Jumat, 07 Juli 2017

Masjid Madni Bradford Inggris dengan Menara Terindah di Eropa

Masjid Madni di Kota Bradfor, Inggris, terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa pada tahun 2010 yang lalu.

Masjid Madni atau Madni Jamia Masjid atau Madni Mosque adalah salah satu masjid di kota Bradford, Inggris. Lokasi masjid ini berada di jantung komunitas muslim Bradford. Masjid Inggris satu ini dikenal dengan pendekatannya yang unik. Suasana masjid yang penuh kehangatan kepada para pengunjung, dan selalu ada salah satu jemaah atau pengurus yang siap membantu pengunjung ataupun tamu yang datang kesana.

Masjid Madni di kota Bradford ini memang memiliki catatan tersendiri dengan prestasi yang dicapainya di Inggris. Di tahun 2007, masjid Madni terpilih sebagai Model masjid terbaik untuk sistem kerja komunitas masjidnya, menyisihkan lebih dari 1000 masjid yang ada di Inggris Raya. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Islam Channel.

Madni Mosque (Islamic Cultural & Educational Association)
101 Thornbury Rd, Bradford BD3 8SA, Inggris Raya



Menara Terindah di Eropa tahun 2010

Selain prestasi sebagai model terbaik untuk kerja komunitas muslimnya, Masjid Madni Bradford ini, di tahun 2010 terpilih sebagai masjid dengan menara terindah di Eropa, mengalahkan 50 masjid pesaing untuk memenangkan gelar "menara Eropa yang paling indah" yang digelar oleh parlemen Eropa.

Empat menara yang terdapat di beberapa masjid telah memenangkan hadiah, termasuk menara masjid di Stockholm, Roma, Oslo dan Granada di Spanyol, kata penyelenggara acara yang diorganisir oleh COJEP internasional, lembaga amal pemuda yang dibentuk oleh para imigran Turki di Perancis, yang juga merupakan mitra OSCE dan Dewan Eropa.

Para juri kompetisi tersebut terdiri dari sebuah "multi konfesional, multi etnis, bahkan jurinya termasuk seorang rabbi Yahudi, seorang teolog Protestan Swiss dan seorang pendeta Anglikan, mereka mengamati ke 53 menara masjid di 13 negara sebelum melakukan pilihan menara masjid mana yang terbaik.

Salah satu dari empat menara Masjid Madni Bradford

Hanya masjid yang berusia di bawah usia 50 tahun yang memenuhi syarat untuk mengikuti kontes tersebut, dan bukan masjid bersejarah, itu sebabnya panitia tidak mengikutsertakan masjid masjid bersejarah di Andalusía, Bosnia atau Paris karena kompetisi tersebut memang berkaitan dengan imigrasi umat Islam ke Eropa dalam kurun kurang dari 50 tahun terahir.

Juri membuat keputusan mereka tidak semata mata atas dasar pertimbangan estetika tetapi juga bagaimana cara menara masjid itu berfungsi yang dibangun di dalam lingkungan perkotaan. dan yang paling menarik adalah bahwa Ide dari kompetisi ini adalah untuk menunjukkan bahwa menara masjid tidak boleh menjadi alasan untuk dicurigai dan ditakuti, sebagaimana disampaikan oleh panitia perhelatan tersebut..

Tentang Masjid Madni

Masjid Madni dibangun tahun 2008 oleh dan untuk komunitas muslim disana yang cukup besar. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, pintu utamanya ditempatkan di lantai dasar dan dilengkapi dengan área resepsionis. Ruang sholat utama berada di lantai dasar masjid yang menjadi tempat penyelenggaraan sholat berjamaah setiap hari.

Kubah dan menara Masjid Madni Bradford.

Selain ruang sholat, masjid Madni juga dilengkapi dengan ruan kelas yang digunakan untuk ruang belajar mengajar (madrasah) termasuk kelas untuk dewasa, terdapat juga perpustakaan di lantai dasar ini yang juga diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Lantai bawah masjid digunakan untuk aktivitas bagi remaja dan anak anak serta aktivitas lainnya yang membutuhkan ruangan yang cukup besar. ruangan ini juga digunakan untuk aktivitas belajar memanah. di lantai dua ini juga terdapat ruang sholat, ruang kelas dan ruangan khusus untuk penyelenggaraan jenazah.

Sementara lantai atas masjid ini digunakan untuk menampung jemaah sholat jum’at yang tak tertampung di ruang sholat utama di lantai dasar masjid, termasuk untuk penyelenggaraan berbagai acara acara peringatan hari hari besar Islam.***

Minggu, 02 Juli 2017

Masjid Besar Ainul Yaqin Sunan Giri, Gresik

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri dulunya berada di atas bukit Kedaton lalu dipindahkan ke Bukit Giri

Masjid Besar Ainul Yakin Sunan Giri atau biasa disebut Masjid Sunan Giri, terletak di komplek makam Sunan Giri di Bukit Giri, Kelurahan Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik provinsi Jawa Timur. posisinya hanya beberapa langkah disebelah makam Sunan Giri melewati jalan kecil disamping sejejeran makam makam tua. Untuk sampai ke masjid ini pengunjung akan melewati sebuah lorong yang dikiri kanannya dipenuhi kios kios pedagang menjajakan perlengkapan ibadah, cindera mata, dan barang-barang lainnya.

