Tampilkan postingan dengan label Masjid di Afrika Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Afrika Barat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2019

Masjid Eyup Sultan Bamako, Mali


Masjid Eyup Sultan Bamako, masjid pertama dan satu satunya dibangun dengan sentuhan arsitektur Usmani di Republik Mali dan Afrika Barat.

Mali adalah sebuah Negara republic di benua Afrika bagian barat, wilayahnya terkurung di daratan tak memiliki akses ke laut. Ibukotanya berada di Bamako dan memiliki berbagai macam bahasa dari beberapa suku bangsa besar di Negara itu, mereka tidak menjadikan bahasa Prancis sebagai bahasa nasional meskipun pernah dijajah Prancis hingga tahun 1960.

Mali merupakan Negara dengan wilayah terluas kedua di Afrika Barat, berbatasan dengan Aljazair di sebelah utara, Niger di timur, Burkina Faso dan Pantai Gading di selatan, Guinea di barat daya, serta Mauritania di barat. Perbatasannya di sebelah utara memanjang ke tengah gurun Sahara. Mayoritas penduduknya tinggal di wilayah selatan, di mana terdapat Sungai Niger dan Senegal. Negara yang dahulunya bernama Sudan Prancis ini mengambil namanya dari Kekaisaran Mali yang pernah Berjaya di wilayah itu hingga ke wilayah Negara Negara tetangganya saat ini.


Mali juga begitu terkenal dalam sejarah dunia dan sejarah Islam. Suku Tuareg dan suku suku besar lainnya di Mali terkenal dalam sejarah sebagai para penguasa gurun yang tangguh, mereka juga dikenal sebagai para penyebar Islam di wilayah Afrika Barat. Kekaisaran Islam Mali dicatat dalam sejarah sebagai kerajaan dengan raja yang terkenal “Mansa Musa” dicatat dalam sejarah sebagai raja terkaya di dunia.

Timbuktu yang merupakan wilayah provinsi terluas di sebelah utara Mali sangat terkenal dalam sejarah dunia sebagai wilayah yang memiliki “masjid dan madrasah Sanakore” yang terkenal sebagai “bangunan madrasah tertua di dunia” dan masih berdiri dan berfungsi hingga saat ini. Negara ini juga terkenal dengan keindahan bangunan bangunan masjidnya yang dibangun dari lumpur, salah satunya adalah “Masjid Agung Djene” salah satu masjid agung yang dibangun dari lumpur terbesar di dunia.

Jemaah yang membludak hingga ke pekarangan masjid pada saat upacara peresmian masjid Eyup Sultan di Bamako.
Namun, seiring perjalanan sejarah, Mali tak semegah masa lalunya sebagai sebuah kekaisaran besar. Pemerintah Republik Mali sempat kewalahan menghadapi pemberontakan di wilayah utara di Propinsi Timbuktu. Pada 20 Desember 2012, untuk membantu Mali merebut kembali wilayah utara negeri itu yang kini dikuasai kelompok pemberontak Islam, Dewan Keamanan PBB, menyetujui pengiriman pasukan militer Afrika.

Turki adalah salah satu Negara Eropa yang turut mengirimkan kontingen pasukan perdamaiannya ke Mali untuk menjaga perdamaian di wilayah utara Negara itu. Tak hanya mengirimkan pasukan perdamaian, Turki juga menjalin kerjasama yang intensif dengan pemerintah Mali termasuk diantaranya adalah pembangunan Masjid di ibukota Negara Mali, Bamako sebagai bentuk kepedulian pemerintah dan rakyat Turki kepada saudara sesama muslim di Mali.

Masjid Eyup Sultan dari arah depan.
Pembangunan Masjid Eyup Sultan Bamako.

Masjid Eyup Sultan yang satu ini adalah Masjid yang berada di distrik Hamdalaye Aci, kota Bamako, ibukota Republik Mali, di Benua Afrika Bagian Barat. Di google map ditandai dengan nama Centre Islamique de Hamdallaye. Masjid ini dibangun oleh pemerintah Turki dan dinamai dengan nama Masjid Eyup Sultan sama dengan nama salah satu masjid megah di Instanbul. Pembangunannya dilaksanakan melalui direktorat urusan agama Turki (Diyanet) yang menangani secara langsung pembangunan masjid di ibukota Mali tersebut.

