Sabtu, 11 Desember 2010

Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri - Depok

Nama resmi masjid mewah ini adalah Masjid Dian Al-Mahri, namun karena kubahnya yang berlapis emas itu menjadikannya lebih dikenal sebagai masjid Kubah Emas.

Masjid Dian Al Mahri adalah masjid yang dibangun dalam komplek Islamic center Dian Al-Mahri di tepi jalan Raya Meruyung-Cinere di Kecamatan Limo, Depok. Masjid ini selain sebagai menjadi tempat ibadah shalat bagi umat Islam sehari-hari, kompleks masjid ini juga menjadi kawasan wisata keluarga dan menarik perhatian banyak orang karena kubah-kubahnya yang berlapis emas. Selain itu karena luasnya area yang ada dan bebas diakses untuk umum, sehingga tempat ini sering menjadi tujuan liburan keluarga atau hanya sekedar dijadikan tempat beristirahat.


Masjid ini boleh jadi menjadi salah satu objek yang begitu banyak d rekam oleh kamera foto. Kubah masjid Masjid Dian Al-Mahri dilapisi emas murni 24 karat. Itu sebabnya masyarakat lebih familiar menyebutnya sebagai Masjid Kubah Emas. Di seluruh dunia ini, tak banyak masjid yang seperti ini. Hanya ada 8 buah, dan Masjid Dian Al-Mahri terbilang yang paling baru di antara 8 Masjid Kubah Emas.Masjid megah nan indah ini kini menjadi Ikon baru kota Depok.

Lokasi Masjid Dian Al-Mahri


Masjid ini, persisnya terletak di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, di tepi jalan antara Cinere menuju Sawangan. Jalan ini sebetulnya bukan jalan utama. Aksesnya hanya cukup untuk dua mobil yang berpapasan, tidak dipersiapkan untuk arus lalu lintas yang padat. Tak heran, sejak masjid dibuka tahun 2006, serentak jalanan Cinere-sawangan kerap macet.

Masjid Dian Al-Mahri
Jl. Maruyung Raya, Maruyung, Limo
Kota Depok 16515,  Jawa Barat.
Indonesia

 


 

Sejarah  Masjid Dian Al-Mahri


Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten yang lama tinggal di Saudi Arabia. Beliau telah membeli tanah untuk masjid ini sejak tahun 1996 seluas 50 hektar. Pada waktu itu harga tanah Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu per meter perseginya. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu.

Arsitektur Masjid Dian Al-Mahri

Dengan luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini seluas 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Secara keseluruhan mampu menampung jemaah untuk pelaksanaan sholat sebanyak 15.000 jamaah, dan 20.000 jamaah untuk pelaksanaan majlis taklim. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara.

Masjid ini di-arsiteki oleh Uke Setiawan. Masjid Dian Al Mahri memiliki 5 kubah. Satu kubah utama dan 4 kubah kecil. Seluruh kubah dilapisi emas setebal 2 sampai 3 milimeter dan mozaik kristal. Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Selain itu di dalam masjid ini terdapat lampu gantung yang didatangkan dari Italia seberat 8 ton. Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Interior ruang utama Masjid Dian Al-Mahri, sangat mewah dengan mayoritas balutan warna emas dan kuning gading di seantero ruangannya.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, menara, halaman dalam (plaza), dan penggunaan detil hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara berbentuk segi enam atau heksagonal, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada bagian interiornya, masjid ini menghadirkan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Porselen dan beberapa ornamennya khusus diimpor dari Italia. Langit-langit kubah juga dilapisi lukisan yang bisa menyesuaikan dengan kondisi fisik pada waktu sholat. Biru langit jika siang dan gelap berbintang jika malam hari.

Masjid Dian Al-Mahri terbagi menjadi dua bagian yakni bangunan utama masjid dan area plaza yang dikelilingi oleh koridor. Lima kibah dan enam menara merupakan fitur exterior utama masjid ini yang terlihat dari kejauhan. 

Masjid megah ini dilengkapi dengan taman luas yang tertata rapi. Lengkap dengan koleksi berbagai tanaman bungan. Diekitar komplek masjid yang menjadi bagian dari Islamic Center ini, ditanami begitu banyak tanaman buah terutama pohon mangga dari berbagai jenis. Dengan rumput dan tanaman taman yang tertata dan terawat rapi.

Aktivitas Masjid Dian Al-Mahri

Masjid ini memiliki segudang aktivitas, termasuk majeis ta’lim. Dan khusus selama Ramdhan masjid Dian Almahri menyelenggarakan serangkaian kegiatan menyambut dan selama Ramadhan. Acara buka puasa bersama diselenggarakan setiap hari di masjid ini. Selama menunggu datangnya waktu berbuka puasa, diisi dengan tausiah dari ustadzh ustadzh kondang, setelah pembacaan kitab suci Alqur’an, Tahlil dan Tahmid.

Buka puasa diselenggarakan di gedung serbaguna dalam komplek masjid ini. Sholat tarawih di masjid ini pun di imami oleh para ustadzh yang sudah dikenal masyarakat. Ditambah lagi dengan acara Istighotsah, zikir bersama, tadarus, dan i’tikaf.

