Senin, 05 September 2016

Masjid Raya Syahabuddin Siak Sri Indrapura (bagian-2)

Masjid Raya Syahabuddin Siak Sri Indrapura dan Makam Raja Siak

Arsitektur Masjid Syahabuddin

Masjid ini merupakan perpaduan kemajemukan arsitektur Masjid Nusantara, pengaruh arsitektur Islam Mughal India terlihat pada atap kubah bawang, bukan pada balok lengkung dan bentuk kusen nya. Karakter lokalnya tampak pada kubah utama di atas ruang shalat ruang sholat dan juga kubah yang lebih kecil di atas ruang mihrab. Pada interiornya terdapat mimbar kayu berukir diperkirakan seusia dengan masjid ini. mimbar di dalam masjid ini mirip dengan kebanyakan mimbar masjid masjid di pulau Jawa.

mesjid ini bentuknya khas dan unik. Di dalamnya ada ukiran kaligrafi yang indah mengelilingi ruangan mesjid dan terdapat pula sebuah mimbar yang terbuat dari kayu berukir indah bermotifkan daun, sulur dan bunga. Di ruang utama, langit-langit berbentuk segi delapan dan ditopang delapan tiang yang mengelilingi pusat ruang. Masjid dipenuhi ornamen-ornamen bewarna hijau dan emas, Langit-langitnya tinggi dihiasi lampu gantung kristal. Di sebelah barat mesjid ini terdapat pemakaman Sultan Syarif Kasim beserta permaisuri dan istrinya yang selalu diziarahi. Komplek makam ini dibangun sebagai sebuah kolosium dengan gaya modern karena memang dibangun sejak tahun 2002.

Masjid Raya Syahabuddin Siak Sri Indrapura

Mengenal Kesultanan Siak Sri Indrapura

Kerajaan Siak Sri Indrapura didirikan pada tahun 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dengan istrinya Encik Pong, dengan pusat kerajaan berada di Buantan. Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat di situ.
 
Sebelum kerajaan Siak berdiri, daerah Siak berada dibawah kekuasaan Johor. Yang memerintah dan mengawasi daerah ini adalah raja yang ditunjuk dan di angkat oleh Sultan Johor. Namun hampir 100 tahun daerah ini tidak ada yang memerintah. Daerah ini diawasi oleh Syahbandar yang ditunjuk untuk memungut cukai hasil hutan dan hasil laut.

Pada awal tahun 1699 Sultan Kerajaan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II mangkat dibunuh Magat Sri Rama, istrinya yang bernama Encik Pong pada waktu itu sedang hamil dilarikan ke Singapura, terus ke Jambi. Dalam perjalanan itu lahirlah Raja Kecik dan kemudian dibesarkan di Kerajaan Pagaruyung Minangkabau. Sementara itu pucuk pimpinan Kerajaan Johor diduduki oleh Datuk Bendahara tun Habib yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Interior Masjid Raya Syahabuddin

Setelah Raja Kecik dewasa, pada tahun 1717 Raja Kecik berhasil merebut tahta Johor. Tetapi tahun 1722 Kerajaan Johor tersebut direbut kembali oleh Tengku Sulaiman ipar Raja Kecik yang merupakan putera Sultan Abdul Jalil Riayat Syah.

Dalam merebut Kerajaan Johor ini, Tengku Sulaiman dibantu oleh beberapa bangsawan Bugis. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan kerugian yang cukup besar pada kedua belah pihak, maka akhirnya masing-masing pihak mengundurkan diri. Pihak Johor mengundurkan diri ke Pahang, dan Raja Kecik mengundurkan diri ke Bintan dan seterusnya mendirikan negeri baru di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak). Demikianlah awal berdirinya kerajaan Siak di Buantan.

Namun, pusat Kerajaan Siak tidak menetap di Buantan. Pusat kerajaan kemudian selalu berpindah-pindah dari kota Buantan pindah ke Mempura, pindah kemudian ke Senapelan Pekanbaru dan kembali lagi ke Mempura. Semasa pemerintahan Sultan Ismail dengan Sultan Assyaidis Syarif Ismail Jalil Jalaluddin (1827-1864) pusat Kerajaan Siak dipindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan akhirnya menetap disana sampai akhirnya masa pemerintahan Sultan Siak terakhir.

Bangunan baru dengan kubah bawang di bagian depan foto adalah kubah makam Sultan Syarif Khasim II dan raja raja Siak serta kerabatnya.

