Minggu, 06 Februari 2011

Masjid Omar Kampung Malaka – Singapura

Masjid Omar Kampung Malaka – Singapura

Masjid Tertua di Singapura, dibangun pengusaha Palembang

Masjid Omar kampong malaka ini tidaklah terlihat sebagai masjid yang luar biasa di kawasan Keng Cbeow Street, namun inilah masjid yang pertama kali dibangun dan menjadi masjid tertua di Singapura. Terletak di tengah tengah kawasan Singapore River Planning Area, Singapore's central business district dan tentu saja merupakan kawasan jantung kota bisnis Singapura. Berada tak jauh dari Kuil Tan Si Chong Su. Dan sejarah menyebutkan bahwa masjid pertama di Singapura ini dibangun oleh seorang saudagar kaya keturunan Arab asal Palembang (Sumatera Selatan).

Memang sudah sejak dulu Singapura menjadi tempat yang begitu menarik bagi masyarakat Indonesia untuk berniaga disana, seperti disinggung dalam artikel Masjid Sultan Singapura di posting sebelumnya, bahwa para saudagar awal yang berniaga di Singapura adalah para pedagang dari Jawa, Bugis dan suku suku lain Indonesia. Mereka pulalah yang kemudian menorehkan sejarah bagi perkembangan Islam di Singapura.

Nama nama seperti Kampung Bugis dan Kampung Jawa yang dulu hanyalah sebuah perkampungan kecil masyarakat indonesia disana, kini sudah berubah menjadi kawasan bisnis modern, meski masih menggunakan nama kampung yang sama, dengan sedikit heritage yang tetap dijaga demi nilai sejarah.

Interior Masjid Omar Kampung Malaka – Singapura.

Dan kini setelah hampir dua abad berlalu, singapura masih menjadi salah satu primadona bagi masyarakat Indonesia. Tak mengherankan bila kemudian begitu banyak masyarakat Indonesia yang tinggal ataupun sekedar berkunjung, dan tak juga tidak aneh bila bahasa Indonesia dialek Jakarta yang kental dengan kata “Elu Gue” menjadi salah satu kata yang lumrah terdengar bila sedang berkunjung ke negeri Singa itu.

Alamat dan Lokasi Masjid Omar Kampung Malaka
  
10 Keng Cheow Street
Kampong Malaka
Singapore (059607)

Masjid Omar Kampong Melaka terletak di Clarke Quay Singapore. Clarke Quay merupakan hotspot bagi kehidupan malam hari di Singapura, lengkap dengan klab malam, pub and pusat kuliner yang terdiri dari lebih dari 200 rumah makan sepanjang sungai Singapura. Jadi, tak ada alasan untuk ketinggalan sholat lima waktu karena ketiadaan masjid bila sedang berada di sekitaran lokasi tersebut.

 

Sejarah Masjid Omar Kampung Malaka

Masjid Omar Kampung Malaka ini didirikan tahun 1820, setahun setelah Stamford Rafless mendarat di Singapura dan 4 tahun sebelum masjid Sultan Singapura dibangun. Masjid ini juga sudah pernah mengalami perbaikan di tahun 1855 dan kemudian tahun 1981 - 1982. pengelolaan masjid tua ini kini ditangani oleh Majelis Ugama Islam SIngapura (MUIS).

Mengambil lokasi di sisi selatan sungai singapura, Masjid Omar Kampung Melaka tepat berada di dalam lingkup Kampung Malaka, daerah yang di khususkan bagi orang melayu oleh Stanford Raffless dalam rencanan tata kota yang dibuatnya tahun 1822. dan hasilnya adalah orang orang Arab, Keturunan Jawa, masyarakat Indonesia lain nya dan orang orang melayu Malaysia pun menetap disana.

Kini kawasan pemukiman muslim tersebut sudah tersapu oleh perkembangan kota Singapura beberapa dekade terahir. Haya menyisakan sedikit jejak masa lalu yang masih bisa dinikmati untuk sekedar bernostalgia ke masa lalu kota Singapura.

Interior Masjid Omar Kampung Malaka – Singapura

Masjid Omar Kampong Melaka dibangun oleh
Syed Omar Bin Ali Aljunied seorang saudagar kaya keturuanan Arab yang berasal dari Palembang. Nama beliau yang kemudian di abadikan menjadi nama masjid tertua tersebut. Putra beliau yang bernama Syed Abdullah bin Omar Aljunied yang kemudian membangun lagi masjid tersebut di tahun 1855.

Keluarga Aljunied merupakan salah satu keluarga keturuanan arab yang kaya raya di Singapura ketika itu, termasuk juga keluarga Alkaffs dan Alsagoffs. Mereka termasuk keluarga yang cukup dermawan yang dengan rendah hati turut membangun sekolah, rumah sakit dan masjid termasuk mesponsoru berbagai acara keagamaan. Nama keluarga Aljunied ini selain diabadikan sebagai nama masjid juga di abadikan sebagai nama jalan Aljunied Road di daerah yang juga bernaa Aljunied serta Syed Alwi Road di Serangon.

