Jumat, 24 September 2010

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan


Masjid Nurul Huda Dongkelan,  batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masjid Pathok Negoro Dongkelan Kauman atau sering juga disebur Nurul Huda merupakan salah satu masjid Pathoknegara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan untuk menangkal serangan musuh. Dalam sejarahnya sempat ludes dibakar oleh Belanda dalam perang melawan Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830, kemudian dibangun kembali dan fungsinya sebagai basis pertahanan negara pun terhapus dengan sendirinya ketika Republik Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan asing. Di sebelah barat masjid terdapat komplek makam tua. Di sini dimakamkan Kiai Syihabudin yang menjadi cikal bakal desa Dongkelan sebagai tanah perdikan.

LOKASI

Masjid Nurul Huda Dongkelan yang terletak di Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Seperti halnya Masjid Pathok Negoro lain di Yogyakarta, Masjid Nurul Huda Dongkelan, memang sederhana dan berfungsi sebagai tempat beribadah meskipun keberadaannya hingga kini telah berumur lebih kurang 230 tahun, masjid ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat sekitar.

 

 SEJARAH

Masjid Pathoknegara Nurul Huda didirikan pertama kali tahun 1775. Sejarah masjid ini berawal saat Pangeran Mangkubumi mengadakan sayembara untuk mencari pengawal yang memiliki kesaktian tinggi. Dari sejumlah kontestan yang ikut, sayembara tersebut akhirnya dimenangkan oleh Kiai Syihabudin. Setelah Pangeran Mangkubumi menjadi raja pertama di Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756, Kiai Syihabudin diangkat sebagai penghulu, mengelola masjid di atas tanah perdikan (Tanah Bebas Pajak) Desa Dongkelan.

Di masa perang Jawa yang dipimping Oleh Pangeran Diponegoro (putra dari Sultan Hamengkubuwono III) melawan tentara penjajah Belanda dalam kurun tahun 1825-1830M masjid ini pernah di bakar habis oleh Belanda. Mereka menganggap Masjid Nurul Huda Dongkelan sebagai tempat berkumpulnya pemberontak. Seusai perang itu, pihak keraton bersama-sama masyarakat Kauman Dongkelan membangun kembali Masjid Nurul Huda Dongkelan

ARSITEKTUR MASJID

Suasana tenang penuh kesederhanaan, masih tercermin hingga sekarang. Arsitektur masjid yang dibangun Keraton Yogyakarta sebagian masih menyisakan kekhasan masjid keraton pada masa itu. Pilar-pilar penyangga masjid tampak minimalis, hanya ada sedikit goresan motif ukiran. Lantai masjid yang dulunya berwarna hitam, kini hanya digantikan keramik putih polos.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan.

Beduk warna coklat kusam berusia 106 tahun di sayap utama serambi masjid juga masih terdapat di masjid ini. Bangunan masjid ini terhitung kecil dibandingkan Masjid Pathok Negoro lainnya, yaitu seluas lebih kurang 200 meter persegi.

RENOVASI DAN PERLUASAN

awalnya bangunan masjid tidak begitu luas dan hanya beratapkan ijuk. Namun, kesederhanaan tersebut tidak menyurutkan niat masyarakat Dongkelan untuk beribadah dan memperdalam ilmu keagamaan dan “kanuragan”. Awalnya (1830-an), bagian inti masjid dibangun lagi dari puing puing kehancuran akibat dibakar oleh Belanda di masa Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Kemudian, mengacu pada tulisan di saka guru serambi masjid berbahan kayu jati yang menunjukkan angka 1948, dimulailah renovasi Masjid Nurul Huda Dongkelan tahap berikutnya.

Namun, luas bangunan masjid praktis tak banyak berubah setelah renovasi itu. Pada tahun 1950-an, Masjid Nurul Huda Dongkelan akhirnya tak lagi digunakan untuk basis pertahanan Keraton Yogyakarta. Masjid ini kemudian lebih banyak digunakan masyarakat sekitar untuk beribadah, mengaji, memperdalam ilmu keagamaan, dan tempat peringatan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri.

Masjid Pathok Negoro Nurul Huda Dongkelan.

TRADISI MASJID PATHOK NEGARA NURULHUDA DONGKELAN

Pada bulan Ramadhan tahun ini, warga Kampung Kauman Dongkelan tetap melakukan tradisi dengan menjalankan berbagai kegiatan agama, mulai dari kegiatan takjilan bagi remaja dan anak-anak menjelang buka puasa, shalat tarawih, kuliah subuh, hingga pengkajian ilmu agama dan Al Quran.

Pusat Informasi Ramadhan (PIR) masjid Nurul Huda Dongkelan didirikan tahun 2004 telah sehingga membantu pelaksanaan kegiatan keagamaan di masjid. PIR juga mendirikan radio komunitas Pathok Negoro FM yang berfungsi menyiarkan dakwah dan siaran langsung segala kegiatan yang diadakan di masjid ini, termasuk dari tarawih, subuhan hingga takjilan. uniknya takjilan disini untuk bapal-bapak warga desa ini, selebihnya untuk anak-anak kecil hanya dilakukan seminggu tiga kali yaitu, Senin, Kamis dan Sabtu. (updated : 28/08/2012).

-------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya



Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan

Masjid Ad-Darojat Babadan.

Masjid Pathok Negara Ad-Darojah Babadan, merupakan salah satu dari lima Masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Masjid ini memiliki sejarah yang unik dalam sejarah perjuangan kemerdekaan karena pernah dipaksa di pindahkan oleh pasukan penjajahan Jepang berikut seluruh penduduk yang ada di sekitar lokasi masjid. Karena lokasi tersebut akan dijadikan pangkalan militer oleh pasukan Jepang.

Lokasi Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, berada di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, INDONESIA. Rute untuk menuju ke masjid dari JEC (Jogja Expo Center), dari Jalan raya Janti di depan JEC ada sebuah pohon beringin yang menghadap ke sebuah pertigaan. Salah satu jalan di pertigaan itu bernama Jl. Pathok Negara. Ikut Jalan Pathok Negara hingga sampai di lokasi masjid.

Masjid Pathok Negara Babadan
Kauman Babadan Jl. Babadan, Jomblangan, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55198

 

Sejarah Masjid Pathok Negara Ad-Darojat

Masjid Ad-Darojat Babadan adalah salah satu masjid patok negara yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1774 di atas tanah mutihan atau Sultan ground seluas 120 meter persegi.

Pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940, Masjid Ad-Darojat dan masyarakat Babadan dipindah ke Desa Badabadan baru di Jl. Kaliurang KM-7, Kentungan, Sleman. Perpindahan ini dikarenakan saat itu daerah Babadan terkena pelebaran pangkalan pesawat terbang dan sebagai gudang senjata. Akibat perpindahan tersebut denyut kampung Babadan sebagai kampung santri sempat mengalami tidur panjang. Akibat perpindahan yang dilakukan oleh Jepang tersebut, masjid Patok Negara tersebut menjadi tak terurus.

