Minggu, 08 Oktober 2017

Moscow Cathedral Mosque

Masjid Katedral Moskow atau Moscow Cathedral Mosque tampak berdiri kokoh lebih tinggi dan lebih menyolok dibandingkan dengan stadion olimpiade 1980 di pusat kota Moscow, Russia. Pemandangan seperti ini menjadi hajatan 2 kali setahun di masjid ini ketika ummat Islam menyemut saat melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha.

Moscow Cathedral Mosque berdiri megah bersebelahan dengan Olympic Indoor Stadium / Stadion Olimpiade 1980 di pusat kota Moskow, kini menjadi masjid terbesar di Rusia sekaligus menjadi landmark baru bagi ibukota Rusia tersebut. Masjid Katedral Moskow merupakan masjid tertua kedua di Moskow, berdiri sejak tahun 1904, (bila di Indonesia masjid ini hampir seumur dengan usia Masjid Raya Al-Mashun di kota Medan).

Nama “Katedral” untuk menyebut sebuah masjid besar memang terdengar sangat aneh bagi kebanyakan orang Indonesia, penyebutan nama masjid ini memang unik, boleh jadi karena budaya masyarakat Kristen Ortodox Rusia yang terbiasa menyebut gereja besar sebagai Katedral, maka masjid besar di kota Moskow inipun di sebut sebagai Masjid Katedral. Dalam bahasa Rusia masjid ini juga disebut masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang fungsinya sebagai masjid agung bagi kota itu.

Disebut juga dengan nama ‘mosque at Prospect Mira’ karena memang lokasinya yang berada di jalan prospect mira (perdamaian) dan dilokasi itu berdiri megah stasiun kereta Prospect Mira, sementara sebagian orang juga menyebutnya sebagai Masjid Tatar (Tatar Mosque) Karena memang awalnya jemaah masjid ini didominasi oleh muslim Etnis Tatar.

Masjid Katedral juga merupakan kantor bagi muftiyat Russia. Masjid Katedral ini selain menyelenggarakan sholat lima waktu, sholat Jum’at, trawih, dua sholat Idul Fitri, peringatan hari hari besar Islam juga menyediakan perpustakaan Islam dan Maktab atau lembaga pendidikan Islam. Di tempat ini pula berlangsung aktivitas umat yang ingin bersedekah, berzakat, atau bahkan minta didoakan keluarganya.

Moscow Cathedral Mosque
2b Minskaya st. (Prospec Mira)    



Masjid Sabornaya dibangun pada tahun 1904 oleh arsitek Nikolai Alekseyevich Zhukov. Seluruh biaya pembangunan ditanggung saudagar muslim bernama Saleh Yusupovich Yerzin. Dan hanya dalam tempo lima bulan, masjid pun selesai dibangun. Pada 27 November 1904, imam masjid pertama Badridin Hazrat Alimov mengajukan permohonan pada pemerintah Moscow untuk menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Di masa pemerintahan refresif soviet, ketika masjid masjid ditutup, imam masjid ditangkap bahkan sebagian dari mereka dibunuh, namun masjid Katedral ini menjadi satu dari sangat sedikit masjid di Rusia yang lolos dari tindakan represif pemerintah.sebuah kenyataan yang menyisakan pertanyaan hingga detik ini “mengapa pemerintah tidak menutup masjid Katedral ?”.

Sebagian sejarawan percaya hal tersebut dilakukan pemerintah Soviet sebagai bentu apresiasi kepada usaha imam Masjid Katedral yang berhasil mencarikan hubungan diplomatik pemerintahan sosialis Soviet yang beraliran komunis dengan dunia Islam.

Pihak kepolisian dan departemen terkait di kota Moscow setiap tahun memang menyiagakan para petugasnya untuk kelancaran hajatan ummat Islam di kota itu melaksanakan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. ribuan orang yang memadati ruas jalan di sekitar masjid ini mau tidak mau harus dipersiapkan sedemikian rupa oleh semua pihak terkait dan menjadi telah menjadi pemandangan rutin di kota ini.

Kedekatan imam masjid dengan berbagai petinggi politik Negara tetangga ini yang kemudian membuat Kremlin memberikan sediit konsesi kepada Masjid Katedral dan tetap mempertahankan beberapa masjid lainnya antara 50 hingga 100 masjid di seluruh soviet. Dan ada sekitar 300-an di era 80-an. Pemerintah Soviet memang tetap menjalin hubungan dengan Negara Negara Islam, tercatat berbagai pemimpin dari Negara Negara Islam pernah berkunjung ke Masjid Katedral ini di era Uni Soviet termasuk presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, Presiden dan Proklamator Indonesia Sukarno, Presiden Libya Muammar al-Gaddafi, dan lain lain.

Komposisi jemaah masjid selama perang berubah total, masjid seolah olah menjadi tempat berteduhnya kaum wanita, anak anak, dan orang orang cacat akibat perang dan mereka yang baru kembali dari medan tempur. Dibalik segala kesulitan, Jemaah dan pengurus masjid mengumpulkan makanan dan pakaian bagi masyarakat korban perang ataupun bagi keluarga korban perang. Pemimpin tertinggi Uni Soviet pun pernah mengirimkan telegram untuk muslim Moskow dengan pesan,

“Terima Kasih atas segala perhatian dan sokongan kepada kekuatan bersenjata pasukan merah. Terimalah salam dan penghormatan saya untuk pasukan merah. Stalin”

Pembangunan Kembali Moscow Cathedral Mosque

Sejak dibangun tahun 1904 Masjid Katedral Moscow ini semakin hari semakin tak mampu lagi menampung Jemaah yang semakin membludak. hal itu yang kemudian bergulir rencana untuk membangun masjid yang lebih besar. Rencana perluasan masjid Katedral ini mulai digulirkan pada peringatan se-abad masjid Katedral 28 Mei 2004.

