Selasa, 09 Juli 2013

Islam di Paraguay (Bagian 2)

Proyek pembangunan masjid baru yang lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap di kawasan Ciudad Del Este, kota Assuncion, Ibukota Paraguay.

“Sebuah fakta menarik terungkap saat kunjungan kerja Gubernur Aceh ke Paraguay, di Paraguay  terdapat komunitas suku asli setempat yang bernama Suku Ache dan mereka mengaku berasal dari Provinsi Aceh, Indonesia.”

Suku Aceh di Paraguay

Sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam kunjungan Gubernur Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf ke Paraguay, beliau dipertemukan dengan suku Ache, salah satu suku asli Paraguay yang mengaku sebagai keturunan Aceh, Sumatera, Indonesia. Meski masih dibutuhkan penelusuran lebih jauh bagaimana dan bilamana mereka tiba ke Paraguay. Juru bicara suku Ache di Paraguay Maria Luisa Duarte, mengakui suku Ache di Paraguay berasal dari Aceh, Sumatera – Indonesia.

Hal tersebut batu diketahui oleh Pak Gubernur beberapa saat sebelum keberangkatan beliau ke Paraguay dalam sebuah kunjungan kerja. Pertemuan dengan pimpinan suku Ache di Paraguay tersebut dilaksanakan di kantor Kementrian Luar Negeri Paraguay pada tanggal 19 Juli 2011 yang lalu. Menurut Dr. Augusto Fagel Pedrozo, ahli antropologi budaya yang juga Presiden Del Indi, pertemuan tersebut telah lama diimpika-nnya saat bersama rekan lainnya melakukan penelitian mendalam tentang keberadaan suku Ache di Paraguay.

Dr. Augusto Fagel Pedrozo juga yang merancang pertemuan tersebut ketika mengetahui rencana kunjungan Gubernur NAD ke Paraguay. Langkah awal yang ditempuh menyampaikan niat itu kepada pihak Kementerian Luar Negeri Paraguay. Kemudian rencana itu disampaikan kepada Kepala Perwakilan Pemerintahan RI di Argentina. Sampai ahirnya digelarlah Pagelaran Seni Budaya Aceh di Asuncion. Dalam pertemuan mengharukan tersebut Gubernur NAD, Irwandi Yusuf menyerahkan cenderamata berupa rencong kepada pimpinan suku Aceh di Paraguay yang diterima Maria Luisa Duarte. Sedangkan pimpinan suku Aceh menyerahkan cenderamata pada Gubernur NAD hasil kerajinan mereka berupa ikan yang terukir dari kayu.

Beberapa tokoh masyarakat yang hadir dalam upacara peletakan batu pertama pembangunan Masjid baru di Ciudad Del Este - Paraguay

Hadir dalam pertemuan tersebut pimpinan suku Aceh di Paraguay antara lain, Maria Luisa Duarte dan Alba Portillo Maximo dari Propinsi Central, Margarita Mbywangi, Antonio Pepagi dan Roberto Achepurangi dari Provinsi Canindeyu dan Ramona Takuarangi dari Provinsi Caazapa. Merujuk kepada penjelasan Aidi Kamal (Staf Biro Keistimewaan Aceh Setda NAD), suku Aceh di Paraguay sekarang berjumlah 1.300 orang yang tersebar di tiga provinsi di Paraguay, yaitu Provinsi Central, Provinsi Canindeyu dan Provinsi Caazapa. Sebagian besar berprofesi sebagai pedagang dan petani.***

Perkembangan Islam di Paraguay

Islam di Paraguay dan negara negara Amerika Latinnya menemukan tempat yang nyaman untuk tumbuh dan berkembang. Haluan politik beberapa negara Amerika Latin yang tidak sejalan dengan Amerika memicu kecurigaan dan berbagai tuduhan mengalir deras ke berbagai institusi di negara negara tersebut termasuk muslim di Paraguay. Jurnalis Amerika dengan lantang menyebut Amerika Latin sebagai Hot Bed bagi ektrimis dan teroris. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa imigran muslim dari berbagai negara arab terkonsentrasi di Wilayah Triple Frontier Brazil, Paraguay dan Argentina yang disebut sebut oleh media Amerika sebagai sarang pembinaan para ekstrimis Islam.

Tuduhan seperti itu tidak hanya datang dari A.S. tapi juga dari sekutu dekatnya, Israel, yang jaraknya terpisah ribuan mil dari Paraguay. Organisasi Yahudi dunia sempat geram dan meminta pemerintah Paraguay untuk menutup Masjid Nabi Muhammad di kota Asunción sebagai respon dari aktivitas jemaah masjid ini yang mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina. Namun permintaan tersebut diabaikan oleh pemerintah Paraguay. Organisasi Yahudi juga melobi pemerintah setempat untuk tidak mengizinkan pembangunan Masjid baru bagi muslim Asuncion. Namun, alih alih memenuhi permintaan tersebut pemerintah Paraguay malah mengikuti langkah negara negara Amerika Latin lainnya mengakui secara resmi Negara Palestina.

MEGAH. Bangunan masjid baru di Ciudad Del Este ini memang dibangun cukup megah dengan kubah tunggal yang begitu besar, menampilkan pemandangan tak biasa bagi ibukota Paraguay.

Pembangunan Masjid baru di kawasan Ciudad del Este, pusat kota Asuncion terus berjalan dan dengan restu dari pemerintah Paraguay. Peletakan batu pertamanya telah dilaksanakan pada bulan April tahun 2012 yang lalu dan diperkirakan akan selesai dua tahun ke depan. Proyek pembangunan masjid baru ini direncanakan sebagai masjid berlantai empat lengkap dengan ruang basement dan lantai mezanin untuk jemaah wanita. Nantinya setelah selesai masjid seluas 3500 meter persegi ini akan mampu menampung sekitar 5000 jemaah sekaligus. Dan nantinya masjid ini sekaligus menjadi tempat bertemunya dua aliran Islam yang ada di Paraguay baik Suni maupun Shiah yang selama ini memiliki dan mengelola masjid mereka masing masing.