Dengan kemegahan dan kemewahan masjid ini ditambah dengan segudang aktivitasnya. Menjadikan masjid ini magnet baru sebagai tujuan wisata religi bagi kaum muslimin dari berbagai pelosok tanah air.

Masjid Dian Al-Mahri

Tata tertib

Berikut tata tertib yang harus dipatuhi saat berkunjung ke masjid ini :
  • Sepatu dan sandal diletakkan di tempat yang telah ditentukan, tidak diperkenankan membawa sepatu dan sandal ke dalam majid.
  • Dilarang membawa makanan dan minuman ke areal masjid. Jamaah yang akan makan dan minum dipersilahkan mengambil tempat di Gedung Serba Guna Dian Al- Mahri (semacam aula).
  • Anak dibawah usia 7 tahun yang tidak melakukan kegiatan ibadah, tidak diperkenankan memasuki masjid dan disediakan tempat di gedung serba guna.
  • Dilarang membuang sampah sembarangan.
  • Setiap muslim, memasuki masjid harus dalam keadaan aurat tertutup.
  • Toilet kaum ibu tersedia disamping gedung serba guna.
  • Tidak diperkenankan mengambil foto di dalam masjid. Kilatan lampu kamera akan mengganggu kekhusukan jamaah yang sedang beribadah.
  • Dilarang menginjak rumput disekitar areal masjid.  
  • Jam buka masjid setiap harinya : a. 04.00 – 06.00 WIB   b. 10.00 – 20.00 WIB.
  • Setiap hari kamis, terhitung mulai 29 November 2007, kawasan Komplek Islamic Centre Dian Al-Mahri tertutup untuk umum. Hal ini dikarenakan : dilaksanakan pekerjaan sipil dan infrastuktur di kawasan masjid dan sekitarnya serta pembersihan secara menyeluruh kawasan masjid untuk persiapan hari juma’at.***

Senin, 06 Desember 2010

Masjid Kuno Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Kuno Bayan Beleq

Pulau Lombok, di provinsi Nusa Tenggara Barat, terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani dan Pantai Senggigi-nya yang menawan. Pulau nan indah disebelah timur pulau Bali ini menyimpan bukti sejarah perkembangan Islam yang teramat tua namun masih terawat dengan baik hingga kini. Sebuah Masjid berarsitektur tradisional khas Pulau Lombok bernama Masjid Bayan Beleq. Masjid Bayan Beleq kini menjadi salah satu ikon pariwisata kabupaten Lombok Utara, bersama sama dengan Gunung Rinjani. Masjid kuno ini juga diabadikan dalam lambang daerah kabupaten Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan Beleq di gambar dalam bentuk siluet bewarna merah menggambarkan integritas peradaban masyarakat Lombok Utara.


Lambang Kabupaten Lombok utara
Dalam situs resmi pemerintah kabupaten Lombok Utara disebutkan bahwa bangunan Masjid Kuno Bayan menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara yang dibangun berdasarkan kesadaran kosmos, kesadaran sejarah, kesadaran adat dan kesadaran spiritual. Konstruksi Masjid Kuno Bayan terdiri dari kepala, badan dan kaki, menggambarkan dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah yang merupakan satu kesatuan dalam entitas kosmos masyarakat Lombok Utara. Masjid Kuno Bayan, merupakan salah satu warisan budaya yang harus dipelihara sebagai situs cagar budaya yang berkontribusi dalam National Heritages. Warna merah pada stilisasi bangunan masjid kuno bayan menunjukkan keberanian untuk menegakkan jati diri sebagai masyarakat budaya yang dibangun berdasarkan religiusitas yang kuat.

Lokasi Masjid Bayan Beleq

Masjid Kuno Bayan Belek KLU NTB
Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara
Nusa Tenggara Bar. 83354



Masjid Bayan Beleq terletak di desa Bayan, Kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara propinsi Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok dapat dicapai dengan pesawat terbang dari Jakarta, Surabaya, Bali, dan kota-kota lain. Dari Kota Mataram, perjalanan menuju Kecamatan Bayan dilanjutkan dengan transportasi umum atau dapat juga ditempuh dengan kendaraan sewaan. Masjid Bayan Beleq berjarak sekitar 87 kilometer dari kota Mataram, berada pada ketinggian 355 meter dari permukaan laut (*)

Sejarah Masjid Bayan Beleq, Pulau Lombok

Masjid Bayan Beleq diperkirakan dibangun pada abad ke 17 masehi, meskipun tak ada angka tahun yang pasti. Namun Pengulu Adat Bayan berkeyakinan bahwa Masjid Bayan Beleq dibangun bersamaan dengan masuknya Islam ke pulau Lombok di Abad ke sebelas atau sekitar tahun 1020 masehi. Bila hal ini benar maka akan mengubah sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang selama ini selalu disebutkan masuk dan berkembang di Indonesia sekitar abad ke 13 Masehi.