LAMA DAN BARU ; Foto atas adalah Masjid Katedral Moskow sejak di bangun tahun 1904 hingga tahun 2011, tampak seolah bersembunyi dibalik bangunan stadion Olimpiade 1980 kota Moskow. Bandingkan dengan foto bawah, Masjid Katedral setelah pembangunan kembali tahun 2015, justru Stadion Olimpiade yang seolah bersembunyi di balik begitu besarnya bangunan masjid ini. Wajar bila disebut sebagai Masjid Sabornoya (Masjid Agung).

Acara tersebut turut dihadiri oleh wakil walikota Moskow Mikhail Men, Pesiden Muftiyat Rusia sheikh Ravil Gainutdin, Sekjen World Islamic Call Association (Libya) Mohamed Ahmed Sheriff, Mufti Kyrgyzstan Murataev Agee Zhumanov, Mufti Republik Kazakhstan Abdsattar Derbesali, mufti Tajikistan Amanullo Nemadzade, Wakil presiden OSCE Parliamentary Assembly (Turkey) Mevzet Yalchintash dan Imam-Khatib Masjid Katedral Moskow Hazrat Biljalov Rais.

Rencana perluasan masjid tersebut telah disetujui oleh Presiden Medvedev yang tercatat sebagai satu satunya presiden yang pernah berkunjung ke Masjid Katedral Moskow. Sedangkan Perdana menteri Vladimir Putin menjadi orang pertama yang menyampaikan ucapan selamat atas perayaan se-abad Masjid Katedral Moskow.

11 September 2011 bangunan lama masjid Cathedral Moscow dirobohkan total sebagai bagian dari proyek pembangunan kembali dan perluasan masjid tersebut. di robohkan nya bangunan bersejarah tersebut tak pelak mengundang reaksi protes dari berbagai kalangan baik muslim maupun non muslim yang menyayangkan dihancurkannya bangunan bersejarah tersebut.

Proses pembongkaran bangunan lama masjid Katedral ini menjadi legal karena sejak ahir 2008 bangunan Masjid Katedral tidak lagi tercatat sebagai benda warisan budaya, meskipun sebelumnya di bulan Juni tahun yang sama masjid ini dimasukkan dalam daftar baru di masukkan ke dalam daftar benda warisan budaya dan monument sejarah, sehingga dengan sendirinya pada saat pelaksanaan pembongkaran, bangunan tersebut tidak terlindungi oleh undang undang cagar budaya Rusia.

Interior Masjid Katedral Moskow

Pihak pengurus masjid dan Muftiyat Rusia berpendirian bahwa masjid tersebut sudah tidak memadai untuk menampung jumlah jemaah yang terus membludak sepanjang waktu, ditambah lagi dengan posisi kiblatnya yang sedikit melenceng. Pada awalnya, rencananya masjid ini hanya akan di preteli menjadi bagian bagian kecil untuk kemudian dirakit kembali menjadi bagian dari masjid baru yang akan dibangun dilokasi tersebut.

Masjid Katedral Moskow menjadi bangunan tempat ibadah pertama di Rusia yang dirobohkan sejak tahun 1978. Proyek pembangunan masjid baru yang lebih besar dan representative di atas lahan yang sama tersebut rencananya baru akan selesai pada tahun 2013 dan keseluruhan pembangunannya diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2014 atau 2015.

Peresmian Moscow Cathedral Mosque

Setelah melalui proses pembangunan selama 4 tahun, Moscow Cathedral mosque dengan penampilan baru ini dibuka kembali secara resmi pada tanggal 23 September 2015 bertepatan dengan malam Idul Adha oleh Presiden Russia Vladimir Putin. acara tersebut turut dihadiri oleh presiden Turki Recep Tayeb Erdogan dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas serta beberapa perwakilan negara negara arab dan negara negara Islam.

Pembangunan kembali masjid ini ditangani oleh arsitek Ilyas Tazhiyev, dan menghabiskan biaya sebesar $170 juta dolar Amerika. $100 juta dolar merupakan sumbangan dari pengusaha sekaligus senator Rusia, Suleyman Kerimov yang menyumbang pembangunan masjid ini untuk mengenang ayahnya, diantara para donator lainnya termasuk presiden Palestina Mahmoud Abbas yang menyumbang sebesar $26,000 sedangkan pemerintah Turki menyumbang mimbar serta mihrab untuk masjid ini.

Masjid Katedral Moskow dan sekitarnya

Arsitektur Masjid Catheral Moscow

Moscow Catherdral Mosque ini memiliki luas ruang 19.000 meter persegi terdiri dari enam lantai dan diperkirakan mampu menampung hingga 10.000 jemaah sekaligus. menjadikannya sebagai masjid terbesar di Russia dan Eropa. bandingkan dengan ukuran sebelumnya yang hanya mampu menampung 1500 jemaah saja.

Masjid ini dilengkapi dengan sebuah kubah besar berdiameter 27 meter setinggi 40 meter, dilengkapi dengan sepasang menara setinggi 75 meter (menara masjid lama hanya 20 meter). Kubah atap dan menaranya di lapisi dilapis emas begitupun dengan bagian interior masjid ini yang mengggunakan 12 kg emas sebagai dekorasi ditangani oleh para seniman ahli dari Turki yang mengangani semua ornament masjid ini yang memadukan seni Islami dan seni tradisional Russia.

Sebagai fasilitas tambahan di komplek masjid ini juga akan dilengkapi dengan hotel, gedung kantor Muftiyat, aula, gedung parkir, perkantoran perwakilan bagi berbagai komunitas muslim, Pusat Kebudayaan Islam dan pertokoan yang menyediaan beraneka buku buku Islam, perlengkapan sholat hingga makanan halal yang di olah sesuai dengan syariat.