Upacara peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan pada tanggal 8 Desember 2012, dihadiri oleh Direktorat Urusan Agama Turki, kepala proyek sister city project Bamako-Istanbul, mufti Istanbul, Imam masjid Eyup Sultan Istanbul dan perwakilan dari pemerintahan kedua Negara. Pembangunan masjid ini seleasi dalam waktu 10 bulan sebagaimana direncanakan, dan diresmikan setahun setelah peletakan batu pertama.

Majid Eyup Sultan saat dalam proses pembagunan.

Masjid megah ini diresmikan oleh Mehmet Gormez, Kepala Direktorat Urusan Agama Turki bersama dengan Oumar Tatam Ly, Perdana Menteri Mali, pada hari Jum’at tanggal 6 Desember 2013. Peresmian tersebut turut dihadiri oleh Mamoud Dicko selku pimpinan Majelis Tinggi Islam Mali, Rahmi Yaran selaku Mufti Distrik Eyup provinsi Istambul, Kemal Kaygisiz, Duta besar Turki di Mali dan Ahmet Kavas, Duta Besar Turki di Chad. Kedatangan para pejabat Turki ini disambut dengan karangan bunga dan sajian buah kakao sebagai bentuk keramahan rakyat Mali.

Dalam upacara peresmian masjid ini, mufti distrik Eyup, provinsi Istanbul sempat menuliskan kalimat “Sangat berarti untuk membangun masjid di Negara yang lebih dari 70% penduduknya hanya punya mimpi mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di rumah rumah orang kaya. . . mereka, melalui masjid ini, akan bebas dari keterbaian dan perbudakan dan akan mendapatkan semangat religi mereka yang sudah hancur . . . mereka datang ke kehidupan, berdiri diatas kaki mereka sendiri dan Mali akan menjadi Negara yang benar benar merdeka . . . “

Peresmian masjid yang bertepatan di hari Jum’at itu juga ditandai dengan pelaksanaan sholat jum’at berjamaah yang diikuti oleh seluruh pejabat dari kedua Negara yang hadir dan Jemaah muslim yang memadati masjid tersebut mengikuti upacara peresmian yang bersejarah tersebut. 

Pembangunan masjid bergaya Turki di ibukota Mali dan sepenuhnya di danai oleh pemerintah Turki sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan kerjasama antara kedua negara di berbagai bidang termasuk di bidang politik, budaya dan pendidikan. Dimulai dari kerjasama dari lembaga Islam kedua negara. Upaya mempererat hubungan antara kedua Negara juga ditandai dengan kerjasama Istanbul dan kota Bamako sebagai sisters city (kota kembar).

Masjid Berarsitektur Usmani Pertama di Afrika Barat

Masjid Eyup Sultan Bamako menjadi masjid Turki pertama di Mali sekaligus juga masjid pertama di Afrika Barat dengan rancangan khas Turki Usmani. Masjid ini dibangun dengan gaya turki usmani yang sangat kental lengkap dengan kubah besar berlapis tembaga di atap masjid dan menara lancip yang menjulang setinggi 33 meter, juga dilengkapi dengan kubah tembaga.

Interior masjid Eyup Sultan Bamako, Mali.
Pembangunan masjid ini diperkirakan menghabiskan dana sebesar 1,9 juta Euro, seluruhnya ditanggung oleh pemerintah Turki melalui Diyanet. Dibangun diatas lahan seluas setengah hektar masjid ini mampu menampung 750 orang. Pembangunannya melibatkan sekitar 50 orang pekerja professional dari Turki dan Mali.

Bangunan masjid dibalut dengan batu pualam, carpet tebal menghampar di dalam masjid lengkap dengan dekorasi keramik Iznik dan pancuran khas Turki, material material tersebut langsung didatangkan dari Turki. Sejak selesai dibangun, masjid Eyup Sultan Bamako ini disebut sebut sebagai masjid paling indah di Mali.

