Selasa, 22 Mei 2012

Moscow Historical Mosque (MHM), Tertua di Kota Moscow - Rusia

Moscow Historical Mosque

Moskow, Ibukota Rusia, kota yang disebut sebut sebagai ibukota negara di Eropa dengan penduduk muslim paling banyak. Merujuk kepada lembaga lembaga Islam Rusia, jumlah muslim di Kota Moskow kini mencapai dua juta jiwa dari total penduduknya yang mencapai 11,6 juta jiwa (sensus 2010). Kota Moscow juga menempati peringkat pertama tingkat sebagai kota dengan populasi tertinggi.

Seiring dengan runtuhnya pemerintahan sosialis Uni Soviet dan berdirinya Federasi Rusia di tahun 1991, keran kebebasan terbuka di negeri yang berpuluh tahun dikungkung oleh sistem komunis itu. Kota Moskow dibanjiri pendatang dari berbagai pelosok Rusia, termasuk dari wilayah dengan penduduk Mayoritas Muslim. Muslim yang migran ke kota ini melambungkan populasi muslim kota Moscow yang sebelumnya memang sudah eksis disana.

pemandangan baru di kota Moskow, muslim sholat di jalan raya 

Sayangnya kota ini hanya memiliki empat masjid resmi bagi penduduk muslim-nya yang kian bertambah dari waktu ke waktu. Empat masjid tersebut adalah : Moscow Historical Mosque (1823) di 28 Bolshaya Tatarskaya Strett, Moscow Cathedral Mosque (1903) di dekat komplek Olimpic Indor Stadium, YardemMosque (1997) di Otradnoye dan Moscow Memorial Mosque (1997) di Poklonnaya Hill. Diantara empat masjid tersebut Masjid Historical Mosque, merupakan masjid tertua yang masih eksis di kota Moskow.

Dua juta muslim dengan hanya empat masjid sudah pasti sangat tidak memadai, akibatnya menjadi pemandangan biasa di kota ini bila muslim yang sholat berjamaah di empat masjid tersebut meluber hingga ke jalan raya, baik di sholat fardu Jum’at, apalagi di dua sholat hari raya. Pelaksanaan lima sholat fardu pun menjadi pemandangan rutin ketika muslim Moskow melaksanakannya di jalan raya karena ketiadaan tempat ibadah sekaligus sebagai bentuk protes terhadap otoritas kota.

Tentang Masjid Moscow Historical Mosque (MHM)

Foto lama Moscow Historical Mosque sebelum di renovasi

Moscow Historical Mosque atau Masjid Istoricheskaya atau bila di Indonesia-kan menjadi Masjid Histori atau masjid Sejarah, selain tertua di kota Moskow masjid ini juga disebut sebut sebagai masjid terbesar kedua di kota Moskow setelah Masjid Katedral (Moscow Catedral Mosque atau Masjid Sabornaya). Lokasi Masjid MHM ini dekat sekali dengan KBRI Moscow di kawasan Novokuznetskaya Ulitsa, sekitar 100 meter ke arah timur.

Masjid MHM pertama kali dibangun tahun 1823 dalam bentuk bangunan biasa tanpa menara, tanpa kubah. Hanya sebuah bangunan biasa di jejeran rumah rumah penduduk yang. Tahun 1881 barulan bangunan tersebut di rekonstruksi menjadi sebuah bangunan masjid yang sebenarya. Ketika Uni Soviet berkuasa imam Masjid ini ditembak mati tahun 1936 dan masjid di tutup oleh penguasa. Barulah tahun 1991 masjid MHM dikembalikan kepada muslim Moskow, dan dibuka kembali tahun 1993 setelah mengalami proses renovasi besar besaran.

Lokasi dan Alamat Masjid MHM

Moscow Historical Mosque
28 Bolshaya Tatarskaya Str.
Novokuznetskaya Ulitsa, Paveltskaya metro stations
Moscow - Russia


Sejarah Masjid Masjid Moscow Historical Mosque (MHM)

Sumber Sejarah Resmi Pemerintah

Berdasarkan arsip dokumen dari oglasno, Masjid MHM yang berada di Grand Tatar 28 dibangun tahun 1823 dan merupakan masjid tertua yang masih eksis di kota Moskow. Merujuk kepada data pejabat senior di Moskow disebutkan bahwa pada tahun 1823 ada masjid di kota Moskow yang rusak akibat penyerbuan Pasukan Napoleon Bonaparte ke kota Moskow tahun 1812.

Dari laporan kepala kepolisian kota Moskow, Mayjen Shulgin, dalam surat bertanggal 26 November 1816 kepada Gubernur Jenderal Alexander P. Tormasov (№ 3135) beliau menyebut “ . .dengan rasa hormat saya laporkan bahwa di ‘pokazuemy House Merchant Shchukin” adalah benar memiliki bangunan masjid sebagaimana dilaporkan oleh polisi rahasia kepada saya, dan bangunan tersebut saat ini terbengkalai tak terurus, bangunan tersebut merupakan miliki dari dari saudagar dari suku Tatar bernama Abdiktevu…”

dari lantai mezanin Masjid MHM

Perjalanan Sejarah Masjid Moscow Historical Mosque (MHM)

Pada bulan Agustus 1816 saudagar muslim Moskow bernama MacKay Abdulov, bersama Izmailov, Mirza sake dan Mullah Abdullah Navruzov Uzbeks mengajukan petisi kepada baginda yang mulia Kaisar . . “untuk mengizinkan pembangunan masjid bagi muslim kota Moskow, sebagaimana masjid masjid yang sudah berdiri di kawasan Kazan dan Saint Petersburg. Untuk diizinkan secara resmi membangun masjid dengan menara serta atribut muslim lainnya. Selama ini muslim kota Moskow melaksanakan sholat di gedung gedung milik pribadi ataupun gedung yang dibeli untuk keperluan itu”.

