Tampilkan postingan dengan label Masjid di Daratan China. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Daratan China. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2013

Masjid Agung Xi’an - China

Masjid Agung Xi'an disebut sebut sebagai masjid tertua di China. Bangunan masjid yang benar benar menyerupai sebuah kelenteng namun untuk aplikasi yang berbeda dan dengan modifikasi berbagai ornamen khasnya ke dalam bentuk yang lebih Islami.

Xi’an adalah ibukota propinsi Shaanxi yang dulunya disebut Chang’an. Xi’an terletak di Huajue distrik, sekitar 120 km sebelah barat gunung Huashan, salah satu dari kelima gunung terkenal di negeri Cina. Xi’an juga merupakan pusat dari 12 dinasti yang ada di Cina. Di kota ini terkenal sebuah bangunan masjid tua yang sudah berumur lebih dari 1000 tahun dan disebut sebut sebagai masjid tertua di China yakni Masjid Agung Xi’an.

Masjid Agung Xi’an dibangun pada tahun 742 di tahun pertama pemerintahan Kaisar Tia Bo dari dinasti Tang (618-907). Mesk sudah berusia begitu tua masjid yang lebih mirip sebuah bangunan kelenteng ini masih berfungsi dengan baik hingga kini, dan pada tahun 1998 yang lalu menetapkan bangunan Masjid Agung Xi’an sebagai warisan Sejarah China.

Lokasi dan Alamat Masjid Agung Xi’an


Masjid yang beralamat lengkap di Huajue Xiang 30, Xi'an, Shaanxi ini buka setiap hari dengan waktu yang berbeda namun pada umumnya mulai pukul 8.00 waktu setempat. Para pengunjung non muslim diperbolehkan melihat masjid namun tidak bisa masuk ke ruang dalam masjid. Biaya masuk ke masjid ini adalah CNY12 (sekitar Rp16 ribu).

Sejarah Masjid Agung Xi’an

Masjid Raya Xi’an memiliki  beberapa varian nama diantaranya Great Mosque of Xian / Huajuexiang Mosque in Xian / Mosque on Hua Jue Lane / Huachueh Mosque / Hua Jue Xiang Mosque / Hua Jue Jiang Mosque / Qing Zhen Si. Masjid Xian ini sangat bercorak tradisional China dalam design dan artistiknya, kaya dengan warna-warni dan ukiran disegenap penjuru. Masjid Xian merupakan masjid paling awal dalam skala besar dan merupakan masjid paling baik pemeliharaan keaslian nya di China.

MAJID BENTENG. Masjid Agung Xi'an dibangun dengan denah menyerupai sebuah komplek kuil China dengan beberapa pavilion dengan keseluruhan komplek dikelilingi pagar tembok cukup tinggi dan dibagi bagi dalam empat bagian. Masing masing bagian dihubungkan dengan gerbang.

Menurut catatan sejarah pada ukiran kayu pada bagian interiornya, Masjid Agung Xi’an didirikan tahun 742 pada jaman Dinasti Tang [618 - 907], di tahun pertama pemerintahan kaisar Tian Bo. Tahun tahun ke’emasan jalur sutra, saat itu banyak pedagang dari Arab dan Persia mendatangi Cina melalui Jalur tersebut. Sumber lain menyebut-nya dibangun pada masa Kaisar Xuanzong, (685-762), dan kemudian di renovasi dimasa kekuasaan Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming.

Masjid Agung Xi’an dibangun semasa dinasti Ming berkuasa di China dimana elemen arsitektural asli china bersintesa ke dalam arsitektural bangunan masjid ini. Sebagaimana dengan masjid Raya di Hangzhou, Quanzhou dan Guangzhou, masjid Raya Xi’an memberikan kesan seolah olah sudah ada sejak awal abad ke 7. Namun sebenarnya masjid yang ada sekarang ini mulai dibangun tahun 1392 atau di tahun ke 25 kekuasaan dinasti Ming di China.

GERBANG DAN PENDOPO.
Konon masjid ini dibangun oleh Laksamana Cheng Ho, Seorang laksamana angkatan Laut  China di masa dinasti Ming. Beliau adalah seorang muslim yang gemar memakmurkan masjid. Beliau juga sudah menunaikan rukun Islam ke Lima (ibadah haji) itu sebabnya embel embel haji pun melekat pada namanya. Beliau terkenal dengan tindakannya memberantas bajak laut di laut China Selatan.

Perjalanan keliling dunia armada laut Laksamana Cheng Ho meninggalkan jejak di beberapa kota di Indonesa. Di Indonesia sendiri saat ini sudah berdiri 3 Masjid yang dibangun oleh Muslim Indonesia keturunan China dan nama masjid masjid yang didirikan itu di nisbatkan kepada sang laksamana sebagai penghormatan bagi diri nya. Yakni Masjid Cheng Ho Palembang, Masjid Cheng Ho Surabaya dan Masjid Cheng Ho Pasuruan dan segera menyusul masjid dengan nama yang sama di beberapa kota lainnya di Indonesia.

SENTUHAN ARAB terlihat pada ukiran kaligrafi di berbagai tempat di komplek masjid ini termasuk ukiran ayat ayat Al-Qur'an yang terpahat dengan indah di salah satu tembok dalam masjid ini

Sejak abad ke 17 Masjid Xi’an sudah mengalami beberapa kali proses rekonstruksi. Sebagian besar bangunan yang ada saat ini merupakan bangunan dari Dinasti Ming dan dan Dinasti Qing di abad ke 17 dan 18. masjid ini didirikan di Hua Je Lane di luar tembok kota yang dibangun semasa dinasti Ming. Daerah yang menjadi lingkungan jiao-fang bagi orang orang asing di sebelah barat laut kota Xi’an. Dan saat ini wilayah ini menjadi bagian dari kota Xian dengan bangunan Drum Tower yang sangat terkenal itu hanya terpisah satu blok dari masjid Raya Xi’an

Kemudian para pedagang tersebut menetap di beberapa kota seperti Guangzhou, Quanzhou, Hoangzho, Yangzhou, dan Chang’an atau Xi’an. Selain berdagang, mereka juga berdakwah, menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Penduduk kota Xi’an kala itu turut menikmati masa ke’emasan mereka di Xi’an dan membangun  masjid ini sebagai masjid di pertengahan Jalur Sutra dari Timur dan Barat.

