Rabu, 23 Maret 2011

Masjid Islamic Center Washington DC, Amerika Serikat

Islamic Centre Washington DC.

Islam menjadi issue utama di Amerika Serikat paska serangan 11 September 2001. tragedi yang tak bisa dipungkiri meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban khsusunya, dan warga Amerika umumnya. Dunia tak pernah sama lagi setelah peristiwa itu. Islam dan ummatnya menjadi sorotan di berbagai belahan bumi. Berbagai perlakuan dan tindakan tak nyaman menerpa muslim yang tinggal di Amerika dan negara negara barat lainnya. Namun peristiwa itu juga yang kemudian membuat begitu banyak orang yang masih mau berfikir jernih untuk mulai bertanya tanya tentang Islam dan pada ahirnya beberapa dari mereka tidak saja sekedar bertanya tapi justru kemudian menjadikan Islam sebagai pegangan hidupnya, setelah menemukan kebenaran Islam.

Sejarah mencatat, hanya beberapa hari setelah peristiwa itu, di tanggal 17 September 2001, presiden Amerika Serikat kala itu George Walker Bush memilih Masjid Islamic Center Washington DC untuk menyampaikan pidatonya. Dalam pidato tersebut Presiden George Walker Bush menyampaikan bahwa Muslim Amerika adalah bagian dari Amerika dan mereka berhak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan setara dengan warga Amerika yang lain.

President George Bush Di Masjid Islamic Center Washington DC tanggal 17 September 2001.

"Americans who mistreat Muslims should be ashamed,". "In our anger and emotion, our fellow Americans must treat each other with respect."

Namun serangan 11 September 2001 tersebut malah kemudian berujung kepada penyerbuan tentara Amerika ke Afganistan dengan dalih perang terhadap teroris. Tek pelak tindakan tersebut membuat beberapa kalangan menyebutnya sebagai bentuk lain dari tindakan terorisme oleh sebuah negara berdaulat terhadap negara berdaulat lain nya.

Masjid Islamic Center Washington DC juga pernah mengalami sejarah kelam dalam peristiwa yang terkenal dengan 1977 Hanafi Siege. Ketika tanggal 9~11 Maret 1977, tiga orang bersenjata menyerbu ke dalam Masjid dan menyandera 11 orang. Tiga orang tersebut merupakan bagian dari kelompok  Hamaas Abdul Khaalis yang disaat hampir bersamaan menyerbu 3 tempat berbeda di Washington DC. Kelompok ini mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah Amerika Serikat. Penyanderaan tersebut berahir setelah tiga orang duta besar negara Islam melakukan perundingan dengan kelompok tersebut.

Presiden Sukarno berjalan meininggalkan Islamic Centre Washington DC setelah menunaikan sholat disana tahun 1956, setahun sebelum masjid tersebut diresmikan pemakaiannya dibawah pengawalan ketat aparat keamanan ditambah dengan penyambutan yang luar biasa saat itu.

Sejarah juga mencatat bahwa presiden pertama dan proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno pernah singgah dan sholat di Masjid Islamic Center Washington DC ini selama kunjungan kenegaraannya selama 19 hari ke Amerika Serikat atas undangan dari Presiden Amerika ketika itu, David Dwight  Eisenhower di bulan Mei 1956. Cukup menarik karena ketika itu masjid Islamic Center Washington DC bahkan belum sepenuhnya selesai dibangun, dan baru secara resmi diresmikan setahun kemudian.

Dalam kunjungan itu Presiden Soekarno mendapatkan sambutan yang luar biasa dari pemerintah dan rakyat Amerika, Presiden Eisenhover bahkan menunjuk Wakil Presiden Richard Nixon untuk menjemput langsung Presiden Soekarno ke Bandara. Konon penyambutan terhadap presiden Soekarno ketika itu merupakan sambutan terbesar oleh Amerika terhadap pemimpin dari dunia ketika yang berkunjung ke Amerika.

Alamat dan Lokasi Masjid Islamic Center Washington DC

2551 Massachusetts Avenue Northwest,
Washington D.C., DC,  USA


Sejarah Pembagunan Masjid Islamic Center Washington DC

Gagasan untuk membangun masjid ini pertama kali lahir pada tahun 1944 saat perang dunia kedua sedang bergolak. Ditahun yang sama ditanggal 11 November 1944 Mehmet Münir Ertegün, Duta besar Republik Turki pertama untuk Amerika Serikat wafat, dan tidak ada satu masjid pun di washington DC untuk keperluan pelaksanaan sholat jenazah. 

Ketika itu sempat terjadi perbincangan antara A.J Howar, pengusaha muslim Amerika yang berasal dari Palestina dan bernama Asli Yusuf Al-Hawa dengan duta besar Mesir Mahmud Hasan Pasha yang mengatakan “sangat memalukan bahwa sholat jenazah untuk seorang yang sangat terhormat seperti almahum Munir Estegun, tidak diselenggarakan di masjid. Dan Dubes Mesir ketika itu meminta Howar untuk mendirikan masjid yang dimaksud, mengingat beliau adalah seorang kontraktor sukses di Amerika. Hal itulah yang menjadi awal keseluruhan porses pembangunan masjid Islamic Center Washington DC.

Menurut Imam Abdullah Muhammad Khouj (imam masjid saat ini) jemaah sholat lima waktu di masjid ini meningkat dari ratusan menjadi ribuan jemaah sejak tahun 1984.


Dengan prakarsa negara-negara Islam, proses pembangunan masjid Islamic center Washington DC dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 11 Januari 1949, di atas lahan yang dibeli tahun 1946. peletakan batu pertama itu bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ke 1420. Mengutip situs pemerintah Amerika Serikat, disebutkan bahwa dana pembangunan masjid dihimpun dari berbagai kalangan, seperti Komunitas Muslim Amerika, negara-negara Islam di seluruh dunia, termasuk Afghanistan, Mesir, Indonesia, Iraq, Iran, Syria, Turki, Pakistan dan Saudi Arabia.

Selain sumbangan dana, di masjid ini juga berhimpung material terpilih sumbangan dari berbagai Negara Islam. Mesir menyumbang lampu gantung besar yang sangat indah, termasuk para seniman yang mengukir kaligrafi Al-Qur’an di keseluruhan dinding dan kubah masjid. Iran menyumbang karpet rajutan yang luar biasa, Malaysia menyumbang kubah, Maroko kaca jendela, Turkey menyumbang keramik lantai dan dinding, dan Iraq menyumbang kaca kuning.

Masjid Islamic Centre Washington DC.

