Rabu, 18 Agustus 2010

Masjid Jami’ Tua Palopo

Masjid Jami' Tua Palopo
Masjid Tua Palopo merupakan masjid peninggalan Kerajaan Luwu berada di kota Palopo,  Sulawesi Selatan. Masjid ini didirikan oleh Raja Luwu tahun 1604 M. Memiliki luas 15 m². Di beri nama Tua, karena usianya yang sudah tua. Sedangkan nama Palopo diambil dari kata dalam bahasa Bugis dan Luwu yang memiliki dua arti, yaitu: pertama, penganan yang terbuat dari campuran nasi ketan dan air gula; kedua, memasukkan pasak dalam lubang tiang bangunan. Kedua makna ini memiliki relasi dengan proses pembangunan Masjid Tua Palopo ini.

Sebagian masyarakat percaya bahwa bagi orang yang datang ke Kota Palopo, belum dikatakan resmi menginjakkan kaki di kota ini apabila belum menyentuh tiang utama Masjid Tua Palopo yang terbuat dari pohon Cinaduri, serta dinding tembok yang menggunakan bahan campuran dari putih telur. Oleh karena itu, masjid ini tidak pernah sepi dari jemaah, khususnya pada bulan Ramadhan, setiap selesai shalat dhuhur hingga menjelang berbuka puasa, biasanya para jamaah tetap tinggal di masjid untuk mengaji, tadarrus Alquran, dan berzikir. Jamaah yang datang bukan hanya warga Kota Palopo, tetapi banyak juga yang datang dari kabupaten tetangga, seperti Luwu, Luwu Utara, Sidrap, dan Wajo. 

Masjid Jami’ Tua Palopo 
Jl. Andi Djemma No.88, Batupasi, Kec. Wara Utara, Kota Palopo, Sulawesi Selatan 91913 


Sejarah Masjid Jami' Tua Palopo

diperkirakan berdiri pada tahun 1604 M. merupakan masjid kerajaan yang didirikan ketika Kerajaan Luwu sedang berada dalam masa kejayaannya dibawah kekuasaan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe. Ketika ia naik tahta menggantikan ayahnya tahun 1604 M, ia memindahkan ibukota kerajaan dari Patimang ke Ware, dengan alasan Ware berada di pantai dan lebih dekat dengan pelabuhan, sehingga aktifitas ekonomi bisa lebih mudah dilakukan. Sumber sejarah lain ada juga yang mengkaitkan perpindahan ibukota kerajaan ini dengan kepentingan untuk penyebaran Islam. Jika pendapat ini benar, maka perpindahan tersebut juga menandakan bahwa pengaruh Islam semakin menguat dalam Kerajaan Luwu. 

Hal ini bisa dilihat dari konstruksi kompleks ibukota kerajaan yang baru, di mana masjid dan istana dibangun berdekatan membentuk satu komplek kerajaan. Satu unsur lagi yang dibangun dalam kompleks kerajaan Luwu adalah lapangan luas yang terbuka (alun-alun). Struktur dan tata letak pusat pemerintahan yang seperti ini mirip dengan struktur dan tata letak kerajaan Islam di Jawa. Seiring dengan penamaan masjid ini dengan Masjid Palopo, daerah tersebut kemudian juga disebut sebagai daerah Palopo. Maka, sejak tahun 1604 M tersebut, daerah Ware ini berubah nama menjadi Palopo.

Di dalam Masjid Jami' Tua Palopo

Keunikan Arsitektur Masjid Jami' Tua Palopo

Masjid Tua Palopo berukuran 11,9 m x 11,9 m, tinggi 3,64 m, dengan tebal dinding 0,94 m yang terbuat dari batu cadas yang direkatkan dengan putih telur.  Arsitektur Masjid Tua Palopo ini sangat unik. Ada empat unsur penting yang melekat dalam konstruksi masjid tua ini, yaitu unsur lokal Bugis, Jawa, Hindu dan Islam. 

Unsur lokal Bugis terlihat pada struktur bangunan masjid secara keseluruhan yang terdiri dari tiga susun yang mengikuti konsep rumah panggung. Konsep tiga susun ini juga konsisten diterapkan pada bagian lainnya, seperti atap dan hiasannya yang terdiri dari tiga susun; tiang penyangga juga terdiri dari tiga susun, yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu; dinding tiga susun yang ditandai oleh bentuk pelipit (gerigi); dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, dimulai dari warna hijau, putih dan coklat.

Masjid Jami' Tua Palopo dari arah jalan raya

Unsur Jawa terlihat pada bagian atap, yang dipengaruhi oleh atap rumah joglo Jawa yang berbentuk piramida bertumpuk tiga atau sering disebut tajug. Dua tumpang atap pada bagian bawah disangga oleh empat tiang, dalam konstruksi Jawa sering disebut sokoguru. Sedangkan atap piramida paling atas disangga oleh kolom (pilar) tunggal dari kayu cinna gori (Cinaduri) yang berdiameter 90 centimeter. Pada puncak atap masjid, terdapat hiasan dari keramik berwarna biru yang diperkirakan berasal dari Cina.

Pintu Masuk Masjid Jami' Tua Palopo
Unsur Hindu terlihat pada denah masjid yang berbentuk segi empat yang dipengaruhi oleh konstruksi candi. Pada dinding bagian bawah, terdapat hiasan bunga lotus, mirip dengan hiasan di Candi Borobudur. 

Pada dinding bagian atas juga terdapat motif alur yang mirip dengan hiasan candi di Jawa. Unsur Islam terlihat pada jendela masjid, yaitu terdapat lima terali besi yang berbentuk tegak, yang melambangkan jumlah shalat wajib dalam sehari semalam.