Kios-kios yang dikelola oleh Paguyuban Pedagang Lorong Masjid Sunan Giri. Semakin siang, semakin ramai peziarah yang berkunjung ke makam dan Masjid Sunan Giri ini, dan lorong ini pun bisa disesaki oleh para peziarah yang berlalu lalang. Makam Sunan Giri telah menjadi salah satu objek wisata rohani yang menarik para wisatawan dari berbagai pelosok tanah air.

Masjid Sunan Giri
Bukit Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur 61124
GPS: -7.1691319, 112.6316857.



Butuh sedikit perjuangan untuk mencapai masjid ini. Dari area parkir kendaraan harus menapaki jalan mendaki sejauh kurang lebih satu kilo meter. Cukup melelahkan, bagi mereka yang tidak kuat jalan kaki, tersedia andong (delman) maupun ojek. Memasuki lokasi ada sekitar enam blok pemakaman yang terletak di kiri dan kanan pintu gerbang, juga di sisi tangga menuju masjid.

Sedangkan, makam utama tempat Sunan Giri dimakamkan terletak di areal sebelah kiri masjid. Ada sekitar 300 makam di sekitar kompleks Sunan Giri itu. Bentuk nisannya nyaris sama dan tanpa nama. Terbuat dari batu andesit, yang banyak digunakan pula untuk membuat candi atau arca di zaman kejayaan Hindu dan Budha.

Sejarah Masjid Sunan Giri

Kehadiran masjid ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran agama Islam di daerah Gresik, terutama yang dilakukan oleh Raden Paku Ainul Yaqin, salah seorang dari Wali Songo yang bergelar Sunan Giri. Masjid Sunan Giri didirikan pada 1544 atas prakarsa Nyi Ageng Kabunan (cucu Sunan Giri), lantaran setelah Sunan Giri meninggal pada 1506 banyak para peziarah berdatangan ke Makam Sunan Giri, dan para pengikutnya pun berpindah tempat dan tinggal di sekitar Bukit Giri, agar lebih dekat ke makam Sang Sunan.

Masjid Sunan giri jelang waktu magrib

Masjid tersebut sebenarnya adalah bangunan masjid dari komplek pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton yang dibangun tahun 1399 saka, pada saat itu pesantren Sunan Giri di Bukit Kedaton mengalami perkembangan pesat, sehingga kemudian dibangunlah sebuah musolla untuk shalat jamaah serta untuk kegiatan-kegiatan peantren. Tahun 1407 Saka/1481 Miladiyah dipugar dengan memperluas bangunan dan masjid itu dinamakan masjid Jamik.

Pada saat itu Sunan Giri diangkat sebagai penasihat oleh Raden Patah selaku Sultan Demak pertama, sekaligus sebagai ketua dari para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya relatif kecil namun cukup indah dan artistik penuh ukiran dan kaligrafi huruf arab serta ayat suci Al-Qur’an. Atap masjid terbuat dari sirip kayu, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir sampai sekarang tetap dalam keadaan utuh di atas bukit Kedaton.

Setelah 10 tahun sunan Giri wafat, perhatian masyarakat beralih pada makam Sunan Giri, di Bukit Giri, maka terjadilah perpindahan penduduk, mereka banyak bertempat tinggal di Bukit Giri. Melihat hal itu maka tergeraklah hati Nyi Ageng Kabunan (cucu ketiga Sunan Giri yang menjanda) untuk memindahkan masjid dari Bukit Kedaton Kebukit Giri dekat makam Sunan Giri.

Mihrab Masjid Sunan Giri

Pemindahan dilakukan pada tahun 1544 Masehi.  Dalam waktu yang relatif singkat masjid berdiri dengan ukuran 150 m2. Masjid tersebut kemudian berganti nama menjadi Masjid Sunan Giri Ainul Yakin. Berdirinya masjid ini direkam dalam ukiran ber-aksara arab ditempatkan di atas pintu utama masjid. Tulisan tersebut berbunyi “Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M”. Tulisan tersebut dibuat oleh Haji Ya’kub Rekso Astono tahun 1856 M,

Masjid ini sendiri sampai sekarang telah mengalami beberapa kali renovasi. Renovasi pertama dilaksanakan pada tahun 1857 ketika masjid ini berusia sekitar 313 tahun dan kondisi bangunan masjid dari kayu itu yang semakin lapuk. di tahun yang sama juga didirikan masjid wedok (masjid khusus kaum wanita) dan konon juga bekas masjid dari Sunan Prapen cucu dari Sunan Giri.

Tahun 1789 M diadakan perluasan oleh H. Ya’kub Rekso Astono, terkait hal tersebut, sda pendapat yang mengatakan bahwa bangunan masjid inti yang terlihat saat ini justru hasil karya H. Ya’kub ini, sedang masjid asli yang dipindahkan oleh Nyi Ageng Kabunan dari dari Giri Kedaton ke tempat ini adalah bangunan yang kini menjadi masjid wedok.