Masjid Sultan Agung Babadan baru.

Saat terjadi pengusiran oleh Jepang, memang tidak semua penduduk ikut boyong ke Kentungan. Sebagian warga Babadan tetap tinggal di kampung halamannya. Setelah ditinggalkan warga, masjid ini hanya tersisa fondasi dan temboknya saja. Hal ini dikarenakan seluruh konstruksi kayu masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di Babadan Kentungan.

Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia ke-2 yang akhirnya seluruh personil dan tentaranya meninggalkan Indonesia, secara otomatis pembangunan perluasan pangkalan udara pun urung dilaksanakan. Sekitar tahun 1950-an mulai banyak masyarakat yang datang ke kampung Babadan dan akhirnya menetap di sana.

Pada tahun 1960-an salah seorang warga Babadan bernama Muthohar mempunyai niat untuk membangun kembali masjid peninggalan Sultan Hamengkubuwono I tersebut. Pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan semasa Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Atas dukungan Sultan maka nama Sultan Hamengku Buwana IX "Ndoro Jatun" diabadikan menjadi nama masjid Patok Negara tersebut dengan nama Masjid Ad-Darojat.

Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun bentuk khas sebagai masjid kraton masih tetap dipertahankan. Seperti pada masjid Pathok Negoro lainnya, di sisi barat masjid adalah pemakaman tempat bersemayam para tokoh agama maupun masyarakat setempat. Masjid “pindahan” di Desa Babadan Baru masih bertahan hingga kini dan diberi nama Masjid Sultan Agung. 
   
Karena latar belakang sejarah demikian ini, antara warga Babadan dengan Babadan Baru Kentungan meskipun terpisah secara geografis namun tetap terjalin hubungan yang harmonis. Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, banyak warga Babadan Baru yang datang ke Babadan untuk menggelar acara tradisi nyadran. Silaturahmi setiap kegiatan nyadran tersebut berlanjut saat Lebaran Idul Fitri tiba, karena banyak juga diantara mereka yang masih merupakan saudara sedarah.

Arsitektural, Renovasi dan Perluasan

Pertama kali masjid ini dibangun pada tahun 1774, arsitektur Masjid Ad-Darojat sama persis dengan ketiga masjid Patok Negara lainnya. Kesamaan bentuk masjid tersebut terlihat hampir di semua bagian. Bangunan ruang utama masjid menggunakan konstruksi joglo dengan empat soko guru dan terdapat pawestren disampingnya. Serambi masjid menggunakan konstruksi bentuk limasan serta terdapat kolam di sebelah timur masjid sebagai tempat bersuci sebelum memasuki masjid, di depan masjid juga terdapat pohon kepel.

Kompilasi foto Masjid Pathok Ad-Darojah.

Dikarenakan pengusiran oleh Jepang pada tahun 1940-an, bersamaan dengan boyongnya penduduk Babadan ke Kentungan, seluruh bangunan masjid ikut dipindah dan dibangun kembali di daerah Kentungan. Tempat tersebut kemudian diberi nama Kampung Babadan Baru. Baru pada tahun 1960-an bekas lokasi masjid di Babadan kembali dibangun.

Pada pembangunan awal di tahun 1964, bentuk masjid masih semi permanen. Baru pada tahun 1988 dibangun kembali serambi tengah dengan sumber dana dari pemerintah dan swadaya masyarakat. Meski bentuk masjid mengalami perubahan, namun ciri khas sebagai Masjid Pathok Negara tetap dipertahankan, seperti mustoko masjid yang masih disimpan dengan baik. Baru pada tahun 1992 bangunan induk utama dibongkar kembali dan disarankan agar disesuaikan seperti bentuk semula yakni joglo yang berasal dari kayu jati.

Pada tahun 1993 pembangunan ruang utama masjid berhasil dilakukan dengan membangun joglo dengan 4 soko guru masing-masing setinggi 7 meter. Pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, serta tempat wudhu dan wc dilakukan pada tahun 2001. Atas kesepakatan para tokoh agama setempat pada tahun 2003, mustoko yang asli yang terbuat dari tanah liat tidak jadi dipasang dan diganti dengan mustoko dari kuningan. Meskipun demikian mustoko yang asli sampai sekarang masih tersimpan dengan baik di Masjid Ad-Darojat.

Tradisi di Msjid Ad-Darojah 

Shalat tarawih di Masjid Ad-Darojat adalah 11 rakaat (2 x 4 ditambah 3 witir) dengan ceramah. Sedangkan di Masjid Sultan Agung adalah 23 rakaat (2 x 10 ditambah 2 + 1 witir) dengan ceramah.

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya


Masjid Pathok Negara Mlangi

Masjid Pathok Negara Mlangi.

Masjid Pathok Negara Mlangi sempat berganti nama menjadi Masjid Jami' Mlangi, merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat dan menjadi batas negara di bagian barat. merupakan bangunan paling legendaris di dusun Mlangi, dibangun pada masa Kyai Nur Iman, sekitar tahun 1760-an. Warga setempak menyebut masjid ini sebagai Masjid Gedhe.
 
Ditahun 1985 bangunan masjid ini sempat direnovasi menjadi bangunan masjid dua lantai berukuran cukup besar dan nama nya pun berubah menjadi Masjid Jami’ Mlangi. Namun ditahun 2012 bangunan masjid tersebut dibongkar dan dikembalikan ke bentuk aslinya.
 
Di dalam masjid masih tersimpan sebuah mimbar berwarna putih yang digunakan Kyai Nur Iman mengajar Islam. Disekeliling Masjid terdapat pemakaman kuno dan satu dari makam yang paling banyak dikunjungi oleh para peziarah adalah makam dari Kyai Nur Iman yang memiliki nama asli Pangeran Hangabehi Sandiyo merupakan kerabat dari Sultan Hamengku Buwono I.
 
LOKASI
 
Masjid Jami’ Pathok Negara Mlangi terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


 
SEJARAH MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Nama Mlangi tak lepas dari sosok Kyai Nur Iman. Kyai Nur Iman / RM. Sandeyo/ KGHP. Kertosuro  adalah putra dari RM. Suryo Putro/ Amangkurat Jawa / Amangkurat IV, Raja Mataram (Islam) yang berkuasa antara tahun 1719-1726, dari Istri pertamanya. Beliau lahir dan dibesarkan di Pondok Pesantren Gedangan asuhan Kyai A. Muhsin
 
Kyai M. Nur Iman juga merupakan kakak dari 3 Raja di 3 Kerajaan Jawa yaitu Pangeran Sambernyowo / RM. Said/ Adipati Mangkunegara I (penguasa pertama Puro Mangkunegaran), Pangeran Mangkubumi / RM. Sujono/ Sultan Hamengku Buwana I (Sultan pertama Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat) dan Susuhunan Pakubuwono III (penguasa pertama Keraton Surakarta)
 
Kyai Nur Iman sudah lama membina pesantren di Jawa Timur diberi hadiah sebidang tanah oleh Sultan Hamengku Buwono I. Tanah itulah yang kemudian dinamai 'mlangi', dari kata bahasa Jawa 'mulangi' yang berarti mengajar. Dinamai demikian sebab daerah itu kemudian digunakan untuk mengajar agama Islam.
 