Arsitektural Masjid Agung Xi’an

TAMAN di salah satu sudut komplek Masjid Agung Xi'an

Masjid Agung Xi’an ini dibangun dalam bentuk bangunan tempat ibadah tradisional China. Makanya tidak heran bila tidak teliti, siapapun akan mengira bangunan ini adalah bangunan Kelenteng lengkap dengan beberapa halaman pavilion dan pagoda. Namun setelah masuk ke kawasan masjid kita akan menemukan kaligrafi Al-Qur’an yang bertebaran di masjid ini.

Masjid Raya Xi’an menyerupai bentuk kuil Budha era abad ke 15, dengan poros tunggal sejalur dengan halaman depan yang dikelilingi tembok dan paviliun.  Masjid Raya ini berdiri diatar tanah memanjang berukuran 48 x 248 meter. Tak seperti kebanyakan masjid, masjid xi’an memiliki penataan seperti Kuil,  halaman depan masjid berada dalam satu garis dengan paviliun dan lebih mirip sebuah pagoda yang yang di adaptasikan ke dalam fungsi fungsi Islami, sebagai contohnya adalah masjid Raya Xi’an dibangun ke arah barat menghadap ke arah Ka’bah di Kota Mekah.

BANGUNAN UTAMA. Gerbang menuju bangunan utama Masjid Agung Xi'an

Masjid Agung Xi’an berdiri di area seluas 12.000 – 13.000 m2. Sedangkan bangunan utama masjidnya mempunyai luas lebih dari 6.000 m2. Areal masjid berbentuk empat persegi panjang, memanjang dari Timur ke Barat dan terbagi menjadi empat area.

Area pertama berupa gerbang kayu setinggi 9 m yang dibuat pada abad ke-17. Gerbang ini berhadapan dengan tembok yang sangat lebar dengan dekorasi ukiran tanah liat serta dihiasi atap dari tumpukan genting mengilap. Pada dua sisinya dihiasi perabot antik yang sangat berharga buatan jaman dinasti Ming dan Qing.

BISA MENGENALINYA SEBAGAI MASJID ?

Area yang kedua terdiri dari tiga pintu batu yang saling berhubungan berpilar empat. Para pengunjung umumnya dipersilakan melewati area ini. Saat memasukinya, para pengunjung disambut dengan tulisan yang terdapat pada puncak pintu pertama, yang dapat diartikan sebagai “The Court of The Heaven” atau Taman Surga.

Pintu tersebut dikelilingi tembok batu yang berukir indah dengan dua lintasan di dua sisinya yang merupa-kan peninggalan zaman dinasti Ming. Di belakangnya berdiri dua meja batu berukir naga. Keduanya sekaligus menjadi prasasti yang menjelaskan bahwa perbaikan masjid dilakukan pada tahun 1384 dan terjadi atas pe-rintah kaisar di jaman dinasti Ming dan Qing.

INTERIOR Masjid Agung Xi'an sangat oriental

Pada area ketiga terdapat ruang kekaisaran yang merupakan bangunan tertua di kompleks ini, terdapat batu dengan tulisan huruf Arab tulisan seorang Imam yang menjelaskan mengenai perhitungan hari berdasarkan peredaran bulan. Di tengah-tengah halaman berdiri menara menyerupai pagoda dengan tiga susun atap berwarna biru toska

Menara ini dinamakan “Introspection Minaret”, atau menara introspeksi, tempat para muazin mengumandangkan adzan. Sedangkan di sebelah selatan ruang tersebut ada ruang penerima tamu, tempat diletakkan Al-Qur’an tulisan tangan yang dibuat pada zaman dinasti Ming beserta sebuah peta tanah suci Mekah yang berasal dari dinasti Qing.

MIHRAB Masjid Agung Xi'an

Area keempat yang juga merupakan area terbesar adalah bangunan untuk ruang shalat. Jama’ah yang dapat ditampung di area ini mencapai 1.000 orang. Ruang ini dilindungi tiga tingkat atap berwarna biru tosca, berhiaskan ukiran berpola rumput dan bunga-bungaan. Keindahan yang sekaligus mencekam tampak dari dinding ruangan yang terbuat dari kayu berpahatkan ayat-ayat Al-Qur’an lengkap dengan huruf Cina maupun Arab. Benar-benar menakjubkan!

Hingga kini, Masjid Raya Xi’an masih difungsikan sebagai tempat ibadah kaum muslim dari suku Hui. Saat ini diperkirakan jumlah kaum muslim kota Xi’an dan sekitarnya mencapai 60.000 orang. Beberapa muslim Indonesia yang pernah datang ke Masjid ini menceritakan pengalamannya yang disambut begitu ramah oleh pengurus masjid ini. Dengan bekal bahasa Arab dan secara kebetulan bertemu dengan seorang pemuda muslim setempat yang juga pandai berbahasa Arab yang kemudian dengan senang hati dan sukarela menjadi pemandu mereka di masjid ini. Mungkin tips itu patut dicoba bila sedang berada disana.***

Baca Juga


Jumat, 22 Maret 2013

Islam di Macau

Gerbang masjid dan pemakaman muslim di Macau.

Bagi sebagian orang Macau adalah sarangnya tempat maksiat dan perjudian. Kota bekas koloni terahir Portugis ini memang terkenal dengan perjudian resmi dan dunia hiburan. Portugis menjadikan koloni terahirnya ini sebagai surganya bagi para penjudi dan para pencari kesenangan. 

Ketika diserahkan kembali kepada pemerintah china, Macau menjadi wilayah kedua di China dengan sistem satu Negara dua sistem setelah Hongkong. Hongkong dan Macau kembali menjadi wilayah kedaulatan China setelah lepas dari Inggris dan Portugis namun tetap menjalankan sistem pemerintahannya sendiri berstatus Special Authority Region dalam kerangka Negara kesatuan Republik Rakyat China. 

