Tampilkan postingan dengan label islam di himalaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islam di himalaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2019

Apakah Ada Masjid di Bhutan? (Bagian 2)

Meskipun google map mengkatagorikan masjid Jharna Jamma masjid ini sebagai masjid Bhutan, namun bila diperiksa secara seksama, lokasi masjid ini justru berada di sisi jalan yang masuk wilayah kota Jaigaon, India bukan di sisi jalan yang berada di wilayah kota Phuensholing yang merupakan wilayah Bhutan. Batas antara kedua negara ini berupa ruas jalan yang disebut boarder road.

Bila memasukkan kata kunci “Masjid di Bhutan” ke kolom pencarian google akan muncul tiga nama masjid yang langsung ditampilkan di google-map. Masjid ke-dua dari tiga masjid tersebut adalah masjid Jharna Jamma Masjid, menyusul dibawahnya ada Guabari Puran Mashjid. Kedua masjid tersebut akan kita ulas berikut ini.

JHARNA JAMMA MASJID 

Sama seperti Dantak Mosque yang dibahas pada postingan sebelumnya, kami juga nyaris tak menemukan hasil apapun terkait dengan Jharna Jamma Masjid ini. Bilae merujuk kepada data di google maps masjid ini berada di kota Jaigaon, provinsi Bengala Barat, India. Bukan berdiri di wilayah Bhutan. Akan tetapi mengapa pencarian google justru mengkatagorikan masjid ini sebagai masjidnya muslim Bhutan?.

Republika memberikan sedikit informasi tentang masjid ini. Dalam salah satu artikelnya, republika menyebutkan tentang Masjid Jaigaon yang menjadi tempat ibadah bagi muslim Bhutan. Meski Republika tidak merinci dengan tepat lokasi masjid ini dan menyebutnya berada di wilayah Bhutan meski menyandang nama Masjid Jaigaon, google map menunjukkan bahwa masjid ini berada di wilayah kota Jaigaon, India, bukan di wilayah kota Phuentsholing, Bhutan.

Sedikit informasi tambahan tentang masjid ini muncul di Youtube yang menampilkan suasana sholat Idul Fitri 1440H/2019 yang baru lalu. Ruangan masjid ini tampak cukup luas meski sangat sederhana. Ruang mihrabnya ditandai dengan tirai kain, sedangkan mimbarnya hanya berupa undakan kecil untuk membuat khatibnya berada di posisi lebih tinggi. Khutbahnya disampaikan dalam bahasa arab. setelah sholat Idul Fitri dilanjutkan dengan semacam ceramah dalam bahasa setempat, pengumpulan infak sodaqoh dan Sholawatan.

Apakah Jharna Jamma Masjid ada di Bhutan

Kota Jaigaon di provinsi West Bengal (Benggala Barat), India, memang berbatasan langsung dengan kota Phuentsholing di wilayah Bhutan. Kedua kota ini merupakan kota perbatasan antara kedua Negara, diantara keduanya terdapat satu ruas jalan yang disebut Indo-Bhutan Road. Di sisi timur ruas jalan ini merupakan wilayah kerajaan Bhutan sedangkan di sisi barat ruas jalan merupakan wilayah Repuplik India. Dan masjid Jharna Jamma Masjid ini berada di sisi barat ruas jalan tersebut dan tentunya masuk ke dalam wilayah Republik India.

Hanya saja memang, untuk menuju ke masjid Jharna Jamma Masjid ini dari wilayah Bhutan sudah berbelok ke selatan sebelum tiba di gerbang perbatasan antara kedua Negara. Lokasi masjid ini berada sekitar 850 meter di sebelah selatan gerbang perbatasan antara Bhutan dan India.

Jharna Jamma Masjid
Jaigaon, Bengala Bar. 736182, India


Satu satunya informasi tentang bentuk masjid ini di dapat dari unggahan Rezak Ali google map pada bulan Oktober 2014. Menunjukkan bangunan masjid sederhana namun permanen, dua lantai lengkap dengan dua menara ramping di atap masjid. Tampak dalam foto tersebut sepertinya suasana sholat hari raya. Ada tulisan Eid Mubarak di atas pintu masjid dan hiasan bendera bendera kecil yang dipasang di untaian tali sepanjang jalan dan ke bangunan masjid. Belum ada informasi sama sekali terkait tentang berapa Jemaah masjid ini, kapang dibangunnya dan bagaimana pengelolaannya.