Dan upaya mendirikan masjid ahirnya mendapatkan tanggapan dari Pangeran Golitsyn Tormasov dari surat № 959 pada tanggal 21 Februari 1817. Pada ahir tahun 1823 masyarakat muslim Tatar di kota Moskow mendapatkan izin dari Tsar Aleksander I untuk membangun tempat ibadah dengan status hukum sebagai properti milik saudagar muslm bernama Hashalova. Izin tersebut berlaku dengan ketentuan bahwa tidak diperkenankan untuk menyuarakan azan ke luar masjid dan tidak diperkenankan untuk memasang papan nama masjid.

dari bawah menara Masjid MHM

Di musim gugur tahun 1823 di atas tanah saudagar muslim Moskow bernama Nazarbaya Alibayeva, anak dari Hashalova dari komunitas muslim Tatar, dilaksanakan pembangunan masjid satu lantai tanpa dilengkapi dengan bangunan menara, Masjid pertama ini tak jauh berbeda dengan rumah rumah penduduk disekitarnya. Barulah 57 tahun kemudian, pada bulan Juni 1880 kelompok muslim Tatar dibawah pimpinan walikota Moskow Akhun Khairetdinov Agiev bersama kepala komunitas Tatar, Ibrahim Abdullah Khairov Devishev mengajukan permohonan kepada dewan propinsi Moskow untuk melaksanakan rekonstruksi terhadap Masjid MHM dengan rancangan baru. Proses rekonstruksi selesai tahun 1881, dan bangunan hasil rekonstruksi inilah yang sisanya bertahan hingga ahir kekuasaan Uni Soviet.

Di masa Uni Soviet  Imam Masjid Dibunuh dan Masjid Ditutup

Tahun 1913 paska wafatnya iman Kazrat Khairetdinov Agiev, imam  baru masjid dipegang oleh Hazrat Abdullah Shamsutdin. Namun ketika Uni Soviet berkuasa di tahun 1936 imam Hazrat Abdullah Shamsutdin ditangkap dan ditembak mati oleh rezim komunis Soviet. Ditahun tersebut (1939) pemerintah Soviet menutup masjid MHM untuk segala kegiatan ibadah, tak sampai disitu menara masjid juga dibongkar. Masjid MHM dikuasai pihak militer kemudian diubah menjadi gedung percetakan dan bengkel.

fasad masjid MHM dengan sentuhan Eropanya yang sangat kental

Di era keterbukaan ‘Perestroika’ yang digulirkan Michael Gorbachev (dipenghujung 1980-an hingga awal 1990-an) tokoh tokoh muslim Moskow serta para tokoh muslim Tatar yang sudah terdiaspora mengajukan permohonan agar bangunan masjid tersebut dikembalikan kepada jemaah. Dan di tahun 1991 bangunan tersebut dikembalikan kepada komunitas muslim Tatar. Rekontruksi bangunan masjid dilaksanakan dengan bantuan yang besar dari pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, melalui Duta Besar Saudi Arabia di Moskow, Dr. Abdel-Aziz-Hajj dan Kementrian Kebudayaan Saudi di Ankara - Ibrahim Al.

Di Renovasi Total

Dan Alhamdulillah, Pada bulan Mei 1993 masjid MHM kembali dibuka untuk kepentingan peribadatan. Masjid MHM di Moskow menjalankan aktivitas resmi keagamaan dan sosial kemasyarakatan-nya dibawah kendali dari Dewan Spiritual dan Urusan Islam Rusia Eropa. (catatan : Wilayah Rusia terbentang di dua benua, Asia dan Eropa. ‘Rusia-Eropa’ maskudnya adalah bagian wilayah Rusia yang berada di benua Eropa sedangkan ‘Rusia-Asia’ maksudnya adalah bagian wilayah Rusia yang berada di benua Asia)

Masjid MHM setelah di renovasi dengan dana bantuan dari Saudi Arabia

Masjid MHM ini salah satu masjid yang menjadi tujuan jemaah muslim Moskow untuk sholat berjamaah termasuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Saat Idul Fitri dan Idul Adha, jamaah bisa membludak bahkan shalat ied pun digelar dalam dua gelombang. Khutbah yang disampaikan bisa dalam empat bahasa yakni Tatar, Rusia, Arab, dan Inggris. Itu sebabnya bila sholat jumat atau sholat ied pelaksanaannya lebih lama ketimbang sholat biasa. Sayangnya, masjid Histori tidak bisa diperluas karena letaknya diapit antara apartemen penduduk. Itu sebabnya agak sulit menemukan pintu memasuki kompleks masjid ini.

Rusia dan Dunia Islam

Islam merupakan agama terbesar kedua di Rusia setelah Kristen Ortodox, bahkan para pengamat memprediksi, Rusia akan menjadi negara islam di tahun 2050 mendatang. Dibawah kepemimpinan Vladimir Putin, secara mengejutkan Rusia mengajukan diri untuk menjadi anggota Organisasi Konfrensi Islam (OKI). Rusia pertama kali mengirimkan delegasinya dalam pertemuan OKI di Malaysia tahun 2003. Tak sampai disitu, pemerintah Rusia juga mengundang OKI untuk menjadi peninjau di pemilihan presiden Republik Chechnya serta mengundang dunia Islam untuk berpartisipasi dalam proyek proyek pembangunan Republik Chechnya atas dasar solidaritas Islam.

Interior Moscow Historical Mosque

Republik Checnya merupakan salah satu Republik bagian dari Federasi Rusia di wilayah Kaukasus Utara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Chechnya saat ini sedang menggeliat dari kehancuran perang. Grozny, ibukota Chechnya mendapatkan predikat sebagai kota dengan perkembangan tercepat dari PBB di tahun 2003 lalu setelah 10 tahun sebelumnya mendapatkan gelar sebagai kota paling hancur di bumi. Masjid AkhmadKadyrov di pusat kota Grozny menjadi simbol kebangkitan Chechnya dari Kehancuran perang.

Langkah lebih mengejutkan lagi ketika Rusia mengakui hasil pemilu demokratis pertama Palestina yang dimenangkan oleh Partai Hamas yang dibenci oleh Amerika dan Israel pada 25 Januari 2006, Vladimir Putin bahkan mengundang Hamas ke Moscow. Tindakan tersebut mengundang kemarahan Washington dan Tel Aviv. Kedekatan atau mendekatnya Rusia kepada dunia Islam ini dipandang oleh para pengamat sebagai suatu langkah keseimbangan terhadap sikap ‘bermusuhannya’ dunia barat (Amerika) terhadap Islam.

suasana sholat di Masjid MHM

Tahun 2008 lalu di Rusia mulai beroperasi Bank Halal, yang menyandarkan sistem perbankannya kepada sistem perbankan syariah. Bank Halal ini didirikan guna memfasilitasi kebutuhan ummat Islam Rusia akan sistem perbankan yang berlandaskan syariah Islam. Pertumbuhan Islam di Moskow dan Rusia bertendensi terus meningkat tajam dari tahun ke tahun. Namun pertumbuhan jumlah muslim di sana terutama di kota Moskow tak sebanding dengan pertumbuhan Masjid.

