.A Sahal Mahfudz       
8 orang dewan pengawas diketuai oleh KH. Masruri Mughni

Pengelola MAJT terdiri dari :

Ketua : Drs. H. Ali Mufiz, ditambah dengan MPA,
Wakil ketua I : Dr. H. Noor Achmad, MA
Wakil Ketua II : Prof. DR. H. Ali Mansur, SH. M.Hum
Sekretaris : Drs. H. Agus Fathuddin Yusuf
Wakil Sekretaris : Drs. Muchsin Jamil
Bendahara : Hj. Gatyt Sari Chotijah, SH
Wakil Bendahara : Hj. Sofiana Subarakah

Pengelolaan MAJT dilengkapi dengan beberapa bidang yaitu : 

Bidang Ketakmiran : Prof. DR. H. Muhtarom. HM,
Sub Bidang peribadatan : KH. Ubaidillah Shodaqoh,
Sub Bidang Pendidikan, dakwah & Wanita : Drs. KH. Ahmad Hadlor Ikhsan,
Sub Budang Kemasyarakatan : Drs. H. Rozihan, SH,
Sub Budang PHBI : Muhaimin, S.Sos,
Bidang Usaha : Ir. h. Khamad Ma'sumah,
Sub Bidang Kerjasama : Kukrit Suryo Wicaksono, MBA, 
Sub Bidang Aset : Ir. H. Djatmiko Waluyono,
Sub Bidang umum dan Ketertiban : Drs. Kombes Pol. H. Chasanan, SH, MBA, dan
Sub Budang Humas : Drs. H. Abdul Wahid, SH

MAJT memiliki 4 orang Imam Besar yang kesemuanya adalah hafiz Al-qur’an dengan gaya bacaan ala Masjidil Haram Makkah Almukarramah, yaitu (1) KH Ulil Abshar Alhafidz dari Jepara (2). KH Zaenuri Ahmad Alhafidz dari Salatiga (3). KH Ahmad Thoha Alhafidz dari Pekalongan, dan (4). KH Muhaimin Alhafidz dari Semarang.

Fasilitas MAJT

Luas tanah kompleks MAJT 10 hektar, Luas bangunan MAJT 7,669 m2, kran wudhu pria 93 wanita 56, kran gedung sayap kanan 50 buah, gedung sayap kiri 20 buah, jumlah total 219 kran, urinoir VIP 14, urinoir umum 16, WC pria 8 buah wanita 8 buah, kamar mandi pria 6 buah wanita 6 buah, washtafel 4 pria 4 wanita, 1 ruang imam, 1 ruang transit, 1 kantor sekretariat MAJT, 1 ruang sidang dan Parkir VIP kapasitas 6 mobil
                         
Menara Asma Al-Husna Setinggi 99 Meter terdiri dari : lantai 1 untuk Studio Radio DAIS MAJT, lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal.

Pusat penampungan pedagang : Souvenir shop, Sebanyak 70 kios, Pedagang makanan, Toilet Umum 2 buah untuk wanita dan 2 buah untuk pria.

Ruang perkantoran, Luas total 2100 m2, Jumlah perkantoran 19 unit, Hall 200 m2, Fasilitas lain berupa AC, Telepon Telkom, Listrik PLN / Genset

Ruang perpustakaan : Luas 1650 m2, Counter desk 1 buah, Toilet 1 buah di lantai 1 dan 1 buah di lantai 2, Ruangan perpustakaan yang mempunyai fasilitas AC sebanyak 2 buah.

Area parkir, Bus 30 buah, Kapasitas mobil 680 buah, Sepeda motor 670 buah.

Pertamanan : Luas 48.500 m2, Sektor pintu gerbang, Sektor Selatan Convention Hall, Sektor Sebelah utara perpustakaan, Sektor Belakang Masjid, Sektor Timur Rumah Kyai

Listrik : Kebutuhan daya listrik 685 KVA, Konsumsi listrik perbulan Rp. 30.000.000, Listrik yang sekarang sudah ada 105 KVA, Biaya listrik sekarang Rp. 14.000.000,-

Fasilitas Water Supply : Sumur 1 buah, Tower dengan kapasitas 25 m3, Tinggi tower 30 m, Pompa air 1 buah berkekuatan 3 HP / PK.

Dilengkapi 6 payung raksasa otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi, Tinggi masing masing payung elektrik adalah 20 meter dengan diameter 14 meter. Payung elektrik dibuka setiap shalat Jumat, Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kondisi angin tidak melebihi 200 knot, namun jika pengunjung ada yang ingin melihat proses mengembangnya payung tersebut bisa menghubungi pengurus masjid.

MAJT memiliki koleksi Al Quran raksasa berukuran 145 x 95 cm². Ditulis tangan oleh Drs. Khyatudin, dari Pondok Pesantren Al-Asyariyyah, Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Lokasi berada di dalam ruang utama tempat shalat.

Beduk raksasa berukuran panjang 310 cm, diameter 220 cm. Merupakan replika beduk Pendowo Purworejo. Dibuat oleh para santri pondok pesantren Alfalah, Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, asuhan KH Ahmad Sobri, menggunakan kulit lembu Australia.

Tongkat khatib MAJT merupakan tongkat pemberian Sultan Hasanal Bolkiah dari Brunei Darusalam.***