Pembangunannya sendiri berlangsung awal Desember 1949 dengan kontraktor lokal. Keterlambatan proses pembangunan ini disebabkan adanya kendala komunikasi antara arsitek dengan kontraktor. Di saat pembangunan tengah berjalan, penentuan arah kiblat sempat menjadi pro dan kontra, hingga pertengahan 1957. Sampai akhirnya diputuskan seorang ahli, kiblat menghadap timur laut.

Sejumlah penjelasan detail tentang arsitektur masjid terpaksa berulang kali harus diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Inggris. Gambar bangunan berikut interiornya, dibuat oleh tenaga-tenaga arsitek dari Kementerian Agama, Kairo, Mesir. Menariknya, selama proses pembuatan gambar, ada keterlibatan seorang arsitek dari Italia, Professor Mario Rossi.

Keramik/porselen sumbangan Turki di Islamic Center Washington DC 
6 tahun lebih sejak dibangun, atau tepatnya 28 Juni 1957, Islamic Center akhirnya diresmikan. Presiden Amerika Serikat Eisenhower turut hadir dan memberikan sambutan dalam acara peresmian tersebut. Pemerintah Amerika kini melindungi bangunan ini dengan memasukkannya ke dalam daftar bangunan-bangunan historis di Amerika.

Masjid Islamic Center ini menjadi masjid pertama dan tertua di ibukota negara Amerika Serikat, dan pada saat selesai dibangun menjadi masjid terbesar di kawasan Amerika bagian Barat. Keindahan ornamen di Islamic Center ini, sebagian buah karya sang profesor, terinpsirasi kemegahan masjid-masjid kuno Kairo. Professor Rossi akhirnya menjadi seorang muslim, dan berganti nama menjadi Muhammad Mahdi.

Arsitektur Masjid Islamic Center Washington DC

Di masjid itu, ruangan laki-laki dan perempuan terdapat pada lantai yang terpisah. Lantai atas masjid diperuntukkan bagi jemaah laki, sedangkan jemaah wanita di ruangan bawah. Pemisahan letak lantai antara laki-laki dan perempuan yang baru diterapkan bulan Juli 2010 menjelang Ramadhan di tahun tersebut. Keputusan sempat sempat menimbulkan kontroversi karena sebagaian kaum perempuan menganggap hal itu sebagai diskriminasi.

Namun, pihak masjid mengatakan penetapan baru itu dibuat karena kapasitas ruangan di lantai atas yang sudah tidak memadai. Hampir 50-an warga Indonesia secara aktif beribadah di masjid Islamic Center ini, yang datang dari berbagai kota di sekitar Washington DC terutama selama bulan Ramadhan.

Aktivitas Masjid Islamic Center Washington DC

Fasad depan masjid Islamic Center Washington DC, tempat dimana -
Foto Bung Karno di ambil di foto sebelumbya.
Selain sholat jum`at berjama`ah, aktivitas seperti pengajian, Sunday School bagi anak-anak atau kajian-kajian tentang Islam, rutin digelar. Keberadaan Islamic Center di ibukota negara adidaya ini, sungguh berarti bagi kaum muslim. Masjid bersejarah ini senantiasa membuka diri untuk dikunjungi oleh siapapun, setiap hari masjiid ini menerima tamu antara 100 hingga 600 orang. Non-Muslim dari Amerika dan luar Amerika datang bergabung dalam sebuah tur. Beberapa tur dilakukan bagi para pejabat Departemen Luar Negeri Amerika yang akan berdinas di dunia Islam atau para pelajar yang akan belajar di negara-negara Muslim.

Mereka datang untuk mengikuti ceramah serta seminar mengenai situasi di Timur Tengah dan apa yang diharapkan dan bagaimana berperilaku di sebuah negara Islam. Selama tur, para pejabat masjid juga memberikan informasi tentang Islam, ajaran-ajarannya dan Nabi Muhammad SAW dan menjawab pertanyaan dari pengunjung yang masih penasaran soal Islam.

Ornamen Interior di bawah kubah, lukisan dan ukiran Kaligrafi Al-Qur'an
tersebut merupakan karya para seniman Mesir
Perpustakaan dengan koleksi lengkap

Masjid Islamic Center Washington DC juga dilengkapi dengan perpustakaan besar dengan segala macam buku tentang Islam, dan memiliki kelas-kelas untuk pelajaran Bahasa Arab, Al-Qur'an, hukum Islam dan mata pelajaran lain yang terkait agama Islam. Meski tak tidak memungkinkan untuk membangun sekolah, tapi Masjid ini berhasil mengatur kelas Sabtu dan Minggu untuk enam kelas.

Layanan Pemakaman Gratis

Masjid ini juga terlibat dalam kehidupan sosial masyarakat dengan memberikan konseling perkawinan, membantu memahami prosedur pemakaman dan penguburan. Pengurus masjid juga sudah membeli sebuah kuburan pemakaman dan tersedia bagi umat Islam untuk menguburkan orang yang meninggal secara gratis, karena biaya pemakaman di sini di Amerika Serikat adalah sangat mahal.

Masjid Islamic Centre Washington DC.

Dakwah kepada Narapidana di Penjara

Layanan Islamic Center yang paling membanggakan adalah program da`wah. Ada sejumlah besar orang yang masuk Islam di sini setiap bulan, seminar bagi para mualaf, dilaksanakan secara rutin untuk membantu mereka terlibat dalam agama baru mereka, sehingga mereka memahami dan memiliki visi yang jelas, bukan hanya mengikuti metode-metode tertentu.

Islamic Center juga menegaskan bahwa penjangkauan mereka melampaui bangunan masjid. masjid memiliki peserta untuk membantu kami mengirimkan paket buku ke lembaga-lembaga di seluruh AS, khususnya di penjara-penjara di mana orang ingin tahu tentang Islam. Dan hasilnya sungguh luar biasa, beberapa kepala penjara berkirim surat ke masjid Islamic Center dan berterima kasih karena setelah menerima Islam para tahanan terdapat perubahan perilaku mereka dan mereka menjadi manusia yang lebih baik.

Mihrab dan mimbar di ruang sholat utama Masjid Islamic Centre Washington DC.

Kontroversi yang tak berkesudahan

Di bulan November 1981, untuk pertama kali Masjid Islamic Center Washington DC melakukan pemilihan Imam secara langsung, ketika itu terpilihlah Muhammad Al-Asi sebagai imam Masjid Islamic Center Washington DC. Namun kemudian Imam Muhammad Al-Asi berselisih faham dengan pemerintah Kerajaan Saudi Arabia, Pada tanggal 5 Maret 1983 Imam Muhammad Al-Asi beserta keluarganya diminta keluar dan meninggalkan Masjid Islamic Center Washington DC.