Upaya untuk mendirikan masjid baru selalu saja terkendala dengan perizinan. Penolakan dari komunitas non muslim sejauh ini menjadi pemicu utama sulitnya untuk mendapatkan izin pembangunan masjid di kota ini. rencanan pembangunan masjid di tenggara kota itu beberapa waktu lalu malah menjadi kontoversi sampai kemudian rencana itu batal. Akibatnya menjadi pemandangan biasa muslim yang sholat dijalanan karena ketidakcukupan daya tampung masjid yang ada.

Sejauh ini bila anda mengetik kata kunci “masjid moscow” ataupun “moscow mosque’ di searc bar internet anda, berita yang muncul di dominasi oleh berita kontroversi pembangunan masjid di kota itu, dan berita berita miris, kaum muslimin yang sholat di jalan raya atau dibawah terpaan salju musim dingin. Kondisi yang tentunya kontras dengan sikap politik para petinggi Rusia di Kremlin.


mihrab dan mimbar Masjid MHM
sisi mihrab Masjid MHM 
lampu gantung di Masjid MHM


Jumat, 18 Mei 2012

(Rencana) Masjid Agung kota Magas, Republik Ingushetia

Gambaran 3D rencana Masjid Agung Kota Magas, Republik Ingushetia.

Nama Ingushetia sempat mencuat di tanah air bersama dengan Chechnya di era 1990-an tak lama setelah ketuntuhan Uni Soviet. Dua wilayah bekas Uni Soviet itu mayoritas penduduknya memang beragama Islam. Chechnya & Ingushetia pernah berjuang untuk mendirikan sebuah negara merdeka lepas dari Federasi Rusia. Kini Republik Chechnya dan Republik Ingushetia [tetap] menjadi bagian dari Federasi Rusia.
 
Perkembangan Islam di dua Republik bagian Federasi Rusia ini kian marak dari hari kehari. Pemerintah federal Rusia ‘seakan’ memberikan kebebasan bagi republik republik berpenduduk mayoritas muslim di dalam wilayah kekuasaannya untuk menunjukkan identitas keislaman mereka termasuk di Republik Ingushetia.

Rencana Masjid Agung Kota Magas dengan latar belakang pegunungan Kaukasus.

Republik Ingushetia dibentuk tahun 1992. Menjadi Republik termuda di dalam Federasi Rusia, dengan ibukota nya yang baru di kota Magas yang sedang dibangun, dipimpin oleh Presiden Yunus-Bek B. Evkurov. Presiden Evkurov bersama para ulama Ingushetia memutuskan untuk membangun pusat pengembangan islam di pusat kota baru tersebut, termasuk di dalam nya bangunan masjid berkapasitas 8000 jemaah. Komplek Masjid tersebut rencananya akan dibangun di atas lahan seluas 20 hektar yang sudah di alokasikan untuk keperluan itu.


Di bulan Februari 2010 lalu Mufti Republik Ingushetia, I.B.  Khamkhoev. Menghimbu muslim dunia untuk turut serta membantu pembangunan masjid agung di kota Magas. Dalam surat bertanggal 10 Februari 2010 tersebut turut disampaikan kabar baik, bahwa di Republik Ingushetia dan wilayah Rusia lainnya kini Islam sedang bangkit, begitu banyak masjid lama yang diperbaiki dari kerusakan dan masjid masjid baru bermunculan, dibangun di berbagai tempat dari dana swadaya masayarakat ataupun dana dari sponsor. Setelah selama puluhan tahun muslim disana hidup di bawah tekanan Komunis Uni Soviet.

Peletakan batu pertama oleh 
presiden dan Mufti Ingushetia
Rencana pembangunan masjid ini ditangani oleh yayasan Azan--Fund yang didirikan oleh Pemerintah dan ulama Republik Ingushetia untuk merealisasikan rencana pembangunan masjid agung di pusat kota Magas. Pendirian lembaga nirlaba ini di komandoi langsung oleh presiden Ingushetia Yunus-Bek B. Evkurov dan dan Muftiyat Republik Ingushetia untuk menggalang dana bagi pembangunan Komplek Masjid Agung dimasksud, Presiden Evkurov bahkan menghimbau kepada seluruh keluarga muslim Ingushetia untuk menyumbangkan dana bagi mewujudkan masjid agung tersebut masing masing US$ 100 dolar per kepala dalam setiap keluarga termasuk anggota keluarganya yang masih bayi. Azan--Fund juga melayangkan permohonan bantuan ke Saudi Arabia namun belum mendapatkan tanggapan.
 
Bangunan komplek masjid agung tersebut mengambil tempat di pintu masuk utama ke kota Magas, dan rencananya dalam komplek tersebut akan dibangun masing masing : Masjid Agung berkapasitas 8000 jemaah, kantor urusan agama Ingushetia, Universitas Islam berdaya tampung 300 tempat duduk, hostel untuk 150 mahasiswa serta pusat budaya dan rekreasi. Area masjid seluas 4.1 hektar, area taman 4.7 hektar, area parkir 5.8 hektar, hingga total keseluruhan komplek mencapai 20 hektar. Masjid Agung kota Magas rencananya dilengkapi dengan jalan akses yang juga akan menjadi jalan utama di pusat kota Magas. Arsitektural masjid ditandai dengan kubah tunggal berdiameter 50 meter dan menara setinggi 64 meter.

Rancangan Komplek Masjid Agung Kota Magas.

Upacara peletakan batu pertama pembangunan masjid agung kota Magas ini dilaksanakan pada tanggal 20 April 2011 lalu, dihadiri oleh Presiden Ingushetia Yunus-Bek Evkurov, Ismail Hadji Berdiyev (ketua Pusat Koordinasi Muslim Kaukasus Utara - Centre of North Caucasian Muslims), Mahmoud Sakalov (ketua Parlemen Republik Ingushetia), Isa-Hadji Khamkhoev (mufti Ingushetia) dan para ulama dari berbagai wilayah di Kaukasus Utara.
 
Proyek pembangunan masjid akan melalui dua tahap, tahap pertama berupa pembangunan masjid, menara, halaman masjid dan peletakan batu pertama taman masjid. Sedangkan tahap kedua termasuk pembangunan universitas, hostel, kantor urusan agama, pusat budaya dan perdagangan serta pembangunan infrastruktur dan komunikasi. Rencananya pekerjaan pembangunan tersebut akan selesai dalam waktu dua setengah tahun.

Rancangan Komplek Masjid Agung Kota Magas.