Perkembangan Islam di Paraguay memang turut di tunjang dengan kehadiran beberapa tokoh muslim maupun non muslim imigran dan keturunan Arab yang masuk ke dalam jajaran pemerintahan negara tersebut, ditambah dengan dorongan untuk menjalin kerja sama lebih erat dengan negara negara kaya di jazirah Arab dan negara Islam lainnya turut memacu perkembangan Islam di negara ini. Menjadi sangat wajar bila kemudian komunitas muslim disana memutuskan untuk membangun masjid yang lebih besar guna mewadahi seluruh aktivitas mereka yang terus berkembang dari waktu ke waktu.***

Baca Juga Artikel Islam dan Masjid di Negara Berdekatan



Islam di Paraguay (Bagian 1)

Lokasi Paraguay di Amerika Latin

“Sebuah fakta menarik terungkap saat kunjungan kerja Gubernur Aceh ke Paraguay, di Paraguay  terdapat komunitas suku asli setempat yang bernama Suku Ache dan mereka mengaku berasal dari Provinsi Aceh, Indonesia.”

Paraguay adalah salah satu negara Republik di Amerika Selatan yang terkurung daratan terkucil dari laut. Wilayah paraguay membentang di dua sisi Sungai Paraguay, yang sekaligus menjadi batas alami bagi Paraguay dengan Argentina dan Brazil. Paraguay berbatasan dengan Argentina di sebelah selatan dan barat daya, Brasil di timur laut dan timur, serta Bolivia di barat daya. Negara ini kadang disebut juga dengan julukan Corazón de América atau Jantung Amerika.

Secara etimologi, nama negara ini bermakna "air yang mengalir ke samudra", berasal dari bahasa Guaraní yang merupakan bahasa penduduk setempat : PARA berarti "samudera", GUA berarti "ke atau dari", dan Y berarti “AIR", "sungai", atau "danau"). Belum ada kesimpulan akhir tentang nama asli dari "Paraguay". Meski begitu ada bermacam-macam perkiraan lain, diantara-nya adalah Fray Antonio Ruiz de Montoya yang mengatakan bahwa Paraguay berarti "sungai yang ramai" sedangkan seorang mantan Militer dan ilmuwan Spanyol, Félix de Azara mengatakan bahwa Paraguay berarti "air dari Payaguas (Payaguá-dan Payagua-i), merujuk kepada keanegaraman hayati di sepanjang pesisir sungai Paraguay.

Paraguay ber-ibukota di Asunción yang juga merupakan kota terbesar di Negara itu. Mayoritas penduduk negaranya ber-etnis Mestizoa yang mencapai 95% dari total populasinya, serta suku suku lainnya yang hanya 5%. Bahasa resminya adalah bahasa Spanyol dan Bahasa Guarani yang merupakan Bahasa Asli penduduk setempat. Bahasa Spanyol menjadi salah satu bahasa resmi karena memang Paraguay merupakan bekas jajahan Spanyol.

Mezquita Del La Profeta Muhammed atau Masjid Nabi Muhammad di kawasan Ciudad del Este di kota Asuncion, satu dari dua masjid di ibukota Paraguay.

Islam di Paraguay

Merujuk kepada artikel Islam in Paraguay di Wikipedia, diperkirakan ada 507 orang muslim disana atau hanya sekitar 0.008% dari total penduduknya. Sebagian besar dari muslim disana merupakan keturunan dari para imigran muslim dari Suriah, Lebanon dan Palestina yang terkonsentrasi di kota Asuncion dan sekitarnya. Organisasi Islam paling berpengaruh di Paraguay adalah Centro Benéfico Cultural Islámico Asunción, yang dipimpin oleh Faozi Mohamed Omairi. Data tersebut sangat berbeda dengan data di islamicpopulation.com yang menyebutkan bahwa muslim di Paraguay mencapai 2750 jiwa pada tahun 2000.

Islam telah mencapai Amerika Latin dibawa oleh para imigran dari Andalusia (kini Spanyol) jauh sebelum Cristhoper Colombus tiba disana. Kehadiran imigran dari wilayah Islam Andalusia di Amerika Latin termasuk Paraguay ini memberikan pengaruh yang begitu kuat bagi tersebarnya budaya Arab dan Andalusia di benua baru tersebut. Imigran Andalusia dari provinsi Seville dan Huelva antara tahun 1493-1508 memberikan kontribusi hingga 78% dari total imigran dan 37% antara tahun 1508-1519. Ada dua gelombang masuknya imigran Andalusia ke Paraguay yang dimulai tahun 1872 dan gelombang kedua dimulai tahun 1960 dan lebih intensif setelah 1980.

Gelombang pertama imigran Arab masuk ke Paraguay mulai pada tahun 1872, mereka merupakan warganegara Emperium Usmaniah Turki, itu sebabnya mereka seringkali disebut sebagai orang Turki. Kebanyakan dari mereka berasal dari wilayah yang kini menjadi Negara Suriah dan Lebanon. Kebanyakan dari mereka merupakan laki laki muda di usia 16 -18 tahun beragama Kristen Ortodok dan Maronit serta sebagian kecil beragama Islam Shiah dan Alawi.

Mezquita Del La Profeta Muhammed atau Masjid Nabi Muhammad di kawasan Ciudad del Este kota Assuncion, di lihat dari salah satu bar yang berdiri tak jauh dari masjid ini.

Gelombang kedua imigran Arab yang masuk ke Paraguay dimulai tahun 1960-an, sebagian besar dari imigran ini tinggal di kawasan Alto Paraná, terutama di Ciudad del Este. Di kawasan tersebut terdapat sekitar 15,000 warga arab Lebanon dan sebagian kecil dari Suriah, Mesir dan Palestina, yang hijrah kesana sebagai akibat pecahnya perang di Negara asal mereka.

Imigran gelombang kedua ini menetap di kawasan yang seringkali disebut sebagai Triple Frontier, yang terdiri dari Paraguay, Brazil dan Argentina. Karena memang kawasan tempat mereka menetap berada di sekitar perbatasan tiga Negara tersebut. Arab Paraguay yang menetap di Ciudad del Este  memiliki keterikatan dengan Arab dan muslim yang tinggal di Foz do Iguaçu, kota wisata air terjun di Brazil.