Namun Imam Muhammad Al-Asi enggan menanggalkan jabatan imam nya dan meneruskan menjalankan tugasnya sebagai imam dengan memimpin jemaah diluar gedung Masjid, di halaman rumput bahkan di trotoar seberang jalan Masjid Islamic Center Washington DC.

Bendera merah putih berjejer bersama dengan bendera negara negara berpenduduk muslim lainnya di depan Islamic Center Washington DC.

Idul Fitri bulan Juli tahun 1983, Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaah pengikutnya memaksa masuk ke dalam Masjid untuk menjalankan ibadah sholat idul fitri, tindakan ini kemudian memicu pengelola Islamic Center memanggil aparat keamanan, akibatnya Imam Muhammad Al-Asi beserta 50 jemaahnya di ciduk aparat berwajib meski kemudian dibebaskan kembali. Namun juri di pengadilan Amerika Serikat memutuskan mereka bersalah karena telah mengganggu jalannya peribadatan yang dipimpin oleh imam yang lain. Dan pengadilan kemudian memutuskan Imam Muhammad Al-Asi beserta jemaahnya dilarang untuk memasuki Masjid Islamic Center.

Hingga kini Imam Muhammad Al-Asi masih mengukuhkan dirinya sebagai Imam Masjid Islamic Center Washington DC meskipun pihak Masjid Islamic Center sudah mengumumkan bahwa beliau sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Masjid Islamic Center Washington DC. Upaya upaya rekonsiliasi sudah dilakukan oleh berbagai pihak namun tak membuahkan hasil, hingga kini pun Imam Al-‘Asi masih senantiasa memimpin jemaahnya menjalankan sholat Jum’at di trotoar diseberang Masjid Islamic Center Washington DC, beliau dan jemaahnya juga mengelola situs sendiri untuk Islamic Center Washington DC.***

Sabtu, 19 Maret 2011

Masjid Sentral London (London Central Mosque), Inggris

Masjid Sentral London / London Central Mosque / Regent's Park Mosque.

Masjid Sentral London atau The London Central Mosque and Islamic Cultural Centre (ICC) atau biasa disebut sebagai Masjid Regent's Park, merujuk kepada tempat dimana masjid itu berada. Regent part merupakan kawasan prestisius di kota London. Masjid yang begitu terkenal di Inggris Raya, dibangun sebagai bentuk penghargaan kepada kaum muslimin di Inggris raya yang telah turut serta membela inggris dan sekutu selama perang dunia ke II. Masjid Sental London mengklaim dirinya sebagai islamic center terpenting dan paling aktif di Inggris Raya, Eropa dan Amerika.
 
Ada kesamaan antara Masjid Sentral London dengan Masjid Agung Brussel di Belgia. Bila Masjid Sentral London dibangun di dalam kawasan Regent's Park kawasan prestisius di jantung kota London, Masjid Agung Brussel di Belgia dibangun di dalam kawasan taman Cinquantenaire Park di jantung kota Brussel. Masjid Sentral London dibangun atas lahan hadiah dari Raja Inggris, maka Masjid Agung Brussel dibangun diatas tanah dan gedung hadiah dari Raja Belgia. Dan kedua masjid ini sama sama melibatkan Raja Saudi Arabia dalam proses pembangunannya.
 
Lokasi & Alamat Masjid Sentral London
 
Alamat : 146 Park Road
London NW8 7RG020  7724 3363 ‎  2.6 mi NW
 

Sejarah Pembanguan Masjid Sentral London
 
Masjid Sentral London dirancang oleh Sir Frederick Gibberd, selesai dibangun tahun 1978, dengan kubah keemasan. Ruang utamanya mampu menampung lima ribu Jemaah sekaligus. Ruang sholat untuk jemaah wanita ada di balkoni lantai atas. Seluruh permukaan lantai ditutup dengan karpet dan candilier yang cantik tergantung diatas ruang utama.
 
Dibagian dalam kubahnya di hias dengan dekorasi tradisi Islam, masjid ini juga dilengkapi dengan toko yang menjual makanan halal dan kafe kecil. Masjid ini juga tergabung dengan Islamic cultural centre yang secara resmi diresmikan oleh Raja George VI tahun 1944 dan diberikan kepada komunitas muslim Inggris Raya. Sedangkan lahan masjid tersebut merupakan donasi dari Raja George VI sebagai imbalan dari lahan untuk Katedral Anglikan di Kairo.

Ruang sholat utama Masjid Sentral London.
 
Berikut Kronologi Sejarah Pendirian Masjid Sentral London
 
1900 - 1931 keinginan untuk mendirikan masjid di sentral London sudah terlontar, salah satunya di sampaikan oleh Lord Headley, orang Inggris yang sudah beragama Islam. proyek tersebut di prakarsai oleh Nizam dari Hyderabad.
 
1939 - 1940 Lord Lloyd of Dolobran, (1879-1941), Menteri Luar Negeri Untuk Koloni, dan mantan President Konsul Britis, bekerja bersama dengan Komite masjid, yang terdiri dari beberapa tokoh Islam dan duta besar di London. Lord Lloyd mengirim memo kepada Perdana menteri Inggris dan mengatakan

“hanya London yang memiliki lebih banyak kaum muslimin dibandingkan dengan ibukota negara eropa lain nya, tapi di empirium kita yang nyatanya memiliki lebih banyak kaum muslimin dibandingkan dengan Kristen ternyata ada anomali dan tak sepadan bahwa disini tidak ada satu tempat ibadahpun bagi kaum muslimin”.
 
Di beku nya musim dingin bersalju.
 
1940 Pemerintah Inggris di desak untuk menghadirkan sebuah masjid di London untuk Komunitas Muslim Inggris Raya. Pada tanggal 24 Oktober, Otoritas kabinet perang Churchill  mengalokasikan dana sebesar 100 ribu poundsterling untuk megakuisisi sebuah tempat bagi masjid di London. Usaha itu memungkinkan muslim di Inggris membangun sebuah masjid dan Islamic Cultural Centre, sehingga mereka dapat menjalankan ibadahnya. Upaya tersebut juga merupakan suatu penghormatan bagi ribuan tentara muslim India yang tewas dalam perang membela empirium Inggris. 

1944 Komite masjid yang terdiri dari beragam tokoh muslim, para diplomat dan warga muslim setempat di Inggris menerima pemberian tersebut dan The Islamic Cultural Centre termasuk London Central Mosque, didirikan dan secara resmi dibuka oleh oleh Raja George VI pada bulan November 1944.
 
1947 Komite masjid terdaftar sebagai sebuah perseroan dengan nama the London Central Mosque Trust Limited di bulan September. Dengan tujuh orang wakil perseroan dari enam negara Islam.