Walaupun nampak sederhana, Masjid Bayan Beleq merupakan masjid pertama yang berdiri di Pulau Lombok dan kecamatan Bayan sendiri memang terkenal sebagai salah satu pintu gerbang masuk nya ajaran Islam ke Pulau Lombok. Masjid Bayan Beleq telah menjadi salah satu situs bersejarah yang ada di Indonesia. Dikarenakan usianya yang lebih dari 300 tahun.

Masjid Kuno Bayan Beleq dibangun dengan pondasi batu koral, dinding anyaman bambu dan beratap daun

Arsitektur Masjid Bayan Beleq, Lombok

Bentuk bangunan Masjid Bayan Belek di pulau Lombok ini serupa dengan bentuk bangunan rumah rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Saat pertama kali melihatnya, Anda mungkin tidak akan mengira bahwa bangunannya merupakan sebuah masjid. Ukurannya relatif kecil sekitar 9 x 9 meter, berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah bilah bambu. Pondasi masjid menggunakan batu kali tanpa semen.

Di dalam masjid juga terdapat sebuah bedug dari kayu yang digantung di tiang atap masjid serta beleq (makam besar) dari salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan ini, yaitu Gaus Abdul Rozak. Di belakang kanan dan depan kiri masjid terdapat dua gubuk kecil yang di dalamnya terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus masjid ini sejak dari awal. 

Denah masjid berbentuk bujur sangkar, panjang sisinya 8,90 m.  Di topang 4 Soko Guru (tiang utama) yang dibuat dari kayu nangka, berbentuk bulat (silinder) dengan garis tengah 23 cm, tinggi 4,60 m. Keempat tiang tersebut berasal dari empat desa (dusun) yaitu : Tiang sebelah Tenggara, dari desa Sagang Sembilok. Tiang sebelah Timur laut, dari desa Tereng. Tiang sebelah Barat laut, dari desa Senaru, Tiang sebelah Barat Daya, dari desa Semokon.

Menurut keterangan para Pemangku Adat, tiang utama ini diperuntukkan bagi para Pemangku Masjid yaitu : Tiang sebelah tenggara untuk Khatib. Tiang sebelah timur laut untuk Lebai. Tiang sebelah barat laut untuk Mangku Bayan Timur. Dan tiang sebelah barat daya untuk Penghulu.

Sholat berjemaah di Masjid Kuno bayan Beleq

Tiang keliling berjumlah 28 buah, termasuk dua buah tiang Mihrab. Tinggi tiang keliling rata-rata 1,25 m, dan tiang Mihrab 80 cm. Tiang-tiang ini selain berfungsi sebagai penahan atap pertama, juga berfungsi sebagai tempat menempelkan dinding terbuat dari bambu yang dibelah dengan cara ditumbuk, disebut “pagar rancak”. Khusus dinding bagian Mihrab terbuat dari 18 bilah papan kayu suren. Perbedaan bahan dinding ini bermakna simbolis, bahwa tempat kedudukan “imam” (pemimpin) tidak sama dengan “makmum” (pengikut atau rakyat). Perbedaan tempat menunjukkan perbedaan kedudukannya.

Atap berbentuk tumpang, terbuat dari bambu (disebut “santek”). Pada bagian puncaknya terdapat hiasan “mahkota”. Ukuran tinggi dinding bangunan yang hanya 125 cm, jauh dibawah ukuran tinggi rata-rata manusia normal. Dengan demikian, setiap orang yang hendak masuk ke dalam masjid tidak mungkin berjalan dengan langkah tegap, tetap harus menunduk. Hal ini pun mengandung makna penghormatan.

Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia akhirat.

Pada bagian atas mimbar, terdapat hiasan berbentuk naga. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7. Hiasan ini melambangkan jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu juga terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Di dalam seni rupa Islam pada umumnya, hampir tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra Islam yang masih mewarnainya.

Tradisi Semetian di desa Bayan

Tradisi Tradisi di Masjid Bayan Beleq

Tradisi Renovasi dan Perbaikan Masjid Bayan Beleq

Bahan atap bangunan masjid diambil dari tempat khusus, di desa Senaru. Bila atapnya rusak atau hancur, perbaikannya harus pada tahun Alip yang datangnya sewindu (8 tahun) sekali. Pembebanan biayanya secara tardisional telah terbagi kepada masyarakat desa di sekitarnya yaitu : atap sebelah utara, desa Anyar. Atap sebelah timur, desa Loloan. Atap sebelah selatan, desa Bayan. Atap sebelah barat, desa Sukasada. Pelaksanaan perbaikan dilakukan secara gotong royong, dipimpin oleh para Pemangku Adatnya.

Tradisi Semetian di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Masjid Bayan Beleq kini tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar. Namun, masjid ini akan kembali ramai pada hari hari besar Islam. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad. Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung. Para pengunjung ini diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, semisal harus menggunakan baju adat sasak seperti dodot, sapuk, dan lainnya. 
Prosesi Maulid adapt ini diawali dengan Menutu Dirantok Belek atau menumbuk padi yang dilakukan oleh inaq Lokak serta Inaq Menik, para Inaq Lokak, pembekel, pande, istri para pranata adat yang ada di Karang Bajo. Sebuah simbol dari ungkapan rasa syukur akan keberhasilan panen. Dilanjutkan dengan pembuatan reranggon, atau tempat menyimpan sekam padi bulu, Kemudian dilanjutkan dengan prosesi menjemput alat musik tradisional atau Ngalu Gendang Gerantung dari rumah adat Bale Beleq Karang Bajo.