Interior Masjid Omar Kampung Malaka – Singapura

Pada awalnya masjid Omar dibangun dengan struktur kayu. Kemudian
Syed Abdullah bin Omar Aljunied yang membangun ulang masjid tersebut menggunakan bahan bata di tahun 1855 ketika jalan baru ke kampung Malaka dibangun. Pembangunan tersebut juga untuk menampung jemaah yang sudah semakin meningkat. Dan meski sudah dibangun menggunakan bata, seperti halnya masjid masjid tradisional Indonesia, masjid ini sejak dibangun tidak dilengkapi dengan menara. Barulah pada tahun 1985 dilengkapi dengan menara.

Kini masjid Omar menjadi salah satu masjid yang berada di pusat bisnis terpenting di Singapura. Dengan kapasitas mencapai 1000 jemaah masjid senantiasa terbuka untuk menerima jemaah yang kebanyakan adalah muslim yang bekerja di sekitar area tersebut untuk sholat lima waktu dan sholat jum’at.***

--------------------------ooOOO----------------------------

Sabtu, 05 Februari 2011

Masjid Nurul Islam, Cape Town, Afrika Selatan

Masjid Nurul Islam Cape Town merupakan bangunan rumah tinggal semacam ruko yang kemudian dijadikan masjid. bangunan utamanya ada di bagian belakang gedung ini.

Masjid Tertua Ke Tiga di Afrika Selatan, dibangun oleh Ulama keturunan Indonesia

Seperti halnya Palm Tree Mosque di posting sebelumnya, masjid Nurul Iman ini pun masih memiliki pertalian dengan Masjid Auwal yang merupakan masjid pertama di Afrika Selatan. Masjid Nurul Iman menjadi masjid tertua ke tiga di Afrika Selatan, setelah Masjid Auwal di Dorp street dan Masjid Palm Tree (Palm Tree Mosque) di Long street.

Masjid Nurul Islam menjadi masjid tertua ke tiga di Afrika Selatan, bangunan masjid yang lebih mirip sebuah ruko dibandingkan sebuah bangunan masjid. Didirikan tahun 1844 oleh putra bungsu Tuan Guru atau Pangeran Abdullah Kadi Abdus Salam dari Tidore yang juga imam dan pendiri Masjid Auwal di Dorp street. Masjid ini juga merupakan masjid pertama di Afrika Selatan yang didirikan oleh para jemaah dan santri dibawah arahan Imam Achmad Van Bengalen.

Alamat dan Lokasi Masjid Nurul Islam

134 Buitengracht Street, Bo-Kaap
Cape Town, South Africa, 8001




Masjid Nurul Islam berada tak jauh dari masjid Auwal sekitar seratus meter saja,meski berada di ruas jalan yang berbeda. Di foto udara 45 derajat street view google maps berikut dapat terlihat dengan jelas lokasi antara masjid Auwal dan Masjid Nurul Islam.

Sejarah Masjid Nurul Islam

Masjid Nurul Islam didirikan tahun 1834 oleh Imam Abdol Rauf, Putra bungsu Tuan Guru atau Pangeran Abdullah Kadi Abdus Salam dari Tidore yang juga imam dan pendiri Masjid Auwal di Dorp street. Masjid ini juga merupakan masjid pertama di Afrika Selatan yang didirikan oleh para jemaah dan santri dibawah arahan Imam Achmad Van Bengalen. Masjid ini menjadi masjid tertua ke tiga di Afrika Selatan.

Berlokasi di jalan kecil Buitengracht Street, daerah, ketika pertama berdiri mampu menampung 150 jemaah. Setelah di renovasi tahun 2001 masjid terebut kini mampu menampung hingga 700 jemaah. Masjid Nurul Islam terbuka untuk dikunjungi oleh kalangan manapun termasuk kunjungan dari para wisatawan.

Dua masjid tertua di Afrika Selatan, masjid pertama dan ketiga. Didirikan oleh ayah dan anak. 

Perluasan masjid

Sejak tahun 2008 pengurus masjid memutuskan untuk menutup bagian atap beton masjid untuk digunakan sebagai ruang sholat tambahan dan ruang peralatan. Hal tersebut dilakukan karena beberapa alasan. Pertama karena beberapa waktu belakangan atap atap cor tersebut sudah mulai bocor, tiap kali hujan turun air hujan selalu saja merembes ke dalam masjid, meski usaha usaha untuk menambal telah dilakukan namun kebocoran tetap terjadi. Rembesan air hujan tersebut sudah mulai merusak kusen, karpet dan peralatan elektronik.

Ditambah lagi kondisi bahwa daya tampung masjid tersebut sudah tak lagi mampu menampung jemaah pada peringatan peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, malam lailatul Qodar, termasuk sholat tarawih. Jamaah yang hadir membentuk shaf sholat hingga ke jalan raya.

Tahun pembangunan masjid ini jelas terpampang di fasad depan nya

Pengerjaan tersebut kini sudah terlihat hasilnya di masjid Nurul Islam. Sedikit perubahan dilakukan dengan penambahan tempat wudhlu kecil dan balkon yang menghadap ke pegungungan. Strutur atap masjid menggunakan rangka baja dengan atap monopitch. Di bagian puncak atap dipasang kubah 4m yang dapat dibuka sebagai ventilasi udara. Sementara atapnya sendiri ditutup dengan lembaran tunggal untuk mencegah terjadinya kebocoran. Dinding di sisi barat dilengkapi dengan jendela yang dapat dibuka untuk mengurangi udara pengap dan panas di dalam masjid.