Pada masa Sultan ke-11 yaitu Sultan Assayaidis Syarief Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889 - 1908, dibangunlah istana yang megah terletak di kota Siak dan istana ini diberi nama Istana Asseraiyah Hasyimiah yang dibangun pada tahun 1889. Dan oleh bangsa Eropa menyebutnya sebagai The Sun Palace From East (Istana Matahari dari Timur).

Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim ini Siak mengalami kemajuan terutama dibidang ekonomi. Dan masa itu pula beliau berkesempatan melawat ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda. Setelah wafat, beliau digantikan oleh putranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada tahun 1915 beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak ke-12 dengan gelar Assayaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terakhir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif Kasim II).

Sultan As-Sayyidi Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin II atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Dia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim.

Kuning merupakan warna kebesaran kesultanan melayu dengan sedikit sentuhan warna hijau

Riau di bawah Kesultanan Siak pada masa Sultan Syarif Kasim II

Ketika Jepang kalah, ikatan Hindia Belanda lepas, Sultan Syarif Kashim menghadapi 3 pilihan: berdiri sendiri sperti dulu, bergabung dengan Belanda, atau bergabung dg Republik Indonesia. Sultan menentukan pilihan bergabung dengan NKRI. Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, beliau pun mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak dan tak lama kemudian beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Dan sejak itu beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada tahun 1960 kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada tahun 1968.

Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri Kedua Tengku Maharatu. Pada tahun 1997 Sultan Syarif Kasim II mendapat gelar Kehormatan Kepahlawanan sebagai seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Makam Sultan Syarif Kasim II terletak ditengah Kota Siak Sri Indrapura tepatnya disamping Mesjid Sultan yaitu Mesjid Syahabuddin.

Diawal Pemerintahan Republik Indonesia, Kabupaten Siak ini merupakan Wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Barulah pada tahun 1999 berubah menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999.***

Baca Juga


Masjid Raya Syahabuddin Siak Sri Indrapura

Warisan Sultan Siak Sri Indrapura. Masjid Syahabuddin merupakan masjid kabupaten sekaligus masjid bersejarah peninggalan kesultanan Siak Sri Indrapura di kota Siak

Masjid Syahabuddin merupakan masjid tertua di kota Siak Sri Indrapura, ibukota kabupaten Siak di Provinsi Riau, masjid ini merupakan warisan dari Kesultanan Siak yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Siak ke-12, Sultan Syarif Kasim II. Sehingga masjid ini sering dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Sultan Siak. Pasa masa kejayaan kesultanan Siak Sri Indrapura Masjid ini menjadi salah satu pusat pengkajian Islam terbesar di Asia Tenggara.

Sampai kini masjid tersebut masih menjadi tempat ibadah warga kota Siak. Apa lagi masjid ini dilengkapi fasilitas pendingin udara AC yang membuat ruangan masjid bertambah sejuk. Selama bulan Ramadan pun banyak masyarakat yang menjatuhkan pilihannya untuk melaksanakan salat fardu maupun sunah di masjid ini. Selain itu, di sebelah masjid juga terdapat makam sultan.

Megah dalam balutan warna kuning khas melayu dengan sedikit sentuhan warna hijau

Selain menjadi tempat beribadah, masjid tersebut juga dijadikan lokasi wisata riligi. Berbagai tamu wisata baik lokal maupun mancanegara sering singgah barang sejenak di masjid ini. Diantara wisatawan lain, pengunjung dari negeri jiran Malaysia yang paling banyak mengunjungi masjid ini. Karena memang Kesultanan Siak pada mulanya berawal dari Kesultanan Johor di Malaysia.

Lokasi Masjid Syhabuddin Siak

Jl. Sultan Ismail Kota Siak Sri Indrapura
Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia



Masjid Syahabuddin terletak di Jl Sultan Ismail, tepat di persimpangan dengan ruas jalan Datuk Pesisir di kota Siak yang berjarak sekitar 30 meter dari bibir sungai Siak. Masjid berwarna kuning dengan polesan cat hijau dibeberapa tiang penyangganyanya ini dikelilingi rerumputan hijau yang menambah keindahan tersendiri. Ada dua bangunan megah dalam komplek masjid ini, yakni bangunan Masjid Syahabuddin dan bangunan kedua yang mirip dengan bangunan masjid modern dengan kubah bawang merupakan bangunan komplek pemakaman raja raja Siak, keluarga dan kerabatnya.