Pada masa pemerintahaan Hamengku Buwana II (yang merupakan keponakan dari Kyai Nur Iman), Kyai Nur Iman Mlangi mengarahkan agar Raja membangun Empat Masjid besar untuk melengkapi dan mendampingi masjid yang sudah berdiri terlebih dahulu yaitu masjid yang berada di kampung Kauman, di samping Kraton. Masjid yang akan dibangun tersebut disaranklan oleh Kyai Nur iman dibangun di empat arah dan diberi nama Masjid Patok Nagari
 
Gapura Masjid Pathok Negara Mlangi.

Keempat masjid tersebut adalah : di sebelah Barat terletak di dusun Mlangi, di sebelah Timur terletak di desa Babadan, di sebelah Utara terletak di desa Ploso Kuning, Di sebelah Selatan terletak di desa Dongkelan.
 
Pengurus masjid tersebut adalah putra - putra Kyai Nur Iman Mlangi yakni :
 
Masjid Ploso Kuning di urus oleh Kyai Mursodo, Masjid babadan diurus oleh kyai Ageng Karang Besari, Masjid Dongklelan diurus oleh Kyai Hasan Besari, Masjid Mlangi diurus oleh Kyai Nur Iman Mlangi sendiri. Masjid - masjid tersebut kemudian terkenal dengan Masjid Kagungan Dalem atau Masjid Kasultanan, dan pengurus takmir pada saat itu termasuk abdi dalem kraton.
 
WISATA ZIARAH DI MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Makam Kyai Nur Iman senantiasa ramai di ziarahi oleh para peziarah terutama pada tanggal 15 Suro yang merupakan tanggal wafatnya Kyai Nur Iman dan bulan Ruwah. Hanya pada bulan ramadhan saja makam itu agak sepi. Biasanya, para peziarah membaca surat-surat Al-Qur'an dengan duduk di samping atau depan cungkup makam.
 
Begini perubahan bentuk Masjid Pathok Negara Mlangi. 

Makam Kyai Nur Iman dapat dijangkau dengan melewati jalan di sebelah selatan masjid atau melompati sebuah kolam kecil yang ada di sebelah tempat wudlu. Makam itu terletak di sebuah bangunan seperti rumah dan dikelilingi cungkup dari bahan kayu.
 
ARSITEKTUR MASJID PATHOK NEGARA MLANGI
 
Masjid Mlangi berdiri di atas sebidang tanah Kasultanan seluas 1.000 meter persegi. Memasuki gapura halaman masjid, terdapat beberapa tangga menurun. Dengan begitu dilihat dari tinggi tanah pada umumnya, lokasi masjid ini lebih rendah dibanding tanah sekitarnya. Sisi kiri dan halaman masjid terdapat tembok beteng mengelilingi masjid. Di halaman bagian utara terdapat bangunan ruang pertemuan. Namun bangunan ini dibuat pada masa belakangan seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
 
Di sisi barat, utara dan timur laut terdapat makam. Mereka yang dimakamkan di sana adalah keluarga keraton. Di sisi barat dimakamkan Pangeran Bei. Di utara masjid terdapat makam Pangeran Sedo Kedaton, yaitu Patih Danurejan pada masa Sultan Hamengkubuwono II. Di sisi timur adalah makam keluarga Pangeran Prabuningrat.
 
Arsitektur masjid Mlangi pada asalnya sama dengan masjid keraton yang lain. Bentuknya seperti Masjid Pathok Nagari Plosokuning. Bangunannya mengikuti gaya arsitektur Jawa dengan penyangga-penyangga kayu. Konon pada masa dulu, soko masjid ini berjumlah 16 buah termasuk empat soko utama di ruang utama masjid. Di sisi masjid dibangun pawestren, tempat khusus untuk sholat kaum putri. Di bagian depan, sisi depan, kanan dan kiri masjid terdapat blumbang sebagai tempat membersihkan kaki jamaah sebelum memasuki masjid.
 
Interior Masjid Pathok Negara Mlangi.

RENOVASI DAN PEMUGARAN
 
Bentuk dan nama masjid ini sempat mengalami perubahan setelah renovasi ditahun 1985. Masjid dibangun menjadi bangunan beton dua lantai, meski beberapa fitur asli masjid tetap dipertahankan namun beberapa lainnya hilang termasuk diantaranya adalah Blumbang yang mengelilingi masjid.
 
Air blumbang diambil dari bendungan Mlangi di wilayah timur. Namun pada perkembangan selanjutnya, jika air dialirkan untuk mengairi blumbang masjid, sawah-sawah di sekitarnya menjadi kering. Akhirnya, blumbang ini ditutup supaya tidak mengganggu kepentingan irigasi sawah.
 
Sebelum proses renovasi dilakukan, pada saat itu panitia pembangun sudah sowan ke kraton untuk meminta izin pelaksanaan renovasi. Pihak Keraton memberikan izin dengan syarat tidak mengubah bentuk aslinya.
 
Namun karena tuntutan untuk memperluas bangunan, masjid Mlangi kemudian ditingkat. Konstruksi bangunannya pun diganti dengan pilar-pilar beton. bentuk masjid aslinya dipertahankan dengan dinaikkan di lantai atas. Di sisi depan sebelah utara ditambah menara setinggi 20m sesuatu yang tidak lazim dalam arsitektur masjid Kasultanan.
 
Mimbar Masjid Pathok Negara Mlangi.

Hanya beberapa bagian masjid yang masih terjaga kasliannya. Diantaranya adalah mustoko masjid. Bentuk mustoko ini konon sama dengan mustoko masjid Demak. Di sisi kanan kiri terdapat bunga-bunga melati berjumlah 17 buah. Di bagian atas terdapat sebuah godho dengan posisi berdiri.
 
Mimbar yang ada di masjid ini juga masih asli. Di sisi depan ada tangga bertingkat. Di bagian luarnya diberi kain mori putih, seperti mimbar-mimbar di masjid kerajaan Mataram tempo dulu. Beduknya juga mempertahankan replika aslinya. Sekalipun tidak menggunakan kayu yang utuh, diameter beduk ini sama dengan ukuran bedug yang asli, yakni 165 cm.
 
Seiring dengan ditetapkannya UU No 11 Tahun 2010 tentang cagar budaya membawa Sultan Hamengku Buwono X untuk kembali menginstruksikan para pengurus masjid untuk mengembalikan bangunan masjid ke bentuk asalnya. Instruksi Sultan tersebut sempat menuai pro dan kontra masyarakat Mlangi, sehingga renovasi baru bisa dilaksanakan pada tahun 2012.
 