Renovasi Masjid Jami' Tua Palopo

Masjid Tua Palopo sudah beberapa kali renovasi untuk perbaikan. Renovasi pertama pada 1700 M dengan perbaikan pada lantai. Kedua, pada 1951, mengganti lantai yang lama dengan lantai dari tegel yang didatangkan dari Singapura. Renovasi ketiga pada 1981 untuk memperbaiki seluruh bagian masjid yang rusak. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti yang sekarang ini. Lahan masjid ini seluas 1.680 m².***

Masjid Agung Keraton Buton

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton 

Masjid Agung Keraton Buton terletak di dalam Lingkungan Benteng Kesultanan Buton, Benteng tua terluas di dunia menurut catatan rekor MURI. Masjid ini dibangun berbentuk empat persegi panjang berukuran 20,6 x 19,40 m dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Masjid terdiri dari tiga lantai, mengikuti struktur bangunan rumah panggung yang menjadi ciri khas rumah adat masyarakat Sulawesi Tenggara. Bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan bahan untuk benteng keraton.

Lantai satu yang lebih luas sebagai ruang shalat, sementara lantai dua yang lebih kecil berfungsi sebagai tempat mengumandangkan azan. Di atas bangunan lantai dua itu duduk bangunan empat persegi yang lebih kecil dan merupakan puncak kerucut dari keseluruhan bangunan Masjid Agung. Puncak kerucut itu adalah kubah bagi umumnya model masjid di Tanai Air.

Masjid Agung Keraton Buton Dengan Jangkar Kapal VOC yang karam di Buton di latar depan dan di belakang adalah Tiang Tiang Bendera Keraton Kesultanan Buton

Struktur bangunan masjid yang belum pernah diganti sejak didirikan adalah fondasi dan bangunan dinding yang bahannya menggunakan batuan kapur dengan spesimen pasir dan kapur. Ukuran masjid juga masih tetap seperti aslinya, 20,6 meter x 19,4 meter. Masjid Agung Keraton Buton merupakan salah satu dari sembilan Masjid kuno di Indonesia dan telah ditetapkan oleh pemerintah RI sebagai benda cagar budaya atau situs cagar budaya berdasarkan keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No : KM.8/PW.007/MKP.03 Tanggal 04 Maret 2003

Lokasi

Masjid Agung Keraton Buton terletak di komplek Keraton Kesultanan Buton yang dikenal dengan sebutan Keraton Wolio di dalam tembok Benteng Kesultanan Buton. Masuk dalam wilayah Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Dapat dicapat dari dari Kota Kendari ke Bau-Bau menggunakan pesawat perintis selama 1 jam penerbangan atau kapal laut selama 4 jam pelayaran.


Sejarah

Masjid Agung Keraton Buton pertama kali didirikan pada tahun 1538 M. Tidak lama berselang, masjid ini terbakar akibat perang saudara yang terjadi di Kesultanan Buton dalam perebutan kekuasaan. Pembangunan masjid tersebut baru dimulai lagi pada tahun 1712 M dengan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat semula pada masa pemerintahan Sultan Zakiyuddin Darul Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX)

Renovasi

Renovasi mesjid ini sudah dilakukan sebanyak 4 kali, tahun 1929, 1978, 1986 dan 2002. Renovasi pertama dilakukan tahun 1930, di masa Sultan Hamidi (Sultan Buton ke-37). Struktur asli bangunan tetap dipertahankan dan hanya mengganti sebagian rangka kayu karena sudah lapuk dimakan usia, lantainya disemen. Sedangkan atap yang semula menggunakan atap rumbia diganti dengan seng. Pemugaran kedua dan ketiga masing masing tahun 1978, dan 1986 juga untuk mengganti atap seng yang sudah usang. Renovasi terahir dilakukan tahun 2002. Dengan merenovasi lantai masjid menggunakan marmer atas bantuan Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri.

Didalam Masjid Agung Kraton Buton

Megawati pernah berkunjung ke masjid tua itu menjelang Pemilu 1999. dan kemudian memberikan bantuan untuk merenovasi Masjid terebut ketika beliau sudah menjadi Presiden. Pelaksanaan renovasi masjid itu ditangani Gubernur Sultra Laode Kaimuddin dan Ketua PDI-P Sultra Laode Rifai Pedansa.

Keunikan

Masjid Agung Keraton Buton tidak memiliki menara. Tetapi, di sisi bangunan sebelah utara berdiri sebuah tiang bendera yang ujungnya lebih tinggi dibandingkan puncak kerucut masjid. Menurut Buya Hamka dalam buku tafsirnya, Al Azhar, tiang bendera itu juga berfungsi sebagai tempat pelaksanaan hukuman gantung berdasarkan syariat Islam.

Menurut Buya Hamka, Tiang bendera di areal Masjid Agung ini difungsikan juga sebagai tiang gantungan untuk pelaksanaan hukuman gantung di masa pemerintahan Kesultanan Buton

Tiang bendera itu didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand). Perahu dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang rusak di perjalanan, Setelah dagangan mereka habis dan hendak kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang tersebut. 

Total perangkat pengurus masjid Keratorn itu berjumlah 60 orang, terdiri dari lakina agama, imam, empat khatib, 12 moji, dan 40 mukimi. Khatib dan moji melakukan tugasnya secara bergilir. Perangkat semacam itu tak dimiliki masjid lain di Nusantara.

Masjid Agung Kraton Buton di malam hari

Terdapat 12 pintu masuk ke dalam masjid yang salah satu di antaranya berfungsi sebagai pintu utama. Pada bagian depan masjid - di sebelah timur masjid, terdapat serambi terbuka. di dalam masjid terdapat sebuah mihrab dan mimbar yang terletak secara berdampingan. Keduanya terbuat dari batu bata yang di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan yang mirip dengan ukiran Arab.

kayu yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia. Jumlah anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan tasbih sebanyak 33 kali.

