Minggu, 24 Juni 2012

Masjid As-Salam, Masjid Indonesia di Wina – Austria

Suasana di Masjid As-Salam Wapena, Wina, Austria sesaat setelah peresmian masjid oleh Duta Besar RI untuk Austria & Slovenia, Bapa I Gusti Agung Wesaka Puja. 

Muslim Indonesia yang tinggal di Indonesia kini dapat berbangga hati setelah masjid Indonesia pertama di Austria di resmikan pada bulan Januari 2012 yang baru lalu. Masjid tersebut diberi nama Masjid As-Salam Wapena yang bermakna keselamatan atau kedamaian, diharapkan jamaah yang menjalani ibadah di masjid ini akan menemukan suasana hati penuh kedamaian dan ketentraman. Selain itu juga, Salam juga bisa diartikan menyapa. Para pengurus dan jemaah Masjid As-Salam ingin menyapa kepada semua umat muslim Austria untuk beribadah di masjid As-Salam.

Membangun masjid bukanlah perkara mudah di Austria, tidak saja menyangkut masalah perizinan yang begitu rumit ditambah lagi dengan biaya yang dibutuhkan sangatlah mahal. Itu sebabnya dari puluhan masjid yang ada di kota Wina dan wilayah Austria lainnya berupa masjid masjid yang menempati ruang apartemen sewaan, atau yang memang dibeli untuk kemudian di alih fungsi sebagai masjid. Begitupun dengan masjid As-Salam milik komunitas Muslim Indonesia di Wina ini. hingga kini di kota Wina hanya ada satu saja bangunan masjid yang benar benar berwujud sebagai masjid seperti yang kita kenal lengkap dengan kubah dan menaranya, yakni Masjid Islamic Center Wina.

Pak Dubes RI untuk Austria dan Ketua Wapena saat penandantanganan plakat peresmian Masjid As-Salam Wapena, Wina, Austria

Meski dibentuk dan dikelola oleh muslim Indonesia di kota Wina – Austria, Alhamdulillah masjid ini juga diramaikan oleh muslim serantau melayu termasuk muslim Malaysia dan Singapura yang tinggal di Wina. Duta besar Malaysia untuk Austria pun turut hadir dalam upacara peresmian Masjid As-Salam yang dilakukan oleh Duta Besar RI untuk Austria, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja. Upacara peresmian itu dihadiri oleh ratusan muslim tak hanya warga Indonesia di Wina tapi juga beberapa muslim warga Pakistan, Malaysia, Singapura, Turki dan beberapa muslim Austria.

Berdirinya Masjid As-Salam menambah khasanah masjid masjid komunitas muslim Indonesia di Eropa setelah sebelumnya telah berdiri Masjid Al-Hikmah di Den Hag yang dibangun dari gedung bekas sebuah gereja, lalu masih di Belanda juga ada Masjid Nasuha di kota Rotterdam, serta Masjid Al-Falah di Berlin-Jerman, yang kesemuanya merupakan masjid masjid yang dibangun dan dikelola oleh komunitas muslim Indonesia yang tinggal di Eropa.

Masjid As-Salam Wapena
Masjid As-Salam, Malfattigasse 18 - Lantai Dasar, 1120 Wina

Setelah sekitar sepuluh tahun menjadi wacana, akhirnya warga muslim Indonesia yang bermukim di Wina dan sekitarnya meneguhkan jati dirinya dengan mewujudkan sarana ibadah yang dinamakan masjid As-Salam Wapena. Sebuah apartemen sederhana yang terletak di Distrik 12 Meidling jalan Malfattigasse 18 A-1120 Wien telah diubah fungsinya menjadi tempat bernaung melantunkan doa-doa dan harapan. Peresmian masjid ini dilakukan oleh Duta Besar Indonesia untuk Austria dan Slovenia, Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, pada 21 Januari 2012.

Duber RI untuk Austria bersama pengurus Wapena di depan pintu Masjid As-Salam Wapena  sesaat setelah peresmian masjid.

Sejarah Masjid As-Salam Wapena

Warga Pengajian Wina atau disingkat Wapena merupakan kelompok pengajian (majelis ta’lim) muslim Indonesia yang tinggal di kota Wina, Austria. Saat ini ada sekitar 180 hingga 200 warga muslim Indonesia yang tinggal di Austria. Pengajian rutin mingguan diselenggarakan di kantor perwakilan Indonesia di Wina. Pengajian Wapena kemudian juga di ikuti tidak saja oleh muslim Indonesia, tapi turut pula diramaikan oleh muslim Malaysia dan Singapura yang tinggal di Austria. Bahkan Duta besar Malaysia untuk Austria, Datuk Mohammad Daud pun acap kali mengikuti acara pengajian tersebut yang tentu saja menjadi motor penggerak bagi muslim Malaysia di Wina.

Wacana untuk mendirikan masjid sebenarnya sudah mengemuka sejak sepuluh tahun lalu. Namun mendirikan masjid di kota Wina bukanlah perkara mudah, disamping urusan perizinannya yang tidak gampang tapi juga membutuhkan dana yang sangat besar. Karenanya Wapena kemudian berusaha mewujudkan mimpi memiliki masjid sendiri dengan meniru pola yang sudah dilakukan oleh muslim Indonesia di Jerman yang membangun Masjid Al-Falah Berlin di lantai dasar sebuah gedung apartemen di pusat kota Berlin.

Sebagaimana dijelaskan oleh Andi Ahmad Junirsah (Acha), ketua Wapena, bahwa pada saat mematangkan rencana pendirian masjid,  mereka mencoba realistis. Dalam mewujudkan keinginan memiliki masjid sendiri, termasuk masalah dana yang diperlukan harus bisa dijangkau. Gayung bersambut, terdengar kabar bahwa komunitas muslim Pakistan akan menutup aktivitas Masjid Makki yang mereka kelola seiring dengan rencana kepulangan Dr. Raffi yang selama ini mengetuai masjid tersebut.

Begini suasana betapa hangatnya persaudaraan Muslim Indonesia di Wina, Austria,  di Bulan suci Ramadhan.