Dana yang di anggarkan untuk renovasi tersebut sebesar R 1.3 juta. Panitia masjid mengajak seluruh jamaah dan kaum muslimin untuk turut bersama sama membiayai proses renovasi tersebut.  Mengingat satu hadis Rosulullah yang mengatakan “barangsiapa membangun masjid di dunia maka Alloh akan membangun sebuah rumah untuknya di Surga” demikian di katakan oleh koordinator pembangunan masjid Nurul Islam, Tayyib Ogier.

Salah satu kegiatan di Masjid Nurul Islam, pengajian tentang ibadah haji 

Kegiatan Masjid Nurul Islam, Cape Town

Kegiatan remaja dan kepemudaan masjid Nurul Islam ini di arahkan kepada program diskusi Islam yang dipandu oleh Sheikh Serag Johaar dan Mahasiswa mahasiswa muda yang berasal dari Saudi dan Mesir. Program ini sudah dimulai sejak 23 Februari 2004 (2 Muharam 1425H) yang lalu, dan diselenggarakan setiap senin malam.

Forum diskusi tersebut terbuka bagi semua remaja muslim untuk mendiskusikan peran remaja Islam dan idetitas keislaman mereka di dalam masyarakat moderen. Dan dikesempatan tersebut juga diberikan pembekalan kepada para remaja dengan pengetahuan fiqih Islam serta syariat Islam. Waktu diskusi dilakukan setiap senin dengan waktu yang disesuaikan dengan musim di sana. Untuk musim dingin (winter) diskusi diselenggarakan setiap ba’da Isya’, sedangkan di musim panas diselenggarakan setiap ba’da magrib,

Disamping program kepemudaan dan remaja seperti disebutkan diatas, masjid nurul Islam juga menyelenggarakan pendidikan pemahaman Ibadah Haji yang diselenggarakan setiap kamis malam jum’at ba’da magrib sampai tiba waktu sholat isya. Diikuti oleh semua jemaah yang berminat.

 

----------------------oooOOOooo-------------------------

Jumat, 04 Februari 2011

Palm Tree Mosque – Cape Town, Afrika Selatan

Palm tree mosque Cape town, bangunan yang berwarna biru dengan pohon palem didepannya.

Artikel ini bertalian dengan artikel
Masjid Auwaldi posting sebelumnya.

The Palm Tree Mosque atau Masjid Palm Tree bila di Indonesiakan menjadi Masjid Pohon Palem, nama yang cukup aneh bukan ?. Masjid ini adalah masjid kedua yang dibangun di kota Bo Kaap khususnya, dan di Afrika Selatan pada umumnya, setelah Masjid Auwal di 34 Dorp Street yang dibangun oleh Tuan Guru Abdullah Kadi Abdus Salam (Pangeran kesultanan Tidore). Masjid Palm Tree ini pada mulanya adalah sebuah rumah tinggal yang kemudian di ubah menjadi Langgar (orang Bo Kaap, juga menyebutnya langgar) atau mushola/surau sampai ahirnya menjadi masjid.

Nama masjid ini memang sedikit aneh. Karena memang sejak pertama digunakan sebagai Langgar si empunya rumah tak pernah memberi nama resmi langgar tersebut. Para penerusnya yang kemudian memberi nama “Palm Tree mosque” karena ada dua pohon palem di depan rumah yang menjadi masjid tersebut, pohon yang ditanam sendiri oleh si empunya rumah. Maka jadilah hingga kini masjid itu disebut dengan nama Palm Tree Mosque atau masjid Palm Tree.

Foto bersejarah Masjid Palm Tree.

Menjadi lebih menarik lagi bahwa masjid ke dua di negara Afrika Selatan ini masih bertalian dengan Masjid Auwal yang dibangun oleh Tuan Guru
, karena pendiri masjid Palm Tree tak lain adalah para murid dari Tuan Guru sendiri, yang mendirikan masjid Palm Tree tak lama setelah tuan guru wafat.

Alamat dan Lokasi Masjid Palm Tree

185 Long Street, Bo-Kaap
Cape Town, Western Cape
South Africa 8001

 

Layaknya sebuah rumah yang kemudian dijadikan masjid, masjid Palm Tree ini bentuk bangunannya sama sekali tak terlihat seperti masjid seperti yang kita kenal. Hanya berupa bangunan beton berlantai dua ditengah tengah kawasan bisnis yang sangat sibuk di Bo Kaap.

Sejarah Masjid Palm Tree (Palm Tree Mosque)

Sejarah masjid Palm Tree tidak terlepas dari Masjid Auwal yang menjadi masjid pertama di Afrika Selatan didirikan oleh Tuan Guru Abdullah Kadi Abdus Salam (Pangeran kesultanan Tidore) yang kini dianggap sebagai bapak bagi ajaran Islam di Afrika Selatan. Ketika masjid Auwal berdiri, Tuan Guru juga mendirikan madrasah bagi anak anak muslim berbagai bangsa di Cape Town. Tuan guru sendiri yang mengajar disana dibantu oleh jemaah masjid yang juga berguru kepada beliau.