Arsitektural masjid ini akan memadukan kekuatan dari kemegahan arsitektural pegunungan khas Ingushetia dengan seni bina bangunan tempat ibadah islam. Pembangunan masjid agung Ingushetia ini untuk pertama kalinya di aplikasikan laser scaning dalam sebuah proyek pembangunan gedung, teknologi laser scaning ini memungkinkan pemetaan tiga dimensi dilokasi dimana masjid akan dibangun dalam waktu yang tidak terlalu lama. Termasuk di dalamnya dapat melakukan jutaan pengukuran dan pemetaan geometris yang akurat di lokasi dalam waktu yang singkat. Teknologi ini juga memungkinkan pengawasan terhadap akurasi kualitas pekerjaan konstruksi dengan lebih mudah dan akurat.
 
Turki Siap Membantu Pembangunan Masjid Agung Magas
 
Dalam kunjungan tanggal 07 Oktober 2010, perwakilan dari pengusaha dan ulama Turki ke kota Magas ditemani oleh atase Turki untuk urusan keagamaan di Rusia Bekir Gierek bertemu dengan presiden Yunus-Bek Yevkurov membicarakan tentang pembangunan masjid agung di kota Magas. Ide pembangunan masjid tersebut memang sudah lama mencuat bahkan sudah memiliki rencana pembangunan. Namun Turki memiliki rencana lain, mereka berencana membangun masjid dengan rancangan dan dana mereka sendiri sebagai hadiah bagi rakyat Ingushetia, sebagaimana disampaikan oleh mufti Instanbul, Mehmet Aktoprak dan faktanya memang Turki terkenal dengan keindahan seni arsitektur masjid mereka yang menawan.

Rancangan Komplek Masjid Agung Kota Magas.

Dalam kesempatan tersebut perwakilan dari Turki bersama sama melihat langsung lokasi tempat dimana akan dibangun masjid dimaksud dan mereka sangat terkesan dengan lokasi yang telah dipilih. Sebagai hasil dari pertemuan tersebut, Turki juga siap mendanai pendidikan bagi Mahasiswa Ingush yang berkeinginan meneruskan studi mereka di universitas Universitas di Turki.
 
Sejauh ini belum ada perkembangan tentang rencana pembangunan masjid ini. Bisa jadi masalah pendanaan yang menjadi kendala atau memang karena pemberitaannya yang tak segencar pembangunan Masjid Akhmad Kadyrov di negeri tetangganya Chechnya. Chechnya dan Ingushetia sempat muncul sebagai satu kesatuan wilayah dengan nama Chechen & Ingushetia, namun kini kedua wilayah itu berdiri sendiri sebagai dua Republik di dalam Federasi Rusia. Bila anda berniat menyumbang silahkan klik disini untuk detil-nya.

Informasi Yayasan Azan Fund Ingushetia

JVP "Azan" (non-profit organization Foundation Azan)
Legal address: 386001, Republic of Ingushetia, Magas, Pr IA Zyazikov, 16

Foto Foto Rencana Masjid Agung Kota Magas

Upacara Peletakan batu pertama Masjid Agung Kota Magas.
Upacara Peletakan batu pertama Masjid Agung Kota Magas
Rancangan masjid Agung Kota Magas
Rancangan masjid Agung Kota Magas )
Rancangan masjid Agung Kota Magas

Kamis, 17 Mei 2012

Masjid Agung Makhachkala, Dagestan – Rusia

Masjid Agung Makhachkala, Republik Dagestan, Federasi Rusia.

Makhachkala adalah nama kota yang merupakan ibukota Republik Dagestan. Republik di wilayah pegunungan Kaukasus di tepian Laut Kaspia, berbatasan langsung dengan Republik Chechnya, Georgia, Kalmykia dan Azerbaijan. Republik Dagestan merupakan salah satu Republik Otonom (Negara bagian) dari Republik Federasi Russia, dengan penduduknya mayoritas beragama Islam.

Masjid Agung Makhachkala atau The Grand Mosque in Makhachkala atau Yusuf Bei Cami atau Central Jum`a Mosque, merupakan masjid utama di Republik Dagestan yang dibangun dengan meniru bentuk Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, Turki. Pembangunannya pun didanai oleh Pemerintah Turki. Masjid Agung makhachkala selesai dibangun tahun 1996 dan diresmikan penggunaannya tahun 1998.

Masjid Agung Makhachkala dari kejauhan.

Masjid Agung Makhachkala merupakan salah satu masjid terbesar di Eropa dan Kaukasus dengan daya tampung mencapai 17 ribu jemaah sekaligus, lebih besar dari Masjid Akhmad Kadyrov di kota Grozny, Republik Chechnya yang juga juga berada di kawasan Kaukasus, dan juga dibangun dalam gaya Turki dengan daya tampung 10 ribu jemaah, dan diresmikan tahun 2008 lalu.

Lokasi Masjid Agung Makhachkala

Masjid Jami Makhachkala
Центральная Джума-мечеть
Ulitsa Dakhadayeva, 136, Makhachkala, Republic of Dagestan, Rusia, 367015
 

Mengenal Republik Dagestan

Dagestan secara tradisional merupakan wilayah berpenduduk muslim. Wilayah ini secara silih berganti penguasa dari Sasanit di abad ke 5, lalu jatuh ke kekuasaan Kristen, pindah tangan ke Persia tahun 664, lalu menjadi wilayah Islam kemudian lepas ke tangan Mogol tahun 1222 dan 1239, menyusul kemudian Timur Lang tahun 1389. Lalu menjadi kembali ke Persia tahun 1735 setelah bersekutu dengan Tsar Rusia, namun kemudian di caplok tsar Rusia tahun 1796.

Pemberontakan Muslim Imamat of Dagestan meletus melawan Tsar Rusia dipimpin oleh Ghazi Mohammed (1828–32), lalu Gamzat-bek (1832–34) and Shamil (1834–59) perang kaukasus ini berahir di tahun 1964 saat Shamil tertangkap. Dalam perang Rusia – Turki (1877-1878) Dagestan dan Chechnya bergabung dengan Turki untuk bersama sama melawan Kekaisaran Rusia. (Perang di Chechnya sendiri terus berlanjut hingga abad ke 20).

Masjid Agung Makhachkala, Republik Dagestan, Federasi Rusia

Setelah revolusi Bolshevik, Khekhalifahan Usmani di Turki memerdekaan Azerbaijan dan Dagestan. Dua wilayah itu membentuk republik bersama dengan nama Mountainous Republic of the Northern Caucasus Namun setelah perang selama lebih dari tiga tahun republik baru itu kalah perang dengan kaum Bolsheviks, dan pada tanggal 20 Januari 1921 menjadi bagian dari Uni Soviet dengan nama  Dagestan Autonomous Soviet Socialist Republic. Namun Stalin mengabaikan daerah itu, industrialisasi tak sampai kesana menjadikan republik ini sebagai republik termiskin di Uni Soviet kala itu.