Mengetahui akan adanya kabar tersebut, Acha berkoordinasi dengan pengurus Wapena lainnya, langsung cek ke lokasi, dan setelah berbicara dengan pengelola masjid, dalam hitungan hari, diputuskan untuk melanjutkan pengelolaan masjid Muslim Pakistan tersebut dengan beberapa pertimbangan yang menguntungkan, diantaranya adalah terkait urusan perizinan. Fungsi bangunan tersebut sudah terdaftar sebagai tempat ibadah sehingga tidak perlu lagi mengurus perizinan pendirian tempat ibadah baru, dan Wapena sebagai calon pengelola baru, telah resmi terdaftar di kepolisian dan pemerintah kota Wina.  Sehingga status Wapena hanya melakukan pengalihan dari pengelola masjid lama.

Sebelum menjadi masjid, ruangan tersebut dulunya merupakan sarana olahraga semacam fitness center.  Warga muslim Bosnia dan Makedonia yang pertama menjadikannya sebagai masjid, lalu pada awal tahun 2011 warga muslim Pakistan yang diketuai Dr. Rafi melanjut estafet pengelolaan masjid tersebut. Sebagai pengelola baru, muslim Pakistan menamainya dengan nama masjid Makki, sebutan lain untuk kota suci Makkah. Hanya saja, belum satu tahun mengelola, kegiatan peribadahan di masjid Makki terancam dihentikan seiring rencana kepulangan Dr. Raffi ke Pakistan. Kesempatan baik yang tak disia siakan oleh Wapena.

Undangan Peresmian Masjid As-Salam 21 Januari 2012 lalu

Untuk mengambil alih pengelolaan masjid, pihak Wapena harus menyiapkan dana sedikitnya 5.000 Euro atau sekitar Rp. 60 Juta (1 Euro = Rp12 ribu). Dana tersebut diperlukan untuk uang jaminan sebesar 2 bulan sewa kepada pemilik apartemen, sewa satu bulan pertama sebesar 750 Euro (Rp. 9 Juta), biaya administrasi sebesar satu bulan sewa, dan renovasi ruang. Antusiasme muslim Indonsia sangat luar biasa dalam upaya tersebut. Dukungan juga datang dari muslim Malaysia dan Singapura.

Pada tanggal 21 Januari 2012 Masjid As-Salam Wapena secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria dan Slovenia Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja yang hadir beserta istri beliau. Turut hadir dalam upacara peresmian tersebut Duta Besar Malaysia untuk Austria, Datuk Muhammad Daud yang memang sejak lama acap kali hadir di pengajian yang diselenggarakan di KBRI Wina dan menjadi motor penggerak bagi muslim Malaysia di Austria. Bapak I Gusti Agung Wesaka Puja, memberikan appresiasi kepada Datuk Muhammad Daud dengan menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada beliau.

Taushiah dalam peringatan maulid nabi di masjid As-Salam

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 100 orang warga. Mereka yang hadir tak hanya muslim asal Indonesia yang bermukim di Wina saja, tapi ada juga yang dari kota di sekitarnya. Termasuk muslim Malaysia, Pakistan, Turki serta beberapa muslim Austria. Hadir pula perwakilan warga muslim Indonesia dari Jerman dan pengurus Masjid Al-Falah Berlin yang merupakan masjid indonesia di Jerman, saat ini pengurus Masjid Al-Falah Berlin sedang berusaha mengurus kepemilikan atas bangunan yang kini difungsikan sebagai Masjid Al-Falah.

Berdirinya masjid As-Salam di Austria ini menjadi tempat berhimpunnya muslim Indonesia disana, bersama sama dengan muslim Malaysia dan Singapura, serta tak lupa pengurus masjid As-Salam juga mengajak muslim Pakistan yang merupakan jemaah ataupun pengurus masjid sebelumnya untuk tetap bergabung, dan tentu saja masjid ini pun terbuka bagi semua muslim. Selain dari itu, kehadiran masjid As-Salam Wapena di kota Wina ini menambah khasanah masjid masjid Indonesia di daratan Eropa setelah sebelumnya telah lebih dulu berdiri dua masjid di Belanda yakni Masjid Al-Hikmah di Den Hag dan Masjid Nasuha di kota Rotterdam, serta Masjid Al-Falah di Berlin-Jerman.

suasana upacara peresmian Masjid As-Salam

Operasional dan Aktivitas Masjid As-Salam

Operasional masjid selama satu bulan diperkirakan memakan dana sekitar 1.000 Euro (Rp12 juta)  untuk biaya sewa tempat, biaya gas, listrik, dan perawatan. Dukungan warga baik moral dan material, sangat luar biasa terhadap Masjid As-Salam. Bahkan, dukungan tersebut tidak hanya datang dari warga muslim Indonesia. Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga mendukung berdirinya Masjid As-Salam.

Masjid ini memiliki ruang utama berukuran sekitar 70m2. Selain menjadi tempat pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu, juga menjadi tempat melaksanakan pertemuan rutin mingguan komunitas Muslim Indonesia, Malaysia dan Singapura yang tergabung dalam komunitas Warga Pengajian Wina (Wapena).  Selain itu juga masjid ini merupakan tempat pelaksanaan rutin shalat Jum'at, dan khusus minggu terakhir setiap bulannya dilaksanakan shalat jum'at dengan khutbah dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

Pengajian jarak jauh bersama Aa' Gym di masjid As-Salam, Wina - Austria. 

Sebuah catatan kecil di penyelenggaraan sholat jum’at pertama di masjid As-Salam ini pada tanggal 27 Januari 2012 lalu yang diikuti oleh . Puluhan warga muslim Indonesia mulai dari pejabat KBRI/PTRI Wina, pekerja di organisasi PBB, hingga pelajar dan mahasiswa menjalani salat fardhu ain di masjid Indonesia pertama di ibu kota Austria tersebut. Selain warga Indonesia, beberapa jamaah dari negara-negara Islam seperti Pakistan, Bosnia, dan Mesir juga mengikuti ibadah wajib tersebut, dalam kesempatan itu ketua Warga Pengajian Wina (Wapena), Andi Ahmad Junirsah bertindak sebagai khatib dengan menggunakan Bahasa indonesia.