Organisasi Islam di Paraguay

Komunitas arab di Paraguay mendirikan organisasi pertama mereka pada tanggal 13 Oktober 1919 dengan nama Syria Union, sebuah lembaga amal dan bantuan bagi imigran Suriah dan Lebanon di Paraguay. Tahun 1942 organisasi amal ini berubah menjadi Lebanese and Syrian Club, bermarkas di kota Asuncion. Beberapa organisasi juga didirikan oleh komunitas Arab di Paraguay termasuk Central Committee Arab pro-Palestinian aid.

fasad depan Mezquita Del La Profeta Muhammed, Ciudad del Este

Imigran arab ini juga mendirikan berbagai organisasi ke agamaan di Paraguay. Tahun 1991 mereka mendirikan Islamic Center dengan komunitas muslim sekitar 100 jiwa. Setelah sebelumnya mendirikan Islamic Cultural Center Benefit di tahun 1990, dengan kantor pusat di Asunción dan Encarnación. Organisasi ini bekerjasama dengan Masjid Khalid bin Al Walid, yang dibangun dengan dana dari Muslim World League / Rabithah Alam Islami yang berkantor pusat di Saudi Arabia.

Muslim Shiah di Paraguay juga mendirikan organisasi Islam di kawasan Upper (Alto) Paraná tahun 1988. Sebuah organisasi dengan nama Arab-Islamic Center Paraguayan didirikan oleh seorang pebisnis Lebanon Hussein Taijen dengan tujuan untuk menyatukan muslim yang ada di Alto Parana.

Masjid terbesar di Paraguay dibangun di kawasan pusat kota Asunción dengan nama The Mosque of the Prophet Muhammad, atau Masjid Nabi Muhammad ditahun 1994. Bersamaan dengan terbentuk secara resminya organisasi Benevolent Association of Alto Paraná, yang dikelola oleh muslim Lebanon. Masjid dan organisasi tersebut sudah mendapatkan pengesahan dari Kementrian Pendidikan dan Budaya Paraguay serta berbagai lembaga pendidikan di Paraguay.

Berdirinya berbagai lembaga Islam di Paraguay secara langsung berdampak kepada perkembangan Islam di Paraguay. Islam mulai dipeluk oleh penduduk pribumi setempat, termasuk didalamnya melalui pernikahan wanita setempat dengan pria muslim Imigran Arab yang ada disana.

Dan sudah barang tentu dengan kehadiran berbagai komunitas muslim maupun komunitas Arab di Paraguay menjadi titik tolak kedekatan dengan dunia Arab. Dan menjadi tidak aneh ketika pemerintah Paraguay bergabung dengan beberapa negara Amerika Latin lainnya yang dengan tegas mengakui eksistensi Negara Palestina.***

Bersambung ke Bagian 2

Baca Juga Artikel Islam dan Masjid di Negara Berdekatan


Jumat, 05 Juli 2013

Islam di Bolivia (Bagian 2)

Masjid As-Salam di Kota La Paz, satu dari dua masjid besar di Bolivia

Dakwah Dan Organisasi Islam di Bolivia

Meski Bolivia hanya memiliki komunitas kecil ummat Islam, namun memiliki tingkat aktivitas yang cukup tinggi dan berkembang secara berkelanjutan. Sebagian besar dari komunitas yang sudah ada ini merupakan anggota komunitas kelahiran Bolivia dan mereka yang baru masuk Islam atau merupakan keturunan dari imigran Palestina atau Lebanon yang sudah menetap di Bolivia selama beberapa dekade.  Setidaknya ada delapan organisasi Islam di Bolivia dan masing masing memiliki masjid sebagai pusat aktivitas mereka.

Secara tradisional komunitas Islam disana mayoritas adalah muslim suni dengan karakter menyerap gaya dan tradisi setempat termasuk cara mereka berpakaian. Mereka sama sekali tak mempraktekkan Islam fundamentalis ataupun secara aktif melakukan dakwah Islam. Namun demikian ada sebagian muslim Pakistan dan Iran yang melakukan dakwah secara aktif dengan melakukan perekrutan terhadap anak anak muda dan wanita Bolivia untuk bergabung dan ini sedikit menimbulkan gesekan diantara komunitas muslim disana. Berikut beberapa komunitas muslim disana beserta kiprahnya.

CIB – Centro Islamico Boliviano (Islamic Center Bolivia)

Centro Islámico Boliviano (CIB)
San Joaquin 2815, Santa Cruz de la Sierra, Bolivia

Dakwah Islam di Bolivia dimulai sekitar tahun 1974 ketika Mahmud Amer Abusharar tiba dari Palestina. Segera setelah kedatangannya dia mulai mengumpulkan muslim dari berbagai daerah di Bolivia dan mengundang mereka untuk menghadiri sholat berjamaah di kediamannya. Dengan cepat beliau menjadi pemimpin dari kelompok kecil komunitas muslim Bolivia terutama di kota Santa Cruz. 

Tahun 1986 beliau mendaftarkan organisasi Islam-nya ke pemerintah Bolivia dan di-akui oleh pemerintah melalui kantor urusan agama di kementrian Luar Negeri Bolivia, tiga tahun kemudian atau di tahun 1989. Organisasi Islam yang didirikannya tersebut diberi nama CIB – Centro Islamico Boliviano atau Islamic Center Bolivia yang berpusat di ibukota komersil Bolivia, Santa Cruz.

Organisasi ini mengaku sebagai organisasi Islam pertama di Bolivia yang mengoperasikan masjid secara penuh di tahun 1994 dengan sekitar 300 jemaah tetap. Masjid yang dimiliki dan dikelola oleh CIB dikenal sebagai Masjid Santa Cruz. Mereka menyatakan diri mendukung keterbukaan dan perdamaian dan menjalin kerjasama yang erat dengan pemerintah Bolivia yang berpandangan politik anti Amerika. 

Mahmud Amer Abusharar wafat pada tanggal 14 Mei 2011, atas wasiatnya posisi beliau digantikan oleh Isa Amer Quevedo yang bertindak sebagai Direktur CIB yang baru. Isa Amer Quevedo merupakan sarjana hukum Islam lulusan Universitas Madinah – Saudi Arabia dan sebelumnya menjabat sebagai direktur administrasi dan penterjemah di CB.