Atap limas bersusun tiga di masjid Sunan Giri 

Perbaikan selanjutnya terjadi di era Indonesia merdeka. Di tahun 1950 Masjid Sunan Giri mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Proses perbaikan dipimpin oleh H. Zaenal Abidin selaku juru kunci makam bersama masyarakat Giri memperbaiki masjid ini dalam dalam waktu tiga bulan.

Perluasan halaman masjid dilakukan tahun 1957 oleh Panitia Kesejahteraan Makam dan Masjid Sunan Giri. Perluasan halaman tersebut dilakukan dengan memindahkan pendopo masjid dari depan masjid ke kesebelah utara, serta penggantian atap masjid dari atap sirap menggunakan atap genteng dan memperluas bak penampungan air hujan guna keperluan air bersih.

Perbaikan perbaikan kecil terus dilakukan hingga era 1970-an. Renovasi terahir dilakukan pada tahun 1982, peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH  Tingkat II Gresik pada tanggal 17 Desember 1982. Kini luas bangunannya mencapai 1.750 m² sudah berkali kali lipat luasnya dari ukuran semula, di atas lahas seluas 3.000 m².

Unik bukan ? pintu gapura masjid berbentuk gapura candi

Monumen Sejarah

Masjid Ainul Yakin Sunan Giri ini sudah menjadi monument sejarah yang dilindungi oleh negara sejak dari masa penjajahan Belanda. Di zaman Hindia Belanda, masjid ini terdaftar sebagai peninggalan sejarah, didaftar dalam “monumenten ordonantie” dengan nomor staat blaad 238 pada tahun 1931. Kini berada di bawah pengawasan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Arsitektur Masjid Ainul Yakin Sunan Giri

Seperti lazimnya masjid-masjid tua di seluruh Nusantara maka Masjid Ainul Yaqin Sunan Giri ini pun memiliki bentuk kubah yang khas, yaitu kubah atap limas dengan tiga undakan. Akulturasi dengan budaya sebelum Islam sangat kental terlihat di masjid ini, yang paling menyolok adalah adanya beberapa pintu gerbang berupa gapura paduraksa termasuk pintu masuk utama ke masjid ini.

Dibagian dalam masjid akan kita temukan sokoguru dari kayu yang berjejer menopang struktur atap masjid ini. Masing masing masing sokoguru ini berdiri diatas umpak dari batu. Umpak batu di hias dengan warna emas, bagian bawah tiang dihias dengan ukiran yang meruncing juga dengan warna emas.

Interior Masjid  Sunan Giri

Batang sokoguru terbuat dari sebatang kayu berukuran besar, di profil sekelilingnya, di cat dengan warna hijau muda. Di setiap pertemuan sokoguru dengan soko alangnya juga dihias dengan ukiran yang meruncing bewarna emas. Hampir seluruh materi kayu di dalam masjid ini di cat dengan warna hijau muda. Di bawah atap utama menggantung lampu antik menjuntai di atas ruang utama.

Mihrab masjid terdiri dari tiga bagian ceruk. Sebalah kiri di tempatkan sebuah jam berdiri berukuran besar. Ceruk tengah merupakan tempat imam dengan dan paling kanan merupakan ceruk dimana mimbar tempat khatib ditempatkan. Mimbar berukir dari kayu ini juga dicat dengan paduan hijau muda dan warna emas.

Sebagai rumah ibadah, masjid ini begitu ramai dikunjungi jamaah untuk shalat rawatib (shalat lima waktu) maupun shalat Jumat, bahkan pada bulan-bulan besar, seperti bulan Muharam, Dzulhijjah, dan Rabi’ul Awal (Maulid), masjid ini ramai dikunjungi peziarah dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan***.

Sabtu, 01 Juli 2017

Masjid Budapest, Hungaria

Tidak mirip majid ?. Betul, memang sama sekali tidak mirip dengan bangunan masjid yang biasa kita kenal karena memang Masjid Budapest ini sebelumnya adalah bangunan komersial yang kemudian dibeli oleh Organisasi Muslim Hongaria (MME) dan diubah suai sebagai masjid.

Hongaria adalah sebuah negara berbentuk republik yang berada di benua Eropa bagian tengah. Secara geografis negara ini berada di dalam cekungan Carpathia dan berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Slowakia di sebelah utara, Ukraina di sebelah timur, Rumania di sebelah tenggara, Kroasia dan Serbia di sebelah selatan, Slovenia di sebelah barat daya, dan Austria di barat. Dalam bahasa setempat, negara ini dikenal sebagai Magyarország yang berarti daerah Magyar.

Islam memilik sejarah teramat panjang di Hongaria, seluruh wilayah negara ini pernah menjadi bagian dari wilayah Kekhalifahan Islam Usmaniyah selama lebih dari 150 tahun. namun demikian setelah semua itu berlalu, kini Islam kembali asing di negeri itu. Kini diperkirakan ada sekitar 26 ribu jiwa muslim yang ada di Hongaria, sebagian besar berasal dari jazirah arab dan Turki. Namun demikian pertumbuhan Islam diantara pribumi cukup meningkat dari waktu ke waktu.