Drs. AS Tamrin, MH dan Wa Ode Maasra Manarfa, S.Sos, M. Si saat doa bersama perangkat Masjid Agung Keraton Buton, dalam rangkaian pelantikannya sebagai Walikota dan Wakil Walikota Baubau periode 2013-2018

Di depan pintu utama di antara dua selasar terdapat sebuah guci bergaris tengah 50 sentimeter dengan tinggi 60 sentimeter. Guci itu terhunjam ke lantai semen berlapis marmer. Guci tersebut telah ditempatkan di situ sejak adanya masjid ini sebagai penampungan air untuk berwudu

Sebuah lampu antik yang terbuat dari perunggu bercabang tiga yang digantung tepat di tengah ruangan masjid ini. Pada tiap-tiap cabang lampu gantung tersebut, tersedia tiga tempat untuk bola lampu. Konon, lampu-lampu dengan model itu hanya terdapat di tiga tempat di Indonesia, dua lagi terdapat di dalam Istana Negara Jakarta dan Keraton Yogyakarta.

Masjid Agung Kraton Buton

Tak jauh dari masjid, terdapat makam raja terakhir sekaligus Sultan pertama Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari. 

Murhum adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula, sistem pemerintahan berubah dari Kerajaan menjadi kesultanan. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton Buton.

Tradisi Ramadahan di Masjid Agung Kraton Buton

Pelaksanaan Shalat Tarwih di beberapa malam Ramadhan, seperti malam pertama (Tembaana Bula), Malam Nuzul Quran ke-17 (Qunua), malam 27 (Qadiri/ lailatur Qadar). Pada malam tersebut shalat tarwih dilaksanakan tepat pada pukul 00.00 malam yang dirangkai dengan sahur bersama yang dilakukan perangkat Syara Masjid Agung Keraton Buton bersama pemerintah daerah. Tradisi itu masih terjaga hingga kini.***


Jumat, 13 Agustus 2010

Masjid “Bengak” Al-Raisiyah Masjid Tertua di Mataram

Masjid Al-Raisiyah atau juga seringkali disebut Masjid Bengak di kawasan Sekarbela, kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Al-Raisiyah atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Bengak berdiri kokoh diantara perkampungan warga di Sekarbela, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Masjid yang dibangun diatas lahan seluas 10 hektar. merupakan peninggalan tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak yang hidup pada abad ke 17 Masehi. 

Kata ‘Bengak” yang melekat pada nama masjid ini, dalam bahasa setempat berarti “heran”. Dalam perjalanan sejarah masjid ini disebutkan bahwa, pada masa awal penyebaran Islam di Kawasan tersebut merupakan daerah yang sulit untuk mendapatkan air bersih. Sampai suatu hari pada saat Gaus Abdul Razak sedang memimpin pengajian di masjid tersebut yang kala itu masih berupa bangunan yang sangat sederhana, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat ter-“heran heran” dengan kejadian tersebut.  Keajaiban air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Lokasi Masjid Bengak al-Raisiyah

Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela
Kota Mataram, Prov. Nusa Tenggara Barat
Indonesia



Sejak berdiri, masjid tersebut sudah 4 kali direnovasi, Renovasi yang pertama dilakukan setelah Masjid terbakar akibat peperangan antara masyarakat Sekarbela yang menuntut kematian Tuan Guru Padang Reak dengan penguasa saat itu. Saat itu. Bentuk masjid Sekarbela berbentuk empat persegi dengan dinding bedek, atap rumbia, lantai tanah dan yang menjadi ciri khas adalah empat soko guru. Setelah kebakaran, Masjid dibangun kembali oleh TGH Mustafa dan TGH Moh. Toha. Bentuk Masjid masih sederhana dengan empat soko guru. Dari peninggalan yang ada yakni sebuah kaligrafi tertulis angka 1350 Hijriah.

Saat itu bangunan Masjid sudah lebih baik dari sebelumnya namun masih sederhana. Kemudian pada tahun 1890 M, atas prakarsa TGH M Rais, masjid direnovasi dengan memanfaatkan atap dari genteng. Jamaah yang semakin banyak menginspirasikan penerus selanjutnya, yakni TGH Muktamat Rais anak dari TGH Muhamaad Rais, untuk membangun kembali Masjid pada tahun 1974 dengan kontruksi beton. 

(atas) Ukiran mimbar dan mihrab tua di dalam masjid, (kiri bawah) kolam di halaman Masjid Bengak. (kiri bawah) masjid bengak dari kejauhan.

Namun dikarenakan jamaah yang semakin beragamnya kegiatan, maka pada tahun 2001 Masjid direnovasi kembali dengan desain Timur Tengah dan berlantai tiga. Diperkirakan dana yang dihabiskan untuk membangun Masjid ini sekitar Rp 6 milyar Rupiah. Menghadirkan masjid Bengak yang Moderen, tekstur bangunan Masjid Al-Ra'isiyah itu meniru Masjid Nabawi. Hal tersebut tampak dari bentuk kubah dan menara setinggi 63 meter. Bahkan dinding pada mimbar Masjid berbahan marmer yang diambil dari Lampung, pulau Sumatera. Keseluruhan dana pembangunan tersebut hasil sumbangan dari warga masyarakat Sekarbela.

Kawasan Sekarbela sendiri terkenal sebagai sentra pengrajin mutiara, puluhan toko perhiasan berderet memamerkan kemilau aneka jenis mutiara. berbagai jenis perhiasan berbahan emas, perak, dan batu-batuan berharga lainnya, bila kita masuk ke kawasan Sekarbela banyak sekali dijumpai toko yang sekaligus difungsikan sebagai showroom berbagai macam perhiasan berharga, baik emas, perak, kecubung, safir, dan tentu saja mutiara yang menjadi primadona utama. Tak mengherankan bila kemudian pembangunan masjid Bengak yang begitu mahal mampu dipikul sendiri oleh warga setempat tanpa bantuan dari pihak luar.