Russia merupakan rumah bagi 23 juta muslim, dan Islam merupakan agama terbesar kedua di Russia setelah agama Kristen Ortodox. Angka tersebut setara dengan sekitar 17% dari keseluruhan penduduk Russia, sedangkan Kristen Ortodox sekitar 46.8 persen.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 07 Oktober 2017

Masjid Agung Manonjaya Tasikmalaya

Ba'da Sholat Jum'at di Masjid Manonjaya.

Masjid Agung Manonjaya dibangun pada tahun 1837 M, ada pula yang menyebutkan dibangun pada tahun 1832 M, menjadikan masjid ini sebagai masjid tertua di Tasikmalaya. Masjid kebanggaan warga Tasikmalaya, Jawa Barat, ini terletak di Dusun Kaum Tengah, Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya. Lokasi masjid ini berbatasan dengan jalan Tangsi disebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan jalan Kauman dan Markas Komando Militer 0612 Manonjaya, sebelah timur Sekolah Dasar Negeri 11 Manonjaya dan alun-alun.

Masjid Bersejarah

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan Masjid Manonjaya menjadi kawasan cagar budaya (purbakala) yang wajib dilindungi dan dilestarikan, berdasarkan UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama sama dengan Masjid Agung Sumedang. Keputusan ini diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 5 Tahun 1992 yang menyatakan bahwa Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan cagar budaya yang harus terus dilestarikan.

Masjid Agung Manonjaya
Jl. RTA Prawira Adiningrat, Manonjaya
Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat 46197



Arsitektur Yang Unik

Masjid Agung Manonjaya memiliki luas sekitar 1.250 meter persegi, berdiri di atas lahan seluas 6159 meter persegi dikelilingi oleh pagar tembok. Paras bangunan ditinggikan sekitar 1 meter diatas tanah, berpondasi massif dan berdenah bujursangkar. Struktur bangunannya ditopang oleh 60 tiang yang disebut dalem swindak. Diantara tiang tiang tersebut ada yang berdiameter 50-80 sentimeter yang terletak di beranda masjid.

Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu biasa digunakan muazin untuk mengumandangkan azan ke seluruh pelosok kota. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.

Arsitektur Masjid Agung Manonjaya ini memadukan desain Eropa dengan aristektur tradisional Sunda dan Jawa. Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang shalat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) dari tanah liat yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan.

Atap antik Masjid Agung Manonjaya

Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang shalat. Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah.

Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm.

Seperti umumnya masjid-masjid yang dibangun di masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid.

Masjid Agung Manonjaya di sekitar tahun 1890-1921

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan mustaka (memolo) di atas atap tertinggi masjid. Keberadaan memolo ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh kebudayaan Jawa di tanah Sunda sekalipun. Konsep memolo itu merupakan adaptasi dari bangunan saktal yang ada di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur pada masa Hindu.

Dari total luas lahan sekira 6.159 m2, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bangunan utama masjid dengan luas sekitar 637,5 m2 dan bangunan tambahan 289,5 m2. Denah ruang utama persegi panjang berukuran 22,8 × 16,7 m dan dibatasi oleh dinding. bangunana utama dilengkapi dengan pintu di sisi timur, utara, dan selatan, masing-masing pintu terdiri atas dua daun pintu. Dinding timur terdapat pintu utama dan merupakan batas dengan serambi timur.

Sejarah Masjid Agung Manonjaya

Keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari sejarah Tasikmalaya. Adanya Masjid Manonjaya ini, karena Manonjaya pernah menjadi ibu kota Tasikmalaya. Pembangunan Masjid Agung Manonjaya terkait erat dengan perpindahan Ibukota Kabupaten Tasikmalaya (saat itu masih bernama kabupaten Sukapura) dari Sukaraja (dahulu bernama pasir panjang) ke Manonjaya (saat itu masih bernama Harjawinangun) pada tahun 1832. Pada masa itu Sukpura dibawah pemerintahan Bupati Wiradana VIII selaku bupati Sukapura ke VIII. Perencana dan penata bangunan Masjid Agung Manonjaya adalah Patih Raten Tumenggung Danuningrat.

Masjid Agung Manonjaya dari arah jalan raya

Perubahan nama dari Harjawinangun menjadi Manonjaya ditetapkan dengan surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda (Besluit Gubernemen) Nomor 22 Tanggal 10 Januari 1839. Mulai saat itu, masyarakat Sukapura mulai membiasakan diri menyebut kawasan tersebut menjadi Manonjaya. Terdapat beberapa variasi angka tahun pembangunan masjid ini, kemungkinan besar karena tahun 1832 merupakan tahun perpindahan ibukota Kabupaten dan dimulainya pembangunan masjid dan tahun 1837 merupakan tahun selesainya pembangunan masjid Agung Manonjaya.

Hal tersebut sejalan dengan plakat pembangunan yang ada di masjid ini. Dari plakat yang dibuat oleh Depdikbud Kanwil Prop. Jabar disebutkan bahwa; pembangunan masjid Agung Manonjaya dilaksanakan pada tahun 1837 oleh RT. Danuningrat. Kemudian pada tahun 1889 didirikan bangunan tambahan oleh RTA Wiraadiningrat. Sedangkan perbaikan masjid pertama kali dilakukan tahun 1974 dengan dana swadaya masyarakat dan bantuan dari Bapak H. Amir Mavhmud. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1977 dan tahun 1991 dengan dana swadaya masyarakat. Perbaikan dengan dana APBN dri depdikbud dilakukan tahun 1991-1992. Dan diresmikan tanggal 18 Februari 1992 oleh Kepala bidang Muskala Depdikbud Prop Jabar, Drs H. Arsim Nalan N.

Pembangunan yang dilakukan oleh RTA Wiraadiningrat tahun 1889 adalah menambahkan bangunan pendopo di depan bangunan utama, beranda dengan pilar pilar beton bergaya Eropa di sisi depan bangunan dan penambahan dua bangunan menara kembar disisi kiri dan kanannya. Pengaruh Eropa terlihat kental pada sisi beranda masjid ini.

