Minggu, 15 Januari 2017

Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta Barat

Masjid Jami' Kebun Jeruk, salah satu masjid tertua di Jakarta, dibangun oleh Muslim Thionghoa Batavia.

Kiprah muslim Thionghoa Indonesia terekam dengan indah di Masjid Jami’ Kebon Jeruk, Jakarta Barat, salah satu masjid tua Jakarta dari Era kejayaan Batavia di masa lalu. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini pertama kali dibangun oleh Chau Tsien Hwu atau Tschoa pada tahun 1786M. Di halaman sebelah timur masjid tua terdapat makam Fatimah Hwu yang merupakan istri Chau Tsien Hwu. Nisan dari makam yang bertarikh 1792M ini cukup unik dengan bentuk naga bertulisan huruf cina berbunyi “Hsienpi Men Tsu Mow yang artinya “inilah makam China dari keluarga Chai, dan menggunakan pertanggalan Arab.

Surau kecil itu yang kemudian berkembang menjadi sebuah masjid yang diberi nama Masjid Jami’ Kebon Jeruk dan bertahan melintasi jaman melayani ummat Islam, menjadi saksi bisu manis getirnya sejarah etnis Thionghoa di Jakarta. Masjid Jami’ Kebon Jeruk menjadi masjid pertama yang dibangun oleh muslim Thionghoa di Indonesia dan menjadi masjid pertama di kawasan pusat bisnis Glodok. Kini, setelah 220 tahun berlalu, Masjid Jami’ Kebon Jeruk selalu di padati oleh jamaah dari berbagai daerah, bahkan muslim dari berbagai negara pun mudah kita jumpai di sini termasuk jemaah dari Pakistan, India, Arab Saudi dan Malaysia.

Alamat dan Lokasi Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Masjid Jami’ Kebon Jeruk
Jalan Hayam Wuruk No. 85,
Kelurahan Maphar, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat.



Akses:
Bianglala P 69 Kota – Ciputat
Bianglala AC 45 Kota – Ciputat
Steady Safe 949         Kota – Kaliders
Steady Safe AC110 Tanjung Priok – Tanah Abang

Pemerintah DKI Jakarta Dinas Museum dan Sejarah melalui SK Gubernur No Cb11/1/12/72 tanggal 10 Januari 1972 menetapkan Masjid Jami , Kebon Jeruk di Jl Hayam Wuruk, Jakarta Barat, ditetapkan sebagai monumen sejarah.

Sejarah Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Menurut data dari Dinas Museum dan Pemugaran Provinsi Jakarta, Masjid Jami’ Kebon Jeruk didirikan oleh seorang Muslim Tionghoa bernama, Chau Tsien Hwu atau Tschoa atau Kapten Tamien Dosol Seeng di tahun 1786. Beliau adalah salah seorang pendatang dari Sin Kiang, Tiongkok yang kabur dari negerinya karena ditindas oleh pemerintah setempat. Sesampai di Batavia, ia menemukan sebuah surau yang tiangnya telah rusak serta tidak terpelihara lagi. Kemudian di tempat tersebut, ia dan teman-temannya, sesama pendatang dari Tiongkok mendirikan mesjid dan diberi nama Masjid Kebon Jeruk. Alasan diberinya nama Masjid Kebon Jeruk, menurut petugas Istiqbal (humas-red) Masjid Kebon Jeruk, Abdul Salam, karena memang pada waktu itu di daerah ini ditumbuhi banyak pohon jeruk.

Jauh sebelumnya, tahun 1448 Masehi, di lokasi ini telah berdiri sebuah mesjid surau atau langgar. Bangunannya bundar, beratap daun nipah, bertiang empat, masing-masing penuh dengan ukiran. Siapa saja pendirinya tidak diketahui. Chan tsin Hwa beserta istrinya Fatima hwu tiba di Batavia pada tahun 1718, dan menetap di daerah Kebon Jeruk sekarang ini. Mereka ini adalah rombongan muhajirin (pengungsi) yang memeluk agama Islam, yang terpaksa meninggalkan negrinya karena terdesak oleh penguasa Dinasti Chien yang menganut agama leluhur mereka, Budha.

Detil ekterior Masjid Jami' Kebun Jeruk. atas papan peringatan cagar budaya, kiri bawah : makam tua di Masjid Jami' Kebun Jeruk dan kanan bawah ; detil ornamen pada ujung atap masjid Jami Kebun Jeruk.

Oleh karena itu mereka tidak berniat lagi untuk kembali ke negri leluhurnya, mereka bermukim di sini. Lalu Mendirikan mesjid di lokasi bekas mesjid mungil tersebut tadi. Itulah Mesjid Kebun Jeruk yang sekarang ini. Menaranya sudah lama runtuh karena memang telah sangat tua. Mimbarnya yang antik terbuat dari kayu kembang, kini masih tersimpan di Museum Fatahillah.

Fatima hwu wafat tahun 1792, dimakamkan di halaman belakang mesjid. Pada nisan bergaya Cina, terdapat pahatan enam aksara cina yang berbunyi :”Hsienpi Chai Men Tsu Mow”, yang berarti “Inilah makam wanita dari keluarga Chai”. Sedangkan Chan Tsin Hwu, menurut sejarah wafat di Cirebon dan dimakamkan di gunung Sembung.

Selain nilai historisnya, masjid ini menjadi terkenal karena Masjid Kebon Jeruk sebagai pusat kegiatan tabligh dan dakwah Islam di Indonesia. Masjid Jami’ Kebon Jeruk ini menjadi markas kegiatan Jemaah Tabligh untuk wilayah Indonesia dengan kegiatan jamaahnya adalah melakukan penyebaran Islam dengan mengunjungi berbagai tempat di seluruh nusantara dan berbagai negara.

Aktivitas Masjid Jami’ Kebon Jeruk

Hal yang menarik, selama bulan Ramadhan, banyak jamaah dari berbagai daerah dan negara melakukan I’tikaf di Masjid Kebon Jeruk ini. Jemaah yang datang dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara itu melakukan semua aktivitas kesehariannya di Masjid ini selama bulan suci Ramadhan. Banyaknya jemaah dari berbagai penjuru tanah air dan mancanegara di masjid ini karena memang Masjid Kebon Jeruk merupakan markas dari Jemaah Tabligh Indonesia.