Kota Budapest selaku ibukota negara Hongaria, terdapat beberapa organisasi Islam, salah satunya adalah Organisasi Muslim Hongaria atau dalam Bahasa setempat disebut Magyarországi Muszlimok Egyháza (MME) yang merupakan organisasi Islam terbesar di Hongaria. MME memiliki dan mengelola beberapa masjid di Hongaria, yang terbesar dalah Masjid Budapest sekaligus menjadi kantor pusat MME.

Magyarországi Muszlimok Egyháza - Budapest Mecset
H-1119 Budapest, Fehérvári út 41.
Phone: +36-1-208-4040






Masjid Budapest mudah di akses dengan menggunakan kendaraan umum. Bangunan masjid berlantai tiga dengan area parkir. Masjid Budapest dikelolah oleh Organisasi Muslim Hongaria. Masjid ini pertama kali dibuka untuk umum pada bulan Romadhon tahun 2011, sekitar 500 jemaah memadati masjid ini disetiap hari Jum’at.

Khutbah Jum’at di masjid ini disampaikan dalam Bahasa Arab dengan terjemahan Bahasa Hongaria termasuk juga dalam proses belajar mengajar yang diselenggarakan di masjid ini namun demikian pada pengajian ataupun kelas ahir pecan menggunakan Bahasa Hongaria termasuk untuk kelas hari Sabtu.

Organisasi Muslim Hongaria membuka kelas ahir pekan bagi anak anam muslim disana yang bertempat di Masjid Budapest ini. Kelas hari sabtu tersebut telah dimulai sejak tahun 2011 ketika masjid mulai dibuka. Nur School nama sekolah tersebut dengan peserta didik sekitar 200 anak anak muslim mulai dari usia 7 hingga 16 tahun. di sekolah ahir pekan ini anak anak mendapatkan pelajaran Bahasa Arab, Baca Al-Qur’an, kajian fiqih dasar termasuk di dalamnya  tentang tata cara sholat dengan baik dan benar.

Suasana di dalam Masjid Budapest.

Aktivitas Masjid Budapest

Disamping mengelola Masjid Budapest dan sekolah bagi anak anak, Organisasi Islam Hongaria ini juga menyelenggarakan Summer Camp (Perkemahan Musim Panas) yang diselenggarakan di berbagai tempat berbeda beda, menterjemahkan dan mengkompilasi berbagai buku buku Islam dari berbagai sumber, serta beragam aktivitas sosial kemasyarakatan.

Sejarah Organisasi Muslim Hongaria

Organisasi Muslim Hongaria dibentuk pada tanggal 22 September 2000 dibawah undang undang kebebasan beragama di negara tersebut. Namun demikian organisasi ini sebenarnya bukanlah organisasi baru dan merupakan integrase dari berbagai aktivitas dan pengalaman muslim Hongaria sejak tahun 1987 manakala organisasi Islam pertama berdiri dengan nama Asosiasi Pelajar Muslim Hongaria.

Pada mulanya Organisasi ini menumpang tempat dengan lembaga Islam lainnya yang sudah ada di Budapest yakni Masjid Dar As-Salam. Baru kemudian berupaya mendapatkan tempat sendiri bagi aktivitasnya. Perjuangan untuk mendapatkan izin resmi sebagai sebuah organisasi keagamaan juga tidak mudah, lebih dari setahun pengurus organisasi ini mengupayakan perizinan dimaksud baru kemudian mendapatkan persetujuan dari parlemen dan kini eksis bersama 35 organisasi kegamaan lainnya di negara tersebut yang memiliki tempat peribadatannya sendiri.

Sebuah taman kecil didepan Masjid Budapest

Seiring perjalanan waktu, Jemaah semakin meningkat dari sebelumnya hanya diperkirakan dibutuhkan tempat bagi sekitar 100 jemaah namun ternyata aktual kebutuhannya jauh lebih besar dari itu. Permintaan bantuan di beberapa negara Islam dan kemudian ada donator yang siap membantu sampai kemudian di beli lah sebuah gedung yang cukup besar lalu di rombak menjadi masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Budapest.

Berdirinya Masjid Budapest dengan mengubah gedung bangunan yang sudah ada dengan berbagai pertimbangan termasuk pertimbangan biaya. Pembangunan masjid sebenarnya seperti bangunan masjid pada umumnya yang dilengkapi dengan kubah dan menara serta berupa bangunan yang berdiri sendiri, membutuhkan biaya setidaknya tiga kali lipat dibandingkan dengan mengalihfungsi bangunan gedung yang sudah ada.

Ditambah lagi dengan masalah perizinan yang tidak mudah. Sebagai contoh Organisasi islam Dar As-Salam yang sudah lebih dulu dari Organisasi Muslim Hongaria ini pun telah mencoba melakukan hal tersebut, namun tak kunjung terealisasi setelah hampir sepuluh tahun. itu sebabnya Organisasi Muslim Hongaria inipun memutuskan untuk membeli gedung yang sudah ada dan mengubahnya menjadi masjid.

Dari seberang jalan

Organisasi Muslim Hongaria menjalankan aktivitasnya mewakili muslim disana dan senantiasa sedapat mungkin hadir di setiap forum termasuk dialog antar pemeluk agama untuk mengklarifikasi kesalahfahaman tentang Islam.