Sepanjang sejarahnya, Mali tidak pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Ke-Khalifahan Usmaniyah Turki (Turki Usmani / Ottoman). Di masa ke-emasannya sekalipun wilayah ke-khalifahan hanya sampai di wilayah utara benua Afrika. Wajar bila tidak ditemukan bekas peninggalannya di wilayah Mali. Dan wajar pula bila pembangunan masjid ini oleh pemerintah Turki selaku penerus kekuasaan Turki Usmani, termat bermakna bagi kedua Negara.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga

Minggu, 26 Maret 2017

Islam di Sierra Leone

Masjid Muammar Khadafi, di Free Town.

Republik Sierra Leone, adalah Negara republik di pantai barat benua Afrika, berbatasan langsung dengan Guyana di utara hingga ke timur, Liberia di timur hingga ke selatan, sementara sisi baratnya menghadap ke Samudera Pasifik. Nama Sierra Leone diberikan oleh bangsa Portugis pimpinan Pedro de Sintra yang mendarat di wilayah ini pada tahun 1462 dan memberi-nya nama Sierra Leoa yang bermakna “pegunungan singa”. Portugis menjadikan wilayah temuannya ini sebagai pusat perdagangan budak.

Sierra Leone beribukota di Freetown (kota merdeka) yang didirikan pada tanggal 11 Maret 1792 ditandai dengan berdirinya sebuah perusahaan milik pribumi dan menjadikan kota baru tersebut sebagai rumah bagi para mantan budak yang sudah merdeka atau di-merdeka-kan oleh Inggris, itu sebabnya kota baru tersebut kemudian diberi nama “Free-Town”. Tahun 1808 Freetown menjadi koloni kerajaan Inggris dan tahun 1896 wilayah ini berubah menjadi wilayah protektorat kerajaan Inggris.

Sierra Leone beriklim tropis, dengan sebaran lahan dari padang savanna hingga ke hutan hujan tropis. Negara ini memiliki luas keseluruhan 71,740 km2 dan terbagi ke dalam empat wilayah, masing masing adalah the Northern Province, Eastern Province, Southern Province dan the Western Area. Ke empat wilayah propinsi ini dibagi lagi menjadi empat belas distrik, masing masing distrik memilki pemerintahan local yang disebut sebagai dewan distrik, dikepalai oleh ketua dewan.

Peta Siera Leone

Sierra Leone memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup memadai, terdiri dari pertambangan intan yang menjadi penunjang utama perekonomiannya, negara ini juga terkenal sebagai penghasil Kristal Rutil terbesar di dunia, bauxite dan titatium, memiliki pelabuhan alam terbesar ketiga di dunia yang melayani pengapalan berbagai produk dari berbagai penjuru dunia, namun tak mampu mengangkat kehidupan rakyatnya yang 70% hidup dibawah garis kemiskinan.

Meski begitu, Sierra Leone tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat toleransi beragama yang sangat tinggi. Nyaris tak pernah terdengar kasus kericuhan masalah agama di Sierra Leone. Muslim dan Kristen disana memiliki interaksi yang sangat baik satu dengan yang lainnya. 

Islam di Sierra Leone

Sejak tahun 2008 lalu, agama Islam telah benar benar menjadi agama bagi mayoritas penduduk di Sierra Leone. 75 persen dari total penduduk Sierra Leone telah memeluk agama Islam. Ini merupakan lonjakan yang luar biasa bila dibandingkan dengan data tahun 1960 yang hanya 30 persen dari total penduduk.

Ada dua etnis besar di Sierra Leone dari keseluruhan 18 etnis disana, dua etnis besar tersebut adalah etnis Temne dan setnis Mende. etnis Temne merupakan etnis utama di wilayah utara Sierra Leone dan sebagian besar dari mereka beragama Islam. 9 dari 16 etnis lainnya juga mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam.