Detil Interior Masjid Jami' Kebun Jeruk

kegiatan yang paling unik adalah saat berbuka puasa. Pada waktu berbuka puasa, ada sekitar puluhan kelompok secara bersama-sama menyantap hidangannya dalam satu tampah. ritual tersebut dijalankan karena disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Rasulullah sering menyantap hidangan berbuka puasa bersama-sama dengan para sahabatnya dalam satu wadah. Dengan cara ini, kita juga merasakan kebersamaan dan Ukhuwah Islamiyah.

Selain ritual tersebut, ada dua amalan yang harus dikerjakan oleh para jamaahnya, yakni amalan Infiradhi dan Ijtima’i. Pada amalan infiradhi, setiap orang menjalankan ibadahnya secara sendiri-sendiri, seperti Shalat Dhuha, Shalat Tahajud, Shalat Isra’, membaca Al-Qur’an setiap harinya minimal satu Juz, dan melakukan dzikir sepanjang hari. Sedangkan amalan Ijtima’i, adalah amalan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti menjalankan shalat fardhu, Shalat Tarawih, berbuka puasa dan menghadiri berbagai majelis-majelis. ada dua majelis yang wajib dihadiri setiap jamaah, yakni Majelis Khurghazi dan Majelis Bayan.

Majelis Khurgazi adalah suatu majelis yang berupa kesaksian seseorang yang baru pulang dari perjalanannya di jalan Allah dan mengajak para jamaah untuk ikut melakukan perjalanan ini. Biasanya majelis ini diadakan setelah Shalat Ashar sampai jam setengah lima sore, Setelah Shalat Shubuh dan Tarawih, Majelis Bayan digelar. Dan setiap jamaahnya wajib mendengarkan ceramah-ceramah para ustad. Isi ceramahnya mengenai pentingnya amal shaleh bagi kita.

Bangunan baru di Masjid Jami Kebun Jeruk Jakarta yang kini menjadi Markas Jama'ah Tabligh Indonesia

Diluar bulan suci Ramadhan, Masjid Kebon Jeruk ini tetap ramai dengan aktivitasnya. Masjid Kebon Jeruk saat ini merupakan markaz (pusat kegiatan) usaha Tabligh di Indonesia. Semua hal yang berkaitan dengan permasalahan, kendala, rencana kegiatan, pengiriman jamaah dan lain-lainya yang berkaitan dengan usaha Tabligh di Indonesia digodog dalam musyawarah yang setiap hari dilakukan di masjid ini.

Masjid ini setiap harinya selalu dipenuhi dengan jamaah-jamaah transit, yang datang dari berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, untuk kemudian pergi melanjutkan perjalanan dakwahnya ke tempat-tempat yang telah diputuskan dalam musyawarah. Apa yang dilakukan di masjid ini adalah ingin mencontoh apa yang telah Rasulullah SAW beserta para sahabatnya di Masjid Nabawi dulu. Bukan pada kemegahan bangunannya, atau keindahan arsitekturnya, tetapi pada amalan-amalan agama yaitu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan dakwah, ta’lim dan taallum, dzikir dan ibadah serta hidmat (pelayanan).

Seakan tak mau kalah dengan kesibukan kesibukan di kawasan jalan Hayam Wuruk dan Gadjah Mada, aktivitas di masjid ini juga berlangsung selama 24 jam setiap hari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan dan 365 hari dalam setahun. Tidak ada kata libur atau waktu luang di dalam aktifitas keagamaan di masjid ini, hari-hari di dalamnya full dengan berbagai kegiatan ; ta’lim, muzakarah, bayan, dzikir, shalat, baca Alquran, musyawarah, khidmat dan lain sebagainya.***

--------------------------------ooOOOoo--------------------------------

Baca Juga Artikel Masjid Masjid Jakarta Lain-nya



Sabtu, 14 Januari 2017

Masjid Jami' Matraman Jakarta Pusat

Masjid Jami' Matraman, Salah satu masjid tertua di Jakarta, sekaligus Masjid Agung Pertama di Jakarta, dibangun pertama kali oleh bala tentara Mataram saat menyerbu VOC Belanda di Batavia.

Masjid Jami' Mataraman di Jakarta Pusat dulunya merupakan perkampungan pasukan Mataram yang memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram paska dua kali penyerbuan mereka yang tak berjaya terhadap Belanda di Batavia di tahun 1648 dan 1649 dan kemudian menetap di wilayah tersebut. Nama Matraman untuk wilayah ini disinyalir berawal dari kata Mataraman yang kemudian berubah menjadi Matraman seperti yang dikenal saat ini. Keturunan dari anggota pasukan Mataram ini yang dikemudian hari membangun masjid ini sebagai tempat beribadah mereka.

Masjdi Jami’ Matraman bukanlah satu satu nya masjid tua di Jakarta yang berkaitan dengan anggota pasukan Mataram, selain masjid ini sebelumnya telah berdiri Masjid Al-Ma’mur di Tanah Abang dibangun tahun 1704 atau sekitar 133 tahun lebih dulu dari Masjid Jami Matraman dan Masjid Jami’ Al-Mansyur di Kampung Sawah Lio Jembatan Lima dibangun tahun 1717 atau 120 tahun lebih dulu dari Masjid Jami’ Matraman.yang juga sama sama dibangun oleh para keturunan Pasukan Mataram yang menetap di sekitar Batavia.


Beberapa bagian dari masjid ini masih dipertahankan keasliannya hingga kini

Dibangun oleh Tentara Kerajaan Mataram

Masjid Jami Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung dari Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid Jami’ Matraman semula merupakan gubuk kecil tempat pasukan Sultan Agung menjalankan sholat. Terletak di bekas kandang burung milik Belanda yang digunakan oleh orang Mataram sebagai pos komando panglima Mataraman.