Kehadiran masjid ini tidak hanya sekedar menjadi tempat ibadah semata. Sejak dulu, Masjid Syhabuddin menjadi pusat pendidikan islam terbesar di Asia Tenggara. Pada waktu itu, Sultan mendatangkan guru-guru islam dari tanah Arab. Sejarah membuktikan, kerajaan Siak tempo dulu merupakan pusat pendidikan Islam terbesar di Asia Tenggara. Banyak negara sahabat seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand belajar pendidikan Islam di Kesultanan Siak.

Teras Masjid Syahabuddin

Asal Muasal Nama Syahabuddin

Nama masjid Syahabudin diambil dari nama suku Syahad dari keturunan Sultan Kerajaan Siak yang berasal dari Arab, mulai dari Sultan ke-2 yaitu Sultan Muhammad Ali. Sumber yang lain mengatakan bahwa Nama masjid ini diambil dari nama imam Sayyid Osman Syahabuddin. Adapula yang mengartikan nama Masjid ini sebagai perpaduan dari dua kata “syah” yang berarti penguasa dan “Addin” yang berarti agama.

Sejarah Masjid Syahabuddin

Masjid Syahabudin yang pertama terletak di Jalan Syarif Kasim dibangun tahun 1302 Hijriah bertepatan dengan tahun 1882 Miladiah, berdekatan dengan istana kesultanan. Bangunan fisiknya terbuat dari kayu, di dalamnya terdapat mimbar yang berukir dari Jepang. Kemudian masjid Syahabudin dipindahkan secara permanen pembangunannya ke Jalan Sultan Ismail di tepi Sungai Siak, berjarak lebih kurang 300 M dari istana As Seraya Hasniliyah Siak.

Masjid Syahabuddin dari jalan Sultan Syarif Khasim

Masjid Syahabudin didirikan oleh Sultan yang ke-12 bernama Sultan Assayyidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaefudin (Sultan Syarif Qasim II), dimulai pada tahun 1927 dan selesai dibangun pada tahun 1935. Dana pembangunan masjid tersebut berasal dari dana kerajaan dan partisipasi masyarakat Siak. Dalam pelaksanaan pembangunan masjid, untuk menimbun tanah khususnya pondasi masjid dilakukan secara gotong-royong oleh kaum ibu pada malam hari, mengingat masa itu masih berlaku Adat Pingitan bagi kaum wanita (pada masa Pemerintahan Sultan Syarif Qasim II).

Untuk menjadi imam pada masa itu persyaratannya telah lulus tes oleh Qodi Siak di zaman Sultan pada masa itu. Kepengurusan Masjid Syahabudin dikoordinir oleh Sultan Siak, karena itu yang menjadi imam dan khatib digaji oleh Sultan Siak. Diantara mereka adalah: H. Abdul Wahid, Tuan Lebay Abdul Muthalib, dan Imam Suhel.

Kemudian pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, seluruh aset kerajaan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, sehingga masjid tersebut dijadikan masjid kecamatan. Dengan adanya pemekaran wilayah di Provinsi Riau, Siak menjadi kabupaten, maka masjid itupun naik status menjadi masjid kabupaten. Dengan demikian, selain bersatus sebagai masjid kabupaten, masjid ini juga menjadi masjid bersejarah. (Bersambung ke bagian 2).

Baca Juga


Minggu, 04 September 2016

Masjid Jamiatul Khair Kraton Amantubillah – Mempawah

Kokoh di tepi Sungai Mempawah. Dibangun di masa kekuasaan kesultanan Mempawah, Masjid Jamiatul Khair masih kokoh berdiri hingga hari ini menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Mempawah.

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tua di Kalimantan Barat, masjid Jamiatul Khoir merupakan masjid kerajaan dari Kesultanan Mempawah di Kabupaten Pontianak provinsi Kalimantan Barat. Pertama kali dibangun pada tahun 1906 oleh Panebahan Mempawah Mohammad Atufik Akamaddin. Lokasi Masjid Jamiatul Khair tak jauh dari Keraton Amantubillah kesultanan Mempawah. Bersama dengan Keraton Amantubillah, Masjid Jamiatul Khair menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Mempawah.

Lokasi Masjid Jamiatul Khair

Masjid Jamiatul Khair berdiri di tepian sungai Mempawah. Ditempatkan di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid, karena pada saat itu sungai dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya dan lainnya. Lokasi masjid ini juga tidak jauh dari Istana Amantubillah yang merupakan Istana Kerajaan Mempawah.