Selain Masjid Budapest, Organisasi Muslim Hongaria juga mengelola Masjid lainnya yang juga di kota Budapest tepatnya di the 8th district , dan di kota Szeged serta mengorganisir komunitas muslim di kota Pécs serta Salgótarján. Organisasi ini juga menjalin hubungan erat dengan kaum muslimin Hongaria yang tinggal di Slovakia dan Romania.

Mayoritas muslim Hongaria tinggal di Budapest selaku ibukota negara. 60% dari mereka berasal dari negara negara arab, 30% dari berbagai latar belakang termasuk Turki, Persia dan Afrika, serta sekitar 10% nya merupakan muslim pribumi Hongaria.

Pelaksanaan kursus Bahasa arab di masjid Budapest ini gratis, alias tidak dipungut biaya serta terbuka bagi semua kalangan termasuk bagi non muslim. Masjid Budapest juga terbuka bagi siapapun yang hendak berkunjung ataupun bertanya tentang Islam. Termasuk juga menerima kunjungan dari wisatawan.***

Minggu, 25 Juni 2017

Masjid Navahrudak, Belarussia

Masjid Navahrudak, satu dari dua Masjid Kayu yang sudah berusia lebih dari se-abad.

Navahrudak dalam Bahasa Russia ditulis Навагрудак, Новогрудок atau juga disebut Nowogródek, Navagradak, Novogroudok, adalah salah satu kota tua di Republik Belarussia di kawasan Baltik, Eropa Utara bagian timur. Seperti halnya seluruh wilayah Belarussia lainnya, kota ini juga pernah menjadi bagian dari wilayah Grand Duchy of Lithuania dan pernah juga menjadi bagian dari wilayah Persemakmuran Lithuania-Polandia.

Unik-nya kota yang kini menjadi bagian dari Republik Belarussia ini, dulunya pernah menjadi ibukota bagi Grand Duchy of Lithuania, lalu kemudian ketika Lithuania bersama Polandia membentuk negara Persemakmuran, Navahradak kembali terpilih menjadi ibukota negara persemakmuran tersebut sejak tahun 1569 sampai kemudian menjadi bagian dari emperium Russia setelah pecahnya persemakmuran tersebut di tahun 1795.

Navahrudak Mosque
vulica Lienina, Navahrudak, Belarus
koordinat: 53°35'37"N   25°49'34"E

 

Selanjutnya kota ini sempat berkali kali pindah tangan dari Jerman, Belarussia, Polandia, Russia, lalu kembali di kuasai Polandia dengan pernjanjian Riga sampai kemudian di kuasai oleh pasukan Soviet pada bulan Septermber 1939 dan menjadi bagian dari Byelorussian SSR sampai tahun 1941. Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet, Parlemen Belarusia mendeklarasikan kedaulatan negara pada tanggal 27 Juli 1990 dan Deklarasi Kemerdekaan Belarusia dikumandangkan pada tanggal 25 Agusutus 1991 dan Navahrudah menjadi bagian dari Belarussia.

Islam masuk dan menyebar di Belarusia diantara abad ke empat belas dan enam belas, terutama dikarenakan Grand Duke of Lithuania yang memang dengan sengaja mengundang muslim etnis Tatar dari semenanjung Krimea dan Golder Horde untuk menjadi penjaga perbatasan negara. Dimulai dari abad ke empat belas, banyak muslim etnis Tatar yang mendapatkan kedudukan tinggi di kepangeranan Lithuania.

Pada penghujung abad ke enam belas, lebih dari 100 ribu muslim etnis Tatar tinggal di Belarusia dan Lithuania termasuk diantara mereka yang memang mendapatkan pekerjaan disana ataupun menetap karena berstatus sebagai tawanan perang. Saat ini muslim etnis Tatar yang sudah menjadi pemukim disana merupakan muslim suni.

Masjid Navahrudak saat musim salju

Di tahun 1994 untuk pertama kali diselenggarakan kongres nasional Muslim Belarusia. Hasilnya adalah terbentuknya Komunitas Islam Republik Belarusia dengan pimpinan pertamanya Dr. Ismail Aleksandrovich. Hingga tahun 1997 sudah terdapat 23 komunitas muslim disana termasuk 19 diantaranya berdiri di wilayah bagian barat negara tersebut. Dan jumlah tersebut telah bertambah menjadi 27 komunitas muslim pada tahun 2002.

Masjid Navahrudak

Sebagai sebuah kota tua, Navahrudak memiliki sebuah bangunan Masjid Besejarah yang dibangun oleh Komunitas Muslim  Tatar di Navahrudak. Bangunan masjid dari kayu yang sempat mengalami kerusakan dimasa Uni Soviet lalu kemudian direhabilitasi setelah negara tersebut memproklamirkan kemerdekaan.

Meskipun Navahrudak pernah menjadi Ibukota negara, namun masjid pertama yang dibangun di Belarussia justru berada di kota Ivje (sudah di ulas di artikel sebelumnya), yang dibangun oleh Muslim Tatar di tahun 1884. Bersama dengan Masjid Navahrudak, Masjid Ivye kini dianggap sebagai salah satu monumen arsitektur bangunan kayu di Belarusia.