Ba’da sholat Jum’at hari itu masjid As-Salam kedatangan tamu,  Dia adalah Gottfried Klug. Warga Austria yang menikahi wanita Indonesia ini meminta kepada pengurus masjid As-Salam untuk memandunya masuk Islam. Hadir sebagai saksi dalam proses tersebut di antaranya, Penasehat Wapena, Dewanto Saptoadi, dan Minister Counsellor Pensosbud KBRI/PTRI Wina S. Djati Ismojo. Acha selaku ketua Wapena memandu Gottfried membaca dua kalimat Syahadat.

Wajah wajah ceria dan sumringah sesaat setelah peresmian masjid

Berbahasa Indonesia dan Inggris

Sebagai Masjid yang dibangun oleh komunitas muslim Indonesia dan negeri serantau, Masjid As-Salam berupaya menghadirkan bahasa Indonesia dalam khutbah Jum’atnya setidaknya sekali dalam sebulan.  Selain itu digunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk kegiatan salat lima waktu, pihak Wapena masih mengandalkan pengelola masjid sebelumnya, yang merupakan jemaah muslim Pakistan.

Masjid As-Salam juga menyelenggarakan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) bagi warga muslim. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Sabtu. Ada tiga kelas TPA. Kelas I untuk usia 4-6 tahun, kelas II usia 7-11 tahun, dan kelas III 12 tahun ke atas. Selain itu Pengurus Wapena juga menggelar pengajian rutin setiap minggu. Kegiatan ini tidak hanya untuk warga muslim Indonesia, tapi juga terbuka bagi sahabat-sahabat dari Malaysia dan Singapura.

Sebelum masjid ini berdiri, Wapena secara rutin melakukan pengajian bersama warga Malaysia dan Singapura di ruang serba guna KBRI. Kegiatan tersebut kini dilanjutkan di masjid As-Salam, Selain di akhir pekan, ada juga kegiatan Islami di hari-hari kerja. Salah satunya pengajian bersama yang dilakukan oleh ibu-ibu muslim Indonesia. Ada juga kajian Islami after work yang digelar kalangan mahasiswa. pihak Wapena tidak hanya membuka pintu bagi warga muslim Indonesia untuk menggunakan fasilitas masjid sebagai tempat aktivitas Islami, tapi juga kepada warga muslim asal negara-negara tetangga.***

Sabtu, 23 Juni 2012

Masjid Agung Lisabon – Portugal

Masjid Agung Lisabon / Mesquita Central de Lisboa.

Masjid Agung Lisabon atau Mesquita Central de Lisboa atau Lisbon Central Mosque, adalah masjid agung di kota Lisabon, Ibukota Portugal. Masjid Agung Lisabon merupakan satu satunya masjid di kota Lisabon dan menjadi masjid utama bagi komunitas muslim Portugal. Masjid Agung Lisabon diresmikan penggunaanya di tahun 1985 lalu. Masjid megah ini merupakan hasil rancangan dari arsitek António Maria Braga dan João Paulo Conceição. Tampilan luarnya sangat menonjol dibandingkan dengan bangunan lain disekitarnya. Sebagai sebuah masjid lengkap dengan kubah dan menara. Dibagian dalamnya selain ruang sholat utama juga dilengkapi dengan aula dan auditorium.

Lokasi masjid ini berdiri berada di sebuah bukit di kota Lisbon di kawasan strategis tempat berdirinya hotel hotel terkenal, gedung gedung perkantoran dan perumahan. Dari kejauhan kubah dan menaranya menyembul diantara gedung gedung tinggi disekitarnya. Bangunan mesjid terlihat megah dari luar. Bagian luarnya terbuat dari batu bata merah, dengan ornamen (kubah, gerbang, hiasan) lain berwarna hijau. masuk ke dalam. tempat sholat laki-laki di lantai atas dan perempuan di lantai atas. cukup bagus di bagian dalamnya. Ada tempat menyimpan sepatu. Lampu tempat sholat menyala otomatis ketika mendekat.

Cara tercepat menuju masjid Agung Lisabon dari pusat kota adalah kesana adalah naik metro. Turun di halte Praca de Espanha. Bila tak punya tiket metro, bisa menggunakan angkutan alternatif menggunakan bus kota. Letak mesjid tak jauh dari viaduk, saluran air legendaris Lisbon. Keduanya searah, dari stasiun kereta api Campolide ada bus nomor 756 ke arah mesjid.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Lisabon

Masjid Agung Lisabon
Mesquita Central de Lisboa
R. Mesquita 2, 1070-238 Lisboa, Portugal

 

Arsitektural Masjid Agung Lisabon

Masjid Agung Lisabon dibangun dan dikelola oleh Comunidade Islamica de Lisboa. Masjid empat lantai ditambah dengan lantai basement ini terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu : Ruang Sholat utama, Pelataran Tengah dan Perpustakaan. Ruang sholat utama untuk jemaah pria seluas 1393m2 mampu menampung 750 jemaah, dan ruang sholat wanita seluas 1053 mampu menampung 200 jemaah, masing masing diletakkan di lantai tiga dan empat.

Dinding dan pilar di ruang sholat utama di lapis dengan material material bewarna cerah seperti batu pualam,  keramik bangunan dan bata. Beberapa bagian temboknya di plester semen biasa. Ruang sholat utama berada di bawah Kubah besar yang menghias atap masjid sedangkan lantainya di lapis dengan  hamparan karpet tebal.

Masjid ini tidak dilengkapi dengan perangkat AC ataupun peralatan ventilasi mekanis. Tata suara di dalam masjid menggunakan empat loudspeaker di masing masing pojok ruang utama, delapan speaker lebih kecil dipasang di kubah, dan empat lagi dipasangkan di  masing masing pojok ruangan agak ke atas.

Masjid Agung Lisabon.

Masjid ini berada di daerah yang cukup bising karena arus lalu lintas yang padat ditambah lagi dengan dilintasi oleh jalur penerbangan yang melintas hampir setiap tiga menit. Karenanya rancangan masjid inipun dibuat sedemikan rupa untuk meredam kebisingan sekitarnya.