Masjid Jamiatul Khair
Kampung Pedalaman Kecamatan Mempawah Timur
Kabupaten Mempawah, Propinsi Kalimantan Barat
Indonesia


Tentang Mempawah

Kabupaten Mempawah merupakan salah satu kabupaten di propinsi Kalimantan Barat dengan julukan Bumi Galahherang. Sampai tahun 2014 kabupaten ini masih bernama Kabupaten Pontianak, kemudian diganti dengan nama Kabupaten Mempawah untuk membedakannya dengan Kota Pontianak, dan dari sisi sejarah, Nama mempawah merupakan kerajaan yang pernah berkuasa di daerah ini. Perubahan nama tersebut juga seiring dengan pemekaran kabupaten tersebut dengan disyahkannya Kabupaten Landak dan menyusul kemudian Kabupaten Kubu Raya sebagai Daerah Otonom Baru.

Kabupaten Mempawah memiliki luas 254,40 km, dengan ibukota pemerintahannya berada di kota Kecamatan Mempawah. Kota ini terletak di jalur perdagangan antara Pontianak, Singkawang dan Sambas. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Bengkayang di sebelah Utara, Kabupaten Ketapang di bagian Selatan dan Laut Natuna di bagian Barat dan dengan Kabupaten Landak di bagian Timur.

Masjid Jamiatul Khair tampak depan

Di Mempawah pernah berdiri kerajaan pada abad 17 dan rajanya yang terkenal adalah Opu Daeng Menambon. Peninggalan sejarah kerajaan Mempawah masih dapat kita saksikan sampai saat ini. Makam Opu Daeng Menambon terletak sekitar 5 km dari Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir. Beliau adalah raja Mempawah yang pertama dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara yang wafat pada 26 Syafar 1175 Hijriah. Letak makamnya di atas bukit dan untuk menuju ke atas dengan melewati anak tangga yang ada. Makam ini sering dikunjungi masyarakat setempat pada hari Kamis dan Minggu.

Sejarah Masjid Jami'atul Khair

Masjid Jami'atul Khair berdiri tanggal 25 Desember 1906 oleh Panembahan Menpawah Mohammad Atufik Akamaddin. Masjid ini terletak tak jauh dari Keraton Amantubillah di tepian Sungai Mempawah. Masjid Jamiatul Khair sudah tiga kali mengalami perpindahan tempat. Yakni di Kampung Brunai, Kampung Siantan dan Kampung Pedalaman yang terletak di pinggir Sungai Mempawah. Masjid yang sekarang ini merupakan bangunan yang kedua, karena masjid pertama pernah terbakar

Ditempatkan di pinggir sungai supaya memudahkan masyarakat menuju masjid. Karena pada saat itu sungai dijadikan jalur transportasi utama untuk aktivitas masyarakat. Belum ada pembangunan jalan raya dan lainnya. Sejak dulu hingga saat ini tidak terlalu banyak perubahan fisik bangunan masjid. Bahkan dulunya, masjid memiliki pekarangan yang cukup luas dan sekelilingnya ditumbuhi pepohonan. Tetapi sekarang tanahnya sudah dikavling dan berikan kepada kerabat keraton untuk membangun rumah.

Interior Masjid Jamiatul Khair

Tempatnya yang berada tidak jauh dari Istana Amantubillah Mempawah. Setiap pengujung yang datang ke Istana Amantubillah Mempawah, pasti menyempatkan berkunjung dan beribadah di masjid  tersebut. Serta menikmati pemandangan indah Sungai Mempawah. Keraton Amantubillah didirikan oleh Raja Adidaya pada tahun 1961 dan beliau rnerupakan raja pertama dari Kerajaan Mempawah. Salah satu peninggalannya adalah Keraton Amantubillah yang terletak di kelurahan pedalaman, Kecamatan Mempawah Hilir. Keraton ini dibangun kembali oleh Panembahan Mohd. Atufik Akamaddin pada 1922 karena bangunan lama habis terbakar. Keunikan dalam keraton ini adalah terdapatnya Sigondah yang memiliki banyak cerita keanehannya.

Masih berkaitan dengan Kerajaan Mempawah, Syayid Al Habib Husein Al Qadry bergelar Tuanku Besar di kerajaan itu. Beliau wafat Rabu, 3 Djulhijjah 1184 Hijriah dan dimakamkan di Desa Sejeki, Kecamatan Mempawah Hilir. Pada masa Kerajaan Mempawah beliau adalah seorang tokoh dalam menyebarkan agama Islam di bumi Galahherang ini. Beliau juga tabib istana yang memiliki kesaktian mandraguna sehingga banyak dibutuhkan masyarakat. Hingga kini makamnya banyak dikunjungi masyarakat terutama pada hari besar Islam dan hari libur.