GUABARI PURAN MASJHJID 

Masjid berikutnya atau yang ketiga yang dikatagorikan google sebagai masjid Bhutan adalah Masjid Guabari Puran Mashjid. Lokasi masjid Guabari Puran masdjid ini benar benar berada di dalam wilayah kota Jaigoan, terpuat sekitar 1,8 km sebelah barat dari gerbang perbatasan antara India dan Bhutan. Meskipun demikian, gerbang perbatasan antara India dan Bhutan ini dijaga oleh masing masing petugas ke dua Negara dan memberikan kemudahan bagi warga kedua Negara untuk melintas perbatasan.

Guabari Puran Mashjid
Guabari Main Road ,Jaigaon G.P II Jaigaon, Alipurduar Pin-736182 W.B,
Jaigaon, West Bengal 736182, India


Tidak ada foto tentang masjid ini baik di google map maupun sumber lainnya. Street view pun belum tersedia di dua masjid Jaigoan ini. Guabari pada nama masjid ini merujuk kepada nama tempatnya berada semacam nama kelurahan, dan nama yang sama juga digunakan untuk menyebut nama jalan yang melintas di depan masjid ini.

Bila benar bahwa dua masjid ini merupakan masjid tempat muslim Bhutan beribadah, sepertinya memang muslim disana kesulitan untuk mendirikan masjid di Negara mereka sendiri. Konstitusi Bhutan memang hanya mengakui dua Agama yakni Budha sebagai agama resmi dan agama Hindu meskipun Hindu dan melarang agama lainnya.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 23 Juni 2019

Menjejak Islam di Bhutan

Kerajaan Bhutan dikenal sebagai kerajaan Budha di sisi timur pegunungan Himalaya berbatasan dengan China di Utara dan India di Selatan. Kerajaan ini memiliki alam yang masih perawan dan mempesona dan kehidupan tradisional yang kuat hingga kerap kali digelari sebagai Kerajaan Shangri-La terahir di bumi.

Bhutan; The Last Shangri-La Kingdom

Bhutan merupakan salah satu dari sedikit Negara asia yang masih berbentuk kerajaan, bahkan bisa jadi menjadi satu satunya kerajaan yang masih eksis di bumi dengan tatanan tradisionalnya yang masih sangat kental. Modernisasi nyaris tak menyentuh kerajaan ini, namun penduduknya terkenal sebagai rakyat yang paling bahagia di Asia dan dunia. Indeks pembangunan negaranya didasarakan kepada indeks Gross National Happiness yang takkan ditemukan di GBHN Negara lain.

Wilayah kerajaannya terhimpit diantara India dan Tibet (yang kini dikuasai China). India menjadi satu satunya pintu masuk dan keluar dari Bhutan melalui kota Phuentsholing yang berbatasan langsung dengan kota Jaigaon di provinsi Benggala Barat, India. Perbatasan mereka di utara dengan Tibet sudah lama ditutup rapat sejak Tibet di kuasai China dan berujung sengketa perbatasan antara Bhutan dengan China.

Karena posisi strategisnya kota Phuentsholing menjadi ibukota perdagangan bagi Bhutan, bank Negara bahkan berkantor di kota itu. Gerbang perbatasan Bhhutan dan kantor imigrasi kedua Negara berdiri disana, meski penduduk kedua Negara memiliki hak istimewa dalam melintasi perbatasan, berbeda dengan pengunjung dari Negara lain yang harus mengurus izin yang cukup rumit untuk bisa masuk ke wilayah Bhutan.

