Tampilkan postingan dengan label Masjid di Nusa Tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di Nusa Tenggara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2016

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera, Pulau Solor

Masjid Al-Ijtihaj di Kampungnya para pemburu paus, Lamakera

Lamakera adalah sebuah desa di pantai ujung timur pulau Solor, Nusa Tenggara Timur. Secara administratif desa ini masuk ke dalam kecamatan Solor Timur, kabupaten Flores Timur, dan selama berabad abad terkenal sebagai desanya para pemburu ikan paus, sebuah propesi yang benar benar langka dan membutuhkan nyali besar untuk menjalaninya. Lamakera adalah satu dari dua desa di NTT yang penduduknya memiliki propesi tak biasa tersebut, desa lainnya adalah desa yang namanya nyaris sama, yakni Desa Lamalera di Kabupaten Lembata.

Sejak tahun 2015 Lamakera dikembangkan oleh Pemkab Flotim sebagai kawasan pariwisata bahari baru bagi para pecinta dunia laut. Di Lamakera dtemukan sejumlah jenis ikan langka yang hidup diperaian ini sejak berabad abad silam. Beberapa diantara hewan hewan laut itu kini bahkan nyaris punah, diantaranya dalah ikan paus, hiu, lumba lumba dan ikan pari manta atau dalam bahasa setempat disebut ikan Moku.

Lamakera merupakan sebuah perkampungan berbasis islam, letaknya yang berada di ujung timur pulau solor menjadikannya sebagai daerah yang cukup strategis karena menjadi tempat pertemuan arus dan mudah menjangkau laut sawu. Orang Lamakera merupakan nelayan ulung yang memulai tradisi perburuan paus biru dengan hanya bermodalkan “gala”(Tombak) dengan bertelanjang dada melesat diatas ganasnya samudera.

Laskar Lamakera nama gelar untuk para penangkap paus desa Lamakera seajak dahulu. Laskar lamakera inilah yang memulai tradisi perburuan paus yang kemudian ditiru desa serumpunnya Lamalera disebelah selatan pulau lomblen (Lembata) yang bermayoritas Katolik dan Kristen protestan. Hanya saja justru desa Lamalera yang di eskpose oleh media massa yang berakibat protes keras dari warga Lamakera.

Kampung yang indah menghadap ke laut lepas berlatar bukit menghijau

Dulunya, Desa Lamakera terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Motonwutun di sebelah timur dan Dusun Watobuku di sebelah barat. Seiring meningkatnya jumlah penduduk di kedua dusun tersebut, sekarang statusnya sudah meningkat menjadi desa, yaitu Desa Motonwutun dan Desa Watobuku. Meski sudah terbagi menjadi dua desa, tapi warga kedua desa tersebut tetap menyebut dirinya sebagai Warga Desa Lamakera.

Untuk mencapai Desa Lamakera, memang butuh sedikit perjuangan. Dari kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur dapat ditempuh dengan perahu (kapal motor) selama sekitar dua jam. Satu-satunya kapal motor yang menuju Lamakera adalah Kapal Motor (KM) Rahmat Solor yang dimiliki oleh Warga Lamakera. Setiap hari kapal ini berangkat dari Pelabuhan Larantuka jam 12.00 siang dan tiba di Desa Lamakera sekitar jam 14.00.

Opsi lainnya untuk menuju ke Lamakera, dari Larantuka Anda bisa naik perahu sampai ke Kota Waiwerang, Pulau Adonara kemudian lanjut naik perahu kecil hingga tiba di Lamakera. (edyra). Sampai saat ini tidak ada hotel ataupun penginapan di Desa Lamakera. Namun, pengunjung bisa menginap di rumah warga yang ramah dan terbuka terhadap para pengunjung desa mereka.

Sebagai sebuah desa dengan penduduk beragama Islam, di Lamakera berdiri sebuah masjid megah bergaya modern dengan nama Masjid Al-Ijtihaj. Sebuah bangunan megah dengan menaranya yang tinggi menjulang telah menjadi landmark Lamakera sejak masjid tersebut berdiri. Bagaimana tidak selain sebagai bangunan termegah di seantero desa, masjid ini juga merupakan bangunan tertinggi sekawasan.

Masjid AlIjtihad Lamakera
Desa Watobuku, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur. Indonesia
Koordinat : 8°26'4"S 123°9'49"E


Posisi Lamakera yang berada di bibir pantai dan lokasi masjid ini yang juga berada di tepi pantai membuat menara dan kubah besarnya sudah terlihat dari kejauhan, menjadi semacam mercusuar bagi para nelayan Lamakera yang sedang melaut. Dari bukit batu yang berada di sisi barat desa bangunan masjid ini terlihat tinggi menjulang diantara bangunan rumah rumah penduduk. 

Masjid Al-Ijtihaj Lamakera ini dibangun dengan dana swadaya masyarakat muslim setempat sejak tahun 2012, sebuah upaya dan semangat ke-Islaman yang luar biasa dari muslim setempat dengan segala keterpencilannya, mampu membangun sebuah masjid yang begitu megah, bahkan menara utama masjid ini memiliki ketinggian hingga 45 meter menjadi menara masjid tertinggi di kabupaten Flores Timur dan provinsi NTT.

Masjid Al-Ijtihat mempunyai tujuh pintu, dan masing masing pintu diberi nama sesuai nama tujuh suku yang ada di Lamakera, yaitu Lewoklodo, Ema Onang, Kiko Onang, Lamakera, Hari Onang, Lawerang, dan Kuku Onang. Masjid ini mempunyai lima menara dengan menara utama yang berada di depan masjid menjulang setinggi 45 meter.

Masya Allah Indahnya

Lamakera memiliki pesona alam yang menawan. Pengunjung yang datang kesana dapat memanjat ratusan anak tangga hingga ke puncak menara dengan meminta izin dari takmir masjid. Panorama yang terlihat dari puncak menara sangat menakjubkan. Seluruh Desa Lamakera bisa terlihat dengan jelas lengkap dengan bukit-bukit hijau di belakang desa dan Selat Solor yang berair biru di depannya. Pulau Adonara di seberang selat dan Pulau Lembata di sebelah timur juga terlihat jelas.

Desa Lamakera diapit dua buah tanjung. Di sebelah barat desa namanya Tanjung Watobuku dan di sebelah timur desa namanya Tanjung Motonwutun. Nama kedua tanjung ini kemudian dijadikan nama desa, setelah Desa Lamakera dipecah menjadi dua. Panorama di Tanjung Watobuku sangat cantik. Di tanjung ini terdapat sekumpulan batuan dengan bentuk yang unik. Batu ini dikeramatkan oleh Warga Lamakera.

Tak jauh dari Tanjung Watobuku juga terdapat sebuah pantai yang menarik, namanya Pantai Kebang. Di pantai ini terdapat sebuah batu karang yang menjorok ke laut, bentuknya mirip moncong/mulut buaya. Ada juga batuan berwarna merah di pinggir pantai yang semakin menambah keindahan pantai Di dekat Pantai Kebang juga terdapat padang savana dengan rumput hijau yang menghampar luas. Selain itu, kita juga bisa melihat Gunung Ile Bolang yang berdiri menjulang di Pulau Adonara.

Sejarah Masuknya Agama Islam di Lamakera

Lamakera dari bebukitan 

Kepercayaan nenek moyang masyarakat Lamakera sebelum kedatangan Islam adalah animisme. Seperti di kawasan Indonesia pada umumnya, awal masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang dan ulama. Pada abad XV, banyak para pedagang Islam dari berbagai wilayah di Nusantara, seperti para pedagang dari pulau Jawa, Sumatera dan Bugis Makasar yang melakukan perdagangan dan atau menyinggahi berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur sebagai tempat transit sebelum meneruskan pelayaran ke Maluku, Makasar ataupun ke bandar-bandar di pulau Jawa.

Karena faktor tersebut agama Islam paling awal masuk di wilayah Nusa Tenggara Timur adalah di sekitar bandar-bandar strategis yang banyak dikunjungi para pedagang Islam. Tempat-tempat tersebut antara lain : Pulau Solor, Pulau Ende, Pulau Alor, Kota Kupang, dan pesisir utara Sumba Barat. Pulau Solor merupakan tempat yang paling strategis bila ditinjau dari segi perdagangan karena berada pada posisi silang pelayaran dari bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke Maluku atau sebaliknya, dari bandar-bandar di pulau Jawa, Sumatera, Makasar ke pulau Timor dan dari bandar di Makasar ke pantai utara Australia.

Di samping itu di Lamakera terdapat pelabuhan alam yang bagus dan aman sebagai tempat persinggahan kapal dalam rangka menunggu cuaca dan angin yang tepat untuk berlayar. Itulah sebabnya Lamakera yang terletak di ujung timur pulau Solor sebagai tempat yang paling banyak dikunjungi para pedagang dan pelaut Islam dan merupakan salah satu tempat di NTT yang paling awal menerima agama Islam.

Dari arah laut

Keberuntungan yang disebabkan oleh letak yang strategis dalam jalur perdagangan serta tersedianya pelabuhan alam yang aman telah menjadikan masyarakat Lamakera sebagai komunitas yang terbuka untuk menerima segala hal baru yang dibawa para pedagang yang hilir mudik tersebut.

Apalagi tradisi raja Lamakera pada saat itu, adalah mengundang dan menjamu setiap saudagar dari luar yang singgah untuk berdagang dan atau sekedar berteduh dari gangguan musim angin yang kencang. Keramahan tuan rumah seperti yang dicontohkan sang raja tersebut, merupakan kesempatan yang baik bagi para pedagang Islam, untuk lebih mudah memperkenalkan Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera.

Sekitar abad ke XV, seorang pedagang dari Palembang bernama Syahbudin bin Ali bin Salman Al Farisyi atau yang kemudian dikenal juga dengan Sultan Menanga, merupakan salah seorang tokoh perintis penyebaran agama Islam. Tokoh ini oleh Raja Sangaji Dasi diberi izin menetap di wilayah perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lohayong. Di sana ia mendirikan perkampungan Islam yang diberi nama Menanga.

Melalui pendekatan kekeluargaan, tokoh ini berhasil menjadi menantu kerajaan dengan mengawini putri dari adik Raja Sangaji Dasi. Pada saat bersamaan, ia juga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Dengan keberhasilan meng-Islam-kan tokoh kunci yakni raja dan keluarganya, maka semakin lancarlah upaya penyebaran agama Islam bagi pengikut dan rakyat di kerajaan tersebut.

Lamakera dengan menara masjidnya yang menjulang menjadi semacam mercusuar bagi para nelayannya

Kemudian pada tahun 1628, dibangunlah sebuah surau bagi pendukung pembinaan penyebaran agama Islam di Lamakera. Tokoh lain yang juga menjadi perintis penyebaran agama Islam di Pulau Solor adalah seorang ulama dari Ternate (Maluku) bernama Sutan Sahar dan istrinya yang bernama Syarifah al Mansyur.

Kecerdasan para pedagang dan ulama dalam menjelaskan ajaran Islam kepada penguasa dan masyarakat Lamakera, telah membuat Islam begitu mudah diterima dan dalam waktu yang tidak begitu lama penguasa dan masyarakat Lamakera yang sebelumnya merupakan penyembah Rera Wulan Tanah Ekang, menjadi penganut Islam yang taat.

Penyebaran Islam di Lamakera dapat berjalan dengan baik dan cepat diterima oleh masyarakat Lamakera karena Sultan Menanga berhasil meng-Islam-kan Raja Sangaji Dasi. Sepeninggal Sultan Mananga, maka untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim, penyebaran agama Islam selanjutnya dilaksanakan oleh raja dan dibantu oleh Sultan Syarif Sahar.

Walaupun raja mempunyai kekuasaan dan wewenang yang kuat untuk memerintahkan masyarakatnya, namun dalam hal penyebaran agama Islam tetap dilakukan baik, arif dan bijaksana dengan seruan-seruan yang baik tanpa kekerasan serta pemaksaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Raja Sangaji Dasi yang pada saat itu berkuasa, adalah tokoh yang disegani, ditaati dan mempunyai kharisma serta pengaruh yang sangat luas hingga seluruh wilayah Solor Timur, namun masih ada masyarakat di daerah-daerah kekuasaannya tetap menyembah Rera Wulan Tanah Ekang dan baru memeluk ajaran Islam setelah Indonesia merdeka, terutama setelah berkembangnya pendidikan agama Islam di Solor Timur. (Dirangkum dari berbagai sumber)***

Baca Juga



Sabtu, 26 November 2016

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Masjid Al-Falah atau lebih dikenal sebagai masjid Pusaka di desa Songak

Masjid Pusaka Songak, adalah masjid tua suku sasak yang berada di Desa Songak, kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Al-Falah namun lebih dikenal dengan nama Masjid Pusaka. Desa Songak secara tradisi turun temurun hingga kini merupakan masyarakat muslim yang menjunjung tinggi ajaran agama Islam dalam kehidupan mereka. Masjid merupakan salah satu elemen yang teramat penting dalam kehidupan masyarakat Songak yang menurut cerita turut merupakan keturunan dari Raja Selaparang dan Bayan.

Konon, masjid ini dibangun ditempat yang dulunya merupakan tempat bertemunya para wali yang dikemudian hari dibangun masjid sebagai penanda tempat tersebut. Menurut tradisi setempat, Masjid pusaka Songak dibangun sekitar tahun 1309 Miladiyah oleh sembilan orang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Sanga Pati. Sebelum kedatangan sembilan orang tersebut, desa Songak telah lama menjadi kota hantu tak berpenghuni karena ditinggalkan seluruh penduduknya yang tidak betah lagi tinggal disana akibat di cap sebagai masyarakat Leak.


Sekitar tahun 1299 sembilan orang tokoh tersebut tiba di desa Songak yang sudah tak berpenghuni dan menetap disana. Mereka sengaja datang dan menetap ke desa Songak untuk menyepi dari keramaian. Setelah bertahun tahun tinggal disana baru kemudian masyarakat di luar wilayah desa itu mengetahui keberadaan mereka dan berangsur kembali tinggal di desa Songak. Nama Songak bagi nama desa ini, konon juga berasal dari kata Sanga pada nama Ki Sanga Pati yang membuka kembali desa itu dengan membawa ajaran Islam, setelah begitu lama ditinggalkan para penghuninya.

Tradisi Masjid Pusaka Songak

Masjid ini diyakini oleh Masyarakat Songak sebagai tempat penyimpanan semua kekayaan Datu Selaparang I. Masjid ini oleh Masyarakat Songak dahulu dijadikan sebagai ajang pertahanan dari serangan musuh perorangan maupun berkelompok. Pada jaman dahulu, mereka yang akan berangkat berperang akan berkumpul di masjid ini untuk berdoa bersama dipimpin oleh pemimpin mereka, setelah berdoa di masjid ini barulah mereka berangkat berperang. Tradisi tersebut disebut dengan tradisi Mangkat. Selain tradisi Mangkat, tradisi lainnya yang diselenggarakan di masjid ini adalah tradisi tahunan pengesahan minyak Ki Sanga Pati yang sekarang terkenal dengan Minyak Songak. Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sebagai bagian dari Ritual Mulut Adat atau peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Selain tradisi tradisi tersebut masih ada tradisi Ritual Bubur Putiq disetiap bulan Muharram (awal tahun Hijriah) pada tanggal 5 atau tanggal 10 atau paling lambat tanggal 15 Muharram setiap tahunnya. Kemudian disetiap bulan Safar diselenggarakan tradisi Ritual Bubur Beaq, yang kemudian dilanjutkan pada bulan berikutnya dengan penyelenggaraan ritual Mulut Adat seperti telah disebutkan sebelumnya. Hampir sepanjang tahun Masjid Pusaka Songak ini ramai dengan berbagai macam ritual tradisi kecuali tiga bulan yang disebut sebagai Bulan Suwung masjid ini sepi dari aktivitas selain aktivitas rutin sholat wajib lima waktu dan sholat Jum’at.

Masjid Pusaka Songak saat ini

Perkembangan Masjid Pusaka Songak

Masjid Pusaka Songak dibangun dengan atap daun alang alang dan masih dipertahankan hingga saat ini. sejak dibangun tahun 1308 Miladiyah masjid ini baru dilakukan perbaikan bagian atapnya pada tahun 1499 Miladiyah. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1549 Miladiyah, kemudian secara rutin dilakukan perbaikan atap setiap kurun waktu 25 tahun. Tahun 1719 wilayah Songak yang merupakan bagian dari kerajaan Purwa Dadi, jatuh ke dalam kekuasaan Anak Agung dari kerajaan Karang Asem, Bali. Masjid Pusaka Songak sepi dari aktivitas ke-agamaan secara terang terangan, masayarakat setempat bahkan tak berani menyebutnya sebagai masjid melainkan tempat ibadah atau bahkan Bale Bleq (tempat pertemuan banjar). hal tersebut berlangsung hingga penghujung abad ke 18.

Setelah peralihan penguasa barulah masjid ini kembali semarak. Sekitar tahun 1897-1899 masjid ini mulai dilengkapi dengan Kolam di halaman masjid tua ini. Kolam sebelah kiri untuk jemaah perempuan dan kolam untuk jemaah laki laki di sebelah kanan. Pembangunan tersebut bersamaan dengan pembangunan jembatan penghubung antara desa Songak dengan Desa Rumbuk. Pada masa itu juga dilakukan renovasi terhadap bangunan masjid Pusaka Songak dengan mulai digunakannya bahan bangunan semen namun tetap mempertahankan bentuk dan ukuran aslinya.

Renovasi selanjutnya dilakukan sekitar tahun 1920, saat itu desa Songak kedatangan seorang guru agama dari Darmaji Lombok Tengah yang mulai mengajak muslim Songak kembali menjalankan syariat. Muslim setempat kembali ramai sholat berjamaah di masjid Pusaka Songak.  Di masa itu juga dilakukan penggantian dinding masjid dengan dengan cetakan bata mentah  yang berukuran besar beberapa bahkan hingga berukuran 60 x 80 cm. Pengerjaan tembok ini di motori oleh Jero Kertasih (Kepala desa Songak), Papuq Candra (Penghulu Desa Songak), Papuq Delah (Sesepuh Masyarakat Songak) bersama Tuan guru dari Lopan. Kepengurusan masjid ini selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada penghulu desa yaitu Papuq Candra  Yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Papuq Pengulu sampai beliau wafat sekitar tahun 1980 dalam usia 160 tahun.

Perluasan Masjid Pusaka Songak

Di sekitar tahun 1962 di desa Songak dibangun Masjid baru yang lebih besar bernama Masjid AL-Mujahidin atas prakarsa H. Athar dan sejak tahun 1972 kegiatan peringatan hari besar Islam maupun sholat jum’at mulai dilaksanakan bergilir antara Masjid Pusaka Songak dengan masjid Al-Mujahidin. Di sepanjang tahun 1975 hingga tahun 1987 Masjid Pusaka Songak sempat mengalami perluasan ke tiga sisi bangunannya dengan ditambahkan bangunan tambahan hingga menutupi bangunan utama yang merupakan bangunan asli masjid tersebut. Penambahan bangunan disekeliling masjid asli ini seakan telah menutupi secara keseluruhan bangunan aslinya. Seluruh bangunan tambahan tersebut juga ditinggikan lantainya sama tinggi dengan bangunan asli.

Dikembalikan ke Bentuk Asli

Pada permulaan tahun 1999 masjid ini di kembalikan  seperti  bangunan semula, Dengan susah payah semua Masyarakat mengangkat kembali tanah urugan tahun 1987 secara bergotong royong menggali kembali timbunan tanah yang mengelilingi pondasi bangunan tua tersebut. Membangun kembali tembok bangunan asli yang sempat dirobohkan dan mengembalikan lagi bentuknya seperti semula. Barulah masjid tua berukuran 9 x 9 meter ini kembali kelihatan kokoh berdiri seprti yang kita saksikan sekarang ini.

Tahun 2005 halaman Masjid ini diperluas atas upaya dari Kepala desa Saifullah Aman sekaligus, bersamaan dengan diadakan nya peresmian keberadaan Makam sebengak yang diberi nama Makam Keramat Songak oleh Bupati Lombok timur pada Saat itu di pegang oleh Hajji Ali Bin Dahlan, yang terkenal dengan sebutan Ali Bd. Sedangkan perluasan halaman di sebelah selatan Masjid di  laksanakan  pada ahir tahun 2007, dan dilanjutkan  di bagian utara pada pertengahan tahun 2009.***

Baca Juga



Minggu, 20 November 2016

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Megah dengan gemerlap lampu lampu yang menerangi bangunan masjid Agung Darussalam di KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Agung Darussalam merupakah masjid agung kabupaten Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lokasi nya berada di dalam kawasan komplek kantor pemerintahan terpadu kabupaten Sumbawa Barat yang diberi nama komplek KTC – Komutar Telu Center di Kecamatan Taliwang, sebuah komplek pusat pemerintahan kabupaten yang sangat impresif, bila dipandang dari ketinggian komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat ini terlihat dengan jelas dibangun dengan denah persegi delapan sebagai salah satu simbol dunia Islam, menyiratkan kehidupan Islami dari masyarakat kabupaten Sumbawa Barat yang secara tradisi terbuka serta siap menerima masukan dari manapun bagi kemajuan kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan masjid ini merupakan salah satu bangunan yang di dahulukan pembangunannya bersama dengan dua gedung penting lainnya, yakni, gedung Graha Fitra yang merupakan kantor Bupati Sumbawa Barat dan gedung Sekretariat pemerintahan daerah (Sekda) kabupaten, yang disebut sebagai bangunan tiga serangkai. Pemilihan nama Graha Fitrah bagi nama gedung tempat berkantornya Bupati, wakil Bupati dan perangkatnya ini sebagai upaya untuk senantiasa mengingatkan siapapun yang berkantor disana untuk senantiasa kembali kepada fitrah sebagai pengemban amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

kubah hijau layaknya kubah masjid nabawi, Masjid Agung Darussalam hadir di komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat.

Masjid Agung Darussalam Taliwang selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan bupati KH Zulkifli Muhadli, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 32 milyar Rupiah. Luas bangunan masjid ini 15.500 m2 sedangkan luas keseluruhannya dan 48.500 m2, dan berdaya tampung mencapai 8.000 jemaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid termegah dan terbesar di kabupaten Sumbawa Barat, dan tentu saja menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB yang sudah sejak lama dikenal dengan julukan provinsi seribu masjid. 

Secara resmi Masjid Agung Darussalam mulai dipergunakan pada hari kamis 9 Juli 2010. Penggunaan masjid ini mulai diberlakukan untuk dapat dipergunakan dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktuBeberapa program kerja yang telah disiapkan oleh pengurus masjid antara lain program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan agama, kajian buku, dan kegiatan ilmiah lainnya

Masjid Darussalam 
Jl. Bung Hatta No.2 Kompleks KTC 
Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Prov. Nusa Tenggara Barat
Indonesia




Masjid Darussalam ditopang oleh 99 tiang yang bermakna 9.9 nama Allah Swt. (Asma’ul Husna), 112 anak tangga yang menunjukkan surat Al-lkhlas sebagai surat ke-112 dalam Al-Quran, dan tiga lantai masjid yang mengimplementasikan tiga prinsip dasar masyarakat Sumbawa Barat. Tiga prinsip dasar tersebut adalah Assalamu’alaikum yang bermakna salam untuk silaturrah’im yang kokoh dalam persaudaraan yang harmonis sehingga menciptakan kedamaian dan keselamatan, Warahmatullahi yang berarti rahmat, serta Wabarakatuh yang berarti berkah.

Sekeliling masjid dihiasi kolam seluas sekitar 5.000 m2. Bagian dalamnya terbuat dari kaca sehingga terlihat dari lantai basement. Selain itu, kolam yang merefleksikan bentuk bangunan tersebut juga dihiasi 120 titik air mancur. Untuk memasuki masjid, jamaah harus melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep ini sangat jarang terlihat pada bangunan masjid umumnya.

interior masjid agung Darussalam Taliwang dilihat dari lantai dua

Untuk mengumandangkan azan, masjid menggunakan delapan titik tempat pengeras suara. Jumlah ini mengandung makna bahwa syiar Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, juga melambangkan delapan kecamatan yang ada di Sumbawa Barat. Kubah besar di atap masjid melambangkan makna tauhid “laa ilaaha illallah”, dikelilingi lima kubah kecil sebagai representasi rukun Islam. Rukun iman direpresentasikan melalui tiang penyangga utama yang berjumlah enam buah. Adapun dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri masjid melambangkan dua kalimat syahadat. Interior masjid menampilkan pilar-pilar yang kokoh guna menciptakan skala ruangan yang agung dan megah.

Dominasi warna putih sebagai wujud kesucian dengan kombinasi warna emas dan hijau serta kaligrafi yang menghiasi sepanjang dinding masjid memberi kesan sejuk dan tenang. Selain di ruang utama yang berada di lantai satu, hiasan kaligrafi yang mengelilingi dinding terlihat di lantai dua dan tiga. Kedua lantai ini secara tata bangunan mengelilingi ruang utama masjid dan berfungsi layaknya mezzanine. Sebagai sentralisasi visual pada interior masjid, tepat di bagian tengah bawah kubah dalam terdapat lampu gantung dari kuningan. Lampu seberat sekitar 600 kilogram itu dipenuhi oleh 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan.

Masjid Agung Darussalam dengan Tugus Syukur (sebelah kanan foto)

Masjid Agung Darussalam Taliwang ini cukup semarak dengan beragam aktivitas termasuk selama bulan suci Romadhan, salah satu aktivitas nya adalah menyelenggarakan Pesantren kilat yang diikuti oleh  siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MAN/SMK. Serta program kompetisi pemilihan da’i cilik.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXIV tingkat provinsi NTB

Hari Rabu malam 9 November 2011, masjid Agung Darussaam Taliwang ini menjadi tuan rumah pelanksaan pembukaan MTQ ke XXIV tingkat provinsi NTB yang berlangsung meriah. Pembukaan MTQ tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Acara yang dihadiri ribuan kafilah dan tamu undangan dari seluruh kabupaten / kota di NTB serta masyarakat setempat tersebut turut dimeriahkan dengan atraksi kembang api. Kembang api yang digunakan pada upacara pembukaan MTQ NTB ini merupakan jenis kembang api yang pertama digunakan di Indonesia dan juga akan digunakan dalam pembukaan Sea Games ke-26 di Palembang.***

Baca Juga


Sabtu, 19 November 2016

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin merupakan Masjid Kesultanan Bima. 

Masjid Kesultanan Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan Bima ke-8, Wajir Ismail, di masa ke-emasan Kesultanan Bimal. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943), Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh sebagai Sultan di Kesultanan Bima sebelum wilayah Kesultanan disatukan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masanya masjid ini merupakan pusat pendidikan dan penyebaran Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya dan menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan dan kemajuan Islam di Bima. Selain itu, masjid ini bisa diajdikan ikon wisata andalan di Bima. Seperti halnya tatanan pemerintahan kesultanan di Nusantara, masjid Kesultanan Bima ini juga menjadi elemen penting yang menjadi kesatuan dari pemerintahan Kesultanan Bima baik dari tata letak bangunan maupun dalam nafas pemerintahan Kesultanan.

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima
Jl. Sukarno Hatta, Kampung Sigi, Kelurahan Paruga
Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima
Provinsi Nusa Tenggara Barat



Lokasi masjid ini berada Kampung Sigi atau Kampung Masjid, tepatnya berada disebelah tenggara Museum Asi Mbojo, disebelah selatan alun alun Serasuba. Konsepsi tata letak bangunan kesultanan Bima tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tata letak bangunan kesultanan di tanah Jawa dengan memasukkan masjid sebagai salah satu elemen utamanya. Terdiri dari bangunan Istana kesultanan Bima, Masjid kesultanan dan alun-alun Serasuba.

Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan yang utuh antara pemerintahan (istana), religi (masjid), dan masyarakat (alun-alun). Alun-alun Serasuba berasal dari kata sera dan suba. Sera berarti tanah lapang, dan suba secara harfiahnya bermakna tombak, yang dikonotasikan dengan perintah atau titah. Jadi, alun-alun Serasuba dulu didirikan sebagai tempat bagi Sultan Bima untuk menyampaikan titah (perintah) kepada rakyatnya.

Dibangun dengan atap tumpang bersusun ditambah dengan empat menara di setiap penjurunya

Di komplek Masjid Sultan Salahudin ini terdapat makam para petinggi kesultanan dan keluarganya yang berada di sebelah barat bangunan masjid, termasuk makam Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, yang pertama kali membangun masjid tersebut. Setelah sekian lama tenggelam dari panggung sejarah, Kesultanan Bima dibangkitkan kembali pada tanggal 4 Juli 2013, dengan penobatan Sultan Bima ke 16, Sultan Jena Teke H. Ferry Zulkarnain. Meskipun kini legitimasi Sultan tidak lagi berkuasa di ranah politik seperti pada lalu namun lebih kepada sosok pengayom adat, tadisi, budaya dan agama Islam di wilayah kesultanan Bima.