Pemugaran ditahun 2012 ini dengan terpaksa merobohkan bangunan masjid Jami Mlangi untuk mengembalikan bentuk-nya ke bentuk semula, dan Namanya pun dikembalikan ken ama asal sebagai Masjid Pathok Negara Mlangi.
 
Beranda Masjid Pathok Negara Mlangi.

PENGELOLA MASJID
 
Pada zaman dulu, pengelolaan masjid ini langsung di bawah Kesultanan Ngayogyokarta Hadiningrat. Dalam perkembangannya, kepengurusan masjid ini pada tahun 1955 oleh Kasultanan resmi diserahkan masyarakat Mlangi. Hal ini berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX. Pada tahun itu, masjid Kasultanan Mlangi diserahkan kepada masyarakat diwakili KH Zainudin dan KH. Masduki. Sejak itu masjid yang dulunya bernama Masjid Kasultanan Mlangi berubah nama menjadi Masjid Jami' Mlangi.
 
Namun, hubungan dengan keraton tetap terjaga. Takmir masjid Mlangi ini dulu diberi bengkok (sawah) oleh keraton. Di lokasi masjid juga terdapat abdidalem keraton. Abdidalem yang ada di sana ada dua yaitu abdidalem pamethakan, dan abdidalem surakso. Yang disebut terakhir ini adalah abdidalem yang berperan sebagai juru kunci pesarean. Pada bulan maulud, para abdidalem dikumpulkan dan dilakukan pasowanan ke keraton.
 
Semenjak masjid ini diserahkan ke masyarakat, pengelolaan masjid semakin longgar sekalipun tetap berkordinasi dengan keraton. Semenjak diserahkan kepada masyarakat, telah dilakukan pemugaran beberapa kali. Diantaranya pemugaran tahun 1970 dan tahun 1985. Setelah itu juga dilaklukan pemugaran secara berkala sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat.
 
MASYARAKAT MLANGI YANG ISLAMI
 
Berkeliling ke dusun Mlangi, anda akan menjumpai begitu banyak Pondok Pesantren. Diantaranya Pondok Pesantren As-Salafiyah merupakan yang paling tua, dibangun sejak 5 Juli 1921 oleh K.H. Masduki.
 
Cara berpakaian penduduk. Di Mlangi, para lelaki biasa memakai sarung, baju muslim, dan peci meski tidak hendak pergi ke masjid. Sementara hampir semua perempuan di dusun ini mengenakan jilbab di dalam maupun di luar rumah. Pengamalan ajaran Islam seolah menjadi prioritas bagi warga Mlangi. Konon, warga rela menjual harta bendanya agar bisa naik haji.
 
Meski banyak warga punya kesibukan dalam mendalami agama Islam, tak berarti mereka tidak maju dalam hal duniawi. Dusun Mlangi sejak lama dikenal sebagai salah satu penghasil tekstil terkemuka, hanya jenis produknya saja yang berubah sesuai perkembangan jaman. Pada tahun 1920-an, usaha tenun dan batik cetak marak di kampung ini hingga tahun 1965-an.
 
Kolam berair jernih di Masjid Pathok Negara Mlangi.

Beberapa Ponpes di wilayah Mlangi dipimpin oleh para kyai keturunan K. H. Nur Iman. Tidak kurang dari 1.000 santri yang belajar di pondok-pondok tersebut. Para santri datang ke Masjid pada saat-saat sholat jama'ah dan jum'atan. Pondok pondok Pesantren tersebut adalah PP al-Huda, dipimpin KH Muhtar Dawam, PP. as-Salafiyah dipimpin KH Sujangi, PP al-Miftah dipimpin KH Munahar, PP an-Nasat dipimpin KH Samingun, PP al-Ikhlas dipimpin KH Bahaudin, PP Hidayatul Mubtadi'in dipimpin KH Nur Iman Mukim, PP al-Falahiyah dipimpin Ny. Hj Rubaiyah, PP as-Salimiyah dipimpin KH Salimi, dan PP al-Furqon dipimpin KH Imanuddin.
 
TRADISI MASJID MLANGI
 
Bimbingan Agama Islam ba’da magrib dan ba’da subuh
Untuk memberi bimbingan keagamaan dan meningkatkan ketaqwaan setiap ba'da subuh dan ba'dal maghrib diadakan ceramah oleh kyai-kyai pimpinan pondok pesantren seluruh Mlangi secara bergiliran.
 
Kegiatan di bulan Ramadhan
Selama Bulan Ramadhan dilaksanakan Madrasah Diniyah dengan santri yang mayoritas berasal dari lain wilayah.
 
Budaya Mercon
Daerah Mlangi juga dikenal dengan budaya mercon khususnya pada saat bulan Ramadhan. Budaya ini diyakini oleh masyarakat Mlangi sebagai sarana minta maaf. Unine mercon kanggo sarono njaluk ngapuro (suara mercon sebagai sarana untuk meminta maaf). Semakin keras suara mercon dan jumlahnya banyak maka dosa yang diampuni juga semakin banyak. Kebiasaan ini memang telah berlangsung sejak dulu, hingga kini masih berlanjut. Namun semakin hari, mengingat resiko bahaya yang mungkin ditimbulkan, budaya ini sudah sedikit berkurang.
 
Jenang manggul
Di Mlangi juga dikenal tradisi jenang manggul. Tradisi ini bermula sejak Sultan Hamengkubuwono I, saat memberikan tanah perdikan Mlangi. Pada saat Kyai Nur Iman hendak mendirikan pesantren, Hamengkubuwono I saat peletakan batu pertama dilakukan tradisi jenang manggul. tradisi jenang manggul, yang dilakukan dengan memasak bubur dalan jumlah besar, dimaksudkan untuk mengingatkan akan beban tanggungjawab yang tidak ringan ini.
 
-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------
 
Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya
 
Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo
Masjid Pathok Negara Nurul Huda
Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan
Masjid Pathok Negara Sulthoni
Masjid Kotagede Masjid Tertua di Yogyakarta

Senin, 20 September 2010

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning merupakan salah satu dari lima masjid Pathok Negara Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat. Didirikan di atas tanah kasultanan seluas 2.500 m2. Bangunan masjid pada saat didirikan seluas 288 m2 dan setelah pengembangan menjadi 328 m2. Diantara kelima masjid Pathok Negara milik Kraton Yogyakarta, Masjid Pathok Negara di Plosokuning adalah bangunan yang paling terjaga kelestariannya.

Lokasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negara ”Plosokuning” berlokasi di Jl. Plosokuning Raya Nomor 99, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Letak masjid ini sekitar 9 km arah utara dari Kraton Yogyakarta.