Kehidupan masyarakat begitu kental dengan dogma agama Budha sebagai agama resmi Negara dan mereka sangat menghormati raja dan keluarganya. Alam mereka masih perawan, dengan landscape pegunungan Himalaya timur yang memukau, kehidupan sederhana pedesaan dapat ditemukan dibagian manapun Negara ini yang terkenal dengan ribuan kuil kuil kuno bertebaran dari puncak gunung hingga dinding dinding batu terjal pegunungan.

wilayah Kerajaan Bhutan berada diperbatasan antara China dan India.
Keindahan panorama kerajaan ini dipadu dengan kehidupan tradisional penduduknya tak pelak memuatnya mendapatkan julukan dengan berbagai nama negeri dongeng. Bhutan sendiri secara harpiah bermakna “Negeri Naga Petir’ sedangkan penduduknya menyebut Negara mereka “Rakyatnya menyebut kerajaan mereka sebagai “Druk Yul” yang berarti “Negeri Naga”, kamu akan dengan mudah menemukan gambar naga di bendera dan lambang kerajaannya. Dan diantara para pengelana dan pengembara tak segan segan menyebut Kerajaan Bhutan sebagai “The Last Shangri-La Kingdom” atau “Kerajaan Shangri-La terahir”

Angin perubahan di negeri Naga Petir

Raja Jigme Singye Wangchuk menjadi raja Bhutan terahir yang berkuasa dengan kekuasaan mutlak sebagai raja pemegang tampuk kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. Namun secara mengejutkan beliau mengumumkan akan melepaskan jabatannya di tahun 2008, tak hanya itu, beliau juga berencana memangkas kekuasaan absolut raja, membuka jalan bagi pemilihan umum untuk memilih perdana menteri dan DPR sebagai penggerak roda pemerintahan.

Keputusan yang diumumkannya di hadapan 8.000 penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa pedesaan pada 18 Desember 2005 dan disebarkan melalui harian Kuensel itu justru menuai keberatan dari rakyatnya yang mengkhawatirkan akan terjadinya praktek KKN oleh para pejabat dikemudian hari. Nyatanya, Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck, benar benar menyerahkan kekuasaan kepada putra tertuanya yang masih bujangan ditahun 2006.

Raja Jigme Singye Wangchuk sudah menjadi raja sejak usia 17 tahun menggantikan ayahandanya yang wafat di tahun 1972 sangat dicintai rakyatnya dan senantiasa hidup sederhana bersama ke empat istrinya, lebih suka tinggal di rumah kayu khas Bhutan ketimbang tinggal di Istana kerajaan di dalam benteng, tak pernah menjelaskan alasannya mundur dari kekuasannya sebagai raja yang harusnya berkuasa seumur hidup.

Thimpu, ibukota dan kota terbesar di Bhutan. Gedung tertinggi di foto itu adalah pusat pemerintahan Bhutan.
Dasho Jigme Khesar Namgyal Wangchuck kini memerintah kerajaan Bhutan yang sudah mulai menerapkan sistim demokrasi yang di inisiasi oleh ayahnya. Raja baru ini baru menemukan permasurinya di tahun 2011, pernikahan mereka menjadi Royal Weding yang menginspirasi kebahagiaan seisi negeri, foto pernikahan mereka bahkan diabadikan dalam uang kertas 100 ngultrum Bhutan.

Seperti Apakah Kerajaan Bhutan

Kerajaan Bhutan adalah salah satu dari sedikit Negara di dunia yang benar benar tidak pernah mengalami penjajahan oleh bangsa asing sepanjang sejarahnya. Wilayah mereka bahkan tak sempat tersentuh oleh silih bergantinya emperium besar yang pernah berkuasa di India maupun di China. Dinasti Islam Mughal yang merupakan dinasti Islam terbesar yang pernah berkuasa di hampir seluruh wilayah anak benua India itu pun, wilayahnya tak sampai menyentuh wilayah Bhutan.

Secara geografis, Bhutan hanya bertetangga dengan Tibet (China) di Utara dan India disebelah selatan. Muka buminya di dominasi pegunungan, mulai dari rata rata ketinggian 200 meter dari permukaan laut di sebagian selatan negaranya hingga ke ketinggian 7000 meter dari permukaan laut di bagian utara-nya yang merupakan sisi timur Himalaya. Tak salah bila menyebut kerajaan ini sebagai kerajaan gunung atau bahkan ada yang menjulukinya sebagai salah satu negeri diatas awan.