Interior masjid Navahrudak

Masjid Navahrudak dibangun tahun 1885 menggantikan masjid sebelumnya yang dibangun tahun 1792. Pembangunan masjid ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tempat peribadatan bagi sekitar 300 muslim Tatar yang tinggal di Navahrudak saat itu. dan Masjid ini merupakan satu dari sekitar 20 Masjid yang dibangun diseluruh wilayah persemakmuran Lithuania-Polandia.

Masjid Navahrudak sempat di alihfungsi menjadi rumah tinggal dimasa kekuasaan Uni Soviet di Belarussia dan sebagian besar muslim Navahrudak pindah ke Polandia. Di masa itu, seluruh kegiatan keagamaan dilarang oleh pemerintah dan semua tempat ibadah ditutup permanen atau dialihfungsi bahkan dihancurkan. Baru setelah kemerdekaan Belarussia, masjid ini dibuka kembali di tahun 1993.

Dan pada bulan Juli 1997 dalam peringatan 600 tahun pemukiman Etnis Tatar di Belarusia yang mengambil tempat di masjid kota Novahrudak sekaligus peresmian pembukaan kembali masjid ini setelah renovasi. imam masjid saat ini dijabat oleh imam Ali Szegidewicz.

Arsitektur Masjid Navahrudak

Masjid Navahrudak hampir sama dengan masjid di kota Ivje dan masjid tua masjid di wilayah Baltik lainnya yang merupakan masjid dari kayu dengan bentuk yang sangat klasik khas bangunan tradisional setempat. Denah dasar bangunan masjid Navahrudak berupa bangunan berdenah segi empat ditambah dengan tiga beranda di tiga sisinya. Satu beranda di sisi timur dan utara sebagai beranda sebenarnya tempat pintu bangunan berada, sedangkan beranda di sisi selatan sejatinya merupakan ruangan mihrab tempat imam memimpin sholat berjamaah.

Menara Masjid Navahrudak.

Mihrab masjid ini seperti sebuah kamar dengan pintu tanpa daun. Bagian atas pintu mihrab di bentuk setengah lingkaran dengan ornamen bulan sabit di atasnya. Sedangkan di dalam ruang mihrab dilengkapi dengan jendela kaca sebagai penerangan cahaya matahari disiang hari.

Sebuah mihrab dari kayu berukir ditempatkan di sisi kanan ruang pintu mihrab. Mimbar dengan tiga undakan anak tangga tempat khatib menyampaikan khutbahnya. dibagian atas mihrab juga ditempatkan sebuah ornamen bulan sabit. Sebuah foto masjidil Haram dengan Ka’bah ditengahnya ditempatkan dibagian belakang mihrab ini.

Hampir sama dengan masjid di kota Iwye, Masjid Navahrudak juga dilengkapi dengan sebuah menara di puncak atapnya. hanya saja di masjid ini menaranya dilengkapi dengan kubah berdenah segi delapan dan tidak dilengkapi dengan balkon. Seluruh menara ini berdiri diatas tumpukan atap kedua dari masjid ini.***

Sabtu, 24 Juni 2017

Mengenal Masjid Masjid Tua Jakarta (Bagian 5)

Enam Masjid Tua Jakarta di awal abad ke 20.

Artikel ini adalah bagian ke lima dan bagian ahir dari sequel masjid masjid tua di Jakarta. Pada bagian ini ada enam masjid yang kami ulas secara singkat. Masing masing masjid tersebut semuanya dibangun di paruh awal abad ke 20 menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tak mengherankan bila sejarah enam masjid berikut ini berkaitan erat dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

(21). Masjid Baitul Mughni (1901) Jakarta Selatan

Sejarah Masjid Baitul Mughni dimulai sejak tahun 1901. Ketika itu Guru Mughni baru pulang dari tanah Suci, kembali ke Batavia. Ia membeli lahan dan langsung mendirikan sebuah masjid kecil berukuran 13 x 13 meter yang pada awal pendiriannya belum memilki nama. Bahan bangunannya terdiri dari batu bata pada bagian dindingnya, lantainya berubin warna merah dengan beratapkan genteng. Bentuk masjid itu adalah empat persegi dengan mihrab di depan sebagai tempat imam memimpin shalat. Meski demikian, jika dibandingkan dengan bangunan yang ada di wilayah lain saat itu, bangunan masjid ini tergolong bangunan mewah.

Masjid Baitul Mughni menara tingginya kini terselip diantara gedung gedung yang jauh lebih jangkung di sekelilingnya.

Dengan bertambahnya jumlah jamaah, ukuran Masjid Baitul Mughni pun diperluas, bagian belakangnya ditambah dengan bahan bangunan dari anyaman bambu. Bagian belakang ini dimanfaatkan sebagai tempat mengaji dan bermalam bagi murid-murid Guru Mughni yang datang dari tempat tempat yang jauh. Belum ada menara masjid pada waktu itu. Baru menjelang Guru Mughni wafat dibuat menara. Setelah itu menyusul renovasi demi renovasi berikutnya. satu-satunya peninggalan masjid lamanya tersisa pilar masjid bekas tiang penyangga masjid di sebelah dalam.