Isa Amer Quevedo meneruskan kebijakan organisasi yang anti Amerika dan dengan tegas mengkritisi Amerika segera setelah peristiwa pengeboman menara kembar WTC New York 11 September, melalui situs resmi CIB. Organisasi ini memang berkembang sangat pesat menjadi organisasi Islam Bolivia terbesar dan mendapatkan dukungan kuat dari organisasi Islam Saudi Arabia untuk Amerika Latin dan Liga Muslim Dinia / World Muslim League / Rabita al-Alam al-Islami. 

Pembangunan masjid pertama CIB turut dibantu oleh kedutaan besar Mesir di Bolivia serta Dewan Kerjasama Teluk. Lebih lanjut CIB juga menjalin afiliasi dengan Dewan Dunia Pemuda Muslim (World Assembly of Muslim Youth) sekaligus bertindak sebagai kantor pusat organisasi tersebut di Bolivia. Di bulan maret 2009 CIB membuka kantor cabang di lokasi yang tak disebutkan dengan jelas di kota Sucre dibawah pimpinan Hasan Tawafshah dan Cochabamba dipimpin oleh Daud Abujder.

Asociacion Cultural Boliviana Musulmana (ACBM)

Wold muslim leage juga berhubungan dengan organisasi Asociacion Cultural Boliviana Musulmana --
ACBM (ACBM) yang berlokasi di kota Sucre, ibukota Konstitusional Bolivia. Seorang Dokter Palestina sekaligus seorang pengacara bernama Fayez Rajab Khedeer Kannan, yang menjalankan organisasi ini. Tokoh satu ini menunjukkan sikap yang cukup ekstrim dengan cara terbuka mendoakan mendiang Muammar Khadafi saat tokoh sentral Libya tersebut tewas.

Di tahun 1998 beliau mendapatkan hak guna lahan selama 30 tahun dari dewan kota atas sebidang tanah seluas lima hektar di kawasan Los Libertadores neighborhood untuk membangun lembaga pendidikan dan klinik kesehatan. Dengan bantuan dana dari Liga Muslim Dunia dan Bank Pembangunan Islam yang berpusat di Jedah, tahun 2003 ACBM membangun sekolah Islam di lokasi tersebut.

Asociacion de la Comunidad Islamica de Bolivia - ACIB

590 Calle Corrales, La Paz, PO Box 12492
Registry ID: RAP 393 (2/9/04)

ACIB bermarkas di La Paz dibawah pimpinan Gerardo Cutipa Trigo, seorang mualaf Bolivia yang kemudian berganti nama menjadi Ahmad Ali, bertindak sebagai presiden dari organisasi Islam beraliran suni ini. Cutipa merupakan seorang Engineer sebelumnya merupakan penganut atheis sampai kemudian menjadi pemimpin gerakan mahasiswa sayap kiri. Perkenalannya dengan Islam terjadi saat dia bekerja di Spanyol. Saat ini organisasi yang dipimpinnya beranggotakan 300 muslim yang 70 diantaranya hadir secara rutin di Masjidum Jbelannur.

Asociación Islámica de Bolivia- Mezquita As-salam (Shi’ah)

725 Calle Fernando Guachalla, Sopocachi District, La Paz
PO Box: 13632, La Paz, , BOLIVIA
Registry ID: Rap 168/05 (23 March 2005)

Asociación Islámica de Bolivia didirikan tahun 2006 di kota La Paz oleh kelompok muslim Pakistan yang tiba disana sekitar tiga tahun sebelumnya. Mereka mendirikan masjid kecil bernama Masjid As-Salam di kota La Paz. Meski organisasi ini beraliran shiah namun masjid mereka terbuka bagi muslim yang lain, termasuk begitu banyak muslim mualaf kelahiran Bolivia. 

Ali Tehran yang merupakan putra dari ulama Imigran Iran di Bolivia bertindak sebagai imam di masjid ini, Ali Tehran juga menjabat sebagai Imam di Masjid Bab Ul-Islam di Tacna, Peru. Tahun 2008 dia meninggalkan Bolivia untuk memimpin komunitas Islam di Uruguay.

Asociacion de la Comunidad Islamica de Bolivia Ahlul Bait - ACIB Ahlul Bait

ACIB Ahlul Bait merupakan organisasi Islam Shiah yang memiliki nama sama persis dengan organisasi Islam Suni, hanya dengan tambahan kata Ahlul Bait di belakangnya. Perkembangan Islam shiah di Bolivia terutama di ibukota pemerintahan Negara, La Paz tak lepas dari peran kuat Republik Islam Iran yang kedutaannya secara langsung memiliki keterkaitan dengan ACIB Ahlul Bait. Organisasi ini juga merupakan organisasi Islam Shiah tertua di Bolivia.

Memulai aktivitas mereka di sekitar tahun 2000 dengan nama Shi’a Islamic Community of Bolivia dibawah pimpinan Tommy Nelson Salgueiro Criales, sampai kemudian mencuat kepermukaan dengan nama ACIB Ahlul Bait di tahun 2006. ACIB Ahlul Bait dipimpin oleh Roberto Chambi Calle, seorang mualaf Bolivia beprofesi sebagai pengacara yang memutuskan masuk Islam di tahun 1996 dan berganti nama menjadi Yousef, yang kemudian juga menjalankan organisasi Shiah yang lain yakni the Bolivia Islamic Cultural Foundation (FCIB) Comunidad Shia Islamica yang juga berpusat di La Paz, the FCIB didirikan tahun 2007 dengan dukungan kuat dari pemerintah Iran.

ACIB Ahlul Bait dikenal dengan publikasi mereka termasuk mempublikasikan artikel dan buku buku Islam ke dalam bahasa Spanyol dengan percetakan mereka sendiri. Organisasi ini juga menjalin kerjasama dengan organisasi Shiah Amerika latin seperti Argentina dan Brazil. Mereka juga diketahui telah lama menjalin hubungan dengan pimpinan spiritual Shiah Buenos Aires (Argentina) Sheikh Abdul Karim Paz. Tokoh ini dikenal sebagai tokoh sentral di Masid At Tauhid di Boenos Aires.