Arsitektural Masjid Jami'atul Khair

Masjid Jamiatul Khair merupakan salah satu masjid tertua di Mempawah. Masjid tersebut selalu ramai dipenuhi jemaah baik untuk salat Jumat, Idulfitri maupun Iduladha. Masjid tersebut memiliki panjang kurang lebih 40 meter dan lebar 30 meter. Fondasi bangunan masjid menggunakan tongkat dari jenis belian. Dulunya bagian bawah atau kolong masjid belum diberi dinding. Sekarang sudah disemen agar kolong tak terlihat. Sedangkan bagian lantai masjid masih menggunakan papan belian. Secara keseluruhan, masjid mampu menampung kurang lebih 800 orang jemaah.

Masjid Jamiatul Khair dari jembatan gantung sungai Mempawah

Meski seiring berjalannya waktu, sudah banyak bagian masjid dilakukan perbaikan. Seperti atap masjid yang dulunya menggunakan atap sirap dari belian, kini telah menggunakan atap seng, tapi bentuk aslinya masih tetap dipertahankan. Bangunan masjid memiliki dua kubah, dengan atap paling atas berbentuk limas. Dimana di atas kubah terdapat tempayan kendi, yang masih dipertahankan. Bangunan masjid yang berwarna hijau tersebut, di setiap dinding memiliki satu pintu dan empat jendela yang berfungsi mengatur sirkulasi udara.

Demikian pula pada bagian ruangan lainnya yang tetap dipertahankan untuk menjaga keasliannya. Misalnya tiang atau pilar bangunan berjumlah empat buah termasuk motif dan bentuk daun pintu serta jendela masjid. Dinding bangunan juga masih menggunakan papan belian. Sedangkan atap masjid juga masih dipertahankan menggunakan atap sirap. Namun, bagian luarnya dilapisi dengan atap seng. Juga ditambahkan dek pada bagian tengah masjid. Agar, pantulan panas matahari tidak masuk ke dalam ruangan.

Dinding dan lantai, serta empat pilar di dalam masjid masih asli. Hanya atap dan tiang bawah masjid sudah dilakukan perbaikan. Dipertahankan tempayan kendi di atas kubah masjid karena ada amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin, yang meminta tempayan kendi di atas kubah tetap dipertahankan. Bentuk bangunan juga tidak pernah di ubah sesuai dengan amanah dari Panembahan Mohammad Taufik Akamadin.***

Sabtu, 20 Agustus 2016

Masjid Jamik Hopong Benang Merah Masuknya Islam ke Tapanuli Utara

Masjid Jami' Kampung Hopong 

Masjid Jami’ Hopong dibangun sekitar tahun 1816 oleh Laskar Paderi dari Sumatera Barat, memiliki benang merah dengan sejarah masuk–nya Islam ke Tapanuli dan Sumatera Utara. Semula terbuat dari bangunan tepas bambu beratap ilalang. Beberapa tahun kemudian diperluas oleh Tuanku Rao. Dalam perjalanan berikutnya, Masjid tersebut dibangun kembali dengan bentuk rumah panggung dari kayu. Kemudian sekitar tahun 1950, diganti atapnya menjadi seng.

Karena itu banyak pendapat mengatakan, Masjid Hopong memiliki benang merah terhadap masuknya Islam ke Tapanuli Utara. Namun perkembangan Islam di daerah itu tidak lancar, terutama seteah masuknya pengaruh Kristen yang dikembangkan Missionaris  Jerman Pendeta Nommensen dari arah kawasan Toba. Begitupun, di desa itu pernah  bermukim tokoh tasawuf yang punya berpengaruh seperti Lobe Pohom Pospos, Lobe Zakaria Sigian dan lainnya.

Lokasi Masjid Jami’ Hopong

Masjid Jamik Hopong
Dusun Hopong, Desa Dolok Sanggul
Kecamatan Simangumban
Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.
Koordinat Geografi : 1°44'13.12"N 99°13'41.18"E

 

Dusun Hopong adalah satu dari lima dusun dalam wilayah Desa Dolok Sanggul bersama dengan dusun Hopong, Panongkaan, Hapundung, Pansinaran, Lumban Garaga. Masuk dalam wilayah kecamatan Simangumban. Kecamatan seluas 150 km persegi dan merupakan satu dari 15 kecamatan di dalam wilayah kabupaten Tapanuli Utara, provinsi Sumatera Utara. Dusun ini dikenal sebagai dusun terpencil, tertinggal dan termiskin di wilayah propinsi Sumatera Utara. Lokasinya jauh dari keramaian kota, 40 kepala keluarga warga dusun ini yang semuanya beragama Islam, tak terjangkau kendaraan bermotor, belum ada penerangan listrik PLN, tak terjangkau siaran TVRI, tak terjangkau sarana telekomunikasi telepon maupun sinyal telepon genggam.