Kemajuan perekonomian ditunjang dengan infrastruktur yang luar biasa menjadikan Macau begitu berkilau. Jaringan jalan raya lintas laut dengan jembatan jembatan panjang nan megah memberikan gambaran kesiapan macau. Seperti halnya Hongkong, bandara di Macau pun dibangun di atas sebuah pulau buatan. 

Begini bentuk bangunan masjid satu satunya di Macau

Masuknya Islam di Macau 

Islam telah hadir di Macau jauh sebelum berkuasanya Dinasti Ming. Namun demikian kapan tepatnya dan bagaimana Islam diperkenalkan di negeri judi tersebut masih belum ada kata sepakat diantara para sejarawan. 

Sejarah tutur menyebutkan bahwa Islam masuk ke Macau dibawa oleh para saudagar Arab dan Parsi. Semasa perang dunia ke dua, sejumlah besar muslim dari etnis Hui dari Zhaoqing, propinsi Guangdong hijrah ke Macau untuk menghindari kehancuran akibat perang yang terjadi di daratan China. 

Saat ini ada sekitar 400 muslim di Macau, mereka memiliki satu masjid dan pemakaman khusus muslim. Keseluruhan muslim di Macau bergabung dalam satu organisasi bernama “The Macau Islamic Society”. 

Interior masjid Macau

Tahun 2007 lalu masjid satu satunya di Macau ini direnovasi untuk diperbesar dan diperindah menjadi sebuah masjid modern di jantung kota Macau. Muslim di Macau langsung dapat dikenali dari nama mereka yang menggunakan nama nama Islami seperti Fatimah, Umar, Soraya dan lain lain. 

Menurut berbagai laporan media, kehidupan toleransi beragama di Macau cukup baik. Islam bersama agama agama minoritas lainnya, seperti Falun Gong yang terkadang melaksanakan ritual rutin mereka di taman taman umum dan beberapa kali dipergoki oleh aparat kepolisian yang kemudian memeriksa identitas mereka satu persatu, meskipun demikian tidak ada laporan penahanan ataupun tekanan dari aparat keamanan bagi pelaksanaan peribadatan. 

Antar pemeluk agama disana juga saling hormat menghormati satu dengan lainnya dan tak aneh bila dalam sebuah upacara upacara publik pelaksanaan do’a nya dilaksanakan oleh wakil kelompok kelompok beragama yang ada disana. 

Aktivitas jemaah Masjid Macau

Masjid Di Macau 

Macau hanya memiliki satu satunya masjid bagi sekitar 400 jiwa muslim disana, masjid yang terkenal dengan nama Macau Mosque ini beralamat di Ramal Dos Moros, Macau S.A.R. (China), teleohon (853) 28337273 dan Fax : (853) 337273. Untuk menuju ke masjid ini melalui rute melalui Macau Grand Prix Track. 

Di sebelah kanan jalan dari Hoi-Fu Garden kea rah CEM. Macau Mosque, selain memiliki pemakaman umum khusus muslim, sekaligus menjadi tempat berkantornya Islamic Association serta Muslim Community Centre. Lokasi masjid ini berada di tempat yang cukup nyaman di bagian kota Macau yang paling bersejarah, menghadap ke bendungan Macau, pelabuhan feri dari dan ke Hongkong serta landasan helikopter.

 

Berbagai sumber menyebutkan bahwa masjid ini dibangun pertama kali oleh muslim yang tiba di Macau bersama pasukan Portugis. Mereka direkrut oleh oleh Portugis dari wilayah anak benua India (Goa, Bombay, Karachi dan bagian utara Pakistan). Namun bangunan masjid yang kini berdiri dibangun sekitar awal tahun 1980-an. 

Pemakaman umum disekitar masjid ini telah berumur lebih dari se-abad. Beberapa diantara yang bermakam diasana adalah beberapa muslim Parsi dan dari berbagai suku bangsa lainnya. Keberadaan makam muslim dari berbagai bangsa tersebut menjadi bukti keanekaragaman suku bangsa di Macau dan juga menjadi bukti keterkaitan Islam dengan Macau yang sudah terjalin sejak lebih dari se-abad sekaligus telah turut mewarnai sejarah Macau. 

Masjid di Sarang Judi 

Satu satunya masjid di Macau ini menjadi masjid yang berada di sudut kota judi. Kehadirannya memang memberikan makna yang begitu dalam bagi muslim disana dan bagi muslim yang datang ke Macau. 

Merujuk kepada muslim Indonesia yang pernah kesana disebutkan bahwa ukuran masjid ini tidak terlalu besar hanya sekitar 6,5 m x 12 m. Suasana masjid justru lebih ramai di hari minggu mengingat sebagian besar jemaah masjid ini adalah para pekerja asing yang memiliki jadwal kerja yang ketat dan baru menikmati libur di hari minggu. 

Wajar bila kemudian mereka menikmati suasana libur termasuk dengan meramaikan masjid satu satunya di Macau ini, termasuk para pekerja asal Indonesia yang mengadakan pengajian rutin di masjid ini. Kehidupan Sosial Muslim Macau Pada perayaan idul adha tahun 2010 yang lalu komunitas muslim di macau sebagian memutuskan untuk menyumbangkan dana mereka untuk korban bencana alam di berbagai Negara Islam seperti Pakistan, china daratan dan Indonesia menggantikan rencana mereka untuk menyembelih hewan kurban. 

 Muslim macau menyelenggarakan sholat idul fitri maupun idul adha di masjid satu satunya yang ada di macau di Ramal Dos Mauros bersama dengan muslim dari berbagai Negara yang ada disana beberapa dari Negara Negara Afrika dan Asia tenggara termasuk Indonesia.***



Kamis, 24 November 2011

Masjid Di Atap Dunia, Masjid Agung Lhasa - Tibet

Masjid Agung Lhasa Tibet.