 

Arsitektur Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro didirikan setelah pembangunan masjid Agung Yogyakarta, sehingga bentuk masjid tersebut meniru masjid Agung sebagai salah satu usaha legitimasi masjid milik Kasultanan Yogyakarta. Persamaan ini juga didukung oleh beberapa komponen yang ada di dalamnya seperti mihrob, kentongan dan beduk.

Masjid Pathok Negoro mempunyai ciri beratap tajuk dengan tumpang dua. Mahkota masjid juga mempunyai kesamaan yakni terbuat dari tanah liat dan atap masjid terbuat dari sirap. Perbedaan jumlah tumpang menandakan bahwa masjid pathok negoro lebih rendah kedudukannya dibandingkan dengan masjid Agung Yogyakarta yang mempunyai atap tajuk bertumpang tiga. Ciri-ciri lain dari kekhasan masjid Pathok Negoro ini adalah pada masing-masing masjid terdapat kolam keliling, pohon sawo kecik dan terdapat mimbar yang ada di dalam masjid.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Dalam perkembangan saat ini, arsitektur trradisional telah banyak mengalami perubahan dan salah satu penyebab semua itu adalah masuknya arsitektur modern di Indonesia. Hal di atas juga berpengaruh terhadap Masjid Pathok Negoro yang ada. Dari kelima masjid yang ada, hanya Masjid Pathok Negoro di Plosokuning saja yang sampai saat ini masih mempertahankan bentuk aslinya.

Sejarah Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Masjid Pathok Negoro Plosokuning didirikan semasa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono III yang 1812-1814. Beliau adalah ayahanda Pangeran Diponegoro, ketika Kyai Raden Mustafa (Hanafi I) menjadi Abdi Dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berkedudukan di Plosokuning.

Nama Plosokuning sendiri diambil dari nama pohon Ploso yang mempunyai daun berwarna kuning. Dulu, letak pohon ini kira-kira 300 meter sebelah timur masjid, namun sekarang sudah tidak ada. Satu hal yang menarik dari desa ini. Hingga sekarang daerah di sekitar masjid, hanya ditempati oleh orang-orang yang masih memiliki garis keturunan dengan Kyai Mursodo. 

Daerah di sekitar masjid dikenal dengan sebutan daerah Mutihan yang mempunyai arti sebagai tempat tinggal orang-orang putih atau santri. Daerah di sekitar masjid yang disebut daerah Mutihan juga disebut sebagai daerah Ploso Kuning Jero, yang hanya ditempati oleh orang yang mempunyai ikatan darah dengan pendiri masjid. Sedangkan daerah yang agak jauh dari masjid disebut Ploso Kuning Jobo.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning

Sebagai salah satu masjid pathok Negoro, di masjid Plosokluning juga ditempatkan abdi dalem kemasjidan. Abdi dalem yang menjalankan tugas di masjid Plosokuning dengan fungsi masing masing sebagai Khotib, Muadzin, Jajar Jama'ah, Jajar Ulu-ulu (penghulu) dan Jajar Merbot. Kesemua fungsi tersebut di emban oleh andi dalem bergelar Raden.

Renovasi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Keaslian Masjid pathok Negoro Plosokuning dapat terlihat pada bagian atap dimana di atasnya terdapat mahkota gada bersulur yang terbuat dari tanah liat yang sampai sekarang masih terpasang di puncak atap masjid. Dulu, penutup atap masjid menggunakan sirap namun atap sirap ini kemudian diganti dengan genteng pada tahun 1946.

Pada bagian lantai masjid dahulu diplester biasa dengan menggunakan semen merah, kemudian pada tahun 1976 lantai masjid ini diganti dengan tegel biasa. Begitu juga dengan daun pintu dan temboknya dilakukan penggantian pada tahun 1984. Dulu tembok dinding masjid setebal 2 batu, namun karena terkikis terus menerus sekarang tinggal 1 batu. Dahulu pintu masjid hanya ada satu dan sangat rendah yang menyebabkan ruang masjid menjadi gelap. Pintu yang rendah ini dimaksudkan agar setiap orang yang masuk masjid hendaknya menunduk dan menunjukkan rasa tatakrama serta sopan santun terhadap masjid. Keadaan demikian menyebabkan ruangan di dalam masjid menjadi gelap, sehingga pada tahun 1984 ditambah pintu masuk masjid menjadi 3 bagian serta ditambah jendela di ruang dalam masjid.

Semua penambahan dan perbaikan bangunan pada masjid, terlebih dahulu dimintakan persetujuan dari Sinuhun Kanjeng yang berada di kraton, baik mengenai bentuk dan modelnya. Beberapa tahun terakhir, takmir masjid mengadakan perbaikan dan penambahan ruang yang ada di samping kanan dan kiri masjid. Hal ini bertujuan agar kegiatan pengajian dan tadarus dapat berlangsung nyaman sekaligus untuk menambah shaf putri. Pada ruang dalam masjid terdapat tiang-tiang yang berfungsi sebagai penahan konstruksi atap. Semua tiang penyangga ini sebagian besar masih asli dan terbuat dari kayu jati.

Tahun 2000 Masjid Plosokuning mengalami renovasi pada 4 tiang utama dan beberapa elemen lainnya. Pada tahun 2001, masjid ini kembali mengalami renovasi pada bagian serambi dan tempat wudhu. Renovasi ini dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Pada tahun tersebut masyarakat secara swadaya juga mengganti lantai tegel masjid dengan keramik, memasang konblok di halaman serta mendirikan menara pengeras suara.

Tradisi Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning

Di depan masjid terdapat dua kolam dengan kedalaman 3 meter. Setiap orang yang akan memasuki masjid harus bersuci terlebih dahulu di kolam itu. Makna lain dari 2 kolam ini adalah apabila kita menuntut ilmu haruslah sedalam-dalamnya. Saat ini kolam tersebut juga digunakan untuk memelihara ikan serta untuk mencuci kaki sebelum masuk ke mesjid.

Di dalam masjid, terdapat mimbar tua yang terbuat dari kayu jati dengan ornamen pada pegangan mimbar. Mimbar ini juga dilengkapi dengan sebuah tongkat yang dipakai oleh khatib pada saat memberikan khotbah yang sampai sekarang masih digunakan. Masjid ini juga masih menganut adat lama dimana adzan pada saat sholat Jum'at dilakukan 2 kali. Dahulu sekitar tahun 1950 adzan pertama dilakukan oleh lima orang sekaligus dan adzan kedua dilakukan salah seorang dari mereka.

Begitu juga dengan khotbah dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Baru pada tahun 1960 adat tersebut berubah, muadzin yang semula berjumlah 5 orang menjadi 2 orang, tetapi adzan tetap dilakukan 2 kali. Khotbah juga diganti dengan menggunakan bahasa Jawa. Pada bagian pintu gerbang, masjid ini memiliki pintu gerbang yang berundak. Pada tiga undakan pertama berarti Islam itu terdiri dari 3 elemen yakni Iman, Islam dan ikhsan. Pada 5 undakan kedua menunjukkan bahwa rukun Islam itu ada 5 sedangkan pada 6 undakan ketiga menunjukkan bahwa rukun iman itu ada 6.