1954 - 1967 beberapa rancangan masjid dipertimbangkan. Proses perencanaan berjalan begitu lama dan pengajuan ke berbagai otoritas institusi namun pengesahan tak kunjung keluar.
 
Masjid Sentral London.
 
1969 Kompetisi internasional dibuka untuk merancang bangunan masjid dimaksud. Lebih dari seratus rancangan masuk ke panitia, baik dari kaum muslimin maupun dari non muslim. Rancangan yang dipilih adalah rancangan arsitek inggris Frederick Gibberd. Rancangan beliau ini membagi bangunan masjid menjadi dua elemen penting. Ruang utama terdiri dari dua ruang sholat, tiga lantai sayap termasuk entrance hall, perpustakaan, ruang baca, kantor administrasi dan menara.
 
£2 Juta poundsterling disumbangkan untuk konstruksi masjid dimaksud oleh Raja Faisal Bin Abdul Aziz Al-Saud. Kemudian sumbangan berikutnya dari Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan penguasa Abu Dhabi dan Presiden United Emirat Arab Emirates
 
1974 Pekerjaan konstruksi dimulai dengan mendahulukan komplek utama gedung masjid. Terdiri dari ruang sholat utama, perpustakaan, blok bangunan untuk administrasi dan tempat tinggal.
 
Halaman tengah Masjid Sentral London.

1977 pekerjaan tersebut selesai di bulan Juli menghabiskan dana £6.5 juta poundsterling.
Bertindak sebagai direktur Islamic Center tersebut yang pertama adalah Raja of Mahmudabad. Dan dana sumbangan khusus untuk pembangunan pusat pendidikan dan bangunan sayap untuk administrasi yang selesai dibangun tahun 1994 merupakan sumbangan dari raja Saudi Arabia Raja Fahd bin Abdul Aziz.
 
Aktivitas dan Fasilitas Masjid Sentral London
 
Perpustakaan
 
Islamic Center Masjid Sentral London memiliki perpustakaan terbesar dan tertua di Inggris. Perpustakaan ini memiliki begitu banyak koleksi buku buku pilihan dalam bahasa Arab ataupun berbahasa Inggris. Menjadikan perpustakaan masjid ini sebagai salah satu perpustakaan Islamic Center yang memiliki sumber pustaka terbesar. Selain ini perpustakaan masjid sentral London dilengkapi dengan katalog digital serta dilengkapi juga dengan komputer berakses internet serta fasilitas pengunduhan data.
 
Layanan Keagamaan
 
Fatwa : ICC Masjid Sentral London memiliki Komisi Fatwa yang terdiri dari lima orang imam yang sangat berdedikasi. Kelima Imam tersebut bertugas memberikan nasihat merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rosulullah. Masing masing imam tersebut fasih berbahasa Arab dan Bahasa Inggris. Departemen Fatwa di ICC Masjid Sentral London ini buka tujuh hari seminggu dari pukul 10:30 hingga 16:30 waktu London. 

Menara dan kubah Masjid Sentral London.

Kelima imam yang bertugas di ICC Masjid Sentral London ini bahkan siap melayani pertanyaan tentang Islam melalui berbagai metoda baik dengan pertemuan langsung, fax, email, surat pos atau dengan mengisi formulir pertanyaan yang sudah tersedia di situs resmi masjid Sentral London. Tidak hanya itu kelima imam masjid ini bahka siap di hubungi langsung ke nomor mereka masing masing.
 
Pertemuan langsung dengan imam masjid Sentral London di ruang kantor nomor 2, 10, 11 dan 12. email pertanyaan dan fatwa ke fatwas@iccuk.org, faksimili ke nomor 020 7724 0493, atau via telepon, dapat juga dilakukan dengan mengisi formulir pertanyaan yang sudah disediakan di situs resmi ICC. bisa juga dengan berkirim surat ke alamat berikut :
 
The Fatwa Committee
The Islamic Cultural Centre & The London Central Mosque
146 Park Road. London NW8 7RG
 
Masjid Sentral London.

Pendidikan
 
ICC Masjid Sentral London menyelenggarakan pendidikan agama Islam untuk kanak kanak 5 sampai 16 tahun di sekolah Ahir Pekan Al-Kalam. Untuk layanan sekolah ahir pekan ini dapat di hubungi di nomor Telepon 07956504179 atau email: weekendschool@iccuk.org.
 
Pernikahan dan perceraian
 
ICC Masjid Sentral London juga memberikan pelayanan pernikahan dan perceraian sesuai dengan syariah Islam. Prosesi akad nikah diselenggarakan di masjid dipimpin oleh salah satu dari imam Masjid dan resepsi pernikahan biasanya diselenggarakan di ruang serbaguna ICC yang sudah di tata sedemikian rupa untuk penyelenggaraan resepsi pernikahan sesuai dengan syariah Islam.
 
Aerial view Masjid Sentral London.

Calon pengantin yang berniat melaksanakan akad nikah dan resepsi di ICC masjid sentral London ini harus memenuhi persyaratan administrasi yang sudah ditetapkan oleh ICC dan juga harus memenuhi persyaratan administrasi pemerintah Inggris dan Negara asal dari calon mempelai bila salah satu atau kedua mempelai bukan warga negara Inggris. ICC Masjid Sentral London akan mengeluarkan dua surat nikah resmi, satu untuk mempelai dan satu lagi akan disimpan dengan baik oleh ICC Masjid Sentral London sebagai arsip.
 
Layanan Kesehatan Masyarakat
 
ICC Masjid Sentral London juga memberikan layanan kesehatan berupa saran kesehatan publik, informasi makan sehat, kesehatan dan keselamatan ditempat kerja, panduan kehalalan makanan serta panduan kesehatan online. Masjid ini juga memberikan panduan komprehensif diet yang Islami. Mencakup makanan halal sesuai ajaran Islam sampai kepada penyelenggaraan pameran kesehatan Islami, panduan perdanganan makanan muslim dan panguan belanja makanan halal bagi.
 
Pengurus Masjid
 
Kepengurusan Masjid Sentral London sudah terdaftar sejak bulan September tahun 1947.  Semestinya pendaftaran itu sudah terlaksana sejak tahun 1944 namun tertunda akibat perang sipil yang terjadi ditahun tersebut. Dewan pembina masjid ini terdiri dari korp diplomatik dari negara negara Islam masing masing terdiri dari Uni Emirat Arab, Bahrain, Iran, Yordania, Kuwait, Malaysia, Maroko, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia dan Syria.***





Jumat, 18 Maret 2011

Masjid Didsbury dan Islamic Center Manchester, Inggris

Masjid Didsbury dan Islamic Center Manchester, Inggris

Masjid Didsbury & Manchester Islamic Center, Inggris

Pendukung klub bola Manchester United (MU) dan Manchested City, pastinya sudah sangat familiar dengan nam kota tempat masjid ini berada. Manchester memang tidak saja semarak dengan dua klub sepakbola elit mereka itu, tapi juga semarak oleh komunitas muslim yang semakin bertambah. Masjid dan pusat pusat pengembangan Islam terus tumbuh di kota ini dan dikeseluruhan Britania Raya.