Pada tahun 1837 dua orang generasi baru keturunan Mataram yang lahir di Batavia, H. Mursalun dan Bustanul Arifin (keturunan Sunan Kalijaga) memelopori pembangunan kembali tempat ibadah itu. Setelah selesai pembangunannya, dahulu masjid ini diberi nama Masjid Jami' Mataraman Dalem. Yang artinya masjid milik para abdi dalem (pengikut) kerajaan Mataram. Dipilihnya nama itu dimaksudkan sebagai penguat identitas bahwa masjid itu didirikan oleh masyarakat yang berasal dari Mataram. Namun seiring perubahan zaman dan perbedaan dialek, nama Masjid Mataram pun berubah nama menjadi Masjid Jami Matraman.

Masjid Jami Matraman
Jl. Matraman Masjid 1, Pegangsaan, Menteng
Jakarta Pusat 10320 - INDONESIA



Penggunaan masjid secara resmi dikukuhkan oleh Pangeran Jonet dari Kasultanan Yogyakarta, yang merupakan keturunan langsung dari Pangeran Diponegoro. Sholat Jum'at pertama di Masjid Jami Matraman itu juga dipimpin sendiri oleh Pangeran Jonet. Sejak itu hingga masa-masa pergerakan, Masjid Jami Matraman diramaikan oleh berbagai aktivitas keagamaan. Karena letaknya yang berdekatan dengan kantong-kantong pergerakan pemuda-daerah Pegangsaan dan Kramat, masjid ini sempat juga dicurigai sebagai tempat memupuk gerakan anti kolonialisme.
Di samping menyisakan sejarah bekas pasukan Sultan Agung Mataram, sejarah lain dari Masjid Jami Matraman juga pernah dijadikan tempat pertemuan para pejuang. Bahkan, mantan Presiden Soekarno kala masa perjuangan, menjadikan masjid itu sebagai tempat perkumpulan untuk mengadakan rapat dan menyusun strategi malawan kolonialisme.

Dibangun lagi oleh warga Matraman

Bangunan masjid masih berupa tumpukan batu batako Kemudian dibangun lagi oleh sekelompok warga Matraman yang diketuai orang Ambon yang bernama Nyai Patiloy (1930). H. Agus Salim juga pernah menjadi ketua pembangunan masjid ini. Belanda tidak setuju dengan pembangunan masjid yang berada di pinggir jalan dan memerintahkan supaya dibangun lebih ke dalam. Mereka berjanji akan membantu biaya sebesar 10.000 gulden.

Usul dari Belanda ini mendapat pertentangan dari pengurus pembangunan masjid bahkan sampai dipermasalahkan pada sidang Gemeenteraad. Masjid ini juga pernah mendapat bantuan dari Saudi Arabia (1940). Moh. Hatta, Bapak Proklamasi RI, dulu setiap Jumat selalu bersembahyang di masjid Jami Matraman dan di akhir hayatnya juga disembahyangkan di mesjid ini. Masjid Jami Matraman pertama kali dipugar pada tahun 1955-1960 dan dilanjutkan pada tahun 1977.


Interior Masjid Jami Matraman. Gambar sebelah kanan atas adalah kalender antik yang merupakan salah satu pernik bersejarah di masjid ini.

Kuburan tua Di Masjid Matraman

Di dalam Masjid Jami ini masih tersimpan kalender yang terbuat dari kayu bertuliskan  bahasa Arab dan hurup nasional. Kalender ini konon biasa digunakan oleh orang Mataram untuk mengetahui hari dan sampai sekarang pun masih digunakan sebagai ciri khas dari Masjid Jami matraman. Di depan masjid terdapat dua makam milik tentara Mataram. Konon, kedua makam itu adalah Wanandari dan Wandansari. Namun masih simpangsiur apakah makam itu ada di situ sebelum dibangun masjid atau setelah masjid itu ada. Beberapa pihak yang mengetahui keberadaan makam tua itu, tak jarang menziarahi makam tersebut.

Salah satu Masjid Tua Jakarta

Hingga saat ini, Masjid Jami Matraman yang berada di Jalan Matraman, Kelurahan Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat ini, merupakan salah satu Masjid tertua dan bersejarah di Jakarta yang masih terjaga keasliaannya. Meskipun sejauh ini ada pemugaran pada beberapa bagian gedung yang rusak. Termasuk menambah luad bangunan menjadi 2 lantai, untuk keperluan pendidikan Islam

Keaslian Masjid Jami Matraman masih terlihat dari bagian depan gedung masjid yang belum pernah direnovasi. Pada jaman dahulu masjid itu merupakan masjid paling bagus di kawasan tersebut, dengan perpaduan gaya arsitektur masjid dari Timur Tengah dan India. Jika dilihat dari depan akan nampak bangunan seperti benteng dan pada dinding tembok mimbarnya dipenuhi dengan tulisan kaligrafi serta terlihat pula bentuk kubah bundar.

Arsitektural

Melihat tampilan arsitekturnya, Masjid Jami Matraman dipengaruhi oleh gaya dari Mekah dan India. Sebagai seorang yang menyandang gelar haji pada masanya, H. Mursalun terkagum-kagum dengan bangunan Masjidil Haram dan Taj Mahal. Dua ciri kuat dari arsitektur kedua masjid itu adalah, bentuk beranda yang menggunakan pilar-pilar tipis dengan profil melengkung-lengkung diantaranya. Lalu bentuk kubah yang bulat bundar serta menara disamping masjid. Hal inilah yang juga kelihatannya diterapkan pada Masjid Jami Matraman.***

Minggu, 08 Januari 2017

Islam Dan Masjid di Fiji

Sebuah masjid di Fiji di abadikan di salah satu seri perangko keberagaman negara tersebut.

Muslim di Fiji diperkirakan mencapai 7% dari total penduduk negara tersebut atau kira kira setara dengan 62,534 jiwa. Komunitas muslim disana terdiri dari muslim yang berasal dari India, keturunan dari para pekerja paksa dengan masa kontrak tertentu yang dibawa ke pulau tersebut di penghujung abad 19 masehi oleh penguasa kolonial Inggris pada masa itu, ditambah dengan mualaf pribumi salah satunya merupakan tokoh politik disana bernama Apisai Tora.