Meski modern, Masjid tersebut tetap memiliki sejarah. Mimbarnya dihiasi oleh ukiran kayu ipil berwarna hitam setinggi 20 meter yang diukir dengan kaligrafi Surat Al-Jum’ah. Kayu tersebut diperkirakan berusia 100 tahun lebih. Kayu itu merupakan salah satu peninggalan sejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid Bengak itu, merupakan Masjid tertua di Kota Mataram. Keberadaan Masjid itu menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang Islami. Tidak jauh dari Masjid tersebut berdiri Pondok Pesantren yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Rais. 

Mihrab dan Mimbar berukir di dalam masjid Bengak Al-Raisiyah

Masjid bengak dan air kolam ajaib

Menurut sesepuh masyarakat setempat, hadirnya tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak asal Jawa itu untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Lombok. Bahkan, menurut cerita, setiap tempat yang disinggahinya selama di Lombok, selalu diiringi munculnya sumber mata air, yang salah satunya terletak di Masjid Al-Ra'isiyah di Kota Mataram ini.

Dulunya daerah Kampung Sekarbela itu dikenal sebagai daerah tandus. Dalam sejarahnya daerah itu merupakan bagian dari daerah kekuasaan kerajaan Hindu dibawah pimpinan Anak Agung. Tak heran jika masyarakat Kampung Sekarbela saat itu, menganut faham animisme. Namun kondisi itu berubah seketika saat Gaus Abdul Razak masuk ke wilayah itu dan menyebarkan ajaran Islam. 

Suatu ketika, Gaus Abdul Razak memimpin sebuah pengajian di masjid tersebut. Anehnya, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat kaget sehingga mereka pun menggalinya hingga kedalaman 8 meter.  Keajaiban munculnya air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Mata air tersebut, lanjut Alwi lambat laun terus membesar sehingga membentuk kolam. Meski demikian air tersebut tidak merusak bangunan masjid yang pada saat itu terbuat dari kayu ipil dengan beratapkan alang. Itulah mengapa masjid tersebut dinamakan 'Bengak', lantaran diambil dari bahasa sasak yang berarti heran. Masyarakat menjadi heran dengan kemunculan air yang berlimpah dari dalam tanah tersebut, yang akhirnya memakmurkan kehidupan warga.

interior masjid Al-Raisiyah

Tidak cukup sampai disitu, masyarakat mempercayai air tersebut mengandung kekuatan supranatural. Bahkan konon pada masa penjajahan Jepang, air itu berubah menjadi minyak yang oleh warga diyakini mampu menjadi kekebalan tubuh dari senjata tajam. Bahkan, sejumlah tentara Jepang yang terluka juga konon dibawa ke Masjid itu untuk memperoleh pengobatan.

Untuk menjaga kelestariannya, masyarakat sekitar membuat kolam berukuran 5 x 15 meter dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter, tepat didepan mimbar Masjid. Selain kolam juga terdapat sumur tua. Namun, sayangnya, hingga masjid tersebut semakin ramai di padati umat Islam yang beribadah, dan air yang keluar dari tanah kian membesar, Gauz Abdul Rozak meninggalkan kampung tersebut, dan menghilang hingga kini belum diketahui keberadaan makamnya. 

Kini, masyarakat banyak menghabiskan waktu berbuka sambil duduk-duduk santai di palataran masjid. Haji Alwi menjelaskan suasana Masjid Bengak tersebut tetap ramai meskipun dihari biasa.***

 

Baca Juga

Jumat, 06 Agustus 2010

Mampir Sholat di Masjid Kowloon - Hongkong

Masjid Kowloon menjelang pagi

Baru kali ini masuk masjid ada resepsionis nya, Laki laki berjenggot pula, sedang asyik baca Qur’an bareng seorang bocah laki laki, mungkin anaknya. Dengan ramah dia menunjukkan arah ke ruang sholat di lantai yang sama, Karena kami berlima dengan pede menuju ke lantai dua sesuai petunjuk anak panah yang terpasang di dinding disamping meja resepsionis-itu.

Lokasi Masjid Kowloon & Islamic Center

Kowloon Mosque and Islamic Centre, begitu nama resminya seperti tertulis dimeja resepsionis dan di dinding depan masjid yang menghadap ke Nathan Road di wilayah Tsim Tsa Tsui pusat kota Kowloon-Hongkong. Alamat resminya adalah : 105 Nathan Road, TST, Kowloon –Hongkong SAR. Telepon : 2724 0095, Fax : 2724 2661. Bagi yang suka belanja ke luar negeri pastinya hafal betul kalau di ruas jalan Nathan road itu juga terdapat surga belanja segala macam keperluan.




Hotel tempat kami kami menginap tak terlalu jauh dari masjid kowloon, cukup jalan kaki untuk mencapai masjid. Tadi malam ketika baru tiba di Hongkong kami sudah memetakan dalam benak masing masing lokasi masjid itu ketika taksi kami melintas dari sana. Itu sebabnya ketika waktu subuh tiba kami berlima langsung ngacir dari hotel menuju kesana tanpa perlu tanya tanya lagi.

Resepsionis berjenggot.
Masjidnya cukup lega, untuk ukuran Hongkong bahkan sangat lega sekali, mengingat ummat muslim minoritas di negeri naga ini. Hampir semua jemaah subuh kali ini bertampang asing, alias bukan wajah pribumi. Termasuk kami berlima. Atau jangan jangan justru mereka semua itu adalah pribumi Hongkong ? hmm siapa tahu. Beragam ras dan warna kulit berbaur jadi satu menghadap sang khaliq tanpa ada pembeda satu sama lain. Ba’da subuh ada beberapa liqoh disana, belajar mengaji, ada yang belajar agama Islam sementara yang lainnya sibuk melanjutkan zikir ke khadirat Alloh Subhanahuwata’ala.

Dalam hati aku bergumam sendiri, betapa maha besarnya kuasa Alloh Subhanahuwata’ala, aku bahkan tak pernah membayangkan suatu hari bisa sampai kemari, sebuah masjid yang bahkan tak pernah ku ketahui keberadaanya sebelum ini. Rencana Alloh memang tak bertanding.