Islam di Portugal

Islam Pernah 'Menguasai' Portugal Bila ditarik lebih ke belakang, Islam dan Portugal sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Dan, sejarah itu berkaitan erat dengan penguasaan kaum Muslimin di Andalusia antara abad 7 dan 8 M. Situs wikipedia menyebutkan, tentara Islam pernah menaklukkan Portugal di bawah pimpinan panglima Musa bin Nashir. Kaum Muslim kemudian menyebut wilayah itu al Garb al Andalus (Andalusia Barat).

gerbang serambi Masjid Agung Lisabon.

Penguasaan ini diteruskan oleh Abdul Aziz, putra Musa bin Nashir. Di bawah kendalinya, tentara Islam secara bertahap menaklukkan kawasan yang lebih luas sehingga Portugal takluk. Menurut situs historymedren, wilayah itu lantas dibagi dua oleh tentara Islam, yakni yang berada di sepanjang Sungai Duoro dan Sungai Tagus. Kawasan di Sungai Duoro beriklim dingin serta sulit membuka lahan perkebunan, dan ini tidak disukai kaum Muslim. Ini berbeda dengan wilayah Sungai Targus yang suhunya lebih hangat serta tanahnya subur.

Kaum Muslim kemudian mengonsentrasikan keberadaan mereka di sini dan selanjutnya 'menghidupkan' kota-kota yang ada. Sebagian penduduk setempat pun beralih ke agama Islam. Dan, oleh pemerintah kekhalifahan, beberapa tokoh masyarakat (yang menjadi mualaf) diangkat menduduki jabatan di tingkat lokal. Meski demikian, kaum Muslimin tetap memberikan kebebasan bagi penduduk yang beragama non-Muslim. Orang-orang Yahudi tidak diusik, bahkan diberikan peranan penting pada sektor perdagangan dan ekonomi.

Masjid Agung Lisabon dengan dua kubah dan menaranya yang unik dengan tangga luar yang melingkar sebagaimana tangga pada Masjid Agung Samara, Irak.

Berangsur, wilayah al Garb al Andalus tumbuh dengan pesat di berbagai bidang. Sekolah-sekolah yang mempelajari ilmu pengetahuan umum dan agama banyak didirikan, ladang pertanian memberikan panen memuaskan, irigasi dibangun di banyak tempat dan sebagainya. Pendek kata, kemakmuran tercipta. Tak hanya itu, umat Islam juga mengenalkan seni arsitektur dan kaligrafi yang bernilai tinggi, dan hal tersebut diterapkan pada sejumlah bangunan.

Bahasa Arab digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik di kota maupun di desa. Sejarawan termuka, Al Idrisi, mengisahkan, ketika itu penduduk Kota Selpa yang non-Muslim sekalipun, berbicara dengan bahasa Arab. ''Pengaruh itu masih bisa dirasakan hingga kini, di mana terdapat sekitar 600 kosakata Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Portugis,'' urai situs historymedren .

salah satu kubah masjid ini menggunakan atap transfaran sehingga sinar matahari menembus masuk ke ruang dalam. sedangkan pada ujung menaranya di hias dengan ornamen kaligrapi geometris Allahuakbar.

Selama 250 tahun situasi kondusif berlangsung. Sampai memasuki paruh abad ke-11, para penguasa lokal yang merasa sejahtera, tidak lagi setia kepada kekhalifahan. Mereka membentuk raja-raja kecil, seperti di Badajoz, Merida, Lisbon, dan Evora. Perpecahan terjadi. Situasi tersebut membuka peluang bagi kaum Visigoth Kristen yang selama ini hidup di kawasan pegunungan untuk berkonsolidasi. Mereka lantas melakukan ofensif dan berlanjut hingga lepasnya kekuasaan Islam di Andalusia.

Masuknya Kembali Islam ke Portugal

Portugal atau Portugis dikenal secara luas di buku buku sejarah Nasional Indonesia sebagai salah satu negara kolonial yang pernah menguasai sebagian dari wilayah Nusantara di masa lalu. Selain wilayah Nusantara, Portugal juga pernah menjajah beberapa negara di bagian bumi yang lain. Ketika masa kolonialisme berahir, Portugal memiliki kedekatan dengan negara-negara bekas jajahannya. Banyak penduduk negara jajahan yang bermigrasi ke Portugal, dengan membawa serta tradisi, identitas, maupun agama yang mereka anut. Portugal pun menjelma menjadi negara multietnis dan multiagama. Terdapat komunitas warga Afrika, Amerika Latin, hingga Asia di sana. Pun halnya dengan agama, ada pemeluk Hindu, Buddha, Sikh, Yahudi, serta Islam.  

interior masjid Agung Lisabon dengan Jemaah yang memadati ruang utamanya.

Islam di Portugal Saat ini

Jumlah umat Muslim diperkirakan mencapai 30 ribu jiwa. Mereka berasal dari berbagai etnis, terutama dari Mozambik, Kenya, Makao, Pulau Goa di India, bagian timur Indonesia, dan keturunan orang-orang Muslim India. Tak ketinggalan kaum Muslimin yang datang dari Afrika Barat dan Timur Tengah, seperti Mesir, Maroko, dan Aljazair. Ada pula para mualaf Portugal walaupun jumlahnya tidak terlampau banyak. Kedatangan imigran Muslim ke Portugal mulai berlangsung selepas Perang Dunia II.

Portugal merupakan negara sekuler. Seperti halnya di banyak negara Eropa, mereka memisahkan secara tegas aspek keagamaan dengan pemerintahan. Meski begitu, negara tetap memberikan perhatian terhadap kehidupan agama dan hubungan antarumat beragama. Ada dua aturan pokok yang berlaku: Pertama, perjanjian khusus ( concordata ) tahun 1940 dengan Keuskupan Roma. Hal itu terkait mayoritas penduduk (84,5 persen) menganut agama Katolik Roma. Kedua, undang-undang kebebasan beragama. Diterbitkan sejak 2001, peraturan itu bertujuan memberikan pengakuan serta hak-hak umat agama lain yang selama ini tinggal di Portugal.