Tuan Guru wafat di tahun 1807, dan beliau mewariskan kepemimpinan Masjid Auwal kepada Abdul Alim. Keputusan yang membuat kecewa dua jemaah Masjid Auwal, Frans van Bengalen dan Jan van Boughies. Dua jemaah tersebut kemudian keluar dari kepengurusan masjid mulai mendirikan Langgar di lantai atas rumah Jan van Boughies di Long Street. Rumah tersebut baru menerima statusnya sebagai masjid pada tahun 1825.

Foto lama Masjid Palm Tree,Bo Kaap
Cape Town.
Ketika menerima statusnya sebagai masjid, masjid ini masih menggunakan nama pemilik rumah Jan van Boughies sebagai nama masjid. Abdul Gamiet / Frans van Bengalen menjadi imam pertama di masjid tersebut. Jan van Boughies sendiri adalah seorang budak yang dibawa oleh Belanda ke Cape Town di abad ke 18, beliau adalah orang yang sangat terdidik, mahir berbahasa Arab, dan menjadi pengajar di Madrasah milik Tuan Guru di Masjid Auwal.

Bangunan yang kini digunakan sebagai Masjid Palm Tree itu sudah berdiri sejak tahun 1780 sebagai sebuah rumah tinggal. Di bangun oleh Carel Lodewijk Schot sebagai kediaman pribadi. Rumah tersebut kemudian dibeli Jan van Boughies, yang kemudian mengubahnya menjadi masjid. maka kemudian beroperasilah sebuah masjid yang bersebelahan dengan toko penjual minuman keras import. Sebuah pemandangan yang sangat ironis tentunya.

Cerita yang berkembang menyebutkan setahun setelah berdirinya masjid, Jan pergi meninggal Afrika Selatan, dan sebagian besar dari jemaah kembali ke masjid Auwal. Lebih dari seabad dan satu dekade kemudian nama masjid Jan van Boughies diganti dengan nama yang lebih ringkas, dengan menyebutnya sebagai masjid Palm Tree merujuk kepada pohon palem di halaman depan masjid yang dulunya ditanam sendiri oleh Jan van Boughies.

Nama yang sekaligus menjadi penanda masjid tersebut, masjid yang di depan nya terdapat pohon palem dan daunnya sudah setinggi jendela lantai dua masjid tersebut. Bangunan masjid ini menjadi sangat signifikan karena menjadi satu satunya bangunan rumah di long street yang masih bertahan sejak abad ke18,

Objek Wisata Religi

Pintu masuk ke masjid palm tree.
Masjid Palm Tree ini menjadi salah satu masjid yang begitu menarik bagi wisatawan bersama sama dengan masjid Auwal, yang merupakan dua masjid yang paling tua di Afrika Selatan. Ketua pengurus masjid Palm Tree Farouk Kamalie mengatakan bahwa kekunoan masjid tersebut yang menarik wisatawan untuk berkunjung.

Ribuan orang datang dari berbagai negara setiap bulan ke masjid ini untuk sekedar berpose mengabadikan masjid tersebut, membuat rekaman video bahkan melakukan interview kepada para pengurus. Masjid masjid di Cape Town memang menjadi ciri dari kota ini yang kaya dengan warisan budaya Islam.

200 tahun Palm Tree Mosque

Masjid tertua ke dua di Afrika Selatan ini, pada tahun 2007 lalu merayakan 200 tahun eksistensinya di Afrika Selatan. 200 tahun sejak pertama kali bangunan di 185 Long Street, Bo-Kaap dijadikan sebagai langgar di tahun 1807 ketika itu pelaksanaan sholat jum’at untuk pertama kali diselenggarakan di masjid Palm Tree.

Setelah 200 tahun berlalu kawasan Long street sudah berubah menjadi distrik bisnis utama yang sangat sibuk. Masjid Pal Tree menjadi salah satu dari dua masjid yang berada di jalan yang sama, memberikan nuansa islami di atmosfir kosmopolitan kota tersebut. Dalam perayaan 200 tahun tersebut masjid Palm Tree mengadakan acara selama 3 hari.

Perayaan dimulai hari Jum’at dengan acara sholat jum’at spesial yang diliput secara langsung oleh stasiun tivi VOC. Berlanjut di hari sabtu dengan zikir oleh pengajian jemaah wanita sebelum dilanjutkan dengan parade di depan masjid menampilkan sejarah perjalanan masjid Palm Tree. Acara puncak peringatan 200 tahun masjid ini diselenggarakan di hari Ahad dengan acara Khatamal Qu’ran yang juga disiarkan langsung oleh stasiun tivi VOC.

Fasad depan masjid Palm tree.
Aktivitas Masjid Palm Tree

Masjid Palm Tree sudah mengalami dua kali renovasi, renovasi pertama dilakukan tahun 1955 kemudian dilanjutkan lagi tahun 2002 lalu. Sejak pertama berdiri masjid Pal Tree sudah 14 imam yang mengabdikan diri di masjid kecil ini. Saat ini masjid ini lebih banyak digunakan oleh muslim yang bekerja di kawasan pusat bisnis tersebut untuk menunaikan sholat lima waktu. Kapasitas masjid ini hanya dapat menampung 350 jemaah laki laki dan 140 jemaah wanita.