Prosesi selanjutnya adalah menurunkan Penginang Lekoq Buaq, yang tujuannya untuk mempermaklumkan bahwa gendang dan alat musik tetabuhan lainnya bakal dipakai dalam persiapan Maulid Adat. Setelah prosesi penginang terhadap alat musik yang terdiri dari sebuah Gong, Gendang dan Gamelan dilakukan, kemudian dimainkan beberapa saat di Berugaq Malang, yang menandakan bahwa pada hari ini Entekkan Kayu Aik Mulud Adat Bayan sedang dilangsungkan.

Interior Masjid Kuno Bayan Beleq, sangat sederhana

Setelah beberapa saat ditabuh, peralatan musik ini kemudian diboyong menuju Bale Beleq Bayan Barat, untuk menjalani prosesi pemandian mata Gerantung Lanang atau Gong Pria, dan Gerantung Wadon, yang mewakili simbol wanita, untuk kemudian ditabuh seraya menunggu keluarnya perbekalan yang sedang dipersiapkan di dalam Bale Beleq Bayan Barat. Selama prosesi tersebut dilangsungkan, dilakukan juga prosesi pencarian Bambu Tutul oleh para pranata adat di setiap dusun, untuk kemudian dibawa ke Masjid Kuno, dipasang sebagai umbul-umbul di setiap pojoknya, menyimbolkan bahwa perayaan ini dirayakan oleh seluruh masyarakat Bayan di segala penjuru mata ngin.

Keseluruhan prosesi ini dilakukan di masing-masing dusun yang berada di wilayah Bayan. Dan di setiap Bale Beleq yang ada di masing-masing dusun mempersiapkan perbekalan berupa beberapa helai kain tenun yang akan dipakai untuk menghias masjid kuno. Dulunya seluruh kain penghias dibuat dengan menenun, tapi saat ini yang ditenun hanya kain untuk umbul-umbul saja. Setelah semua perbekalan telah siap, untuk kemudian diarak menuju masjid kuno, diiringi Ngalu Gendang Gerantung, serta dikawal oleh para pepadu yang membawa tameng serta tongkat peresean, disaksikan oleh masyarakat dan wisatawan menyambut keluarnya rombongan yang berjalan hanya diterangi oleh sebuah lampu jojor, menuju areal halaman masjid kuno Bayan Beleq.

Setelah semua perwakilan dusun lengkap berada di halaman depan masjid, untuk kemudian melakukan prosesi adat Ngegelaq, menghiasi masjid dengan kain tenun yang dibawa, menghias tiang masjid yang dibalut oleh kain tenun tersebut, dilakukan oleh Kiyai Penghulu, Kiyai Lebe, Nyaka Mantri dan Pemangku.

Pada saat prosesi itu selesai yang ditandai dengan berdirinya umbul-umbul berwarna putih yang terbuat dari kain tenun, acara yang ditunggu-tunggu khalayak ramai pun dilangsungkan. Peresean atau menurut bahasa adat Bayan dinamakan Semetian ini dilangsungkan di halamana masjid kuno semalam suntuk. Semeti itu berarti rotan, dan ketika rotan ini diadu, akhirnya menjadi Semetian, yang bertujuan untuk saling unjuk dan mengukur kemampuan masing-masing pepadu.

Papan pengumuman yang menyatakan masjid kuni Bayan Beleq ini adalah benda cagar budaya yang dilindungi undang undang

Dibawah siraman sinar bulan para pepadu bertarung, seraya menantang satu sama lainnya. Untuk memeriahkan suasana para Pengembar atau wasit pun berteriak meminta dukungan kepada para penonton. Teriakan Pengembar ini pun disambut para penonton, memacu adrenalin setiap orang yang menyaksikan pertarungan tersebut.

Di pinggir medan laga, Ngalu Gendang Gerantung yang bertalu-talu, selain mengiringi proses Semetian, dilakukan juga prosesi Serucapan, sebuah prosesi untuk membayar Nazar atau mengucapkan nazar. Kedua prosesi ini Semetian dan Serucapan dilakukan semalam suntuk, dan berakhir menjelang Azan shubuh Tiba. Di hari kedua, prosesi adat ini dilanjutkan dengan mempersiapkan ternak yang akan dipotong dibalai adat masing masing, yang berada di bayan Timur, Bayan Barat, Lolongan, Bayun Birah, dan Karang Bajo. Untuk kemudian semua kegiatan selanjutnya terpusat di masjid kuno.