Masjid Agung Lisabon dari Kejauhan. bentuknya begitu mencolok dibandingkan dengan bangunan disekitarnya.

Periode tahun 80 sampai 90-an bisa dikatakan menjadi masa-masa penuh harmoni dalam kehidupan masyarakat di Portugal. Umat Islam dan umat agama lain bisa melaksanakan peribadatan dengan leluasa. Masjid, mushala, dan sekolah Islam pun banyak didirikan.

Portugal lantas memiliki dua masjid jami dan 17 mushala, sebagian besar terletak di Lisabon, Coimbra, Filado, Evoradi, dan Porto. Sekolah Dar al-Ulum al-Islamiyyah melengkapi sarana pendidikan di Lisabon. Sekolah ini setingkat dengan sekolah menengah pertama dan menengah atas. Di samping itu, sejumlah masjid dan mushala turut membuka kelas halaqah tahfiz Alquran al-Karim, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam. Kaum Muslim juga menerbitkan sejumlah jurnal berbahasa Portugal dan berbahasa Arab seperti majalah Islam.

plakat pembangunan Msjid Agung Portugal.

Berdirinya Masjid Agung Lisabon

Momen penting bagi muslim Portugal terjadi pada 1968, yakni untuk pertama kalinya didirikan sebuah lembaga Islam di Lisabon bernama al-Jamaah al-Islamiyyah lilisybunah. Melalui lembaga ini, berbagai aktivitas keagamaan umat dapat dikoordinasikan sehingga lebih terarah. Selain itu, lembaga tersebut juga menjadi bukti eksistensi umat semakin diakui. Seiring makin meningkatnya arus imigran Muslim ke negara ini di era tahun 70-an, pemerintah bersedia memberikan sebidang tanah di ibu kota Lisabon untuk dimanfaatkan membangun masjid dan Islamic Center. Butuh waktu untuk menyelesaikan pembangunan masjid yang cukup besar dan representatif.***

Kamis, 21 Juni 2012

Masjid Al-Rashid Edmunton, Masjid Pertama di Kanada

Masjid Al-Rashid, Canada Islamic Center.

Masjid Al-Rashid Islamic Center Kanada di Edmunton merupakan masjid yang pertama kali dibangun di Wilayah Kanada, sekaligus merupakan organisasi Islam terbesar di Edmunton. Bangunan asli Masjid Al-Rashid pertama kali diresmikan pada tahun 1938. Penyelenggaranya adalah wali kota Edmunton John Wesley Fry, seorang keturunan Arab-Kristen. Di sanalah sebuah pandangan multi keagamaan Kanada dimulai, ketika wali kota Edmonton hadir dalam acara itu bersama sama dengan masyarakat dari beragam agama. Peresmian masjid tersebut turut dihadiri oleh Yusuf Ali, seorang sarjana Muslim Lebanon yang terkenal sebagai penerjemah Al-Quran yang paling banyak digunakan dalam bahasa Inggris.

Di tahun 1982 bangunan baru Masjid Al-Rashid selesai dibangun untuk menggantikan fungsi masjid lama Al-Rashid yang sudah terlampau kecil untuk menampung aktivitas jemaah yang kala itu jumlahnya sudah membengkak berkali lipat. Dan di tahun 1991 bangunan asli Masjid Al-Rashid dipindahkan dari lokasi aslinya ke lokasinya sekarang di dalam Fort Edmunton Historical Park tahun 1991 dan selesai direstorasi tahun 1992. Bangunan asli masjid Al-Rashid itu kini berdiri megah bersama sama dengan berbagai bangunan bersejarah Edmunton lainnya yang sengaja di relokasi ke taman sejarah tersebut sebagai warisan sejarah Kanada.

Lama dan Baru ::: sebelah kiri adalah bangunan asli Masjid Al-Rashid, kini di konservasi di Taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park), sedangkan disebelah kanan adalah Bangunan Masjid Al-Rashid yang kini berdiri megah menggantikan masjid lama.

Bangunan baru masjid Al-Rashid yang kini berdiri sama sekali berbeda dengan bangunan masjid Ar-Rashid sebelumnya. Dibangun dengan arsitektural masjid Universal, sebuah bangunan masjid yang biasa kita kenal lengkap dengan kubah besar dan sebuah menara tinggi terpisah dari bangunan utama serta ditopang dengan berbagai fasilitas pendukungnya sebagai sebuah Islamic Center. Sedangkan bangunan asli Masjid Al-Rashid lebih mirip sebuah Gereja dibandingkan sebuah masjid.

Alamat dan Lokasi Masjid Ar-Rashid
Canadian Islamic Center - Al Rashid Mosque (Masjid 13070 113 St NW, Edmonton, AB T5E 5A8,

 

Mengingat bahwa masjid Al-Rashid adalah masjid pertama di Kanada dan kawasan Amerika Utara, ada baiknya kita sedikit mengenal tentang sejarah masuknya Islam ke Kanada untuk memberikan gambaran komprehensif tentang Masjid Al-Rashid, Komunitas muslim Kanada serta sejarah dan latar belakangnya. Karena sejarah sebuah masjid tak lepas dari sejarah komunitas muslim tempatnya berdiri.

Masuknya Islam Ke Kanada

Sejarah Masjid Al-Rashid tidak saja mengukir sejarah sebagai masjid pertama di Kanada dan Kawasan Amerika Utara tapi juga mengukir sejarah perjuangan muslimah Kanada. Sejak pembangunan di tahun 1938 hingga ke masa preservasi bangunan bersejarah tersebut di tahun 1992, Masjid Al-Rashid telah menjadi sumber kebanggaan komunitas muslim kanada sebagai sebuah tempat dimana sebuah tradisi pantas untuk dijaga dan dirayakan. Semuanya bermula dari imigran Arab pertama ke Kanada di tahun 1882.