Masjid Didsbury & Manchester Islamic Centre, merupakan satu diantara banyak masjid di Inggris yang tadinya merupakan sebuah Gereja dan kemudian dialihfungsikan menjadi masjid. Pemerintah Inggris kini (meski tidak secara terbuka) melarang pengalihfungsian gereja menjadi masjid. Praktek dilapangan menunjukkan bahwa bangunan bangunan gereja yang sudah tak berfungsi karena sepi jemaah, lebih di arahkan untuk menjadi tempat tinggal atau bangunan komersial.

Alamat dan Lokasi Manchester Islamic Centre & Masjid Didsbury

Manchester Islamic Centre and Didsbury Mosque - UK
271 Burton Road, West Didsbury,
Manchester, M20 2WA


Masjid Bekas Gereja

Masjid Didsbury aslinya merupakan bangunan gereja Albert Park Methodist Chapel yang dibangun tahun 1883, namun kemudian ditutup tahun 1962 karena sepi jamaah. Bangunan Gereja tersebut dibeli oleh komunitas Arab Syria yang tinggal disana tahun 1967. Bangunan bekas gereja tersebut terdiri dari dua bangunan besar. 

Bangunan pertama dipakai sebagai masjid dan perpustakaan, sedangkan bangunan kedua difungsikan sebagai ruang sholat khusus jemaah wanita. Secara keseluruhan masjid ini mampu menampung 1000 jemaah sekaligus.

Aktivitas Masjid Didsbury

Masjid dan Islamic center ini menjadi begitu penting karena menjadi salah satu islamic center tertua di Inggris dan berlokasi di tengah kawasan tersibuk di kota tersebut. Komunitas muslim di kota ini sudah mencapai 250 ribu jiwa terdiri dari beragam suku bangsa. 

Interior Masjid Didsbury, sebagai sebuah bangunan yang sebelumnya adalah gereja, ruangan masjid ini memanjang dan setelah menjadi masjid, sisi kiblatnya justru berada di sisi panjang bangunan.

Pusat Islam ini merepresentasikan secara luas komunitas muslim dari berbagai bangsa dan mazhab. Menjadi tempat utama bagi muslim setempat untuk melaksanakan ibadah rutin serta mempelajari islam langsung dari sumbernya yaitu Al-Qur’an.

Masjid Didsbury.

Lebih dari itu masjid Didsbury memberikan informasi tentang ajaran Islam yang benar dalam upaya membantu perkembangan kerjasama dan membangun jembatan antara islam dan komunitas non Islam setempat. Masjid ini juga sudah menjadi tujuan bagi para akademisi, pemerintah, sekolah  sekolah, hingga tokoh gereja dan pengelola tempat tempat ibadah agama lain. 

Begitu juga dengan masyarakat umum yang datang untuk mengenal ajaran Islam dengan lebih baik. Manajemen masjid memang memiliki kebijakan untuk membuka diri bagi kalangan manapun, secara berkelanjutan mengundang masyarakat guna memberikan semangat untuk senantiasa berkunjung ke masjid.

Masjid Didsbury menyelenggarakan pendidikan alqur’an dan syariah Isalam dalam bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Program pendidikan ini diselenggarakan untuk dewasa hingga kanak kanak. Setiap hari minggu pengurus masjid menyelenggarakan “Open Day” bagi Non Muslim dan mualaf, sebagai tempat bagi mereka untuk bersosialisasi dan berdiskusi tentang ajaran Islam dalam suasana yang akrab dan santai. Masjid ini juga menyediakan layanan konseling bagi berbagai tingkatan sosial.

Bentuk ruangan dalam gedung Masjid Didsbury, struktur asli dari bangunan gereja tanpa diubah sama sekali.

Masjid yang kini di imami oleh Shaikh Mustafa Graf dan khatib Salim al-Shaikhi ini, bebas mengumandangkan azan, sementara ceramah agama Islam di masjid ini setiap hari di siarkan langsung melalui pemancar radio gelombang UHF di kanal 10 pada frekuwensi 454.125 mhz. Siaran radio ini dapat ditangkap oleh para jemaah yang tinggal dalam radius 5 Mil dari masjid Didsbury.

Pengurus Masjid Didsbury

Pengurus masjid Didsbury terdiri dari 6 orang dewan pembina (trustees), Pengelola Masjid (Manajemen) dan beberapa departemen dan seksi kerja. 6 orang dewan pembina masing masing adalah : (1) Dr. Haitham Al Khaffaf, (2) Mr. Mohammed Al Khayat (3) Dr. Tarek Tahboub (4) Mr. Fawaz Al Haffar (5) Dr. Abdul Razzaq Izz Ul-Din dan (6) Dr. Moeen Shabib. Bertindak sebagai Manajer masjid Didsbury adalah Dr.Medhat Refaie. Sedangkan imam masjid Didsbury saat ini dijabat oleh Imam Sheikh Mustafa Abdullah Graf.

Interior Masjid Didsbury.

Fasilitas Masjid Didsbury

Masjid Didsbury terdiri dari ruang sholat utama, tempat sholat lima waktu termasuk sholat Jum’at berjemaah dilaksanakan. Selain itu masjid ini dilengkapi dengan perpustakaan dengan ratusan koleksi buku buku islam, sejarah dan budaya. Sementara ruang serbaguna di masjid ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan termasuk tempat penyelenggaraan pernikahan, seminar, pameran dan beragam kegiatan sosial.

Ruang perpustakaan terletak di lantai dasar masjid. Perpustakaan masjid dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10:00 pagi hingga pukul 7:00 malam, kecuali hari Jum’at. Perpustakaan ini cukup luas dan memanjakan rata rata 1000 pengunjung setiap pekannya. Buku buku yang tersedia terdiri dari beragam bahasan baik dalam bahasa inggris maupun  bahasa Arab, hingga buku buku khusus untuk kanak kanak pun tersedia.

Interior Masjid Didsbury.