Dusun Hopong hanya dapat dicapai dengan bejalan kaki tidak kurang 24 KM dari jalan beraspal. Dapat ditempuh melalu jalur pekan Simangumban. Atau dari desa Padang Mandailing, kecamatan Saipar Dolok Hole melalui hutan belantara. Satu satunya kendaraan yang dapat sampai disana adalah kendaraan Jip gardan ganda itupun hanya pada musim kemarau dengan resiko kecelakaan yang sangat tinggi karena medan yang terlalu sulit untuk di lalui kendaran.

Jalan yang dibuka  Pemkab Taput dengan pasir dan batu (Sirtu) sepanjang 8 KM, warga setempat melilih jalan kaki menuju dusun tersebut melewati dusun Lumban Garaga, Pansinaran, Panongkalan, dengan menelusuri celah-celah bukit barisan yang terjal dengan panorama alam yang asri, hutan perawan yang hijau dan hamparan lahan tidur yang luas.

Rehabilitasi Masjid Jami’ Hopong

Idul fitri 1413 H Masjid Jami’ Hopong sudah tampak Marhilong (mengkilap) begitu muslim setempat menyebutnya. Masjid tua ini sudah di rehabilitasi, lantainya sudah dikeramik, beratap seng, bertikar karpet, berlampu listrik tenaga surya dengan pengeras suara (TOA) yang dapat mengumandangkan azan radius  5 KM. Setelah direhap, tak ada lagi suara “Rukrek” saat  orang masuk Masjid karena strukturnya yang sudah reot.

Sajadah kumal yang terbuat dari tikar pandan sudah berganti dengan karpet, Mimbar yang kumuh dimakan rayap  sudah terbuat dari papan yang sudah dihaluskan. Atap yang sering bocor jika turun hujan sudah diganti seng baru berwarna putih. Tidak lagi  seperti rumah panggung yang menunggu rubuh. Kegiatan mengaji atau membaca Al-Qur’an dikalangan anak-anak, sudah dapat dilaksanakan malam hari berkat penerangan lampu listrik tenaga surya.

Bahkan air wudhu yang daholoe sering “mellep” (tak jalan), kini sudah lancar. Pancuran dekat masjid itu, kini juga sudah menjadi tempat mandi yang mengasikkan dengan air yang jernih dan deras. Warga dusun Hopong pun sudah dapat menggunakan pancuran itu sebagai tempat MCK utama. Malam takbiran disana pun, sudah semarak.

Citra satelit Dusun Hopong 2023.

Perubahan masjid Jamik Hopong dari yang reot menjadi “marhillong” tidak terjadi begitu saja. Ini perjuangan panjang ummat islam dan perantau desa itu.  Ummat islam disana, sudah bertahun-tahun mendambakan  pembangunan masjid itu, betapa sulitnya menggalang dana untuk membuat Masjid Jamik Hopong seperti kondisi saat ini. Maklum, walau 100 persen penduduknya beraga Islam, tapi hanya petani tradisional yang miskin. Perantau desa itu pun belum ada yang berhasil.

Adalah Mayjen Simanungkalit yang merupakan salah satu pribumi setempat yang hidup diperantauan di tahun tahun 2009 bincang-bincang dengan Sigit Praono Asri SE, (kala itu) Ketua Fraksi PKS DPRD Sumut. Atas advokasi beliaulah, Masjid Jamik Hopong mendapat alokasi bantuan dari Biro Sosial dan kemasyarakatan Pemprovsu sebesar Rp 50 juta tahun anggaran 2010.

Sajadah dari karpet di masjid ini merupakan bantuan pribadi Arifin Nainggolan SH,MSi, yang saat itu juga anggota Fraksi PKS DPRD Sumut dan kini Ketua Komisi C DPRD Sumut. Dialah yang membeli dua gulungan karpet dan mengirimkan sendiri sampai ke Hopong. Sedangkan pasilitas sambungan air minum sepanjang 4 KM lebih yang kini sudah lancar hingga mampu melayani dusun Hopong dan tiga dusun di sekitarnya, berkat advokasi Daudsyah MM yang saat itu Kepala Biro Pemberdayaan Masyarakat Pemprovsu melalui program PNPM Mandiri yang merupakan program pemerintah melalui Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), guna mengatasi permasalahan pembangunan di tengah-tengah masyarakat.