Pada momen-momen tertentu, di masjid ini juga dilaksanakan kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga kraton, semisal tradisi Bukhorenan. Tradisi ini sudah menjadi bagian dari tradisi keraton yang lestari hingga sekarang. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah untuk mengkaji ajaran dan tuntunan Nabi dengan membaca dan memahami hadist-hadist yang terdapat dalam Sahih Bukhari.***

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------


Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara Lainnya




Jumat, 17 September 2010

Masjid Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat

Loma Masjid Pathok Negara Yogyakarta

Sesuai dengan namanya Masjid masjid Pathok Negara ini merupakan masjid masjid yang menjadi penanda batas wilayah kekuasan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang biasa kita sebut Yogyakarta atau Jogja. Kesultanan Ngayokyakarta Hadiningrat berdiri tanggal 13 Februari 1755 M atau bertepatan dengan Perjanjian Giyanti.

Fungsi Masjid Pathok Nagara tidak semata-mata untuk pembatas saja, namun untuk tempat ibadah, tempat belajar (mengaji), tempat upacara pernikahan maupun kematian dan juga menjadi pusat penyiaran agama Islam (selain masjid raya kerajaan). Masjid-masjid itu juga menjadi bagian dari masjid raya Kerajaan sehingga menjalankan fungsi ketakmiran bersama-sama dengan masjid besar dan masjid pathok negara lainnya. Hal ini dapat dilihat dari kedudukan para imam/pengulu/ kyai pengulu masjid yang menjadi anggota al-Mahkamah al-Kabirah (Badan Peradilan Kesultanan Yogyakarta) dalam tingkat Peradilan Agama Islam. Imam Besar Masjid Raya menjadi ketua Mahkamah yang bergelar Kanjeng Kyai Pengulu.

Dalam sistem hukum dan peradilan Kerajaan, Sultan tetap memegang kekuasaan kehakiman tertingi. Ada 3 tempat pelaksanaan peradilan untuk memutuskannya, salah satunya di Masjid Pathok Nagara, yaitu: pasowanan bale mangu, pengadilan pradata (kantor); dan pengadilan hukum sarambi.

Selain Masjid Agung Kauman di sebelah barat Alun-Alun Utara Jogja yang dikenal sebagai masjid kerajaan, setidaknya ada lima masjid pathok negara yang tersebar di empat penjuru mata angin. Yakni, Masjid Mlangi di barat, Masjid Babadan di timur, Masjid Plosokuning di utara, serta Masjid Nurul Huda Dongkelan dan Masjid Wonokromo di selatan. Ada yang bilang, Masjid Agung Kauman dan masjid patok negara di empat penjuru mata angin itulah yang disebut kiblat papat lima pancer.

Lokasi 5 Masjid Pathok Negara ditambah Masjid Sultan Agung Babadan Baru.

Selain arsitekturnya yang mirip Masjid Agung di Kauman, masjid-masjid patok negara itu menjadi pusat keagamaan di empat penjuru Jogja. Ada pesantren atau sekolah keagamaan di masjid yang abdi dalem pamethakan itu. Masjid patok negara juga khas karena tidak dijumpai di Keraton Surakarta.

Arsitektur masjid patok negara khas Jawa ditandai dengan atap tumpang gasal, denah bujur sangkar atau persegi panjang, dengan batur lebih tinggi daripada daerah sekitarnya. Ciri lain, ada serambi, ruang pawestren, mihrab, mimbar, beduk, dan kentongan. Umumnya juga dilengkapi maksura sebagai tempat salat raja. Di masjid itu juga ada kolam keliling.

Sejarah Masjid Pathok Negara

Pathok dalam bahasa dan dialeg Jawa sama maknanya dengan kata Patok dalam  Bahasa Indonesia, yaitu tonggak penanda tapal batas. Bermula ketika Sultan Jogja, Sultan Hamengkubuwon I berguru kepada Kyai Muhammad Faqih dan meminta nasihat kepada beliau tentang upaya untuk menjaga agar kesultanan Jogja senantiasa aman sentosa. Salah satu dari nasihat Kyai Muhammad Faqih kala itu adalah agar Sultan mengangkat Pathok Pathok negara.

Pathok yang dimaksud oleh Kyai Muhammad Faqih ketika itu adalah Para ulama yang bertugas memberikan pendidikan moral kepada masyarakat yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti. Kyai Muhammad Faqih sendiri pada ahirnya juga diangkat sebagai Pathok oleh Sultan Hamengkubuwono I. Dan salah satu masjid Pathok Negara Jogya, yaitu Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo didirikan pertama kali oleh Kyai Muhammad Faqih di atas tanah perdikan pemberian Sultan Jogya.

Selain sebagai guru Sultan Jogya, Kyai Muhammad Faqih juga merupakan kakak ipar dari Sultan Hamengkubuwono I, dari keterkaitan kekerabatan mereka terhadap Ki Ki Derpoyudo karena Kyai Muhammad Faqih menikah dengan putri pertama Ki Derpoyodi sedangkan Sultan Hamengkubuwono I menikah dengan putri ke dua Ki Derpuyudo.

Lima Masjid Pathok Negara Ngayokyakarta Hadiningrat

Ada lima Masjid Pathok Negara yang hingga kini masih berdiri kokoh menjalankan fungsinya untuk masyarakat Jogya, Yaitu :

  1. Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning, batas utara, terletak di Desa Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  2. Masjid Jami Nur Mlangi, batas negara di bagian barat terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  3. Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, batas negara bagian timur terletak di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Masjid Sultan Agung di di Jalan kaliurang km 7 babadan baru condongcatur depok sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  4. Masjid Pathok Negara Nurul Huda, batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
  5. Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo, juga merupakan batas negara di selatan terletak di desa Desa Wonokromo, Kec. Pleret, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berikut adalah foto foto dari semua masjid Pathok Negara Yogyakarta tersebut.

Masjid Pathok Negara Sulthoni Ploso Kuning, batas utara, terletak di Desa Minomartani, Kec. Ngaglik, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Masjid Jami Nur Mlangi, batas negara di bagian barat terletak di Desa Mlangi, Kec. Gamping, Kab. Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Masjid Pathok Negara Ad-Darojat Babadan, batas negara bagian timur terletak di Desa Babadan, Kec. Banguntapan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dan Masjid Sultan Agung di di Jalan kaliurang km 7 babadan baru condongcatur depok sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Masjid Pathok Negara Nurul Huda, batas negara di bagian selatan terletak di Dukuh Kauman, Dusun Dongkelan, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 
Masjid Pathok Negara Taqwa Wonokromo, juga merupakan batas negara di selatan terletak di desa Desa Wonokromo, Kec. Pleret, Kab. Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lima postingan berikutnya Insya Allah akan membahas detil dari masing masing lima masjid tersebut dalam serial Masjid Masjid Pathok Negara Ngayigyakarta Hadiningrat. [Updated :: 6-Oct-2012].