Dimanakah Letak Masjid Agung Lasha

Tibet, sebuah negeri yang juga berada di lokasi geografis tertinggi di bumi dengan elevasi rata rata 4900 meter dari permukaan laut. Jauh lebih tinggi dari gunung semeru (3676mdpl) puncak tertinggi di pulau Jawa. Dengan ketinggian itu menjadikan Tibet sebagai kawasan tertinggi di planet bumi. Wajar bila kemudian Tibet disebut sebagai Negeri di atap Dunia. Tibet beribukota di Lhasa. Kota yang menjadi rumah bagi Masjid Agung Lhasa yang akan kita bahas dalam artikel ini.

Tibet dulunya merupakan sebuah Monarki dengan agama Budha sebagai agama negara, pemimpin negaranya juga merupakan pemimpin tertinggi agama Budha, bergelar Dalai Lama. Negeri dengan bangunan bangunan megah peninggalan Sang penguasa negeri atap dunia. Kota Lasha kadang kadang juga dijuluki sebagai “tempat bersemayam-nya para dewa”. Sebuah bangunan istana monumental menjadi landmark dan tujuan wisata utama di jantung kota Lhasa, Istana Potala namanya. Bangunan istana yang menyandang predikat sebagai istana kuno dengan lokasi geografis tertinggi di muka bumi. Istana tempat bertahtanya Dalai Lama pertama hingga Dalai Lama terahir.

Lokasi Tibet Autonomous Region - China
Di tengah negeri yang kental dengan tradisi Budha ini, Islam telah eksis sejak hampir seribu tahun lalu. Masjid Agung Lasha yang akan kita ulas dalam artikel ini merupakan salah satu bukti eksistensi Islam di Tibet umumnya dan di kota Lasha khususnya. Lokasinya yang berada di kota tertinggi di bumi menjadikan masjid Agung Lasha sebagai masjid yang juga terletak di lokasi tertinggi di Bumi. Masjid di atap dunia. Arsitektural masjid ini begitu unik dalam kesederhanaannya memadukan arsitektural Islam dengan arsitektural tradisonal asli Tibet dengan sentuhan tradisional Hui.

Tahun 1950 pasukan merah China menginvasi Tibet dan di musim gugur tahun 1951 pasukan merah China berhasil menduduki kota Lhasa. Pada tanggal 17 Maret 1959 Pemimpin tertinggi Tibet, Dalai Lama berhasil meloloskan diri dari tangkapan pasukan merah China dan hidup di pengasingan bersama keluarga serta pengikut setianya di Dharamsala, India, dan membentuk semacam pemerintahan di pengasingan. Dalai Lama yang sekarang adalah Dalai lama ke 14 atau Tenzin Gyatso. Tahun 1965 pemerintah China menjadikan Tibet sebagai salah satu propinsi di Republik Rakyat China dengan status otonomi Khusus bernama resmi Tibet Autonomous Region atau Xizang Autonomous Region.

Alamat Masjid Agung Lasha

Wengduixingka Road No.3, Hui Community
Southeast of Hebalin, Old Town, Lasha
Tibet (Xizang) Autonomous Region, China



Sejarah Masjid Agung Lasha

Masjid Agung Lhasa juga dikenal dengan nama Masjid Hebalin, karena lokasinya yang berada di kawasan Hebalin, di pusat kota Lasha. Masjid yang menjadi pusat komunitas muslim Hui di Tibet. Masjid ini pertama kali dibangun tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Kangxi dari dinasti Qing. Pertama kali dibangun masjid Agung tersebut hanya seluas 200 meter persegi. Bangunan masjid pertama itu kemudian diperluas tahun 1793M ketika banyak tentara muslim yang menetap di Lhasa. Bangunan masjid tersebut hancur dalam kebakaran di tahun 1959 dan kemudian dibangun lagi ditahun yang sama. Bangunan yang kini kita lihat di pusat kota Lasha adalah bangunan setelah renovasi terahir tersebut.

Di bulan Maret tahun 2008, kawasan muslim quarter di Hebalin termasuk Masjid Agung Lhasa ini sempat dirusak massa pendemo anti China di Tibet. Kawasan Hebalin dan Masjid Agung mengalami kerusakan disana sini akibat rusuh massa. Polisi setempat sempat menutup kawasan tersebut, melarang siapapun masuk kesana kecuali warga asli Hebalin dan muslim dari area lain yang akan menunaikan sholat di Masjid Agung.

Masjid Agung Lasha dengan gerbangnya yang khas.

Secara tradisional kota Lhasa mengenal dua jenis masjid, “Masjid Besar” dan “Masjid Kecil”. Masjid Agung Lasha merupakan masjid besar, dikelola oleh muslim Hui, masjid ini memang dibangun oleh muslim etnis Hui, meskipun sebenarnya etnis manapun boleh menggunakan masjid ini. namun karena letaknya yang berada di tengah tengah komunitas muslim Hui di kota Lasha, masyarakat umum lebih mengenalnya sebagai masjidnya muslim Hui.

Masjid lainnya disebut masjid kecil (Lhasa Small Mosque) adalah masjid yang dibangun untuk para muslim pendatang dari Kashmir. Masjid kecil, pertama kali dibangun tahun 1863M. Masjid ini berukuran 130 meter persegi dilengkapi dengan bangunan sekolah Islam dibangun tahun 1952 dan menginduk ke sekolah Islam di masjid Agung Lhasa. Di sekitar Masjid Kecil, ada 63 keluarga yang tinggal disana termasuk 11 keluarga warga asing dengan total populasi sekitar 315 jiwa. Masjid Kecil Lasha terletak di Balang Steet, Hebalin, Chengbing District, Lhasa.

Fasad depan Masjid Agung Lasha dengan 
ornamen khas etnis Hui 
Arsitektural Masjid Agung Lhasa

Masjid Agung Lasha dibangun dalam arsitektural tradisional Tibet dengan bentuk bentuk lengkungan sirkular dan dua menara kecil menyatu dengan atap masjid di atap sisi depan masjid. Dekorasi masjid didominasi oleh ukiran dan lukisan bunga bunga dan flora, dalam sentuhan warna biru. Arsitektur masjid ini cukup sederhana namun cukup menyolok diantara bangunan bangunan lain di pusat kota Lasha. dua menara dan Kubah utama di atap masjid terlihat sampai jauh, memberikan nuansa lain di kota Lasha.