Meskipun tidak berada ditengah tengah tengah komunitas muslim, masjid ini mengadakan aktivitas umum seperti madrasah bagi wanita, Qur’an bagi pemula serta pembinaan pemuda. Ada juga pengajian mingguan serta khatamul Qur’an setiap tahun.

Foto foto Masjid Palm Tree – Bo Kaap

Masjid Palm Tree – Bo Kaap, Cape Town.
Masjid Palm Tree – Bo Kaap, Cape Town.
Masjid Palm Tree – Bo Kaap, Cape Town.
Palm tree mosque dalam bayang bayang pohon palm.
Papan nama masjid palm tree.

-------------------------------oooOOOooo------------------------------

Masjid Auwal - Cape Town, Masjid Pertama di Afrika Selatan

Masjid Auwal - Cape Town.

Dibangun oleh Ulama Indonesia

Afrika Selatan, negara yang begitu sarat keterikatan sejarah yang unik dengan Indonesia. Agama Islam masuk ke Afrika Selatan justru dibawa oleh ulama ulama pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditangkap dan diasingkan oleh penjajah Belanda ke negeri itu,  untuk memutus perlawanan dan pergerakan mereka di tengah ummat. Tapi justru memberi khikmah tersendiri bagi syiar Islam yang kemudian tersebar luas di Afrika Selatan.

Seperti tertulis dalam prasasti di tugu peringatan tak jauh dari Makam Sheikh Yusuf di kampung Macassar – Cape Town, bahwa Islam pertama kali masuk ke Afrika Selatan dibawa oleh Sheik Yusuf beserta Keluarga dan para pengikutnya.

“In the ship Voetboeg Saint Yusuf came from Ceylon to the Cape in 1694. He, his family & 49 Followers were the first to read the Holy Koran in South Africa”

Sheikh Yusuf datang dari Sri Lanka ke Cape Town dengan kapal Voetboeg pada tahun 1694. beliau bersama keluarga dan 49 orang pengikutnya yang pertama kali membaca kitab Suci Al-Qur’an di Afrika Selatan”.

Seratus tahun setelah itu, masjid pertama di Afrika Selatan didirikan oleh Abdullah Kadi Abdus Salam seorang pangeran dari kesultanan Tidore (Maluku Utara) yang di asingkan oleh Belanda di pulau kecil di lepas pantai Cape Town. Masjid pertama yang diberi nama Masjid Auwal itu hingga kini masih berdiri megah dan difungsikan sebagaimana mestinya di kawasan Boo Kap, Cape Town, Afrika Selatan.

Alamat dan lokasi masjid

34 Dorp Street
Boo Kap, Cape Town
Afrika Selatan

 

Bo Kaap, Kampung Muslim di Cape Town

Bo Kaap merupakan wilayah yang sejak awal berdirinya kota tersebut sudah menjadi perkampungan bagi kaum muslimin Indonesia. Tidak mengherankan bila seisi kita ini mengaku sebagai keturuanan Indonesia. Bo Kaap juga terkenal dengan sebutan kota bertabur masjid karena begitu banyak masjid di wilayah ini. 90% lebih dari penduduk Bo Kaap beragama Islam, jadi tak mengherankan bila hampir tiap pojok pemandangan kota dengan bangunan yang di cat cerah warna warni ini akan ada satu bangunan masjid.

Sejarah Masjid Auwal Bo Kaap, Cape Town

Masjid Auwal merupakan masjid pertama dan tertua yang dibangun di Afrika Selatan. Sejarah verbal yang disampaikan masyarakat setempat menyebutkan bahwa Imam Abdullah Kadi Abdus Salam yang juga dikenal sebagai Tuan Guru merupakan imam pertama sekaligus pendiri masjid ini.

Masjid auwal mulai dibangun tahun 1794 hingga 1798 semasa pendudukan inggris pertama kali di Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) dan telah menjadi agam utama yang mengakar disana dalam kurun 1804 hingga 1850. masjid ini juga menjadi masjid pertama yang menjalankan tadisi muslim di Cape Town.

Interor Masjid Auwal Cape Town.

Masjid Auwal menganut mazhab Syafe’i sama dengan mazhab yang di anut di Indonesia. Dan hingga kini Islam di Bo Kaap 90% menganut mazhab Syafe’i. Masjid yang terletak di Dorp Street ini sejak awal berdiri telah menjadi simbol perjuangan muslim di sana bagi sebuah pengakuan terhadap eksistensi dan kebebasan menjalan ibadah.

Dibangun dan di imami Pangeran Ternate

Abdullah Kadi Abdus Salam yang kemudian dikenal oleh masyarakat muslim setempat dengan nama Tuan Guru adalah seorang pangeran dari kesultanan Tidore (Maluku Utara) yang di asingkan oleh Belanda ke Afrika Selatan. Dipanggil Tuan Guru oleh masyarakat muslim setempat karena dedikasi beliau yang luar biasa memberikan pendidikan agama Islam. Ditambah lagi dengan posisinya sebagai imam masjid disana, mengokohkan gelar nya sebagai Tuan Guru.