Luas keseluruhan wilayahnya hanya 38.394 km2 atau setara dengan luas daratan provinsi Sulawesi Tenggara (38.067 km2). Sedangkan jumlah penduduknya sebanyak 727.145 (tahun 2017) jiwa atau sekitar 20% lebih sedikit dibandingkan seluruh penduduk di provinsi Papua Barat (915.400 jiwa)

Gangkar Puensum (7,570mdpl) di Dochula pass merupakan puncak tertinggi di Bhutan. Gunung ini terkenal sebagai gunung yang belum pernah ditaklukkan manusia pendaki manapun.
Penduduknya diwajibkan menggunakan busana tradisional dalam kehidupan mereka sehari hari. Orang asing tidak dapat berkunjung ke Bhutan melalui agen wisata yang ditunjuk oleh pemerintah dengan prosedur yang cukup rumit dan tidak dapat bebas berkelana sesuka hati kecuali ketempat tempat yang sudah diatur. Budha Vajrayana yang dianut oleh 74.8% penduduk merupakan agama resmi satu satunya yang diakui oleh Negara, disusul kemudian oleh Hindu (22,6%) yang menjadi minoritas utama di Negara itu. Ajaran Budha memang sudah dikenal oleh masyarakat Bhutan sejak abad ke 7 Miladiyah.

Adakah Muslim di Bhutan?

Sedikit sekali informasi yang tersedia mengenai keberadaan muslim di Bhutan. Kebijakan negaranya yang semi tertutup turut andil kepada kurangnya informasi menyangkut hal itu.   Menurut Adherents,com, muslim di Bhutan mencapai 5%. Sedangkan CIA factbook mengklaim bahwa ummat islam di Bhutan hanyalah kurang dari 1% dari total penduduknya di tahun 2009. Sedangkan lembaga riser Pew Reseach Centre memperkirakan bahwa muslim di Bhutan ada sekitar 1% atau sekitar 7000 jiwa dari keseluruhan penduduk negara terebut.

Perkembangan Islam di Bhutan cukup menarik bila mencermati data dari Pew Reseach Forum  yang menyebutkan bahwa pada 1990 terdapat sekitar 6.000 Muslimin di Bhutan. Kemudian, pada 2010 meningkat menjadi 7.000 jiwa dan pada 2030, diprediksi akan meningkat menjadi 9.000 jiwa.

Merujuk kepada republika, perkembangan Islam di Bhutan cukup sulit mengingat kebijakan Negara yang melarang dakwah Islam di wilayah Negara itu. Ditambah lagi dengan buruknya citra yang dimunculkan oleh media (barat) berdampak buruk terhadap pandangan masyarakat setempat terhadap Islam.

Haa Valey atau lembah Haa, salah satu landscape Bhutan yang menawan.
Menurut US Library of Congress, komunitas Muslim Bhutan baru mulai terlihat eksis pada 1989. Angkanya sangat kecil dan tak banyak mendapatkan hak kebebasan beragama. Sebagai negara yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, Bhutan tak banyak menerapkan kebebasan beragama bagi rakyatnya. Namun seiring dengan mulai diterapkannya sistim demokrasi, Bhutan mulai mengakui keberadaan agama Hindu disana sedangkan pemeluk agama lainnya termasuk Muslim Bhutan masih harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan resmi dari Kerajaan.

Meski Islam tak diakui, bukan berarti Islam dilarang. Muslimin hidup sebagaimana rakyat Bhutan pada umumnya. Mereka memiliki hak sebagai warga negara serta memiliki hak untuk bekerja. Tradisi vegetarian masyarakat Bhutan justru memudahkan muslim disana mendapatkan makanan halal.