Terdapat juga komunitas kecil Shiah di kota El Alto di bagian utara La Paz dan komunita kecil lainnya di Cochabamba dan Oruro. Namun aktivitas mereka sangat kecil dibandingkan dengan di kota La Paz atau Santa Cruz. Dalam sebuah laporan rahasia disebutkan juga bahwa terdapat komunitas kecil muslim di daerah terpencil Chapare, yang merupakan rumah bagi produksi kakao dan obat bius di Bolivia.


Baca Juga Masjid dan Islam di Negara Berdekatan


Kamis, 04 Juli 2013

Islam di Bolivia (Bagian 1)

Masjid Islamic Center di Kota Santa Cruz merupakan masjid pertama dan sampai kini masih menjadi satu satunya bangunan yang dibangun sebagai sebuah masjid seperti yang biasa kita kenal, lengkap dengan kubah dan menara serta perlengapan masjid pada umumnya.

Bolivia adalah salah satu negara di Amerika Selatan, yang memperoleh namanya dari nama pahlawan besar Amerika Latin asal Venezuela, Simon Bolivar. Wilayah Negara Bolivia terkunci ditengah benua amerika bagian selatan, tanpa ada akses menuju ke laut. Di sebelah utara hingga ke timur berbatasan dengan Brazil, di selatannya berbatasan dengan Paraguay dan Argentina sedangkan disebelah selatan berbatasan dengan Peru dan Chile. Pemerintahan bolivia berbentuk "Social Unitarian State", membuat politik negara ini berseberangan dengan haluan politik Amerika Serikat dan lebih dekat dengan negara negara yang tidak sefaham dengan negara adi daya tersebut.

Bolivia beribukota di La Paz, kota yang terkenal sebagai Ibukota negara tertinggi di dunia, disebut demikian karena kota La Paz merupakan Ibukota Negara yang berada di elevasi mencapai 3000 hingga 4100 meter dari permukaan laut, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Gunung Semeru (3.676 mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. La Paz dalam Bahasa Spanyol berarti "damai". Kota ini terletak di Pegunungan Andez dan dikelilingi beberapa gunung seperti Illimani, Huayna Potosi, Mururata, & Illampu. Karena lokasinya itu, La Paz pernah dilarang oleh FIFA untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola internasional terkait dengan tipisnya lapisan udara disana akan sangat mempengaruhi kesehatan bahkan keselamatan para pemain dari negara yang berada di dataran rendah.


Bolivia berpenduduk 10,461,053 jiwa dengan luas wilayah negaranya 1,098,581 m2. Grup etnis di negara ini terdiri dari Quechua 30%, mestizo (campuran kulit putih dan keturunan Amerindian) 30%, Aymara 25%, kulit putih 15%. Mayoritas penduduknya beragama katholik (95%), disusul oleh Protestant (Evangelical Methodist). Dan data statistik yang menunjukkan bahwa Islam di Bolivia diperkirakan ada sekitar 2000 jiwa atau setara dengan sekitar 1% dari total penduduk mereka.

Islam masuk ke Bolivia dibawa oleh imigran muslim yang masuk kesana dari berbagai negara Islam termasuk di dalamnya muslim dari Palestina, Iran, Suriah dan Lebanon. Imigran Palestina yang datang kesana di era tahun 1970-an yang kemudian mendirikan organisasi Islam pertama di Bolivia, Centro Islamico Boliviano di Santa Cruz yang berdiri tahun 1986 oleh Mahmud Amer Abusharar yang sudah memulai dakwahnya sejak pertama kali tiba disana tahun 1974.

Sejak itu bermunculan beragam organisasi Islam lainnya di beberapa kota di Bolivia. Perkembangan dakwah Islam di Bolivia mendapatkan dukungan cukup kuat dari pemerintah Kerajaan Saudi Arabia melalui organisasi Rabithah Alam Islami atau liga Muslim Dunia. Menyusul kemudian terjadinya normalisasi hubungan diplomatik Bolivia dan Iran dimasa Iran dipimpin presiden Mahmud Ahmadinejad dan Bolivia dipimpin presiden Evo Morales, ditandai dengan pembukaan kedutaan besar Iran di La Paz tahun 2008. Kedutaan Mesir di La Paz turut memainkan peran dalam dakwah Islam di Bolivia.

Islamic center Santa Cruz dan aktivitasnya

Haluan politik Bolivia yang anti Amerika dengan sendirinya menggiring negara ini untuk menjalin kerja sama yang erat dengan negara negara dengan haluan serupa termasuk dengan Republik Islam iran yang secara berkelanjutan menawarkan berbagai program pengembangan ekonomi hingga kerjasama militer diantara kedua negara. Kedutaan Besar Iran di La Paz menjadi motor penggerak dakwah Islam di Bolivia terutama dakwah Islam Shiah.

Sejak Tahun 1970-an hingga kini berbagai komunitas kecil ummat islam telah tumbuh berbagai kota di mulai dari Santa Cruz yang merupakan ibukota komersil Bolivia, lalu ke kota Sucre yang merupakan Ibukota Konstitusional negara, kota Cochabamba, Kota Oruro hingga ke jantung pemerintahan di kota La Paz. Komposisi komunitas muslimnya pun sudah berubah sejak masuknya suku asli setempat ke dalam pangkuan islam mengubah corak Islam di negara tersebut.

Pemerintah Bolivia memang menunjukkan sikap yang baik terhadap dunia Islam terbukti dengan dukungan yang kuat bagi kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel. Tercermin dengan sikap pemerintahan presiden Evo Morales yang mengusir duta besar Israel pada bulan Maret 2009, sebagai reaksi terhadap tindakan Israel di wilayah Palestina. Para pengamat politik melihat tindakan tersebut bukanlah atas pengaruh komunitas muslim Bolivia namun lebih karena kedekatan politik Bolivia dengan Iran dan Saudi Arabia. Sikap tersebut kemudian merembet kepada berbagai tuduhan yang di arahkan kepada para tokoh muslim Bolivia oleh berbagai pihak di Amerika, termasuk tuduhan tindak terorisme.