Pendatang dari India ini kemudian dikenal sebagai warga Indo-Fijian atau warga Fiji keturunan India. Mayoritas dari komunitas Indo-Fijian ini menganut agama Hindu dan diperkirakan sekitar 16% diantaranya adalah muslim. Sekitar 59.7% Muslim Fiji bermazhab Hanafi yang bernaung dibawah Organisasi Liga Muslim Fiji, sebagian lagi sekitar 30% mengikuti mazhab Syafi’I, bernaung dibawah organisasi Maunatul Islam Association of Fiji, dan sisanya tidak mengikuti atau tidak dijelaskan dengan jelas mazhab yang diikutinya.

Perkembangan Islam di Fiji cukup baik, dukungan negara terhadap komunitas muslim disana juga memberikan atmosfir yang baik bagi perkembangan Islam di negara pulau di Samudera Pasific bagian selatan itu. seiring dengan perkembangan Islam disana sempat menimbulkan kekhawatiran berlebihan dari negara tetangganya, Samoa Amerika. Di tahun 2002 Fiji menjadi salah satu dari 25 negara yang warga negaranya dilarang masuk ke wilayah Samoa Amerika. Kebijakan yang mengundang protes keras dari pemerintah Fiji, dan di tahun 2003, Fiji sudah dicoret dari daftar larangan tersebut.


Sejarah Muslim Fiji

Seperti disebutkan di awal tadi, muslim Fiji pada mulanya merupakan para pekerja paksa yang di datangkan oleh pemerintah kolonial Inggris ke pulau tersebut untuk bekerja dengan ikatan kontrak selama 5 tahun di perkebunan perkebunan tebu disana. Kelompok muslim pertama yang tiba di Fiji merupakan bagian dari rombongan pekerja paksa yang dibawa kapal Leonidas tahun 1879, diperkirakan setidaknya terdapat 22% seluruh penumpang kapal tersebut adalah muslim.

Diantara tahun 1879 hingga tahun 1916 tercatat 60.553 jiwa telah dibawa ke Fiji dari India dengan untuk dipekerjakan disana. Mereka diberangkatkan dari pelabuhan Kalkuta, 6.557 jiwa diantaranya adalah pekerja muslim. Diantaranya adalah 1.091 jiwa muslim datang dari Madras dan 1.450 jiwa dari kawasan provinsi di utara, Baluchistan-Afghanistan dan wilayah Punjab.

Kehidupan Semasa Kerja Paksa

Sementara waktu, dengan kehilangan sistem kasta, pekerja yang beragama Hindu tidak memiliki satu institusi atau sistem yang mengikat mereka dalam satu kebersamaan, sedangkan ajaran Islam agak mempengaruhi kehidupan meskipun sedikit hingga ke kawasan pedalaman, kendatipun komunitas mereka pada awalnya cukup memprihatinkan karena ketiadaan masjid dan tanpa pemuka agama.

Masjid Jami' Toorak yang menjadi tempat bersejarah, dimasjid ini Liga Muslim Fiji pertama kali dibentuk.

Komunitas muslim mampu menjaga ritual agama mereka, pelaksaaan ibadah dan hari besar Islam namun dibawah realitas tekanan hebat sistem kerja paksa, mereka sangat sulit untuk sekedar melaksanakan sholat lima waktu dan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadahan akibat perbudakan semasa sistem kerja paksa yang mengikat mereka.

C.F. Andrews dalam salah satu laporannya setelah kunjungan ke Fiji mencatat, bahwa kemerosotan beragama di kalangan penganut Islam tidak lah separah di kalangan umat hindu, dan dalam kunjungan keduanya dia mencatat bahwa muslim Fiji mampu mempertahankan sistem sosial dan kehidupan keagamaan mereka.

Muslim di Fiji memainkan peran penting dalam aksi protes menentang sistem kerja paksa. Di tahun 1907 sekelompok Indo-Fijian melakukan unjuk rasa di Labasa setelah dipaksa untuk bekerja di perkebunan tebu, padahal pada saat perekrutan mereka dijanjikan akan dipekerjakan sebagai polisi, sebagian besar dari para pengunjuk rasa tersebut merupakan muslim Pasthun dari Afgan dan Punjab, India.

Masjid Pertama di Fiji

Dari dan setelah tahun 1884, para pekerja paksa di Fiji telah menyelesaikan masa kontrak kerja lima tahun mereka, Muslim disana mulai membangun kehidupan mereka sebagai orang merdeka di berbagai lini kehidupan di Fiji. Meski jumlah mereka sedikit kadangkala juga terisolir namun menunjukkan keinginan saling bersilaturrahmi dan bekerjasama diantara sesame muslim dalam kehidupan social dan keagamaan.

Kelompok muslim ini merupakan kelompok generasi pertama dari para pekerja paksa dari India, rata rata dari mereka memiliki kemampuan baca tulis yang baik termasuk kemampuan membaca kitab suci Al-Qur’an sehingga tak terlalu sulit untuk membentuk struktur mayarakatnya sendiri termasuk dalam kepemimpinan pelaksanaan sholat, pengajaran dan sebagainya. sholat berjamaah masih dilaksanakan di rumah karena belum adanya masjid, namun semangat itu telah sangat membantu mengokohkan identitas ke-Islaman mereka serta menunjukkan ukhuwah yang kuat.

Di tahun 1898 Mulla Mirza Khan tiba di Fiji dari India sebagai imigran dan membantu penguatan da’wah Islam di Fiji karena keterlibatannya secara aktif dalam dunia pendidikan dan keagamaan. Dua tahun setelah itu atau di tahun 1900 sebuah masjid pertama dibangun di Navua di atas lahan yang disediakan oleh Perusahaan Gula Fiji kemudian menyusul pembangunan Masjid Kecil dan Sekolah di Nausori di atas lahan yang disediakan oleh Perusahaan Refineri Gula Kolonial, dan sebuah Masjid lainnya dibangun di Labasa tahun 1902. Di tahun 1908 ada sekitar 4000 muslim di Fiji dan sepertiga dari mereka saat itu masih berstatus sebagai para pekerja paksa.