Kata “Tuan Guru” melengkapi khazanah bahasa Indonesia yang dipakai oleh masyarakat Cape town. Makam makam para ulama penyebar Islam disana kesemuanya disebut sebagai “Kramat” oleh masyarakat setempat, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Tentunya semua orang Indonesia sangat faham makna kata  tersebut. Dan hingga kini makam makam para ulama tersebut senantiasa di ziarahi.

Makam tua guru keramat di Tanah Baru.

Begitulah sunnah orang yang berjuang demi kebenaran. Kadangkala harus berenggang dengan anak dan istri, dibuang dan dinista oleh penguasa. Meski begitu, tak ada kata “mati” bagi para pejuang sejati,  ruh nya memang telah terpisah dari jazad tapi sesungguhnya mereka tetap hidup di hati para pencari dan pecinta kebenaran. Adalah benar seperti syair nasyid melayu dari Nada Murni yang menuturkan :

“Tidak kurang yang sayang padanya, Orang lain mati dilupa
Para pejuang tetap dikenang, Sejarahnya ditulis orang 
Makamnya sentiasa diziarahi, Walau perjuangan tak berjaya……”

Perjuangan Tuan Guru di Afrika Selatan

Tuan Guru adalah orang Indonesia kedua yang menyebarkan Islam di Afrika Selatan setelah Syech Yusuf. Keduanya memiliki nasib yang sama, dibuang Belanda di benua Afrika. Syech Yusuf dibuang ke Cape Town pada 1693 dan meninggal di pengasingan pada 23 Mei 1699. Sementara itu, Tuan Guru, Pangeran Tidore yang lahir pada 1712, ditangkap karena menentang Belanda dan diasingkan ke Robben Island di Cape Town pada 6 April 1780 bersama dengan tiga orang rekannya yaitu Abdul Rauf, Badroedin, dan Nur Al-Iman.

Selama dalam pengasingan selama 13 tahun, Tuan Guru menulis buku antara lain Ma’rifatul Islami wal Imani yang diselesaikannya pada 1781. Buku tersebut berbahasa Melayu tetapi berhuruf Arab. Tuan Guru juga menulis Alquran dengan tangannya sekitar 600 halaman. Setelah era Alquran cetak, baru diketahui Alquran tulisan tangan Tuan Guru memiliki sedikit kesalahan.

Pintu Masjid Auwal.

Setelah bebas dari pengasingan, Tuan Guru menikah dengan Kaija van de Kaap dan tinggal di Dorp Street, Cape Town. Dari pernikahan tersebut, lahir Abdol Rakief dan Abdol Rauf, yang juga sangat berperan dalam penyebaran Islam di Afrika Selatan.

Di sebuah gudang di tempat tinggal yang baru inilah Tuan Guru mendirikan madrasah, yang juga merupakan sekolah muslim pertama di Afrika Selatan. Sekolah ini sangat popular di kalangan budak dan komunitas warga kulit hitam nonbudak. Sekolah ini juga menjadi tempat lahirnya ulama-ulama Afrika Selatan ketika itu seperti Abdul Bazier, Abdul Barrie, Achmad van Bengalen, dan Imam Hadjie. Murid Tuan Guru ketika itu mencapai 375 orang.

Pada 1793, Tuan Guru mengajukan permintaan untuk membangun masjid pada 1794 kepada pemerintah Afrika Selatan yang saat itu dikuasai Belanda. Permintaan Tuan Guru ditolak. Belanda takut perkembangan Islam akan menganggu kekuasaannya. Bahkan, penjajah Belanda di Afrika Selatan juga melarang penyelenggaraan ibadah Islam.

Namun, Tuan Guru menentang kebijakan Belanda tersebut. Walau pembangunan masjid dilarang, Tuan Guru tetap menggelar Salat Jumat di tempat terbuka tersebut, yang juga tercatat sebagai Salat Jumat pertama yang dilakukan secara terbuka di Afrika Selatan.

Masjid Auwal Cape Town.

Ketika Afrika Selatan dikuasai Inggris pada 1795, Jenderal Craig mempersilakan warga Muslilm untuk membangun masjid. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Tuan Guru. Dia langsung membangun masjid di tempat yang semula menjadi madrasah tersebut. Masjid inilah yang kemudian dinamai Masjid Auwal, mesjid pertama di Afrika Selatan. Tuan Guru meninggal pada 1807 yang dikebumikan pada 1807 di “kramat” Tana Baru, yang juga merupakan tempat pemakaman Muslim pertama yang dibangunnya di Afrika Selatan.

Masjid Auwal Saat ini

Sekarang ini, Masjid Auwal berdiri di kawasan bisnis dekat Waterfront. Masjid tersebut berada di kawasan penduduk padat dan tidak memiliki halaman. satu-satunya yang membedakan adalah gerbang masjid. Masjid Auwal beberapa kali dipugar. Namun, dinding asli yang terdiri atas batu gunung, masih terdapat di dekat mimbar masjid tersebut.

Mushaf Al-Qur'an Kuno di Masjid Auwal.