Suasana kelas kajian Islam dan bahasa Arab di Islamic Center Santa Cruz

Media di Amerika mengaitkan tuduhan tersebut kepada sikap keras pemerintah Bolivia terhadap Israel yang di duga terjadi sebagai kelanjutan dari protes besar besaran di Bolivia mengutuk kekejaman Israel di Jalur Gaza yang di motori oleh para tokoh muslim disana. Hal ini yang disebut sebut menjadi pemicu sikap keras pemerintah Bolivia terhadap Israel dan Amerika.

Berapa Besar Komunitas Muslim di Bolivia ?

Berapa banyak jumlah muslim di Bolivia memang tak ada data pasti, Institut Statistik Nasional Bolivia (INE) sendiri tidak memiliki data tersebut. Namun pada 24 Februari 2008 lalu harian El-Nueva Dia di Santa Cruz memperkirakan jumlah muslim di Bolivia ada sekitar 1000 jiwa, sebagian besar tinggal di kota La Paz dan Santa Cruz. Data dari INE tahun 2001 menunjukan bahwa dari sekitar 8 juta atau setengah dari penduduk Bolivia merupakan etnis asli kelompok Amerindian, dua kelompok terbesarnya adalah Indian dari suku Aymara dan Quechua. Dari berbagai sumber yang ada, tidak ada satu kelompok etnis pun yang menjadi target utama Islamisasi di Bolivia oleh organisasi Islam manapun.

Versi online harian La Paz, La Razon, mengutip ucapan Sheikh Mahmud Ahmer Abusharar, selaku presiden Bolivian Islamic Center di Santa Cruz pada tanggal 14 Januari 2007. Beliau menyatakan bahwa ada sekitar 500 muslim di Santa Cruz. Selain itu, terdapat juga Organisasi Islam di kota Sucre dan Cochabamba. Kanal Al-Arabiyah Saudi Arabia menyebutkan bahwa populasi muslim di kota Sucre sebagian besar merupakan imigran dari Bangladesh, Pakistan, Palestina, Suriah dan Lebanon. (www.alarabiya.net, 6 February 2006).

Masjid As-Salam di Kota La Paz, satu dari dua masjid besar di Bolivia. masjid ini berada disebuah bangunan tiga lantai yang di ubah menjadi masjid. Menariknya masjid ini dibeli oleh seorang pemuda muslim Inggris bernama Muhammad Kamal Uddin untuk muslim Bolivia, dan beliau wafat hanya beberapa hari setelah proses pembelian gedung ini selesai dilaksanakan.

Di bulan Oktober 2005 majalah Saudi Arabia, Al-Mujtamma menghimbau komunitas muslim Bolivia untuk menggalang kerjasama solidaritas dengan kalangan media, tokoh politik, organisasi perdagangan serta lembaga Hak Asasi serta organisasi buruh dalam upaya mengatasi upaya Islamphobia yang ditebarkan oleh musuh musuh Islam disana. Majalah tersebut juga menghimbau kepada kementrian agama Kuwait, Saudi Arabia, Mesir dan Universitas Al-Azhar di Kairo untuk mengirimkan guru agama dan para Da’i ke Bolivia.

Masjid Masjid di Bolivia

Meskipun komunitas muslim di Bolivia hanya sekitar 1000 hingga 2000 jiwa namun perkembangan dakwah Islam di negara ini cukup mengagumkan. Ketertarikan penduduk setempat kepada ajaran Islam membuka peluang dakwah selebar lebarnya di negara tersebut. Ada beberapa masjid di Bolivia meski tidak semuanya berbentuk bangunan masjid sebenarnya. Beberapa merupakan ruang di gedung gedung apartemen atau berupa bangunan biasa, semua masjid tersebut di kelola oleh berbagai organisasi Islam Bolivia.

Masjid Islamic Center Bolivia di Kota Santa Cruz

Masjid Islamic Center Bolivia di Santa Cruz merupakan masjid pertama di Bolivia dibangun tahun 1992 oleh Centro Islamico Boliviano (CIB). Pembangunan masjid ini bermula dari kedatangan Mahmud Amer Abusharar dari Palestina tahun 1974. Beliau yang kemudian mendirikan organisasi Islam pertama sekaligus Masjid pertama di Bolivia di kota Santa Cruz yang merupakan ibukota komersil bagi Bolivia. Sampai hari ini Masjid di kota Santa Cruz ini menjadi satu satunya masjid dalam bentuk sebenarnya seperti yang biasa kita kenal. Sebuah bangunan masjid dengan kubah besar dan menara tinggi.

Interior Masjid As-Salam La Paz

Di komplek masjid ini juga dibangun beberapa bangunan penunjang lainnya termasuk ruang kelas untuk pelajaran akidah Islam dan Bahasa Arab secara gratis bagi muslim maupun non muslim yang berminat. Kehadiran masjid ini memang terlihat aneh di tengah kota di negara berpenduduk mayoritas Katholik Roma, ditambah lagi masjid ini bebas menyuarakan azan dengan pengeras suara dari puncak menaranya dan hingga terdengar oleh seantero kota.

Masjid As-Salam dan Masjidum Jbelnnur di La Paz

Di ibukota pemerintahan Bolivia, La Paz, terdapat dua masjid yakni Masjid As-Salam dan Masjid Jabal Nur atau Masjidum Jbelannur. Masjid As-Salam merupakan masjid pertama di kota La Paz diresmikan tahun 2006 dikelola oleh Asociacion Islamica de Bolivia yang beranggotakan muslim asli setempat yang masuk Islam bersama dengan muslim keturunan Arab serta dari berbagai negara lainnya.

Masjid As-Salam ini menurut laporan islamicbulletin.org merupakan gedung yang dibeli oleh seorang pemuda muslim Inggris bernama Muhammad Kamal Uddin untuk dijadikan masjid. Disebutkan bahwa pemuda muslim Inggris ini suatu hari tiba di La Paz dan mengetahui saudara saudara disana sangat membutuhkan masjid, segera setelah dia kembali ke Inggris dia menggalang dana untuk keperluan tersebut. Dan segera setelah dia kembali ke La Paz proses pembelian gedung tersebut dilaksanakan.