Dulu dan Sekarang ::: foto sebelah kiri adalah bangunan Masjid Al-Rashid sekitar tahun 1938 dilokasi aslinya. Foto sebelah kanan, bangunan masjid yang sama setelah di relokasi ke Taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park)

Sebagian besar dari imigran arab tersebut berasal dari Suriah, dan kebanyakan dari mereka merupakan anak anak muda yang menghindar dari wajib militer di era kekuasaan Emperium Usmaniah (Otoman Empire) yang berpusat di Istambul, Turki. Rata rata mereka adalah masyarakat Kristen, dan hanya sebagian kecil saja yang beragama Islam, sebagian besar kemudian menetap di kawasan timur Kanada namun kemudian beberapa pindah ke kawasan barat. mereka bekerja sebagai pedagang keliling dan sebagian lagi bahkan mencapai wilayah paling ujung kawasan barat yang kemudian dikenal sebagai kawasan Canada's western frontier.

Sejarawaran Gilbert Johnson menyebut para pedagang keliling imigran Suriah ini sebagai sesuatu yang paling dominan di kawasan pemukiman paling barat Kanada kala itu. Pedagang keliling yang benar benar berkeliling berjalan kaki memanggul barang dagangannya di pundak dan beberapa dagangan kecil ditenteng di tangan kiri dan kanannya. Tapi kebanyakan mereka menggunakan kuda dan kereta kecil di musim panas atau dengan kereta luncur di musim dingin. Mereka berkelanan melintasi padang rumput di  rute yang selalu sama.

selembar foto lama suasana sholat berjamaah di dalam masjid lama Al-Rashid.

Di penghujung 1920-an keluarga muslim tersebar di berbagai tempat di Alberta, Edmunton. Mencari nafkah sebagai pedagang hingga pedagang toko. Jumlah muslim yang tak terlalu banyak di kota itu membuat mereka saling mengenal dengan baik satu dengan yang lainnya. Sensus penduduk di tahun 1931 tercatat 645 muslim diantara 10,070 warga arab-Kanada. Sebagian besar dari mereka menetap di propinsi kawasan barat di Ontario dan Quebec.

Sejarah Pembangunan Masjid Al-Rashid

Hasil perjuangan Muslimah Kanada

Pendiri Dewan Muslimah Kanada tahun 1982, Lila Fahlman menceritakan tentang sejarah Masjid Al-Rashid. Di awal tahun 1930-an beliau masih belia, ketika keluarga muslim saat itu memperbincangkan tentang pembangunan masjid pertama disana, muncullah Hilwi Hamdon, seorang muslimah yang berkepribadian begitu menarik dan diterima di kalangan manapun. Hilwi Hamdon bersama temannya yang kemudian melobi walikota Alberta, John Wesley Fry untuk mendapatkan sebidang lahan bagi pembangunan masjid untuk muslim kota tersebut. John Wesley Fry adalah seorang keturuan imigran Arab Kristen. John Wesley Fry sempat berujar “kalian tidak punya uang untuk membangun masjid” namun dengan cepat Hilwi Hamdon dan rekannya menjawab “kami akan dapatkan uangnya”.

Sebuah catatan sejarah dipasang di depan bangunan asli Masjid Al-Rashid di Fort Edmunton Historical Park.

John Wesley Fry setuju untuk menyediakan lahan bagi pembangunan masjid yang diinginkan, apabila kaum muslimin memang memiliki dana yang cukup untuk membangun masjid dimaksud. Kala itu mereka membutuhkan dana setidaknya $5000 dolar, angka yang begitu berat di kondisi depresi yang teramat dalam ketika itu. Penggalangan dana dimulai, mereka mendatangi satu persatu setiap toko di sepanjang ruas jalan Jasper Avenue, ruas jalan utama Edmunton. Tak peduli apakah pemilik toko nya seorang Yahudi, Nasrani atau Muslim. Para muslimah ini meminta mereka untuk memberikan dukungan bagi pembangunan masjid tersebut. dan Alhamdulillah, komunitas kota itu sangat mendukung. Berdirilah Masjid Ar-Rashid yang dibangun dari dana sumbangan tiga pemeluk agama samawi.

Masalah kecil muncul saat akan mencari arsitek untuk merancang bangunan masjid yang akan dibangun, para pengembang di sana tak satupun yang mengenal bangunan masjid, jangankan mengenal, mereka bahkan belum pernah melihat seperti apa gerangan bangunan masjid. Para muslimah tersebut pada ahirnya memilih arsitek Kanada-Ukraina bernama Mike Drewoth dan mengatakan padanya “kami ingin membangun tempat ibadah”. Setelah serangkaian diskusi, Drewoth membuat sebuah rancangan masjid terbaik yang dia bisa, “sebuah bangunan yang lebih mirip Gereja Ortodok Rusia dibandingkan sebuah bangunan masjid yang dikenal secara umum”.

bangunan asli ::: begini bentuk asli bangunan Masjid Al-Rashid.

Bangunan tersebut berupa bangunan memanjang dengan pintu utama di salah satu sisinya lengkap dengan tangga, dilengkapi ruang terbuka yang besar di dalamnya benar benar mirip sebuah gereja, namun jendelanya dibentuk berlengkung dan dilengkapi juga dengan dua ruang kecil tempat berwudhu, ruang basement (bawah tanah) untuk kegiatan sosial dan dibuatkan dua menara berdenah segi delapan dengan kubah bawang bewarna perak dipasangkan di atasnya lalu dipasang simbol bulan sabit dibagian puncaknya untuk menegaskan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan masjid bukan gereja. Meski dibangun sangat mirip dengan sebuah gereja ortodok, komunitas muslim setempat sangat bangga dengan masjid pertama mereka dan dengan sangat antusias menyumbangkan lampu lampu gantung dan karpet.

Peresmian Masjid Al-Rashid

Pembangunan masjid tersebut sudah selesai dilaksanakan pada bulan November 1938, sebuah upacara pemakaman bagi Ali Tarrabain, yang di sholatkan di masjid yang baru saja selesai dibangun itu menjadi sholat jenazah yang pertama kali diselenggarakan di masjid Al-Rashid, justru pada saat masjid tersebut baru saja selesai dibangun dan bahkan belum diresmikan penggunaannya. Peresmian masjid ini baru diselenggarakan sebulan kemudian.

Bangunan baru Masjid Al-Rashid Edmunton.