Masjid Agung Manonjaya pada saat proses renovasi paska gempa

Renovasi Paska Gempa 2009

Gempa 7.3 skala richter yang terjadi Rabu, 2 September 2009 menghancurkan masjid Agung Manonjaya. 61 tiang penyangga masjid ini tak mampu menahan kuatnya gempa. Bagian depan masjid roboh seketika. Kayu-kayu penyangga atap masjid yang berserakan. Untungnya, saat kejadian tak ada orang di dalam masjid. Kerusakan akibat gempa tahun 2009 ini menimbulkan kerusakan parah pada bangunan masjid ini dan sama sekali tidak aman untuk digunakan bagi kegiatan peribadatan. Proses perbaikan berjalan lamban, Otoritas daerah tidak berani mengambil langkah perbaikan mengingat bahwa masjid tersebut berstatus sebagai bangunan cagar budaya milik negara dibawah tanggung jawab pemerintah pusat.

Setelah terbengkalai nyaris satu tahun lebih, tokoh masyarakat setempat berinisiatif melakukan renovasi terhadap bangunan tersebut dengan dana swadaya masyarakat, karena lambannya proses birokrasi terkait dana pembangunan kembali masjid tersebut. Pemprop Jabar dan Pemkab Tasikmaya pernah mengucurkan dana untuk pembangunannya namun karena lemahnya pengawasan mengakibatkan proses pembangunan jauh dari harapan sehingga bebeberapa bagian bangunan di bongkar dan dibangun ulang dengan dana swadaya. Hingga Bulan Romadhan tahun 2012, tiga tahun paska gempa proses renovasi masjid ini baru berjalan 60%, meski demikian warga disana sudah memanfaatkannya untuk aktivitas peribadatan.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga



Minggu, 01 Oktober 2017

Masjid Agung Bahria, Lahore

Masjid Agung Bahria

Masjid Agung Bahria adalah masjid agung di kota Bahria provinsi Lahore, Republik Islam Pakistan. Masjid ini diresmikan pembukaannya pada Hari Raya Idul Adha 1435H / 6 Oktober 2014. pembangunan masjid ini dimulai sejak tahun 2011 dan mempekerjakan hingga 1000 pekerja untuk penyelesaiannya.

Masjid Agung Bahria ini merupakan masjid terbesar ketiga di Pakistan setelah Masjid Badshahi di Lahore dan Masjid Raja Faisal di Islamabad. Dengan ukurannya demikian besar, masjid ini mampu menampung hingga 70.000 jemaah sekaligus termasuk 25.000 jemaah di ruang utama bangunan masjid nya. Pembangunan Masjid Agung Bahria ini menghabiskan dana sekitar Rs 4 Milyar Rupee Pakistan atau sekitar Rp. 510 milyar Rupiah.

Jamia Mosque
Sector C, Bahria Town
Lahore, Pakistan
Koordinat:  31°22'7"N 74°11'7"E



Masjid Bahria ini dirancang sendiri oleh para arsitek Pakistan, wajar bila kemudian masjid terbesar di Pakistan ini disebut sebut sebagai karya masterpiece dari arsitek Pakistan. dari segi ukuran dan kapasitas nya masjid ini tidak hanya terbesar di Pakistan tapi juga disebut sebut sebagai masjid terbesar ke tujuh di dunia.

Peresmian masjid ini dilakukan oleh Mantan Presiden Pakistan president Asif Ali Zardari. yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1435H tentu saja dihadiri oleh para pejabat tinggi Lahore dan Bahria serta puluhan ribu jemaah muslim setempat, termasuk walikota Bahria, Malik Riaz Hussain, bersama sama dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat sipil dan militer. Sholat Idul Adha hari itu dipimpin oleh Allama Shamsul Arfeen, selaku imam Besar Masjid Agung Bahria.

Salah satu sudut interior Masjid Agung Bahria

Walikota Bahria dalam sambutannya menyatakan kebanggaanya dengan Masjid Agung Bahria yang disebutnya merupakan satu identitas Bahria serta simbol kemegahan Pakistan di dunia Islam.

Arsitektur Masjid Agung Bahria

Rancangan Masjid Agung Bahria terinspirasi dari Masjid Badshahi, Masjid Wazir Khan dan Masjid Syeikh Zayed. Pembangunannya ditangani oleh Arsitek dari departemen arkeologi Pakistan, Maqsood Ahmed, Nayyar Ali Dada & Arfan Ghani. Sejak pembangunan hingga diresmikannya, masjid ini telah menyita perhatian karena ukurannya yang luar biasa besar. dan kini setelah diresmikan masjid ini dengan sendirinya menjadi landmark bagi kota Bahria dan menjadi tambahan landmark bagi negara Pakistan.

Masjid Agung Bahria memiliki 21 Kubah masjid ini terdiri dari satu kubah utama yang dikelilingi 20 kubah berukuran lebih kecil. Dilengkapi pula dengan pelataran tengah yang dikelilingi koridor tertutup diapit oleh empat menara tinggi yang menjulang setinggi sekitar 50 meter (165 ft), dari luasan area, masjid ini merupakan masjid terbesar di Pakistan.

Masjid Agung Bahria

Kubah utama masjid ini mencapai ketinggian 45 meter (150 ft) di hias dengan lapisan ukiran bermotif tumbuh tumbuhan serta kaligrafi bergaya dinasti Mughal. Material bangunan masjid ini banyak menggunakan batu merah (sandsatone) untuk bagian ekteriornya, bahan yang sama yang digunakan di Masjid masjid tua era dinasti Mughal termasuk Masjid Badshahi dan Masjid Wazir Khan.