Sebelum menuju masjid kuno, di setiap balai adat juga dilangsungkan pembuatan Ancak dari bambu, alat yang dipakai untuk menyuguhkan nasi, setelah sebelumnya Ancak tersebut dilapisi daun pisang. Setelah semua persiapan dirampungkan, nasi Ancak ini kemudian dibawa oleh Pemangku, Kiyai Lebe, Kiyai Penghulu Bayan Timur, Bayan barat, Karang Bajo, Lolongan, dan Bayun Birah, sambil diiringi Praja Maulud, iringan yang menggambarkan pasangan penganten yang dipayungi payung agung, menuju masjid kuno.

Praja Mulud ini mengambarkan proses terjadinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan penganten. Prosesi ini dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan. Setelah berada di pelataran dalam masjid, dilanjutkan dengan proses Periyapan Selametan Praja Mulud atau Selametan Maulid Adat Bayan, yang doanya dipimpin Kiyai Penghulu, sekaligus menutup proses perayaan Maulid Adat yang berlangsung selama 2 hari, berdasarkan Lingsereat atau kalender adat Bayan, yang menunjukkan 12 Rabiul awal bulan atas, atau tepat berbeda 3 hari dengan kalender perayaan Maulid secara Nasional.

meski sudah berumur sangat tua, masjid ini tetap terawat hingga kini

Tradisi Idul Fitri

Masyarakat muslim  bayan tempat dimana masjid  bayan beleq ini berada memiliki tradisi sendiri dalam merayakan hari raya idul fitri. Sholat idul fitri diselenggarakan di hari ketiga bukan di hari pertama idul fitri, permulaan puasa ramadhan pun dimundurkan tiga hari dibandingkan dengan kalender Islam.

Sholat idul fitri di masjid Bayan Beleq ini hanya dihadiri Puluhan kiyai, penghulu, lebe, ketip (khotib), Modin (muazin) dan kiyai santri yang jumlahnya tidak lebih dari 44 orang mengenakan baju dan ikat kepala berwarna putih, memasuki masjid bayan untuk menggemakan suara takbir. Yang kemudian dilanjutkan dengan sholat idul fitri, dan khutbah idul fitri semuanya disampaikan dalam bahasa arab. Seusai khutbah, para kiyai inipun berjabat tangan sambil membaca shalawat Nabi, dan dilanjutkan dengan silaturrahmi kepada masyarakat adat Bayan. Dan acara lebaran ini dikenal dengan lebaran adat. Masjid Bayan beleq memang tidak boleh dimasuki oleh sembarangan orang, hanya para tokoh adat dan pemimpin agama Islam saja yang diperkenankan masuk dan sholat di masjid tua ini.

Sehari menjelang pelaksanaan sholat Id, berbagai persiapanpun dilakukan, seperti menyediakan makanan bagi para kiyai, pengulu dan tokoh masyarakat yang akan menjalankan sholat Idul Fitri, mengeluarkan zakat, dan lain-lain. Dalam hal zakat fitrah, masyarakat adat Wetu Telu bukan saja mengeluarkan makanan pokok seperti beras saja, tapi juga dilengkapi dengan berbagai hasil bumi lainnya yang diserahkan kepada para tokoh agama.

konon menurut salah satu tokoh masyarakat setepat, tradisi sholat idul fitri di hari ke 3 bulan syawal itu bermula di jaman penjajahan Belanda. Pada jaman penjajahan Belanda dulu, setiap tanggal 1 Syawal, daerah Bayan selalu mendapat pengawasan ketat dari kaum penjajah, sehingga pelaksanaan sholat Id tidak berani dilakukan. Namun karena masyarakat yang beragama Islam di Bayan waktu itu cukup taat menjalankan perintah agamanya, ketimbang tidak dilaksanakan lebih baik ditunda, hingga melihat bulan dengan nyata yaitu tanggal 3 Syawal. sebuah pekerjaan rumah yang tidak ringan bagi ulama setempat untuk meluruskan tradisi lama tersebut.***

Masjid Pusat Kebudayaan Islam - Oslo, Norwegia

DIANTARA BANGUNAN KOMERSIL. Masjid Pusat Kebudayaan Islam Oslo, merupakan salah satu masjid di ibukota negara Norwegia, seperti bangunan masjid lainnya, masjid ini pun berada diantara bangunan bangunan komersil di pusat kota Oslo.

Masjid Pusat Kebudayaan Islam- Oslo, Norwegia, atau the Islamic Cultural Centre  (ICC) Norway merupakan masjid pertama yang dibangun di negara Norwegia di tahun 1974. Norwegia juga dikenal sebagai negara yang memiliki masjid paling utara di Bumi, Masjid Al-Noor Senter dan Masjid Al-Rahma yang dikelolal oleh The Islamic Centre of Northern Norway (ICNN) didirikan tahun 1992 juga di kota Tromsø. Masjid kutub utara lain nya adalah masjid di Innuvik - Kanada dan Masjid Nord Kamal di NorilskRussia.

Masjid sekaligus pusat kebudayaan Islam di Norwegia, selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menyelenggarakan pendidikan Alqur’an, serta layanan publik lain nya. Pada tanggal 25 Mei 2009 yang lalu, Keluarga kerajaan Norwegia mencatat sejarah baru dengan kunjungan Ratu Sonja ke Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo, sementara di bulan maret 2009 masjid ini juga dikunjungi oleh Uskup Agung Oslo Ole Christian Kvarme. 