Masjid Agung Lasha memiliki tiga pintu masuk menuju halaman tengah nya. Seperti kebanyakan bangunan relijius di Tibet Masjid Agung Lasha juga dilengkapi dengan sebuah pintu gerbang besar menuju halaman masjid. Gerbang dengan arsitektural khas Tibet, mirip seperti gerbang sebuah vihara Budha. Ornamen gerbang ini didominasi polesan warna merah, lukisan floral, dan atap khas yang terdiri dari tiga undakan atap. Pembedanya dengan bangunan relijius lainnya adalah sebuah papan nama besar yang bila di Indonesia-kan artinya adalah “Masjid Agung Lasha di Tibet”, yang ditulis dengan tiga aksara sekaligus. Aksara dan bahasa arab serta dua aksara setempat.

Keseluruhan bangunan masjid ini menempati area seluas 2600 meter persegi termasuk bangunannya seluas 1300 meter persegi. Bangunan utama nya terdiri dari ruang sholat utama, dan bangunan penunjang termasuk bangunan bunker, menara air, kamar mandi, tempat wudhu dan lain lainnya. Ruang sholat masjid ini seluas 285 meter persegi terdiri dari ruang inti, dan ruang terbuka. Gedung bunker atau gedung Xuanli, merupakan bangunan utama masjid ini.

Salah satu menara masjid Agung Lasha 
Interior nya sederhana, lantainya terbuat dari kayu yang ditutupi permadani berwarna merah berpola shaf demi shaf sholat. Di kanan kiri mimbar terpampang gambar Masjidil Haram dalam ukuran besar. Satu hal yang unik dari masjid ini adalah adanya Tasbih yang banyak bertebaran di permadani disediakan oleh pengurus masjid untuk para jemaah, kebiasaan muslim Tibet bertasbih dengan suara yang agak keras tidak seperti di Indonesia yang biasanya bertasbih dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jemaah masjid Agung Lhasa yang sebagian besar adalah muslim Hui yang hadir di masjid dengan pakaian khas muslim Tibet ; Jas dan celana warna hitam lengkap dengan peci putih.

Selain Masid Agung Lasha dan Masjid Kecil Lhasa, masih ada dua Masjid Lagi di Kota Lasha, yakni dua masjid yang dikelola oleh Muslim Khasmir, biasa disebut masjid Khasmiri (masjidnya muslim Kharsmir) yang berada di Gyangda Linka (taman Muslim) dan Masjid Khasmiri di pusat kota Lasha. Masjid Khasmiri dan muslim Khasmir di Lasha memiliki sejarah yang unik, karena Gyangda linka (Taman Muslim) yang menjadi kampung muslim Khasmir pertama di Lasha merupakan hadiah dari Dalai Lama ke-5 untuk muslim Khasmir. Di seluruh wilayah Tibet ada 6 Masjid, selain dari 4 yang sudah disebutkan tadi masih ada satu masjid di Shigatze dan satu masjid di Changdu di bagian Timur Tibet.

Sejarah Islam Di Tibet

Saudagar muslim dari negara negara Arab sudah mencapai Tibet pada sekitar abad ke 8 ~ 9 masehi. Perkembangan Islam menyebar disebelah barat Tibet dan Kashmir pada abad ke 11 masehi. Di abad ke 12M kelompok saudagar muslim dari Kashmir dan Ladakh masuk ke Tibet dan menetap di Lasha. Pernikahan antara pria muslim pendatang dengan wanita Tibet serta interaksi sosial diantara muslim dan warga asli mengukuhkan eksistensi mereka disana. Bahkan bahasa Tibet memiliki kosa kata sendiri untuk menyebut Muslim, dengan kata Kha-che. Masjid pertama di Tibet dibangun pada tahun 1716M dimasa pemerintahan Kaisar Qing dari dinasti Kangxi. Masjid pertama itu yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Lasha.  

Interior Masjid Agung Lasha 
Islam menyebar di Tibet dari dua arah. Dari arah utara dan timur. Bergerak dari semenanjung Arabia melalui Persia dan Afganistan, Islam mencapai China di abad ke 7 masehi melalui jalur perdagangan kuno yang kini kita kenal sebagai jalur sutera (silk road) yang melintasi kawasan Asia tengah. Dari propinsi utara Ningxia dan titik lain di china, islam kemudian bergerak ke selatan masuk ke kawasan Tibet.

Muslim China di Tibet merupakan Muslim dari marga Hui, secara berkesinambungan mereka tinggal di Suing dan Kawasan Kokonor di bagian barat Tibet, dan menjalankan perdagangan dengan Tibet Tengah. Sebagian dari mereka merupakan pedagang dan tinggal secara permanen di kawasan timur Tibet, keturunan mereka masih dapat ditemui hingga kini, beberapa diantaranya juga datang dari barat secara berkesinambungan kemudian pindah ke Lhasa. Menetap disana mempertahan akidah dan persaudaraan yang erat satu sama lainnya.

Berbagai sumber di Tibet menunjukkan bahwa penguasa Tibet pernah menguasai kawasan luas di Asia Tengah sebelah barat hingga ke Persia di abad ke 8 dan 9 Masehi, dimasa ketika Persia, Uigur, Turk dan Tibet berlomba untuk menguasai kawasan tersebut terutama dari penguasa Kabul, yang semula merupakan pengikut raja Tibet namun kemudian berganti keyakinan dari Budha dan masuk Islam di sekitar tahun 812 – 814M, dan tunduk kepada Khalifah Al-Ma’mun dari dinasti Abbas.