Interior masjid ini cukup mengagumkam menampilkan perpaduan seni bina bangunan tradisonal Islam dengan kultur Islam Pakistan. Kaligrafi masjid ini menggunakan pola yang sama dengan masjid Badshahi sedangkan keramik di dalam masjid ini meniru Masjid Wazir Khan dan ada delapan jenis pualam berbeda yang menghampar di bawah kubah utama masjid ini.

Karpet yang menghampar di dalam masjid ini merupakan karpet buatan tangan yang di pesan khusus dari Turki. selain itu ada 50 lampu gantung di dalam masjid ini yang di import dari Iran menghadirkan sentuhan suasana Islami yang mendalam.

Masjid Agung Bahria

Penataan ekterior masjid ini melibatkan para tukang tukang batu senior yang ahli mengolah batu merah termasuk mengukir batu batu tersebut dalam bentuk bentuk geometris Islami dan pola pola floral, ditambah dengan para pemahat muda yang telah diberikan pelatihan. ada sekitar 4 juta keping keramik ukiran tangan berukuran masing 2.5 inci menghias ekterior masjid ini. Butuh waktu empat tahun untuk menyelesaikan seluruh kepingan tersebut.

Lantai masjid ini seluruhnya ditutup dengan batu pualam dan ruangan dalam masjid ini dilengkapi dengan penyejuk udara. Ruang utama masjid dan area pelatarannya dipergunakan bagi jemaah pria sedangkan khusus untuk jemaah wanita disediakan tempat khusus di lantai dua bangunan utama masjid. selain itu juga dilengkapi dengan gedung sekolah dan ruang galeri yang ditempatkan di lantai dasar masjid.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga
           

Sabtu, 30 September 2017

Masjid Ferhat Pasha Banjaluka Bosnia & Gerzegovina

Masjid Ferhat Pasha Setelah rekonstruksi

Masjid Ferhat Pasha ini menjadi salah satu saksi bisu etnic cleansing terhadap muslim bosnia yang terjadi di Banjaluka di tahun 1993. Upaya pembersihan muslim di Banjaluka dan di wilayah Bosnia Herzegovina lainnya akan dikenang selamanya sepanjang sejarah peradaban manusia sebagai tindakan biadap secara massif yang terjadi di era Modern Eropa di penghujung abad ke 20.

Masjid Ferhat Pasha adalah Masjid Agung di kota Banjaluka, Republik Federasi Bosnia & Herzegovina. Masjid ini dinamai Masjid Ferhat Pasha sebagai penghormatan kepada Sanjak-bey Ferhat-paša Sokolović yang merupakan Gubernur emperium Usmaniyah di wilayah Sanjak Bosnia. Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1579 dan merupakan salah satu warisan arsitektur terbaik dari abad ke 16 di Banjaluka.

Ferhat Pasha Mosque | Ferhat-pašina džamija
Kralja Petra I Karađorđevića, Banja Luka 78000
Bosnia dan Herzegowina



Seiring dengan runtuhnya Uni Soviet di tahu 1990-an, berbagai negara anggota federasi negara Soviet memproklamirkan kemerdekaan begitupun dengan negara negara sekutunya termasuk Republik federasi Yugoslavia yang terdiri dari beberapa negara bagian termasuk Bosnia & Herzegovina yang penduduknya mayoritas Muslim.

Upaya kemerdekaan negara negara bagian Yugoslavia mendapat pertentangan keras dari ernis Serbia yang merupakan etnis terbesar di Federasi tersebut yang pada ahirnya berujung kepada upaya paksa dengan tindakan brutal yang disebut oleh PBB dan dunia internasional sebagai tindakan “etnic cleansing” (pemberangusan etnis) dalam artian sebenarnya.

Muslim Bosnia & Herzegovina yang menjadi korban terparah dari malapetaka tersebut. Puluhan ribu jiwa atau bahkan lebih, terbunuh menjadi korban pembantaian brutal termasuk muslim di kota Banjaluka. Pada malam hari 7 Mei 1993 milisi Serbia menyerbu kota Banjaluka melakukan tindakan biadab tak terperi terhadap muslim Bosnia.

Tercatat sekitar 60.000 muslim bosnia dan minoritas Kroasia menjadi korban peristiwa itu termasuk yang di bantai, di tawan ataupun terusir dari Banjaluka dalam keadaan yang teramat memprihatinkan.

Masjid Ferhat Pasha sebelum dihancurkan oleh milisi Serbia.

Milisi Serbia juga melakukan bumi hangus terhadap semua yang berbau muslim di Bajaluka, menghancurkan rumah rumah yang ditinggalkan, membuldozer atau meledakkan masjid masjid di kota tersebut. Masjid Ferhat Pasha menjadi salah satu masjid yang menjadi sasaran penghancuran, masjid ini diratakan dengan tanah menggunakan bulldozer hingga tak bersisa sama sekali.

Rekonstuksi Masjid Ferhat Pasha

Bosnia & Herzegovina dan seluruh semenanjung Balkan kembali normal paska pengerahan pasukan perdamaian besar besaran oleh PBB. Muslim Banjaluka berangsur kembali ke kampong halaman mereka yang tersisa dalam puing puing reruntuhan termasuk masjid masjid tempat mereka beribah.

Dalam suasana damai yang baru pulih, muslim Banjaluka memulai kembali kehidupan mereka, bukan dari nol tapi dari titik minus dibawah nol. Mereka bahkan tak lagi memiliki tempat tinggal yang layak apalagi tempat ibadah. Bantuan dunia internasional mengalir ke wilayah itu untuk memulihkan situasi.

Empat belas tahun setelah dihancurkan oleh Milisi Sebia, Masjid Ferhat Pasha ini mulai di rekonstruksi. Pemerintah Turki yang kemudian mendanai proses rekonstruksi tersebut bersama dengan pemerintah Bosnia Herzegovina. Sebuah proses rekonstruksi yang tak mudah, membangun kembali sesuatu yang sudah sama sekali tak bersisa.