Dengan direhapnya Masjid Jamik Hopong, warga sangat bersyukur. Walau hanya rehap sederhana, masih berdinding papan, ummat Islam disana sudah berterima kasih. Dalam ukuran desa itu, Masjid Jamik Hopong saat ini sudah merupakan nikmat luar biasa. Mereka merasa masih berkesempatan menikmati pembangunan walau setelah 65 tahun Indonesia merdeka. Mereka berharap, jika pemerintah berkenan, bantuan rehap untuk Masjid Jamik Hopong kiranya dilanjutkan. Karena masjid itu belum memiliki kamar dan bak wudhu, dan bagian teras belum di kramik. Warga Hopong juga masih berharap kiranya jalan ke desa dibangun pemerintah, sehingga dapat dilalui kenderaan roda empat dengan mulus. (disadur dari Catatan Mudik Mayjen Simanungkalit di batakislam.blogspot.com).***


Kamis, 18 Agustus 2016

Masjid Lawang Kidul (MLK) Palembang (Bagian 3)

Pelataran depan Masjid Lawang Kidul dengan prasasti wakaf di bagian depan mihrab nya

Wakaf Kyai Marogan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, l
ahan seluas 2104 meter persegi tempat masjid Lawang Kidul ini bediri beserta bangunan masjid dan seisinya merupakan wakaf dari Kiai Merogan yang aslinya di Ikrarkan di depan Paduka Pangiran Penghulu Fatih Agama Muhammad ‘Aqil disaksikan empat penghulu lainnya, pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310H. Kemudian dijelaskan lagi didalam akta pengganti ikrar wakaf nomor W.3/001/BA.03.2/05/1990 tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M.

Pengesahan Nadzir Nomor W.5/001/BA032/05/1990 Tanggal 4 Jumadil Awal 1411H / 22 Nopember 1990M. Sertifikat Nomor 953/1993 tanggal 10 Maret 1993. Tanggal 6 Syawal 1310H atau bertepatan dengan tahun 1890M yang merupakan tanggal dari pernyataan wakaf dari Kyai Merogan yang kini dijadikan rujukan sebagai tahun pembangunan masjid ini.

Prasasti Salinan Akta wakaf Kiai Marogan

Salinan Akta Wakaf

Berikut ini adalah salinan akta wakaf yang sudah kami alih aksara. Ada beberapa bagian kata dan kalimat bewarna merah adalah bagian yang kami belum fahami atau bahkan bisa jadi kami salah dalam membacanya, termasuk beberapa perlengkapan atau perabot di dalam masjid yang disebutkan dalam akta yang bertanggal 6 Syawal 1310H/1890 M.

Cap Penghulu
Tandatangan
Penghulu Muhammad ‘Aqil

Surat Tanda Munjaz Wakaf Lillahita’ala Nomor Empat Belas

Kepada hari Ahad tanggal enam Syawal Seribu Tiga Ratus Sepuluh, betul berhadap di muka Roada Agama Paduka Pangiran Penghulu Fatih agama Muhammad ‘Aqil serta empat khotib Penghulu yang berteken di bawah ini yaitu Kiagus Haji Ma’ruf Haji Akhmad Haji Abdul Rokhman Kiagus Haji Abdul Karim – Alih seseorang laki laki nama Masagus Haji Abbdul Hamid Bin Masagus Mahmud Alias Kanang, umur delapan puluh tahun lebih kurang.

Orang ‘alim mengajar di Palimbang, Jiwa di Kampung empat ulu – karena dia orang akan membuwat surat keterangan nazar Munjiz wakaf lillahita’ala – maka Roada agama periksa (menerima) kepadanya yang diya orang di dalam Sihat badan nya dan simpurnah Aqalnya lagi ja’zal tashrif min ghoir ‘akroha wal ajbar – kemudian maka terikrarlah uleh Masagus Haji Abdul Hamid Al-Mazkur

“dari aku ada punya milik yaitu duwa masjid di negeri Palimbang, Satu masjid di Kampung karang Baru marogan, dan lagi satu masjid di kampung lima ilir Lawang Kidul sarat pekakas pekakas yang ada di dalam itu masjid yang tersebut seperti Setulub setulub dan lampu lampu dan kandil kandil dan satrun satrun dan Gerubuk gerubuk semuanya pada yang ada di dalam itu duwa masjid yang tersebut pada masa sekarang”.