Sejak pertama pendiriannya, Masjid Baitul Mughni berfungsi tak hanya sebagai tempat ibadah namun juga sebagai tempat pendidikan dan penyebaran ilmu-ilmu agama, bahkan saat itu Masjid Baitul Mughni juga sebagai pusat informasi Ru’yatul Hilal (penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal) bagi masyarakat Jakarta Selatan. Ketika itu, masjid ini melahirkan seorang tokoh ahli ilmu falak yakni K.H. Abdullah Suhaimi, yang juga menantu Guru Mughni sendiri. Ketika itu bisa dibilang Masjid Baitul Mughni merupakan masjid rujukan bagi masjid-masjid kecil di sekitarnya. Seperti untuk menentukan waktunya azan, biasanya masjid-masjid lainnya berpatokan pada masjid ini. Mereka tidak akan azan sebelum mendengar suara azan dari Masjid Baitul Mughni ini.

Masjid Ar-Raudah di kawasan pekojan, mirip dengan rumah penduduk

(22). Masjid Ar-Raudhah Pekojan (1905) Jakarta Barat

Masjid Ar Raudah, Pekojan (1905) adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang berada di Jalan Pekojan II, kelurahan Pekojan, kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dahulunya merupakan tempat berkumpulnya anggota Jamiatul Khair (Perkumpulan Kebaikan) yang dibentuk oleh Ali dan Idrus yang berasal dari keluarga Shahab di masa penjajahan Belanda.

Perkumpulan itu berperan dalam penyebaran agama Islam pada masa Hindia Belanda. Namun, Belanda mencurigai kumpulan tersebut. Jamiatul Khair tetap ingin diakui sebagai organisasi dan mengajukan permohonan pada 1903. Baru pada 1905 mereka resmi diakui sebagai organisasi oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ide dasar dari perkumpulan Jamiatul Khair adalah untuk memunculkan ide para pemuda Islam untuk membentuk organisasi organisasi kebangsaan lainnya seperti Budi Utomo yang berdiri pada 1908. Sejarah perkumpulan Jamiatul Khair dan adanya sumber mata air di dalam masjid ini yang tak pernah kering makin menghiasi sejarah dari Masjid Ar Raudah di Pekojan II ini.

Masjid Keramat Kampung Bandan atau Masjid Al-Mukarromah

(23). Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan (1917) Jakarta Utara

Masjid Al-MukarromahKampung Bandan adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 18. Lokasinya kini berada di Jalan Lodan, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Dalam bahasa Arab, nama masjid ini memiliki arti mulia atau yang dimuliakan. Pertama kali dibangun sebagai sebuah Mushola di dekat dua makam Ulama Besar Batavia oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi As Syatiri pada tahun 1879. Beliau wafat tahun 1908 dan putra beliau Sayid Alwi bin Abdul Rachman bin Alwi As-Syatiri yang kemudian membangun mushola tersebut sebagai sebuah masjid.

Sejarah Masjid Al-Mukarromah ini terbilang cukup unik. Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syahtiri adalah seorang saudagar yang pada suatu kesempatan sekitar tahun 1874 berkunjung ke kediaman Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas di Empang, Bogor. Awalnya Habib Abdurrahman hanya berniat mengadu masalah usaha dagangnya. Tapi, lalu Habib Abdullah menyuruh beliau menelusuri 2 makam ulama besar di Batavia. Jika ditemukan, Habib Abdullah berpesan agar Habib Abdurrahman memelihara dan mendirikan tempat ibadah di dekat makam tersebut.

Dijelaskannya, kedua makam itu adalah para wali Allah. Semasa hidupnya, mereka berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di tengah-tengah perkampungan para budak dari Banda yang terzalimi ulah jahat penjajah. "Keduanya terlibat dalam pemberontakan kepada VOC di tahun 1682”. Setelah melakukan penelusuran ditemukan dua makam berdampingan yang terletak di Kampung Bandan. Habib Abdullah pun membenarkan bahwa kedua makam itu merupakan dua ulama yang dicarinya. Habib Abdurrahman mengikuti amanat Habib Abdullah dengan membeli tanah tempat keberadaan makam tersebut, mendirikan tempat singgah dan salat untuk peziarah di tahun 1879, dan meneruskan ajaran agama Islam di sana.

Habib Abdurrahman wafat pada 1908, kepengurusan tempat ibadah yang awalnya hanya berbentuk mushola ini, diteruskan oleh putranya, Habib Alwi bin Abdurrahman Asy-Syahthiri. Mushola baru berkembang jadi masjid sejak tahun 1913 dan selesai tahun 1917. Masjid Al-Mukarromah terletak di atas tanah seluas 95 x 50 m, dibatasi pagar beton dengan jeruji besi dilengkapi dengan pintu gerbang yang terletak di sisi selatan. Bangunan utamanya berukuran 15 x 13 m, dengan dua buah pintu masuk. Di dalamnya terdapat tiang, makam, mihrab, dan mimbar. Bagian selatan, timur, dan barat terdapat serambi.