Baiknya tatanan masyarakat yang sudah berabad abad hidup taat pada raja di kehidupan tradisional, ditambah lagi dengan kebijakan pemerintahnya yang telah sejak lama secara resmi melarang peredaran tembakau dan kebijakan lain yang sejalan dengan ajaran Islam justru menjadi nilai tambah tersendiri bagi kehidupan muslim di Bhutan. Sehingga secara umum Muslim di Bhutan dapat menjalani kehidupan mereka dengan nyaman.

Namun demikian, dengan tidak diakuinya Islam oleh kerajaan berdampak langsung kepada tidak adanya organisasi induk yang mengayomi muslim disana, tidak ada lembaga verifikasi halal ataupun lembaga lembaga Islam lainnya yang menopang kehidupan muslim disana apalagi untuk mendirikan lembaga dakwah yang memang secara jelas dakwah Islam dilarang dinegara itu, dan sepertinya kebijakan itu juga berlaku bagi semua agama lain nya.***

Selanjutnya “Apakah Ada Masjid di Bhutan?”

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Minggu, 28 Januari 2018

Islam di Nepal

Lokasi Nepal diantara India dan China.

Merujuk kepada hasil sensus penduduk Nepal tahun 1991 penduduk muslim di Nepal menempati urutan ke 3 dengan jumlah populasi sebesar 591,340 jiwa dibawah pemeluk agama Hindu dan Budha. Setara dengan 3.8% dari keseluruhan penduduk Nepal. Angka tersebut ditengarai jauh lebih kecil dari angka sebenarnya.

Secara garis besar muslim Nepal dibagi ke dalam 4 etnis besar masing masing adalah Muslim India, Khasmir (Khasmiri), Tibet (Tibetan) dan Muslim asli Nepal (Nepali). Selain itu masih ada lagi muslim Nepal gunung yang memang tinggal di kawasan pegunungan, mereka merupakan keturunan dari orang tua campuran dan rata rata merupakan keturunan dari ibu yang merupakan orang Nepal gunung. Perbedaan etnis tersebut secara kasar dapat terlihat dari penampilan fisik mereka, bahasa sehari hari yang digunakan, budaya dan juga mereka memang tidak berbaur satu dengan yang lainnya.

Islam pertama kali diperkenalkan di Nepal oleh para saudagar Arab di abad ke 5 Hijriah/11 Masehi yang datang ke lembah Kathmandu untuk berniaga. Setelah itu sebagian tentara muslim dari pasukan Ikhtiyar Uddin Muhammad bin Bakhtiyar Khilji yang menginvasi Tibet di tahun 1206 pernah menjejakkan kaki di Nepal untuk beberapa waktu, Ikhtiyar Uddin adalah panglima pasukan Sultan Qutb uddin Aybak dari Kesultanan Delhi, yang menguasai kawasan barat laut India berpusat di Delhi.

Sedangkan muslim Kashmir (India) dipercaya sebagai muslim pertama yang bedomisili di Nepal. Gelombang pertama muslim Khasmir masuk dan menetap di Nepal pada masa kekuasaan Raja Ratna Malla (1482-1520) dari dinasti Malla.  Mereka merupakan para saudagar yang melakukan perdagangan dengan Tibet lalu juga berdagang di Nepal. Barang dagangan mereka berupa karpet, bahan bahan kulit binatang dan bahan bahan yang terbuat dari woll.

Jemaah sholat Ied di Masjid Kashmiri Takiya.

Kini muslim Khasmir di Nepal dikenal sebagai kalangan muslim terpelajar dan masuk dalam kelasnya para pebisnis sukses. Beberapa dari mereka bahkan sudah masuk ke dalam jajaran birokrasi dan politik. Muslim khasmir bahkan memiliki lahan pemakaman yang khusus diperuntukkan bagi muslim Khasmir (khasmiri) di daerah Shayambhu.