Sejarah Masjid Kowloon & Islamic Center

Prasasti pembangunan Masjid Kowloon
Menurut prasasti yang terpasang di bagian dalam dinding masjid, masjid Kowloon pertama kali didirikan tahun pada tahun 1896 dan di renovasi tahun 1902.

Dibangun menjadi masjid semegah saat ini pada tahun 1984, di lokasi yang sama. Pembangunan menghabiskan dana HK$25 juta dolar Hongkong, mampu menampung 2,000 jemaah. Dan terahir kali direnovasi kembali pada tahun 2008 menghabiskan HK$13 juta Hongkong menambah daya tampungnya hingga 3,500 jemaah.

Komunitas Muslim Indonesia

18-April-2010 siang kami kembali ke sana untuk sholat zuhur, kami yang terlambat untuk sholat zuhur berjamaah di arahkan ke lantai dua masjid karena saat itu dilantai satu masjid sedang penuh sesak oleh muslimah Indonesia yang melaksanakan acara pengajian disana, sepertinya salah satu acaranya adalah pengumpulan dana untuk dompet dhuafa cabang Hongkong, begitu hasil bincang bincang singkat salah satu rekan kami dengan seorang ihkwan penyelenggara acara di teras masjid.

Senang juga menjumpai ada komunitas muslim Indonesia yang sedang berkumpul disana. Di Hongkong sendiri memang tak sulit untuk menemukan orang orang indonesia dari berbagai suku yang berseliweran disana. Selama Jalan jalan diseputaran Tsim Tsa Tsui dari Mongkok hingga ke Avenue of stars selepas subuh tadi begitu banyak orang indonesia yang kami jumpai. Tak sulit untuk mengenali mereka, dan tak sulit juga bagi mereka untuk mengenali kami karena dua dari kami berlima masih menggunakan baju koko saat jalan jalan pagi. Dengan enteng temanku bilang, ini kita jalan jalan kok kayak di glodok ya....

tempat wudhu.
Ini zuhur terahir kami di Hongkong untuk kunjungan kali ini (semoga saja ada kesempatan berikutnya) dari masjid Kowloon Hongkong, kami langsung bertolak ke Shenzen untuk melanjutkan perjalanan ke Dongguan propinsi Guangzhou-China. Urusan kantor sudah menanti disana. Dua rekan kami yang menemani perjalanan hari ini tampak sudah tak sabar menunggu kami diteras depan masjid, keduanya non muslim yang satu dari negeri matahari terbit dan yang seorang lagi asli Hongkong. Dia sendiri baru pertama kali ini mampir ke masjid Kowloon walau hanya nongkrong di tangga masjid nungguin koper dan tas kami yang bertumpuk.

Yang Menarik di Masjid Kowloon & Islamic Center

Setidaknya ada beberapa hal yang menarik dari Masjid Kowloon di Hongkong ini. pertama yang tadi kusebut di awal bahwa di masjid ini ada resepsionisnya, dilantai dua masjid disamping kotak amal disiapkan satu kotak lagi isinya penuh dengan peci, ya peci bundar warna warni untuk penutup kepala waktu sholat itu. Dengan iseng aku nyari nyari peci khas indonesia, tapi tidak ketemu. Tidak ada orang Indonesia yang nyumbang barangkali atau mungkin karena pengurusnya tidak ada orang Indonesia.

Lalu di deretan shaf belakang disediakan kursi khusus untuk penyandang cacat yang tak mampu berdiri sempurna untuk mempermudah mereka melaksanakan sholat. Kursi itu juga bisa dipakai untuk membaca Qur’an. Bagus sekali fungsinya. Siapa tahu diantara pembaca ada yang minat untuk mengaplikasikannya di masjid masjid tanah air.

Lantai satu.
Tak ada A/C atau kipas angin di masjid ini. Dinding masjid di penuhi dengan lubang angin dari dinding yang di design begitu indah dari granit yang yang di ukir tembus, memberikan keleluasaan bagi sirkulasi udara keluar dan masuk masjid.

Yang paling menarik perhatianku adalah ketika memasuki ruang tempat berwudhlu, disetiap keran air disediakan bangku dari batu bulat panjang sebagai tempat duduk bagi jemaah yang akan berwudhlu, ini benar benar membantu dan memanjakan jemaah. Tak perlu takut terjatuh pada saat mengangkat kaki sebelah untuk membasuh kaki. Tinggal duduk dibangku batu selama berwudhlu.

Tanpa Tempat Parkir

Beda dengan di Indonesia yang hampir semua masjid menyediakan lapangan parkir untuk jamaah. Masjid ini tak ada lapangan parkirnya. Sepertinya memang sudah adatnya orang Hongkong yang terbiasa bepergian dengan kendaraan umum, karena kendaraan umum disini memang sangat nyaman dan harganya cukup terjangkau serta tersedia setiap waktu. Ada dua gerbang masuk/keluar ke stasiun kereta (MTR) Tsim Tsa Tsui yang sangat dekat dengan masjid (stasiunnya sendiri di bawah tanah), pas di depan masjid ada halte bis kota.

Lebih nyaman lagi karena trotoar untuk pejalan kaki sama luasnya dengan jalan raya untuk kendaraan. Tak ada angkot apalagi ojeg. Jadi gak usah khawatir keserempet. Tak ada pedagang kaki lima di trotoarnya, jadi trotoarnya murni untuk pejalan kaki.

Hati hati kepleset.
Dan tak usah takut disenggol kendaraan umum waktu nyeberang jalan, karena sudah dipasang lampu merah untuk pejalan kaki terintegrasi dengan lampu merah untuk kendaraan, pada saat lampu merah menyala untuk kendaraan maka lampu hijau untuk pejalan kaki akan menyala. Anda pun bisa menyeberang dengan aman. Di beberapa tempat bahkan tak tersedia zebra cross karena rute penjalan kaki sudah di belokkan ke terowongan bawah tanah yang begitu lega, gak usah takut gelap karena terowongannya terintegrasi dengan pusat perbelanjaan yang terang benderang, full A/C dan ada Satpam berseragam yang berjaga disetiap pintu keluar masuknya.