Perluasan Masjid

Untuk mengakomodir kebutuhan jemaah yang semakin meningkat, Masjid Didsbury kini sedang berupaya untuk melakukan perluasan. Beberapa perluasan yang akan dilaksanakan meliputi : 

(1) Perluasan tempat sholat khusus wanita hampir tiga kali lipat dari ukuran saat ini, 
(2) memperbaharui dan memperbaiki pintu masuk utama ke ruang sholat khusus wanita termasuk pemasangan pintu baru, lobi dan selasar, 
(3) renovasi tempat wudlu khusus wanita berikut toiletnya termasuk penambahan jumlah toilet, toilet untuk lansia dan orang cacat, pembuatan tempat wudlhu wanita yang terpisah dari toilet serta pemasangan sistem ventilasi udara. 
(4) perbaikan tempat wudlhu pria termasuk didalamnya adalah penambahan toilet untuk orang cacat dan lansia, pembangunan tempat wudhlu yang terpisah dari toilet serta pemasangan sistem ventilasi. 
(5) penambahan ruangan baru di lantai satu untuk dipakai sebagai kantor, pendidikan dan aktivitas administrasi.

Masjid Didsbury sudah menunjuk Studio NG Engineering Company untuk membuat perencanaan proyek yang dimaksud serta mengurus semua perijinan ang diperlukan bagi terlaksananya proyek tersebut. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan untuk keseluruhan proyek tersebut sekitar £400,000 (Empat ratus ribu poundsterling).*** 


Rabu, 16 Maret 2011

Masjid Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang

Masjid Sendai, Komunitas Kebudayaan Muslim Sendai

Berita bencana gempa berkekuatan 8.9 skala richter dan Tsunami yang melanda dua kota di Jepang, Sendai dan Iwate hari Jum’at 11 Maret 2011, memunculkan sekilas berita tentang beberapa warga Negara Indonesia dan muslim serantau yang berlindung di Masjid Sendai, selain berlindung sementara di gedung gedung sekolah dan fasiltas umum lainnya yang berlokasi di ketinggian dan jauh dari pantai.

Diperkitakan lebih dari sepuluh ribu lebih korban jiwa akibat bencana dasyat tersebut. Pemerintah dan rakyat Jepang, hingga tulisan ini dibuat masih berjibaku untuk menjinakkan pembangkit listrik tenaga nuklir mereka yang mengalami masalah paska gempa dan tsunami tersebut. Recovery dari bencana tersebut memang akan memakan waktu cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Semoga saja semua proses pemulihan akan berjalan lancar dan masyarakat disana akan segera kembali ke kehidupan normal.

Sudah sunnatullah, bahwa dibalik musibah apapun, pasti tersimpan hikmah, tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengambil hikmah dari semua peristiwa tersebut. Selama ini kita tak pernah tahu, atau mungkin belum mengetahui bahwa di kota Sendai pun ada saudara saudara kita sesama muslim, meski jumlah mereka tak banyak namun eksistensi mereka tak diragukan lagi, dan baru kita sadari setelah semua bencana itu.

Masjid Sendai, Komunitas Kebudayaan Muslim Sendai

Sekilas tentang kota Sendai

Kota Sendai merupakan ibukota dari prefektur Miyagi, sekitar 350 kilo meter disebelah utara Kota Tokyo. Dengan penduduk 1.030.000 jiwa (data tahun 2005). Kota yang sudah berumur 400 tahun ini memiliki Universitas kekaisaran (universitas Negeri) ke tiga di Jepang setelah Universitas Tokyo dan Kyoto, yaitu Universitas Tohoku.

Mahasiswa dari Indonesia turut mengambil bagian menuntut ilmu di universitas ini bersama dengan mahasiswa dari Malaysia dan mahasiswa dari berbagai negara lain nya. Cukup menarik karena kantin di kampus Aobayama Universitas Tohoku di Sendai ini menyediakan makanan Halal untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa mahasiswa muslim yang kuliah disana. Di kota ini terdapat lebih dari 120 keluarga muslim dari  berbagai negara termasuk pribumi Jepang. Bahkan ketua dari Ismic Cultural Center of Sendai (ICCS) sendiri merupakan muslim asli Jepang.

Alamat & Lokasi Masjid Sendai 
Sendai shi, Aobaku, hacimannanchome 7-24
仙台市青葉区八幡7丁目、7-24, Miyagi Prefecture 980-0871, Japan


Masjid Sendai

Masjid di kota Sendai ini dikelola dan sekaligus menjadi markas Ismic Cultural Center of Sendai (ICCS). Sebagaimana dijelaskan dalam pembukaan di situs resmi-nya bahwa ICCS didirikan secara resmi pada 20 Oktober 1985. Merupakan organisasi non politik, non rasial, non profit dan sukarela. Tujuan utamanya adalah untuk menjaga identitas ke Islaman ummat dalam kehidupan yang Islami sehari hari serta sekaligus untuk mensyiarkan Islam di tengah komunitas masyarakat Jepang.

Masjid Sendai / ICCS senantiasa menjalin hubungan yang erat dengan masjid masjid diseluruh Jepang terutama dengan Islamic Center Jepang di Tokyo serta organisasi Islam yang ada di Jepang termasuk KMI-S (Keluarga Muslim Indonesia di Sendai) yang merupakan organisasi bagi muslim Indonesia yang sedang tinggal di Jepang. KMI-S menempatkan satu pengurusnya di ICCS.

Masjid Sendai, Komunitas Kebudayaan Muslim Sendai

Tak mengherankan bila foto foto kegiatan masjid Sendai ini di penuhi oleh wajah wajah muslim bertampang melayu karena memang salah satu penghuni tetap masjid ini adalah anggota jemaah dari KMI-S serta saudara saudara muslim dari Malaysia yang juga sedang tinggal di kota Sendai. 
Berdirinya masjid ini memberikan tempat permanen bagi komunitas muslim disana untuk menjalankan aktivitas mereka secara berjamaah, baik ibadah sholat lima waktu termasuk sholat jum’at, dua sholat ied dan sholat sunnah tarawih berjamaah hingga penyelenggaraan iftor jma’i (buka puasa berama) selama bulan Ramadhan.

Tak hanya menjalankan layanan ritual ibadah, masjid Sendai juga menyelenggarakan pendidikan Al-Qur’an, yang menjadi salah satu tujuannya dibentuk dan dibangunnya ICCS. Ada enam tujuan utama yang sudah dirumuskan ICCS yaitu : (1) mempromosikan jalinan persaudaraan diantara kaum muslimin dan antara muslim dan warga Jepang. (2) memperkenalkan Islam dan pertukaran budaya kepada warga Jepang dan organisasi kebudayaan lain nya. (3) Menyelenggarakan peribadatan dan peningkatan pengetahuan keislaman bagi kaum muslimin. (4) menyelesaikan masalah perbedaaan yang ada diantara kaum muslimin. (5) Menyelenggarakan pendidikan Al-Qur’an dan Bahasa Arab. (6) Bekerja sama dengan Islamic Center Jepang (di Tokyo) juga dengan organisasi organisasi Islam lain-nya.