Masjid Ferhat Pasha saat ini setelah direkonstruksi

Penolakan Etnis Serbia

Rekonsruksi masjid ini bukan tanpa kendala. Upaya pertama untuk rekonstruksi sebenarnya sudah dilakukan di awal tahun 2001. Namun, lagi lagi etnis Serbia kembali berulah dengan menolak proses rekonstruksi hingga terjadi kerusuhan. Seorang jurnalis independen dari banjaluka mengatakan bahwa keadaan memang sudah berubah setelah perang namun masih jauh dari toleransi dan re-integrasi.

Dia menuliskan demikian sebagai saksi mata pada saat upacara peletakan batu pertama rekonstruksi masjid Ferhat Pasha, namun kemudian keadaan memanas dan berubah menjadi brutal ketika kendaraan bus yang ditumpangi Jemaah yang hadir dalam upacara tersebut di lempari dan dibakar masa perusuh etnis Serbia. Dia menuliskan dalam laporannya bagaimana nafas kebencian masih menggelora di Banjaluka.

Sembilan tahun rekonstruksi

Muhamed Hamidovic, mantan Pimpinan Fakultas Arsitektur Sarajevo yang memimpin proses restorasi. Sebuah proses yang tak mudah dimulai dengan mengumpulkan semua sketsa dan foto masjid sebelum dihancurkan, termasuk upaya beliau mengumpulkan kembali semua sketsa masjid ini yang pernah ia buat pada saat dia masih menjadi mahasiswa di masa Federasi Sosialis Yugoslavia termasuk sketsa rehab masjid tersebut paska gempa di tahun 1968 ditambah dengan semua digram, denah dan gambar teknik yang pernah dibuat dimasa itu.

Rekonstruksi adalah proses pembangunan kembali dengan (sedapat mungkin) menggunakan material asli dari bangunan yang telah dihancurkan. Tim rekonstruksi harus bekerja keras menjejak satu persatu setiap serpihan material masjid ini dengan melakukan wawancara kepada penduduk setempat. Satu persatu serpihan material itu dikumpulkan dari berbagai tempat yang berserakan di sekitar Banjaluka setelah 14 tahun penghancuran.

Interior Masjid Ferhat Pasha

Beberapa potongan batu bahkan ditemukan sudah berada di bengkel tukang batu, tertimbun timbunan puing dan sampah hingga di dasar sungai. Dan tidak semua material yang ditemukan tersebut masih dapat digunakan kembali karena sudah mengalami kerusakan parah.

Ada 3500 pecahan material yang ditemukan oleh tim rekonstruksi atau sekitar 65% dari bangunan masjid asli, sisanya tidak dapat ditemukan kembali. Dari sekian banyak pecahan tersebut hanya satu bagian yang ditemukan masih relative utuh berupa sebuah pilar masjid yang ditemukan oleh anggota klup penyelam banjaluka di dasar danau Banjaluka.

Satu persatu kepingan yang ditemukan diidentifikasi keterkaitannya dengan bangunan masjid Ferhat Pasha, anggota tim ini menggunakan arsip arsip dari era Usmaniyah untuk mengidentifikasi masing masing kepingan tersebut. Termasuk untuk mendapatkan material bangunan pengganti untuk bagian yang sudah tidak dapat ditemukan lagi.

Sebuah system computer dirancang khusus untuk memindai masing masing pecahan material tersebut untuk menentukan lokasinya tempatnya berada pada bangunan masjid Ferhat Pasha. Sedangkan lokasi asli masjid ini masih dapat dikenali dari landasan pondasi masjid yang masih tersisa termasuk juga kesaksian penduduk muslim setempat yang selamat dari malapetaka 1993.

Suasana peresmian pembukaan kembali Masjid Ferhat Pasha setelah rekonstruksi

Pembukaan Kembali Masjid Ferhat Pasha

Butuh waktu 9 tahun yang melelahkan untuk membangun kembali masjid Ferhat Pasha ini sesuai bentuk aslinya dan menggunakan sebagian besar material aslinya. Dan hasilnya memang cukup menakjubkan, bangunan masjid ini kembali tampil di tempatnya berada dalam bentuk aslinya, menjadikannya sebagai bangunan hasil rekonstuksi terbaik dan terbesar di Balkan setelah rekonstruksi Jembatan Mostar yang begitu terkenal dan juga merupakan peninggalan Dinasti Usmaniyah dan dibuka tahun 2004.

Upacara pembukaan kembali masjid Ferhat Pasha dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2016.atau sekitar 23 tahun setelah masjid tersebut dihancurkan oleh milisi Serbia. Upacara pembukaan kembali masjid ini dihadiri setidaknya 20.000 orang yang tumpah ruah membanjiri sekitar masjid ini dalam haru biru.

Namun demikian, semua tak sama lagi. Dari puluhan ribu warga muslim Banjaluka sebelum perang, kini tersisa sekitar 8000 jiwa muslim saja di kota itu dibandingkan dengan 30.000 jiwa dimasa sebelum perang di tahun 1992.

Bagi Muhamed Hamidovic selaku ketua tim rekonstruksi masjid Ferhat Pasha beserta seluruh anggota tim-nya, selesainya proyek rekonstruksi ini merupakan sebuah kebanggaan dan kepuasan tersendiri dan tentu saja menjadi modal berharga bagi proyek rekonstruksi selanjutnya terhadap lebih dari 2.500 situs sejarah dan budaya yang hancur selama perang di Bosnia & Herzegovina dan tentu saja teramat membantu memulihkan situasi, suasana dan ingatan indah semasa sebelum perang.***

====================================
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam
==================================== 

Baca Juga


Minggu, 24 September 2017

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf Makassar

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf

Masjid Al-Markaz Al-Islami yang dikelola Yayasan Islamic Cenler ini merupakan masjid termegah dan terbesar di titik sentral kawasan timur Indonesia, kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Masjid yang monumental tersebut berdiri kokoh sebagai pusat peradaban dan pengkajian Islam serta mencerminkan kebanggaan dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan yang agamis, beradab, dan bernapaskan Islam.