Lokasi Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo

Berada di jantung kota Oslo, ibukota Norwegia. Dapat dicapai dengan berjalan kaki selama lima menit dari halte bus sentral dan sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun sentral kereta api.

ICC Islamic Cultural Centre Norway
Tøyenbekken 24, 0188 Oslo, Norway



Islam di Norwegia

Pemukim muslim pertama di Norwegia adalah duta besar dari kesultanan Tunisia (Afrika Utara) yang tiba di Norwegia tahun 1260. Setelah Raja Håkon Håkonsson mengirimkan duta besar kepada Sultan dengan banyak hadiah. Populasi muslim di negara ini nyaris tak terlihat hingga pertengahan abad 20. Imigran muslim masuk ke Norwegia memang sedikit terlambat dibandingkan dengan negara negara eropa lain nya. Dan tak terlihat mecolok hingga ahir 1960-an. Ditambah lagi dengan pelarangan pekerja migran ke Norwegia di tahun 1975, namun aturan itu masih mengizinkan imigran dengan yang memiliki keterkaitan keluarga dengan imigran yang sudah lebih dulu menetap di Norwegia sebelumnya.

Islam merupakan agama terbesar ke dua di Norwegia setelah agama Kristen yang menjadi agama mayoritas penduduk Norwegia. Di penghujung tahun 1990-an Islam telah mengalahkan jumlah pengikut Gereja Katholik Roma dan Pantekosta di Norwegia. Menurut data tahun 2007 penduduk muslim di Norwegia mencapai 79.068 jiwa atau setara dengan 2.5% ~ 3.4% dari total populasi penduduk Norwegia. Data itupun adalah data ummat islam yang terdaftar di masjid masjid Norwegia dan aktif mengikuti kegiatan peribadatan di masjid masjid.

Sementara tahun 2009 diperkirakan total penduduk berlatar belakang Islam di Norwegia mencapai 163 ribu jiwa. Muslim Norwegia memang berasal dari beragam bangsa yang bermigrasi kesana, sebagian besar dari mereka merupakan keturunan Pakistan yang menjadi mayoritas muslim disana ditambah dengan muslim dari beberapa negara lain nya termasuk Irak, Somalia, Turki dan Semenanjung Balkan serta muslim asli Norwegia. Sebagian besar masjid di Norwegia bernaung di bawah organisasi Islamic Council Norway (Islamsk Råd Norge). Gelombang imigran muslim dari semenanjung Balkan masuk ke Norwegia di tahun 1990-an sebagai pencari suaka politik akibat pembantaian etnis muslim oleh serbia di negara bekas Yogoslavia di semenanjung Balkan tersebut.

Direhab dari bangunan komersil masjid ini tampil cantik dengan bentuk yang tak terlalu menyolok diantara bangunan komersil disekitarnya, namun tetap mencirikan sebuah masjid dengan satu menara tunggalnya yang menjulang.

Sejarah Pendirian Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo (ICC)

Rencana untuk mendirikan sebuah tempat ibadah serta tempat untuk berkumpul bersama bagi komunitas muslim di Norwegia sudah tercetus sejak tahun 1970-an kala itu komunitas muslim disana sudah sangat membutuhkan tempat dimaksud serta sebuah organisasi yang kuat dan konsisten bagi ummat Islam di Norwegia.  Bermula dari pertemuan 20-30 muslim di tahun 1972 untuk menggagas pendirian sebuah masjid, dan kemudian di wujudkan tahun 1974.

Pada awalnya ICC beroperasi di sebuah ruangan kecil di jalan Bjølsen, tempat dimana mereka memulai pertemuan rutin, sholat berjamaah serta kajian Quran dan sunnah. Kelompok tersebut tumbuh relatif cepat yang menyebabkan Masjid Pusat ICC harus pindah ke basemen Gedung Rakyat. Dan baru di tahun 1974 ICC secara resmi menggunakan gedung di pintu gerbang Karl Johans dengan gedung masjid dan pusat kebudayaan Islam yang permanen. 

Imam Afghanistan Sabghatullah Mujaddadi memimpin shalat Jumat pertama di masjid baru tersebut, dan ini menjadi sholat jum’at resmi pertama dalam sejarah Norwegia. Tahun 2009 Masjid Pusat Kebudayaan Islam (ICC) pindah ke Masjid baru yang lebih besar di lokasi yang sekarang, tepatnya di tanggal 19 Februari 2009.

Saat malam, lampu di menaranya yang menyala menampilkan puncak menara terlihat seperti sebuah lampu antik dengan sinarnya yang temaram.

Pengurus dan panitia pembangunan masjid dengan konsisten menjalankan proyek pembangunan masjid ini dengan komitmen menolak bunga bank, baik bunga yang berasal dari tabungan ataupun bunga pinjaman demi menjalan syariat Islam yang menolak segala jenis riba.