Kasta Masyarakat Nepal Paling Bawah

Gelombang kedua muslim India masuk ke Nepal dan tinggal di di wilayah Terai (perbatasan India dan Nepal) pada abad ke 19 tepatnya di tahun 1857M. Tahun 1857 wilayah Terai diakuisisi oleh Nepal di bawah Perdana Menteri Jung Bahadur bersama kerajaan Inggris. Hal tersebut sebenarnya upaya Inggris agar muslim tidak terkonsentrasi di India yang semakin membahayakan penjajahan Inggris atas India. Di bawah tekanan penjajah Inggris, Muslim di daerah perbatasan mengungsi ke wilayah Terai yang dijadikan wilayah Nepal. Sejak saat itu Muslim tunduk pada undang-undang Kerajaan Nepal tahun 1853 sebagai warga Negara dengan kasta terendah.

Sebagian besar muslim di wilayah Terai tersebut bukanlah pendatang namun menjadi bagian muslim Nepal karena 4 distrik territorial mereka yang tadinya merupakan wilayah India utara dimasukkan ke dalam teritori Nepal oleh Inggris sebagai hadiah untuk raja Nepal yang membantu Inggris dalam perang terhadap kerajaan Nawab dari Oudh yang ingin merdeka.

Muslim dari Tibet masuk ke Nepal awalnya juga untuk berdagang dan kemudian menetap di Nepal. Dalam sebuah kunjungan kenegaraan Raja Ratna Malla ke Lhasa, beliau juga mengundang para pengusaha muslim Tibet untuk membuka usaha di Kathmandu. Dan muslim pendatang dari Tibet bertambah di era 1960-an sebagai akibat gejolak politik di Tibet. Kini muslim Tibet yang ada di Nepal sudah berbaur dengan warga setempat baik bahasa, budaya hingga cara berpakaian merekapun sudah seperti orang Nepal. Muslim keturunan Tibet rata rata sukses, mereka masih melanjutkan bisnis dengan Tibet tanah leluhur mereka dan tentunya dengan China yang kini berkuasa di Tibet.

Masjid Jami Nepal.

Ketika Angin perubahan berhembus

Selama berabad abad lamanya muslim Nepal hidup dalam ketertindasan penguasa dan mengalami ketertinggalan hampir disegala bidang salah satu sebabnya adalah status sosial mereka yang berada di kasta paling bawah menyebabkan mereka tak memiliki akses ke dunia pendidikan hingga politik. Tahun 1951 kekuasaan rezim dinasti Rana Berahir. Raja baru kurang bersimpatik dengan Muslim karena dianggap orang orang dekatnya dinasti sebelumnya. Perubahan kondisi politik mulai terjadi di tahun 1959 dengan keluarnya konsitusi baru dan pembentukan pemerintahan yang dipilih secara demokratis dengan B.P. Koirala sebagai perdana menteri, namun kemudian sistim pemerintahan yang baru terbentuk ini dibubarkan oleh raja Mahendra setahun kemudian Dan menggantinya dengan sistim monarki terpimpin yang baru.

Namun sejak tahun 1960 itu pula tersebut raja Mahendra menghapus Undang undang tahun 1853 dengan menerbitkan undang undang baru yang mengangkat status kewarganegaraan muslim setara dengan warga negara lainnya. Meskipun UU tahun 1963 ini memberikan kebebasan beragama namun tetap melarang perpindahan agama (dari Hindu ke Islam) dan tetap melarang perceraian sebagaimana diatur dalam UU tahun 1853. Pelanggaran terhadap aturan tersebut akan dikenakan penjara selama 3 tahun. Raja Mahendra juga mengangkat satu orang wakil dari muslim untuk duduk di Dewan Perwakilan Nasional (Panchayat) dan tidak ada larangan bagi pendirian madrasah.

Perubahan politik Nepal terjadi lagi ketika Nepal bertransformasi dari system monarki Hindu kepada system demokrasi multi partai di tahun 1990 Perubahan tersebut juga memberi perubahan signifikan bagi muslim Nepal. Dengan keluarnya undang undang kesetaraan tanpa diskriminasi agama, ras, jenis kelamin, kasta, suku ataupun ideologi. Dan dengan sendirinya mengahapus superioritas Hindu selama berabad abad di negeri itu.