Imam Mesjid Auwal sekarang ini, Moehammed Fadil Soekr mengatakan sangat bangga dengan keberadaan masjid ini. Menurut Soekr, selama zaman apartheid, setiap warga Muslim tidak leluasa menjalankan ibadahnya. Ketika apartheid runtuh pada 1994, Nelson Mandela datang ke Masjid Auwal ini dan mempersilakan warga Muslim untuk menjalankan ibadahnya. “Setelah apartheid, perkembangan Islam berjalan cepat.

Daerah sekitar Bo-Kaap, hampir 90 persen penduduknya sekarang muslim,” ujar Soekr. Soekr yang mengaku sebagai warga Cape Malays, keturunan Indonesia di Afrika Selatan, mengatakan sangat ingin mengunjungi Indonesia. “Indonesia adalah tempat asal nenek moyang saya. Jika punya uang, saya ingin ke sana. Indonesia selalu spesial di mata saya,” ujarnya.***

-------------------oooOOOooo----------------

Kamis, 03 Februari 2011

Masjid Sultan Singapura

Masjid Sultan Singapura (Sultan Mosque).

Masjid Sultan di Kampung GlamSingapura merupakan masjid kedua yang dibangun di Republik Singapura. Dibangun 4 tahun setelah berdirinya masjid Omar di kampung Malaka. Hingga kini, masjid bersejarah itu masih menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan asing yang datang ke Singapura.

Sejarah masjid ini memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Indonesia. Pertama kali berdiri masjid Sultan Singapura ber-arsitektur Indonesia dengan atap limas bersusun dua. Karena memang dibangun oleh masyarakat muslim Jawa.

Saudagar Muslim Jawa merupakan para pedagang awal di Singapura, dan menjalankan aktivitas perdagangan bersama dengan masyarakat ArabBoyan (Bawean) dan Bugis sebelum kedatangan saudagar Tionghoa. Bangunan masjid itu menjadi tempat tinggal atau kawasan permukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia di pulau SIngapura.

Bentuk awal Masjid Sultan Singapura.

Tahun 1920-an masjid berarsitektur Indonesia itu kemudian dibongkar dan dibangun kembali menjadi seperti sekarang. Setelah direnovasi dan ditetapkan sebagai produk pariwisata Singapura. Nama asli jalan-jalan berdekatan masjid seperti Kandahar street, Baghdad street, Arab street dan Bussorah Street masih diabadikan sebagai bagian sejaran Singapura.

Alamat dan Lokasi Masjid Sultan Singapura

No. 3 Muscat Street
Kampung Glam, Singapore 198833.

Terjepit diatara gedung gedung tinggi di area North Bridge Road area seperti Parkview Square, Golden Landmark Hotel, Raffles Hospital, Bugis Junction dan Hotel Inter-Continental, masjid tua ini mempertahankan auranya sebagai salah satu pusat Islam di negara pulau Singapura yang supersibuk.



Sejarah masjid Sultan Singapura

Ketika singapura diserahkan ke Inggris di tahun 1819, Temenggong Abdul Rahman, penguasa di Pulau Singapura kala itu dan Sultan Hussain Shah dari Johor yang merupakan pemilik pulau Singapura kala, mendapatkan sedikiti keistimewaan dari Inggris sebagai ganti dari penyerahan kekuasaan mereka atas Singapura kepada Inggris ketika Thomas Stanford Rafles mendirikan negara Singapura.

Sir Stamford Raffles memberi Temenggong dan Sultan tunjangan hidup tahunan dan hak atas Kampong Glam bagi tempat tinggal mereka. Daerah Kampung Glam juga di alokasikan bagi orang orang melayu dan muslim. Sultan Husein membangun sebuah istana disana dan membawa semua keluarga dan semua pengikutnya dari kepulauan Riau. Banyak pengikut sultan dan temenggung yang memang berasal dari Riau, Malaka dan Sumatera yang kemudian datang dan menetap di Kampung Glam.

Sultan Hussain yang kemudian memutuskan untuk membangun masjid untuk menyelaraskan jawabatannya sebagai Sultan. Masjid tersebut dibangun tak jauh dari Istananya dimulai pada 1824 hingga 1826. bangunan masjid yang pertama dibangun berbentuk masjid tradisional nusantara dengan atap limas bersusun tiga. Dana pembangunan masjid tersebut berasal dari sumbangan East India Company sebesar $3000 dolar dan donasi dari jemaah muslim setempat.

Interior Masjid Sultan Singapura.

Masjid ini dibangun ketika Nort Bridge road belum dibangun melewati wilayah yang kini disebut arab street. Dan selesai dibangun tahun 1826 pada saat letnant Jackson menyelesaikan pembangunan jalan yang sempat menimbulkan ketegangan saat ruas jalan tersebut ternyata melewati areal masjid.

Pengelolaan masjid dikepalai oleh Alauddin Shah, cucu Sultan Hussain hingga tahun 1879. ketika Alaudin Shan Wafat kepengurusan masjid di lanjutkan oleh lima pimpinan komunitas muslim disana. Tahum 1914 hak guna lahan masjid diperpanjang lagi oleh pemerintah Inggris di Singapura untuk masa 999 tahun dimulai dari tahun 1914.