Di musim gugur tahun 2006 proses pembangunan masjid baru dimulai untuk menampung 2500 jemaah yang hendak menunaikan ibadah di masjid ICC. Dalam usaha untuk menghindari riba dari dana pinjaman ICC sudah menabung dana sejak pindak ke  Tøyenbekken. Pada awalnya dana untuk pembangunan masjid diperkirakan sekitar 45 juta dolar. Namun masalah terjadi ketika kontraktor pelaksana yang ditunjuk meminta pembayaran total di muka. ICC keberatan dengan pola seperti itu, kontraktor pertama pun menghilang.

Selama proses pencarian kontraktor pembangunan yang baru telah terjadi peningkatan harga harga di pasaran hingga dana pembangunan masjid membengkak dari perkiraan semula hingga mencapai 62 juta dolar. Dan pada ahirnya pembangunan masjid terlaksana dengan baik.

Di keseharian pusat kota Oslo

Arsitektur dan Fasilitas Masjid

Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo tidak saja menjalani fungsinya sebagai tempat peribadatan tapi juga dilengkapi dengan ruang untuk kegiatan sosial. Disana terdapat perpustakaan, ruang baca serta pusat pendidikan agama bagi muslim dan muslimah. Sedangkan kepengurusan masjid dipilih secara demokratis setiap tahun.

Bangunan masjid ini terdiri dari 4 lantai. Dilengkapi dengan satu menara yang dibangun menempel di bagian pojok masjid yang menghadap ke pertigaan jalan. Sebuah kubah besar turut menandai dan mencirikan bangunan masjid ini, membedakannya dengan jejeran bangunan bangunan disekitarnya. Masjid ini memang dibangun di jejeran gedung gedung di jalan Toyonbaken bukan disebuah lahan terbuka.

Aktivitas Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo

Masjid Pusat Kebudayaan Islam – Oslo memiliki beragam kegiatan diantara nya adalah : Kelas belajar Alqur’an untuk anak anak setiap hari senin hingga kamis pukul 15:30 hingga 18:30, Sholat jum’at dilaksanakan pukul 15:00~15:30, Kelas belajar bahasa Urdu untuk anak anak setiap hari Sabtu~Ahad pukul 12:00~16:00, Kajian Alqur’an untuk Dewasa (pria dan wanita) setiap hari Ahad, dan Aktivitas umum lain nya adalah penyelengaraan sholat berjamaah 5 waktu setiap hari, sholat jum’at, Idul Fitri dan Idul adha, Pernikahan, perayaan hari besar Islam, pusar diskusi dan tanya jawab seputar Islam.

Queen Sonja dalam kunjungannya ke Masjid Pusat Kebudayaan Islam Oslo pada tanggal 25 Mei 2009. dalam kunjungan tersebut, beliau tak sungkan membuka sepatunya serta menggunakan kain penutup kepala.

Kunjungan Uskup dan Ratu

Masjid Pusat Kebudayaan Islam (ICC) Oslo ini pernah dikunjungi oleh Uskup Oslo pada 20 Maret 2009 atau sebulan setelah masjid baru Oslo ini diresmikan. Kunjungan beliau dalam upaya mempererat saling pengertian antara ummat Islam dan Kristen di Oslo dan Norwegia umumnya.

Mengenyampingkan tuduhan banyak pihak terhadap Masjid ICC Oslo yang disebut sebut terkait dengan jaringan teroris Jemaah Islamiah, Pada hari Senin tanggal 25 Mei 2009 Ratu Norwegia Queen Sonja mengunjungi Masjid ICC Oslo lengkap dengan kerudung tanpa pengawalan protokoler yang terlalu ketat. Dalam kunjungan itu beliau sempat masuk dan berkeliling masjid, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari imam masjid dan turut menyaksikan sekaligus meresmikan eksebisi yang digelar di masjid ICC Oslo.

Pameran tersebut bertajuk “Islam Exhibition 2009” sebuah pameran yang memperkenalkan kehidupan Islam dan ajaran Islam diantara sesama. Memamerkan poster poster, kaligrafi, Qur’an kuni serta berbagai rancangan busana muslim.

Dalam kesempatan tersebut Queen Sonja juga bersilaturahim dengan para pengurus masjid, menikmati acara eksebisi dan begitu tertarik dengan seni Islami dan Qur’an Kuno dengan tulisan tangan yang digelar di masjid tersebut. Kunjungan Ratu Norwegia yang tak disangka sangka tersebut memberikan gambaran besarnya dukungan dari keluarga kerajaan terhadap kehidupan beragama di Norwegia.***

Minggu, 05 Desember 2010

Masjid Tengkera Malaka

Masjid Tengkera Malaka.

Masjid Tengkera Malaka atau Tranquerah Mosque, merupakan satu masjid tertua di Malaysia. Dibangun dengan bentuk yang mirip dengan Masjid Kampung Keling dan Masjid Kampung Hulu Malaka. Masjid yang terletak di kawasan Malaka tengah ini sempat menjadi masjid utama di Malaka dengan nama Masjid Besar Tengkera. Sampai kemudian Masjid di Bukit Pala dibangun, menggantikan fungsi Masjid Tengkera sebagai masjid Utama. Masjid Tengkera sudah dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah Malaysia melalui akta cagar budaya 1976.