Organisasi Islam di Fiji

Di tahun 1915 organisasi muslim pertama di Fiji dibentuk di Nausori dengan nama the Anjuman Hidayat-e-Islam, ditahun yang sama the Anjuman Hidayat ul-Islam mengeluarkan petisi kepada pemerintah setempat untuk mengakui pernikahan yang dilaksanakan secara Islam dan meminta mengangkat seorang Kadi (semacam penghulu pernikahan) untuk wilayah Suva.

Masjid Noor saat senja datang

Setahun kemudian, di tahun 1916 organisasi Islam Anjunan Isha Ithul Islam terbentuk di Lautoka, dalam upaya muslim di Lautoka untuk membangun masjid disana. Suva yang merupakan Ibukota pemerintahan Fiji, kala itu belum memiliki masjid ataupun sekolah bagi sekitar 70 muslim disana, namun jumlah mereka mengali peningkatan pesat di tahun 1919, kemudian dibentuk organisasi Anjuman-e-Islam bagi muslim yang tinggal disana. dalam pertemuan para pengurus organisasi Islam di Masjid Jami di Toorak, disepaki pembentukan Liga Muslim Fiji (The Fiji Muslim League) pada tanggal 31 Oktober 1926.

Di tahun 1942 organisasi Islam bernama Maunatul Islam Association of Fiji dibentuk untuk mewadahi kaum muslimin yang bermazhab Syafi’e yang terdiri dari sekitar 30% dari keseluruhan muslim di Fiji. Organisasi ini bergerak dengan nama "The India Maunatul Islam Association of Fiji”. Muslim bermazhab Syafi’i ini merupakan kaum muslimin keturunan dari para pekerja paksa muslim dari Malayalam yang di datangkan ke Fiji dari Kerala antara tahun 1903 hingga 1916.
                                                                                            
Peran Muslim Fiji di Dunia Pendidikan, Sosial dan Politik

Muslim di Fiji terlibat aktif di dunia pendidikan dengan mendirikan sekolah sekolah Islam. Sekolah Islam tertua di Fiji dikenal dengan nama Suva Muslim Primary School (SD Islam Suva) didiirikan tahun 1926 oleh Liga Muslim Fiji yang kini telah memiliki dan mengelola 17 Sekolah Dasar Islam dan 5 SMP Islam diseluruh Fiji ditambah dengan satu institut dengan nama the Islamic Institute of the South Pacific.

Sekolah sekolah tersebut tidak hanya menerima murid dari kalangan muslim namun juga menerima murida murid dari pemeluk agama lain yang berminat untuk sekolah disana. disamping itu dengan di topang sumber pendanaan yang kuat dari para pendiri dan dari Bank Pembangunan Islam (IDB) sekolah sekolah tersebut juga memberikan bantuan bea siswa ataupun dana pinjaman pendidikan kepada para muridnya yang kurang mampu. Termasuk membantu pendidikan mereka hingga ke luar negeri.

Masjid Lautoka

Organisasi organisasi muslim di Fiji juga terlibat aktif dalam aktivitas sosial bagi bagi para anggotanya maupun secara umum baik berskala nasional maupun lokal, termasuk terlibat aktif dalam penanganan bencana alam yang sempat menghantam negara pulau tersebut. organisasi Islam di Fiji berperan secara aktif melakukan tindakan tanggap bencana termasuk membuka masjid masjid yang selamat dari bencana sebagai tempat perlindungan sementara bagi para pengungsi.

Sejak tahun 1929 Liga Muslim Fiji telah berusaha untuk mendapatkan pemisahan perwakilan khusus bagi muslim di kursi dewan legislatif negara dan sejak tahun 1970 berupaya untuk menempatkan perwakilannya di parlemen. Kecuali antara tahun 1932-1937, muslim Fiji telah terwakili dengan di Parlemen Fiji. Dari tahun 1937 – 1963 setidaknya satu perwakilan muslim selalu masuk nomisasi untuk duduk di Dewan Legislatif dari lima perwakilan Indo-Fijian. sehingga dengan sendirinya muslim mewakili 20% dari anggota Indo-Fujian di Dewan legislatif dengan kisaran 15% populasi muslim di dalam kelompok masyarakat Indo-Fijian (warga Fiji Keturunan India).

Muhammad Sidiq Koya menjadi muslim pertama yang terpilih untuk pertama kali duduk di dewan perwakilan di tahun 1963 sehingga untuk pertama kalinya juga muslim Fiji menempatkan dua perwakilannya di Dewan Legislatif dari enam kursi yang sediakan bagi masyarakat Indo-Fijian. Satu perwakilan muslim lainnya adalah C.A. Shah yang menduduki posisinya dari proses nominasi. Pada pemilu tahun 1966 dari 12 anggota legislatif mewakili Indo-Fijian merupakan muslim. mereka adalah Sidiq Koya, C.A. Shah, dan Mohammed Towahir Khan dari Partai Federasi (Federation Party) dan Abdul Lateef dari Partai Aliansi (Alliance Party).***

------------------------

Baca Juga


Sabtu, 07 Januari 2017

Masjid Sentral Adelaide Australia

Empat menara antik dari Bata menjadi salah satu ciri khas masjid tertua dan masih berfungsi hingga hari ini di kota Adelaide, Australia. 

Adelaide adalah ibukota bagi wilayah selatan Australia, didirikan tahun 1830 disepanjang sisi sungai Torrens, mulanya di diami oleh pemukim bebas, kini penduduk Adelaide mencapai 1.28 juta jiwa menjadikannya sebagai kota terbesar ke lima di Australia. Adelaide merupakan kota pantai yang indah. Pantai merupakan tempat hang-out paling paforit bagi penduduk kota ini.