Plakat penghormatan untuk (Alm) Muhammad Kamal Uddin yang telah menyumbangkan dana bagi pembelian gedung masjid ini.

Bangunan Masjid ini merupakan gedung tiga lantai termasuk di dalamnya ruang sholat yang cukup besar untuk jemaah pria dan wanita, ruang dapur, ruang kelas untuk anak anak, serta tempat tinggal untuk imam. Tujuh hari setelah membeli masjid itu, Saudara kita, muslim dari Inggris tersebut meninggal dunia, meninggalkan warisan dan kenangan yang begitu indah bagi muslim kota La Paz. Sebuah plakat kecil digantung diatas pintu masuk utama masjid As-Salam untuk mengingat mendiang pemuda muslim Inggris tersebut.

Masjid kedua di kota La Paz adalah Masjidum Jbelannur merupakan masjid kecil yang hanya berupa sebuah ruang mushola kecil, dikelola di kota La Paz yang dikelola oleh Asociacion de la Comunidad Islamica de Bolivia – ACIB. Selain itu masih ada ruang ruang masjid lainnya di beberapa kota di Bolvia termasuk Islamic Center Sucre yang dikelola oleh Asociacion Cultural Boliviana Musulmana (ACBM). Masing masing organisasi Islam ini akan di ulas dalam posting berikutnya.

Bersambung ke (Bagian 2)

Baca Juga Masjid dan Islam di Negara Berdekatan



Minggu, 30 Juni 2013

Islam di Uruguay

APAKAH INI MASJID MUSLIM URUGUAY DI MONTEVIDEO? Sebuah bangunan layaknya sebuah masjid lengkap dengan sebatang menara tinggi, beranda dengan pilar dan lengkungan, serta bentuk seperti bangunan mihrab. Tapi ternyata ini bukanlah masjid, tapi sebuah gedung musium zoologi yang sengaja dibangun mirip bangunan masjid.

Uruguay adalah salah satu Negara di benua Amerika bagian selatan atau Amerika Latin, ber-ibukota di Montevideo. Nama resmi Uruguay adalah Oriental Republik of Uruguay atau Republica Oriental del Uruguay. Berpenduduk 3.3 juta jiwa dan lebih dari separo penduduknya tinggal di ibukota Negara, kota Metropolitan Montevideo. Luas Negara Uruguay adalah 176 ribu kilometer persegi menjadikannya sebagai Negara Amerika Latin dengan ukuran terkecil setelah Suriname.

Uruguay tekenal sebagai salah satu Negara gila bola, wajar bila kemudian skuad muda garuda dengan judul SAD Indonesia pun dikirim kesana dalam rangka berguru kepada tim nasional negara penyelenggara piala dunia FIFA pertama, sekaligus menjadi juara dunia untuk pertama kali dalam sejarah penyelenggaraan piala dunia FIFA. Dan menariknya diantara 3.3 juta penduduk Uruguay ini terdapat komunitas kecil ummat Islam yang sudah eksis disana sejak lama, baik muslim pendatang maupun penduduk asli setempat.

Agama Agama di Uruguay

Merujuk kepada data Wikipedia, 88% penduduk Uruguay merupakan keturunan Eropa. Negaranya tidak menetapkan satupun agama sebagai agama negara karena ketatanegaraan mereka memisahkan agama dari Negara, namun pemerintah Uruguay memberikan jaminan kebebasan melaksanakan ibadah sesuai keyakinan masing masing.

Lalu bagaimana dengan komposisi pemeluk agama di Negara itu ?. merujuk kepada hasil survey yang diselenggarakan oleh the Instituto Nacional de Estadística (Uruguay) tahun 2008 disebutkan bahwa Agama Katholik merupakan agama yang dipeluk oleh 45.7% penduduk Uruguay, menyusul ditempat kedua justru merupakan penduduk yang menyatakan diri menganut faham Non Sectarian atau mengakui adanya Tuhan namun tidak menganut agama manapun sebesar 30.1% dari total penduduk.

Uruguay berbatasan langsung dengan Argentina dan Brazil. Bahkan satu pulau milik Argentina bernama Isla Martin Garcia berada di wilayah perairan Uruguay, tapi membentang begitu jauh dari Boenos Aires.

14% diantara penduduknya  menganut Atheist atau Agnostic. 9% menganut agama Kristen selain Katholik, termasuk komunitas Armenia yang cukup besar di kota Montevideo, disusul 0.6% penganut Animisme atau Umbandisme (Agama Afro-Barzilian) dan 0.4% menganut ajaran Yahudi. Survey ini sebagaimana dimuat di Wikipedia sama sekali tak menyebut adanya pemeluk Islam di Negara tersebut, mungkin dimasukkan ke dalam kolom lain lain yang berisikan angka 0.2%.

Data yang hampir sama juga di keluarkan oleh World Fact Book menyebutkan bahwa agama agama di Uruguay terdiri dari Katholik Roma 47.8%, atheis atau agnostic 17.2%. Nondenominasi 23.2%. Agama Kristen selain Katholik 11.1%, Yahudi 0.3%, serta lain lain 1.1%.
                
Republik Sekuler

Para pengamat politik, menyebut Uruguay sebagai Negara di benua Amerika yang paling sekuler. Hal yang tidak serta merta muncul begitu saja tapi sudah bermula dari tradisi kecil gereja sejak masa Kolonial yang melakukan gerakan untuk mengurangi kekuasaan otoritas gerejawi. Dimasa kemerdekaan gerakan anti klerikal menyebar di Uruguay sebagai pengaruh dari Prancis yang secara langsung mengurangi otoritas pihak gereja. Tahun 1837 Uruguay mengakui pernikahan sipil. Menyusul kemudian di tahun 1861 otoritas negara mengambil alih pengelolaan pemakaman umum.

Tahun 1907 negara juga melegalkan perceraian Lebih keras lagi di tahun 1909, ketika keluar larangan bagi semua atribut agama di sekolah sekolah negeri. Dan ahirnya dibawah pengaruh José Batlle y Ordóñez (1903–1911), tokoh pembaharu dari Colorado, pemisahan antara gereja dan Negara secara resmi diadopsi ke dalam konstitusi Negara di tahun 1917.