Sebagai suatu penghormatan kepada khalifah Islamiyah, raja Kabul kala itu memberi hadiah kepada Al-Ma’mun berupa kepingan emas yang merupakan hasil dari peleburan patung emas Budha. Kepingan emas tersebut kemudian dikirimkan kepada khalifah. Itu sebabnya Kawasan yang kini kita kenal sebagai Afganistan dan beberapa Negara baru di kawasan asia tengah merupakan kawasan yang tak tersentuh oleh pengaruh Tibet selama beberapa abad.

jemaah sholat jum’at di Masjid Agung Lasha
Bagian lain dari arus masuknya Islam ke Tibet ini berasal dari Turkistan, Baltistan (Pakistan) dan Kashmir melalui Ladakh (India) kemudian menyebar ke Tibet hingga ke Lhasa. penyebaran Islam tersebut tak lepas dari dua orang ulama besar yang telah disinggung di dua tulisan sebelumnya yakni Ali Hamadani dan putranya Bakhsh Muhammad Nur yang berhasil menyebarkan Islam di kawasan Baltistan di Abad ke 14M.

Kha-Ce, Masjid Chota dan Gya Kha Che, Masjid Bara

Komunitas muslim di Lhasa saat ini terdiri dari dua kelompok yang berbeda, keduanya menjadi warisan budaya di masyarakat China (Tibet), Khasmir, Nepal, Ladakh, Sikh atau bahkan bagi masyarakat non China. Komunitas kecil muslim kurang dari 1000 jiwa yang kini disebut Kha-Che merupakan merupakan keturunan dari para pedagang muslim di abad ke 12M. Sedangkan orang Muslim China dari marga Hui dipanggil Gya Kha Che, jumlah mereka ada sekitar 2000 jiwa.

Masing masing komunitas kecil tersebut menggunakan dan mengelola masjid mereka sendiri. Muslim Khasmir (Khasmiri) dan muslim non China menggunakan Masjid Chota atau Masjid Kecil, sedangkan Orang Hui menggunakan Masjid Bara atau Masjid Besar. Masing masing komunitas memiliki pemuka agama dari kalangan mereka sendiri, mengola  sekolah Islam, mengurus administrasi mereka masing masing kepada pemerintah lokal Tibet, hingga pemakaman umum yang mereka sebut Kygasha, lokasinya sekitar 15Km diluar kota Lhasa.

gerbang Masjid Agung Lasha 
Sebagian besar Muslim Hui berpropesi sebagai tukang jagal hewan ternak atau petani sayur mayor. Sama seperti muslim Khasmir (Khasmiri), muslim Hui juga bermazhab ke Mazhab Hanafi. Tukang jagal hewan menjadi salah satu profesi yang sangat dibutuhkan masyarakat Budha Tibet, karena ajaran mereka melarang penyembelihan binatang. Hal terebut membuka peluang bisnis bagi muslim disana untuk menjadi pemasok daging bagi warga Tibet yang membutuhkannya.

Hadiah Lahan “Sejauh Jangkauan Anak Panah”

Meskipun para saudagar muslim pendatang sudah lama hadir di Lhasa dan kota kota lain di Tibet, namun baru pada saat naiknya Dalai lama ke lima (1617-1682) menjadi titik balik bagi Islam di Tibet. Berdasarkan sejarah lisan disebutkan bahwa beberapa ulama Islam yang hidup di Lhasa pada masa itu selalu melaksanakan sholat di bukit bukit terpencil di pinggir kota. Dalai Lama menjumpai mereka saat mereka sholat setiap hari, sampai suatu hari beliau bertanya tentang apa yang mereka lakukan. Salah satu Ulama kemudian menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan sholat sesuai dengan ajaran Islam, dan mereka melaksanakannya di bukit terpencil karena ketiadaan masjid di pusat kota untuk mereka jadikan sebagai tempat sholat berjamaah.

Terkesan dengan penjelasan tersebut, Dalai Lama kemudian mengutus seorang pemanah ke bukit dimana kaum muslimin sering sholat berjamaah disana dan memerintahkannya untuk menembakkan anak empat panahnya ke empat penjuru mata angin. Dari tempat dimana dimana anak panah dilepaskan hingga ke tempat dimana ke empat anak panah tersebut jatuh, seluas itulah lahan yang kemudian diberikan oleh Dalai Lama ke-5 kepada kaum muslimin untuk mendirikan Masjid dan sebagainya. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai “sejauh jangkauan anak panah” yang kemudian menjadi tempat bagi bangunan masjid dan lahan pemakaman muslim pertama di kota Lhasa hingga kini.

prasasti di Muslim Park kota Lasha , dalam 4 bahasa, mengenang 
kebaikan Dalai Lama ke-5 yang memberikan lahan bagi 
kaum muslimin di tahun 1650 
Dalai lama ke Lima tidak saja memberikan lahan tanah kepada kaum Musimin Khasmir, tapi beliau juga memberikan perlindungan resmi dari Negara kepada 14 tokoh masyarakat dan 30 pemuda muslim yang merupakan penghuni awal lahan tersebut. Sikap positif Dalai lama ke Lima tersebut sepertinya menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk mendorong tumbuhnya ke aneka ragaman etnis, budaya dan memacu pertumbuhan ekonomi di Tibet ketika itu. Kebijakan yang dalam bahasa Tibet disebut sebagai mi sna mgron po atau “undangan kepada masyarakat”. Selain itu ummat Islam juga diberi kebebasan untuk mengurus masalah hukum sesuai aturan Islam bagi komunitas mereka sendiri, bahkan dibebaskan dari pajak atas segala usaha perdagangan mereka.

Kini, lahan yang dihadiahkan oleh Dalai Lama Ke-Lima tersebut dikenal sebagai Che Kha Gling Ga atau Taman Muslim (Muslim Park) yang digunakan oleh komunitas muslim sebagai tempat piknik. Sebuah bangunan berbentuk lengkungan khas Tibet (sgo) dibangun untuk menandai di masjid pertama yang dibangun tempat itu sekaligus untuk mengenang kebaikan Dalai Lama ke Lima.

Sampai kemudian masjid baru bagi muslim Khasmir (masjid kecil / chota masjid) dibangun di pusat kota Lhasa. Dulunya masjid di Kha Che Gling Ga (taman muslim / muslim park) merupakan satu satunya tempat bagi Muslim Khasmir untuk berkumpul melaksanakan sholat Jum’at secara rutin. Muslim dari komunitas Khasmir ketika itu harus berjalan cukup jauh beberapa kilometer setiap hari Jum’at untuk mencapai masjid dari rumah mereka di pusat kota menuju masjid di Kha Che Gling Ga dan kemudian berbagi roti bersama jemaah yang lain setiap bakda sholat Jum’at. Sebagian dari roti yang tidak habis disantap kemudian dibawa kembali ke pusat kota dibagikan kepada mereka yang tidak dapat hadir di masjid hari itu sebagai “tshogs” atau roti berkat.