Islam Telah hadir di Australia dan Adelaide sejak tahun 1860-an, di mulai dengan masuknya muslim imigran dari Afganistan yang masuk ke Australia sebagai penunggang Onta yang digunakan sebagai moda transportasi untuk mendukung aktivitas pertambangan di daerah gurun Australia. Mereka yang kemudian membangun masjid pertama di Adelaide yang kini dikenal dengan nama Masjid Sentral Adelaide atau Central Mosque Adelaide, dikelola oleh islamic Sociaty of South Australia.

Masjid Sentral Adelaide atau The Central Adelaide Mosque dibangun tahun 1888, dan merupakan masjid tertua di Australia yang berada di kota besar. Bangunan masjid nya dilengkapi dengan empat menara yang dibangun tahun 1903. Umat islam yang berasal dari berbagai tempat yang cukup jauh termasuk dari Broken Hill dan Kalgoorlie berkumpul di masjid ini terutama selama bulan suci Romadhan. Di tahun 1890 dilaporkan jemaah masjid ini terdiri dari 80 muslim Afgan yang meramaikan masjid ini selama bulan suci Romadhan dan hari raya Idul fitri. 

Adelaide Central Mosque
Little Gilbert Street, Adelaide
Australia
  


Masjid Sentral Adelaide ini seringkali disebut juga dengan nama Masjid Afgan atau Afghan Chapel, karena memang dibangun oleh para muslim imigran dari Afganistan yang kala itu tinggal di bagian barat daya kota Adelaide. Pembangunan masjid ini menghabiskan dana 150 pound yang ditanggung oleh muslim penunggang onta setempat dan dibantu oleh beberapa sponsor dari kota Melbourne sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar yang terbit saat itu. Para penunggang Onta pertama kali tiba di Austalia pada tahun 1860 mereka menyediakan jasa transportasi di daerah gurun di sentral Australia.

Di abad ke 19 tepatnya tahun 1865 ratusan Onta di datangkan ke Adelaide untuk digunakan sebagai moda transportasi di daerah gurun Australia. Turut didatangkan juga para penunggang onta dari Afgan ke Adelaide. Para penunggang Onta ini seluruhnya beragama Islam dan kemudian mendirikan masjid disana sebagai tempat peribadatan.

Masjid Adelaide  pada saat dalam proses restorasi dengan satu menaranya yang masih belum selesai.

Sebuah harian surat kabar yang terbit di bulan April 1930 dalam salah satu tajuk utamanya yang berjudul “Mohammedan Mosque Brings the East to the West" (Masjid Pengikut Muhammad menjembatani timur dan barat) mengatakan:

“Perang telah memberikan perbedaan besar kepada masjid Adelaide, pada saat dimana masyarakat umum merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran orang asing sehingga masjid tersebut kemudian di tutup selama beberapa tahun. Pada saat masjid tersebut dibuka kembali para jemaah kembali kesana walau untuk pergi lagi. Hal tersebut merupakan kewajiban dalam agama mereka datang ke masjid dan melakukan peribatan sebagaimana diajarkan oleh agama”
  
“Sebagian besar dari mereka adalah para lelaki renta dengan jenggot panjang yang sudah memutih, dengan tatapan mata lelah menatap kehidupan. Dan pada hari dimana mereka tidak mampu lagi untuk pergi ke mekah yang begitu mereka dambakan, sedangkan bangunan nya  akan ditinggalkan sepi dengan para hantunya, dengan kenangannya . . .”

Interior Masjid Adelaide

Meskipun sebegitu muramnya prediksi surat kabar tersebut terhadap masjid ini dan para jemaahnya saat itu, nyatanya Masjid Sentral Adelaide masih bertahan dan eksis hingga kini, dan kini begitu banyak anak anak muda yang melintasi pintu masjid ini, tidak hanya pria pria berjenggot ubanan seperti ramalan surat kabar itu.

Pria pria tua berjenggot ubanan yang mereka gambarkan dalam surat kabar itu kini memang sudah wafat dan dimakamkan di pemakaman the West Terrace Cemetery. Namun jangan pernah lupa pada kerja keras dari para imigran muslim generasi awal tersebut, mereka yang membangun masjid ini melaksanakan sholat di masjid ini, bertahan dengan identitas ke-Islaman mereka meski terpisah teramat jauh dari kampung halaman tempat mereka berasal.

Kehidupan muslim Afgan di era awal di Australia sebagai penunggang Onta tidaklah mudah. Kehidupan keras yang diwarnai dengan tindakan rasisme karena agama Islam yang mereka anut, karena warna kulit dan penampilan mereka serta karena persaingan dengan penyedia jasa transportasi lainnya. Sekedar salut tidaklah cukup untuk menghormati keteguhan mereka memegang teguh ajaran agama yang mereka anut, bahkan mampu mewariskan sebuah bangunan sejarah yang tidak saja sangat berharga bagi muslim saja tapi juga bagi Australia.

Hasil pemugaran dan restorasi oleh pemerintah Australia telah memulihkan kondisi masjid ini bahkan tampak lebih kokoh dan lebih apik.

Arsitektural Masjid Central Adelaide

Ukuran masjid ini tidak terlalu besar apalagi bila dibandingkan dengan masjid masjid utama di negara negara Islam seperti di Indonesia, malaysia atau Turki. Denah bangunan utamanya persegi panjang membujur ke garis kiblat. Dindingnya menggunakan batu batu alam dan batu bata, sedangkan dinding bagian dalam seluruhnya di tutup dengan kayu. Di bagian dalam bangunan ini terkesan sangat sederhana atau bahkan mirip dalam ruangan sebuah cabin atau bangunan pondok peristirahatan di tengah hutan pinus yang terbuat dari kayu. Bahan kayu yang digunakan di dalam masjid ini memang memberikan kesan hangat tersendiri.
  