Lokasi Siera Leone di benua Afrika

Di abad ke 18 suku suku yang berbahasa Fulani dari wilayah Fouta Djallon (kini masuk wilayah Guyana) memberikan pengaruh yang sangat besar bagi ke-Islaman etnis Tenme di bagian utara Sierra Leone. Selama penjajahan Inggris, penyebaran Islam secara tidak langsung terbantu dengan penyebaran perdamaian dan hubungan perdagangan. Upaya Kristenisasi yang dilakukan selama masa penjajahan ternyata sama sekali tidak efektif.

Bangsa Eropa yang menghancurkan struktur tradisional masyarakat disini, memperkenalkan ide ide sosial dan pendidikan yang sama sekali baru, membuka perdagangan, dan menarik migrasi penduduk dari berbagai daerah di Afrika untuk mengembangkan kota dengan sendirinya secara tidak langsung turut memperkenalkan Islam sebagai sebuah bentuk otoritas dan sebagai bentuk ekspresi persatuan antara para pendatang dan pemukim sebelumnya.

Islam terus mengalami perkembangan di Sierra Leone sejak kemerdekaan mereka di tahun 1961. Populasi umat Islam disana pada tahun 1960 ada sekitar 30 persen dari jumlah penduduk namun melonjak dua kali lipat menjadi 60 persen di tahun 2000. Dan hasil sensus tahun 2008 menunjukkan lonjakan yang luar biasa hingga mencapai 71% atau sama dengan 4,059,000 jiwa.

Sejauh ini muslim Sierra Leon mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah haji ke tanah suci sebagai akibat jarak yang terbentang begitu jauh serta biaya yang relative sangat mahal untuk kebanyakan muslim Sierra Leon, diperparah lagi dengan perang saudara yang tak berkesudahan di Negara tersebut.

Di Kota Freetown berdiri megah sebuah masjid yang dibangun oleh Muammar Khadafi, (mantan) presiden Libya, sebagai hadiah bagi muslim Sierra Leone. Masjid Muammar Khadafi di Freeetown ini diresmikan pada tanggal 14 Agustus 2009. Bangunan masjid megah dilengkapi dengan plaza terbuka dan penataan landscaping yang cukup apik. Masjid ini mampu menampung hingga lebih dari 5000 jemaah sekaligus.***


Minggu, 18 September 2016

Masjid Agung Ngaoundere Kamerun

Masjid Agung Lamido, di kita Ngoundere, Kamerun

Ngaoundéré atau N'Gaoundéré adalah ibukota propinsi Adamawa di Kamerun. Kota dengan populasi 152,700 (sensus 2005). Kota ini merupakan ujung paling utara dari jalur kereta yang menghubungkannya dengan Yaoundé, Ibukota negara Kamerun. Kota ini terkenal dengan Istana Lamido dan Masjid Agung Lamido atau Masjid Agung Ngaoundéré.

Wilayah Ngaoundéré saat ini sebelumnya pernah menjadi ibukota Mbum. Namun kota yang kini ada merupakan kota yang didirikan oleh Etnis Fulani disekitar tahun 1835 oleh seorang pemimpin Etnis Fulani bernama Ardo Njobdi. Etnis Fulani berkuasa disini di abad ke 19 dan di tahun 1882 Ngaoundéré dikunjungi oleh Robert Flegel.


Ardo Muhammadu Abbo kemudian menandatangani perjanjian dengan penjelajah Jerman bernam Siegfried Passarge tahun 1894 dan serangkaian perjanjian dengan Jerman, Inggris dan Prancis, menempatkan daerah ini dalam pengaruh Prancis yang kuat. 

Tentara Jerman mencaplok kota ini dengan kekuatan penuh pada tanggal 20 September 1901. Pada 29 Juli 1915 kota ini menjadi ajang perang antara Jerman dan Inggris dalam perang dunia pertama di Kamerun. Namun ahirnya daerah tersebut jatuh ke tangan Prancis sampai ahirnya Kamerun memperoleh kemerdekaannya. 