Jemaah Masjid Agung Kota Lasha, 
Kini Chota Masjid di pusat kota menjadi masjid utama untuk sholat lima waktu bagi muslim Khasmir, masjid di Che Kha Gling Ga atau Taman Muslim (Muslim Park) masih digunakan untuk acara acara khusus seperti sholat dua hari raya dan sebagainya. Tak jauh dari masjid di Che Kha Gling Ga terdapat kediaman bagi Imam muslim Khasmiri, Habibullah Bat. Paska tahun 1959 setelah Dalai Lama Terahir melarikan diri dari Tibet, Muslim Khasmir di Tibet mengajukan gugatan kewarganegaraan kepada pemerintah India berdasarkan asal usul nenek moyang mereka yang berasal dari Khasmir (India). Setahun setelah itu pemerintah India menyatakan bahwa seluruh Muslim Khasmiri di Tibet adalah warga Negara India.

Sebagaimana masyarakat Tibet lainnya, muslim Tibet pun mengalami masa masa sulit sejak pencaplokan wilayah Tibet oleh tentara China. Meskipun situasinya kini sudah berangsur angsur membaik dari sebelumnya. Kini mereka sudah sedikit menikmati kebebasan untuk menjalankan agamanya dibandingkan masa masa sebelumnya. Namun begitu pasukan merah China senantiasa mengawasi semua aktivitas warga Tibet dalam upaya mencegah segala bentuk upaya separatisme kemerdekaan Tibet dari China. Tentara menjaga setiap sudut kota Lhasa termasuk di kawasan Masjid Agung Kota Lhasa.

Interior lantai dasar Masjid Agung Lasha.

Penutup

Tibet dengan ibukotanya Lhasa, selama berabad abad menjadi tempat yang penuh misteri bagi para petualang karena ketertutupannya dari dunia luar. Tempat yang begitu terpencil di ketinggian pegunungan Himalaya ini menjadi salah satu perlintasan sepanjang jalur sutera di abad pertengahan. Sampai kemudian Tibet takluk dibawah kekuasaan China tahun 1950 Tibet mulai terbuka dan dikenal secara luas oleh dunia Internasional. Jalur kereta api yang dibangun pemerintah China melintas di kawasan Tibet dari wilayah China lainnya menjadi lintasan kereta api di tempat tertinggi di bumi. Proyek proyek pembangunan berskala raksasa diluncurkan pemerintah China di kawasan itu.

Kehadiran Islam, muslim dan masjid di kota Lhasa, ibukota Tibet itu membuka mata kita, bahwa di negeri atas langit yang mayoritas penduduknya beragama Budha itu ada saudara saudara kita sesama muslim. Meski berbeda suku bangsa, berbeda warna kulit, bahasa dan budaya, tapi Islam mempersatukan kita dalam satu ikatan ukhuwah. Semoga Islam semakin bersemi di negeri istananya para dewa itu dan menjadi rahmat bagi Tibet dan China secara keseluruhan. Amin.***

Jumat, 08 Oktober 2010

Masjid Niujie – Beijing , China

Masjid Niujie – Beijing, China 

Masjid Niujie merupakan masjid tertua di kota Beijing, Ibuka Republik Rakyat China. Dinamakan Niujie karena terletak di jalan (jie) sapi (niu) atau jalan sapi di Xuanwu, karena warga di wilayah ini menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi. Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran Muslim. kawasan dimana sekitar 13000 orang muslim tinggal dan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan berpenduduk Muslim terbanyak di Beijing.

Pekarangan masjid Niujie
Mesjid Niujie terbuka untuk pengunjung umum dan saat ini merupakan salah satu masjid utama di antara 68 buah masjid di Beijing. Namun pengunjung non muslim dilarang memasuki ruang sholat utama dan mereka hanya bisa memasuki bagian lain di kompleks ini. Masjid Niujie terdaftar sebagai situs warisan budaya Cina dan imam masjid ini mendapat pendidikan dari sekolah Islam terbesar milik pemerintah Cina.

Sejarah Pembangunan Masjid Niu Jie - Beijing

Masjid Niujie mulai dibangun pada tahun 996, pada masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao oleh dua orang berkebangsaan Arab. dilanjutkan pembangunannya pada tahun 1442 pada saat Dinasty Ming dan diperluas pada masa Dinasty Qing pada tahun 1696.

Mantan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wachid / Gusdur
Ketika berkunjung ke Masjid Niujie, Beijing di tanggal
3 Desember 1999 (foto dari harian kompas 4 Des 1999)
Sejak negara Republik Rakyat Cina berdiri pada tahun 1949 masjid Niujie sudah 3 kali direnovasi. Renovasi itu terjadi tahun 1955, 1979 dan 1996. Renovasi terakhir dilakukan sejalan dengan penyelenggaraan Olimpiade 2000 ketika Beijing menjadi tuan rumah. Renovasi ini mencakup membangun tempat wudhu untuk wanita, ruang pameran dan ruang depan untuk pengunjung umum. dengan demikian masjid ini sudah melintasi enam zaman dari masa kekuasaan Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga era Cina modern saat ini.

Menara masjid ini pada awalnya, antara tahun 1068 dan 1077, para ulama Arab mempergunakan menara tersebut untuk menyimpan berbagai dokumen. Pada tahun 1496 menara yang disebut “xuanlilou” atau “huanlilou” direnovasi dan sejak saat itu digunakan para imam untuk mengumandangkan azan memanggil warga untuk sholat.

Mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, (Alm) Kyai Haji Abdurrahman Wachid atau Gusdur, dalam lawatan nya ke China di penghujung tahun 1999, pernah mengunjungi masjid ini pada tanggal 3 Desember 1999.