Bangunan lama masjid sendai di sebuah apartemen sewaan

Pembangunan Masjid Sendai

Masjid sendai ini merupakan masjid pertama yang dibangun dibelahan utara pulau utama Jepang dibangun dan dikelolal oleh ICCS. Islamic Cultural Centre Sendai (ICCS) dalam bahasa Jepang disebut 'Isramu Bunka Senta Sendai' Yang diketuai oleh Muhammad Noboru Satoh, Pada mulanya berkantor di dua ruang apartemen sewaan yang uang sewanya dibayar dari dana donasi para jemaah, sekitar US$ 900 setiap bulan. Kala itu ruang apartemen tersebut menjadi satu satunya tempat yang ada bagi muslim Sendai untuk melaksanakan sholat Jum’at secara rutin.

Seiring dengan waktu, jemaah makin bertambah kebutuhan akan tempat permanen bagi penyelenggara’an beragam kegiatan ICCS semakin mendesak. Di tahun 1994 Kemudian muncul keinginan untuk mendirikan masjid sendiri. Dana yang sudah dikumpulkan oleh para jemaah muslim Sendai masih belum mencukupi untuk membayar lahan yang di pilih, sementara tengat waktu yang diberikan sudah sangat dekat, pengurus ICCS kemudian berkirim surat ke muslim diberbagai Negara untuk mendapatkan dukungan finansial bagi pembangunan masjid dimaksud termasuk melalui mailing list di tanah air.

Sholat Jum'at Pertama di Masjid Sendai.

Sejak tahun 1994 rencana pembangunan masjid mengalami pasang surut. Ide-ide yang dilanjutkan diskusi yang kadang cukup dinamis dan hangat sampai kemudian berhasil membeli sebidang tanah ditempat yang strategis. Sepertinya sudah mencapai titik terang akan berdirinya sebuah masjid. Tapi ternyata harus mulai dari nol lagi karena tanahnya dirasa terlalu sempit 193 m2 di jl. Kunimi dengan harga 20juta yen. Kemudian berburu tanah lagi yang kemudian mendapatkan tanah yang cukup luas 665m2 di jl. Hachiman 7
丁目 seharga 16.266.200yen.

Bukan hal yang mudah untuk tetap mempertahankan semangat komunitas Islam di Sendai untuk tetap bersatu dengan berbagai perbedaan pendapat. Kalau bukan karena satu tujuan dijalan Allah mungkin sudah terhenti ditengah jalan. Belum lagi usaha penggalangan dana baik dari muslim Sendai maupun muslim diseluruh Jepang. Setelah tanah dibeli. Masih harus mengumpulkan dana sekitar 17juta yen untuk mendirikan bangunan.

Akses jalan menuju ke Masjid Sendai.

Dari tahun 1994 sd tahun 2007, 13 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah cita-cita. Jumat 2 November 2007 masjid Sendai secara resmi mulai dipakai ditandai dengan sholat jumat perdana dimasjid baru ini. Karena di Jepang tidak mudah untuk mendapatkan ijin mendirikan bangunan untuk kegiatan keagamaan. Akhirnya masjid Sendai diberi nama Isuramu Bunka Senta Sendai (Islamic Cultural Center Sendai).

Bila kita lihat dari udara masjid ini berbentuk bujur sangkar. Bentuk bangunannya tidaklah seperti bangunan masjid yang kita kenal secara universal dengan bangunan kubah dan menara. Masjid ini lebih mirip dengan struktur masjid masjid di Indonesia. Bangunan segi empat dengan atap limas bersusun, mirip dengan masjid masjid asli Indonesia di tanah air. Dan masjid ini, sejak masa pembangunan hingga saat ini memang tak lepas dari peran Muslim Indonesia yang tinggal di Sendai.

Menemukan Hidayah di Masjid Sendai

Area parkir Masjid Sendai.

Sebagaimana diceritakan oleh seorang bloger yang pernah tinggal di Sendai, Masjid Sendai menyelenggarakan tradisi sholat tarawih di bulan Ramadhan dengan bacaan ayat Al-Qur’an oleh Imam sholat Tarawih menghabiskan satu juz dalam satu malam.  Namun hal tersebut tak menyurutkan semangat para jemaah, bahkan ada sebuah cerita mengharukan ketika seorang warga inggris yang datang ke masjid tersebut untuk tutut serta sholat tarawih padahal beliau belum masuk Islam,  bukannya jera dengan sholat tarawih yang begitu panjang dan lama, beliau malah datang lagi dan lagi ke masjid setiap malam sampai ahirnya bersahadat di hari raya Idul Fitri, mengikrarkan diri sebagai muslim. Tak sampai disitu beliau bahkan merelakan waktunya untuk bekerja sukarela sebagai salah satu pengurus masjid Sendai.


Donasi ke Masjid Sendai

Berikut data rekening Masjid Sendai, rekening bank dan rekening kantor pos
Rekening Bank

Nama Bank: Mizuho Bank-Sendai Branch
Kode cabang (Branch code): 723
Nama pemilik rekening (Account holder) : Sendai Isuramu Bunka Senta
Jenis rekening (Kind of the account): futsu or normal
Nomor Rekening (Account Number): 1559358

Rekening Kantor Pos

Nama pemilik Rekening (Account holder): Sendai Isuramu Bunka Senta
Jenis rekening (Kind of the account) : futsu or normal
Nomor rekening (Account Number): 18110-34966511

--------------------------ooOOO----------------------------

Minggu, 13 Maret 2011

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia (Mezquita de Maicao)


Mendengar nama Kolumbia mungkin anda akan langsung teringat dengan Pablo Escobar, Raja obat bius Amerika Latin yang begitu tersohor hingga tahun 1993. atau bila anda pecinta bola, boleh jadi mendengar nama Kolumbia anda akan langsung teringat dengan Andres Escobar, striker timnas kolumbia di Piala dunia FIFA 1994 yang tewas di tembak tanggal 2 Juli 1994 karena dianggap sebagai biang keladi kekalahan negaranya di ajang paling bergengsi tersebut.

Tulisan ini tentu saja tidak untuk membahas dua cerita kelam itu. Kolumbia salah satu negara Amerika Latin ini, menyimpan cerita sendiri tentang kehadiran islam dan masjid di negeri itu. Salah satu dari 3 masjid yang ada di Kolumbia adalah masjid Umar Bin Khattab di kota Maicao.