Ruangannya sepi dari berbagai ornamen, namun lengkap dengan mihrab kecil berupa ceruk kecil, sedangkan mimbarnya diletakkan di pokok ruangan dan seluruhnya tebuat dari kayu. Jendela jendela kaca di buat tinggi dengan lengkungan di atasnya. Bagian flafon nya pun menggunakan kayu yang tidak di cat permukaannya melainkan di lapis dengan lapisan pernis untuk menjaga ketahanan kayu namun tetap menonjolkan warna alaminya.

Bangunan nya di buat berlantai dua, bagian lantai dua hanya berukuran separuh dari ukuran lantai dasarnya karena memang hanya menutup separuh dari ruang di lantai dasar. Empat menara masjid ini terbuat dari bata, dua diantaranya sempat runtuh karena termakan usia namun kini sudah dipulihkan kembali setelah proses restorasi. Empat menara ini lebih sebagai bangunan pelengkap, sebagai penanda karena sama sekali tidak difungsikan sebagai menara untuk menyuarakan azan, dan memang tidak ada ruang untuk itu.

Rekaman sejarah Masjid Adelaide

Restorasi oleh Pemerintah Australia

Di tahun 2010 Pemerintah Australia mengucurkan dana untuk melakukan perbaikan menyeluruh terhadap bangunan Masjid Sentral Adelaide. Perbaikan dimaksud termasuk proyek restorasi terhadap dua menaranya yang sudah runtuh dan mengembalikannnya kepada bentuk semula, sehingga masjid ini kembali ke bentuk aslinya lengkap dengan empat bangunan menaranya. Menara sebelah barat laut masjid ini telah runtuh sebagian sedangkan menara disebelah Timur Laut nya sudah runtuh keseluruhannya, menyisakan hanya dua menaranya saja yang masih utuh.
  
Proses restorasi dua bangunan menaranya menggunakan bahan asli dari bangunan menara sebelumnya yang salah satunya memang sengaja diruntuhkan demi keamanan jemaah karena sudah lapuk dan terancam runtuh sendiri. Dua menara menar tersebut kemudian di bangun ulang sesuai bentuk aslinya dan diperkuat dengan beton bertulang. Restorasi juga memulihkan seluruh bagian bangunan termasuk area sekitarnya dan pagar keliling dan gerbang masjid.

Susunan batu alam yang menjadi dinding masjid ini menampilkan pemandangan alamiah dengan keindahannya yang khas.

Program tersebut seluruhnya di danai oleh Skema pendanaan dari Dewan Kota Adelaide sebesar $329,000 Dolar Australia. Masjid Sentral Adelaide telah menjadi salah satu cagar budaya di Adelaide sehingga pemerintah setempat turun tangan untuk melestarikannya. Hingga kini masjid ini masih menjalankan fungsinya, menjadi pusat peribadatan bagi muslim disana. Masjid Sentral Adelaide tidak saja merupakan masjid tertua di Adelaide tapi juga merupakan masjid tertua di Australia yang dibangun di kota besar.

Setelah dilakukan restorasi dan perbaikan menyeluruh, kini masjid Sentral Adelaide kembali ke bentuk megahnya semula dengan empat menara di ke empat sudut masjid nya. Perbaikan tersebut juga memulihkan kondisi struktur masjid baik ekterior maupun interiornya. Masjid Sentral Adelaide merupakan salah satu bangunan penting di Adelaide dengan nilai sejarah yang melekat padanya, tidak saja menjadi pusat peribadatan bagi muslim disana tapi juga menjadi salah satu tujuan wisata di kota itu.

Di Australia tercatat terdapat lebih dari 340 ribu muslim yang tinggal disana atau setara dengan lebih dari 1.7% dari total 20 juta penduduknya. Islam telah hadir di Australia lebih dari 200 tahun lamanya dan telah menjadi agama terbesar kedua di Australia setelah Agama Kristen.***
-----------------------------------

Baca Juga



Minggu, 01 Januari 2017

Masjid Melayu Kurunegala Sri Lanka Warisan Muslim Indonesia

Bermula dari sebuah masjid sederhana di abad ke 18 kini Masjid Melayu Kurunegala sudah bertranformasi menjadi sebuah bangunan masjid modern di pusat kota Kurunegala, Sri Lanka.

Serpihan Sejarah Bangsa Yang Terlupakan

Sesuai dengan namanya Masjid Melayu Kurunegala atau Malay Jumma Mosque atau Masjid Jum’ah Melayu Kurunegala adalah masjid–nya muslim melayu yang berada di di kota kurunegala, Sri Lanka. Masjid Melayu ini merupakan masjid tertua di Kununegala dibangun pada masa kolonial Inggris di Sri Lanka, sebagai fasilitas bagi muslim melayu yang pertama datang dan menetap disana. Masjid Melayu Merupakan Masjid tertua di Kurunegala dan menjadi salah satu dari begitu banyak masjid di Srilanka yang penduduknya mayoritas beragama Hindu dan Budha.

Indonesia, Malayasia dan Sri Lanka sama sama pernah di Jajah oleh Belanda. Sri Lanka dijadikan salah satu tempat pengasingan atau lebih tepatnya sebagai tempat pembuangan bagi para tokoh tokoh pergerakan tanah air, beberapa diantara mereka bahkan tidak pernah kembali lagi ke tanah air karena kekuasaan Belanad di Sri Lanka pada ahirnya jatuh ke tangan Inggris. Beberapa lagi dari mereka merupakan bagian dari Pasukan Resimen Melayu dari era Belanda dan Pasukan Resimen Melayu bentukan Inggris yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka.

Malay Jumma Mosque
155 Maha Veediya, Kurunegala 60000
North Western Province, Sri Lanka



Masjid Diaspora Indonesia di Sri Lanka

Masjid Melayu Kurunegala ini bukanlah satu satunya masjid yang dibangun dan berhubungan dengan muslim Melayu dari Indonesia dan juga Malaysia. Di Sri Lanka ada beberapa masjid tua bersejarah lainnya yang juga berhubungan erat dengan muslim Indonesia. Sebut saja Masjid Agung Colombo atau The Grand Mosque of Colombo dirancang dan dibangun oleh Muhammad Balang Kaya, beliau merupakan putra dari Hulu Balang Kaya, Hulu Balang dari kesultanan Goa, Sulawesi Selatan, yang di asingkan ke Sri Lanka oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1796.