Masjid megah ini dirancang oleh arsitek yang telah menggawangi pembuatan berbagai masjid besar, Ir. Ahmad Nu’man. Arsitekturnya terinspirasi dari Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Meskipun begitu, bentuk masjid tidak melupakan unsur arsitektur khas Sulawesi Selatan. Hal ini terlihat dari atap berbentuk kuncup segi empat yang mengambil ilham dari Masjid Katangka, Gowa masjid tertua di Sulawesi Selatan dan rumah Bugis-Makassar pada umumnya.

Masjid Al-Markaz Al-Islami (Islamic Center Makassar)
Jl. Masjid Raya No.92 C, Timungan Lompoa
Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90151



Secara keseluruhan, pondasi bangunan sangat kuat dengan 450 tiang pancang berkedalaman 21 meter. Untuk bagian atap digunakan bahan tembaga atau tegola buatan Italia. Dinding lantai satu menggunakan keramik, sedangkan lantai dua dan tiga menggunakan batu granit.

Dinding mihrab yang merupakan sentralisasi visual berbahan granit hitam berhiaskan ragam kaligrafi segi empat dari tembaga kekuning-kuningan. Kaligrafi ini terdiri dari beberapa ayat dan surat Al-Quran, di antaranya: “Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah”. Sementara itu, di atas mihrab tertulis surat Al-Baqarah: 144, “Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Masjid juga memiliki menara setinggi 84 meter, dengan ukuran 3 x 3 meter. Tinggi menara ini hanya kurang 1 meter dari menara Masjid Nabawi. Pada ketinggian 17 meter menara tersebut terdapat bak penampungan air bervolume 30 m3.

Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf

Keunikan lain masjid ini terletak pada namanya. Sejak akhir Desember 2005, melalui rapat pengurus Yayasan Islamic Center di Jakarta, disepakatilah nama Al-Markaz Al-lslami Jenderal M. Jusuf. Nama ini merupakan penghargaan terhadap mantan Ketua BPK (alm) Jenderal M. Jusuf, pencetus gagasan pembangunan kompleks masjid dan pendidikan Islam tersebut.

Namun, kala itu M. Jusuf meminta kepada pengurus agar tidak menggunakan namanya untuk masjid kecuali jika “waktunya sudah tepat”. Maka para pengurus menafsirkan bahwa M. Jusuf tidak menolak namun meminta penyematan nama tersebut dilakukan setelah beliau tiada.

Akhirnya disepakati, untuk sementara, nama yang digunakan untuk masjid yang berdiri di bekas kampus Universitas Hasanuddin itu adalah Masjid Al-Markaz Al-Islami (Masjid Pusat Islam atau Masjid Islamic Center). Masjid ini pun resmi digunakan sebagai Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam di Makassar.

Hingga kini nama Al-Markaz Al- Islami itu tetap dipertahankan dan akan dilengkapi dengan nama pemrakarsa dan pendirinya, yakni Jenderal M. Jusuf. Dengan demikian, masjid ini secara lengkap akan bernama Masjid Al- Markaz Al-Islami Jenderal M. Jusuf.

------------------------------------------------------------------------------
Follow akun instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 23 September 2017

Masjid Sunan Bonang Rembang

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang adalah masjid yang dipercaya dibangun oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang atau Maulana Makdum Ibrahim lahir pada tahun 1465 Masehi, salah satu dari sembilan Walisongo yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa khususnya pesisir timur pantai utara. Lebih tepatnya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Rembang Jawa Tengah.

Masjid Sunan Bonang berada di desa Bonang yang terletak dalam wilayah Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, masjid ini menjadi salah satu bukti dan peninggalan dari perjalanan dakwah Sunan Bonang di Rembang dan sekitarnya. Lokasi masjid ini saat ini sekitar 50 meter disebelah selatan makam Sunan Bonang.

Sebelum menjadi desa daerah ini merupakan sebuah hutan yang terkenal dengan sebutan Alas Kemuning. Di awal awal dibangunnya masjid ini, masyarakat setempat tidak menyebutnya masjid namun menyebut bangunan ini sebagai Omah Gede atau Rumah Besar karena bentuknya yang berupa sebuah bangunan berukuran besar. Masyatakat setempat kala itu merasa heran karena bangunan masjid ini disebut sebut berdiri secara tiba tiba ditengah hutan.

Masjid Sunan Bonang
Bonang, Lasem, Kabupaten Rembang
Jawa Tengah 59271. Indonesia


Bisa jadi karena memang sunan Bonang kala itu tinggal menyendiri di tengah hutan dan jauh dari masyarakat sekitar, sehingga tidak ada masyarakat yang mengetahui proses pembangunan masjid ini sampai kemudian mereka menemukan atau melihat bangunan tersebut pada saat sudah jadi, rampung atau sudah selesai sehingga terkesan terjadi dengan tiba tiba.

Dengan berdiriya sebuah masjid yang mereka sebut sebagai Omah Gede secara tiba tiba itu mereka menganggap terjadi karena karena kekramatan seorang wali kekasih Allah, menjadikan masyarakat sekitar menjadi heran, sebab dipandang sebagai kejadian yang aneh, sehingga masyarakat Bonang sangat ingin datang untuk melihat adanya masjid tersebut.

Namun demikian cerita tutur yang berkembang menyebutkan bahwa Sunan Bonang membangun masjid ini dalam waktu satu malam dan kekramatan beliau sehingga begitu banyak yang datang belajar dan berguru kepada beliau baik dari bangsa manusia maupun bangsa Jin.