Fasilitas umum di kota ini memang cukup memanjakan warganya. Tak jauh berbeda dengan di Singapura. Cukup wajarlah bila kemudian biaya hidup di Hongkong berkali kali lipat dibandingkan beberapa kota lain dunia termasuk dengan China daratan bahkan bila dibandingkan dengan Jakarta, ibukota tercinta.

So bila suatu saat anda berkunjung ke Hongkong dan kebetulan menginap di kowloon tak usah pusing pusing nyari masjid, tinggal ke Nathan street di kawasan Tsim Tsa Tsui (TST) ada masjid gede yang sekaligus berfungsi sebagai Islamic Centre Kowloon. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Wassalamualaikum (updated 21/01/2020).***

Beberapa Foto Masjid Kowloon & Islamic Center, Hongkong

Ruang sholat utama di lantai dua.
Public space disamping masjid.
Donation and drop box.
Pagi sekali.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga


Sabtu, 06 Februari 2010

Masjid Patimburak, Masjid Tua Kota Kokas

Masjid Tua Wertuar Patimburak.

Bila anda berkesempatan berkunjung ke distrik Kokas kabuten Fakfak, Provinsi Papua Barat, jangan lupa mampir ke Masjid Tua Patimburak. Masjid kecil, tua nan indah dari masa lalu menandai hadirnya Islam di tanah papua sejak tahun 1700 yang lalu.

Distrik kokas, terkenal dengan objek wisata lukisan di tebing bebatuan terjal. Oleh masyarakat setempat, tebing bebatuan terjal ini biasa disebut Tapurarang. peninggalan sejak zaman prasejarah ini bisa dijumpai di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras. Masih ada objek menarik yang  lain yaitu sisa-sisa peninggalan Perang Dunia ke-II yang terdapat di kota ini. Kota yang dijadikan basis pertahanan tentara Jepang melawan sekutu di periode 1942/1945. Bangunan goa atau benteng Jepang yang terdapat di pusat kota Kokas. Menjadi saksi bisu peristiwa sejarah itu.

Situs Masjid Tua Wertuar Patimburak
Patimburak, Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

 

Meski belum ada literatur yang melukiskan asal usul kehadiran kaum Muslim di Fakfak. Tetapi, kenyataan, hampir 60 persen warga Fakfak dan sekitarnya menganut agama Islam. Menjadikan Fak Fak sebagai kabupaten dengan pemeluk Islam terbesar di Papua Barat. Tak hanya warga pendatang, tetapi penduduk asli dengan warna kulit hitam dan rambut keriting sudah sejak ratusan tahun silam menganut agama Islam. Mesjid Patimburak yang didirikan tahun 1700-an adalah bukti sejarah Islam di Fakfak. 

Tokoh muslim Fakfak, Syamsu ZA Tukuwain, mengatakan, kehadiran Islam di Fakfak bukan impor dari luar Papua. "Mesjid tertua di daerah ini adalah masjid Patimburak sekitar 100 km dari Fakfak. Mesjid ini dibangun persis di bibir pantai Kampung Patimburak dengan mengambil arsitektur seperti kebanyakan bangunan tua di Eropa," kata Tukuwain.

Kaum Muslim di Fakfak datang dari masa kesultanan Tidore dan Ternate yang berkuasa pada tahun 1200-1400. Masjid Tua Patimburak yang berlokasi di Kokas, Fak-Fak, Papua Barat. Masjid ini menjadi bukti sejarah syiar Islam sesungguhnya telah menyentuh tanah Papua beratus tahun lampau. Bangunan masjid seluas tak lebih dari 100 meter persegi ini didirikan pada 1870 oleh Imam Abuhari Kilian.

Masjid Tua Wertuar Patimburak

Jika bertandang ke masjid tua ini, terselip atmosfer religi yang menyembul di antara belantara. Masjid ini berada di kampung yang dihuni tak lebih dari 36 kepala keluarga. Kesederhanaan terasa menyatu antara masjid dan kehidupan masyarakatnya. 

Masjid Patimburak yang telah beberapa kali direnovasi ini memiliki keunikan pada arsitekturnya. Perpaduan bentuk masjid dan gereja terlihat jelas. Ini menunjukkan toleransi sudah tumbuh lama di Kokas. Empat pilar penyangga yang terdapat di dalam masjid masih menggunakan material yang asli.

Penyebaran Islam di Kokas tak lepas dari pengaruh Kekuasaan Sultan Tidore di wilayah Papua. Pada abad ke-15, Kesultanan Tidore mulai mengenal Islam. Sultan Ciliaci adalah sultan pertama yang memeluk agama Islam. Sejak itulah sedikit demi sedikit agama Islam mulai berkembang di daerah kekuasaan Kesultanan Tidore termasuk Kokas.

Pada masa penjajahan, masjid ini pernah diterjang bom tentara Jepang. Hingga kini, kejadian tersebut menyisakan lubang bekas peluru di pilar masjid.

Masjid Tua Wertuar Patimburak

Untuk mencapai lokasi Masjid Tua Patimburak, Anda sebelumnya harus menempuh perjalanan darat dari Fakfak ke Kokas. Tersedia angkutan luar kota dari terminal kota Fakfak. Sekitar dua jam, menyusur jalanan berkelok dan segarnya udara pegunungan bisa dinikmati. Tiba di Kota Kokas, perjalanan menuju Kampung Patimburak harus dilanjutkan menggunakan longboat sewaan sekitar satu jam. Pulau-pulau karang menawan menjadi pemandangan yang tersaji.

Menurut cerita turun temurun masjid tersebut dibangun dimasa Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya.

Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu. 