Di awal tahun 1980-an sebagaimana tetangganya di Georgia, Azerbaijan dan Chechnya, nasionalisme Dagestan pun bangkit meski tak stabil sebagai akibat dari kawasan ini memang multi etnis, ditambah lagi sejarah penyatuan kawasan ini dalam satu bentuk negara terbilang cukup singkat. Elit politik Dagestan kebanyakan dipegang oleh etnis Avar, Dargin dan Rusia. Menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang tidak stabil hingga hari ini.

Masjid Agung Makhachkala, Republik Dagestan, Federasi Rusia.)

Gerakan gerakan islam beberapa diantaranya sangat moderat sementara lainnya membentuk partai partai politik Islam yang kemudian dilarang oleh pemerintah di awal 1980-an. Uni Soviet bubar pada 26 Desember 1991. Tahun 1999 Dagestan sempat di invasi oleh Chechnya di bawah pimpinan Shamil Basayev dan Ibnu Al-Khattab, dalam usaha mendirikan Negara islam Dagestan Merdeka. Namun usaha tersebut kandas setelah serbuan pasukan Rusia yang datang membebaskan wilayah ini memaksan pasukan Shamil Bazayev kembali ke Chechnya, sampai kemudian tewas disana dalam serbuan pasukan Rusia ke Grosny (ibukota Chechnya) di bulan Februari 2000.

Tentang Masjid Makhachkala

Situs resmi masjid Masjid Makhachkala menyebut masjid megah ini sebagai “Mutiara dari ibu kota Dagestan”, dan situs tersebut memilih menggunakan nama Central Jami Mosque untuk menyebut nama masjid ini. Pertama kali dibangun dengan dana dari donasi dari Turki di tahun 1996 untuk menampung 5000-7000 jemaah. Sampai bulan Mei 1998 perwakilan dari Turki secara formal menjadi Imam di masjid ini. Badan agama Islam Dagestan secara aktif berhubungan dengan Turki dengan mediasi dari seorang pensiunan Jenderal Angkatan Darat Turki dan keturunan imigran dagestas, Mahdi Pasha Sungurov. Bersama saudaranya beliau juga yang menjadi pengawas lapangan pelaksanaan pembangunan masjid ini.

Jemaah sholat Jum’at di Masjid Agung Makhachkala.

Dalam perkembangannya masjid ini menjadi begitu kecil untuk dapat menampung membludaknya jamaah terutama di sholat Jum’at, apalagi di sholat sunnah dua hari raya, Idul Fitri dan Idul Adha. Maka proses rekonstruksi pun dilaksanakan pada tahun 2004 hingga 2007 dengan dana swadaya jemaah masjid. Sebagaimana dijelaskan Imam Masjid Agung Makhachkala, Magomedrasul Saaduev, Rekonstruksi tersebut juga memperbaiki dan menambah fitur disekitar masjid dan mengganti karpet di dalam masjid ini.

Proses rekonstruksi dilaksanakan sejak tahun 2005 untuk menampung jemaah yang sudah membludak hingga 15000 orang. Pada bulan Juli 2007 perluasan masjid selesai dilaksanakan dengan menghabiskan dana lebih dari 25 juta Rubel Rusia. Dana tersebut digunakan untuk pendanaan proyek, pembelian material bangunan termasuk membayar gajih pekerja dan pengelola masjid. Tokoh masyarakat Turki dan para penyumbang dari dalam dan luar negeri turut berkontribusi dalam proses pendanaan tersebut. Sebagai contoh nya adalah karpet yang terhampar luas di dalam masjid ini dibeli oleh Muscovite Ziyavdinom Magomedov yang merupakan saudara dari Magomed Magomedov (senator dari wilayah Smolensk). Beliau bahkan siap mendanai pembangunan gymnasium bagi mahasiswa islam dan jemaah masjid. Msjid ini berhasil menggalang dana cukup besar. Dari zakat saja mencapai jutaan Rubel Rusia.

Kerumunan jamaah di depan Masjid Agung Makhachkala.

Arsitektural Masjid Agung Makhachkala

Pembangunan Masjid Agung Makhachkala ini di rancang dan di danai oleh pemerintah Turki, wajar bila arsitektural masjid ini seratus persen bergaya Turki. Turki, sebagai negeri tempat bertahtanya khalifah Islamiyah terahir itu, memang terkenal dengan keindahan dan kemegahan karya arsitektur masjid masjid nya yang dibangun dengan gaya yang sangat khas. Seperti disebutkan di awal tulisan ini bahwa Masjid Agung Makhachkala dibangun dengan meniru Masjid Sultan Ahmed di kota Istanbul, Turki.

Bila anda membaca artikel Masjid Akhmad Kadyrov Grozny, anda akan menemukan bahwa, Masjid Agung Makhachkala bukanlah satu satunya masjid di kawasan Kaukasus yang dibangun dalam gaya Turki, Masjid Akhmad Kadyrov di kota Grozny Republik Chechnya itu juga dibangun dengan meniru masjid megah di Istanbul, Turki. 

menjelang masgrib di Masjid Agung Makhachkala

Arsitektural masjid masjid Turki langsung dapat dikenali dari bentuk menaranya yang bundar, dibuat seramping rampingnya namun tinggi menjulang dengan ujung yang lancip, seperti sebatang pensil yang di didirikan dengan bagian runcingnya menghadap ke atas. Masjid Agung Makhachkala dilengkapi dengan dua menara tinggi di sisi depan masjid. Atap masjid di lengkapi dengan kubah utama berukuran besar yang dikelilingi kubah kubah kecil. Itu ciri kedua arsitektural Masjid bergaya Turki.

Kubah utama Masjid Agung Makhachkala di kelilingi dengan 56 kubah kubah yang lebih kecil. Di bagian silinder kubah kubah kubahnya dilengkapi dengan rangkaian ventilasi yang dari kejauhan terlihat seperti jendela jendela kecil. Selain di kelilingi kubah kubah berukuran lebih kecil kubah utama juga di apit oleh menara menara yang berukuran kecil. Gaya masjid berarsitektur Turki merupakan perpaduan gaya bangunan klasik Eropa dengan seni Islam dan Turki menjadi satu kesatuan baru sebagai arsitektural masjid bergaya Turki yang memiliki ciri khas nya sendiri.