Kala itu Sunan Bonang termasuk orang yang dituakan, sehingga rakyat disitu sangat tunduk dan menghormati akan kepribadian Kanjeng Sunan Bonang. Kesempatan yang baik itu beliau gunakan untuk bertabligh dan mengajarkan tentang maksud agama Islam. Mulai saat itulah para santri-santri berdatangan, baik mereka yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur atau Jawa Barat untuk berguru dan menimba ilmu dari Sunan Bonang.

Makam Sunan Bonang di Desa Bonang, Lasem

Keterbatasan sumber sumber tertulis terkait sejarah masjid ini, sehingga sampai saat ini belum diketahui dengan pasti tentang tarikh pendirian masjid ini. Sebagian besar sumber sejarah masjid ini beserta sejarah Sunan Bonang di Lasem berupa kisah tutur yang disampaikan turun temurun dari generasi ke generasi.

Makam Mbah Jejeruk

Masjid Sunan Bonang di Desa Bonang ini dipercaya sebagai masjid pertama yang dibuat oleh Sunan Bonang setelah beliau mendapatkan kewaliannya. Dari sekian banyak murid murid beliau yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, salah satunya adalah Sultan Machmud, Raja Minangkabau (di provinsi Sumatera Barat) belajar agama di masjid ini, sampai beliau wafat. Oleh masyarakat Bonang, Sultan Machmud dimakamkan di daerahnya. Sekarang, makam itu lebih dikenal dengan sebutan makam Mbah Jejeruk.

Masjid Keramat

Masjid Sunan Bonang di kecamatan Lasem ini sudah beberapa kali dipugar, namun demikian sisa-sisa kekeramatannya masih terlihat. Sumur yang ada di samping masjid, dikabarkan masih asli. Di dekat masjid itupun ada makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Sarido, imam masjid tersebut beserta keluarganya.

Menurut cerita, keangkeran masjid ini dapat dirasakan oleh sejumlah penduduk, sehingga tidak ada yang berani berbuat seenaknya sendiri. Kabarnya, seorang jemaah masjid pernah tidur di dalam masjid ini. Namun, ketika ia bangun, ia sudah berada di dekat salah satu makam yang ada di samping masjid. Berdasarkan penuturan masyarakat, jemaah masjid ini bukan hanya kalangan manusia. Konon, banyak pula bangsa jin yang menjalankan ibadahnya di masjid Sunan Bonang. Agaknya, mereka pun ingin mendapatkan karomah dari masjid ini.

Masjid Sunan Bonang

Menurut keterangan juru kunci makam Sunan Bonang, masjid ini memiliki dua bagian. Serambi depan direhab dengan arsitektur modern, untuk menampung jumlah jama'ah. Sedangkan bagian utama tetap dibiarkan asli tanpa perubahan. Namun tetap dirawat secara teratur.

Mimbar di Teras Masjid

Di teras masjid Sunan Bonang di Lasem, terdapat sebuah mimbar berukuran cukup besar dari kayu jati dan berukir indah. Menurut cerita, mimbar ini merupakan sumbangan dari seorang donator dari kabupaten Jepara untuk menggantikan mimbar lama di masjid Sunan Bonang.

Namun (masih menurut cerita) meskipun telah di ukur sedemikan rupa pada saat pembuatannya, dan di ukur berulang kali pada saat akan ditempatkan di tempatnya, mimbar baru ini ternyata tidak bisa masuk ke lokasinya di samping mihrab di dalam Masjid Sunan Bonang, itu sebabnya hingga kini mimbar baru tersebut diletakkan di teras masjid.

Mengenal Sunan Bonang

Nama lengkap Sunan Bonang adalah Raden Maulana Makdum Ibrahim beliau adalah putra dari Raden Rochmat (Sunan Ampel) dengan Ny. Ageng Manila (Dewi Tjondrowati) putri dari Raden Arya Tedja, salah satu tumenggung dari kerajaan Majapahit yang berkuasa di Tuban. Raden Makdum Ibrahim dilahirkan sekitar tahun 1465 M.

Raden Maulana Makdum Ibrahim sudah dikirim ayahnya untuk belajar ke Mesir sampai beliau berusia dewasa dan kembali ke tanah air. Beliau kemudian mengabdikan ilmunya di pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya. Sampai kemudian beliau memulai memulai kehidupan baru dengan membuka hutan belantara Alas Kemuning yang kini dikenal dengan nama Desa Bonang.

Masjid Sunan Bonang

Di Alas Kemuning beliau membina pengajaran Islam kepada masyarakat setempat sampai kemudian nama beliau dikenal hingga ke berbagai daerah, santri berdatangan untuk berguru kepada beliau. Disebutkan juga bahwa beliau juga pernah belajara agama di kerajaan Samudera pasai di masa kejayaan Majapahit, itu sebabnya beliau juga dikenal sebagai tokoh yang mulai memasukkan pengaruh Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Raden Ibrahim Sunan Bonang menjadi Muballigh dan Imam di wilayah pesisir sebelah utara, mulai dari Lasem sampai Tuban. Disanalah Sunan Bonang mendirikan pondok-pondok sebagai tempat penggemblengan para santri dan muridnya. Sebagian riwayat mengatakan bahwa Sunan Bonang tidak menikah sampai beliau wafat, tetapi dalam riwayat lain menyebutkan bahwa R. Ibrahim Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari R. Jaka Kandar serta mempunyai keturunan satu yang bernama Dewi Rukhil.

Dewi Rukhil menikah dengan Sunan Kudus Ja’far Shodiq. Dari pernikahan Ja’far Shodiq dengan Dewi Rukhil binti Sunan Bonang lahirlah R. Amir Khasan yang wafat di Karimunjawa dalam status jejaka. Raden Maulana Makdum Ibrahim Sunan Bonang wafat tahun 1525M, dalam usia kurang lebih 60 tahun, dimakamkan di rumah kediaman beliau (Ndalem) di desa Bonang Lasem. Setengah riwayat menyebutkan bahwa makam beliau terletak di Tuban, ada pula yang mengatakan di Madura.***

Baca Juga