ISLAMIC CENTER URUGUAY dikelola oleh seorang pebisnis muslim dan berkantor di pabrik pengolahan daging miliknya. Dia sendiri berjanji kepada komunitas muslim setempat nantinya akan menyerahkan seutuhnya gedung tersebut sebagai Islamic Center.

Namun demikian pemerintah Uruguay memberikan pengecualian pajak bagi semua rumah ibadah. Untuk mendapatkan fasilitas tersebut kelompok pemeluk agama dapat mendaftarkan organisasi mereka sebagai organisasi nirlaba ke kementerian pendidikan & kebudayaan guna mendapatkan status sebagai organisasi keagamaan. Dan pendaftaran tersebut harus diperbaharui setiap lima tahun.

Islam di Uruguay

Hasil riset yang diselenggarakan PEW Research Center menyebutkan bahwa terdapat komunitas muslim di Uruguay meski jumlahnya hanya sekitar 1000 jiwa atau kurang dari 0.1% jumlah penduduknya didasarkan angka perkiraan di tahun 2009.  Sementara artikel Islam in Uruguay yang dimuat di wikipedia menyebut jumlah muslim di Uruguay sekitar 300 hingga 400 jiwa saja atau setara dengan 0.01% dari jumlah penduduk Negara tersebut.

Merujuk kepada laporan International Religious Freedom Report 2008 disebutkan bahwa, muslim Uruguay kebanyakan menetap di dekat perbatasan dengan Brazil. Jumlah muslim di sana diperkirakan 300-400 jiwa namun kehadiran mereka nyaris tak terlihat karena memang jumlahnya yang sangat minim.

Namun demikian aturan Negara Uruguay mengatur sedemikian rupa, sehingga khusus untuk warga muslim dapat meminta tanda pengenal khusus kepada perusahaan tempat mereka bekerja yang memungkinkan mereka istirahat lebih cepat pada hari Jum’at yang jatuh pada hari kerja, hingga mereka dapat menunaikan ibadah sholat Jum’at berjamaah bersama muslim yang lain.

Muslim di Parlemen Uruguay


Amin Niffouri
Satu fenomena yang sangat menarik di Uruguay ini adalah, meski komunitas muslim disana sangat sedikit namun berita menggembirakannya adalah telah terpilihnya seorang muslim Uruguay masuk ke dalam jajaran anggota Konres. Dia bernama Amin Niffouri yang terpilih dalam pemilihan pada bulan November tahun 2009 lalu mewakili daerah pemilihan Canelones. Dia menjadi satu satunya muslim Uruguay yang menjadi anggota Kongres. Amin Niffouri memang dari keluarga muslim terpandang disana, dia merupakan muslim keturunan Suriah. Pamannya yang bernama Niffouri Fakhri telah lama menjadi Konsulat Uruguay untuk Suriah.

Masjid di Uruguay

ISLAMIC CENTER URUGUAY. Begini bentuk asli bangunannya.
Sedikitnya jumlah muslim di Uruguay dengan sendirinya sangat sulit untuk menemukan masjid di Negara itu. Meski begitu, ada beberapa tempat yang menjadi titik berkumpul sekaligus sebagai pusat ke-Islaman disana. Yakni :

(1). Islamic center of Uruguay 

        Soriano 1356 esq ejido
        Canelones, Montevideo , URUGUAY 11100

Islamic center ini juga mengelola sebuah blog internet di uruguayislamiccenter.wordpress.com. Pusat Keislaman ini didirikan oleh seorang pebisnis muslim asal Syria bernama Ali Khalil Ahmad. Dia menjalankan bisnis ekspor daging halal ke negara negara Islam.

Negara negara tujuan expor-nya tentu saja mensyaratkan standar halal sesuai syariah dan penyedia harus memiliki Islamic center sendiri untuk menjamin kesesuaian pasokan daging dengan hukum syar’i. Maka Ali Khalil Ahmad berinisiatif mendirikan Islamic Center Uruguay dengan menggunakan kantornya sebagai pusat ke-Islaman tersebut, sekaligus menyediakan mushola kecil di dalamnya. Saat ini ada empat mualaf asli Uruguay yang secara intensif menimba ilmu dan menjadi aktivis di pusat ke-Islaman tersebut.

(2). Egyptian Cultural Islamic Center 

    Baltasar Vargas 1178, Montevideo
        Uruguay 11300, Uruguay

Egyptian Cultural Islamic Center atau Pusat Kebudayaan Islam Mesir. Dibuka secara resmi pada tanggal 25 April 2008 dan menjadi masjid pertama di Montevideo dan Uruguay. Pusat Kebudayaan ini disokong penuh oleh kedutaan besar Mesir di Uruguay. 

ISLAMIC CENTER URUGUAY ini meski hanya berupa ruang mushola kecil, tapi sangat memadai bagi jemaah nya yang baru empat orang mualaf lokal bersama pemilik gedung-nya

(3). Centro Islamico Del Uruguay 

        Roosvelt 618 - Piso 3 Dto. 7 
        Las Piedras Canelones – Uruguay

Organisasi ini juga membawahi Centro Cultural de Difusión di nomor telepon (5982) 408-7627. Lembaga ini lebih dikenal sebagai Masjid ar-rahman. Masjid ini juga menyediakan ruang khusus jemaah wanita.

(4). Fraternidad Islámica del Uruguay.atau Islamic Brotherhood of Uruguay atau Ikhwanul Muslimin Uruguay. Kelompok muslim ini menunjukkan eksistensi mereka di dunia maya dengan membuat sebuah blog di alamat islam-uruguay.blogspot.com namun tak menyebutkan lokasi mereka, kecuali nama Pembina-nya yang bernama Ustad Omar Muhammad Ali Sanawbari serta alamat email di islam.uruguay@montevideo.com.uy.

Pusat pusat ke-Islaman di atas menjadi tempat berkumpul utama bagi muslim imigran yang ada di Uruguay untuk menjaga ikatan silaturrahmi dan tentu saja sebagai tempat menimba ilmu ke-Islaman bagi para mualaf setempat. Sejauh ini belum ada berita keterkaitan muslim Indonesia atau pemerintah Indonesia dengan muslim di Uruguay.***

Baca Juga