Menara kembar yang ramping dengan kubah utama dan kubah kecil bertingkat tingkat menjadi ciri khas Masjid Agung Makhachkala.

Bila masjid asli Indonesia memiliki atap limas bertingkat tingkat, maka Masjid Agung Makhachkala ini justru atap berkubahnya yang bertingkat tingkat, menghasilkan susunan kubah yang terlihat bertumpuk tumpuk. Sisi luar masing masing kubah di tutup dengan panel panel geometri warna putih susu. Dan tentu saja sudah menjadi ciri khas nya yang lain, di masing masing ujung kubah paling atas diletakkan lambang bulan sabit dengan lengkung sempurna menghadap ke atas.

Tembok sisi luar masjid dilapis dengan batu alam. Bukaan besar berlengkung mendominasi fasad depan masjid, memadukan material logam dengan kaca warna gelap. Permukaan lantai masjid yang ditinggikan menambah kesan megah dan kokoh pada bangunan masjid ini. seangkaian anak tangga mengantar kita ke pintu utama dari halaman depan. Sisi lain masjid ini juga di warnai dengan jendela jendela kaca berukuran besar khas bangunan Eropa.

Interior Masjid Agung Makhachkala.

Masuk ke dalam masjid kita akan menjumpai lampu gantung dalam ukuran sangat menggantung di ruang utama. Lengkungan lengkungan super besar diantara pilar pilar penyanggah mendominasi interior masjid. Kubah kubah besar masjid ini yang terlihat megah dari luar, tampak jauh lebih indah dilihat dari dalam. Bagian bawah kubah di hias dengan lukisan lukisan halus bentuk bentuk geometris aneka warna. Lukisan kaligrafi bertebaran dalam aneka bentuk.

Masjid Agung Makhachkala dibangun berlantai dua. Letaknya yang berada di tengah tengah keramaian kota Makhachkala membuatnya seakan menyembul diantara bangunan bangunan lain disekitarnya. Dominasi warna putih dari rangkaian kubahnya ditambah dua menara rampingnya yang tinggi membuat masjid ini benar benar terlihat kontras dengan bangunan bangunan lain disekitarnya.

Suasana jelang buka puasa bersama di depan Masjid Agung Makhachkala

Tradisi Buka Puasa Bersama di Masjid Agung Makhachkala

Sudah menjadi tradisi tahunan yang diselenggarakan di masjid ini. Pengurus masjid menyelenggarakan acara buka puasa bersama (ifthar Jama’i). Menjelang waktu berbuka puasa halaman masjid ini di penuhi dengan meja meja makan yang disiapkan untuk jemaah berbuka puasa. Buka puasa di mulai dengan segelas air, kurma dan buah buahan segar lalu dilanjutkan dengan makan berat setelah sholat magrib berjamaah.

Acara buka puasa bersama ini rata rata di ikuti oleh 300 an jemaah, dengan sajian buka puasa dan makan malam yang disiapkan oleh para donatur. Buka puasa ini dihadiri oleh jemaah bersama para pengurus masjid berikut imam masjid, Imam Muhammad Rasul Saaduev ditambah dengan jemaah musafir. Buka puasa bersama ini kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah.

Interior Masjid Agung Makhachkala

Interior Masjid Agung Makhachkala 
Interior Masjid Agung Makhachkala
Interior Masjid Agung Makhachkala 
sendiri di salah satu sudut Masjid Agung Makhachkala
Interior Masjid Agung Makhachkala

Panorama Masjid Agung Makhachkala

Masjid Agung Makhachkala 
Masjid Agung Makhachkala 
Masjid Agung Makhachkala 
Masjid Agung Makhachkala


Rabu, 16 Mei 2012

Masjid Akhmad Kadyrov, Simbol Kebangkitan Chechnya Dari Kehancuran Perang

Masjid Akhmad Kadyrov di pusat kota Grozny, ibukota Chehnya. Saya fikir kita sepakat akan keindahan Masjid ini. wajar bila kemudian digelari sebagai "The Hearth Of Chechnya" 

Grozny, Ibukota Republik Chechnya, sebuah Negara bagian Federasi Russia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kota Grozny mendapat anugerah dari PBB sebagai kota dengan perkembangan tercepat di bumi. Melihat ke belakang, paska perang antara pejuang kemerdekaan Chechnya melawan pasukan merah Rusia yang berahir di tahun 2003, kota Grozny bagai bangkit dari kubur. Perang yang tak seimbang itu tak menyisakan apapun di kota Grozny selain puing kehancuran, kota ini dibangun kembali bukan dari titik nol dari tapi di titik minus, persis seperti Tokyo, Hiroshima dan Nagasaki di Jepang yang dibangun kembali dari kehancuran paska perang di tahun 1945.

Di pusat kota metropolitan Grozny kini berdiri sebuah masjid Nasional nan megah dengan nama Masjid Akhmad Kadyrov, nama yang pastinya terdengar asing ditelinga kebanyakan orang Indonesia. Nama masjid ini diambil dari nama mendiang Presiden dan Tokoh spiritual Chechen yang terbunuh di tahun 2004 lalu. Beliau juga merupakan ayah dari presiden Chechnya saat ini, Ramzan Kadyrov yang meresmikan Masjid Akhmad Kadyrov pada tanggal 17 Oktober 2008.

Lokasi Masjid Akhmad Kadyrov

Masjid Akhmad Kadyrov berdiri megah di ujung jalan Putin Avenue di pusat kota Grozny. Putin Avenue ?. familiar dengan nama itu, yups nama jalan itu memang diambil dari nama perdana menteri dan pernah juga menjadi presiden Rusia, Vladimir Putin. Nama jalan itu diberikan oleh presiden Chechnya Ramzan Kadyrov yang memang disebut sebut memiliki hubungan sangat dekat dekat orang nomor satu di pemerintahan Federasi Rusia itu.


Tentang Masjid Akhmad Kadirov

Masjid Akhmad Kadyrov dibangun berkapasitas 10 ribu jemaah di atas lahan seluas 14 hektar, lengkap dengan taman yang luasm menjadikannya sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Masjid Nasional Chechen ini juga dikenal sebagai “The Heart of Chechnya”. Sebelum diresmikan sempat juga dinamai dan disebut sebagai Grozny Central Dome Mosque atau Grozny Central Mosque. Sampai ahirnya dinamai Masjid Akhmad Kadyrov.