Hasilnya adalah 31 pemimpin muslim dapat ikut serta untuk pertama kali dalam kancah politik Nepal dengan ambil bagian dalam pemilu tahun 1991 dan lima dari mereka berhasil terpilih. Tiga dari mereka masuk dalam jajaran anggota kongres Nepal (dari partai komunis dan partai Sadbhavana) sedangkan Sheikh Idris yang menjadi anggota kongres juga masuk ke dalam jajaran kabinet.

Kashmiri Takiya.

Muslim Nepal kini sedang berjuang mendapatkan hak atas 10% jatah kursi di dewan perwakilan, kursi di parlemen dan meminta pengesahan hari besar Islam sebagai hari libur nasional. Lebih radikal lagi sekelompok muslim disana berjuang untuk mendapatkan identitas tersendiri bagi muslim Nepal. Segera setelah terjadi perubahan konstitusi tersebut, imam Masjid Jami Kathmandu memimpin satu delegasi menghadap Perdana Menteri K.P. Bhattarai mengajukan 14 poin permintaan.

18 Mei 2006 Parlemen Sementara Nepal mengesahkan undang undang baru yang secara tegas menyebutkan bahwa Nepal merupakan sebuah Negara merdeka, berdaulat dan Sekuler. Undang undang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Konstitusi Sementara di bulan Mei tahun 2007 yang menyatakan bahwa Nepal adalah sebuah negara yang Independen, invisible, berdaulat, sekuler dan inklusif serta Negara yang berdemokrasi secara penuh. Dewan perwakilan yang terpilih dalam pemilu di tahun tersebut harus mengesahkan hal teresebut.

Ancaman Terhadap Pimpinan Organisasi Islam Nepal

Salah satu organisai Islam di Nepal yang berupaya meningkatkan pendidikan ummat Islam Nepal adalah Persatuan Islam (islami Sangh), Sekretaris Jendral organisasi ini bernama Faizan Ahmad Ansari pada tanggal 26 September 2011 silam menjadi korban penembakan oleh dua orang pria bersenjata tak dikenal dan nyawanya tak tertolong. Kala itu beliau baru saja selesai menunaikan sholat di masjid yang lokasinya justru di depan pos polisi di kawasan metropolitan Kathmandu. Di bawah guyuran hujan deras dua pria berjas hujan memberondong beliau dengan peluru hingga tewas. Pembunuhan itu memicu protes dan kemarahan dari pendukung dan keluarga beliau. Beliau bukan satu satunya pemimpin muslim yang menjadi korban pembunuhan di Nepal, sebelumnya seorang pengusaha media muslim setempat, Jamin Sahah juga mengalami nasib serupa dalam waktu yang tak berselang terlalu lama.

Serangkaian pembunuhan dan percobaan pembunuhan terhadap tokoh tokoh muslim di Nepal mengundang kecaman dari berbagai pihak termasuk dari tokoh tokoh agama selain Islam di Nepal. Peristiwa tersebut berujung kepada pencopotan kepala kepolian Kathmandu dan pembentukan komisi penyidik kasus pembunuhan tersebut namun tak membuahkan hasil. Lebih jauh ummat Islam Nepal kini menuntut pengunduran diri wakil Perdana Meteri dan Menteri dalam Negeri Nepal sebagai bentuk tanggung jawab atas serangkaian pembunuhan terhadap tokoh tokoh Islam di negeri tersebut.

Al Qur’an berbahasa Nepal

Muslim Nepal kini bisa memiliki kitab suci Al Qur’an terjemahan bahasa Nepal sebagai upaya penyebaran dakwah di kalangan umat Islam di sana. Terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal mencakup 1.168 halaman, ditulis dengan tulisan Nepal dengan menyertakan ayat-ayat Al-Quran yang diterjemahkan dalam tulisan Arab. Untuk tahap pertama, terjemahan Al-Quran berbahasa Nepal dicetak lebih dari 5.000 eksemplar, 2.500 diantaranya dikirim ke New Delhi (India), Buthan, dan Myanmar hingga kemudian semakin banyaklah Muslim Nepal yang mengenal kembali Islam lewat ayat-ayat Al Qur’an dalam bahasa yang mereka pahami.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga