Tampilkan postingan dengan label Masjid di NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid di NTB. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2016

Masjid Pusaka Songak Suku Sasak

Masjid Al-Falah atau lebih dikenal sebagai masjid Pusaka di desa Songak

Masjid Pusaka Songak, adalah masjid tua suku sasak yang berada di Desa Songak, kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini sebenarnya bernama Masjid Al-Falah namun lebih dikenal dengan nama Masjid Pusaka. Desa Songak secara tradisi turun temurun hingga kini merupakan masyarakat muslim yang menjunjung tinggi ajaran agama Islam dalam kehidupan mereka. Masjid merupakan salah satu elemen yang teramat penting dalam kehidupan masyarakat Songak yang menurut cerita turut merupakan keturunan dari Raja Selaparang dan Bayan.

Konon, masjid ini dibangun ditempat yang dulunya merupakan tempat bertemunya para wali yang dikemudian hari dibangun masjid sebagai penanda tempat tersebut. Menurut tradisi setempat, Masjid pusaka Songak dibangun sekitar tahun 1309 Miladiyah oleh sembilan orang tokoh yang dikenal dengan nama Ki Sanga Pati. Sebelum kedatangan sembilan orang tersebut, desa Songak telah lama menjadi kota hantu tak berpenghuni karena ditinggalkan seluruh penduduknya yang tidak betah lagi tinggal disana akibat di cap sebagai masyarakat Leak.


Sekitar tahun 1299 sembilan orang tokoh tersebut tiba di desa Songak yang sudah tak berpenghuni dan menetap disana. Mereka sengaja datang dan menetap ke desa Songak untuk menyepi dari keramaian. Setelah bertahun tahun tinggal disana baru kemudian masyarakat di luar wilayah desa itu mengetahui keberadaan mereka dan berangsur kembali tinggal di desa Songak. Nama Songak bagi nama desa ini, konon juga berasal dari kata Sanga pada nama Ki Sanga Pati yang membuka kembali desa itu dengan membawa ajaran Islam, setelah begitu lama ditinggalkan para penghuninya.

Tradisi Masjid Pusaka Songak

Masjid ini diyakini oleh Masyarakat Songak sebagai tempat penyimpanan semua kekayaan Datu Selaparang I. Masjid ini oleh Masyarakat Songak dahulu dijadikan sebagai ajang pertahanan dari serangan musuh perorangan maupun berkelompok. Pada jaman dahulu, mereka yang akan berangkat berperang akan berkumpul di masjid ini untuk berdoa bersama dipimpin oleh pemimpin mereka, setelah berdoa di masjid ini barulah mereka berangkat berperang. Tradisi tersebut disebut dengan tradisi Mangkat. Selain tradisi Mangkat, tradisi lainnya yang diselenggarakan di masjid ini adalah tradisi tahunan pengesahan minyak Ki Sanga Pati yang sekarang terkenal dengan Minyak Songak. Tradisi ini diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sebagai bagian dari Ritual Mulut Adat atau peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Selain tradisi tradisi tersebut masih ada tradisi Ritual Bubur Putiq disetiap bulan Muharram (awal tahun Hijriah) pada tanggal 5 atau tanggal 10 atau paling lambat tanggal 15 Muharram setiap tahunnya. Kemudian disetiap bulan Safar diselenggarakan tradisi Ritual Bubur Beaq, yang kemudian dilanjutkan pada bulan berikutnya dengan penyelenggaraan ritual Mulut Adat seperti telah disebutkan sebelumnya. Hampir sepanjang tahun Masjid Pusaka Songak ini ramai dengan berbagai macam ritual tradisi kecuali tiga bulan yang disebut sebagai Bulan Suwung masjid ini sepi dari aktivitas selain aktivitas rutin sholat wajib lima waktu dan sholat Jum’at.

Masjid Pusaka Songak saat ini

Perkembangan Masjid Pusaka Songak

Masjid Pusaka Songak dibangun dengan atap daun alang alang dan masih dipertahankan hingga saat ini. sejak dibangun tahun 1308 Miladiyah masjid ini baru dilakukan perbaikan bagian atapnya pada tahun 1499 Miladiyah. Perbaikan berikutnya dilakukan tahun 1549 Miladiyah, kemudian secara rutin dilakukan perbaikan atap setiap kurun waktu 25 tahun. Tahun 1719 wilayah Songak yang merupakan bagian dari kerajaan Purwa Dadi, jatuh ke dalam kekuasaan Anak Agung dari kerajaan Karang Asem, Bali. Masjid Pusaka Songak sepi dari aktivitas ke-agamaan secara terang terangan, masayarakat setempat bahkan tak berani menyebutnya sebagai masjid melainkan tempat ibadah atau bahkan Bale Bleq (tempat pertemuan banjar). hal tersebut berlangsung hingga penghujung abad ke 18.

Setelah peralihan penguasa barulah masjid ini kembali semarak. Sekitar tahun 1897-1899 masjid ini mulai dilengkapi dengan Kolam di halaman masjid tua ini. Kolam sebelah kiri untuk jemaah perempuan dan kolam untuk jemaah laki laki di sebelah kanan. Pembangunan tersebut bersamaan dengan pembangunan jembatan penghubung antara desa Songak dengan Desa Rumbuk. Pada masa itu juga dilakukan renovasi terhadap bangunan masjid Pusaka Songak dengan mulai digunakannya bahan bangunan semen namun tetap mempertahankan bentuk dan ukuran aslinya.

Renovasi selanjutnya dilakukan sekitar tahun 1920, saat itu desa Songak kedatangan seorang guru agama dari Darmaji Lombok Tengah yang mulai mengajak muslim Songak kembali menjalankan syariat. Muslim setempat kembali ramai sholat berjamaah di masjid Pusaka Songak.  Di masa itu juga dilakukan penggantian dinding masjid dengan dengan cetakan bata mentah  yang berukuran besar beberapa bahkan hingga berukuran 60 x 80 cm. Pengerjaan tembok ini di motori oleh Jero Kertasih (Kepala desa Songak), Papuq Candra (Penghulu Desa Songak), Papuq Delah (Sesepuh Masyarakat Songak) bersama Tuan guru dari Lopan. Kepengurusan masjid ini selanjutnya diserahkan sepenuhnya kepada penghulu desa yaitu Papuq Candra  Yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Papuq Pengulu sampai beliau wafat sekitar tahun 1980 dalam usia 160 tahun.

Perluasan Masjid Pusaka Songak

Di sekitar tahun 1962 di desa Songak dibangun Masjid baru yang lebih besar bernama Masjid AL-Mujahidin atas prakarsa H. Athar dan sejak tahun 1972 kegiatan peringatan hari besar Islam maupun sholat jum’at mulai dilaksanakan bergilir antara Masjid Pusaka Songak dengan masjid Al-Mujahidin. Di sepanjang tahun 1975 hingga tahun 1987 Masjid Pusaka Songak sempat mengalami perluasan ke tiga sisi bangunannya dengan ditambahkan bangunan tambahan hingga menutupi bangunan utama yang merupakan bangunan asli masjid tersebut. Penambahan bangunan disekeliling masjid asli ini seakan telah menutupi secara keseluruhan bangunan aslinya. Seluruh bangunan tambahan tersebut juga ditinggikan lantainya sama tinggi dengan bangunan asli.

Dikembalikan ke Bentuk Asli

Pada permulaan tahun 1999 masjid ini di kembalikan  seperti  bangunan semula, Dengan susah payah semua Masyarakat mengangkat kembali tanah urugan tahun 1987 secara bergotong royong menggali kembali timbunan tanah yang mengelilingi pondasi bangunan tua tersebut. Membangun kembali tembok bangunan asli yang sempat dirobohkan dan mengembalikan lagi bentuknya seperti semula. Barulah masjid tua berukuran 9 x 9 meter ini kembali kelihatan kokoh berdiri seprti yang kita saksikan sekarang ini.

Tahun 2005 halaman Masjid ini diperluas atas upaya dari Kepala desa Saifullah Aman sekaligus, bersamaan dengan diadakan nya peresmian keberadaan Makam sebengak yang diberi nama Makam Keramat Songak oleh Bupati Lombok timur pada Saat itu di pegang oleh Hajji Ali Bin Dahlan, yang terkenal dengan sebutan Ali Bd. Sedangkan perluasan halaman di sebelah selatan Masjid di  laksanakan  pada ahir tahun 2007, dan dilanjutkan  di bagian utara pada pertengahan tahun 2009.***

Baca Juga



Minggu, 20 November 2016

Masjid Agung Darussalam Taliwang

Megah dengan gemerlap lampu lampu yang menerangi bangunan masjid Agung Darussalam di KTC Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Agung Darussalam merupakah masjid agung kabupaten Sumbawa Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lokasi nya berada di dalam kawasan komplek kantor pemerintahan terpadu kabupaten Sumbawa Barat yang diberi nama komplek KTC – Komutar Telu Center di Kecamatan Taliwang, sebuah komplek pusat pemerintahan kabupaten yang sangat impresif, bila dipandang dari ketinggian komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat ini terlihat dengan jelas dibangun dengan denah persegi delapan sebagai salah satu simbol dunia Islam, menyiratkan kehidupan Islami dari masyarakat kabupaten Sumbawa Barat yang secara tradisi terbuka serta siap menerima masukan dari manapun bagi kemajuan kabupaten Sumbawa Barat.

Pembangunan masjid ini merupakan salah satu bangunan yang di dahulukan pembangunannya bersama dengan dua gedung penting lainnya, yakni, gedung Graha Fitra yang merupakan kantor Bupati Sumbawa Barat dan gedung Sekretariat pemerintahan daerah (Sekda) kabupaten, yang disebut sebagai bangunan tiga serangkai. Pemilihan nama Graha Fitrah bagi nama gedung tempat berkantornya Bupati, wakil Bupati dan perangkatnya ini sebagai upaya untuk senantiasa mengingatkan siapapun yang berkantor disana untuk senantiasa kembali kepada fitrah sebagai pengemban amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

kubah hijau layaknya kubah masjid nabawi, Masjid Agung Darussalam hadir di komplek pusat pemerintahan kabupaten Sumbawa Barat.

Masjid Agung Darussalam Taliwang selesai dibangun pada bulan Juni 2010 dimasa pemerintahan bupati KH Zulkifli Muhadli, dengan menghabiskan dana sebesar Rp. 32 milyar Rupiah. Luas bangunan masjid ini 15.500 m2 sedangkan luas keseluruhannya dan 48.500 m2, dan berdaya tampung mencapai 8.000 jemaah, menjadikan masjid ini sebagai masjid termegah dan terbesar di kabupaten Sumbawa Barat, dan tentu saja menambah khasanah jejeran bangunan masjid megah di provinsi NTB yang sudah sejak lama dikenal dengan julukan provinsi seribu masjid. 

Secara resmi Masjid Agung Darussalam mulai dipergunakan pada hari kamis 9 Juli 2010. Penggunaan masjid ini mulai diberlakukan untuk dapat dipergunakan dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktuBeberapa program kerja yang telah disiapkan oleh pengurus masjid antara lain program pembinaan, penyuluhan, penelitian, bimbingan agama, kajian buku, dan kegiatan ilmiah lainnya

Masjid Darussalam 
Jl. Bung Hatta No.2 Kompleks KTC 
Taliwang, Kab. Sumbawa Barat. Prov. Nusa Tenggara Barat
Indonesia




Masjid Darussalam ditopang oleh 99 tiang yang bermakna 9.9 nama Allah Swt. (Asma’ul Husna), 112 anak tangga yang menunjukkan surat Al-lkhlas sebagai surat ke-112 dalam Al-Quran, dan tiga lantai masjid yang mengimplementasikan tiga prinsip dasar masyarakat Sumbawa Barat. Tiga prinsip dasar tersebut adalah Assalamu’alaikum yang bermakna salam untuk silaturrah’im yang kokoh dalam persaudaraan yang harmonis sehingga menciptakan kedamaian dan keselamatan, Warahmatullahi yang berarti rahmat, serta Wabarakatuh yang berarti berkah.

Sekeliling masjid dihiasi kolam seluas sekitar 5.000 m2. Bagian dalamnya terbuat dari kaca sehingga terlihat dari lantai basement. Selain itu, kolam yang merefleksikan bentuk bangunan tersebut juga dihiasi 120 titik air mancur. Untuk memasuki masjid, jamaah harus melewati sebuah jembatan penghubung yang melintasi sungai. Konsep ini sangat jarang terlihat pada bangunan masjid umumnya.

interior masjid agung Darussalam Taliwang dilihat dari lantai dua

Untuk mengumandangkan azan, masjid menggunakan delapan titik tempat pengeras suara. Jumlah ini mengandung makna bahwa syiar Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia, juga melambangkan delapan kecamatan yang ada di Sumbawa Barat. Kubah besar di atap masjid melambangkan makna tauhid “laa ilaaha illallah”, dikelilingi lima kubah kecil sebagai representasi rukun Islam. Rukun iman direpresentasikan melalui tiang penyangga utama yang berjumlah enam buah. Adapun dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri masjid melambangkan dua kalimat syahadat. Interior masjid menampilkan pilar-pilar yang kokoh guna menciptakan skala ruangan yang agung dan megah.

Dominasi warna putih sebagai wujud kesucian dengan kombinasi warna emas dan hijau serta kaligrafi yang menghiasi sepanjang dinding masjid memberi kesan sejuk dan tenang. Selain di ruang utama yang berada di lantai satu, hiasan kaligrafi yang mengelilingi dinding terlihat di lantai dua dan tiga. Kedua lantai ini secara tata bangunan mengelilingi ruang utama masjid dan berfungsi layaknya mezzanine. Sebagai sentralisasi visual pada interior masjid, tepat di bagian tengah bawah kubah dalam terdapat lampu gantung dari kuningan. Lampu seberat sekitar 600 kilogram itu dipenuhi oleh 64 lampu kecil sebagai penerang ruangan.

Masjid Agung Darussalam dengan Tugus Syukur (sebelah kanan foto)

Masjid Agung Darussalam Taliwang ini cukup semarak dengan beragam aktivitas termasuk selama bulan suci Romadhan, salah satu aktivitas nya adalah menyelenggarakan Pesantren kilat yang diikuti oleh  siswa-siswi SD/MI, SMP/MTs, SMA/MAN/SMK. Serta program kompetisi pemilihan da’i cilik.

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXIV tingkat provinsi NTB

Hari Rabu malam 9 November 2011, masjid Agung Darussaam Taliwang ini menjadi tuan rumah pelanksaan pembukaan MTQ ke XXIV tingkat provinsi NTB yang berlangsung meriah. Pembukaan MTQ tersebut ditandai dengan pemukulan beduk oleh Gubernur NTB, TGH Zainul Majdi. Acara yang dihadiri ribuan kafilah dan tamu undangan dari seluruh kabupaten / kota di NTB serta masyarakat setempat tersebut turut dimeriahkan dengan atraksi kembang api. Kembang api yang digunakan pada upacara pembukaan MTQ NTB ini merupakan jenis kembang api yang pertama digunakan di Indonesia dan juga akan digunakan dalam pembukaan Sea Games ke-26 di Palembang.***

Baca Juga


Sabtu, 19 November 2016

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin merupakan Masjid Kesultanan Bima. 

Masjid Kesultanan Bima

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan Bima ke-8, Wajir Ismail, di masa ke-emasan Kesultanan Bimal. Nama masjid ini dinisbatkan kepada Sultan Muhammad Salahudin (1920-1943), Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh sebagai Sultan di Kesultanan Bima sebelum wilayah Kesultanan disatukan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masanya masjid ini merupakan pusat pendidikan dan penyebaran Islam di Kesultanan Bima dan sekitarnya dan menjadi saksi bisu pasang surut perkembangan dan kemajuan Islam di Bima. Selain itu, masjid ini bisa diajdikan ikon wisata andalan di Bima. Seperti halnya tatanan pemerintahan kesultanan di Nusantara, masjid Kesultanan Bima ini juga menjadi elemen penting yang menjadi kesatuan dari pemerintahan Kesultanan Bima baik dari tata letak bangunan maupun dalam nafas pemerintahan Kesultanan.

Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima
Jl. Sukarno Hatta, Kampung Sigi, Kelurahan Paruga
Kecamatan Rasanae Barat, Kota Bima
Provinsi Nusa Tenggara Barat



Lokasi masjid ini berada Kampung Sigi atau Kampung Masjid, tepatnya berada disebelah tenggara Museum Asi Mbojo, disebelah selatan alun alun Serasuba. Konsepsi tata letak bangunan kesultanan Bima tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tata letak bangunan kesultanan di tanah Jawa dengan memasukkan masjid sebagai salah satu elemen utamanya. Terdiri dari bangunan Istana kesultanan Bima, Masjid kesultanan dan alun-alun Serasuba.

Masing-masing unsur membentuk satu kesatuan yang utuh antara pemerintahan (istana), religi (masjid), dan masyarakat (alun-alun). Alun-alun Serasuba berasal dari kata sera dan suba. Sera berarti tanah lapang, dan suba secara harfiahnya bermakna tombak, yang dikonotasikan dengan perintah atau titah. Jadi, alun-alun Serasuba dulu didirikan sebagai tempat bagi Sultan Bima untuk menyampaikan titah (perintah) kepada rakyatnya.

Dibangun dengan atap tumpang bersusun ditambah dengan empat menara di setiap penjurunya

Di komplek Masjid Sultan Salahudin ini terdapat makam para petinggi kesultanan dan keluarganya yang berada di sebelah barat bangunan masjid, termasuk makam Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, yang pertama kali membangun masjid tersebut. Setelah sekian lama tenggelam dari panggung sejarah, Kesultanan Bima dibangkitkan kembali pada tanggal 4 Juli 2013, dengan penobatan Sultan Bima ke 16, Sultan Jena Teke H. Ferry Zulkarnain. Meskipun kini legitimasi Sultan tidak lagi berkuasa di ranah politik seperti pada lalu namun lebih kepada sosok pengayom adat, tadisi, budaya dan agama Islam di wilayah kesultanan Bima.

Sejarah Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Masjid Sultan Muhammad Salahadddin dikenal sebagai Masjid Kesultanan Bima, dibangun pertama kali pada tahun 1770 M oleh Sultan Abdul Kadim Zilullah Fil Alam, sultan ke-VIII. Pembangunan disempurnakan oleh putranya, Sultan Abdul Hamid, yang mengubah bentuk atap rumah ibadah itu menjadi atap bersusun tiga, mirip dengan Masjid Masjid Tradisional di Pulau Jawa. Namun, di masa perang dunia kedua masjid Kesultanan Bima tersebut hancur lebur dibom oleh pasukan Sekutu pada tahun 1943, saat Bima diduduki Jepang. Hanya tersisa mimbar masjid yang selamat dari kehancuran itu.

foto tua masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Pada tahun 1990, Hajah Siti Maryam yang merupakan putri dari mendiang Sultan Muhammad Sallahuddin (Sultan Bima ke 15) memugar Masjid Kesultanan Bima dan membangunnya kembali seperti aslinya sebagai upaya konservasi terhadap bangunan masjid bersejarah tersebut dan kemudian dinamai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima terahir yang berkuasa penuh di Kesultanan Bima sebelum kemudian bergabung dengan NKRI.

Sultan Muhammad Salahuddin adalah Putera dari Sultan Ibrahim, dilahirkan pada pukul 12:00 tanggal 15 Zulhijah 1306 Hijriah bertepatan dengan tahun 1888 Miladiyah. Beliau dinobatkan sebagai Sultan Bima XV pada tahun 1917. Meninggal di Jakarta pada pukul 22:00 hari Kamis 7 Syawal 1370 Hijriah bertepatan dengan tanggal 11 Juni 1951, di usia 64 tahun dan diberi gelar secara anumerta "Ma Kakidi Agama", karena menjunjung tinggi agama serta memiliki pengetahuan agama Islam yang luad dan mumpuni.

Sejarah Islam di Bima

Di dalam masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima

Buya Hamka, ulama legendaris Indonesia, pernah menyatakan Bima sebagai salah satu pusat syiar Islam di Indonesia. Menurut catatan sejarah, tahun 1540 M merupakan tonggak awal kedatangan Islam di tanah Bima. Proses islamisasi itu berlangsung dalam tiga tahap yaitu periode kedatangan Islam tahun 1540 – 1621, periode pertumbuhan islam tahun 1621-1640 M, dan periode kejayaan islam pada tahun 1640 – 1950 M. pada tahap awal sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan, ajaran Islam sudah masuk di wilayah-wilayah pesisir Bima.

Pada abad ke-16 M, Bima sudah menjadi salah satu pusat perdagangan yang ramai di wilayah bagian timur Nusantara. Menurut Tome Pires yang berkunjung ke Bima pada tahun 1513 M, pada masa itu pelabuhan Bima ramai dikunjungi oleh para  pedagang Nusantara dan para pedagang Bima berlayar menjual barang dagangannya ke Ternate, Banda dan Malaka serta singgah di setiap pelabuhan di Nusantara. “Pada saat inilah kemungkinan para pedagang Demak datang ke Bima selain berdagang juga untuk menyiarkan agama Islam” kata sejarawan dan Indonesianis Prancis Henry Chambert-Loir dalam bukunya, Bima dalam Sastra dan Sejarah.

Masjid Sultan Bima di malam hari.

Persinggungan Bima dengan Jawa dan saudagar saudagar Islam melalui jalur laut terjadi karena Bima berada di jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Dari situ, pedagang dan mubaligh dari Jawa dan wilayah muslim lainnya datang ke Bima menyebarkan Islam. Ataupun sebaliknya orang-orang Bima pergi berdagang ke Jawa dan wilayah muslim lainnya lalu pulang dengan membawa ajaran Islam.

Seperti tertulis dalam salah satu bo atau kitab catatan kerajaan, pada tahun 1640 Ruma Ta Ma Bata Wadu, Raja Bima ke-27, menikah dengan perempuan bernama Daeng Sikontu, adik ipar dari Sultan Alauddin, raja Makassar Alauddin. Karena perkawinan itu, Sang Raja memeluk agama Islam. Ia pun mengganti gelar dan nama menjadi Sultan Abdul Kahir. Ialah sultan Bima pertama yang beragama Islam. Dengan demikian, Bima telah menjadi sebuah kesultanan di abad ke 17 miladiiyah dengan perubahan status kerajaan menjadi sebuah kesultanan.***

Senin, 06 Desember 2010

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Kuno Bayan Beleq

Pulau Lombok, di provinsi Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani dan Pantai Senggigi-nya yang menawan. Pulau nan indah disebelah timur pulau Bali ini menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam yang teramat tua namun masih terawat dengan baik hingga kini. Sebuah Masjid berarsitektur tradisional khas Pulau Lombok bernama Masjid Bayan Beleq. Masjid Bayan Beleq kini menjadi salah satu ikon pariwisata kabupaten Lombok Utara, bersama sama dengan Gunung Rinjani. Masjid kuno ini juga diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq di gambar dalam bentuk siluet bewarna merah menggambarkan integritas peradaban masyarakat Lombok Utara.


Lambang Kabupaten Lombok utara
Dalam situs resmi pemerintah kabupaten Lombok Utara disebutkan bahwa bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual. Konstruksi Masjid Kuno Bayan terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.

Lokasi Masjid Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Belek KLU NTB
Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara
Nusa Tenggara Bar. 83354



Masjid Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok dapat dicapai dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum atau dapat juga ditempuh dengan kendaraan sewaan. Masjid Bayan Beleq berjarak sekitar 87 kilometer dari kota Mataram, berada pada ketinggian 355 meter dari permukaan laut (*)

Sejarah Masjid Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Bayan Beleq diperkirakan dibangun pada abad ke 17 masehi, meskipun tak ada angka tahun yang pasti. Namun Pengulu Adat Bayan berkeyakinan bahwa Masjid Bayan Beleq dibangun bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Lombok di Abad ke sebelas atau sekitar tahun 1020 masehi. Bila hal ini benar maka akan mengubah sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang selama ini selalu disebutkan masuk dan berkembang di Indonesia sekitar abad ke 13 Masehi.

Walaupun nampak sederhana, Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok dan kecamatan Bayan sendiri memang terkenal sebagai salah satu pintu gerbang masuk nya ajaran Islam ke Pulau Lombok. Masjid Bayan Beleq telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Dikarenakan usianya yang lebih dari 300 tahun.

Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun dengan pondasi batu koral, dinding anyaman bambu dan beratap daun

Arsitektur Masjid Bayan Beleq, Lombok

Bentuk bangunan Masjid Bayan Belek di pulau Lombok ini serupa dengan bentuk bangunan rumah rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin tidak akan mengira bahwa bangunannya merupakan sebuah masjid. Ukurannya relatif kecil sekitar 9 x 9 meter, berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah bilah bambu. Pondasi masjid menggunakan batu kali tanpa semen.

Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid serta beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal. 

Denah masjid berbentuk bujur sangkar, panjang sisinya 8,90 m.  Di topang 4 Soko Guru (tiang utama) yang dibuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang tersebut berasal dari empat desa (dusun) yaitu : Tiang sebelah Tenggara, dari desa Sagang Sembilok. Tiang sebelah Timur laut, dari desa Tereng. Tiang sebelah Barat laut, dari desa Senaru, Tiang sebelah Barat Daya, dari desa Semokon.

Menurut keterangan para Pemangku Adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para Pemangku Masjid yaitu : Tiang sebelah tenggara untuk Khatib. Tiang sebelah timur laut untuk Lebai. Tiang sebelah barat laut untuk Mangku Bayan Timur. Dan tiang sebelah barat daya untuk Penghulu.

Sholat berjemaah di Masjid Kuno bayan Beleq

Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m, dan tiang Mihrab 80 cm. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama, juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut “pagar rancak”. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari 18 bilah papan kayu suren. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan “imam” (pemimpin) tidak sama dengan “makmum” (pengikut atau rakyat). Perbedaan tempat menunjukkan perbedaan kedudukannya.

Atap berbentuk tumpang, terbuat dari bambu (disebut “santek”). Pada bagian puncaknya terdapat hiasan “mahkota”. Ukuran tinggi dinding bangunan yang hanya 125 cm, jauh dibawah ukuran tinggi rata-rata manusia normal. Dengan demikian, setiap orang yang hendak masuk ke dalam masjid tidak mungkin berjalan dengan langkah tegap, tetap harus menunduk. Hal ini pun mengandung makna penghormatan.

Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia akhirat.

Pada bagian atas mimbar, terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu juga terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Di dalam seni rupa Islam pada umumnya, hampir tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra Islam yang masih mewarnainya.

Tradisi Semetian di desa Bayan

Tradisi Tradisi di Masjid Bayan Beleq

Tradisi Renovasi dan Perbaikan Masjid Bayan Beleq

Bahan atap bangunan masjid diambil dari tempat khusus, di desa Senaru. Bila atapnya rusak atau hancur, perbaikannya harus pada tahun Alip yang datangnya sewindu (8 tahun) sekali. Pembebanan biayanya secara tardisional telah terbagi kepada masyarakat desa di sekitarnya yaitu : atap sebelah utara, desa Anyar. Atap sebelah timur, desa Loloan. Atap sebelah selatan, desa Bayan. Atap sebelah barat, desa Sukasada. Pelaksanaan perbaikan dilakukan secara gotong royong, dipimpin oleh para Pemangku Adatnya.

Tradisi Semetian di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Masjid Bayan Beleq kini tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masjid ini akan kembali ramai pada hari hari besar Islam. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad. Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung ini diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, semisal harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot, sapuk, dan lainnya. 
Prosesi Maulid adapt ini diawali dengan Menutu Dirantok Belek atau menumbuk padi yang dilakukan oleh inaq Lokak serta Inaq Menik, para Inaq Lokak, pembekel, pande, istri para pranata adat yang ada di Karang Bajo. Sebuah simbol dari ungkapan rasa syukur akan keberhasilan panen. Dilanjutkan dengan pembuatan reranggon, atau tempat menyimpan sekam padi bulu, Kemudian dilanjutkan dengan prosesi menjemput alat musik tradisional atau Ngalu Gendang Gerantung dari rumah adat Bale Beleq Karang Bajo.

Prosesi selanjutnya adalah menurunkan Penginang Lekoq Buaq, yang tujuannya untuk mempermaklumkan bahwa gendang dan alat musik tetabuhan lainnya bakal dipakai dalam persiapan Maulid Adat. Setelah prosesi penginang terhadap alat musik yang terdiri dari sebuah Gong, Gendang dan Gamelan dilakukan, kemudian dimainkan beberapa saat di Berugaq Malang, yang menandakan bahwa pada hari ini Entekkan Kayu Aik Mulud Adat Bayan sedang dilangsungkan.

Interior Masjid Kuno Bayan Beleq, sangat sederhana

Setelah beberapa saat ditabuh, peralatan musik ini kemudian diboyong menuju Bale Beleq Bayan Barat, untuk menjalani prosesi pemandian mata Gerantung Lanang atau Gong Pria, dan Gerantung Wadon, yang mewakili simbol wanita, untuk kemudian ditabuh seraya menunggu keluarnya perbekalan yang sedang dipersiapkan di dalam Bale Beleq Bayan Barat. Selama prosesi tersebut dilangsungkan, dilakukan juga prosesi pencarian Bambu Tutul oleh para pranata adat di setiap dusun, untuk kemudian dibawa ke Masjid Kuno, dipasang sebagai umbul-umbul di setiap pojoknya, menyimbolkan bahwa perayaan ini dirayakan oleh seluruh masyarakat Bayan di segala penjuru mata ngin.

Keseluruhan prosesi ini dilakukan di masing-masing dusun yang berada di wilayah Bayan. Dan di setiap Bale Beleq yang ada di masing-masing dusun mempersiapkan perbekalan berupa beberapa helai kain tenun yang akan dipakai untuk menghias masjid kuno. Dulunya seluruh kain penghias dibuat dengan menenun, tapi saat ini yang ditenun hanya kain untuk umbul-umbul saja. Setelah semua perbekalan telah siap, untuk kemudian diarak menuju masjid kuno, diiringi Ngalu Gendang Gerantung, serta dikawal oleh para pepadu yang membawa tameng serta tongkat peresean, disaksikan oleh masyarakat dan wisatawan menyambut keluarnya rombongan yang berjalan hanya diterangi oleh sebuah lampu jojor, menuju areal halaman masjid kuno Bayan Beleq.

Setelah semua perwakilan dusun lengkap berada di halaman depan masjid, untuk kemudian melakukan prosesi adat Ngegelaq, menghiasi masjid dengan kain tenun yang dibawa, menghias tiang masjid yang dibalut oleh kain tenun tersebut, dilakukan oleh Kiyai Penghulu, Kiyai Lebe, Nyaka Mantri dan Pemangku.

Pada saat prosesi itu selesai yang ditandai dengan berdirinya umbul-umbul berwarna putih yang terbuat dari kain tenun, acara yang ditunggu-tunggu khalayak ramai pun dilangsungkan. Peresean atau menurut bahasa adat Bayan dinamakan Semetian ini dilangsungkan di halamana masjid kuno semalam suntuk. Semeti itu berarti rotan, dan ketika rotan ini diadu, akhirnya menjadi Semetian, yang bertujuan untuk saling unjuk dan mengukur kemampuan masing-masing pepadu.

Papan pengumuman yang menyatakan masjid kuni Bayan Beleq ini adalah benda cagar budaya yang dilindungi undang undang

Dibawah siraman sinar bulan para pepadu bertarung, seraya menantang satu sama lainnya. Untuk memeriahkan suasana para Pengembar atau wasit pun berteriak meminta dukungan kepada para penonton. Teriakan Pengembar ini pun disambut para penonton, memacu adrenalin setiap orang yang menyaksikan pertarungan tersebut.

Di pinggir medan laga, Ngalu Gendang Gerantung yang bertalu-talu, selain mengiringi proses Semetian, dilakukan juga prosesi Serucapan, sebuah prosesi untuk membayar Nazar atau mengucapkan nazar. Kedua prosesi ini Semetian dan Serucapan dilakukan semalam suntuk, dan berakhir menjelang Azan shubuh Tiba. Di hari kedua, prosesi adat ini dilanjutkan dengan mempersiapkan ternak yang akan dipotong dibalai adat masing masing, yang berada di bayan Timur, Bayan Barat, Lolongan, Bayun Birah, dan Karang Bajo. Untuk kemudian semua kegiatan selanjutnya terpusat di masjid kuno.

Sebelum menuju masjid kuno, di setiap balai adat juga dilangsungkan pembuatan Ancak dari bambu, alat yang dipakai untuk menyuguhkan nasi, setelah sebelumnya Ancak tersebut dilapisi daun pisang. Setelah semua persiapan dirampungkan, nasi Ancak ini kemudian dibawa oleh Pemangku, Kiyai Lebe, Kiyai Penghulu Bayan Timur, Bayan barat, Karang Bajo, Lolongan, dan Bayun Birah, sambil diiringi Praja Maulud, iringan yang menggambarkan pasangan penganten yang dipayungi payung agung, menuju masjid kuno.

Praja Mulud ini mengambarkan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan penganten. Prosesi ini dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan. Setelah berada di pelataran dalam masjid, dilanjutkan dengan proses Periyapan Selametan Praja Mulud atau Selametan Maulid Adat Bayan, yang doanya dipimpin Kiyai Penghulu, sekaligus menutup proses perayaan Maulid Adat yang berlangsung selama 2 hari, berdasarkan Lingsereat atau kalender adat Bayan, yang menunjukkan 12 Rabiul awal bulan atas, atau tepat berbeda 3 hari dengan kalender perayaan Maulid secara Nasional.

meski sudah berumur sangat tua, masjid ini tetap terawat hingga kini

Tradisi Idul Fitri

Masyarakat muslim  bayan tempat dimana masjid  bayan beleq ini berada memiliki tradisi sendiri dalam merayakan hari raya idul fitri. Sholat idul fitri diselenggarakan di hari ketiga bukan di hari pertama idul fitri, permulaan puasa ramadhan pun dimundurkan tiga hari dibandingkan dengan kalender Islam.

Sholat idul fitri di masjid Bayan Beleq ini hanya dihadiri Puluhan kiyai, penghulu, lebe, ketip (khotib), Modin (muazin) dan kiyai santri yang jumlahnya tidak lebih dari 44 orang mengenakan baju dan ikat kepala berwarna putih, memasuki masjid bayan untuk menggemakan suara takbir. Yang kemudian dilanjutkan dengan sholat idul fitri, dan khutbah idul fitri semuanya disampaikan dalam bahasa arab. Seusai khutbah, para kiyai inipun berjabat tangan sambil membaca shalawat Nabi, dan dilanjutkan dengan silaturrahmi kepada masyarakat adat Bayan. Dan acara lebaran ini dikenal dengan lebaran adat. Masjid Bayan beleq memang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang, hanya para tokoh adat dan pemimpin agama Islam saja yang diperkenankan masuk dan sholat di masjid tua ini.

Sehari menjelang pelaksanaan sholat Id, berbagai persiapanpun dilakukan, seperti menyediakan makanan bagi para kiyai, pengulu dan tokoh masyarakat yang akan menjalankan sholat Idul Fitri, mengeluarkan zakat, dan lain-lain. Dalam hal zakat fitrah, masyarakat adat Wetu Telu bukan saja mengeluarkan makanan pokok seperti beras saja, tapi juga dilengkapi dengan berbagai hasil bumi lainnya yang diserahkan kepada para tokoh agama.

konon menurut salah satu tokoh masyarakat setepat, tradisi sholat idul fitri di hari ke 3 bulan syawal itu bermula di jaman penjajahan Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda dulu, setiap tanggal 1 Syawal, daerah Bayan selalu mendapat pengawasan ketat dari kaum penjajah, sehingga pelaksanaan sholat Id tidak berani dilakukan. Namun karena masyarakat yang beragama Islam di Bayan waktu itu cukup taat menjalankan perintah agamanya, ketimbang tidak dilaksanakan lebih baik ditunda, hingga melihat bulan dengan nyata yaitu tanggal 3 Syawal. sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi ulama setempat untuk meluruskan tradisi lama tersebut.***

Jumat, 13 Agustus 2010

Masjid “Bengak” Al-Raisiyah Masjid Tertua di Mataram

Masjid Al-Raisiyah atau juga seringkali disebut Masjid Bengak di kawasan Sekarbela, kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Masjid Al-Raisiyah atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Bengak berdiri kokoh diantara perkampungan warga di Sekarbela, Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Masjid yang dibangun diatas lahan seluas 10 hektar. merupakan peninggalan tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak yang hidup pada abad ke 17 Masehi. 

Kata ‘Bengak” yang melekat pada nama masjid ini, dalam bahasa setempat berarti “heran”. Dalam perjalanan sejarah masjid ini disebutkan bahwa, pada masa awal penyebaran Islam di Kawasan tersebut merupakan daerah yang sulit untuk mendapatkan air bersih. Sampai suatu hari pada saat Gaus Abdul Razak sedang memimpin pengajian di masjid tersebut yang kala itu masih berupa bangunan yang sangat sederhana, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat ter-“heran heran” dengan kejadian tersebut.  Keajaiban air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Lokasi Masjid Bengak al-Raisiyah

Kelurahan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela
Kota Mataram, Prov. Nusa Tenggara Barat
Indonesia



Sejak berdiri, masjid tersebut sudah 4 kali direnovasi, Renovasi yang pertama dilakukan setelah Masjid terbakar akibat peperangan antara masyarakat Sekarbela yang menuntut kematian Tuan Guru Padang Reak dengan penguasa saat itu. Saat itu. Bentuk masjid Sekarbela berbentuk empat persegi dengan dinding bedek, atap rumbia, lantai tanah dan yang menjadi ciri khas adalah empat soko guru. Setelah kebakaran, Masjid dibangun kembali oleh TGH Mustafa dan TGH Moh. Toha. Bentuk Masjid masih sederhana dengan empat soko guru. Dari peninggalan yang ada yakni sebuah kaligrafi tertulis angka 1350 Hijriah.

Saat itu bangunan Masjid sudah lebih baik dari sebelumnya namun masih sederhana. Kemudian pada tahun 1890 M, atas prakarsa TGH M Rais, masjid direnovasi dengan memanfaatkan atap dari genteng. Jamaah yang semakin banyak menginspirasikan penerus selanjutnya, yakni TGH Muktamat Rais anak dari TGH Muhamaad Rais, untuk membangun kembali Masjid pada tahun 1974 dengan kontruksi beton. 

(atas) Ukiran mimbar dan mihrab tua di dalam masjid, (kiri bawah) kolam di halaman Masjid Bengak. (kiri bawah) masjid bengak dari kejauhan.

Namun dikarenakan jamaah yang semakin beragamnya kegiatan, maka pada tahun 2001 Masjid direnovasi kembali dengan desain Timur Tengah dan berlantai tiga. Diperkirakan dana yang dihabiskan untuk membangun Masjid ini sekitar Rp 6 milyar Rupiah. Menghadirkan masjid Bengak yang Moderen, tekstur bangunan Masjid Al-Ra'isiyah itu meniru Masjid Nabawi. Hal tersebut tampak dari bentuk kubah dan menara setinggi 63 meter. Bahkan dinding pada mimbar Masjid berbahan marmer yang diambil dari Lampung, pulau Sumatera. Keseluruhan dana pembangunan tersebut hasil sumbangan dari warga masyarakat Sekarbela.

Kawasan Sekarbela sendiri terkenal sebagai sentra pengrajin mutiara, puluhan toko perhiasan berderet memamerkan kemilau aneka jenis mutiara. berbagai jenis perhiasan berbahan emas, perak, dan batu-batuan berharga lainnya, bila kita masuk ke kawasan Sekarbela banyak sekali dijumpai toko yang sekaligus difungsikan sebagai showroom berbagai macam perhiasan berharga, baik emas, perak, kecubung, safir, dan tentu saja mutiara yang menjadi primadona utama. Tak mengherankan bila kemudian pembangunan masjid Bengak yang begitu mahal mampu dipikul sendiri oleh warga setempat tanpa bantuan dari pihak luar.

Meski modern, Masjid tersebut tetap memiliki sejarah. Mimbarnya dihiasi oleh ukiran kayu ipil berwarna hitam setinggi 20 meter yang diukir dengan kaligrafi Surat Al-Jum’ah. Kayu tersebut diperkirakan berusia 100 tahun lebih. Kayu itu merupakan salah satu peninggalan sejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid Bengak itu, merupakan Masjid tertua di Kota Mataram. Keberadaan Masjid itu menggambarkan kehidupan masyarakatnya yang Islami. Tidak jauh dari Masjid tersebut berdiri Pondok Pesantren yang didirikan oleh Tuan Guru Haji Muhammad Rais. 

Mihrab dan Mimbar berukir di dalam masjid Bengak Al-Raisiyah

Masjid bengak dan air kolam ajaib

Menurut sesepuh masyarakat setempat, hadirnya tokoh Islam bernama Gaus Abdul Razak asal Jawa itu untuk menyebarkan ajaran Islam di Pulau Lombok. Bahkan, menurut cerita, setiap tempat yang disinggahinya selama di Lombok, selalu diiringi munculnya sumber mata air, yang salah satunya terletak di Masjid Al-Ra'isiyah di Kota Mataram ini.

Dulunya daerah Kampung Sekarbela itu dikenal sebagai daerah tandus. Dalam sejarahnya daerah itu merupakan bagian dari daerah kekuasaan kerajaan Hindu dibawah pimpinan Anak Agung. Tak heran jika masyarakat Kampung Sekarbela saat itu, menganut faham animisme. Namun kondisi itu berubah seketika saat Gaus Abdul Razak masuk ke wilayah itu dan menyebarkan ajaran Islam. 

Suatu ketika, Gaus Abdul Razak memimpin sebuah pengajian di masjid tersebut. Anehnya, tiba-tiba keluar air deras dari dalam tanah. Masyarakat kaget sehingga mereka pun menggalinya hingga kedalaman 8 meter.  Keajaiban munculnya air yang berlimpah telah menyadarkan masyarakat setempat dan memeluk Islam.

Mata air tersebut, lanjut Alwi lambat laun terus membesar sehingga membentuk kolam. Meski demikian air tersebut tidak merusak bangunan masjid yang pada saat itu terbuat dari kayu ipil dengan beratapkan alang. Itulah mengapa masjid tersebut dinamakan 'Bengak', lantaran diambil dari bahasa sasak yang berarti heran. Masyarakat menjadi heran dengan kemunculan air yang berlimpah dari dalam tanah tersebut, yang akhirnya memakmurkan kehidupan warga.

interior masjid Al-Raisiyah

Tidak cukup sampai disitu, masyarakat mempercayai air tersebut mengandung kekuatan supranatural. Bahkan konon pada masa penjajahan Jepang, air itu berubah menjadi minyak yang oleh warga diyakini mampu menjadi kekebalan tubuh dari senjata tajam. Bahkan, sejumlah tentara Jepang yang terluka juga konon dibawa ke Masjid itu untuk memperoleh pengobatan.

Untuk menjaga kelestariannya, masyarakat sekitar membuat kolam berukuran 5 x 15 meter dengan kedalaman kurang lebih 1,5 meter, tepat didepan mimbar Masjid. Selain kolam juga terdapat sumur tua. Namun, sayangnya, hingga masjid tersebut semakin ramai di padati umat Islam yang beribadah, dan air yang keluar dari tanah kian membesar, Gauz Abdul Rozak meninggalkan kampung tersebut, dan menghilang hingga kini belum diketahui keberadaan makamnya. 

Kini, masyarakat banyak menghabiskan waktu berbuka sambil duduk-duduk santai di palataran masjid. Haji Alwi menjelaskan suasana Masjid Bengak tersebut tetap ramai meskipun dihari biasa.***

 

Baca Juga