Masjid Akhmad Kadyrov dari sudut yang sama di waktu yang berbeda. Berdiri megah gedung jangkung di belakang masjid ini merupakan bagian dari proyek pembangunan kembali kota Grozny paska perang

Pembangunannya dimulai tahun 2006, dan selesai di tahun 2008 menghabiskan dana sekitar US$20 juta dolar, merupakan bagian dari Islamic Center, lengkap dengan Badan Urusan Agama Islam, Institut Agama Islam, Gedung Madrasah, Perpustakaan, hotel, hingga dormitory (asrama) bagi mahasiswa. Masjid Akhmad Kadirov diresmikan oleh Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov pada hari Jum’at tanggal 17 Oktober 2008.

Upacara peresmian tersebut turut dihadiri oleh Vladimir Putin, duta besar Turky serta perwakilan  dari berbagai Negara sahabat. Sehari sebelum peresmian, Presiden Ramzan Kadyrov bersama Vladimir Putin meninjau masjid ini. Peresmian masjid tersebut dilaksanakan dalam sebuah upacara yang cukup meriah dihadiri ribuan muslim Chechnya dari berbagai pelosok negeri.

Vladimir Putin dan Ramzan Karymov saat meninjau masjid Akhmad Kadyrov 16 Oktober 2008 sehari sebelum peresmian 

Masjid Akhmad Kadyrov memang cukup menarik perhatian media internasional, wajar bila pemberitaan tentangnya juga cukup gencar di media massa. Masjid megah ini dibangun oleh kontraktor Turki di ilhami dari bentuk masjid Biru di Istabul, Turky lengkap dengan empat menara setinggi 62 meter, sama persis seperti menara di masjid Biru Istanbul. Saat peresmian, Presiden Ramzan Karymov dalam sambutannya mengatakan bahwa 

“pembangunan masjid ini sebagai bukti bahwa Rusia dan Islam dapat hidup bersama”. Dia menambahkan bahwa tatkala perang Chechen berkecamuk, musuh musuh Islam dan Rusia menyatakan bahwa Rusia sengaja menciptakan perang melawan Islam dan Chechen”

Ramzan melanjutkan “Rusia terlibat dua kali perang di Chechnya melawan pemberontak Muslim tapi telah berhasil menenteramkan sebagian besar wilayah ini dan telah menghabiskan sejumlah besar dana untuk memperbaiki kerusakan akibat perang. Orang yang tidak senang dengan kebangkitan Rusia menggunakan republik Chechnya dan Islam sebagai alat untuk menghancurkan Rusia sebagai negara yang berdaulat, Tapi orang Chechen ... membela integritas Rusia dan kemurnian Islam."

kemeriahan peresmian Masjid Akhmad Kadyrov 17 Oktober 2008

Menurut Ramzan, kehadiran masjid nasional ini sudah begitu lama dinanti oleh muslim Chechnya setelah lebih dari 60 tahun di bawah rezim Uni Soviet, tak ada satupun masjid di wilayah Chechnya. Soviet melarang pembangunan masjid baru dan menutup ataupun mengganti fungsi masjid masjid yang ada untuk kepentingan komunis ataupun dihancurkan atau dibiarkan merana hingga hancur.


Pondasi masjid tersebut berdiri di lahan bekas markas kantor perwakilan regional Partai Komunis Uni Soviet, disamping lokasi tempat nya berdiri itu dulunya pernah berdiri sebuah masjid dalam ukuran lebih kecil yang dibangun oleh para pejuang kemerdekaan Chechnya di tahun 1990 namun paska perang yang tersisa hanya reruntuhannya saja. Pembangunan komplek masjid Akhmad Kadyrov ini sebagai bagian dari pembagunan kembali kota Grozny yang luluh lantak akibat dua kali perang antara pejuang kemerdekaan Chechen yang kemudian oleh berbagai media dan pemerintah Federal Rusia disebut sebagai “Separatis”, “Pemberontak” ataupun “Militan Islam”.

Here’s the masjid in hearth of Chechnya

Simbol kebangkitan Grozny dari Kehancuran Perang

Paska keruntuhan Uni Soviet, Pada tahun 1996, Chechen meraih kemerdekaan dari Rusia di bawah pimpinan Dzhokhar Dudaev setelah perang bulan-20 dalam perang Chechen pertama (1994-1996). Namun Tiga tahun kemudian (tahun 1999) pecah perang Chechen kedua (1999-2000), ketika perdana menteri Rusia Vladimir Putin mengerahkan pasukannya ke Chechnya untuk merebut kembali wilayah tersebut. tanggal 6 Februari 2000 pasukan Russia berhasil mengibarkan bendera Rusia di pusat kota Grozny setelah pimpinan pemerintahan Islam Chechen tewas dalam perang termasuk Shamil Basayev berikut para petinggi milisi lainnya. Rusia menang perang dari sebuah perang yang tak pernah benar benar berahir.

Akhmad Kadyrov (yang namanya di abadikan sebagai nama masjid nasional Chechnya di Grozny) adalah seorang mufti bekas “petinggi milisi pemberontak” yang kemudian memihak Moskow dalam perang Chechen kedua. Dia memainkan peran penting dalam menegakkan kedaulatan Rusia di Chechnya, dan kemudian terpilih sebagai Presiden Pertama Chechnya pro Moskow. Namun kegemilangan karir politiknya berahir ketika sebuah Bom bunuh diri di tahun 2004 menewaskan Akhmad Kadyrov dan para petinggi Chechnya lainnya. Terbunuhnya Akhmad Karimov menaikan putranya Ramzan Karimov ke tampuk kepresidenan Chechnya.

untuk sekedar memberikan gambaran kepada anda seperti apa kota Grozny. Foto di bagian atas kondisi kota Grozny  di tahun 1995 paska perang yang brutal antara pasukan Russia dan Pejuang Chechnya, sedangkan foto dibagian bawah diambil tahun 2008 lalu saat kota Grozny mulai bangkit.

Perang kemerdekaan tak seimbang itu berahir duka bagi rakyat Chechnya, Kota Grozny rata dengan tanah, pengamat hak azazi manusia menyebutkan 63 ribu rakyat Chechnya meregang nyawa, bahkan mungkin lebih besar dari jumlah itu, perekonomian negara ambruk, inprastruktur tak bersisa, Kota Grozny berubh menjadi kota hantu dengan reruntuhan dan puing puing di seluruh pelosok kota termasuk gedung pusat pemerintahan presiden Chechnya, remuk dihajar bom tentara merah, Rusia.