Masjid lah yang berdiri pertama kali Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, dan masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. (Dari berbagai sumber).

Kamis, 04 Februari 2010

Masjid Wapauwe, Salah Satu Masjid Tertua di Indonesia

Seperti halnya sejumlah wilayah lain di Indonesia yang menyimpan sejarah peradaban agama-agama dunia, Provinsi Seribu Pulau, Maluku juga menyimpan peninggalan sejarah Islam yang masih ada dan tidak lekat dimakan zaman. Di utara Pulau Ambon, tepatnya di Negeri (desa) Kaitetu Kecamatan, Leihitu Kabupaten, Maluku Tengah, berdiri Masjid Tua Wapauwe. Umurnya mencapai tujuh abad. Masjid ini dibangun tahun 1414 Masehi. Masih berdiri kokoh dan menjadi bukti sejarah Islam masa lampau.

Untuk mencapai Negeri Kaitetu dimana Masjid Tua Wapauwe berada, dari pusat Kota Ambon kita bisa menggunakan transportasi darat dengan menempuh waktu satu jam perjalanan. Bertolak dari Kota Ambon ke arah timur menuju Negeri Passo. Di simpang tiga Passo membelok ke arah kiri melintasi jembatan, menuju arah utara dan melewati pegunungan hijau dengan jalan berbelok serta menanjak. Sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan alam pegunungan, dengan sisi jalan yang terkadang memperlihatkan jurang, tebing, atau hamparan tanaman cengkih dan pala hijau menyejukkan mata. 

Sebelum mencapai Kaitetu, kita terlebih dahulu bertemu Negeri Hitu, yang terletak sekitar 22 kilometer dari Ambon. Sebuah ruas jalan yang menurun, mengantarkan kita memasuki Hitu. Pada ruas jalan tersebut kita disuguhi panorama pesisir pantai Utara Pulau Ambon yang indah dengan hamparan pohon kelapa dan bakau. Dari situ juga, kita dapat melihat dengan jelas Selat Seram dengan lautnya yang tenang. Tiba di simpang empat Hitu, kita harus membelokkan kendaraan ke arah kiri, atau menuju arah barat menyusuri pesisir Utara Jazirah Hitu. Baru setelah kita menempuh 12 kilometer perjalanan dari situ, kita akan menemukan Negeri Kaitetu.

KONSTRUKSI PELEPAH SAGU

Masjid yang masih dipertahankan dalam arsitektur aslinya ini, berdiri di atas sebidang tanah yang oleh warga setempat diberi nama Teon Samaiha. Letaknya di antara pemukiman penduduk Kaitetu dalam bentuk yang sangat sederhana. Konstruksinya berdinding gaba-gaba (pelepah sagu yang kering) dan beratapkan daun rumbia tersebut, masih berfungsi dengan baik sebagai tempat ber-shalat Jumat maupun shalat lima waktu, kendati sudah ada masjid baru di desa itu. 

Bangunan induk Masjid Wapauwe hanya berukuran 10 x 10 meter, sedangkan bangunan tambahan yang merupakan serambi berukuran 6,35 x 4,75 meter. Typologi bangunannya berbentuk empat bujur sangkar. Bangunan asli pada saat pendiriannya tidak mempunyai serambi. Meskipun kecil dan sederhana, masjid ini mempunyai beberapa keunikan yang jarang dimiliki masjid lainnya, yaitu konstruksi bangunan induk dirancang tanpa memakai paku atau pasak kayu pada setiap sambungan kayu.

Hal lainnya yang bernilai sejarah dari masjid tersebut yakni tersimpan dengan baiknya Mushaf Alquran yang konon termasuk tertua di Indonesia. Yang tertua adalah Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.

Imam Muhammad Arikulapessy adalah imam pertama Masjid Wapauwe. Sedangkan Nur Cahya adalah cucu Imam Muhammad Arikulapessy. Mushaf hasil kedua orang ini pernah dipamerkan di Festival Istiqlal di Jakarta, tahun 1991 dan 1995.

Selain Alquran, karya Nur Cahya lainnya adalah: Kitab Barzanzi atau syair puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, sekumpulan naskah khotbah seperti Naskah Khutbah Jumat Pertama Ramadhan 1661 M, Kalender Islam tahun 1407 M, sebuah falaqiah (peninggalan) serta manuskrip Islam lain yang sudah berumur ratusan tahun. 

Kesemuanya peninggalan sejarah tadi, saat ini merupakan pusaka Marga Hatuwe yang masih tersimpan dengan baik di rumah pusaka Hatuwe yang dirawat oleh Abdul Rachim Hatuwe, Keturunan XII Imam Muhammad Arikulapessy. Jarak antara rumah pusaka Hatuwe dengan Masjid Wapauwe hanya 50 meter.

RENOVASI

Masjid ini direnovasi pertama kali oleh pendirinya, Jamilu pada tahun 1464, tanpa merubah bentuk aslinya. Meski pernah mengalami dua kali pemindahan, bangunan inti masjid ini tetap asli. Bangunan ini mengalami renovasi kedua kali pada tahun 1895 dengan penambahan serambi di depan atau bagian timur masjid. 

Masjid berkali-kali mengalami renovasi sekunder setelah masa kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1959, atap masjid mulai menggunakan semen PC yang sebelumnya masih berkerikil. Setelah itu terjadi dua kali renovasi besar-besaran, yaitu pada Desember 1990-Januari 1991 dengan pergantian 12 buah tiang sebagai kolom penunjang dan balok penopang atap. Pada tahun 1993 dilakukan pergantian balok penadah kasau dan bumbungan, dengan tidak mengganti empat buah tiang sebagai kolom utama. 

Pada tahun 1997, atap masjid yang semula menggunakan seng diganti dengan bahan (semula) dari nipah. Atap nipah diganti setiap lima tahun sekali. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tetap asli karena tidak merubah bentuk inti masjid sama sekali. Sehingga, dapat dikatakan bahwa masjid ini sebagai masjid tertua di tanah air yang masih terpelihara keasliannya hingga kini. Maret 2008 lalu, Masjid ini direnovasi kembali. Struktur atap yang terbuat dari pelepah sagu diganti yang baru.