Masjid Hidayatullah Setiabudi, ditepian kali krukut yang airnya kita menghitam legam karena polusi

(24). Masjid Hidayatullah Setiabudi (1921) Jakarta Selatan

Masjid Hidayatullah Setiabudi ini merupakan salah satu masjid dengan sentuhan budaya Thionghoa di Indonesia. Pertama kali dibangun pada tahun 1747 di atas lahan wakaf dari pengusaha Batik bernama Mohamad Yusuf yang tinggal didaerah Karet, lahan seluas tiga ribu meter persegi untuk masjid tersebut beliau dapat dari seorang Belanda bernama Safir Hands.

Masjid Hidayatullah sudah tiga kali direnovasi, yaitu tahun 1921, 1948, dan 1996. Namun renovasi sama sekali tidak mengubah wajah asli masjid. Pada tahun 1991 pengusaha swasta dan pejabat pemerintah pernah akan menggusur peninggalan sejarah ini, sehingga menimbulkan bentrokan antara warga setempat dengan aparat. Pengurus masjid dibantu Museum Nasional DKI Jakarta berhasil mempertahankannya.

Masjid Hidayatullah menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan saat melawan penjajah. Dimasa penjajahan dulu sering dipakai sebagai tempat mengatur strategi. Dua menara menjulang tinggi di kanan dan kiri pintu masuk masjid dulunya juga dipakai untuk mengintai musuh. Melalui masjid inilah pengiriman senjata ke daerah Karawang dan Cikampek dilakukan.

Bukti lain keterlibatan Masjid Hidayatullah dalam perebutan kemerdekaan adalah ditangkapnya salah seorang pengurus masjid, yaitu H. Saidi yang sempat dibuang ke Digul, sebelum akhirnya dikembalikan ke lingkungan tersebut. Pahlawan Betawi ini meninggal tahun 1950-an dan di makamkan di sekitar masjid.

(25). Masjid Maulana Hasanudin Cikoko, Pancoran (1928-1933) Jakarta Selatan

Masjid Maulana Hasanudin didirikan oleh H Mursan bin Thaifin atau Kiai Kucang pada tahun 1928 dan baru dinyatakan selesai pada tahun 1933. Pada awalnya, pembangunan masjid ini mendapat tentangan dari sekelompok ulama lain, karena pembangunannya dianggap belum perlu mengingat di sekitar lokasi sudah ada  Masjid Jami’ Al Atiq, Kampung Melayu.

Namun Kiai Kucang dengan dibantu rekan-rekannya, tetap bersikeras mendirika masjid baru, mengingat jarak kampung cikoko dengan Masjid Jami’ Al Atiq terbilang cukup jauh. Pada masa itu mushala-mushala di Jakarta belum sebanyak saat ini, masyarakat Cikoko, kala itu harus jalan kaki menuju Masjid Jami’ Al Atiq dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk menunaikan sholat berjamaah.

Pada saat didirikan, oleh penduduk diberi nama "At Taghwan." Baru pada tahun 1967, atas permintaan pemerintah daerah dilakukan perubahan nama menjadi Masjid Jami Maulana Hasanudin, mengambil nama sultan pertama Banten. Warga setuju karena memang Kiai Kucang masih murid dari Sultan Maulana Hasanudin. Masjid Maulana Hasanudin pada zamannya merupakan salah satu masjid yang penting. Konon, banyak jemaah haji di zaman Hindia Belanda selalu menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini seusai pulang dari tanah suci dengan kapal laut.

Menara Masjid Al-Riyadh Kwitang

(26). Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang (1938) Jakarta Pusat

Masjid Jami’ Al-Riyadh Kwitang didirikan oleh Ali Al Habsyi Sekitar tahun 1356H/1938M. Di tempat inilah Habib Ali bersama murid-muridnya dan penduduk setempat mendirikan sebuah majelis taklim di rumah pribadinya. Tempat tersebut lantas ia beri nama Baitul Makmur. Beberapa tahun berjalan majelis itu dia beri nama Unwanul Falakh. Sekitar tahun 1950, majelis tersebut resmi diberinama Masjid Al-Riyadh. Namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Masjid Kwitang. Sedangkan Ali Al Habsyi dikenal masyarakat sebagai Habib Ali Alhabsji seorang tokoh ulama Betawi yang begitu berpengaruh di zamannya.

Sampai tahun 1960-an, Habib Ali selalu mengajar di Masjid Al-Riyadh ini. Beiau kemudian membangun Islamic Centre Indonesia di kediamannya, kira-kira 300 meter dari masjid. Masjid Al-Riyadh pada tahun 1963 pernah diresmikan Bung Karno. Oleh proklamator kemerdekaan Indonesia ini, masjid itu diberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat. Tapi kemudian diganti lagi dengan nama semula.

Pada masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, selain digunakan untuk syiar agama Islam, Masjid Al-Riyadh dipakai untuk tempat pertemuan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ini tidak mengagetkan karena Ali Al Hasyi adalah salah satu penasehat dan orang kepercayaan Presiden Soekarno. Beliau bagian dari tentara Hisbullah. Suara Jakarta, pelopornya Beliau. Tanpa persetujuannya rakyat sulit bergerak.***

Selesai.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Artikel terkait