Sejarah Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan ke-VIII. Pembangunan disempurnakan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip dengan Masjid Masjid Tradisional di Pulau Jawa. Namun, di masa perang dunia kedua masjid Kesultanan Bima tersebut hancur lebur dibom oleh pasukan Sekutu pada tahun 1943, saat Bima diduduki Jepang. Hanya tersisa mimbar masjid yang selamat dari kehancuran itu.

foto tua masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Pada tahun 1990, Hajah Siti Maryam yang merupakan putri dari mendiang Sultan Muhammad Sallahuddin (Sultan Bima ke 15) memugar Masjid Kesultanan Bima dan membangunnya kembali seperti aslinya sebagai upaya konservasi terhadap bangunan masjid bersejarah tersebut dan kemudian dinamai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh di Kesultanan Bima sebelum kemudian bergabung dengan NKRI.

Sultan Muhammad Salahuddin adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada pukul 12:00 tanggal 15 Zulhijah 1306 Hijriah bertepatan dengan tahun 1888 Miladiyah. Beliau dinobatkan sebagai Sultan Bima XV pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada pukul 22:00 hari Kamis 7 Syawal 1370 Hijriah bertepatan dengan tanggal 11 Juni 1951, di usia 64 tahun dan diberi gelar secara anumerta "Ma Kakidi Agama", karena menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan agama Islam yang luad dan mumpuni.

Sejarah Islam di Bima

Di dalam masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Buya Hamka, ulama legendaris Indonesia, pernah menyatakan Bima sebagai salah satu pusat syiar Islam di Indonesia. Menurut catatan sejarah, tahun 1540 M merupakan tonggak awal kedatangan Islam di tanah Bima. Proses islamisasi itu berlangsung dalam tiga tahap yaitu periode kedatangan Islam tahun 1540 – 1621, periode pertumbuhan islam tahun 1621-1640 M, dan periode kejayaan islam pada tahun 1640 – 1950 M. pada tahap awal sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan, ajaran Islam sudah masuk di wilayah-wilayah pesisir Bima.

Pada abad ke-16 M, Bima sudah menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai di wilayah bagian timur Nusantara. Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 M, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi oleh para  pedagang Nusantara dan para pedagang Bima berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda dan Malaka serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara. “Pada saat inilah kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam” kata sejarawan dan Indonesianis Prancis Henry Chambert-Loir dalam bukunya, Bima dalam Sastra dan Sejarah.

Masjid Sultan Bima di malam hari.

Persinggungan Bima dengan Jawa dan saudagar saudagar Islam melalui jalur laut terjadi karena Bima berada di jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Dari situ, pedagang dan mubaligh dari Jawa dan wilayah muslim lainnya datang ke Bima menyebarkan Islam. Ataupun sebaliknya orang-orang Bima pergi berdagang ke Jawa dan wilayah muslim lainnya lalu pulang dengan membawa ajaran Islam.

Seperti tertulis dalam salah satu bo atau kitab catatan kerajaan, pada tahun 1640 Ruma Ta Ma Bata Wadu, Raja Bima ke-27, menikah dengan perempuan bernama Daeng Sikontu, adik ipar dari Sultan Alauddin, raja Makassar Alauddin. Karena perkawinan itu, Sang Raja memeluk agama Islam. Ia pun mengganti gelar dan nama menjadi Sultan Abdul Kahir. Ialah sultan Bima pertama yang beragama Islam. Dengan demikian, Bima telah menjadi sebuah kesultanan di abad ke 17 miladiiyah dengan perubahan status kerajaan menjadi sebuah kesultanan.***

Senin, 06 Desember 2010

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Kuno Bayan Beleq

Pulau Lombok, di provinsi Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani dan Pantai Senggigi-nya yang menawan. Pulau nan indah disebelah timur pulau Bali ini menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam yang teramat tua namun masih terawat dengan baik hingga kini. Sebuah Masjid berarsitektur tradisional khas Pulau Lombok bernama Masjid Bayan Beleq. Masjid Bayan Beleq kini menjadi salah satu ikon pariwisata kabupaten Lombok Utara, bersama sama dengan Gunung Rinjani. Masjid kuno ini juga diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq di gambar dalam bentuk siluet bewarna merah menggambarkan integritas peradaban masyarakat Lombok Utara.


Lambang Kabupaten Lombok utara
Dalam situs resmi pemerintah kabupaten Lombok Utara disebutkan bahwa bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual. Konstruksi Masjid Kuno Bayan terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.

Lokasi Masjid Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Belek KLU NTB
Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara
Nusa Tenggara Bar. 83354



Masjid Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok dapat dicapai dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum atau dapat juga ditempuh dengan kendaraan sewaan. Masjid Bayan Beleq berjarak sekitar 87 kilometer dari kota Mataram, berada pada ketinggian 355 meter dari permukaan laut (*)

Sejarah Masjid Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Bayan Beleq diperkirakan dibangun pada abad ke 17 masehi, meskipun tak ada angka tahun yang pasti. Namun Pengulu Adat Bayan berkeyakinan bahwa Masjid Bayan Beleq dibangun bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Lombok di Abad ke sebelas atau sekitar tahun 1020 masehi. Bila hal ini benar maka akan mengubah sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang selama ini selalu disebutkan masuk dan berkembang di Indonesia sekitar abad ke 13 Masehi.

Walaupun nampak sederhana, Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok dan kecamatan Bayan sendiri memang terkenal sebagai salah satu pintu gerbang masuk nya ajaran Islam ke Pulau Lombok. Masjid Bayan Beleq telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Dikarenakan usianya yang lebih dari 300 tahun.

Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun dengan pondasi batu koral, dinding anyaman bambu dan beratap daun

Arsitektur Masjid Bayan Beleq, Lombok

Bentuk bangunan Masjid Bayan Belek di pulau Lombok ini serupa dengan bentuk bangunan rumah rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin tidak akan mengira bahwa bangunannya merupakan sebuah masjid. Ukurannya relatif kecil sekitar 9 x 9 meter, berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah bilah bambu. Pondasi masjid menggunakan batu kali tanpa semen.

Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid serta beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal. 

Denah masjid berbentuk bujur sangkar, panjang sisinya 8,90 m.  Di topang 4 Soko Guru (tiang utama) yang dibuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang tersebut berasal dari empat desa (dusun) yaitu : Tiang sebelah Tenggara, dari desa Sagang Sembilok. Tiang sebelah Timur laut, dari desa Tereng. Tiang sebelah Barat laut, dari desa Senaru, Tiang sebelah Barat Daya, dari desa Semokon.

Menurut keterangan para Pemangku Adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para Pemangku Masjid yaitu : Tiang sebelah tenggara untuk Khatib. Tiang sebelah timur laut untuk Lebai. Tiang sebelah barat laut untuk Mangku Bayan Timur. Dan tiang sebelah barat daya untuk Penghulu.

Sholat berjemaah di Masjid Kuno bayan Beleq

Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m, dan tiang Mihrab 80 cm. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama, juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut “pagar rancak”. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari 18 bilah papan kayu suren. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan “imam” (pemimpin) tidak sama dengan “makmum” (pengikut atau rakyat). Perbedaan tempat menunjukkan perbedaan kedudukannya.

Atap berbentuk tumpang, terbuat dari bambu (disebut “santek”). Pada bagian puncaknya terdapat hiasan “mahkota”. Ukuran tinggi dinding bangunan yang hanya 125 cm, jauh dibawah ukuran tinggi rata-rata manusia normal. Dengan demikian, setiap orang yang hendak masuk ke dalam masjid tidak mungkin berjalan dengan langkah tegap, tetap harus menunduk. Hal ini pun mengandung makna penghormatan.

Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia akhirat.

Pada bagian atas mimbar, terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu juga terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Di dalam seni rupa Islam pada umumnya, hampir tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra Islam yang masih mewarnainya.

Tradisi Semetian di desa Bayan

Tradisi Tradisi di Masjid Bayan Beleq

Tradisi Renovasi dan Perbaikan Masjid Bayan Beleq

Bahan atap bangunan masjid diambil dari tempat khusus, di desa Senaru. Bila atapnya rusak atau hancur, perbaikannya harus pada tahun Alip yang datangnya sewindu (8 tahun) sekali. Pembebanan biayanya secara tardisional telah terbagi kepada masyarakat desa di sekitarnya yaitu : atap sebelah utara, desa Anyar. Atap sebelah timur, desa Loloan. Atap sebelah selatan, desa Bayan. Atap sebelah barat, desa Sukasada. Pelaksanaan perbaikan dilakukan secara gotong royong, dipimpin oleh para Pemangku Adatnya.

Tradisi Semetian di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Masjid Bayan Beleq kini tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masjid ini akan kembali ramai pada hari hari besar Islam. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad. Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung ini diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, semisal harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot, sapuk, dan lainnya. 
Prosesi Maulid adapt ini diawali dengan Menutu Dirantok Belek atau menumbuk padi yang dilakukan oleh inaq Lokak serta Inaq Menik, para Inaq Lokak, pembekel, pande, istri para pranata adat yang ada di Karang Bajo. Sebuah simbol dari ungkapan rasa syukur akan keberhasilan panen. Dilanjutkan dengan pembuatan reranggon, atau tempat menyimpan sekam padi bulu, Kemudian dilanjutkan dengan prosesi menjemput alat musik tradisional atau Ngalu Gendang Gerantung dari rumah adat Bale Beleq Karang Bajo.

Prosesi selanjutnya adalah menurunkan Penginang Lekoq Buaq, yang tujuannya untuk mempermaklumkan bahwa gendang dan alat musik tetabuhan lainnya bakal dipakai dalam persiapan Maulid Adat. Setelah prosesi penginang terhadap alat musik yang terdiri dari sebuah Gong, Gendang dan Gamelan dilakukan, kemudian dimainkan beberapa saat di Berugaq Malang, yang menandakan bahwa pada hari ini Entekkan Kayu Aik Mulud Adat Bayan sedang dilangsungkan.

Interior Masjid Kuno Bayan Beleq, sangat sederhana

Setelah beberapa saat ditabuh, peralatan musik ini kemudian diboyong menuju Bale Beleq Bayan Barat, untuk menjalani prosesi pemandian mata Gerantung Lanang atau Gong Pria, dan Gerantung Wadon, yang mewakili simbol wanita, untuk kemudian ditabuh seraya menunggu keluarnya perbekalan yang sedang dipersiapkan di dalam Bale Beleq Bayan Barat. Selama prosesi tersebut dilangsungkan, dilakukan juga prosesi pencarian Bambu Tutul oleh para pranata adat di setiap dusun, untuk kemudian dibawa ke Masjid Kuno, dipasang sebagai umbul-umbul di setiap pojoknya, menyimbolkan bahwa perayaan ini dirayakan oleh seluruh masyarakat Bayan di segala penjuru mata ngin.

Keseluruhan prosesi ini dilakukan di masing-masing dusun yang berada di wilayah Bayan. Dan di setiap Bale Beleq yang ada di masing-masing dusun mempersiapkan perbekalan berupa beberapa helai kain tenun yang akan dipakai untuk menghias masjid kuno. Dulunya seluruh kain penghias dibuat dengan menenun, tapi saat ini yang ditenun hanya kain untuk umbul-umbul saja. Setelah semua perbekalan telah siap, untuk kemudian diarak menuju masjid kuno, diiringi Ngalu Gendang Gerantung, serta dikawal oleh para pepadu yang membawa tameng serta tongkat peresean, disaksikan oleh masyarakat dan wisatawan menyambut keluarnya rombongan yang berjalan hanya diterangi oleh sebuah lampu jojor, menuju areal halaman masjid kuno Bayan Beleq.

Setelah semua perwakilan dusun lengkap berada di halaman depan masjid, untuk kemudian melakukan prosesi adat Ngegelaq, menghiasi masjid dengan kain tenun yang dibawa, menghias tiang masjid yang dibalut oleh kain tenun tersebut, dilakukan oleh Kiyai Penghulu, Kiyai Lebe, Nyaka Mantri dan Pemangku.

Pada saat prosesi itu selesai yang ditandai dengan berdirinya umbul-umbul berwarna putih yang terbuat dari kain tenun, acara yang ditunggu-tunggu khalayak ramai pun dilangsungkan. Peresean atau menurut bahasa adat Bayan dinamakan Semetian ini dilangsungkan di halamana masjid kuno semalam suntuk. Semeti itu berarti rotan, dan ketika rotan ini diadu, akhirnya menjadi Semetian, yang bertujuan untuk saling unjuk dan mengukur kemampuan masing-masing pepadu.

Papan pengumuman yang menyatakan masjid kuni Bayan Beleq ini adalah benda cagar budaya yang dilindungi undang undang

Dibawah siraman sinar bulan para pepadu bertarung, seraya menantang satu sama lainnya. Untuk memeriahkan suasana para Pengembar atau wasit pun berteriak meminta dukungan kepada para penonton. Teriakan Pengembar ini pun disambut para penonton, memacu adrenalin setiap orang yang menyaksikan pertarungan tersebut.

Di pinggir medan laga, Ngalu Gendang Gerantung yang bertalu-talu, selain mengiringi proses Semetian, dilakukan juga prosesi Serucapan, sebuah prosesi untuk membayar Nazar atau mengucapkan nazar. Kedua prosesi ini Semetian dan Serucapan dilakukan semalam suntuk, dan berakhir menjelang Azan shubuh Tiba. Di hari kedua, prosesi adat ini dilanjutkan dengan mempersiapkan ternak yang akan dipotong dibalai adat masing masing, yang berada di bayan Timur, Bayan Barat, Lolongan, Bayun Birah, dan Karang Bajo. Untuk kemudian semua kegiatan selanjutnya terpusat di masjid kuno.

Sebelum menuju masjid kuno, di setiap balai adat juga dilangsungkan pembuatan Ancak dari bambu, alat yang dipakai untuk menyuguhkan nasi, setelah sebelumnya Ancak tersebut dilapisi daun pisang. Setelah semua persiapan dirampungkan, nasi Ancak ini kemudian dibawa oleh Pemangku, Kiyai Lebe, Kiyai Penghulu Bayan Timur, Bayan barat, Karang Bajo, Lolongan, dan Bayun Birah, sambil diiringi Praja Maulud, iringan yang menggambarkan pasangan penganten yang dipayungi payung agung, menuju masjid kuno.

Praja Mulud ini mengambarkan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan penganten. Prosesi ini dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan. Setelah berada di pelataran dalam masjid, dilanjutkan dengan proses Periyapan Selametan Praja Mulud atau Selametan Maulid Adat Bayan, yang doanya dipimpin Kiyai Penghulu, sekaligus menutup proses perayaan Maulid Adat yang berlangsung selama 2 hari, berdasarkan Lingsereat atau kalender adat Bayan, yang menunjukkan 12 Rabiul awal bulan atas, atau tepat berbeda 3 hari dengan kalender perayaan Maulid secara Nasional.

meski sudah berumur sangat tua, masjid ini tetap terawat hingga kini

Tradisi Idul Fitri

Masyarakat muslim  bayan tempat dimana masjid  bayan beleq ini berada memiliki tradisi sendiri dalam merayakan hari raya idul fitri. Sholat idul fitri diselenggarakan di hari ketiga bukan di hari pertama idul fitri, permulaan puasa ramadhan pun dimundurkan tiga hari dibandingkan dengan kalender Islam.

Sholat idul fitri di masjid Bayan Beleq ini hanya dihadiri Puluhan kiyai, penghulu, lebe, ketip (khotib), Modin (muazin) dan kiyai santri yang jumlahnya tidak lebih dari 44 orang mengenakan baju dan ikat kepala berwarna putih, memasuki masjid bayan untuk menggemakan suara takbir. Yang kemudian dilanjutkan dengan sholat idul fitri, dan khutbah idul fitri semuanya disampaikan dalam bahasa arab. Seusai khutbah, para kiyai inipun berjabat tangan sambil membaca shalawat Nabi, dan dilanjutkan dengan silaturrahmi kepada masyarakat adat Bayan. Dan acara lebaran ini dikenal dengan lebaran adat. Masjid Bayan beleq memang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang, hanya para tokoh adat dan pemimpin agama Islam saja yang diperkenankan masuk dan sholat di masjid tua ini.

Sehari menjelang pelaksanaan sholat Id, berbagai persiapanpun dilakukan, seperti menyediakan makanan bagi para kiyai, pengulu dan tokoh masyarakat yang akan menjalankan sholat Idul Fitri, mengeluarkan zakat, dan lain-lain. Dalam hal zakat fitrah, masyarakat adat Wetu Telu bukan saja mengeluarkan makanan pokok seperti beras saja, tapi juga dilengkapi dengan berbagai hasil bumi lainnya yang diserahkan kepada para tokoh agama.

konon menurut salah satu tokoh masyarakat setepat, tradisi sholat idul fitri di hari ke 3 bulan syawal itu bermula di jaman penjajahan Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda dulu, setiap tanggal 1 Syawal, daerah Bayan selalu mendapat pengawasan ketat dari kaum penjajah, sehingga pelaksanaan sholat Id tidak berani dilakukan. Namun karena masyarakat yang beragama Islam di Bayan waktu itu cukup taat menjalankan perintah agamanya, ketimbang tidak dilaksanakan lebih baik ditunda, hingga melihat bulan dengan nyata yaitu tanggal 3 Syawal. sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi ulama setempat untuk meluruskan tradisi lama tersebut.***