WARISAN SEJARAH

Bukan suatu kebetulan, Masjid Wapauwe berada di daerah yang mengandung banyak peninggalan purbakala. Sekitar 150 meter dari masjid ke arah utara, di tepi jalan raya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Portugis dan Belanda. Kini gereja itu telah hancur akibat konflik agama yang meletus di Ambon tahun 1999 lalu. Selain itu, 50 meter dari gereja ke utara, berdiri dengan kokoh sebuah benteng tua "New Amsterdam". Benteng peninggalan Belanda yang mulanya adalah loji Portugis. Benteng New Amsterdam terletak di bibir pantai ini dan menjadi saksi sejarah perlawanan para pejuang Tanah Hitu melalui Perang Wawane (1634-1643) serta Perang Kapahaha (1643-1646).

"Masjid ini memiliki nilai historis arkeologis yang penting. Didalamnya terpancar budaya masa lalu sehingga perlu kita lestarikan," kata Pejabat Negeri Kaitetu, Yamin Lumaela, di rumah Raja Negeri Kaitetu. Lumalea berharap, keberadaan Masjid Wapauwe beserta beberapa peninggalan sejarah Islam lainnya yang sudah tua, bisa menjadi salah satu wilayah atau daerah tujuan wisata di Kepulauan Maluku.

"Sebelum kerusuhan banyak wisatawan yang datang kemari. Kondisinya berubah saat konflik. Sekarang pengunjungnya sangat kurang," ungkapnya. Berdirinya Masjid Wapauwe di Negeri Kaitetu tidak terlepas dari hikayat perjalanan para mubaligh Islam yang datang dari Timur Tengah membawa ciri khas kebudayaannya ke dalam tatanan kehidupan masyarakat yang mendiami bagian utara Pulau Ambon, yakni jazirah Hitu yang dikenal dengan sebutan Tanah Hitu. Ciri khas ini kemudian melahirkan satu peradaban yang bernuansa Islam dan masih bertahan dilingkungan masyarakat setempat hingga saat ini seperti, budaya kesenian (hadrat), perkawinan, dan khitanan.

Mulanya Masjid ini bernama Masjid Wawane karena dibangun di Lereng Gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara). Kedatangan Perdana Jamilu ke tanah Hitu sekitar tahun 1400 M, yakni untuk mengembangkan ajaran Islam pada lima negeri di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab. 

Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat gangguan dari Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada tahun 1580 setelah Portugis di tahun 1512. Sebelum pecah Perang Wawane tahun 1634, Belanda sudah mengganggu kedamaian penduduk lima kampung yang telah menganut ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merasa tidak aman dengan ulah Belanda, Masjid Wawane dipindahkan pada tahun 1614 ke Kampung Tehala yang berjarak 6 kilometer sebelah timur Wawane. Kondisi tempat pertama masjid ini berada yakni di Lereng Gunung Wawane, dan sekarang ini sudah menyerupai kuburan.

Dan jika ada daun dari pepohonan di sekitar tempat itu gugur, secara ajaib tak satupun daun yang jatuh diatasnya. Tempat kedua masjid ini berada di suatu daratan dimana banyak tumbuh pepohonan mangga hutan atau mangga berabu yang dalam bahasa Kaitetu disebut Wapa. Itulah sebabnya masjid ini diganti namanya dengan sebutan Masjid Wapauwe, artinya masjid yang didirikan di bawah pohon mangga berabu.

Pada tahun 1646 Belanda akhirnya dapat menguasai seluruh Tanah Hitu. Dalam rangka kebijakan politik ekonominya, Belanda kemudian melakukan proses penurunan penduduk dari daerah pegunungan tidak terkecuali penduduk kelima negeri tadi. Proses pemindahan lima negeri ini terjadi pada tahun 1664, dan tahun itulah ditetapkan kemudian sebagai tahun berdirinya Negeri Kaitetu.

PINDAH SECARA GAIB

Menurut cerita rakyat setempat, dikisahkan ketika masyarakat Tehala, Atetu dan Nukuhaly turun ke pesisir pantai dan bergabung menjadi negeri Kaitetu, Masjid Wapauwe masih berada di dataran Tehala. Namun pada suatu pagi, ketika masyarakat bangun dari tidurnya masjid secara gaib telah berada di tengah-tengah pemukiman penduduk di tanah Teon Samaiha, lengkap dengan segala kelengkapannya. "Menurut kepercayaan kami (masyarakat Kaitetu, red) masjid ini berpindah secara gaib. Karena menurut cerita orang tua-tua kami, saat masyarakat bangun pagi ternyata masjid sudah ada," kata Ain Nukuhaly, warga Kaitetu. Sementara itu, kondisi Mushaf Nur Cahya beserta manuskrip tua lainnya tampak terawat meskipun sudah mengalami sedikit kerusakan seperti berlobang kecil, sebagian seratnya terbuka dan tinta yang pecah akibat udara lembab. 

Menurut Rahman Hatuwe, ahli waris Mushaf Nur Cahya, kerusakan tersebut akibat faktor kertasnya yang sudah tua, debu, kelembaban udara serta insek (hewan) kertas. Dia menambahkan, pihaknya pernah mendapat obat serbuk (tidak disebutkan namanya) untuk menjaga keawetan manuskrip-manuskrip tua ini, hanya saja obat tersebut sudah habis.

"Alquran Nur Cahya ini masih jelas, dan waktu-waktu tertentu saya masih sering membaca (ayat-ayat suci Alquran dari Mushaf ini, red) seperti pada waktu Ramadan sekarang ini," kata Rahman yang adalah keturunan VIII Imam Muhammad Arikulapessy. (detiknews.com).