-------------------------------ooOOOoo-------------------------------------

Lanjutkan Membaca Artikel Masjid Pathok Negara


Selasa, 14 September 2010

Masjid Jami' Babussalam Gelumbang

Masjid Babussalam Gelumbang pada bulan Oktober 2006.

Masjid Babussalam Gelumbang ini mungkin mewakili kebanyakan masjid di Indonesia yang tak memiliki sejarah tertulis tentang keberadaannya, baik berupa prasasti pembangunan ataupun dokumen dokumen pembangunan yang bisa di jadikan rujukan sejarah pendirian masjid tersebut. Tulisan ini boleh jadi menjadi catatan pertama tentang masjid Babussalam ini.

Tak ada yang istimewa dengan bangunan masjid Babubassalam ini, hanya saja masjid ini adalah masjid tempat dimana dulu penulis dan pengelola Blog ini menghabiskan masa kecil belajar mengaji di masjid ini setiap sore, dengan para guru disana yang bekerja tanpa gaji dan penghasilan tetap. Bayaran dari murid muridnya pun beragam mulai dari bayaran berupa uang hingga beras dan sembako lain nya.

Dari atap masjid.

LOKASI

Masjid Babussalam Gelumbang ini terletak di Kelurahan Gelumbang, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Tepat berada di jalur lintas tengah Sumatera, diantara kota Prabumulih dan Kota Palembang. Dapat di capai dengan kendaraan umum dari Kota Prabumulih lebih kurang setengah jam perjalanan ke utara atau selama satu hingga satu setengah jam dari Kota Palembang ke arah selatan.

Meski terletak di dalam wilayah kabupaten Muara Enim, tapi Gelumbang yang tadi nya berstatus sebagai sebuah desa dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kades) tapi sejak beberapa tahun lalu di ubah statusnya menjadi sebuah Kelurahan yang di kepalai oleh seorang Lurah ditunjuk langsung oleh pemerintah tanpa melewati proses pemilihan layaknya kepala desa.


 

SEJARAH MASJID MASJID BABUSSALAM GELUMBANG

Seperti disebutkan di awal, bahwa tak ditemukan (setidaknya sampai saat artikel ini ditullis) dokumen dokumen atau prasasti yang menjelaskan secara pasti kapan dan oleh siapa Masjid Babussalam Gelumbang pertama kali di didirkan. Namun demikian bangunan Masjid  yang kini berdiri, mulai dibangun tahun 1978 setelah bangunan lama sudah tak lagi mampu menampung jumlah jamaah dan mengalami kerusakan struktur atap sudah demikian parah, ditambah lagi dengan kondisi arah kiblat masjid yang tidak akurat, membuat para tokoh masyarakat Gelumbang waktu itu memutuskan untuk merobohkan masjid tersebut dan menggantinya dengan masjid yang lebih besar di lokasi yang sama.

Bentuk masjid Babussalam yang kini ada bukanlah bentuk awal masjid tersebut. Dulunya bentuk masjid tersebut serupa dengan masjid masjid di desa desa lain di sekitar Kelurahan Gelumbang yang meniru bentuk dari Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang. Masjid dengan atap bersusun tanpa kubah, disangga oleh empat tiang (sokoguru) dari kayu, struktur atap juga dari kayu, berdinding batu bata, berjendela besar, dengan sebuah menara berdiri sendiri yang tak terlalu tinggi.

Masjid Tua Talang Menerai (Desa Sukamenang) tak jauh dari Kalurahan Gelumbang, Perluasan masjid sudah nyaris menghilangkan bentuk asli masjid ini. 

Hal yang menarik ketika Bangunan pertama Masjid Babussalam Gelumbang di robohkan di tahun 1978, ditemukan fakta bahwa batu bata yang dipakai untuk membangun tembok masjid itu ukuran nya jauh lebih besar dari batu bata biasa. Ukuran batu bata yang sama persis dengan batu bata yang ditemukan di reruntuhan bangunan Belanda di sekitar Sekolah Dasar Negeri-1 dan disekitar Stasiun Kereta Api Gelumbang serta daerah daerah lain nya. 

Menilik ukuran batu bata tersebut boleh jadi bangunan pertama masjid Babussalam Gelumbang sejaman dengan bangunan bangunan yang sudah runtuh tersebut. Atau setidaknya sejaman dengan bangunan stasiun kereta api Gelumbang yang dibangun di jaman kolonial Belanda dan masih kokoh berdiri hingga kini.

Interior Masjid Babussalam Gelumbang

Di puncak atap masjid dihiasi dengan mahkota berupa kayu berukir dengan tambahan ornamen ormanen kawat baja sebagai aksesoris. Sementara di bagian ujung empat penjuru atap dihiasi dengan ornamen ornamen mirip ornamen atap bangunan kelenteng. Sejujurnya bangunan masjid Babussalam Gelumbang yang dulu pertama dibangun memang lebih indah dan artistik dibanding kan dengan bangunan masjid yang sekarang ini.

Sejak dirubuhkan tahun 1978 lalu dimulai pembangunan masjid yang kini berdiri, seluruh dana pembangunan masjid berasal dari swadaya masyarakat membuat pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama sampai membentuk bangunan yang kini berdiri. Bangunan dengan banyak tiang beton untuk menyangga atap, Kubah, serta empat menara kecil di setiap penjuru atap masjid. Setidaknya dua kali dalam setahun bagian atas masjid itu juga dijadikan tempat sholat bagi jamaah sholat idul fitri dan idul qurban.

Menara Masjid Babussalam Gelumbang.

ARSITEKTUR MASJID

Masjid Babussalam Gelumbang berbentuk segi empat, dengan satu kubah di bagian tengan disanggah oleh 12 tiang beton di dalam masjid, di lengkapi dengan 4 menara kecil berkubah di bagian atap. Bagian kubah utama di hiasi dengan ornamen disekililingnya dengan ornamen seperti undakan candi borobudur. Bagian dalam masjid di balur dengan warna kuning.

Menara masjid yang kini masih berdiri merupakan menara dari bangunan masjid lama yang kemudian di pertinggi. Tadinya menara ini berada terpisah dari masjid tapi kini sudah menyatu setelah masjid diperlebar dan menjadi bentuknya yang sekarang. Pembangunan tahun 1978 tetap mempertahankan bentuk mimbar untuk khutbah jum’at hanya berupa tangga sederhana untuk memberikan tempat lebih tinggi bagi khatib yang menyampaikan khutbah. Sementara ruang mihrab tidak dilengkapi pintu samping, aktifitas Imam dan pengurus masjid mau tidak mau harus melewati pintu utama.