Kemudian masjid Jum’ah Wekande atau The Wekande Jumma Mosque merupakan wakaf dari Muslim Indonesia, Pandaan Balie di tahun 1796. Sementara Masjidul Jami’a yang berada di Java Lane dibangun dari dana pensiun dari anggota Resimen Melayu di Sri Lanka. Resimen Melayu (Malay Regiment) adalah tentara bentukan Belanda kemudian dilanjutkan oleh penjajah Inggris yang terdiri dari orang orang melayu yang kemudian ditempatkan di Sri Lanka, namun kemudian mereka tidak pernah kembali ke tanah air. Beberapa masjid lain juga dibangun pada periode ini termasuk di Kandy, Trincomalee, Hambantota dan Kinniya.

Masjid Melayu Kurunegala di abad ke 18

Masjid Pertama di Kurunegala

Pemerintah Inggis kala itu dalam upaya konsolidasi kekuasaan mereka di pulau Sri Lanka mulai menyebarkan pengaruhnya di seluruh negeri dengan menempatkan pasukan tentara di berbagai kota utama Sri Lanka, di mulai dari Kandy, Pada tahun 1848 satu Resimen Melayu yang terdiri dari 30 tentara dan dua orang staf di tempatkan di Kurunegala, resimen ini kemudian ditempatkan secara permanen di Kurunegala. Staf militer yang ditempatkan disana membawa serta seluruh keluarganya dari Kandy ke Kurunegala, karena memang pemerintah Inggris memberi mereka lahan tanah.

Resimen Melayu semuanya anggotanya beragama Islam dan sangat relijius, itu sebabnya pada tahun 1850 pemerintah kolonial membangun sebuah masjid untuk keperluan mereka beribadah, sebuah masjid di tepian danau Kurunegala. Dari kenyataan ini sangat mungkin anggota resimen ini menyelenggarakan sholat Jum’at hanya dengan 32 Jemaah.

Staf militer dari Resimen British Melayu beserta seluruh anggota pasukannya tinggal di sepanjang Parade Street (kini menjadi jalan Dr. H. K. T. de Zylva Mawatha) dan daerah diseberang masjid diantara Dambulla Road dan the Maligawa grounds. Nama Jalan Parade Steet sendiri disebut demikian karena memang anggota pasukan Resimen British Melayu ini secara berkala melakukan parade milter di sepanjang ruas jalan ini.

Pada awalnya bangunan masjid ini berupa bangunan masjid sederhana dengan fasad depan bercorak bangunan India dan dikenal dengan nama Malay Military Mosque, atau masjid militer melayu. Seiring dengan perjalanan waktu masjid tersebut kemudian dikenal dengan nama Malay Mosque atau masjid Melayu atau "Java Palli" sampai kemudian menjadi "Ja Palliya".

Orang Jakarta akan sangat familiar dengan moda tranformasi bewarna merah yang parkir disamping masjid tertua dan pertama di Kurunegala dalam foto diatas. Kendaraan yang berasal dari India tersebut ternyata juga populer di Sri Lanka.

Masjid ini merupakan masjid pertama di Kurunegala sekaligus merupakan bangunan tempat ibadah pertama yang mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah bagi seluruh muslim yang tinggal di Kurunegala dan sekitarnya, menyusul kemudian berdirinya Masjid Jummah Al-Jami Ul Azhar yang dibangun dan dikelola oleh muslim India.

Pada mula-nya komunitas muslim India datang ke Korunegala sebagai pedagang dan mereka turut menjadi bagian dari Jemaah masjid melayu Kurunegala, namun demikian seiring dengan perbedaan budaya diantara muslim melayu dan muslim India, komunitas muslim India kemudian mulai mendirikan masjid bagi komunitas mereka sendiri dengan membeli bekas kediaman Opsir Inggris yang sudah terbengkalai di pusat kota Korunegala menandai berdirinya Al-Jami Ul Azhar Jumma Mosque, atau "Sonaha Palli" atau "Marakkala Palliya" sedangkan khatibnya mereka hadirkan langsung dari India.

Pemakaman Muslim Pertama di Kurunegala

Hampir bersamaan dengan berdirinya Masjid Melayu Kurunegala ini, sebidang lahan dengan luas sekitar 3 acre yang berlokasi di ruas jalan Dambulla Road kawasan Pollathapitiya, berjarak sekitar setengah kilometer dari Masjid Melayu Kurunegala dijadikan sebagai lahan pemakaman muslim. Seperti halnya dengan masjid Melayu Kurunegala, pemakaman ini pun menjadi komplek pemakaman muslim pertama di Kurunegala dan seperti halnya di Indonesia komplek pemakaman ini pun hingga kini disebut dengan istilah “Makam” oleh penduduk setempat.

Nama nama melayu mendominasi jejeran pengurus masjid ini sejak awal hingga era tahun 1960-an dan tersimpan rapi di masjid ini. Seiring perjalanan waktu, kurunegala telah bertransformasi sebagai sebuah kota yang berkembang pesat, masjid Melayu Kurunegala yang dulu berupa masjid sederhana di tengah kampoig, kini telah berubah menjadi sebuah masjid modern di tepian jalan utama ditengah hiruk pikuk kota Kurunegala.

Pengembangan dan pembangunan masjid ini tidak saja menjadi hajatan kaum muslimin melayu disana namun juga mendapatkan sokongan penuh dari pemerintah setempat guna mengakomodir kebutuhan Jemaah yang semakin meningkat dari hari ke hari. Para pengurus dan Jemaah masjid ini, mayoritas merupakan keturunan dari komunitas muslim melayu yang pertama menetap disana dan kini telah menjadi bagian dari sekitar 50.000 muslim melayu Sri Lanka. Secara keseluruhan Muslim di Sri Lanka hampir mencapai dua juta jiwa atau setara dengan sekitar 9% dari keseluruhan penduduk Sri Lanka.***

Artikel terkait