Masjid Agung Lamdo

Masjid Agung Ngaoundéré

Masjid ini dibangun di lokasi yang sama dengan masjid sebelumnya yang lebih kecil. Denahnya merujuk kepada bentuk masjid masjid Afrika Utara pada era awal perkembangan Islam. Ruang sholat-nya berdenah segi empat memanjang dengan pintu masuk utama segaris lurus dengan mihrab.

Ruang sholat utamanya dibangun lebih tinggi dari ruangan disekitarnya, sejejeran jendela jendela kecil dibagian atas memberi ruang kepada sinar matahari masuk ke dalam masjid dengan cahaya yang tak telalu menyilaukan. Dua menara menjulang tinggi mengapit bangunan masjid.**

Baca Juga 


Minggu, 12 Juni 2016

Masjid Agung Touba, Senegal

Masjid Agung Touba merupakan Masjid dengan ukuran terbesar di Senegal. Menara tertinggi di masjid ini merupakan bangunan tertinggi di Senegal.

Touba adalah kota yang terletak sekitar 170 km disebelah timur kota Dakar dan juga kota terbesar kedua di Senegal setelah Dakar. Touba berasal dari bahasa Arab, yang berarti “kebahagiaan” yang dimaknai sebagai kebahagiaan yang membangkitkan kesenangan manis kehidupan kekal di akhirat. Touba juga dapat diartikan sebagai nama pohon di surga. Dalam Sufisme simbolik pohon merupakan aspirasi untuk kesempurnaan rohani dan mendekatkan diri dengan Allah.

Kota Touba merupakan pusat aktivitas Tharikat Mauridiyyah dan tempat pemakaman pengasasnya, Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba [1853-1927]. Di sebelah makam beliau kemudian dibangun sebuah masjid besar yang diberi nama Masjid Agung Touba, selesai dibangun tahun 1963 sekitar 40 tahun setelah kematian-nya. Masjid tersebut merupakan impian dari beliau yang disampaikan setahun sebelum kematiannya. Touba dikenal sebagai kota suci bagi muslim Senegal, khususnya bagi pengikut Tharikat Mauridiyyah.

Bulan kesiangan di atas masjid. Touba merupakan pusat dan kota suci bagi Tharikat Maouridiyyah yang didirikan oleh Syeikh Aamadou Mbake Bamba.

Di kota ini diharamkan segala bentuk mimuman keras, tembakau, menari, musik bahkan bermain game sekalipun. Touba memiliki status khusus sejak masa penjajahan Prancis dengan status sebagai kota otonom di berbagai bidang termasuk aspek kesehatan, sumber air, kebijakan publik, perekonomian, kepemilikan tanah, transportasi hingga lahan dan perumahan. Kehidupan di Touba didominasi oleh tradisi dan kebudayaan Islam. Sebuah tradisi ziarah Akbar tahunan, yang disebut Grand Magal, menarik perhatian satu hingga dua juta pengunjung dari seluruh Senegal, Eropa dan Amerika setiap tahunnya.

Masjid Agung Touba disebut sebut sebagai salah satu masjid terbesar di benua Afrika. Sejak selesai dibangun tahun 1963, masjid ini terus diperbesar dan diperindah. Masjid tersebut memiliki lima menara dan tiga kubah besar. Salah satu menaranya dibangun paling tinggi hingga 87 meter, pada bagian ujungnya dibuat menyerupai sebuah lentera, merujuk kepada Lampu Sheikh Ibrāhīma, salah seorang syekh yang berpengaruh di kota ini. Menara tersebut merupakan monumen paling terkenal di Senegal.