Pada tanggal 12 Desember 1938 Masjid Al-Rashid secara resmi dibuka oleh Walikota Edmunton John Wesley Fry dan I.F Shaker, yang juga seorang Kristen Arab, walikota Hanna, Alberta. Diantara para tamu undangan turut hadir seorang penterjemah Al-Qur’an dari Pakistan bernama Abdullah Yusud Ali. Sebuah upacara peresmian masjid yang benar benar tak biasa, merefleksikan keberagaman di Kanada. Mengutip sambutan yang disampaikan oleh John Wesley Fry saat peresmian masjid tersebut, beliau mengatakan “sangat penting bahwa berbagai kalangan dari berbagai agama duduk bersama dengan sangat bersahabat satu dengan lain-nya”

Lebih dari tiga dekade, masjid kecil tersebut menjadi pusat aktivitas komunitas muslim setempat, termasuk perayaan pernikahan, pemakaman, dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dilaksanakan di ruang utamanya. Ruang basement nya digunakan sebagai pusat aktivitas sosial komunitas arab disana dari berbagai latar belakang agama. Ruang tempat bertemunya komonitas setempat dalam berbagai aktivitas komunal.

Sisi Depan Masjid Al-Rashid yang baru ::: jauh lebih besar dan megah serta lengkap dengan sarana pendukungnya sebagai sebuah Islamic Center.

Setiap masjid memang menyimpan ceritanya sendiri, seperti halnya masjid mungil Al-Rashid ini. Pada awal penggunaannya jemaah muslimah melaksanakan sholat di shaf paling belakang tanpa penyekat, sampai suatu hari dipasang penyekat dari tirai bewarna hijau membagi ruangan sholat menjadi dua bagian. Sempat terjadi perdebatan kecil diantara komunitas, ada yang tak ingin menggunakan tirai sementara lain nya menginginkan dipasang tirai, namun ahirnya tirai tersebut tetap ditempatnya.

Konservasi Yang Mengharukan

Paska perang dunia ke dua, imigran arab mulai membanjiri Kanada ::: sekitar 50 ribu di tahun 1946 dan 1975, dengan persentase jumlah muslimnya yang lebih besar dari imigran sebelum nya. Di tahun 1980 komunitas muslim di Edmunton mencapai 16 ribu jiwa, membuat masjid Al-Rashid menjadi begitu kecil untuk dapat menampung jemaah nya yang benar benar telah membludak. Tiba waktunya untuk membangun masjid baru yang lebih besar. Di tahun 1982 bangunan lama Masjid Al-Rashid ditutup, seluruh aktivitas ke-Islaman yang tadinya dilaksanakan di Masjid itu dipindahkan ke bangunan Masjid Al-Rashid yang baru yang lebih besar dan lebih lengkap. Lebih dari sepuluh tahun bangunan masjid lama itu dibiarkan kosong tak dipakai dan terbengkalai ditempatnya, bersebelahan dengan Rumah Sakit Royal Alexandra Hospital.

ketika pertama kali Masjid Al-Rashid di buka tahun 1938, Muslim di Edmunton tak lebih dari 700 jiwa saja.

Ketika terjadi booming minyak bumi terjadi di tahun 1980-an, populasi Edmunton pun melonjak, di tahun 1988, Rumah Sakit Royal Alexandra berencana memperluas lahan parkirnya. Bangunan lama Masjid Al-Rashid yang terbengkalai terancam akan digusur karena memang sudah sangat lama terbengkalai. Komunitas muslim setempat mulai mempertimbangkan usaha untuk menyelamatkan bangunan tua tersebut, setelah lebih dari setengah abad pembangunannya kini bangunan lama Masjid Al-Rashid itu sudah menjadi bangunan bersejarah tidak saja bagi muslim Edmunton tapi juga bagi sejarah Kanada.

Masjid Al-Rashid Edmunton ditengah dinginnya musim salju yang membeku.

Penggalangan dana pun dilakukan namun dana yang dihasilkan tak mencukupi. Sampai kemudian Lila Fahlman melakukan pendekatan kepada CCMW yang bermarkas di Edmunton dan meminta CCMW untuk mengambil langkah langkah penyelamatan terhadap bangunan tua masjid Al-Rashid. Diantara para anggota CCMW terdapat Karen dan Evelyn Hamdon yang merupakan cucu dan cucu kemenakan Hilwi Hamdon, sosok muslimah yang dulunya menggalang dana bagi pembangunan masjid Al-Rashid.

Juga ada Mahmuda Ali, cucu dari Mary Saddy, teman dekat dari mendiang Hilwi Hamdon. Pada kesempatan itu Karen Hamdon sempat berujar “Bangunan lama masjid Al-Rashid memiliki keterikatan emosional yang sangat kuat dengan kita, Paman dan Bibi kita menjadi pasangan pertama yang melangsungkan pernikahan di masjid itu”. kelompok muslimah inilah yang kemudian meneruskan apa yang telah dilakukan pendahulunya, menggalang dana untuk menyelamatkan bangunan masjid pertama Kanada tersebut.

Kubah dan menara Masjid Al-Rashid dengan putihnya salju yang menempel di permukaannya.

Terkumpul dana sebesar $75 ribu dolar cukup untuk mengangkut bangunan lama Masjid Al-Rashid ke kawasan taman Sejarah Kota Edmunton (Fort Edmunton Historical Park). Upaya para muslimah tersebut menggalang dana, ternyata hanyalah perjuangan awal bagi penyelamatan bangunan itu. tantangan berikutnya adalah meyakinkan para petinggi di kota itu untuk mengizinkan relokasi bangunan masjid ke taman sejarah kota.