Saat itu juga dibentuk kepengurusan masjid yang baru atau disebut trustees dengan dua perwakilan dari masing masing faksi komunitas muslim di Singapura yang terdiri dari Melayu, Jawa, Bugis, Arab, Tamil dan India Utara untuk merepresentasikan keberagaman komunitas muslim di Singapura.

Anggota trustee saat itu terdiri dari Syed Abrulrahman b Shaik Alkaff and Shaik Abu Baker b Taha Mattar (Arab); Inche Amboo' Haji Kamaruddin dan Saim b Abdul Malek (Bugis); Hj Wan Abdullah b Omar and A Jalil bin Hj Haroon (Melayu); Hj Mohamed Amin b Abdullah and Hj Mohamed Eusofe Hj Mohamed Noor (Jawa); Mahmood bin Hadjee Dawood and Mohamed b Mahmood Sahab (India Utara) dan Mohamed Kassim Marican dan Yavena Sultan Abdulcader (Tamil).  

Di tahun 1900an Singapura sudah menjadi pusat perdagangan Islam, Masjid Sultan kemudian sudah tak mampu lagi menampung jemaah yang terus berkembang pesat. Di tahun 1924, memperingati seratus tahun berdirinya masjid tersebut. Pengurus masjid atau trustees menyetujui sebuah rencana untuk mendirikan masjid baru yang lebih besar menggantikan bangunan masjid lama di lokasi yang sama.

Arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren yang merancang masjid baru tersebut untuk dibangun di atas lahan masjid lama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan. Seluruh pembiayaan juga di tanggung keluarga Sultan denga kontribusi dari komunitas muslim Singapura kala itu termasuk sumbangan botol kaca hijau hijau dari kaum miskin ketika itu. botol botol yang kemudian di jadikan ornamen bawah kubah masjid.

Perangko Masjid Sultan Singapore dalam seri peringatan
30 tahun ASEAN
Arsitek Denis Santry mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal lengkap dengan menara menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia pada masjid sebelumnya. Pembangunan masjid baru tersebut selesai dikerjakan tahun 1928. Perbaikan dilakukan tahun 1960 untuk memperbaikan ruang utama masjid dan tahun 1993 masjid Sultan Singapura dilengkapi dengan Auditorium dan aula serbaguna.

Hingga kini masjid sultan Singapura masid berdiri kokoh di tempat dimana dia pertama kali didirikan, menjadi salah satu masjid tetua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung mencapai 5000 jemaah. Masjid Sultan Singpaura kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Singapura para tanggal 14 Maret 1975 sebagai national monument.  Dan statusnya pun kini dimiliki dan dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS).

Aktivitas Masjid Sultan Singapura

Contoh poster kegiatan Masjid Sultan Singapura
Masjid Sultan Singapura memiliki beragam kegiatan baik kegiatan rutin hingga kegiatankegiatan tertentu sesuai dengan momen. Seperti dijelaskan di situs remi masjid sultan Singapura, masjid ini menyelenggarakan kegiatan harian tidak saja menyelenggarakan sholat lima waktu tapi juga kajian harian serta menerima kunjungan dari pihak manapun termasuk kunjungan wisata.

Pengurus masjid menyediakan pemandu wisata gratis untuk para wisatawan yang berkunjung ke masjid ini. Hal tersebut sebagai bagian dari usaha pengurus untuk memberikan pemahaman kepada para pengunjung tentang sejarah masjid serta tentang Islam.

Banyaknya pengunjung dari berbagai bangsa termasuk dari Jepang, belakangan pengurus masjid sudah mendapatkan tenaga sukarela untuk menjadi pemandu di masjid ini, muslimah Jepang yang menikah dengan muslim Singapura dan bersedia membantu masjid untuk menjadi pemandu bagi turis Jepang di masjid ini.

Tahun lalu masjid Sultan Singapura mendapatkan anugerah dari MUIS (Majelis Ugama Islam Singapura) atas upayanya menarik wisatawan mancanegara, antara lain dengan menyediakan pemandu tur gratis selama mereka berkunjung ke masjid tersebut.

Ada pengajian khusus untuk pekerja Indonesia di Singapura diselenggarakan oleh takmir Masjid ini. Pengajian tersebut diselenggarakan setiap hari ahad pekan ke dua dan ke pekan empat setiap bulan.

Masjid Sultan Singapura.

Dana Bersama untuk masjid

Di tahun 1971 pemerintah Singapura memfasilitasi skema penggalangan dana pembangunan masjid, setiap muslim yang bekerja harus menyisihkan dana 3 ~ 5 dolar Singapura setiap gajian untuk dana pembangunan masjid masjid baru di Singapura dan hasilnya kini sudah berdiri 23 masjid generasi baru di Singapura dari dana tersebut dari total 69 Masjid yang ada di Singapura.

Disampung menyelenggarakan kegiatan peribadatan masjid masjid baru tersebut juga menjadi pusat pendidikan, pusat kegiatan sosial dan budaya serta kebutuhan keluarga Muslim. Tentunya skema tersebut skema yang cukup baik untuk diterapkan di tanah air.***

--------------------------ooOOO----------------------------