“Juga aku nazarkan dengan nazar manjiz aku ‘abdikan waqaf lillahita’ala selama lamanya. Di tempat orang orang berbuat ibadah dan sembahyang. Tidak harus lagi ahli waris yang kubuwat juwal atau gadaikan atau bahagi waris aku tidak rhido duniya akhirat. Sehadangan catang sarot Aku Masagus Haji Abdul Hamid Al-Muzakir berteken dibawah ini dihadapan roada agama yang tersebut demikianlah adanya”.

Khotib Penghulu, tanga tangan, Ki Agus Haji Ma’ruf
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Akhmad
(Haji Masagus Abdul Hamid)
Khotib Penghulu, tanda tangan, Haji Andul Rohman
Khotib Penghulu, tanda tangan, Ki Agus Abdul Karim

Kiri depan adalah adalah prasasti salinan akta wakaf dari Kiai Marogan

Sejarah Pembangunan Masjid Lawang Kidul (MLK)

Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang pada tahun 1310 H (1890 M), angka tahun pembangunan ini merujuk kepada tanggal di akta wakaf dari Kyai Merogan di depan Penghulu Muhammad ‘Aqil pada hari Ahad tanggal 6 Syawal 1310 Hijriah, yang bertepatan dengan tahun 1890 Miladiah (masehi).

Beliau lebih dikenal sebagai Kiai Merogan, merujuk kepada tempat tinggal dan pusat aktifitas da’wah beliau yang berada di muara sungai Ogan di Kawasan Seberang Ulu, tak jauh dari stasiun Kereta Api Kertapati. Sungai Ogan merupakan salah satu dari sekian banyak anak Sungai Musi.

Plakat Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul

Sejak dibangun tahun 1890 masjid Lawang Kidul telah dilakukan pemugaran tahun 1983-1987. Meskipun sebagian besar materialnya asli, ada beberapa bagian yang terpaksa diganti, terutama bagian atapnya yang semula genteng belah bamboo, kemudian diganti dengan genteng kodok. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Material bangunan asli bangunan masjid ini terdiri atas campuran kapur, telur, dan pasir. Sedangkan bahan kayunya –tiang, pintu, atap, dan bagian penunjang lainnya- terbuat dar kayu Ulin atau dalam bahasa Palembang disebut Kayu Onglen.

Sebagaimana disebutkan di plakat yang dipasang di beberapa bagian masjid ini, Renovasi bangunan tambahan Masjid Lawang Kidul dilasanakan mulai tanggal 7 Januari 2008 dan selesai pada tanggal 20 Juni 2012 dengan dana sebesar lebih kurang Rp. 1 (satu) Milyar Rupiah dari sodaqoh jariyah muslim dan muslimat.

Ornamen atap mihrab dan dan puncak atap masjid Lawang Kidul dengan bentuk yang unik

Siapakah Kiai Merogan

Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan dilahirkan tahun 1811 dan wafat pada tanggal 31 Oktober 1901. Ayahnya adalah seorang ulama dan pedagang sukses. Beliau cukup lama menetap di Mekkah, kemudian pulang ke kampung halaman – bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berda’wah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan.

Selama tinggal di Mekah beliau sempat membangun Tiga pemondokan jemaah haji bagi para jemaah dari Nusantara dan sekitarnya. Di tanah air beliau, selain Masjid Lawang Kidul dan Masjid Kiai Merogan di Palembang, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (Ogan Ilir). Sayang, kebakaran hebat pernah menghaguskan Kampung Karangberahi pada antara tahun 1964-1965. Kebakaran ini juga, diduga menghanguskan peninggalan berupa karya tulis Kiai Merogan. Makam beliau berada di areal Masjid Kiai Merogan, di kawasan Seberang Ulu, Kota Palembang dan hingga kini makam beliau terawat baik dan senantiasa ramai peziarah. 

Kiai Marogan diketahui juga mempunyai seorang Adik Laki Laki bernama KH. Masagus Abdul Aziz lebih dikenal dengan sebutan Kiai Mudo karena usianya yang lebih muda dari Kiai Marogan. Bila Masagus Abdul Hamid lebih dikenal sebagai Kiai Marogan karena pusat aktivitasnya yang berada di Muara Sungai Ogan, adik beliau, KH Masagus Abdul Aziz lebih dikenal luas di daerah Belida yang membentang di sepanjang aliran Sungai Belida seperti Gelumbang, Gumai, Kartamulia, Betung, Sukarame, Lembak dan sekitarnya. Baik Sungai Belida maupun Sungai Ogan merupakan anak sungai Musi yang sama sama bermuara ke sungai Musi. (selesai)

---------------------------

Artikel Terkait