Setelah perang kemerdekaan yang gagal tersebut, Republik Chechnya kini tetap menjadi salah satu Negara bagian dari Republik Federasi Rusia, Ramzan Kadyrov yang mengikuti kesetiaan ayahnya terhadap pemerintahan Federal di Moskow, tapi juga mendorong kebangkitan Islam di republik yang penduduknya mayoritas Muslim tersebut meski senantiasa menghancurkan setiap upaya yang mengatasnamakan Islam untuk aksi-aksi menentang kedaulatan Moskow.

Sepintas lalu tampilan masjid Akhmad Kadyrov memang sangat mirip dengan Masjid Biru di Istanbul, Turky. Karena memang masjid ini dibangun berdasrkan reka bentuk masjid tersebut.

Bila mengingat kehancuran kota Grozny paska dua kali perang, mungkin anda berfikir akan menemui kota ini layaknya kota Staliningrad paska sebuan Nazi di masa lalu, atau seperti Tokyo, Hiroshima dan Nagasaki paska serbuan Sekutu di tahun 1945. Namun anda akan terperangah bila datang ke Grozny saat ini. kota Grozny dan Chechnya kini sudah kembali berdiri megah sebagai hasil dari proyek pembangunan kembali wilayah itu.

Republik Chechnya Kini

Masjid Akhmad Karymov berdiri megah diantara gedung gedung pencakar langit kota Grozny yang terdiri dari bangunan apartemen dan perkantoran dan disebut sebut sebagai bangunan tertinggi di kawasan Kaukasus. Di pinggiran kota sudah berdiri megah stadion sepakbola internasional berkapasitas 30 ribu tempat duduk. Sebagai bagian dari upaya petinggi Chechnya untuk masuk menjadi salah satu penyelenggara Piala Dunia tahun 2018 yang akan di selenggarakan di Moscow, Ibukota Federasi Rusia.

indahnya pemandangan malam dengan pesta kembang api saat sebuah even peringatan Maulid Nabi  yang dimeriahkan dengan pesta kembang api di pusat kota Grozny diseputaran masjid ini.

Presiden Ramzan Kadyrov seakan memaikan dua peran dari sekeping mata uang. Di satu sisi dia begitu setia kepada pemerintahan pusat Federasi Rusia di Moscow, disisi lain dia menyokong sedaya upaya perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya. Disaat lain dia mewajibkan muslimah Chechen untuk senantiasa menutup aurat tapi kemudian mengadakan pesta besar besaran di pesta ulang dirinya sendiri dengan mengundang para selebritis Holywood.

Di satu saat Dia melakukan apapun untuk mencegah rongrongan terhadap kedaulatan Moscow di Chechnya, di saat yang lain dia di “maki” oleh media barat sebagai pimpinan negara yang terlalu reseh mengurusi segala hal, dari campur tangan tentang detil design gedung yang akan dibangun sampai mengurusi jenis pakaian seperti apa yang harus dipakai oleh wanita muslimah Chechnya.

"The Hearth of Chechnya" megah dan indah diantara gedung gedung jangkung kota Grozny. PBB memberikan gelar baru bagi kota Grozny sebagai kota dengan pembangunan tercepat, setelah sebelumnya lembaga yang sama memberi gelar sebagai kota paling hancur untuk Grozny Paska perang. Sementara beberapa kalangan menyebut Grozny Laksana Dubai di Kaukasus. 

Satu hal yang pasti, rakyat Chechnya sudah lelah dengan perang, keadaan tak akan pernah sama lagi paska dua kali perang Chechnya - Rusia. Luka bekas perang tak dapat di sembuhkan begitu saja layaknya membangun kembali gedung gedung dan infrastruktur yang tadinya sudah tak bersisa. Perang yang begitu kejam dan kotor menyisakan luka mendalam bagi rakyat Chechnya dan suka atau tidak, akan butuh waktu yang teramat panjang untuk menyembuhkan semua itu.

Sebuah contoh menarik, disampaikan oleh seorang bloger yang berkunjung ke Grozny. Dalam sebuah perhelatan pertandingan persahabatan internasional antara timnas sepakbola Chechnya vs Timnas Brazil di Stadion Nasional Grozny. Lagu kebangsaan Brazil diperdengarkan semua hadirin berdiri dan mendengarkan dengan khidmad. Suasana berbalik ketika lagu kebangsaan Rusia diperdengarkan, sebagian besar hadirin seakan tak peduli, sibuk dengan urusan masing masing, ngobrol, ber-handphone, dan lain lain. Seakan gerah dengan lagu yang semestinya adalah lagu kebangsaan bagi diri mereka juga.

Lagu kebangsaan Chechnya diperdengarkan dalam urutan ketiga, mendadak sontak seluruh stadion bergema dengan suara nyanyian hadirin yang sebagian dari mereka bahkan menyanyikan lagu itu sekeras yang mereka bisa menyanyikan lagu kebangsaan Chechens itu. Chechens sangat sadar bahwa mereka sama sekali tak mencintai Rusia namun memiliki ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi terhadap Moscow. Apapun itu semoga kedamaian tetap melingkupi muslim Chechnya.

Aerial View Masjid Akhmad Kadyrov

Dari atas salah satu gedung jangkung kota Grozny.
masjid Akhmad Kadyrov dengan latar belakang pegungungan Kaukasus tampak berjejer di kejauhan.
Malam pergantian tahun 2011 di kota Grozny 
View of central Grozny and the Akhmad Kadyrov Mosque.

Exterior Masjid Akhmad Kadyrov

Struktur rumit bentuk kubah, menara menara kecil, fasad dan tembok masjid, merupakan seni bina bangunan khas Turki yang dihadirkan di tengah kota Grosny, Chechnya.
dari koridor ke arah inner courtyard.
Lengkungan diatas pilar, Kubah utama yang dominan, banyak menara, dan menara utamanya selalu dalam bentuk ramping dan lancip, merupakan ciri khas utama masjid berarsitektur Turki.
memandang bangunan utama masjid dari arah koridor

Interior Masjid Akhmad Kadyrov

dalam kenyamanan di dalam masjid seorang ayah sedang menemani anaknya belajar mengaji.
Interior masjid Akhmad Kadyrov, lengkap dengan mihrab dan mimbar nya yang begitu tinggi.
lantai mezanin.
interior ruang utama
ornamen yang begitu rumit menghias langit langit masjid.

Random View Masjid Akhmad Kadyrov





rt.com menyebut Groszny bagaikan Dubai di Kaukasus. kota dengan percepatan pembangunan  yang luar biasa. lengkap dengan masjid besar layaknya di Dubai.