 

 Masjid Agung Touba dan Syekh Amadou Bamba

Merujuk kepada tradisi setempat, kota Touba pertama kali dibuka oleh Syekh Amadu Bámba Mbákke atau yang dikenal dengan nama Syekh Amadu Bámba [1853-1927]. Syekh Amadu atau Shaykh Ahmadu Bàmba Mbàkke atau Ahmad ibnu Muhammad ibnu Habīb Allāh atau Khadīmu r-Rasūl (pelayan Rosul) atau Sëriñ Tuubaa (Orang suci Touba), adalah seorang sufi yang sangat terkenal di Senegal. Ia juga seorang yang dihormati dan pendiri Tharikat Mauridiyyah. Beliau lahir di desa Mbacké (Mbàkke Bawol di Wolof) di wilayah kerajaan Baol, di Senegal. Putra dari seorang ulama Tharikat Qodiriyyah yang merupakan Tharikat tertua di Senegal. Beliau dikisahkan menerima petunjuk dari Allah swt dalam bentuk cahaya di bawah sebuah pohon pada tahun 1887.

Dulunya tempat tersebut sangat terpencil di rimba belantara. Kepopuleran Syekh Amadou membuat banyak orang mengunjunginya hingga berkembang menjadi sebuah kota dengan nama Touba. Hal ini membuat pemerintahan Perancis yang waktu itu menjajah Senegal cemas, sehingga sang syekh ditangkap dan dibuang ke Gabon [1895-1902] lalu ke Mauritania [1903-1907]. Strategi ini tidak berhasil, penahanan Syekh Amadou justru membuat para pengikutnya menjadi kian memujanya.

foto paling terkenal di Senegal. Foto Syeikh Amadu Bamba di abadikan oleh penguasa Prancis, beliau menutup sebagian wajahnya dengan sorban. Foto ini begitu terkenal di Senegal.

Pemerintah Prancis kemudian membebaskan beliau setelah yakin bahwa beliau dan pengikutnya tidak tertarik melakukan perlawanan terhadap penjajahan Prancis dengan cara mengangkat senjata. Di tahun 1918 pemerintah Prancis bahkan menganugerahinya Bintang kehormatan Legion atas jasanya mengizinkan pengikutnya membela Prancis dalam perang dunia pertama serta memberikan izin khusus kepadanya untuk mendirikan kota suci Touba.

Syekh Amadou Bamba kemudian berniat mendirikan masjid setahun menjelang ajalnya. Masjidnya baru berdiri pada tahun 1963, 40 tahun setelah Syekh Amadou meninggal. Yang menarik, begitu masjid berdiri, kota yang tadinya sangat terpencil berkembang menjadi kota besar. Penduduk yang awalnya kurang dari 5.000 jiwa di tahun 1964, di tahun 2007 berkembang menjadi 529.000 orang. Banyak sekali orang dari berbagai wilayah Senegal yang berziarah ke makam sang syekh. Syekh Aamadu Bámba kembali dari pengasingannya ke Kota Touba pada hari ke 48 setelah tahun baru hijriah, dan kini setiap tahun di hari tersebut diadakan peringatan Grand Magal, berupa ziarah akbar ke makam Syekh Aamadu Bámba yang di ikuti oleh jutaan pengikut Tharikat Mauridiyyah dari seluruh dunia.

Tharikat Mauridiyyah Memiliki pengaruh yang sangat kuat di Senegal bahkan hingga mendominasi ranah politik, pengikutnya tersebar hingga ke Paris dan New York city dan berbagai kota dunia, secara rutin mereka mengirimkan sejumlah uang kepada pemimpin mereka di Touba. Salah satu anggota Tharikat ini yang terkenal adalah Presiden Senegal Abdoulaye Wade yang menang dalam pemilihan presiden setelah mengalahkan pesaingnya Abdou Diouf dari Tharikat Tijaniyyah. Sehari setelah terpilih, Abdoulaye Wade langsung berangkat ke Touba untuk meminta restu dari Khalifah Tharikat Mauridiyyah, Serine Saliou Mbacke (Sëriñ Falilou, Khalifah kedua 1945-1968)

Sketsa komplek Masjid Agung Touba

Komplek Masjid Agung Touba

Di sekitar lingkungan masjid ini terdapat rumah kediaman dan makam dari para khalifah Tharikat Mauridiyyah termasuk Syaikh Bara Mbacké Khalifah keenam Tharikat Mauridiyah dan yang pertama bukan keturunan dari Aamadu Bamba Mbàkke. Selain itu di komplek masjid ini juga terdapat perpustakaan, gedung pertemuan dan pemakaman yang dikelola oleh Tharikat Mauridiyah. Saat ini Tharikat Mauridiyah dipimpin oleh Shaykh Sidy Mokhtar Mbacké yang merupakan Khalifah ketujuh sekaligus merupakan khalifah kedua yang bukan merupakan keturunan dari sang pendiri, Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba.