Jemaah Sholat Jum'at Masjid Niujie
Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti agama yang murni. Islam dibawa ke wilayah Cina oleh para pedagang asal Arab yang memanfaatkan jalur sutra untuk keperluan bisnis mereka. Catatan sejarah menunjukkan bahwa misi Islam resmi pertama ke Cina dilakukan oleh paman Nabi Muhammad SAW pada tahun 650. Bahkan kemudian Sa'ad menetap di Cina hingga beliau meninggal dan dimakamkan di sana.
Dalam kunjungan itu kaisar Cina diminta untuk menerima Islam dan sebagai balasan kekaguman akan Islam kaisar Yung Wei memerintahkan pembangunan masjid pertama di Cina. Masjid di kota Canton ini dianggap sebagai masjid tertua di Cina dan hingga kini masih berdiri megah di kota itu.

Arsitektur Masjid NiuJie

Kompleks masjid mencakup 6.000 meter persegi dan dibangun berdasarkan struktur kekaisaran Cina dengan dekorasi perpaduan Cina, Arab. Terdiri dari ruang sholat utama, tempat wudhu, menara dengan paviliun di masing-masing sisi yang digunakan untuk kantor, perhiasan dan tempat pengajian, ruang sholat perempuan dan juga ruang pameran.

Interior Ruang sholat utama Masjid Niujie
Gedung di dalam kompleks ini dibangun dengan gaya arsitektur Cina karena saat akan membangun di tahun 996 penguasa melarang umat muslim membangun gedung yang tidak mempergunakan arsitektur bangunan tradisional Cina. dengan pengecualian bahwa penggunaan kaligrafi Arab tetap diizinkan pada masa itu. 

Namun di bagian dalam gedung di dalam kompleks masjid ini budaya Arab sangat kental terasa. Tulisan kaligrafi yang terukir di kayu-kayu penonggak gedung sangat mendominasi dekorasi bagian dalam masjid. Namun struktur bangunan tradisional Cina masih dipertahankan hingga ke dalam masjid, seperti pintu khas arsitektur Cina.

Gerbang masuk menuju ke dalam kompleks Masjid Niujie berhadapan dengan tembok besar sepanjang kurang lebih 40 meter yang dihiasi marmer berwarna putih. Interior bangunan didekorasi dengan arsitektur khas Cina dan sentuhan desain Arab yang tidak menampilkan figur manusia dan hewan.

Perangkat meja dan kursi untuk Lansia
Arsitektur khas Dinasti Qing jelas terlihat pada desain ruangan ibadah, yang berupa aula utama yang hanya terbuka bagi pengunjung Muslim. Langit-langit di depan aula utama didekorasi dengan panel persegi, yang pada tiap sudutnya dilukis dengan desain lingkaran berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Pola dekorasi ini serupa dengan pola yang digambar di aula utama di Istana Terlarang. Kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam aksara Arab dan Cina, lukisan bunga, serta hiasan kaca berwarna menghiasi ruangan ibadah.

Ruangan ini hanya dapat menampung seribu orang jamaah dan terdiri dari tiga buah koridor yang lapang. Di bagian dalam ruangan ibadah ini terdapat 21 buah tiang yang menyangga bagian dalam bangunan. Ruangan ibadah ini dinamakan juga dengan nama Aula Tungku. Di bagian belakang ruangan terdapat paviliun berbentuk heksagonal (segi enam) yang membuat aula ini tampak seperti tungku. 

Ruang sholat khusus wanita
Masjid Niujie juga memiliki ruang pameran yang menyimpan barang-barang peninggalan para imam, termasuk al Quran, maket masjid, foto-foto kegiatan, para imam serta sejumlah cendera mata dari para tamu asing yang mengunjungi masjid, termasuk di antaranya dari delegasi anggota MPR Indonesia. Penjelasan secara tertulis dalam ruang pameran ini dalam tiga bahasa, Inggris, Cina dan juga bahasa Arab. Di dalam masjid ini terdapat dua makan Imam asal Persia, Imam Ahmad Burdani dan Imam Ali, yang masing-masing meninggal tahun 1320 dan 1283.

Aktivitas Masjid Niujie

Setiap hari masjid ini dikunjungi sekitar 200 jamaah dan untuk sholat Jumat biasanya jumlah warga membengkak menjadi 700 orang. Sementara untuk Idul Fitri masjid ini dihiasi dengan ucapan Selamat Hari Raya dalam bahasa Cina dan Arab, lebih dari 2.500 jamaah yang datang dan antri lama untuk membeli berbagai makanan yang dijual di pekarangan masjid. Selain masyarakat di seputar kawasan Xuanwu, masjid ini juga banyak dikunjungi warga Muslim dari kawasan lain di Cina

Menara Masjid Niujie, yang khas
Sedangkan di bulan suci Ramadhan Menjelang magrib, puluhan warga muslim Beijing berkumpul di tempat ini untuk berbuka puasa bersama. Ketika waktu berbuka tiba, para jamaah akan berkumpul untuk mendapatkan ta'jil berupa teh tawar hangat, air putih, kurma, roti, kue kering dan buah pear. Persaudaraan sesama muslim sangat kental, meski ada beberapa jamaah yang datang ke masjid dari negara asing dan tidak bisa berbahasa Cina. Setelah jamaah berbuka dan bercengkerama, lantas segera masuk ke dalam  masjid untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.

Usai shalat magrib, jemaah akan diajak untuk berkumpul dan makan malam oleh pengurus masjid. Menu malam itu cukup banyak yaitu teh tawar, air putih, susu, telor rebus, burger berisi telor dadar, bakpau, dan roti berisi daging berbumbu khas China, serta masih banyak lagi yang lainnya.

Tidak seperti  di Indonesia,  jamaah laki-laki dan perempuan di masjid berusia lebih dari seribu tahun ini, ditempatkan di lokasi berbeda. Di dalam masjid disiapkan kursi dan meja untuk membantu para jamaah yang sudah lanjut usia ketika mereka sholat. Tidak ada sholat berjamaah di ruang Sholat jamaah perempuan.***