Salah Satu Pintu dari Empat Pintu Masjid Babussalam Gelumbang

Pintu utama masjid terdiri dari empat pintu. Masing masing satu pintu di bagian kiri dan kanan masjid dan dua pintu di bagian depan yang menghadap ke tempat parkir. Daun pintu dubuat dari kayu menggerawan (merawan) sementara kusen pintu bagian atas dibuat melengkung lengkap dengan lambang bulan sabit dan bintang di atasnya. Secara keseleruhuhan fasad masjid dihias dengan lengkungan lengkungan besar. Dengan dominasi warna hijau dipertegas dengan garis warna biru.

MENUJU BENTUK KE TIGA

Beberapa tahun terahir tokoh masyarakat Gelumbang berencana untuk membangun kembali masjid Babussalam Gelumbang, menggantinya dengan masjid yang lebih luas dan lebih merepresentasikan kedudukan Kelurahan Gelumbang yang sedang dipersiapkan menjadi ibukota bagi calon kabupaten baru yang akan di bentuk di wilayah tersebut memisahkan diri dari Kabupaten Muara Enim.

Menara kecil di atap Masjid arah barat laut.

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid baru tersebut sudah dilakukan oleh Bupati Kabupaten Muara Enim pada Bulan April 2010 yang lalu, dan proses pembangunannya kini sedang berlangsung. Kucuran dana dari Pemkab Muara Enim ditambah dengan Sumbangan dana dari para tokoh Masyarakat setempat diharapkan akan mampu mewujudkan impian masyarakat Kelurahan Gelumbang untuk memiliki sebuah Masjid yang membanggakan.

Lahan disamping masjid tempat kini sedang di dirikan bangunan awal masjid baru Babussalam, tadinya adalah rumah penduduk yang kemudian dibeli oleh DKM Babussalam. (beberapa sumber menyebutkan bahwa uang untuk membeli lahan tersebut justru berasal dari sumbangan pemilik lahan itu juga). Sementara lahan dibagian depan yang dipakai untuk areal parkir itu adalah lahan bekas Kantor Kepala Desa Gelumbang yang kemudian dirobohkan untuk memberikan halaman yang lebih luas bagi Masjid Babussalam.

Mimbar dan Mihrab yang sederhana

TRADISI MASJID BABUSSALAM GELUMBANG

Dua Kali Azan

Tradisi sholat Jum’at di Masjid Babussalam Gelumbang ini tak jauh berbeda dengan tradisi sholat Jum’at di Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II di pusat Kota Palembang. Dua kali azan, dan Khatib yang akan menyampaikan khutbah akan dibekali sebuah tongkat oleh Bilal sebelum naik ke Mimbar. Dan sebelum khutbah di sampaikan, setelah Azan ke dua, bilal akan mengingatkan kepada seluruh jemaah sholat jum’at untuk tidak berbicara ataupun berbisik bisik saat khutbah disampaikan, agar mendengarkan isi khutbah dengan seksama. Azan pertama sebagai pertanda bahwa waktu sholat jum’at sudah tiba sedangkan Azan kedua sebagai pertanda bahwa Khatib sudah naik ke atas mimbar dan sudah siap menyampaikan khutbahnya.

Dua Kali Beduk (Beduk Mandi & Beduk Azan)

Di hari Jum’at, menjelang waktu sholat Jum’at akan terdengar dua kali bunyi beduk di tabuh. Pertama sekitar pukul 11.00 siang atau lebih sedikit akan terdengar suara beduk dari masjid dan dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bedok Mandik atau Beduk Mandi, maksudnya bunyi beduk sebagai peringatan kepada seisi kampung bahwa sudah tiba waktunya  mempersiapkan diri untuk sholat jum’at termasuk untuk mandi sunnah sholat jum’at, berpakaian rapi dan persiapan persiapan lain nya.

fasad depan Masjid Babussalam

Beduk kedua, diperdengarkan sebagai tanda bahwa waktu sholat jum’at sudah tiba. Segera setelah  bunyi beduk kedua ini, bilal akan mengumandangkan azan pertama. Setelah itu dilanjutkan dengan sholat qobliah Jum’at. Setelah itu bilal bersiap untuk memulai prosesi khutbah jum’at.

Tradisi Marhaba

Marhaba adalah sebutan bagi prosesi Aqikah dan pemberian nama kepada bayi laki laki ataupun bayi perempuan. Biasanya masyarakat Gelumbang akan melaksanakan prosesi Aqikah dan pemberian nama bagi putra putri mereka di Masjid. Prosesi di mulai dengan pembacaan Kitab Albarzanji, lalu dilanjutkan dengan prosesi pemotongan rambut bayi oleh para hadirin yang berdiri berjejer rapi sambil melantunkan puji pujian kepada Nabi kita yang mulia Muhammad S.A.W.

Salah satu syair dari puji pujian itu berbunyi “Marhaban ya Nuroaini….marhaaabaaa”…. itu sebabnya prosesi ini terkenal dengan sebutan acara Marhaba. Selama puji pujian itu dilantunkan bayi yang di Marhabai (di Aqikah dan di beri nama) akan di gendong oleh ayahnya atau pamannya atau kakeknya, atau oleh kerabatnya yang laki laki, berkeliling menghampiri para jamaah untuk di potong rambutnya. Rambut yang sudah di potong akan dimasukkan ke dalam kelapa muda yang sudah di potong bagian atas nya. Sementara jamaah yang sudah melakukan pemotongan rambut akan dihadiahi semprotan wangi wangian dari salah pengiring bayi, dan satu buah telok abang dari pengiring bayi yang lain nya.

Masjid Babussalam di penghujung tahun 2012

Telok abang adalah setangkai lidi kawung yang besar, di hias dengan kertas warna warni, di ujungnya dipasangi bendera Merah putih, dibawah bendera digantungkan uang kertas (mulai dari seribu hingga sepuluh ribu rupiah tergantung seberapa mampu dan ridho si empunya hajat) dibagian bawah nya lagi kadang kadang di gantungi nama  bayi bersangkutan dan dibagian paling bawah terdapat telor ayam rebus yang sudah diberi warna merah (Abang = Merah). Masing masing jemaah akan diberi satu telok abang sebagai oleh oleh.

Seluruh acara adat Gelumbang di lakukan di masjid ini, mengingat 100% penduduk Gelumbang, Suku Belida dan suku suku lain nya di Sumatera Selatan beragama Islam. Termasuk di dalam nya upacara pengukuhan kepala adat dan pemberian gelar kehormatan kepada para tokoh masyarakat, semuanya dilakukan di masjid Babussalam Gelumbang. Beberapa waktu lalu dilakukan pemberian gelar kehormatan masyarakat suku Belida kepada Bupati Kabupaten Muara Enim dengan gelar Ketua Gugok Gelumbang. Dan upacara pemberian gelar itu juga dilakukan di Masjid Babussalam Gelumbang.*** [last updated : 12-Juni-2013]