Komplek masjid Agung Touba ini terbilang cukup unik, secara umum terbagi menjadi dua kawasan yakni kawasan masjid agung ditambah maosolium dan kawasan terbuka termasuk areal pemakaman. Konfigurasi tersebut dirancang sendiri oleh Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba selaku pendiri kota sekaligus pendiri Tharikat Mauridiyyah yang menyatukan dimensi fisik dan metafisik secara berkaitan. Bangunan Masjid Agung merupakan pusat dari keseluruhan komplek ini sekaligus menjadi titik pusat dari kota Touba secara keseluruhan.

Eksterior Masjid Agung Touba

Pembangunan Masjid Agung Touba sudah dimulai sejak tahun 1930 namun sempat terhenti karena pecahnya peang dunia pertama, dan baru selesai tahun 1963, sejak itu masjid ini terus diperluas dan diperindah. Perluasan yang paling berpengaruh adalah perluasan tahun 1980 yang menambahkan bangunan baru mengitari bangunan lama. Bangunan baru yang hampir seluruhnya di hias menggunakan material batu pualam di penghujung tahun 1990-an mengubah tampilan luar masjid ini secara signifikan.

Tiga kubah besar masjid ini di beri warna hijau, kubah terbesar nya menaungi ruang sholat utama di depan mihrab. Sedangkan dibawah kubah sebelah timur masjid atau disebelah kiri mihrab terdapat makam dari Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba yang tak henti hentinya diziarahi oleh para pengikutnya. Seperti sudah disinggung di awal tulisan tadi, Arsitektural paling menarik perhatian dari masjid ini adalah menara tertingginya yang dikenal dengan nama “Lamp Fall” setinggi 87 meter yang mendominasi pemadangan masjid dan sekitarnya bahkan seluruh kota Touba yang sepi dari gedung pencakar langit. Di cuaca cerah, puncak menara masjid bewarna hijau ini bahkan dapat dilihat dari jarak 15 Km atau lebih jauh dari itu. Menara masjid ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di seluruh negara Senegal.

Eksterior Masjid Agung Touba

Selain Masjid, di kawasan utama berdiri bangunan bangunan maosolium (Kubah makam) dari para mendiang petinggi Tharikat Mauridiyyah yang merupakan para keturunan Syeikh Aamadu Mbàkke Bamba serta para penerusnya. Di sebelah kanan Mihrab dibangun di luar dinding sisi kiblat masjid sebagai bangunan yang berdiri sendiri sejajar dengan arah kiblat, terdapat maosolium Sëriñ Mamadou Moustafa Mbacké, kahlifah pertama Tharikat Mauridiyyah (1927-1945). Maosolium Sëriñ Falilou, Khalifah kedua (1945-1968) dan Sëriñ Abdou Khadre, Khalifah ke empat (1989-1990). Di tempat tersebut juga terdapat Mushola kota.

Makam dari khalifah ketiga Sëriñ Abdoul Ahad (1968-1989), berada di halaman dalam gedung perpustakaan yang dibangun diantara mushola dan masjid, kemudian maosolium Sëriñ Murtada Mbacké yang wafat tahun 2004. Sejajar dengan kiblat masjid terdapat komplek pemakaman umum Touba yang merupakan salah satu elemen penting dari tipografi spiritual kota tersebut. Pemakaman ini merupakan tempat yang paling di idamkan oleh para pengikut Thariqat Mauridiyyah, meski ditempat manapun mereka menjalani hidupnya namun berkeinginan untuk dimakamkan di pemakaman tersebut bila mereka meninggal dunia.*** 

--------------------------------

Baca juga