Di tahun 1980-an Edmunton tak lagi memiliki area padang rumput yang luas seperti era sebelumnya, menjadi tak mudah untuk menempatkan bangunan masjid tua itu ke taman sejarah dengan bijaksana. Berbagai penolakanpun muncul ke permukaan, para penentang penempatan masjid ke taman kota berpendapat bahwa bangunan masjid tua itu bukanlah gedung bersejarah, tak tanggung tanggung bahkan dalam sebuah Jurnal terbitan Edmunton sempat menyebut “Fort Edmunton Park telah dipaksa untuk menerima sebuah penyusupan Kesejarahan”

Masjid Al-Rashid, Islamic Center Kanada

Namun ahirnya di tahun 1991, setelah tiga tahun menggalang dana dan membuat petisi, ahirnya atap bangunan lama Masjid Al-Rashid pun dibuka dan bangunan tersebut dengan hati hati di angkat ke atas sebuah truk pengangkut yang sangat besar. Dibawah sinar bulan, bangunan masjid tua itu dipindahkan ditengah kesunyian malam kota Edmunton yang tengah terlelap, menuju lokasi barunya. Mahmuda Ali dan Karen Hamdon mengikuti truk pengangkut itu dari belakang dengan kendaraan pribadi mereka berbagi setermos kopi panas demi mastikan dan melihat sendiri bangunan masjid bersejarah itu tiba ditujuannya dengan aman.

Hampir setahun lamanya bangunan masjid tersebut berdiri di taman kota tanpa atap. Menjadi tempat bersarangnya burung burung merpati diantara balok balok bagian atasnya. Sementara itu anggota anggota CCMW berupaya menggalang dana untuk melakukan restorasi terhadap bangunan masjid itu yang harus segera dipugar dan diberi atap sebelum musim dingin tiba.

Interior bangunan asli masjid Al-Rashid, mungil dan sederhana. hanya seukuran sebuah Mushola di kebanyakan kampung di Indonesia

Pada tanggal 28 Mei 1992 proses restorasi selesai dilaksanakan dan bangunan masjid tua tersebut kembali dibuka dalam sebuah upacara yang penuh haru. Para pemimpin kota memberikan penghormatan yang mendalam kepada para muslimah yang dulu telah membangun masjid tersebut dan bagi para muslimah keturunannya yang kemudian menyelamatkan bangunan tersebut dari kehancuran, Pada kesempatan tersebut Soraya Hafez, selaku presiden CCMW berujar “sekarang masjid bersejarah kita ada disini,  Masjid ini seolah berkata bahwa Kita Ada disini".

Lembaga Lembaga Milik Masjid Ar-Rashid

Edmonton Islamic Academy (EIA)

Sebagaimana dijelaskan di www.islamicacademy.ca, EIA dibentuk sebagai sebuah keharusan demi mencetak generasi Islami. Siswa di akademi ini berasal dari berbagai kalangan etnis dan latar belakang budaya. EIA menyelenggarakan pendidikan berbagai tingkatan mulai dari Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar Islam (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga studi bahasa Arab dan Ilmu Islam.

Edmunton Islamic Academi

Islamic Investment Corporation (IIC)

Islamic Investment Corporation (IIC) merupakan perusahaan patungan antara Arabian Muslim Association (51%) dan Islamic Call Society of Libya (49%). Perusahaan yang bergerak dibidang estate properti. IIC menjalankan berbagai bidang bisnis yakni : Al Rashid Apartment (32 suites) berada di 13016 – 113 Street, Castle Apartment (17 suites) di lokasi 11309 – 132 Ave dan dua bangunan gedung diseberang Masjid.

Al Rashid Youth & Sports Club

Lembaga ini menyediakan sarana bagi kaum muda muslim Edmunton dan Kanada dari berbagai umur dan memfasilitasi aktivitas kaum muda disana dalam berbagai aktivitas positif yang sesuai dengan ajaran Islam melalui berbagai program yang dikelola dengan baik, aktivitas aktivitas tersebut adalah : Sport teams termasuk Sepak Bola. hockey, basketball, volleyball, tenis meja dan lain lain, lalu ada Islamic days, acting, menyanyi, Eid contests dengan mengadakan lomba lomba penulisan puisi, menulis cerita, pidato, menggambar dan sebagainya. Penyelenggaraan berbagai turnamen dan segudang aktivitas kreatif lainnya.

Jemaah di dalam Masjid Al-Rashid Edmunton - Kanada

Salah satu program kepemudaan terbaru di Masjid Al-Rashid yang cukup menarik adalah program yang mereka sebut sebagai Program Cahaya Jum’at Malam (Friday Night Light-FNL) dalam program yang diselenggarakan setiap hari Jum’at antara pukul 6 hingga pukul 9 malam ini, para remaja laki laki muslim yang berumur antara 12 hingga 16 tahun di ajak besama sama dalam acara yang bersuasana religius untuk menanamkan persaudaraan, spiritualitas, rasa hormat serta kebugaran fisik. Layaknya acara untuk remaja, segala urusan menyangkut acara ini juga dapat mereka ikuti perkembangan nya melalui situs jejaring sosial di internet.

Islamic Funeral Society

Islamic funeral services ini adalah layanan penyelenggaraan jenazah yang diselenggarakan di Masjid Al-Rashid, termasuk pemandian, pengkapanan, pemakaman hingga pengurusan administrasinya ke pemerintahan, termasuk pengurusan izin pemakamannya. Masjid juga menyediakan jasa transfortasi dari rumah sakit ke masjid hingga ke pemakaman serta tentu

suasana di pekarangan Masjid Al-Rashid, persiapan prosesi pemakaman seorang jemaah yang di sholatkan di Masjid ini.

Layanan Pernikahan

Selain menyelenggarakan sholat fardhu lima waktu termasuk sholat fardhu Jum’at dan dua hari raya (idul Fitri dan Idul Adha), Masjid Al-Rashid menyediakan layanan penyelenggaraan pernikahan. Termasuk di dalamnya penyelenggaraan akad nikah dibawah bimbingan langsung Imam Masjid Al-Rashid, Sheikh Mustafa Khattab, Akta Nikah (surat nikah) hingga penyelenggaran resepsinya secara Islami.

Foto Foto Masjid Al-Rashid

Masjid Al-Rashid dengan pekarangannya yang tertutup salju


Referensi

alrashidmosque.ca - history of al-rashid mosque
edmontonmuslims.com – edmonton mosques
en.wikipedia.org – al rashid mosque
ijnap.wordpress.com – islam di kanada
saudiaramcoworld.com - Canada's Pioneer Mosque
wikipedia  – islam in canada

--------------------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Amerika Utara Lain-nya