Masjid Umar Bin Khattab atau Mosque Omar Ibn Al-Khattab atau dalam lidah Spanyol menjadi La Mezquita Omar Ibn Al-Jattab, Merupakan masjid terbesar di Negara Kolumbia, dan merupakan Masjid terbesar ketiga di kawasan Amerika Latin setelah Masjid di Brazil dan Argentina. Masjid Umar Bin Khattab juga dikenal dengan sebutan the Centro Islamico de Maicao, Berada di Kota Maicao, propinsi La Guajira, Republik Colombia.

Alamat dan Lokasi Masjid Umar Bin Khattab, Maicao
Masjid Omar Ibn Al-Khattab (Mezquita de Maicao)

 

Pembangunan Masjid Umar Bin Khattab, Maicao

Masjid Umar Bin Khattab ini dibangun pada tanggal 17 September 1997, mampu menampung 1000 jemaah sekaligus. Pembangunan masjid ini diprakarsai dan dikelola oleh komunitas Muslim Maicao yang merupakan warga muslim keturunan Arab dan hijarah ke Maicao sekitar tahun 1948. Nama masjid ini memang diambil dari Khalifah Islam ke dua, Khalifah Umar Bin Khattab.

Masjid yang dibangun dalam arsitektur arab ini dilengkapi dengan kubah besar dan satu menara setinggi 37 meter. Masjid ini juga merupakan masjid satu satunya di kawasan tersebut, di lengkapi dengan sekolah Islam Dar Alarkam (Darul Arqom), Menjadikan masjid ini tidak saja sebagai tempat ibadah tapi juga menjadi pusat pengembangan agama dan budaya Islam di sana. Selain dilengkapi dengan sekolah Islam, Masjid Umar Bin Khattab juga dilengkapi dengan perpustakaan Islam.

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia (Mezquita de Maicao)

Sejak dibangun tahun 1997 lalu masjid ini telah menjadi tempat satu satunya bagi muslim setempat untuk menyelengarakan sholat berjamaah, berkumpul dan aktivitas kolektif muslim lain nya. Sekaligus menjadi tempat berkumpul warga muslim keturuan arab dan Kolombo di kota ini.Cukup membanggakan karena masjid ini dibangun dari dana swadaya masyarakat muslim setempat.

Kemunitas muslim di Maicao menikmati kebebesan menjalankan ajaran agama Islam. Azan bebas dikumandangkan dari pengeras suara yang dipasang di menara masjid ini, memecah kesunyian kesunyian kota yang dihuni oleh 123 ribu penduduk ini. Sholat Jum’at di Maicao diselenggarakan pukul 11:40 siang waktu setempat.

Satu dari tiga masjid Kolumbia

Sampai saat ini Kolumbia hanya memiliki tiga masjid dan Masjid Umar Bin Khattab ini merupakan masjid terbesar di Negara ini. Dua masjid lainnya yang lebih kecil, berada di San Andreas dan Cartagena. Budaya Islam sangat kental di tengah komunitas muslim disini. Seperti contoh ketika di hari jum’at, manakala suara azan sudah berkumandang menandakan sholat jum’at sudah tiba, kawasan perdaganangan yang ramaipun sepi, ditinggal oleh para pedagang dan pembelinya menunaikan sholat Jum’at.

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia (Mezquita de Maicao)

Arsitektur dan Fasilitas Masjid Umar Bin Khattab Maicao

Masjid Umar Bin Khattab ini dibangun berlantai dua, lantai dasar untuk jemaah laki laki dan lantai atas digunakan khusus untuk jemaah wanita. Diantara para jamaah tidak semuanya warga keturunan arab. Diantara mereka merupakan warga pribumi atau salah satu orang tuanya merupakan warga peribumi yang sudah memeluk Islam.

Arah kiblat di Maicao mengarah ke sebelah timur tidak seperti di Indonesia yang menghadap ke barat.  Tentu saja begitu karena bila kita mengamati maket bola bumi, kita akan temukan bahwa Ka’bah di kota suci Mekah lebih dekat dicapai dari Kolumbia ke arah timur dibandingkan ke arah barat.

Masjid ini di imami oleh Imam Abdul Basit yang berasal dari Libanon dan tidak pandai berbahasa Spanyol. Beliau menyampaikan tausiahnya dalam bahasa arab. Beliau dikirim dari timur tengah ke Maicao untuk memimpin lebih kurang 1200 warga arab Kolumbia yang tinggal disana. Sebagian besar warga muslim disana bermata pencarian sebagai pedagang.

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia (Mezquita de Maicao)

Masjid Umar Bin Khattab di cat bewarna gading berlapis marmer dan cor, dilengkapi dengan beberapa hiasan kaligrafi Alqur’an, permukaan lantai seluruhnya ditutup dengan karpet yang senantiasa segar dan bersih, Sama dengan kebanyakan masjid lainnya masjid ini pun dilengkapi dengan seperangkat jam electronik yang dipasang di tembok masjid lengkap dengan waktu sholat lima waktu.

Stigma Negatif terhadap Islam

sebagaimana diungkapkan oleh jemaah masjid ini, ada satu hal yang senantiasa cukup mengganggu, meski masjid ini senantiasa terbuka untuk umum dan pengunjung pun datang silih berganti ke masjid ini dari berbagai lapisan masyarakat dan agama, namun gencar nya media barat turut mempengaruhi pandangan masyarakat disana, pengunjung yang datang selalu saja mengait ngaitkan komunitas muslim dengan terorisme, bom bunuh diri hingga Osama Bin Laden. Sebuah pekerjaan rumah yang tidak gampang untuk memberikan penjelasan tentang ajaran Islam yang damai.

Masjid Umar Bin Khattab, Maicao, Kolumbia (Mezquita de Maicao)

Islam di Kolumbia

Data statistik menyebutkan bahawa Muslim di Kolumbia sekitara 14 ribu jiwa. Di Kolumbia juga sudah berdiri beberapa lembaga dan pusat Islam seperti di San Andrés, Bogotá, Nariño, Santa Marta dan Guajira tempat dimana masjid Ummar Bin Khattab berada di kota Maicao. Sekolah Islam di Kolumbia, selain di Masjid Umar Bin Khattab juga ada di kota Bogota yang merupakan ibukota Republik Kolumbia.

Islam Masuk ke Kolumbia memang dibawa oleh muslim migran Arab terutama dari Syria, Lebanon da Palestina yang bermigrasi ke Kolumbia di penghujung abad 19 hingga awal abad ke 20. kebanyakan dari mereka meninggalkan kampong halaman mereka di tanah arab untuk menghindar dari pertikaian yang terjadi di Negara asal mereka masing masing ketika itu. Sebagian besar mata pencaharian muslim arab di Kolumbia ini merupakan para saudagar.***

---------------oooOOOoo---------------