Masjid tengkera memiliki keunikan tersendiri dengan menara nya yang mirip sekali dengan pagoda Cina. Pengaruh reka bentuk bangunan masjid Jawa dan Sumatera sangat kental di masjid Tengkera sebagaimana Masjid Kampung Keling dan Masjid Kampung Hulu Malaka. Sementara seni arsitektur Cina menginspirasi bentuk Menara Masjid Tengkera, menjadikan Masjid ini sebagai sebuah perpaduan seni reka bangunan Nusantara dan Cina.

Di dalam komplek masjid ini terdapat makam Sultan Hussein Muhamad Shah, Penguasa Johor dan Singapura yang kemudian menandatangai penyerahan pulau Singapura kepada pemerintah Inggris yang diwakili oleh Sir Stanford Raffles dengan Temenggung Abdul Rahman pada 6 Februari 1819 yang menjadi awal lepasnya Singapura dari Kesultanan Johor. Setelah penyerahan Singapura, beliau meninggalkan Singapura dan pindah ke Malaka. Sultan Hussein Muhamad Shah wafat pada tanggal 5 September 1835 dan dimakamkan di perkarangan masjid ini.

Lokasi Masjid Tengkera
Jalan Tengkera, Km. 2, Tengkera, Bandar Melaka 75300, Malaysia

 

Sejarah Pembangunan Masjid Tengkera

Terdapat perbedaan perkiran tahun pembangunan Masjid Tengkera, Perbadanan Muzium Melaka (PERZIM) menyebutkan dalam laporan nya bahwa masjid Tengkera dibangun tahun 1750. Sumber lain menyebutkan bahwa masjid dibangun pada 1728., namun tahun manapun yang merupakan tahun pembangunan masjid, masjid ini merupakan salah satu masjid tua di Malaysia. Berdasarkan tahun pendirian yang terdapat di bangunan gerbang masjid, diperkirakan bangunan yang kini berdiri adalah bangunan yang dibangun kembali tahun 1780M atau tahun 1226 Hijriah. Yang tersisa dari bangunan lama hanyalah bangunan menara masjid.

Masjid yang kita lihat saat ini adalah masjid dengan rancang bangun yang didasarkan kepada bangunan Masjid Agung Demak di Pulau Jawa, Indonesia. Renovasi terhadap masjid dilakukan pada tahun 1820 dan 1910 dengan mengganti semua struktur kayu dengan bata dan semen dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya yang bernuansa jawa dan sumatera itu

Arsitektur Masjid Tengkera

Mimbar Masjid Tengkera
Keunikan Masjid Tengkera ini terletak pada padu padan bentuk masjid masjid tua di tanah jawa dan sumatera terutama Masjid Agung Demak dengan budaya China pada menara tunggalnya yang dibangun terpisah dari bangunan utama masjid yang berbentuk sebuah Pagoda Cina. Bangunan utama masjid berbentuk kubus beratap limas bersusun tiga, ditopang oleh empat sokoguru menyangga struktur atap masjid. Bagian puncak bangunan utama dihias dengan ornamen dari batu laut berukir. Atap ketiga dari masjid ini sekaligus menjadi atap area teras masjid. Dinding masjid dibuat dari batu batu pualam.

Ruang sholat masjid ini sebagaimana masjid masjid di tanah jawa terdiri dari ruang sholat utama di dalam masjid dan teras beratap yang juga difungsikan sebagai tempat sholat. Lantai masjid di buat dari batu pualam dan batu granit, menghadirkan kesejukan alami di dalam dan di area teras masjid.

Unik nya reka bentuk Masjid Tengkera pada zaman itu yang memadukan budaya Indonesia dengan budaya Cina memberikan gambaran kedekatan antara dua bangsa serumpun antara Indonesia dan Malaysia serta kuatnya pengaruh budaya Cina. Masjid Tengkera yang didirikan pertama kali masih menggunakan atap daun nipah berdinding kayu dengan tiang tiang terbuat dari kayu bulian atau kayu ulin yang di datangkan dari Kalimantan, Indonesia.

Gambar Reka Bentuk Masjid Tengkera
Hampir sama dengan semua masjid tua Malaka (lihat di laporan PERZIM-pdf). Masjid Tengkera beratap piramida bersusun tiga yang merupakan bentuk struktural masjid demak yang biasa disebut potong demak. Atau biasa disebut dengan tajuk (mahkota) dengan tiga tingkatan, mencerminkan kepribadian dasar seorang Muslim, Yakni Iman, Islam dan Ikhsan. Soko guru atau dalam bahasa Malaka dikenal dengan tiang seri tetap dipertahankan hingga kini.

Usaha usaha restorasi masjid ke bentuk asli dilakukan oleh departemen purbakala dan musium Malaysia. Dengan menghembalikan teralis jendela ke bentuk aslinya, memperbaiki gerbang utama, pintu pintu hingga penguatan struktur masjid secara keseluruhan. Perluasan masjid dilakukan tahun 2000 untuk menambah daya tampung masjid.***

------------------------------ooOOOoo-------------------------------------